Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
Pada pertengahan tahun 2011 lalu, Presiden Ceko, Vaclav Klaus diberitakan mencuri
pulpen saat melakukan konferensi pers dalam rangka kunjungan kenegaraan bersama
Presiden Cile (http!!koran"jakarta#com!inde$#php!detail!vie%01!&1'&2(# )erita tersebut
lantas mengundang kontroversi, mengingat bah%a seorang presiden *ang bercukupan tentu
tidak akan melakukan tindak pencurian atas benda *ang mampu dibelin*a# +pa *ang
menimpa Presiden Vaclav merupakan salah satu contoh kasus *ang dialami oleh pengidap
kleptomania# Kleptomania secara a%am dapat dipahami sebagai perilaku *ang mendorong
keinginan kuat untuk memiliki sesuatu# ,ejalan dengan pengertian tersebut, kleptomania
menurut -,."/V"01 (2000( adalah ketidakmampuan untuk menahan impuls mencuri ob*ek
*ang secara personal dan bernilai ekonomis dibutuhkan oleh individu# 2angguan ini
men*ebabkan seseorang tidak dapat menahan diri untuk mengambil sesuatu *ang bukan
hakn*a secara diam"diam# 0ujuann*a bukan untuk memperka*a diri, melainkan han*a untuk
kepuasan# .ereka *ang mengidap kleptomania biasan*a merasakan ketegangan subjektif
sebelum mencuri dan merasakan kelegaan atau kenikmatan setelah mereka melakukan
tindakan mencuri tersebut# 0indakan ini harus dibedakan dari tindakan mencuri biasa *ang
biasan*a didorong oleh motivasi keuntungan dan telah direncanakan sebelumn*a (.ustafa,
2011(#
.engenai jumlah pengidap kleptomania di /ndonesia sendiri, hingga saat ini belum
diketahui secara pasti# Kleptomania dapat dikatakan sebagai fenomena *ang jarang terjadi,
dengan prevalensi 0#3 to 0#&4 (-annon, 20025 2oldman, 16625 7epkifker, -annon, 8iv,
/ancu, 9oresh, : Kotler, 1666 dalam Kohn, 2003(# ,ementara itu, prevalensi kleptomania di
negara lain seperti populasi +merika ,erikat diperkirakan 3 berbanding 1000 orang, atau
sekitar 2 juta orang dari total 200 juta penduduk (+boujaude et al#, 200;(# Kleptomania
memang dapat dialami oleh siapa saja, termasuk anak"anak, remaja, orang de%asa, bahkan
orangtua# 7ebih jauh, kleptomania menimbulkan sejumlah dampak *ang dapat menimpa
pengidapn*a# 0indak kriminal pencurian oleh pengidap kleptomania dapat berdampak pada
pemberian sanksi hukum karena mengambil sesuatu *ang bukan hakn*a# ,elain itu, pengidap
kleptomania pada umumn*a mengalami gangguan *ang signifikan dalam fungsi sosial dan
pekerjaan (2rant : Poten<a, 200&(# Pasien kleptomania seringkali diba*angi pemikiran
intrusive dan kecenderungan untuk mencuri sehingga mengganggu konsentrasi di rumah
1
tangga dan pekerjaan# 0ak jarang pengidap kleptomania harus kehilangan pekerjaan hingga
memiliki kualitas hidup *ang rendah (2rant : Poten<a, 200&(#
.elihat potensi dampak negatif *ang mungkin terjadi, terapi sebagai bentuk
penanganan bagi pengidap kleptomania merupakan hal *ang penting# Pada ken*ataann*a, tak
jarang pengidap kleptomania mendapatkan penanganan *ang kurang tepat# 9al ini
dimungkinkan terjadi karena adan*a perdebatan mengenai bagaimana mengklasifikasikan
dan mengobati gejala kleptomania (Kohn : +ntonuccio, 2002(# )eberapa peneliti terdahulu
men*amakan kleptomania dengan tindak pencurian dan membantah gagasan bah%a ada
komponen psikologis *ang terlibat ()resser, 16'6, dalam Kohn : +ntonuccio, 2002(#
0erdapat pula pandangan mengenai kleptomania sebagai bagian dari =gangguan spektrum
afektif> (.c?lro*, 9udson, Paus, : Keck, 1661 dalam Kohn : +ntonuccio, 2002(, serta
menghubungkann*a dengan depresi dan kecemasan# )eberapa peneliti lain cenderung
mengklasifikasikan kleptomania sebagai gangguan obsessive compulsive serta salah satu
bentuk adiksi (@iedemann, 166& dalam Kohn : +ntonuccio, 2002(#
Pengidap kleptomania sendiri cenderung mengalami pergolakan emosi karena
memiliki pemahaman bah%a mencuri itu salah, namun merasa tidak berda*a untuk mela%an
dorongan tersebut# -engan demikian, perlu diberikan terapi *ang sesuai agar perilaku mereka
dapat diinhibisi serta permasalahan psikologis *ang berbentuk kleptomania dapat benar"benar
hilang dari diri individu dengan penuh kesadaran dari dirin*a# Pengetahuan tentang pemilihan
terapi *ang paling tepat untuk masing"masing individu pengidap kleptomania juga
merupakan hal *ang penting untuk diperhatikan# 0erkait psikoterapi atau konseling, telah
ban*ak metode terapi *ang dikembangkan seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan
dan ban*akn*a penelitian *ang dilakukan, seperti melalui cognitive behavioral therapy#
Pendekatan cognitive-behavioral dianggap sebagai bentuk terapi *ang paling sesuai untuk
kleptomania# Penerapan cognitive and behavior therapy, bertujuan untuk mengidentifikasi
kecenderungan kognisi dan perilaku *ang menekankan pada konsekuensi gejala *ang menjadi
masalah, dan memunculkan alternatif kognisi maupun perilaku positif (Kohn : +ntonuccio,
2002(# -alam perkembangann*a, terapi bagi kleptomania disertai dengan pemberian obat"
obatan atau farmakologis untuk meningkatkan efektivitas# 7ebih jauh, pembahasan secara
komprehensif mengenai gangguan psikologis kleptomania berikut penanganann*a melalui
cognitive and behavior therapy akan dijelaskan melalui makalah ini#
2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Definisi Kleptomania
Pencurian barang secara impulsif dan kompulsif pertama kali disadari sebagai
sindrom spesifik pada a%al abad ke"16# Kata kleptomania berasal dari bahasa *unani *ang
berarti Astealing madnessB (2oldman, 1661 dalam .urra*, 1661(# ,ejak saat itu, pengertian
tentang fenomena ini terus mengalami perkembangan dan modifikasi oleh klinikus dan
peneliti untuk melengkapi klasifikasi ilmu pen*akit ji%a kontemporer dan metode treatment
(-annon et al, 200;(# Kleptomania pun mulai dikenali sebagai pen*akit mental pada tahun
16C0"an oleh +sosiasi ,istem +rtikel Psikiater +merika#
-i dalam jurnal *ang ditulis oleh Presta et al# (2002(, -,."/V"01
mengklasifikasikan kleptomania sebagai an impulse control disorder not elsewhere classied.
Kleptomania dijelaskaan sebagai ketidakmampuan untuk menahan impuls mencuri ob*ek
*ang secara personal dan bernilai ekonomis dibutuhkan oleh individu (-,."/V"01, 2000(#
/ndividu dengan gangguan ini memiliki dorongan *ang sangat kuat untuk mencuri dan
sensasi dari perilaku tersebut# 0arget pencurian dapat berupa benda spesifik dan terjadi di
setting spesifik# .encuri bukanlah sebagai sarana untuk mengekspresikan kemarahan,
dendam, delusi, halusinasi, dan tidak berhubungan dengan conduct disorder, episode manic
atau gangguan kepribadian anti"sosial (2rant : Ddlaug, 200&(#

II.2. Karakteristik Dianostik Kleptomania
)erdasarkan Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (text revision(
(-,. /V"01, 2000(, terdapat lima gejala utama dari kleptomania, antara lain
1# Pengulangan mencuri benda"benda *ang tidak dibutuhkan oleh individu *ang
bersangkutan atau kadang benda"benda itu diberikan untuk orang lain# )enda"
benda *ang diambil adalah benda"benda *ang tidak mempun*ai nilai, tidak begitu
berharga#
2# Peningkatan dorongan secara terus"menerus sebelum mencuri#
E# 0imbul rasa senang, puas, ataupun lega ketika pencurian berhasil dilakukan#
;# Proses mencuri tersebut tidak dimotivasi oleh rasa marah atau keinginan untuk
balas dendam dan tidak disebabkan oleh delusi dan halusinasi#
E
C# Perilaku tersebut tidak disebabkan oleh conduct disorder, episode manic pada
gangguan kepribadian bipolar, atau gangguan kepribadian antisosial#
II. !. "nset Kleptomania
Dnset kleptomania diketahui terjadi saat remaja akhir atau de%asa muda a%al (2rant
: Ddlaug, 200&(# ,elain itu, berdasarkan pengamatan terhadap pasien *ang datang ke
psikiater, pada %anita umumn*a berusia paruh hingga akhir E0 tahun"an dan pada lelaki
berusia C0 tahun"an#
II. #. Pre$alensi Kleptomania
2rant : Poten<a (200&( menemukan bah%a dua pertiga pengidap kleptomania adalah
%anita# Para %anita pengidap kleptomania cenderung melakukan aksin*a di toko *ang
menjual peralatan rumah tangga seperti peralatan dapur, peralatan kamar mandi, dan
aksesoris# ,ementara itu, lelaki *ang mengidap kleptomania cenderung lebih gemar mencuri
barang dari toko elektronik seperti aksesoris komputer dan video games# +dapun barang *ang
mereka curi cenderung lebih mahal dan diba%ah penga%asan petugas keamanan *ang lebih
ketat#
Penelitian selanjutn*a *ang dilakukan Stanford niversity (dalam 2rant : Poten<a,
200&( mengungkap bah%a 32,C persen penderita kleptomania adalah perempuan sementara
E',C persen sisan*a adalah laki"laki# Fsia rata"rata saat didagnosis positif mengidap
gangguan keji%aan ini adalah ;C,3 tahun# )erdasarkan status perka%inann*a, kleptomania
lebih ban*ak diderita oleh laki"laki maupun perempuan *ang sudah menikah atau pun*a
pasangan *akni ;',C persen# ,isan*a adalah lajang seban*ak 2',C persen serta duda atau
janda *akni seban*ak 2C persen# 0idak ada perbedaan mencolok secara statistik terkait status
pekerjaan para penderita kleptomania# ,eban*ak ;C persen adalah pengangguran, terpaut
sedikit dari kar*a%an tetap *akni ;0 persen, sedangkan sisan*a 1C persen adalah pekerja
paruh %aktu#
II. %. Komor&i'itas Kleptomania
Kleptomania diketahui memiliki komorbiditas dengan gangguan psikologis lainn*a,
terutama dengan gangguan mood# +sosiasi tersebut diobservasi pada E34 pengidap
kleptomania (Presta et al#, 2002(# .ereka *ang mengidap obsessive compulsive disorder juga
menunjukkan korelasi sebesar '4 mengidap kleptomania juga# ,tudi lain melaporkan
;
korelasi *ang cukup tinggi antara pengidap bulimia dan kleptomania# 7ebih dari C04
penderita bulimia mengidap kleptomania#
9al *ang serupa diungkapkan oleh -annon et al#, (200;(, bah%a kleptomania
memiliki komorbiditas dengan gangguan depresif ma*or, gangguan bipolar, kecemasan
(posttraumatic stress, fobia sosial dan serangan panik(, dan gangguan makan (bulimia
nervosa, anore$ia nervosa, dan binge eating disorder(# ;C4 pengidap kleptomania juga
mengalami gangguan kontrol impuls la*akn*a pathological gambling dan trichotillomania
(2rant : Poten<a, 200&(# )a*le et al# (200E( menambahkan komorbiditas kleptomania
dengan pen*alahgunaan obat"obatan terlarang#
II. (. Etioloi Kleptomania
0idak ada etiologi secara teoritikal *ang secara jelas men*ebutkan pen*ebab
terjadin*a kleptomania# -ilihat dari faktor genetik, diduga bah%a kleptomania terjadi karena
adan*a kerusakan pada sistem s*araf# 2rant (2003, dalam 2rant : Poten<a, 200&(
berhipotesis bah%a adan*a kerusakan pada molekul *ang memba%a neurotransmitter
serotonin, kerusakan pada jalur antara orbital dan lobus frontal di otak, aliran darah rendah
menuju lobus temporal, dan menurunn*a jumlah white matter (dendrit dan akson( pada lobus
frontalis# 9al tersebut mengubah aliran informasi antara lobus frontalis dan sistem
limbik!thalamus *ang mengontrol mood, emosi, dan keinginan. ,elain itu 2rant : Poten<a
(200&( menemukan bah%a keparahan simptom kleptomania *ang lebih parah berkorelasi
dengan kerusakan otak di fungsi eksekutif#
-i sisi lain, .c?lro* et al#, (1661( berpendapat bah%a kleptomania dapat disebabkan
juga oleh beberapa faktor selain genetik, seperti tahap perkembangan dan masa lalu
kehidupan# /ndividu *ang mengalami ban*ak tekanan dan kejadian traumatis menjadi faktor
risiko dalam perkembangan kleptomania# )erdasarkan %a%ancara dengan pengidap
kleptomania *ang melakukan terapi dengan psikolog, didapatkan informasi bah%a mereka
pada saat mudan*a kurang mendapatkan perhatian dan ban*ak menghadapi masalah semisal
keluarga *ang kurang perhatian, didikan orang tua *ang terlalu keras, +-9- (!ttention
Deficit "yperactief Disorder( atau sebalikn*a +-- (!ttention Deficit Disorder(# .ereka,
dengan cara mencuri, akan mendapat perhatian sehingga terjadilah reaksi *ang kadang
membuat mereka ketagihan dan akan terus mengulangin*a# )ahkan mereka akan merasa
bahagia dalam hatin*a ketika mereka tertangkap basah karena merasa diperhatikan# /ni
dapat dilihat dari ga*a dan cara menja%ab pertan*aan seolah"olah itu kejadian biasa,
C
sehingga saat itu tumbuh rasa ingin mengulangin*a kembali untuk mendapat perhatian#
.otivasi dibalik kleptomania adalah suatu hal *ang kompleks (.urra*, 1661(#
)erdasarkan pendekatan psikoanalisis, pencurian *ang dilakukan oleh perempuan
dilihat sebagai simbol dari pencurian penis, dan ob*ek *ang dicuri dilihat sebagai fiksasi di
tahap anal (Griedemann, 16E05 Keut<er, 16'25 1ado, 16EE5 @ittels, 1626 dalam .urra*,
1661(# Karena ban*ak dilakukan oleh %anita, pada abad ke"16 kleptomania sempat pula
diduga terjadi karena pen*akit rahim dan perubahan tensi saat akan mengalami menstruasi
(2rant : Ddlaug, 200&(# Hamun spekulasi tersebut berhasil dipatahkan karena pada a%al
abad ke"20 ban*ak juga para lelaki *ang mengidap kleptomania hingga akhirn*a ban*ak
dilakukan penelitian *ang lebih ilmiah dan bersifat klinis# Ketidakstabilan masa kanak"kanak,
hubungan keluarga *ang tidak baik danstres di masa kanak"kanak juga dipandang secara
psikoanalisis sebagai faktor *ang mempengaruhi perkembangan kleptomania dalam diri
seseorang# )iasan*a gangguan ini disebabkan masa kecil *ang tidak terpuaskan sehingga
mampu menimbulkan kegelisahan atau depresi# Kleptomania juga dicatat merujuk pada
kondisi dimana anak merasa terluka dan diabaikan (+llen, 163C5 Chad%ick, 162C5 .enaker,
16E65 ,chmideberg, 16EC5 0iebout : Kirkpatrick, 16E2 dalam .urra*, 1661(# Perlu diadakan
penelitian lebih lanjut untuk memahami kemungkinan pen*ebab kleptomania#
II. ). #ognitive Behavioral Therapy *nt*k Peni'ap Kleptomania
,eringkali seseorang mengalami kesulitan karena tingkah lakun*a berlebih atau ia
kekurangan tingkah la Iku *ang pantas (7esmana, 200&(# 9al demikian *ang dialami oleh
pengidap kleptomania sehingga pemilihan terapi *ang sesuai merupakan hal *ang penting
untuk diperhatikan# ,elama ini, penelitian mengenai kleptomania menunjukkan bah%a
terdapat sedikit terapi *ang sukses disertai adan*a follow-up jangka panjang (2oldman, 16615
.urra*, 1662 dalam Kohn : +ntonuccio, 2002(# -alam perkembangann*a, terapi bagi
kleptomania kini efektif dilakukan melalui pemberian obat"obatan atau farmakologis serta
cognitive behavioral therapy# #ognitive $ehavioral %herapy berkembang dari adan*a
pendekatan kognitif dan behavioral# Pendekatan kognitif memfokuskan pada kognisi, teknik"
teknikn*a pun berusaha mengubah kognisi *ang salah# ,ementara itu, pendekatan behavioral
menekankan pada perubahan tingkah laku pada klien dan membantu mereka untuk
memodifikasi atau mengeliminasi tingkah laku *ang berlebih# -engan perkataan lain,
membantu klien agar tingkah lakun*a menjadi lebih adaptif dan menghilangkan maladaptif
(2ladding, 200; dalam 7esmana, 200&(# Penerapan cognitive and behavior therapy, bertujuan
untuk mengidentifikasi kecenderungan kognisi dan perilaku *ang menekankan pada
3
konsekuensi gejala *ang menjadi masalah, dan memunculkan alternatif kognisi maupun
perilaku positif# Penjelasan lebih jauh mengenai cognitive behavioral therapy untuk pengidap
kleptomania akan dijelaskan pada sub bab selanjutn*a#

II.).1. Peran Konselor 'alam Cognitive Behavioral Therapy
-alam proses konseling atau terapi, konselor berfungsi sebagai konsultan,
guru penasihat, pemberi dukungan, dan fasilitator# 0erkait pendekatan cognitive
behavioral maka konselor cenderung aktif dan direktif# .ereka adalah instruktur *ang
mengajari dan membetulkan kognisi klien mengingat bah%a klien telah memiliki
ke*akinan *ang sudah berakar mendalam sehingga memerlukan lebih daripada
sekedar logika (7esmana, 200&(# -engan demikian, klien harus membekali diri
dengan kepandaian, pengetahuan luas, empatik, menaruh respek, genuine, konkret,
persisten, berminat membantu oranglain, dnan terlibat dengan klien dalam setiap fase
konseling (7esmana, 200&(# Pada akhirn*a, konselor diharapkan dapat membantu
klien mengidentifikasi kecenderungan kognisi dan perilaku *ang menekankan pada
konsekuensi gejala *ang menjadi masalah, dan memunculkan alternatif kognisi
maupun perilaku positif#
II. ).2. Pelaksanaan Cognitive Behavioral Therapy Ter+a'ap Peni'ap
Kleptomania
II.).2.1. Asesmen Ter+a'ap Peni'ap Kleptomania
.elakukan penilaian atau asesmen mengenai apa *ang sebenarn*a
menjadi masalah klien adalah bagian *ang sangat penting dari terapi# 0erlebih,
adan*a komorbiditas antara gangguan afektif dan gangguan substansial
lainn*a terkait kleptomania, maka asesmen terhadap gejala dan ri%a*at dari
gejala tersebut menjadi hal *ang penting# ,ebagai tambahan terhadap
observasi klinis, asesmen *ang terstandarisasi perlu diberikan segera sebelum
dan setelah terapi, serta beberapa minggu setelah berakhirn*a terapi# .asing"
masing asesmen *ang direkomendasikan (dalam Kohn et#al#, 2003 (seperti
$eck Depression &nventory J // ()-/"//( ()eck, ,teer, : 2arbin, 16&&(, $eck
!nxiety &nventory ()+/( ()eck, ?pstein, )ro%n, : ,teer, 16&&(, *ang dapat
membantu mengidentifikasi keparahan dari gejala depresi dan kecemasan
(,mith, Cardillo, ,mith,:+me<aga, 166&(# ,ementara itu, the Structured
'
#linic &nterview (,C/-"CV5 ,C/-"//( untuk -,."/V (Girst, ,pit<er, 2ibbon,
: @illiams, 1663, 166'( dan -,."/V"01 criteria (+P+, 2000( dapat
membantu untuk mengidentifikasi kategori terjadin*a gangguan mood dan
afektif# ,ebagai tambahan, hal lain *ang perlu di asses adalah kemungkinan
komorbiditas dengan gangguan impulse control *ang lain, atau gangguan
kepribadian#
,ementara itu, keinginan klien untuk mengikuti terapi dapat diases
dengan &mprovement Scaling (/.,(, ukuran laporan diri serbaguna
disesuaikan dengan tujuan pengobatan setiap klien *ang telah berhasil
digunakan dalam penilaian dan pengobatan kleptomania (Kohn : +ntonuccio,
2002(# ,elain itu, ada pula %he 'leptomania Symptom !ssessment Scale (K"
,+,5 2rant : Kim, 2002 dalam Kohn : +ntonuccio, 2002( *ang merupakan
alat ukur self report *ang didesain untuk menilai perubahan kognisi, perilaku,
kecenderungan selama terapi, dan menunjukkan ukuran psikometri *ang
memadai# Pengukuran terhadap impulsivitas juga digunakan untuk asesmen
kleptomania meskipun penggunaann*a tidak ditunjukkan dengan divergent
validity *ang cukup baik (Kohn : +ntonuccio, 2002(
II.).2.2. Teknik,teknik Cognitive Behavioral Therapy
Pendekatan cognitive-behavioral dianggap sebagai bentuk terapi *ang
paling sesuai untuk kleptomania# Pada cognitive-behavioral therapy, klien
diharapkan dapat mengindentifikasi perilaku *ang salah, pikiran negatif dan
mengubah pikiran dan perilaku tersebut secara lebih sehat# -engan kata lain,
klien memperbaiki perilaku atau mengubah cara pemahaman penderita
mengenai dirin*a# -alam praktekn*a, terapi terhadap kleptomania melibatkan
serangkaian strategi atau teknik seperti covert sensiti(ation, behavioral
chaining, problem solving, cognitive dan behavioral strategies# #ognitive-
behavioral therapy memang memberikan efek therapeutic melalui serangkaian
treatment seperti desensiti(ation, aversion therapy, dan covert sensiti(ation
(2rant K?, 200&(#
Systematic desensiti(ation dirancang untuk membantu klien mengatasi
anxiety-anxiety dalam situasi"situasi tertentu (7esmana, 200&(# 0eknik ini
membantu klien untuk mencapai keadaan relaksasi melalui relaksasi otot
melalui instruksi terhadap klien untuk memba*angkan tindakan selain episode
&
mencuri, juga men*arankan bah%a pasien lebih baik mengontrol dorongan
untuk mencuri dengan mengontrol kecemasan# Klien diminta supa*a
menggambarkan situasi *ang menggambarkan kecemasan dan kemudian harus
membuat urutan situasi *ang paling menimbulkan kecemasan hingga ttidak
menimbulkan keprihatinan (7esmana, 200&(# ,ementara itu, aversion therapy
merupakan sesi dimana individu berusaha mengatur pernafasan secara tepat,
menahan nafas untuk beberapa saat ketika rasa tidak n*aman muncul *ang
akan mela%an dorongan"dorongan untuk mencuri tersebut untuk kembali muncul
(Kohn et#al#, 2003(#
.eskipun terdapat literatur *ang terbatas, namun keban*akan
penelitian cenderung menggunakan cognitive and behavior therapy, termasuk
covert sensiti(ation sebagai bentuk terapi terhadap kleptomania (e#g#, 2authier
: Pellerin, 16&25 .urra*, 16625 @iedemann, 166& dalam Kohn :
+ntonuccio, 2002(# #overt sensiti(ation dilakukan dengan meminta klien
untuk membangkitkan hal"hal *ang tidak mengenakkan saat akan mencuri
misaln*a mual dan muntah# 2authier dan Pellerin (16&2( secara spesifik
merekomendasikan konsekuensi terhadap aversive events saat melakukan
covert sensiti(ation dibanding menggambarkan mual atau muntah *ang
biasan*a direkomendasikan (e#g#, Cautela, 1633, 2lover, 16&C dalam Kohn :
+ntonuccio, 2002(# Penting untuk melakukan analisa fungsional untuk
menentukan penggunaan skenario covert sensiti(ation *ang paling tepat seperti
haln*a terapi untuk peripheral problems (e#g#, depression, lowered selfesteem,
negative global stable thoughts of self, decreased sociali(ation, low sense of
selfefficacy as a parent(# )erdasarkan literatur mengenai terapi terhadap
kleptomania, terdapat dua laporan kasus pada %anita dengan kleptomania *ang
sukses menjalani pengobatan dengan covert sensiti(ation (2authier : Pellerin,
16&25 2lover, 16&C dalam dalam Kohn : +ntonuccio, 2002(#
II.).2.!. -enak+iri Konselin
-alam melakukan terapi terhadap pengidap kleptomania,
direkomendasikan bah%a jumlah maksimum adalah 12 sesi *ang dialokasikan
per klien per episode terapi (Kohn : +ntonuccio, 2002(# Pada praktek
konseling *ang telah dilakukan menunjukkan bah%a terapi membantu klien
meningkatkan motivasi dan memperolah manfaat maksimum pada setiap sesi#
6
,etelah terapi dilakukan, hal lain *ang menjadi perhatian adalah melakukan
follow up akhir# )ollow up dapat dilakukan melalui telepon oleh terapis setelah
melakukan dua episode treatment (Kohn : +ntonuccio, 2002(.
II. ).#. Kom&inasi 'enan Terapi .armakolois
0erapi farmakologis merupakan pemberian obat"obatan tertentu untuk
menekan munculn*a gejala"gejala tertentu pada pengidap kleptomania# Kombinasi
terapi menggunakan antidepressant sebagai salah satu bentuk farmakologis
bersamaan dengan cognitive-behavior therapy menunjukkan manfaat untuk invidu
berdasarkan studi kasus# ,ebagai contoh, seorang lelaki berusia '' tahun
menunjukkan kleptomania saat onset akhir (usia 'E tahun( berhenti mencuri dengan
kombinasi terapi C)0, sertraline C0 mg!da*, selftalk, dan larangan terhadap diri saat
berbelanja (2rant K?, 200&(# .eskipun demikian, intervensi secara farmakologis
seringkali menunjukkan adan*a efek samping (e#g#, +ntonuccio, et al#, 16665 -alfan
: ,te%art, 20015 2rant : Kim, 2002b5 Kindler, -annon, /ancu, et al#, 166' dalam
Kohn et#al#, 2003(, dimana klien dapat men*atakan ketidaksetujuan dan menunjukkan
ketidakpatuhan terhadap pengobatan (e#g#, -annon, 200E5 -annon et al# 1666 dalam
Kohn et#al#, 2003(#
,alah satu bentuk terapi farmakologis *ang cukup efektif bagi pengidap
kleptomadia adalah melalui pemberian antidepressant Selective Serotonin
*euptakeinhibitors (,,1/s(# Pemilihan penggunaan ,,1/s dalam pengobatan
kleptomania mengingat bah%a pada penderita kleptomania terjadi disfungsi
serotogenik# 1espon penggunaan ,,1/s pada pasien kleptomania sendiri ditunjukkan
dengan penurunan keinginan mencuri, perilaku mencuri, dan peningkatan fungsi
social serta fungsi pekerjaan# )eberapa ,,1/s telah dilaporkan keberhasilann*a pada
beberapa kasus fluoxentine pada 2 dari 10 pasien, dengan remisi E dan 11 bulan
(.c?lro* et al#1661 dalam Kohn, et#al#, 2003( dan pada ; pasien mengalami remisi ',
12, 1&, dan 20 bulan (7epkifker et al#1666 dalam Kohn, et#al#, 2003(5 fluvotamine,
dengan remisi selama 6 bulan (Chong and 7o% 1663(5 dan paroxetine, dengan remisi
selama E bulan (Krause 16665 7epkifker et al# 1666 dalam Kohn et#al#, 2003(#
+altrexone juga merupakan obat *ang digunakan dalam studi pengobatan
pertama kleptomani dan menunjukkan penurunan *ang signifikan dalam intensitas
dorongan untuk mencuri dan perilaku mencuri# ,ebagai contoh, pada kasus remaja
dengan kleptomania menunjukkan bah%a naltrexone C0mg!hari efektif untuk
10
mengurangi dorongan untuk mencuri# )entuk lain terapi farmakologis adalah melalui
pemberian atypikal antipsikotik *aitu kelompok obat penenang antipsikotik digunakan
untuk mengobati kondisi ji%a# +da pula mood stabili(er berupa obat *ang
memberikan efek ketenangan bila terjadi perubahan mood berupa dorongan"dorongan
kuat untuk mencuri timbul secara mendadak.
Kesimp*lan
)erdasarkan paparan sebelumn*a dapat diketahui bah%a terapi *ang sesuai bagi pengidap
kleptomania adalah pendekatan cognitive-behavioral# Penerapan cognitive and behavior
therapy, bertujuan untuk mengidentifikasi kecenderungan kognisi dan perilaku *ang
menekankan pada konsekuensi gejala *ang menjadi masalah, dan memunculkan alternatif
kognisi maupun perilaku positif (Kohn : +ntonuccio, 2002(# Pada praktekn*a, dalam
pelaksanaan cognitive and behavior therapy penting untuk memperhatikan penilaian atau
asesmen mengenai apa *ang sebenarn*a menjadi masalah klien serta pemilihan serangkaian
strategi atau teknik *ang sesuai seperti covert sensiti(ation, behavioral chaining, problem
solving, cognitive dan behavioral strategies# .engakhiri terapi dengan follow up juga
menjadi hal *ang penting untuk diperhatikan# -alam perkembangann*a, terapi bagi
kleptomania disertai dengan pemberian obat"obatan atau farmakologis untuk meningkatkan
efektivitas#
DA.TA/ PUSTAKA
11
+boujaude, ?#, 2amel, H#, Koran, 7#.#, (200;(# Dvervie% of Kleptomania and
Phenomenological -escription of ;0 Patients# ,ournal of #linical -sychiatry, ./.0,
122-123.
)a*le, G#K#, Caci, 9#, .illet, )#, 1icha, ,#, Dlie, K#P#, (200E(# Ps*chopatholog* and
Comorbidit* of Ps*chiatric -isorders in Patients @ith Kleptomania# !merican ,ournal
of -sychiatry, 130(&(, 1C06J1C1E#
-annon, P#H#,7o%engrub, K#.#, 7ancu, 7#, Kotler, .# (200E(# Kleptomania Comorbid
Ps*chiatric -iagnosis in Patients and 0heir Gamilies# -sychopathology, 43, 3.-56.
-iagnostic +nd ,tatistical .anual of .ental -isorders -,."/V# LL;
th
ed#, te$t revison#
2000# +merican Ps*chiatric +ssociation
2rant, K#?#, Ddlaug, )#7# ( 200&(# Kleptomania clinical characteristics and treatment#
Department of -sychiatry, niversity of Minnesota School of Medicine, S!, 46/70,
77-78.
2rant, K#?#, Poten<a, .#H# (200&0. 9ender"related -ifferences in /ndividuals ,eeking
0reatment for Kleptomania# %he &nternational ,ournal of +europsychiatric Medicine,
74/40, 148-128.
Kohn, C# ,#, : +ntonuccio, -# D# (2002(# 0reatment of kleptomania using cognitive and
behavioral strategies# #linical #ase Studies, 7, 2C"E&#
Kohn, C#,#, Kalal, -# .#, Kastell, K#, Viera, K# (2003(# Kleptomania# /n K# ?# Gisher and @# 0#
D>-onohue (?ds#(, -ractitioner:s 9uide to ;vidence-$ased -sychotherapy (pp# E31"
E3'(# He% Mork ,pringer#
Kohn, C# ,#, (2003(# Conceptuali<ation and 0reatment of Kleptomania )ehaviors Fsing
Cognitive and )ehavioral ,trategies# &nternational ,ournal of $ehavioral #onsultation
and %herapy, Volume 2, Ho# ;, CCE"CC6
7esmana, Keanette .urad# (200&(# Dasar-dasar 'onseling# -epok F/"Press
.c?lro*, ,#7#, et al#, (1661(# Kleptomania + 1eport of 20 Cases, !merican ,ournal of
-sychiatri. 725/80, .81-.83.
.urra*, K#)# (1661(# Kleptomania + 1evie% of 1esearch. %he ,ournal of -sychology, 71.
/10, 747-745.
Presta, ,#, et al, (2002(# Kleptomania Clinical Geatures and Comorbidit* in an /talian
,ample# #omprehensive -sychiatry, ;E(1(, '"12#
12
.ustafa, @# (2011(# 'leptomania, dari !rtis sampai -residen. -alam
+ttp011kese+atan.kompasiana.2om1ke3i4aan1251115#11#1kleptomania,'ari,artis,
sampai,presi'en1 (diakses pada hari 1abu tanggal 10 Dktober 2012, pukul 1&#10
@/)(#
+ttp011koran,3akarta.2om1in'e6.p+p1'etail1$ie4511)17)2, diakses pada hari 1abu tanggal
10 Dktober 2012 pukul 1C#00 @/)#
1E