Anda di halaman 1dari 60

1

EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN JOHAR PADA BOBOT BADAN DAN SUHU TUBUH AYAM YANG TERINFEKSI Eimeria spp.

MELATI ANGGRAINI

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

PERNYATAAN MENGENAI SKRIPSI DAN SUMBER INFORMASI


Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi Efek Ekstrak Etanol Daun Johar pada Bobot Badan dan Suhu Tubuh Ayam yang Terinfeksi Eimeria spp. adalah karya saya dengan arahan dari pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir skripsi ini.

Bogor, Februari 2011

Melati Anggraini NIM B04061358

MELATI ANGGRAINI. Efek Ekstrak Etanol Daun Johar pada Bobot Badan dan Suhu Tubuh Ayam yang Terinfeksi Eimeria spp. Di bawah bimbingan SRI UTAMI HANDAJANI dan IETJE WINTARSIH.

ABSTRAK
Koksidiosis merupakan suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi Eimeria spp. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas ekstrak etanol daun johar (Cassia siamea Lamk.) pada ayam terinfeksi alami Eimeria spp. yang mengandung 8,1-23,6 x 103 ookista terhadap bobot badan dan suhu tubuh ayam. Sebanyak 90 ekor ayam dibagi menjadi 6 kelompok yaitu kelompok kontrol normal (KN), kelompok kontrol negatif (K-), kelompok kontrol obat (KO), kelompok perlakuan 1 (P1) dengan dosis ekstrak etanol daun johar 4,09 mg/0,5 ml, kelompok perlakuan 2 (P2) dengan dosis ekstrak etanol daun johar 8,18 mg/0,5 ml, dan kelompok perlakuan 3 (P3) dengan dosis ekstrak etanol daun johar 16,38 mg/0,5 ml. Pengukuran terhadap bobot badan dan suhu tubuh ayam dilakukan sebanyak delapan kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bobot badan dan suhu tubuh ayam tidak dipengaruhi oleh infeksi 8,1-23,6 x 103 ookista Eimeria spp. Bobot badan ayam kelompok P3 lebih tinggi dibandingkan kelompok ayam yang terinfeksi lainnya. Sedangkan ekstrak etanol daun johar dosis 16,38 mg/0,5 ml dapat mempertahankan suhu tubuh ayam pada kisaran normal (41,45C). Kata kunci: Eimeria spp., daun johar, bobot badan, suhu tubuh, ayam

MELATI ANGGRAINI. The Effect of Johar Leaves Etanol Extract in Body Weight and Temperature of Chicken that Infected by Eimeria spp. Under direction of SRI UTAMI HANDAJANI and IETJE WINTARSIH.

ABSTRACT
Coccidiosis is a common disease caused by infection of Eimeria spp. The aimed of this research was to observe effectiveness of johar leaves etanol extract (Cassia siamea Lamk.) in chicken that infected naturally by Eimeria spp. containing 8,1-23,6 x 103 oocyts on body weight and temperature of chicken. Nineteen chickens were divided into six equal groups. They were normal control group (KN), negative control group (K-), drug control group (K+), group (P1) induced by ethanol extract of johar leaves with dose 4,09 mg/0,5 ml, group (P2) induced by ethanol extract of johar leaves with dose 8,18 mg/0,5 ml, group (P3) by ethanol extract of johar leaves with dose 16,38 mg/0,5 ml. Weight and temperature in chickens examined for eight times. The results showed that generally body weight and temperature were not affected by number of oocyts. Body weight of P3 group is higher than another infected groups. While etanol extract of johar leaves with dose 16,38 mg/0,5 ml could keep chickens temperature in normal temperature (41,45C). Keywords: Eimeria spp., johar leaves, body weight, temperature, chicken

Hak Cipta milik IPB, tahun 2011 Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah, dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB.

EFEK EKSTRAK ETANOL DAUN JOHAR PADA BOBOT BADAN DAN SUHU TUBUH AYAM YANG TERINFEKSI Eimeria spp.

MELATI ANGGRAINI

Skripsi
sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Kedokteran Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor

FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2011

Judul Skripsi : Efek Ekstrak Etanol Daun Johar pada Bobot Badan dan Suhu Tubuh Ayam yang Terinfeksi Eimeria spp. Nama NIM : Melati Anggraini : B04061358

Disetujui, Komisi Pembimbing

Dr. drh.Rr. Sri Utami Handajani, MS Pembimbing I

Dr. dra. Hj. Ietje Wientarsih, Apt. M.Sc Pembimbing II

Diketahui, Wakil Dekan Fakultas Kedokteran Hewan IPB

Dr. Nastiti Kusumorini NIP : 19621205 198703 2 001

Tanggal Lulus :

KATA PENGANTAR

Bismillahirrohmannirrohim. Alhamdulillah segala Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Illahi Robbi atas ridho, kasih sayang, izin dan hidayahNya penulisan skripsi ini dapat terselesaikan. Skripsi dengan judul Efek Ekstrak Etanol Daun Johar pada Bobot Badan dan Suhu Tubuh Ayam yang Terinfeksi Eimeria spp. merupakan karya ilmiah yang bertujuan untuk memahami sekaligus mengkaji pengaruh pemberian obat herbal pada ayam yang telah terinfeksi koksidiosis terhadap suhu tubuh maupun bobot badan ayam. Penulisan skripsi terselesaikan dengan bimbingan, saran, dan sumbangan pemikiran dari berbagai pihak. Dengan rasa hormat penulis mengucapkan terima kasih kepada Ibu Dr. drh. Rr. Sri Utami Handajani, MS selaku pembimbing utama dan Ibu Dr. dra. Hj. Ietje Wientarsih, Apt. M.Sc, serta Ibu Dr. drh. Aryani Sismin, S. M.Sc yang telah meluangkan waktu dalam proses penyelesaian skripsi ini. Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan namun penulis berharap agar skripsi ini dapat bermanfaat bagi pihak-pihak yang berkepentingan.

Bogor, Februari 2011

Melati Anggraini

UCAPAN TERIMA KASIH


Segala Puji dan Syukur hanya dipanjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan kekuatan, kesabaran, dan pengetahuan kepada penulis dalam penyelesaian penulisan skripsi ini. Dalam kesempatan ini, dengan ketulusan dan kerendahan hati penulis mengucapkan terima kasih dengan rasa hormat kepada: 1. Keluarga besarku tercinta, Mama dan Mas Jaka yang telah memberikan kasih sayang dan doanya, serta saudara-saudara, yang senantiasa memberikan penulis bantuan baik secara spiritual maupun material. 2. Ibu Dr. drh. Rr. Sri Utami Handajani, MS selaku pembimbing skripsi utama dan Ibu Dr. dra. Hj. Ietje Wientarsih Apt. M.Sc selaku pembimbing skripsi kedua, serta Ibu Dr. drh. Aryani Sismin S. M.Sc yang telah mengarahkan dan memberi masukan sehingga skripsi ini dapat diselesaikan dengan baik. Penulis juga meminta maaf jika terdapat kesalahan dalam perilaku dan ucapan selama masa bimbingan yang tidak berkenan di hati Ibu. 3. Prof. Dr. drh. Winny Sanjaya, MS selaku pembimbing akademik yang telah memberikan bimbingan dan nasehat. 4. Gilang yang selalu mendukung, mendoakan, dan memberikan semangat selama penelitian dan penyelesaian skripsi. 5. Teman-teman sepenelitian, yaitu Arum, Indra, Fifit, dan Yulia yang telah membantu penulis selama penelitian. 6. Teman-teman seperjuangan FKH 43 (43sculapius), yang telah memberikan semangat kepada penulis Ivone, Tri, Gendis, Edo, Kurnia, Tika, dan Laras. 7. Pak Dede, Ibu Neni, Deni, Kiki, serta seluruh penghuni kostan Girma, Aida, Gita, Sarah, Kak Munir, Kak Mawan, Kak Deni, Tile, Hanif, Wahid, Yan, Hans, Indra, Mamade, Budi, Ipul, Kak Aan, Sandra, Nissa, Niken, Ibu Nti, dan Mba Win terima kasih telah menjadi keluarga kedua untuk penulis. 8. Seluruh dosen FKH IPB, terima kasih telah memberikan pengajaran yang baik, juga untuk seluruh staff yang telah membantu selama perkuliahan.

10

9.

Tidak lupa rasa terima kasih juga kepada semua pihak yang tidak mungkin disebutkan satu per satu atas bantuannya dalam penyusunan dan penyelesaian skripsi ini.

Bogor, Februari 2011

Melati Anggraini

11

RIWAYAT HIDUP

Penulis lahir di Jakarta, 10 November 1988 sebagai anak bungsu dari pasangan suami istri Yunan Suganda Permana dan Siti Harkuswati. Pendidikan formal dimulai dari TK Mutiara Bekasi pada tahun 1992, kemudian dilanjutkan di SDN Rawa Baru 45 Bekasi sampai pada tahun 2000. Penulis melanjutkan pendidikan di SMP N 2 Bekasi. Pada tahun 2006, penulis lulus dari SMA N 6 Bekasi dan mendapatkan kesempatan untuk melanjutkan studi di Fakultas Kedokteran Hewan Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Ujian Seleksi Masuk IPB). Selama perkuliahan, penulis pernah menjabat ketua divisi kubah di Himpunan Profesi Ornithologi dan Unggas.

12

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR ISI ........................................................................................... DAFTAR TABEL ................................................................................... DAFTAR GAMBAR .............................................................................. DAFTAR LAMPIRAN ........................................................................... PENDAHULUAN Latar Belakang ............................................................................ Tujuan.......................................................................................... Manfaat ........................................................................................ TINJAUAN PUSTAKA Johar ............................................................................................ Klasifikasi ................................................................................. Morfologi .................................................................................. Komponen Kimia ...................................................................... Khasiat....................................................................................... Ekstraksi .................................................................................... Etanol ........................................................................................ Pemberian Koksidiostat............................................................... Sulfadiazine ............................................................................... Trimethoprim ............................................................................ Eimeria ....................................................................................... Morfologi .................................................................................. Klasifikasi ................................................................................. Siklus Hidup .............................................................................. Patogenesis ................................................................................ Gejala Klinis ............................................................................. Ayam ........................................................................................... Klasifikasi ................................................................................. Morfologi dan Sifat Fisiologis .................................................. Suhu Tubuh ............................................................................... Bobot Badan .............................................................................. METODOLOGI Waktu dan Tempat Penelitian ..................................................... Alat dan Bahan ............................................................................ Metode ......................................................................................... Tahap persiapan ........................................................................ Kandang ............................................................................... Koksidiostat ......................................................................... Pembuatan ekstrak etanol daun johar (C. siamea Lamk.) .. Pengelompokan Hewan coba ............................................... Tahap pelaksanaan .................................................................. i iii iv v 1 2 2 3 3 4 4 6 6 8 9 10 10 11 11 11 12 13 14 15 15 16 16 18 19 19 19 19 19 20 20 21 21

13 ii

Pemeriksaan feses ................................................................ Pengukuran suhu tubuh dan bobot badan ayam................... Pencekokan koksidiostat dan ekstrak daun johar ................ Pengolahan Data .................................................................. HASIL DAN PEMBAHASAN Bobot badan................................................................................. Suhu badan .................................................................................. SIMPULAN DAN SARAN Simpulan...................................................................................... Saran ............................................................................................ DAFTAR PUSTAKA ............................................................................. LAMPIRAN ............................................................................................

22 22 22 22 23 26 30 30 31 37

14

DAFTAR TABEL

Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. Obat antikoksidia yang sering digunakan ........................................ Nilai fisiologis ayam ........................................................................ Berat badan ayam berdasarkan umur ............................................... Pengelompokan ayam penelitian...................................................... Rata-rata jumlah ookista (103) pada setiap kelompok perlakuan ..... Rata-rata bobot badan ayam (gram) setelah terinfeksi Eimeria spp. dan diberi ekstrak etanol daun johar (Cassia siamea Lamk.) .......... 7. Rata-rata suhu badan ayam (C) setelah terinfeksi Eimeria spp. dan diberi ekstrak etanol daun johar (Cassia siamea Lamk.) ................. 28 24 9 17 18 21 23

15

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Johar (Cassia siamea) ...................................................................... Barakol ............................................................................................. Sulfadiazin........................................................................................ Trimetoprim ..................................................................................... Ookista Eimeria ............................................................................... Siklus hidup Eimeria ........................................................................ Sekum ayam yang berdarah ............................................................. Ayam tipe petelur ............................................................................. Rata-rata bobot badan ayam (gram) dari setiap kelompok perlakuan .......................................................................................... 10. Rata-rata suhu badan ayam (C) dari setiap kelompok perlakuan ... 24 29 3 6 10 10 11 12 15 15

16

DAFTAR LAMPIRAN
Halaman 1. Analisis data dengan uji ANOVA dan dilanjutkan uji wilayah berganda DUNCAN .......................................................................... 36

PENDAHULUAN
Latar Belakang Unggas merupakan salah satu komoditi utama yang berperan dalam pemenuhan kebutuhan protein bagi masyarakat Indonesia, baik melalui produksi telur maupun daging. Kebutuhan akan protein hewani yang berasal dari produk unggas ini cukup tinggi dikarenakan jumlah penduduk Indonesia yang semakin hari semakin meningkat dan harganya yang relatif lebih murah dibandingkan sumber protein hewani lainnya. Kebutuhan ini sebenarnya dapat dipenuhi jika pengelolaan dan manajemen peternakan unggas dapat berjalan dengan baik dan benar. Namun dalam usaha meningkatkan produksi unggas untuk memenuhi kebutuhan masyarakat ditemukan banyak kendala, salah satu kendalanya yaitu penyakit pada unggas. Penyakit unggas yang sering terjadi di peternakan ayam baik pada peternakan ayam pedaging maupun ayam petelur yaitu koksidiosis atau di Indonesia lebih dikenal sebagai berak darah. Koksidiosis merupakan penyakit yang disebabkan oleh genus Eimeria dan menyerang saluran pencernaan sehingga mengakibatkan kerusakan jaringan yang disertai oleh terganggunya proses percernaan karena ada penurunan absorbsi nutrisi, dehidrasi dan anemia. Koksidiosis pada ayam disebabkan oleh sembilan spesies Eimeria, yaitu E. tenella, E. necatrix, E. acervulina, E. mitis, E. praecox, E. brunette, E. hagani, dan E. mivati (Ashadi dan Handayani 1992). Koksidiosis dari segi ekonomi dapat menimbulkan kerugian yang sangat besar bagi peternakan akibat terhambatnya pertumbuhan, penurunan berat badan dan kualitas karkas, serta penurunan produksi telur (Tampubolon 2004). Menurut Shane (1997) faktor predisposisi wabah koksidiosis pada suatu peternakan adalah kelembaban air pada litter yang melebihi 30%, imunosupresi akibat penyakit lain seperti Infectious Bursal Disease (IBD) atau Marek, pemberian obat koksidiosis yang tidak sesuai anjuran, stres lingkungan, dan manajemen kandang. Tindakan yang perlu dilakukan untuk pencegahan dan pengendalian terhadap koksidiosis antara lain dengan sanitasi yang ketat dan penggunaan koksidiostat (Levine 1985). Tindakan pencegahan terhadap

koksidiosis lainnya yaitu pemberian vaksin yang mampu menginduksi sistem kekebalan, dengan menstimulasi limfosit untuk menghasilkan antibodi dan sel memori yang akan bekerja ketika ada benda asing yang masuk (Lilehoj dan Lilehoj 1999). Beberapa jenis koksidiostat yang digunakan, antara lain sulfaquinosalin, sulfakloropromazin, sulfanitran, amprolium, dan sulfonamide. Penggunaaan koksidiostat dapat menimbulkan efek samping berupa munculnya galur-galur koksidia baru yang tahan terhadap obat dan menimbulkan residu pada daging dan telur yang berdampak kurang baik untuk konsumen (Cahyaningsih et al. 2007; Wardhana et al. 2001). Untuk mengatasi resistensi dan residu maka diperlukan obat alternatif yang berasal dari tanaman (tumbuhan yang dibudidayakan) atau Obat Asal Tumbuhan (OAT) yang mudah didapat dengan biaya yang lebih murah dan aman, serta tidak menimbulkan efek samping (Mulyani dan Gunawan 2002). Johar (Cassia siamea Lamk.) banyak digunakan sebagai antimalaria, antipiretik, beri-beri, sakit perut, scabies, dan diabetes (Kardono et al. 2003). Sebagai tanaman obat, daun johar diduga juga mengandung zat aktif yang dapat mengatasi penyakit lainnya. Penggunaan daun johar sebagai obat koksidiosis belum pernah dilakukan sehingga diperlukan penelitian tentang pengaruh pemberian daun johar terhadap bobot badan dan suhu tubuh ayam yang terinfeksi Eimeria spp. secara alami. Pada penelitian ini daun johar dibuat ekstrak dengan metode maserasi dan pelarut etanol.

Tujuan Penelitian Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak daun johar (Cassia siamea Lamk.) dengan dosis bertingkat terhadap bobot badan dan suhu tubuh pada ayam petelur jantan yang telah terinfeksi Eimeria spp.

Manfaat Penelitian Manfaat dari penelitian ini yaitu dapat memberikan informasi kepada peternak maupun dunia kedokteran hewan tentang penggunaan daun johar sebagai alternatif pengobatan koksidiosis.

TINJAUAN PUSTAKA
Johar (Cassia siamea) Johar atau juar adalah nama sejenis pohon penghasil kayu keras yang termasuk suku Fabaceae (Leguminosae = polong-polongan). Pohon yang sering ditanam sebagai peneduh tepi jalan ini, dikenal pula dengan nama-nama yang mirip, seperti juwar atau johor (KemenKes RI 1989). Di Sumatra, pohon ini dinamai pula bujuk atau dulang. Dalam bahasa Inggris tumbuhan ini disebut dengan beberapa nama seperti black-wood cassia, Bombay blackwood, kassod tree, Siamese senna dan lain-lain (Kardono et al. 2003). Morfologi pohon johar dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1 Johar (Cassia siamea) (Kardono et al. 2003).

Klasifikasi Menurut Heyne (1987), johar diklasifikasikan sebagai berikut : Kingdom : Plantae (Tumbuhan)

Subkingdom : Tracheobionta (Tumbuhan berpembuluh) Super Divisi : Spermatophyta (Menghasilkan biji) Divisi Kelas Sub Kelas Ordo Famili Genus Spesies : Magnoliophyta (Tumbuhan berbunga) : Magnoliopsida (berkeping dua / dikotil) : Rosidae : Fabales : Fabaceae (suku polong-polongan) : Cassia : Cassia siamea Lamk.

Morfologi Cassia siamea merupakan pohon berukuran sedang dengan cabang yang kuat dan halus. Daunnya terdiri dari 7-10 pasang anak daun, petiole (tangkai daun) mempunyai panjang 2-3 cm, dan tulang daunnya sepanjang 10-25 cm. Kelopaknya berwarna kuning dan panjangnya 1,5-2 cm . Buahnya seperti kacang polong sebanyak 20-30 buah dengan ukuran 1-1,5 cm (Farnsworth dan Bunyapraphatsara 1992). Bunga Johar memiliki panjang 15-60 cm dengan 10-60 kuntum bunga. Setiap bunga memiliki benang sari 10. Biji berwarna coklat terang mengkilap, bundar telur pipih dengan ukuran 6,5-8 mm x 6 mm (Steenis 1981).

Komponen Kimia Beberapa komponen kimia yang terdapat pada tanaman yang berkhasiat sebagai obat diantaranya: 1. Alkaloid Alkaloid yaitu senyawa kimia yang biasa ditemukan pada tumbuhan dan digunakan sebagai bahan dasar untuk pembuatan obat, misalnya morphin, atropin, dan codein. Alkaloid dapat menembus barier darah otak (blood-brain barrier), apabila kandungan alkaloid berlebihan dalam tubuh maka alkaloid dapat menyebabkan kerusakan hati. 2. Flavonoid Flavonoid merupakan senyawa polar sehingga flavonoid dapat larut dalam pelarut polar seperti etanol, metanol, aseton, dimetil sulfoksida (DMSO), dimetil fonfamida (DMF), dan air (Markham 1988). Flavonoid merupakan senyawa kimia yang bekerja sebagai antioksidan, memiliki hubungan sinergis dengan vitamin C (meningkatkan efektivitas vitamin C), antiinflamasi, menghambat pertumbuhan tumor, dan mencegah keropos tulang (Harbone 1987). 3. Tanin Tanin merupakan senyawa fenolik yang kerjanya bersifat adstringen (menciutkan selaput usus/ pengelat) yang dapat mengurangi kontraksi usus, menghambat diare, mengurangi penyerapan, dan melindungi usus dengan cara melapisi permukaan lumen (Amelia 2002).

4. Saponin Saponin adalah suatu glikosida triterpana dan sterol yang mungkin terdapat pada banyak tanaman (Harbone 1987). Kata saponin berasal dari bahasa Latin sapo yaitu suatu bahan yang akan membentuk busa jika dilarutkan dalam larutan yang encer. Saponin berfungsi sebagai ekspektoran, kemudian emetikum jika dikonsumsi dalam jumlah yang besar (Kusumaningtyas 2009). Saponin juga merupakan senyawa kimia yang dapat menyebabkan sel darah merah terganggu akibat dari kerusakan membran sel, menurunkan kolestrol plasma, dan dapat menjaga keseimbangan flora usus, serta sebagai antibakteri (Sayekti 2008). 5. Kuinon Kuinon merupakan senyawa berwarna dan memiliki kromofor dasar seperti kromofor pada benzikuinon, naftokuinon, antrakuinon, dan kuionon isoprenoid (Pratama 2008), serta bersifat menghilangkan rasa sakit. Daun johar mengandung alkaloid, steroid, triterpenoid, saponin, flavonoid, dan tanin (KemenKes RI 1989). Bagian tanaman yang diduga sebagai bahan untuk mengatasi koksidiosis adalah daunnya yang mengandung betulin (Thongsaard et al. 2001), betulin merupakan komponen kimia dari golongan triterpenoid, yang masuk dalam turunan saponin. Penelitian yang dilakukan oleh El-Sayyad et al. (1984) secara in vitro assay menemukan beberapa anthraquinone dan bianthraquinone, yang menunjukkan aktivitas antitumor dengan potensi lebih tinggi pada monomer anthraquinone (Koyama et al. 2001). Menurut Ingkaninan et al. (2000); El-Sayyad et al. (1984); Teeyapant et al. (1998), di dalam daun Cassia siamea juga ditemukan alkaloid dan nonalkaloid. Senyawa alkaloid pada daun johar berupa isoquinolone alkaloid siamine, siamine A, siamine B, dan siamine C. Sedangkan senyawa non-alkaloid dari zat aktif ekstrak etanol Cassia siamea yaitu flavonoid pada Gambar 2 (2,4,5,7tetrahydroxy-8-C-glukosy-lisoflavone) (Shafiullah et al. 1995, 1996) dan barakol, bersifat anxiolytic dengan mekanisme kerjanya mirip dengan diazepam. Perbedaan diazepam dan barakol adalah diazepam dapat meningkatkan aktivitas pada tubuh (pergerakan) sedangkan barakol hanya menghilangkan efek kecemasan (Thongsaard et al. 2001).

Gambar 2 Flavonoid (Kardono et al. 2003).

Khasiat Daun Johar (Cassia siamea) banyak digunakan dalam pengobatan tradisional antara lain sebagai obat malaria, gatal, kudis, kencing manis, demam, luka dan dimanfaatkan sebagai tonik karena memiliki kandungan flavonoid dan karotenoid yang cukup tinggi (Heyne 1987). Kulit dari johar digunakan untuk wasir, dan scabies. Kayunya digunakan untuk pengobatan demam, kelainan menstruasi, mempercepat pengeluaran lokial, meningkatkan kualitas darah menstruasi, diabetes melitus, ulcer, laksativa, dan diuretik. Akar tanaman johar digunakan untuk pengobatan demam, beri-beri, antipiretik dan sakit perut atau pencahar. Batang dan cabangnya digunakan untuk pengobatan penyakit kulit dan dysurea yang disertai urolith sebagai laksativa. Bunganya digunakan untuk pengobatan insomnia, asma, antelmentik dan obat antiketombe (Farnsworth dan Bunyapraphatsara 1992). Menurut Kardono et al. (2003), daun johar juga memiliki efek hipnotis, antitumor, anxiolytic, perlindungan terhadap efek aconitin (alkaloid diterpen) yang menyebabkan keracunan jantung, dan insektisida.

Ekstraksi Ekstraksi yaitu proses untuk mengisolasi senyawa dari tanaman, hewan ataupun mineral (Harborne 1987). Sedangkan menurut Ansel (1989) ekstraksi yaitu penarikan zat pokok yang diinginkan dari bahan mentah obat dengan menggunakan pelarut yang dapat melarutkan zat yang diinginkan. Simplisia merupakan bahan alami yang digunakan sebagai obat, yang belum mengalami perubahan, biasanya dalam bentuk yang dikeringkan. Prinsip dari ekstraksi adalah melarutkan senyawa polar dalam pelarut polar dan senyawa non polar dalam

pelarut non polar (Yuliani dan Rusli 2003). Menurut Harborne (1987), ragam ekstraksi bergantung pada tekstur dan kandungan air bahan tumbuhan yang diekstraksi pada jenis senyawa yang diisolasi. Cairan pelarut yang biasanya digunakan dalam proses ekstraksi yaitu air, eter, atau campuran etanol air. Metode ekstraksi dibagi ke dalam 5 cara yaitu : 1. Maserasi Maserasi berasal dari bahasa Latin macerare yang artinya merendam. Proses maserasi adalah proses menyatukan bahan yang telah dihaluskan dengan bahan ekstraksi, sedangkan waktu yang dibutuhkan untuk maserasi yaitu 4-10 hari (Ansel 1989). 2. Perkolasi Perkolasi berasal dari bahasa Latin per yang artinya melalui dan colare yang artinya merembes. Metode perkolasi dilakukan dengan cara mencampur 10 bagian simplisia ke dalam 5 bagian larutan pencuci. Setelah itu dipindahkan ke dalam perkolator, dan ditutup selama 24 jam setelah itu dibiarkan menetes sedikit demi sedikit. Kemudian ditambahkan larutan pencuci secara berulangulang hingga terdapat selapis cairan pencuci. Perkolat yang telah terbentuk kemudian diuapkan (Ansel 1989). 3. Dekoksi Metode dekoksi (decocta) sama dengan metode infus, hanya saja waktu pemanasannya lebih lama yaitu sekitar 30 menit (Voigt 1994). 4. Digesti Metode ini merupakan bentuk lain dari maserasi yang menggunakan panas seperlunya selama proses ekstraksi, yaitu pada suhu 40-50C. Metode digesti hanya dapat dilakukan untuk simplisia yang zat aktifnya tahan terhadap pemanasan (Voigt 1994). 5. Infus Metode ini dilakukan dengan memanaskan campuran air dan simplisia pada suhu 90C selama 15 menit. Selama proses ini berlangsung campuran terus diaduk dan diberi tambahan air hingga diperoleh volume infus yang dikehendaki (Voigt 1994).

Simplisia yang digunakan dalam penelitian ini adalah daun johar, sedangkan jenis ekstraksi yang digunakan yaitu metode maserasi. Menurut Voigt (1994), prinsip maserasi yaitu penyarian zat aktif yang dilakukan dengan cara merendam simplisia dalam cairan penyari yang sesuai. Cairan penyari akan masuk ke dalam sel melewati dinding sel. Isi sel akan larut karena adanya perbedaan konsentrasi antara larutan di dalam sel dengan di luar sel. Larutan yang konsentrasinya tinggi akan terdesak keluar dan diganti oleh cairan penyari dengan konsentrasi rendah (proses difusi). Peristiwa tersebut berulang sampai terjadi keseimbangan konsentrasi antara larutan di luar sel dan di dalam sel. Sedangkan keadaan diam saat maserasi menyebabkan turunnya perpindahan bahan aktif (Voight 1994). Ekstrak yang diperoleh kemudian diuapkan dengan penguap pemutar yang akan menguapkan larutan menjadi volume kecil (Harborne 1987). Menurut Yuliani dan Rusli (2003), metode maserasi digunakan karena pengerjaan dan alatnya sederhana, tetapi metode ini juga mempunyai kerugian yaitu pengerjaannya yang lama dan proses ekstraksi kurang sempurna, serta cairan penyari yang digunakan lebih banyak kemudian tidak dapat digunakan untuk bahan-bahan yang mempunyai tekstur keras seperti benzoin, tiraks, dan lilin.

Etanol Etanol sering ditulis dengan rumus EtOH, yang rumus molekulnya adalah C2H5OH atau rumus empiris C2H6O (Ane 2008), sering digunakan sebagai pelarut dalam dunia farmasi dan industri makanan dan minuman. Etanol termasuk ke dalam pelarut polar, sehingga sebagai pelarut diharapkan dapat menarik zat-zat aktif yang juga bersifat polar (Houghton dan Raman 1998). Etanol digunakan sebagai cairan penyari karena lebih selektif, kapang dan khamir sulit tumbuh dalam etanol 20% ke atas, tidak beracun, netral, dan etanol dapat bercampur dengan air pada segala perbandingan, serta panas yang diperlukan untuk pemekatan lebih rendah. Etanol dapat memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut dan tidak mengakibatkan pembengkakan membran sel. Keuntungan lainnya adalah

sifatnya yang mampu mengendapkan albumin dan menghambat kerja enzim. Umumnya yang digunakan sebagai cairan pengekstraksi adalah campuran

bahan pelarut yang berlainan khususnya campuran etanol-air. Etanol 70% sangat efektif dalam menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal, dimana bahan yang diekstraksi (simplisia) hanya sedikit turut ke dalam cairan pengekstraksi (Voigt 1994).

Pemberian Koksidiostat Koksidiostat merupakan obat yang digunakan untuk menghentikan pertumbuhan koksidia, antara lain zoalen, amprolium, nitrofurazon, sodium arsanilat, quinolon, ionophor, golongan sulfa seperti sulfaquinoksalin, sulfanatran, sulfakloropirazin, dan mitramid, serta obat-obatan lainnya seperti nicarb dan clinicox. Pemberian koksidiostat dapat dilakukan pada waktu-waktu tertentu, hal ini bertujuan untuk memutus siklus hidup Eimeria dan memberi kesempatan pada ayam untuk membentuk kekebalan (Retno et al. 1998). Pemberian koksidiostat sebaiknya tidak dilakukan terus-menerus, dikarenakan dapat menimbulkan resistensi terhadap obat itu sendiri. Contoh pemberian obat koksidiostat yaitu obat sulfa, jika pemberian obat sulfa melebihi dosis maka dapat mengakibatkan terganggunya produksi telur dan dapat menimbulkan residu pada daging dan telur ayam (Mangapul 2008). Pada penelitian ini obat koksidiostat yang digunakan mengandung sulfadiazine dan trimethoprim. Tabel 1 Obat antikoksidia yang sering digunakan Kelas Nama Bekerja pada stadium siklus hidup Ionophor Monensin, narasin, lasalocid, Trophozoit/sporozoit maduramisin,

semsemduramicin Sulphonamid Quinolon Pyridon Thiamin Sulphaquinoxalin Decoquinat Clopidol Amprolium, halofuginon Skizon generasi II Sporozoit Sporozoit Stadium aseksual, skizon generasi I Sumber: Williams (2002)

10

Sulfadiazin Sulfadiazin (N1-2-pirimidimilsulfanilamid atau 2-sulfanilamidopirimidin pada Gambar 5 berupa serbuk kristal putih, tidak berbau, tidak larut dalam air sampai 1 : 8100 pada suhu 37C dan 1 : 13.000 pada suhu 25C, dan sedikit larut dalam alkohol dan aseton. Tetapi sulfadiazin mudah larut dalam asam mineral encer dan basa (Wilson dan Gisvold 1982). Golongan obat sulfa mempunyai zat aktif yaitu para-amino benzene-sulfonamid (PABS). Mekanisme kerjanya adalah dengan mengadakan antagonis kompetitif dengan para-amino benzoic-acid (PABA). Eimeria membutuhkan PABA untuk pertumbuhannya, yaitu berperan dalam sintesis asam folat. Di dalam asam folat terdapat koenzim untuk sintesis purin dan asam amino. Defisiensi asam folat mengakibatkan terjadinya gangguan dalam sistem DNA dan RNA, sehingga fungsi tubuh yang berkaitan dengan fungsi DNA dan RNA akan terganggu seperti proses pembelahan sel, maturasi sel, termasuk dalam gangguan fungsi normal sel di dalam tubuh (Setiabudi dan Mariana 1995).

Gambar 3 Sulfadiazin (Wilson dan Gisvold 1982).

Trimetoprim Trimetoprim merupakan penghambat pereduktase folat, dimana reduktase folat diperlukan untuk mengubah asam dihidrofolat (FAH2) menjadi asam tetrahidrofolat (Wilson dan Gisvold 1982). Trimetoprim mempunyai sifat sangat sukar larut dalam air, larut dalam benzilalkohol, agak sukar larut dalam kloroform dan dalam metanol, sangat sukar larut dalam etanol dan dalam asetone, praktis tidak larut dalam eter dan dalam karbon tetraklorida.

Gambar 4 Trimetoprim (Wilson dan Gisvold 1982).

11

Eimeria Morfologi Bentuk umum ookista adalah oval, dinding ookista terdiri satu atau dua lapis yang bersifat transparan. Dinding sebelah dalam tersusun dari senyawa protein tannin dan kinin, sedangkan dinding sebelah luar terdiri dari dua lapis yaitu lapis protein dan lemak (Levine 1985). Ookista mempunyai tempat terbuka disebut mikropil (Levine 1977). Pada dinding ookista anterior terdapat granula refraktif yang terletak di ujung spora. Sporozoit (pada Gambar 5) biasanya memanjang dengan ujung posterior yang membulat dan ujung anterior yang meruncing atau dapat berbentuk seperti sosis (Levine 1985). Ookista Eimeria dikeluarkan bersama feses ayam, kemudian bersporulasi pada suhu kamar (Levine 1985). Ookista Eimeria dapat diidentifikasikan melalui karakteristik morfologi berdasarkan panjang dan lebar, indeks, bentuk dan warna, granul yang retraktil, ada tidaknya mikrofil dan ada tidaknya residu (Levine 1985). Sporokista berbentuk agak tumpul membulat dan berukuran kira-kira 7 m lebar dan 11 m panjang, di dalamnya terdapat dua sporozoit dengan massa hyalin di dekat salah satu ujung dan massa residu juga ditemukan di dalamnya (Tampubolon 1996).

Klasifikasi Menurut Levine (1985), Eimeria diklasifikasikan sebagai berikut: Kingdom Filum Subfilum Kelas Ordo Sub Ordo Famili Genus Spesies : Animalia : Protozoa : Apicomplexa : Sporozoa : Eucocidiorida : Eimeronina : Eimeridae : Eimeria : Eimeria spp. Gambar 5 Ookista Eimeria (Desser 2000).

12

Siklus Hidup Menurut Soulsby (1982), siklus hidup koksidia pada ayam memiliki dua tahap yaitu seksual dan aseksual, dengan tiga tahap perkembangan yaitu stadium skizogoni (merogoni), gametogoni, dan sporogoni. Stadium sporogoni terjadi di luar tubuh induk semang, sedangkan stadium skizogoni (fase aseksual) dan gametogoni (fase seksual) terjadi di dalam tubuh induk semang. Terjadinya infeksi koksidiosis pada ayam yaitu ketika ayam menelan ookista yang infektif. Ookista yang infektif merupakan ookista yang bersporulasi. Ookista melakukan sporulasi membutuhkan waktu yang optimal, yaitu pada kelembaban tinggi (7585%), suhu 29C-30C, dan suplai oksigen yang memadai (Tampubolon 1992). Ookista merupakan tahap yang resisten dari koksidia. Ookista yang bersporulasi mengandung empat sporokista dan masing-masing sporokista mengandung dua sporozoit. Proses pecahnya dinamakan dengan ekskistasi. Untuk menstimulir terjadinya ekskistasi maka dapat dibagi menjadi dua tahap. Pertama disebabkan oleh gas CO2 (akibat dari enzim dan mekanisme gerakan lambung) dan yang kedua akibat dari aktifitas enzim tripsin dan empedu dalam usus halus (Soulsby 1986). Ekskistasi ini berlangsung selama 1 jam setelah infeksi pada ayam yang memakan pakan atau air minum yang mengandung ookista. Bila sudah mengalami ekskistasi maka sporozoit akan bebas.

Gambar 6 Siklus hidup Eimeria (Desser 2000).

13

Sporozoit akan melakukan penetrasi melalui ujung epitel vili sekum, kemudian masuk ke dalam epitel basal dari sel dan dimakan oleh makrofag pada lamina propria. Pada keadaan ini sporozoit akan menghindari makrofag dan melakukan penetrasi kembali ke sel epitel yang ada di bawah kripta. Sporozoit akan berkelompok dan mengalami perbanyakan bagian dan mengalami fase skizogoni membentuk skizon (meron) generasi I yang memproduksi merozoit generasi I. Merozoit akan merusak epitel, merobek sel inang dalam perjalanannya ke dalam lumen sekum dimana mereka akan menginfeksi kembali sel epitel yang lain. Proses ini berlangsung antara dua setengah sampai tiga hari (Tampubolon 1996). Merozoit generasi I yang masuk ke dalam sel hospes baru akan membulat lalu membentuk meron generasi II yang terletak di atas inti sel hospes. Koloni meron generasi II mulai terlihat setelah 72 jam dan menjadi skizon dewasa setelah 96 jam. Meron generasi II melakukan penetrasi sel epitel baru dan membentuk meron generasi III atau menjadi siklus gametogenus (Levine 1985). Merozoit yang dihasilkan pada akhir tahap skizogoni masuk ke dalam sel dan berkembang menjadi gametosit jantan (mikrogametosit) dan gametosit betina

(makrogametosit). Mikrogametosit akan banyak menghasilkan mikrogamet yang berflagela, motil, dan bermigrasi ke makrogamet. Fertilisasi makrogamet oleh mikrogamet akan berkembang menjadi zigot dan kemudian menjadi ookista pada hari ke-6 setelah infeksi (Soulsby 1982). Ookista-ookista kemudian keluar dari sel-sel hospesnya, masuk ke dalam rongga usus dan keluar bersama feses. Masa prepaten yaitu saat inokulasi sampai timbulnya ookista pertama di dalam feses adalah 7 hari. Jumlah ookista yang dihasilkan di dalam hewan untuk setiap ookista yang dimakan, tergantung kepada jumlah generasi merozoit dan jumlah merozoit setiap generasi (Tampubolon 1996).

Patogenesis Menurut Levine (1985) patogenitas dari koksidia tergantung pada beberapa faktor antara lain jumlah sel induk semang yang dirusak oleh setiap ookista yang tergantung dari jumlah generasi merozoit dan lokasi parasit di dalam jaringan induk semang, besarnya dosis infeksi, waktu reinfeksi serta derajat

14

imunitas yang diperoleh atau immunitas alami induk semang. Tahap yang paling patogen adalah skizon generasi II yang akan tumbuh dewasa, pada hari keempat setelah infeksi. Skizon akan berkembang di bagian dalam lamina propria, sehingga terjadi kerusakan mukosa ketika skizon dewasa mengeluarkan merozoit (McDougald et al. 1997). Menurut Hermawan (2008), jika dihitung perkiraan jumlah merozoit generasi ke dua yang dihasilkan oleh satu ookista yang sporulasi, maka dimulai dari 8 sporozoit yang di dalam satu ookista akan sukses melakukan penetrasi pada sel epitel sekum. Kemudian dari setiap sporozoit akan menghasilkan 900 merozoit generasi pertama, dan setiap merozoit generasi pertama akan memproduksi 350 merozoit generasi kedua, sehingga dari satu ookista akan menghasilkan 2.520.000 atau (8 x 350 x 900) merozoit generasi kedua. Unggas cenderung lebih tahan terhadap koksidiosis pada umur 1-2 minggu, walaupun unggas dengan umur 1 hari kemungkinan dapat terinfeksi koksidiosis (Soulsby 1982). Unggas yang berumur lebih tua biasanya akan menghasilkan kekebalan yang kuat sebagai respon dari infeksi kembali (reinfeksi) sehingga gejala penyakitnya tidak terlalu parah (Levine 1985). Jumlah ookista yang dapat menimbulkan gangguan klinis contohnya pada ayam dewasa umur 1-2 minggu sekitar 2 x 105 ookista dan akan mengalami kematian. Pada unggas yang lebih tua beberapa minggu, mortalitasnya pada saat 0,5-1 x 105 ookista.

Gejala Klinis Gejala klinis pada ayam yang mengalami koksidiosis yaitu ayam terlihat lemah, bulu kusut, jengger terlihat pucat, serta feses yang bercampur darah karena terjadi peradangan pada sekum (Hasan 2007). Gejala klinis terlihat ketika skizon generasi kedua membesar dan merozoit keluar dari epitel yang menyebabkan terjadinya pendarahan pada sekum (Tampubolon 2004). Pada koksidiosis ringan, gejala klinis tidak terlihat tetapi jika penyakitnya berat dapat bersifat mematikan. Nafsu makan berkurang bahkan tidak ada nafsu makan (Levine 1985). Biasanya nafsu untuk minum 2 atau 3 kali lebih banyak daripada yang biasa atau polidipsi, sehingga hewan menjadi kurus, bobot badannya mengalami penurunan, depresi, bulu kusut, dan hidup berkelompok di tepi kandang (Tampubolon 2004).

15

Gambar 7 Sekum ayam yang berdarah (FAO 2008).

Pada hari ke-2 dan ke-3 setelah infeksi, selaput lendir usus akan terlihat berwarna merah kemudian pada hari ke-4 akan timbul bercak-bercak putih yang pada akhirnya akan berwarna abu-abu. Pada hari ke-5 dan ke-6 dapat ditemukan darah yang paling banyak di feses. Menjelang hari ke-8 atau hari ke-9 ayam akan mati atau dalam tahap persembuhan, sedangkan jumlah ookista di feses akan mencapai maksimal. Pada hari ke-11 masih ditemui ookista tetapi amat sedikit jumlahnya. Jika ayam sembuh dari penyakit akut, penyakit menjadi bersifat kronis (Tampubolon 2004). Gejala klinis pada ayam yang terinfeksi Eimeria bervariasi, tergantung pada umur ayam terserang, jenis ayam, dan jenis parasit yang menyerang (Retno et al. 1998). Pada ayam petelur yang terinfeksi koksidia terlihat gejala klinis berupa penurunan produksi telur, bahkan terhenti sama sekali (Murtidjo 1992).

Ayam Klasifikasi Menurut Sturkie (2000), ayam diklasifikasikan sebagai berikut: Kelas Subkelas Superorder Ordo Superfamili Famili Genus Spesies : Aves : Neornithes : Neognathae : Galliformes : Phasianoidea : Phasianidae : Gallus : G. gallus Gambar 8 Ayam tipe petelur putih

16

Morfologi dan Sifat Biologis Ayam yang digunakan dalam penelitian ini adalah ayam petelur putih jantan, hal ini disebabkan karena ayam ras petelur jantan memiliki sistem hormonal yang lebih sederhana dibandingkan dengan ayam ras petelur betina sehingga diharapkan tidak banyak mempengaruhi proses yang terjadi di dalam tubuh ayam. Kelemahan ayam ras petelur yaitu peka terhadap lingkungan dan kemampuan adaptasi terhadap lingkungan lebih rendah dibandingkan ayam kampung dan mudah mengalami stres, tuntutan terhadap ayam ras petelur cukup tinggi yaitu menuntut pakan dalam jumlah dan kualitas yang tinggi dan air minum yang cukup. Ayam ras petelur juga memiliki sifat kanibalisme yang lebih tinggi dibandingkan ayam kampung (Asa 2009).

Suhu Tubuh Menurut Vibowo (2008), ayam dan mamalia hidup dengan pengaturan suhu tubuh yang diatur sehingga relatif konstan dan berbeda dengan suhu lingkungan. Pada hewan seperti ini suhu tubuh menjadi penting karena kenaikan suhu tubuh akan mempengaruhi laju fisika dan kimia tubuh. Suhu tubuh akan mempengaruhi energi kinetik dari molekul yang memungkinkan terjadinya tubrukan antara reaktan dari molekul dalam tubuh sehingga terjadi serangkaian reaksi molekul. Selain itu kenaikan suhu tubuh akan mendenaturasi enzim tubuh, tetapi sebelum mencapai titik denaturasinya enzim akan bekerja lebih cepat (Key 1998). Menurut Prayitno (2004), suhu tubuh normal pada ayam yaitu 41,49C. Suhu tubuh adalah indikator yang akurat, objektif, dan mudah diidentifikasi dari kondisi fisiologis. Di dalam tubuh mekanisme pengaturan suhu dilakukan oleh hipotalamus. Hipotalamus memiliki set poin suhu, jika suhu tubuh berada di atas normal maka akan terjadi mekanisme pengeluaran panas, begitu pula ketika suhu tubuh di bawah normal maka akan terjadi mekanisme pembentukan panas (Guyton dan Hall 1996). Mekanisme pembentukan dan pengeluaran panas yang terjadi melalui termoreseptor perifer yang akan dihantarkan ke hipotalamus. Saraf yang ada di hipotalamus akan berintegrasi menghasilkan sinyal eferen akhir yaitu pembentukan atau pengeluaran panas (Guyton dan Hall 1996). Suhu tubuh ayam

17

biasanya lebih tinggi daripada suhu sekitarnya, sehingga panas akan terus menerus hilang melalui empat macam mekanisme yaitu konveksi, konduksi, radiasi, dan evaporasi (Prayitno 2004). Tabel fisiologis ayam dapat dilihat pada Tabel 2. Tabel 2 Nilai fisiologis ayam Kriteria Temperatur Respirasi eritrosit Hematokrit Volume eritrosit Leukosit Trombosit Limfosit Heterofil Eosinofil Basofil Monosit Sistolik/diastolik Detak jantung/menit protein Albumin Globulin Hb Konsistensi Plasma Protein Sumber : Prayitno (2004)

Nilai 41,49C 20-30 kali/menit 2,0-3,2 juta/mm3 22-35% 48% 16,6% 27,6% 64% 25,8% 1,4% 2,4% 6,4% 166 mgHg/142 mmHg 250-350/menit 4 g/100 ml 1,66 g/100 ml 2,33 g/100 ml 12 g% 30-35 g/l

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan suhu tubuh yaitu fisiologis dan patologis. Faktor fisiologisnya yaitu laju metabolisme basal tubuh, laju cadangan metabolisme yang dihasilkan oleh aktivitas otot, terutama kontraksi otot yang disebabkan oleh menggigil, metabolisme tambahan yang disebabkan oleh pengaruh tiroksin (dan sebagian hormon lain, seperti hormon pertumbuhan dan testosteron) terhadap sel, dan metabolisme tambahan yang disebabkan oleh epinefrin, norepinefrin, dan perangsangan simpatis terhadap sel, serta

metabolisme tambahan yang disebabkan oleh meningkatnya aktifitas kimiawi di dalam sel sendiri, terutama bila temperatur sel meningkat (Guyton dan Hall 1996). Sedangkan faktor patologisnya yaitu ketika tubuh terpapar infeksi

mikroorganisme (virus, bakteri, dan parasit) atau faktor non infeksi seperti kompleks imun, atau inflamasi (peradangan) lain (Corwin 2001).

18

Bobot Badan (BB) Bobot badan dapat menjadi indikator bukti kesehatan hewan yang dikaitkan dengan umur yang sesuai. Pada Tabel 3 disajikan data yang mengkaitkan antara umur (minggu) dengan bobot badan standar. Bobot badan dapat mempengaruhi konversi pakan. Menurut Siregar dan Sabrani (1981), konversi pakan adalah perbandingan jumlah pakan yang dikonsumsi persatu berat badan. Semakin kecil rasio konversi pakan maka semakin baik efisiensi penggunaan pakan sehingga pertumbuhan bobot badan yang dicapai dengan jumlah ransum yang digunakan semakin efisien. Angka konversi pakan yang kecil dapat diperoleh dengan memperhatikan kualitas bahan pakan dan zat gizi dalam ransum (Kamal 1986).

Feed Convertion Rate (Tipakorn 2002) =

Total Konsumsi Pakan Pertumbuhan Bobot Badan

Bila seekor ayam mengalami gangguan pada tubuhnya karena adanya suatu agen penyakit maka bobot badan akan terganggu. Ayam yang terinfeksi Eimeria dengan dosis tinggi akan menunjukkan gejala klinis berupa penurunan bobot badan yang disebabkan oleh malabsorbsi nutrisi pada saluran pencernaan sehingga ayam terlihat kurus dan mungkin tidak mencapai bobot badan yang sama dengan ayam yang sehat (Barnes et al. 2003). Hal ini akan berpengaruh pada peningkatan konversi pakan yaitu peningkatan konsumsi pakan tanpa diimbangi dengan penambahan bobot badan yang sesuai akibat pakan yang dikonsumsi tidak diserap dengan efisien. Tabel 3 Bobot badan ayam berdasarkan umur Umur (minggu) Bobot badan standar (kg) 9 0,863 10 0,963 11 1,044-1,067 12 1,135-1,180 13 1,249-1,294 14 1,362-1,408 15 1,476-1,544 Sumber : Sudaryani (1994)

19

METODOLOGI
Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian dilakukan mulai dari bulan Februari 2010 sampai bulan Mei 2010 di laboratorium Protozoologi, Departemen Ilmu Penyakit Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas Kedokteran Hewan IPB, Laboratorium Farmasi, Departemen Klinik, Reproduksi, dan Patologi FKH-IPB, dan kandang ayam FKHIPB.

Alat dan Bahan Alat yang digunakan yaitu timbangan, syringe 1 ml, termometer, kandang ayam, tempat pakan, tempat minum, termos es, tabung reaksi, mikroskop, counter, kamar hitung ookista, pipet, botol sentrifuse plastik dan wadahnya, batang pengaduk, sentrifuse, mortar, stemper, kamera, saringan, kapas, bejana, botol ekstrak, botol obat, gelas ukur, corong, batang pengaduk, lap, stiker label, tisu, pulpen, dan buku tulis. Bahan yang digunakan yaitu hewan coba berupa ayam petelur putih jantan umur 2 bulan sebanyak 30 ekor, daun johar (Cassia siamea Lamk.) yang diperoleh dari Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITRO), laktosa, pakan ayam tanpa koksidiostat, air minum, feses ayam, larutan garam jenuh, etanol 70%, propilen glikol, aquades, dan koksidiostat (Colibact).

Metode Penelitian Tahap persiapan A. Kandang Kandang yang digunakan untuk pemeliharaan ayam berbentuk segi empat dengan bagian kiri, kanan dibatasi oleh tripleks dan bagian bawah dialasi dengan sekam. Sebelum kandang digunakan, kandang dibersihkan terlebih dahulu dengan pembersihan kering, pembersihan basah, setelah kandang kering dilapisi dengan kapur lalu didesinfeksi dengan formalin dan kalium permanganat (KMnO4).

20

B. Kokdisiostat Koksidiostat yang digunakan berasal dari golongan sulfa (Colibact yang diproduksi oleh PT. Sanbe Farma) yang mengandung sulfadiazine 200 mg dan trimetoprime 40 mg.

C. Pembuatan ekstrak etanol daun johar (Cassia siamea Lamk.) Ekstraksi daun johar dilakukan dengan metode maserasi. Simplisia daun johar kering direndam dalam etanol 70% dengan perbandingan 1 : 10 artinya 1 bagian johar (1 kg) dengan 10 bagian etanol (10 liter) selama 24 jam dan dilakukan pengadukan sekali-sekali kemudian disaring sehingga diperoleh filtrat pertama dan ampas, lalu ampas dilarutkan kembali dengan etanol 70% selama 24 jam. Setelah itu, disaring sehingga diperoleh filtrat kedua, filtrat pertama dan kedua digabung dan dipekatkan dengan menggunakan rotary evaporator pada suhu 40C dan 50 rpm hingga diperoleh ekstrak kental. Kemudian ekstrak kental dievaporasi kembali hingga membentuk ekstrak kering daun johar. Setelah itu ekstrak kering ditimbang menjadi tiga dosis kemudian dilarutkan dalam 0,5 ml propilen glikol sehingga diperoleh dosis bertingkat yaitu dosis rendah (4,09 mg/0,5 ml per ekor), sedang (8,18 mg/0,5 ml per ekor), dan tinggi (16,36 mg/0,5 ml per ekor). Cara perhitungan dosis ekstrak daun johar adalah sebagai berikut. Dosis ekstrak standar = 6,8 mg (P2) Dosis rendah dan tinggi diperoleh dengan deret hitung sehingga dosis rendah (P1) = x 6,8 mg = 3,4 mg dan dosis tinggi (P3) = 2 x 6,8 mg = 13,58 mg Ekstrak yang tersedia yaitu 83% karena mengandung laktosa sebagai pengisi = {Jumlah ekstrak / (jumlah ekstrak + pengisi)} x 100% Ekstrak yang dibutuhkan untuk dosis rendah (P1) = (3,4 mg/83%) x 100%= 4,09 mg Ekstrak yang dibutuhkan untuk dosis rendah (P2) = (6,8 mg/83%) x 100%= 8,18 mg Ekstrak yang dibutuhkan untuk dosis tinggi (P3) = (13,58 mg/83%) x 100%= 16,36 mg.

21

D. Pengelompokan Hewan coba Hewan coba dibagi menjadi enam kelompok perlakuan, masing-masing berjumlah 15 ekor dengan ulangan 5 ekor. Berikut tabel mengenai pengelompokan ayam pada penelitian. Tabel 4 pengelompokan ayam penelitian Kelompok Banyak (ekor) Kontrol normal (KN) 5 ayam tidak terinfeksi Eimeria, tidak diberi ekstrak johar dan koksidiostat Kontrol negatif (K-) 5 ayam terinfeksi Eimeria, tidak diberi ekstrak johar dan koksidiostat Kontrol positif (K+) 5 ayam terinfeksi Eimeria dan diberi koksidiostat Perlakuan 1 (P1) 5 ayam terinfeksi Eimeria dan diberi ekstrak johar dengan dosis infektif 1 (3,4 mg/0,5 ml per ekor) Perlakuan 2 (P2) 5 ayam terinfeksi Eimeria dan diberi ekstrak johar dengan dosis infektif 2 (8,18 mg/0,5 ml per ekor) Perlakuan 3 (P3) 5 ayam terinfeksi Eimeria dan diberi ekstrak johar dengan dosis infektif 3 (16,36 mg/0,5 ml per ekor) Keterangan

Tahap pelaksanaan Tahap pelaksanaan pada penelitian ini meliputi pemeriksaan feses, pengukuran suhu tubuh dan bobot badan, serta pencekokan koksidiostat dan ekstrak daun johar, serta pengolahan data.

A. Pemeriksaan feses Pemeriksaan feses bertujuan untuk mengetahui adanya ookista pada semua kelompok perlakuan ayam dan dilakukan 3 hari sekali mulai hari ke 0 s/d 21.

22

Metode pemeriksaan feses adalah metode McMaster, caranya feses dilarutkan dalam larutan garam jenuh dengan perbandingan 1 : 29 artinya 1 bagian feses (1 g) dan 29 bagian larutan garam jenuh (29 ml) kemudian disentrifugasi dengan kecepatan 1,500 rpm selama 10 menit. Setelah itu bagian permukaan larutan diambil dengan pipet dan diamati di bawah mikroskop dengan perbesaran 100x menggunakan kamar hitung McMaster (Conway dan McKenzie 2007).

B. Pengukuran suhu tubuh dan bobot badan ayam Pengukuran suhu tubuh dan bobot badan ayam dilakukan 3 hari sekali dari hari ke 0 s/d 21. Pengukuran suhu tubuh ayam menggunakan termometer digital yang dimasukkan ke dalam rektum ayam sebagai indikator terjadinya infeksi Eimeria spp. yang meningkatkan suhu tubuh, sedangkan pengukuran bobot badan menggunakan timbangan.

C. Pencekokan koksidiostat dan ekstrak daun johar Pencekokan koksidiostat dan ekstrak daun johar dilakukan selama 3 hari yaitu pada hari ke 1 s/d 3 dan sehari dicekok 2 x, masing-masing sebanyak 0,5 ml per ekor dengan menggunakan syringe 1 ml tanpa jarum. Pencekokan koksidiostat pada kelompok kontrol positif (K+) dengan dosis pemberian 0,25 mg/0,5 ml per ekor, sedangkan pencekokan ekstrak daun johar pada kelompok johar dosis rendah (P1 = 3,4 mg/0,5 ml per ekor), johar dosis sedang (P2 = 8,18 mg/0,5 ml per ekor), dan johar dosis tinggi (P3 = 16,36 mg/0,5 ml per ekor).

D. Pengolahan Data Pengolahan data dilakukan dengan uji Analysis of Varian (ANOVA)-SAS System . Jika analisis menunjukkan berbeda nyata, maka dilanjutkan dengan Duncans Multiple Range Test (Matjik dan Sumertaja 2002).

23

HASIL DAN PEMBAHASAN


Pengaruh pemberian ekstrak daun johar (Cassia siamea Lamk.) dosis bertingkat dengan pelarut etanol sebagai alternatif pengobatan koksidiosis dengan parameter bobot badan dan suhu tubuh ayam dijelaskan pada bab ini. Secara umum suhu tubuh dan bobot badan ayam tidak berbeda signifikan. Pengukuran dilakukan sebanyak 8 kali pada kelompok perlakuan KN, K-, K+, P1, P2, dan P3. Pengukuran suhu tubuh dan bobot badan ayam ke-1 dilakukan ketika pada feses ayam telah ditemukan ookista sebanyak 8,123,6 x 103, yang mengindikasikan bahwa ayam telah terinfeksi koksidiosis secara alami. Gejala klinis yang tampak pada ayam yang terkena koksidiosis adalah penurunan nafsu makan, polidipsi, merunduk, bulu kusam, dan terjadi diare berdarah. Jumlah ookista pada masingmasing kelompok perlakuan dapat dilihat pada Tabel 5. Tabel 5 Rata-rata jumlah ookista (103) pada setiap kelompok perlakuan
Pengukuran keI II III IV-VIII KN 0 0 0 0 K23,6 1,8 1,3 0 K+ 8,1 1,6 1,3 0 Kelompok P1 11 5 6,5 0 P2 9,5 1 1,3 0 P3 10,4 1,5 0,4 0

Kelompok perlakuan: K() = kontrol negatif, K(+) = kontrol positif, KN = kontrol normal, P1 = johar dosis 1, P2 = johar dosis 2, P3 = johar dosis 3.

Bobot badan Rataan bobot badan ayam kelompok kontrol normal (KN) adalah paling tinggi (778,88 g) dan berbeda nyata (p<0,05) dengan rataan bobot badan pada semua kelompok perlakuan ayam terinfeksi. Kelompok KN tidak terinfeksi Eimeria spp., sedangkan kelompok perlakuan lainnya telah terinfeksi Eimeria spp. sebelumnya, sehingga bobot badannya lebih rendah dibandingkan kelompok KN. Ayam yang terinfeksi Eimeria spp. diduga mengalami penurunan nafsu makan sehingga mempengaruhi bobot badannya. Secara umum, rataan bobot badan

semua kelompok ayam pada penelitian ini tidak berbeda nyata dari waktu pengukuran ke 1 s/d 8 (p>0,05) seperti yang terlihat pada Tabel 6.

24

Tabel 6 Rata-rata bobot badan ayam (gram) setelah terinfeksi Eimeria spp. dan diberi ekstrak etanol daun johar (Cassia siamea Lamk.)
Perlakuan I KN K(-) K(+) P1 P2 P3 504,42 70,91 377,00 70,66 283,40a68,80 341,00a40,08 387,00b50,47 349,40c70,34
b d

Pengukuran keII 605,92 89,13 414,92 57,83 315,80a73,54 375,40a55,25 383,60b91,62 473,20c46,71
b d

III 720,40 94,70 443,10 58,53 336,30a78,58 359,60a25,65 428,11b94,51 491,30c70,84


b d

IV 839,40 109,00 486,20 67,09 372,70a97,30 388,80a38.58 492,40b135,79 549,00c87,00


b d

V 808,30 101,29 504,60b50,32 402,80a116,30 386,40a54,33 514,80b138,25 571,20c104,88


d

Perlakuan VI KN K(-) K(+) P1 P2 P3 906,20d109,90 588,70b71,28 475,70a111,98 430,60a74,48 583,10b139,26 644,30c102,29

Pengukuran keVII 951,40d124,81 617,80b64,36 526,70a115,52 471,20a83,25 632,10b140,14 687,10c121,73 VIII 895,00d105,19 672,50b79,14 577,20a126,36 497,00a84,63 692,10b149,97 729,60c120,80

Rata-rata (gram) 778,88d175,00 513,10b115,12 411,33a135,20 406,25a 75,66 514,15b154,66 561,89c145,59

Keterangan: Huruf superskrip yang sama pada kolom dan baris menyatakan tidak berbeda nyata (P> 0.05). Kelompok perlakuan: K() = kontrol negatif, K(+) = kontrol positif, KN = kontrol normal, P1 = johar dosis 1, P2 = johar dosis 2, P3 = johar dosis 3.
1000 900 800 700 600 500 400 300 200 100 0
I II III IV V VI VII VIII

Bobot badan (gram)

KN K(-) K(+) P1 P2 P3

Pengukuran ke-

Gambar 9 Rata-rata bobot badan ayam (gram) dari setiap kelompok perlakuan. Rataan bobot badan ayam pada semua kelompok yang terinfeksi Eimeria spp. menunjukkan bahwa bobot badan kelompok ayam johar dosis tinggi (P3) yang paling tinggi sampai dengan akhir penelitian (pengukuran ke-I hingga keVIII) yaitu 561,89 gram (Tabel 6). Rataan bobot badan kelompok K(+) menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (p>0,05) dengan kelompok P1 yaitu

25

mempunyai rataan bobot badan 411,33 gram, demikian pula kelompok K(-) tidak berbeda nyata dengan kelompok P2. Rataan bobot badan ayam pada pengukuran ke 1 s/d 8 pada kelompok P1, P2, dan P3 mengalami peningkatan. Rataan bobot badan ayam pada kelompok P3 paling tinggi bila dibandingkan kelompok P1 dan P2. Semakin tinggi dosis ekstrak daun johar yang diberikan pada kelompok perlakuan ayam yang terinfeksi maka semakin tinggi pula rataan bobot badan kelompok ayam tersebut. Hal ini diduga karena flavonoid pada daun johar dosis tinggi (16,36 mg/0,5 ml per ekor) sebagai immunostimulan sehingga ookista infektif dari Eimeria spp. tidak atau kurang efektif dalam menimbulkan sakit. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Kusmardi et al. (2006), juga melaporkan bahwa daun johar dapat meningkatkan aktifitas makrofag. Semakin tinggi dosis yang digunakan semakin tinggi pula aktivitas makrofag yang dihasilkan. Flavonoid berpotensi bekerja terhadap limfokin yang dihasilkan oleh sel T sehingga akan merangsang sel-sel fagosit untuk melakukan respon fagositosis. Menurut Guyton dan Hall (1996), limfokin bertindak sebagai pengatur utama yang sesungguhnya bagi seluruh fungsi imun, dengan cara membentuk serangkaian mediator protein yang bekerja pada sel-sel lain dari sistem imun dan pada sel sumsum tulang. Limfokin mempengaruhi makrofag dengan dua cara, pertama dengan menghambat atau menghentikan migrasi makrofag setelah limfokin secara kemotaktik tertarik ke dalam area jaringan yang meradang, dengan demikian menyebabkan pengumpulan makrofag dalam jumlah yang banyak. Kedua, limfokin mengaktifkan makrofag untuk menimbulkan fagositosis yang jauh lebih efisien, sehingga memungkinkan makrofag untuk menyerang dan menghancurkan organisme penyerbu dalam jumlah yang lebih banyak. Pada pengukuran ke-V hingga ke-VIII, kelompok K(+) memiliki rataan bobot badan yang lebih tinggi dibandingkan kelompok P1. Hal ini diduga obat koksidiostat yang digunakan mengandung sulfadiazine dan trimethoprim. Sulfadiazine termasuk sulfonamide dengan aksi intermediate yang mempunyai waktu-paro plasma selama 17 jam dan mempunyai sifat antagonis kompetitif dengan Eimeria terhadap para-amino benzoic-acid (PABA) yang dibutuhkan oleh Eimeria untuk proses pembelahan sel sedangkan trimetoprim merupakan zat yang dapat menghambat reduktase asam folat yang diperlukan oleh Eimeria untuk

26

pembelahan selnya. Kombinasi trimetoprim dan sulfadiazine menghasilkan efek sinergisme antimikroba karena terjadi pemblokan biosintesis koenzim pada lebih dari satu tempat pada lintasan biosintesis protozoa atau bakteri. Selain itu keuntungan dari kombinasi kedua obat ini adalah mikroba tidak mampu mengembangkan resistensi secepat yang ditimbulkan oleh pemblok lintasan tunggal dan sulfadiazine-trimetoprim cenderung diabsorbsi dengan cepat dan didistribusi dengan baik (Wilson dan Gisvold 1982). Pada pengukuran ke-IV hingga ke-VIII, semua kelompok ayam yang terinfeksi Eimeria spp. mengalami kenaikan rataan bobot badan dikarenakan ookista sudah tidak ditemukan lagi di dalam feses ayam kelompok terinfeksi seperti terlihat pada Tabel 5. Hal ini menunjukkan ayam mengalami proses persembuhan karena koksidiosis bersifat self limitting yaitu bila tidak terjadi reinfeksi, Eimeria dapat membatasi sendiri perkembangannya (Levine 1985), sehingga pertumbuhan bobot badan ayam menjadi lebih baik (Siregar 2008). Ayam yang mengalami self limitting dapat menjadi carrier koksidia (Farmer 1980).

Suhu Badan Menurut Prayitno (2004), suhu normal ayam berkisar 41,5 C. Hasil pengamatan terhadap rata-rata suhu tubuh ayam yang terinfeksi Eimeria spp. dan diberi ekstrak daun johar (Cassia siamea Lamk.) dapat dilihat dari Tabel 7 dan Gambar 10. Rata-rata suhu badan ayam tidak berbeda nyata dan tidak dipengaruhi oleh hadirnya ookista (8,1-23,6 x 103) yang ditemukan sampai dengan pengukuran ke-III. Menurut Corwin (2001), suhu tubuh akan mengalami peningkatan ketika tubuh terpapar oleh pirogen (bakteri, virus, protozoa, inflamasi, dan lainnya). Ookista yang termakan oleh ayam dan telah bersporulasi dapat menjadi agen infeksius. Ookista dapat bersporulasi bila berada pada kelembaban tinggi (7585%), suhu 29-30C, dan suplai oksigen yang memadai (Tampubolon 1992). Peningkatan suhu tubuh disebut dengan demam. Menurut Corwin (2001), demam merupakan suatu peningkatan titik patokan suhu di hipotalamus, rangsangan pirogen yang merusak membran sel sehingga asam arakhidonat dalam fosfolipid yang menyusun membran sel

27

membentuk prostaglandin dengan bantuan enzim siklooksigenase. Prostaglandin akan merangsang hipotalamus untuk meningkatkan suhu tubuh. Sebagai respon, pada saat terjadi peningkatan suhu tubuh terlalu tinggi, hipotalamus akan mendinginkan tubuh. Efek demam yang berbahaya meliputi meningkatnya katabolisme jaringan, dehidrasi, sindroma otak akut, dan kejang (Northrup et al. 1981). Demam dapat menyebabkan dehidrasi atau kurangnya cairan tubuh sehingga dapat mempengaruhi volume plasma dan viskositas menjadi kecil akibatnya nilai hematokrit meningkat. Hematokrit adalah persen volume sel darah dalam plasma. Ketika terjadi peningkatan suhu tubuh, plasma akan menurun sehingga biasanya persen volume sel darah akan menjadi meningkat. Menurut Riza (2010), nilai hematokrit pada semua kelompok perlakuan masih dalam kisaran normal yaitu berkisar antara 22-35%. Jika kadar hematokrit masih dalam kisaran normal maka viskositas darah pun normal sehingga aliran darah menuju jaringan dan kembali ke jantung pun normal. Kecepatan aliran darah yang normal mengakibatkan konduksi panas yang disalurkan ke kulit tidak berlebihan atau kurang sehingga suhu tubuh dalam kisaran normal. Pada pengukuran ke-V menunjukkan suhu tubuh kelompok P1 berbeda nyata dengan semua kelompok, hal ini disebabkan suhu lingkungan yang lebih tinggi akan menaikkan suhu rektum dan kenaikan ini lebih tinggi bila ayam-ayam diletakkan di ruang panas tersebut terinfeksi koksidia, serta dosis johar yang paling rendah dibandingkan dengan ekstrak johar lainnya. Ketika demam, interleukin-I akan menginduksi prostaglandin, zat ini selanjutnya bekerja dalam hipotalamus untuk membangkitkan reaksi demam. Menurut Kardono et al. (2003), johar mengandung antipiretik. Antipiretik bekerja dengan mengganggu pembentukan prostaglandin dari asam arakidonat sehingga demam sama sekali tidak terjadi atau paling tidak berkurang (Guyton dan Hall 1996). Kemudian flavonoid dan tanin bertindak sebagai antioksidan utama, tanin akan melapisi lumen sekum sehingga infeksi merozoit akan berkurang (Subroto dan Hendro 2007). Pengobatan dengan antioksidan akan memperkuat sistem dan melindungi inang khususnya selama dalam masa pengobatan dari suatu penyakit.

28

Kandungan saponin di dalam ekstrak daun johar akan bereaksi terhadap kolestrol yang terdapat pada permukaan membran protozoa sehingga

menyebabkan membran protozoa menjadi lisis dan ruptur (Cheeke 1998). Selain itu, karena saponin dapat mengikat asam empedu maka tidak terjadi reabsobsi ulang asam empedu maupun kolestrol pada saluran pencernaan dan proses ekskistasi pada ookista tidak dapat terjadi dikarenakan ookista membutuhkan asam empedu untuk melakukan proses ekskistasi (Soulsby 1982). Namun kelompok P1 merupakan kelompok ayam terinfeksi Eimeria spp. dengan ekstrak daun johar dosis rendah yang diduga kandungan flavonoid, tanin, saponin, dan antipiretiknya (alkaloid) lebih rendah dibandingkan dengan kelompok P2 dan P3, sehingga suhu tubuh kelompok P1 lebih tinggi.

Tabel 7 Rata-rata suhu badan ayam (C) setelah terinfeksi Eimeria spp. dan diberi ekstrak etanol daun johar (Cassia siamea Lamk.)
Perlakuan I KN K(-) K(+) P1 P2 P3 40,80
abcd

Pengukuran keII 0,25 41,08


bcdefgh

III 0,43 41,76 0,33 41,18cdefghij0,53 41,10bcdefgh0,23 41,62fghijkl0,25 41,54efghijkl0,24 41,50efghijkl0,34


jkl

IV 41,46efghijk0,42 41,50efghijkl0,42 41,26cdefghijk0,34 41,72ijkl0,18 41,30cdefghijk0,62 41,46efghijk0,21

41,50efghijkl0,25 41,00abcde0,38 41,28cdefghijk0,23 41,32cdefghijk0,80 40,60ab0,89

41,86kl0,05 41,38defghijk0,55 41,38defghijk0,49 41,18cdefghij0,29 41,50efghijkl0,42

Perlakuan V KN K(-) K(+) P1 P2 P3 41,36


defghijk

Pengukuran keVI 0,42 40,46 0,22 41,64ghijkl0,26 41,52efghijkl0,33 41,72ijkl0,19 41,72ijkl0,22 41,62fghijkl0,26
a

VII 40,56 0,44 41,12bcdefghi0,48 41,06bcdefg0,34 41,00abcde0,25 41,28cdefghijk0,36 40,99abcde0,49


ab

VIII 41,02bcdef0,42 41,42efghijk0,28 41,66ghijkl0,11 41,54efghijkl0,21 41,70hijkl0,14 41,58efghijkl0,13

41,46efghijk0,17 40,76abc0,40 42,06l0,49 41,34cdefghijk0,31 41,22cdefghij0,37

Keterangan: Huruf superskrip yang sama pada kolom dan baris menyatakan tidak berbeda nyata (P> 0.05). Kelompok perlakuan: KN = kontrol normal, K(-) = kontrol negatif, K(+) = kontrol positif, P1 = johar dosis 1, P2 = johar dosis 2, P3 = johar dosis 3.

29

42,5 suhu badan ayam (C) 42 41,5 41 40,5 40 39,5 I II III IV V VI VII VIII Pengukuran keKN K(-) K(+)
P1 P2

P3

Gambar 10 Rata-rata suhu badan ayam (C) dari setiap kelompok perlakuan. Pada Tabel 7 terlihat pengukuran ke-VII menunjukkan kelompok KN berbeda nyata terhadap semua kelompok perlakuan lainnya. Hal ini dikarenakan oleh dua kemungkinan yaitu kondisi lingkungan atau penanganan saat pengukuran suhu sehingga suhu kelompok KN lebih rendah dibandingkan semua kelompok perlakuan. Rataan suhu tubuh pada pengukuran ke-VII dan ke-VIII pada semua kelompok perlakuan menunjukkan rata-rata suhu tubuh ayam yang mendekati normal, hal ini dikarenakan koksidiosis bersifat self limiting disease yaitu dapat sembuh sendiri (Levine 1990).

30

SIMPULAN DAN SARAN


Simpulan 1. Rataan bobot badan ayam pada kelompok ayam terinfeksi Eimeria spp. dengan dosis johar 16,36 mg/0,5 ml (P3) lebih besar dibandingkan kelompok P1 dan P2. 2. Rataan suhu pada semua kelompok ayam yang terinfeksi 8,1-23,6 x 103 ookista tidak berbeda nyata. 3. Johar dengan dosis 16,36 mg/0,5 ml (P3) dapat mempertahankan suhu tubuh ayam pada kisaran normal.

Saran 1. Perlu dilakukan penelitian lebih lanjut dalam penggunaan ekstrak daun johar dengan berbagai konsentrasi lainnya sebagai alternatif obat koksidiosis. 2. Perlu dilakukan penapisan fitokimia sehingga diketahui senyawa aktif yang terkandung di dalam daun johar (Cassia siamea Lamk.) dan mekanisme kerjanya terhadap infeksi Eimeria spp.. 3. Perlu dilakukan penelitian untuk mengetahui toksisitas daun johar secara histopatologi.

31

DAFTAR PUSTAKA
Amelia. 2002. Fitokimia Komponen Ajaib http://www.kompas.com// [23 Juli 2010]. PJK, DM, dan Kanker.

Ane. 2008. Kegunaan Alkohol. http://www.web_kimia.com/ [23 Juli 2010]. Ansel HC. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi keempat. Ibrahim F, penerjemah. Jakarta: UI-Press. Terjemahan dari Introduction to Pharmaceutical Dosage Forms. Asa HE. 2009. Pengaruh Ekstrak Etanol Temulawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb.) Terhadap Gambaran Titer Antibodi Avian Influenza (AI) pada Ayam Petelur Strain Isa Brown. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Ashadi G, Handayani S. 1992. Protozoology Veteriner I. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Dirjen Pendidikan Tinggi Pusat Antar Universitas Bioteknologi. IPB Bogor. Barnes HJ, Fadly AM, Glisson JR, McDouglad LR, Swayne DE. 2003. Disease of Poultry 11th edition. USA: Blackwell. Cahyaningsih U, D Iswantini, Iskandar. 2007. Pemanfaatan Tanaman Sambiloto Sebagai Subtitusi Obat Antikoksidia dan Antiperadangan untuk Menanggulangi Diare Berdarah pada Ayam akibat Infeksi Eimeria tenella. [Abstrak Penelitian] http://www.lppm.ipb.ac.id// [25 Juli 2010]. Cheeke PR. 1998. Saponin: Suprising Benefits of http://lpi.oregonstate.edu/index.html [12 September 2010]. Desert Plant.

Corwin EJ. 2001. Patofisiologi. Pendit BU, penerjemah. Jakarta: EGC. Terjemahan dari Patophysiology. Desser SS. 2000. Eimeria http://www_umanitoba_ca_faculties_science_zoology_facultyd\eimerhome.htm [12 September 2010]. spp.

El-Sayyad SM, Ross SA, Sayed HM. 1984. New Isoquinolone Alkaloids from The Leaves of Cassia siamea. J Nat Prod 47:708-710. [FAO] Food and Agriculture Organisation. 2008. Coccidiosis. http://www.fao.org/docrep/003/t0756e/T0756E08.htm [11 Juli 2010]. Farnsworth NR, Bunyapraphatsara N. 1992. Thai Medicicinal Plants. Bangkok: Prachachon Co. Ltd. hlm 102-106.

32

Guyton AC, Hall JE. 1996. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Edisi ke-9. Setiawan I, Tengadi KA, Santoso A, penerjemah. Jakarta: EGC. Terjemahan dari Textbook of Medical Physiology, 9th ed. Harborne JB. 1987. Metode Fitokimia Penuntun Cara Modern Menganalisis Tumbuhan Edisi ke-2. Bandung : ITB. Hasan. 2007. Mengatasi Berak Darah. http://www.pultryindonesia.com/modules.php?name=Nes&file=article&sid=1 13 [12 September 2010]. Hermawan D. 2008. Efektivitas Ekstrak Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dengan Pelarut Air Hangat Tanpa Evaporasi dan Kajian Differensial Leukosit pada Ayam yang Diinfeksi dengan Eimeria tenella. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Heyne K. 1987. Tumbuhan Berguna Indonesia. Ed ke-2. Jakarta: Yayasan Sarana Wana Jaya. hlm 926-927. Houghton PJ, Raman. 1998. Laboratory Handbook For The Fracnation of Natural Extracts. London UK Chapman and Hall. Ingkaninan K, Ijzerman AP, Verpoorte R. 2000. Luteolin, A Coumpound with Adenosine A1 Receptor-Binding Activity, and Chromone and Dihydronaphthalenone Constituents from Senna siamea. J Nat Prod 63:315317. Kalsum U, Nur P, dan Nurdiana. http://www.litbangdepkes.go.id/ [24 Juli 2010]. 2008. Peran Alkaloid.

Kardono LBS, Artanti N, Dewiyanti ID, Basuki T. 2003. Selected Indonesian Medicinal Plants: Monographs and Descriptions. Jakarta: PT Gramedia Widiasarana Indonesia. [KemenKes RI] Kementrian Kesehatan Republik Indonesia. 1989. Materia Medika Indonesia V, Departemen Kesehatan, Republik Indonesia, Jakarta. hlm 129-133. Key I. 1998. Introduction to Animal Physiology. New York: Bios Scientific Publisher. Kusmardi, Kumala S, Wulandari D. 2006. Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Daun Johar (Cassia siamea Lamk.) terhadap Peningkatan Aktivitas dan Kapasitas Fagositosis Sel Makrofag. Makara, Kesehatan 2: 89-93. Kusumaningtyas P. 2009. Histopatologi Hati Ayam yang Diinfeksi Ascaridia Galli dan Diobati Ekstrak Etanol Akar Daruju (Acanthus ilicifolius Linn.). [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor.

33

Koyama J, Morita I, Tagahara K, Aqil M. 2001. Bianthraquinone from Cassia siamea. Phythochemistry 56:849-851. Levine ND. 1977. Parasitologi Veteriner. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Levine ND. 1985. Protozoology Veteriner. Soekardono S, penerjemah. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. hlm 373-413. Terjemahan dari Protozoology Veteriner. Levine ND. 1990. Buku Pelajaran Parasitologi Veteriner. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press. Lilehoj HS, Lilehoj EP. 1999. Avian Coccidiosis, View of Acquired Intestinal Immunity and Vaccination Strategist Avian Diseases. Mangapul BN. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Sambiloto (Andrographis panniculata Ness.) dengan Pelarut Etanol Dosis Bertingkat Diberikan Sebelum dan Sesudah Infeksi E. tenella terhadap Produksi Ookista pada Tinja Ayam. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Markham KR. 1988. Cara Mengidentifikasi Flavanoid. Bandung: ITB. Mattjik AA, Sumertaja IM. 2002. Perancangan Percobaan dengan Aplikasi SAS dan MINITAB. Bogor: IPB Press. McDougal LR, WM Reid. 1997. Disease Poultry Ed. 10. USA : Iowa State University Press. Mulyani SD, Gunawan. 2002. Ramuan Tradisional untuk Penderita Asma. Jakarta: Penebar Swadaya. Murtidjo, BA. 1992. Pengendalian Hama dan Penyakit Ayam. Yogyakarta: Kanisius. Northrup RS, Asdie AH, Santoso B. 1981. Pedoman Pengobatan. Edisi Indonesia. Yogyakarta: Yayasan Essentia Medica. Pratama AH. 2008. Kajian Aktifitas Fraksi Etil Asetat Rimpang Kunyit (Curcuma longa Linn.) Terhadap Persembuhan Luka Pada Mencit (Mus musculus albinus). [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Prayitno DS. 2004. Pencahayaan Sebagai Upaya Pencegahan Cekaman Pada Unggas Tropis Berwawasan Animal Welfare. [Disertasi]. Semarang: Fakultas Peternakan, Universitas Diponegoro.

34

Retno FD, Jahja J, Suryani T. 1998. Penyakit-Penyakit Penting Pada Ayam. Bandung: Medion. Riza Y. 2010. Gambaran Eritrosit Ayam Terinfeksi Eimeria spp. Secara Alami yang Diberi Ekstrak Daun Johar (Cassia siamea Lamk.). [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Sayekti. 2008. Sifat Saponin. http://www.kalbe.co.id/ [23 Juli 2010]. Shafiullah M, Parveen M, Kamil M, Ilyas M. 1995. A New Isoflavone CGlycoside From Cassia siamea. Fitoterapia 66:439-441. Shafiullah K, Mohammad S, Parveen M, Kamil M, Ilyas M. 1996. Isolation of 2,3,6-trihydroxy-4-methoxy-7-O-neohesperidoside, A Novel Flavones Glycoside From Cassia siamea. J Chem Res Synop. 1:2-3. Shane SM. 1997. Pedoman Penyakit Unggas Ed ke-1. Budi Tangenjaya, penerjemah. 1998. American Soybean Association Jakarta. Setiabudi R, Mariana. 1995. Farmakologi dan Terapi Ed. Ke-4. Jakarta : Gaya Baru. Siregar NM. 2008. Pengaruh Ekstrak Sambiloto (Andrographis paniculata Nees) dengan Pelarut Metanol Dosis Bertingkat Terhadap Penampilan Ayam Pedaging yang Diinfeksi Eimeria tenella. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Siregar AP, Sabrani M. 1981. Tehnik Beternak Ayam di Indonesia. Bogor: Balitbang Pertanian. Soulsby EJL. 1982. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animal 7th Edition. London : Bailere Tindall. Soulsby EJL. 1986. Helminths, Arthropods and Protozoa of Domesticated Animal 7th Edition. London : Bailere Tindall. Steenis, CGGJ van. 1981. Flora, untuk Sekolah di Indonesia. Jakarta: PT Pradnya Paramita. hlm 226. Sturkie. 2000. Avian Physiology 5th Ed. Whittow GC, editor. San Diego: Academic Press. Subroto, Hendro. 2007. Kandungan Sarang Semut. http://www.deherba.com/kandungan-sarang-semut.html. [12 September 2010]. Sudaryani, Hari S. 1994. Pembibitan Ayam Ras. Jakarta : Penebar Swadaya.

35

Tampubolon MP. 1992. Protozoologi. Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. Tampubolon MP. 1996. Protozoologi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat, Institut Pertanian Bogor. hlm 145-149. Tampubolon MP. 2004. Protozoologi. Bogor: Pusat Antar Universitas Ilmu Hayat. Institut Pertanian Bogor. hlm 145-229. Teeyapant R, Srikun O, Wray V, Witte L. 1998. Chemical Investigation Of Anhydrobarakol From Cassia siamea. Fitoterapia 69:475-476. Thongsaard W, Deachapunya C, Pongsakorn S, Boyd EA, Bennett GW, Marsden CA. 2001. Pharmacol Biochem Behav 53:753-758. Tipakorn N. 2002. Effect of A. paniculata (burm F.) Nees on Performance, Mortality, and Coccidiosis in Broiler Chicken. [Disertasi]. Gottingen, Germany: Doctor of Agricultural Sciences of The Faculty of Agricultural Science. Georg August-University. Vibowo H. 2008. Pengaruh Pemberian Ekstrak Etanol Rimpang Temu Putih (Curcuma zedoariae (Berg.) Roscoe) terhadap Gambaran Klinis Pre dan Post Operasi pada Kelinci yang Diinduksi Tumor. [Skripsi]. Bogor: Fakultas Kedokteran Hewan, Institut Pertanian Bogor. Voigt R. 1994. Buku Pelajaran Teknologi Farmasi. Noerono S, penerjemah. Yogyakarta: UGM-Press. Terjemahan dari Lehburch der Pharmazeutischen Technologie. Wardhana AP, Kencanawati E, Nurmawati, Rahmaweni, Jatmiko CB. 2001. Pengaruh Pemberian Sediaan Patikan Kebo (Eurphobia Hirta L) Terhadap Jumlah Eritrosit, Kadar Hemoglobin, dan Nilai Hematokrit pada Ayam yang Diinfeksi dengan Eimeria Tenella. Jurnal Ilmu Ternak dan Veteriner. 2(6): 126-133. Wilson, Gisvold. 1982. Kimia Farmasi dan Medisinal Organik. Fatah AM, penerjemah. Semarang: IKIP Semarang Press. Terjemahan dari: Textbook of Organic Medical and Pharmaceutical Chemistry. William RBC. 2002. Progress Toward Anticoccidial Vaccines for Broiler Chicken Schering. Ploogh Animal Health. Pp: 2-27. Yuliani S, Rusli S. 2003. Ekstraksi Pestisida Nabati. Bogor: Balitro.

36

LAMPIRAN

36 1. Analisis data dengan uji ANOVA dan dilanjutkan uji wilayah berganda DUNCAN

Univariate Analysis of Variance


Notes

Output Created Comments Input Data Active Dataset Filter Weight Split File N of Rows in Working Data File Definition of Missing Cases Used D:\PENELITIAN\untitled2.sav DataSet1 <none> <none> <none>

23-Aug-2010 10:42:21

Missing Value Handling

Syntax

240 User-defined missing values are treated as missing. Statistics are based on all cases with valid data for all variables in the model. UNIANOVA bobot BY umur perlakuan /METHOD=SSTYPE(2) /INTERCEPT=EXCLUDE /POSTHOC=pengukuran perlakuan(DUNCAN) /PLOT=PROFILE(pengukuran*perlakuan) /EMMEANS=TABLES(pengukuran) /EMMEANS=TABLES(perlakuan) /PRINT=HOMOGENEITY DESCRIPTIVE /CRITERIA=ALPHA(.05) /DESIGN=pengukuran perlakuan pengukuran*perlakuan. 00:00:00.624 00:00:00.577

Resources

Processor Time Elapsed Time

[DataSet1] D:\PENELITIAN\untitled2.sav

Between-Subjects Factors

N pengukuran I II III IV V VI VII VIII perlakuan P1 P2 P3 KN KK+ 30 30 30 30 30 30 30 30 40 40 40 40 40 40

37 Descriptive Statistics
Dependent Variable:bobot Pengukuran Perlakuan Mean Std. Deviation I P1 P2 P3 KN KK+ Total II P1 P2 P3 KN KK+ Total III P1 P2 P3 KN KK+ Total IV P1 P2 P3 KN KK+ Total V P1 P2 P3 KN KK+ Total 3.4100E2 3.8700E2 3.4940E2 5.0442E2 3.7700E2 2.8340E2 3.7370E2 3.7540E2 3.8360E2 4.7320E2 6.0592E2 4.1492E2 3.1580E2 4.2814E2 3.5960E2 4.2811E2 4.9130E2 7.2040E2 4.4310E2 3.3630E2 4.6313E2 3.8880E2 4.9240E2 5.4900E2 8.3940E2 4.8620E2 3.7270E2 5.2142E2 3.8640E2 5.1480E2 5.7120E2 8.0830E2 5.0460E2 4.0280E2 5.3135E2 40.08740 50.47276 70.34060 70.90513 70.65763 68.79898 89.22451 55.24876 91.62041 46.71269 89.12537 57.82977 73.54047 114.06002 25.64761 94.51222 70.84455 94.69583 58.53354 78.57926 145.00612 38.58368 135.79461 87.00072 109.00138 67.08632 97.30339 179.24098 54.32587 138.25050 104.87707 101.29018 50.32196 116.30219 168.31821 5 5 5 5 5 5 30 5 5 5 5 5 5 30 5 5 5 5 5 5 30 5 5 5 5 5 5 30 5 5 5 5 5 5 30 Total VIII VII VI P1 P2 P3 KN KK+ Total P1 P2 P3 KN KK+ Total P1 P2 P3 KN KK+ Total P1 P2 P3 KN KK+ Total 4.3060E2 5.8310E2 6.4430E2 9.0620E2 5.8870E2 4.7570E2 6.0477E2 4.7120E2 6.3210E2 6.8710E2 9.5140E2 6.1780E2 5.2670E2 6.4772E2 4.9700E2 6.9210E2 7.2960E2 8.9500E2 6.7250E2 5.7720E2 6.7723E2 4.0625E2 5.1415E2 5.6189E2 7.7888E2 5.1310E2 4.1133E2 5.3093E2 N Pengukuran Perlakuan Mean Std. Deviation 74.48020 139.26252 102.29101 109.89631 71.28429 111.97634 182.05080 83.25308 140.13627 121.73044 124.80705 64.36090 115.51926 185.82424 84.62565 149.97433 120.79859 105.19030 79.13912 126.35545 163.43858 75.65839 154.66304 145.58558 175.00458 115.11994 135.20201 184.35058 5 5 5 5 5 5 30 5 5 5 5 5 5 30 5 5 5 5 5 5 30 40 40 40 40 40 40 240 N

38 Levenes Test of Equality of Error Variancesa


Dependent Variable: Bobot F 1.290 df1 47 df2 192 Sig. .119

Tests the null hypothesis that the error variances of the dependent variable is equal across groups. a. Design: pengukuran + perlakuan + pengukuran*perlakuan

Tests of Between-Subject Effects


Dependent Variable: Bobot Type II Sum of df Squares Model 7.411E7 48 Pengukuran 2414054.847 7 Perlakuan 3715494.956 5 Pengukuran*perlakuan 324174.917 35 Error 1668723.146 192 Total 7.578E7 240 a. R Squared= .978 (Adjusted R Squared=.972) Source Mean Square 1543900.302 344864.978 743098.991 9262.140 8691.266 F 177.638 39.679 85.500 1.066 Sig. .000 .000 .000 .038

UJI HIPOTESIS
Pengaruh pengukuran: H0: pengukuran tidak berpengaruh nyata terhadap bobot H1: pengukuran berpengaruh nyata terhadap bobot Pengaruh Perlakuan: H0: Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap bobot H1: Perlakuan berpengaruh nyata terhadap bobot Pengaruh interaksi umur dan perlakuan: H0: interaksi pengukuran dan perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap bobot H1: interaksi pengukuran dan perlakuan berpengaruh nyata terhadap bobot Tolak H0 jika nilai signifikansi < taraf nyata (0.05)

Post Hoc Tests


Perlakuan Homogenous Subsets Bobot Duncan Perlakuan N 1 a 4.0625E2 a 4.1133E2 2 Subset

3 4 P1 40 K+ 40 b K40 5.1310E2 b P2 40 5.1415E2 c P3 40 5.6189E2 d KN 40 7.7888E2 Sig. .808 .960 1.000 1.000 Means for groups in homogenous subsets are displayed. Based on observed means. The error terms is Mean Square (Error)= 8691.26

39
Pengukuran
Homogenous Subsets Bobot Duncan Pengukuran N 1 3.7370E2 2 Subset 3

4 5 I 30 II 30 4.2814E2 III 30 4.6313E2 IV 30 5.2142E2 V 30 5.3135E2 VI 30 6.0477E2 VII 30 6.4772E2 6.4772E2 VIII 30 6.7723E2 Sig. 1.000 .148 .680 .076 .222 Means for groups in homogenous subsets are displayed. Based on observed means. The error term is Mean Square (Error) = 8691.266.

Estimated Marginal Means


1. Pengukuran Dependent Variable: Bobot Pengukuran Mean I II III IV V VI VII VIII 373.703 428.140 463.135 521.417 531.350 604.767 647.717 677.233 Std. error 17.021 17.021 17.021 17.021 17.021 17.021 17.021 17.021 2. Perlakuan Dependent Variable: Bobot Perlakuan Mean P1 P2 P3 KN KK+ 406.250 514.151 561.887 778.880 513.102 411.325 Std. error 14.740 14.740 14.740 14.740 14.740 14.740 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 377.176 435.324 485.077 543.225 532.813 590.962 749.806 807.954 484.028 542.177 382.251 440.399 95% Confidence Internal Lower Bound Upper Bound 340.131 407.275 394.568 461.712 429.563 496.707 487.845 554.989 497.778 564.922 571.195 638.339 614.145 681.289 643.661 710.805

Tests of Between-Subjects Effects


Dependent Variable: Temperatur Source Type II Sum df of Squares a Model 410093.254 48 Pengukuran 7.222 7 Perlakuan 6.161 5 Pengukuran*perlakuan 14.350 35 Error 27.689 192 Total 410120.943 240 a. R Squared= 1.000 (Adjusted R Squared= 1.000) Mean Square 8543.609 1.032 1.232 .410 .144 F 5.924E4 7.154 8.545 2.843 Sig. .000 .000 .000 .000

UJI HIPOTESIS

40
Pengaruh pengukuran: H0: pengukuran tidak berpengaruh nyata terhadap temperatur H1: pengukuran berpengaruh nyata terhadap temperatur Pengaruh Perlakuan: H0: Perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap temperatur H1: Perlakuan berpengaruh nyata terhadap temperatur Pengaruh interaksi umur dan perlakuan: H0: interaksi pengukuran dan perlakuan tidak berpengaruh nyata terhadap temperatur H1: interaksi pengukuran dan perlakuan berpengaruh nyata terhadap temperatur Tolak H0 jika nilai signifikansi < taraf nyata (0.05)

Univariate Analysis of Variance


Notes

Output Created Comments Input Data Active Dataset Filter Weight Split File N of Rows in Working Data File Definition of Missing Cases Used Syntax

23-Aug-2010 12:26:05 D:\PENELITIAN\untitled2.sav DataSet1 <none> <none> <none> 240 User-defined missing values are treated as missing. Statistics are based on all cases with valid data for all variables in the model. UNIANOVA temperatur3 BY Interaksi /METHOD=SSTYPE(2) /INTERCEPT=EXCLUDE /POSTHOC=Interaksi(DUNCAN) /PRINT=HOMOGENEITY DESCRIPTIVE /CRITERIA=ALPHA(.05) /DESIGN=Interaksi. 00:00:01.170 00:00:01.240

Missing Value Handling

Resources

Processor Time

Elapsed Time [DataSet1] D:\PENELITIAN\untitled2.sav

Interaksi IP1 IP2 IP3 IKN IKIK+ IIP1 IIP2 IIP3 IIKN IIKIIK+ Descriptive Statistics

N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Between-Subjects Factors Interaksi N Interaksi N IIIP1 5 VP1 5 IIIP2 5 VP2 5 IIIP3 5 VP3 5 IIIKN 5 VKN 5 IIIK5 VK5 IIIK+ 5 VK+ 5 IVP1 5 VIP1 5 IVP2 5 VIP2 5 IVP3 5 VIP3 5 IVKN 5 VIKN 5 IVK5 VIK5 IVK+ 5 VIK+ 5

Interaksi VIIP1 VIIP2 VIIP3 VIIKN VIIKVIIK+ VIIIP1 VIIIP2 VIIIP3 VIIIKN VIIIKVIIIK+

N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5

Dependent Variable: Temperatur

41
Interaksi IP1 IP2 IP3 IKN IKIK+ IIP1 IIP2 IIP3 IIKN IIKIIK+ IIIP1 IIIP2 IIIP3 IIIKN IIIKIIIK+ IVP1 IVP2 IVP3 IVKN IVKIVK+ Total Mean 41.2800 41.3200 40.6000 40.8000 41.5000 41.0000 41.3800 41.1800 41.5000 41.0800 41.8600 41.3800 41.6200 41.5400 41.5000 41.7600 41.1800 41.1000 41.7200 41.3000 41.4600 41.4600 41.5000 41.2600 Std. deviation .22804 .80125 .89443 .25495 .25495 .38079 .48683 .28636 .42426 .43243 .05477 .55408 .24900 .24083 .33912 .32863 .52631 .23452 .17889 .61644 .20736 .42190 .41833 .34351 N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 Interaksi VP1 VP2 VP3 VKN VKVK+ VIP1 VIP2 VIP3 VIKN VIKVIK+ VIIP1 VIIP2 VIIP3 VIIKN VIIKVIIK+ VIIIP1 VIIIP2 VIIIP3 VIIIKN VIIIKVIIIK+ Mean 42.0600 41.3400 41.2200 41.3600 41.4600 40.7600 41.7200 41.7200 41.6200 40.4600 41.6400 41.5200 41.0000 41.2800 40.9940 40.5600 41.1200 41.0600 41.5400 41.7000 41.5800 41.0200 41.4200 41.6600 41.3353 Std. deviation .49295 .31305 .37014 .42190 .16733 .40373 .19235 .21679 .25884 .21909 .26077 .33466 .25495 .36332 .49313 .44497 .47645 .34351 .20736 .14142 .13038 .42071 .27749 .11402 .48155 N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 240

Levenes Tests of Equality of Error Variancesa


Dependent Variable: Temperatur F df1 df2 Sig. 1.705 47 192 .007 Tests the null hypothesis that the error variance of the dependent variable is equal across groups. a. Design: interaksi Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: temperature Source Type II Sum of Squares df Mean Square a Model 410093.254 48 8543.609 Interaksi 410093.254 48 8543.609 Error 27.689 192 .144 Total 410120.943 240 a. R Squared= 1.000 (Adjusted R Squared= 1.000)

F 5.924E4 5.924E4

Sig. .0000 .0000

Post Hoc Tests


Interaksi (Homogeneous Subsets)

42 Temperatur
Duncan Interaksi VIKN VIIKN IP3 VK+ IKN VIIP3 IKN VIIP1 VIIIKN VIIK+ IIKN IIIK+ VIIKIIP2 IIIKVP3 IVK+ IP1 VIIP2 IVP2 IP2 VP2 VKN IIP1 IIK+ VIIIKIVP3 IVKN VKIKIIP3 IIIP3 IVKVIK+ VIIIP1 IIIP2 VIIIP3 IIIP1 VIP3 VIKVIIIK+ VIIIP2 Interaksi IVP1 VIP2 N 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 5 N 5 5 1 40.46 40.56 40.60 40.76 40.80 40.99 41.00 41.00 2 40.56 40.60 40.76 40.80 40.99 41.00 41.00 41.02 41.06 41.08 41.10 41.12 3 4 5 Subset 6 7 8 9 10 11 12

40.76 40.80 40.99 41.00 41.00 41.02 41.06 41.08 41.10 41.12 41.18 41.18 41.22 41.26 41.28 41.28 41.30 41.32 41.34

40.80 40.99 41.00 41.00 41.02 41.06 41.08 41.10 41.12 41.18 41.18 41.22 41.26 41.28 41.28 41.30 41.32 41.34 41.36 41.38 41.38

40.99 41.00 41.00 41.02 41.06 41.08 41.10 41.12 41.18 41.18 41.22 41.26 41.28 41.28 41.30 41.32 41.34 41.36 41.38 41.38 41.42 41.46 41.46 41.46 41.50 41.50 41.50 41.50 41.52 41.54 41.54 41.58

41.02 41.06 41.08 41.10 41.12 41.18 41.18 41.22 41.26 41.28 41.28 41.30 41.32 41.34 41.36 41.38 41.38 41.42 41.46 41.46 41.46 41.50 41.50 41.50 41.50 41.52 41.54 41.54 41.58 41.62 41.62

41.06 41.08 41.10 41.12 41.18 41.18 41.22 41.26 41.28 41.28 41.30 41.32 41.34 41.36 41.38 41.38 41.42 41.46 41.46 41.46 41.50 41.50 41.50 41.50 41.52 41.54 41.54 41.58 41.62 41.62 41.64 41.66

41.10 41.12 41.18 41.18 41.22 41.26 41.28 41.28 41.30 41.32 41.34 41.36 41.38 41.38 41.42 41.46 41.46 41.46 41.50 41.50 41.50 41.50 41.52 41.54 41.54 41.58 41.62 41.62 41.64 41.66 41.70 8

41.12 41.18 41.18 41.22 41.26 41.28 41.28 41.30 41.32 41.34 41.36 41.38 41.38 41.42 41.46 41.46 41.46 41.50 41.50 41.50 41.50 41.52 41.54 41.54 41.58 41.62 41.62 41.64 41.66 41.70 9 41.72 41.72

41.18 41.18 41.22 41.26 41.28 41.28 41.30 41.32 41.34 41.36 41.38 41.38 41.42 41.46 41.46 41.46 41.50 41.50 41.50 41.50 41.52 41.54 41.54 41.58 41.62 41.62 41.64 41.66 41.70 10 41.72 41.72

41.26 41.28 41.28 41.30 41.32 41.34 41.36 41.38 41.38 41.42 41.46 41.46 41.46 41.50 41.50 41.50 41.50 41.52 41.54 41.54 41.58 41.62 41.62 41.64 41.66 41.70 11 41.72 41.72

41.50 41.50 41.50 41.50 41.52 41.54 41.54 41.58 41.62 41.62 41.64 41.66 41.70 12 41.72 41.72

Subset 6 7

43
VIP1 IIIKN IIKVP1 Sig. 5 5 5 5 .055 .054 .053 .054 .057 .051 .051 .051 41.72 41.72 41.76 41.72 41.76 41.86 .051 41.72 41.76 41.86 42.06 .062

.051

.060

Means for groups in homogenous subsets are displayed. Based on observed means. The error terms is Mean Square (Error)= .144