Anda di halaman 1dari 7

KOMPLIKASI DM

Komplikasi Akut

DIABETIC KETOACIDOSIS

Diabetik Ketoacidosis (DKA) paling sering terjadi pada Diabetes Melitus tipe 1. DKA
dapat pula terjadi pada DM tipe 2 pada kondisi yang ekstrim. Selain berfungsi dalam proses
pemasukan glukosa ke intraseluler, insulin juga berfungsi dalam menghambat glukoneogenesis,
glikogenolisis, meningkatkan sintesis protein pada sel hepar dan sel otot, serta meningkatkan
proses lipogenesis/sintesis lipid pada hepar dan adiposity.
Jika tidak ada cukup insulin yang bekerja, baik akibat kekurangan sintesis insulin
maupun resistensi insulin, akan terjadi efek yang berkebalikan. Salah satu di antaranya adalah
menyebabkan penurunan sintesis lipid dan meningkatkan proses pemecahan lipid atau lipolosis.
Hasil dari proses lipolisis tersebut adalah asam lemak bebas (Free Fatty Acid), yang sebagian ada
yang dikonversi menjadi Keton. Penumpukan keton ini dapat menyebabkan peningkatan
keasaman dalam sirkulasi sistemik.

Terdapat beberapa kelainan metabolik pada DKA, antara lain:


1. Hiperglikemia Glukosa darah >250 mg/dL
Menimbulkan: Diuresis Osmotik akibat hiperglikemia (Poliuria) dan Polidipsia yang
muncul dalam 1-2 hari.
2. Ketosis dan Asidosis metabolik Ketonemia dan ketonuria sedang, serum Bikarbonat
yang rendah(<15 mEq/L) dan pH <7.3
Menimbulkan: Pernapasan Kussmaul, Nafas beraroma buah.

HYPEROSMOLAR HYPERGLIKEMIK

Kondisi ini paling sering ditemukan pada Diabetes Melitus tipe 2. Kondisi ini ditandai dengan :
1. Hiperglikemia yang berlebihan yaitu >600 mg/dL
2. Hiperosmolaritas Osmolaritas plasma >310 mOsm/L
3. Dehidrasi tanpa disertai dengan ketoasidosis
Kondisi ini dapat terjadi akibat resistensi insulin dan intake glukosa yang berlebihan. Prognosis
penyakit ini lebih buruk jika dibandingkan dengan DKA

Manifestasi klinisnya berupa dehidrasi, gejala dan tanda neurologis (hemiparesis, penurunan
kesadaran, hemianopia, nistagmus), dan rasa haus yang berlebih. Kondisi ini sering ditemukan
pada lansia, oleh karena itu seringkali disalah-artikan sebagai stroke

HIPOGLIKEMIA
Kondisi ini paling sering terjadi akibat peningkatan kadar insulin yang berlebih yang disertai
dengan penurunan kadar glukosa di bawah normal. Keadaan ini paling banyak terjadi akibat
injeksi insulin yang tidak terkontrol dan penggunaan obat hipoglikemik oral yang
berkepanjangan (Harrison, 2008).

Komplikasi Kronis
Mikroangiopati
Retinopati Diabetik
Meskipun penyebab retinopati diabetik sampai saat ini belum diketahui secara pasti,
namun keadaan hiperglikemia yang berlangsung lama dianggap sebagai faktor resiko utama.
Patofisiologi retinopati diabetik melibatkan lima proses dasar yang terjadi di tingkat kapiler
yaitu:
1. Pembentukan mikroaneurisma
2. Peningkatan permeabilitas pembuluh darah
3. Penyumbatan pembuluh darah
4. Proliferasi pembuluh darah baru (neovascular) dan jaringan fibrosa di retina
5. Kontraksi dari jaringan fibrosis kapiler dan jaringan vitreus
Penyumbatan dan hilangnya perfusi (nonperfusion) menyebabkan iskemia retina
sedangkan kebocoran dapat terjadi pada semua komponen darah. Kebutaan akibat retinopati
diabetik dapat terjadi melalui beberapa mekanisme berikut :
1. Edema makula atau nonperfusi kapiler
2. Pembentukan pembuluh darah baru pada retinopati diabetik proliferatif dan kontraksi
jaringan fibrosis menyebabkan ablasio retina (retinal detachment)
3. Pembuluh darah baru yang terbentuk menimbulkan perdarahan preretina dan vitreus
4. Pembentukan pembuluh darah baru dapat menimbulkan glaukoma
Perdarahan adalah bagian dari stadium retinopati diabetik proliferatif dan merupakan
penyebab utama dari kebutaan permanen. Selain itu, kontraksi dari jaringan fibrovaskular yang
menyebabkan ablasio retina (terlepasnya lapisan retina) juga merupakan salah satu penyebab
kebutaan pada retinopati diabetik proliferatif.
Nefropati Diabetik

Sampai saat ini hiperfiltrasi masih dianggap sebagai awal dari mekanisme patogenik
dalam laju kerusakan ginjal. Saat jumlah nefron mengalami pengurangan yang berkelanjutan,
filtrasi glomerulus dari nefron yang masih sehat akan meningkat sebagai bentuk kompensasi.
Hiperfiltrasi yang terjadi pada sisa nefron yang sehat lambat laun akan menyebabkan nekrosis
dari nefron tersebut.
Mekanisme terjadinya peningkatan laju filtrasi glomerulus pada nefropati diabetik ini
masih belum jelas benar, tetapi kemungkinan disebabkan oleh dilatasi arteriol aferen oleh efek
yang tergantung glukosa, yang diperantarai hormon vasoaktif, IGF-1, Nitric oxide, prostaglandin
dan glukagon. Efek langsung dari hiperglikemia adalah rangsangan hipertrofi sel, sintesis
matriks ekstraseluler, serta produksi TGF- yang diperantarai oleh aktivasi protein kinase C
(PKC) yang termasuk dalam serine-threonin kinase yang memiliki fungsi pada vaskular seperti
kontraktilitas, aliran darah, proliferasi sel dan permeabilitas kapiler. Hiperglikemia kronik dapat
menyebabkan terjadinya glikasi nonenzimatik asam amino dan protein (reaksi Mallard dan
Browning). Pada awalnya, glukosa akan mengikat residu amino secara non-enzimatik menjadi
basa Schiff glikasi, lalu terjadi penyusunan ulang untuk mencapai bentuk yang lebih stabil tapi
masih reversibel dan disebut sebagai produk amadori. Jika prosis ini berlanjut terus, akan
terbentuk Advanced Glycation End-Products (AGEs) yang ireversibel. AGEs diperkirakan
menjadi perantara bagi beberapa kegiatan seluler seperti ekspresi adhesion molecules yang
berperan dalam penarikan sel-sel mononuklear, juga pada terjadinya hipertrofi sel, sintesa
matriks ekstraseluler serta inhibisi sintesis nitric oxide. Proses ini akan terus berlanjut sampai
terjadi ekspansi mesangium dan pembentukan nodul serta fibrosis tubulointerstisialis sesuai
dengan tahap-tahap dari Mogensen. Hipertensi yang timbul bersama dengan bertambahnya
kerusakan ginjal, juga akan mendorong sklerosis pada ginjal pasien diabetes. Diperkirakan
bahwa hipertensi pada diabetes terutama disebabkan oleh spasme arteriol aferen intrarenal atau
intraglomerulus.
Faktor-faktor etiologis timbulnya penyakit ginjal diabetik adalah :

Kurang terkendalinya kadar gula darah (gula darah puasa>140-160 mg/dl, A1C>7-8%)

Faktor-faktor genetik

Kelainan hemodinamik (peningkatan aliran darah ginjal dan laju filtrasi glomerulus,
peningkatan tekanan intraglomerulus)

Hipertensi sistemik

Sindrom resistensi insulin (sindroma metabolik)

Keradangan

Perubahan permeabilitas pembuluh darah

Asupan protein berlebih

Gangguan metabolik (kelainan metabolisme polyol, pembentukan advanced glycation


end products, peningkatan produksi sitokin)

Pelepasan growth factors

Kelainan metabolisme karbohidrat/lemak/protein

Kelainan struktural (hipertrofi glomerulus, ekspansi mesangium, penebalan membrana


basalis glomerulus)

Gangguan ion pumps (peningkatan Na+-H+ pump dan penurunan Ca2+-ATPase pump)

Hiperlipidemia (hiperkolesterolemia dan hipertrigliseride-mia)

Aktivasi protein kinase C


Secara histologis gambaran utama yang tampak adalah penebalan membran basalis,

ekspansi mesangium (berupa akumulasi matriks ekstra seluler, penimbunan kolagen tipe IV,
laminin dan fibronektin) yang kemudian akan menimbulkan glomerulosklerosis noduler dan atau
difus, hyalinosis arteriolar aferen dan eferen, serta fibrosis tubulo-interstisial.
Karakteristik nefropati diabetik :

Peningkatan material matriks mesangium

Penebalan membran basalis glomerulus

Hialinosis arteriol aferen dan eferen

Penebalan membran basalis tubulus

Atrofi tubulus

Fibrosis interstisial

Neuropati Diabetik
Proses kejadian ND berawal dari hiperglikemia berkepanjangan yang berakibat terjadinya
peningkatan aktivitas jalur poliol, sintesis advance glycosilation end products (AGEs),

pembentukan radikal bebas dan aktivasi protein kinase C (PKC). Aktivasi berbagai jalur tersebut
berujung pada berkurangnya vasodilatasi, sehingga aliran darah ke saraf menurun dan bersama
rendahnya mioinositol dalam sel terjadilah ND. Berbagai penelitian membuktikan bahwa
kejadian ND berhubungan sangat erat dengan lama dan beratnya DM.
Ada dua perubahan patologis yang terkait dengan neuropati perifer:
1. Penebalan dinding pembuluh darah yang mensuplai nutrisi ke sel-sel sarafatau neuron
terjadi iskemia seluler
2. Demielinisasi pada sel Schwann sehingga terjadi penurunan konduksi neuron.
Kedua kondisi tersebut masih disebabkan oleh adanya glukosa protein yang bersifat
degeneratif sehingga terjadi kerusakan struktural sel.
Yang paling sering dan paling penting gejala yang timbul berupa hilangnya sensasi distal atau
seperti kaki terasa terbakar dan bergetar sendiri dan lebih terasa sakit dimalam hari
Makroangiopati
Penyakit jantung koroner
Kadar gula darah yang tidak terkontrol juga cenderung menyebabkan kadar zat berlemak
dalam darah meningkat, sehingga mempercepat aterosklerosis(penimbunan plak lemak di dalam
pembuluh darah). Aterosklerosis ini 2-6 kali lebih sering terjadi pada penderita DM. Akibat
aterosklerosis

akan menyebabkan penyumbatan dan kemudian menjadi penyakit jantung

koroner.
Penyakit pembuluh darah kapiler
Mengenali dan mengelola berbagai faktor risiko terkait terjadinya kaki diabetes dan ulkus
diabetes merupakan hal yang paling sering pada penyakit pembuluh darah perifer yang
dikarenakan penurunan suplai darah di kaki.

PROGNOSIS
Prognosis diabetes bergantung sudah terjadi atau tidaknya komplikasi DM. jika belum timbul
komplikasi baik akut maupun kronik angka harapan hidup penderita tinggi. Sedangkan jika
sudah terjadi komplikas DM maka prognosisnya buruk.