Anda di halaman 1dari 6

DAMPAK KORUPSI TERHADAP MASYARAKAT Korupsi dalam sejarah manusia bukanlah hal baru.

Korupsi lahir bersamaan dengan peradaban manusia. Dalam sejarah, kita dapat menemukan catatan panjang terkait dengan korupsi. Di India, korupsi sudah muncul paling tidak sejak 2300 tahun yang lalu. Hal ini terbukti pada catatan perdana menteri Chandragupta tentang 40 cara mencuri kekayaan negara. Contoh lain adalah sejak ribuan tahun yang lalu Bangsa Cina telah menerapkan kebijakan Yang-Lien, yaitu hadiah untuk pejabat negara yang bersih sebagai insentif untuk menekan korupsi. Pada periode penjajahan, dalam tubuh VOC telah terasuki tindak korupsi yang masif sehingga pada akhirnya VOC sendiri mengalami kebangkrutan pada awal abad ke-20 karena korupsi yang merajalela dalam tubuhnya. Tindak pidana korupsi saat ini adalah permasalahan utama yang menjadi perhatian seluruh aspek bangsa dan negara. Korupsi sudah tertanam dan nampak seolah menjadi bagian dari budaya kita. Peperangan melawan korupsi telah dilakukan sejak dahulu namun korupsi masih saja banyak terjadi bahkan semakin menggila. Hasil survey Transparency International yang dilakukan pada 2011 (ribuan tahun setelah catatan-catatan sejarah korupsi diatas ditemukan) menempatkan Indonesia pada posisi 100 dari 183 negara dengan indeks skor 3,0. Skor indeks ini sama dengan Argentina, Benin, Burkina Faso, Djobouti, Gabon, Madagaskar, Malawi, Meksiko, Sao Tome & Principe, Suriname, dan Tanzania. Sementara untuk kawasan Asia Tenggara, skor Indonesia berada di bawah Singapura (9,2), Brunei (5,2), Malaysia (4,3), dan Thailand (3,4). Skor 2011 memang lebih baik dari skor ytahun sebelumnya (2,8) Namun, lompatan skor Indonesia dari 2,8 pada tahun 2010 dan 3,0 tahun 2011 bukanlah pencapaian yang signifikan karena Indonesia sebelumnya telah menargetkan mendapatkan skor 5,0 dalam CPI 2014 mendatang. Meskipun hasil survey ini tidak mencerminkan tingkat korupsi yang sesungguhnya melainkan hanya tingkat korupsi yang dipersepsikan oleh masyarakat. Survey yang dilakukan Political and Economic Risk Consultancy pada 2010 menyebutkan Indonesia mencetak nilai 9,07 dari angka 10 sebagai negara paling korup yang disurvei pada 2010. Nilai tersebut naik dari tahun lalu yang poinnya 7,69. Sedangkan, posisi kedua ditempati oleh Kamboja sebagai negara paling korup. Kemudian diikuti oleh Vietnam, Filipina, Thailand, India, China, Taiwan, Korea, Macau, Malaysia, Jepang, Amerika Serikat, Hong Kong, dan Australia. Mereka semua termasuk negara paling korup dalam survei, selain Singapura. Survei ini mengkaji bagaimana korupsi mempengaruhi berbagai tingkat kepemimpinan politik dan layanan sipil. Hal ini juga memperlihatkan bagaimana korupsi dianggap berpengaruh pada lingkungan bisnis secara menyeluruh, serta seberapa jauh perusahaan mengatasi masalah internal dan eksternal ketika berhadapan dengan situasi tersebut. Skor-skor survey ini secara tidak langsung menunjukkan bahwa masyarakat masih meragukan keseriusan pemerintah dalam upaya memberantas tindak pidana korupsi yang terjadi di Indonesia. Selama ini masyarakat melihat pemerintah belum memiliki usaha yang masif dalam memberantas korupsi dengan banyaknya kasus yang terungkap akhir-akhir ini dengan potensi kerugian negara yang sangat besar memperlihatkan bahwa usaha pemberantasan korupsi seperti berjalan di tempat dan tertutupi oleh kampanye pencitraan bahwa pemerintah telah mengupayakan berbagai hal untuk memberantas praktik korupsi. Meskipun banyak pihak telah berusaha memberantas tindak pidana korupsi namun dampak dari korupsi telah menggerogoti seluruh aspek kehidupan Bangsa Indonesia. Berikut ini akan dijabarkan dampak-dampak korupsi bagi masyarakat.
1

A. LESUNYA PEREKONOMIAN Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah studi komprehensif mengenai berbagai dampak korupsi terhadap variabel-variabel ekonomi secara ekstensif telah dilakukan. Mauro (1995) menegaskan bahwa korupsi memperlemah investasi dan pertumbuhan ekonomi. Sedangkan kajian Tanzi dan Davoodi (1997) melaporkan terjadinya pertumbuhan investasi, namun korupsi mengakibatkan penurunan tingkat produktivitas yang dapat diukur melalui berbagai indikator fisik, seperti kualitas jalan raya. Korupsi juga menurunkan kualitas barang dan jasa bagi publik. Menurut Alatas, kebebasan yang tercipta karena korupsi memberikan peluang kepada para pengusaha dan industriawan untuk memperoleh keuntungan yang melebihi batas dengan tidak memperhatikan mutu namun menaikkan harga. Korupsi juga merugikan keuangan negara lewat penyelewengan pos-pos pengeluaran negara. Pemberian lisensi oleh pejabat yang berwenang yang diperuntukkan kepada berbagai perusahaan domestik untuk menjamin sumber-sumber yang langka juga dimanfaatkan oleh perusahaan tertentu untuk memperoleh prioritas utama dengan berkolusi. Akibatnya korupsi telah melahirkan kerugian, karena telah mengorbankan prinsip meritrokasi. Korupsi, tidak diragukan lagi, menyebabkan lumpuhnya keuangan atau perekonomian suatu negara. Sebagai konsekuensinya, utang kepada pihak luar negeri baik dar sektor pemerintah maupun swasta menumpuk. Di Indonesia, utang swasta diambil alih oleh pemerintah sebagai kewajibannya. Lalu rakyatlah yang akan membayarnya. Berdasarkan Laporan Bank Dunia, Indonesia dikategorikan sebagai negara yang utangnya parah dan berpenghasilan rendah (severely indebted low incoe), dan termasuk dalam kategori negara-negara termiskin di dunia seperti Mali dan Ethiopia. B. MENINGKATNYA KEMISKINAN Hubungan antara korupsi dan kemiskinan memang tidak dapat dijelaskan secara langsung, namun hubungan antara keduanya memang nyata. Korupsi telah menghambat pembangunan dan memperlebar jurang kemiskinan. Dana APBN yang diperlukan untuk kesejahteraan masyarakat telah dikorupsi sebagian penguasa, sehingga sistem perekonomian sosial menjadi rusak, harga jasa dan pelayanan publik menjadi semakin mahal, kualitas pelayanan publik yang rendah, dan sebagainya. Seperti kita ketahui, saat ini banyak sekali pejabat publik yang meminta uang pelicin kepada masyarakat untuk memuluskan setiap pekerjaan. Praktik uang pelicin ini mengakibatkan masyarakat yang ingin memperoleh pelayanan publik harus membayar lebih banyak dibandingkan yang seharusnya. Contoh kecilnya adalah dalam pembuatan KTP yang seharusnya gratis, namun pejabat pemda seringkali meminta biaya administrasi yang bersifat sukarela. Bagi sebagian masyarakat mungkin jumlah tersebut tidak seberapa, namun bagi masyarakat miskin hal ini tentu sangat memberatkan. Dalam skala yang lebih besar, praktik uang pelicin ini menimbulkan ketidakpastian dalam investasi yang pada akhirnya akan menyebabkan larinya pemodal asing. Larinya pemodal asing akan menghambat pertumbuhan lapangan pekerjaan yang

akan menyebabkan meningkatnya jumlah pengangguran, dan meningkatnya masyarakat miskin. Korupsi juga menyebabkan program pengentasan kemiskinan tidak berjalan. Banyak proyek pemerintah ataupun bantuan asing untuk rakyat miskin tidak efektif, karena disunat oleh oknum pejabat pemerintah yang tidak bertanggung jawab. Dalam banyak kasus korupsi, masyarakat miskin sering menjadi korban karena ketidak berdayaan mereka yang disebabkan oleh diantaranya: (1) tingkat pendidikan yang rendah dan kurangnya pemahaman tentang korupsi & penanggulangannya, (2) tidak adanya akses terhadap pelayanan hukum yang appropriate bagi mereka, (3) perhatian yang rendah dari aparat penegak hukum terhadap mereka-mereka yang berasal dari ekonomi tidak mampu. Kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini banyak yang berpihak kepada segelintir elite ekonomi dan politik tertentu, sehingga masyarakat kaya akan semakin kaya, sedangkan masyarakat miskin semakin miskin. Dengan semakin tingginya biaya pelayanan publik dan kebijakan yang tidak pro masyarakat, pada akhirnya akses masyarakat miskin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya menjadi semakin terbatas. Untuk dapat bersekolah saja sudah susah karena kondisi jalan menuju sekolah yang buruk (contohnya jembatan putus di Lebak-Banten) , sarana dan prasarana di sekolah yang tidak memadai, biaya tidak resmi yang dipungut sekolah dan sebagainya. Begitupun akses terhadap kesehatan, meskipun masyarakat miskin memperoleh Jamkesmas, pada kenyataannya, banyak rumah sakit yang menomor-dua-kan pelayanan terhadap masyarakat miskin tersebut. Pada akhirnya, jumlah masyarakat miskin terus meningkat akibat perbuatan koruptor yang hanya mementingkan kepentingan pribadi dan golongannya saja. C. MENINGKATNYA KRIMINALITAS Di banyak negara, termasuk Indonesia, Polisi merupakan salah satu instansi paling korup. Bahkan menurut survey, tingkat korupsi di Polisi Indonesia mencapai 60%. Mulai dari yang sekedar menagih pungutan liar, menerima suap dari tilang, sampai perilaku korup besar seperti menerima suap dari bisnis-bisnis kriminal seperti prostitusi, judi, penjualan obat terlarang, dsb. Hal ini tentu saja akan membuat pemberantasan kriminalitas menjadi semakin sulit, karena ada oknum polisi dalam anggota organisasi kriminal tersebut. Sebaliknya, para pelaku kriminal juga dapat menyusup ke dalam instansi-instansi pemerintah dan menduduki jabatan penting dengan suap. Hal ini pasti akan menguntungan pihak kriminal. Semakin tinggi tingkat korupsi, maka akan semakin tinggi tingkat kriminalitas. Dilihat dari sisi kepercayaan masyarakat terhadap penegakan hukum, semakin tinggi tingkat korupsi di dalam lembaga penegak hukum, maka akan semakin rendah kepercayaan masyarakat terhadap penegak hukum, yang pada akhirnya akan menyulitkan pemberantasan kriminalitas. Begitu pula sebaliknya, semakin tinggi tingkat kepercayaan terhadap para penegak hukum, maka akan semakin efektif penegakan hukum dan dapat menimbulkan kesadaran masyarakat untuk tidak melakukan tindakan kriminal.

D. DEMORALISASI DAN KEHANCURAN BIROKRASI Dampak dalam demoralisasi dan kehancuran birokrasi dapat berupa runtuhnya otoritas pemerintah, matinya etika sosial-politik, tidak efektifnya peraturan dan perundang-undangan, menghalalkan segala cara, birokrasi tidak efisien (boros), fungsi pelayanan tidak berjalan, komersialisasi birokrasi, dan menguatnya birokratisasi. Demoralisasi dan kehancuran birokrasi merupakan dua hal yang saling terkait sebagai dampak masif korupsi. Pada mulanya birokrasi mempunyai konotasi positif yaitu efisien, rapi & teratur, tetapi saat ini birokrasi mempunyai konotasi sangat negatif yaitu tidak efisien, korup dan lamban. Perubahan makna ini terjadi akibat kinerja lembaga pemerintah yang tidak menggembirakan. Bureaucracy is driven by rule not by goal, sehingga sangat sulit ditemukan sosok-sosok kreatif yang bisa bertahan di jajaran birokrasi kita. Kondisi ini diperburuk dengan korupsi yang terjadi, sehingga sesuatu yang sudah tidak efisien dan lamban ini menjadi semakin buruk lagi. Jika pemerintah tidak lagi mampu memberikan pelayanan terbaik bagi warganya, maka rasa hormat dan trust (kepercayaan) masyarakat kepada pemerintah akan luntur dan lenyap. Korupsi yang merajalela yang berlarut-larut juga membuat masyarakat pesimis akan keberhasilan upaya pemberantasan korupsi, padahal optimisme masyarakat merupakan modal utama sukses perang melawan korupsi. Pesimisme ini membuat masyarakat melakukan pembiaran terhadap aktifitas korupsi, walaupun mereka jelas-jelas menjadi korban. Contoh paling kasat mata adalah uang sogok kepada polisi lalu lintas untuk menghindari surat tilang, hal yang jelas-jelas melanggar hukum ini seolah-olah merupakan hal yang wajar-wajar saja. Dalam masyarakat yang korupsi telah menjadi makanan sehari-hari, anak tumbuh dengan pribadi anti sosial, selanjutnya generasi muda akan menganggap bahwa korupsi sebagai hal yang biasa atau bahkan menganggap sudah menjadi budaya, sehingga perkembangan pribadinya menjadi terbiasa dengan sifat tidak jujur dan tidak bertanggung jawab. Disinilah dimulainya demoralisasi yang sudah nyata-nyata ada di sekitar kita. E. TERGANGGUNYA SISTEM POLITIK DAN PEMERINTAHAN SERTA BUYARNYA MASA DEPAN DEMOKRASI Korupsi yang sudah menjadi penyakit di bangsa ini akhirnya akan mengancam politik dan pemerintahan bahkan masa depan demokrasi bangsa. Bagaimana tidak, dari proses pemilihan calon legislatif pusat daerah sudah terdeteksi adanya tindak pidana korupsi. Begitu pun pemilihan calon pemimpin eksekutif pusat maupun daerah. Memang pada awalnya rakyat akan merasa diuntungkan karena mendapat imbalan langsung dari calon yang bersangkutan. Namun, perlu diingat bahwa calon yang seperti itu akan cenderung untuk mencari keuntungan sebanyak mungkin bagi diri mereka maupun kelompoknya. Apabila hal ini tidak segera disadari oleh rakyat, ancaman yang akan timbul bisa sangat menghancurkan masa depan bangsa ini. Dampak yang sangat jelas terlihat dengan dipilihnya pemimpin yang mempunyai perilaku dan moral seperti itu adalah munculnya sistem kepemimpinan yang korup. Akan sangat mengkhawatirkan untuk menyerahkan amanah rakyat kepada orang-orang
4

semacam itu. Karena keuntungan untuk dirinya sendiri dan orang-orang yang menguntungkannya saja yang akan menjadi prioritas utama dengan tetap mengelabui rakyat yang telah memebrtikan amanah padanya. Akan sangat mengkhawatirkan apabila pemimpin eksekutif sudah bermain mata dengan pihak legislatif. Kebijakan yang akan menguntungkan kedua pihak dengan mengabaikan kesejahteraan rakyat akan dengan sangat mudah untuk diwujudkan. Tindakan menyimpang pemerintah pun akan dianggap wajar oleh legislatif, yang seharusnya menjadi pengawas bagi pelaksanaan pemerintahan oleh eksekutif. Apabila hal ini sudah terjadi, sistem politik akan mandul. Hal ini berarti kita akan mundur kembali seperti ke era kepemimpinan orde baru. Selain itu bisa dipastikan bahwa sistem pemerintahan yang merupakan amanat rakyat untuk mensejahterakan rakyatnya akan tidak berjalan. Apabila dampak tersebut dirasakan dalam jangka pendek, mungkin masih belum dirasakan secara menyeluruh oleh seluruh rakyat. Namun, dalam jangka panjang akan sangat terasa dampaknya yang sangat luas bagi seluruh rakyat. Lambat laun akan timbul rasa tidak percaya pada pemerintah, yang akan disusul dengan ketidak percayaan pada lembaga pemerintah yang lain setelah tak ada lagi tempat untuk mengadukan nasib mereka. Yang lebih parah lagi, apabila sistem pemerintahan yang bobrok seperti ini tidak menunjukkan adanya perubahan, demokrasi yang sebenarnya akan menjadi suatu impian belaka bagi rakyat. Karena selama ini rakyat hanya dikelabui dengan demokrasi yang hanya sebagai kedok eksekutif dan legislatif dalam mencari keuntungan untuk mereka sendiri. Kebobrokan yang sudah sampai pada tahap ini akan mendorong rakyat untuk mengadakan perubahan, karena mereka menyadari bahwa kekuatan rakyat adalah kekuatan sebenarnya suatu bangsa. Namun, perlu kita sadari bahwa perubahan dengan kekuatan rakyat membutuhkan pengorbanan yang tidak sedikit sebagaimana yang pernah kita rasakan hampir satu setengah dekade yang lalu. Tidak hanya pengorbanan materi bahkan nyawa saudara sebangsa sendiri yang dikorbankan untuk suatu perbahan itu. Maka dari itu, penting bagi kita untuk menyadari betapa gentingnya dampak yang akan terjadi dari korupsi yang merajalela bagi sistem politik dan pemerintahan negara kita. Maka dari itu mari kita sadar dan turut aktif dalam mengawal pemerintah dan wakil rakyat kita dalam menjalankan tugasnya. F. RUNTUHNYA PENEGAKAN HUKUM Sebagaimana kita lihat belakangan ini kondisi lembaga penegak hukum mengalami penurunan kinerja dalam menegakkan hukum dan keadilan di Indonesia. Hal ini dapat kita lihat dari banyaknya terdakwa kasus tindak pidana korupsi yang mendapatkan vonis bebas padahal sudah tersedia alat bukti yang cukup kuat di persidangan. Salah satu indikasi terjadinya penurunan kualitas tersebut diduga karena banyaknya praktik mafia hukum dibalik proses persidangan. Dugaan ini masih harus kita buktikan lebih lanjut namun terjadinya penurunan kualitas kinerja ini telah mengakibatkan munculnya persepsi negatif di mata masyarakat mengenai kondisi lembaga penegak hukum. Persepsi negatif ini dapat juga terbentuk dalam masyarakat karena pemberantasan korupsi masih
5

belum dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat terkait pemberitaan mengenai praktik suap dan korupsi yang semakin meningkat. Desentralisasi penegakan hukum terkait kasus korupsi dinilai merupakan salah satu indikator menurunnya efektifitas penegakan hukum tersebut. Hal ini nampak dari putusan pengadilan tipikor di daerah yang membebaskan tersangka korupsi. Koordinasi penegakan hukum harus segera diperbaiki untuk meningkatkan efektifitas penegakan hukum terkait kasus korupsi. Persepsi negatif masyarakat atas rendahnya penegakan hukum terkait kasus korupsi dapat kita lihat melalui hasil survei LSI atas tren persepsi atas kondisi penegakan hukum secara nasional yang menunjukkan bahwa persepsi atas penegakan hukum yang sempat mengalami titik tertinggi pada periode desember 2008 sebanyak 32% menyatakan baik terus menurun hingga mencapai titik terendah senilai -9% pada desember 2011 saat terungkapnya skandal korupsi nazaruddin. Rendahnya kepercayaan masyarakat atas integritas penegak hukum terkait penuntasan kasus korupsi juga nampak dalam hasil survei LSI yang dilakukan dengan responden politisi, pengusaha dan tersangka korupsi. Hasil survei tersebut menunjukkan bahwa institusi penegak hukum yang mendapatkan respon positif atas integritasnya adalah KPK sedangkan kepolisian, kejaksaan dan pengadilan mendapatkan hasil persepsi yang buruk. Munculnya institusi KPK dalam usaha pemberantasan korupsi pada dasarnya adalah wujud protes msayarakat yang sudah tidak percaya terhadap institusi penegak hukum yang ada. Penegakan hukum atas kasus korupsi saat ini belum banyak menyentuh aspek pengembalian aset negara yang dicuri melalui korupsi. Penegak hukum di Indonesia belum memiliki strategi tepat untuk mengembalikan aset hasil korupsi. Kedepannya, proses penegakan hukum terkait tindak pidana korupsi harus dilaksankan secara berkesinambungan sehingga hasil akhir penegakan hukum tidak hanya berhenti pada usaha memenjarakan terdakwa kasus korupsi namun juga harus dapat mengembalikan kekayaan negara yang dicuri.