Anda di halaman 1dari 22

ENSEFALITIS VIRUS AKUT

I. Pendahuluan Dan Definisi

Ensefalitis adalah suatu peradangan pada otak, yang

biasanya disebabkan oleh virus dan dikenal sebagai ensefalitis Virus.

Ensefalitis adalah peradangan dari otak. Radang adalah

reaksi dari sistem imun tubuh menjadi infeksi atau invasi. Selama

radang jaringan otak menjadi swollen. Kombinasi dari infeksi dan

reaksi imun ini bisa menyebabkan sakit kepala dan demam,

menunjukkan gejala di beberapa kasus.

Ada 2000 kasus dari ensefalitis dilaporkan dipusat kontrol

penyakit di Atlanta, GA setiap tahun. Virus menyebabkan Ensefalitis

primer yang bisa menjadi epidemic atau sporadic. Polio virus adalah

penyebab epidemik. Athropode-borne viral ensefalitis adalah

bertanggung jawab untuk epidemik yang paling sering pada viral

ensefalitis. Virus hidup pada binatang dan nyamuk sebagai perantara

dari penyakit. Bentuk yang paling sering dari non epidemik atau

sporadik ensefalitis disebabkan oleh herpes simplex virus, type 1

(HSV-1) dan mempunyai rate tinggi dari kematian. Mumps adalah

contoh lain dari penyebab sporadik.

1
Biasanya ensefalitis virus dibagi dalam 3 kelompok :

1. Ensefalitis primer yang bisa disebabkan oleh infeksi virus

kelompok herpes simpleks, virus influensa, ECHO, Coxsackie

dan virus arbo

2. Ensefalitis primer yang belum diketahui penyebabnya

3. Ensefalitis para-infeksiosa, yaitu ensefalitis yang timbul sebagai

komplikasi penyakit virus yang sudah dikenal seperti rubeola,

varisela, herpes zoster, parotitis epidemika, mononukleosis

infeksiosa dan vaksinasi.

Menurut statistik dari 214 ensefalitis,54% (115 orang) dari

penderitanya ialah anak-anak. Virus yang paling sering ditemukan

ialah virus herpes simpleks (31%) yang disusul oleh virus ECHO

(17%). Statistik lain mengungkapkan bahwa ensefalitis primer yang

disebabkan oleh virus yang dikenal mencakup 19%. Ensefalitis

primer dengan penyebab yang tidak diketahui dan ensefalitis para-

infeksiosa masing-masing mencakup 40% dan 41% dari semua

kasus ensefalitis yang telah diselidiki.

Ensefalitis primer ensefalitis viral herpes simpleks

Virus herpes simpleks tidak berbeda secara morfologik

dengan virus varisela, dan sitomegalovirus. Secara serologik

memang dapat dibedakan dengan tegas. Neonatus masih

mempunyai imunitas maternal. Tetapi setelah umur 6 bulan imunitas

itu lenyap dan bayi dapat mengidap gingivo-stomatitis virus herpes

2
simpleks. Infeksi dapat hilang timbul dan berlokalisasi pada

perbatasan mukokutaneus antara mulut dan hidung. Infeksi-infeksi

tersebut jinak sekali. Tetapi apabila neonatus tidak memperoleh

imunitas maternal terhadap virus herpes simpleks atau apabila pada

partus neonatus ketularan virus herpes simpleks dari ibunya yang

mengidap herpes genitalis, maka infeksi dapat berkembang menjadi

viremia. Ensefalitis merupakan sebagian dari manifestasi viremia

yang juga menimbulkan peradangan dan nekrosis di hepar dan

glandula adrenalis.

Pada anak-anak dan orang dewasa, ensefalitis virus herpes

simpleks merupakan manifestasi reaktivitasi dari infeksi yang latent.

Dalam hal tersebut virus herpes simpleks berdiam didalam jaringan

otak secara endosimbiotik, mungkin digangglion Gasseri dan hanya

ensefalitis saja yang bangkit.

Reaktivitas virus herpes simpleks dapat disebabkan oleh

faktor-faktor yang pernah disebut diatas, yaitu penyinaran ultraviolet

dan gangguan hormonal. Penyinaran ultraviolet dapat terjadi secara

iatrogenik atau sewaktu berpergian ke tempat-tempat yang tinggi

letaknya.

Kerusakan pada jaringan otak berupa nekrosis di substansia

alba dan grisea serta infark iskemik dengan infiltrasi limpositer

sekitar pembuluh darah intraserebral. Didalam nukleus sel saraf

terdapat “inclusion body” yang khas bagi virus herpes simpleks.

3
Gambaran penyakit ensefalitis virus herpes simpleks tidak

banyak berbeda dengan ensefalitis primer lainnya. Tetapi yang

menjadi ciri khas bagi ensefalitis virus herpes simpleks ialah

progresivitas perjalanan penyakitnya. Mulai dengan sakit kepala,

demam dan muntah-muntah. Kemudian timbul “acute organic brain

syndrome’ yang cepat memburuk sampai koma. Sebelum koma

dapat ditemukan hemiparesis atau afasia. Dan kejang epileptik dapat

timbul sejak permulaan penyakit. Pada fungsi lumbal ditemukan

pleiositosis limpositer dengan eritrosit.

Ensefalitis Arbo-virus

Arbovirus atau lengkapnya “arthropod-borne virus” merupakan

penyebab penyakit demam dan adakalanya ensefalitis primer. Virus

tersebut tersebar diseluruh dunia. Kutu dan nyamuk dimana virus itu

“berbiak” menjadi penyebarannya.

Ciri khas ensefalitis primer arbo-virus ialah perjalanan

penyakit yang bifasik. Pada gelombang pertama gambaran

penyakitnya menyerupai influensa yang dapat berlangsung 4-5 hari.

Sesudahnya penderita mereka sudah sembuh. Pada minggu ketiga

demam dapat timbul kembali. Dan demam ini merupakan gejala

pendahulu bangkitnya manifestasi neurologik, seperti sakit kepala,

nistagmus, diplopia, konvulsi dan “acute organic brain syndrome”

4
Ensefalitis Parainfeksiosa

Ensefalitis yang timbul sebagai komplikasi penyakit virus

parotitis epidemika, mononukleosis infeksiosa, varisela dan herpes

zooster dinamakan ensefalitis para-infeksiosa. Tetapi ensefalitis ini

sebenarnya tidak murni. Gejala-gejala meningitis, mielitis, neuritis

kranialis, radikulitis dan neuritis perifer dapat bergandeng dengan

gambaran penyakit ensefalitis. Bahkan tidak jarang komplikasi

utamanya berupa radikulitis jenis Guillain Barre atau meilitis

transversa sedangkan manifestasi ensefalitisnya sangat ringan dan

tidak berarti. Maka untuk beberapa jenis ensefalitis para-infeksiosa,

diagnosis mielo- ensefalitis lebih tepat daripada ensefalitis. Salah

satu jenis- ensefalitis viral yang fatal perlu disinggung dibawah ini,

yaitu rabies.

Rabies

Rabies disebabkan oleh virus neurotrop yang ditularkan

kepada manusia melalui gigitan anjing atau binatang apapun yang

mengandung virus rabies. Setelah virus melakukan penetrasi

kedalam sel tuan rumah, ia dapat menjalar melalui serabut saraf

perifer ke susunan saraf pusat. Sel-sel saraf (neuron) sangat peka

terhadap virus tersebut. Dan sekali neuron terkena infeksi virus

rabies proses infeksi itu tidak dapat dicegah lagi. Dan tahap viremia

tidak perlu dilewati untuk memperluas infeksi dan memperburuk

keadaan, neuron-neuron diseluruh susunan saraf pusat dari medula

5
spinalis sampai di korteks tidak bakal luput dari daya destruksi virus

rabies. Masa inkubasi rabies ialah beberapa minggu sampai

beberapa bulan. Jika dalam masa itu dapat diselenggarakan

pencegahan supaya virus rabies tidak di neuron-neuron maka

kematian dapat dihindarkan. Jika gejala-gejala prodromal sudah

bangkit tidak ada cara pengobatan yang dapat mengelakkan

progresivitas perjalanan penyakit yang fatal dan menyedihkan ini.

Gejala-gejala prodromalnya terdiri dari lesu dan letih badan,

anoreksia, demam, cepat marah-marah dan nyeri pada tempat yang

telah digigit anjing. Suara berisik dan sinar terang sangat

mengganggu penderita. Dalam 48 jam dapat bangkit gejala-gejala

hipereksitasi. Penderita menjadi gelisah, mengacau, berhalusinasi

meronta-ronta, kejang opistotonus dan hidrofobia. Tiap kali ia melihat

air, otot-otot pernafasan dan laring kejang, sehingga ia menjadi

sianotik dan apnoe. Air liur tertimbun didalam mulut oleh karena

penderita tidak dapat menelan. Pada umumnya penderita meninggal

karena status epileptikus. Masa penyakit dari mula-timbulnya

prodromal sampai mati adalah 3 sampai 4 hari saja.

II. Etiologi

Penyebab ensefalitis virus akut :

A. Western equine,St louis, Eastern Equine, Venezuela

equine, California.

6
B. Colorado tic fever

C. Mumps

D. Herpes Simpleks

E. Rabies

Untuk Indonesia perlu dipikirkan virus Rabies, Mumps

(penyebab parotitis) dan mungkin Herpes Simpleks. Penyebab dari

ensefalitis adalah paling sering infeksi virus beberapa contoh

termasuk virus herpes; arbovirus diperantarai oleh nyamuk, dan

serangga lain dan rabies.

Ensefalitis dibagi 2 bentuk, dikategorikan menjadi 2 jalan

virus bisa menginfeksi otak :

- Ensefalitis primer

Ini terjadi virus langsung masuk kedalam otak dan medula

spinalis. Ini bisa terjadi pada orang kapan saja setiap tahun

(sporadic ensefalitis) atau ini bisa menjadi bagian dari out break

(epidemik ensefalitis)

- Ensefalitis sekunder (post infeksi) ensefalitis bentuk

ini terjadi ketika virus pertama menginfeksi bagian dari tubuh

dan sekundernya masuk ke otak.

Ada beberapa penyebab dari ensefalitis

 Herpes Virus

Beberapa virus herpes bisa menyebabkan infeksi yang

menyebabkan ensefalitis ini termasuk :

7
1. Herpes simplex virus

Ada 2 type dari herpes simplex virus (HSV) infections HSV

type 1 (HSV-1) menyebabkan cold sores ( menyerupai jagung

atau gandum semacam tetes) atau fever blisters di sekitar

mulut. HSV type 2 (HSV-2) menyebabkan genital herpes.

HSV 1 adalah sangat penting menyebabkan ensefalitis

sporadic yang fatal di united states tetapi ini juga sangat

jarang kira-kira 2 kasus terjadi tiap juta orang setiap tahunnya.

ensefalitis herpes simpleks (EHS) disebabkan oleh virus

herpes simpleks dan merupakan ensefalitis yang paling sering

menimbulkan kematian. Angka kematian 70% bila tidak

diobati. Keberhasilan pengobatan ensefalitis herpes simpleks

tergantung pada diagnosis dini dan waktu memulai

pengobatan. Virus herpes simpleks tipe I umumnya ditemukan

pada anak, sedangkan tipe II banyak ditemukan pada

neonatus.

Asiklovir harus diberikan sesegera mungkin walaupun hanya

secara empirik, bila ada dugaan ensefalitis herpes simpleks

berdasarkan penampilan klinis dan gambaran laboratorium.

Asiklovir memiliki toksisitas minimal.

Manifestasi Klinis

Ensefalitis herpes simpleks dapat bersifat akut atau subakut. Fase

prodromal menyerupai influenza, kemudian diikuti dengan gambaran

8
khas ensefalitis. Empat puluh persen kasus datang dalam keadaan

komat atau semi-koma. Manifestasi klinis juga dapat menyerupai

meningitis aseptik

Manifestasi klinis tidak spesifik, karena itu diperlukan ketrampilan

klinis yang tinggi. Umumnya dipertimbangkan EHS bila dijumpai

demam, kejang fokal, dan tanda neurologis seperti hemiparesis

dengan penurunan kesadaran yang progresif.

Pemeriksaan laboratorium

• Gambaran daerah tepi tidak spesifik

• Pemeriksaan cairan likuor

memperlihatkan jumlah sel meningklat (90%) yang berkisar

antara 10-1000 sel/mm3. awalnya sel polimorfonuklear dominan,

tetapi kemudian berubah menjadi limfositosis. Protein dapat

meningkat sampai 50-2000 mg/l dan glukosa dapat normal atau

menurun

• EEG memperlihatkan gambaran yang

khas, yaitu periodic lateralizing epileptiform discharge atau

perlambatan fokal di area temporal atau frontotemporal

• Sering juga EEG memperlihatkan

gambaran perlambatan umum yang tidak spesifik, mirip

gambaran disfungsi umum otak

9
• CT kepala tetap normal dalam tiga

hari pertama setelah timbulnya gejala neurologis, kemudian lesi

hipodens muncul di regio frontotemporal

• T2-weight MRI dapat memperlihatkan

lesi hiperdens di regio temporal paling cepat dua hari setelah

munculnya gejala

• PCR likuor dapat mendeteksi titer

antibodi virus herpes simpleks (VHS) dengan cepat. PCR menjadi

positif segera setelah timbulnya gejala dan pada sebagian besar

kasus tetap positif selama dua minggu atau lebih

2. Varicella zooster virus

Virus ini bertanggung jawab untuk chicken pox dan shingles. Ini

menyebabkan ensefalitis pada dewasa dan anak-anak.

3. Epstein Barr Virus

Virus herpes ini menyebabkan infeksi mononucleosis (mono). Jika

ensefalitis berkembang, ini biasanya ringan tetapi bisa menjadi

fatal pada kasus kecil

Childhood infeksi

• Measles (Rubeola)

• Mumps

• Rubella (german Measles)

 Arbovirus

10
Virus bisa diperantai oleh nyamuk dan kutu(arbovirus) yang

menjadi penyebab ensefalitis epidemik

Cara kerja siklus transmisi :

1. Organisme yang memperantai penyakit dari satu

hewan ke lainnya disebut vektor. Nyamuk adalah vektor dari

transmisi dari ensefalitis dari creatures kecil biasanya burung

dan rodents-ke manusia

2. Burung yang hidup dekat tubuh dari air yang tenang

seperti danau air segar, adalah memungkinkan menjadi infeksi

ensefalitis virus, ketika burung terinfeksi ensefalitis virus, ini

membawa level tinggi dari virus di daerah untuk waktu singkat

sebelum recovering dari infeksi dan mengembangkan imun

dan penyakit. Jika nyamuk disentuh pada burung yang

terinfeksi. Nyamuk menjadi lifelong carrier dari penyakit

nyamuk memperantai infeksi ke burung selanjutnya masuk ke

dalam nyamuk. kadang-kadang lingkungan, cuaca atau

perubahan iklim menyebabkan peningkatan angka terinfeksi

burung begitu juga peningkatan angka dari nyamuk

I. Patogenesis

Virus dapat masuk tubuh pasien melalui kulit, saluran napas, dan

saluran cerna. Setelah masuk kedalam tubuh, virus akan menyebar

keseluruh tubuh dengan beberapa cara :

11
• Setempat : virus hanya terbatas menginfeksi selaput lendir

permukaan atau organ tertentu

• Penyebaran hematogen primer : virus masuk kedalam darah

kemudian menyebar ke organ dan berkembang biak di organ

tersebut

• Penyebaran hematogen sekunder : virus berkembang biak

didaerah pertama kali masuk (permukaan selaput lendir)

kemudian menyebar ke organ lain.

• Penyebaran melalui saraf : virus berkembang biak

dipermukaan selaput lendir dan menyebar melalui sistem saraf

Pada keadaan permulaan timbul demam, tapi belum ada kelainan

neurologis. Virus akan terus berkembang biak, kemudian menyerang

susunan saraf pusat dan akhrinya diikuti kelainan neurologis.

Kelainan neurologis pada ensefalitis disebabkan oleh :

• Invasi dan perusakan langsung pada jaringan otak oleh virus

yang sedang berkembang biak

• Reaksi jaringan saraf pasien terhadap antigen virus yang

akan berakibat demielinisasi, kerusakan vaskular, dan

paravaskular. Sedangkan virusnya sendiri sudah tidak ada dalam

jaringan otak

• Reaksi aktivasi virus neurotropik yang bersifat laten

12
II. Tanda Dan Gejala

Banyak orang terinfeksi ensefalitis virus dengan kasus

gejala ringan bisa menyebabkan : demam, sakit kepala, kehilangan

energi dan hilang nafsu makan.

Kasus serius bisa menyebabkan:

 Drowsiness

 Bingung dan disorientasi

 Seizures / konvulsions

 Demam mendadak

 Sakit kepala berat

 Mual dan muntah

 Tremor atau konvulsi

 Kaku kuduk

 Bulging pada fontanel dari skull pada infants

 Perubahan kepribadian

 Masalah dengan pengucapan dan pendengaran

 Halusinasi

Signs and symptoms yang penting termasuk mempengaruhi level

dari kesadaran. Pada infants, tanda utama adalah kaku kuduk dan

bulging pada soft spots dan skull.

13
Pada anak yang lebih tua, dilihat dari sakit kepala berat, lethargy,

bingung dan sensitif terhadap lampu. Pada dewasa, kerusakan

mental bisa menjadi prominent.

III. Skrining dan diagnosis

- Spinal tap (lumbal puncture) :

1. Cairan jernih

2. Jumlah sel diatas normal 50-500/mm3

3. Hitung jenis didominasi sel imfosit, protein dan

glukosa (normal) / ↑.

Untuk mendiagnosa ensefalitis adalah menganalisis cairan

cerebrospinal otak dan sumsum tulang.

Jarum dimasukkan kedalam extract spine terbawah dari sample

cairan untuk analysis laboratory menunjukkan infeksi atau

peningkatan jumlah sel darah putih

- Signal sistem imun melawan infeksi

Cairan cerebrospinal menjadi slightly bloody jika perdarahan

terjadi. diagnosis dari herpes simplex ensefalitis bisa menjadi

sulit tetapi menggunakan metode DNA sensitive bisa

mendeteksi dari virus di cairan spinal

14
- EEG (Electroencephalography)

didapatkan penurunan aktivitas atau perlambatan. prosedure ini

setengah jam, mengukur gelombang aktivitas elektrik yang

diproduksi oleh otak.

Ini sering digunakan untuk mendiagnosa dan mengatur penyakit

kejang. Abnormal EEG menunjukkan ensefalitis

- Brain Imaging

Menunjukkan gambaran oedema otak. pada ensefalitis herpes

simplex pemeriksaan CT scan hari ke-3 menunjukkan

gambaran hipodens pada daerah fronto temporal. Computerized

Tomography (CT) atau Magnetic Resonance Imaging (MRI)

scan bisa swelling dari otak atau ini dengan kondisi lain dengan

tanda dan gejala mirip encephalitis seperti geger otak . Jika

ensefalitis dicurigai, brain imaging adalah sering sebelum spinal

tap dan adanya peningkatan tekanan intrakranial.

- Biopsi Otak

Paling sering digunakan untuk diagnosis dari herpes simplex

ensefalitis bila tidak mungkin menggunakan metode DNA atau

CT atau MRI scan. Dokter boleh mengambil sample kecil dari

jaringan otak. Sampel ini dianalysis dilaboratorium untuk melihat

virus yang ada.

Dokter boleh mencoba treatment dengan antivirus medikasi

sebelum biopsi otak

15
- Tes darah DPL / gula darah, elektrolit darah, biakan darah ini

untuk mendeteksi antibodi antigen virus dan protein asing

IV. Penatalaksanaan

Beberapa anak dengan encephalitis ringan bisa dimonitor dirumah

tapi banyak juga yang perlu dirumah sakit, biasanya di ICU

( Intensive Care Unit). Dokter akan hati-hati memonitor tekanan

darah, heart rate, dan pernapasan juga cairan tubuh untuk

mencegah oedem otak.

Medikasi

Tidak ada pengobatan yang spesifik, tergantung dari etiologi.

a. Acyclovir  mengobati ensefalitis yang disebabkan oleh HSV,

HZV dan EBV. Asiklovir dapat diberikan 10mg/kg tiap 8 jam bila

secara klinis dicurigai disebabkan oleh virus herpes simpleks

b. Gancyclovir atau Foscarnet

Mengobati ensefalitis yang disebabkan oleh cytomegalo virus

dan HSV 1

c. Anti Konvulsan medikasi

Mencegah dan mengobati kejang yang dihubungkan dengan

ensefalitis

d. nutrition and supplement diet

Melatonin

16
e. Herbs

Astragalus (Astragalus membaranaceus)

Profesional herbal juga menggunakan kombinasi herbs untuk

merelieve gejala yang dihubungkan dengan ensefalitis virus

seperti kegagalan kognitif, visual dan gangguan bicara.

Herbal ini campuran termasuk :

- ginkgo (gingkgo biloba)

- St. Jhon’s Wort (Hypericum perforatum)

- Rosemany (rosmarinus officinalis)

f. Acupuncture

Ensefalitis bisa menjadi sulit untuk di terapi karena virus yang

menyebabkan penyakit general tidak respon dari medikasi yang

diberikan.

Bagaimanapun beberapa virus, particulary herpes simplex virus

dan vanicella-zooster virus respon untuk antiviral drugs seperti

acyclovir (zovirax) ini biasanya diberikan intravena dirumah sakit

selama 10 hari. Antiviral lain yang kadang digunakan adalah

ganciclovir (Cytovene)

Suportif

• Mengatasi kejang, hiperpireksia, gangguan keseimbangan

cairan dan elektrolit

17
• Mengatasi edema otak dengan manitol 0,5-1 gram/kg

dapat diberikan setiap 8 jam, dan metilprednisolon 1-2 mg/kg/hari

Rujukan

Perawatan diruang rawat intensif

Karena antibiotik tidak efektif pada virus, antibiotik tidak digunakan

untuk mengobati ensefalitis. Bagaimanapun Antivirus bisa digunakan

untuk mengobati beberapa bentuk dan ensefalitis khususnya type

yang disebabkan virus herpes simplex

Kortikosteroid digunakan pada beberapa kasus untuk menekan

oedem otak.

Jika anak kejang antikonvulsan bisa digunakan, Asetaminofen bisa

digunakan untuk mengikuti demam dan sakit kepala.

V. Komplikasi

Ensefalitis virus berat bisa menyebabkan gagal nafas, koma

dan kematian. Ini juga membuat mental impairment termasuk

kehilangan memori, ketidakmampuan bicara, kurang koordinasi otot,

paralisis, atau defek dengan penglihatan dan pendengaran.

VI. Pencegahan

Karena ensefalitis merupakan infeksi. Ini bisa dicegah dengan

penyebaran infeksi dan meminimalkan kontak.

18
Cara terbaik untuk mencegah ensefalitis adalah menghindari virus

yang menyebarkan penyakit. Ini berarti membuat langkah untuk

mencegah genital herpes, yang pertama. Ini juga berarti membuat

yakin anak untuk diimunisasi chicken pox, measles berbeda, mumps

dan rubella ( german measles)

Ensefalitis tidak bisa dicegah kecuali mencoba untuk mencegah

penyakit dapat menyebar. ensefalitis bisa dilihat pada anak pada

penyakit measles, mumps dan chicken pox, bisa dicegah dengan

imunisasi MMR. Penyemprotan terhadap vektor serangga

VII. Pemantauan

Terapi

Pemeriksaan fisis neurologis secara teratur dan pemeriksaan

penunjang lain yang disesuaikan dengan temuan klinis tumbuh

kembang. Angka kematian masih tinggi, berkisar antara 35-50%. Di

antara pasien yang hidup 20-40% mengalami sekuele berupa

paresis/ paralisis, gangguan penglihatan, dan kelainan neurologis

lain. Pasien yang sembuh tanpa kelainan yang nyata, dalam

perkembangan selanjutnya masih mungkin mengalami retardasi

mental, gangguan watak, dan epilepsi.

19
VIII. Prognosis

Angka kematian untuk ensefalitis berkisar antara 35-50%. Pasien

yang pengobatannya terlambat atau tidak diberikan antivirus (pada

ensefalitis Herpes Simpleks) angka kematiannya tinggi bisa

mencapai 70-80%. Pengobatan dini dengan asiklovir akan

menurukan mortalitas menjadi 28%.

Sekitar 25% pasien ensefalitis meninggal pada stadium akut.

Penderita yang hidup 20-40%nya akan mempunyai komplikasi atau

gejala sisa.

Gejala sisa lebih sering ditemukan dan lebih berat pada ensefalitis

yang tidak diobati. Keterlambatan pengobatan yang lebih dari 4 hari

memberikan prognosis buruk, demikian juga koma. Pasien yang

mengalami koma seringkali meninggal atau sembuh dengan gejala

sisa yang berat.

Banyak kasus ensefalitis adalah infeksi dan recovery biasanya cepat

ensefalitis ringan biasanya pergi tanpa residu masalah neurologi.

Dan semuanya 10% dari kematian ensefalitis dari infeksinya atau

komplikasi dari infeksi sekunder .

Beberapa bentuk ensefalitis mempunyai bagian berat termasuk

herpes ensefalitis dimana mortality 15-20% dengan treatment dan

70-80% tanpa treatment.

20
DAFTAR PUSTAKA

1. Mardjono, Mahar Prof DR, Sidharta Priguna Prof DR .Neurologi


klinis dasar. Dian rakyat. Jakarta. 2000.
2. FKUI. Standar pelayanan medik kesehatan anak nutrisi dan
penyakit metabolik. UI. Jakarta. 2000
3. FKUI. Panduan pelayanan medis Departemen Ilmu kesehatan
anak RSCM. UI .Jakarta 2005
4. Mansjoer, arif,Suprohaita, Wahyu Ika Wardhani, Wiwiek
setiowulan ,editor. Kapita selekta Kedokteran edisi ketiga jilid
kedua.media aesculapius. FKUI. Jakarta 2000.
5. Soedarmo,Poerwo S. Sumarno. Buku ajar Ilmu kesehatan anak
infeksi dan penyakit tropis edisi pertama .Ikatan Dokter Anak
Indonesia .Jakarta. 2000.

21
6. MD, Jr Lawrence M tierney. Essential of diagnosiss and
treatment second edition. medical publishing division. 2002.
7. MD, Frederick S. Southwick. Infectious Disease in 30 Days.
Medical Publishing Division. 2003.
8. Gellis and Kagans. Current pediatric therapy. WB Saunders
Company. 2002.
9. The pediatric Infectious disease journal. november 1993.
10. http://www.kidshealth.org/parent/infections/bacterial_viral/encep
halitis.html
11. www.mercydesmoines.org/adam/well
connected/articles/000096.asp
12. http://www.healthline.com
13. http://www.umm.edu/altmed/consconditions/encephalitisviralcc.
html#acupuncture#acupuncture
14. http://www.rxmed.com/bomain/b1.illness/b1.1.ilnesses/encephal
itis%20(viral).htm
15. http://www.mayoclinic.com/health/encephalitis/DS00226/Dsecti
on=7
16. http://www.everettclinic.com/kbase/topic/mini/hw145207/overvie
w.htm
17. http://www.healthline.com/galecontent/encephalitis/1
18. http://www.healthline.com/adamcontent/chickenpox
19. http://www.healthline.com/adamcontent/measles
20. http://www.healthline.com/adamcontent/rabies
21. http://www.healthline.com/adamcontent/herpessimplex

22