Anda di halaman 1dari 6

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Pada rana kenegaraan yang perlu kita ketahui adalah bagaimana menjadikan
masyarakat sejahtera dan makmur, tanpa melepaskan sendi-sendi keutamaan sebuah
negara itu berdiri. Negara hukum dan pemerintahan yang demokrasi semua itu adalah
persyaratan yang urgen dalam sebuah pembangunan negara dan menjadikan negara
itu jelas dari tipe sejarah maupun dari kacamata hukum.
Seperti yang diteorikan oleh George Jellinek dan Jean Bodin bahwa negara itu
berdaulat yang dimana hukum ada karena adanya negara dan tiada satupun hukum
yang berlaku jika tidak dikehendaki oleh negara. Dari teori tersebut kita bisa mengulas
sebuah konsep bahwa negara itu adalah sistem yang betul-betul berkuasa terhadap
kehidupan seluruh yang ada didalamnya demi mensejahterahkan rakyatnya .
Tema kesejahteraan rakyat yang selalu mengemuka dalam perdebatan publik lebih
banyak retorika politik yang berangkat dari interpretasi sepihak, baik di kalangan pejabat
pemerintah maupun politisi di parlemen. Dalam konteks ini perlu menyimak ulang ide
negara kesejahteraan dengan merujuk pemikir-pemikir klasik antara lain Asa Griggs,
The Welfare state in Historical Perspective (1961); Friedrich Hayek, The Meaning of the
Welfare state (1959); dan Richard Titmuss, Essays on the Welfare state (1958).
Negara kesejahteraan adalah suatu bentuk pemerintahan demokratis yang menegaskan
bahwa negara bertanggung jawab terhadap kesejahteraan rakyat yang minimal, bahwa
pemerintah harus mengatur pembagian kekayaan negara agar tidak ada rakyat yang
kelaparan, tidak ada rakyat yang menemui ajalnya karena tidak dapat membayar biaya
rumah sakit. Dapat dikatakan bahwa negara kesejahteraan mengandung unsur
sosialisme, mementingkan kesejahteraan di bidang politik maupun di bidang ekonomi.
Dapat juga dikatakan bahwa negara kesejahteraan mengandung asas kebebasan
(liberty), asas kesetaraan hak (equality) maupun asas persahabatan (fraternity) atau
kebersamaan (mutuality). Asas persahabatan atau kebersarnaan dapat disamakan
dengan asas kekeluargaan atau gotong royong .
Dari uraian tersebut maka penulis terdorong untuk mengungkapkan pemahaman
konsep negara welfare state
.
1.3 Rumusan Masalah
Rumusan masalah dalam makalah ini adalah:
a. Apakah welfare state dan bagaimana penerapannya diberbagai negara?
b. Apakah Indonesia termasuk welfare state atau bukan?
c. Penerapan Welfare state di Indonesia ?



BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Welfare State
2.1.1 Pengertian Welfare State
Welfare state atau negara kesejahteraan adalah negara yang pemerintahannya menjamin
terselenggaranya kesejahteraan rakyat. Dalam mewujudkan kesejahteraan rakyatnya harus
didasarkan pada lima pilar kenegaraan, yaitu:
a. Demokrasi (Democracy).
b. Penegakan Hukum (Rule of Law).
c. Perlindungan Hak Asasi Manusia.
d. Keadilan Sosial (Social Juctice)
e. Anti diskriminasi.
2.1.2 Langkah Langkah Welfare StateDalam Wewujudkan Kesejahteraan Rakyat
Kebanyakan para ekonom dalam merealisasikan konsep welfare state merujuk pada
langkah-langkah Kim Dae Jung, mantan presiden Korsel (1996-2001). Karena dinilai paling
ideal jika diterapkan pada keadaan sekarang. Langkah-langkah itu antara lain:
a. Menciptakan pemerintahan yang bersih, berwibawa, dipercaya dan takut melanggar perintah
Tuhan (good governance).
b. Menegakkan hukum dan memberantas KKN.
c. Menanam kelapa sawit sebagai keunggulan ekonomi.
d. Memperbaiki sistem pendidikan.
2.1.3 Model Penerapan Welfare State di Berbagai Negara
Menurut Edi Suharto(2006), sistem kesejahteraan negara tidaklah homogen dan statis. Ia
beragam dan dinamis mengikuti perkembangan dan tuntutan peradaban. Meski beresiko
menyederhanakan keragaman, sedikitnya ada empat model kesejahteraan negara yang hingga
kini masih beroperasi:
a. Model Universal
Pelayanan sosial diberikan oleh negara secara merata kepada seluruh penduduknya, baik
kaya maupun miskin. Model ini sering disebut sebagai the Scandinavian Welfare States yang
diwakili oleh Swedia, Norwegia, Denmark dan Finlandia. Sebagai contoh, kesejahteraan
negara di Swedia sering dijadikan rujukan sebagai model ideal yang memberikan pelayanan
sosial komprehensif kepada seluruh penduduknya. Kesejahteraan negara di Swedia sering
dipandang sebagai model yang paling berkembang dan lebih maju daripada model di Inggris,
AS dan Australia.
b. Model Koorporasi
Seperti model pertama, jaminan sosial juga dilaksanakan secara melembaga dan luas,
namun kontribusi terhadap berbagai skema jaminan sosial berasal dari tiga pihak, yakni
pemerintah, dunia usaha dan pekerja (buruh). Pelayanan sosial yang diselenggarakan oleh
negara diberikan terutama kepada mereka yang bekerja atau mampu memberikan kontribusi
melalui skema asuransi sosial. Model yang dianut oleh Jerman dan Austria ini sering disebut
sebagai Model Bismarck.
c. Model Residual
Model ini dianut oleh negara-negara Anglo-Saxon yang meliputi AS, Inggris, Australia
dan Selandia Baru. Pelayanan sosial, khususnya kebutuhan dasar, diberikan terutama kepada
kelompok-kelompok yang kurang beruntung (disadvantaged groups), seperti orang miskin,
penganggur, penyandang cacat dan orang lanjut usia yang tidak kaya. Model ini mirip model
universal yang memberikan pelayanan sosial berdasarkan hak warga negara dan memiliki
cakupan yang luas. Namun, seperti yang dipraktekkan di Inggris, jumlah tanggungan dan
pelayanan relatif lebih kecil dan berjangka pendek daripada model universal. Perlindungan
sosial dan pelayanan sosial juga diberikan secara ketat, temporer dan efisien.
d. Model Minimal
Model ini umumnya diterapkan di gugus negara-negara latin (seperti Spanyol, Italia, Chile,
Brazil) dan Asia (antara lain Korea Selatan, Filipina, Srilanka, Indonesia). Model ini ditandai
oleh pengeluaran pemerintah untuk pembangunan sosial yang sangat kecil. Program
kesejahteraan dan jaminan sosial diberikan secara sporadis, parsial dan minimal dan
umumnya hanya diberikan kepada pegawai negeri, anggota ABRI dan pegawai swasta yang
mampu membayar premi. Di lihat dari landasan konstitusional seperti UUD 1945, UU SJSN
(Sistem Jaminan Sosial Nasional), dan pengeluaran pemerintah untuk pembangunan sosial
yang masih kecil, maka Indonesia dapat dikategorikan sebagai penganut kesejahteraan negara
model ini.
2.2 Indonesia termasuk welfare

Konsep welfare state (welvaartsstaat) atau negara kesejahteraan adalah konsep
dimana sebuah negara turut serta dalam kegiatan ekonomi, sosial dan kegiatan lainnya yang
mendukung terciptanya kesejahteraan bagi warga negaranya. Konsep ini berkebalikan dengan
konsep negara penjaga malam ataunachtwakerstaat dimana terdapat pembatasan terhadap
pemerintah terhadap masalah-masalah ekonomi sosial masyarakat, sehingga peran negara
hanyalah mengakkan hukum saja dan bukan turut serta menyejahterakan rakyatnya.
Bila melihat Indonesia, kita akan mengatakan bahwa Indonesia adalah negara yang
mengurusi masalah kesejahteraan rakyatnya atau welfare state. Hal ini dapat kita lihat dalam
undang-undang bahwa negara melarang monopoli terhadasp hal-hal atau sumber daya yang
menyangkut hidup orang banyak, hal ini ditujukan agar rakyat tidak terlalu terbebani dengan
harga dari sumber daya tersebut atau dengan kata lain bahwa negara memerhatikan
kesejahteraan rakyatnya. Hal ini dapat juga dilihat dalam Pancasila yang menyatakan dalam
sila kelimanya, yakni keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, secara tidak langsung
menyiratkan bahwa negara Indonesia juga turut serta dalam urusan ekonomi dan sosial
masyarakatnya untuk menciptakan kesejahteraan sosial yang merata dan adil bagi rakyatnya.
Selain itu didalam undang-undang dasar sendiri diterangkan secara jelas mengenai peran
serta negara dalam urusan masyarakatnya yang bertujuan untuk mewujudkan kesejahteraan
masyarakatnya, misalnya saja pendidikan, yang pada intinya pendidikan ini ditujukan untuk
meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan pada akhirnya bertujuan untuk mewujudkan
kesejahteraan masyarakatnya, lalu ada pula pasal yang menjelaskan bahwa fakir miskin dan
anak-anak terlantar dipelihara oleh negara, serta ada pula pasal-pasal yang menjelaskan
mengenai pemeberian jaminan sosial dan kesehatan bagi warga negaranya, seperti yang
ditentukan dalam Bab XIV Pasal 33 dan 34 UUD 1945.
Semua penjelasan diatas menunjukkan pada kita bahwa Indonesia memiliki cita-cita
untuk mewujudkan negara welfare state, meskipun dalam prakteknya atau dalam
kenyataannya, kesejahteraan hanya bisa dinikmati oleh kalangan-kalangan tertentu saja.
Misalnya saja pendidikan, hanyalah orang-orang tertentu saja yang dapat mendapat akses
terhadap kepada pendidikan, tidak semua rakyat ini mendapatkan akses kepada hal tersebut,
meskipun pemerintah sendiri telah menyelenggarakan pendidikan gratis, namun hal itu dirasa
masih jauh dari kata layak, sehingga akses pendidikan yang layak hanya dapat dinikmati oleh
kalangan tertentu saja. Contoh lainnya menegenai kesejahateraan dalam hal ekonomi, di
Indonesia meskipun dalam dasar negaranya dituliskan bahwa masalah sosial dan ekonomi
harus merata dan adil tapi kenyataannya banyak pengangguran, banyak rakyat yang
penghasilannya dibawah garis standar.

2.3 Penerapan Welfare state di Indonesia
Indonesia telah memiliki pijakan welfare state sejak disusunnya UUD 1945 sebagai
konstitusi bangsa. UUD 1945 yang disusun atas dasar semangat dan kesadaran membangun
suatu model negara sosial-demokrasi, yakni menggabungkan prinsip-prinsip di dalam
sosialisme dan demokrasi sekaligus, bertujuan untuk menciptakan suatu tatanan masyarakat
berkeadilan sosial, berkemakmuran dan sejahtera secara bersama-sama. Prinsip-prinsip
sosialisme yang bertujuan untuk semangat kesejahteraan nasional sangat bertentangan jika
disandingkan dengan kebijakan yang diterapkan di era pasca-Soekarno, khususnya di era Pra
Soehartno, khususnya di era reformasi. Keputusan untuk menandatangani Lol dengan IMF
secara principil bertentangan dengan UUD 1945, karena artinya negara menyerahkan
mandate dan tanggung jawabnya sebagaimana termaktub dalam pasal 33 dan pasal 34
kepada pasar, apalgi pasca amandemen UUD 1945. Paham Negara Kesejahteraan (welfare
sfafe) ternyata dipertegas dalam tambahan pasal-pasal sosial-ekonomi[1], yaitu dalam pasal
34 ayat 2 dan ayat 3. Sedangkan Pasal 34 ayat 1 merupakan pasal asli (sebelum
diamandemen). Dalam Pasal 34ayat (2) ditambahkan gagasan tentang sistem jaminan sosial
(social security system) yang pada umumnya sudah melembaga dinegara-negara Eropa Barat
dan Amerika Utara, bahkan di banyak negara dunia ketiga. Dinegara-negara tersebut iuran
jaminan sosial ( social security contriution) merupakan bagian yang cukup besar dalam
penerimaan negara. Dana jaminan sosial yang merupkan sumber dana bagi upaya-upaya
memberdayakan masayarakat yang lemah dan tidak mampu. Sistem ini juga merupakan
faktor kunci terhadap terlaksananya ketentuan pasal 34 ayat 1 yaitu fakir miskin dan anak-
anak yang terlantar dipelihara oleh negara.[2]
Ditinjau dari prinsip demokrasi ketika diproklamirkannya negara ini, dinyatakan
bahwa Kemerdekaan atas Nama Bangsa Indonesia, karenanya Negara Kesatuan Republik
Indonesia merupakan negara Demokratis Konstitusional , sehingga setiap kebijakan tentang
pemerintahan ini harus berdasarkan suara rakyat yang dibingkai dalam sebuah peraturan. Hal
ini bisa kita lihat dalam Pasal 1 ayat (2) UUD 1945 yang berbunyi : Kedaulatan berada di
tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang Dasar.
Berdasarkan ketentuan ini, Negara Republik Indonesia dituntut untuk menerapkan
sistem Demokrasi dalam penyelenggaraan Pemerintahan, dimana setiap kebijakan tentang
pemerintahan berdasarkan aspirasi dan kepentingan rakyat. Tidak dapat dipungkiri lagi
bahwa Negara Republik Indonesia menganut asas demokrasi, karena persyaratan-persyaratan
mengenai negara demokrasi ini telah dipenuhi dan dinyatakan dengan tegas di dalam
Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia (UUD 1945) . Negara-negara demokrasi
modern dilihat dari sudut analisis makro, nilai-nilai dasar politik masyarakat adalah
kemerdekaan (liberty), persamaan (equality), dan kesejahteraan (welfare). sehingga
seharusnya melalui prinsip demokrasi nagara sejahtera dapat terwujud.
Namun ternyata, amandemen UUD 1945 dalam mewujudkan welfare state sangat
dipengaruhi oleh doktrin neoliberal yang bersemayam dalam Letter of Intent mengharamkan
campur tangan negara yang signifikan dalam ekonomi. Hal inilah yang dikatakan oleh
Habermas dan Gidden bahwa peran negara dalam wilayah tertentu dan dalam kapasitas
tertentu diperlukan untuk menjamin kedaulatan sekaligus kebebasan individu dan warga
(kolektif). Demikian juga dengan Pierre Bourdieu yang menekankan perlunya menumbuhkan
modal sosial untuk menghadapi gempuran neoliberalisme, terutama dampaknya yang
merusak tenaga kerja.
Melihat perkembangan Welfare state di Indonesia atas konstitusi bangsa dan
kebijakan pemerintah dapat dilihat dari tiga model
1. Reinert, Bourdieu, dan Walzer : Peran negara sangat penting terutama dalam hal menyangkut
keadilan sosial dan distribusi public goods yang dikatakan oleh Bourdiue. Hal ini yang
dilakukan oleh bapak pendiri bangsa terdahulu, yaitu suatu pengalaman dimana negara
merupakan faktor penting dalam perekonomian nasional, dan memiliki sifat particular yang
berbeda dengan model ekonomi kolonial. sehingga dengan adanya persoalan masa lalu
menjadi pijakan pemerintah dalam mengambil kebijakan
2. Hayek, Friedman dan Stiglitz, peran negara dilucuti, dimana negara tidak perlu mencampuri
kebebasan individu, terutama disektor ekonomi. Hal inilah yang dilakukan rezim Soeharto,
kebijakan ekonomi negara mengadopsi sepenuhnya kebijkan ekonomi internasional yang
dipimpin Amerika Serikat dengan watak kepemimpinan otoriteriannisme, diman negara
seakan-akan negara ikut campur tangan mengelola ekonomi padahal sepenuhnya untuk
kepentingan pribadi, kelompok, golongan dan keutuhan rezim.
3. Habermas, Gidden, dan Rawls : dalam menyikapi globalisasidan keadilan sosial dengan
mengambil posisi menerima keduanya dalam batas-batas tidak mengabaikan kebebsan
individu sebagai pokok. hal ini lah yang dilakukan oleh SBY, sebagai kebijakn alternative
namun hal ini kerap terjebak dalam ambiguitas demokrasi dan pasar bebas, dimana yang
terakhir bisa melahap yang pertama.






BAB IV
KESIMPULAN DAN PENUTUP
Kesimpulan
Berdasar uraian analisis dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut: apakah
Indonesia welfare state atau bukan, maka jawabannya bila melihat secara tertulis sesuai yang
tertera dalam undang-undang, Indonesia dapat dikatakan sebagaiwelfare state. Tetapi bila
melihat dari kenyataanya atau praktek langsungnya, maka Indonesia belum bisa dikatakan
sebagai welfare state, karena masih banyaknya disana sini rakyat yang belum dapat
menikamati kesejahteraan sesuai dengan yang diamanatkan oleh Pancasila dan UUD

E. Daftar Pustaka
A Briggs, The welfare State in historical Perspective, European Journal of Sociology, 1961.
Ahmad Subianto, Sistim Jaminan Sosial Nasional, Pilar Penyangga Kemandirian
Perekonomian Bangsa, Gibon Books, Jakarta, 2011.
Ahmad Subianto, Sistim Jaminan Sosial Nasional, Pilar Penyangga Kemandirian
Perekonomian Bangsa, Gibon Books, Jakarta, 2011.
Bar, The economics of the welfare state, Oxford, 1998.
Darmawan Tri Wiowo, Mimpi Negara Negara Kesejahteraan, LP3ES, Jakarta, 2006.
Dinna Wisnu, Poltik Sistim Jaminan Sosial, Menciptakan Rasa Aman Dalam Ekonomi Pasar,
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2012.
Edi Suharto. Kebijakan Sosial Sebagai Kebijakan Publik: Peran Pembangunan Kesejahteraan
Sosial dan Pekerjaan Sosial dalam Mewujudkan Negara Kesejahteraan di Indonesia.
Bandung: Alfabeta, 2007.
G. McT. Kahin, Nationalism and revolution in Indonesia, Ithace : Cornell University Press,
1978,
Jimly Asshiddiqie. Gagasan Kedaulatan Rakyat Dalam Konstitusi dan Pelaksanaannya di
Indonesia, Pergeseran keseimbangan Individualisme dan Kolektivisme dalam
Kebijakan Demokrasi Politik dan Demokrasi Ekonomi Selama Tiga Masa Demokrasi,
1945-1980-an, Ivhtiar Baru Van Hoeve. Jakarta, 1994.
Mohammad Yamin, Pembahasan Undang-Undang Dasar Republik Indonesia, Tanpa
Penerbit, Tanpa Tahun
Philiphus M hadjon, Tatiek Sri Djatmiati, Argurmntasi hukum, Gajah mada University Press,
Yogyakarta, 2010.
Rizal Mallarangeng, Mendobrak Sentralisme Ekonomi Indonesia 1986-1992,Kepustakaan
Populer Gramedia (KPG), Jakarta, cetakan III, 2008.
Sri Soemantri, Bunga Rampai Hukum tata Negara, Alumni, Bandung, 1992,