Anda di halaman 1dari 39

KATA PENGANTAR

Puji serta syukur kita panjaktan kepada Tuhan semesta alam, Allah SWT,
yang dengan segala karuniaNya, makalah Tentang “Sepuluh Ringkasan dan
Ulasan Novel Indonesia” ini dapat diselesaikan dengan baik. Shalawat serta salam
tak lupa kita haturkan kepada Nabi Besar Muhammad saw, keluarga sahabat serta
para pengikutnya yang senantiasa istiqamah dalam mengemban risalahnya.

Terima kasih Penyusun sampaikan kepada berbagai pihak yang telah


memberikan kontribusi dalam penyelesaian Makalah ini. Terutama kepada Bapak
Dosen Pembimbing.

Tak ada gading yang tak retak, begitu kata pepatah. Demikian juga dengan
Penyusun, sekalipun Makalah ini telah selesai melalui proses dan review yang cukup
lama, namun masih terbuka kemungkinan adanya beberapa kekurangan di dalamnya.
Oleh karena itu, masukan, kritik dan saran sangat kami harapkan untuk lebih
menyempurnakan isi Makalah ini pada kesempatan mendatang.

Mudah-mudahan sedikit yang kami bisa sumbangkan ini, akan dicatat oleh
Allah SWT sebagai bagian dari amal sholeh Penyusun dan akan menjadi ilmu yang
bermanfaat, yang senantiasa akan mengalirkan pahala bagi orang-orang yang
mengajarkannya.

Garut, November 2009

Penyusun

Daftar Isi

Kata Pengantar .................................................................................................... i


Daftar Isi ............................................................................................................. ii
Pembahasan
1. Anak Perawan Di Sarang Penyamun ....................................................... 1
2. Aki ............................................................................................................ 6
3. Pulang.............. ........................................................................................ 11
4. Senja Di Jakarta ....................................................................................... 16
5. Telepon .................................................................................................... 20
6. Bako ......................................................................................................... 24
7. Olenka ...................................................................................................... 29
8. Anak Tanah Air ........................................................................................ 32
9. Pertemuan Dua Hati ................................................................................. 37
10. Disimpang Jalan ....................................................................................... 41
Daftar Pustaka ..................................................................................................... 44

1. ANAK PERAWAN DI SARANG PENYAMUN


Pengarang : S. Takdir Alisjahbana
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1940; Cetakan XI, 1990

M edasing terpaksa keluar dari persembunyiannya ketika kobaran api mulai


membakar habis rumahnya. Sekawanan penyamun tidak hanya menjarah
harta benda dan membunuh penduduk yang tak berdosa, tetapi juga
membumihanguskan pemukiman di desa terpencil itu. Di antara teriakan
penduduk yang melarikan diri dan mayat yang bergelimpangan itulah, bocah itu
menangis. Tak tahu apa yang harus diperbuat.
Kawanan penyamun itu lalu membawa si bocah bersama hasil jarahannya,
masuk hutan kembali ke sarangnya. Salah seorang di antara penyamun itu, lalu
mengasuh dan membesarkan Medasing. Tumbuhlah ia sebagai bagian dari
kehidupan penyamun. Berbagai ilmu bela diri ia pelajari. Setelah ayah angkatnya
itu meninggal dunia, Medasing— karena kesaktiannya—dipercayakan untuk
menjadi kepala penyamun. "Medasing ialah kepala penyamun berlima itu; kata
orang ia kebal, tahan besi dan ada padanya ilmu halimun untuk melenyapkan diri"
(hlm. 7).
Demikianlah sosok Medasing yang kini merencanakan penjarahan rumah
Haji Sahak, saudagar kaya-raya di Pagar Alam, yang hendak pulang bersama anak
dan istrinya, setelah haji itu baru saja menjual sejumlah kerbaunya di Palembang.
Persiapan pun dilakukan.
Di kegelapan malam, kelima penyamun itu—Amat, Sohan, Tusin, Sanip,
dan Medasing, sang pemimpin—mulai beraksi. Namun, perlawanan yang
diberikan Haji Sahak dan pengiringnya menyebabkan Sohan tewas, Tusin dan
Amat luka parah. Haji Sahak sendiri, tewas. Istrinya pingsan, dan para
pengiringnya melarikan diri. Tinggallah kini, Sayu, anak perawan haji itu yang
selamat. Namun, kemudian, Medasing membawa anak perawan itu ke sarangnya.
Tentu juga berikut harta kekayaan hasil jarahannya.
Kehadiran seorang gadis di tengah para penyamun itu ternyata ikut pula
mempengaruhi pikiran mereka. Setidak-tidaknya, Samad, salah seorang
penyamun yang bertugas sebagai mata-mata, bermaksud hendak membawa kabur
gadis itu, sekaligus membinasakan keempat kawanan penyamun.
Setelah beberapa hari Samad tak sempat melaksanakan niatnya, tibalah
saat yang dinantikannya. Ketika itu mereka bermaksud melakukan aksi
perampokan pada seorang kaya yang akan pulang ke Pasemah, sungguhpun orang
kaya itu dikawal tentara dengan persenjataan lengkap. Namun, belum sempat
mereka beraksi, secara tak sengaja Medasing menginjak ranting yang
menyebabkan kehadiran mereka diketahui para pengawal calon korbannya.
Akibatnya, Tusin tewas tertembak. Samad yang kemudian dicurigai punya niat
busuk, melarikan diri entah ke mana.
Kawanan penyamun itu kini tinggal berdua. Amat sendiri mati akibat luka-
lukanya ketika menjarah Haji Sahak. Jadi, di sarang penyamun itu tinggal
Medasing, Sanip, dan Sayu. Belakangan, karena perbekalan mereka makin
berkurang, kedua penyamun itu pergi berburu. Sarang mereka hanya ditunggui
Sayu, si perawan cantik yang sudah mulai terbiasa dengan kehidupan para
penyamun itu. Perburuan Medasing dan Sanip, rupanya mendatangkan kesialan.
Keduanya terjerumus ke jurang. Tanpa sengaja Sanip tertusuk tombaknya sendiri,
sedangkan Medasing hanya mengalami patah tulang.
Sementara itu, istri almarhum Haji Sahak yang ternyata selamat dan
kembali ke rumahnya, masih terus diliputi kesedihan. Suaminya meninggal, dan
anak gadisnya, Sayu, dibawa kabur para penyamun. Dengan demikian, ia harus
tetap mengurus kebutuhannya sehari-hari. Belum lagi tagihan dari pemilik kerbau
yang tempo hari menitipkan kerbaunya untuk dijual. Bedu, kakak Nyi Haji
Andun, akhirnya menyarankan agar janda Haji Sahak itu menjual rumahnya, lalu
pindah ke pinggiran kampung, dekat hutan.
Medasing yang tulang sikunya patah, dengan susah payah akhirnya sampai
juga di markasnya di tengah hutan. Dalam keadaan demikian, penyamun itu hanya
dapat menerima perawatan Sayu. Rupanya gadis itu merasa iba melihat keadaan
Medasing yang tergeletak tak berdaya. Berhari-hari Sayu merawat Medasing.
Lama-kalamaan timbul juga rasa khawatir perawan itu mengingat persediaan
makanan sudah sangat tipis. la lalu mengusulkan agar mereka secepatnya
meninggalkan hutan dan kembali ke kampungnya, Pagar Alam.
Menyadari bahwa dalam keadaan demikian mereka akan mati kelaparan,
Medasing tak menolak keinginan Sayu. Pergilah keduanya meninggalkan hutan,
menuju Pagar Alam.
Betapa terkejutnya Sayu ketika ia bersama Medasing sampai di kampung
halamannya. Kini, rumah orang tuanya itu sudah menjadi milik orang lain.
Menurut penghuni baru itu, Nyi Haji Andun sekarang tinggal di pinggiran desa.
Dengan keterangan itu, keduanya melanjutkan perjalanan, mencari tempat tinggal
Nyi Haji Andun.
Saat itu, Nyi Haji Andun sedang sakit. Ia selalu mengigau tentang anak
gadisnya yang dibawa kabur penyamun. Pada saat yang demikian itulah, tiba-tiba
saja Medasing dan Sayu sampai di sana. Kini, anak gadisnya yang selama ini ia
rindukan, mendadak muncul di hadapannya. Tumpah sudah kerinduan ibu-anak
itu. Namun, beberapa saat kemudian, karena keadaan Nyi Haji Andun memang
sudah begitu parah, ia pun meninggal di depan putrinya tersayang.
Sungguh, pemandangan itu telah mampu mengubah pikiran Medasing. la
sadar akan perbuatannya selama ini. Maka, saat itu bulatlah sudah keputusannya
untuk pergi meninggalkan gadis itu.
Lima belas tahun berlalu. Penduduk Pagar Alam kini ramai hendak
menyambut kedatangan Haji Karim beserta istrinya yang baru menunaikan ibadah
haji. Kedua suami-istri itu sudah dikenal baik oleh masyarakat Pagar Alam
sebagai hartawan yang baik budi dan suka menolong penduduk yang kekurangan.
Wajarlah jika kembalinya suami-istri itu disambut dengan sukacita.
Malam harinya, Haji Karim yang dermawan itu, termenung sendiri. Ia
teringat masa lalunya. Pada saat demikian, tiba-tiba terdengar seseorang
mendekatinya. Betapa terkejutnya Haji itu, sebab tanpa diduga, orang yang
tampak begitu miskin itu, tidak lain adalah Samad, salah seorang penyamun yang
bertugas sebagai mata-mata, beberapa waktu yang lalu. Haji Karim tentu saja
masih mengenalnya karena orang itu bekas anak buahnya sendiri. Karim
kemudian mengajak Samad sekeluarga tinggal bersamanya. Namun, pagi harinya,
Samad yang dalam perjalanan hidupnya tak pernah
jauh dari penderitaan, memutuskan untuk pergi meninggalkan Haji' Karim
dan istrinya; meninggalkan bekas pemimpinnya, Medasing—yang kini bernama
Haji Karim—dan istrinya yang tidak lain adalah Sayu—anak perawan Haji Sahak
yang dulu hendak ia larikan.
Medasing dan Sayu—Haji Karim dan istrinya—hidup bahagia bersama
kedua anak- nya, sedangkan Samad, "hina-miskin dan sebatang kara menuju
harapan yang tak dapat diharapkan" (hlm. 130).
***
N ovel Anak Perawan di Sarang Penyamun, pertama kali muncul sebagai
cerita bersambung di majalah Peninjauan tahun 1932. Jadi novel ini ditulis
pada saat Alisjahbana berusia 24 tahun. Delapan tahun kemudian, novel ini baru
diterbitkan (1940) oleh penerbit Pustaka Rakyat, Jakarta. Pada tahun 1964, novel
ini terbit pula di Malaysia dalam edisi bahasa Melayu. Sebelumnya, yaitu tahun
1962, novel ini mengalami ekranisasi; diangkat sebagai cerita film dengan Usmar
Ismail sebagai Sutradaranya.
Cerita film ini berkisar pada petualangan tokoh Medasing yang kemudian
menjadi pemimpin penyamun. Kehidupannya di tengah hutan telah menempanya
menjadi seorang yang tak kenal belas kasihan. Namun, kehadiran Sayu, gadis
yang dibawa kabur sebagai hasil jarahannya, serta kelemah lembutan dan
ketulusan hatinya, telah mencairkan kekerasan jiwa Medasing. Lalu, kesadarannya
itu ia wujudkan dengan menjadi seorang dermawan dan naik haji bersama
istrinya, Sayu.
Di samping petualangan Medasing yang digambarkan cukup menarik itu,
kekuatan novel ini adalah pelatarannya. Latar alam dengan berbagai tumbuhan
dan binatangnya, sangat mendukung suasana yang dihadapi tokoh-tokohnya. Latar
hutan beserta tebing-tebingnya, digambarka-n dengan amat menarik.
Studi mengenai novel ini pernah dilakukan Tji' Inah (FS UI, 1961) dan
Suhardiyono (FS UGM, 1971) sebagai bahan skripsi sarjana muda. Adapun yang
dilakukan Pamusuk Eneste sebagai bahan skripsi sarjananya (setebal 226
halaman, FS UI, 1977), meneliti Anak Perawan di Sarang Penyamun—dan dua
novel lainnya, Salah Asuhan dan Athcis— dalam kaitannya dengan pernfilman
(ekranisasi) ketiga novel itu, dengan analisis yang cukup tajam dan mendalam.
2. Aki
Pengarang : Idrus (21 September 1921-18 Mei 1979)
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1949

P enyakit TBC yang diidap Aki menyebabkannya seperti orang yang sudah
tua. Dalam usia yang baru berumur 29 tahun, lelaki kurus kering ini tampak
seperti berumur 42 tahun. Biasanya, keadaan orang seperti itu disebabkan masa
mudanya yang habis dengan main perempuan jahat. Selain itu, bentuk tubuhnya
yang bongkok membuat Aki menjadi bahan tertawaan yang mengasyikkan. Akan
tetapi, ternyata hal itu tak dilakukan teman-temannya di kantor. Bahkan, mereka
sangat hormat kepada orang yang di mata mereka adalah orang yang berhati lurus
dan bertingkah wajar.
Penyakit TBC yang diderita Aki itu suatu ketika mencapai titik kritis.
Puncaknya adalah ketidak bernafasan Aki untuk beberapa saat. Sebagai istri setia,
Sulasmi terkejut melihat kenyataan yang menimpa suaminya. la kalap. Akan
tetapi, tak lama kemudian suaminya siuman, bahkan sebuah senyum tersungging
di bibirnya. Di antara senyuman itu, Aki mengatakan dengan pasti bahwa ia akan
mati pada tanggal 16 Agustus tahun depan. la berharap Sulasmi mau menyediakan
segala perlengkapan yang diperlukan untuk menghadapi hari kematiannya itu.
Rekan-rekan Aki di kantor menganggap lelaki itu sudah gila. Tidak
terkecuali anggapan kepala kantornya. la yang sudah merencanakan kenaikan
pangkat dan gaji Aki, tidak percaya kepada omongan pegawai kesayangannya itu.
Diselidikinya tingkah laku lelaki itu, tetapi Aki memang tidak gila. "Di sini
didapatinya Aki sedang bercakap-cakap dengan seorang bawahannya tentang
pekerjaan. Sep itu seketika lamanya memperhatikan cakap Aki, tapi satu kata pun
tiada menandakan bahwa Aki telah gila. la pergi ke meja Aki, diperhatikannya
pekerjaan Aki yang sedang terbentang di atas meja. Pekerjaan itu tiada cacatnya"
(hlm. 17).
Hari kematian yang dikatakan Aki telah tiba. Semua orang bersiap-siap.
Akbar dan Lastri, anak-anak Aki, meminta izin tidak bersekolah. Pegawai-
pegawai kantor menghiasi mobil kantor dengan bunga-bungaan. Kepala kantor
berlatih menghapalkan pidato yang kelak akan dibacakan di kubur Aki. Lelaki itu
sendiri memakai pakaian terbagus yang dimilikinya untuk menyambut Malaikatul
maut yang akan menjumpainya pukul tiga sore nanti.
Ketika pukul tiga telah lewat, Sulasmi memberanikan diri untuk melihat
suaminya. Dilihatnya mata suaminya yang tertutup rapat. Lalu, dipanggilnya
nama Aki berulang-ulang, tetapi tak ada jawaban. Dengan diiringi tangis, Sulasmi
berlari ke luar kamar untuk menemui orang-orang yang menungguinya. Tahulah
para penunggu itu bahwa Aki telah meninggal. Saling berebut mereka masuk ke
kamar Aki. Akan tetapi, mereka terkejut dan berlarian dari kamar ketika melihat
Aki sedang merokok. "Tiada seorang pun yang berani mengatakan, apa yang
dilihat mereka dalam kamar itu. Mereka puntang-panting lari meninggalkan
rumah Aki. Dan yang belum masuk kamar, karena keinginan hendak tahu yang
amat besar, menjulurkan kepalanya juga, tapi segera pun mereka lari puntang-
panting keluar. Sehingga akhirnya semua pegawai itupun meninggalkan rumah
Aki secepat datangnya" (hlm. 36).
Sulasmi bersyukur bahwa Aki tidak mati. Ternyata, Aki hanya tertidur dan
tebangun karena keributan pegawai-pegawai teman sekantornya.
Entah mengapa, sejak peristiwa itu Aki selalu terlihat sehat. la tampak lebih
muda dari usia yang 42 tahun. Lalu, sebagai pengganti kepala kantor yang telah
meninggal tiga tahun yang lalu, ia terlihat atraktif. Bahkan, Aki kembali
bersekolah di fakultas lukum, bergabung dengan mahasiswa-mahasiswa yang
usianya jauh di bawah Aki. Tentang hidup? Lelaki yang telah sembuh dari TBC
ini ingin hidup lebih lama lagi. la mgin hidup seratus tahun lagi. Separuh
hidupnya akan diabdikan sebagai pegawai dan separuh hidupnya lagi akan
dipergunakan sebagai akademikus.
***

D alam sejarah kesusastraan Indonesia, Idrus dikenal sebagai pengarang yang


menampilkan gaya penulisan yang menurut H.B. Jassin sebagai
kesederhanaan baru (nieuwc zakcUjheid)—Ajip Rosidi menyebut gaya ini dengan
istilah gaya-menyoal-baru (nieuwe zakelijkhcids stijl) yang serba sederhana.
Gaya penulisan demikian itu, umumnya tampak kuat dalam cerpen-cerpen Idrus
yang paling awal.
"Yang paling baik ialah roman pendeknya yang berjudul Aki, 1950 (sic/)".
Demikian Teeuw (1980: 221) mengomentari novel Idrus ini. Selanjutnya Teeuw
mengatakan, "buku kecil ini menarik terutama karena leluconnya yang ringan,
yang dibiarkan berkembang sepenuhnya karena temanya yang tidak bersifat real
itu."
Dalam perjalanan novel Indonesia, tema yang ditampilkan Idrus dalam Aki
memang dapat dikatakan baru. Seseorang dapat menentukan saat
kematiannya yang dipercayai oleh orang-orang di sekelilingnya, adalah
hal yang aneh dan lucu. jadi, ada kesan bahwa Idrus ingin mengejek orang-
orang yang sangat ketakutan menghadapi kematian. Padahal, maut pasti
datang tanpa seorang pun tahu kapan waktunya.
3. PULANG

Pengarang : Toha Mohtar (17 September 1926)


Penerbit : Pembangunan
Tahun : 1958

T ujuh tahun lamanya Tamin meninggalkan desanya. la bergabung dengan


pemuda-pemuda lain menjadi Heiho dan dikirim Jepang ke luar negeri.
Kini, ia pulang menemui orang tua, adik, dan desa yang selalu dirindukan selama
dalam pengembaraannya.
Orang tuanya bercerita tentang sapi dan sawah pusaka yang terpaksa dijual
demi kebutuhan hidup selama zaman Jepang dan revolusi. Tamin memahami
kesulitan yang dialami orang tuanya. Kemudian ia menebus sawah dan membeli
sapi dengan uang simpanan dan uang hasil penjualan perhiasannya. Ia berniat
kembali menjadi petani.
Penduduk desa menerima Tamin dengan penuh keramahan. Mereka
senang melihat pemuda itu bekerja keras mengolah tanah. Mereka juga senang
mendengarkan tem-bang yang disusun Tamin selama dalam pengembaraannya
dulu. Selain itu, penduduk desa menganggapnya sebagai pahlawan yang telah
bergerilya mempertahankan kehor-matan bangsa dan negerinya.
Sebaliknya bagi Tamin, anggapan penduduk desanya itu lebih memberikan
rasa malu dan takut daripada rasa bangga. la takut warga desa, lebih-lebih kedua
orang tua dan adiknya, mengetahui hal yang sebenarnya selama ia dalam
pengembaraan. Maka, tatkala orang-orang sekelilingnya meminta agar ia
menceritakan pengalamannya, ia terpaksa berbohong. Dikatakannya bahwa ia
bersama pemuda-pemuda lain, bergerilya di gunung-gunung di Jawa Barat,
berjuang melawan Belanda yang berniat menjajah kembali negeri ini.
Tamin tidak merasa tenteram dan damai tinggal di desanya. Hati nuraninya
tak kuat terus-menerus berbohong kepada orang tua dan adiknya, juga penduduk
desa. Pujian sebagai pejuang terhadap dirinya makin menambah kegusarannya. la
tak punya ke-beranian untuk menceritakan hal yang sebenarnya. la takut melihat
kekecewaan penduduk desanya apabila mereka tahu hal yang sesungguhnya.
Lebih jauh, ia takut menghadapi kemarahan penduduk desa yang akan
mengecapnya sebagai pengkhianat.
Tamin sendiri merasa bahwa dirinya bukan patriot yang rela
mengorbankan nyawa-nya demi membela tanah air dan bangsanya. Selama
menjadi heiho, ia dan pasukannya dikirim oleh Jepang ke Burma untuk
mempertahankan kekuasaan Jepang. Kemudian, setelah Jepang menyerah, ia tidak
bergabung dengan bangsanya untuk mempertahankan kemerdekaan. Disebabkan
ketidaktahuannya dan termakan oleh propaganda yang dilancarkan sekutu, ia
bergabung dengan tentara sekutu. Tamin justru bertempur melawan bangsanya
sendiri. Namun, ketika ia mengetahui keadaan yang sebenarnya, ia merasa
berdosa.
Penduduk desa tidak menggugat karena mereka toh tidak mengetahui
bahwa se-benarnya Tamin telah bertempur melawan bangsanya. Rasa berdosa
semakin men-cekamnya karena ia khawatir kalau-kalau kebohongannya selama
ini, terbongkar. Maka, ia memutuskan untuk meninggalkan kampung halamannya.
Hari-hari dalam pengembaraannya yang kedua kali ini, hati Tamin tidak
juga merasa damai. Ia selalu dibayangi rasa berdosa dan takut bertemu dengan
orang sekampungnya. la takut kalau-kalau ada orang yang mengenalnya datang ke
desanya dan menceritakan siapa Tamin sebenarnya. Rasa bersalah itu terus
memburu dalam setiap langkahnya.
Tamin mengembara dan berpindah-pindah tempat tanpa tujuan yang pasti.
Setelah menggelandang berbulan-bulan, akhirnya ia bertemu dengan Pak
Banji, tetangga sekampungnya, di Surabaya. Pak Banji menyampaikan kabar
bahwa ayah Tamin telah meninggal dunia. Ibu dan adik Tamin sangat
mengharapkan agar ia kembali ke desanya. Selain itu, penduduk kampung juga
mengharapkan agar ia pulang. Mereka merindukan Tamin, merindukan tembang-
tembang yang selalu didendangkannya.
Melalui cerita Pak Banji, Tamin berkesimpulan bahwa penduduk desanya
tidak mengetahui siapa ia sebenarnya. Mereka begitu tulus mencintai Tamin.
Akhirnya, ia sadar bahwa selama ini ia hanya dikejar-kejar rasa ketakutannya.
Tamin memutuskan untuk pulang ke desanya. Kali ini ia datang dengan
perasaan lega. Perasaan bahwa ia tetap dibutuhkan oleh penduduk desanya. Ia
juga sadar, kepulangannya kali ini sekaligus untuk membuktikan bahwa
sesungguhnya sejak dulu Tamin ingin berjuang untuk bangsanya. Pembelaannya
pada jepang, dan kemudian pada sekutu, semata-mata karena ketidaktahuannya
akibat propaganda dan bujuk rayu Jepang dan Sekutu. Kini, perjuangannya
adalah: ... "Sebagai desa yang telah berjasa dalam perjuangan gerilya, pemerintah
akan mendirikan dam yang akan mengatur pengairan sawah seluruh desanya
dengan baik." (hlm. 139). Begitulah, Tamin kemudian membuktikan
perjuangannya; membangun desanya sendiri.
***

N ovel Pulang semula merupakan cerita bersambung dalam majalah Ria


(1952— 1953) dengan nama pengarangnya Badarijah UP, salah satu nama
samaran Toha Mohtar. Penulisannya dilakukan tidak langsung sekaligus,
melainkan bagian demi bagian. Pada tahun 1952, begitu keseluruhan rampung
dimuat sebagai cerita bersambung di majalah Ria—yang salah satu redakturnya
adalah Toha Mohtar sendiri— Basuki Efendy, sutradara dari Perusahaan Film
Negara, mengangkat cerita Pulang ke dalam film (ekranisasi) dengan pemeran
utama, Turino Djunaedi sebagai Tamin.
Setelah diterbitkan sebagai buku, Pulang memperoleh Hadiah Sastra dari
BMKN pada tahun 1960 untuk novel yang terbit tahun 1958.
Studi mengenai novel Pulang, cukup banyak dila-kukan. Untuk skripsi
sarjana muda tercatat ada empat (dua dari FS UGM, 1969 dan 1983, dua lagi dari
FS Unas, 1973 dan 1979). Begitu juga skripsi sarjana tercatat ada empat, yaitu
sebuah dari FS Undip (?), dua dari FS Unas (1977 dan 1982) yang judul
penelitiannya nyaris tidak berbeda—oleh karena itu, analisisnya juga tak jauh
berbeda—, satu lagi dari FS UI (1985) dilakukan oleh Sunu Wasono yang
melihatnya secara sosiologis dengan cukup mendalam.

4. SENJA DI JAKARTA
Pengarang : Muchtar Lubis
Penerbit : Pustaka Jaya
Tahun : 1970; Cetakan II, 1981

R aden Kaslan memanfaatkan kedudukannya dalam anggota Dewan Partai


Indonesia ketika Husin Limbara, ketua Partai Indonesia, memintanya untuk
menangani penyediaan dana pemilu partainya. la mengatur agar partai mendapat
dana. Caranya, dengan mendirikan perusahaan-perusahaan fiktif yang akan
menangani lisensi impor barang-barang kebutuhan pokok rakyat. Istri Raden
Kuslan, Fatma, dan anak tunggalnya, Suryono—anak tiri Fatma—masing-masing
menjabat direktur perusahaan-perusahaan fiktif tersebut. Tak ketinggalan, Husin
Limbara dan teman-teman separtai memperoleh jabatan direktur bermacam-
macam nama perusahaan.
Suryono sebenarnya adalah pegawai pada Kementerian Luar Negeri yang
baru saja pulang dari dinas di luar negeri. Atas desakan ayahnya, ia berhenti
sebagai pegawai negeri dan kemudian berkecimpung dalam bisnis yang ditangani
ayahnya. la yang ketika pulang mengeluh terus karena fasilitas yang diberikan
kementeriannya, kini menjadi kaya-raya dan menjabat direktur beberapa
perusahaan.
Di sisi lain, Suryono dikenal sebagai playboy. Intim dengan wanita-wanita
kesepian— seperti Dahlia—pelacur-pelacur kelas atas, dan tak ketinggalan
dengan ibu tirinya sendiri, Fatma.
Pegawai jujur seperti Idris, yang tak mau ikut arus zaman, harus menerima
ketidak-puasan istrinya, Dahlia, yang selalu menuntut kebutuhan materi. Tanpa
sepengetahuan suaminya, Dahlia melayani Suryono yang memberikan kepuasan
materi dan biologis saat Idris tak ada di rumah. Hal ini juga menimpa Sugeng,
pegawai Kementerian Perekonomian, yang selalu dituntut oleh istrinya agar
mendapatkan rumah secepatnya. Namun, Sugeng tidak seperti Idris yang teguh
memegang prinsip pegawai negeri, ia turut ambil bagian dalam bisnis yang
ditangani Raden Kaslan sesuai dengan jabatannya.
Pada saat orang-orang seperti Raden Kaslan, Suryono, Husin Limbara, dan
kawan-kawannya mengeruk kekayaan sebanyak-banyaknya, rakyat jelata hidup
dalam kesusahan. Orang-orang seperti Saimun dan Itam yang bekerja sebagai
tukang sampah, Pak Ijo, kusir tua dan istrinya, selalu dalam bayang-bayang
kelaparan. Juga Neneng, yang terpaksa melacurkan diri agar bisa memperoleh
sesuap nasi. Mereka sama sekali tidak diperhatikan oleh orang macam Raden
Kaslan dan kawan-kawannya, yang selalu digembar-gemborkan dalam kampanye
bahwa mereka berjuang untuk meningkatkan taraf hidup rakyat.
Sementara itu, sekelompok orang yang selalu dengan bangga menyebut
dirinya budayawan, tidak henti-hentinya mengadakan diskusi, berdebat, dan
masing-masing mau menang sendiri membela konsep yang diajukan. Mereka
seakan lupa pada rakyat yang harus mengantri beras, minyak, garam, dan
kebutuhan pokok lainnya. Mereka lupa pada rakyat yang harus mempertahankan
hidup dengan segala cara, bahkan tak segan membunuh orang untuk menyambung
hidup. Bahkan, di antara mereka terjadi gontok-gontokan.
Keadaan Jakarta makin bertambah kacau dengan adanya berita di koran-
koran oposisi, yang membongkar kecurangan oknum-oknum partai yang berkuasa
dalam mengum-pulkan dana. Koran-koran oposisi menelanjangi partai-partai yang
memegang pemerin-tahan dengan menyebut nama-nama yang terlibat dalam
perusahaan-perusahaan fiktif yang memegang lisensi impor. Meskipun koran-
koran pemerintah membantah isu ter-sebut, pemerintah tetap saja tak dapat
bertahan. Akhirnya, kepala negara membubarkan kabinet dan memerintahkan
pengusutan terhadap isu lisensi impor tersebut.
Suasana tak menentu seperti yang terjadi di Jakarta, dimanfaatkan dengan
baik oleh orang yang mempunyai sifat bunglon, salah satu di antaranya adalah
Halim. Pada saat Partai Indonesia berkuasa, Halim memihak partai tersebut. la
memperoleh sejumlah besar uang untuk surat kabar yang dipimpinnya. Tentu saja,
sebagian besar masuk ke kantongnya dan mendapat "hadiah" dari Partai Indonesia
menjadi anggota parlemen. Ketika Partai Indonesia tak kuat menahan serangan
oposisi, Halim berpihak pada oposisi dan berbalik menyerang partai yang dahulu
memberi fasilitas kepadanya.
Buntut peristiwa terbongkarnya bisnis lisensi impor, Raden Kaslan
mendapat pang-gilan dari pihak yang berwajib. Sugeng ditangkap polisi di
rumahnya, sedangkan Suryono bersama ibu tirinya, Fatma, bermaksud kabur.
Namun, di kawasan Puncak, mobil mereka mengalami kecelakaan. Suryono
mengalami luka berat dan terpaksa dirawat di rumah sakit Bogor. Fatma sendiri
yang selamat dan kembali ke Jakarta. "Malamnya rumah sakit Bogor menelepon
Fatma di Jakarta, bahwa Suryono telah meninggal dunia" (hlm. 332).
Senja di Jakarta tetap dalam kesuraman, dan mereka yang jujur tetap
tersisih.
***

S enja di Jakarta pertama kali terbit dalam bahasa Indonesia tahun 1970 oleh
penerbit Badan Penerbit Indonesia Raya. Sejak tahun 1981 (cetakan kedua)
hingga sekarang diterbitkan oleh penerbit Dunia Pustaka Jaya. Semula novel ini
berjudul Yang Terinjak dan Melawan, sebuah karya Mochtar Lubis yang
ditulisnya ketika ia masih berstatus tahanan rumah. Ketika pertama kali novel ini
terbit di London tahun 1963, hasil terjemahan ke dalam bahasa Inggris oleh Claire
Holt, judulnya diganti menjadi Twilight in Jakarta. Setelah terbit edisi bahasa
Belanda, berjudul Schemer over Djakarta hasil terjemahan P.H. Fruithof dari edisi
bahasa Inggris. Dua tahun kemudian, penerbit Pustaka Antara di Kuala Lumpur
menerbitkannya pula dalam bahasa Melayu dengan judul Sendja di Djakarta.
Barulah pada tahun 1970 terbit dalam edisi asli bahasa Indonesianya. Sebelum itu,
Senja di Jakarta juga sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Italia, Spanyol, dan
Korea. Belakangan, novel ini diterjemahkan pula ke dalam bahasa Jepang.
Ceritanya sendiri berkisar pada gambaran yang terjadi pada masyarakat
ibukota Jakarta, termasuk para pejabat pemerintah dan politikus pada
pertengahan tahun 50-an. Merajalelanya korupsi, penyalahgunaan kekuasaan,
kebobrokan moral, dan pe-nyelewengan telah menyebabkan kemiskinan di mana-
mana. Keadaan perekonomian makin mencekik rakyat. Dalam keadaan demikian,
meningkatnya suhu politik makin melengkapi penderitaan rakyat menjadi
berkepanjangan. Gambaran itulah yang di-angkat Mochtar Lubis dalam novelnya
Senja di Jakarta ini. Jadi, semacam potret tentang keadaan masyarakat—dan
aparat pemerintah termasuk politikus—pada dasawarsa ta-hun 50-an.
Sebelum novel ini diterbitkan di Indonesia, masyarakat Indonesia justru
lebih dulu mengenalnya lewat film dengan judul yang sama, hasil garapan
sutradara Nico Pe-lamonia dan perusahaan film Tuti Mutia Film Production tahun
1967.
Berbagai tanggapan atas novel Senja di Jakarta umumnya bernada
memberi sambutan yang baik. Teeuw (198U: 264 265) mengatakan bahwa Senja
di Jakarta merupakan karya Mochtar Lubis yang agung, yang menurut Ajip Rosidi
(1976: 112) telah mendapat sambutan yang hangat dari pers dunia.
Mcngenai lot..r beiakang proses perierbitan Senja di Jakarta dinyatakan
sendiri oleh Mochtar Lubis dalam Catalan Subversif (1980: 151). Adapun studi
terhadap novel ini pernah dilakukan oleh Endo Senggono (FS UI, 1985) yang
melihatnya secara sosiologis Jan lengkap rnemberikan banyak informasi
mengenai berbagai hal yang berkaitan dengan novel Sen fa di Jakarta. Studi
lainnya mengenai novel ini, berikut karya Mochtar Lubis lainnya, penksa ulasan
pada ringkasan novel Jalan Tak Ada Ujung (hlm. 135).
5. Telepon

Pengarang : Sori Siregar


Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1982

D aud bekerja pada sebuah toko di Jakarta. Sebetulnya ia sudah sangat bosan
dengan pekerjaannya. Namun, karena tak ada pekerjaan lain, ia terpaksa
melakukannya juga. Daud mempunyai hobi yang tak biasa, ia gemar sekali
menelepon. Kegemaran yang dimulai dari iseng-iseng itu lama-kelamaan menjadi
semacam kebutuhan. Ia tak peduli kapan, di mana, dan kepada siapa ia
menelepon. Yang penting, apabila hasrat hatinya untuk menelepon sudah
terpenuhi, ia akan segera senang. la seakan terbebas dari beban yang
mengimpitnya.
Demikianlah, telepon yang seharusnya dipergunakan untuk hal-hal yang
baik, berubah fungsinya di tangan Daud. Ia menggunakan telepon untuk
mengancam, menakut-nakuti orang yang diteleponnya walaupun dalam hatinya
tak ada niat jahat. la hanya ingin melampiaskan keinginan—yang tak dapat
dihindarinya—yang timbul sesaat.
Orang yang pertama kali ditakut-takutinya adalah Tajudin, direktur
perusahaan yang telah memecat Burhan, teman Daud. Lalu Ibu Suroso, pelanggan
tetap toko buku tempat Daud bekerja. Daud sangat puas setelah menakut-nakuti
mereka dengan ancaman atau omongan yang sama sekali tak ada faktanya. Pada
malam hari setelah Daud menakut-nakuti mangsanya, ia akan membayangkan
keadaan orang yang menjadi korbannya itu. Kadang-kadang terbersit rasa sesal di
hatinya, apalagi bila yang ditakut-takutinya itu adalah orang yang baik, seperti Ibu
Suroso.
Demikianlah, perbuatan itu dilakukan berulang-ulang, sampai pada suatu
ketika, Lisa—kekasihnya—memergokinya. Daud terpaksa mengakui perbuatan
yang telah dilarang pacarnya itu. Akibatnya, Lisa mengancam akan memutuskan
hubungan mereka. Ancaman Lisa membuat Daud takut dan berjanji sekali lagi
untuk tidak mengulangi perbuatan yang merugikan orang lain itu. Namun, untuk
menghentikan kegemarannya itu, ternyata tidaklah semudah seperti waktu
mengucapkannya; ia tetap menelepon orang-orang yang menurutnya harus
diancam.
Rupanya perasaan Daud tidak selamanya tenang. Hal itu terjadi ketika ia
iseng-iseng menelepon seseorang. Orang yang menerima telepon itu mengaku
sebagai orang yang dimaksud Daud, padahal ia menyebutkan sekadar nama yang
tiba-tiba terlintas begitu saja di kepalanya.
Sejak peristiwa itu Daud mulai dihinggapi rasa gelisah; dan kegelisahan itu
memuncak ketika tanpa diduga ia menerima telepon dari sekretaris Tajudin yang
memberitahukan bahwa Tajudin telah mengetahui siapa yang mengancamnya,
yaitu Daud. Lebih jauh bahkan telah meminta polisi untuk rnenangkap Daud
dengan alasan melakukan ancaman pembunuhan disertai bukti-bukti berupa
rekaman pembicaraan telepon.
Daud mulai menduga-duga bahwa telah terjadi pengkhianatan terhadap
dirinya. la menduga Lisa dan Burhanlah yang melakukannya, karena hanya kedua
orang tersebut yang mengetahui kegemaran Daud. Namun, ternyata bukan
mereka. Lalu siapa?
Dalam kegelisahan itu, Daud mulai menimbang-nimbang untuk
menghentikan ancaman-ancaman lewat telepon, seperti yang disarankan Lisa dan
Situmeang, teman seperantauan Daud. Usaha yang dilakukannya adalah tidak
melakukan kontak telepon dengan siapa pun. Di dalam dirinya telah timbul rasa
ngeri jika melihat telepon. la juga sudah berpikir untuk meminta maaf kepada
orang-orang yang telah menjadi korbannya.
Hal yang tak diduga sama sekali oleh Daud adalah ketika Simangunsong
datang ke rumah kontrakannya di Kebon Kacang. Yang lebih mengejutkan lagi
ketika tiba-tiba ia dipukuli sahabat seperantauannya itu. Simangunsong berang
karena perayaan pernikahan adik sepupunya berantakan akibat ulah seorang
penelepon gelap yang me-ngatakan bahwa di tempat pesta itu terdapat bom yang
sewaktu-waktu dapat meledak. Para undangan tentu saja bubar begitu mendengar
berita yang kemudian terbukti hanya omong kosong itu. Simangunsong
berkesimpulan bahwa penelepon gelap itu tak lain adalah Daud. Padahal bukan.
Kalau bukan Daud, lalu siapa?
Simangunsong lalu mencari informasi siapa pengacau itu. Terungkaplah
bahwa pelakunya seorang wanita yang kehilangan anak yang sedang
dikandungnya. la kesepian di rumahnya yang besar, dan untuk membunuh rasa
sepinya, setiap hari ia menelepon siapa saja. Kegemaran yang sudah menjadi
semacam penyakit itu, kabarnya akan hilang jika wanita itu dikaruniai seorang
anak lagi.
Akan halnya Daud, ia terpaku mendengar cerita Simangunsong itu. Di
dalam benaknya terlintas telepon dari seorang wanita yang nada suaranya begitu
kesepian. Timbul rasa takutnya: apakah dirinya seperti wanita itu? Daud
membayangkan, jangan-jangan dia tidak waras seperti wanita itu. "Daud
merangkul Simangunsong, membenamkan wajahnya ke dada sahabatnya itu dan
tersedu di sana.
... Di tengah-tengah keheningan ruangan itu, suara Simangunsong
terdengar jelas. Tidak. Kau tidak sakit, Daud. Kau tidak sakit'" (him. 96).
***

J udul novel ini, Telepon, mengisyaratkan bahwa akan terjadi komunikasi


antaranggota 1 masyarakat lewat hasil peradaban manusia. Kenyataannya
memang demikian. Namun, berbagai masalah yang mendera manusia; depresi,
kesepian, atau keputusasaan yang banyak melanda masyarakat perkotaan telah
mengubah fungsi telepon sebagai alat pelarian mereka. Kenyataan, dewasa ini
yang terjadi di masyarakat memang demikian. Oleh Sori Siregar sisi negatif
telepon diangkat dalam novelnya ini. Rasa keterasingan dan keterpencilan,
ternyata dapat menjerumuskan seseorang ke dalam lingkaran masalah yang tak
berkesudahan jika ia mencoba menyelesaikan tidak pada tempatnya. Dengan kata
lain, pelarian yang salah sesungguhnya bukanlah usaha penyelesaian, melainkan
justru menambah masalah baru. Atau, bahwa berbagai masalah—sebagai dampak
kemajuan teknologi—sebetulnya pertama-tama ditimbulkan oleh ulah manusia
sendiri.
Novel ini adalah pemenang harapan Sayembara Mengarang Roman yang
diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta tahun 1979.

6. BAKO

Pengarang : Darman Moenir (27 Juli 1952)


Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1983; Cetakan III, 1988

B iola tua itu kini kian hari kian berdebu. la diletakkan di atas lemari" (hlm.
11). Alat musik itu memang sudah hampir sepuluh tahun lamanya dibiarkan
tak tcrawat. Padahal, dulu si bocah laki-laki yang biasa dipanggil Man itu, sering
meiihat ayahnya memainkannya, la belum juga mengerti, mengapa ayahnya kini
tak lagi mau mcnjamah benda itu. Dan sesungguhnya ia ingin sekali mengetahui
alasan ayahnya menghentikan kebiasaannya. memainkan biola itu.
Suatu ketika ayahnya bercerita tentang pengalaman masa mudanya. Dari
cerita itulah si bocah sedikit banyak mengetahui bahwa ayahnya pernah gagal
menamatkan sekolahnya di SMA. Kegagalan itulah yang mendorong ayahnya
pulang ke kampung halaman. Walaupun begitu, semangat untuk menuntut ilmu
sama sekaii belum pudar. Ayahnya kemudian memasuki SGB (Sekolah Guru
Bawah) di PP. Diceritakan pula bahwa sewaktu di SMA, sang ayah menjalin
hubungan cinta dengan seorang wanita, putri sulung seorang polisi. Hubungan
cinta itu terus berlanjut lama, walaupun orang-orang di kampungnya menentang
hubungan itu. Diceritakannya pula bahwa wanita itu sudah tidak gadis lagi. la
seorang janda dengan dua orang anak. Dan, bukan orang sekampungnya. Namun,
cinta lebih kuat dari semua itu. Perkawinan itu pun terjadi hingga lahir seorang
anak laki-laki yang kemudian disusul oleh adik-adiknya. Olch karena itulah, si
bocah di bawa ke rumah bako, yakni keluarga sepertalian darah dengan ayah.
Belakangan, setelah anak laki-laki itu beranjak dewasa, ia mengetahui
bahwa ibunya menjadi gila karena ditinggal lama oleh sang ayah. Meskipun
begitu, ia masih belum mengerti mengapa ibunya sampai menjadi giia. Tidak
adakah penyebab lain yang membuat pikiran ibunya sampai tak waras begitu.
Itulah pertanyaan yang selalu ia coba jawab atas dasar cerita-cerita ayahnya
kemudian, dan keterangan dari neneknya.
Satu hal yang jelas adalah keadaan dirinya yang cacat. Penyakit poliolah
yang membuat kakinya cacat. Namun, itu tidak menjadikan lelaki itu putus
harapan. la tetap bertekad untuk terus melanjutkan sekoiahnya ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi. Paling tidak, ia berhasil merasakan pendidikan di
Sekolah Seni Rupa Indonesia Negcn.
Setamat pendidikan di salah satu akademi, pemuda itu tidak langsung
bekerja. Ayahnya sebenarnya berharap agar ia dapat bekerja sebagai pegawai
negeri. Namun, pemuda itu justru berpikiran lain, Menuntut ilmu bukanlah untuk
bekerja sebagai pegawai negeri, demikian pendiriannya. Meskipun adik-adiknya
membutuhkan uluran tangannya untuk membiayai sekoiah mereka, ia tctap ingin
bekcrja sesuai dengan kehendak hatinya.
Mungkin sikap tersebut tidak terlepas dari pendidikannya sewaktu tinggal
bersama uminya—kakak pcrempuan ayahnya. Pada diri uminya, pemuda itu
banyak belajar agama dan mendekatkan dirinya kepada Tuhan. Pada saat itu mulai
tumbuh sikap ingin mandiri atau sedikitnya bertanggung jawab pada did sendiri.
Walaupun begitu, ia harus mengakui bahwa biaya sewaktu kuliah lebih banyak
diterima dari uminya. Menyadari hal itu, ia tidak mau menyia-nyiakan waktu; ia
banyak belajar dan mem-baca. Ia juga mulai mengenal para pengarang terkenal.
Semua itu memberi pengaruh cukup kuat pada dirinya. Paling tidak, ia mulai
membiasakan diri untuk membuat karangan atau mulai rajin berkecimpung dalam
keg ia tan tulis-menulis. Memang, dunia itulah yang hendak ia jadikan
pekerjaannya.
Sementara itu, sejalan dengan penyadaran dirinya untuk menentukan masa
depan-nya, lelaki itu mencoba bercermin pada orang-orang yang ada di
sekelilingnya. Ibunya, misalnya, yang tak waras lagi, sama sekali tak dapat
diharapkan lagi. Ayahnya, dengan gaji yang pas-pasan sebagai seorang guru,
masih tctap repot mengurusi anak-anaknya, sementara pemuda itu tak dapat
membantu apa-apa. Pemuda itu juga tak dapat terus menggantungkan hidup pada
uminya, meskipun pcrempuan itu memiliki sawah dan ladang yang cukup luas.
Seorang lagi, Bak Tuo—yang masih sekerabat dengan uminya—sungguh
merupakan kepala keluarga yang tak patut dijadikan contoh teladan. Kebiasaan
berjudi dan menghabiskan uang pensiunannya hanya untuk judi, telah
menyebabkan keluarganya telantar. Bahkan, Bak Tuo mulai berani pula mencuri
uang ayah pemuda itu. Akibatnya, kedua orang tua yang sebenarnya sudah
berumur itu, berkelahi.
Bagi si pemuda, kehidupan Bak Tuo memberi ny a kesadaran betapa pen
ting ke-hidupan masa muda. Kehidupan masa muda Bak Tuo, sampai ia
menghabiskan masa pensiunnya, hampir tak pernah lepas dari kebiasaan berjudi.
Dari situlah si pemuda mengambil sikap seperti ini: "aku menyimak dan menarik
pelajaran dari apa yang dialami Bak Tuoku. la adalah contoh yang amat tepat
untuk dijadikan sebagai manusia yang sia-sia di masa tua sesudah mengabaikan
masa dan hari mudanya" (hlm. 83).
Seorang lagi yang ikut mempengaruhi sikap hidup si pemuda adalah
seorang petani sejati yang biasa disebut Gaek. "Mempunyai tempat di hatiku,
rasanya ia adalah laki-laki seribu dongeng. Setiap dongeng yang ia ceritakan
selalu mengena di hatiku, di benakku. la adalah laki-laki yang mengisi masa
kanak-kanakku secara lebih sempurna" (hlm. 93). Lebih dari itu, si pemuda—
betapapun ia hidup cacat—makin menyadari bahwa sesungguhnya hidup adalah
kerja. Ternyata Gaek mampu hidup dan meng-hidupi masa depannya karena ia
mencintai kerja. Lelaki itu benar-benar telah berhasil memberi makna dalam
hidupnya. Pemaknaan bagi kehidupan inilah yang kin! di-temukan si pemuda
dalam diri orang-orang sekitarnya. Kelak ia akan berusaha untuk menjalani
kehidupan ini dengan penuh rnakna. Itulah yang menjadi tekad si pemuda.
***

N ovel Bako ini sesungguhnya lebih menyerupai catatan biografis sebuah


keluarga. Ceritanya disampaikan lewat tokoh "aku" yang sejak
kecilnya mencoba me mahami keberadaan dirinya dalam sebuah keluarga dan
masyarakat. Bentuk pen-ceritaannya cukup rumit; rumit karena setiap tokoh yang
diceritakan selalu dihubung-kan dengan tokoh "aku". Dengan demikian, bentuk
flashback atau sorot balik terjadi di sana-sini. Hal itu dimungkinkan karena
pemaparannya mirip cuplikan peristiwa-peristiwa yang bersifat fragmentaris.
Hanya lewat tokoh "aku" itulah berbagai peristiwa menjadi saling berkaitan.
Dalam hal ini, novel Bako cukup menarik. Secara keseluruhan, peristiwa-
peristiwa fragmentaris sangat menonjol dalam novel ini. Di dalamnya ter-ungkap
pula tradisi dan adat-istiadat yang berlaku dalam masyarakat matrilineal. Dalam
beberapa hal, terungkap pula sisi positif dan negarif masyarakat yang menganut
tradisi tersebut.
Sebagai karya sastra, dalam hal bentuk, novel ini boleh dikatakan
menampilkan pembaharuan. Boleh jadi karena itulah novel ini dinyatakan sebagai
pemenang hadiah utama Sayembara Mengarang Roman Dewan Kesenian Jakarta
pada tahun 1980.
7. OLENKA
Pengarang : Dudi Darma
Penerbit : Balai Pustaka
Tahun : 1983; Cetakan III, 1986

P ertemuan antara Fanton Drummond dan Olenka hanya secara kebetulan.


Mereka bertemu di lift apartemen Tulip Tree, tempat tinggal mereka.
Pertemuan yang terus-menerus membuat Fanton tidak bisa melupakan bayangan
Olenka dari pikiran-nya. Setiap saat Fanton selalu membayangkan wajah dan
tubuh Olenka, sekaligus ingin memperistrinya.
Meskipun Fanton akhirnya mengetahui bahwa Olenka sudah bersuami dan
mem-punyai anak, ia tidak terlalu mempedulikannya- Bahkan ia terkadang merasa
cemburu pada Wayne Danton, seorang pengarang amatir, yang bisa memperistri
Olenka.
Sebelum Fanton Drummond hadir dalam kehidupan Olenka, keadaan
keluarga Wayne-Olenka sedang guncang walaupun belum sampai pada tahap
perceraian. Keadaan itu disebabkan suami-istri itu mempunyai gaya hidup yang
berbeda; Wayne seorang pengarang dan Olenka seorang pelukis. Di antara mereka
tidak ada kecocokan. Wayne sering menempelkan sobekan-sobekan kertas, yang
berisi kata-kata yang akan digunakannya dalam pembuatan cerpen atau novel, di
dinding kamar; sedangkan Olenka sering membaca buku yang seolah-olah tidak
mau ditegur orang lain.
Tingkah laku Fanton yang menunjukkan bahwa ia menginginkan Olenka
dapat ditangkap oleh wanita itu. Mungkin karena Fanton sering memuji-muji hasil
karyanya, Olenka menjadi akrab dengan pria itu. Bahkan, hubungan mereka
semakin intim seperti layaknya suami-istri.
Fanton dan Olenka sudah berjanji bahwa pada suatu waktu mereka harus
berpisah. Lalu, memang demikianlah nyatanya. Mereka berpisah. Namun,
kenyataannya Fanton tak bisa melupakan Olenka setelah mereka berpisah. Untuk
menghilangkan kegelisah-annya, Fanton berusaha melupakan dan menghilangkan
bayangan Olenka dart pikirannya, tetapi justru terjerat pada bayangan tubuh
Olenka. Akhirnya, ia berkelana mencari jejak wanita itu ke Indiana, Kentucky,
dan kembali ke Illinois.
Di Chicago Fanton berkenalan dengan Mary Carson di hotel La Salle.
Perkenalan singkat ini dimanfaatkan oleh Fanton untuk melenyapkan bayangan
Olenka yang » sering berkelebat dalam pikirannya. Tanpa pikir panjang, ia
langsung menyatakan cintanya kepada Mary. Namun, ditolak secara halus oleh
wanita itu karena ia belum berpikir untuk kawin. Melihat kenyataan seperti ini,
Fanton merasakan diri seperti melayang. Akhirnya, ia menulis surat-surat
masturbasi; menulis surat untuk Mary, tapi tidak dikirim, melainkan disimpan
beberapa hari, kemudian dibaca sendiri suratnya. Setelah itu, ia bertindak seakan-
akan seperti Mary yang membalas suratnya—padahal ia sendiri yang menulis
surat jawaban itu—, lalu disimpannya surat itu untuk beberapa lama, kemudian ia
baca surat itu, demikian seterusnya.
Tak berapa lama setelah kejadian itu, Fanton mendapat surat yang sangat
panjang dari Olenka. Dalam surat itu Olenka menceritakan asal-usulnya secara
menyeluruh. Juga tentang rasa kasihannya kepada Wayne, tentang cintanya yang
sesungguhnya kepada Fanton, barikan kisah hidupnya sebagai lesbian dengan
seorang wanita yang dinamainya Winifred.
Kisah hidupnya ini mirip dengan kisah hidup Ursula dan Winifred dalam
novel The Rainbow karya D.H. Lawrence. Olenka juga mengatakan bahwa
perkawinannya dengan Wayne hanyalah karena keterpaksaan, yakni agar ia dapat
hidup normal sebagai seorang wanita. Meskipun Olenka mencintai Fanton, ia
sadar bahwa bagaimanapun Wayne adalah suaminya dan Steven adalah anaknya,
ia akan menolong hidup kedua orang itu.
Surat Olenka tersebut justru membuat Fanton semakin tergila-gila pada
wanita itu. Ia kemudian mencarter pesawat terbang untuk mengelilingi
Bloomington sekadar melupakan Olenka. la masih tetap berharap agar Olenka
mengirimkan surat untuknya lagi, tetapi sia-sia, Olenka tidak pernah menulis surat
lagi.
Fanton akhirnya dapat bertemu dengan Mary Carson lagi, yang kini sudah
cacat akibat kecelakaan pesawat terbang yang ditumpanginya. Meskipun Mary
cacat, Fanton masih bersedia mengawininya. Mary tetap menolak karena ia tak
mau nantinya lelaki itu hanya akan berperaM sebagai juru rawat saja. Padahal,
dalam hati wanita itu sebenarnya ia sangat mencintai Fanton semenjak pertemuan
mereka dulu di Chicago, tetapi pada waktu itu Mary dalam keadaan bimbang,
sehingga tidak dapat mem-berikan suatu putusan.
Sepulangnya Fanton dari Alicjuippa—dari rumah Mary—, ia membaca
berita di surat kabar yang berisi tentang pemalsuan lukisan oleh Olenka Danton—
yang kemudian ditemui pingsan di kamar hotelnya karena terlalu banyak menelan
obat tidur.
Selanjutnya, Fanton berusaha menemui Olenka di rumah sakit. Namun,
"menurut Loket Penerangan Rumah Sakit, Olenka sudah meninggalkan rumah
sakit lebih kurang seperempat jam yang lalu melalui pintu samping. Saya tidak
menyesal, tidak kecewa. Yang saya pendam dalam hati hanyalah kekosongan"
(hlm. 213).
Begitulah, ketidakhadiran Olenka kali ini sama sekali tak membuatnya
bersedih. la sudah tidak lagi memikirkan Olenka. Yang dipikirkannya kali ini
adalah dirinya sendiri yang tak pernah ia mengerti siapa dirinya, mau ke mana,
dan akan berhenti di mana perjalanannya. la kini sadar bahwa apa yang ada dalam
hati nuraninya, dan apa yang ada dalam pikirannya harus dapat
dipertanggungjawabkan. "Dan saya harus mempertanggungjawabkannya. Maka,
dalam usaha saya untuk menjadi pemeluk teguh, saya menggumam, 'Tuhanku,
dalam termangu, aku ingin menyebut nama-MU'" (hlm. 215). Inilah kesadaran
Fanton akan keberadaan dirinya sebagai makhluk-Nya yang tak mempunyai
kekuasaan apa-apa dibandingkan kekuasaan-Nya.
***

N ovel karya Budi Darma ini sebenarnya mempergunakan bentuk pencerita


akuan (first person narrator)—dengan tokoh Fanton yang bertindak sebagai
pencerita dan sekaligus tokoh utama—, tetapi disampaikan melalui surat Lewat
surat-surat itulah,
baik yang ditulis oleh Fanton maupun oleh Olenka, pembaca dapat
mengetahui pikiran dan perasaan tokoh-tokoh tersebut. Memang demikianlah,
lewat pikiran dan perasaan tokoh-tokoh itulah novel ini dikembangkan, penuh
dengan berbagai pernyataan yang tak jarang saling bertentangan atau ambivalensi
satu dengan lainnya. Kadang-kadang juga bertumpang-tindih, bercampur-aduk,
dan silih berganti tidak hanya antara lakuan dan pikiran atau perasaan tokoh
tertentu, tetapi juga jakuan antartokohnya. Jadi, di dalamnya sering kita hanya
menjumpai lompatan-lompatan pikiran yang beraneka ragam. Untuk memberi
keterangan lebih lanjut, pengarangnya sengaja menyertakan catatan tambahan
yang penjelasannya ditempatkan pada bagian halaman belakang novel.
Sebelumnya, dipaparkan juga asal-usul proses penulisan Olenka, yang sedikit
banyak sangat membantu pemahaman pembaca terhadap novel ini.
Sambutan para kritikus sastra — yang terungkap lewat sejumlah resensi —
umumnya memberi tanggapan yang memuji sebagai karya pembaharuan
atau sebagai karya
dalam Olenka, termasuk teknik penceritaan kolase. Di bagian lain, Panuti
Sudjiman juga mengulas beberapa teknik penceritaan yang dipergunakan
pengarang dalam novel-novel inkonvensional sebagai hasil usaha melepaskan diri
dari konvensi teknik penceritaan yang terasa membelenggu.
Novel Olenka sebelunnnya adalah pemenang hadiah pertama Sayembara
Mengarang Roman yang diselenggarakan Dewan Kesenian Jakarta pada tahun
1980. Setelah diter-bitkan sebagai buku pada tahun 1983, novel ini berhasil
memperoleh hadiah Sastra Dewan Kesenian Jakarta pada tahun yang sama.
8. ANAK TANAH AIR
Pengarang : Ajip Rosidi (31 Januari 1938)
Penerbit : Gramedia
Tahun : 1985

B ersekolah di Jakarta!... Tentu lain belajar di kota besar daripada di sebuah


kota kecil kabupaten..." (hlm. 10). Inilah salah satu alasan mengapa Ardi
menyambut gembira tawaran pamannya, Abdulmanan, untuk ikut dan bersekolah
di Jakarta. Maka, walaupun perjalanan ke ibu kota cukup melelahkan, terutama
mengingat penuhnya kendaraan sebagaimana biasanya selepas Lebaran, Ardi
dengan senang hati menurut saja apa yang dikatakan pamannya.
Setelah di Jakarta, Ardi baru mengetahui, ternyata tempat tinggal pamannya
lebih mirip gubuk daripada rumah. Itupun ternyata sudah ditempati bertiga;
pamannya, Muhammad siswa SMA yang juga bekerja di Departemen Keuangan,
dan Rusmin, siswa Taman Dewasa. Kini, ditambah dengan Ardi. Jadi, gubuk kecil
itu ditempati berempat.
Meskipun penghasilan pamannya tidak besar, niat menyekolahkan Ardi
tetap ia lak-sanakan. Ardi dimasukkan di Taman Dewasa supaya dapat berangkat
bersama-sama dengan Rusmin. Selepas sekolah Ardi lebih banyak rnengobrol
dengan Muhammad yang usianya hampir sebaya dengan paman Abdulmanan,
daripada dengan Rusmin yang usianya tidak jauh berbeda dengan Ardi.
Jarak dari rumah ke sekolah yang cukup jauh dan ditempuh anak tanggung
itu dengan berjalan kaki, cukup membuarnya sengsara. Paling tidak, itu
menyangkut soal kakinya yang belum terbiasa bersepatu. Namun, keadaan yang
tak enak itu tidak mengurangi niatnya untuk bersekolah. Belakangan, ia juga
bergaul dengan siswa Taman Madya yang setingkat dengan SLTA. Ardi mulai
tertarik pada kesenian. la juga mulai mencoba membuat beberapa sketsa yang
ternyata berhasil dimuat di majalah Mimbar Indonesia. Pengaruhnya ternyata
cukup besar. Anak tanggung itu makin giat melatih melukis dan kegiatan kesenian
lainnya.
Lulus Taman Dewasa, Ardi masuk Taman Madya. Kegiatannya makin
bertambah. "Ardi juga bersekolah sore hari sekarang. Maka, waktu pagi
digunakannya untuk berkunjung ke rumah kawannya untuk bercakap-cakap atau
melukis" (hlm. 103). Dalam pada itu, suhu politik menjelang pemilu sedikit
banyak telah mendapat per-hatian juga, walaupun hanya sebatas mendengarkan
cerita-cerita, mengikuti beritanya atau diskusi tentang itu.
Pada saat yang demikian, tiba-tiba saja daerah tempat tinggal Ardi dilanda
ke-bakaran, yang memakan banyak rumah. "Mungkin saja ada orang melepas api
untuk membakari rumah rakyat, agar pemerintah dapat main dengan orang-orang
berduit. Tetapi mungkin pula sebabnya. Oxang-oraug melepas api membakari
rumah rakyat untuk membuat rakyat makin tidak puas kepada pemerintah.
Bukankah sekarang menghadapi pemilihan umum?" (hlm. 115).
Selepas Taman Madya, Ardi tidak mclanjutkan pendidikannya. la juga tidak
lagi tinggal bersama pamannya, la kini tinggai bersama Ahmad, sesama pelukis,
yang kegiatannya akhir-akhir ini banyak tercurahkan pada organisasi pemuda.
Organisasi seperti itu memang ramai bermunculan sejalan dengan meningkatnya
suhu politik. Namun, Ardi lebih menekuni kegiatan melukis.
Dalam sebuah pameran tunggal karya Hasan, teman sesama pelukis, Ardi
ber-kenalan dengan Rini dan Hermin. Atas usul Rini yang ingin agar dirinya
dijadikan model, Hasan dan Ardi kemudian datang ke rumah gadis itu. Dari sini
hubungan mereka makin rapat, khususnya Ardi dan Hermin. Sampai pada suatu
saat sepasang anak manusia yang berlainan jenis itu bersepakat untuk
menumbuhkan perasaan cinta masing-masing. "Kukira cinta itu tumbuh, seperti
benih, kalau menemukan tanah yang subur. Cintaku menemukan persemaian
dalam dirirnu. Tidakkah itu cukup?" (hlm. 173). Begitulah, keduanya tenggelam
dalam lautan cinta.
Malamnya, tanpa diduga Ardi ditawari untuk bekerja pada sebuah majalah.
"Aku merasa takjub. Sore itu aku memperoleh cinta dan malam ini mcmperoleh
pekerjaan" (hlm. 178).
Setelah merasa mempunyai penghasilan tetap, Ardi pindah dari rumah
Ahmad. la menyewa sebuah rumah kecil di bilangan Setiabudi. Hubungan dengan
kekasihnya makin rapat, bahkan tidak jarang melakukan hubungan intim layaknya
suami-istri.
Sementara itu, kelompok seniman Lekra/PKI dengan cara-cara halus dan
terselubung, berhasil metibatkan Ardi datam suatu penandatanganan Konscpsi
Presiden. Sebagai seniman, pelukis muda itu tidak tahu-menahu perihal maksud
dan tujuan konsepsi tersebut. la juga tidak menduga jika tanda tangannya—yang
menurut Suryo, anggota PKI, hanya urusan administrasi—akan dipublikasikan
secara luas dan dimuat di media massa. Akibatnya'sangat fatal! Ardi dipandang
sebagai orang yang sudah menjadi anggota komunis. Ayah Hermin yang
antikomunis, tentu saja tidak mau anaknya bergaul dengan anggota partai yang
dibencinya. Hermin dilarang berhubung-an dengan Ardi. Belakangan, diketahui
pula bahwa Hermin ternyata; lebih mengingin-kan pemuda lain.
Pelukis muda yang sebenarnya berbakat itu, masih juga belum menyadari
masalah yang sedang dihadapinya. la terlalu polos. Maka, ketika Ahmad,
sahabatnya, juga menjauhi, Ardi masih menganggapnya sebagai alasan yang
dicari-cari. Lebih dari itu, sketsa-sketsanya yang dikirim ke beberapa majalah juga
tak ada satu pun yang dimuat. Ardi dikucilkan oleh pacarnya dan sahabat-
sahabatnya.
Dalam kesendirian yang menyakitkan, dalam keterpencilan dan
kedukaannya, tiba-tiba datanglah Suryo mendesak agar Ardi menyelenggarakan
pameran tunggal. Suryo juga menawarkan pekerjaan. Lebih dari itu, kader PKI
yang lihai itu menyelipkan selembar ribuan yang waktu itu benar-benar
dibutuhkan pelukis malang itu. Dalam keadaan seperti itulah, tanpa minta
pertimbangan sahabat-sahabatnya, Ardi menyata-kan kesediaannya.
Pameran tunggal karya pelukis Ardi jadi dilaksanakan dengan pengunjung
yang luar biasa ramainya. Korari-koran memujinya setinggi langit Sejak itulah,
pelukis yang masih juga belum mengerti intrik-intrik politik, aktif mengikuti
berbagai kegiatan yang diselenggarakan Lekra/PKL Seniman lugu itu benar-benar
sufcsts, baik ma tori popularitasnya.
Setelah beberapa kali ia dikirim ke luar negeri, tanpa sengaja ia bertemu
dengan sahabatnya, Hasan. Temannya yang satu ini sama sekalt tidak mau terlibat
urusan politik. la merasa senang ketika Ardi menyatakan niatnya akan keluar dari
anggota Lekra/PKl. Pemuda itu baru menyadari kekeliruannya. Tetapi belum
sempat niat itu dilaksanakan, terjadi tragedi nasional: pengkhianatan PKI 30
September 1965. Ardi menyelamatkan diri ke Jawa Tengah, tetapi tak diketahui
nasibnya. Begitu juga Hasan, sahabatnya, entah berada di mana. Hanya Hasan
memiliki keteguhan hati untuk tidak ikut terlibat dalam kegiatan politik. "Menurut
hematku, komunisme adalah paham yang akan selalu dapat tumbuh subur datam
setiap masyarakat yang mempunyai kondisi tertentu. Maka, yang penting adalah
kita harus mengusahakan agar masyarakat kita jangan sampai mempunyai kondisi
yang dapat menjadi bumi yang subur bagi tumbuhnya paham itu" (hlm. 312-313).
***

N ovel Anak Tanah Air: Secercah Kisah ini, konon ditulis dalam dua versi:
versi pertama ditulis di Iwakura, Kyoto, November 1980; versi kedua
(final) ditulis di Hashimotocho, Osaka, Agustus 1983, Lengkapnya, novel ini
terdiri dari tiga bagian: bagian pertama, "Kilasan-kilasan" menceritakan tokoh
Ardi semasa sekolah di Taman Dewasa dan Taman Madya; bagian kedua, "Helai-
helai Kehidupan" menceritakan masa dewasa Ardi hingga terpedaya kelompok
Lekra/PKI; dan bagian terakhir, "Surat-surat Dini Hari" memuat surat-surat Hasan
yang ditujukan entah kepada siapa.
Dilihat dari sudut pencerita, novel ini mempergunakan tiga bentuk
pencerita, yaitu diaan (bagian pertama), akuan (bagian kedua), dan bentuk surat
(bagian ketiga). Secara tematik, keseluruhan novel ini ingin
menceritakan/mengangkat masalah politik yang terjadi antara tahun 50-an sampai
dengan 1965. Deskripsinya yang cukup terinci mengenai cara-cara PKI
menyebarkan pengaruhnya, terkesan semacam dokumen se-jarah yang terjadi
pada waktu itu. Demikian pula gambaran kehidupan para seniman waktu itu,
banyak melibatkan nama dan peristiwa yang memang ada secara faktual. Dalam
hal tersebut itulah kekuatan novel ini.

9. PERTEMUAN DUA HATI


Pengarang : Nh. Dini
Penerbit : Gramedia
Tahun : 1986

K epindahan suami Bu Suci ke Semarang, memaksa guru sekolah dasar itu


juga ikut pindah ke sana. Beruntung ada salah satu sekolah yang
menerimanya sehingga Bu Suci tidak terlalu lama menganggur. Bahkan "ada
kemungkinan aku akan mengajar lebih dini dari yang telah direncanakan semula"
(hlm. 18). Menurut kepala sekolah, ada seorang guru yang mcngalami kecelakaan.
Bu Suci menggantikan tempat guru yang mendapat kecelakaan itu, yakni
mengajar dua kelas.
Pada awal menjalankan tugasnya sebagai guru yang memegang dua kelas,
keduanya kelas riga, Bu Suci menjalankan tugasnya dengan baik. Semua berjalan
lancar. Begitu pula urusan rumah tangganya tak menemui masalah. Namun, pada
hari keempat, Bu Suci, yang telah mempunyai sepasang putra, memperoleh
keterangan bahwa salah seorang muridnya, Waskito, belum juga masuk kelas. la
heran, sebab semua murid yang sekelas dengan Waskito tak satu pun yang
mengetahui mengapa murid itu belum juga masuk kelas. Ternyata, di kalangan
teman-temannya, Waskito dikenal sebagai murid yang bengal. Begitu pula guru-
guru menyebutnya sebagai murid yang nakal, murid yang sering membuat
kekacauan.
Itulah masalah yang dihadapi oleh Bu Suci. la bertekad untuk
mengembalikan Waskito menjadi murid yang wajar. Bersamaan dengan itu,
masalah lain datang pula, Itu menyangkut anaknya sendiri. Si Bungsu ternyata
mengidap penyakit ayan. Itu berarti anaknya harus memperoleh perawatan
intensif seorang neorolog, ahli saraf. Berarti pula perhatian khusus harus diberikan
demi kesembuhan anak keduanya itu. Dengan demikian, dua masalah sekaligus
datang menimpa Bu Suci. Saat itu terbersit keraguannya dalam menyelesaikan
masalah ini. Sebagai ibu, ia tak ingin masa depan anaknya suram; dan sebagai
guru, ia juga berharap agar semua muridnya menjadi anak yang baik, anak yang
berguna bagi sesamanya.
Pernah pula terlintas dalam pikiran Bu Suci untuk lebih memperhatikan
anaknya sendiri; "sepintas laru, tentu saja aku mementingkan anakku daripada
muridku. Tetapi benarkah sikap itu?" (hlm. 46). Di lain pihak, ia juga menyadari
profesinya sebagai guru; sebagai orang tua bagi murid-muridnya. Maka,
keputusan Bu Suci adalah tidak memilih salah satu dari persoalan itu, melainkan
memilih keduanya. "Anak dan Murid. Bukan anak atau murid. Ya, akhirnya itulah
yang harus kupilih;, keduanya" (hlm. 47).
Sementara Bu Suci terus memperhatikan anak bungsunya, ia berusaha
mencari keterangan perihal latar belakang kehidupan Waskito. Dari sejumlah
informasi, akhirnya ia menyimpulkan bahwa kenakalan Waskito sesungguhnya
hanya semacam kom-pensasi anak yang merasa kurang mendapat perhatian kedua
orang tuanya. "Jenis anak-anak lain tidak akan memandang hal itu sebagai satu
masalah. Namun, bagi Waskito, yang sedari kecil merasa ditolak, tidak
diperhatikan, hal itu merupakan beban yang mengganjal di hatinya" (hlm. 52).
Kesimpulan tersebut telah memperkuat tekad Bu Suci untuk
mengembalikan Waskito menjadi murid yang wajar, sama seperti murid yang lain.
Waskito pada mulanya menanggapinya secara baik. Murid-murid lainnya juga
mulai menerima Waskito se-bagaimana biasanya hubungan sesama murid.
Sungguhpun demikian, beberapa rekan sejawat Bu Suci ada yang
menanggapinya secara lain. Beberapa guru, ada yang kurang mendukung itikad
baik Bu Suci, yang menurut mereka berlebihan. Mereka juga beranggapan bahwa
anak macam Waskito yang sudah terbiasa dimanja dengan harta, tak bakal dapat
disembuhkan lagi. Anggapan itu kemudian seolah-olah memperoleh pembenaran,
ketika suatu hari Waskito mengamuk.
Tenru saja peristiwa itu sangat memukul hati Bu Suci. Ja mulai meragukan
kemam-puannya untuk menyadarkan murid bengal itu. Di samping itu, peristiwa
itu juga telah "menggoncangkan kepercayaan sekolah kepada Waskito" (hlm. 69).
Bu Suci kemudian diberi waktu sebulan dalam usahanya menyadarkan Waskito.
Bagaimana-pun, idealismenya sebagai seorang guru memberi keyakinan yang
kuat pada dtrinya bahwa dengan pendekatan dan cara yang tepat, pastilah murid
bengal itu akan kembali menjadi murid yang wajar. Keyakinan Bu Suci ternyata
benar. Pada akhir tahun pelajaran, Waskito naik kelas. Tidak hanya itu, ia juga
menjadi murid yang baik.
Tentu saja Bu Suci merasa senang. Terlebih lagi, kesehatan anak bungsunya
juga makin baik dan tidak lagi memperlihatkan tanda-tanda kambuh.
***

A gak berbeda dengan novel-novel Nh. Dini lainnya, Pertemuan Dua Hati
memperlihatkan minat sastrawati yang produktif ini kepada persoalan
dunia pendidikan. Kisah seorang guru sekolah dasar ini, tampaknya sengaja
hendak menempatkan peran dan tanggung jawab seorang guru. Di lain pihak,
terkesan juga hendak menggam-barkan betapa tugas seorang guru tidak ringan.
Bu Suci yang harus menghadapi kenyataan bahwa anaknya sakit ayan, muridnya
bengal, dan rekan sejawatnya kurang memberi dukungan, ternyata tetap
menjunjung tinggi idealisme profesinya sebagai guru. Dengan keyakinan itu,
betapapun beratnya, akhirnya dapat pula ia jalankan dengan baik. la berhasil
melaksanakan kewajibannya, baik sebagai ibu rumah tangga maupun sebagai ibu
guru.
Sekitar lebih dari sepuluh resensi yang mengulas buku ini, umumnya
memberi pujian pada tema ceritanya. Sesungguhnya, memang dalam hal tema
itulah, novel ini memperlihatkan kekuatannya. Sebagai bahan pengajaran untuk
menanamkan pen-tingnya hubungan baik antara guru dan murid, novel ini kiranya
sesuai untuk dijadikan salah satu bahan acuan.
Studi yang cukup mendalam mengenai novel ini pernah dilakukan oleh
Oktaviani (FSU1, 1991) sebagai bahan penelitian skripsi sarjananya.
Tahun 1989, novel ini diangkat menjadi sinetron TVRI, dengan Titiek
Sandhora sebagai pemeran utamanya.

10. DI SIMPANG JALAN


Pengarang : Ras Siregar (10 Juni 1936)
Penerbit : Pustaka Karya Grafika Utama
Tahun : 1988
M ulanya pertemuan Bahrum dan Anita Rahman berlangsung biasa-biasa
saja dan wajar, Bahrum yang oleh kantornya diberi kesempatan untuk
mengikuti kursus manajemen, berkenalan dengan Anita yang juga ditugaskan oleh
kantornya unluk mengikuti pendidikan yang sama. Pertemuan mereka di tempat
kursus yang makin kerap, lambat-laun menumbuhkan rasa simpati pada diri
keduanya, sungguhpun sebenarnya rnasing-masing sudah berkeluarga. Malahan
Bahrum sudah mempunyai lima orang anak, sedangkan Anita belum.
Hidup berkeluarga tanpa anak, rupanya belum membuat Anita merasa
bahagia. Apalagi perkawinannya dengan Rahman, suaminya, sesungguhnya tidak
didasari oleh perasaan saling mencintai, melainkan karena kehendak kedua orang
tua yang masih famili. Konon, Rahman berasal dari keluarga berkecukupan. Di
Malang, ayahnya mempunyai perusahaan kopi. Kendati demikian, Rahman tidak
melanjutkan sekolah-nya ke perguruan tinggi. la hanya tamat SMA dan kemudian
bekerja di P dan K Jakarta. Sebaliknya, Anita dapat menyelesaikan studinya
hingga tamat perguruan tinggi. Dengan pendidikannya itu, ia bekerja di
perusahaan swasta dan menduduki jabatan di bagian personalia.
Kepada Bahrum jualah Anita dapat menceritakan segala keluhannya. Bagi
Anita, Bahrum memang mcnyenangkan. Hal ini merupakan sesuatu yang tidak ia
dapatkan dari suaminya, Anita tak merasa risih mengutarakan hal-hal yang sangat
pribadi sifatnya, misalnya dalam hubungan intimnya dengan Rahman, la merasa
diperlakukan sebagai tempat pemuas nafsu suaminya belaka. "Ya, jika dia ingin
campur, tengah malam ia datang ke tempat tidurku dan ...!" (hlm. 40),
Rumah tangga yang tak" lagi harmonis itu, akhirnya berpuncak pada
pertengkaran saat seminggu setelah ayah Rahman meninggal. Malam ketujuh itu
Anita tidak datang ke rumah merruanya. Ketika Rahman menanyakan mengapa
tidak datang, Anita menjawab, bahwa ia pergi nonton bersama teman-temannya.
Anita begitu tak peduli dengan kematian mertuanya. Hal itulah yang
menyebabkan suaminya naik pitam dan menampar Anita dua kali. Anita
kemudian minta diceraikan. Rahman meninggalkan Anita, yang lalu dibalas
istrinya dengan meninggalkan rumahnya. Anita menyewa sebuah kamar di
pondokan. Pemilik pondok itu adalah seorang wanita yang senang menghabiskan
waktu dengan bermain bridge. la mempunyai seorang keponakan ber-nama Yanto
yang masih kuliah di Universitas "I". Di pondokan itu ada lima orang wanita yang
menyewa kamar, termasuk Anita. Salah seorang bernama Tini yang doyan
berkencan dengan lelaki berduit. Anita pun pernah diajaknya.

Rahman pernah pula datang ke pondokan tempat Anita tinggal. la


membujuk istrinya agar mau pulang ke rumah mereka di Cilandak, namun Anita
menolaknya. Rahman terpaksa pulang dengan tangan hampa.
Suatu saat istri Bahrum pulang ke rumah orang tuanya di Lampung yang
menurut kabar sedang sakit. Bahrum sendiri sengaja tidak ikut. la lebih senang
menjaga anak-anaknya yang sekolah dan sekaligus ingin mengetahui Anita
selanjutnya.
Sementara itu, Anita mengambil cuti dari pekerjaannya. Kesempatan itu
tentu saja dimanfaatkan Bahrum untuk mengajaknya jalan-jalan; melepaskan
perasaan masing-masing. Pada saat-saat seperti itu, hubungan mereka laksana
sepasang sejoli yang sedang memadu kasih.
Suatu malam, .Bahrum mengantar Anita pulang ke pondokannya agak larut
malam. Sepulangnya Bahrum, Anita merasakan keadaan pondokannya begitu
sepi. Penghuni lainnya entah sedang pergi ke mana. Hanya Yanto yang tinggal.
Tanpa curiga Anita masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Saat itulah,
Yanto mengikutinya dari belakang. Tanpa diduga Anita, tiba-tiba saja pemuda itu
mendekapnya; bermaksud hendak memperkosanya. Perbuatan rnesum itu nyaris
saja terjadi kalau Anita tidak berusaha keras mclakukan perlawanan. la segera
kabur meninggalkan pondokannya, pergi menuju rumah Bahrum. Tentu saja lelaki
yang sedang ditinggal istrinya itu kaget melihat kedatangan Anita. Seteiah
mendengar ketcrangan Anita, Bahrum mengusulkan agar kekasih gelapnya itu
tinggal di rumahnya, sekalian untuk mengenal kelima orang anaknya.
Seteiah dua hari Anita tinggal dan mulai mengenal anak-anak Bahrum,
datang interlokal dari Lampung yang menyuruh agar Bahrum menjemput istrinya
ke sana, karena istrinya akan segera kembali ke Jakarta. Bahrum terpaksa
meninggalkan Anita di rumahnya. Anita sendiri merasa senang dapat mengenal
anak-anak Bahrum. De-mikian juga sebaliknya, kelima anak Bahrum dapat cepat
akrab.
Suatu hari Rahman datang menemui Anita di rumah Bahrum. la tetap
mengajak Anita kembali bersamanya. Anak-anak Bahrum ternyata senang juga
kepada Rahman. Mereka teiah berjanji untuk sama-sama pergi bertamasya ke
Cibodas. Mulanya, Anita menolak pergi dengan mereka, tetapi akhirnya mau juga.
Sepulang dari Cibodas, Bahrum dan istrinya telah menanti mereka di rumah.
Bahrum memperkenalkan Anita dan Rahman kepada istrinya. Kemudian, istri
Bahrum mengatakan bahwa ia dan anak-anak akan berkunjung ke rumah Anita
dan Rahman di Cilandak.
Anita dan Rahman berjanji akan menyambut keluarga Bahrum. Tak lama
kemudian, mereka berpamitan. Setibanya di rumah, Rahman merangkul Anita.
Mereka bersatu kembali demi terwujudnya rumah tangga yang ceria dan bahagia.
***

N ovel Ras Siregar ini semula merupakan cerita bersambung yang dimuat
harian Kompas. Seteiah mengalami revisi seperlunya, barulah diterbitkan
sebagai buku. Begitulah keterangan yang terdapat di dalam pengantar novel ini.
Di Simpang Jalan adalah novel kedua Ras Siregar. Novel pertamanya,
Terima Kasih terbit tahun 1969 yang menurut Pamusuk Eneste (1990: 149), terbit
tahun 1968.
Cerita novel Di Simpang Jalan sebenarnya lebih menyerupai gambaran
kehidupan seorang istri yang bekerja, sebagaimana yang diperankan oleh tokoh
Anita. Sedangkan hubungannya dengan Banning walaupun baru sebatas kencan
dan tidak lebih dari itu, dimungkinkan oleh sikap Anita sendiri yang banyak
memberi "angin" kepada lelaki yang sudah beranak-istri itu. Jadi, kalau saja Anita
bersikap wajar, rasanya Bahrum juga akan tetap menjaga hubungannya dengan
Anita secara wajar. Begitulah, pe-ngarang terkesan hendak menekankan, bahwa
terjadinya berbagai penyelewengan atau skandal yang terjadi pada para pegawai
berbagai perusahaan, sebenarnya lebih banyak disebabkan oleh sikap para
pegawai wanitanya yang sering bersikap tak wajar.
Beruntung, bahwa balk Bahrum maupun Rahman, suami Anita, lebih
mementingkan urusan rumah tangga daripada kesenangan pribadinya, sehingga
tak sampai terjadi hubungan yang dapat menghancurkan rumah tangga masing-
masing.

Daftar Pustaka

Mahayana M.S, Sofyan O., Dian A. (2000). Ringkasan dan Ulasan Novel
Indonesia Modern. Jakarta : PT Gramedia.