Anda di halaman 1dari 13

REFERAT

BLOK KOMPREHENSIF KLINIK (4.3)


POLIFARMASI TANPA INDIKASI

Nama

: Meirina Khoirunnisa

NIM

: 11711102

Kelompok Tutorial

: 1 (satu)

Nama Tutor

: dr. Muhammad Syukron Fauzi

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
2014

Daftar Isi

Halaman Judul .

Daftar Isi ..

A. Definisi....

B.Prevalensi dan Epidemiologi...

C. Etiologi ...

D. Dilema Etik dari Sisi Medis, Ekono-sosio Kultural, dan


Perspektif Islam ..

E. Pendapat terkait Penyelesaian..

F. Kesimpulan.......

11

Daftar Pustaka...

12

A. Definisi
Istilah polifarmasi berasal dari bahasa Yunani poly dan pharmacon. Kata
poly bermakna lebih dari satu dan pharmacon berarti obat. Banyak peneliti yang
telah berusaha mendefinisikan polifarmasi namun sampai sekarang belum ada standar
yang pasti mengenai berapa jumlah obat yang diberikan yang dapat digolongkan
sebagai polifarmasi. Definisi alternatif dari polifarmasi adalah penggunaan obat yang
melebihi kebutuhan, yang mencakup obat yang tidak diindikasikan, obat yang tidak
efektif, dan obat yang merupakan duplikasi efek terapi obat lain (Maher et al, 2014).
Anthierens et al (2010) mendefinisikan polifarmasi sebagai penggunaan tiga
obat atau lebih secara bersamaan atau penggunaan obat melebihi dari yang
diindikasikan. Hoffman et al (2011) memiliki lebih banyak lagi definisi polifarmasi
yaitu: penggunaan dua atau lebih obat psikiatri, penggunaan dua atau lebih obat untuk
mengatasi kondisi yang sama, penggunaan dua atau lebih obat dari golongan yang
sama, penggunaan dua atau lebih obat yang memiliki aktivitas farmakologis yang
serupa, penggunaan tiga atau lebih obat untuk indikasi yang sama, atau atau
penggunaan dua atau lebih obat yang memiliki mekanisme kerja serupa dengan
indikasi yang sama. Bushardt et al (2008) mengumpulkan lebih banyak lagi definisi
polifarmasi dari berbagai sumber namun yang paling sering dikemukakan adalah
penggunaan setidaknya satu obat yang tidak rasional atau penggunaan enam atau
lebih obat secara bersamaan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa polifarmasi tanpa
indikasi tercakup dalam istilah polifarmasi itu sendiri.

B. Prevalensi dan Epidemiologi


Penelitian yang dilakukan oleh Hovstadius et al (2010) menunjukkan bahwa
terjadi peningkatan prevalensi polifarmasi setiap tahunnya. Pada tahun 2005-2008
prevalensi polifarmasi (dalam penelitian ini didefinisikan sebagai penggunaan lima
atau lebih obat secara bersamaan) meningkat sebesar 8,2% dan jumlah orang yang
3

mengalami polifarmasi meningkat sebesar 10,4%. Prevalensi polifarmasi meningkat


di seluruh kelompok usia, dengan peningkatan paling rendah terdapat pada kelompok
usia 0-9 tahun dan peningkatan tertinggi terdapat pada kelompok usia 10-19 tahun
dengan peningkatan sebesar 9,1%. Pada kelompok usia 60-69 tahun hingga 90 tahun
peningkatan prevalensinya berkisar antara 7,2%-8,6%.
Pada laki-laki peningkatan prevalensi polifarmasi terjadi pada semua
kelompok usia (11,9%) kecuali usia 0-9 tahun, dengan peningkatan tertinggi pada
kelompok usia 60-69 tahun dengan peningkatan sebesar 12,3%. Pada perempuan
peningkatan prevalensi terjadi pada semua kelompok usia (5,9%) kecuali pada
kelompok usia 0-9 tahun. Peningkatan tertinggi terdapat pada kelompok usia 10-19
tahun dengan peningkatan sebesar 13,3% (Hovstadius et al, 2010).

C. Etiologi
Polifarmasi paling banyak terjadi pada usia lanjut namun beberapa kelompok
usia lainnya juga telah menunjukkan adanya peningkatan prevalensi. Peningkatan
prevalensi polifarmasi dapat disebabkan oleh beberapa hal, salah satunya adalah
perubahan rekomendasi atau guideline peresepan obat dan pengenalan obat yang
lebih spesifik untuk mengatasi suatu kondisi atau penyakit. Selain itu semakin banyak
kelompok paruh baya yang mendapatkan informasi mengenai obat-obatan sehingga
memiliki keinginan berlebih untuk meminta obat. Penyebab yang terakhir adalah
semakin banyaknya obat yang digunakan untuk tujuan preventif. Prevalensi
polifarmasi pada kelompok usia 0-9 tahun tidak meningkat dikarenakan telah
maraknya kampanye pengurangan penggunaan antibiotik pada anak-anak (Hovstadius
et al, 2010).
Menurut Hoffman et al (2011), penyebab terjadinya polifarmasi adalah
semakin banyaknya penemuan-penemuan obat baru yang disertai semakin banyaknya

ketersediaan obat dan adanya kepercayaan yang berlebih terhadap hasil penelitian
klinis. Anthierens et al (2010) menyebutkan bahwa polifarmasi terjadi karena
beberapa obat memiliki efek samping sehingga dibutuhkan obat lain untuk
mengurangi gejala, morbiditas, dan mortalitas, walaupun perilaku ini juga sebenarnya
memiliki efek yang kurang baik.
Selain itu menurut Bushardt et al (2008) fenomena polifarmasi menjadi lebih
sulit dikendalikan khususnya pada kelompok usia lanjut. Pada usia lanjut akan terjadi
perubahan fisiologis seperti penurunan fungsi ginjal dan hepar, berkurangnya cairan
tubuh, berkurangnya lean body mass, dan penurunan penglihatan dan pendengaran.
Perubahan fisiologis ini dapat mempengaruhi distribusi, metabolisme, dan eliminasi
obat sehingga mengubah farmakokinetik obat yang dikonsumsi pasien. Pasien juga
mengalami perubahan-perubahan patofisiologis yang disebabkan oleh penyakitnya,
khususnya penyakit kronis, dan disertai pula oleh penyakit-penyakit komorbidnya,
sehingga ada obat-obat tambahan yang digunakan untuk meningkatkan potensi obat
yang lain dimana seharusnya hal itu dapat diatasi dengan mengganti cara pemberian
obat misalnya melalui jalur intramuskular atau intravena.
Pada beberapa kasus seperti adanya bujukan atau pengaruh dari pihak tertentu
sehingga menimbulkan bias dalam peresepan obat, hal itu telah jelas diatur dalam
aturan penyelenggaraan praktik kedokteran (Depkes RI & KKI, 2008) Bab X poin
10.5 (Konflik kepentingan) yang menyatakan:
(64) Seorang dokter tidak boleh menerima bujukan atau hadiah yang mungkin
berpengaruh atau mempengaruhi penilaiannya. Seorang dokter tidak boleh
memberi bujukan dalam bentuk apapun kepada rekan kerja. Seorang dokter
harus bertindak

atas

kepentingan pasien

ketika menulis

resep dan

mengatur/menetapkan asuhan medis.


(65) Seorang dokter atau keluarganya yang memiliki saham, investasi, atau aspekaspek komersial lain pada rumah sakit, sarana pelayanan kedokteran,
5

kefarmasian, atau laboratorium klinik tidak boleh mempengaruhi dokter dalam


penulisan resep dan penentuan pemeriksaan penunjang.

D. Dilema Etik dari Sisi Medis, Ekono-sosio Kultural, dan Perspektif Islam
Dalam proses pengobatan, polifarmasi memang memiliki beberapa tujuan,
namun dibalik itu juga terdapat risiko atau bahkan kerugian dari berbagai aspek. Di
satu sisi, polifarmasi tidak terelakkan karena untuk penyakit-penyakit tertentu seperti
keganasan atau penyakit kronis selain obat-obatan kausatif dibutuhkan pula obatobatan simptomatik dan obat-obatan yang membantu mengurangi toksisitas dari obat
lainnya (Prithviraj et al, 2012). Namun polifarmasi juga dapat mengakibatkan
beberapa kerugian. Beberapa kerugian yang dapat disebabkan oleh polifarmasi antara
lain adalah (Maher et al, 2014):
1. Peningkatan biaya pelayanan kesehatan
Peningkatan biaya kesehatan dapat terjadi kepada pasien maupun kepada fasilitas
pelayanan kesehatan. Polifarmasi yang tidak sesuai justru dapat meningkatkan
frekuensi kunjungan ke rumah sakit dan frekuensi rawat inap sehingga pada
akhirnya akan menambah biaya pengobatan.
2. Efek samping obat
Sebanyak 10% dari seluruh kasus kunjungan ke unit gawat darurat merupakan
kasus efek samping obat. Sebuah penelitian menyebutkan bahwa orang yang
mengkonsumsi lima atau lebih obat yang bersamaan memiliki risiko empat kali
lebih besar untuk dirawat akibat efek samping obat. Obat-obat yang sering
berhubungan dengan kejadian efek samping obat adalah OAINS, antikoagulan,
diuretik, antibiotik, obat-obatan kardiovaskular, antikonvulsan, dan obat
hipoglikemik.

3. Interaksi obat
Risiko interaksi obat meningkat bersamaan dengan jumlah obat yang dikonsumsi,
khususnya jika mengkonsumsi lima obat atau lebih. Adanya interaksi obat dapat
berakibat inhibisi kepada obat lain atau sebaliknya berefek potensiasi pada obat
lain.
4. Ketidakpatuhan pengobatan
Semakin banyak obat yang diresepkan maka akan semakin rendah tingkat
kepatuhan pasien. Semakin banyak obat yang diberikan akan semakin sulit bagi
pasien

untuk

menghafal

jadwal

masing-masing

obat

sehingga

besar

kemungkinannya ada obat yang lupa diminum tepat pada waktunya.


5. Menurunnya status fungsional
Polifarmasi

dapat

meningkatkan

disabilitas

pasien

dan

menurunkan

kemampuannya untuk melakukan kegiatan sehari-hari, khususnya pada pasien


yang meminum sepuluh obat atau lebih.
6. Penurunan kemampuan kognitif
Polifarmasi berhubungan erat dengan terjadinya penurunan kemampuan kognitif,
termasuk di dalamnya adalah delirium dan demensia. Semakin banyak jumlah obat
yang dikonsumsi maka semakin besar pula penurunan kognitif yang terjadi.
7. Jatuh
Jatuh, khususnya pada lansia, juga dipengaruhi oleh polifarmasi dan berhubungan
erat dengan mortalitas dan morbiditas pasien. Maka dari itu sebaiknya harus
berhati-hati dalam memberikan obat pada pasien yang memiliki faktor risiko jatuh.
8. Inkontinensia urin
Beberapa obat memiliki efek samping terhadap sistem urinaria khususnya yang
memperparah inkontinensia urin, sehingga perlu diperhatikan juga pemberian obat
khususnya pada pasien lansia yang memiliki risiko inkontinensia urin lebih besar.
9. Masalah nutrisi
Pasien yang mengkonsumsi sepuluh obat menunjukkan derajat malnutrisi yang
lebih berat daripada pasien yang lebih sedikit mengkonsumsi obat. Pasien dengan
7

polifarmasi cenderung lebih jarang mengkonsumsi makanan kaya serat dan


vitamin dan lebih sering mengkonsumsi makanan kayak natrium, glukosa, dan
kolesterol.

Polifarmasi termasuk ke dalam pengobatan irasional, artinya adalah diluar


standar pelayanan kedokteran. Secara etika dan hukum terdapat beberapa pasal
mengenai polifarmasi, contohnya dalam UU No. 29 tahun 2004 terdapat pasal-pasal
yang berkaitan antara lain:
a) Pasal 44 ayat 1
Dokter atau dokter gigi dalam menyelenggarakan praktik kedokteran wajib
mengikuti standar pelayanan kedokteran atau kedokteran gigi.
b) Pasal 51 ayat 1
Dokter atau dokter gigi dalam melaksanakan praktik kedokteran mempunyai
kewajiban :
1. Memberikan pelayanan medis sesuai dengan standar profesi dan standar
prosedur operasional serta kebutuhan medis pasien
c) Pasal 52
Pasien, dalam menerima pelayanan pada praktik kedokteran, mempunyai hak:
a. Mendapatkan penjelasan secara lengkap tentang tindakan medis sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 45 ayat (3);
b. Meminta pendapat dokter atau dokter gigi lain;
c. Mendapatkan pelayanan sesuai dengan kebutuhan medis;
d. Menolak tindakan medis; dan
e. Mendapatkan isi rekam medis.

Dalam pasal 2 dan 3 KODEKI disebutkan bahwa:


Pasal 2:
Seorang dokter harus senantiasa berupaya melaksanakan profesinya sesuai
dengan standar profesi yang setinggi-tingginya.
8

Pasal 3:
Dalam melakukan pekerjaan kedokterannya, seorang dokter tidak boleh dipengaruhi
oleh sesuatu yang mengakibatkan hilangnya kebebasan dan kemandirian profesi

Dari sudut pandang Islam, polifarmasi dapat dipertimbangkan berdasarkan


besar manfaat dan kerugiannya. Seperti dalam firman Allah:

Mereka bertanya kepadamu tentang khamar dan judi. Katakanlah: "Pada keduanya
itu terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya
lebih besar dari manfaatnya" [QS. Al-Baqarah : 219].

Selain itu juga seorang muslim tidak boleh membahayakan saudaranya seperti dalam
hadits berikut:
:
Dari Ab Sad Sad bin Mlik bin Sinn al-Khudri Radhyallahu anhu, Raslullh
Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh
membahayakan orang lain. (diriwayatkan oleh: Mlik dalam al-Muwaththa', AdDraquthni, Al-Baihaqi, Al-Hkim).

E. Pendapat terkait Penyelesaian


Dalam hal ini penulis merasa banyak sekali hal yang mempermudah
terjadinya polifarmasi. Beberapa hal tersebut antara lain banyaknya iklan-iklan obat
yang ditayangkan di televisi, semakin banyaknya obat-obat yang dijual bebas,
semakin banyak pasien yang mendapatkan informasi mengenai obat hanya dari media
populer, semakin banyak obat-obat paten yang mengandung banyak bahan aktif, dan
masih banyaknya penggunaan sediaan campuran seperti kapsul dan puyer.

Kerugian dari pemakaian kapsul dan puyer dan obat paten dengan banyak
bahan aktif adalah bahwa sediaan tersebut mengandung banyak bahan aktif dalam
satu obat sehingga apabila muncul reaksi alergi akan sulit menentukan zat apa yang
menjadi pemicu alergi. Selain itu terkadang dokter tidak memberikan penjelasan
mengenai isi obat yang diberikan dan pasien juga tidak kritis bertanya. Maka dari itu
sebaiknya kurangi pemakaian sediaan kapsul dan puyer dan juga mengedukasi pasien
untuk jangan takut bertanya karena itu adalah hak pasien dan demi kebaikan pasien
itu sendiri.
Selain itu ada beberapa penyakit yang apabila mengikuti guideline yang ada
akan membutuhkan banyak obat. Solusinya dokter harus pandai membedakan mana
regimen yang dapat diterapkan persis seperti di guideline dan mana yang harus
dirancang secara realistis karena tidak semua isi guideline dapat diaplikasikan ke
praktek sehari-hari.
Untuk pasien-pasien dengan penyakit yang menimbulkan banyak gejala
usahakan tidak terlalu memanjakan pasien, memberikan obat setiap kali pasien
mengeluh. Sebaliknya dievaluasi lagi apakah ada cara lain selain memberikan obat,
misalnya mengurangi nyeri dengan kompres atau relaksasi, dan juga apakah gejala
tersebut berkaitan dengan penyebabnya sehingga sebenarnya apabila diberikan terapi
kausatik saja sudah dapat mengatasi masalah simptomatiknya.
Apabila terpaksa menggunakan banyak obat seperti pada kasus keganasan dan
penyakit kronis dengan komplikasi maka sebisa mungkin pasien tetap patuh
meminum obat. Dokter harus membantu pasien menemukan cara yang paling tepat
untuk dirinya agar rutin minum obat, misalnya dengan memasukkan obat ke kotakkotak yang telah diberi label atau dengan menggunakan kalender atau reminder.
Dari sudut pandang dokter sebaiknya setiap dokter meluruskan niat dan
mengingat lagi etika-etika dan hukum-hukum kedokteran yang berkaitan dengan

10

peresepan, serta melibatkan pasien dalam membuat keputusan terapi sehingga dokter
dapat mengupayakan pilihan pengobatan yang terbaik untuk pasiennya.

F. Kesimpulan
Polifarmasi masih menjadi masalah yang kompleks hingga saat ini mengingat
semakin banyaknya prevalensi penyakit yang membutuhkan banyak pengobatan dan
semakin mudahnya masyarakat menjangkau obat-obatan. Maka dari itu pasien harus
mengerti apa yang sebenarnya dibutuhkan oleh dirinya dan dokter harus
mengusahakan pengobatan yang terbaik untuk pasiennya dengan manfaat sebesar
mungkin dan kerugian sekecil mungkin.

11

DAFTAR PUSTAKA

Al-quran dan Hadits


Anthierens, S., Tansens, A., Petrovic, M., Christiaens, T., 2010. Qualitative Insights
into General Practitioners Views on Polypharmacy, BMC Family Practice
2010, 11:65
Bushardt, R. L., Massey, E. B., Simpson, T. W., Ariail, J. C., Simpson, K. N., 2008.
Polypharmacy: Misleading, but Manageable, Clinical Interventions in Aging
2008: 3 (2) 383-389
Departemen Kesehatan RI, 2008. Pusat Promosi Kesehatan. Penyelenggaraan Praktik
Kedokteran yang Baik di Indonesia dilengkapi dengan Teknis Terkait,
Jakarta: DEPKES RI
Hoffman, D. A., Schiller, M., Greenblatt, J. M., Losifescu, D.V., 2011. Polypharmacy
or medication washout: an old tool revisited, Neuropsychiatric Disease and
Treatment 2011:7 639648
Hovstadius, B., Hovstadius, K., Astrand, B., Petersson, G., 2010. Increasing
Polypharmacy - An Individual-based Study of The Swedish Population 20052008, BMC Clinical Pharmacology 2010, 10:16
Maher, R. L., Hanlon, J. T., Hajjar, E. R., 2014. Clinical Consequences of
Polypharmacy in Elderly, Expert Opin Drug Saf. 2014 January ; 13(1)
Majelis Kehormatan Etik Kedokteran Indonesia Ikatan Dokter Indonesia, 2006. Kode
Etik Kedokteran Indonesia dan Pedoman Pelaksanaan Kode Etik Kedokteran
Indonesia, Jakarta: IDI
Prithviraj, G. K., Koroukian, S., Margevicius, S., Berger, N. A., Bagai, R., Owusu,
C., 2012. Patient Characteristics Associated with Polypharmacy and
Inappropriate Prescribing of Medications among Older Adults with Cancer, J
Geriatr Oncol. 2012 July 1; 3(3): 228237

12

Republik Indonesia, 2004. Undang-Undang Republik Indonesia No. 29 tahun 2004


tentang Praktik Kedokteran, 14 & 17

13