Anda di halaman 1dari 5

Vaginal instrumental delivery

Persalinan dengan alat (Instrumental Vaginal Delivery) didefinisikan sebagai persalinan


pervaginam yang menggunakan alat/instrument untuk membantu proses persalinan tersebut.
Persalinan dengan alat terdiri dari 2 macam:
Ekstraksi vacum
Ekstraksi Forcep/cunam

A spontaneous vaginal delivery (SVD) occurs when a pregnant female goes


into labor without the use of drugs or techniques to induce labor, and delivers her baby in the
normal manner, without forceps, vacuum extraction, or a cesarean section.

An assisted vaginal delivery (AVD) occurs when a pregnant female goes into labor (with or
without the use of drugs or techniques to induce labor), and requires the use of special
instruments such as forceps or a vacuum extractor to deliver her baby vaginally.

An instrumental vaginal delivery (IVD) is another term for an assisted vaginal delivery.

An induced vaginal delivery (also IVD) is a term for a delivery involving labor induction,
where drugs or manual techniques are used to initiate the process of labor. Use of the term
"IVD" in this context is less common than for instrumental vaginal delivery.

A normal vaginal delivery (NVD) is a term for a vaginal delivery, whether or not assisted or
induced, usually used in statistics or studies to contrast with a delivery by cesarean section.

Note: Use of the term IVD is best avoided because of its duplicate meanings.

Skor bishop
Nilai bishop adalah suatu standarisasi objektif dalam memilih pasien yang lebih cocok untuk
dilakukan induksi persalinan letak verteks.
Faktor yang dinilai : Pembukaan serviks Pendataran serviks Penurunan kepala (station)
Konsistensi serviks Posisi servik
Keterangan:
Metode ini telah digunakan selama beberapa tahun dan telah terbukti memuaskan.
Nilai Bishop 6 bisa berhasil induksi dan persalinan pervaginam.
Seleksi pasien untuk induksi persalianan dengan letak verteks.
Dipakai

pada

multiparitas

dan

kehamilan

36

minggu

atau

lebih.

http://www.medicinestuffs.com/2008/10/bishop-score-nilai-bishop.html

Faktor Nilai Ket 0 1 2 3


1. Pembukaan serviks 0 1-2 3-4 5
Pembukaan adalah ukuran diameter leher rahim yang teregang. Ini melengkapi
pendataran, dan biasanya merupakan indikator yang paling penting dari kemajuan
melalui tahap pertama kerja.

2. Pendataran serviks (%) 0-30 40-50 60-70 80


Pendataran adalah ukuran regangan sudah ada di leher rahim. Hal ini dianalogkan
dengan meregangkan karet gelang; sebagai karet ditarik lebih jauh, hal itu menjadi
lebih kurus. Hal ini dipengaruhi oleh variasi individu dan operasi sebelumnya
seperti loop eksisi untuk displasia serviks atau kanker.
3. Penurunan kepala diukur dari bidang HIII (cm)-3 -2 -1,0 +1, +2
Penurunan Kepala menggambarkan posisi janin kepala dalam hubungannya dengan
jarak dari iskiadika punggung, yang dapat teraba jauh di dalam vagina posterior
(sekitar 8-10cm) sebagai tonjolan tulang. Angka negatif menunjukkan bahwa kepala
lebih dalam, di atas punggung iskiadika.
4. Konsistensi serviks Keras Sedang Lunak Dalam primigravid leher rahim perempuan biasanya lebih keras dan tahan terhadap
peregangan, seperti sebuah balon yang belum sebelumnya meningkat.. Lebih jauh
lagi, pada wanita muda serviks lebih tangguh daripada wanita yang lebih tua. Dengan
pengiriman berikutnya leher rahim vagina menjadi kurang kaku dan memungkinkan
untuk pelebaran pada jangka lebih mudah.
5. Posisi serviks Kebelakang Searah sumbu jalan lahir Kedepan Posisi leher rahim perempuan bervariasi antara individu. Sebagai lokasi anatomi
vagina sebenarnya menghadap ke bawah, anterior dan posterior lokasi relatif
menggambarkan batas atas dan bawah dari vagina.. Posisi anterior lebih baik sejajar
dengan rahim, dan karena itu ada kemungkinan peningkatan kelahiran spontan.
Bishop Score - Nilai Bishop 10/07/2008 obgyn
Posisi serviks Faktor Nilai 0 1 2 3
Pembukaan serviks 0 1-2 3-4 5
Pendataran serviks (%) 0-30 40-50 60-70 80
Penurunan kepala diukur dari bidang HIII (cm) -3 -2 -1, 0 +1, +2

Analisis intention to treat


Baku emas uji klinis ialah uji klinis prospektif, acak, buta ganda dengan plasebo
(randomized, double blind, placebo-controlled clinical trial), yang mempunyai urutan
tertinggi dalam hirarki pembuktian hubungan sebab akibat. Berdasarkan tujuan akhirnya, uji
klinis dibagi menjadi 2, yaitu uji pragmatis (pragmatic trial) dan explanatory trial. Pada uji
pragmatis peneliti hanya ingin membuktikan ada hubungan sebab-akibat, tanpa menjelaskan
mengapa dan bagaimana sifat hubungan tersebut. Hasil uji pragmatik ini diasumsikan akan
diterapkan dalam klinis sehari-hari. Uji ini menggunakan analisis yang disebut intention to
treat analysis yang berarti semua subyek penelitian yang telah dirandomisasi diikutsertakan
dalam analisis sesuai dengan alokasi awalnya, tanpa melihat apakah subyek tersebut
memakai atau tidak obat/terapi yang diujikan atau plasebo, atau apakah subyek ini
meninggal sebelum memakai obat yang diujikan. Subyek yang tidak minum obat, lost to
follow up, dan yang pindah ke kelompok lain, dianggap sebagaikegagalan dari kelompok
asalnya. Explanatory trial merupakan uji yang dilakukan di laboratorium, yang bertujuan
menjelaskan hubungan sebab akibat. Uji eksplanatori ini mengunakan cara analisis on
treatment analysis yang berarti hanya subyek yang menyelesaikan penelitian sampai akhir
saja yang diikut sertakan dalam perhitungan selanjutnya.
Analisis Sensitivitas
Untuk menilai apakah satu hasil meta-analisis `robust' (relatif stabil terhadap perubahan)
perlu dilakukan uji sensitivitas, antara lain dengan cara:

Dibandingkan hasil bila analisis dilakukan dengan fixed effects model atau random
effects model. Bila hasilnya sama atau hampir sama, dapat disimpulkan bahwa variasi
antar-penelitian tidak begitu penting pada set data tersebut.

Dilakukan uji untuk menilai peran kualitas metodologi peneliti terhadap hasil yang
diperoleh. Untuk uji klinis, misalnya, nilai yang tertinggi diberikan pada studi dengan
seleksi subyek yang baik, randomisasi dilakukan dengan benar, perlakuan terhadap
kedua kelompok sama, terdapat tersamar ganda (double blind), dan analisis dilakukan
secara intention to treat analysis (semua subyek yang telah dialokasi tetap dinilai pada
alokasi awalnya, tanpa melihat statusnya. Dengan memberi nilai pada semua
penelitian, mungkin akan terdapat penelitian dengan skor rendah. Bila penelitian yang
bernilai rendah ini dikeluarkan dalam analisis, dan hasil yang diperoleh tidak banyak

berubah, berarti hasil keseluruhan tidak dipengaruhi oleh penelitian yang berkualitas
kurang baik tersebut.

Diidentifikasi terdapatnya publication bias. Semua penelitian dinilai; bila memang ada
publication bias, penelitian dengan subyek paling banyak akan memberikan effect
size yang paling kecil. Bila hal ini terjadi, maka penelitian dengan subyek yang paling
sedikit dicoba untuk tidak diikutsertakan dalam analisis. Bila hasil akhirnya tetap
sama atau identik, berarti publication bias tidak berperan cukup besar dalam metaanalisis tersebut.

Dilakukan uji terhadap keadaan khusus. Misalnya ada penelitian yang tidak
sepenuhnya memenuhi kriteria inklusi, yakni studi yang dihentikan sebelum seluruh
subyek masuk (interim analysis), studi ini dicoba dikeluarkan dari analisis. Bila
hasilnya tetap atau hampir sama, berarti studi yang dihentikan sebelum waktunya itu
tidak mempengaruhi hasil secara keseluruhan.