Anda di halaman 1dari 11

MAKALAH

TUGAS MATA KULIAH KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


PRINSIP PENCEGAHAN INFEKSI PADA PERAWATAN JENAZAH

Kelas I A
Disusun Oleh:
1.
2.

Syifa Maulida
Dinda Nur Aida

1402450032
1402450033

KEMENTRIAN KESEHATAN RI
BADAN PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA KESEHATAN
POLTEKKES MALANG JURUSAN KEBIDANAN
PRODI DIV KEBIDANAN MALANG
TAHUN 2014

PEMBAHASAN
A. Definisi Perawatan Jenazah
Perawatan jenazah adalah suatu tindakan medis dengan melakukan
pemberian

bahan kimia

tertentu

pada jenazah untuk menghambat

pembusukan serta menjaga penampilan luar jenazah supaya tetap mirip


dengan kondisi sewaktu hidup.
Jenazah yang meninggal akibat penyakit menular akan cepat
membusuk dan potensial menular petugas kamar jenazah. Keluarga serta
orang-orang di sekitarnya. Perawatan jenazah penderita penyakit menular
dilaksanakan dengan selalu menerapkan kewaspadaan universal. Setiap
petugas kesehatan terutama perawat harus dapat menasihati keluarga dan
mengambil tindakan yang sesuai agar penanganan jenazah tidak menambah
resiko penularan penyakit seperti halnya hepatits/B, AIDS, kolera dan
sebagainya.
B. Tujuan Perawatan Jenazah
Adapun tujuan dari perawatan jenazah yaitu :
- Untuk mencegah terjadinya pembusukan pada jenazah.
- Dengan menyuntikkan zat-zat tertentu untuk membunuh kuman seperti
pemberian injeksi formalin murni, agar tidak meninggalkan luka dan
membuat tubuh menjadi kaku. Dalam injeksi formalin dapat dimasukkan
ke mulut hidung dan pantat jenazah.
C. Prinsip dalam Perawatan Jenazah
1. Selalu menerapkan Kewaspadaan Universal (memperlakukan setiap cairan
tubuh, darah dan jaringan tubuh manusia sebagai bahan yang infeksius).
2. Pastikan jenazah sudah didiamkan selama kurang lebih 4 (empat) jam
sebelum dilakukan perawatan jenazah. Ini perlu dilakukan untuk
memastikan kematian seluler (matinya seluruh sel dalam tubuh).
3. Tidak mengabaikan budaya dan agama yang dianut keluarga.
4. Tindakan petugas mampu mencegah penularan.

D. Ketentuan Umum Penanganan Jenazah :


1. Semua petugas/keluarga/masyarakat yang menangani jenazah sebaiknya
telah mendapatkan vaksinasi Hepatitis-B sebelum melaksanakan
perawatan jenazah (catatan: efektivitas vaksinasi Hepatitis-B selama 5
tahun).
2. Hindari kontak langsung dengan darah atau cairan tubuh lainnya.
3. Luka dan bekas suntikan pada jenazah diberikan desinfektan.
4. Semua lubang-lubang tubuh, ditutup dengan kasa absorben dan diplester
kedap air.
5. Badan jenazah harus bersih dan kering.
6. Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh di buka lagi.
7. Jenazah tidak boleh dibalsem atau disuntik untuk pengawetan atau autopsi,
kecuali oleh petugas khusus.
8. Dalam hal tertentu autopsi hanya dapat dilakukan setelah mendapat
persetujuan dari pimpinan Rumah Sakit.
E. Kewaspadaan Universal Petugas/Keluarga/Masyarakat
Kewaspadaan Universal (Universal Precaution) adalah tindakan
pengendalian infeksi sederhana yang digunakan oleh seluruh petugas
kesehatan/keluarga/masyarakat dalam rangka mengurangi resiko penyebaran
infeksi. Kewaspadaan umum (universal precaution) 1987 oleh Centers Of
Disease Control (CDC) di Amerika dibentuk sebagai respon terhadap resiko
penularan HIV pada tenaga kesehatan dari pasien yang status infeksinya tidak
diketahui.
Secara umum, Kewaspadaan Universal meliputi :
1. Pengelolaan alat kesehatan habis pakai.
2. Cuci tangan dengan sabun guna mencegah infeksi silang.
3. Pemakaian alat pelindung diri, misalnya pemakaian sarung tangan untuk
4.
5.
6.
7.
F.

mencegah kontak dengan darah serta cairan infeksius yang lain.


Pengelolaan jarum dan alat tajam untuk mencegah perlukaan.
Pengelolaan limbah dan sanitasi ruangan.
Desinfeksi dan sterilisasi untuk alat yang digunakan ulang.
Pengelolaan linen.

Penanganan Alat-alat yang Sudah Terkontaminasi Cairan Tubuh ODHA :

1. Dekontaminasi alat-alat
Dilakukan agar alat-alat kesehatan dapat ditangani secara aman oleh
petugas pembersih alat medis. Alat kesehatan yang dimaksud adalah
meja pemeriksaan, meja operasi, alat-alat bedah, sarung tangan dan
peralatan kesehatan lain yang terkontaminasi oleh cairan tubuh ODHA
setelah pelaksanaan suatu prosedur atau tindakan medis. Alat kesehatan
yang digunakan direndam dalam larutan desinfektan yaitu chlorine
0.5% selama 10 30 menit. Dekontaminasi peralatan yang tidak bisa
direndam misalnya

permukaan meja, dapat dilakukan dengan

menggunakan lap yang dibasahi desinfektan.


2. Pencucian dan Pembilasan
Pencucian alat-alat kesehatan adalah proses secara fisik untuk
menghilangkan darah, cairan tubuh atau benda-benda asing (debu atau
kotoran). Setelah dicuci dengan deterjen, alat kesehatan dibilas dengan
air bersih.
3. Sterilisasi
Macam-macam sterilisasi yang biasa dilakukan :
a. Sterilisasi fisik
Pemanasan basah, untuk koagulasi dan denaturasi protein.
Dilakukan pada suhu 121 derajat Celcius selama 20-30 menit.
Pemanasan kering, yaitu melalui oven, pembakar, sinar infra
merah. Digunakan untuk membunuh spora. Pemanasan dilakukan
pada suhu 150- 170 derajat Celcius selama 30 menit.
Radiasi sinar gamma. Biaya sangat mahal dan hanya digunakan
pada industri besar misalnya jarum suntik, spuit disposable dan alat
infus.
b. Sterilisasi kimiawi
Glutaraldehyde 2% untuk merendam alat kesehatan 8-10 jam dan
formaldehyde 8%. Kedua zat ini tidak dianjurkan karena dapat
mengiritasi kulit, mata dan saluran nafas.
Gas etiline oxide, merupakan gas beracun. Digunakan untuk alat
yang tidak tahan panas (contoh : karet, plastik, kabel, dll)
4. Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT)
4

Merebus dalam air mendidih selama 20 menit.


Rendam dalam desinfektan kimiawi.
G. Prosedur Kewaspadaan Universal Perawatan Jenazah :
a. Memandikan Jenazah
1. Periksa ada atau tidaknya luka terbuka pada tangan atau kaki petugas
yang akan memandikan jenazah. Jika didapatkan luka terbuka atau
borok pada tangan atau kaki, petugas tidak boleh memandikan
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

jenazah.
Kenakan pakaian pelindung.
Kenakan sepatu boot dari karet.
Kenakan celemek plastik.
Kenakan masker pelindung mulut dan hidung.
Kenakan kacamata pelindung.
Kenakan sarung tangan karet.
Setelah jenazah selesai dimandikan, siram meja tempat memandikan

jenazah dengan larutan klorin 0,5%, lalu bilas dengan air mengalir.
9. Rendam tangan yang masih mengenakan sarung tangan karet dalam
larutan klorin 0,5%, lalu bilas dengan sabun dan air mengalir.
10. Lepaskan kacamata pelindung, lalu rendam dalam larutan klorin 0,5%.
11. Lepaskan masker pelindung, buang ke tempat sampah medis.
12. Lepaskan celemek plastik, buang ke tempat sampah medis.
13. Lepaskan gaun pelindung, rendam pada larutan klorin 0,5%.
14. Celupkan bagian luar sepatu pada lautan klorin 0,5%, bilas dengan air
bersih lalu lepaskan sepatu dan letakkan di tempat semula.
15. Terakhir lepaskan sarung tangan plastik, buang ke tempat sampah
medis.
Cara Memandikan Jenazah HIV/AIDS
Petugas wajib mengenakan universal precaution (UP) yang
meliputi standar perlengkapan kesehatan (masker, penutup
kepala, gogle (penutup hidung), sarung tangan, pakaian

steril, dan sepatu bot)


Pastikan air bekas memandikan jenazah langsung mengalir

ke got atau saluran pembuangan, jangan sampai tergenang.


Setelah itu, sesegera mungkin jenazah dikafani dan
dimakamkan.

Penatalaksanaan Jenazah Kasus Flu Burung/SARS (Sindrome


Acute Respiratory System)
Seluruh petugas telah mempersiapkan universal precaution.
Tutup semua lubang pada tubuh jenazah dengan kapas yang

telah dibasahi dengan Natrium hipoklorida 1:10.


Jenazah ditutup dengan kain kafan atau bahan dari plastic

(tidak dapat tembus air).


Jenazah tidak boleh dibalsam atau disuntik pengawet.
Jenazah yang sudah dibungkus tidak boleh dibuka lagi.
Jenazah sebaiknya hanya diantar atau diangkut oleh mobil

khusus jenazah.
Jenazah sebaiknya tidak lebih dari 4 jam di dalam kamar
pemulasaran jenazah.

Penatalaksanaan Jenazah Kasus Rabies


Tutup semua lubang dengan plaster kedap air dan sumbat
semua lubang tubuh jenazah dengan kapas yang dibasahi

dengan Natrium hipoklorida 1:10.


Segera memasukkan jenazah ke dalam kantong mayat yang
kedap air, lalu ditutup resletingnya dan dibawa ke kamar

jenazah.
Petugas kamar jenazah dalam melaksanakan tugas wajib
memakai pelindung diri sesuai dengan protocol standar

precaution.
Jenazah dimandikan dengan menggunakan sabun dan
larutan Natrium hipoklorida (bahan pengelantang), atau

pemutih (bayclin) 1:10.


Barang-barang yang terkontaminasi cairan tubuh jenazah
misalnya jarum suntik, mata pisau (tanpa perlu disarungkan

kembali), dibuang ke dalam wadah dari kaleng.


Sedangkan benda-benda lain seperti (kain, sprei, sarung
bantal, dan lain-lain) dilakukan autoklaf pada suhu 121

derajat celcius selama 30 menit.


Peralatan bedah yang bukan sekali pakai dapat diautoklaf
atau direndam dalam larutan Natrium hipoklorida 1:10,
betadine atau alkohol 70% selama sekurang-kurangnya 30
menit.

Penatalaksanaan Jenazah Kasus Tuberculosis (TBC)


Penularan TBC melalui saluran pernapasan

dengan

menghisap atau menelan tetes-tetes ludah atau dahak (droplet


infection) yang mengandung hasil dan dibatukkan oleh penderita
TBC Terbuka, atau adanya kontak antara tetes-tetes ludah/dahak
tersebut dan luka di kulit.
Oleh karena penyakit TBC merupakan penyakit menular,
tentunya penatalaksanaan perawatan jenazah penderita TBC juga
haruslah mengikuti standar precaution yang ditetapkan.
Penatalaksanaan Jenazah Kasus Anthrax (Woolsorter Disease,
Ragpicker Disease)
7

Cara penularan:
Melalui kontak dengan jaringan binatang (sapi, biri-biri,

kambing, kuda, babi, dan lain-lain) yang mati karena sakit.


Melalui lalat yang hinggap pada binatang-binatang yang

mati karena anthrax.


Karena kontak dengan bulu, wol, kulit atau produk yang
dibuat dari binatang-binatang seperti kendang, sikat atau

karpet yang sudah terkontaminasi.


Karena kontak dengan tanah yang terkontaminasi dengan

hewan tersebut.
Penyebab kematian tiba-tiba pada penyakit ini disebabkan oleh
penyumbatan pembuluh darah kapiler oleh toksin kuman, hipoksia
jaringan, anemia, dan kerusakan organ vital tubuh.

H. Perawatan Jenazah di Ruang Perawatan dan Pemindahan Jenazah ke Kamar


Jenazah
Persiapan:
1. Sarung tangan latex
2. Gaun pelindung
3. Kain bersih penutup jenazah
4. Klem dan gunting
5. Plester kedap air
6. Kapas, kasa absorben dan pembalut
7. Kantong jenazah kedap air
8. Wadah bahan infeksius
9. Wadah barang berharga
10. Brankart jenazah
Prosedur yang Harus Dilakukan Petugas/orang yang menangani jenazah :
1. Cuci tangan.
2. Memakai sarung tangan, gaun, masker.
3. Lepas selang infus dll, buang pada wadah infeksius.
4. Bekas luka diplester kedap air.
5. Lepaskan pakaian dan tampung pada wadah khusus lekatkan kasa
pembalut pada perineum (bagian antara lubang dubur dan alat
kelamin) dengan plester kedap air Letakkan jenazah pada posisi
terlentang.
6. Letakkan handuk kecil di belakang kepala.
7. Tutup kelopak mata dengan kapas lembab, tutup telinga dan mulut
dengan kapas/kasa.
8

8. Bersihkan jenazah.
9. Tutup jenazah dengan kain bersih disaksikan keluarga.
10. Pasang label sesuai kategori di pergelangan kaki/ibu jari kaki.
11. Beritahu petugas kamar mayat, bahwa pasien meninggal adalah
penderita penyakit menular.
12. Masukkan jenazah ke dalam kantong jenazah.
13. Tempatkan jenazah ke dalam brankart tertutup dan dibawa ke kamar
mayat.
14. Cuci tangan dan lepas gaun untuk direndam pada tempatnya, buang
bahan yang sekali pakai pada tempat khusus.
Persiapan Perawatan/ Perawatan Jenazah di Kamar Jenazah :
1. Alat pelindung petugas: sarung tangan karet sampai siku, sepatu boot
dari karet, gaun, celemek plastik dan masker.
2. Tempat memandikan jenazah.
3. Washlap, handuk, waskom berisi air, desinfektan (larutan klorin 0,5%)
dan sabun.
4. Plester kedap air, kapas pembalut, sisir, pewangi.
5. Kantong jenazah/plastik.
6. Brankart jenazah.
7. Kacamata pelindung.
Prosedur Perawatan/Perawatan di Kamar Jenazah:
1. Siapkan larutan Klorin 0,5%.
2. Kenakan pakaian yang memenuhi standar kewaspadaan universal.
3. Pindahkan jenazah ke meja tempat memandikan jenazah, tidak
diperbolehkan memandikan jenazah dengan dipangku.
4. Lepaskan semua baju yang dikenakan jenazah.
5. Siram seluruh tubuh jenazah dengan larutan klorin 0,5% secara merata
ke seluruh tubuh mulai dari sela-sela rambut, lubang telinga, lubang
6.
7.
8.
9.

hidung, mulut, tubuh dan kaki; kemudian tunggu hingga 10 menit.


Mandikan jenazah dengan sabun dan air mengalir.
Bilas jenazah dengan air mengalir.
Keringkan jenazah dengan handuk.
Sumbat semua lubang tubuh jenazah yang mengeluarkan cairan

dengan kapas.
10. Bungkus jenazah dengan kain kafan atau pembungkus lain sesuai
dengan agama/kepercayaannya.
11. Selesai ritual keagamaan, jenazah dimasukkan ke dalam kantong
plastik dengan ketebalan tertentu.
12. Pindahkan jenazah langsung ke peti jenazah disaksikan pihak keluarga,
kemudian peti ditutup kembali (peti jenazah disesuaikan dengan
kemampuan dan adat istiadat masyarakat atau agama yang dianut).
9

13. Jenazah diangkut ke dalam mobil jenazah untuk diantarkan ke rumah


duka.
14. Siram meja tempat memandikan jenazah dengan larutan klorin 0,5%
dan bilas dengan air mengalir.
15. Lepaskan perlengkapan kewaspadaan

universal

(sesuai

protap

pemakaian kewaspadaan universal).


Persiapan untuk Jenazah yang Dibawa Pulang :
1. Tempatkan dan atur jenazah pada posisi anatomis.
2. Pakaian/alat tenun kotor disingkirkan.
3. Alat-alat kesehatan dilepas.
4. Tempat kedua tangan di atas abdomen, ikat pergelangannya
(tergantung kepercayaan).
5. Tempatkan satu bantal di bawah kepala.
6. Kelopak mata ditutup jika tidak dapat ditutupi dengan kapas basah.
7. Rahang/mulut dikatupkan ikat atau letakkan gulungan handuk di
bawah dagu.
8. Letakkan alas/pada di bawah bokong.
9. Tutup sampai sebatas bahu, kepala ditutup dengan kain tipis.
10. Semua milik pasien dicatat dan diberikan kepada keluarga.
11. Beri kartu/tanda pengenal.
12. Bungkus dengan kain panjang.
Untuk Jenazah yang Diotopsi
1. Alat-alat kesehatan jangan dilepas dahulu, ikuti prosedur yang berlaku
di RS.
2. Beri label juga pada alat-alat proses yang digunakan.
3. Jenazah ditempatkan pada lemari pendingin.
I.

Hal-hal yang Diperhatikan dalam Proses Keperawatan


Adapun hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses keperawatan yaitu :
-

Segera mencuci kulit dan permukaan lain dengan air mengalir bila

tekena darah atau cairan tubuh lain.


Dilarang memanipulasi alat suntik atau menyarungkan jarum suntik ke
tutupnya. Buang semua alat atau benda tajam dalam wadah yang tahan

tusukan.
Semua permukaan yang terkena percikan atau tumpahan darah atau

cairan tubuh lainnya segera dibersihkan dengan cairan klorin 0,5 %


Semua peralatan yang akan digunakan kembali harus diproses dengan
urutan : dekontaminasi, pembersihan, desinfeksi, atau sterilisasi.

10

Sampah dan bahan terkontaminasi lainnya ditempatkan dalam kantong

plastik.
Pembuangan sampah dan bahan yang tercemar sesuai pengolah
sampah medis.
DAFTAR PUSTAKA

Ns. Rochimah, S.Kep. 2011. Keterampilan Dasar Praktik Klinik (KDPK). Jakarta:
Trans Info Media.
https://www.google.com/#q=pencegahan+infeksi+pada+perawatan+jenazah.pdf.
Diakses pada tanggal 17 November 2014 pukul 08:33 WIB.
http://alfinakpermuna.blogspot.com/2011/03/perawatan-jenazah.html. Diakses
pada tanggal 17 November 2014 pukul 08:29 WIB.
https://www.scribd.com/mobile/doc/122291364.
Diakses pada tanggal 18 November 2014 pukul 22:50 WIB

11