Anda di halaman 1dari 4

TUJUAN Tujuan : memperlihatkan pengaruh larutan hiper/hipotonik terhadap membran sel darah merah TINJAUAN PUSTAKA Cormack.

(2008) mengatakan bahwa Hemolisis adalah rusaknya jaringan darah akibat lepasnya hemoglobin dari stroma eritrosit (butir darah merah). Hemolisis dapat disebabkan karena penurunan tegangan permukaan membrane sel dan dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti pelarut organik, saponin, garam empedu, sabun, enzim, dan faktor lain yang merusak komplek lemak-protein dari stroma. Faktor hemolisis ini ditemukan pada bisa ular famili Elapidae. Hemolisis adalah peristiwa keluarnya hemoglobin dari dalam sel darah menuju cairan disekelilingnya, keluarnya hemoglobin ini disebabkan karena pecahnya membran sel darah merah.Membran sel darah termasuk membran yang permeabel selektif. Membran sel darah merah mudah dilalui atau ditembus oleh ion-ion H+, OH-, NH4+, PO4, HCO3-, Cl-, dan substansi seperti glukosa, asam amino, urea, dan asam urat. Sebaliknya sel darah merah tidak dapat ditembus oleh Na+, K+, Ca2+, Mg2+, fosfat organik, hemoglobin dan protein plasma. (Watson, 2007). Ada dua macam hemolisis yaitu hemolisis osmotik yang terjadi karena adanya perbedaan yang besar antara tekanan osmosa cairan didalam sel darah merah dengan cairan yang berada disekeliling sel darah merah. Tekanan osmosa sel darah merah adalah sama dengan osmosa larutan NaCl 0, 9 %, bila sel darah merah dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 8 % belum terlihat adanya hemolisa, tetapi sel darah merah yang dimasukkan kedalam larutan NaCl 0, 4 % hanya sebagian saja dari sel darah merah yang mengalami hemolisis dan sebagian lagi sel darah merahnya masih utuh. Perbedaan ini desebabkan karena umur sel darah merah yang sudah tua, membran sel mudah pecah, sedangkan se darah merah yang muda, membran selnya masih kuat. Bila sel darah merah dimasukkan kedalam laritan NaCl 0, 3 %, semua sel darh merah akan mengalami hemolisa sempurna. Yang kedua, hemolisis kimiawi membran sel darah merah dirusak oleh macam-macam substansi kimia. Seperti, kloroform, aseton, alkohol, benzena dan eter, substansi lain adalah bisa ular, kalajengking, dan garam empedu. (Wulangi, 2009) Srikini (2000) Sel darah merah yang berada di luar cairannya dapat mempertahankan bentuknya apabila dimasukkan dalam cairan yang isotonis dengan sitoplasmanya. Apabila sel darah merah berada di dalam cairan yang hipertonis maka sel darah merah akan mengalami pengerutan (krenasi), apabila sel darah merah berada dalam cairan yang bersifat hipotonis maka sel akan pecah dan hemoglobin akan ke luar (hemolisis). Osmosis memainkan peranan yang sangat penting pada tubuh makhluk hidup, misalnya, pada membrane sel darah merah. Jika meletakan sel darah merahdalam suatu larutan hipertonik (lebih pekat), air yang terdapat dalam sel darah akan ditarik keluar dari sel sehingga sel mengerut dan rusak. Peristiwa ini disebut krenasi. Sebaliknya, jika kamu meletakan sel darah merah dalam suatu larutan yang bersifat hipotonik (lebih encer), air dari larutan tersebut akan ditarik masuk k e d a l a m s e l d a r a h s e h i n g g a s e l m e n g e m b a n g d a n p e c a h . P r o s e s i n i d i s e b u t hemolisis. Orang yang mengonsumsi terlalu banyak makanan berkadar garam tinggi, jaringan sel dan jaringan antar selnya akan mengandung banyak air. Hal inidapat menyebabkan terjadinya pembengkakan tubuh yang disebut edema. (Hendrayani, 2007).

ALAT DAN BAHAN ALAT: 1. Rak tabung 2. Tabung reaksi 10 buah BAHAN : 1. Darah segar 2. Larutan NaCl 2 % 3. Aqua destilata CARA KERJA: 1. Kedalam 10 tabung reaksi isikan campuran berikut : Tabung Air suling NaCl 2% (mL) % NaCl (mL) 1 10 0 0,0 2 9 1 0,2 3 8 2 0,4 4 7,5 2,5 0,5 5 7 3 0,6 6 6,5 3,5 0,7 7 6 4 0,8 8 5,5 4,5 0,9 9 5 5 1,0 10 4,5 5,5 1,1 2. Campur dengan baik 3. Tambahkan 2 tetes suspensi darah ke dalam setiap tabung dan kocok dengan membalik-balikkan tabung perlahan. Diamkan selama 1 jam. 4. Perhatikan dan catatlah derajat hemolisis pada tiap tabung. HASIL dan PEMBAHASAN Hasil : Tabung 1 2 3 4 5

% NaCl 0 0,2 0,4 0,5 0,6

Hemolisis Ya Ya Ya Ya Ya

Tabung 6 7 8 9 10

% NaCl 0,7 0,8 0,9 1,0 1,1

Hemolisis Tidak Tidak Tidak Ya Ya

Pembahasan Hemolisis adalah pecahnya membran eritrosit, sehingga hemoglobin bebas kedalam medium sekelilingnya (plasma).Kerusakan membran eritrosit dapat disebabkan oleh antara lain penambahan larutan hipotonis, hipertonis kedalam darah, penurunan tekanan permukaan membran eritrosit, zat/unsur kimia tertentu, pemanasan dan pendinginan, rapuh karena ketuaan dalam sirkulasi darah dll. Apabila medium di sekitar eritrosit menjadi hipotonis

(karena penambahan larutan NaCl hipotonis) medium tersebut (plasma dan larutan NaCl) akan masuk ke dalam eritrosit melalui membran yang bersifat semipermiabel dan menyebabkan sel eritrosit menggembung. Bila membran tidak kuat lagi menahan tekanan yang ada di dalam sel eritrosit itu sendiri, maka sel akan pecah, akibatnya hemoglobin akan bebas ke dalam medium sekelilingnya. Sebaliknya bila eritrosi berada pada medium yang hipertonis, maka cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi). Keriput ini dapat dikembalikan dengan cara menambahkan cairan isotonis ke dalam medium luar eritrosit (plasma). Pada praktikum ini, darah yang mengandung hemoglobin dimasukkan kedalam beberapa larutan yang memiliki kelarutan dan tekanan osmotik yang berbda-beda. Pada tabung pertama yang berisi aquades sebagai pembanding, darah yang ditambahkan aquades mengalami hemolisis, karena aquades merupakan cairan hipotonis yang menyebabkan perbedaan konsentrasi dimana konsentrai darah lebih tinggi daripada konsentrasi aquades, sehingga beberapa cairan dari aquades masuk kedalam sel-sel darah merah tersebut sampai konsentrasinya seimbang akan tetapi membran atau lapisan yang dimiliki darah tidak kuat untuk menampung semua itu sehingga terjadilah Hemolisis (pecahnya sel darah merah). Darah yang diberi aquades terlihat bergelembung karena oksigen yang terlepas dari ikatan dengan hemoglobin dan memudar warna merahnya karena hemoglobin keluar dari eritrositnya. Oleh karena itu, apabila darah tersebut diletakan diatas sebuah tulisan maka huruf tersebut akan terlihat jelas. Hal serupa juga ditemukan pada tabung 2 yang mengandung NaCl sebanyak 0,2 %, pada tabung ini hemolisis juga terjadi secara sempurna sehingga dapat diamati adanya gelembung dan warna yang pudar. Pada tabung yang berisi NaCl sebanyak 0,4%; 0,5%; dan 0,6% ; proses hemolisis mulai berkurang dan hanya terjadi hemolisis secara parsial sehingga gelembung yang dihasilkan tidak begitu banyak dan warna larutan cenderung berwarna lebih kemerahan. Hal yang berbeda terjadi pada tabung yang mengandung larutan NaCL sebanyak 0,7%; 0,8%; dan 0,9% ; pada larutan-larutan ini, tidak terjadi proses hemolisis karena semua larutan ini bersifat isotonis khususnya larutan dengan kadar NaCl 0,9% dengan eritrosit. Tanpa perbedaan tekanan osmosis antara larutan dengan eritrosit maka tidak akan terjadi perpindahan cairan keluar ataupun ke dalam eritrosit sehingga eritrosit stabil dan tidak mengalami hemolisis. Oleh karena itu, larutan NaCl 0,9% merupakan cairan yang paling sering digunakan untuk keperluan medis karena memberikan tekanan osmotik sama dengan yang dimiliki sel darah merah. Pada tabung yang berisi larutan NaCl dengan kandungan 1,0 %; dan 1,1% yang bersifat hipertonis terhadap sel darah merah mengakibatkan cairan eritrosit akan keluar menuju ke medium luar eritrosit (plasma), akibatnya eritrosit akan keriput (krenasi), dan apabila kondisi ini dibiarkan terus menerus maka sel darah merah juga akan mengalami hemolisis yang dapat dideteksi dengan terbentuknya gelembung pada larutan di dalam tabung. KESIMPULAN
Dari hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa Pada darah yang dicampur aquades, dan larutan dengan kadar NaCl 0,2 hingga 0,6 % akan mengalami hemolisis akibat cairan dari larutan yang masuk ke dalam eritrosit sehingga hemoglobin keluar bebas dari eritrosit. Sedangkan Darah yang diberi larutan hipertonis, akan mengalami krenasi (mengkerutnya

sel eritrosit) karena cairan yang keluar dari sitoplasma eritrosit dan apabila hal ini dibiarkan terusmenerus maka akan terjadi hemolisis eritrosit juga.