Anda di halaman 1dari 18

1

BAB I
PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Inisiatif merupakan suatu bentuk kesadaran yang muncul dari
setiap pribadi untuk mengerjakan suatu hal. Inisiatif yang berhubungan
dengan profesi konselor adalah inisiatif untuk mengembangkan profesi
konselor. Inisiatif atau kesadaran yang dimiliki oleh konselor di
Indonesia masih sangat kurang, terlebih lagi konselor sekolah untuk
mengembangkan profesi menjadi lebih dipandang oleh profesi lain.
Diyakini bahwa pelayanan bimbingan dan konseling adalah suatu
profesi yang profesional dan memenuhi persyratan untuk dikatakan
profesi yang profesional. Namun berhubung dengan perkembangannya
yang masih tergolong baru, terutama di Indonesia, dewasa ini
pelayanan bimbingan dan konseling belum sepenuhnya mencapai
persyaratan yang diharapkan itu. Misalnya saja masih banyak sekolah-
sekolah di Indonesia yang guru bimbingan dan konseling (konselor)nya
digeluti oleh berbagai pihak dengan latar belakang yang bervariasi.
Sebagian besar di antara mereka tidak memiliki latar belakang
pendidikan bimbingan dan konseling.
Permasalahan-permasalahan tersebut sepertinya memperlihatkan
bahwa profesi bimbingan dan konseling tidak berjalan secara
profesional, karena profesi konselor bisa di masuki/digeluti oleh orang
yang memiliki latar belakang pendidikan yang bukan dari pendidikan
bimbingan dan konseling.
Sebagai profesi yang handal, bimbingan dan konseling masih perlu
diperkembangkan dan di perjuangkan. Sudah seharusnya konselor
sekolah di Indonesia memiliki kesadaran untuk berinisiatif dan
berpartisipasi untuk mengembangkan profesi yang mereka geluti.

B. TUJUAN
Makalah ini disusun dengan tujuan untuk mengetahui berbagai cara
dalam inisiatif dan partisipasi pengembangan profesi konselor
2

BAB II
PEMBAHASAN

A. Pengertian
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia :
Inisiatif adalah : Usaha (tindakan dsb) yang mula-mula; prakrsa
Partisipasi adalah : Hal turut berperan serta di suatu kegiatan;
keikutsertaan; peran serta.
Profesi adalah : Bidang pekerjaan yang dilandasi pendidikan
keahlian (ketrampilan, kejujuran, dsb) tertentu.
Menurut Prof. Prayitno dan Erman Anti (1999):
Profesi adalah suatu jabatan atau pekerjaan yang menuntut
keahlian dari para petugasnya. Artinya, pekerjaan yang disebut
profesi itu tidak bisa dilakukan oleh orang yang tidak terlatih dan
tidak disiapkan secara khusus terlebih dahulu untuk melakukan
pekerjaan itu.

B. INISIATIF DALAM PENGEMBANGAN PROFESI BIMBINGAN DAN
KONSELING (KONSELOR)
Inisiatif dalam Pengembangan profesi bimbingan dan konseling
antara lain melalui, (a) standarisasi unjuk kerja profesional konselor, (b)
standarisasi penyiapan konselor, (c) akreditasi, (d) sertifikasi dan lisensi
dan (e) pengembangan organisasi profesi.

1. Standarisasi Unjuk Kerja Profesional Konselor
Pelayanan bimbingan dan konseling tidak semata-mata
diarahkan kepada pemecahan masalah saja tetapi mencakup
berbagai jenis layanan dan kegiatan yang mengacu kepada
terwujudnya fungsi-fungsi yang luas. Berbagai jenis bnatuan
dan kegiatan itu menuntut adanya unjuk kerja profesional
tertentu. Di Indonesia memang belum ada rumusan tentang
unjuk kerja profesional konselor yang standar. Usaha untuk
3

merintis terwujudnya rumusan tentang unjuk kerja itu telah
dilakukan oleh Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) pada
Konvensi Nasional VII IPBI di Denpasar, Bali (1989). Upaya ini
lebih dikonkretkan lagi pada Konvensi Nasional VIII di Padang
(1991).
Rumusan tentang unjuk kerja itu mengacu kepada wawasan
dan keterampilan yang hendaknya dapat ditampilkan oleh para
lulusan program studi Bimbingan dan Konseling. Keseluruhan
rumusan unjuk kerja ini meliputi 28 gugus. Ke -28 gugus
tersebut adalah:
a. Mengajar dalam bidang psikologi dan Bimbingan
Konseling (BK)
b. Mengorganisasikan program Bimbingan dan Konseling
c. Menyusun program Bimbingan dan Konseling
d. Memasyarakatkan pelayanan Bimbingan dan Konseling
e. Mengungkapkan Masalah Klien
f. Menyelenggarakan pengumpulan data tentang minat,
bakat, kemampuan, dan kondisi kepribadian
g. Menyusun dan mengembangkan himpunan data
h. Menyelenggarakan konseling individual
i. Menyelenggarakan bimbingan dan konseling kelompok
j. Menyelenggarakan orientasi studi siswa
k. Menyelenggarakan kegiatan ko/ekstrakulikuler
l. Membantu guru bidang studi dalam mendiagnosis
kesulitan belajar siswa
m. Membantu guru bidang studi dalam menyelenggarakan
pengajaran, perbaikan dan program pengayaan
n. Menyelenggarakan bimbingan kelompok belajar
o. Menyelenggarakan penempatan siswa
p. Menyelenggarakan bimbingan karir dan pemberian
informasi pendidikan/jabatan
q. Menyelenggarakan konferensi kasus
4

r. Menyelenggarakan terapi kepustakaan
s. Melakukan kunjungan rumah
t. Menyelenggarakan lingkungan klien
u. Merangsang perubahan lingkungan klien
v. Menyelenggarakan konsultasi khusus
w. Mengantar dan menerima alih tangan
x. Menyelenggarakan diskusi professional
y. Memahami dan menulis karya-karya ilmiah dalam bidang
BK
z. Memahami hasil dan menyelenggarakan penelitian dalam
bidang BK
aa. Menyelenggarakan kegiatan BK pada
lembaga/lingkungan yang berbeda
bb. Berpartisipasi aktif dalam pengembangan profesi BK
Walaupun rumusan butir-butir tersebut itu tampak sudah
terinci namun pengkajian lebih lanjut masih amat perlu
dilakuakan untuk menguji apakah butir-butir tersebut memang
sudah tepat sesuai deengan yang di butuhkan di lapangan,
serta cukup praktis dan memberikan arah kepada konselor bagi
pelaksanaan layanan terhadap klien.
Sebagai bahan pembanding berikut ini disajikan unjuk kerja
konselor yang telah ditetapkan American School Counselor
Association (ASCA) dicatatkan hanya gugus-gugus saja:
a. Menyusun program bimbingan dan konseling
b. Menyelenggarakan konseling individual
c. Memahami diri siswa
d. Merencanakan pendidikan dan pengembangan
pekerjaan
e. Mengalihtangankan siswa
f. Menyelenggarakan penempatan siswa
g. Memberikan bantuan kepada orangtua
h. Mengadakan konsultasi dengan staf
5

i. Mengadakan hubungan dengan masyarakat

2. Standarisasi Penyiapan Konselor
Tujuan penyiapan konselor ialah agar para (calon) konselor
memiliki wawasan dan menguasai serta dapat melaksanakan
dengan sebaik-baiknya materi dan keterampilan yang
terkandung dalam butir-butir rumusan unjuk kerja. Penyiapan
konselor itu dilakuakan melalui program pendidikan prajabatan,
program penyetaraan, ataupun pendidikan dalam jabatan
(seperti penataran). Khusus tentang penyiapan konselor
melalui program pendidikan dalam jabatan, waktunya cukup
lama, dimulai dari seleksi dan penerimaan calon mahasiswa
yang akan mengikuti program sampai para lulusannya
diwisuda.
a. Seleksi/ Penerimaan Mahasiswa
Seleksi atau pemilihan mahasiswa calon mahasiswa
merupakan tahap awal dalam penyiapan konselor.
Kegiatan ini memegang peranan amat penting dan
menentukan dalam upaya pemerolehan calon konselor
yang diharapkan. Komisi tugas, standar, dan kualifikasi
konselor Amerika Serikat (dalam Mortensen & Schmuller)
Mengemukakan syarat-syarat pribadi yang harus dimilki
oleh konselor sebagai berikut :
1. Memiliki bakat skolastik yang memadai untuk
mengikuti pendidikan sarjana atau yang lebih tinggi.
2. Memiliki minat dan kemauan yang besar untuk
bekerja sama dengan orang lain.
3. Memiliki kemampuan untuk bekerja dengan orang-
orang dari berbagai latar belakang.
4. Memiliki kematangan pribadi dan sosial, meliputi
kepekaan terhadap orang lain, kebijaksanaan,
keajegan, rasa humor, bebas dari kecenderungan-
6

kecenderungan suka menyendiri, mampu mengambil
pelajaran dari kesalahan-kesalahan, dan mampu
menerima kritik, berpenampilan menyenangkan,
sehat, suara menyenangkan, memiliki daya tarik, dan
bebas dari perilaku yang tidak menyenangkan.
Senada dengan sifat-sifat pribadi konselor tersebut,
Prayitno (1990) menyatakan bahwa untuk dapat
mengikuti program pendidikan konselor berlaku
persyaratan untuk menjadi calon guru yang baik, pada
umumnya yaitu menyukai anak-anak dan menyukai
orang lain, dapat berkomunikasi verbal secara baik, serta
cerdas.
Kemampuan dasar dan kekayaan pribadi seporti
dikemukakan di atas perlu ditampilkan oleh mahasiswa
calon konselor melalui prosedur seleksi yang dilakukan
secara mandiri oleh lembaga pendidikan konselor.
Instrumen-instrumen prosedur seleksi yang dipakai dapat
berupa tes kecerdasan, tes kepribadian, wawancara, dan
pengamatan.
b. Pendidikan Konselor
Untuk dapat melaksanakan tugas-tugas dalam bidang
bimbingan dan konseling yaitu unjuk kerja konselor
secara baik para (calon) konselor dituntut memiliki
pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang memadai.
Pengetahuan, keterampilan, dan sikap tersebut diperoleh
melalui pendidikan khusus.
Kurikulum program konselor mengacu kepada standar
kemampuan konselor yang mampu melaksanakan
tugasnya dengan baik di lapangan. Materi kurikulum
program studi meliputi:
1. Materi inti, yaitu materi tentang pertumbuhan dan
perkembangan individu. Teori-teori tentang
7

pemberian bantuan, dinamika kelompok,
pemahaman individu dll.]
2. Studi lingkungan dan studi khusus, yaitu materi
tentang studi lingkungan dan materi khusus sesuai
dengan keperluan mahasiswa untuk bekerja dalam
lingkungan tertentu.
3. Pengalaman tersupervisi, yaitu kegiatan praktek
langsung pelayanan bimbingan dan konseling baik
melalui kegiatan praktikum di laboratorium,
praktikum dan intership, maupun praktek
pengalaman lapangan yang sesuai dengan cita-
cita mahasiswa.
Untuk memenuhi tuntutan di lapangan yang
menyangkut berbagai variasi yang ada di masyarakat,
pendidikan konselor juga perlu mengisi program-
programnya dengan pengalaman-pengalaman yang
bervariasi misalnya yang menyangkut anak cacat,
kelompok minoritas, dan seni dalam konseling dll.
Di samping penguasaan wawasan dan materi
keilmuan serta keterampilan, calon konselor juga perlu
membina diri dalam sikap dan keteguhan dalam
penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan konseling
salah satu contoh misalnya adalah pengembangan sikap
berkenaan dengan asas kerahasiaan sebagai asas
kunci dalam penyelenggaraan pelayanan bimbingan dan
konseling. Dalam diri konsleor harus benar-benar
tertanam pemahaman dan tekad untuk melaksanakan
aset tersebut.
Dalam standar yang dikemukakan tersebut
pendidikan konselor diselenggarakn minimal 2 tahun
sesudah jenjang setingkat sarjana muda. Sedangkan
8

program doktornya meliputi 4 tahun akademik, termasuk
di dalamnya program intership selama 1 tahun.

3. Akreditasi
Lembaga pendidikan konselor perlu diakreditasi untuk
menjamin mutu para lulusannya. Akreditasi itu meliputi
penilaian terhadap misi, tujuan, struktur dan isi program, jumlah
dan mutu pengajar , prosedur, seleksi, mutu penyelenggaraan
program, penilaian keberhasilan mahasiswa dan keberhasilan
program, potensi pengembangan lembaga, unsur-unsu
penunjang,dan hubungan masyarakat. Untuk dapat
diselenggarakannya akreditasi secara baik perlu terlebih dahulu
ditetapkan standar pendidikan konselor yang berlaku secara
nasional. Penyusunan standar ini menjadi tugas bersama
organisai profesi bimbingan dan konseling denan pemerintah.
Tujuan pokok akreditasi adalah untuk memantapkan
kredibilitas profesi, tujuan ini lebih lanjut dirumuskan sebagai
berikut:
a. Untuk menilai bahwa program yang ada memenuhi
standar yang ditetapkan oleh profesi
b. Untuk menegaskanmissi dan tujuan program
c. Untuk menarik calon konselor dan tenaga pengajar yang
bermutu tinggi.
d. Untuk membantu para lulusan memenuhi tuntutan
kredensial, seperti lisensi
e. Untuk meningkatkan kemampuan program dan
pengakuan terhadap program tersebut.
f. Untuk meningkatkan program dari penampilan dan
penutupan.



9

4. Sertifikasi dan Lisensi
Sertifikasi merupakan upaya lebih lanjut untuk lebih
memantapkan dan menjamin profesionalisasi bimbingan dan
konseling. Para lulusan pendidikan konselor yang akan bekerja
di lembaga-lembaga pemerintah misalnya di sekolah-sekolah,
diharuskan menempuh program sertifikasi yang
diselenggarakan oleh pemerintah. Sedangkan mereka yang
hendak bekerja di luar lembaga atau badan pemerintah
diwajibkan memperoleh lisensi atau sertifikat kredensial dari
organisasi profesi bimbingan dan konseling. Hal ini semua
dimaksudkan untuk menjaga profesionalitas para petugas yang
akan menangani pelayanan bimbingan dan konseling
Untuk dapat diselenggarakannya program akreditasi,
sertifikasi, dan lisensi itu harus terlebih dahulu disusun dan
diberlakukan undang-undang atau peraturan pemerintah. Materi
peraturan perundangan ini disusun bersama antara para
pejabat pembuat undang-undang/peraturan dengan organisasi
profesi. Dengan prosedur seperti itu, kerjasama antara
pemerintah dengan organisasi profesi dapat terjalin secara baik
dan nyata.

5. Pengembangan Organisasi Profesi
Organisasi profesi adalah himpunan orang-orang yang
mempunyai profesi yang sama. Sesuai dengan dasar
pembentukan dan sifat organisasi itu sendiri, yaitu profesi dan
professional maka tujuan organisasi profesi menyangkut hal-hal
yang berbau keilmuannya. Tujuan organisasi profesi dapat
dirumuskan ke dalam tri darma organisasi profesi konselor
yaitu:
1. Pengembangan ilmu
2. Pengembangan pelayanan
3. Pengembangan kode etik professional
10

Organisasi profesi bimbingan dan konseling dikehendaki
dapat menjalankan ketiga darmanya itu sebagaiman di
harapkan. Keikutsertaan dalam program akreditasi lembaga
pendidikan konselor , sertifikasi dan pemberian lisensi tidak lain
adalah wujud pelaksanaan ketiga darma itu. Demikian juga
perumusan unjuk kerja dan pembinaan serta pengembangan
profesi yang menjadi sisi organisasi profesi bimbingan dan
konseling.
ABKIN sebagai organisasi profesi di bidang bimbingan dan
konseling sejak awal telah berusaha melaksanakan ketiga
darma organisasi itu. Selain unjuk kerja konselor. ABKIN telah
pula menyusun kode etik anggota ABKIN. Di samping itu
ABKIN berusaha bekerja sama dengan lembaga pendidikan
konselor dalam rangka penyusunan kurikulum pendidikan
konselor, berpartisipasi dalam penataran para petugas
bimbingan di sekolah dan melaksanakan upaya-upaya lainnya
demi pengembangan pelayanan bimbingan dan konseling
secara luas.

C. PARTISIPASI DALAM PENGEMBANGAN PROFESI BIMBINGAN
DAN KONSELING (KONSELOR)
Partisipasi dalam Pengembangan profesi bimbingan dan
konseling antara lain melalui, (a). Keorganisasian, (b). Eksistensi
dan Posisi Pofesi, (c). Sumber Daya Manusia.

A. KEORGANISASIAN
Salah satu keputusan kongres IPBI ke IX yang berlangsung
di Lampung pada tanggal 15 17 Maret 2001 ialah mengubah
nama organisasi Ikatan Petugas Bimbingan Indonesia (IPBI) yang
di dirikan pada tanggal 17 Desember 1975 di Malang menjadi
Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia (ABKIN). Implikasi
dari pergantian nama ini dilandasi terutama oleh pikiran bahwa
11

Bimbingan dan Konseling harus tampil sebagai suatu profesi yang
mendapat pengakuan dan kepercayaan publik. Implikasi dari
perubahan nama ini tidak semata-mata pada aspek hokum dan
legalitas melainkan terutama pada aspek pengembangan keilmuan,
seni, dan layanan profesional dari Bimbingan dan Konseling.
Perubahan nama dari IPBI yang tampak lebih kental dengan
asosiasi personnya, menjadi ABKIN yang lebih kental dengan
asosiasi profesinya dipandang sebagai suatu keharusan dan
langkah tepat untuk menghindarkan munculnya pikiran dan
perasaan adanya person-person yang seolah-olah tidak
terakomodasi dalam organisasi, sehingga memandang perlu
adanya asosiasi-asosiasi lain di dalam organisasi yang berorientasi
person. Keutuhan organisasi harus dipertahankan dengan
menggunakan perekat profesi dan bukan perekat person. Secara
keilmuan, seni, dan profesi, perubahan nama membawa implikasi
bagi upaya-upaya pengokohan identitas profesi, penegasan lingkup
layanan, keterkaitan dengan profesi lain yang sejenis, dan seting
layanan.

B. EKSISTENSI DAN POSISI PROFESI
Hal yang amat menakjubkan dalam masyarakat abad 21
yang dikenal sebagai masyarakat global adalah jaringan informasi
yang amat luas, cepat, mudah diakses oleh siapapun, kapanpun,
dimanapun. Pergeseran informasi dari untuk didengar kepada
untuk dilihat menyebabkan jutaan byte informasi datang setiap
detik, sehinnga manusia dapat mengalami oversupply informasi
yang penuh dengan ketidakpastian dan kesemrawutan. Kondisi ini
menuntut manusia untuk mampu memilih, menimbang, mengarifi,
merekonstruksi, dan memaknai informasi untuk kepentingan
pemilihan alternative dan pengambilan keputusan. Kompleksitas,
ketakpastian, paradoks, yang bisa menimbulkan kebingungan,
kecemasan dan frustrasi manusia pada hakekatnya adalah wahana
12

belajar sepanjang hayat (lifelong learning) bagi manusia untuk
menampilkan eksistensi dirinya di dalam dunia global ini.
Struktur kehidupan masyarakat global seperti di atas akan
menempatkan profesi bimbingan dan konseling ke dalam posisi
layanan yang terbuka, interdipenden, interconnected. Tantangan
yang muncul dari posisi semacam ini ialah diperhadapkannya
profesi bimbingan dan konseling ke dalam: diversifikasi kebutuhan
bimbingan dan konseling yang semakin lebar, target populasi
layanan semkain luas dan bervariasi, tujuan konseling semakin
berorientasi pada perkembangan dalam konteks atau sistem untuk
jangka panjang, strategi intervensi akan banyak bernuansa
teknologi, dan lingkup layanan menjadi semakin luas dan beragam.
Kecenderungan ini menuntut bimbingan dan konseling
mengembangkan diversifikasi respons, program dan strategi
intervensi ragam layanan profesional, dan spectrum sumber daya
manusia (konselor) yang harus disiapkan.

C. SUMBER DAYA MANUSIA (KONSELOR)
Masalah dan tantangan yang terkait dengan eksistensi dan
posisi profesi membawa implikasi kepada kualifikasi dan spektrum
sumber daya manusia bimbingan dan konseling. Layanan
bimbingan dan konseling tidak lagi sebatas layanan dalam setting
sekolah tetapi juga dalam setting luar sekolah. Mutu dan
kualifikasisumber daya manusia bimbingan dan konseling
(konselor) menjadi salah satu masalah dan kebutuhan mendasar
yang harus ditata, disiapkan, dan dibina secara sistemik dan
sistematik.

D. ORIENTASI, VISI DAN POSISI
Pergeseran orientasi bimbingan dan konseling dari berfokus
kepada individu sebagai klien ke arah individu di dalam sistem dan
menjadikan sistem dan subsistem sebagai klien membawa
13

implikasi besar kepada peran dan fungsi bimbingan dan konseling .
Fokus utama dari bimbingan dan konseling lebih kepada upaya
untuk memfasilitasi-bahkan mengakselerasi dan mengeskalasi
pengembangan individu melalui pengembangan lingkungan
perkembangan sebagai lingkungan belajar.
Lifelong learning process menjadi wahana utama
perkembangan individu dalam berbagai setting kehidupannya yang
meliputi dunia kerja, sekolah, keluarga, organisasi, dan setting
kehidupan lainnya. Belajar, bekerja, dan sekolah menjadi sesuatu
yang terpadu (integrated); layanan bimbingan dan konseling
sebagai layanan independen berada dalam posisi
interdipendensidengan layanan ini.
a. Arah Pengembangan dan Pokok-pokok Kebijakan
Berlandaskan kepada masalah dan tantangan serta
orientasi, visi dan posisi bimbingan dan konseling sebagai suatu
profesi, pengembangan ABKIN 2001 2005 sebagai organisasi
profesi bimbingan dan konseling diarahkan kepada:
Profesionalisasi, diarahkan kepada upaya pemantapan
keilmuan dan wilayah garapan profesi serta
memeprkokoh indipendensi dan identitas profesi dalam
konteks kesejawatan dan kolaborasi profesional,yang
didukung oleh kepercayaan public yang luas.
Penataan dan pemantapan organisasi, diarahkan
kepada upaya memperkokoh keutuhan organisasi yang
berlandaskan profesi dengan didukung oleh struktur dan
dinamika organisasi.
Pemantapan manajemen; diarahkan kepada upaya
untuk menggerakan seluruh potensi dan sumber daya
sehingga terjadi partisipasi menyeluruh yang mampu
mendukung implementasi kebijakan pengembangan
secara efektif dan produktif.
14

Peningkatan mutu sumber daya manusia;, diarahkan
kepada upaya untuk meningkatkan kemampuan
profesional dan menyiapkan sumber daya manusia
bimbingan dan konseling dalam spectrum dan standar
mutu profesional yang memadai dan berwawasan
teknologi informasi.
b. Pokokpokok kebijakan
Sejalan dengan yang digariskan di atas Pokok-pokok
Kebijakan Pengembangan ABKIN dituangkan ke dalam
Garis-garis Besar Program Pengembangan ABKIN 2001
2005 (GBPP ABKIN 2001 2005) seperti berikut ini:
Keilmuan
1. Melakukan riset dan pengembangan, baik murni
maupun terapan
2. Melakukan kolaborasi dengan profesi lain untuk
memperkokoh profesi keilmuan
3. Menyelenggarakan dan/atau berpartisipasi dalam
berbagai kegiatan dan forum ilmiah baik nasional
maupun internasional
4. Mengembangkan publikasi ilmiah
5. Mengembangkan model-model konseling berbasis
riset dan teknologi informasi
6. Membina dan mengembangkan praktek bimbingan dan
konselingdalam berbagai setting dan jenjang
pendidikan
Keorganisasian
1. Menata dan mengembangkan struktur dan unsur-unsur
organisasi
2. Memberdayakan unsur-unsur organisasi
3. Memberdayakan Pengurus Daerah dan cabang dalam
pengembangan dan implementasi program
4. Memproses aspek hokum dan legalitasorganisasi
15

Manajemen Umum
1. Merintis dan mengembangkan sistem teknologi
informasi
2. Mengembangkan revenue generating program
3. Menata manajemen keanggotaan
Partisipasi Menyeluruh
Partisipasi menyeluruh dari setiap daerah dan cabang
diupayakan melalui pemberian wewenang dan tanggung
jawab daerah dan cabang dalam mengembangkan dan
melaksanakan program dengan tetap menjadkan
kebijakan umum sebagai dasar atau rujukan
Kolaborasi strategik
Mengadakan kerja sama dengan berbagai pihak baik di
dalam maupun luar negeri, yang menyangkut berbagai
program.

Peningkatan Sumber Daya Manusia
1. Menyelenggarakan pendidikan dan latihan baik untuk
kepentingan intern maupun ekstern organisasi
2. Bekerjasama dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga
terkait laiinnya dalam pengembangan program dan
penyelenggaraan pendidikan dan latihan baik untuk
calon konselor, konselor, maupun pihak lain yang
memerlukan.
3. Mengembangkan sumber daya manusia yang
berwawasan teknologi informasi
Profesionalisasi
1. Mengambil inisiatif dan menindak lanjuti upaya-upaya
menjadikan konselor sebagai salah satu jabatan
profesional dari spectrum tenaga kependidikan
2. Mengembangkan sistem sertifikasi dan kredensisasi
profesi konselor
16

3. Menyelenggarakan layanan kemasyarakatan sesuai
dengan kewenangan profesional.
4. Memantapkan kode etik profesi
































17

BAB III
PENUTUP


































18

DAFTAR PUSTAKA

Prayitno, dan Erman Amti. 2004. Dasar dasar Bimbingan dan Konseling.
Jakarta: Rinneka Cipta
Jurnal Asosiasi Bimbingan dan Konseling. 2005. Kebijakan
Pengembangan Asosiasi Bimbingan dan Konseling Indonesia
Perode 2001-2005. Jakarta: ABKIN
Prayitno. (2008). Mengatasi krisis identitas konselor. Padang: ebook.
Kamus Besar Bahasa Indonesia (1992)