Anda di halaman 1dari 4

Kasus Kecelakaan Kerja Pabrik Gula Diselidiki Polisi Senin, 03 Agustus 2009 17:26 Kapanlagi.

com - Kepolisian Resort Cilacap, Jawa Tengah, hingga kini masih menyelidiki kasus kecelakaan kerja di pabrik gula rafinasi PT Dharmapala Usaha Sukses (DUS) Cilacap yang menewaskan empat karyawan pada 29 Juli silam. "Hingga kini, kami masih menyelidiki kasus tersebut," kata Kepala Polres Cilacap Ajun Komisaris Besar Polisi Guruh Ahmad Haryanto usai menghadiri upacara pembukaan Perkemahan Bhakti Saka Bhayangkara Daerah (Pertikada) Jawa Tengah di Lapangan Desa Karangbanjar, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, Senin. Menurut dia, Polres Cilacap masih memeriksa sejumlah saksi terkait kasus kecelakaan kerja tersebut. Akan tetapi, dia tidak menyebutkan jumlah saksi yang telah menjalani pemeriksaan. Disinggung mengenai kemungkinan sudah adanya tersangka dalam kasus kecelakaan kerja tersebut, dia mengatakan, polisi masih mempelajari kemungkinan adanya unsur kelalaian dalam kasus itu. Seperti yang diwartakan sebelumnya, sebanyak empat karyawan pabrik gula rafinasi PT Dharmapala Usaha Sukses Cilacap, tewas akibat kecelakaan kerja pada Rabu (29/7) silam. Peristiwa tersebut bermula saat lima karyawan bagian "Cleaning Service", yakni Feri Kisbianto (25), Karsito (30), Puji Sutrino (27), Jumono (35), dan Adi Purwanto (27) sedang bertugas membersihkan sisa-sisa produksi pada "Turbin Seed R1" (pengolahan), sekitar pukul 10:30 WIB. Saat pekerjaan itu belum selesai, tiba-tiba seorang karyawan bagian "Processing", menyalakan keran uap gula yang bersuhu sekitar 400 derajat Celcius ke arah turbin tersebut. Akibatnya, lima karyawan yang masih membersihkan "Turbin Seed R1" langsung berteriak kesakitan. Nasib mujur dialami Adi Purwanto karena berhasil diselamatkan, sedangkan empat karyawan lainnya meninggal di lokasi kejadian dalam kondisi badan melepuh. (kpl/cax) Sumber:berita.kapanlagi.com Posted in: kuliah,Management Sehari Bekerja, Karyawan Pabrik Roti Ganda Tewas ILUSTRASI antara foto SIANTAR (MAHARDIKAnews) : Nasib naas menimpa Febri Ramadhani (19) , dimana hari pertama kerja justru mengalami kecelakaan di perusahaan pabrik Roti Ganda, Jalan Ade Irma Suryani, Kelurahan Martoba, Kecamatan Siantar Utara, Jumat 11 Oktober 2013. Akibatnya, korban Febri tewas terjepit lift di pabrik roti tersebut. Belum diketahui, apakah kecelakaan itu karena dampak dari kelalaian pengusaha Roti Ganda, atau korban sendiri. Informasi dihimpun, disaat kejadian, merupakan hari pertama korban bekerja, dan masih sekira 15 menit memulai tugas pekerjaan yang diberikan kepadanya. Warga Simpang Bak, Nagori (Desa) Karang Sari, Kecamatan Gunung Maligas, Kabupaten Simalungun itu, disebut - sebut merasa heran dengan lift yang sedang berjalan di pabrik Roti Ganda. Korban lalu mendekatkan kepalanya kearah lift yang sedang berjalan mengangkut barang. Ternyata korban tidak menyadari terdapat besi dibagian atas kepalanya. Besi itu bergerak dari atas kebawah menimpa kepala korban, sehingga terjepit di lift. Seketika, darah berkeluaran dari bagian mulut dan hidung korban. Rekan satu pekerjaan korban pun kaget. Diperkirakan, korban sudah tewas ditempat kejadian., begitu lift menjepitnya. Kejadian ini langsung dilaporkan ke Polsek Siantar Utara, dan langsung membawa jasad korban ke instalasi forensik RUSD (Rumah Sakit Umum) Dr Djasamen Saragih, untuk divisum. Penanggungjawab Pabrik Roti Ganda Lili (40) mengatakan, tidak menyaksikan peristiwa keselakaan kerja hingga membuat Febri tewas. Ia memperkirakan, korban tewas dilokasi kejadian, pasca terjepit lift

pengangkut barang. Dia juga menegaskan, kalau korban merupakan karyawan baru. Dimana pagi sekira pukul 08.45 WIB, dia awalnya antarkan oleh ayahnya, Suyadi (49). Namun, sekira pukul 09.15 Wib, Lili mendapat kabar kalau ada peristiwa yang menewaskan Febri. Ayah korban, Suyadi membenarkan keberadaan anaknya di pabrik, merupakan hari pertama bekerja, termasuk berangkat berangkat kerja. PNS di Dinas BP2KP itu, tiba-tiba mendapatkan kabar dari kemanakannya, Boy, kalau anaknya tewas saat bekerja di pabrik. Kapolsek Siantar Utara, Iptu Asmon Bufitra, membenarkan korban tewas karena lift pengangkat barang di pabrik Roti Ganda. Menurutnya, ini merupakan kecelakaaan kerja. Sementara itu, Humas Perusahaan Roti Ganda, Ondo Siahaan mengatakan, pihaknya turut berduka atas kematian korban. Lanjutnya, perusahaan juga menanggung segala biaya di rumah sakit dan penguburan korban. Ini termasuk akan memberikan uang duka kepada keluarga korban. (R2) http://mahardikanews.com/view/Hukum/1575/Sehari-Bekerja--Karyawan-Pabrik-Roti-GandaTewas-.html#.UmEWnqyp240

Banyak Perusahaan Abaikan K3, Kecelakaan Kerja Di Pelabuhan Perak Masi SURABAYA, SUARA PEKERJA.COM>>>Perlengkapan Keselamatan Keshatan Kerja (K3) dilingkungan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya belum seutuhnya terlaksana. Kalangan buruh yang bekerja belum memiliki perlengkapan keselamatan dan kesehatan kerja (K3) yang memadai sebagai unsur bagian terdepan melakukan aktivitas bongkar muat barang. Buruh tenaga kerja bongkar muat (TKBM) yang ada dipelabuhan masih kurang dihargai dan terkesan mengabaikan unsur pelaksanaan K3 sebagai aset pekerja yang berada dibagian terdepan dan rawan berbahaya saat melakukan pekerjaan. Kurangnya perhatian dan kepedulian perusahaan-perusahaan yang mempekerjakan memberi fasilitas K3 berujung tidak sedikit diantara TKBM menjadi korban kecelakaan kerja dan nyawa menghilang. Salah satu kasus yang terjadi Selasa (19/03/2013) menimpa salah satu buruh TKBM bernama Askan (53) tahun tinggal di desa sungai geneng Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan, meninggal karena kecelakaan kerja pembongkaran kayu gelondongan di dermaga nilam Tanjung Perak. Pemantauan dilokasi tempat kejadian perkara (TKP) korban dan TKBM yang bekerja malam itu tidak dilengkapi dengan perlengkapan keselamatan kesehatan kerja (K3) yang dicanangkan pemerintah. Sesuai informasi yang dihimpun Suara Pekerja.com, didermaga nilam kurun waktu 1 tahun terahir telah terjadi kecelakaan kerja, tiga (3) buruh TKBM meninggal dan dua (2) diantaranya kecelakaan kerja bidang pekerjaan membongkar kayu gelondongan dan satu (1) kecelakaan kerja bidang bongkar muat tiang pancang saat memuat barang kekapal. Beberapa bulan lalu salah satu TKBM juga menjadi korban kecelakaan kerja di dermaga kalimas karena sling peralatan yang digunakan kapal putus, sehingga bongkahan besi alat katrol mengenai korban dan akibatnya meninggal. Dari beberapa fakta yang ada tentu dapat dijadikan acuan bahwa perhatian keselamatan kesehatan kerja (K3) dilingkungan pelabuhan Tanjung Perak Surabaya, khususnya bagi kalangan buruh TKBM belum dilaksanakan sesuai dengan standart yang berlaku. Tentu sangatlah disayangkan jika buruh TKBM di pelabuhan Tanjung Perak, yang sudah berstatus pelabuhan Internasional pelaksanaan K3 diabaikan. Padahal BUMN ini telah menamakan diri bahwa Pelabuhan Tanjung PeraK sebagai Zero accident jika dilihat dengan perkembangan dan permasalahan tentu belum dapat memangku slogan zero accident karena kurun waktu 1 tahun terahir ini kecelakaan rentan. M. Khusnul Jakin, Manajer SDM dan Umum Pelindo III Tanjung Perak dikonfirmasi, Kamis (21/03/2013) seputar pelaksanaan K3 dilingkungan pelabuhan Tanjung Perak tidak banyak berkomentar. Menurut Husnul pelaksanaan K3 dikembalikan kepada perusahaan masing-masing. PT Pelindo III tidak memiliki wewenang mengawasi pelaksanaan K3 bagi buruh TKBM. Kejadian kecelakaan kerja buruh TKBM di dermaga Nilam, korban bekerja membongkar kayu log/gelongongan terjadi kecelakaan diatas kapal bukan di dermaga. Kejadian itu merupakan tanggungjawab perusahaan bongkar muat (PBM), yang memenuhi segala perlengkapan K3. Mereka yang harus mencukupi segala perlengkapan bukan PT Pelindo III. Husnul juga menolak bila PT Pelindo III disebut sebagai pengawas pelaksanaan keselamatan kesehatan kerja di

pelabuhan. I Nyoman Gde Saputra, Kepala Otoritas Pelabuhan Utama Tanjung Perak Surabaya dikonfirmasi Suara Pekerja.com soal pelaksanaan keselamatan kesehatan kerja (K3) bagi buruh TKBM Pelabuhan Tanjung Perak Surabaya mengatakan merupakan tanggungjawab masing-masing perusahaan bongkar muat (PBM) yang mempekerjakan buruh. Secara protap pelaksanaan K3 di pelabuhan Tanjung Perak sudah dan tidak mungkin harus kami awasi terus menerus kalau terjadi kecelakaan kerja harus dilihat apakah menggunakan peralatan keselamatan atau tidak. Jika tidak tentu PBM yang bersangkutan harus bertanggungjawab secara keseluruhan dan termasuk malah santunan urai I Nyoman.(Martin)Suarapekerja http://forum.viva.co.id/pidana-dan-perdata/835232-banyak-perusahaan-abaikan-k3-kecelakaan-kerja-dipelabuhan-perak-masi.html TRIBUNPEKANBARU.COM, PANGKALAN KERINCI - Kecelakaan kerja kembali terjadi di kompleks PT Riau Andalan Pulp and Paper (RAPP), Selasa (9/4) lalu. Dua karyawan mengalami cidera serius di areal pabrik pengolahan milik perusahaan bubur kertas ini. Informasi diperoleh Tribun dari kepolisian, persitiwa terjada pada pukul 11.00 WIB, tetapi baru tersiar ke khalayak ramai, Kamis (11/4) pagi. Dua pekerja mengalami kecelakaan di areal mesin kompeyor penggiling atau pencincang kayu, tempat keduanya bekerja. Satu pekerja, diduga Rizky (26), lengan dan tangan kirinya putus, sedangkan satu pekerja lainnya, tidak diketahui identitasnya. Namun dikabarkan cidera pada bagian dada. "Hingga kini PT RAPP belum ada melaporkan kejadian itu kepada kita, padahal peristiwanya sudah dua hari lalu. Informasi kita terima masih sebatas itu saja. Kita sudah berkali-kali menghubungi mereka untuk melapor, namun tak kunjung datang. Sepertinya mereka (RAPP) sengaja menutupi informasinya," ungkap Kepala Unit Reskrim Polsek Pangkalan Kerinci, Ipda Syahrul. Kanit Reskrim menjelaskan, kabar diperoleh, kedua pekerja merupakan tenaga kerja yang direkrut dari universitas ternama. Tapi, lagi-lagi informasi mendetilnya tak secara gamblang diketahui kepolisian. Bahkan, Polsek mengetahui kejadian itu dari warga. Syahrul menjelaskan, Polsek menunggu itikad baik PT RAPP melaporkan kejadian itu. Polisi berharap keluarga membuat laporan pengaduan atas anggotanya mengalami cidera di perusahaan berafiliasi dengan APRIL Group. "Jangankan untuk mengidentifikasi korban luka dan mencri data dirinya. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) saja belum ada kita lakukan. Karena informasinya ditahan oleh perusahaan," tuturnya. Corporate Communications Manager PT RAPP, Djarot Handoko, dalam siaran pers dikirimkan stafnya, Erik, membenarkan telah terjadi kecelakaan kerja di areal perusahaan, Selasa lalu. Korban dievakuasi ke Medical Clinic RAPP. Kemudian, dirujuk ke rumah sakit di Pekanbaru, guna mendapatkan perawatan dan penanganan yang terbaik. Rizky mengalami putus tangan diterbangkan ke satu RS di Singapura untuk dilakukan pengobatan. RAPP menolak membeberkan identitas pasti kedua karyawan terluka itu. Demikian juga dengan kronologis kejadian pun tak ingin disampaikan di dalam rilis tersebut. Saat Tribun meminta informasi akurat lainnya mengenai korban, perusahaan berdalih harus berkoordinasi dengan bagian tertentu dan keluarga korban. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnaker) Pelalawan, Nasri Fiesda, saat dikonfirmasi membenarkan adanya kabar kecelakaan kerja di PT RAPP. Namun Disnaker menerima kabar setelah beberapa juru warta menanyakannya. Nasri lalu menghubungi PT RAPP guna mengkroscek kebenaran kecelakaan kerja tersebut. Setelah itu, baru perusahaan memberikan informasinya kepada Disnaker.

"Kemungkinan besar kalau tidak saya telepon orang RAPP dan menanyakan langsung, mereka (RAPP) tidak akan melapor dan tetap mendiamkannya. Hingga saat ini masih sebatas lisan informasi ke kita," jelas Nasri. Ia mnegatakan, korban luka dua karyawan dan identitasnya belum dibeberkan perusahaan. Satu korban mengalami luka di tangan yang terpisah dari badan. Kini sudah diterbangkan ke Singapura. Sedang satu korban lain, mengalami patah tulang rusuk dan mengalami perawatan di RS Ibnu Sina Pekanbaru. Rencananya, kata Kadis Nasri, akan diterbangkan ke Malaka, Malasya. http://pekanbaru.tribunnews.com/2013/04/12/dua-karyawan-rapp-alami-kecelakaan-kerja

Karyawan Tewas Kecelakaan Kerja di Cilegon


CILEGON (Pos Kota) Karyawan CV. Mahakarya, subkontraktor di PT PDSU tewas dalam kecelakaan kerja, Kamis (4/4) petang. Korban Maryadi, 19, warga Desa Batu Kuda, Kec. Mancak, Kab. Serang, diketahui tewas terjepit karet conveyor perusahaan rafinasi di Jalan Raya Anyer, Kec. Ciwandan, Kota Cilegon. Diperoleh keterangan, peristiwa naas tersebut berawal saat korban yang selesai membersihkan conveyor pada pabrik gula tersebut. Entah bagaimana kejadiannya, tiba-tiba terseret kemudian terjepit karet conveyor. Diketahui, conveyor pabrik gula itu berada pada ketinggian sekitar 15 meter dari permukaan tanah. Korban tewas di tempat kejadian dengan luka di bagian dada terkena karet conveyor, dan kepala terbentur sehingga mengeluarkan darah karena terseret karet conveyor, lalu terjepit di antara karet conveyor, terang Kapolsek Ciwandan, Kompol Pipit Subiyanto dikonfirmasi poskotanews.com, Jumat (5/4). Kompol Pipit belum mengetahui sebab-sebab terjadinya kecelakaan kerja tersebut. Kapolsek mengaku masih memeriksa saksi-saksi serta olah tkp untuk mengetahui penyebabnya. Kami belum dapat memberikan keterangan terkait kepastian sebab-sebab terjadinya kecelakaan kerja tersebut. Kasusnya masih dalam penyelidikan, tegas Kapolsek didampingi Kanit Reskrim, AKP Firman Hamid. Dikatakan kapolsek, untuk melengkapi proses penyidikan, anggotanya langsung membawa mayat korban ke RSUD Serang untuk otopsi. Namun dari pihak keluarga korban menolak dengan alasan kejadian itu merupakan musibah yang harus diterima dengan ikhlas. Setelah visum, jenazah kami serahkan kepada keluarga untuk dimakamkan, ujar Kompol Pipit. (haryono/sir) http://www.poskotanews.com/2013/04/05/karyawan-tewas-kecelakaan-kerja-di-cilegon/