Anda di halaman 1dari 14

TINJAUAN PUSTAKA Ternak Babi Ternak babi bila diklasifikasikan secara zoologis termasuk ke dalam kelas mamalia, ordo

Artiodactyla, genus Sus dan spesies terdiri dari Sus scrofa, Sus vittatus, Sus cristatus, Sus leucomystax, Sus celebensis, Sus verrucosus, dan Sus barbatus (Sihombing, 2006). Babi merupakan ternak omnivora monogastrik yaitu ternak pemakan semua pakan dan mempunyai satu perut besar yang sederhana (Sihombing, 2006). Ternak babi merupakan salah satu dari sekian jenis ternak yang mempunyai potensi sebagai suatu sumber protein hewani dengan sifat-sifat yang dimiliki yaitu prolifik (memiliki banyak anak setiap kelahiran), efisien dalam mengkonversi bahan makanan menjadi daging dan mempunyai daging dengan persentase karkas yang tinggi (Siagian, 1999). Terdapat beberapa bangsa ternak babi yang sudah dikenal dan banyak dikembangkan, yaitu Yorkshire, Landrace, Duroc, Hampshire, dan Berkshire. Bangsa ternak babi adalah sumber genetik yang tersedia bagi peternak. Hampir semua ternak babi yang dikembangkan sekarang ini merupakan bangsa babi hasil persilangan (Siagian, 1999). Usaha peternakan babi akan dapat mendatangkan keuntungan ekonomi apabila dikembangkan dengan serius. Menurut Sihombing (2006), dua syarat yang harus dipenuhi dalam memulai usaha ternak babi, adalah pengadaan makanan yang cukup dan tempat pemasaran yang dekat. Sifat Reproduksi Ternak babi adalah ternak yang cepat berkembangbiak karena menghasilkan banyak anak yang lahir dari satu kelahiran dan dalam satu tahun dapat terjadi dua kali beranak bahkan dapat lima kali dalam dua tahun, dan cepat dewasa. Data mengenai sifat reproduksi ternak babi betina ditunjukkan dalam Tabel 1. Kebuntingan Kebuntingan adalah proses bersatunya sel sperma dan sel telur yang akan membentuk zigot dan kemudian menjadi embrio dan fetus. Lama kebuntingan ternak babi berkisar antara 111-117 hari atau rata-rata 114 hari. Meskipun perkembangan sejak pembuahan hingga kelahiran merupakan suatu proses berkesinambungan,

kebuntingan dianggap terdiri dari tiga fase, yaitu fase preimplantasi, embrio, dan fetus (Sihombing, 2006), tahapan ini akan diuraikan secara singkat. Tabel 1. Sifat Reproduksi Ternak Babi Betina Sifat Umur saat pubertas (bulan) Bobot badan saat estrus (kg) Lama estrus (hari) Panjang siklus estrus (hari) Waktu ovulasi setelah permulaan estrus (jam) Saat tepat dikawinkan Lama kebuntingan (hari)
Sumber: a). Toelihere (1985) b). Blakely dan Bade (1991)

a) 5-8 1-3 19-21

b) 4-7 70-110 1-5 18-24

hari ke-2 estrus 110-115

12-48 hari ke-2 estrus 111-115

Preimplantasi. Selama dua minggu pertama kebuntingan, telur yang tertunas bergerak dari Tuba Fallopi ke masing-masing tanduk uterus sampai hari ke-12 tempatnya masih bebas, namun dari hari ke-12 sampai hari ke-18 sudah menempatkan diri dan menetapkan posisi akhirnya di uterus (implantasi). Embrio. Periode embrio berlangsung selama minggu-minggu ke-3, ke-4, dan ke-5 kebuntingan dan ditandai oleh awal pembentukan organ-organ dan bagian-bagian tubuh. Dalam periode ini selaput pembungkus embrio (ari-ari, tembuni, plasenta) terbentuk dan berfungsi melindungi dan memberi makan embrio. Fetus. Pembentukan fetus berlangsung dari hari ke-36 hingga anak lahir sekitar hari ke-114. Sekitar hari ke-60 fetus mengembangkan sistem imunitasnya sendiri terhadap infeksi yang ringan. Kelahiran. Menurut Sihombing (2006) menjelang kelahiran, induk

memperlihatkan tanda-tanda gelisah dan aktivitas membuat sarang. Laju pernapasan meningkat selama 12 jam terakhir dan temperatur rektum meningkat 5 jam sebelum melahirkan. Kelahiran paling sering terjadi pada malam hari. Hormon yang memprakarsai kelahiran (proses kelahiran) atau partus adalah prostaglandin F2-alfa yang dihasilkan oleh fetus. Hormon ini menyebabkan regresi corpus luteum dan mengakibatkan keluarnya hormon-hormon relaxin dan oxytocin

dari kelenjar pituitary. Hormon relaxin dan oxytocin menimbulkan relaksasi servix sehingga terbuka corong jalan anak lahir dan oxytocin menyebabkan kelenjar susu mengeluarkan air susu (Sihombing, 2006). Produksi Air Susu Induk Babi Perkiraan produksi air susu induk (PASI) babi ini dimaksudkan untuk mengetahui jumlah air susu yang dihasilkan seekor induk babi dalam sehari. Meskipun sulit untuk mengetahui PASI yang seharusnya, namun dengan menghitung berapa kali induk babi menyusui anaknya dalam 24 jam, maka PASI dapat diperkirakan dalam sehari dengan menggunakan jumlah frekuensi menyusu. Siagian (1999) menyatakan selama periode laktasi seekor anak babi membutuhkan 30-37 kg air susu dengan frekuensi menyusu 18-28 kali per hari. Hartmann dan Holmes (1989) menyatakan anak babi menyusu 20 kali atau lebih dalam sehari. Ransum Ransum adalah makanan yang diberikan pada ternak tertentu selama 24 jam, pemberiannya dapat dilakukan sekali atau beberapa kali selama 24 jam tersebut. Ransum sempurna adalah kombinasi beberapa bahan makanan yang bila dikonsumsi secara normal dapat mensuplai zat-zat makanan kepada ternak dalam perbandingan jumlah dan bentuk sedemikian rupa sehingga fungsi-fungsi fisiologis dalam tubuh berjalan dengan normal (Parakkasi, 1995). Ransum yang dikonsumsi ternak babi akan diubah menjadi jaringan tubuh, juga digunakan sebagai sumber energi dan sebagian lagi akan dikeluarkan menjadi kotoran (Siagian, 1999). Menurut Sihombing (2006) bahwa induk babi selama bunting dan laktasi membutuhkan ransum masingmasing adalah 2,00-2,50 kg dan 3,00-4,50 kg per hari per ekor. Konsumsi ransum untuk induk babi laktasi harus disesuaikan dengan jumlah anaknya, sebab semakin banyak anak semakin besar perangsang produksi air susu induk. Semakin banyak ransum yang diperoleh pada waktu laktasi maka produksi air susu meningkat. Kosumsi air minum untuk induk babi bunting dan laktasi sekitar 10-20 liter/hari. Tingkat konsumsi (Voluntary Feed Intake) diartikan sebagai jumlah makanan yang dikonsumsi oleh hewan bila bahan makanan tersebut diberikan ad libitum (Parakkasi, 1995). Konsumsi zat makanan sangat diperlukan untuk membantu metabolisme dalam tubuh (Sutardi, 1980).

Tingkah Laku Ilmu yang mempelajari tentang tingkah laku hewan disebut ethology, yang berasal dari kata ethos yang berarti karakter atau alam dan logos yang berarti ilmu. Mempelajari tingkah laku hewan berarti menentukan karakteristik hewan dan bagaimana responnya terhadap lingkungan. Selama interaksi tersebut ternak akan menimbulkan respon berupa tingkah laku terhadap lingkungan yang dihadapinya (Gonyou, 1991). Tingkah laku penting untuk diperhatikan dalam manajemen reproduksi karena berpengaruh terhadap keberhasilan pengawinan dan jumlah anak yang dapat bertahan hidup (Hafez, 1987). Ternak babi lebih suka hidup dalam sebuah keluarga atau dalam kelompok kecil. Jantan tua biasanya hidup sendiri (soliter). Ternak babi mengandalkan penciuman dan pendengaran dibandingkan dengan penglihatannya dan ternak babi memiliki wilayah yang luas dalam komunikasi. Ternak babi memiliki kemampuan yang tinggi dalam mengalokasikan sumber bau. Babi sangat sensitif terhadap iklim yang ekstrim atau panas. Babi tidak punya kelenjar keringat dan tidak memiliki bulu yang lebat untuk melindungi, babi mengandalkan lapisan lemak sebagai insulasi. Jadi babi akan berkumpul atau berkerumun untuk menjaga panas dan berkubang untuk menjaga suasana tetap dingin. Babi merupakan binatang yang sangat mudah beradaptasi dan ternak ini merupakan binatang yang cepat belajar (Kilgour dan Dalton, 1984). Tingkah Laku Harian Secara umum tingkah laku harian yang ditunjukkan oleh induk babi menyusui meliputi makan, minum, istirahat, eliminasi, merawat diri dan anak, sosial, bergerak dan agonistik. Aktivitas tingkah laku tersebut dilakukan tiap hari dengan frekuensi yang bervariasi (Kilgour dan Dalton, 1984). Tingkah Laku Makan Menurut Kilgour dan Dalton (1984), secara umum hewan mempunyai tiga cara dalam memperoleh makanan, yaitu (1) tetap berada ditempat dan makanan datang sendiri, (2) berjalan untuk mencari makan dan (3) menjadi parasit bagi organisme lain. Tingkah laku makan dipengaruhi oleh faktor genetik, suhu lingkungan, jenis makanan yang tersedia, dan habitat.

Fungsi utama tingkah laku adalah untuk menyesuaikan diri terhadap beberapa perubahan keadaan, baik dari luar maupun dari dalam. Tingkah laku makan disebabkan oleh adanya rangsangan dari luar (makanan) dan rangsangan dari dalam (adanya kebutuhan atau lapar). Tingkah laku ini berkembang sesuai dengan perkembangan dari proses belajar (Alikodra, 1990). Faktor suhu lingkungan dapat mempengaruhi jumlah makanan yang dikonsumsi. Pada suhu rendah, babi akan mengkonsumsi makanan lebih banyak daripada saat suhu lingkungan tinggi. Faktor jenis makanan yang tersedia berpengaruh terhadap tingkah laku makan, terutama dalam menggunakan anggota tubuhnya untuk mendapatkan, mengambil dan memakan. Faktor habitat, baik in situ (alami) maupun ex situ (di luar habitat) mempengaruhi tingkah laku makan yang berbeda (Kilgour dan Dalton, 1984). Aktivitas konsumsi meliputi proses mencari makan, mengenal dan mendekati pakan, proses bekerjanya indra hewan terhadap pakan dan proses memilih pakan. Produktivitas hewan salah satunya dapat dilihat dari jumlah konsumsi. Konsumsi pakan akan bertambah jika diberikan pakan yang berdaya cerna lebih tinggi daripada pakan yang berdaya cerna rendah. Iklim yang sangat ekstrim berpengaruh terhadap konsumsi hewan. Apabila iklim panas maka konsumsi akan menurun, sebaliknya apabila iklim dingin maka jumlah konsumsi akan meningkat (Tomaszewska et al., 1991). Tingkah Laku Minum Air merupakan kebutuhan vital untuk mempertahankan kehidupan ternak. Air juga memegang peranan penting dalam mengangkut zat-zat makanan ke jaringan tubuh dan membuang sisa-sisa metabolisme, membantu berfungsinya dengan baik reaksi-reaksi enzim, dan mekanisme pengaturan suhu tubuh. Kebutuhan air minum pada ternak tergantung beberapa hal, yaitu banyaknya bahan kering yang dimakan, banyaknya air yang hilang dari tubuh, spesies ternak, dan keadaan ternak (berproduksi atau tidak). Apabila ternak kekurangan air maka akan berpengaruh pada air yang diminum dan makanan yang dimakan, metabolisme, dan produktivitas ternak. Tingkah laku minum dipengaruhi oleh suhu udara, berat badan, keadaan tubuh, fisiologis dan phatologis (sakit) (http://novalinahasugian).

Tingkah Laku Istirahat Tingkah laku istirahat sama seperti tingkah laku makan dan seksual karena dipengaruhi oleh faktor endogenous. Ini merupakan suatu fase dimana ternak mulai memperhatikan tempat atau mempersiapkan tempat yang nyaman untuk istirahat. Istirahat ada dua tipe, yaitu istirahat aktif dan istirahat tenang. Istirahat aktif merupakan saat dimana ternak tidur dalam jangka waktu yang lama, sedangkan istirahat tenang merupakan fase dimana ternak memejamkan mata dan lebih mudah untuk membangunkan ternak. Berdasarkan data yang diperoleh diketahui bahwa hampir sebagian besar ternak melakukan istirahat tenang karena tempat istirahat tidak sesuai dengan habitat ternak (Kilgour dan Dalton, 1984). Tingkah Laku Sosial Ternak yang tinggal dalam lingkungan peternakan mempunyai tingkah laku sosial yang kompleks. Tingkah laku sosial tidak sama dengan tingkah laku yang lainnya yang didasarkan kepada mekanisme psikologi dasar. Meskipun demikian, tingkah laku sosial ini muncul menjadi sebuah sistem motivasi yang tepat untuk dapat bersama dengan ternak lainnya. Tingkah laku sosial ini juga memunculkan persaingan baik dalam bermain ataupun dalam memperoleh sesuatu hal yang

menimbulkan adanya sistem hierarki dalam suatu kelompok (Kilgour dan Dalton, 1984). Tingkah Laku Mempertahankan Diri (Agonistik) Agonistik berasal dari kata latin yang berarti berjuang. Selanjutnya dipaparkan, bahwa agonistik mempunyai pengertian yang cukup luas meliputi menonjolkan postur, melakukan pendekatan, menakut-nakuti dan berkelahi. Juga meliputi seluruh tingkah laku yang ada hubungannya dengan agresivitas, kepatuhan dan pertahanan. Tingkah laku ini dilakukan untuk mendapatkan kenyamanan dalam hidup dan tempat hidupnya (Tomaszewaska et al.,1991). Pola perilaku agonistik merupakan interaksi sosial antara satwa yang dikategorikan ke dalam beberapa tingkat konflik, yaitu dalam memperoleh makan, pasangan seksual, dan perebutan wilayah istirahat dengan melakukan tindakan yang bersifat ancaman menyerang dan perilaku patuh. Tingkah laku yang termasuk kedalam tingkah laku agonistik adalah berkelahi, berlari atau terbang serta tingkah

laku lain yang mempunyai hubungan dengan konflik. Pada hewan mamalia jantan tingkah laku berkelahi lebih tinggi dibandingkan dengan hewan mamalia betina, hal ini karena dipengaruhi oleh hormon, terutama oleh hormon testosteron (Ensminger, 1991). Tingkah Laku Reproduksi Hampir sebagian besar babi dara mengalami estrus antara 170 - 220 hari setelah lahir, biasanya babi dara yang mengalami estrus sudah memilki bobot badan sekitar 90 kg. Penelitian menunjukkan bahwa musim dan lingkungan sosial sangat penting dalam mempengaruhi estrus pertama babi dara. Kontak dengan babi jantan dewasa juga penting dalam merangsang babi dara untuk estrus. Kebuntingan adalah proses bersatunya sel sperma dan sel telur yang akan membentuk zigot dan kemudian menjadi embrio dan fetus. Lama kebuntingan ternak babi berkisar antara 111-117 hari atau rata-rata 114 hari (Sihombing, 2006). Tingkah Laku Sebelum Beranak. Sebelum kelahiran, hewan induk

cenderung untuk berkelana sendiri dan terpisah dari kelompoknya untuk mencari tempat perteduhan dan mikroklimat yang sesuai. Dengan mendekatnya masa partus pernafasan secara gradual dipercepat, kulit mengering, suara membesar dan hewan menjadi tidak tenang. Babi induk akan menjadi tidak tenang dan sering menggigitgigit tembok dan pagar serta mencari jalan keluar. Di dalam kurungan, babi induk mencoba menutupi setiap lobang yang ada seperti tempat air dengan jerami (Wyeth dan McBride, 1964). Apabila betina dikagetkan sebelum partus, ia akan agresif, menandakan proteksi maternal. Terdapat perbedaan bangsa dan individu dalam derajat ketidak tenangan menjelang partus. Induk yang sudah sering beranak kelihatannya lebih tenang daripada yang baru sekali beranak (Wyeth dan McBride, 1964). Sifat pembuatan sarang maternal terdapat pada babi, kelinci dan rodensia. Babi induk akan mencari suatu daerah tertentu untuk pembuatan sarang, satu sampai tiga hari sebelum beranak dan mencoba mempertahankan sarang tersebut bersih dan kering. Pada kondisi di lapangan yang luas, babi induk membawa jerami atau rumput di dalam mulutnya, menggali dan menggaruk tanah dan rumput-rumputan menjadi setumpuk dan secara periodik membongkar bagian tengahnya untuk mencari tempat

berbaring. Ia akan membangun kembali sarangnya beberapa kali, dan membangkang terhadap usaha manusia memindahkan tempat sarang tersebut (Hersher et al., 1963). Motif untuk membangun sarang mungkin berhubungan dengan fungsi pengaturan panas terhadap anak yang baru lahir. Pembuatan sarang lebih sering terjadi pada musim dingin daripada musim panas. Pada hewan liar sarang berguna sebagai tempat pengungsian dari pencari-pencari mangsa dan sebagai tempat tinggal dan tempat pemberian makanan selama pembesaran anak (Hafez, 1987). Tingkah Laku Saat Beranak. Posisi induk berbagai spesies selama melahirkan ada hubungannya dengan cara memelihara anak. Kuda dan gajah melahirkan anak dalam posisi berdiri, sapi dan domba melahirkan anak dapat terjadi sewaktu induk dalam keadaan berdiri atau berbaring. Pada induk babi pengeluaran anak dalam posisi berbaring. Namun babi yang gugup dapat berdiri antara waktu mengeluarkan setiap anak (Wyeth dan McBride, 1964). Selama perejanan, induk sering memperhatikan daerah anak dan menjilat cairan dan membran yang menonjol keluar. Penjilatan ini mungkin ada hubungannya dengan kebutuhan akan garam selama kebuntingan (Steinberg dan Bindra, 1962). Penelitian menunjukkan bahwa waktu yang dibutuhkan untuk

mengeluarkan seluruh anak pada saat beranak (kira-kira 11,3 ekor anak babi) adalah 2 jam 53 menit. Jarak waktu per kelahiran anak babi adalah 25 menit sampai 8 jam 55 menit. Normalnya, 55-75% kepala anak babi yang pertama kali keluar dan 2545% kaki bagian belakang yang pertama kali keluar. Setelah seluruh anak babi lahir, induk akan berdiri dan biasanya akan kencing (Kilgour dan Dalton, 1984). Tingkah Laku Setelah Beranak. Sesudah pengeluaran foetus, sapi dan domba akan menjilat tubuhnya sendiri, tubuh anaknya, cairan plasenta dan pembaringannya yang terkontaminasi dengan cairan plasenta. Induk babi jarang menjilat anaknya yang baru lahir dan tidak begitu memperhatikan anaknya sampai anak terakhir dikeluarkan (Toelihere, 1979). Placentophagy atau pemakan plasenta sesudah partus banyak terjadi pada ternak herbivora maupun karnivora. Induk babi dapat merobek membran foetalis, menggigit chorda umbilicalis, memakan plasenta dan alas pembaringan yang terkontaminasi dengan cairan plasenta. Pada ternak babi, induk dapat memakan

ujung-ujung tubuh satu atau lebih anaknya pada hari kelahiran. Fenomena ini disebut infanticida canibalistic. Beberapa induk babi yang gugup bersifat kanibalistik selama atau segera sesudah melahirkan. Apabila anaknya dipisahkan sewaktu lahir dan dikembalikan kepada induk sesudah partus, induk akan menunjukkan sifat maternal yang normal (Toelihere, 1979). Tingkah Laku Eliminasi Tempat eliminasi (membuang urin dan kotoran) terkonsentrasi pada satu tempat. Ternak babi biasanya akan membuang kotoran pada saat setelah makan di salah satu sudut kandang. Eliminasi dipengaruhi oleh iklim dan lingkungan (http://novalinahasugian). Tingkah Laku Induk dan Anak Segera setelah lahir akan terjalin suatu hubungan induk-anak secara permanen. Dua kejadian penting menimbulkan hubungan penjilatan membran foetalis oleh induk, dan kontak yang terus menerus antara induk-anak sesudah lahir. Hubungan induk dan anak dinyatakan dengan saling mengenal. Pengenalan antara induk dan anak didasarkan pada penciuman, penglihatan dan pendengaran. Kelakuan induk terhadap anak mempengaruhi kelakuan emosional dan bobot badan anak. Demikian pula kelakuan anak dari lahir sampai disapih dapat membawa perubahan pada kelakuan induk (Gill dan Thompson, 1956). Tingkah Laku Induk Menyusui. Kelakuan induk sangat mempengaruhi pengalaman anak dalam menyusu. Induk menuntun anak untuk melokalisir puting susu. Sebelum hal ini dilaksanakan, anak akan menjilat setiap penonjolan pada tubuh induk. Induk dan anak selalu berinteraksi, pertukaran informasi ini meliputi saluransaluran penglihatan, perabaan, pendengaran dan penciuman (Gill dan Thompson, 1956). Kontak fisik antara induk dan anak adalah suatu kebutuhan fisiologis. Pada beberapa hewan polytocous kontak demikian memberi kehangatan bagi anak yang bersifat poikilothermis selama beberapa minggu pertama kehidupannya. Pada sapi, domba dan kuda umumnya dilakukan pada satu sisi induk membentuk suatu sudut dengan ekor anak menghadap pundak induk. Menyusui melalui kedua kaki belakang

induk terlihat pada kerbau, sapi dan domba. Induk mempermudah penyusuan dengan mengangkat sebelah kaki di sisi dimana sedang disusui (Gill dan Thompson, 1956). Babi betina memilih suatu posisi tertentu di dalam kandang dimana ia berbaring dan menyusui anaknya. Induk babi akan membetulkan kedudukannya sewaktu anak menghisap putingnya untuk pertama kali. Selama menyusui, biasanya babi induk membagi waktu yang sama banyak untuk berbaring disisi kanan atupun sisi kiri. Beberapa induk babi memilih berbaring hanya pada satu sisi dan ada pula yang memilih berdiri sewaktu menyusui. Sekali induk babi sudah berbaring pada satu sisi, ia tidak berbalik pada sisi lain selama periode menyusui yang sama. Stimulasi perabaan terhadap ambing selama penyusuan mempengaruhi let-down susu. Rangsangan visual dan auditoris dengan adanya anak menyusu akan segera bersatu dengan rangsangan perabaan, dan menyebabkan ejeksi air susu (Gill dan Thompson, 1956). Tingkah Laku Anak Menyusu. Pada ternak mamalia anak yang baru lahir sangat cepat mengerti, bangkit berdiri dan berjalan segera sesudah lahir dan mempelajari sumber makanan secara cepat dan efisien. Satu sifat anak yang baru lahir adalah bahwa ia selalu mengikuti induknya, tetapi dalam beberapa minggu ia berkelana makin jauh sampai penyapihan (Gill dan Thompson, 1956). Anak yang baru lahir dilengkapi dengan beberapa pola kelakuan yang berkembang baik seperti menyusu dan bermain, tetapi pola-pola lain berkembang di bawah pengaruh stimulasi induk dan belajar (Toelihere, 1979). Penelitian menunjukkan bahwa lebih dari 70% anak babi lahir dengan tali pusar yang masih utuh dan melekat pada fetal bagian dalam. Tali pusar dapat melunak sebelum putus. Putusnya tali pusar membutuhkan waktu kira-kira 2-6 menit setelah 4-5 jam anak babi lahir. Hampir sebagian besar anak babi mencoba berdiri dalam satu menit setelah lahir dan dalam dua menit dapat berdiri bebas dan memulai untuk mencari puting atau tonjolan yang dirasa seperti puting (Kilgour dan Dalton, 1984). Anak yang baru lahir cenderung untuk bergerak ke arah setiap obyek. Proses menyusu pada babi terdiri dari pengurutan permulaan yang berlangsung satu menit, ejeksi air susu yang berlangsung beberapa detik, dan susu pengurutan final selama dua sampai tiga menit. Penyusuan disertai dengan suara protes, bergumam dan bunyi

menghisap. Interval antara penyusuan lebih pendek selama siang hari dibanding dengan malam hari. Selama hari-hari pertama sesudah partus, anak-anak babi bergumul memperebutkan puting susu sampai suatu ketika mereka menempati suatu urutan tertentu pada mammae. Walaupun mereka dapat berpindah puting, terutama pada hari pertama, mereka kemudian akan menyusu puting atau puting-puting yang sama sampai pada penyapihan (Gill dan Thompson, 1956). Puting yang dihisap terlebih dahulu adalah puting susu pektoral di sebelah puting paling cranial (bagian depan/dekat kepala) dan puting susu unginal paling caudal (dekat ekor), dan menjelang akhir minggu kedua baru puting-puting susu medial (bagian tengah). Aturan penyusuan ditentukan lebih cepat dan lebih dipertahankan pada anak-anak babi yang sehat daripada yang lemah. Puting yang produktif lebih disenangi dan anak-anak babi yang lebih besar biasanya memilih puting tesebut. Kompetisi untuk memperebutkan puting-puting cranial berlangsung sengit pada tiga hari pertama setelah lahir. Anak-anak babi dapat menukarkan puting pilihannya selama permulaan periode menyusu dan mencoba berpindah ke cranial. Penyusuan jamak menunjukkan anak babi yang menyusu dua puting. Anak-anak babi ini tidak memberikan perhatian yang sama untuk setiap puting dan lebih besar perhatian pada satu (puting primer) dan kurang pada yang lain (puting sekunder) (Wyeth dan McBride, 1964). Daun Bangun-bangun Tanaman bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) dapat dijumpai hampir di semua tempat di Indonesia dengan nama daun jinten. Orang Sunda menamakan daun ajeran. Di Madura disebut daun majha nereng atau daun kambing, sedangkan orang Bali menamai daun iwak. Sementara orang Batak meyebutnya bangun-bangun, torbangun atau tarbangun (Damanik et al., 2001). Taksonomi tanaman bangun-bangun menurut Heyne (1987) adalah kerajaan Plantae, divisi Phanerogamae, subdivisi Spermatophyta, kelas Angiospermae, ordo Tubiflorae, family Limiaceae, dan spesies Coleus amboinicus Lour, seperti dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Tanaman Bangun-bangun (Coleus amboinicus Lour) Senyawa Aktif Bangun-bangun Analisis dengan menggunakan Gas Chromatography (GC) dan Gas

Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) oleh Laboratorium Department of Chemistry Gorakhpur University pada tahun 2006, menemukan kandungan senyawa penting yang berperan aktif dalam metabolisme sel dan merangsang produksi susu dalam Coleus amboinicus Lour. Senyawa tersebut dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2. Kandungan Senyawa Aktif dalam Coleus amboinicus Lour
Senyawa Aktif Thymol Forskholin Carvacrol Jumlah * 94.3 % 1.5 % 1.2 %

Sumber : Laboratorium Department of Chemistry Orakhpur University, India (2006) *97% dari total kandungan asam lemak

Ketiga senyawa tersebut telah diuji manfaat dan efektivitasnya terhadap ternak. Thymol merupakan antibiotik alternatif yang menjanjikan dan dapat digunakan untuk ternak tanpa memberikan efek negatif terhadap daging atau susu yang diproduksi (Acamovic dan Brooker, 2005). Senyawa carvacrol dikenal sebagai senyawa antiinfeksi dan antiinflamasi (Burfield 2001), tetapi dari penelitian Ilsley et al. (2003) terungkap bahwa penggunaan carvacrol dalam suatu campuran ekstrak tanaman sebagai suplemen dalam ransum babi laktasi menghasilkan litter size, bobot lahir, kecernaan bahan kering, kecernaan bahan organik, dan kecernaan protein lebih tinggi dibanding babi laktasi yang diberi ransum tanpa suplementasi. Sahelian (2006) dalam Rumetor (2008) melaporkan bahwa senyawa forskholin bersifat membakar lemak menjadi energi.

Lawrence et al. (2005), mengemukakan bahwa secara umum dalam daun bangun-bangun telah ditemukan tiga komponen utama. Komponen pertama adalah senyawa yang bersifat laktagogue, yaitu komponen yang dapat menstimulir produksi kelenjar air susu pada induk laktasi. Komponen kedua adalah komponen zat gizi dan komponen ketiga adalah komponen farmakoseutika yaitu senyawa-senyawa yang bersifat buffer, antibakterial, antioksidan, pelumas, pelentur, pewarna dan penstabil. Dosis penggunaan berkisar 0,25 sampai 10 g/kg bobot badan/hari, yang bervariasi menurut umur dan status fisiologis ibu atau induk ternak. Peranan Bangun-bangun Menurut Damanik et al. (2001), daun bangun-bangun dapat memberikan manfaat kesehatan bagi pertumbuhan bayi yang ibunya mengkonsumsi daun bangunbangun karena daun ini dapat meningkatkan produksi air susu ibu. Peningkatan volume air susu terjadi karena adanya peningkatan aktivitas sel epitel yang ditandai dengan meningkatnya DNA dan RNA kelenjar ambing dan peningkatan metabolisme yang ditandai dengan menurunnya konsentrasi T4 dan glukosa serum (Silitonga, 1993). Menurut phythochemical database Duke (2000), senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam daun bangun-bangun berpotensi terhadap bermacam-macam aktivasi biologi, misalnya antioksidan, diuretik, analgesik, mencegah kanker, anti tumor, dan anti hipotensif. Selain itu, daun bangun-bangun dapat dimasak sebagai sayur atau untuk lalapan. Hal tersebut diatas dapat dibuktikan secara ilmiah.

Berdasarkan hasil penelitian Damanik et al. (2001) bahwa pada saat minggu kedua (hari ke-14 hingga hingga ke-28 setelah suplementasi sayur sop daun bangunbangun), wanita yang telah mengkonsumsi sayur sop daun bangun-bangun mengalami peningkatan kuantitas ASI. Selain itu, daun bangun-bangun juga mampu meningkatkan kesehatan wanita pasca melahirkan, berperan sebagai uterine cleansing agent, dan dalam bentuk sop daun bangun-bangun, mampu menggantikan energi yang hilang selama proses melahirkan (Damanik et al., 2001). Daun bangun-bangun mengandung kalium yang berfungsi sebagai pembersih darah, melawan infeksi, mengurangi rasa nyeri dan menimbulkan rasa tenang sehingga sekresi susu menjadi lancar. Di kepulauan China, jus daun ini dapat diberikan untuk obat batuk anak-anak dengan tambahan gula. Daun ini juga dapat

digunakan sebagai obat asma dan bronkhitis, penyembuh luka, dibuat sebagai jamu penurun panas, atau langsung dikunyah untuk obat sariawan (Heyne, 1987). Daun bangun-bangun berpotensi sebagai bahan pangan sumber zat besi, provitamin A (karoten), dan kalsium. Dalam 100 gram bahan daun bangun-bangun terkandung kalsium sebesar 279 mg, besi sebesar 13,6 mg, dan karoten total sebesar 288 mg. Nilai ketiga jenis zat gizi ini lebih besar bila dibandingkan dengan yang terkandung dalam daun katuk (Sauropus androgynus), karena daun katuk hanya mengandung kalsium sebesar 233 mg, besi sebesar 3,5 mg, dan karoten total sebesar 10.020 mg. Data selengkapnya tentang komposisi zat gizi daun Bangun-bangun dan Katuk tercantum dalam Tabel 3. Tabel 3. Komposisi Zat Gizi Daun Bangun-bangun dan Katuk Komposisi Zat Gizi Energy (kal) Protein (g) Lemak (g) Karbohidarat Serat (g) Abu (g) Kalsium (g) Fosfor (g) Besi (mg) Karotin total (g) Vitamin A (mg) Viatamin B1 (mg) Vitamin C (mg) Air (%) Berat Dapat Dimakan (%) Sumber: Mahmud et al. (1995). Bangun-bangun 27,0 1,3 0,6 4,0 1,0 1,6 279,0 40,0 13,6 13288,0 0,0 0,1 5,1 92,5 66,0 Katuk 59,0 6,4 1,0 9,9 1,5 1,7 233,0 98,0 3,5 10020,0 0,0 0,0 164,0 81,0 42,0