Anda di halaman 1dari 3

Peralihan Media Konvensional ke Media Digital dalam Dunia Desain Komunikasi Visual oleh Deni Albar

Penggunaan media konvensional kertas sudah digunakan dari semenjak dahulu kala. Kata kertas sendiri dalam bahasa inggris yaitu paper, diambil dari kata papir yang telah dikenal sejak peradaban Mesir kuno, merupakan alat tulis-menulis yang digunakan pada masa itu, bahannya berasal dari tanaman papyrus yang sering ditemukan disekitar sungai Nil. Papyrus tidak hanya digunakan untuk menulis saja, namun juga digunakan sebagai bahan kasur, kapal, tali, keranjang dan lain sebagainya. Sedangkan dalam peradaban Cina, pada tahun 101 Masehi, Lai Tsun memanfaatkan pohon bambu untuk menjadi media tulis menulis yang kemudian menyebar ke negara lain seperti Korea dan Jepang. Teknologi yang telah berumur ratusan tahun tersebut saat ini mengalami permasalahan dalam hal bahan bakunya yang mulai diperdebatkan. Di Indonesia sendiri, bahan kertas biasanya menggunakan pohon Akasia dan Eukaliptus. Pohon tersebut hanya tumbuh ditempat-tempat tertentu seperti negara tropis dan memiliki waktu panen yang relatif singkat. Pemanfaatan pohon sebagai bahan kertas menjadi isu lingkungan dimana pohon banyak ditebang untuk memenuhi pasokan bahan kertas. Isu mengenai lingkungan ini menjadi salah satu pemicu bagi para desainer khususnya bidang Desain Komunikasi Visual (DKV) untuk memanfaatkan media lain guna mendukung isu lingkungan yang lebih baik. Adanya teknologi komputer saat ini yang didukung dengan keberadaan Internet, menjadi modal dalam menghadirkan bentuk desain yang lain di masyarakat. Gaya hidup masyarakat yang telah akrab dengan dunia teknologi internet sangat memungkinkan untuk

menggarap media digital ini sebagai media dalam bidang DKV. Komputer telah mempengaruhi pola hidup dimasyarakat, masyarakat kini bisa menggunakan fitur yang tersedia dalam komputer untuk menggantikan media konvensional lainnya seperti melihat album digital, membaca surat, mengatur keuangan dan lain sebagainya. Ketersedian komputer yang rata-rata telah hadir di masyarakat saat ini, menjadi salah satu alasan mungkinnya suatu bentuk digital untuk diberikan pada konsumen kalangan tertentu. Fitur yang terdapat pada komputer yang sudah mendukung fitur audio melalui speaker device, interface melalui layar, sensor gerak melalui sensor device seperti mouse, digital pen dan lain sebagainya memberikan peluang besar dalam menyuguhkan media desain digitalpada khalayak masyarakat. Keberadaan alat untuk mengakses media digital untuk saat ini tersebar luas tidak terbatas melalui komputer saja. Fasilitas telepon genggam yang telah banyak dimiliki berbagai kalangan masyarakat dapat menjadi fasilitas penyebaran media desain digital. Saat ini telepon genggam dengan kisaran harga yang relatif terjangkau oleh masyarakat sudah banyak beredar dimasyarakat, fitur yang disuguhkanpun telah mampu menunjang teknologi yang mampu menghadirkan desain dengan format digital. Pada dasarnya, suatu kalangan masyarakat mampu untuk menerima perubahan media apabila ada yang mendahuluinya dan menjadi contoh bagi yang lain. Media seperti Facebook misalnya; dulu media ini hanya digunakan oleh kalangan tertentu, namun kini media seperti Facebook tidak lagi hanya digunakan masyarakat perkotaan dan dimiliki satu kalangan saja, kini media seperti Facebook juga digunakan oleh masyarakat di daerah perdesaan dan dari berbagai kalangan masyarakat. Contoh lainnya seperti fasilitas MMS dalam telepon genggam, MMS bisa menjadi pola penyebaran baru iklan atau poster yang sekilas merusak penampilan keindahan bangunan atau wujud kota dengan berbagai tempelan pada dinding-dinding bangunan yang

menjadikan wujud kota tampak sembrawut dan kotor. Telah banyak beredar pola-pola baru dalam dunia desain komunikasi visual. Beberapa bentuk desain konvensional kini mulai dibarengi keberadaannya dengan media digital, misal keberadaan koran, tabloit atau majalah yang secara berbarengan juga memiliki situs web untuk mendampingi keberadaannya. Contoh yang lainnya misal media desain buku katalog dari komoditas yang dapat digantikan baik dengan media katalog online melalui internet maupun katalog offline melalui CD/DVD interaktif. Media digital dapat menjadi salah satu solusi media desain dalam menyelaraskan dengan isu lingkungan yang sedang gencar dikampanyekan oleh dunia. Baik media digital maupun media konvensional seperti kertas memiliki kelebihan dan kekurangannya masing-masing. Apabila penggunaan media konvensional kertas dapat dibantu atau dikurangi pemakaiannya secara sedikit demi sedikit, beralih melalui media digital secara berangsurangsur, tentunya dapat membantu dalam menangani isu lingkungan serta merubah suatu sistem informasi dalam bentuk desain komunikasi visual menjadi lebih efisien, interaktif dan menarik.