Anda di halaman 1dari 39

STANDAR

PELAYANAN MEDIS

SMF SARAF

RUMAH SAKIT UMUM DAERAH ULIN


BANJARMASIN
2007

2007
1. Diagnosis
2. ICD

3. Kriteria

PENANGANAN PASIEN

NYERI KEPALA
A. Tegang Otot (Tension type headache)G 44.2
1. Episodic-tension-type headache (G 44.20,G 44.21)
2. Chronic-tension-type headache (G 44.22, G 44.23)
B. Migraine (G 43)
1. Tanpa aura (G 43.0)
2. Dengan aura (G 43.1)
C. Pasca Trauma (G 44.88)
1. Acute posttraumatic headache (G 44.880)
2. Chronic posttraumatic headache (G 44.3)
D. Neuralgia Trigeminal (G 44.847)
E. Nyeri Kepala Tumor Otak (G 44.822)
A. Tegang Otot
1.
o Sekurang-kurangnya terdapat 10 episode serangan
nyeri kepala kurang dari 180 hari/tahun
o Nyeri kepala berlangsung dari 30 menit sampai 7 hari
o Sedikitnya memiliki 2 karakteristik nyeri kepala
berikut :
- lokasi bilateral
- menekan atau mengikat (tidak berdenyut)
- Intensitas ringan atau sedang
- Tidak diperberat oleh aktivitas rutin seperti
berjalan atau naik tangga
o Tidak dijumpai :
- Mual atau muntah (bisa anoreksia)
- Lebih dari satu keluhan : fotofobia atau
fonofobia
o Tidak berkaitan dengan kelainan lain
2.
o Rata-rata frekuensi serangan nyeri kepala lebih besar
atau sama dengan 15 hari/bulan (180 hari/tahun)
B. Migraine
1. Migren tanpa aura
o Sekurang-kurangnya terjadi 5 serangan nyeri
kepala berulang dengan manifestasi serangan
berlangsung 4-72 jam, yang mempunyai sedikitnya
2 karakteristik berikut : unilateral, berdenyut,
intensitas sedang atau berat, bertambah berat
dengan aktivitas fisik
o Selama nyeri kepala disertai salah satu berikut :
nausea dan atau muntah, fotofobia dan fonofobia.
2

o Serangan nyeri kepala tidak berkaitan dengan


kelainan yang lain
2. Migren dengan aura
o Sekurang-kurangnya terjadi 2 serangan nyeri
kepala berulang yang didahului gejala neurologi
fokal yang reversibel secara bertahap 5 20 menit
dan berlangsung kurang dari 60 menit.
o Terdapat sedikitnya satu aura berikut ini yang
reversibel seperti gangguan visual, gangguan
sensoris, gangguan bicara disfasia.
o Paling sedikit 2 dari karakteristik berikut :
- Gejala visual homonim dan/atau gejala sensoris
unilateral
- Paling tidak timbul satu macam aura secara
gradual 5 menit dan / atau jenis aura lainnya
5 menit.
- Tiap gejala berlangsung 5 menit dan 60
menit.
o Tidak berkaitan dengan kelainan lain.
C. Pasca Trauma
1. Acute Posttraumatic headache
Klinis : Nyeri kepala, tidak khas :
o Terdapat trauma kepala, dimana nyeri kepala
terjadi dalam 7 hari setelah trauma kepala atau
sesudah kesadaran penderita pulih kembali.
o Terdapat satu atau lebih keadaan di bawah ini :
- Nyeri kepala hilang dalam 3 bulan setelah
trauma kepala.
- Nyeri kepala menetap, tetapi tidak lebih 3
bulan sejak trauma kepala.
2. Chronic Posttraumatic headache
o Nyeri kepala, tidak khas
o Terdapat trauma kepala, dimana nyeri kepala
terjadi dalam 7 hari setelah trauma kepala atau
sesudah kesadaran penderita pulih kembali.
o Nyeri kepala berlangsung lebih dari 3 bulan setelah
trauma kepala.
D. Neuralgia Trigeminal
o Serangan nyeri paroksismal, spontan, tiba-tiba, nyeri
tajam, superfisial, seperti di tusuk, tersetrum, terbakar
pada wajah atau frontal (umumnya unilateral)
beberapa detik sampai < 2 menit, berulang, terbatas
pada 1 cabang N. Trigeminus (N. V). Nyeri
umumnya remisi dalam jangka waktu bervariasi.
Intensitas nyeri berat presipitasi dapat dari trigger
area (plika nasolabialis dan / pipi) atau pada aktivitas
harian seperti bicara, membasuh muka, mencukur
jenggot, gosok gigi (trigger factors). Bentuk serangan

4. Diagnosis
Banding
5. Pemeriksaan
Penunjang

6. Konsultasi

7. Perawatan RS

8. Terapi

masing-masing pasien sama. Diantara serangan


umumnya asimtomatis. Umumnya tidak ada defisit
neurologik.
E. Nyeri kepala tumor otak
o Nyeri dapat berupa berat seperti ditusuk, berdenyut
yang frekuensi serangan dan intensitasnya makin
lama makin hebat dan kadang-kadang diikuti muntah
proyektil. Bergantung lokasinya di otak, gejala
neurologis dapat timbul atau tidak. Gejala
neurologis : kejang fokal, monoparese, gangguan
sensibilitas, gangguan penglihatan, gangguan mental,
pelupa , dan lain-lain.
o
Nyeri kepala penyakit lain : THT, gigi mulut, mata,
hipertensi, penyakit dengan demam
o
Gangguan psikosomatis
A.Nyeri kepala tegang otot, kalau ragu-ragu dapat dilakukan
pemeriksaan EMG)
B. Nyeri kepala vaskuler, kalau hebat serangannya : EEG,
foto tengkorak, Migren klasik dengan serangan hebat dan
migren komplikata dapat dipertimbangkan arteriografi
atau CT-Scan otak dengan kontras
C. Nyeri kepala pascatrauma dapat dipertimbangkan EEG
untuk evaluasi kemajuan
D. Neuralgia Trigeminal tidak memerlukan pemeriksaan
penunjang, kecuali : ada defisit neurologis yang mengarah
pada kelainan neurologis fungsi sekunder perlu dilakukan
pemeriksaan radiologi (foto tengkorak, CT-Scan atau
MRI)
E. Nyeri kepala tumor otak : harus dilakukan pemeriksaan
rontgen tengkorak, EEG dan arteriografi atau langsung
CT-Scan otak.
o
Bergantung kasus : Penyakit Dalam, THT, Mata,
gigi-mulut, bedah saraf, psikosomatis, kalau diperlukan
untuk mencari penyebab ekstrakranial atau pengobatan
lanjut.
o
Rawat jalan pada nyeri kepala tegang otot, nyeri
kepala pasca trauma atau neuralgia trigeminal
o
Rawat inap pada nyeri kepala vaskuler diperlukan
perawatan hanya pada status migrenus (obat tidak
menolong) pada migren komplikasi
o
Nyeri kepala tumor otak harus dirawat untuk
eksplorasi dan operasi.
A. Nyeri kepala tegang otot
o Analgetik dan pelemas otot (penenang) : diazepam,
meprobamat Psikoterapi suportif kalau diperlukan.
o Fisioterapi : pemanasan dan masase otot kuduk
(kepala) kalau diperlukan.

B. Nyeri kepala vaskuler


o Istirahat, analgetik dan penenang
o Vasokonstriksi : kafergot 3 x -1 tablet (tidak boleh
pada wanita hamil dan penderita kardiovaskuler)
o Sumatriptan 1 tablet
o Flunarizin 1 x 5-20 mg
o Kalau serangan sering : siproheptadin, propanolol
atau pzotifen, untuk pencegahan
o Hindari faktor pencetus
C. Nyeri pasca trauma
o Analgetik
o Minor transquilizer
o Anti
Vertigo
(prokloperazin,
difenhidramin,
betahistin) bila ada vertigo
o Psikoterapi (kalau perlu)
D. Neuralgia trigeminal
o Analgetik dan penenang
o Difenhidantoin 3 x 100 mg
o Karbamazepin 3 x -1 tablet @ 200 mg (obat
pilihan)
9. Standar RS
o
Semua RS. Kecuali pada kasus yang memerlukan
tindakan invasif operasi harus RS tipe A/B yang
mempunyai Dokter Spesialis Bedah Saraf
10. Penyulit
o
Hanya pada tumor otak yang bersifat ganas atau yang
letaknya dalam dekat batang otak
11. Informed
o
Perlu tertulis, hanya pada kasus yang memerlukan
Consent
tindakan invasif dan operasi
12. Tenaga Standar o
Dokter umum
o
Bila keluhan tidak hilang, apalagi bertambah berat
atau didapati kelainan neurologis (migren komplikata,
tumor otak) harus dirujuk ke Dokter Ahli Saraf
13. Lama
o
Berobat jalan, kecuali pada status migren komplikata
Perawatan
dan tumor otak harus dirawat yang lamanya bergantung
pada berat atau sulit kasus tersebut
14. Masa
o
Bergantung keadaan masing-masing
Pemulihan
15. Hasil
o
Pada nyeri kepala tegang dan pasca trauma pada
umumnya sembuh total

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis
2. ICD

3. Kriteria

EPILEPSI
G.40
A. Menurut bentuk serangan
o Epilepsi umum (grand mal No. ICD G.41.0 : Petit
mal No. ICD G.41.1 : mioklonus dan lain-lain).
o Epilepsi vokal (motoris, sensibilitas, parsial kompleks
dan lain-lain). No. ICD G.41.2
o Status konvulsius / status epileptikius G.41
B. Menurut penyebab :
o Idiopatis
o Simptomatis
Klinis :
Suatu keadaan neurologik yang ditandai oleh bangkitan
epilepsi yang berulang, yang timbul tanpa provokasi.
Sedangkan bangkitan epilepsi sendiri adalah suatu
manifestasi klinik yang disebabkan oleh lepasnya muatan
listrik yang abnormal, berlebih dan sinkron, dari neuron
yang (terutama) terletak pada korteks serebri. Aktivitas
paroksismal abnormal ini umumnya timbul intermitten
dan self- limited.
Sindroma epilepsi adalah penyakit epilepsi yang ditandai
oleh sekumpulan gejala yang timbul bersamaan (termasuk
tipe bangkitan, etiologi, anatomi, faktor presipitan usia
saat awitan, beratnya penyakit, siklus harian dan
prognosa).
A.
Kriteria Diagnosis
o Gejala serebri fokal atau umum (penurunan gangguan
kesadaran, kejang, parestesi dan lain-lain) yang
timbul berulang
B.
Epilepsi Fokal
o Manifestasi klinis fokal atau manifestasi klinis lain
yang ditunjang dengan kelainan EEG fokal (contoh :
epilepsi parsial kompleks / epilepsi lobus temporalis,
epilepsi fokal sederhana dan lain-lain).
C.
Epilepsi Simtomatis
o Epilepsi tersebut merupakan gejala dari suatu
penyakit (tumor, CVD dan lain-lain). Perlu dicurigai

4. Diagnosis

5. Pemeriksaan
Penunjang

6. Perawatan RS

7. Terapi

epilepsi simtomatis bila : bentuk serangannya fokal,


epilepsi mulai pada usia lebih dari 20 tahun, epilepsi
progresif, epilepsi yang sulit ditanggulangi dengan
obat.
D.
Status Konvulsius
o Serangan kejang umum yang berlangsung lama (lebih
dari 30 menit) atau serangan kejang tanpa pemulihan
kesadaran
o
Kejang demam
o
Sinkop
o
Narkolepsi
o
Migren
o
Breath Holding Spells
o
Histeria
o
EEG, foto polos kepala : dilakukan bila alat tersedia
o
CT-Scan kepala, pungsi lumbal : dilakukan atas
indikasi (bila dipikirkan epilepsi simptomatis)
o
Untuk dapat melihat efek sampng obat dan penyebab
kejang dapat diperiksa
o
Darah perifer lengkap (DPL), fungsi hati, fungsi
ginjal (untuk kontradisksi obat), elektrolit (Na, K, Ca, Cl),
gula darah, kadar obat (kalau perlu)
o
Rawat jalan
o
Rawat inap :bila epilepsi simptomatis dan perlu
eksplorasi
o
Rawat inap : bila status konvulsi
Prinsip :
o
Segera setelah diagnosis, gunakan satu jenis obat;
kombinasi obat digunakan bila tidak tertanggulangi
dengan satu jenis obat. Pada wanita yang masih
mungkin hamil gunakan Karbamazepin, wanita hamil
yang telah menggunakan obat lain lanjutkan pengobatan.
o
Dosis dinaikkan bertahap sampai serangan berhenti,
lalu pertahankan 2-4 tahun bebas serangan, kemudian
diturunkan bertahap.
Obat yang digunakan :
o
Fenobarbital : 1-5 mg/kgBB
o
Fenitoin : 5-10 mg/kgBB dosis biasa mulai dengan
300 mg/hari
o
Klonazepam 0,05-0,2 mg/kgBB, mulai dengan dosis
kecil terutama digunakan pada epilepsi Mioklonik dan
Petit Mal
Penatalaksanaan
Status Konvulsi
o
Tujuan menghilangkan kejang tdk lebih dari 60 menit
terdiri atas :
Tahap I

Evaluasi penderita 0-15 menit


Perbaiki sistem kardiorespirasi
Oksigen bila perlu
Buat diagnosis
Pasang infus
Lakukan pemeriksaan laboratorium : DPL, elektrolit,
ureum, kreatinin, kadar obat antiepilepsi, Drug Sreen,
Metabolic Sreeen
o Glukosa 25 gr iv
o
o
o
o
o
o

8. Standar RS

9. Penyulit

o
o
o

10. Informed
o
Consent
11. Tenaga Standar o
12. lama Perawatan o

13. Masa
Pemulihan
14. Patologi

Tahap II
o Menghentikan kejang dalam 20-30 menit, kemudian
Diazepam IV 2 mg/menit dengan dosis 10-40 mg
(hati-hati depresi pernafasan). Bersamaan dengan
Diazepam berikan infus Fenitoin 20 mg/kgBB dalam
NaCL fisiologis dengan kecepatan tidak lebih dari 50
mg/menit (awasi EKG) dan tekanan darah)
Tahap III
o Setelah 30 menit selanjutnya :
- Intubasi, pasang EEG, pertimbangan anestesi
umum, sementara itu dilakukan :
- Infus Fenitoin tambahan 10 mg/kgBB atau
Fenobarbital dengan kecepatan tidak lebih dari 100
mg/menit (perhatikan hipotensi)
o Bolus Lidokain 2 mg/kgBB IV di ikuti dengan infus
3-10 mg/kgBB/jam
Tahap IV
o Lakukan anastesi umum pada yang refrakter
Puskesmas/semua RS (untuk status konvulsi lebih
baik bila ada diruang ICU)
Reaksi alergi (contoh : Sindrom Steven Johnson)
Edem serebri karena gangguan pernafasan akibat
kejang-kejang terus-menerus pada status konvulsi
Alat kardioreseptor yang tidak siap pakai atau
terlambat bertindak
Perlu tertulis

Dokter umum, bila tidak ada Dokter Ahli saraf


Pada status konvulsi : sampa kejang teratasi,
kesadaran pulih dan keadaan umum telah memungkinkan
untuk berobat jalan
o
Penderita berobat jalan sekurang-kurangnya 2-5
tahun bebas serangan
o
Pada status konvulsi lebih kurang 1 minggu
o

Jarang, bila kausanya di operasi (misal tumor)

15. Autopsi

Bila diperlukan

PENANGANAN PASIEN
1. DIAGNOSIS
2. ICD
3. Kriteria

4. Diagnosis
Banding
5. Pemeriksaan
Penunjang

6. Konsultasi

GANGGUAN PEREDARAN DARAH OTAK (STROKE)


G.45, G.46, I. 60, I.61
o
Stroke adalah manifestasi klnik dari gangguan fungsi
serebral, baik fokal maupun menyeluruh (global), yang
berlangsung dengan cepat lebih dari 24 jam, atau berakhir
dengan maut, tanpa ditemukannya penyebab selain dari
pada gangguan vaskular
Jenis Stroke
a. Stroke Non Hemoragis
- Transient Iskemic Attack (TIA), Reversible Iskemic
Neurologic defisit (RIND) (G.45)
- Trombosis serebri
- Emboli serebri
b. Stroke Hemoragis
- Perdarahan Intraserebral (I.61)
- Perdarahan Subarakhnoid (I.60)
o
Tarauma kapitis
o
Ensefalitis
o
Tumor Otak
o
Laboratorium : Hb, Ht, Leukosit, LED, Trombosit,
Agregasi trombosit-viskositas plasma (bila mungkin),
lipid, gula, asam urat, ureum, kreatinin, homosistein,
waktu perdarahan, waktu pembekuan, astrup, elektrolit,
urin rutin
o
Pungsi lumbal (atas indikasi)
o
EKG
o
Radiologis : foto thoraks, tengkorak, leher, CT-scan,
MRI, Dopler Ultrasound, arteriografi (bila ada)
o
Penyakit Dalam (Ginjal, Hipertensi, Endokrin,
Kardiologi) untuk konfirmasi kelainan organ terkait
o
Bedah syaraf, untuk kasus hemoragis yang perlu di
operasi (aneurisma, AVM, evakuasi hematom)

Bedah vaskuler, selektif untuk kasus trombosis, arteri


ekstrakranial (tromboendarterektomi)
o
Penderita baru (kurang dari sepuluh hari)
o
Penderita dengan gejala klinis yang progresif
a. Secara Umum
1. Umum
Ditujukan terhadap fungsi vital : paru-paru, jantung,
ginjal, keseimbangan elektrolit dan cairan gizi, higiene
2. Khusus
Pencegahan dan pengobatan komplikasi
Rehabilitasi
Pencegahan stroke : tindakan promotif, primer dan
sekunder
b. Secara Khusus
1. Stroke Iskemik/Infark
o
Anti agregasi platelet: aspirin, tiklopidin,
klopidogrel, dipiridamol
o Trombolitik : rt-PA (harus memenuhi kriteria
inklusi)
o Antikoagulan : heparin, LMWH, heparinoid (untuk
sroke emboli) (Guideline s Stroke 2004)
o Neuroprotektan
2. Perdarahan Subarakhnoid
o Anti spasovasme
o Neuroprotektan
3. Perdarahan Intraserebral
Konservatif
o Memperbaiki faal hemostasis (bila ada gangguan faal
hemostasis)
o
Mencegah/mengatasi vasospasme otak akibat
perdarahan : Nimodipin
o Neuroprotektan
Operatif
:
dilakukan
pada
kasus
yang
indikatif/memungkinkan
o Volume perdarahan lebih dari 3 cc atau diameter 3
cm pada fossa posterior
o Letak lobar dan kortikal dengan tanda-tanda
peninggian TIK akut dan ancaman herniasi otak
o Perdarahan serebellum
o hidrosefalus akibat perdarahan intraventrikel atau
serebellum
o GCS > 7
Terapi Komplikasi :
- Antiedema : larutan manitol 20%
- Antibiotika, antidepresan, antikonvulsan atas indikasi
- Antitrombosis vena dalam dan emboli paru
o

7. Perawatan RS
8. Terapi

Penatalaksanaan Faktor Risiko :


10

9. Standar Rs

10. Penyulit

11. Informed
Concent
12. Tenaga Standar

13. Lama
Perawatan
14. Masa
Pemulihan
15. Hasil

16. Patologi
17. Autopsi

- Antihipertensi : fase akut stroke dengan persyaratan


tertentu (Guidelines Stroke 2004)
- Antibiotika : fase akut stroke dengan persyaratan tertentu
(Guidelines Stroke 2004)
- Antidislipidemia atas indikasi
Terapi Nonfarmaka
- Operatif
o
Phlebotomi
o
Neurorestorasi (fase akut) dan Rehabilitasi medik
o
Edukasi
c. Rehabilitasi
o Fisioterapi, Speech terapi, terapi Okupasi, psikoterapi
o
Semua RS
o
Bila penyulit atau indikasi rujuk ke RS yang lebih
lengkap
Karena Penyakit
o
Infark/edem makin luas
o
Infark di ikuti perdarahan (infark hemoragis)
o
Penyakit lain : infeksi saluran nafas, kemih, jantung,
ginjal, keseimbangan asam basa, cairan dan elektrolit,
stress ulcer
Karena Tindakan
o
Pada kasus yang di operasi bisa timbul komplikasi
operatif
o
Tertulis, perlu minta pada saat dilakukan tindakan
invasif, seperti: arteriolografi, pungsi lumbal,
pembedahan
o
Dokter Spesialis syaraf
o
Dokter Spesialis lain : Penyakit Dalam, Jantung,
Bedah Syaraf, Dokter Umum bila tidak ada Dokter
Spesialis tersebut diatas
o
2 minggu untuk Nonhemoragis
o
3-4 minggu bergantung keadaan untuk Hemoragis
o
1-3 bulan, sebagian tak dapat bekerja seperti semula
lagi
o
TIA dan RIND dapat sembuh total secara klinis
o
Jenis stroke lain umumnya sembuh dengan gejala
sisa dari yang ringan sampai berat
o
Karena biasanya disertai penyakit lain (ginjal,
jantung, hipertensi, DM) komplikasi jadi tumpang tindih
o
Bila dilakukan tindakan bedah (tidak begitu penting)
o
Bila perlu, atas permintaan polisi, pengadilan dengan
seizin keluarga

11

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis
2. ICD

3. Kriteria
Diagnosis

TRAUMA SUSUNAN SARAF


S.06
A . Saraf Pusat
o Trauma Kapitis no.S.06
1.
Komosio serebri (Cedera Otak Ringan)
no.S.06 0
2.
Kontusio
serebri (Cedera Otak Sedang
&Berat) no.ICD.8 5 I
3.
Perdarahan epidural no.s.06.4
4.
Perdarahan subdural no.S.06.5
5.
Trauma kapitis yang disertai fraktur tertutup
dan fraktur terbuka
o Trauma Medulla spinalis
1.
Komosio medula spinalis
2.
Kontusio medula spinalis
3.
Disertai luksasi atau fraktur vertebra
B. Saraf Perifer
o Avulsi radiks
o Lesi pleksus
o Lesi saraf perifer (lengan dan tungkai)
A. Saraf pusat
1. Minimal = Simple Head Injury (SHI)
- Nilai Skala Coma Glasgow 15 (normal)
- Kesadaran baik
- Tidak amnesia
2. Cedera Otak Ringan (COR)
- Nilai Skala Coma Glasgow 14 atau
- Nilai Skala Coma Glasgow 15, dengan

12

- Amnesia pasca cedera < 24 jam, atau


- Hilangnya kesadaran < 10 menit
- Dapat disertai gejala klinik lainnya, misalnya : mual,
muntah, sakit kepala atau vertigo
3. Cedera Otak Sedang (COS)
- Nilai Skala Coma Glasgow 9-13
- Hilangnya kesadaran >10 menit tetapi <6 jam
- Dapat atau tidak ditemukan adanya defisit neurologis
- Amnesia pasca cedera selama kurang lebih 7 hari
(bisa positif atau negatif)
4. Cedera Otak Berat (COB)
- Nilai Skala Coma Glasgow 5-8
- Hilangnya kesadaran >6 jam
- Ditemukan defisit neurologis
- Amnesia pasca cedera > 7 hari
5. Kondisi Kritis
- Nilai Skala Koma Glasgow 34
- Hilangnya kesadaran > 6 jam
- Ditemukannya defisit neurologis
Pendarahan epidural
o Dapat terjadi menyertai komosio ataupun kontosio
serebri
o Biasanya terjadi dalam 2 x 24 jam
o Dapat didahului interval lusid, kemudian kesadaran
memburuk
o Didapati lateralisasi (1 pupil midriasis) disertai
kelumpuhan atau refleks patologis anggota gerak sisi
yang lain
o 70% kasus didapati juga fraktur temporalis
Pendarahan subdural
o Dapat terjadi menyertai komosio ataupun kontusio
serebri.kebanyakan subakut atau konis.
o Terjadinya lebih lama, beberapa hari sampai beberapa
bulan sesudah trauma.
o Pada yang akut terjadi cepat seperti pendarahan
epidural
o Sakit kepala yang tidak hilang, kadang-kadang malah
menghebat.
o Didapati edema papil, laterasasi, kalau lebih lama lagi
dapat terjadi penurunan kesadaran.
Trauma kapitis dengan disertai fraktur
o Dengan bantuan alat rontgen tampak fraktur atau
pada
inspeksi tampak langsung duramater atau
jaringan
Trauma medula spinalis
o Adanya trauma pada daerah sepanjang tulang
belakang

13

Komosio medula spinaIis


o Adanya nyeri setempat yang kadang-kadang dapat
disertaigangguan neurologi, setinggi trauma, sangat
ringan dan sementara.
Kontusio medulla spinalis
o Adanva nyeri setempat yang disertai gangguan
neurologi setinggi trauma, gangguan motoris,
sensibilitas dan autonom.
Disertai luksasi atau fraktur vertebra
o Klinis sarna dengan kontusio medula
o Dengan bantuan rontgen tampak luksasi arau fraktur
vertebra

4. Diagnosis
Banding

5. Pemeriksaan
Penunjang

B Saraf Perifer
o Adanya tarikan yang berlebihan atau trauma langsung
pada proksimal anggota gerak.
Avulsi radiks
o Nyeri setempat anggota gerak bagian proksimal pada
saat kejadian diikuti kelumpuhan total permanen
Lesi Pleksus
o Kejadian sama tapi kelumpuhan dapat total atau
sebagian
Lesi saraf perifer
o Adanya trauma setempat. didapat kelumpuhan dan
gangguan sensibilitas beberapa otot yang dipersarafi
saraf yang bersangkutan.didapati ganguan pergerakan
tidak total
A. Saraf pusat
'l'rauma kapitis
o Pendarahan otak (stroke)
o Overdosis (intoksikasi) Obat penenang dan alkohol
o Reaksi konversi
Trauma medula spinalis
o Tak ada diagnosis banding
B. Saraf perifer
Mononeuropati akut
Trauma kapitis
o Rontgen polos tengkorak AP/lat
o Fungsi lumbal kalau diagnosis meragukan dan tak ada
kontraindikasi.
o EEG dan arteriografi atau langsung CT-Scan otak pada
pendarahan epidural dan subdural.
Trauma medula spinalis
o Rontgen vertebra bersangkuran
o Fungsi lumbal kalau tak ada kontraindikasi
o Potensial Evok (SSEP:Somatosensory Evoked Potensial)
Saraf perifer
o Pemeriksaan EMG (electromyography )
14

6. Konsultasi
7. Terapi

o Bergantung indikasi bedah saraf atau bedah tulang


Tergantung derajat beratnya cedera
l . Minimal
- Tirah baring, kepala ditinggikan sekitar 30 derajat
- Istirahat di rumah
- Diberi nasehat agar kembali ke Rumah Sakit bila ada
tanda-tanda perdarahan epidural, seperti orangnya mulai
terlihat mengantuk (kesadaran mulai turun-geiala lucid
interval)
2.Cedera Otak Ringan (Komosio Serebri)
- Tirah baring, kepala ditinggikan sekitar 30 derajat
- Observasi di Rumah Sakit 2 hari
- Keluhan hilang, mobilisasi
- Simptomatis: anti vertigo, anti emetik, analgetika
- Antibiotika (atas indikasi)

3. Cedera Otak Sedang dan Berat (Kontusio Serebri)


a. Terapi Umum
Untuk kesadaran menurun
- Lakukan resusitasi
- Bebaskan jalan nafas (Airway), jaga fungsi pernafasan
(Breathing), Circulation (tidak boleh terjadi hipotensi,
sistolik Sama dengan atau lebih dari 90 mrnHg), nadi,
suhu (tidak boleh sampai terjadi pireksia)
- Keseimbangan cairan dan elektrolit dan nutrisi yang
cukup, dengan kalori 50% lebih dari normal
- Jaga keseimbangan gas darah
- Jaga kebersihan kandung kemih, kalau perlu pasang
kateter
- Jaga kebersihan dan kelancaran jalur intravena - Rubah
posisi untuk cegah dekubitus - Posisi kepala
ditinggikan 30 derajat
- Pasang selang nasogastrik pada hari kedua, kecuali
kontra indikasi yaitu pada fraktur basis kranii
- Infus cairan isotonis
- Berikan oksigen sesuai indikasi
b. Terapi Khusus
1. Medikamentosa
- Mengatasi tekanan tinggi intrakranial, berikan
Manitol 20%
- Simptomatis : analgetik, antiemetik, antipiretik
15

- Antiepilepsi diberikan bila terjadi bangkitan epilepsi


pasca cedera
- Antibiotika diberikan atas indikasi
- Anti stress ulcer diberikan bila ada perdarahan
lambung
2. Operasi bila terdapat indikasi

8. Perawatan RS

9. Standar RS

10. Penyulit

c. Rehabilitasi
- Mobilisasi bertahap dilakukan secepatnya setelah
keadaan klinik stabil
- Neurorestorasi dan Neurorehabilitasi diberikan sesuai
Trauma Kapitis dengan fraktur tertutup
o Tidak dilakukan tindakan khusus, kecuali pada fraktur
impresif dengan kedalaman lebih dari 0,5 cm. Operasi sito
dikerjakan kalau tekanan intrakranial meninggi: sakit
kepala hebat dan muntah.
Trauma Kapitis dengan fraktur tertutup
o Diberikan antibiotik dosis tinggi untuk mencegah infeksi
otak dan konsultasi ke bagian bedah saraf untuk
penbersihan dan penjahitan selaput otak.
Komosio medula spinalis
o Istirahat dan roboransia/neurotropik
o Fisioterapi
Kontusio medula spinalis
o Istirahat dan roboransia/tierotonik
o Deksametason yang diberikan dalam rangkaian disertai
pemberian antasid atau simetidin.
Trauma medula spinalis disertai Iuksasi atau fraktur
o Deksametason yang diberikan dalam rangkaian
o Konsultasi bedah saraf untuk kemungkinan operasi
Avulsi radiks, lesi pleksus dan lesi saraf perifer
o Neurotropik dan fisioterapi. Kalau terdapat lesi total/putus
konsultasi ke bedah saraf untuk kemungkinan
penyambungan
o Trauma saraf pusat harus dirawat
o Trauma saraf perifer biasanya tidak dirawat kecuali
disertai fraktur tulang atau gangguan kehidupan seharihari
o Pada komosio serebri : semua RS
o Yang lainnya. RS yang mempunyai dokter Spesialis
Saraf, yang rumah sakit tipe C,B,A
o Karena tidak diketahui : pertolongan pada saat trauma
dapat memperberat keadaan pada kasus dengan fraktur
servikal.
o Karena terjadinya cepat. kematian dapat timbul sebelum
dapat dilakukan operasi pada perdarahan epidural
o Karena terbatasnva tenaga ahli Bedah saraf. penderita
dapat meninggal sebelum dikirim ke RS vang lebih Besar
16

11. Informed
Consent
12. Tenaga Standar

13. Lama
Perawatan
14. Hasil

15. Patologi
16.Autopsi

o Kontusio berat dengan gangguan jiwa organis


o Karena daya regenerasi sel saraf sangat sedikit,
keterlambatan dapat menyebabkan kematian total sel saraf
o Tertulis, untuk yang beresiko atau memerlukan tindakan
invasif/operasi
o Dokter Spesialis Saraf
o Dokter umum di tempat yang tidak ada dokter spesialis,
tapi kalau dapat harus dikirim ke RS yang ada dokter
spesialis
o Dokter spesialis bedah saraf dan bedah tulang kasus yang
memerlukan.
o Untuk yang ringan 3- 6 hari dan yang berat lebih dari 6
hari
o Komosio dan Kontusio ringan sembuh total
o Kontusio yang lebih berat sering ada keluhan (gejala) sisa
o Kontusio medulla. lsi total radiks, pleksus dan saraf
perifer : sering didapati kelumpuhan permanen
o Bila ada tindakan operasi
o Sering diperlukan pada kasus-kasus kekerasan untuk,
kepentingan medikolegal (pengadilan)

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis
2. ICD
3. Kriteria

4. Diagnosis
Banding

5. Pemeriksaan
Penunjang

NEUROPATI (Gangguan Saraf Tepi = periferal Neuropathy)


G.60
Adalah suatu penyakit dengan gejala klinik yang timbul
karena kelainan saraf perifer, umumnya berupa degenerasi
non-inflamasi yang luas dengan gejala yang meliputi
kelemahan motorik, gangguan sensorik, gangguan autonom
dan melemahnya refleks tendon. Saraf perifer yang terkena
meliputi semua akar saraf spiralis, sel ganglion radiks
dorsalis, semua akar saraf perifer dengan semua cabang
terminalnya, susunan saraf autonom, dan saraf otak kecuali
saraf optikus dan olfaktorius.
o
Poliomielitis
o
Atrofi otot spinal (spinal muscular atrophy)
o
Miastenia gravis
o
Multipel sklerosis
o
ALS dan lain-lain
o
Pemeriksaan liquor (cairan serebrospinal) untuk : sel,
protein, glukosa, NaCl, imunologi (bila perlu)
o
Darah tepi rutin, glukosa, kolesterol, ureum.

17

o
o
o
o

6. Konsultasi

o
o
o

7. Perawatan RS

o
o
o
o

8. Terapi

o
o
o
o

Kreatinin, elektrolit, logam berat, imunologi, basil tahan


asam, pemeriksaan kadar vitamin B1, B6, B12 dan lainlain.
Bila ada tanda-tanda anemia pernisiosa, periksa
hematologi lengkap
Urin rutin
Pemeriksaan elektromiografi (EMG)
Pemeriksaan potensial cetusan Somatosensoris
Somatosensoris
EKG
Biopsi saraf otot (atas indikasi)
Penyakit
dalam
(endokrinologi,
imunologi,
hematologi, toksikologi dan lain-lain bergantung kausa).
Bedah Saraf /Bedah (bila perlu)
Kulit (bila kausa lepra, herpes dan lain-lain).
Neuropati akut : segera inap. Bila timbul ganguan
pernapasan (pada sindrom Landry), diperlukan perawatan
intensif di ICU
Pada Bells palsy, neuropati karena tekanan (Saturday
night palsy) dan neuropati ringan, dapat berobat jalan.
Neuropati kronis, bergantung keadaan , bila berat :
rawat inap, bila ringan cukup berobat jalan.

Bila kausanya diketahui, kasusnya ditanggulangi :


- endokrin (Diabetes mellitus, uremi, hipertiroid, dan lainlain), obati penyakit dasarnya
- Herpes( Acyclovir, simptomatis)
- Lepra (Rifampisin, DDS dan lain-lain. Operasi pada
kasus tertentu)
-Taruma (mungkin perlu tindakan operatif)
Neurotropik (kombiansi vitamin B1, B6, B12/
sianokobalamin dan lain-lain)
Pada defisiensi : gizi dan fungsi penyerapan
diperbaiki
Simptomatis (untuk nyeri : salisilat, karbamazepin,
dan lain-lain)
Pada sindroma Guillan Barre-Strohl, landry dan
variannya:
- Kortikosteroid : ACTH, Kortison, Prednison (masih
banyak perbedaan pendapat tentang obat ini). Pada
yang berulang / relaps kortikosteroid banyak
manfaatnya. Obat-obat imunopresan : Azatioprin
- Plasmaparesis
- Imunoglobulin (400 mg/kg/hari untuk 5 hari)
18

9. Standar RS

10. Penyulit

o
o
o

11. Informed
Consent
12. Tenaga Standar
13. Lama Perawatan
14. Masa Pemulihan

15. Hasil

o
o

o
o
o

o
16. Patologi

17. Autopsi

- Antiviral : boleh dicoba


- Antiinflamasi : boleh dicoba
Semua RS. Bila dicurigai akan timbul gangguan
pernapasan, segera rujuk ke RS yang lebih lengkap
(memiliki ICU)
Karena penyakit
- Terjadi progresifitas, gangguan pernapasan
Karena tindakan
Perawatan dan fisioterapi yang kurang cermat dapat
memudahkan terjadinya infeksi traktus urinarius,
dekubitus, kontraktur.
Perlu tertulis, perlu terutama bagi yang dicurigai berat
progresif
Dokter umum, bila ada Dokter Spesialis Saraf
Rata-rata 2 minggu sampai 1 bulan
Bergantung keadaan, ada yang cepat tapi ada pula
yang tidak dapat bekerja untuk selamanya
Umumnya sembuh dengan tanpa gejala sisa
Jenis stoke lain umumnya sembuh dengan gejala sisa
dari yang ringan sampai yang berat
Karena biasanya disertai penyakit lain (ginjal,
jantung, hipertensi, diabetes mellitus) komplikasi jadi
tumpang tindih
Pada kasus tertentu untuk memastikan diagnosis
diperlukan biopsi saraf kadang-kadang otot-otot (jarang)
Bila diperlukan (jarang)

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis
2. ICD
3. Kriteria

4. Diagnosis
Banding

MIASTENIA GRAVIS
G.70.0
o
Adalah suatu penyakit autoimun yang terjadi karena
serangan pada asetilkolin reseptor dari neuromuskular
junction otot bergaris oleh suatu antibodi, ada 4 tipe :
1.
Ocular myastenia
2.
Mild generalized myasthenia
3.
Severe generalized myasthenia
4.
Myasthenia crisis
o
Neuropati
o
Sindroma Lambert-Eaten
o
Gangguan di bidang THT (disfoni, disfagi)
o
Gangguan di bidang mata (ptosis, oftalmoplegi)

19

5. Pemeriksaan
Penunjang

o
o
o
o

6. Konsultasi

7. Perawatan RS

8. Terapi

o
o
o
o
o
o
o
o

o
o
o
o
o
9. Standar RS

10. Penyulit

o
o

11. Informed
Consent
12. Tenaga Standar
13. Lama Perawatan
14. Masa Pemulihan

15. Hasil

o
o
o
o

16. Patologi
17. Autopsi

o
o
o

Pemeriksaan EMG (Tes Yolly, tes Harvey Masland,


Pemeriksaan EMG serabut tunggal, single fiber EMG).
Pemeriksaan antibodi anti ACHR dan anti otot lurik
di daerah (bila ada)
Pemeriksaan imunologi
Foto rongten toraks PA/lat/oblik 15 derajat (untuk
melihat adanya pembesaran timus)
CT-Scan toraks (bila ada)
Tes Prostigmin / tes tensilon
Imunologi (bila ada indikasi)
Pulmonologi (bila ada timoma)
Bedah toraks (bila ada timoma)
Rawat inap segera pada kasus berat
Bila dicurigai akan timbul krisis miastenia, perlu
dirawat secara intensif di ruang ICU
Antikolinesterase (AchE) : neostigmin bromide
(Prostigmin) 7,5-45 mg tiap2-6 jam dan atau piridostigmin
(mestinon) 30-120 mg tiap 4-6 jam (disesuaikan
kebutuhan)
Kortikosteroid
Imunosupresan nonsteroid
Azatiorin atau siklosfamid ( bila dengan ACHE tidak
berhasil)
Timektomi
Plasmaforesis : pada miastenia gravis yang berat atau
krisis miastenia
Semua RS. Bila keadaan memungkinkan rujuk ke RS
yang mempunyai perawatan lengkap (ICU)

Karena penyakit
- Krisis miastenia
- krisis kolinergik
Karena tindakan
- jarang
Perlu tertulis
Dokter umum , bila ada Dokter Spesialis Saraf
Bergantung keadaan
1 Minggu. Penderita harus tetap kontrol setelah klinis
sembuh
Terkontrol
Kemungkinan lepas
Bila dilakukan timektomi
Jarang
20

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis
2. ICD
3. Kriteria

GANGGUAN OTOT (MIOPATI)


G. 71, G. 72 (Muscular Dystropharesis and other Myopatic)
o
Suatu kelainan yang ditandai oleh abnormalnya
fungsi otot (merupakan perubahan patologi primer) tanpa
adanya denervasi pada pemeriksaan klinik, histologik atau
neurofisiologi
o
Gejala spesifik : Bila akan bangun/berdiri tanpa
gangguan, penderita berusaha mengangkat dan mendorong
badannya ke atas sedikit demi sedikit seolah-olah
memanjat ke atas terhadap dirinya sendiri yang disebut
Gowers sign
o
Golongan distrofi otot
21

o
4. Diagnosis
Banding
5. Pemeriksaan
Penunjang

6. Konsultasi

o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

7. Perawatan RS

o
o

8. Terapi

o
o
o
o
o
o

- Progresif dan herediter


Jenis Duchenne (distrofi Musculorum Progresif) yang
ganas dan jenis distrofi dengan lokalisasi umum dan
terikat pada jenis kelamin pria (sex-linked). Distrofi
Musculorum Progresif timbul berangsur-angsur pada
usia 3-5 tahun dan biasanya meninggal sebelum usia
20 tahun.
Golongan miotoni
- Bila kontraksi aktif otot, tetap bertahan beberapa waktu
dalam keadaan kontraksi (relaksasi terlambat)
walaupun rangsang inisial sudah berhenti. Misalnya :
bila tangan memegang sesuatu dengan erat penderita
tidak bisa melepaskan pegangannya dengan cepat,
karena otot-otot tangan masih tetap dalam keadaan
kontraksi
Golongan poliomiositis
- Distrofi otot yang disertai rasa nyeri lokal dan tanda
rangsang dengan warna kemerah-merahan pada kulit
muka dan dada (skin rash)
Golongan Miopati karena gangguan endokrin dan
metabolik misalnya Diabetes mellitus
Golongan Miastenia Gravis (sudah dibahas sendiri)
Neuropati
Poliomielitis
Pemeriksaan enzim serum darah : SGOT, SGPT,
LDH dan CPK
Pemeriksaan gula darah, fungsi tiroid (atas indikasi)
Pemeriksaan Elektromiografi (EMG)
Pemeriksaan Rontgen tulang
EKG
Biopsi otot (bila mungkin)
Penyakit
Dalam
(bila
kausanya
gangguan
Endokrin/metabolik
Rawat inap
Bila ada penyulit /keadaan lemah atau untuk
menegakkan diagnosis pasti dan mencari kausanya
Pada yang herediter
Diutamakan pencegahan (marriage conselling)
misalnya orang tuanya ikut keluarga berencana
Suportif
Fisioterapi
Bila kausa diketahui segera tanggulangi (misalnya
gangguan endokrin)
Terapi Suportif : Pemberian prednison
- Distrofi muskuler : 1 mg/KgBB/hr selama 6 bulan
- Poliomiositis : 1 mg/KgBB/hr selama 3 bulan

22

9. Standar RS

10. Penyulit

o
11. Informed
o
Consent
12. Tenaga Standar o
13. Lama Perawatan o
14. Masa Pemulihan o
15. Hasil

o
o

16. Patologi
17. Autopsi

o
o

- Dapat diberikan continously atau alternating


- Vitamin E boleh coba
Untuk menegakkan diagnosis pasti, perlu RS yang
mempunyai EMG, Patologi Klinik dan Patologi Anatomi
Karena penyakit
- Pada jenis Duchenne (Distrofi Muskulorum Progresif)
penyakit akan memburuk secara bertahap dan biasanya
meninggal sebelum usia 20 tahun
Karena tindakan
- Jarang
Perlu tertulis
Dokter Umum, bila tidak ada Dokter Spesialis Saraf
Setelah diagnosis pasti, penyulit atau kausa sudah
ditanggulangi penderita dapat berobat jalan terutama untuk
fisioterapi.
Bergantung
keadaan,
penyakitnya
cenderung
memburuk pada tipe duchenne
Dengan perawatan dan fisioterapi penderita merasa
membaik (sembuh parsial). Jenis lainnya umumnya
sembuh dengan gejala sisa dari ringan sampai berat.
Karena biasanya disertai penyakit lain (ginjal,
jantung, hipertensi, diabetes mellitus) komplikasi jadi
tumpang tindih.
Biopsi otot untuk diagnosis
Bila perlu (jarang)

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis

BRAKIALGIA DAN ISKIALGIA


Kausa :
o
Penyebabnya banyak, namun yang paling umum
adalah satu diskus intervertebralis yang mengalami
ruptur atau degenerasi dengan terjadinya ekstrusi
sebagian anulus dengan herniasi nukleus pulposus.
Protrusi dapat terjadi ke arah posterolateral atau ke
tengah (midline)

23

Pada umumnya ada trauma yang disusul oleh


timbulnya nyeri radikuler
o
Herniasi atau protrusi nukleus pulposus menyebabkan
penekanan pada radiks dan menyebabkan gejala. Hal ini
biasanya terjadi di daerah lumbal, namun bisa juga
terjadi di daerah servikal , jarang di daerah torakal.
o
Brakialgia dan iskialgia merupakan gejala, bukan satu
penyakit. Sehingga harus diupayakan mencari
penyebabnya. Penyebab nyeri adalah kompleks, karena
mliputi keterlibatan otot dan skelet dan struktur yang
berhubungan dengannya seperti penyakit pelvis dan
abdomen, juga kelainan postural dan juga faktor-faktor
psikogenik.
o
Nyeri punggung bawah (NPB) adalah nyeri yang
dirasakan daerah punggung bawah, dapat merupakan
nyeri lokal maupun nyeri radikuler atau keduanya. Nyeri
ini terasa diantara sudut iga terbawah dan lipat bokong
bawah yaitu didaerah lumbal atau lumbo sakral dan
sering disertai dengan penjalaran nyeri ke arah tungkai
dan kaki. Nyeri yang berasal dari daerah punggung
bawah dapat dirujuk ke daerah lain atau sebaliknya nyeri
yang berasal dari daerah lain dirasakan di daerah
punggung bawah (referred pain).
G. 71, G.72 (Muskular Dystropharesis and Other Myopatic)
Brakialgia
o
Nyeri radikuler dari leher yang menjalar ke lengan,
yang bertambah bila batuk, mengejan
o
Perlu diperiksa seluruh tulang punggung terutama
servikal dengan memperhatikan ada tidaknya kelainan
postur, deformitas, nyeri tekan dan ketok serta spasme
otot.
o
Dapat terjadi gangguan motoris berupa paresis bila
terdapat satu kompresi radiks.
o
Bila kelainan hanya berupa iritasi radiks, tak dijumpai
gangguan motorik/paresis. Gangguan sensibilitas yang
terjadi sesuai dermatom yang terkena
o
Refleks fisiologis pada segmen yang terkena menurun
(contohnya refleks bisep dan brakioradialis pada
sindroma C5/6 atau refleksi trisep pada sindroma C6/7)
Iskialgia
o
Nyeri radikuler dari daerah lumbal yang menjalar ke
daerah iskiadikus, terus menjalar ke tungkai bawah dan
bergantung letak lesi, bisa ke jari-jari kaki. (contoh :
menjalar ke jempol kaki pada sindrom S1)
o
Perlu diperiksa seluruh tulang punggung terutama
lumbosakral dengan memperhatikan ada tidaknya
kelainan postur, deformitas, nyeri tekan dan ketok serta
spasme otot. Dengan adanya nyeri radiasi ke iskiadikus
o

2. ICD
3. Kriteria

24

o
o

o
o
o
o
4. Diagnosis
Banding

ataupun ke arah lumbo sakral, maka biasanya lordosis


lumbal akan berkurang karena spasme involunter dari
otot-otot punggung. Biasanya juga bisa dijumpai
skoliosis lumbal, dengan skoliosis torakal yang
kompensatoar.
Pasien akan beruasaha untuk meletakkan berat
badannya pada sisi yang kontralateral dan posisi badan
agak membungkuk dan agak miring ke posisi yang sakit,
untuk menghindari peregangan saraf yang terkena.
Pada nyeri yang hebat, maka penderita akan
mengurangi ekstensi lutut, dan hanya meletakkan jarijari di lantai untuk menghindari dorsofleksi yang akan
menambah nyerinya.
Tanda perangsangan meningeal dapat timbul, berupa
laseque pada sisi terkena ataupun Cross Laseque pada
sisi kontralateral.
Modifikasi tanda laseque adalah tanda Braggard yakni
dengan melakukan dorsofleksi kaki, ataupun tanda
Sicard dengan melakukan dorsofleksi jempol kaki, maka
nyeri radikuler akan bertambah.
Tanda Naffiziger menimbulkan nyeri radikuler yang
bertambah bila batuk, bersin, ataupun pada penekanan
vena jugularis. Kadang-kadang nyeri justru bertambah,
pada pelepasan penekanan. Pemeriksaan ini juga dapat
dilakukan dengan tes vasalva. Tanda nyeri sewaktu
disuruh membungkuk, maka pasien akan melakukan
fleksi pada lutut untuk mencegah teregangnya N.
Ishiadikus. Gangguan motoris paresis dapat terjadi bila
terdapat kompresi radiks (contohnya : paresis
dorsofleksi dan plantarfleksi kaki pada sindrom L5-S1)
Gangguan sensibilitas dapat terjadi pada dermatom
yang terkena. Refleks fisiologis menurun pada sindrom
L2-4 (refleks lutut) dan pada sindrom S1 (refleks tumit)
Harus dibedakan antara iritasi radiks dan kompresi
radiks.
Diagnosis kompresi radiks ditegakkan bila ada:
- Paresis motoris
- Gangguan miksi defekasi
Tanda-tanda fibrilasi pada segmen terkena pada
pemeriksaan EMG
Brakialgia
- Tumor radiks
- Avulasi radiks traumatis
- Pleksus neuritis
- Sindroma Carpal-Tunnel
- Sindroma Skalenus
- Neurologis rematologis
Iskialgia

25

5. Pemeriksaan
Penunjang

o
o

6. Konsultasi

o
o
o

7. Perawatan RS

o
o
o

8. Terapi

- Tumor
- Fraktur
- Paresis pleksus
- Paresis N. Peroneus
- Neuropatik diabetik
- Gangguan vaskuler pada a. Iliaka dan cabangcabangnya
- Spondilitis lumbalis
- N. Iskiadikus : neuritis primer, perineuritis, neurinoma,
trauma pada sarafnya atau suntikan
Brakialgia
- Foto rontgen servikal dengan posisi AP /lat/oblik
Iskialgia
- Foto rontgen lumbosakral AP/lat
- LP bergantung kasus dapat dipertimbangkan, bila
diduga ada kompresi radiks yang disertai bendungan
ataupun diduga ada tumor medula spinalis
- Pemeriksaan EMG untuk penentuan lokalisasi,
membedakan iritasi radiks dengan kompresi radiks,
evaluasi pengobatan. Bila diduga kompresi radiks,
maka, setelah pemeriksaan EMG dilakukan
mielografi/CT-mielografi ataupun MRI
Dokter Spesialis Penyakit Dalam. Bila ada penyakit
sistematis sebagai penyebab ataupun penyerta penyakit
Dokter Spesialis Psikosomatik bila tidak ditemukan
kelainan lain
Fisioterapi untuk traksi servikal maupun lumbal,
masase dan UKG atau ultrasound
Rawat inap pada iritasi radiks, bila ada kelainan
neurologis.
Nyeri radikuler tak tertahankan (obat tidak
menolong), tak dapat istirahat di rumah, diduga ada
penyebab lain yang harus di eksplorasi
Pada kompresi radiks mutlak perlu dirawat karena
tindakan operatif mutlak diperlukan

Pada iritasi radiks tetapi umumnya konservatif


terlebih dahulu, yaitu :
- Tirah baring dengan posisi yang rata dengan alas
keras
- Pemberian bantal panas
- Seuntikan anetesi secara lokal
- Obat relaksan otot , analgesik dan obat AINS

26

9. Standar RS

10. Penyulit

11. Informed
Consent

o
o

12. Tenaga Standar

o
o
o

13. Masa Pemulihan

14. Hasil

o
o

Selain itu dapat dilakukan traksi servikal maupun


lumbal dan juga fisioterapi lain
Operatif
- Indikasi operasi :
- Indikasi operasi sito ialah timbulnya prolaps dengan
paraparesis (kompresi radiks). Pada kompresio radiks
tindakan operatif harus dilakukan secepatnya setelah
diagnosis ditegakkan untuk mencegah paresis dan
atrofi lebih lanjut.
- Gangguan miksi
- Pada paresis motoris yang timbulnya akut dan
relevan.
- Bila sudah 6-8 minggu terapi konservatif masih
terdapat keluhan dan gejala yang relevan.
- Pada residif yang berkali-kali dengan gejala yang
khas.
- Bila dengan pemeriksaan EMG dari otot-otot segmen
yang bersangkutan atau otot-otot paraspinal atau para
vertebral ditemukan adanya denervasi/fibrilasi yang
menunjukkan kompresi radiks.
Semua RS, kecuali pada kasus yang memerlukan
tindakan invasif/operatif harus RS tipe A/B yang
mempunyai ahli bedah saraf / ortopedi
Hanya ada pada kasus yang telah dioperasi, kadangkadang nyeri masih ada.
Secara lisan pada pemeriksaan EMG
Perlu tertulis pada pemeriksaan : LP, Myelografi,
MRI dan pada tindakan operasi
Dokter Umum
Dokter Spesialis Saraf bila keluhan tidak hilang,
apalagi kalau bertambah berat ataupun didapati kelainan
neurologis.
Dokter Spesialis Bedah Saraf/ortopedi untuk kasus
kompresi radiks yang perlu operasi
Bergantung pada masing-masing kasus, namun
umumnya pada iritasi radiks diperlukan waktu 4-6
minggu

Pada iritasi radiks


Biasanya prognosis baik, bila dilakukan terapi dan
fisioterapi yang baik dengan istirahat yang cukup.
o
Pada hernia diskus yang dioperasi
o
Pada 2/3 kasus prognosis baik dan pada 10 % hasil
tak memuaskan
27

Trauma pada pekerjaan


Yang jelas prognosisnya seperti pada umumnya
trauma pada pekerjaan dan bila preoperatif gejala sudah
ada lebih dari 1 tahun dengan perubahan artrotis yang
jelas, misalnya anomali lumbosakral
o
Hanya diperlukan pada kasus yang dioperasi
o
Sangat dianjurkan , bila terjadi kematian yang hampir
tak pernah terjadi
o
o

15. Patologi
16. Autopsi

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis
TETANUS
2. ICD
Q.29.0
3. Kriteria Diagnosis o Penyakit sistem saraf yang perlangsungannya akut dengan
28

o
o
o

o
o
o
4. Diagnosis
Banding

5. Pemeriksaan
Penunjang

o
o
o
o
o
o

6. Konsultasi

7. Perawatan RS
8. Terapi

o
o
o
o
o
o
o
o
o

9. Standar RS
10. Penyulit

o
o

karakteristik spasme tonik persisten dan eksaserbasi


singkat
Trismus-rahang terkunci
Risus Sardonikus-retraksi sudut mulut diikuti denqan
nyeri dan kaku otot
Paraspinal dan otot perut terjadi spasme pada otot-otot
agonis dan antagonis yang sangat hebat sampai terjadi
nyeri dan kekakuan yang sangat berat yang bisa
menimbulkan fraktur
Vertebra dorsalis terjadi spasme pada otot pernapasan
yang merupakan penyebab kematian bila tidak cepat
ditolong
Gejala autonom berupa banyak keringat dan ludah. Juga
sekresi faring. takikardi dan hipotensi
Terjadi juga rabdomiolisis yang mengakibatkan
mioglobinuri dan gagal ginjal
Kejang karena hipokalsemia
Sindroma hiperventilasi/reaksi histeri
Epilepsi
Peradangan daerah mulut
Pemeriksaan mikroorganisme baku untuk menemukan
C.tetani
Pemeriksaan
Toksikologi
untuk
menemukan
tetanospasmin
Dokter Spesialis Anak Perinatologi
Dokter Gigi
Dokter Spesialis Bedah
Rawat inap segera, bila perlu di ruang ICU
Eksisi luka yang cukup lebar
Pernberian metronodazole 7.5 mg'kgBBtiap 6 jam oral
atau IV Obat ini lebih baik pada penicilin
Toksis yang masih dalam sirkulasi dinetralkan dengan
imunisasi pasif ( Human Imunoglobulin 5000-10000 UI
intramuskular)
Kejang diberi diazepam 5 mg/kgBB/hari, dapat juga
dengan dandtrolene sodium 6 mg/kgBB/liter lewat NGT
Pada kasus yang berat diberikan obat blokade
neuromuskular dan ventilasi dengan tekanan yang positif
serta perhatikan balans cairan
RS dengan fasilitas ICU
Gangguan menelan dan pernapasan yang memerlukan
tindakan khusus

11. Informed
Consent

o Perlu tertulis, terutama yang dicurigai berat

12. Tenaga Standar

o Dokter Umum
o Bila dicurigai akan terjadi kesulitan pernapasan rujuk ke
RS yang lengkap
29

13. Lama Perawatan


14. Masa Pemulihan

15. Hasil

16. Patologi
17.Autopsi

2 minggu 1 bulan.
Sampai tak terjadi kesulitan pernapasan
Pada fraktur vertebra istirahat baring kurang lebih 2 bulan
Pada anak-anak 50% meninggal
Angka kematian tinggi bila :
a. terjadi spasme yang tidak cepat ditolong
b. Bila jarak antara terjadinya luka dan awitan terjadi
tetanus pendek
o Tidak perlu
o Bila diperlukan
o
o
o
o
o

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis

MENINGITIS

30

- Meningitis Bakterialis Akut


- Meningitis Tuberkulosis (A.17.0)
- Meningitis Viral
2. ICD
G.00
3. Kriteria Diagnosis o Adalah suatu infeksi susunan saraf pusat yang berat dan
dapat menimbulkan gejala sisa yang permanen. Penyebab
infeksi adalah bakteri,virus atau organisme yang lain.
o Merupakan salah satu komplikasi dari penyakit
tuberculosis, mempunyai morbiditas dan mortalitas yang
tinggi dengan prognosis buruk
o Demam, malaise, sakit kepala, muntah, sering tampak
mengantuk dan confused (kesadaran menurun)
o Bila tak diobati, mengantuk mengembangkan menjadi
sopor dan koma
o Gejala klinis yang khas ditemukan tanda rangsangan
meningeal berupa kaku kuduk, tanda kernig
o Petekia dijumpai pada meningokok walaupun dapat juga
pada infeksi pneumokok, stafilolokok, dan beberapa
infeksi virus. Kadang-kadang dijumpai kejang akibat
meningkatnya atau infeksi vena lokal
o Edem papil dijumpai pada sereberitis difus dan edem otak
yang umum. Malaise, sakit kepala, irritabel, perubahan
tingkah laku yang berlangsung selama 2-6 minggu.
Dijumpai demam ringan dan tanda perangsangan selaput
otak
o Papil edema sering terjadi. Jika tak diobati keadaan sopor
bertambah dan diikuti kematian. Malaise, sakit kepala,
demam ringan, mengantuk dan muntah.
o Pemeriksaan memperhatikan penderita tampak sakit
sedang, beberapa terdapat kaku kuduk, tetapi tidak sejelas
pada meningitis bakterialis akut.
4. Diagnosis
o Infeksi jamur/parasit (Cryptococcus neoformans atau
Banding
Toxoplasma gondii) sarkoid meningitis.
o Tekanan pada selaput otak yang difus oleh sel ganas,
termasuk karsinoma, limfoma, leukemia, glioma,
melanoma dan meduloblastoma.
o Pada parameningeal abses menimbulkan reaksi limfositik
pada cairan otak.

5. Pemeriksaan
Penunjang

o Pungsi lumbal (bila tak ada tanda-tanda peninggian


tekanan intrakranial)
o CT scan atau MRI dibuat sebelum dilakukan fungsi
lumbal bila dijumpai peninggian tekanan intrakranial.
31

6. Konsultasi

7. Terapi
8. Perawatan RS

o Kultur darah dan cairan otak.


o Perwarnaan gram cairan otak, juga pewarnaan ZiehlNilsen
o Kadar glukosa darah, pemeriksaan kuantitatif cairan otak
untuk jumlah sel, hitung jenis sel.
o Kadar glukosa, protein, NaCL, kadar asam amino, dan
untuk
mendapatkan
antigen
bakteri
diperiksa
counterimmunoelectrophoresis radioimmunoassay atau
teknik ELISA.
o C-reactive protein meningkat lebih dari 20 mg/l indikasi
kemungkinan teriadinya meningitis bakterialis.
o Dokter Spesialis Penyakit Dalam
o Dokter Spesialis Paru
o Dokter Spesialis Onkologi
o Dokter Spesialis THT
o Dokter Gigi
o Dokter Spesialis Radiologi
o Dokter Spesialis Bedah saraf
o Dokter Ahli Laboratorium Klinik
o Dokter Ahli Mikrobiologi
o Dokter Ahli Parasitologi
o Rawat inap untuk semua penderita yang dicurigai
menderita meningitis
Pada orang dewasa
o Lebih baik dideteksi dahulu dengan pewarna gram atau
teknik mendapatkan antigen yang cepat.
o Kuman penyebab kebanyakan Neisseria meningitidis
(Meningococcus) dan Streptococcus pneumoni sehingga
yang dipakai adalah benzyl penisilin {sukar dijumpai di
Indonesia)
o Pilihan lain, penisilin dengan dosis 300 mg/kgBB
intravena dibagi 3 dosis dikombinasikan dengan
kloramfenikol 75 - 100 mg/kgBB perhari-intravena
o Sefotaksim 50 mg kg BB tiap 6 jam IV adalah obat
terpilih
Pada anak-anak
o Pemberian dini deksametason bila penyebab H.influenzae
mengurangi insiden sequele tuli dan kelainan neurologi
lain.
o
Pengobatan dan hasilnya bergantung cepatnya
pencobatan.
o Pengobatan segera bila dijumpai pleiositosis limfositik
dan kadar glukosa cairan otak yang rendah.
o INH 20 mgkg BB/hari selama 1 bulan (maks 600 mg hari)
lalu dosis diturunkan l0 mg/kgBB/hari
o Rifampisin l0 mg/kg BB/hari, selama 2 bulan
o Pirazinamid 30 mg/kgBB/hari, selama 2 bulan

32

9. Standar RS
10. Penyulit

11. Informed
Consent
12. Tenaga Standar

13. Lama Perawatan

14. Masa Pemulihan

Ketiga obat ini diberikan sehan sekali


o INH dan rifampisin diberikan l0 bulan
o Pada keadaan yang berat ditambah streptomisin 20 mg/ kg
/BB/hari, selama 2 minggu
o Kortikosteroid dapat diberikan walaupun masih
kontroversial
o Pengobatan pada infeksi virus tak ada pengobatan yang
spesifik kecuali pengobatan suportif dan tirah baring
o Semua RS, bila ada penyulit atau indikasi rujuk ke RS
yang lebih lengkap fasilitasnya.
Meningococcal septicaenia
o Tuli sensori-neural
o Kelumpuhan saraf kranial
o Hidrosefalus
o Epilepsi
o Higroma subdural
o Retardasi rnental
o Atrofi n.optikus
o Perlu diminta pada saat akan di pungsi lumbal
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o
o

15. Hasil

o
o

16.Patologi

Dokter Spesialis Saraf


Dokter Spesialis Penyakit Dalam
Dokter Spesialis Paru
Dokter Spesialis Onkologi
Dokter Spesialis THT
Dokter Gigi
Dokter Spesialis Radiologi
Dokter Spesialis Bedah saraf
Dokter Ahli Laboratorium Klinik
Dokter Ahli Mikrobiologi
Dokter Ahli Parasitologi
Dokter umum bila tak ada dokter spesialis tersebut
1-2 bulan untuk meningitis bakterialis kut
2-6 bulan untuk meningitis tuberkulosis
1 bulan untuk meningitis viral
1-2 bulan untuk meningitis bakterialis akut
Sesudah 6 bulan, dengan sequele neurologis umumnya
untuk meningitis tuberkulosis
meningitis bakterial dapat cepat sembuh total bila cepat
diobati dan kesadarannya belum terganggu
meningitis tuberkulosis sembuh lambat dan umumnya
meninggalkan sequele neurologis
meningitis viral ada yang sembuh total, ada yang menjadi
cacat/epilepsi
Bila dijumpai penyulit

33

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis
ENSEFALITIS VIRAL
2. ICD
A.83. A.85, A.88
3. Kriretia Diagnosis o Suatu penyakit demam akut dengan kerusakan jaringan
parenkim sistem saraf pusat yang menimbulkan kejang,
kesadaran menurun, atau tanda-tanda neurologis fokal.
o Skin rash, faringitis, limfadenitis, pleuritis, karditis,
ikterus, organomegali, diare dan orkitis
o Prodromal berlangsung 1-4 hari berupa demam, menggigil,
sakit kepala, malaise, sakit tenggorokan, konjungtivitis,
nyeri pada ekstremitas dan abdomen.
o Bila berkembang jadi meningitis, dijumpai kaku kuduk,
fotofobia. nveri pada pergerakan bola mata. Kesadaran
menurun.
o Adanya ensenfalitis ditandai oleh ataksia. tremor.
gangguan mental, gangguan bicara, kelumpuhan
ekstrimitas, kejang peninggian tekanan intrakranial.
kesadaran yang makin menurun sampai koma dan dapat
berakhr dengan kematian, jarang dijumpai ptosis dan
paresis bola mata.
o Bila gejala perangsangan selaput otak disertai disfungsi
otak disebut meningoensefalitis
4. Diagnosis
o Infeksi bakteri
Banding
o Infeksi mikrobakteri
o Infeksi jamur
o lnfeksi protozoa
5. Pemeriksaan
o Pungsi lumbai bila tak ada tanda peninggian tekanan
Penunjang
intrakranial
Dievaluasi :
Sel
umumnva
kurang
dari
1000/ul,
limfomonositik
Dijumpai eritrosit pada herpes simpleks
ensefalitis
Protein normal atau sedikit meninggi (80200mg/dl)
Glukosa biasanya normal
Pewarnaan gram dan kultur untuk bakteri
a. Jamur
b. BTA
o Bila memungkinkan isolasi virus, titer antibodi untuk
mencari diagnosis etiologi
o Pemeriksaan darah
Leukosit : normal atau leukopeni atau
leikositosis ringan

34

Amilase serum sering meningkat pada parotitis


Fungsi hati yang abnormal dijurnpai pada
hepatitis virus dan mononukleosis infeksiosa.

o Pemeriksaan EEG
Umumnya dijumpai perlarnbatan umum
Adanya kompleks slow wave yang periodik ke
daerah lobus temporalis sesisi atau dua sisi
mencurigakan suatu infeksi herpes simples virus
(HSV). Pada AIDS ensefalitis juga hanya dijumpai
perlambatan
o Pemeriksaan CT scan dan MRI
Pemeriksaan ini sebenarnya penting tetapi
mahal. Berguna untuk deteksi dini HSV ensefalitis
o Biopsi jaringan otak
Spesimen untuk isoiasi virus, pemeriksaan
histopatologis, pemeriksaan dengan mikroskop
elektron dan imunofloresens. Biopsi otak berguna
untuk menegakkan diagnosis HSV ensefalitis
o Pemeriksaan antibodi antigen spesifik untuk HSV dan HIV
6. Konsultasi
o Dokter Spesialis Saraf
o Dokter Ahli Virologi
o Dokter Ahli Patologi Klinik
o Dokter Ahli Patologi Anatomi
o Dokter Spesialis Radiologi
o Dokter Spesialis Bedah Saraf
o Dokter Spesialis Anestesi
o Fisioterapis
7. Perawatan RS
o Rawat inap segera untuk semua penderita yang dicurigai
memderita ensefalitis
8. Terapi
o Bersifat suportif
o Bila dicurigai penyebabnya HSV diberikan Acyclovir 30
mg/kgBB/hari intravena, dibagi 3 dosis selama 10 hari.
9. Standar RS
o Untuk perawatan suportif semua RS
o Bila ada penyulit atau indikasi rujuk ke RS yang lebih
lengkap
10. Penyulit
o Infeksi saluran napas dan saluran kemih
o Kejang yang terus menerus pada fasilitas ICU untuk
narkose umum
o Perlu tertulis bila diperlukan untuk punksi lumbal, biopsi
11. Informed
Consent
otak
12. Tenaga Standar
o Dokter umum untuk terapi suportif
o Dokter Spesialis Saraf, dokter Spesialis Anestesi, bila
kejang-kejang menuju kea rah status konvulsi
13. Lama Perawatan o Satu bulan bila tidak terjadi sequele neurologis/penyulit
lain. Sequele neurologis perlu dilatih ahli Fisioterapi

35

14. Masa Pemulihan


15. Hasil
16.Patologi
17. Autopsi

o Pengobatan seumur hidup bila terjadi epilepsi


o 1-3 bulan, sebagian meninggalkan cacat tetap
o Ensefalitis virus tidak ada obatnya, Acyclovir dapat dicoba
diberikan pada HSV ensefalitis dengan mortalitas 19-28%
o Bila dilakukan biopsi otak
o Dengan persetujuan keluarga, untuk visum et repertum

PENANGANAN PASIEN
1. Diagnosis
PENYAKIT PARKINSON
2. ICD
G. 20
3. Kriteria Diagnosis o Penyakit Parkinson adalah : bagian dari parkinsonism yang
patologis ditandai dengan degenerasi ganglia basalis
terutama pars compacta substantia nigra disertai dengan
inklusi sitoplasmik eosinofilik (Lewys bodies)
o Parkinsonism : adalah sindroma yang ditandai dengan
tremor waktu istirahat, rigiditas, bradikinesia dan
hilangnya refleks postural akibat penurunan dopamine
karena beberapa sebab
o Tremor merupakan gejala yang timbul akibat letupan
ritmis terhadap traktus piramidalis. Disebut juga resting
tremor dengan frekuensi 4-5 Hz atau pill rolling tremor.
Dalam keadaan stress tremor akan bertambah
4. Pemeriksaan Fisik o Dalam pemeriksaan dapat ditemukan trias Parkinson yaitu:
fenomena roda bergigi. bradikinesia dan rigiditas.
Bradikinesia
o Menurunnya kemampuan untuk melakukan gerakan wajah
disertai bertambahnya waktu yang diperlukan untuk
memulai atau mengubah gerakan akibatnya keseluruhan
gerakan penderita memberi kesan lambat.
o Dalam pemeriksaan dapat ditemukan penderita berjalan
dengan langkah kecil-kecil seperti diseret (Marche Apetit
Pas) tanpa melenggang, saliva tidak ditelan. muka topeng
yang miskin mimik, frekuensi mata berkedip menurun dan
tulisan berubah menjadi kecil-kecil.
Rigiditas
o Tonus otot meninggi karena meningkatnya aktivitas motor
neurogamma terutama pada otot fleksor. Keadaan ini
rnengakibatkan sikap penderita seperti membongkok
dengan kaki tertekuk (Stooping).
o Disamping gejala di atas dapat ditemukan hiperhidrosis,
hipotensi postural, gangguan miksi, demensia, depresi,
pernapasan yang dangkal dan tidak beraturan serta cara
bicara yan monoton.
o Perjalanan klinis penyakit Parkinson dilihat berdasar
36

tahapan menurut Hoehn dan Yahr


o Stadium I:
- Gejala dan tanda pada satu sisi
- Gejala ringan
- Gejala yang timbul mengganggu tapi tidak menimbulkan
cacat
- Tremor pada satu anggota gerak
- Gejala awal dapat dikenali orang terdekat

5. Diagnosis
Banding

6. Pemeriksaan
Penunjang
7. Konsultasi

8. Perawatan RS

o Stadium II:
- Gejala bilateral
- Terjadi kecacatan minimal
- Sikap/cara berjalan terganggu
o Stadium III:
- Gerakkan tubuh nyata lambat diri
- Gangguan keseimbangan saat berjalan/berdiri
- Disfungsi umum sedang
o Stadium IV:
- Gejala lebih berat
- Keterbatasan jarak berjalan
- Rigiditas dan bradikinesia
- Tidak mampu mandiri
- Tremor berkurang
o Stadium V:
- Stadium kakesia
- Kecacatan kompleks
- Tidak mampu berdiri dan berjalan
- Memerlukan perawatan tetap
o Sindrom Parkinson Sekunder
o Pascaensefalitis letargika van economo. Dua puluh tahun
setelah kejadian infeksi virus otak timbul gejala parkinson.
o Keadaan iatrogenis akibat pemberian obat terutama
fenotiazin, haloperidol dan litium.
o Akibat keracunan CO atau Mn
o Penyakit saraf lain : penyakit serebrovaskular/
parkinsonisme arteriosklerosis
o Akibat keadaan lain seperti trauma atau tumor otak.
o Pada CT Scan atau MRI, mungkin dapat ditemukan tanda
degenerasi pada substansia nigra.
o Dapat dilakukan analisis cara berjalan terutama foot print.
o Dokter Spesialis Penyakit Dalam
o Dokter Spesialis Jiwa
o Dokter Ahli Farmakologi Klinis bila diperlukan
o Rawat inap hanya dianjurkan pada kasus yang berat
dengan tujuan untuk mengetahui medikamentosa yang
cocok dan dosis yang adekuat

37

9. Terapi

10. Standar RS
11. Penyulit

12. Informed
Consent
13. Tenaga Standar

14. Lama Perawatan

o Medikamentosa :
- Amantadin
- Antikholinergik : Benzotropin mesilat, biperidin,
trihexyphenidil
- Dopaminergik : Carbidopa dan Levodopa Benserazide
dan Levodopa
- Dopamin Aginis : Bromokriptin mesilat, pergolide
mesilat, pramipexole, rupinirol, lysuride
- COMT Inhibitor : Entacapone, tolcapone
- MAO-Binhibitor : Selegiline, Lazabemide
- - Anti Oksidan : Glutamat antagonis, alfa tocoferol, asam
Ascorbat, betacaroten
- Botulinum toxin
- Propanolol
o Non medikamentosa :
- Operasi : Talatomi, palidotomi, transplantasi substansia
nigra
- Ablasi dan stimulasi otak
- Rehabilitasi medik
- Psikoterapi
o Semua RS yang mempunyai dokter Spesialis Saraf
Efek samping dapat berupa :
o Fluktuasi khasiat obat (on-off phenomenon)
o Hipotensi postural
o Nausea
o Diskinesia
o Depresi mental
o Hanya pada kasus operatif yang belum pernah dikerjakan
di Indonesia
o Dokter Umum, pada penderita dengan keluhan yang sudah
teratasi dengan pengobatan yang adekuat.
o Dokter Spesialis Saraf, bila kemudian timbul efek samping
pemberian obat jangka panjang
o Berobat jalan, kecuali untuk penyesuaian obat, penderita
dengan efek samping pengobatan yang berat atau depresi
mental berat.
o Lama perawatan bergantung pada berat atau sulitnya kasus
tersebut
38

15. Masa Pemulihan

16.Hasil

17. Patologi
18. Autopsi

o Penderita selamanya bergantung pada medikamentosa


o Hal ini selayaknya menjadi bahan pertimbangan dalam
memilih jenis obat karena penderita akan sangat terbebani
oleh harga obat
o Dengan terapi yang adekuat penderita dapat bebas gejala
untuk waktu yang lama akan tetapi dosis adekuat untuk
kurun waktu tertentu mungkin tidak adekuat lagi untuk
waktu selanjutnya sehingga dosis harus dinaikkan
o Tidak selalu perlu
o -

39