Anda di halaman 1dari 11

GEN YANG TERANGKAI SEKS

Tanggal Praktikum : 23 Oktober 2014


Tujuan Praktikum:
1. Mengenal sifat genetik manusia yang ditentukan oleh gen yang terangkai pada
kromosom seks
2. Mengetahui perbedaan jumlah penderita buta warna berdasarkan jenis kelamin
Permasalahan
1. Berapa persentase wanita yang butawarna? Laki-laki butawarna? Sesuaikah
dengan teori yang ada? Jelaskan
2. Jika wanita normal tetapi ayahnya butawarna menikah dengan laki-laki normal,
bagaimana keturunan yang mungkin lahir/
3. Buatlah silsilah keluarga anda berkaitan dengan sifat butawarna, lengkapi
dengan kemungkinan genotip masing-masing individu.
Landasan Teori
Buta warna adalah suatu kondisi ketika sel-sel retina tidak mampu merespon warna
dengan semestinya. Sel-sel kerucut di dalam retina mata mengalami perlemahan atau
kerusakan. Dalam Kalat (2010), butawarna dideskripsikan sebagai defisiensi penglihatan
berwarna, sebuah gangguan proses persepsi perbedaan warna. Penyebab butawarna
adalah kondisi yang diturunkan secara genetik.
Beberapa lapis dibelakang permukaan retina terdapat kombinasi sel-sel batang dan
kerucut yang sangat berperan dalam fungi penglihatan mata. Sel kerucut (cone ) bersifat
fotopik serta berperan di siang hari yang peka terhadap warna, sedangkan sel batang (rod )
adalah skotopik, yang peka terhadap cahaya, dan menjadi parameter kepekaan retina
terhadap adaptasi gelap-terang (Pinel, 2009).
Menurut Ganong (2003) dalam Kalat (2010), butawarna merupakan penyakit
keturunan yang terekspresi pada pria, tetapi tidak pada wanita. Wanita secara genetis
sebagai carrier. Istilah butawarna atau colorblind sebetulnya salah pengertian dan
menyesatkan, karena seorang penderita butawarna tidak buta terhadap seluruh warna.
Akan lebih tepat bila disebut gejala defisiensi daya melihat warna tertentu saja atau color
vision difiency . Orang yang mengalami butawarna tidak hanya melihat warna hitam putih
saja, tetapi yang terjadi adalah kelemahan atau penurunan pada penglihatan warna-warna
tertentu misalnya kelemahan pada warna merah, hijau, kuning, dan biru. Butawarna
permanen biasanya terjadi karena faktor keturunan.
Buta warna dapat dites dengan tes Ishihara, dimana lingkaran - lingkaran berwarna
yang beberapa diantaranya dirancang agar ada tulisan tertentu yang hanya dapat
dilihat atau tidak dapat dilihat oleh penderita buta warna. Macam-macam plat ini dirancang
untuk menyediakan sebuah test yang memberikan sebuah penilaian yang cepat dan akurat
mengenaibuta warna bawaan. Dan ini adalah beberapa bentuk sederhana dari gangguan
penglihatan warna.
Cara melakukan test
buta warna untuk kelainan ini adalah dengan membedakan
macam-macam plat ini. Plat-plat yang ada di alat test kebutaan warna Ishihara membentuk
sebuah metode yang mudadalam mendiagnosa untuk kasus-kasus gangguan penglihatan
merahhijau.Salah satu kelainan dari gangguan penglihatan warna merah-hijau adalah
warnabiru dan kuning yang muncul lebih jelas dibandingkan dengan warna merah- hijau.
Tapi ada juga beberapa kelompok orang yang sangat jarang yang menderita buta warna
total dan tidak bisa membedakan variasi warna sama sekali. Biasanya, itu disertai dengan
kerusakan pusat penglihatan.

Isi Materi Ishihara dengan 38 macam Plat Terdapat 38 macam plat dalam alat
test kebutaan warna Ishihara, yaitu :
Plat No. 1 :
Orang normal dan mereka yang buta warna sama-sama akan terbaca 12.
Plat nomer 1 terlihat pada gambar 2.

Plat No. 2 - 5 :
Orang normal akan membacanya 8 (No.2), 6 (No.3), 29 (No.4), dan 57 (No.5).
Mereka yang menderita gangguan penglihatan merah-hijau akan membacanya 3
(No.2), 5 (No.3), 70 (No.4) dan 35 (No.5). Mereka yang buta warna tidak bisa
membaca nomer apapun. Plat nomer 2, 3, 4 dan 5 terlihat pada gambar 3, 4, 5, 6.

Gambar 3. Plat no. 2

Gambar 4. Plat no. 3

Gambar 5. Plat no. 4

Gambar 6. Plat no. 5

Plat No. 6 - 9 :
Orang normal akan membacanya 5 (No.6), 3 (No.7), 15 (No.8) dan 74
(No.9). Mereka yang menderita gangguan penglihatan merah-hijau akan membacanya
2 (No.6), 5 (No.7),17(No.8) dan 21 (No.9). Mereka yang buta warna tidak bisa
membaca nomer apapun. Plat nomer 6, 7, 8 dan 9 terlihat pada gambar 7, 8, 9 dan 10

Gambar 7. Plat no. 6

Gambar 8. Plat no. 7 Gambar 9. Plat no. 8 Gambar 10.Plat no. 9

Plat No.10-13 :
Orang normal akan membacanya 2 (No.10), 6 (No.11), 97 (No.12) dan 45 (No.13).
Sebagian besar orang yang menderita gangguan penglihatan warna tidak bisa membaca
satu nomer pun dan walaupun bisa dibaca, jawabannya salah. Plat nomer 10, 11, 12 dan
13 terlihat pada gambar 11, 12, 13 dan 14.

Gambar 11.Plat no. 10 Gambar 12.Plat no.11 Gambar 13.Plat no.12 Gambar 14.Plat no. 13
Plat No.14 - 17 :
Orang normal akan membacanya 5 (No.14), 7 (No.15), 16 (No.16) dan 73 (No.17).
Sebagian besar orang dengan gangguan penglihatan warna tidak bisa membaca
satu nomer pun dan walaupun bisa dibaca, jawabannya salah. Plat nomer 14, 15, 16
dan 17 terlihat pada gambar 15, 16, 17 dan 18.

Gambar 15.Plat no.14 Gambar 16.Plat no.15 Gambar 17.Plat no.16 Gambar 18.Plat no. 17
Plat No.18 - 21 :
Sebagian besar orang yang menderita gangguan penglihatan merah-hijau akan
membacanya 5 (No.18), 2 (No.19), 45 (No.20) dan 73 (No.21). Sebagian besar orang
normal dan buta warna tidak bisa membacanya sama sekali. Plat nomer 18, 19. 20
dan 21 terlihat pada gambar 19, 20, 21 dan 22.

Gambar 19.Plat no.18 Gambar 20.Plat no.19 Gambar 21.Plat no.20 Gambar 22.Plat no. 21
Plat No.22 - 25 :
Orang normal akan membacanya 26 (No.22), 42 (No.23), 35 (No.24) dan 96 (No.
25).Untuk kasus protanopia dan protanomalia yang parah hanya 6 (No.22), 2 (No.23), 5
(No.24) dan 6 (No.25) yang terbaca. Dan untuk kasus protanomalia yang ringan, kedua
nomer-nomer di tiap plat terbaca tapi hanya nomer 6 (No.22), 2 (No.23), 5 (No.24) dan
6 (No.25) yang paling jelas dari nomer lain.
Untuk kasus deuteranomalia hanya nomer 2 (No.22), 4 (No.23), 3 (No.24) dan 9
(No.25) yang terbaca. Dan untuk kasus deuteranomalia yang ringan, kedua nomer di
tiap plat terbaca tapi hanya nomer 2 (No.22), 4 (No.23), 3 (No.24) dan 9 (No.25) yang
terlihat paling jelas dari nomer lainnya. Plat nomer 22, 23, 24 dan25 terlihat pada
gambar 23, 24, 25 dan 26.

Gambar 23.Plat no.22 Gambar 24.Plat no.24 Gambar 25.Plat no.23 Gambar 26. Plat no. 25
Plat No.26 & 27 :
Dalam menemukan lilitan garisgaris antara dua x, orang normal akan mengikuti
garis ungu dan merah. Penderita protanopia dan protanomalia yang parah hanya garis
ungu yang ditemukan, dan untuk kasus protanomalia yang ringan, kedua garis

dapat ditemukan, namun garis ungu lebih mudah untuk diikuti. Untuk kasus
deuteranopia dan deuteranomalia yang parah hanya garis merah yang ditemukan, dan
untuk deuteranomalia yang ringan kedua garis dapat ditemukan, namun garis merah
lebih mudah diikuti. Plat nomer 26 dan 27 terlihat pada gambar 27 dan 28.

Gambar 27. Plat no. 26 Gambar 28. Plat no. 27


Plat No.28 & 29 :
Dalam menemukan lilitan garis antara dua x, sebagian besar dari penderita
gangguan penglihatan merah-hijau akan mengikuti garis.Tapi sebagian besar orang
normal dan buta warna tidak bisa mengikuti garisnya. Plat nomer 28 dan 29 terlihat
pada gambar 28 dan 29 .

Gambar 28. Plat no. 28 Gambar 29. Plat no. 29


Plat No.30 & 31 :
Dalam menemukan lilitan garis antara dua x, orang normal menemukan garis hijau
kebiru-biruan, tapi sebagian besar orang dengan gangguan penglihatan warna tidak
bisa mengikuti garis atau mengikuti garis tapi berbeda garis dengan yang normal. Plat
nomer 30 dan 31 terlihat pada gambar 30 dan 31.

Gambar 30. Plat no. 30 Gambar 31. Plat no. 31


Plat No.32 & 33 :
Dalam menemukan lilitan garis antara dua x, orang normal akan menemukan garis
orange, tapi sebagian besar penderita gangguan penglihatan warna tidak bisa
mengikuti garis atau mengikuti garis tapi berbeda garis dengan yang normal. Plat nomer
32 dan 33 terlihat pada gambar 32 dan 33.

Gambar 32. Plat no. 32 Gambar 33. Plat no. 33

Plat No 34 & 35 :
Dalam menemukan lilitan garis antara dua x, orang normal akan menemukan garis
yang menghubungkan warna hijau kebiru- biruan dan hijau kekuning-kuningan. Dan
penderita gangguan penglihatan merah-hijau menemukan garis yang menghubungkan

warna hijau kebiru-biruan dengan ungu, dan orang buta warna tidak bisa menemukan
garis. Plat nomer 34 dan 35 terlihat pada gambar 34 dan 35

Gambar 34. Plat no. 34 Gambar 35. Plat no. 35


Plat No.36 & 37 :
Dalam menemukan lilitan garis antara dua x, orang normal akan menemukan garis
yang menghubungkan warna ungu dan orange, dan penderita gangguan penglihatan
merah - hijau menemukan garis yang menghubungkan warna ungu dan hijau
kebiru-biruan, dan orang buta warna tidak bisa menemukan garis. Plat nomer 36 dan
37 terlihat pada gambar 36 dan 37

Gambar 36. Plat no. 36 Gambar 37. Plat no. 37


Plat No. 38 :
Dalam menemukan lilitan garis antara dua x, orang normal dan penderita gangguan
penglihatan warna mampu menemukan garisnya. Plat nomer 38 terlihat pada gambar 38

Gambar 38. Plat no. 38


Alat dan Bahan
1. Buku Ishihara
2. Alat tulis
Cara Kerja
1. Menentukan anggota kelompok yang akan diuji
2. Meminta anggota kelompok yang ditunjuk untuk membaca angka yang terdapat
pada setiap lembar buku Ishihara
3. Mencatat setiap hasil pembacaan angka pada tabel pengamatan yang telah
tersedia
4. Melakukan hal yang sama pada anggota kelompok yang lain secara bergantian
5. Dengan menggunkan kunci yang terdapat pada buku Ishihara, menentukan
fenotip dan kemungkinan genotip dari masing-masing anggota kelompok
6. Menghimpun data kelompok menjadi data kelas, membedakan berdasarkan jenis
kelamin
7. Mengambil kesimpulan dari kegiatan tersebut.
Hasil
Tabel 1. Data hasil pembacaan buku Ishihara oleh anggota kelompok mutasi
Halaman
Angka
Angka yang
Nama
Kesimpulan
yang dibaca
sebenarnya
terbaca
1
12
12
Aprilia Putri
Normal
Astuti
2
8
8

Putri Mei
Wahyuni

Ariza Naila
Safufia

3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

5
29
74
7
45
2
Tidak ada
16
Alur
35
96
Alur
12
8
5
29
74
7
45
2
Tidak ada
16
Alur
35
96
Alur
12
8
5
29
74
7
45
2
Tidak ada
16
Alur
35
96
Alur

5
29
74
7
45
2
Tidak ada
16
Alur
35
96
Alur
12
8
5
29
74
7
45
2
Tidak ada
16
Alur
35
96
Alur
12
8
5
29
74
7
45
2
Tidak ada
16
Alur
35
96
Alur

Normal

Normal

Tabel 2. Data fenotip sifat buta warna hasil pembacaan buku ishihara pada populasi kelas
Kelompok
Mutasi

Mendel

Fenotip

Nama Mahasiswa

Sex

Fenotip

Aprilia Putri A
Ariza Naila S
Putri Mei W
Annisa Lintang M
Abadia delima
Noor Innayati
Siti Zubaidah
Windy Oktaviani
Vina Q. A

Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Segregasi

Gen

Lokus

Alel

Sentromer

Monohibrid

Genotip

Intermediet

Kromosom

Nida Ghaida
Iis Sutiyani
Dwi Apriyani
Arum Nurita
M. Syukron F. A
Felliyana Azmi
Kusniana
Deviani
Tri purwaningsih
Pujiasih
Elita Kurnianti
Futikhatul F
Agus Safangat
Ros Setiani
Mei Dewi R
Merry Tantia D P
Intan Indah S
Alif Tini G
Nur Halimah
Dian Dwi H
Tessa Aghnes M
Sela Aprilia C Z
Yen Lestari H
Zahrina Nur L
Syahrizal U C
Widya Kusuma A
Devi Alvitasari
Lili Astuti I

Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Perempuan
Laki laki
Perempuan
Perempuan
Perempuan

Analisis Data
Tabel 3 Persentase penderita buta warna berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin
Penglihatan
Tally
Frekuensi
IIIII IIIII IIIII IIIII
Normal
34
IIIII IIIII IIII
Wanita
Buta Warna
Normal
III
3
Laki-laki
Buta Warna
-

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Persentase
91,9 %
8,1 %
-

Pembahasan
Praktikum kali ini mengenai gen yang terangkai kromosom sex. Bertujuan
mengetahui sifat genetik manusia yang ditentukan oleh gen yang terangkai pada
kromosom seks dan mengetahui perbedaan jumlah penderita buta warna berdasarkan jenis
kelamin. Untuk menguji adanya penyakit buta warna menggunakan buku ishihara. Tes
ishihara adalah tes buta warna yang dikembangkan oleh Dr. Shinobu Ishihara. Tes ini
pertama kali dipublikasikan pada tahun 1917 di Jepang. Tes buta warna ishihara terdiri dari
lembaran yang di dalamnya terdapat titik-titik dengan berbagai warna dan ukuran. Warna
titik itu dibuat sedemikian rupa sehingga orang buta warna tidak akan melihat perbedaan
warna seperti orang normal.
Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa, pada rombel 2
pendidikan biologi semua mahasiswa normal. Artinya, baik wanita maupun laki laki tidak
ada yang menderita penyakit buta warna. Terbukti ketika praktikum dengan pembacaan
angka pada buku ishihara, hasil pembacaan sesuai dengan kunci yang ada pada buku
Ishihara. Hal ini membuktikan bahwa pada retina terdapat sel-sel kerucut yang peka

terhadap warna merah, hijau dan biru. Oleh karena itu, dari praktikum di atas tidak bisa
diketahui besar persentase wanita yang butawarna dan laki laki yang buta warna. Pada
teori, telah diketahui bahwa jika persentase wanita buta warna dan laki-laki buta warna
dibandingkan, maka hasilnya adalah laki laki butawarna memiliki persentase yang lebih
besar daripada wanita. Hal ini bisa terjadi karena laki-laki memiliki kromosom seks XY,
sedangkan wanita memiliki kromosom seks XX. Laki-laki dan wanita sama sama memiliki
kromosom X. Di sisi lain kita ketahui bahwa gen gen yang terdapat pada kromosom seks
baik X maupun Y disebut gen terangkai seks atau gen terpaut kromosom seks. Gen yang
terpaut pada kromosom seks misalnya yaitu pada penyakit butawarna yang kita
praktikumkan kali ini. pada kasus butawarna ini diturunkan dan disebabkan oleh gen yang
terdapat pada kromosom X yaitu gen resesif c. Sedangkan alel dominan C menentukan
sifat normal. Kelainan genetik yang disebabkan karena gen terangkai kromosom seks X ini
umumnya lebih sering dijumpai pada laki laki. Hal ini terjadi karena pada laki laki hanya
mempunyai satu X sehingga meskipun hanya satu alel yang resesif tetap dapat
berekspresi. Sedangkan wanita memiliki dua X sehingga jika hanya ada satu alel resesif
(Xc) masih dapat tertutupi oleh alel yang dominan (XC), sehingga fenotip pada wanita
tersebut adalah wanita yang normal (tidak butawarna)..
Silsilah keluarga dari wanita normal yang memiliki ayah buta warna dan menikah
dengan laki-laki normal disajikan dalam bentuk bagan di bawah ini.
Ayah
(Buta warna)
XcY

Ibu

Wanita
Normal
XCXc

Laki -laki
Normal
X CY

Anak
XCXC
Perempuan
Normal

X CY
Laki-laki
Normal

XcXC
Perempuan
carrier

XcY
Laki-laki
Buta warna

Dari bagan diatas dapat diketahui bahwa wanita normal yang menikah dengan lakilaki normal tersebut sebenarnya adalah wanita carrier (wanita pembawa sifat buta warna)
dengan genotip XCXc. Hal ini dapat diketahui dari fenotip ayah wanita tersebut yaitu memiliki
sifat buta warna, jadi ayah wanita tersebut memiliki genotip XcY. Ayah memberikan
sebagian kromosomnya yaitu kromosom seks Xc kepada anaknya wanitanya tersebut.
Sehingga meskipun wanita tersebut menampakkan sifat normal (tidak buta warna), tetapi
wanita tersebut sebenarnya memiliki kromosom Xc yang sifatnya lebih resesif daripada XC
(kromosom lain yang dimiliki wanita tersebut), sehingga kromosom XC menutupi kromosom
Xc yang menyebabkan sifat buta warna tidak terekspresi. Laki-laki normal yang menikah
dengan wanita tersebut memiliki genotip XCY. Sehingga jika keduanya mempunyai anak
maka kemungkinan anaknya adalah 25 % perempuan normal dengan grenotip XCXC, 25 %
laki-laki normal dengan genotip XCY, 25 % perempuan carrier (tidak buta warna tetapi
membawa sifat butawarna) dengan genotip XcXC , dan 25 % laki-laki buta warna dengan
genotip XcY.s
Silsilah keluarga Putri Mei Wahyuni berkaitan dengan sifat buta warna dapat dilihat
pada bagan berikut ini :

Ayah
Normal
X CY

Putri Mei W

Ibu
Normal
XCXC

Adik perempuan

Normal

Normal

XCXC

XCXC

Dari bagan tersebut, dapat dilihat bahwa Ayah tidak memiliki penyakit buta warna
maka kemungkinan genotip yang dimiliki adalah XCY. Ibu, Putri Mei, dan adik juga tidak
memiliki penyakit buta warna sehingga ketiganya memiliki kemungkinan genotip yang sama
yaitu XCXC. Karena Ayah berjenis kelamin laki-laki maka mempunyai kromosom seks XY,
sedangkan Ibu, Putri Mei, dan adik berjenis kelamin perempuan maka memiliki kromosom
seks XX. Semua anggota keluarga berfenotip normal (tidak butawaarna) maka pada
kromosom X terpaut dengan C dominan yang membawa sifat normal (tidak buta warna).

Jawaban Permasalahan
1. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan dapat diketahui bahwa, pada rombel 2
pendidikan biologi semua mahasiswa normal. Artinya, baik wanita maupun laki laki tidak
ada yang menderita penyakit buta warna. Terbukti ketika praktikum dengan pembacaan
angka pada buku ishihara, hasil pembacaan sesuai dengan kunci yang ada pada buku
Ishihara. Hal ini membuktikan bahwa pada retina terdapat sel-sel kerucut yang peka
terhadap warna merah, hijau dan biru. Oleh karena itu, dari praktikum di atas tidak bisa
diketahui besar persentase wanita yang butawarna dan laki laki yang buta warna. Pada
teori, telah diketahui bahwa jika persentase wanita buta warna dan laki-laki buta warna
dibandingkan, maka hasilnya adalah laki laki butawarna memiliki persentase yang lebih
besar daripada wanita. Hal ini bisa terjadi karena laki-laki memiliki kromosom seks XY,
sedangkan wanita memiliki kromosom seks XX. Laki-laki dan wanita sama sama
memiliki kromosom X. Di sisi lain kita ketahui bahwa gen gen yang terdapat pada
kromosom seks baik X maupun Y disebut gen terangkai seks atau gen terpaut kromosom
seks. Gen yang terpaut pada kromosom seks misalnya yaitu pada penyakit butawarna
yang kita praktikumkan kali ini. pada kasus butawarna ini diturunkan dan disebabkan oleh
gen yang terdapat pada kromosom X yaitu gen resesif c. Sedangkan alel dominan C
menentukan sifat normal. Kelainan genetik yang disebabkan karena gen terangkai
kromosom seks X ini umumnya lebih sering dijumpai pada laki laki. Hal ini terjadi karena
pada laki laki hanya mempunyai satu X sehingga meskipun hanya satu alel yang resesif
tetap dapat berekspresi. Sedangkan wanita memiliki dua X sehingga jika hanya ada satu
alel resesif (Xc) masih dapat tertutupi oleh alel yang dominan (XC), sehingga fenotip pada
wanita tersebut adalah wanita yang normal (tidak butawarna).

2. Silsilah keluarga dari wanita normal yang memiliki ayah buta warna dan menikah dengan
laki-laki normal disajikan dalam bentuk bagan di bawah ini.
Ayah
(Buta warna)
XcY

Ibu

Wanita
Normal
XCXc

Laki -laki
Normal
X CY

Anak
XCXC
Perempuan
Normal

X CY
Laki-laki
Normal

XcXC
Perempuan
carrier

XcY
Laki-laki
Buta warna

Dari bagan diatas dapat diketahui bahwa wanita normal yang menikah dengan lakilaki normal tersebut sebenarnya adalah wanita carrier (wanita pembawa sifat buta warna)
dengan genotip XCXc. Hal ini dapat diketahui dari fenotip ayah wanita tersebut yaitu memiliki
sifat buta warna, jadi ayah wanita tersebut memiliki genotip XcY. Ayah memberikan
sebagian kromosomnya yaitu kromosom seks Xc kepada anaknya wanitanya tersebut.
Sehingga meskipun wanita tersebut menampakkan sifat normal (tidak buta warna), tetapi
wanita tersebut sebenarnya memiliki kromosom Xc yang sifatnya lebih resesif daripada XC
(kromosom lain yang dimiliki wanita tersebut), sehingga kromosom X C menutupi kromosom
Xc yang menyebabkan sifat buta warna tidak terekspresi. Laki-laki normal yang menikah
dengan wanita tersebut memiliki genotip XCY. Sehingga jika keduanya mempunyai anak
maka kemungkinan anaknya adalah 25 % perempuan normal dengan grenotip X CXC, 25 %
laki-laki normal dengan genotip XCY, 25 % perempuan carrier (tidak buta warna tetapi
membawa sifat butawarna) dengan genotip XcXC , dan 25 % laki-laki buta warna dengan
genotip XcY.s
3. Silsilah keluarga Putri Mei Wahyuni berkaitan dengan sifat buta warna dapat dilihat pada
bagan berikut ini :
Ayah
Normal
X CY

Putri Mei W

Ibu
Normal
XCXC

Adik perempuan

Normal

Normal

XCXC

XCXC

Dari bagan tersebut, dapat dilihat bahwa Ayah tidak memiliki penyakit buta warna
maka kemungkinan genotip yang dimiliki adalah XCY. Ibu, Putri Mei, dan adik juga tidak
memiliki penyakit buta warna sehingga ketiganya memiliki kemungkinan genotip yang sama
yaitu XCXC. Karena Ayah berjenis kelamin laki-laki maka mempunyai kromosom seks XY,
sedangkan Ibu, Putri Mei, dan adik berjenis kelamin perempuan maka memiliki kromosom
seks XX. Semua anggota keluarga berfenotip normal (tidak butawaarna) maka pada
kromosom X terpaut dengan C dominan yang membawa sifat normal (tidak buta warna).

Kesimpulan
1. Salah satu Sifat genetik manusia yang ditentukan oleh gen yang terangkai pada
kromosom X adalah penyakit buta warna
2. Buta warna lebih banyak diderita oleh laki-laki daripada perempuan.
Daftar Pustaka
Ervan, Deny Salvana dan Edy Mulyanto. 2012. Deteksi Risiko Penderita Buta Warna Menurun
Berbasis Pohon Keluarga Dengan Algoritma Genetika. Dalam jurnal ilmu computer
Universitas Dian Nuswantoro.
Kalat, James W. 2010. BiopsikologiEdisi9 (DiterjemahkanolehDhamarPramudito). Jakarta:
SalembaHumanika.
Murti, Hari dan Rina Candra Noor Santi. 2011. Aplikasi Pendiagnosa Kebutaan Warna dengan
Menggunakan Pemrograman Borland Delphi. Dalam jurnal Teknologi Informasi
DINAMIK Volume 16, No.2, Juli 2011 : 160170 ISSN : 08549524
Pinel, John P.T. 2009. BiopsikologiEdisiKetujuh (diterjemahkanolehHelly P Soetjiptodan Sri
MSoetjipto). Yogyakarta: PustakaPelopor.