Anda di halaman 1dari 51

MASALAH-MASALAH KEANGGOTAAN DALAM ORGANISASI INTERNASIONAL

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Hukum Organisasi Internasional dan Regional Disusun oleh! I"hsan Sur#o $raramadhani %&&'(')*''*+ Khalid ,aru-i %&&'('.('.(+ M /isma A0i#oga %'1'(.*''2(+

,akultas Hukum 3ni4ersitas Indonesia *'&2

$enerimaan dan Dimulain#a Keanggotaan Penerimaan Keanggotaan Satu elemen yang sama-sama dimiliki oleh seluruh organisasi internasional adalah anggota. Di sebagian besar organisasi, hanya negara yang dapat menjadi anggotanya. Namun terdapat kecenderungan peningkatan organisasi internasional yang menjadi anggota dari organisasi internasional lainnya, seperti Uni Eropa. Negara anggota memiliki dua peranan dalam organisasi internasional, yaitu peran internal dan eksternal. Peran internal terkait dengan penempatan dan ungsi dari negara anggota di dalam badan eksekuti atau badan nonpleno dari suatu organisasi internasional. Negara-negara yang menjadi anggota dari badan-badan tersebut bertindak atas nama seluruh anggota dari organisasi internasional tersebut. !leh karenanya, konstitusi dari organisasi-organisasi internasional yang uni"ersal menyatakan pengaturan yang mengharuskan adanya representasi yang mencakup seluruh area geogra is di seluruh dunia dalam badan-badan nonpleno. Pada praktiknya, sebagai contoh, anggota tidak tetap dari D# P$$ kadang-kadang mendasarkan tindakannya bukan hanya atas kepentingannya semata melainkan juga mencakup kepentingan dari regionnya.1 Sedangkan peran eksternal, terkait dengan negara yang berkedudukan sebagai rekan kerja dari organisasi internasional. Dalam hal ini, negara-negara anggota organisasi internasional dihadapkan pada keputusan-keputusan yang memiliki dampak, baik langsung maupun tidak langsung terkait pelaksanaan kebijakan organisasi, dan mereka haruslah menghormati keputusan organisasi yang tentu akan berimplikasi dengan adanya konsekuensi hukum. Pembedaan antara peran internal dan eksternal dari negara anggota dalam organisasi internasional tidaklah selalu mudah, %alaupun perbedaan yang ada bersi at mendasar dan bisa jadi memiliki konsekuensi hukum yang penting. &anya ada pada peran internal saja, para negara anggota bekerja sama sesuai dengan kerangka kerja dari sebuah badan, dan %ajib menghormati aturan internal dari organisasi internasional tersebut. Salah satu contohnya terkait dengan upaya
1

&enry '. Schemers, Niels (. $lokker, International Institutional Law, )i th *e"ised +ersion, ,-eiden. (artinus Nijho Publishers, /0111, h. 2/-23.

pembatalan keputusan #onsili European Community oleh Parlemen ,European Community1 terkait pemberian bantuan atas siklon yang terjadi di $angladesh, karena berdasarkan aturan dalam pasal /03 4raktat European 5ommunity ,sekarang pasal 313-316 Treaty on the Functioning of the European Union1 secara prosedural harus melibatkan Parlemen ,European Community1, akan tetapi ditolak oleh Court of Justice karena tindakan pemberian bantuan tersebut dikategorikan sebagai tindakan negara-negara anggota, bukan #onsili ,berdasarkan interpretasi substanti 1./ 4erkait dengan tingkat partisipasinya dalam organisasi internasional, akan dibedakan lima macam anggota, yaitu sebagai berikut. - 7nggota Penuh Subjek keanggotaan penuh: Negara Negara adalah anggota terpenting dalam organisasi internasional. $anyak konstitusi organisasi internasional yang menekankan pentingnya syarat de facto dan de jure dipenuhi sebuah negara sebagai syarat keanggotaan3. Secara umum, tidak ada perbedaan pendapat mengenai syarat ini. 7kan tetapi, di era 1820-1890an, permasalahan negara mikro yang menjadi anggota organisasi internasional mengemuka 6. &al ini menjadi masalah karena tiga hal. ,11 Negara-negara tersebut tidak dapat dikategorikan sebagai negara ,yang menjadi subjek hukum internasional1: ,/1 Signi ikansi keanggotaan negara-negara tersebut tidak jelas: ,31 #eanggotaan negara-negara tersebut menyebabkan disproporsionalitas pada "oting yang menggunakan prinsip one state one !ote" Di sisi lain, dengan keanggotaan negara-negara tersebut, memberikan keuntungan

/ 3

I#id" Seperti yang dinyatakan pada artikel 3 dan 6 U$ Charter, pasal 6 %tatute of the Council of Europe, pasal 6 &rgani'ation of (merican %tates, dan pasal 6 &rgani'ation of (frican Unity 6 I#id") h. 2;-22.

antara lain sebagai bukti kemerdekaan ,secara de jure1 dan instrumen yang menjamin kemerdekaan atas agresi eksternal. Upaya untuk menyelesaikan masalah ini sebenarnya sudah dilakukan oleh D# P$$ dengan membentuk #omite #husus Negara (ikro pada 1828. 7kan tetapi, sejak badan tersebut terakhir akti pada 7pril 1891 hingga saat ini, permasalahan ,keanggotaan1 negara mikro belum terselesaikan. Sehingga, sampai dengan saat ini, organisasiorganisasi internasional masih perlu mencari solusi terkait prinsip persamaan kedaulatan dari anggota dan one state one !ote dengan perbedaan si at ,de facto dan de jure1 dari negara anggota dalam masalah penerimaan anggota ini;. <ilayah yang belum= tidak merdeka 7da beberapa organisasi internasional yang memiliki anggota penuh yang bukan hanya berasal dari negara ,merdeka1, melainkan juga mencakup %ilayah yang belum merdeka. >ni terlihat dari konstitusi organisasi-organisasi negara lain yang membedakan keanggotaan secara tegas berdasarkan bentuk negaranya, dan memberikan kesempatan bergabung bagi %ilayah yang belum= tidak merdeka sebagai anggota. Pada prinsipnya, bagian dari suatu negara tak dapat menjadi pihak independen ,lepas dari negara induknya1 dari traktat yang membentuk konstitusi organisasi internasional. 4imbullah pertanyaan, apakah dapat dibenarkan menerima %ilayah tersebut sebagai anggota penuh? 4erdapat contoh dari UPU dan >4U yang dahulu ,sekarang keanggotaan tersebut dihapus1 memungkinkan menerima %ilayah nonotonom ,seperti teritorial Portugis di 7 rika 4imur12. Penerimaan ini dimaksudkan untuk memberikan negara induk @ yang secara penuh menentukan suara dari koloninya @ kekuatan suara yang lebih. $agi teritorial nonotonom, keanggotaan ini penting terkait dengan kemampuan
; 2

I#id" I#id, h. 90.

mereka secara otonom mengelola ungsi- ungsi publik yang spesi ik ,UPU untuk layanan pos dan >4U untuk layanan telekomunikasi1, namun tidak mampu melakukan hubungan internasional secara umum. 5ontoh lain, <(! ,organisasi terkait meteorologis internasional1 yang memberikan keanggotaan ,pada %ilayah nonotonom1, akan tetapi membatasi hak-hak mereka hanya pada hal-hal meteorologis saja, tidak pada hal-hal terkait penambahan keanggotaan atau pengubahan konstitusi9. Selain alasan teknis, juga terdapat alasan psikologis berupa kesamaan rasa sebagaimana pada kasus penerimaan keanggotaan Palestina ,yang direpresentasikan P-!1 pada -iga 7rabA. Seiring dengan %aktu, keanggotaan %ilayah nonotonom berkurang karena makin banyak dari mereka yang telah merdeka. 7kan tetapi, jika masih ada permasalahan penerimaan %ilayah-%ilayah ini, penerimaan keanggotaan dengan pemberian hak terbatas akan menjadi lebih tepat. <alaupun, tetap sulit memutuskan keanggotaan mereka menjadi anggota penuh. #elompok negara Pada dasarnya, dimungkinkan bagi negara-negara bergabung menjadi sebuah kelompok ,hanya dalam satu organisasi internasional tertentu1, dan kelompok tersebut menjadi anggota suatu organisasi internasional. #eanggotaan mereka bisa didasarkan alasan teknis ,keperluan dalam kontrak, sebagaimana dahulu pada !rganisasi #opi >nternasional81 maupun kapabilitas ,ada negara yang tidak mampu memenuhi persyaratan= kondisi yang ditentukan oleh suatu organisasi internasional1. Dengan adanya keanggotaan dari kelompok negara, ini bisa memenuhi internasional. !rganisasi internasional
9 A

ungsi di

antara keanggotaan

negara dan organisasi

I#id) h. 90-91. I#id) h. 29. 8 I#id) h. 91.

Secara umum, dimungkinkan organisasi-organisasi internasional untuk mengambil peran dalam organisasi internasional yang lain, bukan sebagai anggota penuh melainkan pengamat ataupun penasihat. Namun terdapat pengecualian seperti European In!estment *an+ yang menjadi anggota penuh European *an+ for ,econstruction and -e!elopment./" $ahkan bisa saja beberapa organisasi internasional mendirikan sebuah organisasi internasional yang lain, seperti The Joint 0ienna Institute yang didirikan lima organisasi internasional. internasional ,per 1 Desember /0081/1. Dalam sebuah organisasi internasional, segera setelah terjadi atribusi ke%enangan oleh negara anggotanya, organisasi tersebut memiliki kompetensi eksklusi baik internal maupun eksternal, sehingga negara anggota tersebut tidak memiliki kompetensi untuk bertindak ,dalam hal ke%enangan yang telah diatribusikan1, karena ke%enangan internal dan eksternal dari organisasi internasional tidak dapat dipisahkan. Selain itu, meskipun secara logis berdasarkan kompetensi eksklusi nya sebuah organisasi internasional dapat menjadi pihak dalam suatu perjanjian internasional, akan tetapi tetap membutuhkan pengakuan dari pihak lain terhadap organisasi internasional tersebut, baik dalam traktat maupun organisasi terkait. <alaupun, pada praktiknya saat ini organisasi internasional dapat berpartisipasi baik pada traktat maupun organisasi internasional bersamaan ,kedudukannya1 dengan negara. Salah satu permasalahan yang cukup menghambat terkait diterimanya suatu organisasi internasional dalam keanggotaan organisasi internasional yang lain, adalah bah%a dalam konstitusi organisasi internasional tersebut belum mengatur kemungkinan bergabungnya organisasi internasional lain ke dalam organisasi tersebut. Sehingga, untuk menyelesaikan permasalahan ini, dilakukannya amandemen terhadap
10 11 1/

11

4entu, pengecualian terpenting

adalah Uni Eropa, yang menjadi anggota penuh dari banyak organisasi

I#id) h. 9/. I#id" I#id"

organisasi internasional tersebut, sebagaimana yang ditemukan pada kasus penerimaan European Community ,sekarang Uni Eropa1 pada <4! dan )7!13. Hak dan kewajiban dari anggota penuh &ak dan ke%ajiban indi"idu 7da beberapa hak dan ke%ajiban indi"idu yang dimiliki setiap anggota organisasional sebagai konsekuensi dari keanggotaannya. Sebagai contoh adalah ,ke%ajiban1 anggota untuk berperilaku baik, sebuah ke%ajiban yang menjadi bagian dari prinsip umum hukum modern ,ke%ajiban bekerja sama1. #e%ajiban ini seringkali dinyatakan secara eksplisit dalam berbagai konstitusi, beberapa contohnya seperti pada Pasal /. / dari U$ Charter dan Pasal /8. 1 dari konstitusi International Tropical Tim#er &rgani'ation /00216. Selain itu terdapat beberapa ke%ajiban yang secara umum juga dapat ditemukan dalam berbagai konstitusi organisasi internasional, seperti larangan untuk tidak hadir secara kontinu dalam berbagai pertemuan, larangan pemblokiran sistematis terkait pengambilan keputusan yang mengharuskan suara bulat, berpartisipasi sesuai porsi mereka dalam pengeluaran organisasi, dan menjamin keistime%aan dan imunitas dari organisasi dan sta nya. <alaupun ke%ajiban adalah bagian utama dari keanggotaan ,dalam organisasi internasional1, pada dasarnya memungkinkan apabila sebuah organisasi internasional tidak meminta ,wai!e) Eng.1 negara anggotanya untuk memenuhi ke%ajibannya, asalkan bukan ke%ajiban esensial, sebagaimana menurut 'old ,Schermers, $lokker. /011, 1/31. 1; !leh karena itu, diangkatnya suatu ke%ajiban dari negara anggota oleh organisasi internasional, haruslah dinyatakan sesegera mungkin. >ni karena dengan pelanggaran secara sepihak terhadap ke%ajiban dari negara anggota, bahkan jika anggota lain melakukannya dan organisasi menoleransi itu, ini tidak dapat diinterpretasikan sebagai pengangkatan
13 16

I#id) h. 96-9;. I#id) h. 1/1-1//. 1; I#id) h. 1//.

ke%ajiban. <alaupun, apabila pelanggaran ini terjadi berulang atau kontinu, bisa saja terdapat toleransi. >ni dapat menjadi preseden yang tidak baik, karena dapat mengantarkan pada toleransi atas berbagai macam pelanggaran terhadap konstitusinya yang bisa berimplikasi pada pengubahan konstitusi secara tersembunyi. Selain ke%ajiban yang terbagi pada seluruh anggota, baik hak maupun ke%ajiban bisa saja diberikan hanya pada anggota tertentu saja. Sebagai contoh, hanya beberapa anggota yang terlibat dalam organ-organ nonpleno, juga hak "eto yang dimiliki negara anggota tetap D# P$$. Sebagai 1uid pro 1uo atas ke%ajibannya, satu anggota bisa saja diberikan Bkeistime%aanC dalam hak dan ke%ajibannya. $isa saja suatu organisasi tidak melarang suatu organisasi dari semua sesi ,pertemuannya1 atau mengirimkan dokumen terkait kepada seluruh anggota yang lain ,terkait tekanan yang diambil sebagai sanksi1. Umumnya, anggota yang tidak berlaku layaknya anggota biasa masih dianggap sebagai anggota, tetapi bisa saja dikategorikan sebagai anggota tidak akti atau dorman, sebagai posisi khusus diantara ,masih terikat1 keanggotaan dan bukan anggota. Secara khusus, pada beberapa organisasi yang mengedepankan uni"ersalitas, keanggotaan yang tidak akti akan cenderung dianggap bukan ,menjadi1 anggota. 7nggota yang tidak akti setidaknya memiliki beberapa hubungan dengan organisasi tersebut, yang memungkinkan kembalinya keanggotaan akti . &ak dan ke%ajiban bersama Dalam praktiknya, seluruh anggota secara bersama mengontrol seluruh kekuasaan dalam setiap organisasi internasional, sehingga mereka dapat memodi ikasi dan bahkan membubarkan organisasi terlepas bagaimana pengaturannya secara konstituti . Salah satu contoh yang paling menonjol terkait dengan hal ini adalah Uni Eropa12. #ekuatan ini hanya diberikan pada anggota secara kolekti dan bukan pada pemerintahan mereka, juga terhadap delegasi dari pemerintahan tersebut yang berpartisipasi dalam badan-badan dalam
12

I#id") h. 1/3.

organisasi. Pemerintah dan organisasi terikat dengan ketentuan dalam konstitusi organisasi. Pengecualian dalam ketentuan ini hanya memungkinkan melalui BpengangkatanC oleh organisasi, atau dengan persetujuan dari seluruh negara anggota yang diberikan sesuai dengan persyaratan konstitusional mereka untuk mengikat suatu negara dalam hukum internasional. Satu-satunya pengecualian teoretis dalam BkemahakuasaanC dari anggota secara bersama dapat ditemukan dalam organisasi supranasional yang tentunya memiliki kekuatan independen, dan mampu BmengatasiC kekuasaan dari para anggotanya. Satu langkah menuju arah organisasi internasional ini telah ditempuh oleh Uni Eropa, yang dalam amandemen dari 4raktat Uni Eropa bukan hanya melibatkan negara-negara anggota melainkan juga badan-badan didalamnya. Dalam beberapa organisasi, beberapa kekuasaan tidak dapat dilakukan oleh badan ,internal1 apapun, melainkan hanya oleh aksi bersama dari seluruh anggotanya. >ni sebagaimana yang ada pada konstitusi UPU, yang menyatakan bah%a seluruh negara anggota secara bersama dapat menggunakan seluruh ke%enangan dari organisasi yang tidak diatribusikan pada organ apapun secara spesi ik, kecuali konstitusi menyatakan sebaliknya. Sebagaimana pada ke%ajiban indi"idu ,anggota1, ke%ajiban bersama juga dapat diangkat. >ni akan merujuk pada penangguhan keanggotaan. Pembentukan keputusan oleh seluruh anggota secara bersama sulit dicapai. !leh karena itu, dalam beberapa organisasi sebagaimana pada <(! dan >(! dimungkinkan mayoritas yang memenuhi syarat yang diatur diberikan kekuasaan tertentu19. - 7nggota 4erasosiasi $eberapa organisasi internasional memiliki bentuk keanggotaan khusus dengan hak-hak yang terbatas. Dalam banyak kasus, keanggotaan ini diberikan pada negara koloni atau %ilayah yang belum merdeka lain untuk membolehkan
19

I#id") h. 1/;.

mereka berpartisipasi dalam kegiatan organisasi tanpa memberikan mereka hak-hak dari negara mereka. Setelah merdeka, %ilayah-%ilayah tersebut melanjutkan keanggotaan terasosiasi mereka hingga mereka diterima sebagai anggota penuh. Signi ikansi keanggotaan ini berkurang seiring penurunan jumlah %ilayah-%ilayah ini ,seperti Netherlands 7ntilles yang bubar pada /0101, %alaupun pada beberapa organisasi masih digunakan, seperti pada <&!1A. -ebih terkini, keanggotaan terasosiasi, atau sebuah status yang lebih dekat dengannya, diberikan kepada gerakan pembebasan, pemerintahan yang diasingkan, dan kepada entitas hukum pri"at, atau pada nonanggota. Sebagai contohnya, <estern European Union memberikan keanggotaan terasosiasi pada Nor%egia dan 4urki pada 188/ dan $oli"ia dan 5ili yang menjadi anggota terasosiasi dari (ercosur pada 188218. Pada umumnya keanggotaan terasosiasi tidak menyertakan hak untuk memilih dan mendirikan kantor dari organ-organ penting dari organisasi, yang dalam hal ini membantu delegasi dari negara-negara yang baru merdeka yang akan mendapatkan pengalaman terkait dengan kemerdekaan negara mereka. $eberapa organisasi regional menerima anggota terasosiasi sebagaimana organisasi dalam lingkungan P$$. $eberapa organisasi regional menggunakan BasosiasiC dalam kebutuhan lain, baik untuk keanggotaan parsial ,seperti Council of Europe1 maupun pembentukan persetujuan hubungan eksternal ,seperti antara Uni Eropa dengan 4urki1/0. - 7nggota Parsial #eanggotaan parsial adalah sebuah bentuk partisipasi dalam organisasi internasional, dimana mereka menjadi anggota penuh dalam beberapa badan namun tidak menjadi anggota penuh dalam organisasi internasional ,induk1 tersebut. #eanggotaan parsial seringkali digunakan di P$$, dengan alasan politis, dimana tidak semua negara selalu menjadi anggota. >ni memberikan solusi yang berguna bagi beberapa badan P$$ terkait keberadaan negara-

1A 18

I#id") h. 1/2. I#id" /0 I#id") h. 1/A.

negara tertentu begitu penting, akan tetapi keberatan politik terkait keanggotaannya tidak terlalu besar. $iasanya, jika suatu badan P$$ terbuka untuk negara yang bukan anggota P$$, ketentuan yang menyatakannya dituliskan dalam resolusi yang membentuk badan ini. (engacu pada U$ &ffice of Legal (ffairs, jika tidak dinyatakan suatu ketentuan ,terkait penerimaan anggota parsial1, negara nonanggota P$$ tidak secara otomatis dinyatakan bisa menjadi anggota badan tersebut./1 #eanggotaan parsial juga ditemukan dalam organisasi regional, seperti !E5D.// &al ini juga bisa ditemukan pada Statuta Council of Europe23" #eanggotaan parsial mena%arkan bentuk leksibel dari partisipasi dalam organisasi internasional, memungkinkan negara nonanggota untuk berpartisipasi penuh dalam satu atau beberapa badan saja, terkait kepentingan bersama dari organisasi dan negara. 7kan tetapi, hal ini menimbulkan beberapa masalah administrati . #onsekuensinya, anggota parsial memiliki posisi yang lemah jika dibandingkan anggota penuh dalam organisasi. di sisi lain, organisasi internasional lebih lemah dalam menggunakan kekuasaannya terhadap beberapa anggota. - 7nggota 4era iliasi The 4orld Tourism &rgani'ation memiliki kategori khusus dalam keanggotaan. keanggotaan tera iliasi, yang terbuka untuk badan organisasional, baik antarpemerintahan dan nonpemerintahan, terkait dengan kepentingankepentingan khusus terkait turisme, sebagaimana badan dan asosiasi komersial yang akti"itasnya terkait tujuan dari organisasi. 7nggota tera iliasi ada pada Committee of (ffiliate 5em#ers dimana terdapat tiga pengamat yang ditujukan untuk kongres umum dari organisasi, dan satu untuk pimpinan/6. 7nggota tera iliasi juga dapat berpartisipasi sebagai anggota indi"idu dalam akti"itas 4orld Tourism &rgani'ation" (ereka bisa secara indi"idu

/1 //

I#id") h. 1/8. I#id" /3 I#id") h. 130. /6 I#id") h. 131.

10

merepresentasikan @ sebagai pengamat @ dalam kongres umum, tetapi bukan di pimpinan. &al yang menarik dalam keanggotaan ini adalah representasi bersama dari anggota tera iliasi dalam organisasi. >ni memiliki keuntungan yaitu melibatkan banyak anggota tera iliasi dalam kerja organisasi tanpa membebani berlebihan badan dengan jumlah yang besar dari pengamat yang berpartisipasi. Selain itu, keanggotaan tera iliasi juga terbuka untuk organisasi pri"at internasional dan bahkan untuk badan nasional. Selain itu, keanggotaan tera iliasi juga dapat ditemukan pada (sia Pasific Telecommunity/;. - Pengamat #ebanyakan organisasi internasional memberikan beberapa bentuk status pengamat pada negara nonanggota, beberapa organisasi publik internasional, organisasi pri"at, atau indi"idu. 7kan tetapi, de inisi BpengamatC ini tidak selalu merujuk pada kerja negara= entitas anggotanya pasi , akan tetapi bisa saja berpartisipasi akti , bahkan amat menentukan dalam berbagai diskusi dan pembicaraan. Sebagaimana diuraikan oleh Suy, seorang mantan konsultan hukum untuk P$$, pada praktiknya terkait dengan partisipasi pengamat dalam organisasi internasional tidaklah jelas dan sempurna. &al ini disebabkan, masih menurutnya, oleh dua aktor. "ariasi dari ,bentuk1 pengamat ,negara, gerakan pembebasan, organisasi antarpemerintahan, dan sebagainya1, dan kondisikondisi berbeda yang menyebabkan mereka mendapatkan status tersebut di suatu organisasi internasional. #euntungannya, ini akan meminimalisasi tensi politik, seiring dengan sistem yang tidak jelas ini membuat proses lebih leksibel dalam hal perubahan dan penyusunan kembalinya. 7kan tetapi kerugiannnya, yaitu pada praktiknya menjadi kacau. praktiknya akan tepat sasaran jika badan induk dari suatu organisasi internasional mendapatkan keuntungannya./2 (emberikan status pengamat seringkali tergantung dari sesi yang diselenggarakan
/; /2

oleh

badan-badan

tertentu

dari

sebuah

organisasi

I#id" I#id") h. 13/.

11

internasional. $eberapa organisasi memberikan status ini tidak berdasarkan sesi-sesi tertentu. Undangan untuk para pengamat membentuk bagian dari kebijakan dari suatu organisasi internasional, tetapi tidak tergantung dengan kompetensi dari sekretariatnya. 7pakah sebuah badan tambahan kompeten untuk mengundang pengamat ke dalam pertemuannya tergantung dari ke%enangan yang diberikan pada badan tersebut. >ni dikarenakan undangan yang diberikan pada pengamat ,khususnya terhadap beberapa negara yang tidak secara umum diakui secara de jure1 akan dapat meningkatkan kontro"ersi politis, sebuah peringatan yang harus dihadapi terkait pemberian ke%enangan pada organ tambahan untuk memberikan undangan ini./9 !rganisasi yang hendak mengirimkan pengamat haruslah mengirimkan surat pada organisasi ,yang dituju1 yang menyatakan orang-orang yang bertindak atas namanya. Surat ini ber ungsi seperti surat mandat ,credentials) Eng.1 dari delegasidelegasi ,dari anggota penuh1, akan tetapi umumnya tidak membutuhkan persetujuan dari komite mandat./A #edudukan hukum yang tepat serta hak dan ke%ajiban dari para pengamat beragam dari satu organisasi ke organisasi lain, bahkan dari satu pengamat ke pengamat lain. >ni biasanya diatur dengan persetujuan dari organisasi yang menerima pengamat tersebut, %alaupun persetujuan tersebut tidak selalu ada. -ebih lanjut lagi, pengamat-pengamat dari negara seringkali diterima secara sementara tanpa pengaturan terhadap hak dan ke%ajiban mereka./8 Secara umum terdapat dua karakteristik yang sama-sama dimiliki pengamat. mereka memiliki akses dalam pertemuan-pertemuan dan tidak memiliki hak suara. Dalam sesi publik, akses terhadap pertemuan tidak terlalu terlihat signi ikan dalam diskusi yang ada, tetapi menjadi signi ikan dalam kehadiran pada pertemuan itu sendiri. Pengamat seringkali memiliki kesempatan untuk berbicara dengan para delegasi, untuk menyampaikan ide pada mereka, dan bahkan dapat mendorong mereka menerapkan kebijakan tertentu. 7kan tetapi, pada kasus lain, mereka tidak dapat berpartisipasi dalam
/9 /A

I#id" I#id") h. 133. /8 I#id"

1/

debat. seperti contoh pada )7!, beberapa organ menetapkan kebijakan Dsilent o#ser!erE, yaitu para pengamat yang tidak mengambil peran dalam perdebatan apapun. Pengamat umumnya duduk dalam ruang kon erensi, akan tetapi terpisah dari para delegasi. (ereka menerima dokumen kerja dari suatu sesi sebagaimana para anggota penuh melalui 6pigeon holes7. Umumnya, pengamat dapat menyebarkan dokumen pada badan dimana mereka berpartisipasi, dimana Dco!ering noteE dari ketua ,badan1 ada. Secara ormal, ketua menyebarkan sebuah surat dimana ia menyatakan bah%a ia menerima tambahan komunikasi dari pengamat untuk disebarkan. Serupa dengan itu, proposal dari pengamat biasanya hanya dapat dipilih ketika dipilih oleh para anggota penuh dari suatu badan. Pengamat kadang-kadang memiliki hak untuk menyampaikan proposalnya ,dan amandemen-amandemen1 dalam organisasi.30 Pengaruh dari para pengamat tergantung, antara lain pada organisasi tempat mereka berpartisipasi, dan besar badan tempat mereka diterima. 4entu saja, secara umum pengaruh mereka lebih kecil jika dibandingkan dengan anggota penuh. Pengamat kadang-kadang dapat berpartisipasi penuh dalam perdebatan dari badan-badan kecil, pada besar biasanya tidak. Sebagai sebuah aturan umum, dapat dikatakan bah%a semakin kecil dan teknis suatu organisasi internasional, semakin besar potensi pengaruh dari pengamat. Dalam beberapa kasus, pengamat memegang posisi penting karena situasi aktual. Sebagai contoh, >talia yang berkedudukan sebagai pengamat pada $adan Per%alian P$$ ,U$ Trusteeship Council, sebelum penerimaan >talia di P$$ pada 18;;1 memegang peranan penting, karena >talia mengelola sebuah %ilayah per%alian ,Somalia1.
31

<alaupun pada kenyataannya pengamat memiliki pengaruh

terbatas dalam sesi resmi, mereka bisa saja memiliki pengaruh besar dalam pertemuan in ormal. Kategorisasi (bentuk) pengamat Pengamat dalam organisasi internasional secara umum dapat

dikategorikan berdasarkan bentuknya @ %alaupun dalam kondisi tertentu tidak bisa secara mutlak dimasukkan dalam satu kategori @ yaitu sebagai berikut.
30 31

I#id") h. 133-136. I#id") h. 136.

13

Negara dan entitas yang bukan anggota !rganisasi internasional seringkali menerima delegasi dari negara dan entitas yang bukan anggotanya sebagai pengamat ketika terdapat permasalahan yang didiskusikan yang menjadi kepentingan mereka. (ajelis Umum P$$ memberikan status pengamat permanen pada +atikan dan Palestina. $adan-badan P$$ dan organisasi internasional lainnya juga memberikan status yang sama kepada mereka yang bukan anggotanya. Pada /008, setelah beberapa tahun konsultasi, 4ai%an diterima sebagai pengamat oleh kongres umum <&!, dengan nama DChinese TaipeiE. $entuk partisipasi ini memungkinkan mereka yang bukan anggota dari suatu organisasi internasional mengetahui kerja dari organisasi internasional tersebut. Status pengamat bagi negara dan entitas yang bukan anggota kadang-kadang menjadi batu loncatan menuju keanggotaan penuh. Dalam <4!, pemerintahan ,negara= entitas1 pengamat haruslah @ dengan pengecualian +atikan @ memulai negosiasi penerimaan paling lama ; tahun setelah menjadi pengamat. Status pengamat seperti negara bukan anggota seringkali diberikan pada anggota ,suatu organisasi internasional1 untuk memungkinkan mereka berpartisipasi pada badan nonpleno dimana mereka bukanlah anggotanya. Dalam beberapa organisasi, anggota memiliki hak yang sama untuk mengirimkan pengamat pada badan-badan dimana mereka tidak menjadi anggotanya, sedangkan pada organisasi-organisasi yang lain tidak ada hak demikian. Dalam sejarahnya, pada 18A8, (ajelis Parlementer Council of Europe membentuk kategori khusus dari pengamat yang berasal dari negara yang bukan anggotanya, yang dinamakan anggota khusus, untuk memungkinkan majelis legislati nasional dari negara-negara Eropa 4engah dan 4imur untuk mengambil peran

16

dalam berbagai pertemuannya.3/ Status pengamat yang telah ada, yang diberikan pada >srael, dinyatakan tidak cocok dengan keperluan ini, karena (ajelis hendak memberikan beberapa kondisi khusus dalam partisipasi dari negara-negara Eropa 4engah dan 4imur ini, dan kapasitas >srael untuk memenuhi kondisi ini menjadi dipertanyakan. Setelah diterima, posisi dari anggota dengan status kategori khusus ini sama layaknya dengan pengamat pada (ajelis. 'erakan pembebasan ,kemerdekaan1 Pada a%al 1890-an, gerakan pembebasan perlahan menjadi sebuah kategori penting dari pengamat dalam berbagai organisasi internasional. >ni bisa dibuktikan dengan beberapa contoh, seperti penerimaan %outh 4est (frica People8s &rgani'ation pada U$ Council for $ami#ia dan (ajelis Umum P$$.33 4entu, contoh yang paling mengemuka terkait dengan hal ini adalah penerimaan Palestine Li#eration &rgani'ation oleh (ajelis Umum P$$ sebagai pengamat sejak 1896. 39 Permasalahan undangan terhadap sebuah gerakan pembebasan untuk mengirimkan pengamat bagi %ilayah tertentu tidak secara langsung berimplikasi bah%a sebuah organisasi mengakui gerakan pembebasan sebagai per%akilan resmi dari sebuah %ilayah, atau sekurang-kurangnya sebagai pemerintahan yang berdaulat. 4erdapat beberapa otoritas yang mengklaim sebagai representasi dari suatu %ilayah, akan tetapi kriteria-kriteria yang harus dipenuhi gerakan pembebasan untuk diterima sebagai pemerintahan yang berdaulat dari sebuah %ilayah belum pernah dibahas. Pada 18A0, (ajelis Umum P$$ menetapkan sebuah resolusi dimana, antara lain memerintahkan seluruh negara untuk memberikan berbagai asilitas, hak-hak istime%a, dan imunitas
3/ 33

I#id") h. 132. I#id") h. 132-139. 36 I#id") h. 139.

1;

yang dibutuhkan oleh delegasi-delegasi dari gerakan pembebasan yang telah diakui oleh &rgani'ation of (frican Union dan= atau oleh -iga 7rab, dan telah diberikan status pengamat oleh organisasi-organisasi internasional, sesuai dengan ketentuanketentuan pada #on"ensi <ina tentang Per%akilan Negara-negara dalam &ubungannya dengan !rganisasi-organisasi >nternasional dalam #arakter yang Uni"ersal tahun 189;. *esolusi serupa juga ditetapkan (ajelis Umum P$$ dalam beberapa tahun berikutnya, disamping kritik keras dari negara-negara $arat yang menunjuk pada akta bah%a #on"ensi <ina 189; belum mengikat dan hanya dirati ikasi oleh sedikit negara, dan belum oleh negara-negara tuan rumah dari organisasi-organisasi internasional.3: !rganisasi internasional publik Persetujuan diantara organisasi-organisasi internasional seringkali memungkinkan mereka berpartisipasi dalam kegiatan satu sama lain. Persetujuan terpenting dalam hal ini adalah persetujuan antara P$$ dan badan-badan khusus. Persetujuan diantara badan-badan khusus menjamin representasi dua arah dalam pertemuan badan-badan penting mereka dimana hal-hal yang menjadi kepentingan dari organisasi lain menjadi pembicaraan. Persetujuan ini juga menjamin pertukaran in ormasi dan dokumen, juga seringkali untuk membentuk persetujuan persetujuan joint committee antara dengan dalam hal-hal khusus yang dan dengan menjadi organisasi organisasi kepentingan bersama. $eberapa pengaturan juga dibuat dalam badan-badan konsultasi internasional lainnya. $anyak organisasi regional yang mengakhiri bersama internasional publik lainnya. Persetujuan diantara organisasi internasional seringkali menyatakan bah%a pengamat dari organisasi internasional lainnya diundang untuk menghadiri berbagai pertemuan. !rganisasi tuan
3;

I#id"

12

rumah kemudian menentukan poin-poin dalam suatu agenda yang menjadi kepentingan dari organisasi lain. 7turannya, organisasi yang diundang direpresentasikan oleh anggota dari sekretariatnya, namun dalam pertemuan penting mereka direpresentasikan oleh Direktur Fenderalnya. <alaupun kadang-kadang, bisa saja sebuah organisasi mengirimkan per%akilan pemerintah. !rganisasi pri"at 7kti"itas dari organisasi internasional secara tradisional terbatas hanya berupa kerangka kerja untuk kerja sama antarpemerintahan. Farang sekali ada indi"idu pribadi dan organisasi pri"at yang terlibat dalam kerja mereka. Situasi ini meningkat seiring berjalannya %aktu, dimana saat ini banyak organisasi mencoba untuk mencari jalan yang pantas untuk membentuk didukung hubungan yang lebih baik dengan organisasi nonpemerintahan yang rele"an dengan kerja mereka. &al ini juga akta bah%a dalam menjalankan ungsi dari suatu organisasi internasional, organisasi pri"at memiliki peranan penting, terkait dengan keahlian pro esional mereka yang bisa berguna bagi organisasi internasional. Sebagai contoh, sebuah organisasi internasional yang terkait dengan aturan lalu lintas dapat diuntungkan dengan pengalaman dari International ,oad Federation dan International ,oad Transport Union) keduanya adalah organisasi internasional pri"at.32 !rganisasi internasional yang memiliki sistem yang detil dalam kerja sama dengan organisasi pri"at adalah E5!S!5. E5!S!5 mengatur konsultasi dengan organisasi-organisasi pri"at yang terkait dengan kompetensinya dan memenuhi beberapa kondisi. $eberapa pengaturan telah diperbaiki dari %aktu ke %aktu, dan posisi organisasi-organisasi ini telah dikuatkan oleh P$$. Perubahan besar dilakukan pertama kali pada 182A dan terakhir

36

Ibid., h. 141.

19

kali pada 1882. Pada amandemen 1882, terdapat dua perubahan besar, yaitu sebagai berikut.39 Sementara pengaturan yang telah ada sebelumnya terkait konsultasi dengan organisasi internasional pri"at, saat ini ,mulai 18821 pengaturan tersebut juga mencakup organisasi berskala nasional. 7turan umum terkait partisipasi N'! dalam kon erensi internasional yang diselenggarakan oleh P$$ dan berbagai prosedur persiapannya. Dalam pengaturan saat ini, organisasi internasional, sebagai contoh, telah memiliki kantor pusat yang telah berdiri dengan seorang ketua pelaksana, demokratis, dan memiliki memiliki konstitusi yang diterapkan berbicara secara ke%enangan me%akili

anggotanya. $entuk dari konsultasi dengan organisasi pri"at berbeda dengan hak partisipasi tanpa hak suara yang diberikan pada pengamat yang bukan anggota, gerakan pembebasan, dan badan-badan khusus. 4erdapat pelarangan untuk mencegah pembebanan berlebih dari E5!S!5 atau trans ormasi dari E5!S!5 menjadi badan diskusi umum. Dalam membentuk hubungan konsultati , E5!S!5 membagi organisasi pri"at menjadi tiga golongan, yaitu. 3A !rganisasi dalam status konsultasi umum, yang terkait dengan sebagian besar akti"itas E5!S!5 dan badanbadan tambahannya, dan dapat menunjukkan kontribusinya untuk mencapai tujuan P$$ dalam hal sosial-ekonomi. Selain itu, mereka harus terlibat mendalam dengan kehidupan ekonomi dan sosial dari orang-orang di %ilayah yang mereka %akili. #eanggotaan mereka secara umum merepresentasikan sektor penting dari masyarakat di banyak negara di berbagai
37 38

region

di

dunia.

5ontohnya

seperti

Ibid., h. 143-144. Ibid., h. 144-145.

1A

;reenpeace Frontieres. -

International

dan

5edecins

sains

!rganisasi dalam status konsultati khusus, yaitu yang memiliki kompetensi tertentu dan terlibat secara khusus dalam beberapa akti"itas yang dicakup oleh E5!S!5 dan badan-badan tambahannya. 5ontohnya seperti (mnesty International, %al!ation (rmy) dan International (ir Transport (ssociation"

!rganisasi yang di luar kelompok tersebut, yang tidak terlibat secara langsung dengan kerja E5!S!5 akan tetapi memiliki importansi yang cukup terkait P$$, seperti 4orld <ypertension League dan International (ssociation of Uni!ersity Professors and Lecturers"

>ndi"idu dan perusahaan pribadi >ndi"idu memegang peranan penting dalam organisasi internasional ketika mereka memegang posisi penting dalam suatu organisasi, seperti anggota delegasi, ahli dari organisasi, atau anggota sekretariat. $eberapa organisasi memungkinkan indi"idu untuk menyampaikan pernyataan tertulis ,petisi1, dan pembuat petisi kadang-kadang diperbolehkan dalam sebuah sesi menyatakan pernyataannya secara lisan. Dalam praktiknya, kapasitas mereka menyampaikan pendapat dibatasi pada apakah negara anggota telah memenuhi ke%ajiban mereka terhadap organisasi tersebut. 38 Dimulain#a Keanggotaan $endirian Organisasi Sebuah negara dapat menjadi anggota organisasi internasional melalui keikutsertaan dalam pembentukannya atau melalui permohonan yang terjadi setelah pendiriannya. $eberapa organisasi membedakan antara anggota asli ,a%al1 dengan anggota tambahan= lainnya60, %alaupun hal ini
39 60

Ibid., h. 148. Seperti pada pasal 3-6 U$ Charter.

18

tidaklah signi ikan segala yuridis, karena pada umumnya hak dan ke%ajiban antara anggota-anggota tersebut sama. #onstitusi dari berbagai organisasi internasional barulah bisa mengikat setelah tercapai jumlah tertentu dari negara pendiri yang telah merati ikasinya. -alu bagaimana posisi negara pendiri yang belum? Secara umum, pada praktiknya negara-negara tersebut diperbolehkan berpartisipasi dalam kegiatan organisasi tersebut, hanya saja hak-hak tertentu dikurangi seperti hak pilihnya ,sebagaimana dalam European 5olecular *iology La#oratory1. 4erkait dengan itu, saat konstitusi organisasi itu telah mengikat para anggotanya, apakah negara pendiri yang bukan anggota harus mengikatkan diri segera atau tidak? $eberapa organisasi memungkinkan pengikatan diri menyusul dalam %aktu tak terbatas, dan hal ini cenderung lebih diterima. Sebagai konsekuensinya, sebuah tidak negara secara dapat akti berpartisipasi dalam pembentukan konstitusi,

berpartisipasi dalam beberapa tahun, namun tetap menempatkan posisinya sejajar dengan negara nonanggota yang lain. >ni menjusti ikasi penerimaan negara ,pendiri1 dengan prosedur yang sama dengan calon anggota. $enerimaan Kem0ali Mantan Anggota #adang-kadang, anggota yang telah keluar dari sebuah organisasi internasional menginginkan bergabung kembali. (enjadi pertanyaan, apakah mantan anggota ini dapat diterima dengan prosedur yang sama dengan negara nonanggota? 4idak ada aturan khusus dalam masalah ini yang ditemukan dalam berbagai organisasi internasional, karena aturan penerimaan ditulis untuk negara nonanggota secara umum, termasuk juga negara anggota. Salah satu contohnya adalah penerimaan kembali beberapa negara Eropa 4imur ke dalam )7!61. Sedikit berbeda, 4iongkok

61

I#id) h. 11;.

/0

melakukan sebuah deklarasi biasa untuk kemudian kembali pada keanggotaan a%alnya di )7! pada 18916/. $enerimaan Anggota /aru Penerimaan yang memerlukan amandemen konstitusi43 Penerimaan anggota selain mereka yang ada saat pendirian sebuah organisasi berarti modi ikasi pada struktur organisasi, yang berimplikasi pada dibutuhkannya amandemen organisasi. >ni juga terjadi bahkan dalam organisasi yang membuat persiapan konstituti terkait penerimaan anggota baru. &al ini disebabkan karena dengan penambahan keanggotaan, maka akan berimplikasi luas secara internal, seperti penambahan hak dan ke%ajiban, pemasukan dan biaya, sulitnya mencapai suara bulat, dan %aktu pertemuan yang lebih lama. Selain perlunya amandemen konstitusinya, terkadang juga diperlukan suara buat dari anggota yang telah ada dari suatu organisasi internasional untuk menerima anggota baru, sebagaimana syarat yang sama diperlukan untuk melakukan amandemen konstitusi. Dalam hal adanya larangan bagi kelompok negara-negara tertentu, maka amandemen konstitusi diperlukan untuk memperluas calon anggotanya. (Berdasarkan) kondisi yang disyaratkan konstitusi44 $eberapa konstitusi organisasi internasional mengatur bah%a suatu negara dapat bergabung dengan memberitahukan pemberitahuan ,atau pernyataan1 sepihak terkait keinginannya untuk bergabung, tanpa perlu persetujuan organisasi. Felas ini memberikan jalan termudah bagi suatu negara untuk menjadi anggota dari satu organisasi internasional tertentu. >ni diasumsikan, bah%a dengan tertariknya negara-negara untuk bergabung dengannya, suatu organisasi akan lebih mudah mencapai tujuannya. 7kan
6/

I#id. Ibid., h. 116-117. 44 Ibid., h. 117-118.


43

/1

tetapi ini bisa menimbulkan kesulitan jika entitas yang menyatakan diri tidak secara umum dikenal ,diakui1 sebagai negara. #onstitusi dari beberapa organisasi internasional lain tidak secara bebas menerima negara, maupun tidak mengatur kondisi ,untuk penerimaan1nya, sehingga penerimaan anggota diberikan dengan keputusan organisasi. ini diasumsikan, bah%a dengan penerimaan anggota baru, tidak secara langsung membantu organisasi mencapai tujuannya. $arulah seandainya mencapai tujuannya, permohonan diterima organisasi tersebut. $ersetu5uan keanggotaan6. 4erjadinya keanggotaan dalam organisasi internasional biasanya adalah tindakan bilateral. bukan hanya persetujuan organisasi untuk memberikan keanggotaan, tetapi juga persetujuan negara itu sendiri penting. &ukum konstitusi nasional memberikan ketentuan, bagaimana persetujuan nasional diberikan. !rganisasi internasional tidak ikut campur proses ini. terkait tujuan mereka, sudah cukup ketika seseorang yang kompeten ,kepala negara, kepala pemerintahan, menteri luar negeri, atau per%akilan diplomatik yang telah ditunjuk untuk organisasi tersebut menyatakan bah%a negara menerima konstitusi organisasi. 4indakan nasional dan internasional saling terkait. *isiko dari penolakan yang dilakukan organisasi akan mencegah sebuah negara memulai prosedur domestik dalam penerimaan keanggotaan: adanya penolakan nasional yang kuat terhadap ,upaya1 keanggotaan akan mempengaruhi prosedur penerimaan dalam suatu organisasi. banyak konstitusi mensyaratkan calon anggota terkait dengan keanggotaannya haruslah menerima konstitusinya sesuai dengan proses dalam konstitusi nasionalnya. $erdasarkan aturan umum dalam hukum perjanjian, sebagaimana dalam 1828 0ienna Con!ention on the Law of Treaties bah%a sebuah negara tidak dapat menggugat keanggotaannya ketika
45

Ibid., h. 87-88.

//

representasinya telah merati ikasi konstitusi organisasi tersebut, sebelum prosedur konstitusional dari negara tersebut selesai.62 Fika suatu negara yang telah menjadi anggota dalam %aktu tertentu, ia tidak akan bisa lari dari ke%ajiban yang diembankan konstitusinya %alaupun penerimaan ,atas konstitusi organisasi internasionalnya1 tidak tunduk sesuai dengan aturan hukum dari negaranya. Fika sebuah negara belum ber ungsi sebagai anggota, ia hanya bisa menghindari tanggungja%abnya, jika ketidaktundukan terhadap konstitusi nasionalnya diketahui negara-negara lain dalam organisasi. Dalam kasus tertentu, sebuah negara tidak akan pernah terikat, terlepas dari ormulasi khusus yang digunakan dalam konstitusi dari suatu organisasi internasional secara indi"idu. Dalam hal ini, setiap negara bisa menjadi anggota dengan cara apapun. 7aktu dimulain#a keanggotaan6) Dua kondisi haruslah dipenuhi sebelum keanggotaan e ekti . organisasi haruslah mengakui anggota tersebut, dan anggota tersebut harus merati ikasi konstitusinya. Sebuah organisasi internasional haruslah dengan jelas menentukan @ setelah dua kondisi tersebut terpenuhi @ keanggotaan menjadi e ekti . Pengaturan konstitusi dari sebagian besar organisasi internasional sudah cukup terkait hal ini. $endirian negara 0aru68 4idak perlu adanya pengajuan permohoan keanggotaan baru yang dilakukan oleh gabungan dua negara yang menyebabkan pembentukan satu negara baru, bahkan dimana salah satu anggota dari ederasi tersebut sebelumnya bukan anggota dari organisasi tersebut. >ni dapat ditemui dalam kasus penggabungan (esir dan Suriah menjadi *epublik Uni 7rab di )ebruari 18;A atau 4anganyika dan GanHibar yang menjadi *epublik

46 47

Ibid., h. 88. Ibid., h. 88-89. 48 Ibid., h. 89-98.

/3

Uni 4anHania. Prosedur yang serupa juga ditemui terkait penyatuan Ferman, baik pada berbagai organisasi internasional termasuk Uni Eropa. 7pabila sebuah negara pecah menjadi dua atau lebih, bagian terpenting umumnya dinyatakan sebagai suksesor dari negara yang lebih besar. 5ontoh ini dapat ditemukan dalam kasus >ndia ,saat ini1 yang meneruskan >ndia ,yang lama1 yang terdiri dari >ndia dan Pakistan. Selain itu contoh yang sama dapat ditemukan terkait keanggotaan (esir yang meneruskan *epublik Uni 7rab. $enundaan Keanggotaan Penundaan keanggotaan dituangkan dalam anggaran dasar organisasi internasional. (isalnya ketentuan pasal ; Piagam P$$ yang menetukan bah%a suatu anggota yang tidak memenuhi ke%ajibannya sebagaimana yang ditentukan dalam anggran dasar, keanggotaannya dapat ditunda untuk sementara. Fika pada suatu saat negara tersebut dapat memenuhi ke%ajibannya sesuai dengan anggaran dasar, maka hak negara anggota tersebut akan dipulihkan kembali. Selama masa penundaan, negara tersebut tidak dapat menikmati hak-haknya sebagaimana ditentukan dalam anggaran dasar, tetapi tetap dibebani ke%ajiban. Suatu organisasi internasional dapat berhenti karena bubarnya organisasi internasional tersebut. Penangguhan keanggotaan pada umumnya adalah cara yang lebih halus untuk mendorong agar suatu negara berhenti melakukan pelanggaran. Namun, tidak semua organisasi internasional memberikan ketentuan mengenai hal ini. Penangguhan keanggotaan disini maksudnya adalah penangguhan hak-hak dan keistime%aan dari keanggotaan. $elakangan ini berkembang suatu praktek dimana dilakukan pembuatan pengaturan bagi negara anggota yang melanggar peraturan-peraturan organisasi. $ukannya menggunakan ketentuan mengenai pelanggaran material ,sebagaimana yang terdapat di dalam Pasal 20 dari +ienna 5on"ention on the -a% o 4reaties1, justru instrumeninstrumen pokok organisasi semakin banyak yang menentukan sistem sanksinya sendiri, dan biasanya mereka mengacu pada penangguhan hak-hak dan keistime%aan-keistime%aan. Perserikatan $angsa-$angsa juga memiliki ketentuan yang menentukan sistem sanksinya sendiri bagi negara-negara anggota yang tidak patuh. Sistem sanksi tersebut adalah penangguhan hak-hak dan keistime%aan dan pengeluaran
/6

keanggotaan. Penangguhan ini diberikan sebagai alternati sanksi yang lebih halus dibandingkan pengeluaran keanggotaan. Dikarenakan pengeluaran merupakan suatu cara yang sangat ekstrim, maka dimasukkan pula ketentuan mengenai penangguhan hak dan keistime%aan sebagai sanksi yang tidak terlalu berlebihan. $enghentian Keanggotaan $erkaitan dengan penghentian atau pengakhiran keanggotaan pada suatu organisasi internasional ini terdapat beberapa cara bagaimana suatu keanggotaan dapat berakhir. Pertama, pengeluaran anggota seperti yang terdapat di dalam P$$, yang juga mencontoh dari -iga $angsa-$angsa.1 Pada Pasal 2 Piagam P$$ dinyatakan bah%a (ajelis Umum, berdasarkan rekomendasi dari De%an #eamanan, dapat mengeluarkan suatu anggota jika anggota yang bersangkutan telah secara terus menerus melanggar prinsip-prinsip yang tercantum di dalam Piagam. Pengeluaran anggota mungkin merupakan cara yang paling dramatis dalam pengakhiran keanggotaan suatu organisasi internasional, namun ini bukanlah satu-satunya cara. 4entunya, pengakhiran dari keanggotaan dapat juga terjadi ketika suatu organisasi bubar. &al ini tidak terjadi setiap hari, dan salah satu contoh yang paling terkenal adalah bubarnya -iga $angsa-$angsa. (eskipun secara praktek sudah tidak ber ungsi, dan telah tergantikan dengan P$$, namun (ajelis -iga secara ormal membubarkan -iga pada suatu pertemuan pada 7pril 1862, setelah menyelesaikan beberapa permasalahan yang menarik perhatian. #eanggotaan juga dapat berakhir dengan adanya pengunduran diri, atau sehubungan dengan amandemen dari suatu perjanjian yang membentuk konstitusi organisasi internasional yang bersangkutan. $eberapa organisasi secara jelas mengiHinkan adanya hak untuk mengundurkan diri, biasanya setelah memberikan pemberitahuan dalam jangka %aktu tertentu,/ dan dengan memenuhi persyaratan bah%a semua ke%ajiban anggota tersebut telah terpenuhi. Namun, apabila tidak terdapat pengaturan spesi ik mengenai pengunduran diri di dalam instrumen pokok suatu organisasi internasional, maka hukum perjanjian internasional kemungkinan besar akan berlaku.
1

Jan Klabbers, An Introduction to International Institutional Law (Cambridge: Cambridge Universi ! "ress. #$$#%, hlm. 1#1. # &al ini da'a memberi(an angg) a-angg) a !ang meng*nd*r(an diri +a( * *n *( meng*bah 'ilihan mere(a, se'er i !ang elah er,adi 'ada -'an!)l se elah -'an!)l 'ada a(hirn! mem* *s(an *n *( ida( (el*ar dari .iga /angsa-/angsa 'ada ah*n 19#8, bebera'a +a( * sebel*m 'emberi ah*ann!a erseb* berla(*.

/;

Pengunduran iri alam !ienna "on#ention on the $aw o% &reaties #etentuan tertentu dalam +5-4 menggunakan aturan yang sama pada denunciation dan suspension dari suatu perjanjian internasional. >stilah %ithdra%al memiliki arti yang lebih sempit berkaitan dengan keluar dari ke%ajiban prosedural, dan istilah denunciation pada umumnya mengacu secara lebih luas kepada keluar dari beberapa atau semua ketentuan substanti perjanjian internasional.3 Dalam +5-4 pengunduran diri diatur dalam pasal ;6. $erdasarkan pasal tersebut pengunduran diri dapat dilakukan sesuai ketentuan yang ditentukan oleh perjanjian internasional yang bersangkutan, atau se%aktu-%aktu dengan persetujuan dari pihak-pihak lainnya di dalam perjanjian yang bersangkutan. Fadi, suatu perjanjian internasional dapat diakhiri, atau suatu pihak dapat mengundurkan diri darinya, kapanpun dengan persetujuan dari semua pihak. &al ini dapat dilakukan bahkan jika perjanjian internasional yang bersangkutan memberikan jangka %aktu minimum untuk pemberitahuan. (eskipun lebih diharapkan agar persetujuan para pihak tidak harus dituangkan dalam bentuk yang sama dengan perjanjian internasional.6 7pabila perjanjian internasional yang bersangkutan memberikan hak kepada pihak ketiga berdasarkan pasal 32 +5-4, atau suatu ke%ajiban timbul bagi pihak ketiga dari perjanjian internasional yang bersangkutan sesuai dengan Pasal 39 +5-4, maka persetujuan dari pihak ketiga ini juga diperlukan. Persetujuan tersebut tidak harus diungkapkan dalam bentuk yang tertentu. Pasal ;6 ,b1 membebankan satu prasyarat yang hanya dapat diberlakukan terhadap suatu perjanjian multilateral, yaitu sebelum mengambil tindakan para pihak harus mengkonsultasikan semua pihak di dalam perjanjian tersebut, yaitu negara yang telah memberikan persetujuan untuk terikat se%aktu perjanjian tersebut belum berlaku.; (eskipun ketentuan-ketentuan ini tampak seperti memberikan gambaran bah%a ke%enangan yang ada adalah untuk mengakhiri atau menangguhkan perjanjian internasional secara keseluruhan, namun para pihak tentunya bebas untuk sepakat untuk mengakhiri atau menangguhkan hanya bagian tertentu dari perjanjian internasional. Namun,
3

"//, Final Clauses of Multilateral Treaties: Handbook The Denunciation of Hu an !i"hts Treaties#, hlm. 89. 4 0n h)n! 0*s , Modern Trat$ Law and %ractice, (Cambridge: Cambridge Universi ! "ress, #$$$%. &lm #3#. 5 Ibid.

/2

bagaimana halnya apabila di dalam suatu perjanjian internasional tidak terdapat ketentuan mengenai pengunduran diri ini. Selanjutnya Pasal ;2 +5-4 memberikan ketentuan apabila di dalam suatu perjanjian internasional yang bersangkutan tidk terdapat ketentuan mengenai pengunduran diri. Pasal ;2 ayat ,11 +5-4 mengandung ketentuan umum bah%a negara-negara tidak boleh mengundurkan diri dari perjanjian internasional yang tidak memiliki ketentuan mengenai pengunduran diri. Namun, ketentuan ini memiliki dua pengecualian. Pertama, suatu perjanjian internasional yang tidak memiliki ketentuan mengenai pengunduran diri tetap dapat dilakukan pengunduran diri terhadapnya apabila para pihak di dalam perjanjian tersebut menghendaki adanya kemungkinan terhdap hal tersebut. 7da atau tidaknya kehendak terhdap hal tersebut dapat dilihat dari bahan-bahan seperti tra"auI preparatoires dari perjanjian tersebut. #edua, hak untuk mengunduhkan diri dari perjanjian internasional yang bersangkutan bisa tersirat dalam si at dari perjanjian tersebut. Pada +5-4 ini terbentuk, ketentuan ini tidak mencerminkan hukum kebiasaan internasional.2 Setelah +5-4 ini terbentuk, >nternational 5ourt o Fustice telah menerima Pasal ;2 dari #on"ensi <ina sebagai mencerminkan hukum kebiasaan internasional di dalam perkara 5ase 5oncerning (ilitary and Paramilitary 7cti"ities >n and 7gainst Nicaragua ,Nicaragua " United States1. Suatu cara lebih teknis yang dapat mengakibatkan berakhirnya suatu keanggotaan adalah dengan mengamandemen instrumen pokok suatu organisasi internasional. $eberapa organisasi internasional memberikan hak kepada anggotanya untuk berhenti jadi anggota apabila telah terjadi suatu amandemen terhadap instrumen pokok dan anggota yang bersangkutan tidak dapat menerima amandemen tersebut. Pada akhirnya, suatu keanggotaan dapat berakhir apabila suatu negara yang menjadi anggota dari suatu organisasi internasional yang bersangkutan bubar. Sebagai contoh dapat dilihat negara bekas USS* dan Jugosla"ia yang sudah tidak lagi menjadi anggota dari anggota dari organisasi internasional apapun . Praktek Pada $iga Bangsa'Bangsa Pengakhiran dari keanggotaan -iga $angsa-$angsa dapat terjadi karena dua hal. Pertama, suatu negara anggota diperbolehkan, berdasarkan Pasal 1 ayat 3, untuk
6

- e'hen &all, International Law, (0*s ralia: .e1is 2e1is /* ers+)r hs, #$$6% hlm. 1$9

/9

melakukan pengunduran diri dari keanggotaan -iga $angsa-$angsa. Pasal 1 ayat 3 tersebut menyebutkan bah%a. 6 (ny 5em#er of the League may) after two years notice of its intention so to do) withdraw from the League) pro!ided that all its international o#ligations and all its o#ligations under this Co!enant shall ha!e #een fulfilled at the time of its withdrawal"7 $erdasarkan ketentuan tersebut maka pengunduran diri tersebut dapat dilakukan setelah memberikan pemberitahuan dua tahun sebelum pengunduran diri tersebut akan dilakukan dan setelah memenuhi ke%ajiban internasionalnya dan ke%ajibannya berdasarkan 5o"enant. Selain itu, pada Pasal /2 dari 5o"enant diberikan kemungkinan untuk pengunduran diri secara tidak langsung. $erdasarkan pasal ini, suatu amandemen terhadap 5o"enant yang tidak disetujui oleh suatu anggota dari -iga yang telah menyatakan ketidaksetujuannya tersebut, tidak akan mengikat tersebut. Namun, konsekuensinya adalah negara tersebut dengan demikian berhenti menjadi anggota dari -iga.9 5ara pengakhiran keanggotaan yang kedua dapat terjadi dngan dilakukannya pengeluaran anggota secara paksa oleh -iga. #etentuan mengenai hal ini terdapat dalam Pasal 12 ayat 6 dari 5o"enant. Di dalam pasal tersebut dinyatakan bah%a apabila suatu negara anggota melanggar ketentuan di dalam 5o"enant, maka negara anggota tersebut akan dikeluarkan dari keanggotaan -iga. Praktek Pada Perserikatan Bangsa'Bangsa (enurut Pasal ; Piagam P$$, anggota P$$ yag dikenakan tindakan pencegahan dan paksaan oleh De%an #eamanan, terhadap hak-hak dan keistime%aannya sebagai anggota dapat ditangguhkan atas rekomendasi De%an #eamanan. Namun penangguhan hak-hak ini dapat dipulihkan kembali oleh De%an #eamanan. &ak dan keistime%aan suatu anggota bisa ditangguhkan apabila De%an #eamanan sudah memutuskan untuk mengambil tindakan pencegahan dan pemaksaan terhadap anggota tersebut. Penangguhan hak-hak dan keistime%aan sebagai anggota tersebut ada dua segi, yakni sebagai langkah untuk menghindarkan anggota untuk merintangi tindakan pencegahan dan pemaksaan yang dilakukan oleh De%an #eamanan, dan sebagai cara-cara untuk menerapkan penekananpenekanan tambahan terhadap negara tersebut agar mentaati perintah De%an #eamanan.
7

Ibid.

/A

Selain penangguhan, Praktek Pengunduran Diri Pada Perserikatan $angsa$angsa juga bisa terjadi. Di dalam Piagam P$$ tidak tercantum ketentuan mengenai pengunduran diri negara anggota, sehingga pengunduran diri dari keanggotaan tidak dapat dilakukan oleh negara anggota P$$. Namun, terhadap hal ini terdapat pengecualian. Pengecualian ini terdapat di dalam penjelasan atas pengunduran diri tersebut yang sering disebut sebagai sebuah D Deklarasi interpretati E. Di dalam United Nations 5on erence on >nternational !rganiHtion, sub komite dari 5ommitte >=/ berpendapat bah%a Dumbarton !aks Proposals telah sengaja menghilangkan ketentuan-ketentuan mengenai pengunduran diri untuk menghindari kelemahan yang terkandung di dalam 5o"enant -iga $angsa$angsa. Dumbarton !aks Proposals menginginkan untuk membentuk organisasi yang sangat permanen. #etika pertanyaan mengenai apakah klausul pengunduran diri dimasukkan ke dalam Piagam muncul di dalam 5ommittee >=/, sembilan belas negara memberikan suara setuju dan dua puluh dua negara memberikan suara negati . $erdasarkan penjelasan ini yang telah dimasukkan ke dalam laporan dari 5ommission > ke dalam sesi pleno dari kon erensi tersebut, maka setiap negara tidak memiliki hak untuk mengundurkan diri dari P$$, namun apabila terdapat keadaan yang istime%a dan negara yang bersangkutan merasa harus mengundurkan diri maka P$$ tidak dapat memaksa negara yang bersangkutan untuk terus menjadi anggotanya. Namun, timbul permasalahan mengenai siapa yang ber%enang untuk menentukan masalah apakah yang termasuk keadaan istme%a itu. Dalam penjelasan dari Piagam telah dicoba untuk dijelaskan mengenai istilah De=ceptional circumstancesE ini dengan mengilustrasikan beberapa contoh. Pertama, keadaan istime%a tersebut akan muncul apabila P$$ dianggap tidak lagi dapat menjalankan ungsinya dalam mempertahankan kedamaian, atau hanya dapat menjalankan ungsinya dengan melanggar hukum dan keadilan. A Dalam hal ini maka masih terdapat masalah mengenai siapakah yang ber%enang untuk menentukan apakah P$$ tidak lagi dapat menjalankan mempertahankan keamanan. ungsinya untuk

Klabbers, o&.cit, hlm. #8#.

/8

5ontoh kedua dari e=ceptional circumstances adalah apabila terdapat suatu perubahan hak dan ke%ajiban anggota berdasarkan amandemen Piagam dan perubahan tersebut tidak dapat disetujui oleh anggota yang bersangkutan. 5ontoh ketiga dari e=ceptional circumstances adalah ketika amandemen yang telah diterima oleh suara mayoritas yang diperlukan di dalam (ajelis atau di dalam 'eneral 5on erence telah gagal untuk mendapatkan jumlah rati ikasi yang diperlukan agar amandemen tersebut dapat berlaku #enyataannya, satu-satunya kasus pengunduran diri negara anggota P$$ dari keanggotaan P$$. Dengan surat tertanggal /0 Fanuari 182;, <akil Perdana (enteri dan (enteri -uar Negeri >ndonesia memberitahukan kepada Sekretaris Fenderal P$$ bah%a pada tanggal 9 Fanuari 182;, setelah masuknya negara neokolonial (alaysia sebagai salah satu anggota De%an #eamanan, maka Pemerintah >ndonesia, setelah melakukan pertimbangan dengan cermat, mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari P$$. Salah satu kalimat dalam pernyataan Sekretaris Fenderal bah%a Dthe earnest hope that in due time Indonesia will resume full cooperation with the United $ationsE tidak memberikan ja%aban apapun, mengenai permasalahan keabsahan dari tindakan pengunduran diri >ndonesia. #alimat tersebut diinterpretasikan bah%a >ndonesia tidak berhenti menjadi anggota, karena suatu non-anggota tidak dapat melanjutkan kerjasama penuh, kecuali apabila anggota yang bersangkutan telah diterima kembali ke dalam P$$. Salah satu pandangan resmi yang diberikan oleh anggota P$$ adalah berasal dari Pemerintah $ritania *aya. >a menyatakan bah%a alasan yang dikemukakan >ndonesia untuk mengundurkan diri, yakni dikarenakan masuknya (alaysia sebagai salah satu anggota De%an #eamanan, bukanlah merupakan suatu keadaan yang sangat istime%a si atnya yang dapat menjusti ikasi pengunduran diri dari P$$ yang dilakukan oleh >ndonesia. Selanjutnya ia juga menyatakan bah%a suatu negara yang telah secara jelas menyatakan kehendaknya untuk mengundurkan diri dari P$$, juga tetap terikat prinsip undamental yang terkandung dalam Pasal / dari Piagam yang berkaitan dengan mempertahankan kedamaian dan keamanan internasional. Pada tanggal 1 (aret 182;, Sekretariat mengambil suatu tindakan administrati , yakni penghilangan plat nama dan bendera >ndonesia, serta tidak
30

dimasukkannya >ndonesia ke dalam da tar sebagai anggota dari P$$. Pernyataan pengunduran diri yang dilakukan >ndonesia juga memiliki implikasi terhadap rencana ke%ajiban inansial negara anggota tahun 182;. 4indakan ini sepertinya tidak harus diinterpretasikan sebagai suatu pengakuan dari (ajelis Umum mengenai legalitas dari pengunduran diri ndonesia. &al ini dikarenakan apabila (ajelis Umum mengantisipasi pemasukan dari >ndonesia, maka hal tersebut bukan merupakan suatu perencanaan budget yang terencana karena (ajelis Umum tidak memiliki cara untuk memaksa >ndonesia untuk membayar kontribusinya. Di dalam surat yang disampaikan oleh >ndonesia pada tanggal /0 Fanuari 182;, telah beberapa kali disebutkan bah%a >ndonesia telah mengambil keputusan untuk mengundurkan diri dari P$$ dan tidak hanya berhenti bekerjasama dengan P$$. #ehendak ini telah dinyatakan secara jelas. Namun dari sisi P$$ posisi bah%a >ndonesia dapat atau telah mengundurkan diri ini tidak diberikan kon irmasi. Selain itu Presiden dari (ajelis Umum menyatakan bah%a tindakan yang dilakukan oleh P$$ dalam hal ini tidak tampak bertantangan dengan pandangan bah%a yang telah dilakukan >ndonesia adalah suatu penangguhan kerjasama saja. 7pabila >ndonesia telah secara sah mengundurkan diri, penglanjutan dan partisipasi penuhnya di dalam akti itas P$$, kembalinya, dan partisipasi ulangnya tidak akan terjadi secara sah, kecuali sebagai konsekuensi dari penerimaan kembalinya ke dalam keanggotaan selayaknya anggota baru, berdasarkan prosedur yang ditetapkan dalam Pasal 6 Piagam. Fika >ndonesia sekarang merupakan anggota dari P$$, maka ini disebabkan oleh adanya kenyataan bah%a sejak penerimaan pertamnya pada tahun 18;0, >ndonesia tidak pernah berhenti menjadi anggota. Pengunduran diri >ndonesia menjadi tidak e ekti didasarkan atas alasan >ndonesia untuk mengundurkan diri, yakni yang dikarenakan terpilihnya (alaysia sebagai anggota tidak tetap dari De%an #eamanan. 7lasan tersebut bukanlah merupakan alasan yang tergolong atas keadaan istime%a yang dapat menjusti ikasi pengunduran diri dari P$$ tersebut. 7lasan-alasan yang terdapat di dalam Deklarasi interpretati yang dapat menyebabkan suatu negara mengundurkan diri dari P$$, yaitu dua keadaan yang berhubungan dengan proses amandemen, sama sekali tidak sesuai dengan kasus pengunduran diri >ndonesia. Suatu pengunduran diri berdasarkan suatu alasan yang tidak termasuk keadaan istime%anya tidaklah diiHinkan dan merupakan
31

suatu pelanggaran terhadap ke%ajiban internasional anggota yang bersangkutan. 4idak dapat diragukan lagi bah%a istilah keadaan istime%a tidaklah terlalu tepat termasuk juga penjelasan mengenai istilah ini yang terkandung di dalam Deklarasi interpretati .8 Di dalam keadaan yang terdapat sekarang pada praktek organisasi internasional, secara umum tidak mungkin dapat dicegah suatu negara anggota dari melakukan pelanggaran ke%ajibannya dan juga untuk memaksa keberadaannya untuk terus berada di dalam !rganisasi. 7pabila keadaan yang ada bukan merupakan keadaan yang dapat menjadi suatu ancaman atas kedamaian atau pelanggaran keamanan, maka P$$ tidak memiliki cara yang legal untuk memaksakan negara yang ingin mengundurkan diri untuk terus melanjutkan keanggotaannya. 4erakhir, Pengusiran juga dapat dianggap sebagai cara yang terakhir diambil jika suatu negara anggota P$$ secara terus menerus mengabaikan ke%ajiban-ke%ajibannya. Pengusiran ini bukan merupakan tindakan otomatis, tetapi suatu tindakan yang diputuskan oleh dua badan utama P$$ seperti (ajelis Umum P$$ melalui duapertiga suara dan atas rekomendasi De%an #eamanan. Sementara itu, Piagam P$$ tidak memberikan ketentuan mengenai pengunduran diri Praktek Pada (uropean )nion 7nggota EU juga dapat dilakukan penangguhan terhadap hak-hak tertentu dari keanggotaannya. Penangguhan ini dapat diputuskan oleh 5ouncil untuk diterapkan terhadap anggotanya apabila suatu negara anggota tersebut terbukti telah melakukan pelanggaran terhadap nilai-nilai yang terdapat di dalam Pasal / 4EU. &ak-hak yang ditangguhkan tersebut merupakan hak-hak yang muncul dari 4EU dan 4)EU, termasuk hak untuk memberikan suara untuk memilih representati pemerintahannya di dalam 5ouncil. 7kan tetapi, selama penangguhan hak-hak anggota ini, ke%ajiban dari anggota yang bersangkutan berdasarkan 4EU tetap berlaku 4EU ini memiliki jangka %aktu yang tidak terbatas. 7kan tetapi, di dalam 4EU terdapat suatu mekanisme pengunduran diri dari keanggotaan yang terdapat di dalam Pasal ;0 4EU. Suatu negara anggota dapat mengundurkan diri dari EU
9

&ans Kelsen. 'ithdrawal fro 1948%, hlm.#9.

the (nited )ations. 3he 4es ern ")li i5al 6*ar erl! (7are

3/

sesuai

dengan

persyaratan

konstitusionalnya

sendiri.

#ehendak

untuk

mengundurkan diri ini harus diberitahukan kepada European council. #emudian, EU akan melakukan negosiasi dan membuat suatu perjanjian dengan negara yang ingin mengundurkan diri tersebut, membuat pengaturan mengenai pengunduran diri tersebut, serta membuat suatu kerangka hubungan dengan negara yang bersangkutan setelah negara tersebut mengundurkan diri dari EU. Perjanjian tersebut harus dinegosiasikan sesuai dengan ketentuan yang terdapat di dalam Pasal /1A ,31 4)EU. Perjanjian tersebut harus dibuat oleh 5ouncil dengan mengatasnamakan EU setelah memperoleh persetujuan dari European Parliament. 4EU dan 4)EU akan berhenti berlaku bagi negara yang mengundurkan diri tersebut dimulai saat tanggal berlakunya peranjian pengunduran diri tersebut, kecuali European 5ouncil bersama dengan negara yang bersangkutan sepakat untuk memperpanjang masa ini. 7pabila negara yang telah mengundurkan diri ini ingin bergabung kembali dengan EU, maka negara tersebut harus mengajukan kembali keanggotaannya ssuai ddengan prosedur pasal 68 4EU. Re9resentasi Anggota Persoalan tentang representasi dari anggota suatu organisasi internasional harus dipisahkan secara tegas dari persoalan tentang penerimaan keanggotaan: representasi anggota mensyaratkan penerimaan di organisasi dan berkaitan dengan persoalan bagaimana agar per%akilan- per%akilan ini diakui sebagai yang berhak me%akili anggota di dalam organ suatu organisasi.

33

4iap organisasi membatasi jumlah per%akilan yang berada di dalam suatu delegasi, misalnya. tiap negara anggota hanya bisa menempatkan hingga lima %akilnya dalam delegasinya di (ajelis Umum P$$ ,5harter, 7rt. 8 ,/11, sedangkan >7E7 hanya membolehkan satu %akil per negara pada #on erensi Umum ,Statute, 7rt. +$1. Umumnya tidak ada suatu pembatasan kualitati terhadap siapa saja yang bisa menjadi per%akilan, namun beberapa organisasi mengharuskan anggota dari tiap delegasi mempunyai kuali ikasi tertentu, misalnya. pada kon erensi >-!, dimana tiap negara memiliki empat %akil, dua dari pemerintah dan dua lainnya dari pihak pengusaha dan pihak pekerja ,7rt. 3 ,111. <(! mensyaratkan harus ada pimpinan dari badan meteorologi nasional masing-masing negara anggota pada tiap delegasinyanya. ,7rt. 2 ,a11. -alu <&! mengharuskan bah%a tiga anggota delegasi pada <orld &ealth 7ssembly harus dipilih berdasarkan kompetensinya di bidang kesehatan ,7rt. 111. 4erlepas dari peraturan seperti di atas, pada dasarnya anggota organisasi bebas untuk mencalonkan siapa pun sebagai %akilnya demi kepentingannya di dalam organisasi internasional. Namun terkadang, timbul permasalahan seperti pada peristi%a yang terjadi di Dispute Settlement Panel yang didirikan oleh <4! Dispute Settlement $ody. Sengketa ini antara 7merika Serikat dengan European Union ,terkait dengan hal impor pisang1, dan sejumlah negara ketiga ,termasuk St. -ucia1 sebagai pihak ketiga. Pada sidang Panel tahun 1889, Duta $esar St. -ucia hadir dengan ditemani oleh penasihatnya yang berasal dari pihak s%asta, yang bukan %arga negara dari St. -ucia. 7merika Serikat memprotes untuk mencabut hak kedua penasihatnya, dengan alasan bah%a prosedur penyelesaian sengketa di ba%ah sistem <4! adalah sistem antar pemerintahan, bukan pihak non-negara, dalam hal ini pengacara s%asta, tidak berhak berpatisipasi. Pendapat tersebut didukung oleh Panel <4!. Namun di sisi lain, the 7ppellate $ody berpendapat sebaliknya, menegaskan bah%a terlepas dari si at antar pemerintahan pada sistem penyelesaian tiap negara anggota bebas untuk sengketa tersebut,

36

menentukan

siapa

pun

yang

diinginkannya

sebagai

%akilnya

demi

kepentingannya, selama sejalan dengan hukum kebiasaan internasional dan ketiadaan aturan tegas yang bertentangan.;A Pembatasan seperti itu bisa ada pada suatu delegasi bisa juga tidak, namun seringkali menimbulkan masalah hukum atau sengketa. Seperti misalnya masalah representasi yang pernah diperdebatkan dalam situasi di mana ada dua pemerintahan yang saling bersaingan dalam satu negara, keduanya mengklaim me%akili negara yang bersangkutan, atau saat terjadi protes terhadap situasi di mana salah satu pemerintahan memperoleh kekuasaan, atau ketika suatu pemerintahan negara dialihkan ke pemerintahan 5hina dan ,sampai tahun pembubaran Uni So"iet1, Jugosla"ia ,isu lain. 5ontohnya dan adalah 18911, #amboja, Ferman, &ungaria, *usia ,setelah representasi keanggotaan1,

7 ghanistan. Persoalan representasi anggota ini biasanya akan timbul

dalam rangka pemeriksaan surat kepercayaan yang diberikan kepada indi"idu tertentu oleh kepala negara atau pemerintah atau oleh Departemen -uar Negeri. Sebagian besar organisasi memiliki 5redentials 5ommittee-nya sendiri. misalnya (ajelis Umum P$$, terdiri dari sembilan anggota yang ditunjuk oleh (ajelis atas usul Pimpinan, yang dapat menetapkan %e%enang untuk me%akili anggota sesuai dengan r . /9 the *ules o the Procedure o the 'eneral 7ssembly. Persoalan tentang representasi biasanya timbul dalam sengketa 5ommittee. Persoalan representasi antar pemerintahan yang saling bersaing ini dia%ali saat Pemerintah Nasionalis dan Pemerintah *epublik *akyat 5ina saling mengklaim sebagai representasi 5ina di P$$, antara tahun 18681891. Permasalahan ini ditangani menurut ketentuan prosedur di tiap-tiap organ P$$, karena tidak ada ketentuan yang mengaturnya dalam Piagam. (aka, menurut De%an #eamanan, representasi adalah persoalan seputar surat kepercayaan dan menurut *ule 19Kper%akilan, yang kepada siapa ia
;A

antar

pemerintahan seperti ini, dan seringkali diselesaikan melalui 5redentials

<4!, European 5ommunities, regime applicable to the import, sale and distribution o bananas, September 8, 1889, <4=DS/9=7$=* ,89-3;831.

3;

mengajukan keberatan harus menunggu sampai De%an, dengan "oting sederhana, memutuskannya. !leh karena itu per%akilan pihak Nasionalis terus menunggu sampai sembilan anggota de%an siap untuk kemudian berhadapan dengannya. Dalam (ajelis, pada a%alnya "oting untuk representasi 5ina dianggap prosedural, tetapi pada tahun 182/ telah diubah sebagai Dpersoalan pentingE yang memerlukan mayoritas dua pertiga untuk perubahan apapun.;8 $erbagai upaya telah didiskusikan mengenai permasalahan

subtanti yang ada pada persoalan seputar representasi, yang umumnya ditangani sesuai dengan prosedur. (emorandum Sekjen P$$ pada tahun 18;020 berusaha memisahkan masalah representasi dari persoalan pengakuan=penerimaan dari negara-negara anggota lain dan mengusulkan bah%a masalah dua ri"al pemerintahan yang saling bersaing tersebut harus diselesaikan sesuai dengan tes De ekti"itasE. Pada tahun 18;0 (ajelis Umum menerapkan resolusi 382 ,+1, yang di dalamnya merekomendasikan bah%a Dsetiap kali lebih dari satu otoritas mengklaim sebagai pemerintahan yang berhak me%akili suatu negara dalam P$$, permasalahan ini harus dipertimbangkan berdasarkan tujuan dan prinsip- prinsip Piagam serta keadaan masing-masing kasusE. *esolusi tersebut tidak memberikan banyak solusi dalam kasus-kasus rumit seperti ini, dalam hal ini kasus *epublik *akyat 5ina. !posisi terhadap representasi **5 dipimpin oleh 7merika Serikat, tetapi dukungan untuk pihaknya terus berkurang, sampai pada akhirnya pada tanggal /; !ktober 1891, (ajelis Umum mengakui representasi **5 adalah Lsatu-satunya %akil sah 5inaL dan menetapkan bah%a **5 adalah Lsalah satu dari lima anggota tetap De%an #eamananL.21 Dengan demikian (ajelis menolak setiap gagasan 4ai%an atas permintaan representasi terpisah dari **5 ,meskipun
;8 20

,182/1 UN *e"ie%, Fanuary, 3A. S=1622. >n connection %ith the 5hinese representation problem see Muincy <right, D4he 5hinese *ecognition ProblemE, ,18;;1 68 ("J"I"L" 3/0: !C5onnell, D4he status o )ormosa and the 5hinese *ecognition ProblemE i#id. ,18;21 +ol.;0, 60;: Steiner D5ommunist 5hina in the %orld communityE ,18211 ;33 Int" Council.: Stone, Legal Control of International Conflict ,18;81, pp./3A-/6/: )itHmaurice, D5hinese representation in the UNE ,18;/1 >"*"4"(" 32. 21 '.7. res./9;A ,NN+>1: see UNJ$ ,18911, pp.1/2-139.

32

persoalan ini belum diselesaikan dengan tegas sehingga 4ai%an terus berusaha menempatkan representasinya1. 7lhasil, keputusan (ajelis tersebut dengan cepat diterima dan ditaati oleh De%an #eamanan dan berbagai badan khusus.2/ (eskipun persoalan 5ina ini merupakan hal yang sangat penting, peristi%a seperti ini bukan satu-satunya yang terjadi. #asus yang serupa, seputar klaim atas representasi negara antar pemerintahan yang ada, terjadi di #ongo pada tahun 1820, Jaman pada tahun 182/, #amboja ,dari 1890-18811,23 serta Gaire pada tahun 1883 dan 7 ghanistan pada tahun 1888. Persoalan seputar representasi juga muncul tidak hanya dimana terdapat persoalan saling klaim ini, namun juga di mana saat ke%enangan suatu pemerintahan sedang dialihkan. &al ini terjadi sehubungan dengan representasi &ungaria di P$$ setelah in"asi So"iet 18;2. karena representasi dari reHim baru adalah satu-satunya %akil yang layak, mereka diiHinkan untuk menunggu persetujuan resmi atas surat kepercayaan mereka untuk %aktu yang ditentukan P$$ melalui 5redentials 5ommittee, sehubungan (ajelis tidak mengambil keputusan mengenai hal tersebut ,namun tidak menentang mereka juga1. 5ontoh lain misalnya representasi >srael, Portugal dan 5hile, serta 7 rika Selatan. Sebelum tahun 1896, telah ditentukan, baik di P$$ dan badan-badan khusus, bah%a kegagalan dalam menyetujui surat kepercayaan dari 7 rika Selatan ,karena penolakannya untuk mematuhi resolusi di Namibia1 tidak mempengaruhi hak-hak dan keistime%aan keanggotaan. berarti, tidak disetujuinya surat kepercayaan merupakan masalah prosedural, tidak bisa dijadikan suatu cara tidak langsung untuk mendapatkan hal yang sama seperti disangsikan dalam 7rts ;, 2, atau 18 dari Piagam P$$. Pada tahun 1896, setelah gagal menghasilkan resolusi untuk mengeluarkan 7 rika Selatan dari keanggotaan P$$, blok 7 ro-7sian berhasil membuat (ajelis Umum

2/

U$ >ear#oo+ ,18911 1/2-139. 7lthough the P*5Cs acceptance into the other agendas %as not immediate in all cases, depending on 5hinaCs o%n %ishes. )or the arrangements %ith the >$*D in 18A0 see ,18A11 /0 >-( 999. 23 See, respecti"ely, '.7. res. 168A ,N+1, '.7. res. 1A91 ,N+>>1, and <arbrick, D#ampuchea. *epresentation and *ecognitionE, 30 ICL? /36-62 ,18A11.

39

menginterpretasikan, di ba%ah pimpinan (r $oute lika, tidak disetujuinya surat kepercayaan, mengakibatkan, penangguhan 7 rika Selatan dari berbagai partisipasi dalam sidang. #eputusan tersebut, yang berlanjut sampai pergantian reHim di 7 rika Selatan pada tahun 1886, dianggap oleh beberapa pihak tidak konstitusional.26 (asalah seperti ini tidak terjadi di P$$ saja. 5ontoh lain adalah tindakan yang diambil #on erensi Umum >-! dalam menolak surat kepercayaan dari per%akilan pemerintahan, per%akilan pengusaha, serta per%akilan pekerja dari &ungaria pada tahun 18;A dan 18;8.2; Pada tahun 18A1, #on erensi Umum >7E7 mengancam >srael dengan penangguhan jika tidak mematuhi resolusi De%an #eamanan yang mengutuk serangan terhadap reaktor nuklir di >rak dan menyerahkan instalasi nuklir mereka ke >7E7 5ontrol. 4ahun berikutnya, dengan tidak adanya kepatuhan tersebut, #on erensi Umum >7E7 memutuskan dengan 63 suara mela%an /9 suara ,dengan 12 abstein1 untuk menangguhkan >srael. Namun, mayoritas tersebut tidak cukup untuk resolusi tersebut terlaksana, sehingga diambil langkah untuk menolak per%akilan dari delegasi >srael, yang didasarkan atas pengambilan suara sederhana.22 4he 5redentials 5ommittee memutuskan dengan 9 berbanding 2 suara untuk menolak surat kepercayaan dari delegasi >srael.

Re9resentasi Ke9entingan Lain


Dalam prakteknya banyak organisasi, selain mengatur ketentuan dalam hal representasi anggota, mereka juga mengatur ketentuan dalam hal merepresentasikan kepentingannya. &al ini dapat dibagi antara representasi kepentingan negara ,atau sekelompok negara1 yang bukan anggota organisasi, dan representasi kepentingan non-negara, termasuk
See 6th edn o this book ,18A/1 at p.389. 7lso Simma ,ed.1, The Charter of the United $ations ,/nd. edn, /00/1, p.//;. 2; !n the procedures o the >-! ,some%hat complicated because o the tripartite structure1 see Fenks, The International Protection of Trade Union Freedom ,18;91, 5h.6, and in (arch 1891 the !7U ailed to agree %hen aced %ith ri"al delegations rom Uganda. 22 See 'ross, D!n the Degradation o the 5ontitutional En"ironment o the UNE 99 ("J"I"L" ;28AA ,18A31.
26

3A

organisasi internasional, gerakan pembebasan nasional, dan organisasi nonpemerintah = N'! ,termasuk sektor korporasi1. $erkenaan dipertimbangkan dengan bentuk representasi partisipasi bagi non-negara anggota, yang telah tidak

negara-negara

termasuk dalam keanggotaan, seperti associate mem#ership.29 Negara merupakan aktor utama dalam kehidupan organisasi internasional, tetapi dengan hadirnya organisasi internasional banyak perubahan telah terjadi. #ita telah mengetahui bagaimana suatu organisasi internasional menjadi anggota organisasi internasional yang lain, dan associate mem#ership sebagai bagian dari keanggotaan organisasi internasional. Namun sekarang ini, negara dan organisasi internasional bukan hanya aktor internasional yang ada. gerakan pembebasan nasional ,seperti Palestine -iberation !rganisation1, entitas yang merupakan bagian dari negara ederal, aktor non-negara seperti perusahaan, indi"idu dan N'! yang kini sering terlibat dalam urusan internasional, termasuk kegiatan organisasi internasional. Seiring %aktu, kehadiran mereka dalam kegiatan dilakukan organisasi internasional semakin disadari dan sekarang merupakan bagian dalam urusan banyak organisasi, termasuk P$$. Pemberian status pemantau merupakan cara lain yang memungkinkan dalam merepresentasikan kepentingan bagi entitas negara maupun entitas nonnegara. Status ini memungkinkan negara non-anggota atau entitas non-negara untuk menyerahkan dokumen atau mungkin bersuara dalam debat, meskipun tanpa hak untuk melakukan "oting atau diberi pertanggung ja%aban inansial dan hak. Namun, dalam sebuah organisasi dimana keanggotaannya terbatas pada negara-negara yang berdaulat, hal ini menimbulkan kontro"ersi. 5ontohnya adalah keputusan (ajelis Umum P$$ untuk memperluas undanganKmelalui resolusi 3/39 ,NN>N1Kbagi P-! pada tahun 1896, untuk berpatisipasi dalam sidang dan kegiatan (ajelis Umum dalam kapasitas sebagai pemantau dan juga dalam kon erensi internasional. &al ini ditentang oleh beberapa anggota,
29

See supra. Para. 12-00A.

38

sama halnya seperti pada undangan De%an #eamanan P$$ kepada P-! untuk turut berpatisipasi dalam debat prihal komplain -ebanon terhadap serangan udara >srael di kamp-kamp pengungsian Palestina pada tahun 189;.2A P-! juga telah diterima sebagai pemantau pada #on erensi >-!, tahun 189;, yang mengamandemen Standing !rders-nya untuk memungkinkan representasi gerakan pembebasan diakui, baik oleh !7U atau -iga 7rab. #etentuan ini juga telah dilakukan oleh (ajelis Umum pada tahun 1896.28 Permasalahan hukum yang bisa timbul dari status pemantau ini dapat kita lihat pada perkembangan selanjutnya terkait tugas pemantau P-! di P$$, yang telah didirikan pada tahun 1896 diba%ah penga%asan kantor di Ne% Jork 5ity di luar (arkas $esar P$$. Pada (ei 18A9 *UU itu diperkenalkan kepada Senat 7merika Serikat yang tujuannya adalah Duntuk tidak mensahkan pembentukan dan pemeliharaan kantor P-! di 7merika SerikatE. Naskah *UU ini merupakan amandemen terhadap D)oreign *elations 7uthorisation 7ct, )iscal Jears 18AA-18A8E, berdasarkan ketentuan yang ada, Pemerintah 7merika Serikat akan, jika *UU tersebut di undang-undangkan, berusaha untuk menutup kantor penga%asan P-!. Pada tanggal 13 !ktober 18A9, Sekretaris Fenderal P$$ menyatakan kepada Per%akilan 4etap 7merika Serikat bah%a *UU tersebut berla%anan dengan ke%ajiban yang timbul dari &eadOuarters 7greement, hari berikutnya pihak P-! memba%a masalah tersebut kepada #omite P$$ bidang &ubungan dengan negara tuan rumah. Selanjutnya juru mengeluarkan &eadOuarters pernyataan 7greement yang menyatakan bah%a menyatakan bicara Sekjen dari bagi bah%a ss.11-13 sudah ke%ajiban

7merika Serikat untuk mengiHinkan personil tugas pemantau untuk masuk dan tetap berada di 7merika Serikat untuk
2A

28

$anyak 7greement di De%an #eamanan ditentukan bah%a *ules 39 dan 38 dari Peraturan Prosedur tidak mengatur partisipasi tersebut. Namun, jika organ tersebut adalah pemimpin dari prosedur itu sendiri, ini merupakan hal yang mudah. &al yang lebih mendasar adalah apakah keputusan itu bertentangan dengan pembatasan keanggotaan terhadap negara-negara seperti yang diatur dalam Piagam. '.7. res. 3/A0 ,NN>N1 granted UN obser"er status automatically to 7 rican national liberation mo"ements recognised by the 7U.

60

melaksanakan *elations

ungsi resmi mereka. Pada bulan Desember 18A9, )oreign 7ct )iscal Jears 18AA-18A8 di undang-

7uthorisation

undangkan. Setelah konsultasi, Sekjen P$$ berpendapat bah%a 7merika Serikat tidak sepenuhnya menghormati &eadOuarters 7greement dan memohon prosedur penyelesaian sengketa seperti yang diatur dalam s./1 7greement. P$$ berpendapat bah%a langkah-langkah yang telah dipertimbangkan oleh #ongres yang akhirnya diterapkan oleh United States 7dministration akan bertentangan dengan &eadOuarters 7greement jika diterapkan pada P-!, dan penerapannya menimbulkan perselisihan berkaitan dengan interpretasi dan penerapan 7greement ini. 7merika Serikat tidak membantah bah%a beberapa ketentuannya diterapkan pada tugas pemantau P-!, dan telah diambil sejumlah langkah yang dianggap oleh Sekretaris Fenderal bertentangan dengan 7greement. 7merika Serikat telah menyatakan bah%a langkah-langkah tersebut telah diambil Lterlepas dari ke%ajiban yang mungkin 7S miliki menurut 7greementL. (elalui ad"isory opinion, >5F dengan suara bulat memutuskan bah%a karena kedua pihak tidak bisa didamaikan, dan juga ada perselisihan antara P$$ dan &eadOuarters ke%ajiban, sesuai dengan s./1 7greement, maka para pihak masuk ke arbitrase untuk penyelesaian sengketa antara dirinya dan P$$.90 Namun, pemerintahan *eagan menolak untuk menengahi dengan alasan bah%a sampai P-! !bser"er (ission ditutup, sebagai akibat dari penerapan )oreign *elations 7uthorisation 7ct, maka tidak ada perselisihan antara 7merika Serikat dan P$$. (asalah ini akhirnya ditutup pada bulan Funi 188A ketika Pengadilan Distrik )ederal di (anhattan memutuskan tanpa Lungkapan yang jelas dari pihak #ongresL,91 pengadilan diminta untuk mena sirkan the )oreign *elations berlaku lagi terhadap &eadOuarters 7greement. 7uthorisation 7ct tidak 7merika Serikat mengenai penerapan 7greement dimana 7merika Serikat memiliki beberapa

90

(pplica#ility of the &#ligation to (r#itrate under s"2. of the United $ations <ead1uarters (greement of June /2, 1869, 7d"isory !pinion, >.5.F. *eps. 18AA, p.1/, at p.33. 91 United %tates of (merica ! The Palestine Li#eration organi'ation 280 ). Supp. 1/63.

61

#asus P-! menunjukkan permasalahan-permasalahan hukum yang dapat timbul dalam kaitannya dengan hak-hak dalam tugas pemantau. 4idak ada ketentuan umum mengenai ungsi dan hak-hak pemantau. #on"ensi 189; tentang *epresentation o States in their *elations %ith >nternational !rganisations o a Uni"ersal 5haracter9/ mencerminkan pandangan bah%a pemantau tetap negara memiliki ungsi sebagai berikut. D ,a1 dengannya: ,b1 menga%asi kegiatan di dalam organisasi dan memastikan representasi dari negara pengirim dan menjaga

kepentingannya dalam kaitannya dengan organisasi dan menjalin hubungan

melaporkannya kepada Pemerintah negara pengirim: ,c1 meningkatkan kerjasama dengan organisasi dan melakukan

negosiasi dengannya.E93 Namun, kon"ensi ini belum mulai diberlakukan, dan mungkin bukan merupakan gambaran umum terhadap hukum kebiasaan internasional. &ak-hak pemantau jarang dibahas dalam konstituen suatu

organisasi, penerapannya ditentukan dalam praktek keorganisasian atau melalui penerapan aturan tertentu. !leh karena itu, hak dan keistime%aan pemantau ber"ariasi tergantung pada proses perolehannya dan ketentuan pemberiannya.96 Secara umum peraturan yang mengatur pemantau mengakui hak untuk berpartisipasi dalam akti"itas organisasi, termasuk organ tertentu, tetapi tanpa hak suara dalam pengambilan keputusan atau, biasanya, untuk mendukung suatu keputusan atau resolusi. Partisipasinya
9/ 93 96

;82 /21. 28 ("J"I"L" 930 ,189;1. See, e.g. '.7. ,Fuly 9, 18AA1 granting to Palestine the rights to participate in the general debate o the 'eneral 7ssembly, inscription on the list o speakers under agenda, reply, raise points o order related to proceedings on Palestinian and (iddle East issues, and co-sponsor dra t resolutions and decisions on Palestinian and (iddle East issues, but not the right to "ote or put or%ard candidates , or more on this matter, see infra1. >n the 5ouncil o Europe, states granted obser"ers status are only entitled to send obser"ers ,Statutory *esolution ,831/2 on obser"er status, (ay 16, 18831.

6/

dapat mencakup akses ke sidang organ, pemberitahuan rapat dan sidang, sirkulasi pernyataan tertulis dan akses ke dokumen-dokumen resmi dan, dalam beberapa kesempatan, hak untuk membuat pernyataan lisan. Dalam beberapa kasus dimungkinkan pemantau menerima dukungan inansial untuk memungkinkan partisipasi mereka.9; Pemantau juga berhak untuk menentukan komposisi delegasi mereka.92 4erlebih lagi persoalan tentang hak hak istime%a dan immunities pemantau, hal ini ditangani oleh #on"ensi <ina 189; di 7rt.30 nya. Pendekatan #on"ensi 189; belum diterima masyarakat luas, inilah salah satu alasan mengapa belum ada negara tuan rumah P$$ yang merati ikasi #on"ensi 189;.99 Pendekatan yang dilakukan dalam P$$, di mana masing-masing organ tunduk pada praktek dan aturan sendiri, mencerminkan berbagai kemungkinan. Piagam P$$ tidak mengatur mengenai status pemantau di (ajelis Umum. Prakteknya dikembangkan dari 7rt.3; ,/1 Piagam, yang memungkinkan negara-negara non-anggota untuk berpartisipasi dalam debat yang sesuai dengan kepentingan mereka. Selanjutnya, negara-negara non-anggota memperoleh status pemantau melalui komunikasi dengan Sekretaris Fenderal, dan sekarang ini status pemantau bagi suatu negara dianggap sebagai Llembaga hukum konstitusional tidak tertulis dari P$$L, bahkan jika dalam kasus dimana suatu negara terpecah maka terhadap pemberian status pemantau dilakukan penundaan, misalnya dalam kasus *epublik Demokratik +ietnam ,yang harus menunggu /3 tahun setelah *epublik +ietnam telah menjadi seorang pemantau1 dan *epublik Demokratik Ferman ,yang menunggu /0 tahun setelah *epublik )ederal Ferman telah diberikan status pemantau1.9A Saat ini, +atikan adalah satu- satunya negara non-anggota dengan status pemantau di P$$.98 (ajelis Umum memungkinkan entitas non-negara tertentu untuk berpartisipasi
9; 92

See, e.g. '.7. res. 3/A0, supra at para.2. See '.7. res. 63=6A, concerning the re usal by US authorities to grant a "isa to a member o

98

the P-! delegations. 99 Simma ,ed1. The Charter of the United $ations, ,/nd, edn, /00/1, p.191. 9A i#id" See '.7. res. ;A=316 ackno%ledging the &oly See as an obser"er state and accords the rights and pri"ileges o participation in the sessions and %ork o the 'eneral 7ssembly. 7 permanent obser"er since 186A, S%itHerland became a UN member on September 10, /00/.

63

sebagai pemantau. Sejumlah organisasi sosial, politik dan ekonomi, termasuk kelompok negara, telah diberikan status pemantau di P$$ berdasarkan berbagai resolusi (ajelis Umum.A0 'erakan Pembebasan Nasional juga telah diberikan status pemantau, termasuk P-! ,seperti dijelaskan di atas1 dan the South <est 7 rican PeopleCs !rganisation ,S<7P!1.A1 Dalam De%an #eamanan persoalan status pemantau diatur dalam 7rts 31 dan 3/ Piagam P$$. #etentuan yang pertama memungkinkan partisipasi tanpa hak suara anggota P$$ dalam pembahasan permasalahan yang diba%a ke hadapan De%an kapanpun De%an menganggap bah%a Lterkait dengan kepentingan anggota tersebut secara khususE. #etentuan ini diperkuat oleh 5ouncilCs *ules o Procedure, termasuk r.38 yang memungkinkan De%an untuk mengundang orang lain ,termasuk anggota sekretariat1 untuk berpartisipasi dalam pembahasan jika orang-orang tersebut dapat memberikan in ormasi atau bantuan lainnya. 7rticle 3/ mensyaratkan bah%a anggota P$$ dan negaranegara non-anggota diundang untuk berpartisipasi tanpa hak suara dalam diskusi yang berkaitan dengan sengketa yang sedang dipertimbangkan oleh De%an #eamanan dimana ia sendiri berkaitan. Dimana entitas yang merupakan pihak yang bersengketa adalah bukan negara, partisipasinya akan disesuaikan dengan r.38 ketimbang 7rt.3/. Dalam penerapan 7rts 31, 3/ dan Peraturannya, undangan untuk berpartisipasi Prosedur dalam pertemuan De%an

telah diperluas ke berbagai entitas, termasuk negara non-anggota yang berusaha untuk diterima masuk ke P$$, lalu pemerintahan atau reHim lainnya yang berada dalam kekuasaan de facto dari negara yang merupakan anggota P$$, dan gerakan pembebasan nasional.
A0

4hese include the 5ouncil o Europe, !7S, the -eague o 7rab states, the !7U, the E5, the !rganisation o the >slamic 5on erence, the 7 ro-7sian legal 5onsultati"e 5ommittee, the -atin 7merican Economic System, the 75P, >nterpol, >4-!S, and the >nternational Seabed 7uthority. !ther recent eIamples are the ollo%ing. Eurasian Economic 5ommunity ,'.7. res. 21=/;81. A1 '.7. res. 63=120 on the obser"er status o national liberation mo"ements recognised by the !rganisation o 7 rican Unity and=or by the -eague o 7rab States.

66

Sehubungan dengan E5!S!5, terdapat perbedaan dalam Piagam P$$ antara partisipasi tanpa hak suara dalam pembahasan De%an ,status pemantau1 dan pengaturan untuk konsultasi. (enurut 7rts 28 dan 90, partisipasi pihak berstatus pemantau disediakan hanya dalam kasus negara bukan anggota E5!S!5 dan badan-badan khusus. 7rticle 91, berlaku untuk N'!s, memberikan pengaturan yang sesuai untuk konsultasi.A/ *esolusi E5!S!5 1882=31 ,yang diperbarui oleh resolusi E5!S!5 1/82 ,N->+1 /3 (ei 182A1 berusaha untuk memperkenalkan LkoherensiL ke dalam aturan konsultasi serta yang mengatur partisipasi N'!s di kon erensi P$$. *esolusi tersebut memberikan hubungan konsultati dengan, N'!s nasional, sub-regional, regional atau internasional yang berkaitan dengan hal-hal yang termasuk dalam kompetensi E5!S!5 dan badan pendukungnya, dan yang maksud dan tujuannya yang sejalan dengan tujuan dan prinsip Piagam P$$. Dalam mempertimbangkan penerapan untuk status konsultati negara-negara berkembang, untuk mencapai Lketerlibatan yang ini, adil, E5!S!5 harus memastikan partisipasi dari semua %ilayah, dan terutama dari seimbang, e ekti dan tulusL dari N'!s seluruh ka%asan dan %ilayah di dunia. Dalam menentukan penerimaan status konsultati , organisasi harus menunjukkan bah%a pekerjaannya memiliki rele"ansi langsung dengan maksud dan tujuan P$$, serta dalam hal untuk organisasi nasional, permintaan status tersebut dilakukan setelah berkonsultasi dengan negara anggota yang bersangkutan. E5!S!5 memiliki tiga jenis pengaturan. pertama, Lorganisasi dalam status konsultati umumL, yang berkaitan dengan sebagian besar kegiatan E5!S!5 dan dapat menunjukkan kontribusi secara subtanti dan berkelanjutan terhadap pencapaian tujuan P$$: kedua, Lorganisasi dalam status konsultati khususL, yang memiliki kompetensi khusus hanya dalam beberapa bidang kegiatan yang dicakup oleh E5!S!5: dan ketiga, organisasi yang termasuk dalam da tar ,disebut juga sebagai *oster1 yang tidak memiliki status konsultati umum atau khusus, tetapi dianggap
A/

See 5h./, paras /-098 et se1.

6;

E5!S!5

atau

Sekjen

P$$

dapat

memberikan

kontribusi

yang

berman aat. Status konsultati memiliki beberapa hak tertentu. organisasi dengan status konsultati umum dan khusus dapat menunjuk dan menempatkan per%akilannya sebagai pemantau pada rapat umum E5!S!5 dan badan pendukungnya, sedangkan pada *oster dimungkinkan memiliki per%akilannya hanya pada rapat yang berkaitan dengan masalah-masalah dalam bidang kompetensi mereka. Dalam kondisi tertentu pernyataan tertulis dapat diajukan oleh organisasi dengan status konsultati umum atau khusus, terlebih, eI,organisasi dengan status konsultati 1 juga dapat membuat pernyataan lisan dan mengusulkan gagasan dalam agenda sementara komisi, keduanya tunduk pada kondisi tertentu. *esolusi 1882=31 juga mengatur ketentuan untuk prihal penangguhan dan pencabutan, dan untuk pembentukan #omite E5!S!5 pada N'!s. $adan-badan P$$ lainnya ,seperti UNES5!, UNEP, dan UNDP1 dengan demikian mampu mengadakan pengaturan konsultati dengan N'!s. Di luar P$$, pengaturan konsultati ini sangat ber"ariasi dalam

pelaksanaannya. Perlu dicatat bah%a dalam banyak kasus, organisasi internasional yang bersangkutan tidak memiliki aturan, atau tidak ada aturan rinci, mengenai partisipasi entitas sebagai pemantau, termasuk N'!s, hal ini menimbulkan pertanyaan apakah dapat dikatakan bah%a prinsip-prinsip umum sudah diterapkan. Piagam <4! memungkinkan pengaturan yang sesuai untuk konsultasi dan kerjasama dengan N'!s.A3 Di sisi lain, >7E7 tidak memiliki aturan umum tentang hak-hak pemantau N'!s. <alaupun the Standing 5ommittee on Nuclear -iability-nya tetap mengiHinkan tiga N'!sK'reenpeace >nternational, UN>PEDE ,me%akili produsen tenaga listrik tertentu1, dan the European 7ssociation o Nuclear >nsurersKuntuk berpartisipasi sebagai pemantau pada sidang- sidangnya. Di a%al setiap sidang, per%akilan dari salah satu anggota >7E7 akan menyatakan ketidak setujuannya terhadap partisipasi 'reenpeace, dan keberatan resminya ketika, dalam satu sidang, 'reenpeace
A3

See 7rt.+/, (arrakesh 7greement Establishing the <4! ,18861.

69

mendistribusikan dokumen-dokumen tertentu kepada para peserta sidang. Dengan tidak adanya aturan yang menetapkan apa yang pemantau berhak lakukan, anggota yang bersangkutan tidak bisa membuktikan bah%a ada aturan yang telah dilanggar. 4he Standing 5ommitte menentukan praktek yang diperbolehkan pada distribusi dokumen ini sebagai kondisi bagi partisipasi pemantau. Praktek ini tercermin dalam laporan berikutnya dari sidang berdasarkan pemahaman yang dicapai pada sidang keempat 5ommittee.A6 Dalam hal ini perlu dibahas kecenderungan untuk membentuk organ di mana per%akilan non-negara ikut terlibat, baik dengan mengesampingkan per%akilan negara atau bersama-sama dengan mereka.A; $anyak berbagai alasan dalam hal ini. (isalnya dalam hal jika seseorang menjabat sebagai sekretariat suatu organisasi internasional, alasannya adalah untuk menjamin Lkarakter internasionalL organ dan melindunginya masing-masing negara.A2 independen untuk perorangan seperti >-5, tujuannya adalah untuk dari kontrol sebuah politik badan Dengan adanya organ peradilan atau badan-badan mengamankan dengan keahlian di bidang tertentu yang mampu the Standing 5ommittee, yang menyatakan bah%a partisipasi N'!s ditentukan

melihat masalah hukum atau teknis secara netral, juga mengakui perlunya me%akili prinsip hukum atau sistem sosio-politik dunia ketimbang negara-negara tertentu tersebut. Diterapkan atau tidaknya kesepakatan ini dalam sistem pemilihan pada organ politik P$$ dan organisasi lainnya adalah masalah lain. Dalam beberapa organ lain, alasannya adalah lebih untuk mengamankan arahan teknis ketimbang diskresi politik, maka dalam the 5ommission o the European 5ommunitiesA9 atau the Ouasi-eIecuti"e $oards di ba%ah !E5D,AA anggota, selain berkedudukan sebagai pihak yang ditunjuk oleh
A6

*eport o the Standing 5ommittee on Nuclear -iability, 11th meeting, (arch /0-/6, 188;, >7E7=S5N-=11=>N).;, 7pril /6, 188;, para.3. A; See (yers, D*epresentation in Public >nternational !rgansE ,18161 A ("J"I"L" A1: Sereni, &rgani''a'ione interna'ionale ,18;81, p./A/. A2 See supra, 5h.1/. A9 See supra, 5h.2. AA See supra, 5h.2.

6A

pemerintah, ia juga duduk dalam kapasitasnya masing-masing sebagai ahli. Dalam badan khusus, seperti yang kita lihat dalam pemeriksaan komposisi organ yang terbatasA8, kompromi antara per%akilan diplomatik dan representasi ahli diupayakan dengan meminta pemerintah untuk menunjuk %akil yang memenuhi syarat teknis dan mengharuskan organ tersebut untuk melaksanakan ungsiungsinya atas nama organ sepenuhnya, bukan atas nama masing-masing negara anggota yang me%akili: ini berhubungan dengan UNES5!, <&!, >4U, dan pada tingkat yang lebih rendah seperti UPU dan bank-bank pembangunan multilateral. Secara umum, bagaimanapun dibatasi oleh juga penggunaan tenaga ahli, badan pendukung yang bertindak dalam kapasitas sebagai

penasihat dalam kaitannya dengan organ-organ politik utama. Secara historis, sebagian besar badan teknis -$$ terdiri dari organisasi ekonomi dan keuangan atau badan-badan administrati seperti. the Permanent (andates 5ommission atau the Permanent 5entral !pium $oard atau the >nternational 5ommission o the Saar,80 badan-badan tersebut adalah badan di mana para ahli datang menda tarkan diri mereka sendiri, seringkali, secara signi ikan, ditentukan melaui suara mayoritas ketimbang kebulatan suara suatu organ politik.81 Dalam P$$ kehadiran representasi non-negara, yang ditempati oleh para ahli, masih cukup terbatas, diantaranya adalah >-5 seperti yang telah disebutkan, contoh badan lainnya yakni, the UN 5ommission on the *acial Situation in the Union o South 7 rica, bermacam 7rbitration 5ommissions, the United Nations 7dministrati"e 4ribunals, the >nspection Panel o the <orld $ank, serta bank pembangunan multinasional lainnya. 7lasan yang sangat berbeda dari Dkeinginan para ahli itu sendiriE, adalah pengakuan bah%a indi"idu mungkin me%akili sejumlah kepentingan, yang
See supra, 5h.3. Ditetapkan oleh Perjanjian +ersailles untuk memerintah %ilayah atas nama -iga, terdiri dari satu %arga negara Perancis, satu penduduk Saar ,bukan orang Perancis1, dan tiga orang dari kebangsaan bukan Perancis atau Ferman, kelimanya ditunjuk oleh De%an -iga. >t may be recalled that many people regarded as retrogressi"e the decision at San )rancisco to ha"e the unctional commissions o E5!S!5 manned by go"ernment representati"es rather than independent eIperts: see supra, 5hp./, paras /-02; et se1"
A8

80

81

68

berbeda dari kepentingan negara, yang seharusnya merepresentasikan dalam organisasi untuk membantu dalam mencapai tujuannya. !leh karena itu sistem tripartit per%akilan dalam #on erensi dan $adan Pimpinan >-!8/ merupakan pengakuan akan kebutuhan untuk me%akili kepentingan pekerja dan pengusaha masing-masing, terpisah dari representasi negara dari mana mereka berasal yang didelegasikan oleh pihak pemerintah. Perluasan yang signi ikan dalam hal ini adalah baru-baru ini, adanya per%akilan parlemen dalam the 5onsultati"e 7ssembly o the 5ouncil o Europe,83 terlebih lagi, di the European

Parliament,86 dalam kedua kasus ini tujuannya adalah untuk me%akili pendapat badan legislati nasional ,atau pada akhirnya pendapat rakyat, berhubungan sekarang ada hak pilih langsung1, yang bertentangan dengan pendapat pemerintah negara.

8/

See supra, 5h.3, para.3-01A. 7nother eIample can be seen in the representation o pri"ate operating agencies by their o%n eIperts in the 5onsultati"es 5ommittees o the >4U. 83 See supra, 5h.2, paras 2-013 et se1" 86 See supra, 5h.2, paras 2-038 et se1"

;0

DA,TAR $3STAKA ---. UN *e"ie%. 182/. ---. UN Jearbook. 1891. 7ust, 7nthony. (odern 4reaty -a% and Practice. /000. 5ambridge. 5ambridge Uni"ersity Press. &all, Stephen. >nternational -a%. /002. 7ustralia. -eIis NeIis $utters%orths. >5F. 7pplicability o the !bligation to 7rbitrate under s. /1 o the United Nations &eadOuarters 7greement o Fune /2, 1869. 7d"isory !pinion. ---. *eport o the Standing 5ommittee on Nuclear -iability. 11th (eeting. 188;. #elsen, &ans. <ithdra%al rom the United Nations. 186A. 4he <estern Political Muarterly. #labbers, Fan. 7n >ntroduction to >nternational >nstitutional -a%. /00/. 5ambridge, U#. 5ambridge Uni"ersity Press. P$$. )inal 5lauses o (ultilateral 4reaties. &andbook 4he Denunciation o &uman *ights 4reaties. Sands, Philippe dan Pierre #lein. /008. $o%ettPs -a% o >nternational >nstitutions. SiIth Edition. -ondon. S%eet Q (aI%ell Schemers, &enry '. dan Niels (. $lokker. >nternational >nstitutional -a%. )i th *e"ised +ersion. /011. -eiden. (artinus Nijho Publishers. Simma ,ed1. 4he 5harter o the United Nations. /nd edition. /00/.

;1