Anda di halaman 1dari 23

Tafsir Ayat Shalat Jumat

Muhammad Jamhuri
Surat al-Jumuah Ayat 9-11

Arti Surat al-Jumuah Ayat 9-11


Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk
menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu
kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang
demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui
Apabila telah ditunaikan shalat, maka bertebaranlah kamu
di muka bumi; dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah
banyak-banyak supaya kamu beruntung
Dan apabila mereka melihat perniagaan atau permainan,
mereka bubar untuk menuju kepadanya dan mereka
tinggalkan kamu sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah:
"Apa yang di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan
perniagaan", dan Allah Sebaik-baik Pemberi rezki
Penjelasan Surat al-Jumuah Ayat 9-11
Kata min dalam ayat ini (

) berarti fii yaitu


pada hari jumat dan dibaca al-Jumuatu dengan huruf
mim dibaca dhommah, bisa juga dibaca sukun atau
fathah. Asal katanya adalah dengan dhommah,
sedangkan sukun untuk meringankan bacaan dan
fathah sebagai serapan dari kata kerjanya, seakan-akan
kata ini berarti mengajak kaum muslimin untuk
berkumpul.
Kata

dari segi balaghoh mengandung majaz


mursal, yang disebutkan disini hanya jual beli,
sedangkan maksud sebenarnya adalah segala bentuk
muamalah serta kesibukan baik itu jual beli ataupun
yang lainnya
Penjelasan Surat al-Jumuah Ayat 9-11
Kata

adalah berarti pembacaan adzan kedua yang


dilaksanakan di depan Nabi, yaitu ketika beliau berada di
atas minbar sebelum memulai khutbah. Shalat tersebut
dinamakan shalat jumah, karena pada hari itu masyarakat
berkumpul untuk melaksanakan shalat, orang arab
menyebutnya hari kasih sayang
Kata

yang berarti berjalan, digunakan kata sayun


(usaha) sebagai syarat agar kaum muslimin melaksanakan
sholat jumat dengan kemauan kuat dan semangat tinggi
serta kesungguhan yang nyata untuk melaksanakan sholat.
Jika telah terdengar panggilan sholat jumat maka
tinggalkanlah segala urusan jual beli dan semua bentuk
muamalah, karena sesungguhnya usaha untuk beribadah
kepada Allah lebih baik dari muamalah. Karena
sesungguhnya manfaat Akhirat itu jauh lebih baik dan kekal
abadi

Penjelasan Surat al-Jumuah Ayat 9-11
Kata

adalah berarti setelah shalat


jumah ditunaikan.
Kata

berarti perintah
untuk kembali melaksanakn aktifitas apapun,
mencari rizki Allah di muka bumi setelah
menunaikan shalat jumah.
Ada sebuah hadis :
:
{

}
Barang siapa jual beli pada hari jumah setelah
menunaikan shalat, maka Allah akan memberikan
berkahnya dengan memberikan 70 kali lipat..

Penjelasan Surat al-Jumuah Ayat 9-11
Kata

adalah perintah untuk selalu


memperbanyak ingat Allah ketika menjalankan segala
aktifitas apapun. Jangan sampai kaum muslimin lebih
disibukkan mengurus dunia dengan meninggalkan akhirat.
Jika kaum muslimin dapat memegangi prinsip seperti ini
maka ia termasuk golongan orang yang bahagia
Kemudian Allah menerangkan bahwa ketika Nabi sedang
berkhotbah di atas minbar, mereka meninggalkan beliau
untuk bermain dan berdagang. Sebagian dari mereka
menjauh hanya untuk mendengarkan tabuhan genderang
dan menyaksikannya, sebagian yang lain menghindar dari
jamaah jumat untuk memenuhi kebutuhan mereka dalam
berdagang. Maka, Allah memperingatkan bahwa kaum
muslimin boleh untuk kembali ke pekerjaan mereka setelah
melaksanakan sholat jumat.
Penjelasan Global
Ayat tersebut menegaskan bahwa jika umat Islam
diseru untuk melaksanakan shalat jumat maka
bersegeralah menjawab seruan tersebut dengan
segera meninggalkan semua aktifitas dunyawiyah
Untuk menghilangkan kesan bahwa perintah ini
adalah sehari penuh, sebagaimana yang
diwajibkan kepada orang-orang Yahudi pada hari
sabtu, maka dilanjutkan ayat setelahnya yang
mengandung arti : lalu apabila telah ditunaikan
sholat, maka bertebaranlah dimuka bumi dan
carilah sebagian dari karunia Allah, dan ingatlah
Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung


Penjelasan Global
Dan ketika shalat jumat telah ditunaikan, umat
islam dianjurkan untuk kembali beraktifitas,
bekerja mencari rizki Allah SWT di muka bumi.
Bekerja yang dimaksud adalah bekerja dengan
selalu menyeimbangkan akal-fikiran dengan hati.
Akal untuk menciptakan dan menyikapi peluang-
peluang dan hati dengan selalu bersandarkan diri
kepada Allah melalui dzikir.
Jika dilihat fenomena ini, maka, melalui ayat ini
Allah memperingatkan umat manusia
menyeimbangkan antara dunia kepentingan
dunia dan akhirat


Hukum Terkait Dengan Shalat Jumat
Shalat Jumat hukumnya wajib bagi orang yang
memenuhi syarat. Dia berjumlah dua rakaat,
sebagaimana riwayat dari Umar bin Khattab,
bahwa beliau berkata, Shalat Jumat adalah dua
rakaat sempurna bukan qoshor dengan perintah
sabda Nabi kalian (HR: Bukhori, Nasai dan ibnu
Majah dengan isnad hasan)
Shalat jumat adalah fardhu ain atas seorang yang
sudah mukallaf, mampu dan memenuhi
persyaratan, dan dia bukan pengganti shalat
Zhuhur. Namun jika terluput maka diwajibkan
melaksankan shalat zhuhur empat Rakaat.
Hukum Terkait Dengan Shalat Jumat
Kewajiban shalat Jumat ditetapkan oleh al-Quran dan Hadist serta
Ijma. Adapun al-Quran, firman Allah swt:


Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui. (QS; al-Jumuah: 9)

Dari Hadist Rasulullah sw:

Sunnguh ingin sekali aku perintah seseorang shalat bersama manusia
kemudian aku membakar rumah orang-orang yang tidak
melaksanakan shalat Jumat (HR: Muslim)
Menyegera Datang Shalat Jumat
Wajib segera berangkat untuk shalat Jumat tatkala berkumandang
adzan yang langsung diiringi khutbah, dan saat itu diharamkan
melakukan transaksi jual beli. Firman Allah swt


Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat
Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan
tinggalkanlah jual beli Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu
mengetahui. (QS; al-Jumuah: 9)
Pada masa Nabi saw belum dikenal adzan lain selain adzan setelah
khatib naik mimbar. Nabi saw jika telah naik mimbar maka seorang
muadzin mengumandangkan adzan (HR: Bukhori, Daud, Nasai,
Tirmidzi)
Usman bin Affan telah menambah adzan sebelum kegiatan itu saat
mulai banyaknya manusia. Diriwayatkan dari Saib bin Yazid, Adalah
adzan hari Jumat pertama kali, jika imam duduk di atas mimbar
pada masa Nabi saw, Abu Bakar dan Umar, dan ketika pada masa
Usman dan manusia banyak, maka beliau menambah adzan kedua

Menyegera Datang Shalat Jumat
Tiga Imam Madzhab sepakat bahwa seorang mukallaf
wajib bersegera berangkat Jumat ketika mendengar
adzan yang mengantarkan khotib berkhutbah, karena
adzan itulah yang dimaksud pada ayat perintah shalat
Jumat.
Sedangkan Hanafiyah berpendapat bahwa kewajiban
bersegera berangkat shalat Jumat adalah saat
kumandang adzan saat setelahzawal (waktu zuhur).
Adzan yang terdengar seperti sekarang adalah
mewajibkan mukallaf berangkat ke shalat Jumat,
karena ayat itu sifatnya umum, dan terkhusus pada
adzan yang mengantarkan khatib berkhutbah

Hukum Jual Beli Saat Adzan Shalat Jumat
Hukum jual beli saat adzan Jumat adalah haram menurut Syafiiiyah
dan Hanafiyah, namun mereka berbeda tentang waktu adzan
seperti di atas.
Adapun Hanabilah berpendapat bahwa jual beli saat adzan Jumat
adalah tidak sah secara mutlak. Dan Malikiyah berpendapat bahwa
jika berubah zat barangnya seperti hewan yang disembelih atau
memakannya, atau berubah pasarnya seperti turunnya harga atau
naiknya yang menyebabkan hilangnya jual-beli yang batal, maka hal
itu diperbolehkan
Hukum diatas berlaku bagi orang yang terkena kewajiban shalat
Jumat. Adapun orang yang tidak terkena kewajiban shalat Jumat
seperti wanita, musafir dan orang sakit, maka mereka boleh
melakukan transaksi jual beli. Jika salah seorang dari dua orang
yang berakad mengikat dan lainnya tidak mengikat (dalam berakad)
maka keduanya haram melakukan akad jual beli, karena orang yang
tidak terkena kewajiban shalat Jumat membantu kemaksiatan (tidak
shalat Jumat) kepada orang yang terkena kewajiban shalat Jumat
Syarat Shalat Jumat
Syarat Shalat Jumat sama dengan syarat syarat pada shalat Zhuhur,
hanya saja untuk shalat Jumat terdapat syarat tambahan:
Syarat Shalat Jumat terbagi kepada dua bagian; 1)Syarat Wajibnya Shalat
Jumat dan 2)Syarat Sahnya Shalat Jumat
Syarat Wajibnya Shalat adalah: 1)Lelaki 2)merdeka 3)Tidak ada halangan
meninggalkannya seperti sakit 4)Dapat melihat (tidak buta) 5)Tidak tua
jompo 6)Tidak musim panas atau dingin yang terlalu 7)Tidak khawatir
dizhalimi orang di jalan 8)Tidak khawatir akan kehilangan harta, jiwa dan
kehormatan 9)Tinggal di negeri/kampung yang didirikan shalat jumat
10)Jamaah berada di negerinya sendiri
Syarat Sahnya Shalat Jumat adalah: 1)Shalat Jumat dan khutbahnya
terjadi di waktu shalat Zhuhur 2)Jamaah berada di sebuah tempat yang
terdapat bangunan, baik kota atau desa 3)Jamaahnya memenuhi syarat;
40 orang, tidak musafir dan mendengar adzan Jumat 4)Jumlah jamaah
minimal 40 orang dengan syarat-syarat tertentu (org yg terkena kewajiban
shalat) jumat 5)Shalat Jumat lebih dahulu dilakukan dari yang lain di satu
tempat dan dilakukan lebih dari satu kali shalat jumat. 6)Didahului dengan
dua khutbah yang terpenuhi syarat dan rukun khutbahnya

Kehadiran Wanita Dalam Shalat Jumat
Salah satu syarat diwajibkannya shalat Jumat adalah laki-
laki, sehingga shalat Jumat tidak wajib atas wanita. Akan
tetapi jika wanita melaksanakan shalat jumat maka
shalatnya sah sebagai pengganti shalat zhuhur
Mana yang utama bagi wanita, shalat Jumat atau shalat
zhuhur di rumah? Terdapat perbedaan pendapat di
kalangan madzhab:
Hanafiyah: Yang afdhol bagi wanita adalah shalat zhuhur di
rumahnya, baik dia sudah tua atau masih muda
Malikiyah: Wanita tua lebih afdhol shalat Jumat, sedangkan
wanita muda makruh hukumnya, dan dapat haram jika
mengundang fitnah
Hanafiyah: Wanita secara mutlak dimakruhkan shalat berjamaah
pada shalat Jumat dan lainnya, kecuali bagi wanita tua yang
tidak berbaju wangi
Hambali: diperbolehkan bagi wanita menghadiri shalat Jumat
dengan syarat tidak cantik (berdandan), jika dia cantik
(berdandan) maka dimakruhkan menghadiri shalat Jumat secara
mutlak

Banyaknya Masjid yang Mengadakan
Shalat Jumat
Salah satu tujuan shalat Jumat adalah agar berkumpulnya
umat Islam dalam satu tempat, mereka khusyu beribadah
kepada Tuhannya, sehingga akan terjalin ukhuwah, saling
mencintai dan tidak saling bermusuhan
Banyaknya masjid tanpa ada kebutuhan tentu saja akan
menghilangkan tujuan diatas, karena kaum muslimin
terpecah ke dalam beberapa masjid, sehingga mereka tidak
merasakan manfaat saling berkumpul dan perasaan sama
saling menghadap Tuhan mereka. Oleh sebab itu berdirinya
banyak masjid tanpa sebuah kebutuhan, maka shalat Jumat
pun tidak sah kecuali jamaah yang lebih dahulu
melaksanakannya. Dan para ulama dalam hal ini berbebda
pendapat:
Banyaknya Masjid yang Mengadakan Shalat Jumat
Syafiiyah: Banyak masjid ada dua keadaan 1)Tanpa kebutuhan atau
2)karena kebutuhan seperti sempit di satu tempat
Banyak masjid tanpa kebutuhan, maka shalat Jumat sah bagi yang terlebih
dahulu dalam takbirotul ihram. Syaratnya yakin bahwa jamaah masjid tersebut
mendahului mesjid lainnya. Jika ragu atau berbarengan maka jamaah semua
masjid tidak sah shalat Jumatnya.
Banyak masjid karena kebutuhan: maka shalat jumatnya sah, meskipun
dimandubkan untuk shalat zhuhur setelah shalat jumat
Malikiyah: Shalat Jumat sah dilakukan di bangunan masjid pertama kali
didirikan shalat Jumat
Hanabilah: banyaknya masjid karena kebutuhan (sempit dll) maka shalat
Jumat sah dilakukan. Tetapi jika tidak karena kebutuhan, maka shalat
Jumat sah dilakukan di masjid yang diizinkan oleh pemerintah dilakukan
shalat Jumat
Hanafiyah: Banyaknya masjid tidak mempengaruhi keabsahan shalat
Jumat. Namun jika seseorang mengetahui dengan yaqin bahwa Jamaah di
masjid lain mendahuluinya dalam shalat Jumat, maka sebaiknya dia shalat
Zhuhur lagi di rumahnya, supaya tidak dianggap wajib.

Jumlah Jamaah Dalam Shalat Jumat
Semua imam madzhab bersepakat bahwa sholat Jumat tidak dilakukan
kecuali dengan berjamaah, akan tetapi mereka berbeda pendapat tentang
jumlah jamaah yang sholat jumat menjadi sah.
Malikiyah berpendapat, jumlah jamaah minimal yang sah adalah 12 orang laki-
laki selain imam, dengan syarat: 1)orang yang terkena kewajiban sholat jumat,
2)penduduk/warga setempat 3)hadir sejak khutbah pertama hingga selesai
sholat 4)mereka bermazhab Maliki atau Hanafi
Hanafiyah: Shalat jumat sah dengan 3 jamaah selain Imam meskipun tidak
hadir saat khutbah, oleh sebab itu saat khutbah dihadiri 1 orang kemudian
datang dua orang saat menjelang sholat maka sah sholat jumatnya.
Disyaratkan yang menjadi imam adalah pemimpin daerahnya/desanya
Syafiiyah: Sholat Jumat dapat sah jika: 1) jumlah mereka 40 orang bersama
imam 2) mrk orang yang sah melakukan Jumat 3) mengikuti sholat jumat
dengan sah (tidak ada yang batal) 4)segera bertakbiri setelah imam memulai,
jika jamaah baru bertakbir ihrom sedangkan imam sedang beranjak akan
itidal maka tidak sah sehingga jumlahnya tidak lengkap (40 orang)
Hanabilah: Sholat Jumat dapat sah dengan syarat: 1)Jumlah jamaah tidak
kurang dari 40 orang 2)mereka termasuk yang dikenai kewajiban shalat Jumat
3)mereka hadir saat khutbah dan shalat, meskipun tidak sempurna seluruh s

Rukun Khutbah
1. Memuji Allah ( ), pada kedua khutbah
harus dengan kalimat pujian (al-hamd), tidak cukup dengan kalimat
syukur ( )
Harus dengan kata Allah , tidak cukup ( )
2. Membaca sholawat kepada Nabi saw pada kedua khutbah
Tidak boleh dengan selain lafadz sholawat
Boleh dengan menyebut gelar atau nama Nabi saw
3. Berwasiat kepada ketakwaan pada kedua khutbah
Boleh berupa ajakan taat kepada Allah
4. Membaca ayat al-quran pada salah satu khutbah, dan lebih utama
pada khutbah pertama
Disyaratkan ayat sempurna, atau sebagian tapi panjang
5. Mendoakan kaum muslimin dan muslimat, khusus pada khutbah
kedua
Mendoakan dengan perkara ukhrowi


Sunnah Khutbah
Tertib rukun : mulai hamdalah, shalawat, wasiat taqwa, membaca ayat al-
quran, mendoakan kaum muslimin, dan mendoakan pemimpin kaum
mukminin di khutbah kedua, shalawat kembali pada Nabi saw
Diam saat mendengar khutbah
Khutbah di atas mimbar
Mimbar sebelah kanan Mihrab
Memandang jamaah saat naik mimbar
Duduk sebelum khutbah pertama
Memberi salam sebelum duduk
Ada muadzin (yang membaca adzan)
Faseh berkhutbah dipahami masyarakat
Berkhutbah sedang-sedang saja, tidak sebentar atau lama
Khutbah lebih sebentar dari shalat
Tangan kiri memegang tongkat (pedang)
Tangan kanan memegang sisi mimbar

Makruh-makruh Khutbah
Makruh-makruh khutbah adalah meninggalkan sunnah-sunnah
khutbah seperti yang disebutkan sebelumnya. Hal ini menurut
Mazhab Hanafi dan Maliki
Adapun Madzhab Syafii berpendapat bahwa tidak sepenuhnya
meninggalkan sunah khutbah adalah merupakan makruh
khutbah. Tetapi ada yang makruh dan ada pula khilaful aula
(meninggalkan yang utama). Yang termasuk makruh khutbah
adalah makmum (pendengar khutbah) berbicara saat khutbah
serta memanggil jamaah di depan khatib. Sedangkan yang
termasuk khilaful aula adalah menutup mata tanpa perlu saat
khatib berkhutbah
Madzhab Hambali berpendapat sama, dan diantara makruh
khutbah adalah jamaah membelakangi imam saat berkhutbah
dan mengangkat tangan saat berdoa dalam keadaan
berkhutbah