Anda di halaman 1dari 9

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A.

Pengertian Restorasi Gigi Restorasi adalah hasil akhir prosedur kedokteran gigi yang bertujuan memugar bentuk, fungsi, dan penampilan gigi. (Harty dan Ogston, 1995) B. Pengertian Amalgam Amalgam adalah alloy yang memiliki merkuri sebagai salah satu komponennya. Amalgam yang digunakan dalam kedokteran gigi, adalah bubuk dan cair. Liquidnya yaitu merkuri sedangkan powdenya adalah silver based alloy dengan jenis varian dan kombinasi. Amalgam adalah campuran merkuri dengan satu atau lebih logam lainnya, amalgam gigi paling moden terdiri dari kombinasi merkuri dengan perak, timah, tembaga, dan zink. Amalgam berasal dari kata yunani malagma(emolien) dari malassein (untuk melunakkan), titik lebur campuran yang diturunkan dan massa yang demikian dilunakkan oleh adanya merkuri sebagai komponennya. (McGehee, 1956) Amalgam didefinisikan sebagai campuran dari dua atau beberapa logam (alloy) yang salah satunya adalah merkuri. Dental amalgam sendiri merupakan campuran dari merkuri (Hg), perak(Ag),timah (Sn), tcmbaga (Cu) dan bahan-bahan lain yang memiliki fungsinya masingmasing. Semua unsur tersebut saling melengkapi jika dikombinasikan dengan perbandingan yang tepat. Amalgam dapat mengalami perubahan dimensi selama pemanipulasiannya. Terdapat dua jenis perubahan dimensi pada amalgam, yaitu kontraksi (pengerutan) dan ekspansi (pengembangan). Ekspansi dapat menyebabkan tekanan pada puIpa dan sensitivitas pascaoperatif, sedangkan kontraksi dapat berakibat pada timbulnya celah keeil dan karies sekunder. Kontraksi terjadi setelah triturasi yang disebabkan oleh larutnya partikel Ag dan terbentuknya kristal V1 yang menimbulkan volume akhir yang lebih keeil dari pada volume awalnya. Suatu kontraksi yang kecil dapat terjadi kembali pada 1-2 jam setelahnya karena pembentukan massa padat Hg di dalam Ag3Sn. Pada saat kondensasi, kontraksi masih berlangsung karena tekanan yang diberikan menyebabkan bergeraknya merkuri keluar dari massa. Ekspansi yang timbul 20 menit setelah triturasi disebabkan oleh penyusunan yang rapat dari kristal-kristal y1 di dalam matrix. Ekspansi terns berlanjut sampai satu jam. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya perubahan dimensi pada amalgam adalah ukuran partikel alloy, perbandingan merkuri dengan alloy amalgam, waktu triturasi, kondensasi dan kontaminasi (http://www.researchgate.net/) C. Sejarah Amalgam Amalgam dalam bidang kedokteran gigi disebut dental amalgam, yaitu suatu paduan antara merkuri (Hg) dan suatu alloy. Menurut Charbeneau dkk. (1981) amalgam pertama kali diperkenalkan oleh Taveau pada tahun 1826 di Paris. Pada waktu pertama kali diperkenalkan, amalgam disebut silver amalgam, karena bagian terbesar komponennya adalah perak. Black

adalah orang yang pertama kali memperkenalkan amalgam dengan bentuk partikel lathe cut. Dalam publikasinya pada tahun 1896, komposisi alloy amalgam adalah: 1. Ag (perak) 68,50% 2. Sn (Timah putih) 25,50% 3. Au (emas) 5% 4. Zn (seng) 1% Formula yang dituliskan Black hanya dipakai sebentar, selanjutnya berdasarkan penelitian oleh Flagg, emas dan platina dianjurkan tidak ditambahkan pada formula amalgam. Pada tahun 1960 mulai diperkenalkan bubuk amalgam bentuk bulatan kecil (spherical), yang kemudian berkembang menjadi partikel yang lebih kecil. Meskipun amalgam telah dipakai dalam restorasi lesi karies sejak abad ke-15 atau bahkan lebih dini lagi, amalgam masih merupakan suatu bahan yang paling banyak dipergunakan. Kualitas yang paling baik dari amalgam gigi ini adalah tahan lama dan mudah manipulasinya. Cukup bisa beradaptasi dengan cairan mulut, amalgam adalah restorasi yang relatif murah dan dapat diselesaikan dalam satu kali kunjungan dapat dikatakan bahwa amalgam merupakan suatu bahan tambalan yang paling banyak dipergunakan dokter gigi. Menurut definisi, amalgam adalah campuran dari dua atau beberapa logam, salah satunya adalah merkuri. Seperti nanti bisa dilihat, alloy amalgam terdiri atas tiga atau beberapa logam. Amalgam itu sendiri merupakan kombinasi alloy dengan merkuri melalui suatu proses yang disebut amalgamasi atau triturasi. Campuran yang merupakan bahan plastis dimasukkan ke dalam kavitas dan bahan tersebut menjadi keras karena kristalisasi. Dalam hal ini dikatakan bahwa restorasi amalgam sering lebih baik daripada kelihatannya. Kekurangan yang nyata sering tampak pada restorasi yang sudah berfungsi cukup lama, terutama memburuknya bagian tepi, yang disebut ditching pada interfase dengan gigi. Kita mungkin membayangkan bahwa karies selalu terdapat pada bagian tepi yang terbuka disebabkan oleh penetrasi dari cairan ludah, debris, dan mikroorganisme. Sebenarnya hal ini tidak selalu terjadi, walaupun restorasi kehilangan estetiknya dan terjadi degradasi terusmenerus. Penjelasannya terletak pada sifat amalgam yang unik. Sewaktu restorasi makin tua, produk-produk korosi terbentuk sepanjang batas antara restorasi dan gigi. Produk ini akan bertindak sebagai pemblokir mekanik dari penetrasi agen-agen beracun. Mekanisme swapenyembuhan ini menyebabkan bahan restorasi amalgam tahan lama. Spesifikasi dari The American Dental Association untuk alloy amalgam gigi telah banyak mengurangi jumlah produk komersial yang buruk. Walaupun beberapa tipe tertentu (misalnya, system amalgam dengan kandungan tembaga yang tinggi, yang akan dibahas kemudian) adalah unggul, presentase kegagalan yang tinggi disebabkan karena desain preparasi yang tidak tepat, kesalahan manipulasi dari amalgam dan amalgam yang terkontaminasi waktu pengisian setiap langkah dalam prosedur, dari waktu alloy diseleksi sampai restorasi dipoles, mempunyai efek terhadap sifat amalgam, yang menentukan keberhasilan atau kegagalan restorasi amalgam yang telah dilakukan. D. Pengertian Biokompatibilitas Biokompatibilitas dapat diartikan sebagai kehidupan harmonis antara bahan dan lingkungan yang tidak mempunyai pengaruh toksik atau jejas terhadap fungsi biologi. Biokompatibilitas berhubungan dengan uji biologis yang merupakan interaksi antara sifat fisika atau mekanik melalui degenerasi sel, kematian sel dan beberapa tipe nekrosis. Tujuan

biokompatibilitas adalah untuk mengeliminasi komponen bahan yang berpotensi merusakan jaringan rongga mulut. Sebuah bahan dikatakan biokompatible ketika bahan tersebut tidak merusaklingkungan biologis di sekitarnya. Syarat biokompatibilitas bahan kedokteran gigi adalah: 1.Tidak membahayakan pulpa dan jaringan lunak. 2.Tidak mengandung bahan toksik yang dapat berdifusi, terlepas dan diabsorbsi dalam sistem sirkulasi. 3.Bebas dari agent yang dapat menyebabkan reaksi alergi. 4.Tidak berpotensi sebagai bahan karsinogenik. E. Biokompatibilitas Amalgam Amalgam merupakan bahan yang paling sering digunakan karena bahan ini dapat bertahan lama sebagai bahan tumpatan, mudah memanipulasinya, mudah beradaptasi dengan cairan mulut dan harganya relatif murah. Namun, mengenai masalah efek samping yang ditimbulkan oleh bahan ini masih dipertanyakan karena masih ada anggapan bahwa amalgam berbahaya bagi kesehatan tubuh pasien, hal ini karena di dalam amalgam terkandung merkuri. Merkuri dalam keadaan bebas sangat berbahaya bagi kesehatan karena dapat meracuni tubuh oleh karena itu merkuri di dalam amalgam dianggap berbahaya. Bahaya merkuri ini tidak hanya mengancam kesehatan pasien tetapi juga dokter gigi itu sendiri, uap merkuri yang terhirup pada saat mengaduk amalgam dapat menimbulkan efek toksik kumulatif pada dokter gigi tersebut. Merkuri yang terkandung dalam amalgam memamg dapat melakukan penetrasi ke dalam struktur gigi. Merkuri yang telah msuk ke dalam dentin dapat menyebabkan terjadinya diskolorisasi pada gigi, tidak hanya itu saja merkuri juga dapat berpenetrasi sampai pada pulpa gigi sehingga malah terjadi inflamasi pada gigi tersebut. Selain itu, tumpatan amalgam juga melepaskan sebagian kecil merkuri pada saat penguyahan makanan sehingga sebagian merkuri masuk dalam tubuh, hal ini juga semakin menambah keraguan atas tingkat biokompatibilitas dari amalgam itu sendiri. Keraguan atas tingkat biokompatibilitas amalgam terhadap kesehatan tubuh seharusnya tidak perlu terjadi karena sebetulnya mengenai kemungkinan reaksi toksik pada pasien akidat penetrasi merkuri pada gigi serta alergi yang ditimbulkannya belum begitu jelas. Kontak pasien dengan uap merkuri selama pengisian tumpatan amalgam begitu singkat dan jumlah uap merkuri begitu kecil untuk dapat membahayakan tubuh. Bahaya pemakaian amalgam telah banyak dipelajari, perkiraan yang paling bisa diandalkan adalah bahwa merkuri dari tumpatan amalgam tidak cukup signifikan untuk dapat meracuni pasien. (http://ilmudoktergigi.blogspot.com/) F. Klasifikasi Kavitas menurut G.V.Black Kavitas bisa diklasifikasikan menjadi beberapa kelompok baik menurut kedalamannya, jumlah permukaan gigi yang dikenainya, maupun menurut permukaan mana yang dikenainya. Para ahli pun mengelompokkan kavitas berdasarkan cara yang berbeda-beda. Pengelompokan yang paling sering digunakan adalah klasifikasi dari Greene Vardiman Black. G.V. Black mengklasifikasikan kavitas menjadi 6 kelas yaitu: 1. Kelas I 2. Kelas II 3. Kelas III 4. Kelas IV 5. Kelas V

6. Kelas IV G. Kavitas kelas II Kavitas kelas II merupakan kavitas yang terdapat pada permukaan proksimal gigi posterior (gigi molar dan premolar). Kavitas pada permukaan halus atau lesi mesial dan atau distal biasanya berada di bawah titik kontak yang sulit dibersihkan. Menurut definisi Dr. Black, karies Klas II dapat mengenai permukaan mesial dan distal atau hanya salah satu permukaan proksimal dari gigi sehingga dapat digolongkan menjadi kavitas MO (mesio oklusal), DO (disto oklusal), dan MOD (mesio oklusal distal). Karena permukaan untuk perbaikan biasanya dibuat dari permukaan oklusal, permukaan oklusal dan aproksimal dari gigi direstorasi sekaligus. Tetapi bila dilihat dari definisinya, kavitas ini adalah lesi proksimal dan tidak selalu mencakup permukaan oklusal. (Anonim, 2011) Ketika ditemukan suatu kasus kavitas kelas II disertai dengan kavitas pit dan fisure (kelas I), maka keadaan ini diklasifikasikan sebagai kavitas kelas II. H. Kavitas kelas V Kavitas kelas V merupakan kavitas yang terdapat pada 1/3 gingival pada semua gigi, di permukaan bukal, labial, lingual dan palatinal (bukan pada pit dan fisur), namun lesi ini lebih dominan timbul di permukaan yang menghadap ke bibir dan pipi daripada lidah. Kavitas Klas V bisa mengenai sementum selain email. Kavitas kelas V pada gigi incisivus sentralis kanan atas. (Shuman, 2004) I. Kegagalan Restorasi Amalgam Kavitas kelas II 1. Fraktur marginal ridge (lingir tepi) Penyebab: - Axiopulpal line angle tidak dibulatkan saat preparasi - Marginal ridge terlalu tinggi - Embrasur oklusal tidak benar Solusi: - Axiopulpal line angle dibulatkan saat preparasi - Tinggi marginal ridge disesuaikan dengan gigi sebelahnya dan dengan oklusi - Menciptakan embrasur oklusal yang bersesuaian dengan gigi sebelahnya 2. Tumpatan overhanging sehingga mengiritasi gingiva Penyebab: - Kesalahan peletakan wedge yang terlalu ke gingival saat insersi amalgam Solusi: - Posisi wedge diletakkan secara benar 3. Tepi amalgam lemah Penyebab: - Kertidaksesuaian antara tumpatan amalgam dengan arah dinding mesiolingual dan mesiofasial Solusi: - Perhatian khusus pada arah prisma email dan sifat amalgam saat preparasi dan insersi amalgam. (Roberson, 2006)

BAB III PEMBAHASAN A. TUMPATAN KELAS II 1. Indikasi dan Kontra Indikasi Indikasi Amalgam untuk Kavitas kelas II: 1. Kehilangan jaringan gigi sebelum dan selama perawatan minimal. Karies melibatkan permukaan occluso-distal atau mesio-occlusal. 2. Prognosis yang tidak meyakinkan sehingga yang paling baik adalah memberikan restorasi semipermanen yang tahan lama. 3. Mudah dikerjakan dan murah. 4. Gigi masih vital. Kontra Indikasi Amalgam untuk Kavitas kelas II: Jumlah karies yang tinggi. Karies yang luas melibatkan cups. Dibutuhkan estetik. Gigi antagonis logam yang tidak sejenis. 2. Batasan Pembuatan Restorasi Retorasi amalgam klas II dapat bertahan lama jika : 1. Preparasi gigi tepat 2. Matriks sesuai 3. Daerah operasi terisolasi 4. Material restorasi dimanipulasi dengan tepat Restorasi dengan bahan amalgam sangat baik digunakan ketika insidensi karies tinggi. Banyak dokter gigi di UK yang masih menggunakan amalgam sebagai bahan tumpatan proksimal. Tetapi, kekurangannya adalah estetika menjadi kurang baik, kurangnya ikatan dengan jaringan pada gigi dan tidak memiliki sifat kariostatik. Amalgam dapat menutup kavitas tapi tidak mendukung enamel dan dentin. Oleh karena itu, ketika estetika menjadi hal yang utama atau ketika enamel dan dentin menjadi lemah akibat karies, restorasi menggunakan resin komposit dapat menjadi pilihan. 3. Teknik Restorasi Ukuran dari restorasi tergantung dari keadaan dan kebutuhan. Apabila karies menggerogoti email di sepanjang gingival border, haruslah dibuat floor pada restorasi untuk menghilangkan email yang tidak disokong oleh dentin. Luasnya caries lingual dan fasial mempengaruhi besarnya preparasi kavitas.

1. 2. 3. 4.

Dinding dari restorasi di buat kurang lebih datar dan lurus dengan sudut cavosurface pada 90 derajat. Berhasilnya tumpatan tergantung pada akuransi dan ketepatan pembuatan alur (groove). Keberhasilan suatu cavitas adalah hasil dari pemeriksaan area kavitas seperti kedalaman cavitas, kehalusan occlusal wall atau line angle-nya. Sudut pada alur (groove) dari preparasi kavitas dapat meningkatkan retensi dari restorasi amalgam. Dinding-dinding perifer haruslah halus. Saat menghilangkan debris apabila kavitasnya luas kemungkinan terpaparnya pulpa lebih meningkat. Untuk itu disarankan memakai base atau liners untuk melindungi pulpa dari restorasi yang dalam. Apabila restorasi lebih tinggi atau lebih rendah dari permukaan oklusal maka akan meningkatkan akumulasi plak dan mempermudah makanan untuk masuk ke sela selanya sehingga kemungkinan terjadi recurrent caries bisa lebih tinggi. Pada restorasi amalgam kelas II, ada beberapa tahapan : a. Initial Clinical Procedures Pada tahap ini, dilakukan persiapan sebelum dilakukan preparasi gigi yang akan direstorasi amalgam kelas II. Sebelumnya perlu dilakukan pengecekan oklusi pasien dengan articulating paper. Keadaan trauma oklusi harus dibenarkan agar tidak merusak tumpatan yang telah dibuat. Pada umumnya, anastesi perlu dilakukan untuk restorasi amalgam kelas II. Pemasangan rubber dam juga diperlukan apabila lesi karies cukup luas. b. Preparasi Kavitas Hal yang harus diperhatikan yaitu tepi dari preparasi haruslah tajam dan bersih. Celah pada bagian dinding fasial dan lingual dengan groove bentuknya datar, sedangakan pada daerah gingival floor halus. Operator haruslah yakin bahwa celah atau lubang preparasi sudah tepat. Pertama, harus dibuat occlusal outline form atau occlusal step. Dengan menggunakan bur nomor 245, dilakukan pemotongan pada bagian fisur atau pit yang paling dekat dengan bagian proksimal. Sumbu panjang bur harus sejajar dengan axis gigi. Kedalaman seitar 1,5 mm sampai 2 mm. Agar tercipta preparasi yang konservatif, maka itsmus dibuat sesempit mungkin atau selebar bur nomor 245. Pulpal floor harus dibuat rata, namun tetap disesuaikan dengan pola DEJ. Ketika kita menjaga bur tetap paralel terhadap axis gigi, maka akan tercipta preparasi yang sedikit konvergen. Beberapa perluasan juga dapat digunakan sebagai retensi, bisa dibuat dovetail atau yang berasal dari fisur central.Yang harus diperhatikan adalah sebelum seorang dokter gigi memperluas area preparasinya sampai bagian marginal ridge, ia harus mmvisualisasikan lokasi akhir dari facial dan lingual walls dari proximal box relatif terhadap kontak area. Hal ini dapat menghindari overextension. Tahap selanjutnya adalah membuat proximal outline form atau disebut juga proximal box. Tujuan pembuatan proximal box adalah Menghilangkan semua lesi karies, kesalahan, dan material restorative yang lama. Menciptakan margin carvosurface sebesar 90 derajat. Penghilangan jaringan yang dekat dengan bagian fasial, lingual, dan gingival tidak lebih dari 0,5 mm (idealnya).

Pada pembuatan proximal box, hal pertama yang dibuat adalah isolasi bagian enamel proksimal dengan proximal ditch cut. Dengan mengunakan bur berdiameter 0,8 mm memotong enamel dan dentin ke arah gingiva. Untuk enamel sekitar 0,2-0,3 mm, sedangkan dentin sebesar 0,5-0,6mm. Selain itu, jarak dengan gigi terdekat juga harus diperhatikan: untuk lesi yang kecil 0,5 mm. Bagian proximal ditch dapat dibuat divergen ke arah gingiva untuk memastikan dimensi fasiolingual bagian gingival lebih besar dari pada bagian oklusal. Enamel yang terkurung dalam preparasi dihilangkan dengan spoon excavator. Dengan menggunakan enamel hatchet atau bin-angle chiset atau keduanya, enamel proksimal yang tidak didukung dengan dentin. Carvosurface diindikasikan sebesar 90 derajat untuk memastikan tidak ada enamel rods yang tertinggal pada bagian proksimal. Setelah proximal box telah terbentuk dengan baik, maka selesailah tahap initial preparation. Tahap kedua adalah Final Tooth Preparation. Tahapan ini diawali dengan penghilangan lesi karies pada dentin dan menghilangkan enamel yang tidak didukung dentin. Penghilangan jaringan karies di dentin menggunakan excavator, sedangkan pada lesi yang meluas ke arah pulpa dihilangkan menggunakan round bur.
Kedalaman dari preparasi oklusal adalah 2,0 mm dan kedalam dari proksimal adalah 3 mm. lebar dari gingival floor sekitar 1 mm. Pada preparasi ini, pulpal floor dan gingival floor pada bagian proksimal harus cukup rata. Hal ini bisa dilakukan dengan chisel atau hatchet. Kerataan preparasi adalah faktor penting lain, karena ketidak teraturan floor akan menyebabkan titik konsentrasi tekanan. Saat pasien menggigit restorasi, tekanan akan menyebabkan amalgam retak (cracking) atau patah. Axio-pulpal line angle tidak perlu di-bevel pada preparasi kavitas. Hal ini dibutuhkan untuk menghindari tekanan dari sudut yang menyebabkan restorasi patah.

c.

Restorative Technique Menempatkan sealer atau adhesive system jarang digunakan, karena penggunaan bonding tidak dapat menggantikan retensi konvensional secara mekanik yang terjadi antara amalgam dan gigi atau dentin. Pertama tama pasang matrix band disekeliling gigi ke dalam contour proksimal sebelum insersi amalgam ke dalam cavitas. Pembatas kayu (wedge) ditempatkan di embrasure gingival untuk menstabilkan matrix band. Wedge ini harus erat untuk menghindari adanyaoverhang amalgam. Cara memasang wedge: (1) memutuskan kira-kira 1,2 cm tusuk gigi. (2) pegang bagian yan diputus tadi dengan pliers nomor 110. (3) masukkan poin tip facial atau lingual embrasure (4) ganjal band terhadap gigi dan margin. Batas atau bentuk dari matrix band mempengaruhi berhasilnya restorasi. Amalgam dimasukkan ke dalam cavitas dengan menggunakan condenser dan marginal di raratakan dengan probe. Matrix band dilepas setelah di isi amalgam untuk mengetahui apakah ada yang berlebih. Kelebihan amalgam dapat di hilangkan dengan pisau amalgam.

Amalgam kemudian di burnish dengan menggunakan ball burnisher untuk memampatkan amalgam dengan lebih baik. Setelah di burnish, carver digunakan untuk memperbaiki embrasure oklusal dari restorasi. Kemudian amalgam di polish untuk mengurasi sifat tarnish, korosi dan meretensi plak. Green stone digunakan untuk mempolish amalgam dan di ikuti dengan karang, dan abrasive rubber point. Medium girt dan fine grit abrasive point dengan handpiece kecepatan rendah digunakan untuk polishing tahap akhir dari restorasi. Polishing dilakukan satu hari setelah amalagam di insersikan ke dalam kavitas agar amalgam setting sempurna. Dengan demikian, dapat tercapai permukaan amalgam amalgam yang halus dan berkilau. 4. Kegagalan Restorasi Amalgam Kelas II Penelitian terhadap restorasi amalgam yang gagal menunjukkan bahwa kesalahan operator pada saat preparasi dan manipulasi bahan mempunyai peranan yang penting terhadap ketahanan sebuah restorasi amalgam. Kegagalan restorasi kelas II meliputi : 4. Fraktur marginal ridge (lingir tepi) Penyebabnya adalah axiopulpal line angle tidak dibulatkan saat preparasi, marginal ridge terlalu tinggi, dan embrasur oklusal tidak benar. Solusi untuk mengatasi fraktur ini adalah axiopulpal line angle dibulatkan saat preparasi, tinggi marginal ridge disesuaikan dengan gigi sebelahnya dan dengan oklusi dan menciptakan embrasur oklusal yang bersesuaian dengan gigi sebelahnya. 5. Karies sekunder Karies sekunder dapat terjadi pada gigi yang sudah direstorasi. Biasanya terjadi kebocoran pada margin tumpatan dengan jaringan gigi yang sehat. Dapat juga disebabkan karena bagian isthmus pecah sehingga menjadi pintu masuk bagi saliva, sisa makanan dan bakteri. Preparasi yang tidak tepat pada daerah proksimal hingga ke bagian yang mudah dibersihkan (self cleansing) juga mendorong terjadinya karies sekunder. 6. Tumpatan overhanging sehingga mengiritasi gingiva Penyebabnya adalah hesalahan peletakan wedge yang terlalu ke gingival saat insersi amalgam. Posisi wedge harus diletakkan secara benar. 7. Patah pada isthmus Daerah isthmus pada tumpatan kelas II adalah daerah sempit yang menghubungkan dua daerah tumpatan yang lebih besar, sehingga apabila patah pada daerah ini menyebabkan lepasnya dinding proksimal. Pencegahan terhadap patah di daerah isthmus dapat dilakukan dengan memperhatikan letak pembuatan isthmus, yaitu pada sepertiga atau seperempat lebar kuspid mesio-distal dan lebar isthmus ideal sekitar sepertiga jarak buko-lingual. Dasar kavitas pada perbatasan dinding aksial dan oklusal dibuat bevel untuk memberi ketebalan yang cukup sehingga mampu menahan beban kunyah. 8. Tepi amalgam lemah Penyebabnya adalah kertidaksesuaian antara tumpatan amalgam dengan arah dinding mesiolingual dan mesiofasial. Solusinya,harus diperhatian khusus pada arah prisma email dan sifat amalgam saat preparasi dan insersi amalgam.

9. Restorasi lepas seluruhnya Retensi sangat dibutuhkan pada setiap restorasi terutama pada kelas II. Untuk menghindari lepasnya restorasi dari kekuatan tarik maka pada bentuk kavitas kelas II harus dibuatdovetail.