Anda di halaman 1dari 16

3

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI


TOKSISITAS
Ditujukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Toksikologi
Dosen Pengampu : Ririn Lispita W, S.Farm., Apt

Disusun Oleh :
Kelompok VII
Riska Dwi K. 125010874
Bondan Winarno 125010875
Anis Arvintasari 125010876
Rokhila Kamala Sari 125010878
Effan Suryo Prasojo 125010879

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS WAHID HASYIM SEMARANG
2014
4

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Toksikologi merupakan ilmu antarbidang, yang ruang lingkup pokok
kajiannya digolongkan menjadi toksikologi lingkungan, ekonomi, dan kehakiman
( forensik ). Untuk memahami permasalahan toksikologi, diperlukan pengetahuan
tentang pemahaman terhadap asas umum toksikologi, aneka kondisi atau faktor-
faktor yang mempengaruhi ketoksikan racun, mekanisme wujud sifat efek
toksik racun, tolok ukur toksikologi, dan asa umum uji toksikologi.
Pada dasarnya keracunan suatu senyawa diawali oleh masuknya senyawa
tersebut ke dalam tubuh, yang kemudian terdistribusi sampai ke sel sasaran
tertentu. Selanjutnya akibat interaksi antara senyawa dengan sel sasaran,
menyebabkan terjadinya gangguan fungsi, biokimia, perubahan struktur sel akibat
dari wujud efek toksik senyawa itu, misal teratogenik, mutagenik, karsinogenik,
penyimpangan metabolik, ketidaknormalan perilaku, dan lain sebagainya.
Efek toksik suatu racun terjadi akibat interaksi antar racun, dan tempat aksinya
secara langsung atau tidak langsung. Tingkat toksik atau ketoksikan racun tersebut
ditentukan oleh keberadaannya di tempat aksi dan keefektifan antaraksinya
dengan tempat aksi itu. Keberadaan racun di tempat aksi tertentu, ditentukan oleh
keefektifan translokasi (absorpsi, distribusi, eliminasi)nya di dalam tubuh. Bila
demikian, ketoksikan racun ditentukan oleh keefektifan translokasi dan
keefektifan antaraksinya dengan tempat aksi tertentu. Karena itu, faktor apa pun
yang dapat mempengaruhi kedua penentu tersebut, akan mempengaruhi
ketoksikan racun.
5

Respon makhluk hidup terhadap ketoksikan suatu senyawa atau racun
beraneka ragam, bergantung pada aneka faktor. Antara lain faktor biologi, kimia
dan genetika , disamping kondisi pemejanan dan kondisi makhluk hidup.
Pemahaman terhadap faktor-faktor yang dapat mempengaruhi ketoksikan
racun sangat membantu dalam mengevaluasi sebab-akibat timbulnya keracunan
serta dalam mengendalikan berbagai ubahan pada metode pengujiannya.

1.2 Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud toksikologi
2. Apa saja ruang lingkup toksikologi
3. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi toksisitas
4. Apa saja yang termasuk dalam faktor intrinsik racun
5. Apa saja yang termasuk dalam faktor intrinsik makhluk hidup

1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk memenuhi tugas mata kuliah toksikologi
2. Bagi penulis dapat menambah wawasan pengetahuan dalam upaya
meningkatkan mutu pelayanan kesehatan











6

BAB II
ISI

2.1 Definsi Toksikologi
Toksikologi adalah ilmu yang mempelajari aksi berbahaya zat kimia pada
sistem biologi. Definisi ini menunjukkan bahwa obyek yang dipelajari dalam
toksikologi adalah antaraksi zat kimia atau senyawa asing dengan sistem biologi
atau makhluk hidup, dimana pusat perhatiannya terletak pada pengaruh berbahaya
racun atas kehidupan makhluk hidup. Sedangkan yang dimaksud dengan toksisitas
ialah istilah relatif yang biasa dipergunakan dalam memperbandingkan satu zat
kimia dengan lainnya.
Ilmu toksikologi dikembangkan dengan tujuan utama untuk
mengantisipasi pengaruh toksik, pencegahan aksi toksik, dan penyembuhan
keracunan yang mungkin terjadi karena pemejanan suatu senyawa atas makhluk
hidup.
2.2 Ruang Lingkup Toksikologi
Toksikologi merupakan ilmu antarbidang , meliputi biologi, kimia,
biokimia, fisiologi, imunologi, patologi, farmakologi, dan kesehatan masyarakat.
Menyadari akan luasnya cakupan toksikologi, maka pada dasarnya ruang lingkup
toksikologi dapat dipisahkan menjadi tiga kajian pokok, yaitu Toksikologi
Lingkungan, Toksikologi Ekonomi, Toksikologi Kehakiman (forensic).
Toksikologi lingkungan merupakan cabang ilmu toksikologi yang
menguraikan pemejanan (exposure) yang tak disengaja pada jaringan
biologi ( lebih khusus makhluk hidup manusia ) dengan zat kimia yang
pada dasarnya merupakan pencemar lingkungan, makanan atau air.
Toksikologi ekonomi merupakan cabang ilmu toksikologi yang
menguraikan pengaruh berbahaya zat kimia yang dengan sengaja
7

dipejankan pada jaringan biologi, dengan maksud untuk mencapai
pengaruh atau efek khas ( misalnya obat,zat tambahan makanan, dan
pestisida ).
Toksikologi kehakiman merupakan cabang ilmu toksikologi yang
mengkaji aspek medis dan aspek hukum atas pemgaruh berbahaya zat
kimia pada manusia.

2.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Toksisitas
Pada dasarnya, aneka ragam faktor yang dapat mempengaruhi ketoksikan
racun, dapat digolongkan menjadi dua, yakni faktor yang berasal dari racun (
faktor intrinsik racun ) dan yang berasal dari makhluk hidup ( faktor intrinsik
makhluk hidup ).
2.3.1 Faktor Intrinsik Racun
Racun merupakan bahan atau zat kimia yang berbahaya tubuh. Karena itu,
ketoksikannya tidak lepas dari sifat fisika atau kimia bawaan dari racun tersebut.
Dengan kata lain, faktor kimia merupakan salah satu penentu ketoksikan racun.
Efek toksik racun diawali oleh masuknya racun tertentu ke dalam tubuh. Selain
faktor kimia diatas aneka ragam faktor yang berkaitan dengan pemejanan
(exposure) racun terhadap makhluk hidup juga dapat mempengaruhi
ketoksikannya.
Makanan yang masuk ke dalam tubuh, dapat berupa bahan mentah, bahan
olahan segar, atau produk makanan jadi olahan pabrik. Dengan demikian
kemantapan zat kimia pangan, dapat berubah oleh proses-proses pengolahan
maupun oleh adanya bahan tambahan atau pengisi. Bahkan dalam proses
pengepakan pun dapat menjadi sarana pencemar makanan. Karena itu, pengolahan
bahan pangan dan proses pabrikasi, juga merupakan faktor yang dapat
mempengaruhi ketoksikan racun.
Berdasarkan atas berbagai pemikiran diatas maka yang termasuk dalam
faktor intrinsik racun meliputi faktor kimia, kondisi pemejanan, pengolahan,
pengawetan, pengentalan, dan pengepakan.
8

2.3.1.1 Faktor kimia
Seperti telah diketahui, di dalam tubuh terdapat beraneka ragam membran
biologis yang merupakan penghalang bagi translokasi racun yang memiliki sifat
fisika-kimia yang khas. Senyawa non polar ( misalnya etanol ), ternyata mampu
melintasi semua membrane biologis dengan cepat. Ketidak-polaran suatu
senyawa, salah satunya ditentukan oleh tingkat ionisasinya dalam larutan. Karena
itu, tingkat ionisasi racun dalam larutan merupakan salah satu penentu
kemampuannya melintasi membran dan translokasinya di dalam tubuh. Selain itu,
karena komponen lipid membran yang bertanggung jawab terhadap
permeabililitas membran suatu zat kimia, maka kelarutan racun di dalam lipid,
juga merupakan penentu kemampuannya melintasi membran biologis.
Pada umumnya, senyawa tidak terionkan lebih mudah larut di dalam lipid,
sehingga akan lebih mudah ditranslokasikan daripada senyawa yang terionkan,
sedangkan aksi biologis suatu zat kimia berkaitan erat dengan struktur kimianya
dan komponen-komponen kimia yang ada pada tempat aksi. Kesesuaian struktur
ini, menjadi salah satu penentu keefektifan antaraksi , antar racun, dan tempat aksi
maupun tempat metabolitsmenya.Jadi faktor kimia yang mempengaruhi
ketoksikan racun dapat digolongkan menjadi dua, antara lain :
Sifat kimia atau fisika-kimia yang secara individual maupun kolektif
menentukan kemampuan racun melintasi membran biologis.
Kekhasan struktur kimia racun, yang memungkinkan terjadinya reaksi
pada tempat aksi tertentu, atau yang menjadikan rentan terhadap
metabolisme.
a. Sifat Fisika Kimia.
Sifat fisika-kimia racun akan menentukan keefektifan translokasinya,
karena akan menentukan ionisasi dan kelarutan dalam lipid. Sebagian besar racun
berupa asam atau basa organik lemah, karena itu hanya bentuk tak-terionkan saja
yang mudah larut di dalam lipid. Tingkat ionisasi ini ditentukan oleh harga pKa
racun dan pH medium dimana racun tersebut larut. Contoh pada ionisasi Benzene
dan Aniline di lambung dan usus. Di dalam lambung perbandingan antara bentuk
9

tak-terionkan dan terionkan asam benzoate adalah 100 banding 1. Dengan
demikian asam benzoate dapat segera melintas membran dan masuk ke dalam
plasma. Ionisasai benzoat dalam plasma ini akan mempersulit terjadinya keadaaan
seimbang, sehingga mempermudah absorpsi bentuk asam benzoat yang tak
terionkan dari lambung. Hal yang sebaliknya dijumpai pada usus. Oleh karena itu,
asam benzoat lebih mudah diabsorpsi oleh lambung daripada usus, sehingga
proses distribusi dan eliminasi asam benzoat ditentukan oleh tingkat ionisasinya.
Contoh diatas menunjukkan bahwa bentuk senyawa yang tak terionkan
terutama elektrolit organik, lebih mudah larut dalam lipid ,sehingga akan lebih
mudah ditranslokasikan di dalam tubuh, mengingat permeabilitas membran
biologis ditentukan oleh komponen lipid. Dengan cara demikian, ketersediaan
racun di tempat aksinya, juga ditentukan oleh sifat fisika-kimia yang dimiliki oleh
suatu zat racun serta ketoksikannya.
b. Struktur Kimia
Kekhasan struktur kimia yang dimiliki oleh racun akan menentukan aksi
atau antaraksi racun dengan tempat aksi tertentu di dalam tubuh, atau
kerentanannya terhadap perubahan metabolisme.
Menurut Loomis ( 1978 ), aksi zat kimia dibedakan menjadi dua yaitu :
aksi kimia tak khas dan aksi kimia khas. Demikian pula aksi kimia racun. Racun
mungkin secara potensial mampu menimbulkan efek berbahaya pada semua
jaringan. Misalnya asam atau basa dengan kadar tinggi, dapat menimbulkan
kerusakan semua sel dengan cara presipitasi protein yang berakibat dengan
denaturasi protein dan gangguan keutuhan membran sel. Aksi inilah yang disebut
aksi tak khas racun. Aksi zat kimia atau racun yang tak khas ini dapat ditimbulkan
oleh larutan pekat aneka ragam racun yang bersifat tajam dan perusak. Kerusakan
yang ditimbulkan berkisar dari perusakan sebagian sampai menyeluruh pada
komponen penyusun sel. Sehingga dalam hal ini, tidak diperlukan struktur kimia
yang khas dari racun atau pun tempat aksinya. Dengan demikian, ketoksikan
10

racun berhubungan langsung dengan kadar racun yang bersentuhan dengan sel
biologis tertentu.
Berbeda dengan aksi asam atau basa kuat diatas, sebagian besar racun
beraksi secara khas pada tempat aksi tertentu di dalam tubuh, dalam kadar yang
jauh dibawah kadar yang diperlukan untuk menimbulkan aksi yang tak khas.
Dalam hal ini struktur kimia racun berperan penting.
Di dalam tubuh, agar racun dapat berantaraksi dengan tempat aksi (
reseptor, makromolekul, biopolymer ) atau tempat aktif enzim , racun tersebut
harus memiliki afinitas terhadap tempat aksi khas , sedangkan agar dapat
menimbulkan efek toksik tertentu, maka racun harus memiliki aktivitas intrinsik,
yaitu kemampuan yang menyebabkan perubahan di dalam molekul reseptor.
Kedua syarat ini harus dipenuhi. Artinya, racun yang hanya memiliki afinitas
terhadap tempat aksi tertentu tetapi tidak memiliki aktivitas intrinsik, maka tidak
akan menimbulkan efek toksik yang khas. Racun hanya mampu melekat dan
berikatan dengan tempat aksi, tetapi tidak mampu mengadakan perubahan pada
molekul tempat aksinya, sehingga tidak menimbulkan efek toksik. Dengan kata
lain, afinitas diperlukan untuk berikatan dengan tempat aksi, sedangkan aktivitas
intrinsic diperlukan untuk mengadakan perubahan dalam molekul tempat aksi
menuju ke perubahan biokimia, fungsional, dan struktural. Jadi, jelas bahwa
kesesuaian struktur kimia racun, dengan tempat aksinya merupakan faktor
penentu ketoksikan
2.3.1.2 Kondisi Pemejanan
Racun, zat tambahan makanan, atau senyawa pencemar dapat
menimbulkan keracunan karena peristiwa pemejanan tunggal atau berulang pada
diri makhluk hidup. Kekerapan dan lama pemejanan, serta besar takaran racun
juga merupakan faktor penentu keracunan. Semua faktor tersebut akan
mempengaruhi keberadaan racun di tempat aksi.
Oleh karena itu, yang dimaksud dengan kondisi pemejanan ialah semua
faktor yang menentukan keberadaan racun di tempat aksi tertentu di dalam tubuh,
yang berkaitan dengan pemejanannya pada diri makhluk hidup. Yang termasuk
11

dalam kondisi pemejanan meliputi jenis, jalur, lama, kekerapan, saat dan takaran
pemejanan racun.
Aneka ragam kondisi pemejanan tersebut dapat mempengaruhi keberadaan
racun di tempat aksinya. Kondisi pemejanan akan menentukan keefektifan
translokasi racun di dalam tubuh. Hal ini benar apabila racun memberikan efek
toksik yang sistemik. Artinya efek toksik terjadi di tempat aksi setelah
penyebarannya dari sirkulasi darah. Namun, bila efek toksik racun bersifat lokal,
yaitu terjadi di tempat tertentu sebelum diabsorpsi ke dalam sirkulasi sistemik,
maka translokasi racun di dalam tubuh tidak mempengaruhi ketoksikannya.
2.3.1.3 Faktor Pengolahan
Makanan yang masuk ke dalam tubuh mungkin berupa makanan mentah,
olahan segar, atau produk makanan jadi. Makanan mentah mungkin secara alami
mengandung zat toksik atau tercemar oleh berbagai zat toksik seperti bakteri,
insektisida, dan lain-lain. Oleh karena itu kebersihan dan sanitasi bahan pangan
merupakan faktor penting yang menentukan ketoksikan makanan mentah.
Makanan olahan segar biasanya diolah menggunakan panas. Tergantung
pada kemantapan atau stabilitas racun pangan, pengolahan dengan panas dapat
menimbulkan efek positif dan negative. Efek positif didapat jika pengolahan
dengan panas mungkin akan mengurangi atau menghilangkan ketoksikan racun
pangan tersebut karena sebagian besar jasad renik yang mencemari bahan pangan
dapat mati pada suhu didih, sedangkan dapat berefek negative jika bahan pangan
mengandung protein-protein yang bermanfaat bagi tubuh makhluk hidup , misal
protein yang banyak terdapat dalam putih telur, kedelai, dan kentang, akan
menjadi rusak atau tidak aktif bila diolah dengan menggunakan pemanasan.
Dengan demikian ketoksikan suatu bahan pangan juga dipengaruhi oleh
pengolahan.
Berbeda dengan hal diatas pengolahan dengan panas, mungkin dapat
menimbulkan berbagai senyawa toksik. Misalnya reaksi pencoklatan ( reaksi
Millard ) pada produk ayam goreng, sate kambing dapat menghasilkan produk
pirolisis yang membahayakan tubuh karena bersifat mutagenik atau karsinogenik.
12

Jadi dalam hal ini pengolahan dengan panas menyebabkan terbentuknya racun
pangan.
Dari berbagai uraian diatas menunjukkan bahwa pengolahan bahan pangan
dapat mempengaruhi ketoksikan racun, mungkin menurukan atau sebaliknya.
2.3.1.4 Faktor Pengawetan, Pengentalan, dan Pengepakan
Pada era perkembangan teknologi melimpahnya berbagai alat teknologi
seperti lemari pendingan ( refrigerator ) sampai radiasi, mendorong dan
memungkinkan pembuatan produk makanan yang dapat disimpan tidak hanya
harian , bulanan bahkan tahunan. Dengan sistem pengawetan yang sedemikian
rupa, tentu saja memberikan banyak manfaat, karena dapat mengurangi
ketoksikan kimia beracun dalam bahan pangan. Misalnya bahan pangan yang
disimpan dalam almari es pada umumnya dapat mematikan pertumbuhan jasad
renik, meskipun demikian jasad renik dapat tumbuh kembali dan tetap mencemari
makanan bila dicairkan dari keadaan beku. Dengan demikian ketoksikan sebagai
racun pangan mungkin juga tak berubah.
Produk makanan jadi yang diolah oleh pabrik, sering kali menggunakan
bahan pengental atau pengisi lainnya. Berbagai bahan ini dapat mempengaruhi
kekentalan bahan pangan di dalam saluran cerna. Kemungkinan pelepasan racun
dapat dihambat atau sebaliknya. Sehingga keberadaan bahan pengental atau
pengisi lain juga dapat mempengaruhi ketoksikan racun karena dapat
mempengaruhi keefektifan absorpsi racun.
Pengepakan bahan pangan dalam suatu wadah juga dapat mencemari
makanan yang diisikan ke dalamnya. Misalnya terjadi pencemaran makanan oleh
bahan pelunak dietilheksilftalat , terjadi migrasi senyawa melalui wadah plastik ke
dalam makanan yang diisikan kedalamnya.
Dari berbagai uraian diatas, terlihat jelas bahwa faktor intrinsik racun
dapat mempengaruhi ketoksikan racun. Meskipun demikian, pengaruh faktor
intrinsik racun tersebut secara keseluruhan harus dipertimbangkan dengan adanya
faktor intrinsik makhluk hidup yang juga besar pengaruhnya.

13

2.3.2 Faktor intrinsik makhluk hidup
Pada dasarnya, faktor intrinsik makhluk hidup adalah kondisi makhluk
hidup yang meliputi berbagai keadaan fisiologis serta patologis yang dapat
mempengaruhi ketoksikan suatu racun, melalui pengaruhnya atas keefektifan
translokasi racun di dalam tubuh, atau kerentanan tempat aksi terhadap aksi racun.
Oleh karena itu, kondisi makhluk hidup dapat dibagi menjadi dua golongan , yaitu
kondisi normal (fisiologis) dan tidak normal (patologis).
Keadaan fisiologis meliputi : berat badan, umur suhu tubuh, kecepatan
pengosongan lambung, kecepatan alir darah, status gizi, kehamilan,
genetika, jenis kelamin, irama sirkadian, irama diurnal
Keadaan patologi meliputi : penyakit saluran cerna, penyakit
kardiovaskular, penyakit hati, dan penyakit ginjal .
Selain faktor keadaan fisiologis diatas, terdapat beberapa uraian keadaan
fisiologis yang belum tercakup dalam uraian tersebut meliputi :
2.3.2.1 Kapasitas Fungsional Cadangan
Pada dasarnya untuk melakukan berbagai fungsi, aneka ragam organ tubuh
memiliki kapasitas cadangan. Misalnya 50 % hati Anjing dapat dirusak secara
kimia atau dengan cara pembedahan. Namun sisa hati masih dapat melakukan
fungsi normal untuk mempertahankan kelangsungan hidup si Anjing, paling tidak
dalam memenuhi persyaratan minimalnya. Keadaan tersebut dapat terjadi karena
organ memiliki kapasitas fungsi cadangan yang hanya digunakan dalam kondisi
mendesak.
Dipandang dari segi toksikologi keadaan ini dapat merugikan. Mengapa
demikian ? karena adanya kapasitas fungsional cadangan dapat menutupi
ketoksikan racun. Sebagai contoh Seseorang terpapar dengan Aflatoksin B1 yang
mencemari makanan, maka kemungkinan wujud efek toksik aflatoksik yaitu
nekrosis sel hati, yang pada awalnya tidak nampak dan tidak terdeteksi. Tidak
nampaknya berbagai gejala klinis, disebabkan oleh masih berfungsinya hati secara
normal, sebagai kapasitas fungsional cadangan. Efek toksik aflatoksin tersebut,
14

baru akan nampak setelah kerusakannya meluas sehingga fungsi normal hati tidak
dapat ditopang lagi dengan kapasitas fungsional cadangannya. Sehingga jelas
bahwa kapasitas cadangan akan menutupi ketoksikan suatu racun.
2.3.2.2 Penyimpanan Racun Dalam Diri Makhluk Hidup
Di dalam tubuh terdapat gudang penyimpanan senyawa yang masuk ke
dalam tubuh misalnya protein, lemak, dan tulang. Bagi racun yang bersifat sangat
lipofil dan tidak atau sulit termetabolisme, cenderung ditimbun dalam jaringan
yang kaya akan lemak, sehingga racun akan sulit dikeluarkan dari tubuh. Selain
itu karena mobilisasi racun dari gudang penyimpanan ke sirkulasi darah,
memungkinkan terjadinya pelepasan racun dan meyebar ke tempat aksi tertentu.
Bila kadar racun di tempat aksi melebihi harga KTMnya, maka terjadi efek toksik
yang tak diharapkan. Keadaan ini dapat terjadi bila gudang penyimpanan telah
terpenuhi oleh racun, mengingat makanan dikonsumsi setiap hari sehingga
memungkinkan terjadinya akumulasi racun dalam gudang penyimpanan. Contoh
klasiknya ialah penumpukan insektisida DDT dan senyawa pelunak dietilftalat.
Kecuali lemak, tempat pengikatan tak khas atau gudang penyimpanan
lainya adalah tulang, enzim, dan protein. Tempat deposisi, adsorpsi dan reaksi zat
kimia ini, membatasi kemampuan tubuh untuk mengekskresikan racun dari tubuh.
Oleh karena itu penyimpanan racun di dalam tubuh dapat mengurangi atau
meningkatkan ketoksikan racun.
2.3.2.3 Faktor Genetika
Tempat aksi racun dapat berupa enzim, reseptor, atau protein. Enzim dan
protein nirenzim ada di dalam tubuh menurut ciri khas model genetika masing-
masing anggota populasi makhluk hidup, maka cacat genetika dalam anggota
suatu jenis makhluk hidup dapat menyebabkan kekurangan jumlah atau
ketidaksempurnaan molekul enzim. Adanya cacat genetika ini dapat berdampak
negative atau positif terhadap ketoksikan racun.
Misalnya racun di dalam tubuh oleh enzim dimetabolisme menjadi
metabolit yang kurang toksik daripada zat kimia induknya. Bila suatu makhluk
15

hidup mengalami cacat genetika, ketidak-sempurnaan molekul enzim yang terlibat
dalam metabolisme racun menyebabkan terbentuknya metabolit tak toksik jauh
lebih sedikit daripada yang terbentuk pada individu normal. Akibatnya makhluk
hidup tersebut akan lebih rentan terhadap ketoksikan racun. Dalam hal ini, cacat
genetika memberikan dampat negative. Sebaliknya apabila metabolit racun yang
terbentuk bersifat toksik, maka makhluk hidup tersebut justru akan terhindar dari
ketoksikan racun. Karena jumlah metabolit toksik yang terbentuk jauh lebih
sedikit daripada individu normal. Dalam hal ini, cacat genetika berdampak positif.
Cacat genetika pada sistem pemetabolisme xenobiotika atau tempat aksi
tertentu, memungkinkan timbulnya dampak negative bagi individu terhadap
ketoksikan racun. Hal ini dapat terjadi karena penumpukan xenobiotika ataupun
perubahan kerentanan tempat aksi racun.
Jadi akibat dari cacat genetika dapat berdampak negative atau positif bagi
individu terhadap ketoksikan racun :
Dikatakan berdampak positif bila cacat genetika menyebabkan individu
resisten terhadap ketoksikan suatu racun.
Sebalilnya dikatakan berdampak negative bila cacat genetika
menyebabkan individu lebih rentan terhadap ketoksikan racun tertentu.
2.3.2.4 Toleransi dan Resistensi
Daya tahan seseorang terhadap ketoksikan racun berbeda dengan yang
lain. Seseorang mungkin lebih tahan terhadap ketoksikan suatu racun daripada
yang lain, sehingga untuk menderita tingkat toksik yang sama diperlukan takaran
atau dosis yang lebih tinggi. Perbedaan daya tahan individu terhadap ketoksikan
racun dikenal sebagai toleransi dan resistensi. Meskipun searti dalam kata, tetapi
tidak searti dalam pengertian.
Menurut Loomis ( 1978 ), toleransi didefinisikan sebagai kemampuan
makhluk hidup untuk memperlihatkan respon yang kurang terhadap dosis khas zat
kmia daripada yang diperlihatkan sebelumnya, dengan dosis yang sama. Artinya
toleransi murni merupakan proses peningkatan daya tahan seseorang, yang semula
kurang tahan menjadi lebih tahan terhadap ketoksikan suatu racun. Keadaan ini
16

dapat terjadi karena adanya mekanisme adaptasi yang berkaitan dengan
perubahan kerentananb tempat aksi.
Berbeda dengan toleransi, resistensi murni berkaitan dengan peningkatan
daya tahan tubuh terhadap dosis pemejanan racun sebelumnya. Dalam hal ini,
sejak awal seseorang memang lebih tahan terhadap dosis toksik racun daripada
yang ditunjukkan oleh individu lainnya. Kejadian ini berkaitan dengan masalah
genetika, sehingga peristiwa resistensi bukan merupakan fenomena adaptasi.
Dari uraian di atas terlihat bahwa perbedaan antara toleransi dan resistensi
terletak pada mekanisme yang melandasi perbedaan daya tahan makhluk hidup
terhadap ketoksikan racun. Toleransi terjadi melalui mekanisme adaptasi,
sedangkan resistensi tidak. Resistensi murni terjadi sejak pertama kali dosis
pengan dipejankan, sedang toleransi murni terjadi pada pemberian berikutnya
setelah pemejanan yang pertama.











17

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Ketoksisikan racun yang dipengaruhi oleh banyak faktor, meliputi faktor-
faktor yang berasal dari racun pangan (faktor intrinsik racun) dan yang bearasal
dari makhluk hidupnya (faktor intrinsik makhluk hidup).
1. Faktor intrinsik racun
Meliputi : faktor kimia, kondisi pemejanan, pengolahan, pengawetan,
pengentalan, dan pengepakan racun.
Bergantung pada sifat dan berbagai proses yang dapat mempengaruhi sifat
racun, maka berbagai faktor tersebut dapat mempengaruhi keefektifan
translokasi atau antaraksi racun dengan tempat aksinya. Dengan cara
demikian, akhirnya akan mempengaruhi ketoksikan racun.
2. Faktor intrinsik makhluk hidup
Meliputi : kondisi makhlik hidup yang meliputi keadaan fisiologi (berat
badan, umur, suhu tubuh, kecepatan pengosongan lambung, kecepatan alir
darah, status gizi, kahamilan, jenis kelamin, irama sirkadian, irama diurnal,
kapasitas fungsional cadangan, penyimpanan racun dalam makhluk hidup,
genetika, serta toleransi dan resistensi), dan keadaan patologi makhluk
hidup (penyakit saluran cerna, kardiovaskuler, ginjal dan hati).
Pada dasarnya, berbagai faktor tersebut dapat mempengaruhi keefektifan
translokasi atau kerentanan tempat aksi terhadap aksi racun, sehingga
akhirnya dapat mempengaruhi ketoksikan racun.

18

DAFTAR PUSTAKA

Argo D, Imono. 2001. Toksikologi Dasar. Laboratorium Farmakologi Dan
Toksikologi Fakultas Farmasi Universitas Gajah Mada.
Loomis, A.Ted. 1978. Essential of Toxycology 3
rd
edition. Semaran : IKIP Press.
Agus, I Made dkk. 2007. Buku Ajar Toksikologi Umum ( online ),
http://farmasi.unud.ac.id/ind/wp-content/uploads/Buku-Ajar-Toksikologi-
Umum.pdf ( diakses tanggal 22 Maret 2014 )