Anda di halaman 1dari 12

KOMPETENSI KONSELOR LINTAS BUDAYA

MAKALAH

Disusun Guna Memenuhi Tugas

Mata Kuliah : Konseling Lintas Budaya

Kelas : BPI-A3

Dosen Pengampu : Widayat Mintarsih, M.Pd.

HALAMAN JUDUL

Disusun Oleh:

Faidatul Fatonah (1901016017)

Rizky Ayunita Amalia (1901016026)

BIMBINGAN DAN PENYULUHAN ISLAM

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI WALISONGO

SEMARANG

2021
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Sebagai sebuah profesi yang menyeluruh konseling tidak pernah mengenal
perbedaan Konselor dan klien yang berasal dari latar belakang budaya yang berbeda, dan
karena itu proses konseling sangat rawan oleh terjadinya bias-bias budaya pada pihak
konselor yang mengakibatkan konseling tidak berjalan efektif. Agar berjalan efektif,
maka konselor dituntut untuk memiliki kepekaan budaya dan melepaskan diri dari bias-
bias budaya, mengerti dan dapat mengapresiasi diversitas budaya, dan memiliki
keterampilan-keterampilan yang responsive secara kultural. Dengan demikian, maka
konseling dipandang sebagai “perjumpaan budaya” (cultural encounter) antara konselor
dan klien (Dedi Supriadi, 2001:6).
Peran konselor dalam proses memandirikan individu merupakan peran yang
sangat penting dalam kehidupan seseorang. Oleh karena itu dalam proses layanan
konseling yang diberikannya, konselor tentu perlu untuk memiliki pemahaman yang
mendalam terhadap konselinya. Pemahaman tersebut mencakup hal-hal yang ada dalam
dirinya sendiri dan juga konselinya. Kesadaran akan perbedaan yang dimiliki
antara keduanya menjadi salah satu cara yang penting untuk menjaga hubungan
dan interaksi dalam proses konseling. Ekspektasi kinerja konselor dalam memberikan
layanan konseling akan selalu digerakkan oleh motif altruistic dalam arti selalu
menggunakan penyikapan yangempatik, menghormati keberagaman, serta
mengedepannya kemashalatan pengguna pelayanannya, dilakukan dengan selalu
mencermati kemungkinan dampak jangkapanjang dari tindak pelayanannya itu terhadap
pengguna pelayanan, sehingga pelayanan professional ini dinamakan “the reflective
practitioner”(Depdiknas, 2008).
B. Rumusan Masalah
1. Apa saja kompetensi konselor lintas budaya?
2. Bagaimana menuju kesadaran budaya?
C. Tujuan Penulisan
1. Guna memenuhi tugas Konseling Lintas Budaya tahun akademik 2021/2022
Universita Islam Negri Walisongo Semarang
2. Untuk mengetahui dan memahami apa saja kompetensi konselor lintas budaya
3. Untuk mengetahui dan memahami bagaimana menuju kesadaran budaya
BAB II

PEMBAHASAN

A. Kompetensi Konselor Lintas Budaya

Konseling merupakan suatu proses untuk membantu individu mengatasi hambatan-


hambatan perkembangan dirinya,dan untuk mencapai perkembangan yang optimal
kemampuan pribadi yang dimilikinya, proses tersebut dapat terjadi setiap waktu. Untuk
menunjang pelaksanaan konseling lintas budaya dibutuhkan konselor yang mempunyai
spesifikasi tertentu. Pedersen (dalam Mcrae & jhonson) menyatakan bahwa konselor lintas
budaya harus mempunyai kompetensi kesadaran, pengetahuan dan keterampilan. Kesadaran,
konselor lintas budaya harus benar-benar mengetahui adanya perbedaan yang mendasar
antara konselor dengan klien yang akan dibantunya.1 Selain itu, konselor harus menyadari
benar akan timbulnya konflik jika konselor memberikan layanan konseling kepada klien
yang berbeda latar belakang sosial budayanya. Hal ini menimbulkan konsekuensi bahwa
konselor lintas budaya harus mengerti dan memahami budaya di Indonesia, terutama nilai
nilai budaya yang dimilikinya. Sebab bukan tidak mungkin macetnya proses konseling hanya
karena konselor tidak mengetahui dengan pasti nilai nilai apa yang dianutnya. Dengan
demikian, kesadaran akan nilai nilai yang dimiliki oleh konselor dan nilai nilai yang dimiliki
oleh klien, akan dapat dijadikan landasan untuk melaksanakan konseling. Pengetahuan
konselor lintas budaya sebaiknya terus mengembangkan pengetahuannya mengenai budaya
yang ada di Indonesia. Pengetahuan yang perlu dimiliki oleh konselor lintas budaya adalah
sisi sosio politik dan sosio budaya dari kelompok etnis tertentu. Semakin banyak latar
belakang etnis yang dipelajari oleh konselor, maka semakin baragam pula masalah klien
yang dapat ditangani. Pengetahuan konselor terhadap nilai nilai budaya yang ada di
masyarakat tidak saja melalui membaca buku atau hasil penelitian saja, tetapi dapat pula
dilakukan dengan cara melakukan penelitian itu sendiri. Hal ini akan semakin mempermudah
konselor untuk menambah pengetahuan mengenai suatu budaya tertentu.

1
Dayakisni, Tri & Salis Yuniardi. 2004. Psikologi Lintas Budaya. Malang. UMM Press.
Keterampilan, konselor lintas budaya harus selalu mengembangkan keterampilan
untuk berhubungan dengan individu yang berasal dari latar belakang etnis yang berbeda.
Dengan banyaknya berlatih untuk berhubungan dengan masyarakat luas, maka konselor akan
mendapatkan keterampilan (perilaku) yang sesuai dengan kebutuhan. Misalnya, konselor
banyak berhubungan dengan orang jawa, maka konselor akan belajar bagaimana berperilaku
sebagaimana orang Jawa. jika konselor sering berhubungan dengan orang Minangkabau,
maka konselor akan belajar bagaimana orang Minangkabau berperilaku. Tiga kompetensi di
atas wajib dimiliki oleh konselor lintas budaya. Sebab dengan dimilikinya ketiga kamampuan
itu, akan semakin mempermudah konselor untuk bisa berhubungan dengan klien yang
berbeda latar belakang budaya. Sue (Dalam Corey, G. 1997) dan kawan-kawan
mengusulkan sejumlah kompetensi minimum yang harus dimiliki konselor yang memiliki
wawasan lintas budaya, yaitu :

a) Keyakinan dan sikap konselor yang efektif secara kultural, yaitu:


 Mereka sadar akan sistem nilai, sikap dan bias yang mereka miliki dan sadar batapa
ini semua mungkin mempengaruhi klien dari kelompok minoritas.
 Mereka mau menghargai kebhinekaan budaya, mereka merasa tidak terganggu kalau
klien mereka adalah berbeda ras dan menganut keyakinan yang berbeda dengan
mereka.
 Mereka percaya bahwa integrasi berbagai sistem nilai dapat memberi sumbangan baik
terhadap pertumbuhan terapis maupun klien.
 Mereka ada kapasitas untuk berbagai pandangan dengan kliennya tentang dunia tanpa
menilai pandangan itu sendiri secara kritis.
 Mereka peka terhadap keadaan (seperti bias personal dan keadaan identitas etnik)
yang menuntut adanya acuan klien pada kelompok ras atau budaya masing-masing.
b) Pengetahuan konselor yang efektif secara multicultural, yaitu:
 Mereka mengerti tentang dampak konsep penindasan dan rasial pada profesi
kesehatan mental dan pada kehidupan pribadi dan kehidupan profesional mereka.
 Mereka sadar akan hambatan institutional yang tidak memberi peluang kepada
kelompok minoritas untuk memanfaatkan pelayanan psikologi secara penuh di
masyarakat.
 Meraka tahu betapa asumsi nilai dari teori utama konseling mungkin berinteraksi
dengan nilai dari kelompok budaya yang berbeda.
 Mereka sadar akan ciri dasar dari konseling lintas kelas/budaya/berwawasan budaya
dan yang mempengaruhi proses konseling.
 Mereka sadar akan metoda pemberian bantuan yang khas budaya (indegenous).
 Mereka memilki pengetahuan yang khas tentang latar belakang sejarah, tradisi, dan
nilai dari kelompok yang ditanganinya.
c) Keterampilan konselor yang efektif secara cultural, yaitu:
 Mereka mampu menggunakan gaya konseling yang luas yang sesuai dengan sistem
nilai dari kelompok minoritas yang berbeda.
 Mereka dapat memodifikasi dan mengadaptasi pendekatan konvensional pada
konseling dan psikoterapi untuk bisa mengakomodasi perbedaan-perbedaan kultural.
 Mereka mampu menyampaikan dan menerima pesan baik verbal maupun non-verbal
secara akurat dan sesuai.
 Mereka mampu melakukan intervensi “di luar dinas” apabila perlu dengan berasumsi
pada peranan sebagai konsultan dan agen pembaharuan.

Menurut (Supriyatna, 2011) Sedikitnya ada tiga pendekatan dalam konseling lintas
budaya, pertama, pendekatan universal atau etik yang menekankan inklusivitas, komonalitas atau
keuniversalan kelompok-kelompok. Kedua, pendekatan emik (Kekhususan-budaya) yang
menyoroti karakteristik khas dari populasi-populasi spesifik dan kebutuhan-kebutuhan konseling
khusu smereka. Ketiga, pendekatan inklusif atau transcultural. Mereka mengunakan istilah trans
sebagai lawan dari interatau cross cultural counseling untuk menekankan bahwa keterlibatan
dalam konseling merupakan proses yang aktif dan resiprokal.

B. Menuju Kesadaran Budaya


Dalam mengembangkan kompetensi multi budaya menurut Moule (2012) ada 4
komponen atau tahapan yang perlu diperhatikan yaitu :
1) Awareness (kesadaran)
2) Attitude (sikap)
3) Knowledge (pengetahuan)
4) Skills (keterampilan).
Dalam komponen kesadaran diharapkan mampu menyadari reaksi pribadi kita
terhadap orang lain yang berbeda, Komponen sikap diperlukan dalam pengembangan
kompetensi multicultural agar individu hati-hati memeriksa keyakinan dan nilai-nilai
mereka sendiri tentang perbedaan budaya, komponen pengetahuan diperlukan karena
2
nilai-nilai dan keyakinan serta perbedaan pandangan terhadap orang lain sering
mempengaruhi perilaku kita, dan sering kali kita tidak meyadari hal itu. Pendidik dalam
hal ini Konselor menjadi komponen yang sangat penting dalam proses pendidikan yang
kaitannya dengan kebudayaan. Pemahaman terhadap budaya dalam rangka bekerja
dengan klien tanpa memaksakan nilai-nilai mereka, menyinggung klien, atau perilaku
nonverbal klien yang salah diinterpretasikan.

Berkaitan dengan hal diatas, penting bagi konselor memiliki kompetensi yang akan
memberikan arah dalam pelaksanan konseling dengan keberagaman budaya konselinya.
Refleksi terhadap praktek konseling tentu akan melibatkan pemahaman dan kesadaran
konselor terhadap budaya yang dimilikinya dan konselinya. Menurut Kertamuda (2011).
Kesadaran budaya (cultural awareness) merupakan salah satu dimensi yang penting
untuk dimiliki oleh konselor, karena dimensi ini perlu dimiliki oleh konselor agar dapat
memiliki pemahaman dan kesadaran bahwa faktor budaya yang dimilikinya (ras, gender,
nilai-nilai, kelas sosial, dan lain-lain) akan mempengaruhi perkembangan diri dan
pandangan terhadap dirinya. Kartadinata (2005) menyebutkan bahwa sebagai pendidik
psikologis, konselor harus memiliki kompetensi dalam hal ini:

1) Memahami kompleksitas interaksi individu-lingkungan dalam ragam kontesk sosial


budaya
2) Menguasai ragam bentuk intervensi psikologis baik antar maupun intra pribadi dan
lintas budaya.
3) Menguasai strategi dan teknik asesmen yang memungkinkan dapat difahaminya
keberfungsian psikologis individu dan interaksinya dengan lingkungan.
4) Memahami proses perkembangan manusia secara individual maupun secara sosial.

2
Barriyah, Khairul. dkk. 2016. Kesadaran Multikultural dan Urgensinya dalam Bimbingan dan Konseling. Vol
3 No. 1 Tahun 2016.
5) Memegang kokoh regulasi profesi yang terinternalisasi ke dalam kekuatan etik
profesi yang mempribadi.
6) Memahami dan menguasai kaidah-kaidah dan praktek pendidikan

Berdasarkan penjelasan di atas menjadi hal yang penting pada poin pertama, yaitu
memahami kompleksitas interaksi individu-lingkungan dalam ragam konteks sosial
budaya, oleh karena itu penting bagi seorang calon konselor di era globalisasi ini untuk
memiliki kesadaran budaya terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Interaksi
Konselor dengan klien atau siswa sangat banyak sekali dalam proses bimbingan dan
konseling, salah satuya adalah proses konseling yang dilakukan oleh seorang konselor
kepada kliennya3. Roggers (Patterson, 2004) menyebutkan 5 kualitas dasar konselor
dalam proses konseling yaitu :

1) Respect
Menghargai klien merupakan hal yang penting bagi konselor. Hal ini termasuk
memiliki kepercayaan kepada klien dan memiliki asumsi bahwa klien memiliki
kemampuan untuk mengambil tanggung jawab untuk dirinya sendiri (termasuk
selama proses konseling berlangsung), klien memiliki kemampuan untuk
menentukan pilihan dan memutuskan dan memecahkan masalahnya.
2) Genuinenes
Konseling merupakan hubungan yang nyata. Konselor perlu untuk memiliki
kesungguhan dalam memberikan konseling dan juga adalah sosok yang nyata.
Selain itu konselor harus sesuai dengan diri sesungguhnya (kongruensi) ini berarti
konselor betul-betul menjadi dirinya tanpa kepalsuan
3) Empathic understanding
Pemahaman yang empati lebih dari sekedar pengetahuan tentang klien. Akan
tetapi pemahaman yang melibatkan dunia dan budaya klien secara mendalam.
4) Communication of empathic
respect and genuineness to the client. Kondisi ini penting untuk dipersepsi, diakui,
dan dirasakan oleh klien. Persepsi tersebut akan mengalami kesulitan jika klien
3
Atmoko, Adi &Faridati, Ella. 2015. Bimbingan Konseling Untuk Multikultural di Sekolah. Malang: Elang
Mas.
berbeda dengan konselor baik dari budaya, ras, sosial ekonomi, umur, dan jender.
Oleh karena itu penting bagi konselor untuk memahami perbedaan tersebut.
5) Structuring.
Salah satu elemen penting yang terkadang tidak disadari oleh konselor adalah
struktur atau susunan dalam proses konseling. Pekerjaan konselor dalam proses
konseling sebaiknya memiliki susunan dan mengartikan perannya pada klien.
Konselor sebaiknya menyatakan bahwa apa, bagaimana dan mengapa dia
bermaksud melakukan konseling. Kegagalan untuk memberikan pemahaman
peran konselor di awal proses konseling dapat menghasilkan ketidakpahaman
antara keduanya.

Selanjutnya, kesadaran budaya konselor dalam menghadapi perbedaan nilai-nilai


menjadi faktor penentu efektifitas proses konseling yang diberikannya. Bishop
(Kertamuda, 2009) menyebutkan pedoman (guidelines) yang perlu dimiliki konselor
terkait dengan perbedaan nilai-nilai yaitu:

a. Konselor membantu klien agar merasakan bahwa nilai-nilai yang


dimilikinya dapat diterima selama proses konseling berlangsung. Peran
konselor adalah menyakinkan konseli bahwa perasaan klien terkait dengan
nilai-nilai yangdimilikinya dapat diterima oleh konselor.
b. Konselor memberikan pandangan kepada klien bahwa nilai-nilai, dalam
hal ini nilai keagamaan, yang dimiliki sebagai bagian dalam memecahkan
masalah yang dihadapi klien, tidak hanya sebagai bagian dari masalah.
Konselor perlu memiliki pemahaman bahwa nilai-nilai keagamaan dapat
memberikan pengaruh positif terhadap kesehatan mental klien sama
dengan dukungan sosial yang diberikannya.
c. Konselor harus meningkatkan diri dan memiliki pendidikan tentang
budaya, nilainilai keagamaan, keyakinan, dan mempraktekkan; berusaha
untuk mengerti bagaimana isu-isu terkait dengan hal tersebut
diintegrasikan melalui teori psikologi dan praktek konseling.
d. Konselor mengikuti aktifitas-aktifitas di masyarakat yang dapat
meningkatkan interaksinya dengan orang-orang yang berbeda secara
budaya maupun agama.
e. Konselor mampu mengeskplor dan mengevaluasi nilai-nilai personal yang
dianutnya. Penilaian diri (self-examination) merupakan hal penting karena
setiap orang memiliki kelemahan-kelemahan (blind spots) yang dapat
menimbulkan bias terkait dengan nilai,kita perlu menyadari terhadap
biasbias yang dimiliki saat menghadapi klien,proses klarifikasi terhadap
nilai-nilai personal dapat membantu konselor mengidentifikasi masalah
atau nilai-nilai yang dimiliki klien, perjuangan konselor untuk memahami
nilainilainya dapat memberikan pemahaman yang baik dan menghargai
proses konseling bersama klien.
f. Konselor harus hati-hati dengan perlawanan atau penolakan (resistance)
yang dimilikinya terhadap permasalahan klien. Konselor yang tidak
bersedia terbuka untuk berdiskusi dan berintegrasi dengan nilai-nilainya
maka proses konseling dapat beresiko dalam penyampaian pesan kepada
klien. Klien akan mulai mempercayai konselor diawal proses konseling.
Oleh karena itu konselor perlu memberikan kesan bahwa memang dia
dapat dipercaya oleh klienya.
g. Konselor perlu mengembangkan yang sederhana dan jelas agar dapat
berkomunikasi dengan klien tentang nilai-nilai keragamaan baik itu yang
dimiliki konselor maupun klien. Segala Kompetensi, kualitas dan
pedoman (guidelines) tidak akan efektif dalam proses konseling jika
konselor itu sendiri tidak memiliki pemahaman yang tinggi terhadap
kliennya yang multicultural dalam era globalisasi sekarang ini. Sebagai
konselor mempunyai asas kekinian yang mengharuskan konselor
mempunyai kemampuan dalam menyesuaikan segala sesuatu yang
berhubungan dengan kliennya untuk selalu update pada era globalisasi
sekarang ini. Untuk mengembangkan kesadaran budaya (cultural
awareness), konselor sebaiknya meningkatkan penghargaan diri terhadap
perbedaan budaya. Konselor harus menyadari stereotipe yang ada dalam
dirinya dan mempunyai persepsi yang jelas bagaimana pandangannya
terhadap kelompok-kelompok minoritas. Kesadaran ini dapat
meningkatkan kemampuannya untuk menghargai secara efektif dan
pemahaman yang sesuai untuk tentang perbedaan budaya (Brown &
Williams, 2003).

III

PENUTUP

A. Kesimpulan
Untuk menunjang pelaksanaan konseling lintas budaya dibutuhkan konselor yang
mempunyai spesifikasi tertentu. Pedersen (dalam Mcrae & jhonson) menyatakan bahwa
konselor lintas budaya harus mempunyai kompetensi kesadaran, pengetahuan dan
keterampilan. Kesadaran, konselor lintas budaya harus benar-benar mengetahui adanya
perbedaan yang mendasar antara konselor dengan klien yang akan dibantunya. Selain itu,
konselor harus menyadari benar akan timbulnya konflik jika konselor memberikan
layanan konseling kepada klien yang berbeda latar belakang sosial budayanya.
Memahami kompleksitas interaksi individu-lingkungan dalam ragam konteks
sosial budaya, oleh karena itu penting bagi seorang calon konselor di era globalisasi ini
untuk memiliki kesadaran budaya terhadap dirinya sendiri dan lingkungannya. Interaksi
Konselor dengan klien atau siswa sangat banyak sekali dalam proses bimbingan dan
konseling, salah satuya adalah proses konseling yang dilakukan oleh seorang konselor
kepada kliennya.
B. Kritik dan Saran
Sampailah kita pada penghujung pembasahan, kami sadari masih banyak kekurangan dari
kelompok kami baik keterbatasan wawasan hingga kesalahan penyuguhan materi, maka
dari itu kami berharap kritik dan saran yang membangun dari dosen pengampu mata
kuliah Konseling Lintas Budaya Ibu Widayat Mintarsih, M.Pd. dan juga teman-teman
sekalian untuk perkembangan kami selanjutnya. Sekian,dari kami mohon maaf dan
terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA

Atmoko, Adi &Faridati, Ella. 2015. Bimbingan Konseling Untuk Multikultural di Sekolah. Malang: Elang
Mas.

Barriyah, Khairul. dkk. 2016. Kesadaran Multikultural dan Urgensinya dalam Bimbingan dan Konseling.
Vol 3 No. 1 Tahun 2016.

Brown, S., William. Kertamuda, Fatchiah. 2011. Konselor dan Kesadaran Budaya (Cultural Awareness).
Universitas Paramadina. Jakarta.

Dayakisni, Tri & Salis Yuniardi. 2004. Psikologi Lintas Budaya. Malang. UMM Press.

Dedi Supriadi. 2001. Konseling Lintas Budaya: Isu – isu dan relevansinya di Indonesia. Bandung. UPI