Anda di halaman 1dari 52

1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Untuk menerapkan ilmu yang di dapat dari bangku kuliah dalam lingkungan kerja, maka mahasiswa diwajibkan untuk melaksanakan Praktek Kerja Lapangan (PKL) disuatu perusahaan milik pemerintah ataupun milik swasta. Menyusun laporan praktek kerja lapangan adalah untuk memenuhi kewajiban apa yang telah diatur dalam bangku kuliah. Yang mana bukan hanya teori saja yang didapat dari bangku kuliah tersebut tetapi dipraktekkan dan diterapkan langsung ditempat praktek kerja lapangan. Seperti kita ketahui bersama bahwa untuk membangkitkan tenaga listrik diperlukan daya yang sangat besar. Karena kita ketahui juga kebutuhan akan tenaga listrik tersebut merupakan kebutuhan sehari hari yang sangat dirasakan manfaatnya bagi urat nadi kehidupan. Untuk memenuhi daya yang diperlukan PLN tidak hanya memanfaatkan tenaga air dan gas saja melainkan diperlukan juga pembangkit tenaga diesel yang saat ini sudah ada. 1.2 Tujuan Penulisan Laporan Praktek Kerja Lapangan (PKL). Maksud dan tujuan penulisan praktek kerja lapangan adalah : Untuk mengevaluasi dan merealisasikan ilmu yang diterima diperusahaan kedalam bentuk sebuah laporan. Sebagai salah satu bukti bahwa mahasiswa benar benar telah melaksanakan praktek kerja lapangan.
1

Untuk memenuhi salah satu syarat dalam menyelesaikan praktek kerja lapangan dan dalam mengikuti seminar. Sebagai bahan penilaian oleh para pembimbing di Politeknik Negeri Banjarmasin maupun di perusahaan terhadap mahasiswa mengenai segala hal aktivitas yang telah dilaksanakan diperusahaan terhadap mahasiswa mengenai segala hal aktivitas yang telah dilaksanakan diperusahaan yang bersangkutan.

Untuk melaporkan hasil pengalaman pada suatu perusahaan tempat mahasiswa melaksanakan praktek kerja lapangan.

1.3 Tujuan Praktek Kerja Lapangan Adapun tujuan dari praktek kerja lapangan (PKL) ini yaitu untuk memenuhi persyaratan bagi setiap mahasiswa untuk kelulusan di semester V. Dengan adanya praktek kerja lapangan ini diharapkan penulis bisa mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang didapat dari bangku kuliah, sehingga dicapai: Pengetahuan dan keterampilan baik dari segi teknik ataupun non teknik. Umpan balik terhadap pelaksanaan teori yang telah didapat selama kuliah dengan kenyataan dilapangan dan sampai dimana teori yang dikuasai oleh mahasiswa. Sebagai uji penerapan langsung didunia kerja yang sesungguhnya.

1.4 Manfaat Praktek Kerja Lapangan Praktek kerja lapangan (PKL) dengan segala maksud dan tujuannya, tentunya akan memberikan banyak manfaat, baik bagi mahasiswa, Politeknik Negeri Banjarmasin, maupun perusahaan itu sendiri. Adapun beberapa manfaat yang diperoleh adalah : A. Bagi Mahasiswa Melatih kedisiplinan dan tanggung jawab dalam menghadapi pekerjaan atau tugas yang diberikan. Menambah wawasan dan pengetahuan tentang jenis pekerjaan yang ada di dunia kerja. Mendapatkan pengetahuan baru yang tidak didapat di bangku kuliah. Menumbuh kembangkan rasa percaya diri dan membina sikap profesional dalam keterampilan. B. Bagi Politeknik Negeri Banjarmasin Meningkatkan efisiensi perkuliahan dengan hasil memuaskan dan nyata. Lebih mudah menyiapkan tenaga kerja yang sesuai dengan kebutuhan dunia kerja. Membuka bahkan mempererat hubungan kerjasama antara Politeknik Negeri Banjarmasin sebagai lembaga pendidikan dengan pihak PT. PLN (Persero) Wilayah VI Sektor Barito selaku perusahaan. C. Bagi PT. PLN (Persero) Wilayah VI Sektor Barito Dapat lebih mengenal diri perusahaan kepada masyarakat tentang apa, siapa dan bagaimana PT. PLN (Persero) Wilayah VI Sektor Barito itu. Ikut membantu menyiapkan Sumber Daya Manusia (SDM) Indonesia sesuai dengan program pemerintah. yang lebih

Lebih mudah untuk mendapatkan tenaga kerja yang handal dan bertanggung jawab.

1.5 Permasalah Pengoperasian PLTD Sistem pengoperasian mesin PLTD tidaklah sama dengan cara

pengoperasian mesin-mesin lain seperti mesin kendaraan misalnya. Hal ini dikarenakan mesin PLTD biasanya ukuran dan kapasitasnya lebih besar sehingga memerlukan pedoman prosedur yang benar agar tujuan pengoperasian suatu PLTD dapat dicapai. Cara pengoperasian mesin PLTD dengan kategori kecil, tentunya tidak sama dengan PLTD kategori besar. Hal ini dikarenakan antara lain adanya perbedaan jumlah peralatan bantu dan sistem-sistem sebagai penunjang operasinya. Cara pengoperasian suatu mesin adalah tergantung pabrik pembuatannya, dan biasanya sudah ditetapkan pada buku petunjuk (manual book) tentang pengoperasian maupun pemeliharaannya.

1.6 Batasan Masalah Sebenarnya, permasalahan yang ada pada suatu pusat PLTD sangatlah banyak. Demikian juga pada mesin-mesin yang ada di PT. PLN (Persero) Sektor Barito terdapat berbagai jenis dan merk. Akan tetapi karena berbagai keterbatasan, maka di dalam laporan ini penulis hanya memfokuskan pembahasan tentang pengoperasian PLTD type SWD 16 TM 410 R saja. Namun demikian kiranya isi laporan ini cukup memberikan gambaran tentang bagaimana cara pengoperasian suatu mesin PLTD.

1.7 Metode Penulisan Laporan Dalam penyusunan laporan praktek kerja lapangan ini, penulis menggunakan beberapa metode untuk data data yang didapat, yaitu meliputi : 1. Metode Observasi Yaitu mengamati secara langsung tentang cara kerja sistem pengoperasian mesin diesel SWD 16 TM 410 R, beserta peralatan yang digunakan dalam bekerja.

2. Metode Interview Yaitu menanyakan langsung dengan petugas / para mekanik mekanik yang ada di lapangan maupun dengan dosen pembimbing mengenai hal yang

berkaitan dengan praktek kerja lapangan

3. Metode Keperpustakaan Yaitu mengumpulkan data data dari buku / laporan laporan yang terdahulu yang berhubungan dengan masalah yang akan dibahas untuk dijadikan bahan pembuatan laporan.

BAB II GAMBARAN UMUM PERUSAHAAN

2.1. Sejarah Singkat PT. PLN (Persero) Sektor Barito PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah Sektor Barito disingkat PT. PLN (Persero) WKSKT Sektor Barito yang berlokasi di jalan Ir. Pangeran Muhammad Noor No. 33 Banjarmasin merupakan unit kerja PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Selatan dan Tengah yang berlokasi di jalan Panglima Batur utara No. 1 Banjarbaru. Unit PT. PLN (Persero) WKSKT Sektor Barito menjadi bagian unit kerja PT. PLN WKSKT berdasarkan SK No. 004/DIR/193 pada tahun 1973 tepatnya pada tanggal 30 April 1973 saat Proyek Pusat Listrik Tenaga Air Riam Kanan diresmikan oleh Presiden Republik Indonesia Jendral TNI Soeharto yang pada saat itu PLN berada dibawah Departemen Pekerjaan Umum dan Tenaga Listrik (PUTL). PLTA Riam Kanan berkapasitas 3 Turbin @ 10 Mega Watt penyaluran tegangan listriknya melalui transmisi 70 KV ke Gardu Induk Cempaka dan Banjarmasin. Kedudukan kantor induk berada di Aranio Riam Kanan. Seiring dengan pertambahan penduduk dan permintaan listrik, maka pada tahun 1977 dibangun 2 unit pembangkit tenaga diesel merk Fuji berkapasitas 3,2 Mega Watt berlokasi dipinggiran sungai barito desa Pasir Mas disebut PLTD Trisakti, kemudian pada tahun 1982 di PLTD Trisakti dibangun lagi 2 unit pembangkit tenaga Diesel merk Pielstick berkapasitas 2 x 5,4 Mega Watt. Selanjutnya dengan semakin banyaknya industri perkayuan, maka permintaan energi listrik keperluan pabrik sawmill dan plywood terus meningkat untuk memenuhi keperluan tersebut, maka PLN pada tahun 1986 merelokasikan 1 unit PLTG berkapasitas 21 Mega Watt dari Gresik Jawa Timur.

Dengan terus berkembangnya dunia industri dan adanya pertumbuhan ekonomi masyarakat perdesaan, maka PLN juga mengembangkan penyaluran tenaga listrik ke desa desa dengan program listrik masuk desa sehingga jaringan listrik pun meluas sampai tingkat kecamatan. Untuk melayani kebutuhan tingginya permintaan energi listrik pada tahun 1987 PLN di lokasi PLTD Trisakti kembali mengoperasikan 2 unit mesin pembangkit tenaga diesel merk SWD 16 TM dengan kapasitas @ 8,8 Mega Watt dan pada tahun 1990 dibangun dan dioperasikan kembali 2 unit mesin Sulzer dengan kapasitas 6,4 Mega Watt. Atas dasar pertimbangan efektifitas operasional, maka pada tanggal 30 Juni 1990 Kantor Induk PLN Sektor Barito dipindahkan dari Aranio ke Banjarmasin yang berlokasi di PLTD/G Trisakti dengan menggunakan kantor sementara eks gudang PLTG Trisakti. Dengan berkembangnya struktur organisasi maka pada tahun 1993 dibangun kantor induk PLN Sektor Barito berlantai 2 di area PLTD/G Trisakti. Pesatnya permintaan energi listrik, maka pada tahun 1992 dioperasikan 1 unit mesin SWD 9 TM dengan daya terpasang @12,8 Mega Watt sehingga jumlah daya terpasang di unit PLTD Trisakti menjadi 87 Mega Watt. Demikian pula dengan adanya perubahan kebijakan dalam rangka meningkatkan mutu keandalan penyediaan energi listrik, maka untuk unit PLTD Benua Lima dan PLTD Kapuas yang berada dibawah operasional PLN Cabang Barabai dan Cabang Kuala Kapuas diserah terimakan kepada PLN Sektor Barito. Demikian pula dalam meningtkatkan keandalan penyediaan energi listrik, maka terjadi pula beberapa kali sebutan nama dan struktur organisasi di lingkungan PT. PLN (Persero) WKSKT Sektor Barito, seperti PLN Wilayah VI Kalimantan Selatan, Tengah, Sektor Barito, kemudian berubah lagi menjadi PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Selatan, Tengah, Timur dan perubahan terakhir hingga saat ini menjadi PT. PLN (Persero) Wilayah Kalimantan Selatan, Tengah Sektor Barito yang berkedudukan di jalan Banjarmasin. Ir. P.M. Noor No. 33

Saat ini PT. PLN (Persero) WKSKT Sektor Barito mempunyai tugas pokok melaksanakan operasional dan pemeliharaan seluruh sarana prasarana pembangkit dan penyuluhan yang menjadi tanggung jawab yang terdiri dari beberapa unit terbesar meliputi 1 unit PLTA, 1 unit PLTG, 2 unit PLTD, dan 2 unit TRAGI, ketujuh pembangkit tersebut terdiri dari 26 mesin dengan daya terpasang 164,8 Mega Watt, sedangkan 2 unit penyaluran tersebut terdiri dari 9 Gardu Induk 150 KV dan 2 unit Gardu Induk 70 KV dengan jumlah trafo daya sebanyak 33 buah (641 MVA) serta panjang transmisi 150 KV sebanyak 625 Kms yang dipotong 1995 buah tower, dan transmisi 70 KV sepanjang 123 Kms yang dipotong 190 tower, sumber tenaga kerja yang mengelola prasarana tersebut sebanyak 291 orang terdiri dari 242 pegawai dan 49 borongan. VISI Diakui sebagai Perusahaan kelas dunia yang bertumbuh kembang, unggul dan terpercaya dengan bertumpu pada potensi insani. MISI 1. Menjalankan bisnis kelistrikan dan bidang lain yang terkait, berorientasi pada kepuasan pelanggan, anggota perusahaan, dan pemegang saham. 2. Menjadikan tenaga listrik sebagai media untuk meninggalkan kualitas kehidupan masyarakat. 3. Mengupayakan agar tenaga listrik menjadi pendorong kegiatan ekonomi. 4. Menjalankan kegiatan usaha yang berwawasan lingkungan. MOTTO electricity for a better life (listrik untuk kehidupan yang lebih baik).

2.2. Struktur Organisasi Metode pembagian kerja yang merupakan hakekat organisasi mengharuskan dilakukannya rincian rincian pada bidang kerja diantara orang orang yang ada didalamnya, sehingga terciptalah suatu struktur organisasi yang jelas. Struktur organisasi adalah kerangka yang terdiri dari satuan satuan organisasi beserta segenap pejabat dengan tugas, wewenang serta hubungannya satu sama lain yang masing masing mempunyai peranan dalam lingkungan kesatuan yang utuh. Bentuk struktur organisasi yang digunakan di PT. PLN (Persero) Sektor Barito berbentuk line dan staff yaitu suatu organisasi yang mempunyai staff ahli atau penasehat organisasi yang dapat dimintai pendapat atau saran seorang pimpinan untuk memecahkan masalah yang sedang dihadapi. Adapun gambaran skema struktur organisasi tersebut sebagaimana tertera pada halaman berikut :

10

STRUKTUR ORGANISASI PT. PLN (Persero) WKSKT SEKTOR PEMBANGKITAN BARITO

Manajer Sektor

Fungsional Kinerja

Fungsional Manajer Resiko

Asman Keuangan, SDM & ADM Supervisor K3 & Umum Supervisor Keuangan

Asman Operasi & Pemeliharaan

Asman Enjinering

Supervisor Lingkungan & K2

Supervisor Logistik

Manajer PLTD Trisakti

Manajer PLTG Trisakti

Manajer PLTD Banua Lima

Manajer PLTA Ir. PM. Noor

Supervisor Operasi

Supervisor Operasi

Supervisor Operasi

Supervisor Operasi

Supervisor Pemelharaan

Supervisor Pemelharaan

Supervisor Pemelharaan

Supervisor Pemelharaan

Supervisor Lingkungan, K2 & ADM

Supervisor Lingkungan, K2 & ADM

Supervisor Lingkungan, K2 & ADM

Supervisor Lingkungan, K2 & ADM

11

2.3 Uraian Tugas Organisasi

Manajer Sektor bertugas melaksanakan fungsi Operatif meliputi diantaranya: a. Memimpin PT. PLN ( Persero ) WKSKT Sektor Barito Banjarmasin dalam melaksanakan pembangkitan dan penyaluran tenaga listrik dari pusat pusat pembangkit ( PLTA, PLTD, PLTG ) ke cabang cabang untuk didistribusikan kepada konsumen tenaga listrik. b. Merumuskan dan melaksanakan kebijakan dalam bidang perencanaan, koordinasi pelaksanaan operasi, pemeliharaan dan lain sebagainya. c. Mewakili PT. PLN ( Persero ) WKSKT Sektor Barito Banjarmasin baik ke luar maupun ke dalam.

Manajer PLTD memiliki beberapa tugas diataranya : a. Menyusun rencana kerja operasi dan pemeliharaan unit pembangkit. b. Mengkoordinir operasi dan pemeliharaan pembangkit sesuai dengan prosedur/ buku manual yang berlaku. c. Meneliti, memeriksa dan mengevaluasi laporan pengoperasian, pemeliharaan dan administrasi sebagai bahan laporan. d. Memantau, mengkoodinasikan dan megendalikan kondisi lingkungan di sekitar pembangkit agar kondusif. e. Melakukan pembinaan terhadap bawahan yang menjadi tanggung jawab dan kewenangannya. f. Melaksanakan peraturan SMM, SML, SMK3 & K2LH.

12

Supervisor Operasi memiliki beberapa tugas diataranya : a. Mengatur dan mengkoordinasikan kegiatan operasi dalam pengoperasian unit pembangkit. b. Memeriksa dan mengatasi kelainan atau gangguan ringan (first line maintenance) unit pembangkit. c. Melaksanakan uji kemampuan (performance) instalasi pembangkit sesuai SOP yang ditetapkan, termasuk performance test emergency diesel generator (EDG). d. Menyaksikan dan mengesahkan hasil pencatatan kWh/ energi yang dibangkitkan/ disalurkan sebagai data perhitugan transfer energi. e. Memeriksa dan menandatangani logsheet sebagai rekaman kegiatan operator unit pembangkit. f. Melaporkan dengan segera kepada atasannya bila terjadi gangguan pada unit pembangkit. g. Membuat laporan pelaksanaan pengoperasian unit pembangkit. h. Melakukan pembinaan terhadap bawahan yang menjadi tanggung jawab dan kewenangannya. i. Melaksanakan peraturan SMM, SML, SMK3 & K2LH.

Supervisor Pemeliharaan memiliki beberapa tugas diataranya : a. Menyusun jadwal pemeliharaan secara rutin dan periodik. b. Mengkoordinir kegiatan pemeliharaan sesuai dengan rencana kerja seksi pemeliharaan. c. Membimbing dan mengarahkan staff seksi pemeliharaan unit pembangkit agar dapat melaksanakan kegiatan dengan baik. d. Memeriksa hasil kerja bawahan untuk kesempurnaan pelaksanaan kegiatan pemeliharaan. e. Mengusulkan kebutuhan material suku cadang dan alat kerja untuk pemeliharaan instalasi pembangkit.

13

f. Menganalisa

penyebab

kerusakan

peralatan

unit

pembangkit

dan

melaporkannya pada atasannya. g. Mengevaluasi hasil kegiatan pemeliharaan unit pembangkit. h. Melakukan pembinaan terhadap bawahan yang menjadi tanggung jawab dan kewenangannya. i. Melaksanakan peraturan SMM, SML, SMK3 & K2LH.

14

2.4 Lay Out Perusahaan Lay Out dari PT. PLN (Persero) Sektor Barito adalah seperti tertera pada :

10 4 8 2 4 11 4 3 12 4 9

7 1 4 6 4

13 4

4 U

Keterangan : 1. 2. 3. 4. Jl.Ir. P. M. Noor Kantor PT. PLN Sektor Barito PLTG Trisakti PLTD Trisakti PT. BJP 6. Gudang Suku Cadang PLTD 7. Bengkel PLTD 8. Kantor / Gardu Induk 70 KV 9. Instalasi Tegangan Tinggi 10. Kantin

S
11. Ruang Pemeliharaan PLTG 12. Kantor PLTG 13. Gardu Induk 150 KV

5.

15

BAB III LANDASAN TEORI 3.1


Bagian-bagian Utama Peralatan Pembangkit pada PLTD Suatu unit PLTD terdiri dari 3 peralatan utama yang akan membangkitkan tenaga listrik, yaitu : 1. Mesin Diesel 2. Generator dan Exiter 3. Alat-alat bantu (Auxilliary). Adapun fungsi dari masing-masing peralatan tersebut adalah : 1. Mesin Diesel Berfungsi untuk merubah energi kimia (bahan bakar) menjadi energi mekanis. Melalui gerak lurus (translasi) pada piston diubah menjadi gerak putas (rotasi) pada poros engkol. 2. Generator dan Exiter Generator berfungsi untuk merubah energi mekanis yang dalam hal ini dihasilkan oleh mesin Diesel menjadi energi listrik. Energi listrik ini timbul akibat adanya medan magnet pada kumparan generator. Kuat medan magnet tersebut tergantung pada besarnya tegangan dan arus searah yang dialirkan pada kumparan rotor yang disebut dengan sistem penguatan (Exitasi). Untuk mengatur penguatan tegangan pada exiter dipasang alat yang disebut Automatic Voltage Regulator (AVR). 3. Alat-alat Bantu (Auxilliary) Agar mesin Diesel dapat beroperasi dengan baik, maka diperlukan seperangkat alat bantu antara lain :

15

16

Pompa Digunakan untuk memompakan bahan bakar, munyak pelumas,

mensirkulasikan air pendingin dan lain-lain. Tangki Yang berfungsi untuk tempat penampungan bahan bakar, minyak pelumas, air pendingin, dan lain-lain. Saringan (Filter) Berfungsi untuk menyaring kotoran dari bahan bakar, minyak pelumasi dan air pendingin agar tidak masuk ke mesin. Kompresor Udara Berfungsi untuk menghasilkan udara bertekanan yang diisikan ke tabung angin (Air Bottle) yang digunakan sebagai udara start, udara kontrol proteksi mesin (Control Air) dan udara proteksi overspeed (Safety Air) Turbo Charger Berfungsi untuk menghisap udara luar sehingga tekanan udara pembakaran naik dan menaikkan daya mesin Battery Berfungsi untuk menyediakan tegangan listrik bagi alat-alat kontrol, relai-relai proteksi dan lain-lain. Heat Exchanger (Alat Penukar Panas) Berfungsi untuk mengeluarkan panas pada sistem pendingin mesin Diesel. Keran (Valve) Berfungsi untuk membuka dan menutup saluran pada sistem yang ada pada mesin Diesel. Panel-panel Kontrol Berfungsi untuk menempatkan alat-alat ukur dan parameter-parameter yang berhubungan dengan mesin dan generator. Peralatan pengaman

17

Berfungsi untuk mengamankan mesin, generator dan trafo tenaga bila terjadi gangguan.

3.2

Bagian-bagian Utama Mesin Diesel

Gambar 1: Peralatan Utama Mesin Diesel

Peralatan utama terdiri dari : 1. Kepala silinder 2. Perangkat katup 3. Perangkat piston 4. Dinding silinder 5. Blok silinder 6. Bantalan utama 7. Poros engkil (crank shaft) 8. Poros bubungan 9. Peredam getaran 10. Dudukan (base plate) 11.

18

3.2.1

Kepala silinder

Gambar 2: Kepala silinder

Fungsi : 1. Sebagai penutup bagian atas silinder 2. Tempat meletakkan peralatan : katup isap dan buang, injektor, rocker arm, ruang bakar mula, katup start, indikator chock. 3. Sebagai ruangan pendingin atau penyerapan panas.

19

3.2.2

Perangkat Katup

Gambar 3. Perangkat Katup

Perangkat katup terdiri dari : 1. Katup isap 2. Katup buang 3. Pegas 4. Rocker arm 5. Pushroad dengan roler

Valve Guide : Berfungsi untuk menjaga gerakan katup agar tegak lurus pada dudukannya. Poros Cam (Camshaft Assy) Berfungsi sebagai pengatur masuknya udara pembakaran, keluarnya gas bekas pembakaran, dan pengatur urutan pembakaran (firing order).

20

3.2.3

Perangkat Piston

Gambar 4. Perangkat piston

Fungsi Piston : 1. Merapatkan ruang silinder dari bagian dalam. 2. Memampatkan udara. 3. Menerima tekanan pembakaran pada saat proses kerja. 4. Meneruskan tekanan pembakaran ke poros engkol melalui batang penghubung (connecting rod). 5. Bagian permukaan piston menyerap panas selama proses berlangsung.

Fungsi Ring Piston : 1. Penyekat ruangan antara piston dan dinding silinder. 2. Mencegah gas pembakaran bertekanan tinggi atau udara masuk ke ruang karter dan minyak pelumas masuk ke ruang bakar. 3. Menyalurkan panas dari piston ke air pendingin melewati dinding silinder.

21

Dilihat dari fungsinya, umumnya ring piston terdiri dari : 1. Top ring. 2. Compression ring. 3. Oil scraper ring. Fungsi batang penghubung (connecting rod) : 1. Memindahkan daya yang dihasilkan diatas piston ke poros engkol. 2. Mengalirkan minyak pelumas ke piston.

3.2.4

Dinding Silinder

Gambar 5. Dinding silinder

22

Fungsi dinding silinder : Sebagai tempat berlangsungnya seluruh proses kerja mesin (isap, kompresi, usaha, buang). Besar kecilnya ruangan pembakaran silinder liner menentukan besar kecilnya daya pada mesin. Silinder liner biasanya dilengkapi dengan ring karet (rubber ring) yang berfungsi untuk perapat air agar air pendingin mesin tidak masuk ke karter.

3.2.5

Poros Engkol (Crank Shaft)

Crang Shaft Asembly, terdiri dari : poros engkol, bantalan utama (main bearing), Counter weight, roda gila (fly wheel), dan penyerap getaran (vibration damper).

Gambar 6. Poros engkol

23

Fungsi poros engkol : 1. Menerima gaya inersia yang tinggi pada puncak tekanan gas diatas piston. 2. Mengubah gerak bolak-balik (translasi) menjadi gerak putar (rotasi). Fungsi bantalan utama (Main Bearing) : Untuk mendukung bagian-bagian yang bergerak sehingga bagian-bagian tersebut tetap berada pada posisi yang diinginkan. Klasifikasi bantalan 1. Bantalan untuk gerak putar (rotary motion) a. Journal bearing yang mendapat beban utama dari perputaran poros. b. Trust bearing (bantalan axial) yang mendapat beban sepanjang poros yang berputar.

2. Bantalan untuk gerak bolak-balik (reciprocating motion) a. Bantalan untuk gerak lurus Contoh : dinding silinder untuk mendukung pergerakan piston. b. Bantalan untuk gerakan tumbukan Contoh : bushing untuk mendukung pin.

Fungsi Counter Weight Untuk mengurangi getaran yang diterima oleh rangka mesin akibat manuver piston dengan gaya sentrifugal poros engkol.

24

Fungsi fly wheel 1. Menerima putaran yang bervariasi selama proses kerja masih berlangsung. 2. Membatasi timbul dan hilangnya penambahan putaran akibat perubahan mendadak. 3. Menyimpan dan menerima tenaga sewaktu langkah kerja dan digunakan pada waktu langkah kosong. 4. Membantu memindahkan putaran pada waktu start. 5. Meletakkan tanda positif top piston untuk setiap silinder.

Fungsi penyerap getaran (Vibration Damper) Untuk menyerap getaran torsional yang diakibatkan oleh gaya ritmik pada piston dan crankshaft 3.2.6 Blok Silinder (Crank Case)

Blok silinder dibuat berupa kerangka yang terdiri dari beberapa ruangan / sekat diantaranya : Ruangan pendingin Ruangan pelumasan Ruangan pernapasan bagian-bagian yang bergerak didalamnya.

Blok silinder untuk mesin besar biasanya terdiri dari 2 bagian yaitu : Blok silinder atas (crank case upper) Blok silinder bawah (crang case lower)

25

Gambar 7. Blok silinder atas mesin diesel

Gambar 8. Blok silinder bawah

26

Fungsi blok silinder Sebagai pendukung / penopang semua bagian-bagian sehingga terbentuk satu mesin yang komplit dan sempurna.

3.2.7

Pompa Injeksi Bahan Bakar dan Injektor

Gambar 9. Pompa injeksi bahan bakar dan injektor

Fungsi pompa injeksi bahan bakar Untuk menginjeksikan (memasukkan dengan tekanan tinggi) bahan bakar yang sudah tersedia menuju ke injektor, kemudian dikabutkan ke silinder pada waktunya.

27

Fungsi injektor Untuk mengabutkan bahan bakar ke ruang bakar agar terjadi pengabutan yang sempurna dan terjadi pembakaran merata pada ruang bakar dalam waktu singkat.

3.3 Prinsip Kerja Mesin Diesel Mesin diesel termasuk jenis mesin pembakaran dalam (Internal Combustion Engine) dimana sumber energinya didapat dari hasil pembakaran bahan bakar didalam silinder. Mesin diesel disebut juga Compressed Ignition Engine (CI-Engine) dimana untuk proses pembakaran bahan bakar didalam silinder tidak memerlukan busi, tetapi cukup dari panas yang timbul akibat kompresi udara didalam silinder. Akibat adanya pembakaran, diruang bakar terjadi kenaikan temperatur dan tekanan sehingga piston terdorong bergerak lurus (translasi) lalu diubah menjadi gerak putar oleh poros engkol. Mesin-mesin PLTD yang ada di PLTD Trisakti PT. PLN (Persero)

Sektor Barito Banjarmasin semuanya memakai sistem proses kerja 4 langkah yaitu untuk mendapatkan 1 kali langkah usaha diperlukan 4 kali langkah piston atau 2 kali putaran poros engkol.

28

Gambar 10. Prinsip kerja mesin Diesel 4 langkah

Langkah-langkah tersebut adalah : A. Langkah Isap Piston bergerak dari TMA ke TMB, katup isap terbuka dan katup buang tertutup, sehingga udara bersih masuk ke dalam silinder.

B. Langkah Kompresi Piston bergerak dari TMB ke TMA, katup isap dan katup buang tertutup, udara dikompresi sehingga tekanan dan temperaturnya naik. Pada akhirnya langkah kompresi bahan bakar diinjeksikan kedalam ruang bakar dan terjadilah pembakaran. C. Langkah Usaha (Expansi) Akibat adanya tekanan yang besar dari gas hasil pembakaran, sedangkan katup isap dan katup buang tertutup, maka piston terdorong bergerak dari TMA ke TMB, melakukan usaha. B. Langkah Buang Katup buang terbuka, katup isap tertutup dan pistion bergerak dari TMB ke TMA dan gas bekas sisa pembakaran terdorong keluar.

29

Proses tersebut berulang secara berurutan selama mesin bekerja. Berdasarkan proses kerjanya, mesin PLTD termasuk jenis motor bakar Compressed Ignition Engine (CI-Engine), dimana proses pembakaran didalam silinder tidak memerlukan busi, tetapi cukup dari panas yang timbul akibat kompresi udara di dalam silinder. 3.4 Generator Jenis generator yang dipakai di PLTD Trisakti Banjarmasin seluruhnya adalah generator AC 3 fasa dengan sistem penguatan Brushless (tanpa sikat arang). 3.4.1 Bagian-bagian Utama Generator Bagian bagian utama generator terdiri dari : 3.4.2 Rotor atau induktor (bagian yang berputar). Stator atau bagian yang di induksi (bagian yang diam). Exiter sebagai penguat medan magnet. Prinsip Kerja Generator

Adapun prinsip kerja generator, jika digambarkan secara sederhana adalah sebagai berikut : Bila suatu kumparan memotong atau dipotong oleh medan magnet, maka pada kumparan tersebut akan timbul listrik. Proses pemotongan medan magnet oleh suatu konduktor dinamakan induksi. Induksi ini akan menghasilkan Gaya Gerak Listrik (GGL) sehingga timbul listrik.

30

Besarnya tegangan listrik yang dihasilkan oleh konduktor yang memotong / dipotong medan magnet tergantung dari beberapa faktor, antara lain : Jumlah (panjang) lilitan konduktor Besar liitan konduktor Kuat medan magnet Kecepatan konduktor memotong / dipotong medan magnet.

3.5 Sistem-sistem Pada PLTD 3.5.1 Sistem Udara Masuk dan Gas Buang A. Fungsi Untuk menyediakan udara yang diperlukan bagi pembakaran bahan bakar, sistem ini dirancang untuk menaikkan effisiensi mesin yang dibuat sedemikian rupa sehingga perbandingan jumlah massa udara yang masuk ke dalam silinder selalu disesuaikan dengan keperluan atau jumlah massa bahan bakar yang akan dibakar. Sistem ini juga berfungsi untuk mengatur udara masuk. B. Jenis Sistem Udara Masuk 1. Sistem Alami (Natural) Yaitu udara masuk ke ruang bakar karena adanya penurunan tekanan didalam silinder yang diakibatkan oleh pergerakan piston ke bawah. 2. Sistem Paksa atau Tekan Yaitu udara yang masuk kedalam silinder jumlahnya dinaikkan / diperbanyak dengan bantuan turbo charger.

31

C. Cara Kerja Sistem Udara Masuk dan Gas Buang Udara luar masuk ke ruang bakar karena di hisap oleh blower, dimana sebelum masuk keruang bakar udara ini disaring oleh filter udara, selanjutnya melalui saluran masuk udara didinginkan dengan inter cooler dan udara ini akan masuk ke ruang bakar melalui katup masuk. Setelah masuk ke ruang bakar udara ini akan bercampur dengan bahan bakar dan digunakan untuk proses pembakaran. Gas buang hasil pembakaran dari ruang bakar dikeluarkan melalui katup buang. Sebelum keluar ke udara luar, energi panas dari gas turbo charger yang satu poros dengan sisi kompressor, sehingga kompressor / blower ikut berputar dan menghisap udara luar. 3.5.2 Sistem Bahan Bakar Seperti diketahui bahwa bahan bakar minyak diperlukan sebagai sumber energi bagi mesin Diesel. Untuk keperluan penyaluran bahan bakar tersebut sampai keruang bakar dengan suatu kondisi tertentu diperlukan suatu sistem bahan bakar. Fungsi Sistem Bahan Bakar 1. Mengatomkan atau mengabutkan bahan bakar supaya mudah bercampur merata dengan udara supaya mudah terbakar. 2. Mengatur jumlah bahan bakar yang sama pada setiap pemasukan disetiap silinder pada setiap kebutuhan sehingga tenaga (power) setiap silinder adalah sama. 3. Mengatur saat mulai penyemprotan dan lamanya penyemprotan. 3.5.3 Sistem Pelumas Fungsi dari pelumas adalah sebagai berikut :

32

1. Sealing, yaitu sebagai penyekat antara dia benda yang saling bersentuhan dan saling bergerak atau salah satunya benda tersebut bergerak dengan maksud mengurangi atau menghilangkan gesekan yang terjadi. 2. Lubricating, yaitu sebagai pelumas atau pelicin supaya benda bergerak dengan lisin sehingga pergerakannya mudah. 3. Cooling, yaitu sebagai media pendingin. 4. Cleaning, yaitu sebagai pembawa kotoran dari bagian-bagian mesin yang dialiri minyak pelumas. 5. Anti Korosi, yaitu untuk melindungi logam dari kontak langsung dengan udara agar terlindung dari korosi. 6. Peredam Suara, yaitu mengurangi suara benturan antara dua logam yang bergesekan, seperti pada roda gigi. Cara pemakaian bahan pelumas yaitu : Dioleskan Dipercikan Direndam Dialirkan dengan tekanan

Dalam sistem pelumas mesin Diesel berukuran sedang maupun besar adalah dengan cara dialirkan dengan tekanan dengan persyaratan : a. Minyak pelumas harus bertekanan dan mempunyai jumlah massa yang tertentu. b. Jangkauan aliran yang bertekanan harus sampai kepada benda yang dilumasi. c. Dalam sistem tertutup. d. Dapat didinginkan. e. Dapat dibersihkan (filter dan separator).

33

3.5.4 Sistem Pendingin A. Fungsi Pendinginan Fungsi sistem air pendingin atau pendinginan adalah berguna untuk mengambil sebagian panas dari dari bagian-bagian tertentu di mesin. Panas yang menyebabkan temperatur tinggi tersebut disebabkan oleh pembakaran bahan bakar di ruang bakar. Untuk menjaga agar pada bagian-bagian tadi tidak terjadi beban panas berlebih dan beban mekanik berlebih yang mengakibatkan toleransi serta pelumasan tidak berfungsi sebagaimana mestinya. B. Syarat-syarat Pendinginan Dapat mengambil panas sebanyak jumlah tertentu dari mesin diesel sesuai dengan yang ditentukan. Jadi aliran atau volume air yang dialirkan harus tertentu. Tidak dipaksakan pengambilan panasnya, atau tidak sekaligus seketika tapi harus terus menerus secara kontinyu. Temperatur air pendingin masuk bisa diatur (sedikit variasi) disesuaikan dengan kondisi yang ada. Pada mesin PLTD sedang maupun besar, sistem pendingin yang dipakai adalah sistem sirkulasi tertutup dan dikelompokan menjadi 3 bagia, yaitu : 1. Raw Water System Berfungsi untuk mendinginkan udara masuk, minyak pelumas, bahan bakar dan mendinginkan air pendingin jacket pada sistem cooling tower. Sedangkan raw water sendiri didinginkan dengan radiator atau cooling water.

34

2. Jacket Cooling Water System Berfungsi untuk mendinginkan blok silinder, silinder liner dan exhaust valve housing. Air yang digunakan adalah air murni dengan kandungan khlorida dan sulfat yang rendah, kekerasan (hardness) rendah dan dicampur dengan suatu reagen anti karat. Air jacket didinginkan oleh radiator atau raw water. 3. Injector Cooling Water System Berfungsi untuk mendinginkan injector yang panas akibat panas pembakaran diruang bakar. Sebelum dialirkan ke injector air ini bukan didinginkan, melainkan dipanaskan hingga mencapai temperatur tertentu oleh heather pemanas. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah thermal stress pada injector yang sangat panas. 3.5.5. Sistem Start / Udara Bertekanan Sistem start dengan udara ini adalah yang paling banyak digunakan pada PLTD ukuran sedang maupun besar di PLN. A. Fungsi Udara Bertekanan 1. Untuk menstart / menghidupkan mesin, yaitu dengan cara memasukkan udara bertekanan kedalam silinder (ruang bakar) supaya piston tertekan kebawah sehingga crank shaft berputar dan terjadi kompresi diruang bakar, dan jika bahan bakar di injeksikan ke ruang bakar tersebut akan terbakar. Karena proses ini berurutan sesuai firing ordernya maka secara mekanisme kerja mesin dengan semestinya. 2. Untuk keperluan sistem pneumatik. 3. untuk keperluan PLTD seperti membersihkan peralatan dan lain-lain. B. Syarat-syarat Udara Bertekanan 1. Tekanan udara mencukupi (minimal 20 bar dan maksimal 30 bar) 2. Volume udara mencukupi, sesuai dengan volume ruang bakar yang perlu diisi oleh udara bertekanan tersebut.

35

3. Udara bertekanan tersebut harus sedikit mungkin mengandung air kondensat karena sangan membahayakan mesin serta peralatan lainnya. 3.5.6. Sistem Kontrol dan Proteksi Tujuan dari proteksi pada suatu PLTD adalah agar mesin dan perlengkapannya tidak mengalami kerusakan yang fatal bila terjadi gangguan. Proteksi pengaman ini dibagi 3 yaitu : 1. Peralatan pengaman mesin antara lain : Proteksi temperatur untuk air pendingin, minyak pelumas, gas buang, main bearing dan lain-lain. Bila terjadi gangguan, proteksi ini akan memberikan sinyal alarm ataupun trip. Proteksi tekanan, untuk mengamankan tekanan lebih atau tekanan kurang pada air pendingin, bahan bakar, minyak pelumas dan lainlain. Bila terjadi gangguan pada tekanan maka proteksi tekanan akan memberikan sinyal alarm ataupun trip. Proteksi getaran, untuk mengamankan mesin bila terjadi getaran yang membahayakan mesin. Bila ada kenaikan getaran akan memberikan sinyal alarm ataupun trip. Proteksi over speed, untuk mengamankan mesin bila mesin mengalami over speed. Untuk pengaman over speed tidak didahului dengan alarm tetapi langsung trip.

2. Pengaman Generator Tujuannya adalah untuk menjaga agar generator tidak mengalami kerusakan akibat adanya gangguan baik yang berasal dari dalam generator itu sendiri ataupun gangguan yang berasal dari luar generator.

36

Untuk generator yang modern dilengkapi beberapa pengaman antara lain : a. Over Current Relay (pengaman arus lebih) b. Over Voltage Relay (pengaman tegangan lebih) c. Under Voltage Relay (pengaman tegangan rendah) d. Differential Relay (pengaman perbedaan tegangan) e. Reverse Power Relay (pengaman daya kembali) f. Rotor Eart Fault Relay (pengaman rotor hubung tanah) g. Stator Eart Fault Relay (pengaman stator hubung tanah) h. Loss of Excitation Relay (pengaman hilang excitasi) i. Winding Temperature Relay (pengaman temperatur winding) 3. Pengaman Trafo Daya untuk PLTD a. Over Current Relay (pengaman arus lebih) b. Differential Relay (pengaman perbedaan tegangan) c. Winding Temperature Relay (pengaman temperatur winding) d. Oil temperature Relay (pengaman temperatur minyak) e. Buchol Relay (pengaman bila terjadi hubungan pendek dari dalam trafo) f. Over Pressure (pengaman trafo bila terjadi tekanan lebih didalam trafo). Proteksi pada mesin PLTD pada prinsipnya ada 2 tingkatan, yaitu : 1. Peringatan Sinyal Alarm, bertujuan untuk memberi tanda peringatan bahwa ada sesuatu yang tidak normal pada mesin, sehingga operator dapat segera mengambil tindakan pengamanan dan penormalan kembali. 2. Proteksi Trip, bertujuan untuk mematikan mesin secara otomatis apabila pada mesin terjadi penyimpangan operasi. Berikut ini adalah tabel data setting pengaman pada mesin merk SWD type 16 TM 410 R yang ada di PLTD Trisakti Banjarmasin.

37

Tabel 1. Data Setting Pengaman Pada Mesin SWD 16 TM 410 R PLTD Trisakti

A. TEKANAN No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Uraian Lube Oil Pressure J.C.W Pressure I.C.W Pressure F.O Pressure Valve Gear / Sealing Inj. Pump Starting Air Pressure Safety Air Pressure Control Air Pressure Turning Gear Engaged Normal 5,0 6,0 2,4 2,5 4,0 4,0 5,0 3,0 20 30 12 6 Alarm 4,3 1,7 2,0 3,5 2,5 18 11 5 4,3 Trip 3,5 1,5 Stn Bar Bar Bar Bar Bar Bar Bar Bar Bar

B. TEMPERATUR No 1 2 3 4 5 6 7 Uraian Lube Oil Temp. J.C.W Temp. I.C.W Temp. Main Bearing Temp. Alternator Bearing Temp. Stator Winding Temp. Charge Air Eng. Inlet Temp. Normal 55 88 90 75 70 75 60 Alarm 63 98 103 93 90 120 68 Trip 73 100 96 95 130 Stn C C C C C C C

38

C. PROTEKSI ELEKTRIK No 1 2 3 4 Uraian Mechanical Over Speed Electrical Over Speed DC Power 110 V DC Power 24 V Normal 600 600 110 24 Alarm 80 18 Trip 670 660 Stn Rpm Rpm Volt Volt

3.5.7. Panel Kontrol PLTD Panel kontrol pada suatu PLTD, dibagi dalam 3 bagian utama yang saling terhubung dan saling mendukung, yaitu : 1. Diesel Control Panel Pada panel ini terpasang alat-alat pendeteksi, proteksi dan panel kontrol yang memonitor kondisi dan bagian-bagian mesin itu sendiri. 2. Generator Control Panel Pada panel ini terpasang peralatan kontrol berupa parameter-parameter ukur, relay-relay proteksi / pengaman, sistem sinkronisasi dan semua peralatan yang berhubungan dengan generator. 3. Auxiliary Control Panel Pada panel ini terpasang peralatan sensor, proteksi dan kontrol semua peralatan alat bantu yang merupakan pendukung beroperasinya mesin pembangkit.

39

BAB IV CARA PENGOPERASIAN DAN PEMELIHARAAN PLTD SWD TYPE 16 TM 410 R

4.1. Spesifikasi Mesin Data utama mesin SWD 16 TM 410 R yang ada di PLTD Trisakti Banjarmasin adalah sebagai berikut : Merk Type / Tahun Test Diameter Silinder Panjang Langkah Jumlah Silinder Susunan Silinder Jumlah Turbo Charger Daya Output Putaran Nominal : SWD (STORK-WARTSILA DIESEL) : 16 TM 410 R / 1996 : 410 mm : 470 mm : 16 : V :2 : 9010 KW : 600 RPM

39

40

4.2. Klasifikasi PLTD PLTD yang ada di wilayah kerja PT. PLN (Persero) Sektor Barito bukan hanya PLTD besar saja, masih banyak PLTD kecil hingga saat ini masih dioperasikan seperti yang ada di daerah Benua Lima dan daerah-daerah yang belum terjangkau jaringan interkoneksi. Klasifikasi PLTD di PT. PLN (Persero) didasarkan atas daya yang dihasilkan per-Satuan Pembangkit Diesel (SPD) yaitu: No 1 2 3 4 KELAS SPD PLTD BAKAL PLTD KECIL PLTD SEDANG PLTD BESAR DAYA (KW) 0 100 250 1000 2500 8000 12000 Keatas

Tabel 2. Klasifikasi PLTD

4.3. Pola Pengoperasian Dalam menunjang perusahaan yang optimal guna menghasilkan energi listrik yang handal, maka perlu dibuat suatu pola pengoperasian dari unit pembangkit yang ada. Penyusunan pola operasi didasarkan pada daya mampu setiap unit pembangkit, jam kerja mesin, variasi beban yang meliputi beban sistem interkoneksi yang dipikul pembangkit. Pola operasi di PLN Sektor Barito ditentukan oleh Unit Pengatur Beban (UPB), dan pola operasi ini disusun untuk hari keja biasa dan hari libur. Hal ini dikarenakan beban konsumen antara hari kerja biasa dan hari libur adalah berbeda. Dengan adanya pembangkit berkapasitas besar seperti PLTU Asam-asam, maka pada saat ini PLTD sudah bukan merupakan pembangkit listrik utama di wilayah Kalsel dan Kalteng. Oleh karena itu pola pembebanan yang dibuat opeh UPB untuk PLTD adalah mengikuti fluktuasi beban yang senantiasa berubah-ubah (mengikuti naik turunnya frequensi sistem) karena untuk PLTU Asam-asam bebannya dibuat tetap. Dengan kata lain, PLTD baru dioperasikan jika dibutuhkan (frequensi sistem turun, beban naik).

41

Didalam penyusunan rencana operasi ini yang juga harus diperhatikan adalah kondisi setiap unit pembangkit sehingga nantinya unit pembangkit tidak mengalami pembebanan yang melebihi daya mampunya yang pada akhirnya akan mengganggu kehandalan dari sistem pembangkit. 4.4. Prosedur Pengoperasian Pengoperasian PLTD di PT. PLN (Persero) Sektor Barito dilakukan atas dasar instruktur kerja operasi yang dibuat oleh manajemen. Instruksi kerja ini disusun berdasarkan manual book atau S.O.P (Standing Operation Prosedur) yang diterbitkan oleh pabrik pembuat mesin yang bertujuan untuk menghindari kesalahan-kesalahan yang bisa berakibat fatal baik terhadap mesin maupun operatornya sendiri sehingga mesin dapat beroperasi dengan lancar dan aman. Berikut ini adalah instruksi kerja atau S.O.P pengoperasian mesin merk SWD Type 16 TM 410 R :

4.4.1 Persiapan Awal Sebelum Start Mesin


1. Lakukan pemeriksaan dan pengecekan level level minyak pelumas / oli dan melakukan penambahan bila di perlukan pada : Governor Turbo charger Air compressor Carter / sump tank Separator

2. Lakukan pemeriksaan dan pengecekkan level level air pendingin dan melakukan penambahan bila di perlukan pada : Jacket cooling water tank Injector cooling water tank

42

3. Lakukan pemeriksaan dan pengecekkan posisi katup / kran, saklar pada peralatan bantu / sistem : Pelumasan Pendinginan Bahan bakar Udara start (30 bar) Udara proteksi (12 bar, 6 bar) Power supply electrical proteksi (DC / AC) Air compressor Separator yainkan bahwa semua dalam kondisi normal operasi dan lakukan pembetulan bila dianggap perlu. 4. Lakukan pemeriksaan dan pengecekkan lampu lampu indikator pada panel euxiliary dan nanti bila bola lampunya putus. 5. Lakukan pemeriksaan dan pengecekkan sistem proteksi yang meliputi : Power supply AC / DC Tombol emergency stop Oil mist detector Over speed Peralatan APAR Yakinkan bahwa CB generator posisi OFF

4.4.2 Mengoperasikan Alat Bantu Untuk Persiapan Star 1. Operasikan lube oil separator minimum 2 (dua) jam sebelum mesin start 2. Buka indicator vent cock 3. Hidupkan (ON) lube oil priming pump dan periksa tekanannya 5-6 bar

43

4. Hidupkan (ON) jacket cooling water pump dan periksa tekanannya 5-6 bar 5. Hidupkan (ON) injector cooling water pump dan periksa tekanannya 3-4 bar 6. Masukkan / angged turning gear dan putar crank shaft dengan turning gear minimum 2 (dua) kali putaran, perhatikankran indicator vent cock masing masing cylinder Jika ada cairan yang keluar dari indikator vent cock yaitu (cairan) air atau solar maka proses persiapan start harus dihentikan karena di dalam ruang cylinder terjadi kelainan ( mesin tidak layak operasi). Lakukan koordinasi dengan bidang terkait untuk mencari penyebab kelainan maupun upaya penanggulangannya Jika tidak ada cairan atau hal lain yang mencurigakan maka proses persiapan start dapat dilanjutkan 7. Lepaskan (OFF) / disangged turning gear dan yakinkan bahwa posisi turning gear benar benar free atau bebas dari fly wheel 8. Tutup indicator vent cock 9. Hidupkan (ON) fuel oil pump dan periksa tekanannya 10. Hidupkan (ON) semua radiator fan 11. Hidupkan (ON) fuel oil separator 12. Hidupkan (ON) engine valve lub oil pump 13. Hidupkan (ON) cylinder liner lum oil pump 14. Atur posisi air intake filter ke ON 15. Yakinkan bahwa semua sistem dalam kondisi normal semua kegiatan terdata pada lembar kerja check list operasional mesin

44

4.4.3 Start Mesin 1. Buka kran udara start bertekanan 30 bar pada tabung udara 2. Start melalui tombol start dilokal engine panel 3. Setelah engine running atur RPM pada speed (50-70%) dan tunggu lebih kurang 15 menit agar mesin menyesuaikan diri terhadap perubahan sistem pelumasan, sistem

temperatur, lakukan pemeriksaan pada

pendingin, sistem bahan bakar, yang meliputi temperatur, tekanan, suara, getaran, dan lakukan pemeriksaan hasil pembakaran melalui indicator vent cock jika terdapat kelainan mesin segera di stop untuk pemeriksaan lebih lanjut, dan jika kondisi normal lanjutkan 4. Naikkan RPM hingga normal speed (600 rpm) dan lakukan pemeriksaan menyeluruh yang meliputi temperatur, tekanan, suara, getaran maupun kebocoran jika ada diperbaiki 5. Jika semua kondisi normal lanjutkan

4.4.4 PARALLEL GENERATOR 1. Atur CB exitasi keposisi ON 2. Atur switch syncronscope generator keposisi yang diperlukan 3. Atur tegangan generator 6,3 KV 4. Atur frequensi 50 HZ 5. Perhatikan putaran jarum syncronscope berputar searah jarum jam secara perlahan dan lancar 6. Sesaat jarum syncronscope mendekati jam 12 masukkan dan lampu mati CB generator dimasukkan 7. Atur switch syncronscope keposisi OFF 8. atur beban mesin secara bertahap dengan memperhatikan tegangan dan frequensi maupun cos Q

45

9. Perhatikan bahwa untuk penambahan beban lebih baik 25% dari daya mampu mesin, dengan tetap memperhatikan kondisi operasional mesin akibat adanya perubahan / penambahan beban. 10. Selalu perhatikan perubahan tegangan dan frequensi atur sebagaimana mestinya

4.4.5 Pemeriksaan Terhadap Kondisi Mesin Yang Sedang Beroperasi 1. Lakukan pemeriksaan dan pencatatan semua parameter operasi yang meliputi tekanan, temperatur, getaran, suara, bau, dan lampu kontrol. 2. Mengamati dan memeriksa perbedaan tekanan dan temperatur pada sistem pelumasan, sistem air pendingin, sistem bahan bakar dan lakukan tindakan preventif bilamana terdapat gejala kelainan yang dapat membahayakan mesin pembangkit. 3. Melakukan pencatatan semua parameter operasi secara berkala kedalam log sheet untuk dijadikan bahan evaluasi lebih lanjut. 4. Yakinkan bahwa kondisi operasional mesin pembangkit dan sekitarnya menjamin keselamatan SDM dan peralatan serta mengambil tindakan pengamanan apabila ada gejala yang dapat mengganggu keselamatan dan kelancaran operasional mesin pembangkit

46

4.4.6 STOP MESIN PEMBANGKIT A. Stop MesinKondisi Normal. 1. Turunkan beban mesin secara perlahan dan bertahap yang diikuti dengan pengaturan tegangan maupun frequensi. 2. Setelah beban mendekati nol lebih kurang 100 KW CB generator dapat dilepas (OFF). 3. Lepaskan (OFF) CB Exitasi. 4. Turunkan putaran mesin keposisi idle speed dan tunggu lebih kurang 15 menit untuk penyesuaian. 5. Stop mesin dan lakukan after cooling selama kurang lebih 15 menit. 6. Stop fuel oil pump. 7. Setelah 15 menit stop semua peralatan bantu (after cooling selesai).

B. Stop MesinKondisi Emergency. Dalam kondisi emergency mesin harus di stop untuk menghindari kerusakan yang lebih fatal. Langkah kerja yang perlu diambil diantaranya : a) Pindahkan beban mesin ke mesin yang lain bila mesin berbeban. b) Stop mesin dengan emergency stop. c) Lakukan pemeriksaan apa yang menyebabkan mesin di stop emergency.

4.4.7 Pembuatan Laporan 1. Hasil pelaksanaan pengoperasian mesin pembangkit harus ditulis didalam lembar laporan sebagaimana format yang tersedia (check list & log sheet) 2. Data-data pengusaan yang meliputi produksi KWH. Pemakaian bahan bakar minyak, pemakaian minyak pelumas jam kerja, jam start dan jam stop harus ditulis dengan jelas.

47

3. Jika ada penyimpangan yang terjadi selama operasi harus dilaporkan dan ditulis dengan jelas pada laporan harian PLTD sehingga dapat dijadikan bahan evaluasi untuk penanganan lebih lanjut.

4.4.8 Pemeliharaan Mesin Check list P-0 mekanik, pemeliharaan mesin pemangkit Barito PLTD Trisakti Banjarmasin meliputi: 1. Cylinder Head Periksa Pipa pelumas rocker arm Periksa Distributir roker arm Periksa needle bearing rocker arm Periksa kebocoran di injector Periksa dan perbaiki klem pipa high pressure Periksa dan perbaiki kebocoran intake manifold Periksa dan Perbaiki kebocoran udara start/indicator chock Periksa dan perbaiki kebocoran pipa overflow

2. Injection Pump Periksa dan perbaiki kebocoran bahan bakar Periksa dan perbaiki kebocoran pelumas Periksa dan perbaiki rack bahan bakar

3. Governor Periksa dan tambah level pelumas Periksa dan perbaiki rack Periksa dan perbaiki socket

4. Block Mesin Periksa Dexel Periksa dan perbaiki baut pondasi

5. Turbocharger Periksa dan tambah level oli

48

Periksa warna oli Periksa getaran Periksa suara Periksa filter air intake Periksa band air intake Periksa conpensator air turbo Periksa casing turbocharge

6. Intercooler Periksa dan perbaiki kebocoran udara Periksa,tambah dan perbaiki kebocoran Jacket Colling Water (JCW) Periksa,tambah dan perbaiki kebocoran CACW/ICW Periksa,tambah dan perbaiki kebocoran Lube Oil Periksa,tambah dan perbaiki kebocoran FO Periksa,tambah dan perbaiki kebocoran Lube Oil Cylinder Liner pump Periksa level pelumas Periksa getaran Periksa dan bersihkan kebersihan Periksa dan bersihkan kebisingan Periksa level filter AP Periksa dan perbaiki element radiator

7. Separator Periksa dan perbaiki getaran Periksa,tambah dan bersihkan level pelumas Periksa dan bersihkan filter Periksa dan perbaiki motor ppompa Periksa dan perbaiki kebisingan Periksa dan perbaiki three way valve

49

Periksa dan tambah level water flushing

8. Kompressor Periksa dan perbaiki getaran Periksa dan perbaiki level pelumas Periksa dan perbaiki kebocoran Periksa dan perbaiki klem pemipaan Periksa dan perbaiki baut pondasi Periksa dan bersihkan drain regulator Periksa dan bersihkan drain tabung-tabung udara Periksa dan perbaiki radiator.

50

BAB V PENUTUP

5.1. Kesimpulan Sistem pengoperasian suatu mesin PLTD tidaklah sama dengan mesin lain seperti mesin kendaraan misalnya. Hal ini dikarenakan mesin-mesin PLTD umumnya ukuran dan kapasitasnya lebih besar sehingga didalam

pengoperasiannya diperlukan pedoman dan prosedur yang baku agar terhundar dari kesalahan-kesalahan yang mungkin dapat berakibat fatal. Dalam sistem mesin PLTD diuraikan tentang sistem-sistem yang ada pada mesin, sistem operasi dan sistem pemeliharaannya yang tentunya sangat penting untuk diketahui dan harus dilaksanakan karena hal itu sangat penting bagi kehandalan dan menentukan umur mesin. Dalam pengoperasian PLTD yang haris diperhatikan diantaranya adalah cara dan pola operasinya, prosedur dan langkah, batas aman operasi dan jam kerja mesin yang merupakan dasar pelaksanaan pemeliharaan. Data-data yang diperoleh dalam pengoperasian PLTD harus di masukkan kedalam data tertulis sebagai bentuk pertanggungjawaban operasi dan sebagai perbandingan terhadap kondisi mesin untuk jangka waktu tertentu.

5.2. Saran-saran Dari hasil pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan selama lebih kurang 2 (dua) bulan, maka penulis dapat memberikan saran saran, yaitu : 1. Dalam pengoperasian mesin-mesin PLTD, hendaknya selalu memperhatikan dan menjaga batas aman operasi dan apabila ada kekurangan dan gangguan supaya dikoordinasikan dan diatasi bersama-sama.

50

51

2. Pada teknisi pemeliharaan dan para operator hendaknya selalu terjalin hubungan timbal balik dan saling bekerja sama agar dapat menjaga kondisi dan kehandalan mesin pembangkit demi tercapainya hasil produksi tenaga listrik yang optimal. 3. Perhatikan tentang keselamatan dan kesehatan kerja (K3), baik penggunaan alat-alat pelindung, pencahayaan ruangan, papan-papan peringatan dan lainlain sesuai dengan peraturan K3. 4. Dalam pelaksanaan Praktek Kerja Lapangan hendaknya pembimbing praktek dari pihak PLN lebih aktif agar diperoleh hasil yang maksimal bagi mahasiswa. 5. Untuk Politeknik Negeri Banjarmasin, materi tentang teori Diesel sebaiknya sudah diberikan sebelum pelaksanaan PKL agar mahasiswa memiliki bekal dan tidak merasa asing lagi ketika menghadapi mesin-mesin PLTD.

52

DAFTAR PUSTAKA

Diklat Profesi Pembangkitan. 2009. Pengoperasian PLTD Besar. PT. PLN (Persero). Jakarta Jasa Pendidikan dan Pelatihan. 1997. Pengoperasian PLTD 1 MW. PT. PLN (persero). Jakarta Jasa Pendidikan dan Pelatihan. 2001. Teknik Diesel. PT. PLN (persero). Bogor Sustrisno. 2004. Pengoperasian PLTD merk SWD Type 16 TM 410 R. Departemen Pendidikan Nasional Politeknik Negeri Banjarmasin Jurusan Teknik Mesin. Banjarmasin