Anda di halaman 1dari 4

PEMBIMBING

: dr. MARIA ULFA , Sp. A


DI SUSUN OLEH : 110. 2000. 080 110. 2002. 110. 2003. 082 110. 2004. 110. 2003. 110. 2001. 110. 2003. 292 110. 2003. 119

1. Endang Tuti M 2. Muthi Handayani 3. Euis Masruroh 4. Anangga Dipamira 5. Fajar Misfa 6. Rahma Putri 7. Yudhi Lillah S 8. Henny Wulansari

KEPANITERAAN ILMU KESEHATAN ANAK RS. TK. II MOCH. RIDWAN MEURAKSA KESDAM JAYA Periode 20 SEPTEMBER 2010 - 26 NOPEMBER 2010

DEFINISI
Demam adalah kelainan suhu tubuh yang ditengahi oleh kenaikan titik ambang regulasi panas hipotalamus. Demam pada anak dapat digolongkan sebagai : 1. Demam yang singkat dengan tanda-tanda yang mengumpul pada satu tempat sehingga diagnosis dapat ditegakkan melalui riwayat klinis dan pemeriksaan fisik, dengan atau tanpa uji laboratorium. 2. Demam dengan tanda-tanda yang mengumpul pada satu tempat, sehingga riwayat dan pemeriksaan fisik tidak memberi kesan diagnosis tetapi uji laboratorium dapat menegakkan etiologi. 3. Demam yang tidak diketahui penyebabnya (fever of unknown origin = FOU)

POLA DEMAM
1. Demam kontinu Demam dengan variasi diurnal di antara 1,0-1,5 F ( 0,55-0,82C ). Dalam kelompok ini,demam meliputi penyakit pneumonia tipe lobar, infeksi kuman Gram-neganif, riketsia, demm tifoid, gangguan sistem saraf pusat, tularemia, dan malaria falciparum. 2. Demam Intermiten Demam dengan variasi diurnal > 1C, suhu terendah mencapai suu normal misal: endokarditis bakterialis, malaria, bruselosis. 3. Demam remiten Demam dengan variasi normal lebar > 1C, tetapi suhu terendah tidak mencapai suhu normal, ditemukan pada demam tifoid fase awal dan berbagai penyakit virus. 4. Pola demam tersiana dan kuartana merupakan demam, intermiten yang ditandai dengan periode demam yang diselang dengan periode normal. Pada demam tersiana, demam terjadi pada hari ke-1 dan ke-3 ( malaria oleh plasmodium vivax ) sedangkan

kuartana pada hari ke-1 dan ke-4 ( malaria oleh plasmodium malariae ). 5. Demam saddleback / pelana ( bifasik ), penderita mengalami beberapa hari demam tinggi disusul oleh penurunan suhu, lebih kurang satu hari, dan kemudian timbul demam tinggi kembali. Tipe ini didapatkan pada beberapa penyakit seperti dengue, yellow fever, colorado tick fever, rit valley fever, dan infeksi virus misalnya in fluenza, poliomielitis dan koriomeningiitis limfositik. 6. Demam intermiten hepatik (demam Charcot), dengan episode demam yang sporadis, terdapat penurunan temperatur yang jelas dan kekambuhan demam. Hal ini adalah pola yang sering terjadi dan dapat dipercaya pada kolangitis, biasanya terkait dengan kolelitiasis, ikterik, leulositosis, dan adanya tanda-tanda toksik. 7. Demam Pel-Ebstein, ditandai oleh periode demam setiap minggu atau lebi lama dan periode afebril yang sama durasinya disertai dengan berulangnya siklus. Keadaan ini terjadi pada penyakit Hodgkin, bruselosis dari tipe Brucella melitensis. 8. Kebalikan dari pola demam diurnal (typhus inversus), dengan kenaikan temperatur tertinggi pada pagi hari bukan selama senja atau di awal malam. Kadang-kadang ditemukan pada tuberkulosis milier, salmonelosis, abses hepatik, dan endokarditis bakterial. 9. Reaksi Jarisch-Herxheimer, dengan peningkatan temperatur yang sangat tajam dan eksaserbasi manifestasi klinis, terjadi beberapa jam sesudah pemberian terapi penisilin pada sifilis primer atau sekunder, keadaan ini dapat pula terjadi pada leptospirosis, dan relapsing fever, juga sesudah terapi tetrasiklin atau kloramfenikol pada bruselosis akut. 10. Relapsing fever Seperti demam Pel-Epstein namun serangan demam berlangsung setiap 5-7 hari. 11. Factitious fever atau self induced fever, mungkin merupakan manipulasi yang disengaja untuk memberi kesan adanya demam.

Suhu Normal Menurut Metode Pengukuran


Metode Pengukuran Rektal Membran timpani Oral Aksila Suhu Normal 36,6 38 35,8 38 35,5 36,5 34,7 37,3 (97,9 100,4 F)