Anda di halaman 1dari 5

Data Depkes RI, 2007 menunjukkan AKI di Indonesia tertinggi di ASEAN.

Jumlahnya
mencapai 390 per 100.000 kelahiran hidup. Angka tersebut 3-6 kali dari AKI Negara-negara
maju dan salah satunya disebabkan karena infeksi dengan proporsi 20-30%,dan kasus ini
25-55% disebabkan oleh infeksi jalan lahir,yang disebabkan beberapa faktor diantaranya
mobilisasi dini,vulva hygiene,vaskulerisasi,stressor,dan juga nutrisi.Dan survey kesehatan
kesehatan rumah tangga (SKRT) awal pada bulan September 2007 terhadap 10 orang ibu
nifas ,didapatkan data 6 orang atau 60 % melakukan vulva hygienedengan benar dan 4
orang atau 40% melakukan vulva hygiene kurang benar,hal tersebut sebagai parameter
bahwa infeksi masa nifas di Indonesia masih tinggi. Dituntut kerja keras menurunkannya
hingga mencapai target MDGs 5, menurunkan AKI menjadi 102/100.000 pada tahun 2015.



data Dinas Kesehatan tahun 2007 menunjukkan bahwa angka kematian ibu (AKI) di
Indonesia mencapai 290,8 per 100.000 kelahiran hidup. Meski sudah menunjukkan
tren penurunan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka tersebut masih jauh
dari memuaskan. Indonesia masih menjadi negara dengan angka kematian ibu
tertinggi di Asia Tenggara. Kematian tersebut dikarenakan karena perdarahan
30%,eklamsia 25%,infeksi 12%abortus 5%,komlikasi masa nifas 16%.
Menurut survey bulan Juni-Agustus didapatkan 112 persalinan,diantara 47
persalinan dengan jahitan luka perineum terdapat 114 atau 29,87% mengalami
penyembuhan luka lebih dari 7 hari yang disebabkan kurang dalam melakukan
vulva hygiene.hal ini menunjukan angka kejadian infeksi masih tinggi pada masa
nifas


AKI didefinisikan sebagai banyaknya kematian perempuan saat hamil atau selama
42 hari sejak terminasi kehamilan tanpa memandang lama dan tempat persalinan
akibat kehamilan atau pengelolaannya, dan bukan karena sebab lain. Angka ini
dihitung per 100.000 kelahiran hidup. Angka ini biasanya dipakai untuk
memperlihatkan kualitas pembangunan kesehatan masyarakat sebuah negara.


Secara nasional menurut Purwanto (2001), angka kejadian infeksi pada kala nifas mencapai 2,7%
dan 0,7% diantaranya berkembang kearah infeksi akut. Berdasarkan data yang diperoleh dari
buku rawatan Ruang V Obgin Rumah Sakit Umum Pirngadi Medan, jumlah pasien selama tahun
2008 sebanyak 794 orang di antaranya 456 kasus persalinan normal dan 338 kasus persalinan
dengan seksio sesar. Hasil wawancara dengan perawat di Ruang V Obgin Rumah Sakit Umum
Pirngadi Medan jumlah pasien pada bulan januari 2009 adalah 62 orang di antara pasien tersebut
yang mampu melakukan perawatan diri pascasalin mandiri sekitar 20% yang sebagian besar
adalah multipara. Sedangkan 80% pasien tidak mampu melakukan perawatan pascasalin mandiri
karena kurangnya pengetahuan tentang perawatan pascasalin. Perawatan diri Ibu pascasalin
dilakukan oleh perawat. Dari penjelasan tersebut diperoleh bahwa masih ada Ibu pascasalin yang
tidak mengetahui perawatan diri pascasalin.
Kurangnya perawatan diri masa pascasalin berhubungan erat dengan kejadian infeksi nifas. Infeksi
nifas merupakan salah satu komplikasi pascasalin yang menyebabkan masih tingginya AKI di
Indonesia (Wiludjeng, 2005). Penelitian sebelumnya memaparkan tentang masyarakat suku Karo
di kota yang masih mempercayai perawatan tradisional sebagai media untuk menjaga kesehatan
ibu nifas (Sari, 2004). Dalam hal ini penelit i sebelumnya hanya menekankan pada faktor budaya.
Namun belum ada literatur yang menjelaskan faktor yang paling dominan mempengaruhi
perawatan diri ibu pascasalin.


Pascasalin (masa nifas) adalah masa setelah plasenta lahir dan berakhir ketika alat-alat
kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6
minggu (Bari, 2002 dalam Harnawatiaj, 2008). Perawatan diri pascasalin adalah perawatan
terhadap wanita yang telah selesai bersalin sampai alat-alat kandungan kembali seperti sebelum
hamil, lamanya kira-kira 6-8 minggu. Seluruh alat genitalia baru pulih kembali seperti sebelum
ada kehamilan dalam waktu 3 bulan. Perawatan pascasalin (masa nifas) sebenarnya dimulai sejak
kala uri dengan menghindari kemungkinankemungkinan perdarahan postpartum dan infeksi. Bila
ada perlukaan jalan lahir atau luka bekas episiotomi dilakukan penjahitan dan perawatan luka
dengan sebaik-baiknya. Penolong persalinan harus tetap waspada sekurang-kurangnya satu jam
sesudah melahirkan, untuk mengatasi kemungkinan terjadinya perdarahan pascasalin (Hanafiah,
2004).

Infeksi nifas merupakan salah satu komplikasi pascasalin yang menyebabkan masih tingginya AKI di
Indonesia
Menurut WHO (World Health Organization), di seluruh dunia setiap menit seorang perempuan
meninggal karena komplikasi yang terkait dengan kehamilannya,persalinannya,dan nifas. Dengan
kata lain, 1.400 perempuan meninggal setiap hari atau lebih dari 500.000 perempuan meninggal
setiap tahun karena kehamilan, persalinan, dan nifas. AKI di Indonesia masih tertinggi di Negara
Asean. Tetapi berdasarkan data resmi SDKI, AKI di Indonesia terus mengalami penurunan. Pada
tahun 2003 AKI di Indonesia yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2004 yaitu 270 per 100.00
kelahiran hidup, tahun 2005 yaitu 262 per 100.000 kelahiran hidup, tahun 2006 yaitu 255 per 100.000
kelahiran hidup, dan tahun 2007 menjadi 228 per 100.000 kelahiran hidup. Target Millenium
Development Goald ( MDGs ) AKI di Indonesia tahun 2015 harus mencapai 125 per 100.000
kelahiran hidup.
Penyebab kematian maternal merupakan suatu hal yang sangat kompleks yang dapat digolongkan
kepada faktor-faktor komplikasi obstetric, pelayanan kesehatan, dan social ekonomi. Faktor
komplikasi obstetric diantaranya adalah infeksi nifas pada pertolongan persalinan yang tidak
mengindahkan syarat-syarat asepsis antisepsis.
Diperkirakan bahwa 60% kematian ibu akibat kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian
masa nifas terjadi dalam 24 jam pertama. Secara nasional menurut Purwanto (2001), angka kejadian
infeksi pada kala nifas mencapai 2,7% dan 0,7% diantaranya berkembang kearah infeksi akut.
Dengan demikian asuhan pada masa nifas diperlukan dalam periode ini karena merupakan masa
kritis baik ibu maupun bayinya (Saefudin,2001).


UTERUS
Otot-otot uterus berkontraksi segera postpartum.Pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara
anyaman otot-otot uterus akan terjepit. Proses ini akan menghentikan perdarahan setelah plasenta
dilahirkan Setelah janin dilahirkan, fundus uteri kira-kira setinggi pusat, segera setelah plasenta lahir,
tinggi fundus uteri kurang lebih 1-2 cm di bawah pusat, dan mengeras karena kontraksi dan retraksi
otot-ototnya. Dinding uterus sendiri kurang lebih setebal 5 cm, sedangkan pada bekas implantasi
plasenta lebih tipis daripada bagian-bagian lain.
Sesudah 2 minggu diameternya menjadi 3,5 cm dan pada minggu ke-6 telah mencapai 2,4 mm, dan
akhirnya pulih.
Perubahan-perubahan yang terdapat pada endometrium ialah timbulnya trombosis, degenerasi dan
nekrosis. Pada hari-1, endometrium yang setebal 2,5 mm, mempunyai permukaan yang kasar
akibat pelepasan desidua dan selaput janin.
Setelah 3 hari, permukaan endometrium mulai rata akibat lepasnya sel-sel dari bagian yang
mengalami degenerasi.
Sebagian besar endometrium terlepas. Regenerasi endometrium terjadi dari sisa-sisa sel desidua
basalis, yang memakan waktu 2 sampai 3 minggu. Jaringan-jaringan di tempat implantasi plasenta
mengalami proses yang sama, ialah degenerasi dan kemudian terlepas.
nPelepasan jaringan berdegenerasi ini berlangsung lengkap. Dengan demikian tak ada pembentukan
jaringan parut pada bekas tempat implantasi plasenta. 1
SERVIKS
Involusi serviks dan segmen bawah uterus pasca persalinan berbeda dan tidak kembali seperti
keadaan sebelum hamil.
Hal ini yang membedakan serviks wanita yang telah melahirkan.
nBentuk serviks postpartum agak menganga seperti corong, disebabkan oleh korpus uteri yang dapat
kontraksi, sedangkan serviks tidak, sehingga seolah-olah pada perbatasan antara korpus dan serviks
uteri terbentuk semacam cincin.
Beberapa hari setelah persalinan, ostium eksternum dapat dilalui oleh 2 jari, pinggirnya tidak rata
tetapi retak-retak karena robekan dalam persalinan.
Pada akhir minggu pertama hanya dapat dilalui oleh 1 jari.
VAGINA
Vagina yang sangat diregang pada saat persalian pervaginam, lambat laun mencapai ukuran yang
normal, namun ukurannya tidak persis sama seperti sebelum persalinan.
Pada minggu ke-3 post partum, vagina mengecil dan timbul kembali rugae.
Terjadi penipisan lapisan-lapisan sel yang sangat cepat pada dinding vagina, menjadi 6-7 lapis sel
pada akhir minggu ke-2, tanpa adanya aktivitas sel atau penimbunan zat glikogen, mirip pada wanita
post manepause. Proliferatif sel kembali setelah minggu ke 4-6, dimana tergantung pada aktifitas
ovarium.


istilah infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke
dalam alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Dahulu infeksi ini merupakan sebab kematian
maternal yang paling penting, akan tetapi berkat kemajuan ilmu kebidanan, khususnya pengetahuan
tentang sebab-sebab infeksi nifas serta pencegahannya, dan penemuan obat-obat baru seperti sulfa
dan antibiotika lainnya, di negara-negara maju peranannya sebagai penyebab kematian tersebut
sudah berkurang.
Di negara-negara sedang berkembang dengan pelayanan kebidanan yang masih jauh dari sempurna,
peranan infeksi nifas masih besar.

Infeksi puerperal adalah infeksi dari saluran reproduksi yang terjadi dalam 28 hari setelah kelahiran
anak atau aborsi ini merupakan salah satu penyebab kematian ibu (setelah hemoragi pascapartum)
dan meliputi proses infeksi lokal sebagaimana proses yang lebih progresif yang dapat mengakibatkan
metritis, endometritis, peritonitis atau selulitis pelvis (Marilyn E. Doenges, 508).
Infeksi nifas adalah keadaan yang mencakup semua peradangan alat-alat genetalia dalam masa nifas
(Rustam Mochtar, 1974).
Infeksi nifas mencakup semua peradangan yang disebabkan oleh masuknya kuman-kuman ke dalam
alat-alat genital pada waktu persalinan dan nifas. Demam nifas atau dengan kata lain morbiditas
puerperalis meliputi demam masa nifas oleh sebab apapun. Menurut Joint Committee on Maternal
Welfare (Amerika Serikat), definisi morbiditas puerpuralis ialah kenaikan suhu sampai 38oC atau lebih
selama 2 hari dalam 10 hari pertama post partum, dengan mengecualikan hari pertama, suhu harus
diukur dari mulut sedikit-sedikitnya 4 kali sehari (Sarwono Prawirohardjo, 2005).
Infeksi puerpuralis ialah infeksi luka jalan lahir postpartum biasanya dari endometrium bekas insersi
placenta (Elstar Offset, 1984).

B. Etiologi
Bermacam-macam jalan kuman masuk ke dalam alat kandungan, seperti eksogen (kuman datang dari
luar), autogen (kuman masuk dari tempat lain dalam tubuh), dan endogen (dari jalan lahir).
Penyebab yang terbanyak dan lebih dari 50% adalah streptococcus anaerob yang sebenarnya tidak
pathogen sebagai penghuni normal jalan lahir.
Kuman-kuman yang sering menyebabkan infeksi antara lain adalah :
1. Streptococcus (aemoliticus aerobik)
Masuknya secara eksogen dan menyebabkan infeksi berat yang ditularkan dari penderita lain, alat-
alat yang tidak suci hama, tangan penolong dan sebagainya.
2. Staphylococcus aureus
Masuknya secara eksogen, infeksinya sedang, banyak ditemukan sebagai penyebab infeksi di rumah
sakit.
3. Escherichia coli
Sering berasal dari kandung kemih dan rectum, menyebabkan infeksi terbatas.
4. Clostridium welchii
Kuman anaerobic yang sangat berbahaya, sering ditemukan pada abortus kriminalis dan partus yang
ditolong dukung dari luar rumah sakit.

Cakupan Vitamin A masa nifas riskesdas 2010. Vol 15, no 1 Januari 2012

Namun, DHS 2007
temukan bahwa hanya 44.6% kaum ibu yang telah menerima suplemen.
hanya 45% dari ibu post-partum yang menerima kapsul vitamin A selama 42 hari
pertama setelah melahirkan.


Suplementasi vitamin A juga diperuntukkan bagi ibu nifas [ibu yang baru
melahirkan sampai 6 minggu setelah kelahiran bayi (0- 42 hari)]. Ibu nifas harus
diberikan kapsul Vitamin A dosis tinggi karena:
Pemberian 1 kapsul Vitamin A merah cukup untuk meningkatkan kandungan
Vitamin A dalam ASI selama 60 hari
Pemberian 2 kapsul Vitamin A merah diharapkan cukup menambah kandungan
Vitamin A dalam ASI sampai bayi berusia 6 bulan.
Kesehatan ibu cepat pulih setelah melahirkan
Mencegah infeksi pada ibu nifas
1. Waktu pemberian bagi ibu nifas
Kapsul Vitamin A merah (200.000 SI) diberikan pada masa nifas sebanyak 2 kali
yaitu :
1 (satu) kapsul Vitamin A diminum segera setelah saat persalinan
1 (satu) kapsul Vitamin A kedua diminum 24 jam sesudah pemberian kapsul
pertama
Catatan :
Jika sampai 24 jam setelah melahirkan ibu tidak mendapat vitamin A, maka kapsul
Vitamin A dapat diberikan pada kunjungan ibu nifas atau pada KN 1 (6-48 jam)
atau saat pemberian imunisasi hepatitis B (HB0) pada KN 2 (bayi berumur 3-7 hari)
atau pada KN 3 (bayi berumur 8 -28 hari).