Anda di halaman 1dari 148

MODUL

Mineralogi dan Petrologi

BAB I. MINERALOGI
1.1 DEFINISI

Mineralogi

adalah

salah

satu

cabang

ilmu

geologi

yang

mempelajari mengenai mineral, baik dalam bentuk individu


maupun dalam bentuk kesatuan, antara lain mempelajari
tentang sifat-sifat fisik, sifat-sifat kimia, cara terdapatnya,
cara terjadinya dan kegunaannya.

Mineral (menurut BERRY dan MASON) adalah suatu benda padat


homogen yang terdapat di alam, terbentuk secara anorganik,
dengan

komposisi

kimia

pada

batas-batas

tertentu

dan

mempunyai atom-atom yang tersusun secara teratur.

Batuan didefinisikan sebagai semua bahan yang menyusun


ke rak b umi d an me r up akan suat u ag reg at ( kumpul an)
mineral-mineral yang telah menghablur. Tidak termasuk
b atuan ad al ah t anah dan b ahan lep as l ainnya yang
merupakan hasil pelapukan kimia maupun me kanis serta
proses erosi batuan.
Mineralogi Petrologi sebenarnya merupakan dua cabang ilmu
Geologi yang dijadikan satu, dimana keduanya terkait erat dan
bahkan ada hubungan yang mensyaratkan.
Untuk dapat mengenal dan memahami batuan secara baik,
disyaratkan terlebih dahulu memahami tentang keberadaan
mineral. Dan untuk dapat memahami berbagai macam mineral,
maka dapat

dilakukan dengan mempelajari sifat-sifat fisik

ataupun sifat kimia mineral.


2

1.2. PERALATAN/ BAHAN


Dalam praktikum mineralogi petrologi diperlukan peralatan dan
bahan sebagai berikut :
Skala kekerasan Mohs.
Keping porselin
Loupe (kaca pembesar) dengan perbesaran 10-20x
Palu geologi
Larutan HCl 0.1 N
Larutan Kobal Nitrat
Piknometer
Timbangan analitis.
1.3.

SIFAT FISIK MINERAL

Sifat fisik mineral yang perlu diamati ataupun dilakukan pengujian


meliputi :
1.

Warna (colour).

2.

Perawakan kristal (crystal habit).

3.

Kilap (luster).

4.

Kekerasan (hardness).

5.

Gores
(streak).

6.

Belahan (cleavage).

7.

Pecahan (fracture).

8.

Daya tahan terhadap pukulan (tenacity).

9.

Berat jenis (Specific gravity).

10.

Rasa dan bau (taste & odour).


3

1.3.1.

Warna (colour)

Bila suatu permukaan mineral dikenai suatu cahaya, maka cahaya


yang mengenai permukaan mineral tersebut sebagian akan diserap
(absorbsi) dan

dipantulkan (ref leksi ) .

sebagian

Warna penting untuk membedakan antara warna mineral


akibat pengotoran dan warna asli (tetap) yang berasal dari
elemen utama pada mineral tersebut.
Warna mineral yang tetap dan tertentu karena elemen-elemen
utama

pada mineral disebut Idiochromatic.

Contoh: Sulfur - kuning


Magnetite - hitam
Pyrite - kuning loyang.
Warna mineral akibat adanya campuran atau pengotoran
dengan unsur lain, sehingga memberikan warna yang berubahubah tergantung dari pengotornya disebut Allochromatic.
Contoh: Halite , warna dapat berubah-ubah abu-abu, kuning,
coklat gelap, merah muda, biru bervariasi
Kwarsa; tak berwarna, tetapi karena ada campuran /
pengotoran,

warna

berubah

menjadi

violet

(amethyst), merah muda, coklat-hitam.


Kehadiran kelompok ion asing yang dapat nemberikan warna
tertentu pada mineral disebut dengan nama Chronophores.
Misal Ion-ion Cu yang terkena proses hidrasi merupakan
chromophores

dalam

mineral

memberikan warna hijau dan biru.


4

Cu

sekunder,

maka

akan

Faktor yang dapat mempengaruhi warna adalah :


a. Komposisi kimia
Contoh:

Chlorite hijau , asal kata chloro (greek)


Albite - putih ,asal kata albus (latin)
Melanite hitam, asal kata melas (greek)
Erythrite- merah, asal kata erythrite (greek)
Erytrocite (sel darah merah)
Rhodonite-merah jambu, asal kata rodon (greek)

b. Struktur kristal dan ikatan atom


Contoh : Polymorph dari Carbon - C
Intan - tak berwarna - Isometric
Graphite - hitam hexagonal
c. Pengotoran dari mineral.
Contoh: Silika tak berwarna
Jasper merah
Chalsedon - coklat hitam

Agate - asap/putih.

1.3.2. Perawakan kristal (Crystal Habit)


Apabila dalam pertumbuhannya tidak mengalami gangguan
apapun, maka mineral akan mempunyai bentuk kristal yang
sempurna. Tetapi bentuk sempurna ini jarang didapatkan
karena di alam gangguan-gangguan tersebut selalu ada.
Mineral

yang

dijumpai di alam sering bentuknya

tidak

berkembang sebagaimana mestinya, sehingga sulit untuk


mengelompokkan
Sebagai

mineral

gantinya dipakai

ke

dalam

sistim

istilah perawakan
5

kristalografi.

kristal (crystal

habit), bentuk khas mineral ditentukan oleh bidang yang


membangunnya, termasuk bentuk dan ukuran relatif bidangbidang tersebut. Kita perlu mengenal beberapa perawakan
kristal yang terdapat pada jenis mineral tertentu , sehingga
perawakan

kristal

dapat

dipakai

untuk

penentuan

jenismineral,walaupun perawakan kristal bukan merupakan ciri


tetap mineral.
Contoh: Mika selalu menunjukkan perawakan kristal yang
mendaun (foliated),
Amphibol,

selalu

menunjukkan

perawakan

kristal

meniang (columnar).
Richard M Pearl

(1975) membagi perawakan kristal ke

dalam 3 (tiga) golongan, yaitu :


A. Elongated habits (meniang/ berserabut)
B. Flattened habits (lembaran tipis)
C. Rounded habits (membutir).
A. Elongated Habits.
1. Meniang(columnar):
menyerupai

Bentuk

kristal

prismatik

yang

bentuk tiang.

Contoh : -Tourmaline, Pyrolusite, Wollastonite.


2. Menyerat(fibrous): Bentuk kristal yang menyerupai serat-serat
kecil.
Contoh : -Asbestos, Gypsum, Silimanite, tremolite, Pyrophyllite.
3. Menjarum (acicular): Bentuk kristal yang menyerupai jarumjarum kecil.
Contoh : - Natrolite, Glaucophane.
4. Menjaring (reticulate) : Bentuk kristal kecil panjang yang
6

tersusun menyerupai jaring.


Contoh : -Rutile, Cerrusit.
5. Menbenang

(filliform):

Bentuk

kristal

kecil-kecil

yang

kecil-kecil

yang

menyerupai benang. Contoh : - Silver


6. Merambut

(capillery):

Bentuk

kristal

menyerupai rambut.
Contoh : - Cuprite, Bysolite (variasi dari Actinolite).
7. Mondok

(stout),

Bentuk

kristal

pendek,

gemuk,

Stubby(equant) sering terdapat pada kristal-kristal dengan


sumbu C lebih pendek dari sumbu lainnya.
Contoh : - Zircon
8. Membintang

(stellated)

bentuk

kristalyang

tersusun

menyerupai bintang. Contoh :Pirofilit


9. Menjari

(radiated):

Bentuk-bentuk

kristal

yang

tersusun

menyerupai bentuk jari-jari.


Contoh: - Markasit, Natrolit.
B. Flattened Habits
1.

Menbilah (bladed):Bentuk kristal yang panjang dan tipis


menyerupai bilah kayu, dengan perbandingan antara lebar
dengan tebal sangat jauh.
Contoh : - Kyanite, Glaucophane, Kalaverit

2.

Memapan (tabular) : Bentuk kristal pipih menyerupai bentuk


papan, di mana lebar dengan tebal tidak terlalu jauh.
Contoh : - Barite, Hematite , Hypersthene.

3.

Membata (blocky) : Bentuk kristal tebal menyerupai bentuk


bata,

dengan perbandingan antara tebal dan lebar hampir


7

sama.

Contoh : - Microcline.

4. Mendaun (foliated), bentuk kristal pipih dengan melapis


(lamellar), perlapisan yang mudah dikelupas.
Contoh :

5.

- Mica, Talc, Chlorite

Memencar (divergent).
Contoh:- GypsumCaSO 4 .2H2O, Millerit.

6. Membulu (plumose) membentuk tumpukan bulu.


Contoh : Mica

C. Rounded Habits
1. Mendada (mamillary): Bentuk kristal bulat-bulat menyerupai
buah dada (breast like).
Contoh : - Malachite Cu (CO)(OH), Opal SiO2, Hemimorphite.
2. Membulat (colloform) : Bentuk kristal yang menunjukkan
permukaan yang bulat-bulat.

Contoh : -Glauconite (hijau,terbentukdi laut), Cobaltite, Bismuth,


Goethite.
3. Membulat jari (colloform radial) : Bentuk kristal yang
membulat dengan struktur dalam memencar menyerupai
bentuk jari. Contoh : - Pyromorphyte.
4. Membutir (granular)

Kelompok kristal kecil yang berbentuk

butiran. Contoh : - Olivine, Anhydrite, Chromite, Cordierite,


Sodalite, Cinabar (HgS), Alunite, Rhodochrosite.
5. Memisolit (pisolitic) :

Kelompok kristal lonjong sebesar kerikil,

seperti kacang tanah. Contoh:-Opal (variasi Hyalite), Gibbsite,


Pisolitic, limestone.
6. Stalaktit (Stalactitic) : Bentuk kristal yang membulat dengan
litologi gamping. Contoh : - Goethite
Adapun sistem dasar kristal pada setiap mineral dapat dirangkum pada
Tabel 1 :

Tabel 1.1. Sistem Kristal

10

1.3.3. Kilap (luster)


Kilap ditimbulkan oleh cahaya yang dipantulkan dari permukaan
sebuah

mineral,

yang

erat

hubungannya

dengan

sifat

pemantulan (refleksi) dan pembiasan (refraksi). Intensitas


kilap tergantung dari indeks bias dari mineral, yang apabila
makin besar indeks bias mineral, makin besar pula jumlah
cahaya yang dipantulkan.
Nilai ekonomik mineral kadang-kadang ditentukan oleh kilapnya.
Sebagai contoh adalah kilap yang sangat cemerlang yang
ditimbulkan oleh intan (diamond) atau permata.
Ada 3 kilap mineral, yaitu :
A. Kilap Logam ( metallic luster )
Mineral-mineral opak yang mempunyai indeks bias sama
dengan 3 atau lebih.
Contoh: Galena(PbS),Native Metal,
Sulphide, Pyrite (FeS2)
B. Kilap Sub-metalik (sub metallic luster)
Terdapat pada mineral yang mempunyai indeks bias antara 2,6
sampai 3.
Contoh:-Cuprite

(n=2.85),Cinnabar

HgS

(n=2.90)

Hematite Fe 2 O 3 (n=3.00) dan Alabandite (n=2.70)


C. Kilap Bukan Logam (non metallic luster)
Mineral-mineral yang mempunyai warna terang dan dapat
membiaskan, indeks bias kurang dari 2,5.
11

Gores dari mineral-mineral ini biasanya tak berwarna atau


berwarna muda.
Kilap bukan logam teridri dari :
1.

Kilap kaca (vitreous luster )


Kilap yang ditimbulkan o -leh permukaan kaca atau gelas.
Contoh

-Quartz

SiO 2 ,

Carbonates

aragonite, dolomite), Sulphates

CaCO 3

(kalsit,

SO 4 , Silicates, Spinel,

Garnet, leucite, Fluorite, Corundum, Halite NaCl (garam)


yang segar.
2.

Kilap

Intan

(adamantine

luster)

Kilap

yang

sangat

cemerlang yang ditimbulkan oleh intan atau permata.


Contoh:

-Diamond

(C),

Cassiterit

(SnO2),

Sulphur

(S),

Sphalerite (ZnS), Zircon (Zr), Rutile (TiO2).


3.

Kilap Lemak (Greasy luster)


Contoh :

- Nepheline yang sudah teralterasi


- Halite NaCl yang sudah terkena udara.

4.

Kilap lilin (waxy Iuster), kilap seperti lilin yang khas.


Kilap dengan permukaan yang licin seperti berminyak atau
kena lemak, akibat proses oksidasi.
Contoh : - Serpentine, Cerargyrite

5.

Kilap Sutera (silky luster)


Kilap seperti sutera yang terdapat pada mineral-mineral
yang paralel atau berserabut (pararel fibrous structure).
Contoh

-Asbestos,

Selenite

Serpentine, Hematite.
6.

Kilap Mutiara (pearly luster)


12

(vareasi

gypsum),

Kilap

yang

ditimbulkan

oleh

mineral

transparant

yang

berbentuk lembaran dan menyerupai mutiara. Contoh : Talk,


Mika, Gypsum.
7.

Kilap Tanah (earthy luster)


Kilap yang ditunjukkan oleh mineral yang porous dan sinar
yang masuk tidak dipantulkan kembali
Contoh : Kaoline, Diatomea, Montmorilonite, Pyrolusite, Chalk,
vareasi okker,

Untuk membedakan antara kilap logam dengan kilap bukan logam,


perbedaannya jelas sekali. Tetapi dalam membedakan jenis-ienis
kilap bukan logam akan sulit sekali. Padahal perbedaan inilah yang
sangat penting dalam diskripsi mineral, karena dapat untuk
menentukan jenis suatu mineral tertent.u.
1.3.4. Kekerasan ( hardness)
Kekerasan mineral pada umumnya diartikan sebagai daya tahan
mineral terhadap goresan (Scratching).
Skala kekerasan relatif mineral dari Mohs adalah :
1. Talk

Mg3Si 4010(OH)2

2. Gipsum
3. Kalsit
4. Fluorite
5. Apatite

CaSO 4 2H2O
CaC0 3
CaF 2
Ca 5(P04)3F

6. Orthoklas K(AlSi308)
7. Kuarsa
8. Topaz

Si0 2
Al2Si0 4(FOH)2
13

9. Korundum Al203
10. Diamond/ intan

mineral tersebut mempunyai kekerasan antara 2,5 dan 3. Untuk


mengetahui kekerasan relatif mineral maka dapat dilakukan dengan
cara menggoreskan permukaan mineral yang rata pada mineral
Standar

dari

skala

Mohs

yang

sudah

diketahui

kekerasannya.
Misal suatu mineral digores dengan kalsit (H=3) ternyata
mineral itu tidak tergores, tetapi dapat tergores oleh fluorite
(H=4).

Maka

mineral

tersebut

mempunyai

nilai

H(Harnes/kekerasan) antara 3 dan 4.


Dapat pula

penentuan

kekerasan

relatif

mineral

dengan

mempergunakan alat-alat sederhana yang sering terdapat di


sekitar kita.
Misal :

- Kuku jari manusia

H= 2.5

- Kawat tembaga

H= 3

- Pecahan kaca

H= 5.5

- Pisau baja

H=5.5

- Kikir baja

H=6.5

- Lempeng baja

H=7

Bilamana suatu mineral tidak tergores oleh kuku jari manusia


tetapi tergores oleh kawat tembaga, maka
1.3.5. Gores (streak)
Gores adalah merupakan warna asli dari mineral apabila
mineral tersebut ditumbuk sampai halus. Gores ini dapat lebih
14

dipertanggungjawabkan karena lebih stabil dan penting untuk


membedakan dua mineral yang warnanya sama tetapi goresnya
berbeda.
Gores ini diperoleh dengan cara menggoreskan mineral pada
permukaan keping porselin, tetapi apabila mineral mempunyai
kekerasan

lebih dari

6,

maka

dapat

dicari

dengan

cara

menumbuk mineral sampai halus menjadi berupa tepung.


Mineral yang berwarna warna terang biasanya mempunyai
gores berwarna putih.
Contoh :

- Quartz : putih/tak berwarna


- Gypsum : putih/tak berwarna
- Calcite : tak berwarna

Mineral bukan logam (non metallic mineral) dan berwarna


gelap akan memberikan gores yang lebih terang daripada
warna mineralnya sendiri.
Contoh : - Leucite

- warna abu-abu
gores putih

- Dolomite -warna kuning sampai merah jambu


gores putih.
Mineral

yang

mempunyai

kilap

metalik

kadang-kadang

mempunyai warna gores yang lebih gelap dari warna mineralnya


sendiri.
Contoh :

- Pyrite, warna kuning loyang, gores hitam.


- Copper, warna merah tembaga, gores hitam.
- Hematite, warna abu-abu kehitaman,gores merah.
15

Pada beberapa mineral, warna dan gores sering menunjukkan


warna yang sama.

16

Contoh : - Cinnabar - warna dan gores merah


- Magnetite Fe3O4 - warna dan gores hitam
- Lazurite - warna dan gores biru
1.3. 6. Belahan (cleavage)
Apabila suatu mineral mendapat tekanan yang melampaui batas
elastisitas dan plastisitasnya, maka pada akhirnya mineral akan
pecah. Bila pecahnya teratur mengikuti arah permukaan yang
sesuai dengan struktur kristalnya, maka disebut dengan nama
belahan (cleavage). Belahan mineral akan selalu sejajar dengan
bidang permukaan kristal yang rata, karena belahan merupakan
gambaran dari struktur dalam dari kristal.
Belahan tersebut akan menghasilkan kristal menjadi bagian-bagian
yang kecil, yang setiap bagian kristal dibatasi oleh bidang yang
rata.
Berdasarkan

dari bagus/tidaknya

permukaan

bidang

belahannya, belahan dapat dibagi menjadi :


1. Sempurna (perfect):Bila mineral mudah terbelah melalui arah
belahannya yang merupakan bidang yang rata dan sukar pecah
selain melalui bidang belahannya.
Contoh :

- Calcite
- Muscovite
- Galena
- Halite

2. Baik (good) :

Bila mineral mudah terbelah melalui bidang

belahannya yang rata, tetapi dapat juga terbelah memotong atau


tidak melalui bidang belahannya.
17

Contoh : - Feldspar

- Augite

- Hyperstene - Diopsite - Rhodonite


3.

Jelas (distinct) : Bila bidang belahan mineral dapat terlihat


jelas, tetapi mineral tersebut sukar membelah melalui bidang
belahannya dan tidak rata.
Contoh : - Staurolite

4.

- Anglesite

- Scapolite

- Feldspar

- Hornblenda

- Scheelite

Tidak jelas (indistinct) :


Bila arah belahan mineral masih terlihat, tetapi

kemungkinan

untuk membentuk belahan dan pecahan sama besar.


Contoh :

- Beryl

- Gold

- Platinum

- Magnetit

- Corundum
5.

Tidak sempurna (imperfect) :


Apabila mineral sudah tidak terlihat arah belahannya, dan
mineral akan pecah dengan permukaan yang tidak rata.

Contoh : Apatite
Cassiterite (timah)
Native Sulphur
1.3.7. Pecahan (fracture)
Apabila suatu mineral mendapatkan tekanan yang melampui batas
plastisitas dan elastisitasnya, maka mineral tersebut akan pecah.
Bila cara pecahnya tidak teratur disebut dengan nama pecahan.
Pecahan dapat dibagi menjadi :
18

1. Chonchoidal : Pecahan mineral yang menyerupai pecahan


botol atau kulit bawang.
2. Contoh : - Quartz - Obsidian
- Cerrusite

- Rutile

- Anglesite - Zincite
3. Hackly: Pecahan mineral seperti pecahan besi runcing-runcing
tajam, serta kasar tak beraturan atau seperti bergerigi.
Contoh :

- Copper

- Silver

- Gold

- Platinum

4. Even : Pecahan mineral dengan permukaan bidang pecah


kecil-kecil dengan ujung pecahan masih mendekati bidang
datar.
Contoh : - Muscovite - Talc
- Biotite

- Mineral Lempung

5. Uneven : Pecahan mineral yang menunjukkan permukaan


bidang pecahnya kasar dan tidak teratur.
Kebanyakan mineral mempunyai pecahan uneven.
Contoh : - Calcite - Rutile
- Marcasite Rhodonite - Orthoclase
- Chromite - Pyrolusite - Goethite
6. Splintery : Pecahan mineral yang hancur menjadi kecil-kecil
dan tajam menyerupai benang atau berserabut.
Contoh : - Fluorite Anhydrite
- Antigorite Serpentine
7. Earthy : Pecahan mineral yang hancur seperti tanah.
Contoh : - Kaoline - Muscovite Biotit Talk.

19

1.3.8. Dava Tahan Terhadap Pukulan (tenacity)


Tenacity adalah suatu daya tahan mineral terhadap pemecahan,
pembengkokan, penghancuran, dan pemotongan. Macam-macam
tenacity .
1. Brittle : Apabila mineral mudah hancur menjadi tepung halus.
Contoh : - Calcite - Marcasite
- Quartz - Hematite
2. Sectile: Apabila mineral mudah terpotong pisau dengan tidak
berkurang menjadi tepung.
Contoh : - Gypsum
- Cerargyrite
3. Malleable : Apabila mineral ditempa dengan palu akan menjadi
pipih.
Contoh : - Gold- Silver - Copper
4. Ductile :(dapat ditarik/diulur seperti kawat) Apabila mineral
ditarik dapat bertambah panjang dan apabila dilepaskan maka
mineral akan kembali seperti semula.
Contoh : - Silver - Olivine
- Copper - Cerargyrite
5. Flexible : Apabila

mineral dapat dilengkungkan kemana-mana

dengan mudah.
Contoh :

- Talc
- Gypsum
- Mica.

6. Elastic : Dapat merenggang bila ditarik, dan kembali seperti


semula bila dilepaskan.
Contoh : - Muscovit
20

1.3.9. Berat Jenis (specific Gravitv)


Berat jenis adalah angka perbandingan antara berat suatu
mineral dibandingan dengan berat air pada volume yang sama.

BJ

Berat mineral
Volume mineral

Dalam penentuan berat jenis dipergunakan alat-alat :


1. Piknometer.
2. Timbangan analitik.
3. Gelas ukur.
Dengan mempergunakan gelas ukur dan timbangan analitik.
Mineral ditimbang dengan menggunakan timbangan analitik
(G1). Kemudian mineral dimasukkan ke dalam gelas ukur yang
telah diisi air, dan jumlah air telah diketahui dengan pasti
volumenya (G2). Besarnya air yang tumpah atau kenaikan air
pada gelas ukur (G3) dapat dibaca. Maka berat jenis
mineral dapat diketahui, yaitu berat mineral yang telah
ditimbang dibagi dengan volume air yang tumpah.
1.

Berat mineral = GI

2.

Air yang dimasukkan kedalam gelas ukur = G2

3.

Kenaikan setelah mineral dimasukkan ke dalam gelas


ukur= G3
Sehingga :
B

J
21

G
1

G
3
G
2

1.3.10. Rasa dan Bau (Taste dan Odor)


Disamping sifat-sifat yang sudah dibahas di atas, ada
beberapa mineral yang mempunyai rasa dan bau.
Rasa (Taste) hanya dipunyai

oleh mineral-mienral yang

bersifat cair.
- Astringet,rasa yang umumnya dimiliki oleh sejenis logam.
- Sweetist, rasa seperti pada tawas.
- Saline, rasa yang dimiliki garam.
- Alkaline, rasa s e p e r t i p a d a soda.
- Bitter, rasa seperti rasa garam pahit.
- Cooling, rasa seperti rasa sendawa.
- Sour,rasa seperti asam belerang.
Melalui gesekan dan penghilangan dari beberapa zat yang bersifat

v o l a t i l e m e l a l u i p e m a n a s a n atau melalui penambahan suatu


asam, maka kadang-kadang bau (Odour) akan menjadi ciri-ciri
y a n g kh as dari suatu mineral.
1.

Alliaceous : bau seperti h a w a n g . P r o s e s pereaksian dari


arsenopirit a k a n m e n i m b u l k a n b a u yang khas.
Hal ini juga di miliki oleh senyawa karena proses pemanasan.

2.

Horse radish odour,

bau seperti pada telapak kuda y a n g


22

menjadi Busuk.
3.

Sulphurous : bau yang ditimbulkan oleh proses pereaksian


pirit atau pemanasan mineral yang mempunyai kandungan silica
tinggi.

4.

Bituminous : bau seperti aspal (bitumen ) .

5.

Fetid: bau yang ditimbulkan oleh asam sulfida atau bau seperti
telor busuk.

Dari

uraian tentang sifat-sifat fisik mineral tersebut di atas, maka

dapat diberikan beberapa contoh mineral seperti terlihat pada Tabel


1.2 berikut.
Tabel 1.2. Contoh beberapa sifat fisik mineral

23

24

1.4.

SIFAT KIMIA MINERAL

Keberadaan mineral di alam ada

beberapa yang dengan mudah

dibedakan atau dikenali melalui

sifat kimiawinya. Hal demikian

dikarenakan komposisi kimia mineral bereaksi secara langsung ketika


direaksikan dengan larutan kimia tertentu. Sebagai contoh adalah
pengujian sifat kimia mineral dengan larutan HCl 0.1 N,

larutan

kobal nitrat, ataupun alizarin red.


1.4.1. Pengujian Sifat Kimia Mineral
1. Pengujian dengan tetes HCL 0.1 N
Dilakukan

untuk

mengetahui

kandungan

karbonat, yaitu : Kalsit CaCO3, Aragonit


(CO3)2 dan Siderit

FeCO3.

mineral-mineral

CaCO3, Dolomit CaMg

Mineral-mineral tersebut akan

menimbulkan buih ketika ditetesi dengan larutan HCl 0.1 N.


2. Pengujian dengan tetes kobal nitrat.
Dilakukan dengan maksud untuk membedakan mineral-mineral
kelompok potash feldspar (sanidin, anortoklas, ortoklas, mikroklin
dengan komposisi K, Na ALSi3O8) dari mineral-mineral plagioklas
(CaAl2Si2O8-NaAlSi3O8).
3. Pengujian dengan larutan alizarin red.
Dilakukan dengan maksud untuk membedakan antara mineral
kalsit (CaCO3) dan dolomit CaMg (CO3)2. Batugamping dengan
kandungan kalsit dan dolomit akan memberikan perubahan warna
jika diberi tetes alizarin red. Mineral dolomit berwarna putih akan
berubah warna menjadi pink, sedangkan untuk kalsit semula putih
menjadi putih abu-abu.
25

1.4.2. Komposisi kimia mineral


Mineral Utama Penyusun Batuan Beku :
A. Mineral Mafik
Kelompok Olivin
-

Fosterite

Mg2SiO4

Fayalite

Fe2SiO4

Monticellite

CaMgSiO4

Kelompok Piroksin
-

Ortopiroksen

Enstatite

Mg2SiO6

Hyperstene (Mg, Fe) SiO3

- Klinopiroksen
Augit

(Ca, Mg, Fe, Al)2 (Si, Al)2 O6

Diopsid
Pigeonite

CaMgSi2O6
(Mg, Fe, Ca) (Mg, Fe)Si2O6
NaFe+3Si206

Aegirine
Kelompok Amphibol
- Hornblende

Ca2(Mg, Fe, Al)5 (Si,Al)8 O22 (OH, F)2

- Riebeckite

Na2Fe3+2Fe2+3Si8O22 (OH, F)2

Kelompok Mika
- Biotit

K(Mg, Fe)3(AlSi3O10) (OH, F)2

26

B.

Mineral Felsik

Kelompok Feldspar
- Plagioklas

CaAl2Si2O8-NaAlSi3O8

- K. Feldspar
Sanidin

(K, Na) AlSi3O8

Ortoklas

(K, Na) AlSi3O8

Mikroklin

KAlSi3O8

Kelompok Feldspatoid
- Leusit

KAlSi2O6

- Nefelin

(Na, K) AlSiO4

- Sodalit

Na8Al6Si6O24Cl2

- Cancrinit

(Na, K)

6-8Al6Si6O24.(CO3)1-2.2-3H2O

Kelompok Mika
- Muskovit

KAl2(AlSi3O10) (OH, F)2

Kuarsa
Tridimit

SiO2

Kristobalit

Mineral-mineral Sekunder :
-Serpentin

Mg6Si4O10(OH)8

-Idingsit

MgO.Fe2O3.3SiO2.4H2O

-Limonit

Fe2O3.nH2O

-Antofilit

(Mg,Fe)7Si8O22(OH)2

-Tremolit-aktinolit

Ca2Mg3Si8O22(OH)2

-Hornblende

Ca2(Mg, Fe, Al)5 (Si, Al)8 O22 (OH, F)2


27

-Klorit

(Mg, Al, Fe)6 (Al, Si)4 O10 (OH)8

-Kalsit

CaCo3

-Kaolin

Al2O3.2SiO2.H2O

-Epidot

Ca2(Al, Fe)3(OH)(SiO4)3

-Serisit

KAl3Si3O10

-Analcite

NaAlSi2O6H2O

-Natrolite

Na2Al2Si3O102H2O

Mineral-mineral Asesoris :
-Apatit

Ca5(PO4)3(OH, F, Cl)

-Beryl

Be3Al2(Si6O18)

-Fluorit

CaF2

-Perovskite

CaTiO3

-Spinel

MgAl2O4

-Turmalin

Na(Mg, Fe, Al)3Al6Si6O18(BO3)3(OH, F)4

-Zirkon

ZrSiO4

-Magnetit

Fe3O4

-Ilmenit

FeTiO3

-o-

28

PETROLOGI
DEFINISI
Petrologi

adalah

mempelajari
mencakup

ilmu

pengetahuan

yang

batuan pembentuk kulit bumi, yang

mengenai

cara

terjadinya,

komposisi,

klasifikasi batuan dan hubungan dengan proses-proses


dan sejarah geologinya.
Batuan

didefinisikan

menyusun
agregat

kerak

sebagai

bumi

(kumpulan)

dan

semua

bahan

merupakan

mineral-mineral

yang

yang
suatu
telah

menghablur. Tidak termasuk batuan adalah tanah


dan bahan lepas lainnya yang

merupakan hasil

pelapukan kimia maupun mekanis serta proses erosi


batuan.
Batuan sebagai agregat mineral-mineral pembentuk kulit
bumi secara genesa dapat dikelompokan dalam tiga
jenis batuan, yaitu :
1. Batuan beku (igneous rock), adalah kumpulan

interlocking

agregat

mineral-mineral

silikat

hasil

magma yang mendingin (Walter T Huang,1962)


2. Batuan Sedimen (sedimentary rock), adalah batuan
28

h a s i l l i t i f i k a s i b a h a n r om b a k a n b a t u a n h a s i l
d enudasi atau hasil reaksi kimia maup un hasil
kegiatan organisme ( P e t t i j o h n , 1 9 6 4 )
3. Batuan Metamorf (Metamorphic rock), adalah batuan

yang berasal dari suatu batuan induk yang mengalami


perubahan tekstur dan komposisi mineral pada fasa
padat sebagai akibat perubahan kondisi fisika
(tekanan, temperatur atau tekanan dan temperatur),

(HGF Winkler 1967,1979).


Dalam sejarah p eb entukann ya ketig a je ni s b atuan
tersebut dapat mengalami jentera batuan seperti pada
gambar 2.1.
MAGMA
a

BAT. BEKU

BAT. METAMORF

SEDIMEN

BAT. SEDIMEN

c
Keterangan:

a= penghabluran/ pembekuan, b= pelapukan


c= pembatuan, d= metamorfosa, e= peleburan

Gambar 2.1. Jentera Batuan (Sukendar Asikin,1976)

29

4.

BATUAN PIROKLASTIK

Batuan Piroklastik adalah batuan vulkanik yang berteksture


klastik yang dihasilkan oleh serangkaian proses yang
berkaitan dengan letusan gunung api,

dengan

material

penyusun dari asal yang berbeda (W.T.Huang,1962,Williams,

1982). Material penyusun tersebut terendapkan


dan terkonsolidasi sebelum mengalami reworked oleh air
maupun es. Pada kenyataannya bahwa batuan hasil
letusan gunungapi dapat berupa suatu hasil lelehan
merupakan lava yang telah dibahas dan diklasifikasikan
kedalam batuan beku, serta dapat pula berupa berupa
produk ledakan atau eksplosif yang bersifat fragmental dari
semua bentuk cair, gas, atau padat yang dikeluarkan dengan
jalan erupsi.
KOMPOSISI

4.1

MINERAL

BATUAN

PIROKLASTIK
Fisher,1984

dan

Williams,1982

mengelompokkan

material penyusun batuan-batuan piroklastik sebagai


berikut :
1. Kelompok Juvenil (Essential)
2. Bila material penyusun dikeluarkan langsung dari
magma, terdiri dari padatan, atau partikel tertekan
30

dari suatu cairan yang mendingin dan kristal

(pyrogenic crystal,).
3. Kelompok Cognate (Accessory)
Bila material penyusunnya dari material hamburan
yang

berasal

dari

letusan

sebelumnya,

dari

gunungapi yang sama atau tubuh vulkanik yang


lebih tua dari dinding kawah.
4. Kelompok Accidental (bahan asing)
Bila

material

hamburan

penyusunnya

yang

berasal

gunungapi atau batuan


beku,

sedimen

merupakan
dari

bahan

batuan

non

dasar berupa batuan

ataupun

metamorf,

sehingga

mempunyai komposisi yang beragam.


4.2. TEKSTUR BATUAN PIROKLASTIK

Variasi bentuk,pembundaran dan pemilahan batuan


piroklastik
klastik

mirip

pada

dengan

umumnya.

batuan
Hanya

sedimen

unsur-unsur

tersebut tergantung tenaga le t u sa n, p e ng ua p an ,


teg a ng a n p er mu kaa n d a n p eng ar uh seretan.
Kenampakan yang khas pada batuan piroklastik
adalah bentuk butir yang runcing tajam, terutama
dikenal sebagai "glass shard" atau gelas runcing
tajam serta adanya batuapung (Pumice).
31

4.3. STRUKTUR BATUAN PIROKLASTIK

Seperti halny a struktur batuan beku, maka


pada

batuan

struktur

piroklastik

seperti

juga

skoria,

dijumpai

vesikuler,

serta

amigdaloidal.
4.4. KONPOSIS1 MINERAL BATUAN PIROKLASTIK
A.Mineral-mineralSialis(Silisiumaluminium)
Mineral-mineral sialis terdiri dari :

Kwarsa (SiO2) yang hanya ditemukan

pada

batuan

gunung api yang kaya akan kandungan silika atau


bersifat asam.

Feldspar,baik

K-Feldspar,Na-Feldspar

dan

Ca-

Feldspar.

Feldspathoid,

merupakan

kelompok

mineral

yang

teriadi jika kondisi larutan magma dalam keadaan tidak


atau kurang jenuh akan kandungan silika.
B. Mineral-mineral Ferromagnesia
Merupakan

kelompok

mineral

yang

kaya

akan

kandungan ikatan Fe-Mg silikat dan kadang-kadang


disusul dengan Ca-silikat.
Mineral-mineral tersebut hadir berupa kelompok
mineral :
32

Piroksen, merupakan mineral penting di dalam


batuan gunungapi.

Olivin, mineral yang kaya akan besi dan magnesium


dan miskin silika.

C. Mineral Tambahan
Mineral-mineral yang sering hadir

Hornblende

- magnetit

Biotit

- Ilmenit

4.5. KLASIFIKASI BATUAN PIROKLASTIK

Material

piroklastik

dapat

dikelompokkan

berdasarkan

ukurannya sebagai berikut (Schmid,1981 vide Fisher,1984).


Endapan piroklastik tak terkonsolidasi
1. Bomb gunungapi
Bomb

adalah

gumpalan-gumpalan

lava

yang

mempunyai ukuran lebih besar dari 64 mm, dan


sebagian

atau

semuanya

plastis

pads

waktu

tererupsi. Beberapa bomb mempunyai ukuran yang


sang at

b esa r

seb ag ai

c onto h

b omb

yang

mempunyai diameter 5 meter dengan berat 200 kg


dengan hembusan setinggi 600 m selama erupsi di
gunungapi Asama Jepang pada tahun 1935.
Bomb ini dapat dibagi atas tiga macam :
a. Bomb Pita (ribbon bombs), yaitu bomb yang
33

memanjang

seperti

suling

dan

sebagian

besar

dengan

arah

gelembung-gelembung memanjang
sama.

Bomb

ini

sangat

kenthal

mempunyai

bentuk menyudut serta reta kan kulitnya tidak


teratur.
b. Bomb inti (cored bomb), yaitu bomb yang mempunyai
inti dari material yang terkonsolidasi lebih dahulu,
mungkin dari fragmen-fragmen sisa erupsi terdahulu
pada gunungapi yang sama.
c. Bomb kerak roti (bread crust bombs), yaitu bom yang
bagian luarnya retak-retak persegi seperti nampak
pada kulit roti yang mekar, hal ini disebabkan oleh
bagian kulitnya cepat mendingin dan menyusut.
Bentuk dan nama tiap material piroklastik dapat
dilihat pada Gambar 4.1.

34

Gambar 4.1. Beberapa bentuk batuan piroklastik


a. bomb pita; b. pita kecil; c. pele's tear; d. pele's hair;
e-h almond or spindle; i-j. bomb kerak roti ; k. block

2. Block Gunungapi (Volcanic Block)


Merupakan batuan piroklastik yang dihasilkan oleh erupsi
eksplosif dari fragmen batuan yang sudah memadat
lebih dulu dengan ukuran lebih besar dari 64 mm.
Blok-blok

ini

selalu

menyudut

bentuknya

equdimensional.

Gambar 4.2. Block dengan komposisi dasite


sesudah tertansport dalam dome
piroklastik

35

atau

3. Lapilli
Berasal dari bahasa latin yaitu lapillus, nama
untuk

hasil

erupsi

eksplosif

gunungapi

yang

berukuran 2mm64mm. Selain dari atau fragmen batuan


kadang-kadang terdiri dari mineral-mineral

augit,

olivin dan plagioklas.


4. Bentuk khusus lapilli yang terdiri dari jatuhan lava
diinjeksi dalam keadaan sangat cair dan membeku
diudara,

mempunyai

bentuk

membola

atau

memanjang dan berakhir dengan meruncing.


5. Debu Gunungapi
Adalah batuan piroklastik yang berukuran 2mm 1/256 mm Yang dihasilkan oleh pelemparan dari magma
akibat erupsi eksplosif Namun ada juga debu gunung
api yang teriadi karena proses penggesekan pada
waktu erupsi gunungapi. Debu gunungapi masih dalam
keadaan belum terkonsolidasi.
Endapan piroklastik yang terkonsolidasi
Merupakan akibat lithifikasi endapan piroklastik jatuhan
1. Breksi piroklastik (pyroklastic breccia)
Adalah

batuan

yang

disusun

oleh

block-block

gunungapi Yang telah mengalami konsolidasi dalam


jumlah lebih 50% serta mengandung lebih kurang 25%
36

lapilli dan abu.


2. Aglomerat (agglomerate)
Adalah

batuan

material

yang

dibentuk

m at e r i a l

didominasi

oleh

dengan
bom

oleh

konsolidasi

kandungannya

gunungapi

dimana

kandungan lapilli dan abu kurang dari 25%.


3. Batu lapilli (lapilli stone)
Adalah batuan yang dominan terdiri dari fragmen
lapilli dengan ukuran 2-64 mm
4. Tuff Adalah endapan dari abu gunungapi yang telah
mengalami

konsolidasi,

dengan

kandungan

abu

mencapai 75%. Macamnya : -tuff lapilli (lapilli tuff)


-tuff aglomerat (agglomerate tuff)
-tuff breksi piroklastik (pyroclastic breccia tuff)
Tabel 4.1. Batuan Piroklastik berdasarkan ukuran dan sifatnya.
Ukuiran butir

Sebutan

(mm)

(piroklastik)

Endapan Piroklastik
Tak terkonsolidasi

Terkonsolidasi

Bomb, Block

Agglomerat,

Tepra

Breksi piroklastik

Lapillus

Tepra lapilli

Batu lapilli

Lapillus

Tepra lapilli

Batu lapilli

Debu kasar
(coarse ash grain)
Debu kasar
(coarse ash grain)
Debu halus

Debu kasar

Tuff, Debu kasar

Debu kasar

Tuff, debu kasar

Debu halus

Tuff, Debu halus

Bomb, Block
64

1/16

37

Batuan akibat lithifikasi endapan piroklastik aliran


1. Ignimbrit (ignimbrite)
Adalah batuan yang disusun dari endapan material oleh
aliran abu. Material-material ini dominan terdiri dari
pecahan-pecahan gelas dan pumice yang dihasilkan oleh
buih-buih magma asam.
2. Breksi aliran piroklastik (pyroclastic flow breccia).
Adalah breksi yang dominan yang disusun oleh fragmenfragmen yang runcing serta ditransportasi oleh glowing

avalanches (akibat aliran awan panas).


3. Vitrik tuff
Adalah batuan yang dihasilkan dari endapan piroklastik
aliran terdiri dari fragmen abu dan lapilli, telah
mengalami lithifikasi dan belum terlaskan.
4. Welded tuff
Adalah batuan piroklastik basil dari piroklastik aliran yang
telah terlithifikasi dan merupakan bagian dari ignimbrit
(istilah ini umum dipakai
Beberapa

di A.S, dan australia).

mekanisme

pembentukan

endapan

piroklastik
1. Endapan piroklastik jatuhan (pyroklastic fall) yaitu
onggokan piroklastik yang diendapkan melalui udara.
Endapan ini umumnya akan berlapis baik, dan pads
lapisannya

akan

memperlihatkan
38

struktur

butiran

bersusun. Endapan ini meliputi

aglomerat, breksi,

piroklastik, tuff, lapilli.


2. Endapan piroklastik aliran (pyroclastic flow)
Yaitu material hasil langsung dari pusat erupsi,
kemudian teronggokan disuatu tempat. Hal ini meliputi
hot

avalanche,

glowing

avalanche,

lava

collapse

avalanche, hot ash avalanche.


3. Aliran ini umumnya berlangsung pads suhu tinggi
antara

500-650C,

dan

temperaturnya

cenderung

menurun selama pengalirannya. Penyebaran pads


bentuk endapan sangat dipengaruhi oleh morfologi
sebab sifat-sifat endapan tersebut adalah menutup
dan

mengisi

cekungan.

Bagian

bawah

menampakan morfologi asal dan bagian atasnya


datar.
4. Endapan piroklastik surge (pyroclastic surge)
Yaitu suatu awan campuran dari bahan padat dan
gas

(uap

air)

yang

mempunyai

rapat

rendah dan bergerak dengan kecepatan


secara

turbulent

di

atas

permukaan.

massa
tinggi

Umumnya

mempunyai pemilahan yang baik, berbutir halus dan


berlapis

baik.

Endapan

ini

mempunyai

pengendapan primer seperti laminasi

struktur

dan perlapisan

bergelombang hingga planar. Yang paling khas dari


39

endapan

ini

melensa dan

mempunyai
bersudut kecil.

struktur

silang

Endapan surge pada

umumnya kaya akan keratan batuan dan kristal.


Tabel 4.2. Penamaan batuan piroklastik
menurut Fisher, 1966 dan Williams, 1954

40

siur,

Tabel 4.3 Terms for mixed pyroclastic-epiclastic rock (After


Schimid,1981)

41

BAB V. BATUAN SEDIMEN


Pengertian umum mengenai batuan sedimen adalah
batuan

yang

terbentuk

akibat

lithifikasi

bahan

rombakan batuan asal maupun hasil denudasi atau


hasil reaksi kimia maupun hasil kegiatan organisme.
Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar
sangat luas dengan ketebalan dari beberapa cm sampai
beberapa km. Juga ukuran butirnya dari sangat halus
sampai sangat kasar dan beberapa proses yang penting
lagi yang termasuk kedalam batuan sedimen.
Dibanding dengan batuan beku, batuan sedimen
h a n y a merupakan tutupan kecil dari kerak bumi.
Batuan sedimen hanya merupakan 5% dari seluruh
batuan-batuan yang terdapat dikerak bumi. Dari jumlah
5% ini, batulempung adalah 80%, batupasir 5%, dan
batugamping kira-kira 15%.
5.1. PENGGOLONGAN DAN PENAMAAN
Berbagai
sedimen

penggolongan
telah

dan

dikemukakan

penamaan
oleh

para

batuan
ahli,

baik

berdasarkan genetis maupun diskribtif. Secara genetis


42

disimpulkan

dua

golongan

(Pettijhon,1975

dan

W.T, Huang,1962).
a. Batuan sedimen klastik

Batuan

sedimen yang

terbentuk

dari

pengendapan

kembali detritus atau pecahan batuan asal. Batuan asal


dapat berupa batuan beku, metamorf dan sedimen.
Fragmentasi batuan asal tersebut dimulai dari pelapukan

(disintegrasi)

mekanis

maupun

secara

kimiawi

(dekomposisi), kemudian tererosi dan tertransportasi


menuju

suatu

pengendapan
diagenesa,

berlangsung,

pengendapan.
sedimen

Setelah
mengalami

yakni proses perubahan-perubahan yang

berlangsung
suatu

cekungan

pada

temperatur

rendah

didalam

sedimen, selama dan sesudah lithifikasi ini

merupakan proses yang mengubah suatu sedimen menjadi


batuan keras.
Proses diagenesa antara lain :
a) Kompaksi sedimen
Yakni

termampatkannya butir sedimen satu terhadap

yang lain akibat tekanan dari berat beban di atasnya.


Disini volume sedimen berkurang dan hubungan antar
butir yang satu dengan yang lain menjadi rapat.
43

b) Sementasi
Yakni turunnya material-material diruang antar butir
sedimen dan secara kimiawi mengikat butir-butir
sedimen satu dengan yang lain. Sementasi makin
efektif bila derajat kelulusan larutan (permeabilitas
relatif) pada ruang antar butir makin besar. Berkristalisasi
yakni pengkristalan kembali suatu mineral dari suatu
larutan kimia yang berasal dari pelarutan material
sedimen

selama

sebelumnya.

diagenesa

Rekristalisasi

atau

jauh

sangat

umum

terjadi pada pembentukan batuan karbonat.


c) Autogenesis
Yakni

terbentuknya

diagenetik,

mineral

sehingga

adanya

baru

dilingkungan

mineral

tersebut

merupakan partikel baru dalam suatu sedimen.


Mineral

autigenik

ini

yang

umum

diketahui

sebagai berikut : karbonat, silika, klorite, ilite,


gipsum dan lain-lain.
d) Metasomatisme
Yakni pergantian mineral sedimen oleh berbagai
mineral autogenik, tanpa pengurangan volume asal.
Contohnya dolomitisasi, sehingga dapat merusak
bentuk suatu batuan karbonat atau fosil.
44

b. Batuan sedimen non klastis

Batuan sedimen yang terbentuk dari hasil reaksi


kimia atau bisa juga dari hasil kegiatan organisme.
Reaksi kimia yang dimaksud adalah kristalisasi langsung
atau reaksi organik (penggaraman unsur-unsur laut,
pertumbuhan
yang

kristal

terpresipitasi

dan

dari

agregat

replacement).

kristal

Lihat

juga

klasifikasi Pettijhon,1975, Folk,1954, Shepard,1954.


Penggolongan

batuan

sedimen

juga

dikemukakan oleh R. P. Koesoemadinata,

telah

1980,

yang

membagi batuan sedimen dalam 6 (enam) golongan utama


batuan sedimen (Gambar 5.1) yaitu :
a. Golongan detritus kasar

Batuan sedimen ini diendapkan dengan proses


mekanis, termasuk dalam golongan ini antara lain:
Breksi,

Konglomerat

dan

batupasir.

L i n g k u n g a n t e m p a t diendapkannya batuan ini


dapat di lingkungan sungai, danau ataupun laut.
b. Golongan detritus halus

Batuan

yang

umumnya
laut

termasuk

golongan

ini

pada

diendapkan di lingkungan laut dari

dangkal

sampai
45

laut

dalam.

Termasuk

golongan ini Batulanau, Serpih, Batulempung dan


Napal.
c. Golongan Karbonat

Batuan ini umum sekali terbentuk dari kumpulan


cangkang m o l u s k a , a l g a e , f o r a m i n i f e r a a t a u
l a i n y a y a n g bercangkang kapur. Jenis batuan
karbonat ini banyak sekali jenisnya tergantung
dari material penyusunnya, misal : Batugamping
terumbu.
d. Golongan Silika

Proses terbentuknya batuan ini adalah gabungan


antara p r o s e s o r g a n i k d a n p r o s e s k i m i a w i
untuk

lebih

menyempurnakannya.

Termasuk

golongan ini Rijang (Chert), Radolaria dan tanah


diatom. Batuan golonganini tersebarnya hanya sedikit
dan terbatas sekali.
e. Golongan Evaporit.

Pada umumnya batuan ini terbentuk dilingkungan


danau

atau

laut

yang

tertutup,

dan

untuk

terjadinya batuan sedimen ini harus ada air yang


memiliki larutan kimia yang cukup pekat. Yang
termasuk golongan ini adalah Gipsum, Anhidrit,
Batugaram, dll.
46

f. Golongan Batubara

Batuan sedimen ini

terbentuk

dari

unsur-unsur

organik yaitu dari tumbuh-tumbuhan, dimana


sewaktu tumbuhan tersebut mati dengan cepat
tertimbun oleh suatu lapisan yang tebal di atasnya
sehingga tidak memungkinkan untuk terjadinya
pelapukan.

Lingkungan

adalah khusus sekali.

47

terbentuknya

batubara

Gambar 5.1. Penggolongan batuan sedimen utama


serta proses pembentukannya
(Koesosemadinata, 1980) .

48

Gambar 5.3 BERBAGAI MACAM STRUKTUR SEDIMEN

Perlapisan masif

Cetak suling (flute cast)

Perlapisan bersusun

Silang siur (cross bedding)

(graded bedding)

49

Gelembur gelombang (ripple mark)

Biostrom

Bioherm

Cone in cone

Geode

Stylolit

Septaria

50

Rekah kerut (mud crack)

Konsentris

konkresi
Oolit

Cetak beban (load cast)

51

Selain itu Mc. Kee & Weir,1953, secara kuantitatif memerikan


perlapisan sebagai berikut :

5.2.3. Komposisi Mineral


Komposisi mineral dari batuan sedimen klastik dapat dibedakan
yaitu :
1. Fragmen
Fragmen adalah bagian butiran yang ukurannya paling
besar dan dapat berupa pecah-pecahan batuan, mineral
dan cangkang-cangkang fosil atau zat organik lainnya.
2. Matrik
Matrik adalah bagian butiran yang ukurannya lebih kecil
dari fragmen dan terletak diantara fragmen sebagai massa
dasar. Matrik dapat berupa batuan, mineral, atau fosil.
3. Semen
Semen bukan butir, tetapi material pengisi rongga antar
butir dan bahan pengikat diantara fragmen dan matrik.
Biasanya dalam bentuk amorf atau kristalin. Bahan-bahan
semen yang lazim adalah :
52

semen karbonat (kalsit, dolomit)

semen silika (kalsedon, kwarsa)

semen oksida besi (limonit, hematit, siderit)

Pada Batuan sedimen detritus halus semen tidak harus ada


karena butiran dapat saling terikat oleh kohesi masing masing butir. Misal Batulempung, lanau, serpih.
matrik

Gambar 5.6. Sebuah batuan sedimen yang memperlihatkan


susunan dari matrik, semen, pori dan butiran

5.3. PEMERIAN BATUAN SEDIMEN NON KLASTIK


Pemerian batuan sedimen non klastik didasarkan pada :
5.3.1. Tekstur
Tekstur dibedakan menjadi dua macam
1. Kristalin
kristal-kristal yang interlocking, yaitu kr i st al- kr ist al nya saling
mengunci sat u sama l ai n. Pe me ri a n dapat memakai
skala Wentworth dengan modifikasi sebagai berikut :

53

Nama Butir

Besar But ir (mm )

Berbutir kasar

Berbutir sedang

1/16

Berbutir halus

1/256

Berbutir sangat halus

< 1/256

2. Amorf
T e r d i r i d a r i mi ne r al y a ng t i d a k m e mb e nt uk atau amorf
(non kristalin).
5.3.2. Struktur
Strukur batuan sedimen non klastik terbentuk dari p roses
reaksi kimia ataupun kegiatan organik.
Macamnya antara lain :
Fossiliferous : Struktur yang ditunjukan oleh adanya fosil atau
komposisi terdiri dari fosil (sedimen organik).
Oolitik: Struktur dimana suatu fragmen klastik diselubungi
oleh mineral nonklastik, bersifat konsentris dengan diameter
berukuran lebih kecil 2 mm.
Pisolitik : Sama dengan oolitik tetapi ukuran diameternya
lebih besar dari 2mm.
Konkresi : Kenampakan struktur ini sama dengan struktur
oolitik tetapi tidak menunjukan adanya sifat k onsentris.
Cone in cone : Struktur pada batugamping kristalin yang
menunjukan pertumbuhan kerucut perkerucut.
Bioherm

: Tersusun oleh organisme murni dan bersifat insitu

(belum tertransport sejak terbentuknya batuan).


Biostrom : Seperti bioherm tetapi bersifat klastik. Bioherm
54

dan

biostrom

merupakan

struktur

luar

yang

hanya

tampak di lapangan.
Septaria

: Sejenis konkresi tetapi mempunyai komposisi

lempungan.

Cirikhasnya

adanya

rekahan-rekahan

yang

tidak teratur akibat penyusutan bahan-bahan lempungan karena


proses dehidrasi yang kemudian celah -celah yang
terbentuk terisi oleh kristal -kristal karbonat yang kasar.
Geode : B anyak di j umpai p ad a b atuan g a mpi ng, be r up a
r ongg a- rongga

yang

terisi

oleh

kristal -kristal

yang

tumbuh ke ar a h p us a t r o ng g a t e r se b u t . K r i st al b i s a
k a l si t ataupun kwarsa.
Stylotit : Merupakan hubungan antar butir yang bergerigi.
5.3.3. Komposisi Mineral
Komposisi mineral batuan sedimen non klastik cukup penting
dalam menentukan penamaan batuan. Pada batuan sedimen
jenis non klastik biasanya komposisi mineralnya sederhana
yaitu bisa terdiri satu atau dua macam mineral.
Sebagai contoh komposisi pada :
Batugamping

: Kalsit, dolomit

Chert

: Kalsedon

Gypsum

: Mineral gypsum

Anhidrit

: Mineral anhidrit

5.4. PEMERIAN BATUAN KARBONAT


Batuan karbonat adalah batuan sedimen dengan komposisi
yang dominan (lebih dari 50%) terdiri dari mineral-mineral atau
55

garam-garam karbonat, yang dalam prakteknya secara


umum meliputi batugamping dan dolomit.
Proses pembentukannya dapat terjadi secara insitu berasal
dari larutan yang mengalami proses kimia maupun biokimia
dimana organisme turut berperan, dapat terjadi dari butiran
rombakan yang mengalami transportasi secara mekanik dan
diendapkan di tempat lain.
Seluruh proses tersebut berlangsung pada lingkungan air
laut, jadi praktis bebas dari detritus asal darat.
Di dalam praktikum ini disajikan klasifikasi sebagai berikut:

Batugamping klastik:
Adalah batugamping yang terbentuk dari pengendapan
kembali detritus batugamping asal.
Contoh :
1. Kalsirudit: batugamping

dengan ukuran butir rudit

(granule)
2. Kalkarenit:batugamping

dengan ukuran butir

arenit (sand)
3. Kalsilutit:

batugamping dengan ukuran

butir

berukuran lutit (clay)

Batugamping non klastik :


Adalah batugamping yang terbentuk dari proses-proses
kimiawi maupun organis. Umumnya bersifat monomineral.
Dapat dibedakan :
Hasil biokimi

:bioherm, biostrom.

Hasil larutan kimia :travertin, tufa.


Hasil replacemen

:batugamping fosfat, batugamping dolomit.


56

5.4.1.

Pemerian batugamping klastik

Sistematika diskripsi pada hakekatnya sama dengan pada batuan sedimen


klastik, yaitu meliputi tekstur, komposisi mineral dan struktur.
1. Tekstur
Sama pada pemerian batuan sedimen klastik, hanya saja istilahnya meliputi :
Nama butir

Besar butir (mm)

Rudit

Arenit

0,062

Lutit

2. Struktur
Pemeriannya hamper sama dengan pemerian pada batuan sediment klastik.
3. Komposisi
Juga terdapat pemerian fragmen, matrik, semen, hanya berbeda istilahnya saja
(Folk, 1954), komposisi terdiri dari :
Allochem : adalah fragmen yang tersusun oleh kerangka atau butira klastik abrasi
batugamping yang sebelumnya telah ada.
Macam-macam allochem :

Kerangka organis (skeletal): fragmen yang terdiri atas cangkang binatang atau
kerangka hasil pertumbuhan.

Interclast : fragmen berupa butiran hasil abrasi batugamping yang telah ada.

Pisolit : butiran oolit dengan ukuran > 2 mm.

Pellet : menyerupai oolit, tetapi tidak memperlihatkan struktur konsentris.

Mikrit
Berupa agregasi halus berukuran 1-4 mikron, merupakan kristal-kristal karbonat
yang terbentuk secara biokimia atau kimiawi berlangsung dari presipitasi air laut
dan mengisi rongga antar butir.
57

Sparit :
Sebagai semen yangmengisi ruang antar butir dan rekahan, berukuran halus
(0.02-0.1 mm), dapat

terbentuk langsung dari sedimen secara insitu atau

rekristalisasi mikrit.
5.4.2.

Pemerian Batugamping Non Klastik

Pemeriannya sama dengan pemerian pada batuan sediment non klastik lainnya.
5.4.3.

Penamaan Batuan Sedimen Yang dipakai di Laboratorium.

Batuan sedimen klastik.


Penamaannya lebih ditekankan pada ukuran dan bentuk butir dengan
perincian sebagai berikut .
ountuk butiran yang sama atau lebih kecil dari ukuran pasir :
batupasir

: butiran yang berukuran pasir.

Batulempung : butiran yang berukuran lempung.


Serpih

: batulempung yang memperlihatkan struktur fisility (sifat

belah).
oUntuk butiran yang lebih besar dari ukuran pasir :
Konglomerat

: jika butirannya berbentuk membulat

Breksi

: jika butirannya berbentuk runcing

Catatan :
Bila ada pencampuran butiran dengan ukuran yang berbeda, maka nama batuan
sedimen klastik tersebut disesuaikan dengan klasifikasi Gilbert, 1982.

58

Contoh penamaan :

Batupasir kerikilan, kongglomerat lanauan, Lanau krikilan, dan lain-lain.


kerikil

Konglomerat / Breksi

50%
Batupasir
konglomeratan

Batulempung
konglomeratan

Btps kerikilan

25%

Btlp kerikilan

Pasir

lanau-lempung

Batuan sedimen non klastik


Penamaan sediment non klastik sangat tergantung oleh jenis mineral
penyusunnya, dank arena pembentukannya disebabkan oleh larutan kimia
maupun organis, maka sediment non klastik ini bersifat monomineral.
Misalnya :
Batugips

: jika tersusun oleh mineral gypsum

Rijang

: jika tersusun oleh mineral kalsedon

Batubara

: jika tersusun oleh mineral karbon.

Batuan sedimen karbonat


Penamaan batuan karbonat dilakukan sebagai berikut :

59

Tabel 5.1 Penamaan batuan karbonat


BATUAN KARBONAT
KLASTIK

NON KLASTIK

Dominan detritus Dominant detritus fosil


karbonat
Kalsirudit
(ukuran rudit)
Kalkarenit
(ukuran arenit)
Kalsilutit
(ukuran lutit)

Batugamping
bioklastik

Pertumbuhan fosil
Batugamping
kerangka koral

Contoh diskripsi batuan sedimen :


No. Batuan

: 01

Lokasi

: LP 12/ Sanggrahan

Jenis batuan

: Batuan sediment klastik

Warna

: abu-abu

Struktur

: masif

Tekstur

: 3.5-2.2 mm (krikil)
Pemilahan sedang
Membulat tanggung
Kemas terbuka.

Komposisi

: Fragmen

: kuarsa, basal, andesit, rijang.

Matrik

: kuarsa, feldspar

Semen

: silica

Lain-lain

:-

Nama batuan

: KONGLOMERAT

60

Kristalin
Batugamping
kristalin

No. Batuan

: 14

Lokasi

: LP 8/ Seboro

Jenis batuan

: Batuan sediment non klastik

Warna

: coklat kemerahan

Struktur

: masif

Tekstur

: amorf

Komposisi

: kalsedon

Lain-lain

: keras terhadap pukulan

Nama batuan : RIJANG/ CHERT

Tabel 5.2 Klasifikasi Batupasir (Pettijohn, 1973)

Kandungan
kuarsa

DETRITAL MATRIKS DOMINAN


(15%), SEMEN TIDAK ADA

Feldspatic
G ra y w a c ke

Feldspar > rock


fragmen
Rock fragmen <
feldspar

SAND OR DETRITAL FRACTIOAN

SEMEN ATAU MATRIKS

DETRITAL MATRIKS TIDAK ADA/ JARANG


(15%) PORI-PORI KOSONG/ DIISI SEMEN
Arkosic sandstone
Arkose

Subarkose/
sandstone

feldspatic
Chert 5 %

Graywacke
Lithic

Lithic sandstone
Subgraywacke

Protoquartsite

Chert 5 %

< 75%

<75%

>75 %

Graywacke
Variable, biasanya
< 75%

61

Tabel 5.3 . Determinasi Megaskopis Batuan Sedimen Klastik (W.T. Huang, 1965)

62

BAB. VI BATUAN METAMORF


Metamorfosa (perubahan bentuk) adalah proses rekristalisasi di
dalam kerak bumi (3-20 km) yang keseluruhan atau sebagian besar
terjadi dalam keadaan padat, yakni tanpa melalui fasa cair, sehingga
terbentuk struktur dan mineralogi baru akibat pengaruh temperatur
(T) (200-650 0C) dan tekanan (P) yang tinggi.
Batuan metamorf adalah batuan yang berasal dari batuan induk,
bisa batuan beku, batuan sedimen, maupun batuan metamorf
sendiri yang mengalami metamorfosa
Menurut H. G. F. Winkler, 1967, Metamorfisme adalah prosesproses yang mengubah mineral suatu batuan pada fasa padat
karena pengaruh atau respon terhadap kondisi fisika dan kimia di
dalam kerak bumi, dimana kondisi kimia dan fisika tersebut berbeda
dengan kondisi sebelumnya. Proses-proses tersebut tidal termasuk
pelapukan dan diagenesa.
6.1. TIPE-TIPE METAMORFOSA
Tipe

metamorfosa

berdasarkejadiannya

dan

sejarah

pembentukannya banyak dibahas oleh para ahli sehingga banyak


pula macam-macam nama metamorfosa, tetapi pada dasarnya
dapat dibedakan menjadi:
A. Tipe Metamorfosa Lokal
Disebut lokal karena penyebaran metamorfosa ini terbatas sekali
(beberapa meter sampai beberapa puluh meter).
63

Tipe metamorfosa ini meliputi :


1. Metamorosa Kontak atau Thermal
Metamorfosa kontak disebabkan oleh adanya kenaikan
tempuratur pada batuan tertentu. Panas tubuh intrusi yang
diteruskan

pada

batuan

sekitarnya

mengakibatkan

metamorfosa kontak. Zona metamorfosa kontak di sekitar


tubuh batuan tersebut dinamakan daerah kontak (contact

aureole) yang efeknya terutama terlihat pada batuan


selkitarnya. Lebar daerah penyebaran panas tersebut berkisar
dari beberapa centimeter sampai beberapa kilometer. Pada
metamorfosa kontak batuan sekitarnya berubah menjadi
hornfels (batutanduk) yang susunannya tergantung pada
batuan sedimen asalnya.

Zona hornfel bag. dalam


Intrusi batuan
beku + + + +

Zona menengah batuan


berbintik bintik
Zona luar batuan terbakar

Gambar 6. 1. Daerah kontak di sekeliling intrusi batuan beku

64

2. Metamorfosa Dislokasi / Kataklastik / Dinamo


Batuan metamorf ini dijumpai pada daerah yang
mengalami dislokasi, misal pada daerah sesar besar.
Proses metamorfosanya terjadi pada lokasi dimana
bantuan ini mengalami proses penggerusan secara
mekanik yang disebabkan oleh faktor penekanan
(kompresional) baik tegak maupun mendatar.
Batuan metamorf kataklastik khusus dijumpai di jalurjalur orogenesa di mana proses pengangkatan diikuti
oleh fase perlipatan dan pematangan batuan.
B. Tipe Metamorfosa Regional
Tipe metamorfosa ini meliputi :
1. Metamorfosa Regional / Dinamo Thermal
Metamorfosa ini terjadi pada kulit bumi bagian dalam
dan faktor yang berpengaruh adalah temperatur dan
tekanan yang sangat tinggi. Secara geografis dan
genetik penyebaran batuan metamorf ini sangat erat
kaitannya dengan aktifitas orogenesa atau proses
pembentukan pegunungan lipatan gunung api, meliputi
daerah yang luas dan selalu dalam bentuk sabuk
pegunungan yakni dalam daerah geosinklin. Dengan
demikian erat hubungannya dengan tumbukan dua
buah

lempeng

tektonik
65

khususnya

antara

kerak

samodra dan kerak benua membentuk suatu jalur


penunjaman (subduction zone).
Batuan ini dicirikan oleh struktur foliasi (penjajaran
mineral-mineral

pipih)

serta

beasosiasi

dengan

lingkungan tektonik.
2. Metamorfosa Beban / Burial
Batuan

metamorfosa

ini

terbentuk

oleh

proses

pembebanan oleh suatu massa sedimentasi yang


sangat tebal pada suatu cekungan yang sangat luas
atau dikenal dengan sebutan cekungan geosinklin.
Proses kejadiannya hamper tidak berkaitan sama sekali
dengan aktifitas orogenesa maupun intrusi tetapi lebih
merupakan suatu proses yang bersifat regional atau
lebih dikenal dengan proses epirogenesa.

6.2. STRUKTUR BATUAN METAMORF


Struktur pada batuan metamorf terbagi atas 2 golongan
besar yaitu :

A. Struktur Foliasi
Yaitu struktur yang ditunjukan oleh adanya penjajaran
mineral-mineral penyusun batuan metamorf.
Struktur ini meliputi :
66

1. Struktur Slatycleavage
Peralihan

dari

metamorf,

sedimen

merupakan

yang
derajat

berubah
rendah

ke
dari

lempung. Mineral-mineralnya berukuran halus dan


kesan

kesejajarannya

memperlihatkan

halus

sekali,

belahan-belahan

dengan

yang

rapat

dimana mulai terdapat daun-daun mika halus.


Contoh batuan : Slate (batusabak)
2. Struktur Filitik (Phylitic)
Struktur

ini

hampir

mirip

dengan

strukur

slatycleavage hanya mineral dan kesejajarannya


sudah mulai agak kasar. Derajat metamorfosa
lebih tinggi dari slate (batusabak), di mana daundaun mika dan khlorit sudah cukup besar, berkilap
sutera pada pecahan-pecahannya. Contoh batuan
: Filit.
3. Struktur Skistosa (Schistosity)
Adalah suatu struktur di mana mineral pipih
(biotit,

muscovit,

feldspar)

lebih

dominan

dibanding mineral butiran. Struktur ini biasanya


dihasilkan oleh proses metamorfosa regional,
sangat khas adalah kepingan-kepingan yang jelas
dari mineral-mineral pipih seperti mika, talk, klorit,
dan mineral-mineral yang bersifat serabut. Derajat
67

metamorfosa lebih tinggi dari filit, karena mulai


adanya mineral-mineral lain disamping mika.
Contoh batuan : Sekis
4. Struktur Gneissa (Gneissic)
Struktur di mana jumlah mineral-mineral yang
granular relatif lebih banyak dari mineral-mineral
pipih, mempunyai sifat banded dan mewakili
metamorfosa regional derajat tinggi. Terdiri dari
mineral-mineral yang mengingatkan pada batuan
beku seperti kwarsa, feldspar dan mafic minerals.
Contoh batuan : Gneiss.

B. Struktur Non Foliasi


Adalah struktur yang tidak memperlihatkan adanya
penjajaran mineral penyusun batuan metamorf. Yang
termasuk dalam struktur ini adalah :
1. Struktur Hornfelsik
Struktur adanya butiran-butiran yang seragam,
terbentuk pada bagian dalam daerah kontak
sekitar tubuh batuan beku.

Pada umumnya

merupakan rekristalisasi batuan asal, tidak ada


foliasi tetapi batuan halus dan padat.
2. Struktur Milonitik
68

Struktur

yang

penghancuran

berkembang
batuan

asal

karena
yang

adanya

mengalami

metamorfosa dinamo, batuan berbutir halus dan


liniasinya ditunjukan oleh adanya orientasi mineral
yang

berbentuk

rentikuler

terkadang

masih

menyimpan lensa batuan asalnya.


3. Struktur Kataklastik
Struktur ini hampir sama dengan struktur milonit
hanya butirannya yang lebih kasar.
4. Struktur Pilonitik
Struktur ini menyerupai milonit tetapi butirannya
relatif lebih kasar dan strukturnya mendekati tipe
filitik.
5. Struktur Flaser
Seperti struktur kataklastik di mana struktur
batuan asal yang berbentuk lensa tertanam pada
massa dasar milonit.
6. Struktur Augen
Seperti

struktur

flaser,

hanya

lensa-lensanya

terdiri dari butir-butir feldspar dalam massa dasar


yang lebih halus.
7. Struktur Granulose

69

Struktur ini hampir sama dengan hornfelsik, hanya


butirannya mempunyai ukuran yang tidak sama
besar.
8. Struktur Liniasi
Struktur yang diperlihatkan oleh adanya kumpulan
mineral yang berbentuk seperti jarum (fibrous).

Keterangan :

Nomer 3 sampai 6 paling baik diamati di lapangan.


6.3. TEKSTUR BATUAN METAMORF
Tekstur pada batuan metamorf digolongkan menjadi :

A. Tekstur Kristaloblastik
Tekstur yang terjadi pada saat tumbuhnya mineral
dalam suasana padat (tekstur batuan asalnya tidak
nampak lagi) dan, bukan mengkristal dalam suasana
cair. Karena itu kristal yang terjadi disebut blastos.
1. Lepidoblastik
Tekstur batuan metamorf yang didominasi oleh
mineral-mineral

pipih

dan

memperlihatkan

orientasi sejajar, seperti mineral-mineral biotit,


muscovit, dan sebagainya.
2. Granoblastik
Tekstur pada batuan metamorf yang terdiri dari
mineral-mineral yang membentuk butiran yang
70

seragam, seperti kwarsa, kalsit, garnet, dan lainlain.


3. Nematoblastik
Terdiri dari mineral-mineral berbentuk prismatik
menjarum yang memperlihatkan orientasi sejajar,
seperti mineral amphibol, silimanit, piroksen, dan
lain-lain.
4. Porfiroblastik
Tekstur pada batuan metamorf di mana suatu
kristal besar (fenokris) tertanam dalam massa
dasar yang relatif halus. Identik dengan porfiritik
pada batuan beku.
5. Idioblastik
Tekstur pada batuan metamorf di mana bentuk
mineral-mineral penyusunnya euhedral.
6. Xenoblastik
Tekstur pada batuan metamorf di mana bentuk
mineral-mineral penyusunnya berbentuk anhedral.

B. Tekstur Palimpsest
Merupakan tekstur sisa dari batuan asal yang dijumpai
pada batuan metamorf.
Tekstur palimpsest meliputi :
1. Blastoporfiritik
71

Suatu

tekstur

sisa

dari

batuan

asal

yang

bertekstur porfiritik.
2. Blastopsefit
Suatu tekstur sisa dari batuan sedimen yang
ukuran

butirannya

lebih

besar

dari

pasir

(psephite).
3. Blastopsamit
Sama dengan blastopsefit, hanya saja di sini
ukuran butirnya sama dengan pasir (psamite).
4. Blastopellite
Tektur sisa dari batuan sedimen yang berukuran
butir lempung (pellite).
6.4. KOMPOSISI MINERAL BATUAN METAMORF
Secara

megaskopis

sulit

untuk

mendiskripsi

atau

menentukan komposisi mineral batuan metamorf, namun


kita tetap dituntut untuk dapat menentukan komposisi
mineralnya, yang dapat dipelajari dari buku ini atau
petunjuk

langsung

di

laboratorium.

Pada

hakekatnya

komposisi batuan metamorf dapat dibagi dalam 2 golongan


yaitu :
Mineral Stress
Adalah suatu mineral yang stabil dalam kondisi tekanan di
mana mineral ini dapat berbentuk pipih atau tabular,
72

prismatik, maka mineral tersebut akan tumbuh tegak


lurus terhadap arah gaya. Sebagai contoh :
Mika

Zeolite

Tremolit-Actinolit

Glaukofan

Hornblende

Claurite

Serpentin

Epidote

Silimanit

Staurolit

Kyanit

Antopilit

1. Mineral Anti Stress


Adalah suatu mineral yang berbentuk bukan dalam
kondisi

tekanan

di

mana

biasanya

berbentuk

equidimensional. Sebagai contoh adalah :


Kwarsa

Kalsit

Feldspar

Koordierit

Garnet
Selain mineral stress dan anti stress ada juga mineral yang
khas dijumpai pada batuan metamorf antara lain :
1. Mineral khas dari metamorfosa regional :
Silimanit

Kyanit

Andalusit

Staurolit

Talk
2. Mineral khas dari metamorfosa termal :
Garnet

Grafit

Corundum
73

3. Mineral khas yang dihasilkan dari efek larutan


kimia :
Epidot

Wolastonit

Chlorite
H.G.F. Winkler, 1965, menemukan beberapa mineral khas
yang dihasilkan oleh metamorfosa regional, yang didasarkan
atas derajat metamorfosanya, yaitu :
Derajat metamorfosa :
a. Derajat rendah

: kalsit, biotit

b. Derajat menengah : almandin, kyanit


c. Derajat tinggi

: silimanit

6.5. DASAR KLASIFIKASI BATUAN METAMORF


Dibagi atas 4 dasar yaitu :

A. Berdasarkan komposisi kimia


Klasifikasi ini ditinjau dari unsur-unsur kimia yang
terkandung dalam batuan metamorf yang mencirikan
batuan asalnya, terbagi menjadi 5 kelompok yaitu :
1. Calcic Metamorphic Rock
Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang
bersifat kaya unsur Al, umumnya terdiri atas batu
lempung dan serpih. Sebagai contoh : batusabak, pilit.
74

2. Quartz Feldspatic Rock


Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang
kaya akan unsur kwarsa dan feldspar. Batuan asal
umumnya terdiri dari batu pasir, batuan beku basa dan
lain-lain.
Sebagai contoh : gneiss.
3. Calcareous Metamorphic Rock
Adalah batuan metamorf yang berasal dari batu
gamping dan dolomit. Sebagai contoh : marmer.
4. Basic Metamorphic Rock
Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan beku
basa, semi basa dan menengah, serta tuffa dan batuan
sedimen yang bersifat napalan dengan kandungan
unsur-unsur K, Al, Fe, Mg.
5. Magnesia Metamorphic Rock
Adalah batuan metamorf yang berasal dari batuan yang
kaya akan unsur Mg. Sebagai contoh : serpentin- skissklorit.

B. Berdasarkan Asosiasi di lapangan


Dipakai kriteria lapangan dan asosiasi mineral serta
tekstur yang berhubungan dengan natur, dan penyebab
tekanan serta temperatur. Misalkan pada suatu zona
sesar didapatkan batuan metamorf dengan struktur
75

kataklastik maka dari sini kita dapat memperkirakan jenis


metamorfosanya.

C. Berdasarkan Komposisi Mineral


Didasarkan pada fasies metamorfosa, sehingga setiap
batuan metamorf akan mempunyai komposisi mineral
spesifik. Hal ini disebabkan karena bila batuan asal
mempunyai komposisi mineral yang khas, maka akan
menghasilkan

batuan

metamorf

dengan

komposisi

mineral yang khas pula (H.G.F.Winkler, 1965)

D. Berdasarkan Struktur dan Tekstur


Struktur dan tekstur batuan metamorf seperti yang telah
dibicarakan pada bab sebelumnya.
6.6. PETUNJUK PRAKTIS UNTUK MENENTUKAN
NAMA BATUAN METAMORF PADA PRAKTIKUM.
1. Pertama ditinjau dahulu metamorf tersebut, apakah
termasuk struktur foliasi atau non foliasi.
2. Untuk
adanya

membedakan

struktur

penjajaran-penjajaran

foliasi
mineral,

diperlihatkan
sedangkan

untuk struktur non foliasi tidak terdapat adanya


penjajaran mineral dalam batuan.
3. Berdasarkan struktur seperti di atas maka penamaan
batuan untuk yang berstruktur foliasi sebagai berikut :
76

Struktur skistosa nama batuan Sekis


Struktur Gnesosa nama batun Gneis
Strukturnya Slatycleavage nama batuan Slate
4. Bila terdapat komposisi mineral tertentu dalam jumlah
yang cukup banyak maka mineral yang hadir ini dapat
dipakai sebagai sifat dalam penamaan batuan.
Sebagai contoh :
Banyak terdapat mineral mika,

nama batuan

Sekis Mika.
5. Untuk yang berstruktur non foliasi komposisi mineral
memegang peranan penting dalam penamaan batuan.
Di sini ditinjau dari komposisi mineral yang dominan.
Sebagai contoh :
Bila dominan kwarsa nama batuan kwarsit
Bila dominan kalsit nama batuan marmer.
6. Pengaruh struktur non foliasi terhadap penamaan
batuan :
Batuan

berstruktur

hornfelsik

nama

batuan

hornfels
Batuan berstruktur liniasi nama batuan asbes,
serpentinit.

77

6.7.

HUBUNGAN ANTARA STRUKTUR DAN


BATUAN METAMORF
NAMA
STRUKTUR
TEKSTUR
Slate/batusabak
Filit
Sekis
Gneis
Marmer

Slatycleavage
Filitik
Sekistosa
Gnesosa
Granolous

Asbes

Liniasi

GAMBAR 6.2

Lepidoblastik
Lepidoblastik
Lepidoblastik
Granoblastik
Granoblastik
Blastopsamit
Nematoblastik

CONTOH-CONTOH BATUAN METAMORF

A. METAMORFIK KONTAK

Foto : Sampel batuan dan sayatan tipis


Nama : MARBEL (MARMER)
Mineral utama : kalsit,
Mineral tambahan : graphit, pirit, kuarsa, mika.

78

TEKSTURE

B. METAMORFOSA REGIONAL

Foto : Sample batuan dan sayatan tipis


Nama : MIKA SKIS
Mineral utama : Mika (muskovit, biotit), kuarsa.
Mineral tambahan : garnet, silimanit, kordierit.

Foto : Sampel batuan dan Sayatan tipis batuan


Nama : FILIT
Mineral utama : kuarsa, mika serisit, klorit.
Mineral tambahan : albit, apatit, turmalin, kalsit.

79

Foto : Sample batuan dan sayatan tipis


Nama : GNEISS
Mineral utama : Feldspar (mikroklin, albit), mika (muskovit dan biotit)
Mineral tambahan : epidot, apatit, turmalin, ilmenit, zirkon.

Foto : Sayatan tipis batuan


Nama : SERPENTINIT
Mineral utama : serpentin (antigorit), magnetit.
Mineral tambahan : krisotil, talk, garnierit, klorit,
dolomit, kalsit, tremolit, garnet.

Foto : Sampel batuan


Nama : EKLOGIT
Mineral utama : piroksen, garnet, kuarsa.
Mineral tambahan : rutil, pirit, kyanit, glokopan, zoisit,
korundum.

Foto : Sampel batuan dan Sayatan tipis batuan


Nama : KUARSIT
Mineral utama : kuarsa.
Mineral tambahan : mika (muskovit, biotit), feldspar, ortoklas, mikroklin, albit,
plagioklas), apatit, zirkon, pirit, magnetit, garnet.

80

Foto : Sampel batuan


Nama : GRANULIT
Mineral utama: Pertit ortoklas, antipertit
plagioklas, kuarsa, garnet.
Mineral tambahan : rutil, spinel, magnetit,
korundum, kordierit, kyanit.

C.

METAMORFIK KATAKLASTIK

Foto : Sampel batuan dan Sayatan tipis batuan


Nama : MILONIT
Mineral utama : bervariasi tergantuang asal batuannya,
keping-keping (klast-klast) batuan dan rekristalisasi
mineral setelah deformasi.

-o-

81

Contoh batuan metamorf dengan cirri-cirinya :

A. Berfoliasi
1. Batusabak

: berpelet halus, memperlihatkan daun-daun


mika pada

bidang belahan, dengan

komposisi mineral lempung serisit.


2. Filit

: berlapis padat oleh daun mika yang tersusun


kompak dengan komposisi muscovit, serisit.

3. Sekis

: terlihat padat oleh skistositas berlapis halus


beraturan terdiri dari daun-daun mika yang
teratur, dengan komposisi mineral muscovit,
feldspar dan kwarsa.

4. Gneis

: Berlapis tak beraturan, berbutir kasar dengan


komposisi mineral muscovit, feldspar, kwarsa,
biotit dan garnet.

B. Non Foliasi
1. Marmer

:Komposisi mineral kalsit atau dolomit, hablur


atau masif.

2. Kwarsit

:Komposisi

mineral

kwarsa

terkristalisasi,

butirannya tumbuh.
3. Hornfels

:Keras seperti tanduk, halus afanitik, dan


terdiri dari berbagai mineral seperti kwarsa,
feldspar.

4. Serpentinit: Terutama terdiri dari mineral serpentin atau


talk hijau, masif dan talk berserabut.
5. Grafit

: Hitam, keras, mengotori tangan.

Batuan di atas umumnya hasil metamorf kontak.


82

FOLIATED OR BANDED ?
NO

YES

grain size

grain size

medium

coarse

splintary

YES

hornfels

very fine

fine

main minerals

calcite

quartz

marble

quartzite

medium

Colour ?

Pyroxene
feldspar

gree
n

coarse

banding

pale

phyllite

distinct

streaky

schist

granulite
slate

mylonite

gneiss

migmatite

Gambar 6.3. Diagram aliran untuk mengidentifikasi


batuan metamorf (con Gillen, 1982)

Table 6.1. batas antara diagnesa dan metamorfisme juga antara metamorfisme dan
pelelehan batuan (Con Gillen, 1982)

Temperature (0C)

Depth (Km)

20

Sedimentation burial

surface processes

100

diagenesis

overlap

200

metamorphism

1030

metamorphic process

650

partial melting

35-40

overlap

50-100

igneous processes

800-1200 magma formation

83

BAB III.

BATUAN BEKU

Batuan beku adalah batuan yang terjadi dari pembekuan


larutan silikat cair, pijar, yang di kenal dengan magma.
Penggolongan batuan beku dapat didasarkan kepada tiga
patokan utama, yaitu berdasarkan genetik batuan, senyawa
kimia yang terkandung dan susunan mineraloginya.
Pembagian yang berdasarkan genetik atau tempat terjadinya
batuan beku dapat dibagi atas :
a. Batuan ekstrusi, terdiri dari semua material yang dikeluarkan
kepermukaan bumi baik di

daratan

at aup un d i b aw ah

permukaan l aut . Mat e r i al i ni mendingin dengan cepat,


ada yang bersifat encer atau bersifat kental dan panas biasa
disebut lava.
b. Batuan i ntrusi, sangat berbeda dengan batuan ektrusi.
Tiga prinsip tipe bentuk intrusi batuan beku berdasarkan
bentuk dasar dan geometri adalah:
- Bentuk

tidak

beraturan,

pada

umumnya

diskordan d a n

b i a s a n y a m e m i l i k i b e n t u k y a n g j e l a s di permukaan

(Batholite dan Stock).


-

Intrusi berbentuk tabular, terdiri dari dua bentuk berbeda.


Yang mempunyai bentuk diskordan ( memotong batuan )
disebut korok/dyke, dan yang berbentuk konkordan (merobos
sejajar dengan batuan) diantaranya sill dan lakolit.
84

- Tipe ketiga dari tubuh intrusi relatif memiliki tubuh yang


kecil. Bentuk khas dari grup ini adalah intrusi silinder
atau pipa.
Kenampakan masing-masing tipe terobosan batuan beku dapat
dilihat pada Gambar 3.1.

Gambar 3.1. Tipe-tipe batuan terobosan

3.1. PENGERTIAN MAGMA


Magma adalah cairan atau larutan silikat pijar yang terbentuk
secara alamiah bersifat mobil, bersuhu antara 900-1200
atau lebih dan berasal dari kerak bumi bagian bawah atau
selubung

bumi

bagian

atas

Verhoogen,1960; H.Williams,1962).

85

(F.F,Grouts,

1947;

Turner

&

Komposisi kimiawi magma

dari

contoh-contoh batuan

beku terdiri dari :


a. Senyawa-senyawa yang bersifat non volatil dan merupakan
senyawa oks.ida dalam magma. Jumlahnya sekitar 99%
dari seluruh isi magma, sehingga merupakan mayor
elemen terdiri dari Si0 2 , Al 2 0 3 , Fe 2 0 3 , FeO, MnO, CaO,Na20,
K 2 0, Ti0 2 , P 2 0 5 .
b. Senyawa Volatil yang banyak pengaruhnya terhadap
magma,terdiri dari fraksi-fraksi gas CH4, CO2, HCl, H2 S, SO2,
dsb.
c. U n s u r - u n s u r l a i n y a n g d i s e b u t u n s u r j e j a k ( t r a c e

element ) dan merupakan minor element seperti Rb, Ba, Sr,


Ni, Co, V, Li, Cr, S, dan Pb.
Bunsen (1951, W.T. Huang) mempunyai pendapat bahwa ada
dua jenis magma primer, yaitu basaltis dan granitis, dan batuan
beku merupakan hasil c ampur an dari dua magma i ni

yang kemudian mempunyai komposisi lain. Dally 1933, Winkler


(Vide W.T. Huang,1962) berpendapat lain yaitu magma asli
(primer) adalah bersifat basa

yang

selanjutnya

akan

mengalami proses diferensiasi menjadi magma bersifat lain.


Magma basa bersifat encer (viskositas rendah), kandungan
unsur kimia berat, kadar H', OH - dan gas tinggi. sedangkan
magma asam sebaliknya.
3 . 2. E V O L US I M A GM A
Sekurang-kurangnya

genesa

batuan

maupun plutonik harus ditinjau dari tiga segi :


86

beku,

vulkanik

1. Faktor

yang

memerikan

bagaimana

dan

dimana

larutan bergenerasi di dalam selubung at au pada


kerak bumi bagian bawah .
2. Kondisi yang berpengaruh terhadap larutan sewaktu naik ke
permukaan.
3. Proses-proses di dekat permukaan yang menyempurnakan
generasi.
Magma dapat berubah menjadi magma yang bersifat lain oleh
proses-proses sebagai berikut :

Hibridisasi : Pembentukan magma baru karena pencampuran


dua magma yang berlainan jenisnya.

Sinteksis : Pembentukan magma

baru

karena

proses

asimilasi dengan batuan samping.

Anateksis : Proses pembentukan magma dari peleburan


batuan pada kedalaman yang sangat besar.

Dari

magma

dengan

kondisi

tertentu

ini

selanjutnya

mengalami differensiasi magmatik.


Differensi asi magmati k ini meliputi semua pr oses yang
mengubah magma dari keadaan awal yang homogen dalam
sekala

besar

menjadi

massa

batuan

beku

dengan

komposisi yang bervariasi.


Proses-proses diferensiasi magma meliputi :
fragsinasi ialah pemisahan kristal dari larutan magma,
karena proses kristalisasi berjalan tidak setimbang atau k r i s t a l kristal

pada

waktu

pendinginan

tidak

dapat

mengikuti perkembangan. Komposisi larutan magma yang


87

baru ini terjadi karena adanya perubahan temperatur dan


tekanan yang menyolok dan tiba-tiba dan tiba-tiba.
Crystal settling/gravitational settling adalah pengendapan
kristal oleh gravitasi dari kristal-kristal berat Ca, Mg, Fe
yang

akan

memperkaya

magma

pada

bagian

dasar

waduk. Disini mineral silikat berat akan terletak di bawah


mineral silikat ringan.
Liquid immisibility

ialah larutan magma yang mempunyai

suhu rendah akan pecah menjadi larutan yang masingmasing akan membeku membentuk bahan yang heterogen.
Crystal flotation adalah pengambangan kristal ringan dari
sodium dan potasium yang akan memperkaya magma pada
bagian atas dari waduk magma.
Vesiculation

adalah

proses

dimana

magma

yang

mengandung komponen seperti CO 2 , SO 2 , S 2 , Cl 2 dan


H20

sewaktu naik ke permukaan membentuk gelembung-

gelembung gas dan membawa jug a ko mp o ne n vo l at i l


So d i um ( N a) d an Po t asi um ( K ) .
D i f f usion

ialah

bercampurnya

batuan-batuan

dinding

dengan magma di dalam waduk magma secara lateral.


A

A= vesiculation
B= diffusion
B= crystal rising
D= flotation
E= crystal settling
F= region of highest velocity
G= assimilation of wall rocks

D
E

88

Gb 3.2. Skema diferensiasi


magma (Atlas of Volcanic
Phenomena USGS)

3.3. REAKSI BOWEN SERI DARI MINERAL UTAMA


PEMBENTUK BATUAN BEKU
Seri

reaksi

menunjukkan

Bowen
urutan

merupakan
kristalisasi

suatu

dari

skema

mineral

yang

pembentuk

batuan beku yang terdiri dari dua bagian.


Mineral-mineral tersebut dapat digolongkan dalam 2 (dua)
kelompok besar yaitu :
- Golongan mineral gelap atau mafik mineral
- Golongan mineral terang atau felsik mineral.
Dalam proses pendinginan magma dimana magm a i tu
tidak langsung semuanya membeku, tetapi mengalami
penurunan temperatur secara perlahan bahkan mungkin cepat.
Penurunan temperatur ini disertai mulainya pembentukan dan
pengendapan mineral-mineral tertentu yang sesuai dengan
temperatur nya.

Pembentukan

mineral

dalam

magma

karena penurunan temperatur telah disusun oleh Bowen.


Bowen telah membuat sebuah tabel pembentukan mineral dan
tabel

tersebut

sangat

berguna

sekali

dalam

mengintepretasikan mineral -mineral tersebut (Gambar 3.3).


Sebelah kiri mewakili mineral-mineral mafik, yang pertama
k a l i t e r b e n t u k d al am t e mp e r a t u r s ang at t i ng g i ad al ah
olivin. Akan tetapi jika magma tersebut jenuh oleh Si0 2
maka piroksen-lah yang terbentuk pertama kali. Olivin dan
piroksen

merupakan

pasangan
89

"inconruent

melting",

dimana setelah pembentukannya olivin akan bereaksi dengan


larutan sisa membentuk piroksen. Temperatur menurun
terus dan

pembentukan mineral berjalan sesuai dengan

temperaturnya. Mineral yang terakhir terbentuk adalah biotit,


dibentuk dalam temperatur yang rendah.
Mineral di sebelah kanan diwakili oleh mineral kelompok
plagioklas, karena mineral ini paling banyak terdapat dan
tersebar luas.

Anorthite adalah mineral yang pertama kali

terbentuk pada suhu yang tinggi dan banyak terdapat pada


batuan beku basa seperti gabro atau basal.
Andesin terbentuk pada suhu menengah dan terdapat pada
batuan beku diorit atau andesit. Sedangkan mineral yang
terbentuk pada suhu rendah adalah albit, mineral ini banyak
tersebar pada batuan asam seperti granit atau rhyolite.
Reaksi berubahnya komposisi plagioklas ini merupakan deret
"solid solution" y a n g m e r u p a k a n r e a k s i k o n t i n u , a r t i n y a
kristalisasi

pagiokias

Ca-Plagioklas

Na-plagioklas,

jika

reaksi setimbang akan berjalan menerus.


Mineral sebelah kanan dan sebelah kiri bertemu pada mineral
potassium feldspar dan menerus ke mineral muskovite dan
terakhir adalah mineral kwarsa. Maka mineral kwarsa
merupakan mineral yang pal ing stabil diantar a seluruh
mineral felsik atau mineral mafik, dan sebaliknya mineral
yang terbentuk pertama kali adalah mineral yang sangat
tidak stabil dan mudah sekali terubah menjadi mineral lain.
Dari segi tekstur, mineral-mineral yang terbentuk pada awal
kristalisasi pada temperatur tinggi akan mendingin secara perlahan,
90

menghasilkan kristal mineral berukuran kasar. Sebaliknya mineral


yang terbentuk pada temperatur rendah dan mendingin secara cepat
akan menghasilkan mineral-mineral berukuran halus.

Gambar 3.3. Seri Reaksi Bowen (Vide H. Williams, 1982)

Urutan kristalisasi mineral dalam reaksi Bowen tidak semata mata

menunjukan

"Successive

crystallitation",

tetapi

juga

"overlapping". Sehingga dengan memperhatikan reaksi Bowen,


kita memperoleh berbagai kemungkinan himpunan mineral
utama dalam batuan diantaranya sbb :
Kelompok batuan ultra basa dan basa

Olivin
Olivin-piroksen
Olivin-Plagioklas
91

Olivin-plagioklas-piroksen
Piroksen
Piroksen-plagioklas
Kelompok batuan intermediate :

Piroksen

Hornblende
plagioklas Hornblende
plagioklas Hornblende
plagioklas
biotite
kwarsa
Kelompok batuan intermediate asam :

Hornblende-biotit-orthoklas-plagioklas
Hornblende-biotit-muscovite-plagioklas-kwarsa
Biotit-muscovite-orthoklas, dsb
Sebenarnya didalam himpunan mineral tersebut di atas ada
suatu mineral lain yang sangat khas (tidak tertera dalam
deret Bowen) yaitu suatu kelompok seri batuan bersusunan
basa, yaitu mineral golongan felsfatoid (leusit, nefelin
dsb). Hadirnya mineral tersebut memberikan petunjuk bahwa
kandungan silica dalam magma terlalu rendah, sehingga tidak
memungkinkan terbentuk mineral golongan feldspar.
3. 4. KOMPOSISI MINERAL
Walter T.Huang,1962, mengelompokkan mineral ke dalam 3
kelompok yaitu :
A. Mineral Utama
92

Mineral-mineral ini terbentuk langsung dari kristalisasi magma,


dan

kehadirannya

sangat

menentukan

dalam

dan

densitas nya

mineral

penamaan

batuan.
Berdasarkan

warna

tersebut

dikelompokkan menjadi dua yaitu :


1. Mineral felsik (mineral berwarna terang dengan densitas
rata-rata 2,5-2,7), yaitu:
- Kuarsa (SiO2)
Kelompok

feldspar,

terdiri

dari

seri

feldsfar

alkali

( K , N a ) Al S i s0 8 . s e r i f e l d sp a r a l k a l i terdiri dari sanidin,


orthoklas,

anorthoklas,

plagioklas

terdiri

dari

adularia,
albit,

dan

mikroklin.

oligoklas,

seri

andesin,

labradorit, bitownit dan anorthite.


Kelompok feldsfatoid (Na, K Alumina silikat), terdiri dari nefelin,

sodalit, leusit.
2. Mineral mafik (mineral-mineral ferromagnesia dengan w ar na
ge lap d an de nsit as r at a -r at a 3 ,0 - 3 ,6) , yaitu :
-

Kelompok olivin, terdiri dari Fayalite dan Forsterite

Kelompok piroksen, terdiridari Enstatite, Hiperstein, Augit,


Pigeonit, Diopsid.

Kelompok mika terdiridari Biotite ,Muscovite, Plogopit.

Kelompok Ampibhole terdiri dari Anthofilit, kumingtonit,


Hornbelnde, Rieberkit, Tremolit-Aktinolit, Glaukofan dll.

B. MINERAL SEKUNDER
Merupakan mineral-mineral ubahan dari mineral utama, dapat
dari

hasil pelapukan, reaksi hidrotermal


93

maupun hasil

Tabel 3.1 . Pengenalan sifat fisik mineral

metamorfisme

terhadap

mineral -mineral

utama.

D e n g a n demikian mineral-mineral ini tak ada hubungannya


dengan pembekuan magma (non pirogenetik).
Mineral sekunder terdiri dari :
kelompok kalsit (kalsit, dolomit, magnesit, siderit), dapat

terbentuk dari hasil ubahan mineral plagioklas. kelompok


serpentin (antigorit dan krisotil), umumnya terbentuk
dari hasil ubahan mineral mafik (terutama kelompok
olivin dan piroksen).
kelompok klorit (prokhlor, talk), umumnya terbentuk dari

hasil ubahan mineral

kelompok plagioklas.

Kelompok serisit sebagai ubahan mineral plagioklas.


kelompok

kaolin (kaolin, hallosyte), umumnya ditemukan

sebagai hasil pelapukan batuan beku.


C. MINERAL TAMBAHAN (ACCESORY MINERALS)
Merupakan mineral-mineral yang terbentuk pada k r i st al i s asi
m ag ma , u mu mn y a d al a m j u ml ah se d i ki t . Apabila hadir
dalam

jumlah

banyak,

tetap

saja

tidak

mempengaruhi

penamaan batuan. Termasuk dalam golongan ini antara


lain: Hematit, kromit, spene, muskovit, rutile, magnetit, zeolit,
apatit dan lain-lain.
3. 5. STR UKT UR BATUAN BEKU
Struktur batuan beku adalah bentuk batuan beku dalam skala
besar, seperti lava bantal yang terbentuk dilingkungan air
(laut), lava bongkah, struktur ali ran dan lain-lainya. Suatu
94

bentuk struktur batuan sangat erat sekali dengan w akt u


t e r b e nt uknya.

Mac am - mac am

st r ukt u r

b at uan

b e ku

adalah:
a. Masif, Apabila tidak menunjukkan adanya sifat aliran
atau

jejak

gas,

atau

tidak

menunjukan

adanya

fragmen batuan lain yang tertanam dalam tubuhnya


b. Pillow lava atau lava bantal, merupakan struktur yang
dinyatakan pada batuan ektrusi tertentu, yang dicirikan
oleh masa berbentuk bantal dimana ukuran dari bentuk ini
adalah

umumnya

antara

30-60cm

dan

jaraknya

berdekatan, khas pada vulkanik bawah laut.


c. Joint, Struktur yang ditandai oleh kekar -kekar yang
tersusun secara tegak lurus arah aliran. Struktur ini
dapat berkembang menjadi "columnar jointing" .
d. Vesikuler, merupakan struktur yang ditandai

adanya

lubang - lubang dengan arah teratur. Lubang ini terbentuk


akibat keluarnya gas pada waktu pembekuan berlangsung.
e. Skoria, Seperti vesikuler tetapi tidak menunjukan arah yang
teratur.
f. Amigdaloidal, struktur dimana lubang-lubang keluarnya
gasterisi oleh mineral-mineral sekunder seperti zeolit, karbonat
dan bermacam silika.
g. Xenolith, struktur yang memperlihatkan adanya suatu
fragmen batuan yang masuk atau tertanam kedalam
batuan beku. Struktur ini terbentuk sebagai akibat
peleburan tidak sempurna dari suatu batuan samping
didalam magma yang menerobos.
95

h. Autobreccia, struktur pada lava yang memperlihatkan fragmenfragmen dari lava itu sendiri.
3. 6. TEKSTUR BATUAN BEKU
Tekstur dalam batuan beku dapat diterangkan sebagai hubungan
antara massa

kristal dengan massa gelas yang membentuk

massa yang merata dari batuan. Selama pembentukan tekstur


tergantung pada kecepatan dan orde kristalisasi. D i m a n a
keduanya

sangat

tergantung

pada

temperatur,

komposisi kandungan gas, viskositas magma dan tekanan.


Dengan demikian tekstur merupakan fungsi dari sejarah suatu
pembentukan batuan beku. Dalam hal ini tekstur menunjukan derajat
kristalisasi (degree of crystallinity), ukuran (grain size) atau
granularitas dan kemas (fabric) atau hubungan antar

unsur-

unsur tersebut (W.T.Huang,1962; Williams,1982).


Dalam kaitan dengan tekstur batuan, Rosenbusch mengemukakan
hukumnya :
Jika suatu mineral dilingkupi mineral lain, maka mineral

yang melingkupi lebih muda.


Mineral. yang terbentuk lebih awal biasanya berbentuk

euhedral

atau

paling

tidak

mendekati

euhedral

dibanding yang terbentuk kemudian.


kristal besar dan kecil bersama -sama dalam satu
batuan kristal besar adalah yang terbentuk lebih dulu.

3.6.1. Derajat Kristalisasi


Derajat kristalisasi merupakan keadaan proporsi antara
96

massa kristal dan massa gelas dalam batuan. Dikenal tiga


kelas derajat kristalisasi, yaitu :
a. Holokristalin : apabila batuan, tersusun seluruhnya oleh
massa kristal
b. Hipokristalin : apabila batuan tersusun oleh massa gelas
dan massa kristal
c. Holohyalin

: apabila batuan seluruhnya tersusun oleh

massa gelas
3.6.2 Granularitas
Granularitas merupakan ukuran butir kristal dalam batuan
beku, dapat sangat halus yang tidak dapat dikenal meskipun
menggunakan mikroskop, tetapi dapat pula sangat kasar.
Umumnya dikenal dua kelompok tekstur ukuran butir, yaitu
afanitik dan fanerik.
- Afanitik
Dikatakan afanitik apabila ukuran butir individu kristal
sangat halus, sehingga tidak dapat dibedakan dengan mata
telanjang. Batuan dengan tekstur afanitik dapat tersusun
atas massa kristal, massa gelas atau keduanya. Selain itu dikenal
pula

istilah

mikrokristalin

mikrokristalin
apabila

dan

kristal

kriptokristalin.
individu

dapat

disebut
dikenal

dengan mikroskop, sedangkan apabila tidak dapat dikenal


menggunakan mikroskop disebut kriptokristalin.
- Fanerik
Kristal individu yang termasuk kristal fanerik dapat
97

dibedakan menjadi ukuran-ukuran :


Halus, ukuran diameter rata-rata kristal individu < 1mm
Sedang, ukuran diameter kristal 1 mm - 5 mm
Kasar, ukuran diameter kristal 5 mm - 30 mm
Sangat kasar, ukuran diameter kristal > 30 mm
Derajat

kristalisasi

dan

granularitas

dipengaruhi

oleh

komposisi kimia magma dalam hal ini akan mempengaruhi


viskositas, kecepatan pendinginan dan kedalaman sebagai
fungsi tekanan. Magma dengan viskositas rendah dibawah
tekanan tinggi, maka kristalnya akan tumbuh dengan baik
dan sebaliknya untuk magma derajat viskositas tinggi
se r t a d e k at d e n g a n p e r m uk a an . D al am h al i ni b a t u an
holokristalin dengan ukuran butir sedang hingga kasar
merupakan ciri untuk batuan plutonik sedangkan untuk
batuan

kristalin

halus,

afanitik

dan

gelasan,

terbentuknya sebagai akibat pendinginan yang cepat dan


viskositas magmanya tinggi, yang khas terjadi pada magma
ektrusif, intrusif dangkal.
3.6.3. Kemas
Kemas meliputi bentuk butir dan susunan hubungan Kristal dalam
suatu batuan.
Bentuk Butir
Ditinjau dari pandangan dua dimensi, dikenal tiga macam :
- Euhedral, apabila bentuk kristal dari butiran mineral
mempunyai bidang kristal yang sempurna.
- Subhedral, apabila bentuk kristal dari butiran mineral
98

dibatasi oleh sebagian bidang kristal yang sempurna.


- Anhedral, apabila bentuk kristal dari butiran mineral
dibatasi oleh bidang kristal yang tidak sempurna.
Secara tiga dimensi dikenal :
- Equidimensional, apabila bentuk kristal ketiga dimensinya
sama panjang.
- T a b u l a r , a p a b i l a b e n t u k k r i s t a l d u a dimensi
lebih panjang dari satu dimensi lain.
- Iregular, apabila bentuk Kristal tidak teratur.
Relasi
Merupakan hubungan antara kristal satu dengan yang lain
dalam suatu batuan. Dari segi ukuran dikenal :
1. Granular atau Equigranular , apabila mineral mempunyai
ukuran butir yang relatif seragam, terdiri dari : Panidiomorfik
granular, yaitu sebagian besar mineral berukuran seragam dan
euhedral. Bentuk butir Euhedral merup akan pe nci ri mi ne ral mi ne ral

yang

t e rbent uk

paling

awal,

hal

ini

dimungkinkan mengingat ruangan yang t er sed ia masih


sangat l uas sehi ngg a mine r al -mineral tersebut sempat
membentuk Kristal secara sempurna.
a. Hipidimorfik

granular,

yaitu

sebagian

besar

mineralnya

b e r u k u r a n r e l a t i f s e r ag a m d a n s u b he d r al . B e n t u k
butiran penyusun subhedral atau kurang sempurna yang
merupakan penciri bahwa pada saat mineral terbentuk,
maka ro ngg a atau r uang an yang te rse di a sudah t ak
memadai untuk dapat membentuk kristal secara sempurna.
99

b. A l l o t i o m o r f i k

granular,yaitu

sebagian

besar

mineralnya berukuran relatif se ragam dan anhedral.


Bentuk butiran anhedral atau tidak beraturan sama
sekali merupakan pertanda bahwa pada saat mineral mineral penyusun ini terbentuk hanya dapat mengisi
rongga yang tersedia saja. Sehingga dapat ditafsirkan bahwa
mineral-mineral anhedral tersebut terbentuk paling
akhir dari rangkaian proses pembentukan batuan beku.
2. Inequigranular , apabila mineralnya mempunyai ukuran
butir tidak sama, antara lain terdiri dari :
a. Porfiritik, adalah tekstur batuan beku dimana k r i s t a l
b e s a r ( f e n o k r i s ) t e r t a n a m d a l a m m a s a dasar yang
lebih halus, dapat berupa butir kristal halus.
b. Vitroverik, apabila fenokris tertanam dalam massa dasar
berupa gelas.
c. Tekstur

khusus, adalah tekstur disamping menunjukkan

hubungan antara bentuk dan ukuran butir juga ada yang


menunjukkan arch serta menunjukkan pertumbuhan bersama
antara mineral-mineral yang berbeda. Tetapi tekstur ini sangat
sulit diamati secara megaskopis.
Terdiri dari :

Diabasik , tekstur dimana plagioklas tumbuh bersama


dengan piroksen, disini piroksen tidak terlihat jelas dan
plagioklas radier terhadap piroksen.

Trakhitik, tekstur dimana ruang antar kristal kristal plagioklas


ditempati oleh kristal-kristal piroksen, olivin atau bijih besi.
100

3.7. KLASIFIKASI DAN PENAMAAN BATUAN


Berbagai klasifikasi telah dikemukaka oleh beberapa ahli, kadangkadang satu batuan pads klasifikasi yang lain penamaannya
berlainan pula. Dengan demikian seorang petrolog harus
benar-benar mengerti akan dasar penamaan yang diberikan pada
suatu batuan beku.
3.7.1 Klasifikasi Berdasarkan Kimiawi
Klasifikasi ini telah

lama menjadi standar dalam geologi (C. J.

Hughes, 1962), dan dibagi dalam empat golongan, yaitu :


1. Batuan

beku

asam,

bila

batuan

beku

tersebut

mengandung lebih 66% Si02. Contoh batuan ini Granit dan


Rhyolit.
2. Batuan beku menengah atau intermediate, bila batuan beku
tersebut mengandung 52% - 66% Si02. Contoh batuan ini
Diorit dan Andesit.
3. Batuan

beku

basa,

bila

batuan

beku

tersebut

mengandung 45% -52% Si02. Contoh batuan ini Gabro dan


Basalt.
4. Batuan beku ultra basa, bila batuan beku tersebut mengandung
kurang dari 45% Si0 2 . Contoh batuan tersebut Peridotit dan
dunit.
3.7.2. Klasifikasi Berdasarkan Mineralogi
101

Dalam

klasifikasi

ini

indeks

warna

akan

menunjukkan

perbandingan mineral mafic dengan mineral felsic. S.J. Shand,


1943 membagi empat macam batuan beku , yaitu:
1. Leucocratic rock, bila batuan beku tersebut mengandung 30%
mineral mafic.
2. Mesocratic rock, bila batuan beku tersebut mengandung 30% 60% mineral mafic
3. Melanokratic rock, bila batuan beku tersebut mengandung 60-90%
mineral mafic.
4. Hipermelanuc rock, bila batuan beku tersebut mengandung lebih
90% mineral mafic.
Sedangkan S.J. Elis, 1948 membagi menjadi empat golongan
tekstur pula, yaitu
1. felsic, untuk batuan beku dengan indeks warna kurang dari 10%
2. Mafelsic, untuk batuan beku dengan indeks warna 10%-40%
3. Mafic, untuk batuan beku dengan indeks warna 40%-70%
4. Ultra mafic, untuk batuan beku dengan indeks warna lebih
dari 70%.
3.7.3. Klasifikasi Batuan Beku Yang Dipakai Di Laboratorium.
Klasifikasi batuan beku yang dipakai
petrologi adalah

klasifikasi

di laboratorium mineralogi

mengacu dari

W.Huang,1962, yaitu

berdasarkan kandungan kwarsa bebas atau s i l i k a s e r t a k e m a s


b a t u a n . D i s a m p i n g i t u j u g a mempertimbangkan proporsi
alkali feldfar dan plagioklas serta mineral utama yang lain.
Cara penggunaan klasifikasi (W.T. Huang,1962)
1. Dengan

memperhatikan

tabel,
102

dapat

diketahui

nama

batuan yang tercantum pada lajur yang menunjukkan cara


terjadinya dan jenis teksturnya. Untuk batuan vulkanik terletak di
bagian atas dari batuan plutonik.
2. Jenis dan kelompok batuan dibatasi oleh kolom-kolom dengan ciriciri mineral tertentu. Masing-masing jenis batuan dibatasi garis
kolom terpanjang, yaitu jenis b a t u a n a s a m ( a c i d ) , j e n i s
batuan

beku

menengah

(intermediate)

dan

jenis

batuan beku basa (mafik , alkali dan ultra mafik).


3. Masing-masing kolom jenis dibagi dalam kolom -kolom
kecil yang menunjukan kelompok batuan, dimana masing masing kolom mempunyai kandungan mineral yang hampir
sama, hanya saja berbeda teksturnya, yakni teksture
plutonik dan vulkanik.
4. Kwarsa sebagai mineral utama penyebaranya dibagi oleh
garis

bagi

kwarsa

dimana

bagian

kiri

dari

garis

tersebut adalah batuan yang mengandung kwarsa lebih


b e s a r d a r i 1 0 % . S e d a ng k a n d i se b e l a h k a na n g a r i s
merupakan batuan yang mengandung kwarsa kurang dari
10% (batuan jenis menengah dan basa).
5. Mineral

orthoklas

kesuluruhan
mikroklin,

alkali

dalam

hal

felsdfar

anorthoklas

dan

ini

meliputi

lainya

pengertian

seperti

lain -lainnya,

sanidin,

sedangkan

plagioklas dibedakan menjadi plagioklas asam dan basa.


Tahap penentuan jenis batuan beku :
1. Untuk pemerian batuan beku di sini adalah dengan
mengamati

kehadiran

mineral

kwarsa

menghitung proporsi secara relatif dalam batuan.


103

bebas

serta

2. Jika mineral kwarsa hadir dan mencapai 10% atau lebih


maka jenis batuannya adalah batuan beku asam.
3. Jika mineral kwarsa hadir dan kurang dari 10% maka
j e n i s b a t u a n n ya a d a l a h b a t u a n b e k u i n t e r me d i a t e
dicirikan dengan melimpahnya mineral orthoklas dan
mineral plagioklas asam (sodic plagioklas), sedangkan pada
jenis basa, dicirikan dengan

melimpahnya

plagioklas

basa (calcic plagioklas).


Plagioklas

asam

dibandingkan
pada

umumnya

dengan

kenyataannya

relatif

plagioklas

secara

cerah

basa,

megaskopis

tetapi

sulit

untuk

membedakannya.
Untuk

membedakannya,

kita

melihat

prosentase

kandungan mineral mafik yang utama. BOWEN berpendapat


bahwa batuan beku basa mengandung mineral o l i v i n
dan

piroksen

lebih

banyak

dibanding

mineral

hornblende.Sebaliknya batuan menengah /intermidiate


cenderung lebih b an y ak

me ng and ung

ho r nb l e nd e

d i b and i ng k an o l i vi n d a n p iroksen.
Namun

kaidah

tersebut

tidak

selalu

dapat

dipakai

terutama dalam batauan vulkanik. Pada batuan beku


menengah sering ditemukan piroksen pada andesit
piroksen, dimana kehadiran piroksen melimpah sehingga
sulit dibedakan dengan b asal . U nt uk i ni p r ak t i k an
ke mb al i

p ad a

p r i nsi p
104

W .T. H u ang ,1 9 6 2 ,

d i ma n a

u n t u k b a t u an b e ku me ne ng ah b an y ak mengandung
plagioklas asam (lebih cerah), sedangkan batuan beku
basa banyak mengandung plagioklas basa.
Tahap menentukan nama batuan :
Untuk menentukan nama batuan, maka dapat dilakukan dengan cara
sebagai berikut :
1. Tentukan terlebih dahulu jenis batuannya (seperti cara di
atas).
2. Tentukan kelompok batuannya berdasarkan proporsi dari mineralmineral mafik dan felsik.
3. Tentukan relasinya, kemudian menentukan nama batuannya.
Sebagai contoh dari hasil pemerian diketahui kandungan :
a. kwarsa 25%,
b. orthoklas 40%,
c. plagioklas 10%,
d. relasinya panidiomorfik granular.
Karena kwarsa lebih dari 10%, maka jenis batuannya adalah asam,
sedangkan kelompoknya adalah granit, granit porfir, atau rhyolit.
Setelah mengetahui relasinya panidimorfik granular, maka dapat
ditentukan nama batuannya adalah granit. Jika relasinya vitroferik,
maka nama batuannya rhyolit.
Jika secara megaskopis dapat dikenal tekstur khususnya, maka dapat
diketahui

nama batuannya.

sebagai contoh adalah Trachyte

dengan tekstur khususnya trakhitik,


khususnya diabasik.
105

dan

diabas dengan tekstur

Contoh pemerian batuan beku dapat dilihat pada Tabel 3.1.

Tabel 3.2. Contoh Diskripsi Batuan Beku

CONTOH DISKRIPSI BATUAN BEKU


No.

: 01

Lokasi

: LP 12 Lampung

Jenis Batuan

: Batuan beku asam

Warna

: Putih kecoklatan

Struktur

: Masif

Teksture

: -Holokristalin
-Fanerik kasar
-Subhedral
Hipidiomorfik granular

Komposisi

:Orthoklas 40%
Kwarsa 35%
Plagioklas 10%
Biotit 7%
Hornblende 6%

Lain-lain

: Mineral lain 2%

Nama Batuan

: Granit

106

Tabel 3.2 Determinasi Batuan Beku secara megaskopis (Walter T. Huang, 1962)

V
u
l
c
a
n
i
c

Bedded or
fragmental
accumulatio
ns surface
flow, and
ejecta

Tuff
Pyroclastic, glassy

Breccia

Tuff-breccia

High-silica glass
Obsidian, Perlite, Phitchstone, Purnice

Low-silica glass
Tachylite

Quartz porphyry

Surface flow
or shallow
dikes

Porphyro-spanitic
or sphanitic

Rhyolite

Trachyte

Dcite

Latite

V5

P-3

Granular

Quartz
monzonite
Monzonite

Granite
Usual occurrence

Usual texture
Characteristic

Mineralogical
composition

Tonalite
porphyry

Granodiorite

B.H.P

B.H.P

B.H.P

Syenite
porphyry

Diorite
porphyry

Orth. > Plag.

Orth. = Plag.

Orth. < Plag.


Silicic

Rock tipe

Chiefly sodic
plag.

Diabasic
texture

Leucite porphyry
Nepheline
porphyry

Diabase
Lamprophyre
Minette (Orth.-B.)
Kersantite (Plag.-B.)
Vogesite (Orth.-H.)
Malchite (Plag.-H.)

Syenite

Diorite

B.H.P

B.H.P

P-2

Quartz : present
Essential

Phopolite

P-4

Tonalite
P-1

M.B.H.

line

Large intrusives

Granodiorite
porphyry

Granite-pegmatite
Aplite

Panidiomorphic
Pegmatitic
Aplitic

Basalt

Gabbro
porphyry

deviding

Deep to
hypabyssal
dikes minor
intrusives

Porphyritic

Quartz
monoaonite
porphyry
Monoaonite
porphyry

Granite
porphyry

Andesite

Chiefly
Chiefly orth.
sodic plag.
Intermediate

Gabbro
Olivine
gabbro
Anorthosite
B.H.P

Nepheline
syenite

Ijolite
Missourite
+ Olivine

Orthoclase

Alkaline
piroxenes

Quartz : absent
Chiefly calcic
Feldspathoids: leucite, nepheline,
plag.
caneineti, etc.
Mafic
Alkalic

Abbrevation: M-muscovite, B-biotite, H-hornblende, O-olivine, Orth-orthoclase, Plag-plagioclase, P-pyroxene

27

Leucitite
Nephelinite
Nepheline
Basalt
+ Olivine
Leucite
Basalt

V-6

Quatz

p
l
u
t
o
n
i
c

Agglomerate

Hornblende
pyroxenite
dunite
Serpentinite
peridotite

Mafic
minerals
only B.H.O.P
Ultra mafic

51

28

BAB IV. BATUAN PIROKLASTIK


Batuan Piroklastik adalah batuan vulkanik yang berteksture klastik
yang dihasilkan oleh serangkaian proses yang berkaitan dengan
letusan gunung api,
yang

berbeda

penyusun

dengan

material

(W.T.Huang,1962,Williams,

tersebut

terendap kan

penyusun

1982).
dan

dari

asal

Material

terkonsolidasi

sebelum mengalami reworked oleh air maupun

es. Pada

kenyataannya bahwa batuan hasil letusan gunungapi dapat


berupa suatu hasil lelehan merupakan lava yang telah dibahas
dan diklasifikasikan kedalam batuan beku, serta dapat pula
berupa berupa produk ledakan atau eksplosif yang bersifat
fragmental dari semua bentuk cair, gas, atau padat yang
dikeluarkan dengan jalan erupsi.
4.1 KOMPOSISI MINERAL BATUAN PIROKLASTIK
Fisher,1984 dan Williams,1982 mengelompokkan material
penyusun batuan-batuan piroklastik sebagai berikut :
5. Kelompok Juvenil (Essential)
6. Bila

material

penyusun

dikeluarkan

langsung

dari

magma, terdiri dari padatan, atau partikel tertekan dari


suat u cair an yang mendingin dan kristal (pyrogenic

crystal,).
7. Kelompok Cognate (Accessory)
Bila material penyusunnya dari material hamburan yang
berasal dari letusan sebelumnya, dari gunungapi yang
sama atau tubuh vulkanik yang lebih tua dari dinding
kawah.
8. Kelompok Accidental (bahan asing)
Bila

material

penyusunnya

merupakan

bahan

hamburan yang berasal dari batuan non gunungapi


atau batuan dasar berupa batuan beku, sedimen
ataupun metamorf, sehingga mempunyai komposisi yang
beragam.
4.2. TEKSTUR BATUAN PIROKLASTIK
Variasi bentuk,pembundaran dan pemilahan batuan
pi r o kl ast i k mi r ip d e ng an b at uan se d i me n kl ast i k
p ad a

umumnya.

Hanya

unsur-unsur

tersebut

tergantung tenaga le t u s a n , p e n g u a p a n , t e g a n g a n
permukaan dan pengaruh

seretan. Kenampakan

yang khas pada batuan piroklastik adalah bentuk


butir yang runcing tajam, terutama dikenal sebagai

"glass

shard"

atau

gelas

adanya batuapung (Pumice).

30

runcing

tajam

serta

4.3. STRUKTUR BATUAN PIROKLASTIK


Seperti halnya struktur batuan beku, maka pada
batuan

piroklastik

juga

dijumpai

struktur

s e p e r t i s k o r i a , vesikuler, serta amigdaloidal.


4.4. KONPOSIS1 MINERAL BATUAN PIROKLASTIK
A.Mineral-mineralSialis(Silisiumaluminium)
Mineral-mineral sialis terdiri dari :
Kwarsa (SiO2) yang hanya ditemukan

pada

batuan

gunung api yang kaya akan kandungan silika atau bersifat


asam.
Feldspar,baik K-Feldspar,Na-Feldspar dan Ca-Feldspar.
Feldspathoid, merupakan kelompok mineral yang teriadi jika

kondisi larutan magma dalam keadaan tidak atau kurang


jenuh akan kandungan silika.
B. Mineral-mineral Ferromagnesia
Merupakan

kelompok

mineral

yang

kaya

akan

kandungan ikatan Fe-Mg silikat dan kadang-kadang disusul


dengan Ca-silikat.
Mineral-mineral tersebut hadir berupa kelompok mineral
:

31

Piroksen, merupakan mineral penting di dalam batuan

gunungapi.
Olivin, mineral yang kaya akan besi dan magnesium dan

miskin silika.
C. Mineral Tambahan
Mineral-mineral yang sering hadir
Hornblende

- magnetit

Biotit

- Ilmenit

4.5. KLASIFIKASI BATUAN PIROKLASTIK


Material piroklastik dapat dikelompokkan berdasarkan ukurannya
sebagai berikut (Schmid,1981 vide Fisher,1984).
Endapan piroklastik tak terkonsolidasi

6. Bomb gunungapi
Bomb adalah gumpalan-gumpalan lava yang mempunyai
ukuran lebi h besar d ar i 6 4 mm, d an seb ag i an at au
semuanya plastis pads waktu tererupsi. Beberapa bomb
mempunyai
contoh

u k ur a n

b o mb

yang

yang

sangat

besar

se b a g a i

mempunyai diameter 5 meter

dengan berat 200 kg dengan hembusan setinggi 600 m


selama erupsi di gunungapi Asama Jepang pada tahun 1935.
Bomb ini dapat dibagi atas tiga macam :
d. Bomb

Pita

(ribbon

32

bombs),

yaitu

bomb

yang

memanjang seperti suling dan sebagian besar gelembunggelembung memanjang dengan arah sama. Bomb ini
sangat kenthal mempunyai bentuk menyudut s erta
retakan kulitnya tidak teratur.
e. Bomb inti (cored bomb), yaitu bomb yang mempunyai inti
dari material yang terkonsolidasi lebih dahulu, mungkin
dari

fragmen-fragmen

sisa

erupsi

terdahulu

pada

gunungapi yang sama.


f. Bomb kerak roti (bread crust bombs), yaitu bom yang
bagian luarnya retak-retak persegi seperti nampak
pada kulit roti yang mekar, hal ini disebabkan oleh bagian
kulitnya cepat mendingin dan menyusut. Bentuk dan nama
tiap material piroklastik dapat dilihat pada Gambar 4.1.

Gambar 4.1. Beberapa bentuk batuan piroklastik


b. bomb pita; b. pita kecil; c. pele's tear; d. pele's hair;
e-h almond or spindle; i-j. bomb kerak roti ; k. block

33

7. Block Gunungapi (Volcanic Block)


Merupakan batuan piroklastik yang dihasilkan oleh erupsi
eksplosif dari fragmen batuan yang sudah memadat
lebih dulu dengan ukuran lebih besar dari 64 mm. Blokblok ini selalu menyudut bentuknya atau equdimensional.

Gambar 4.2. Block dengan komposisi dasite


sesudah tertansport dalam
dome piroklastik

8. Lapilli
Berasal dari bahasa latin yaitu lapillus, nama untuk
hasil

erupsi

eksplosif

gunungapi

yang

berukuran

2mm64mm. Selain dari atau fragmen batuan kadang-kadang


terdiri dari mineral-mineral

augit, olivin dan plagioklas.

9. Bentuk khusus lapilli yang terdiri dari jatuhan lava


diinjeksi dalam keadaan sangat cair dan membeku diudara,

34

mempunyai bentuk membola atau memanjang dan


berakhir dengan meruncing.

10. Debu Gunungapi


Adalah batuan piroklastik yang berukuran 2mm -1/256
mm Yang dihasilkan oleh pelemparan dari magma akibat
erupsi eksplosif Namun ada juga debu gunung api yang
teriadi karena proses penggesekan pada waktu erupsi
gunungapi. Debu gunungapi masih dalam keadaan belum
terkonsolidasi.
Endapan piroklastik yang terkonsolidasi
Merupakan akibat lithifikasi endapan piroklastik jatuhan
5. Breksi piroklastik (pyroklastic breccia)
Adalah

batuan

yang

disusun

oleh

block -block

gunungapi Yang telah mengalami konsolidasi dalam


jumlah lebih 50% serta mengandung lebih kurang 25%
lapilli dan abu.
6. Aglomerat (agglomerate)
Adalah batuan yang dibentuk oleh konsolidasi material
material dengan kandungannya didominasi oleh
bom

gunungapi dimana kandungan lapilli

kurang dari 25%.


7. Batu lapilli (lapilli stone)

35

dan abu

Adalah batuan yang dominan terdiri dari fragmen lapilli


dengan ukuran 2-64 mm
8. Tuff Adalah endapan dari abu gunungapi yang telah mengalami
konsolidasi, dengan kandungan abu mencapai 75%.
Macamnya : -tuff lapilli (lapilli tuff)
-tuff aglomerat (agglomerate tuff)
-tuff breksi piroklastik (pyroclastic breccia tuff)

Tabel 4.1. Batuan Piroklastik berdasarkan ukuran dan sifatnya.


Ukuiran butir

Sebutan

(mm)

(piroklastik)
Bomb, Block

64

1/16

Endapan Piroklastik
Tak terkonsolidasi

Terkonsolidasi

Bomb, Block

Agglomerat,

Tepra

Breksi
piroklastik

Lapillus

Tepra lapilli

Batu lapilli

Lapillus

Tepra lapilli

Batu lapilli

Debu kasar
(coarse ash grain)
Debu kasar
(coarse ash grain)
Debu halus

Debu kasar

Tuff, Debu kasar

Debu kasar

Tuff, debu kasar

Debu halus

Tuff, Debu halus

36

Batuan akibat lithifikasi endapan piroklastik aliran


5. Ignimbrit (ignimbrite)
Adalah batuan yang disusun dari endapan material oleh aliran
abu. Material-material ini dominan terdiri dari pecahan-pecahan
gelas dan pumice yang dihasilkan oleh buih-buih magma asam.
6. Breksi aliran piroklastik (pyroclastic flow breccia).
Adalah breksi yang dominan yang disusun oleh fragmenfragmen yang runcing serta ditransportasi oleh glowing

avalanches (akibat aliran awan panas).


7. Vitrik tuff
Adalah batuan yang dihasilkan dari endapan piroklastik aliran
terdiri dari fragmen abu dan lapilli, telah mengalami
lithifikasi dan belum terlaskan.
8. Welded tuff
Adalah batuan piroklastik basil dari piroklastik aliran yang telah
terlithifikasi dan merupakan bagian dari ignimbrit (istilah ini
umum dipakai di A.S, dan australia).
Beberapa mekanisme pembentukan endapan piroklastik
5. Endapan

piroklastik

jatuhan

(pyroklastic fall) yaitu

onggokan piroklastik yang diendapkan melalui

udara.

Endapan ini umumnya akan berlapis baik, dan pads lapisannya


akan memperlihatkan struktur butiran bersusun. Endapan

37

ini meliputi

aglomerat, breksi, piroklastik, tuff, lapilli.

6. Endapan piroklastik aliran (pyroclastic flow)


Yaitu

material

hasil

langsung

dari

pusat

erupsi,

kemudian teronggokan disuatu tempat. Hal ini meliputi hot


avalanche, glowing avalanche, lava collapse avalanche, hot
ash avalanche.
7. Aliran ini umumnya berlangsung pads suhu tinggi antara
500-650C, dan temperaturnya cenderung menurun selama
pengalirannya.

Penyebaran

pads

bentuk

endapan

sangat dipengaruhi oleh morfologi sebab sifat -sifat


endapan

tersebut

adalah

menutup

dan

mengisi

cekungan. Bagian bawah menampakan morfologi asal


dan bagian at asnya datar.
8. Endapan piroklastik surge (pyroclastic surge)
Yaitu suatu awan campuran dari bahan padat dan gas
(uap air) yang mempunyai rapat massa rendah dan
bergerak dengan kecepatan tinggi secara turbulent di
atas permukaan. Umumnya mempunyai pemilahan yang
baik, berbutir halus dan berlapis baik. Endapan ini mempunyai
struktur pengendapan primer

seperti laminasi dan perlapisan

bergelombang hingga planar. Yang paling khas dari endapan


ini mempunyai struktur silang siur, melensa dan bersudut
kecil. Endapan surge pada umumnya kaya akan keratan batuan

38

dan kristal.
Tabel 4.2. Penamaan batuan piroklastik
menurut Fisher, 1966 dan Williams, 1954

39

Tabel 4.3 Terms for mixed pyroclastic-epiclastic rock (After Schimid,1981)

40

Asal-usul Magma
Dalam siklus batuan dijelaskan bahwa batuan sedimen,
dan beku apabila mengalami peningkatan/penambahan
tekanan dan temperatur akan berubah secara isokimia
menjadi batuan metamorfis,
kemudian kalau suhunya makin tinggi akan terjadi
peleburan batuan tersebut dan cairan tersebut disebut
magma. Proses peleburan atau anateksis tersebut
menghasilkan magma kaya SiO2 atau magma asam,
yang kalau membeku akan menghasilkan mineralmineral feldspar alkali (ortoklas), kwarsa, plagioklas
asam dan mika (biotit & muskovit).

Mineral Pembentuk Batuan Beku


Mineral-mineral yang terbentuk dari magma adalah
mineral anhydrous, mereka terbentuk pada temperatur
tinggi di mana larutan miskin unsur volatil.
Mineral-mineralnya disebut pyrogenetic. Pembentukan
mineral-mineral tersebut menyebabkan larutan sisanya
lebih kaya unsur volatil dan akan membentuk mineralmineral yang mengandung gugus hydroxyl seperti

41

amfibol dan mika, ini disebut hydatogenetic.

Pembentukan mineral anhydrous pada suhu di atas


800C ini disebut stadia orthomagmatik. Beberapa
penulis

memasukkan

pembentukan

mineral

yang

mengandung gugus hydroxyl termasuk dalam fase ini.


Pada temperatur 600 - 800C magma memasuki fasa
pegmatik di mana magma terdiri dari larutan, kristal
dan gas.
Pada temperatur 400 - 600C, terjadi keseimbangan
antara kristal dan gas di mana pad fasa pneumatolitik
ini sering terbentuk mineral fluorit, turmalin dan topaz
yang mengandung unsur F, atau B (volatil bila sebagai
unsur).

42

REAKSI BOWEN SEBAGAI DASAR PENGENALAN


BATUAN BEKU
Reaksi Bowen adalah suatu skema yang menunjukkan urutan
kristalisasi dari mineral pembentuk batuan beku yang terdiri
dari

dua

bagian,

yaitu

urutan

kristalisasi

feromagnesia dan mineral plagioklas.

olivin

anortit
Ca. Plagioklas
bitaunit

piroksin

labradorit
hornblende

andesin
oligoklas

biotit

albit (Na. Plagioklaas)


K. feldspar
muscovit
kwarsa

43

mineral

Deret olivin :
Olivin ---> piroksen ---> hornblenda --->biotit --->K felspar
Deret plagioklas:
Plagioklas- Ca ---> plagioklas-Na ---> K.felspar
disusul oleh muskofit ---> kwarsa.

Suatu cairan magma basa yang tidak jenuh silika (SiO2)


kristalisasinya akan dimulai dengan olivin diikuti oleh atau
bersamaan dengan plagiaklas-Ca; sebaliknya bila magma tersebut

44

jenuh akan SiO2 maka piroksenlah yang akan terbentuk


langsung.
Dengan lain kata sejarah kristalisasi olivin sangat bergantung
pada kandungan SiO2 dalam magma asal. Olivin dan Piroksen
merupakan pasanganincongruent melting dimana olivin setelah
pembentukannya bereaksi dengan larutan sisa membentuk
piroksen. Di lain pihak, kristalisasi plagioklas-Ca pada fasa awal
berangsur-angsur dengan jalan bereaksi dengan larutan sisa
berubah komposisinya ke arah plagioklas- Na;

plagiokias

merupakan deret ; solid solution; yang terdiri dari reaksi yang


kontinu.
Dengan memperhatikan reaksi Bowen kita peroleh berbagai
kemungkinan himpunan mineral sebagai berikut:
kelompok batuan ultrabasa
- olivin
-olivin piroksen
kelompok batuan basa
- olivin-piroksen-plagioklas
-olivin-plagioklas
-piroksen-plagiolias
-piroksen
kelompok batuan bersusun sedang

45

-piroksen-hornblenda-plagioklas
-hornblenda-plagioklas
-hornblenda-biotit-plagioklas-kwarsa
-hornblenda-biotit-ortoklas-plagioklas
kelompok batuan bersusun sedang-asam
-hornblenda-biotit-muskovit-plagioklas,kwarsa
-biotit-muskovit-ortoklas-kwarsa
-biotit-muskovit-ortoklas,dsb

Sesungguhnya di dalam himpunan mineral seperti tercantum di


atas ada suatu mineral lain (tidak tertera dalam deret Reaksi
Bowen) yang sangat khas untuk suatu kelompok/ seri batuan
bersusunan basa, sedang dan asam yaitu mineral golongan
felspatoid (leusit, nefelin, dan sebagainya); mineral tersebut hadir
karena kandungan SiO2 terlalu rendah untuk memunculkan
felspar.

Selanjutnya dengan memperhitungkan tekstur yang dimiliki


batuan tersebut maka penggolongan/nama batuan menjadi lebih
semprna. Untuk batuan yang bertekstur halus dipergunakan
istilah extrusifnya (basalt, andesit, dan sebagainya) dan untuk

46

yang kasar dipakai istilah plutoniknya (gabro, diorit, dioritkwarsa, granit, monzonit, dan sebagainya).

Akan lebih tepat lagi apabila kita dapat memperbandingkan


kandungan ortoklas/plagioklas karena semakin basa batuannya
perbandingan

tersebut

semakin

kecil;

ini

berarti

bahwa

membedakan ortoklas dari plagioklas, bila dimungkinkan, menjadi


amat penting. Kandungan ortoklas yang kurang lebih sama
dengan plagioklas akan dicapai dalam kelompok batuan monsonitlatit.

Memang benar bahwa semakin basa batuan beku semakin


meningkat kadar Ca dalam plagioklasnya (semakin besar). Namun
demikian jenis plagioklas pada pengamatan secara megaskopik
tidak dapat ditentukan / dibedakan dari jenis lainnya. Sekalipun
mineral tambahan (accessory minerals) tidak turut berperan dalam
klasifikasi batuan namun kehadirannya perlu diamati bila masih
dapat dikenali pada skala megaskopik.

Mineral-mineral utama dalam batuan beku adalah


mineral-mineral dari kelompok silikat yang terdapat

47

dalam deret Bowen (+ felspatoid). Sedang mineralmineral tambahan umumnya dari kelompok oxida dan
sebagian kecil dari kelompok sulfida dan phosphat.
Mineral utama dikelompokkan menjadi mineral felsik
(kwarsa, plagioklas, alkali felspar dan felspatoid)
yang berwarna terang dan mineral mafik (olivin,
piroksen, amfibol, biotit) yang berwarna relatif gelap.

2.5.1 Mineral-mineral felsik


Plagioklas (NaAlSi3O8 - CaAl2Si2O8), albit sampai anortit
(tergantung prosentase Na/Ca nya). Mineral ini tidak
berwarna, mempunyai sistem kristal triklin, terdapat pada
hampir semua jenis batuan beku. Tidak jarang hadir sebagai
fenokris dan sering berstruktur zonasi. Pada sayatan tipis
dicirikan oleh kembaran Albit atau Karlsbad-Albit.
Alkali felspar (KAlSi3O8), terdiri dari Sanidin, Orthoklas,

48

Anorthoklas,

sistem

kristal

monoklin,

prismatik,

tidak

berwarna, putih, abu-abu, merah hati. Terdapat pada batuan


beku menengah sampai asam. Mikroklin mempunyai sistem
kristal triklin dan kadang-kadang berwarna hijau.
Nefelin (NaAlSiO4), hexagonal, piramidal, tidak berwarna,
putih atau kekuningan. Seperti leusit, mineral ini sering
terdapat pada lava yang miskin silika dan kaya unsur alkali
(K, Na).
Leusit (KAlSi2O6), pseudoisometrik, berwarna putih sampai
abu-abu, terdapat pada lava yang kaya potasik dan miskin
silika seperti di G. Muria, Ringgit-Beser dan Bawean.
Kwarsa (SiO2), hexagonal atau trigonal, pecahan concoidal,
pada umumnya tidak berwarna atau putih. Terdapat pada
batuan beku asam dan tidak pernah bersamaan dengan
olivin atau felspatoid.
2.5.2 Mineral-mineral mafik
Olivine (Mg2SiO4 - Fe2SiO4), orthorombik, bipiramidal,
pecahan concoidal, berwarna hijau botol. Terdapat pada
batuan beku basa sampai ultra basa.
Orthopyroxene (Mg, Fe) SiO3, orthorombik, diiramidal,
warna kehijauan atau kecoklatan. Terdapat pada batuan
beku basa sampai ultra basa.
Augite {Ca(Mg, Fe)Si2O6)}, monoklin, prismatik, dengan

49

belahan dua arah saling tegaklurus, berwarna hijau


gelap sampai hitam. Terdapat pada batuan beku basa
sampai ultra basa.
Pigeonite (Mg, Fe)SiO3), monoklin, prismatik, dengan
belahan dua arah saling tegaklurus, berwarna hijau
gelap sampai hitam. Komposisinya mirip hipersten, tetapi
lebih kaya Ca. pada pendinginan perlahan-lahan,
pigeonite mungkin digantikan oleh hipersten dengan
exolution augit.
Diopsite {Ca(Mg, Fe)Si2O6) - (Mg, Fe)SiO3)}, monoklin,
prismatik, dengan belahan dua arah saling tegaklurus,
berwarna hijau gelap sampai hitam.
Aegirine NaFe3+Si2O6)}, monoklin, prismatik, dengan
belahan dua arah saling tegaklurus, berwarna hijau
muda. Terdapat pada batuan beku kaya alkali.
Hornblende
{NaCa2(Fe,Mg)4AlSi6Al2O10(OH,F)2,
monoklin, prismatik, dengan belahan dua arah bersudut
56 & 124, berwarna coklat, hijau dan kadang-kadang
hitam. Terdapat pada batuan beku intermidiat sampai
asam intrusif maupun volkanik.
Biotite
{K(Mg,
Fe)3AlSi3O10(OH,F)2},
monoklin,
prismatik, berwarna coklat atau hijau, sering
memperlihatkan bentuk segi enam, pipih-pipih dan
mudah dibelah. Terdapat pada batuan beku menengah
sampai asam baik plutonik maupun volkanik.

2.5.3 Mineral-mineral tambahan


Muscovite {KAl3Si3O10(OH,F)2}, monoklin, prismatik, berwarna
putih, sering memperlihatkan bentuk segi enam, pipih-pipih dan
mudah dibelah seperti biotit. Terdapat pada batuan beku

50

asam.
Zircon (ZrSiO4), berwarna coklat pucat, prismatik pendek, kalau
dibelah persegi, terdapat sebagai mineral tambahan dalam
berbagai jenis batuan beku.
Sphene {CaTiSiO4 (OH, F)}, berwarna kecoklatan dengan bentuk
rombohedral, terdapat sebagai mineral tambahan dalam
berbagai jenis batuan beku.
Apatit

{Ca5(PO4)3(OH,F,Cl)},

hexagonal

tumpul

pada

tidak
batuan

berwarna,
beku

berbentuk

basa,

berupa

prismaprisma panjang pada batuan beku asam.


Rutil (TiO2), tetragonal, berwarna coklat kemerahan, terdapat
sebagai mineral tambahan dalam berbagai jenis batuan beku.
Hematit (Fe2O3) dan Ilmenit (FeTiO3), terdapat sebagai mineral
tambahan dalam berbagai jenis batuan beku.
Flourite (CaF2), tidak berwarna, kadang-kadang berwarna ungu,
sering terdapat pada vein hidrotermal atau sebagai mineral
tambahan pada granit.
Pirit (FeS2), Kalkopirit (CuFeS2), sering terdapat pada batuan
yang terpengaruh larutan hidrotermal.

51

Mineral-mineral Sekunder
Serisit
Karbonat
Klorit
Albit
Adularia
Serpentin
Epidot
Tremolit-aktinolit
Sausurit
Mineral lempung
Limonit

KLASIFIKASI BATUAN BEKU


Pendekatan yang mudah diterima untuk klasifikasi batuan beku
adalah yang didasarkan atas mineralogi dan tekstur.
index warna kadang-kadang dapat membantu. Pada umumnya
klasifikasi batuan beku afanitik harus didasarkan pada hasil
analisa kimia terutama kandungan SiO2.
Untuk pemerian tekstur batuan beku yang ekigranuler gunakan

52

istilah

seperti

hypidiomorf

idiomorf-granuler
granuler

(kristalnya

(kristalnya

euhedral,
sebagian

euhedral/subhedral/anhedral), alotriomorf granuler (kristalnya


anhedral), dan nyatakan besarnya butirnya (halus, sedang,
kasar sesuai dengan ketentuan mengenai ukuran butir yang
bersangkutan).
Untuk batuan yang tidak seragam besar butirnya (porfiritik)
hendaknya ditentukan jenis mineral sebagai fenokris sedangkan
untuk masa dasarnya (besar butir seragam) digunakan istilah:
idiomorf granular, dan sebagainya.
Disamping

itu

masadasar

batuannya

dapat

pula

memperlihatkan kenampakan khusus seperti vesikuler (lubang


bekas gas), amygdaloid (lubang gas yang diisi mineral
sekunder) trakhitik (struktur aliran yang diinyatakan oleh
orientasi sejajar kristal felspar), ofitik (pertumbuhan piroksen &
plagioklas), intergranuler (butir mineral feromagnesia diantara
prisma plagioklas - khas pada basalt). Masadasar batuan dapat
juga terdiri dari bahan kristalin dan nonkristalin (amorf)
ataupun

memperlihatkan

kesejajaran

mineral

memanjang

(felspar, piroksen, hornblenda), baik membentuk struktur linier


maupun planer yang menunjukkan jejak aliran (lava atau
intrusi).

53

Klasifikasi Secara Kimiawi


Klasifikasi secara kimia sangat beragam; ada yang memakai
analisa kimia secara komplet atau hanya sebagian sebagai dasar
klasifikasinya.
Dengan

keyakinan

bahwa

magma

yang

mengalami

pengkristalan suatu saat akan jenuh terhadap suatu mineral, maka


diambil SiO2 sebagai dasar untuk klasifikasi. Dari kandungan
SiO2 hasil analisa kimia maka batuan dibagi menjadi;
asam

SiO2 > 66 %

sedang

SiO2 antara 52 - 66 %

basa

SiO2 antara 45 - 52 %

ultrabasa

SiO2 < 45%

Klasifikasi ini tentu saja tidak bisa dipakai di lapangan, tetapi


bila dikaitkan dengan indeks warna maka batuan asam akan
mempunyai perbandingan mafik/felsik kecil dan sebaliknya untuk

54

batuan ultrabasa, karena kebanyakan batuan ultrabasa juga


ultramafik. Bila dikaitkan dengan reaksi Bowen maka batuan
ultrabasa terletak di atas (olivine + Ca-plagioklas) dan batuan
asam di bawah (biotit, alkalo felspar, Na-plagioklas)
Disamping klasifikasi di atas masih ada klasifikasi berdasar
kejenuan silika yaitu: sangat jenuh silika (oversaturated), yaitu
bila

mengandung

kwarsa;

sangat

tidak

jenuh

silika

(undersaturated), yaitu bila batuan mengandung mineral-mineral


yang defisit SiO2 seperti leusit, nefelin, olivin, korundum dan jenuh
silika (saturated), bila tak ada kwarsa bebas tetapi tanpa mineral
defisit SiO2.

Klasifikasi dan penaman batuan volkanik berdasar prosentase


mineral kwarsa (Q), plagioklas (P), alkali felspar (A) dan felspatoid
(F) dari contoh batuan di lapangan.
%
SiO2

tipe batuan

indeks
warna

> 66

Asam

< 30

komposisi mineral

nama batuan

kwarsa, alkali
feldspar, plagioklas,
biotit, hornblende

granit (riolit),
granodiorit (dasit),
diorit kwarsa (dasit)

< 40

alkali feldspar,
plagioklas, kwarsa,
hornblende,
piroksin, biotit

syenit (trakit),
monzonit(trakiande
s)
diorit (andesit)

52 - 66

Intermidiate

45 - 52

Basa

40 - 70

plagioklas, piroksin,
olivin

gabro (basalt)

< 45

Ultrabasa

> 70

olivin, piroksin

peridotit (limburgit)

55

BEBERAPA BATUAN BEKU YANG UMUM DIJUMPAI


Batuan Plutonik
Granit; komposisi utamanya adalah kwarsa, potasium feldspar
(orthoklas dan mikroklin) dan plagioklas (umumnya oligoklas).
Bila porfiritik alkali feldspar hadir sebagai fenokrisnya. Selain
mineral-mineral di atas, dalam granit alkali ditandai dengan
hadirnya piroksen (aegirin dan aegirin-augit) dan amfibol (riebekit)
kaya sodium. Alterasi yang umum adalah: biotit ------ klorit, sfene;
KF ------ serisit, kaolin; plagioklas ------ epidot, zoisit, serisit,
kaolin.
Syenit, merupakan
bentuk mineralnya
unorthoklas, ortoklas,
plagioklas (An 20-40).

batuan bertekstur fanerik (kasar/sedang),


subhedral, kandungan KF (sanidin,
mikroklin) jauh lebih banyak dari pada
Mineral mafiknya adalah biotit, hornblende

56

(hijau
atau
coklat)
augit,
diopsidik-augit;
sedangkan
accessoriesnya adalah muskovit, zircon, apatit dan mineral opaq,
sfene,kalsit, zeolit termasuk kwarsa atau olivin. Tekstur pertit,
mikrografik dan myrmekitik adalah umum. Syenit bisa
mengandung kwarsa (maksimal 10%) tetapi bisa juga tidak; bila
kandungan feldspatoid (sodalit, leusit, atau nefelin) cukup banyak
disebut foid-syenit.

Monzonit, merupakan batuan seperti syenit tetapi jumlah


plagioklasnya (oligoklas sampai andesin, sebagian zoning) hampir
sama dengan alkali feldspar (ortoklas dan kadang-kadang
mikroklin). Mineral mafik dan tambahannya sama seperti pada
syenit.
Diorit adalah batuan bertekstur fanerik dengan komposisi
utama plagioklas (An 40-45, kadang-kadang zoning, umumnya
subhedral), biotit dan hornblende berwarna coklat atau hijau,
hyperstin atau augit bila hadir umumnya adalah subhedral,
prismatik dan poikilitik. Muskovit, kwarsa, ortoklas atau olivin

57

kenungkinan hadir dalam jumlah sedikit. Accessories mineralnya


adalah zircon, apatit, sfene dan oksida besi serta kadang-kadang
mineral metamorfik. Mineral ubahan kareana reaksi (magmatik)
sering muncul pada mineral: piroksin ------ amfibol, biotit;
hornblende ------ biotit; biotit ------ klorit, sfene; plagioklas ------
epidote, zoisit, kalsit, kaolin, serisit.
Gabbro merupakan batuan basa bertekstur fanerik dengan
komposisi utama plagioklas (An 50 hingga An100, tetapi
umumnya sekitar An 65; tidak berstruktur zoning). Mafik
mineralnya terutama hiperstin dan augit (kadang-kadang exolution
atau kembar) dan sering kali olivin. Mineral lain yang mungkin
hadir dalam dalam jumlah kecil adalah mika, kwarsa, KF, nefelin,
hornblende, oksida besi, sulfida, apatit, spinel, sfene, rutil dan
garnet. Poikilitik, ofitik dan rims pada piroksin adalah struktur yang
sering terdapat pada gabro. Alterasi yang umum adalah plagioklas
------ serisit, zoisit, epidote, kalsit, albit, klorit, ortoklas; olivin ------
serpentin, talc, amfibol; ortopiroksin ------ amfibol, klorit, talc,
serpentin; biotit ------ klorit, sfene, epidot prehnit.

Batuan Volkanik
Trakit mempunyai tekstur afanitik dan komposisinya sama
dengan syenit, komposisi utamanya sanidin (sedikit ortoklas),
sebagai fenokris maupun masa dasar. Plagioklasnya oligoklas
atau albit. Biotit umumnya hadir sebagai kristal euhedral. Mineral

58

yang lain adalah hornblende, kwarsa, tridimit, fayalit, (Na-amfibol


dan piroksen dalam alkali trakit. Mineral tambahannya adalah
zircon, apatitoksida besi dan sfene, sedang tekstur yang khas
adalah trakitik.
Andesit, sering memperlihatkan tekstur/struktur vesikuler,
amigdaloidal, trakitik, atau subofitik. Komposisi plagioklasnya
bervareasi dari anortit hingga oligoklas, dengan rata-ratanya
An40. Struktur zoning sangat umum dijumpai pada fenokrisnya,
sedang pada masadasar plagioklasnya lebih kaya Na (asam)
dibanding mereka pada fenokris. Piroksennya bisa diopsidik augit,
augit, pigeonit/hiperstin, mereka bisa sebagai fenokris dan masa
dasar.
Basalt, batuan ini mungkin merupakan intrusi dangkal atau
aliran lava dengan tekstur holokristalin, holohialin, intergranular,
intersertal, ofitik, subofitik, vesikuler. Pada basalt mineral
penyusunya adalah plagioklas dan piroksin. Komposisi
plagioklasnya bervareasi dari bytownit sampai labradorit, dengan
rata-rata An55, bila batuannya porfiritik, sering terdapat sebagai
fenokris dan masa dasar.berbentuk euhedral sampai subhedral,
pada umumnya berkembaran albit dan kadang-kadang zoning.
Basalt kadang-kadang bertekstur afirik. Mafik mineralnya
kebanyakan adalah piroksen (augit, diopsit, pigeonit/hiperstin dan
olivin) hadir sebagai fenokris atau masa dasar. Mineral
tambahannya adalah bijih besi dan apatit, sedang fase akhir
pembekuan sering menghasilkan gelas, KF, nefelin, atau tridimit.
Alterasi:
Olivin
Piroksen
Ca-plagioklas
Bijih besi
glas

------> iddingsit, serpentin, klorit


-------> serpentin, klorit, actinolit, carbonat
-------> albit, klorit, kaolin
-------> sfene
-------> klorit, palagonit, mommorilonit

59

Batuan basaltik kaya piroksen, plagioklas dan foid (leusit,


nefelin) disebut tefrit, tetapi bila yang dominan olivin disebut
basanit.
Berdasar kehadiran mafik mineral serta sifat-sifat
kimiawinya (Ti, K, Al) yang ternyata erat dengan lingkungan
terbentuknya basalt dibedakan menjadi (tabel ): Tholeiit,
Olivin tholeiit, Basalt high Al2O3, dan Basalt alkali.

Tekstur
Kenampakan sekala kecil dari suatu batuan beku dapat
dideterminasi pada contoh batuan (hand specimen)
dengan mata telanjang atau dengan bantuan loupe.
Pertama yang harus diperhatikan adalah keadaan
mineral
mineral

penyusun

batuan.

Apabila

butiran-butiran

dapat dilihat dan dikenali, maka batuan

diklasifikasikan sebagai faneritik, jika tidak adalah

afanitik. Batuan ekstrusif yang sering mengandung


infiltrasi mineral pada lubang-lubang gasnya tidak
termasuk faneritik.
Dari ukuran butir ini dengan cepat bisa diketahui
bahwa kebanyakan batuan intrusif adalah faneritik

60

dan batuan ekstrusif adalah afanitik.


Perlu dicatat bahwa baik batuan beku intrusif maupun
ekstrusif pada umumnya memperlihatkan penurunan
ukuran butir bila mendekati kontak dengan batuan
samping, bahkan terkadang mengandung gelas
Secara umum dapat disimpulkan bahwa besar/kecilnya
ukuran kristal dapat dikorelasikan dengan kecepatan
pendinginan; berbutir halus bila pendinginanya cepat
dan lebih kasar bila lebih lambat.
Kadang-kadang di dalam batuan terdapat kristal-kristal
yang jauh lebih besar dibanding lainya. Kristal-kristal
besar yang disebut fenokris pada umumnya dianggap
mewakili tahap kristalisasi yang lebih lambat dibanding
kristal halus (masa dasar) di sekitarnya. Pengujian
lebih teliti menunjukkan bahwa pada umumnya fenokris
hanya terdiri dari satu atau dua macam mineral
didalam masa dasar yang mineralnya lebih bervareasi.
Bila mineral-mineralnya terlihat dalam contoh batuan
(faneritik), yang kemudian perlu diamati/dicatat ialah

61

keseragamannya
Keseragaman

(granularitas)

besar

butir

dan

orientasinya.

menunjukkan

bahwa

kristalisasi terjadi pada saat magma berhenti. Orientasi


mineral

terbentuk

bila

magma

mengalir

selama

kristalisasi sebagian atau seluruhnya.


Struktur aliran kadang-kadang bisa dideteksi dengan
kehadiran lubang-lubang gas yang memanjang atau
kesejajaran fenokris atau inklusinya. Struktur aliran ini
pada umumnya terdapat pada tepian tubuh intrusi atau
didekat atap (top) atau alas (bottom) suatu aliran,
sedang kesejajaran fenokris bisa terdapat di mana saja.

Pada batuan segar, warna batuan beku adalah warna dari


macam-macam mineral pembentuknya. Apabila batuan
lapuk warnanya dipengaruhi oleh pelapukan (oxidasi dan
hydrasi) yang bisa mengubah sebagian atau seluruh
mineral menjadi mineral baru yang stabil pada kondisi
atmosferik

(illite,

sericite/muscovite,

monmorillonite,

serpentine, dan ion-ion Si, K, Na, Ca, Mg, Fe).

62

Dengan dasar warna pada batuan segar, dapat dibuat


klasifikasi secara kasar. Batuan-batuan yang kaya silika
umumnya mengandung banyak kwarsa dan felspar akan
memberikan warna terang. Batuan-batuan kaya Fe dan
Mg akan banyak mengandung mafik mineral (olivin,
piroksen, amfibol, biotit) dan berwarna gelap. Dengan
dasar perbandingan jumlah mineral gelap dan terang
(indeks

warna),

maka

batuan

dapat

diperkirakan

komposisinya secara kasar. Batuan yang mengandung


mineral-mineral ferro-magnesian kurang dari 30 %
dikatakan berwarna terang atau leucocratic; 30 - 60 %
disebut mesocratic dan lebih dari 60 % mineral ferromagnesian disebut melanocratic.
Batuan beku bertekstur faneritik dapat dideskripsi
dengan baik mengenai komposisi, warna, cleavage,
bentuk mineral dll. dengan bantuan loupe. Sedang batuan
afanitik dapat diamati warna dan fenokris-fenokrisnya.

63

STRUKTUR BATUAN BEKU


Masif, apabila batuan beku tidak memperlihatkan adanya
sifat aliran atau jejak gas atau tidak menunjukkan adanya
fragmen batuan lain yg tertanam dalam tubuhnya.
Pillow lava, dicirikan oleh massa bentuk bantal dan khas
terbentuk pada vulkanik di bawah air laut.
Joint, struktur yg ditandai dengan kekar-kekar tersusun
secara tegak lurus arah aliran. Berkembang menjadi
Columnar Joint.
Vesikuler, ditandai dengan adanya lubang-dengan arah
teratur, terbentuk

akibat keluarnya gas pada waktu

pendinginan.
Skoria, seperti vesikuler tetapi tidak menunjukkan arah

64

yang teratur
Amigdaloidal, lubang-lubang bekas keluarnya gas

telah

terisi oleh mineral-mineral sekunder misl zeolit, karbonat


ataupun silika.
Xenolith, memperlihatkan adanya fragmen batuan lain yg
tertanam dalam massa batuan. Terbentuk dari peleburan
batuan samping yang tidak sempurna.
Autobreksia

struktur

pada

lava

fragmen-fragmen dari lava itu sendiri.

65

yg

memperlihatkan

66

67