Anda di halaman 1dari 26

BAB I PENDAHULUAN

Testis merupakan organ primer dari alat reproduksi jantan yang menghasilkan spermatozoa dan hormon-hormon reproduksi, khususnya testosteron. Saat dewasa kelamin testis turun dari rongga perut ke dalam skrotum melalui kanalis inguinalis. Contoh tindakan bedah yang dilakukan terhadap testis adalah kastrasi. Kastrasi atau orchiectomy adalah tindakan bedah yang dilakukan pada testis, berupa pengambilan atau pemotongan testis dari tubuh. Hal ini umumnya dilakukan untuk sterilisasi (mengontrol populasi), penggemukan hewan, mengurangi sifat agresif, serta salah satu pilihan terapi dalam menangani kasus-kasus patologi pada testis atau scrotum. Kasus-kasus yang sering ditemukan antara lain: oedema scrotalis, tumor scrotalis, orchitis (peradangan pada testis), tumor testis (sertoli cell tumor), monorchyde, cryptorchyde, dermatitis scrotalis (exzeem scrotalis). Pada hewan yang muda kastrasi dilakuklan dengan maksud mengurangi sifat agresif yang berhubungan dengan hormone dan menggemukkan hewan, sedangkan pada hewan tua kastrasi cenderung dilakukan pada kasus-kasus yang berkaitan dengan senilitas pada testis.

BAB II TUJUAN DAN MANFAAT PENULISAN

2.1 Tujuan Penulisan Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk memberi pengetahuan mengenai teknik operasi kastrasi dengan baik dan benar, serta memberi pengetahuan tentang berbagai macam metode kastrasi.

2.2 Manfaat Penulisan Dari penulisan makalah ini, diharapkan akan mampu memberikan wawasan mengenai teknik operasi kastrasi yang dilakukan pada hewan besar maupun kecil dan dapat menerapkannya.

BAB III TINJAUAN PUSTAKA

3.1 Definisi Kastrasi atau orchiectomy adalah suatu tindakan pembedahan untuk mengangkat (menghilangkan) testis. Kastrasi dapat menurunkan populasi hewan karena dapat mencegah kesuburan hewan jantan (tujuan sterilisasi), mengurangi sifat menjelajah, dan mengurangi kebiasaan kencing yang tidak baik. Kastrasi juga dapat mengurangi resiko penyakit yang berhubungan dengan hormon androgen seperti gangguan prostat, tumor, dan perineal hernia. Indikasi lain dari kastrasi adalah menghindari sifat abnormal yang diturunkan, gangguan testis dan epididimis, mencegah tumor skrotum, trauma dan abses serta dapat mengurangi gangguan endokrin.

3.2 Metode Kastrasi Secara anatomis, lapisan yang membungkus testis dari superficial ke profundal adalah kulit dan subkutan (scrotum), tunika dartos, dan tunika vaginalis communis. Berdasarkan penyayatan pada lapisan-lapisan ini, dikenal dua metode dalam kastrasi, yaitu: 1. Kastrasi tanpa membuang testis Metode ini dapat dilakukan dengan merusak sirkulasi darah yang menuju testis pada masa pertumbuhan, sehingga testis mengalami atrofi. Akibatnya testis tak dapat berfungsi sebagai alat reproduksi. Kastrasi tanpa membuang testis dapat dilakukan dengan cara: Kontusio (memukul dengan benda keras) pada pembuluh darah yang menuju testis, Tusukan jarum berpijar pada pembuluh darah yang menuju testis, Melakukan torsio pada funiculus spermaticus, Pengikatan atau penjepitan percutan pada leher skrotum, cara ini sering digunakan (emasculatome), Dapat diikat dengan karet berbentuk ring, dalam waktu 7-10 hari testis dan skrotum akan lepas (elastrator). Metode ini umumnya dilakukan pada hewan ternak. Cara yang sering digunakan adalah pengikatan dengan karet (elastrator) dan dengan tang Burdizzo

(emasculatome). Akan tetapi, cara ini jarang digunakan karena menyebabkan rasa sakit dan berisiko terjadi peradangan. 2. Kastrasi dengan membuang testis Kastrasi Tertutup Pada kastrasi tertutup, sayatan hanya sampai pada tunika dartos, sehingga testis masih terbungkus oleh tunika vaginalis communis. Pengikatan dan penyayatan dilakukan pada funniculus spermaticus. Metode ini biasanya dilakukan pada anjing jenis kecil atau masih muda, dan kucing. Keuntungan cara ini adalah dengan tidak dibukanya tunica vaginalis, maka dapat menghindari kemungkinan terjadinya hernia skrotalis. Kastrasi Terbuka Kastrasi terbuka, umumnya dilakukan pada anjing jenis besar dan dewasa. Pada metode ini semua jaringan skrotum dan tunica vaginalis diinsisi dan testis serta spermatic cord dibuang tanpa pembungkusnya (tunica vaginalis). Kerugian utama cara ini adalah dengan terbukanya tunica vaginalis menyebabkan adanya hubungan dengan rongga abdomen sehingga memungkinkan terjadinya hernia skrotalis yang terutama berisi usus. Keuntungan cara ini adalah ikatan pembuluh darahnya lebih pasti, sehingga meminimalisir terjadinya pendarahan.

3.3 Pembahasan Jurnal Pada jurnal yang berjudul Castration of dromedary camel through prescrotal midline incision, membahas tentang kastrasi yang dilakukan pada unta. Banyaknya unta yang dijadikan objek pada penelitian ini adalah sebanyak 165 ekor unta, dengan umur yang berbeda-beda tiap ekornya. Kastrasi dilakukan melalui insisi kecil pada midline prescrotal, waktu dilakukannya yaitu antara Januari 2010 dan Desember 2011. Setelah dilakukan insisi, kemudian ditutup kembali dengan satu jahitan mattress horizontal terputus menggunakan chromic catgut USP-2. Diketahui terjadi infeksi post operasi pada 14 dari 165 ekor unta (8.5%), yang kemudian sembuh dalam 2 sampai 3 minggu setelah penanganan luka terbuka. Sedangkan 151 ekor lainnya berhasil pulih tanpa kendala, namun terlihat adanya edematosa ringan pada scrotum yang terjadi pada 8 dari 151 ekor unta (5.3%). Tidak ada perdarahan post operasi primer maupun sekunder pada tiap unta. Maka diambil kesimpulan bahwa teknik ini memerlukan waktu yang lebih sedikit dalam prosesnya dengan tidak terlalu

memerlukan perawatan post operasi dan komplikasi yang terjadi masih tergolong normal atau tidak melangkahi prinsip bedah standar. Berdasarkan jurnal yang berjudul Equine Castration: Review of Anatomy, Approaches, Techniques and Complications in Normal, Cryptorchid and Monorchid Horses, diketahui bahwa komplikasi yang terkait dengan kastrasi (pengebirian) pada kuda merupakan penyebab umum dari malpraktek terhadap praktisi kuda di Amerika Utara. Pemahaman tentang perkembangan embrio dan anatomi bedah sangat perlu untuk membedakan abnormal dari normalnya suatu struktur dan meminimalkan komplikasi. Pengebirian kuda normal dapat dilakukan dengan menggunakan obat penenang dan regional anestesi regional ketika kuda itu berdiri, atau dibawah anestesi umum saat kuda terlentang. Pada teknik kastrasi ketika kuda itu berdiri, kombinasi restrain fisik dan kimia serta anestesi regional umumnya direkomendasikan. Teknik untuk kastrasi termasuk teknik terbuka, tertutup, dan setengah tertutup. Kriptorkismus bilateral dan monorchid kuda jarang terjadi. Diagnosis definitif monorchid hanya dapat dilakukan setelah ekplorasi bedah pada abdomen, pengangkatan testis normal dan pengujian hormonal. Komplikasi kastrasi yang dilaporkan termasuk pada pasca operasi yaitu pembengkakan, perdarahan yang berlebihan, eventrasi, funiculitis, peritonitis, hydrocele, kerusakan penis. Dalam jurnal yang berjudul The behavioral assessment and alleviation of pain associated with castration in beef calves treated with flunixin meglumine and caudal lidocaine epidural anesthesia with epinephrine dilakukan penelitian terhadap efek flunixin megulmine yang dikombinasi anastesi epidural sebagai analgesik post-operasi pada anak sapi setelah operasi kastrasi dan mengukur tingkat kesakitan setelah dilakukannya operasi kastrasi. Kastrasi dilakukan pada 101 anak sapi yang dibagi menjadi tiga grup yakni: kelompok satu yang dioperasi tanpa anastesi, kelompok 2 yang dioperasi dengan tambahan lidocain dan epinefrin anastesi epidural sementara kelompok ketiga adalah anak sapi yang dioperasi dengan epinefrin anastesi epidural ditambah flunixin meglumin. Indikator kesakitan ditentukan dari: hitungan pedometer, penampakan visual rasa sakit, banyaknya pergerakan dan banyaknya suara yang ditimbulkan. Setelah diperbandingkan ketiga kelompok tersebut dengan indikator-indikator kesakitan dapat disimpulkan bahwa pemberian flunixin meglumin memberikan efek analgesik yang baik karena lebih efektif dibandingkan pemberian lidocaine.

BAB IV PEMBAHASAN

4.1 Teknik Operasi Kastrasi pada Hewan Kecil 4.1.1 Persiapan Pra Operasi Sebelum melakukan tindakan operasi, terlebih dahulu dilakukan persiapan operasi. Adapun persiapan yang dilakukan adalah persiapan alat, bahan, obat, persiapan ruangan operasi, persiapan hewan kasus dan operator. a. Persiapan Alat, Bahan, dan Obat Sterilisasi alat dengan menggunakan autoclave selama 15 menit, kecuali gunting dan jarum disterilkan dengan dengan menggunakan alkohol 70%. Tujuan dilakukan sterilisasi alat adalah untuk menghindari kontaminasi dari alat pada luka operasi yang dapat menghambat kesembuhan luka (Sudisma et al., 2006). Alat-alat operasi dipersiapkan dalam keadaan steril yang diletakkan secara urut dan rapi diatas tatakan steril di dekat meja operasi. Pada hewan kecil, premedikasi yang digunakan yaitu Atropin sulfat 0,025% dengan dosis 0,04mg/kg BB secara subkutan. Untuk anestesi dapat dilakukan secara lokal (field block), regional dan anestesi umum. Umumnya anastesi digunakan campuran Xylazin 2 % dosis 2 mg/kg BB dengan Ketamin HCL 10% dosis 15 mg/kg BB yang diberikan secara intramuskuler. Selain juga dipersiapkan antibiotik untuk mencgah terjadinya infeksi sekunder. b. Persiapan Ruang Operasi Ruang operasi dibersihkan menggunakan desinfektan. Sedangkan meja operasi didesinfeksi dengan menggunakan alkohol 70%. Penerangan ruang operasi sangat penting untuk menunjang operasi, oleh karena itu sebelum diadakanya operasi persiapan lampu operasi harus mendapatkan penerangan yang cukup agar daerah/situs operasi dapat terlihat jelas. c. Persiapan Operator Operator dan pembantu operator sebelum dan selama pelaksanaan operasi harus selalu dalam kondisi steril. Sebelum operasi dilaksanakan, operator dan pembantu operator mempersiapkan diri dengan mencuci tangan mulai dari ujung tangan sampai batas siku, menggunakan air sabun, kemuadian dibilas dengan air bersih yang mengalir, setelah itu tangan direndam dalam larutan antiseptik dengan menggunakan larutan PK 4% atau alkohol 70%. Selama

operasi, operator dan pembantu operator harus menggunakan masker, topi operasi, dan sarung tangan yang bersih serta pakaian khusus untuk operasi untuk mengurangi kontaminasi. Apabila operator dan pembantu operator sudah dalam keadaan steril maka tidak boleh bersentuhan atau memegang benda-benda yang tidak steril. d. Persiapan Hewan Sebelum operasi dilakukan, terlebih dahulu dilakukan pemeriksaan kondisi tubuh hewan secara umum. Hal ini dilakukan untuk mengetahui apakah hewan memenuhi syarat operasi atau tidak. Bila hewan dinyatakan memenuhi syarat, maka operasi dapat dilaksanakan. Pada hewan dengan kasus tertentu, seperti testicular neoplasia harus dievaluasi terhadap metastase dan myelotoksisitas, terutama bila terjadi anemia dan feminisasi. Myelotoksisitas umumnya dapat teratasi dalam 2-3 minggu setelah tumor diambil tetapi dapat bersifat fatal apabila tidak mendapatkan terapi yang tepat. Sebelum operasi hewan harus dipuasakan makan selama 12 jam dan puasa minum selama 6 jam sebelum operasi dilakukan dengan tujuan agar kondisi usus dalam keadaan kosong sehingga tidak muntah. Sehari sebelum operasi hewan dimandikan bila rambutnya kotor, dikeringkan dengan handuk kering atau alat pengering. Sebelum melaksanakan operasi, juga perlu ditimbang berat badan anjing tersebut untuk menentukan dosis anastesi yang akan digunakan. Setelah itu dilakukan pencukuran rambut, bagian tempat yang akan diincisi yaitu daerah skrotum sekitar testis dan ekor ruas tertentu dibasahi dengan air sabun untuk memudahkan pencukuran. Rambut tersebut dicukur searah dengan arah rebah rambut menggunakan silet yang tajam lalu dibersihkan dengan air kemudian diolesi iodium tincture atau povidone iodine secara sirkuler dari sentral ke perifer. 4.1.2 Operasi a. Katrasi Tertutup 1. Dilakukan anestesi lokal (infiltrasi) pada tempat yang akan diinsisi. Pada hewan dewasa dapat dengan anestesi epidural atau general. Hewan diletakkan pada posisi rebah dorsal. Dilakukan draping dengan single drape. Buat insisi sepanjang kira-kira 3 cm yang cukup lebar untuk

mengeluarkan testis (tergantung ukuran hewan) melalui kulit pada raphae median (garis tengah) skrotum sedikit di belakang bulbus penis.

Gambar 1. Insisi pada skrotum

2. Dengan menggunakan jari salah satu testis didorong ke luar insisi, dan irisan dengan hati-hati diperdalam sampai tunica dartos dan fascia sehingga testis menonjol melalui tempat insisi, dibantu dengan preparasi tumpul menggunakan gagang scalpel.

Gambar 2. Mengeluarkan testis

3. Dengan menggunakan tangan kiri testis ditarik keluar dari insisi, potong ligamentum skrotum dan fascia dengan cara menusuk fascia dengan ujung skalpel dilanjutkan ke caudal.

Gambar 3. Memotong ligamentum skrotum dan fascia

4. Sisa-sisa ligamentum dan fascia didorong masuk ke dalam insisi menggunakan gagang skalpel, dengan demikian yang masih tertinggal adalah spermatic cord yang masih berada didalam tunica vaginalis yang sekarang bebas terekspose.

Gambar 4. Mendorong masuk ligamentum dan fascia, memperlihatkan spermatic cord

5. Tempatkan arteri klem pada spermatic cord bagian bawah, dan kemudian dipotong sepanjang tepi arteri klem dengan menggunakan scalpel.

Gambar 5. Pemotongan spermatic cord

6. Buat ikatan fiksasi pada proksimal (dibawah) arteri klem.

Ligasi

dilakukan dengan cara memasukkan benang ke bagian tengah potongan kemudian disimpulkan di salah satu sisi potongan, kemudian diligasikan ke seluruh potongan dan disimpulkan di tempat yang berseberangan menggunakan cat gut chromic 2-0.

Gambar 6. Ligasi spermatic cord

7. Dilakukan pemeriksaan terhadap adanya perdarahan dan stabilitas ikatan, baru kemudian arteri klem dilepas dan potongan dibiarkan masuk ke lubang insisi.

Gambar 7. Melepas arteri klem

8. Dorong testis lainnya ke insisi kulit dan dilakukan prosedur yang sama untuk membuang testis seperti di atas.

Gambar 8. Lakukan prosedur yang sama seperti sebelumya pada testis yang satu lagi

9. Tutup insisi kulit menggunakan jahitan sederhana terputus menggunakan benang non absorbable. Didesinfektan dengan Iodium Tincture 3% luka operasi tersebut. Disuntikkan Penicillin kedalam luka operasi, dan oleskan salep antibiotik. Diinjeksikan Vitamin B Compleks secara Intra muscular. Jahitan kulit dibuka setelah 7 hari.

Gambar 9. Suturing

10

b. Kastrasi Terbuka 1. Hewan diletakkan pada posisi dorsal recumbency. Diperiksa keberadaan kedua testis di dalam skrotum. Disiapkan secara aseptik pada daerah kaudal abdominal dan medial paha. Hilangkan faktor-faktor yang dapat menyebabkan iritasi seperti bulu, kotoran, dan kuman. Dilakukan anestesi lokal (infiltrasi) pada tempat yang akan diinsisi. Hewan diletakkan pada posisi rebah dorsal. Dilakukan draping dengan single drape dan pada daerah yang akan dioperasi (skrotum dan preskrotum) dibiarkan terbuka.

Gambar 10. Anjing diposisikan baring dorsal

2. Dengan jari tangan, dinding skrotum ditekan secara halus dan hati-hati di atas salah satu testis lalu didorong ke arah bagian cranial skrotum. 3. Setelah dilakukan insisi pada kulit skrotum, dan fascia spermatika lalu dilanjutkan menginsisi tunica vaginalis tepat di atas testis pada daerah raphae median.

Gambar 11. Insisi pada kulit skrotum

4. Insisi diperlebar sampai testis yang ditekan bagian belakangnya menyembul keluar lubang insisi, kemudian dipegang dan lebih ditarik keluar.

Gambar 12. Mengeluarkan testis

11

5. Mesorchium tipis yang menggantungkan testis dan epididymis mulai dari spermatic cord di bagian cranial dan ekor epididymis di bagian caudal, diinsisi dan spermatic cord dipotong dan diligasi menggunakan metode three forceps tie.

Gambar 13. Memotong spermatic cord dan melakukan ligasi dengan metode three forceps tie

6. Testis yang masih menempel di tunica vaginalis parietalis dengan ligamen pada ekor epididimis kemudian dipotong. Kadang-kadang perdarahan kecil pada ligamen yang dipotong perlu diligasi.

Gambar 14. Memotong ligamen

7. Testis lainnya dibuang dengan cara yang sama melalui insisi kulit yang sama. Bila diinginkan jaringan subkutan dijahit dengan benang catgut 3-0 dengan jahitan secara interrupted atau continuous. Kulit ditutup dengan jahitan interrupted sederhana menggunakan benang non absorbable.

12

Terdapat metode lain tempat insisi skrotum untuk mengeluarkan testis yaitu melalui insisi kulit yang dibuat diatas skrotum bagian ventral dan melalui tunica vaginalis parietalis untuk mengekspose testis. Yang penting disini adalah drainage bebas dari insisi pada tunica vaginalis dan kulit skrotum. Testis lainnya diambil dengan cara yang sama melalui insisi terpisah. Jadi pada metode ini testis dikeluarkan melalui dua insisi masing-masing di atas testis. 4.1.3 Pasca Operasi Komplikasi dari kastrasi adalah trauma, pembengkakan, memar, hematoma skrotalis, dehisensi dan infeksi. Yang paling sering terjadi adalah pembengkakan, umumnya terjadi setelah kastrasi terbuka, dan dapat ditangani dengan membatasi gerak pasien, pengompresan dan penggunaan Elizabeth collar. Hemoragi sering terjadi akibat pendarahan daerah subkutan dan sekat pembuluh, hal ini dapat diatasi dengan pemberian sedasi dan penekanan daerah yang mengalami hemoragi. Terjadinya hemoragi scrotal yang parah, pembengkakan atau infeksi biasanya penanganannnya dengan melakukan ablasi scrotal. Pada kasus yang langka, ligasi yang buruk akan tertarik ke dalam abdomen dan mengalami pendarahan. Pasien yang mengalami pendarahan akan dimonitoring dengan uji hematokrit, dan bila pendarahan dapat mengancam jiwa pasien, maka ekspolatori abdominal wajib dilakukan. Pembuluh testis dapat tertarik ke daerah ginjal, sehingga insisi celiotomy kemungkinan dibutuhkan. Pada anjing dengan myelotoksisitas akibat neoplasia testikuler, wajib dilakukan hemogram setiap minggu untuk memonitoring kesembuhan. Pemeriksaan rektal secara digital dapat dilakukan setiap dua minggu pasca operasi pada anjing dengan penyakit prostat. Penanganan pasca operasi yang umum adalah hewan ditempatkan dalam kandang yang bersih dan kering. Luka operasi diolesi betadine dan dikontrol kebersihannya, diperiksa secara kontinyu selama 4-6 hari. Selama seminggu hewan diberikan antibiotik dan makanan yang mempunyai nilai gizi yang cukup. Jahitan luka dapat dibuka setelah bekas operasi kering dan benar-benar telah tertutup.

13

4.2 Teknik Operasi Kastrasi pada Hewan Besar 4.2.1 Kastrasi Terbuka pada Babi Babi muda biasanya dikastrasi menggunakan teknik kastrasi terbuka, dimana rongga vaginalis dibiarkan terbuka setelah emasculasi. Umumnya babi dikastrasi pada umur 3-6 minggu. Kastrasi dilakukan dengan pemberian analgesik local pada kulit scrotum dan kedua testikel. Teknik Operasi 1. Babi dipegang pada bagian kaki belakang dan kepala di bagian bawah, dengan bagian dorsal/punggung menghadap ke pembedah. Testikel ditekan ke skrotum dengan ibu jari dan jari telunjuk.

Gambar 15. Menekan testikel ke skrotum dengan ibu jari dan jari telunjuk

2. Lakukan insisi ke jaringan testikuler dengan menginsisi terlebih dahulu kulit skrotum, kemudian tunika dartos dan tunika vaginalis.

Gambar 16. Melakukan insisi pada kulit skrotum sampai tunika vaginalis

14

3. Testikel dikeluarkan dengan jari dan ligament scrotal di transeksi dengan scalpel; insisi dimulai pada lokasi mesorchium.

Gambar 17. Mengeluarkan testikel dan transeksi ligamen scrotal

4. Untuk menghindari hemorrhagi pada spermatic cord, lakukan ligasi (dengan catgut) atau lakukan crushing pada spermatic cord (dengan emasculator, yang akan menekan dan memotong secara bersamaan). Pegang emasculator proximal pada spermatic cord selama 10-15 detik. Kemudian emasculator disingkirkan dan bagian corda yang diputus akan masuk kembali ke kanalis inguinalis.

Gambar 18. Crushing spermatic cord

15

4.2.2 Kastrasi pada Anak Sapi Kastrasi pada anak sapi biasanya dilakukan dengan cepat tanpa dibutuhkan anastesi didasarkan pada sisi ekonomis, kenyamanan dan situasi. Hal yang penting adalah memastikan agar tangan tetap steril dan tidak bersentuhan langsung dengan jaringan organ anak sapi. Pada operasi ini ditumbuhkan instrumen tambahan yakni emasculator. Teknik Operasi 1. Scrotum dipegang dan dibuat insisi horizontal pada kulit dan fascia. Segmen distal dari skrotum ditranseksi dan tunika vaginalis dibiarkan utuh (gambar A). 2. Penjepit diposisikan pada testis dan ditarik kearah proximal sehingga fascia dan corda spermatica terpisah (gambar B dan C). 3. Jika terdapat jaringan adipose dapat diambil sesuai keadaan anak sapi (gambar D). Insisi dapat disemprot menggunakan zat antibakteri.

Gambar 19. Kastrasi pada anak sapi

Setelah operasi dilakukan, sangat disarankan untuk melakukan imunisasi black leg dan malignant edema. Anak sapi harus diawasi selama 24 jam karena kemungkinan timbul perdarahan.

16

4.2.3 Kastrasi Tertutup pada Kambing Kastrasi pada kambing umumnya diindikasikan untuk mengurangi bau yang berasal dari kelenjar tanduk. Kambing sebaiknya dikastrasi setelah usia 6 bulan, karena kebanyakan kasus obstruksi uriner yang diakibatkan oleh kalkuli urethra terjadi pada kambing yang dikastrasi pada usia muda. Biasanya kambing dikastrasi dengan teknik kastrasi tertutup, yang mana rongga vaginalis tidak dibuka. Kambing direstrain oleh asisten dalam posisi rebah dorsal dengan kepala ditahan dibawah satu lengan dan kaki kambing dipegang dengan kuat. Kulit skrotum dan kedua corda spermatica diinfiltrasi loka dengan larutan analgesic yang sesuai. Teknik Operasi 1. Ujung skrotum disayat arah distal dan dipotong.

Gambar 20. Penyayatan skrotum

2. Testikel kemudian ditarik dengan tenaculum forceps dan tunica dartos dipisah dari tunica vaginalis dengan menggunakan spons kassa.

Gambar 21. Penarikan testikel dan pembukaan tunica dartos

17

3. Corda spermatica yang ditutupi oleh tunica vaginalis kemudian dicrushing dengan emasculator atau diligasi dengan benang jahit yang absorbable.

Gambar 22. Ligasi corda spermatica dengan benang jahit absorbable

4. Corda spermatica kemudian ditranseksi sekitar 1 cm distal dari ligasi. Testikel lainnya juga dipotong dengan cara yang sama.

Gambar 23. Transeksi corda spermatica

18

4.2.4 Kastrasi pada Kuda Ada beberapa teknik kastrasi yang bisa digunakan pada kuda: teknik kastrasi terbuka, teknik kastrasi tertutup, teknik kastrasi setengah tertutup, dan teknik penutupan primer. a. Teknik Kastrasi Setengah Tertutup Teknik kastrasi ini melibatkan crushing dan ligasi corda spermatica yang tertutup oleh tunica vaginalis. Dengan cara ini, komplikasi pasca operasi serius seperti eventrasi usus dan perdarahan corda spermatica bisa dihindari. Teknik kastrasi setengah tertutup sendiri bisa dilakukan dengan dua cara, yaitu dengan posisi kuda yang berbaring (recumbent stallion) dan posisi kuda yang berdiri (standing stallion). Recumbent Stallion: Untuk posisi berbaring, kuda diposisikan baring pada lateral kiri. Kaki kanan ditahan kuat ke dada dan kaki diikat. Kastrasi dilakukan dengan memberikan analgesik lokal infiltrasi. 1. Testikel kiri dipegang skrotumnya dengan tangan kiri, dengan begitu kulit skrotum tertarik dengan kuat. Lakukan insisi dengan panjang kira-kira 7-10 cm, 1 cm lateral dan sejajar raphae median melalui kulit dan tunica dartos. Insisi kecil lalu dibuat pada tunica vaginalis dan sudut-sudutnya ditarik dengan forceps hemostatik.

Gambar 24. Insisi pada kulit sampai tunica vaginalis

19

2. Insisi kemudian dilebarkan agar testikel dan epididimis muncul dari rongga vaginalis, lalu testikel ditarik dengan forceps tenaculum.

Gambar 25. Penarikan testikel

3. Tunica dartos kemudian dipisah dari tunica vaginalis dengan menggunakan spons kassa atau gunting tumpul.

Gambar 26. Pembukaan tunica dartos dengan spons kassa

4. Corda spermatica yang dilapisi tunica vaginalis kemudian di tekan dengan emasculator.

Gambar 27. Penjepitan corda spermatika

20

5. Kemudian dilakukan ligasi pada lokasi penjepitan menggunakan benang jahit absorbable. Corda spermatika kemudian ditranseksi 1-2 cm distal dari lokasi ligasi. Testikel lainnya bisa dipotong dengan cara yang sama.

Gambar 28. Ligasi pada lokasi penjepitan

Standing Stallion: Prinsip kastrasi setengah tertutup standing stallion sebenarnya sama dengan recumbent stallion, yang membedakan hanyalah posisi kudanya. Kastrasi dilakukan dengan restrain fisik dan pemberian analgesik lokal infiltrasi, bersama dengan restrain kimia jika perlu. Langkah-langkah operasi juga sama dengan standing stallion.

Manajemen pasca operasi termasuk latihan yang cukup untuk menghindari edema pada skrotum dan preputium. Profilaksis tetanus juga dibutuhkan.

21

b. Metode Penutupan Primer Metode kastrasi ini harus dilakukan hanya pada kondisi aseptik. Kastrasi dengan metode ini dilakukan dengan pemberian anesthesi umum dengan posisi kuda pada baring dorso-lateral. 1. Testikel ditarik kuat dengan satu tangan, dengan demikian kulit skrotum ikut tertarik. Lakukan insisi kira-kira 7-10 cm pada kulit dan tunica dartos pada bagian kaudal skrotum, sejajar dengan raphae median. Insisi kecil kemudian dibuat melalui tunica vaginalis dan sudut-sudutnya ditarik dengan tissue forceps.

Gambar 29. Insisi kulit, tunica dartos dan tunica vaginalis

2. Insisi kemudian diperluas agar testikel dan epididimis muncul dari rongga vaginalis, lalu testikel ditarik dengan forceps tenaculum. Ligamen skrotum dipotong dengan gunting, dan mesorchium ditoreh secara hati-hati dari tunica vaginalis dan corda spermatica diligasi dengan benang absorbable se-proximal mungkin.

Gambar 30. Pemotongan ligamen skrotum

22

3. Forceps peritoneum diaplikasikan pada corda spermatika sekitar 3 cm distal dari ligasi dan corda spermatika ditranseksi antara forceps dan ligature.

Gambar 31. Ligasi corda spermatika dan aplikasi forceps peritoneum pada corda spermatika

4. Luka sayatan kemudian ditutup dengan 3 pola terpisah menggunakan benang absorbable sintetik: tunica vaginalis dan tunica dartos dijahit dengan pola kontinyu, dan kulit dijahit dengan jahitan mattress terputus.

Gambar 32. Closure suture

23

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

Kastrasi pada hewan kecil bisa dilakukan dengan teknik kastrasi tertutup dan teknik kastrasi terbuka. Sedangkan pada hewan besar bisa dilakukan dengan teknik tertutup, teknik terbuka, teknik setengah tertutup seperti pada kuda dan metode penutupan primer yang juga bisa dilakukan pada kuda. Teknik kastrasi setengah tertutup yang dilakukan pada kuda dapat menghindarkan kuda tersebut dari komplikasi serius pasca operasi, sedangkan pada kambing, kastrasi sebaiknya tidak dilakukan pada kambing usia muda atau dibawah 6 bulan karena dapat menyebabkan obstruksi uriner akibat kalkuli urethra.

24

DAFTAR PUSTAKA

Currah, J.M., Hendrick, S.H., Stookey, J.M. 2009. The Behavioral Assessment and Alleviation of Pain Associated with Castration in Beef Calves Treated with Flunixin Meglumine and Caudal Lidocaine Epidural Anesthesia with Epinephrine. Canada: Canadian Veterinary Journal. Firth, E.G., Fontijne, P., Kersjes, A.W., Nemeth, F., Rutgers, L.J.E., van der Velden, M.A. 1985. Atlas of Large Animal Surgery. London: Williams & Wilkins. Hickman, J., Houlton, J., Edwards, B. 1995. An Atlas of Veterinary Surgery Third Edition. London: Blackwell Science Ltd. Searle, D., Dart A.J., Dart C.M., Hodgson, D.R. 1999. Equine Castration: Review of Anatomy, Approaches, Techniques and Complications in Normal, Cryptorchid and Monorchid Horses. Brunswick: Australian Veterinary Journal.Tobias, K.M. 2010. Manual of Small Animal Soft Tissue Surgery. Iowa: Wiley-Blackwell. Telfah, M.N., Siddiqui, M.I., Taleb, S.A. 2012. Castration of Dromedary Camel through Prescrotal Midline Incision. Abu Dhabi: Open Veterinary Journal. Turner, A.S., McIlwraith, C.W. 1989. Techniques in Large Animal Surgery 2nd edition. USA: Lippincot Williams & Wilkins.

25

LAMPIRAN

26