Anda di halaman 1dari 12

A.

FLUIDA PEMBORAN
Dalam teknik geoteknologi, fluida pengeboran (drilling mud) digunakan untuk

membantu membuat lubang bor ke dalam perut bumi. Fluida pengeboran selain sering
digunakan ketika membor sumur minyak bumi dan gas alam serta pada rig pengeboran
eksplorasi, juga digunakan pada pengeboran yang lebih sederhana, seperti sumur mata
air. Fluida pengeboran yang berupa cairan sering disebut lumpur pemboran. Fluida
pengeboran dikelompokkan menjadi tiga kategori utama, yakni lumpur berbasis air (yang
dapat berupa terdispersi dan non-dispersi), lumpur berbasis minyak dan fluida bergas,
yang mencakupi berbagai jenis gas dapat digunakan.
Fungsi utama dari fluida pengeboran adalah antara lain menyediakan tekanan
hidrostatik untuk menghindari masuknya fluida formasi kedalam lubang sumur, menjaga
agar mata pahat/bit tetap dingin dan bersih ketika mengebor, mengangkat keluar serpihan
bor, dan mengapungkan serpihan bor tersebut ketika pengeboran sedang dihentikan dan
ketika susunan alat pemboran dimasuk/keluarkan dari lubang bor. Fluida pengeboran
yang digunakan untuk kerja tertentu diseleksi untuk menghindari kerusakan formasi dan
untuk membatasi terjadinya korosi.

1.

Faktor Faktor Pengaruh Utama Pada Performa Fluida Pemboran


Tiga faktor yang berkontribusi kepada ketidakstabilan performa fluida pengeboran

antara lain :
perubahan kekentalan/viskositas fluida tersebut
Perubahan densitasnya
Perubahan pH-nya alias kadar keasamannya.

2.

Tipe Tipe Fluida Pengeboran


Banyak terdapat tipe fluida yang digunakan dalam kerja sehari-hari. Beberapa

sumur tertentu membutuhkan tipe yang berbeda-beda untuk bagian-bagian yang berbeda
pula atau beberapa tipe dicampur dengan tipe lain. Tipe-tipe fluida yang beragam ini
umumnya tergolong ke dalam beberapa kategori besar.
Udara: Udara yang termampatkan dipompakan melalui ruang annularnya lubang bor
atau melalui rangkaian bornya itu sendiri.

FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

Udara/air: Sama seperti di atas, hanya saja air ditambahkan untuk memperbesar
viskositas, menyiram lubangnya, menambahkan pendinginan, dan/atau mengontrol
debu.
Udara/polimer: Suatu zat kimia yang sirumuskan secara khusus, yang biasanya dirujuk
sebagai sejenis polimer, ditambahkan kedalam campuran air & udara untuk
menghasilkan kondisi tertentu. Agen pembusa adalah contoh polimer tersebut.
Air: Terkadang air digunakan secara tersendiri saja.
Lumpur Berbasis Air (LBA): Sistem lumpur berbasis air yang paling sederhana
dimulai dengan air yang kemudian ditambahkan lempung dan aditif-aditif lainnya
menjadi suatu campuran homogen. Lempung (atau 'shale' istiliahnya dalam bentuk
batuan) biasanya merupakan gabungan dari lempung yang asli terdapat di air ketika
mengebor, atau lempung tipe tertentu yang diproses dan dijual sebagai zat aditif untuk
sistem LBA. Yang paling sering digunakan dari lempung-lempung ini adalah bentonit,
yang di lapangan minyak disebut "gel" (baca: jel). Dinamakan gel kemungkinan dari
fakta bahwa ketika dipompakan tampak encer, sementara jika pompa dimatikan justru
terlihat seperti "gel" yang susah mengalir. Ketika gaya pemompaan yang mencukupi
diaplikasikan ke gel tersebut, gelnya kembali mengalir dan menjadi encer. Banyak zat
kimia lain (cth. kalium/potassium format) yang ditambahkan ke sistem LBA untuk
mencapai efek yang beragam, termasuk: kontrol viskositas, stabilitas lempung,
peningkatanrate of penetration bor, pendinginan dan pelumas peralatan.
Lumpur Berbasis Minyak (LBM): Lumpur berbasis minyak dapat berupa lumpur yang
bahan dasarnya produk minyak bumi seperti diesel. Lumpur berbasis minyak
digunakan untuk keperluan yang banyak, seperti sifat pelumasannya yang lebih tinggi,
penghambatan lempung yang lebih tinggi, serta kemampuan pembersihan yang lebih
baik dengan viskositas yang lebih rendah. Lumpur berbasis minyak juga tahan
terhadap suhu yang lebih tinggi tanpa jadi terurai. Penggunaan lumpur ini memiliki
bahan pertimbangan khusus, yaitu mencakupi biaya, pertimbangan lingkungan
(seperti pembuangan serpihan bor yang aman terisolasi dari kemungkinan mencemari
lingkungan) serta kerugian penggunaannya (terutama pada sumur wildcat akibat
susahnya analisis minyak batu serpihan bor karena kilauan minyak lumpur mirip
kilauan minyak asli formasi).
Fluida Berbasis Sintetis (FBS): Tipe ini juga dikenal dengan nama Lumpur Berbasis
Minyak dengan Toksisitas Rendah (LTOBM). Fluida berbasis sintetis adalah lumpur

FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

yang bahan dasarnya adalah minyak sintetis. Ini sering digunakan di rig lepas pantai
(offshore) karena memiliki sifat-sifat lumpur berbasis minyak, namun kadar
racun/toksisitasnya jauh lebih rendah. Ini penting bagi pekerja yang bekerja dengan
fluida ini di tempat tertutup seperti di rig pengeboran lepas pantai. Permasalahan
lingkungan dan kontaminasi analisis sampel batuan yang terjadi pada lumpur berbasis
minyak berlaku juga pada lumpur tipe ini.
Pada rig pengeboran, lumpur dipompa dari kolam lumpur (mud pit) melalui
rangkaian pipa bor yang kemudian dari situ disemburkan melalui muncung(nozzle) pada
mata bor; melalui proses ini, lumpur juga sambil mendinginkan sekaligus membersihkan
mata bor. Lumpurnya kemudian membawa serpihan batuan(rock cuttings, singkatnya
cuttings) naik melalui ruang annular(annular space, singkatnya annular) yang terletak
antara rangkaian pipa bor dan dinding lubang bor, naik lagi ke selubung permukaan
(surface casing), yakni tempatnya sampai ke permukaan bumi. Serpihan-serpihan batuan
tersebut kemudian disaring menggunakan shale shaker atau teknologi yang lebih
mutakhir yakni shale conveyor, dan akhirnya sampai kembali di kolam lumpur. Kolam
lumpur menjadi tempat serpihan yang lebih halus mengendap dan juga tempat lumpur
diurus dengan menambahkan zat kimia atau zat-zat lainnya.
Lumpur yang kembali ke permukaan ini dapat mengandung gas alam atau zat-zat
lain yang mudah terbakar yang kemudian terkumpul di area shale shaker/conveyor atau
di area kerja lainnya. Karena risiko kebakaran atau ledakan seandainya tersulut api,
biasanya dipasang sensor monitor khusus dan alat yang bersertifikat anti-ledakan, serta
para pekerja dinasehati untuk berjaga-jaga soal keselamatan. Lumpur ini kemudian
dipompakan kembali ke dalam lubang dan disirkulasikan ulang. Setelah melalui tes,
lumpurnya diurus secara berkala di kolam lumpur untuk mempertahankan sifat-sifat yang
mengoptimalkan dan memperbagus efisiensi pengeboran, stabilitas lubang bor serta
keperluan lainnya yang didaftarkan di seksi Fungsi di bawah ini.
Fungsi utama dari lumpur pengeboran dapat diringkas sebagai berikut:
Memindahkan serpihan batuan bor dari sumur
Mengapungkan dan melepaskan serpihan batuan
Mengontrol tekanan di formasi
Menutup formasi yang permeabel
Menjaga stabilitas pengeboran sumur
Meminimalisasi kerusakan formasi

FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

Mendinginkan, melumasi dan menyokong mata bor dan susunan pemboran


Menyalurkan energi hidraulik ke peralatan dan mata bor
Menjaga agar evaluasi formasi memadai
Mengontrol korosi sehingga pada tingkat yang wajar
Memfasilitasi penyemenan dan komplesi
Meminimalisasikan dampaknya pada lingkungan

B.

LUMPUR PEMBORAN
Lumpur umumnya campuran dari tanah liat (clay), biasanya bentonite, dan air yang

digunakan untuk membawa cutting ke atas permukaan. Lumpur berfungsi sebagai


lubrikasi dan medium pendingin untuk pipa pemboran dan mata bor. Lumpur merupakan
komponen penting dalam pengendalian sumur (well-control), karena tekanan
hidrostatisnya dipakai untuk mencegah fluida formasi masuk ke dalam sumur. Lumpur
juga digunakan untuk membentuk lapisan solid sepanjang dinding sumur (filter-cake)
yang berguna untuk mengontrol fluida yang hilang ke dalam formasi (fluid-loss).
Sistem yang paling penting di rig adalah sistem sirkulasi lumpur pemboran. lumpur
pemboran dipompakan ke dalam pipa bor yang akan disemprotkan keluar melalui nozzle
pada pahat dan kembali ke permukaan melalui ruang antara pipa dan lubang. Lumpur
pemboran akan mengangkat potongan-potongan batu yang dibuat oleh pahat (disebut
cuttings) ke permukaan. Hal ini mencegah penumpukan serbuk bor di dasar lubang.
selama pemboran, lubang sumur selalu penuh terisi lumpur pemboran untuk mencegah
mengalirnya fluida seperti air, gas atau minyak dari batuan bawah tanah ke lubang sumur.
Jika minyak atau gas dapat mengalir ke permukaan saat pemboran, akan menyebabkan
kebakaran. Bahkan jika hanya air yang mengalir saja dapat menggugurkan lubang dan
membuat kita kehilangan sumur. dengan adanya lumpur pemboran, fluida ini tertahan
berada di dalam batuan. pemboran sumur di lepas pantai hampir sama dengan pemboran
di daratan. Untuk sumur wildcat di lepas pantai, rig dinaikkan di atas barge, anjungan
(platform) terapung, atau kapal yang dapat berpindah. apabila lapangan lepas pantai
sudah ditentukan, anjungan (platform) produksi akan dipasang untuk membor sumursumur lainnya dan memproduksi migas.
Karena lumpur pemboran menjaga agar migas tetap berada di dalam batuan,
cadangan migas bawah tanah pun dapat dibor tanpa mengindikasikan adanya migas,
sehingga diperlukan evaluasi sumur dengan cara menurunkan peralatan rekam wireline.

FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

Truk alat rekam dipanggil, menurunkan tabung berisi instrumen yang disebut sonde ke
dalam lubang sumur. ketika sonde diangkat keluar lubang, instrumen akan merekam
secara elektrik, suara dan radioaktif sifat-sifat batuan dan fluida yang dilaluinya.
Pengukuran ini direkam pada kertas panjang bergaris yang disebut well log. well log ini
memberi informasi tentang komposisi lapisan batuan, pori-pori, dan fluida yang mungkin
ada di dalamnya.
Dari hasil pembacaan well log, sumur dapat saja ditutup dan ditinggalkan sebagai
sumur kering atau diselesaikan untuk diproduksikan. pemasangan pipa produksi adalah
cara awal menyelesaikan sumur. untuk memasang pipa, pipa baja panjang yang bergaris
tengah besar (disebut selubung atau casing) dimasukkan ke dalam sumur. Semen basah
dipompakan ke dalam ruang antara casing dan dinding sumur hingga mengeras untuk
menjaga lubang sumur. pada kebanyakan sumur, pemasangan casing bertahap yang
disebut casing program dilakukan sebagai berikut: bor sumur, pasang casing, bor lebih
dalam, pasang casing lagi, bor lebih dalam lagi, dan pasang casing lagi.
Lumpur pemboran menurut API (American Petroleum Institute) didefinisikan
sebagai fluida sirkulasi dalam operasi pemboran berputar yang memiliki banyak variasi
fungsi, dimana merupakan salah satu factor yang berpengaruh terhadap optimalnya
operasi pemboran. Oleh sebab itu sangat menentukan keberhasilan suatu operasi
pemboran.
Secara umum, lumpur pemboran dapat dipandang mempunyai empat komponen
atau fasa, yaitu :
a.

Fasa cair (air atau minyak) : 75% lumpur pemboran menggunakan air. Istilah oilbase digunakan bila minyaknya lebih dari 95%.

b.

Reactive solids, yaitu padatan yang bereaksi dengan air membentuk koloid (clay) :
dalam hal ini clay air tawar seperti bentonite mengisaqp (absorb) air tawar dan
membentuk lumpur.

c.

Inert solids (zat padat yang tak bereaksi) : ini dapat berupa Barite (BaSO4) yang
digunakan untuk menaikkan densitas lumpur. Selain itu, juga berasal dari formasiformasi yang dibor dan terbawa lumpur, seperti chert, pasir atau clay-clay non
swelling, sehingga akan menyebabkan abrasi atau kerusakan pompa.

d.

Fasa kimia : merupakan bagian dari system yang digunakan untuk mengontrol sifatsifat lumpur, misalnya dalam disperson (menyebarkan partikel-partikel clay) atau
flocculation (pengumpulan partikel-partikel clay). Efeknya terutama tertuju pada
peng koloid an clay yang bersangkutan. Zat-zat kimia yang mendispersi
FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

(menurunkan viskositas/mengencerkan) misalnya : Quebracho, phosphate, sodium


tannate, dll. Sedangkan zat-zat kimia untuk menaikkan viskositas, misalnya :
C.M.C, starch, dan beberapa senyawa polimer.

1.

Jenis Jenis Lumpur Lemboran


ZABA dan DOHERTY (1970) mengklasifikasikan lumpur bor terutama

berdasarkan fasa fluidanya : air (water base), minyak (oil base) atau gas, sebagai berikut
:
I.

Fresh Water Muds (lumpur air tawar)


a. Spud
b. Natural atau Native (alamiah)
c. Bentonite treated
d. Phospate treated
e. Organic coloid treated
f. Red atau alkaline tannate treated
g. Calcium muds
Lime treated
Gypsum treated
Calcium (selain 1 & 2) treated

II.

Salt Water Muds (air asin)


a. Unsaturated salt water
b. Saturated salt water
c. Sodium silicate

III.

Oil in Water Emulsion


a. Fresh Water (air tawar)
b. Salt Water (air asin)

IV.

Oil Base dan Oil Base Emulsion Muds

V.

Gaseous Drilling Fluids


a. Udara atau Natural gas
b. Aerated Muds

a.

Fresh Water Muds


Adalah lumpur yang fasa cairnya adalah air tawar dengan (kalau ada) kadar garam

yang kecil (kurang dari 10000 ppm = 1 % berat garam). Jenis-jenis lumpur fresh water

FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

muds adalah : Spud Mud, Natural Mud, Bentonite treated mud, Phosphate treated mud,
Organic colloid treated mud, Red mud, Calcium mud, Lime treated mud,
Gypsum treatedmud dan Calcium salt.
a. Spud Mud, adalah lumpur yang digunakan pada pemboran awal atau bagian atas bagi
conductor casing. Fungsi utamanya adalah untuk mengangkat cutting dan membuka
lubang di permukaan.
b. Natural Mud, yaitu dibentuk dari pecahan-pecahan cutting dalam fasa cair, sifatsifatnya bervariasi tergantung formasi yang di bor. Lumpur ini digunakan untuk
pemboran yang cepat seperti pemboran pada surface casing.
c. Bentonite treated Mud, yaitu mencakup sebagian besar dari tipe-tipe air tawar.
Bentonite adalah material paling umum yang digunakan untuk koloid inorganic yang
berfungsi mengurangi filtrate loss dan mengurangi tebal mud cake. Bentonite juga
menaikkan viscositas.
d. Phospate treated Mud, yaitu mengandung polyphospate untuk mengontrol viscositas
gel strength dan juga dapat mengurangi filtrate loss serta mud cake dapat tipis.
e. Organic colloid treated Mud, terdiri dari penambahan pregelatinized starch atau
carboxymethyl cellulose pada lumpur yang digunakan untuk mengurangi filtration
loss pada fresh water mud.
f. Red Mud, yaitu mendapatkan warnanya dari warna yang dihasilkan oleh treatment
dengan cautic soda dan gueobracho (merah tua). Jenis lumpur ini adalah alkaline
tannate treatment dengan penambahan polyphospate untuk lumpur dengan pH
dibawah 10.
g. Calcium Mud, yaitu lumpur yang mengandung larutan calcium (di sengaja). Calcium
bisa ditambah dengan bentuk slake lime (kapur mati), semen, plaster (CaSO4) atau
CaCl2.
b.

Salt Water Mud


Lumpur ini digunakan terutama untuk membor garam massive (salt dome) atau salt

stringer (lapisan formasi garam) dan kadang-kadang bila ada aliran air garam yang
terbor.Filtrate loss-nya besar dan mud-cake-nya tebal bila tidak ditambah organic
colloid, pH lumpur dibawah 8, karena itu perlu presentative untuk menahan fermentasi
starch. Jika salt mudnya mempunyai pH yang lebih tinggi, fermentasi terhalang oleh
basa. Suspensi

ini

bisa diperbaiki

dengan

penggunaan

attapulgite

sebagai

pengganti bentonite. Adapun jenis-jenis lumpur salt water mud adalah : Unsaturated salt
water mud, Saturated salt-water mud danSodium-Silicate muds.
FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

c.

Oil-In-Water Emultion Muds (Emultion Mud)


Pada lumpur ini, minyak merupakan fasa tersebar (emulsi) dan air sebagai sebagai

fasa kontinu. Jika pembuatannya baik, filtratnya hanya air. Sebagai dapat digunakan baik
fresh maupun salt water mud. Sifat-sifat fisik yang dipengaruhi emulsifikasi hanyalah
berat lumpur, volume filtrat, tebal mud cake dan pelumasan. Segera setelah emulsifikasi,
filtrate loss berkurang. Keuntungannya adalah bit yang lebih tahan lama, penetration rate
naik, pengurangan korosi pada drillstring, perbaikan pada sifat-sifat lumpur (viskositas
dan tekanan pompa boleh/dapat dikurangi, water loss turun, mud cake tipis) dan
mengurangi balling (terlapisnya alat oleh padatan lumpur) pada drillstring. Viskositas
dan gel lebih mudah dikontrol bila emulsifiernya juga bertindak sebagai thinner.
Fresh

water

oil-in-water

emulsion

muds

adalah

lumpur

yang

mengandung NaClsampai 60,000 ppm. Lumpur emulsi ini dibuat dengan menambahkan
emulsifier (pembuat emulsi) ke water base mud diikuti dengan sejumlah minyak yang
biasanya 5 25% volume. Jenis emulsifier bukan sabun lebih disukai karena ia dapat
digunakan dalam lumpur yang mengandung larutan Ca tanpa memperkecil emulsifiernya
dalam hal efisiensi. Emulsifikasi minyak dapat bertambah dengan agitasi (diaduk).
d.

Oil Base Dan Oil Base Emulsion Mud


Lumpur ini mengandung minyak sebagai fasa kontinunya. Komposisinya diatur

agar kadar airnya rendah (3 5% volume). Relatif lumpur ini tidak sensitif terhadap
kontaminan. Tetapi airnya adalah kontaminan karena memberi efek negatif bagi
kestabilan lumpur ini. Untuk mengontrol viskositas, menaikkan gel strength, mengurangi
efek kontaminasi air dan mengurangi filtrate loss, perlu ditambahkan zat-zat kimia.
Manfaat oil base mud didasarkan pada kenyataan bahwa filtratnya adalah minyak
karena itu tidak akan menghidratkan shale atau clay yang sensitif baik terhadap formasi
maupun formasi produktif (jadi ia juga untuk completion mud). Kegunaan terbesar adalah
pada

completion

dan

work-over

sumur.

Kegunaan

lain

adalah

untuk

melepaskan drillpipeyang terjepit, mempermudah pemasangan casing dan liner.


Oil base emulsion dan lumpur oil base mempunyai minyak sebagai fasa kontinu
dan air sebagai fasa tersebar. Umumnya oil base emulsion mud mempunyai manfaat yang
sama seperti oil base-mud, yaitu filtratnya minyak dan karena itu tidak
menghidratkanshale/clay yang sensitif. Perbedaan utamanya adlah bahwa air
ditambahkan sebagai tambahan yang berguna (bukan kontaminan). Air yang teremulsi
dapat antara 15 50% volume, tergantung densitas dan temperatur yang diinginkan
(dihadapi dalam pemboran). Karena air merupakan bagian dari lumpur, maka lumpur ini
FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

dapat mengurangi bahaya api, dan pengontrolan flow propertinya dapat seperti water
base mud.
e.

Gaseous Drilling Fluid


Digunakan untuk daerah-daerah dengan formasi keras dan kering. Dengan gas atau

udara dipompakan pada annulus, salurannya tidak boleh bocor.


Keuntungan cara ini adalah penetration rate lebih besar, tetapi adanya formasi air
dapat menyebabkan bit balling (bit dilapisi cutting/padatan) yang merugikan. Juga
tekanan formasi yang besar tidak membenarkan digunakannya cara ini. Penggunaan
natural gas membutuhkan pengawasan yang ketat pada bahaya api. Lumpur ini juga baik
untuk completion pada zone-zone dengan tekanan rendah.
Suatu cara pertengahan antara lumpur cair dengan gas adalah aerated mud drilling
dimana sejumlah besar udara (lebih dari 95%) ditekan pada sirkulasi lumpur untuk
memperendah tekanan hidrostatik (untuk lost circulation zone), mempercepat pemboran
dan mengurangi biaya pemboran.

2.

Additive Lumpur Pemboran


Additive lumpur pemboran adalah material-material yang ditambahkan untuk

merawat lumpur agar sesuai sifat-sifatnya dengan yang dibutuhkan. Sifat-sifat yang
dibutuhkan tersebut yaitu material pemberat lumpur, material pengental lumpur, material
pengencer lumpur, filtration loss control agent dan lost circulation material.
a.

Material Pemberat Lumpur


Material yang ditambahkan untuk menaikkan berat jenis lumpur atau disebut juga

dengan weight material. Seperti : Barite atau Barium Sulfate, Calcium Carbonate untuk
oil base mud dan Galena.
b.

Material Pengental Lumpur


Zat kimia pengental lumpur merupakan bahan untuk menaikkan viskositas dari

lumpur bor. Material ini termasuk viscosifier. Seperti : Wyoming bentonite, High Yielding
Clay, Attapulgite clay untuk salt water mud dan Extra high yield bentonite.
c.

Material Pengencer Lumpur


Zat kimia pengencer lumpur ini makdusnya adalah zat kimia yang digunakan untuk

menurunkan viskositas lumpur bor atau disebut juga Thinner. Seperti :Chrome
lignosulfonate, Alkaline lignite, Sodium Acid Pyrophospate, dll.
d.

Filtration Loss Control Agent

FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

Filtration Loss Control Agent maksudnya adalah bahan-bahan untuk mengurangi


filtration loss dan menipiskan mud cake. Seperti : Pregelatinized Starch, Sodium
Carboxymethylcellulose, dll.
e.

Lost Circulation Material


Bahan ini untuk menyumbat bagian yang menimbulkan lost circulation. Jadi bahan

untuk menghentikan lost circulation. Seperti : Blended Fiber, Graded Mica, Ground
walnut hulls, dll

3.

Fungsi Lumpur Pemboran


Fungsi lumpur digunakan pada saat operasi pemboran berlangsung, antara lain :

a.

Mengangkat cutting ke permukaan. Mengangkat cutting tergantung dari :


Kecepatan fluida di annulus
Kapasitas untuk menahan fluida yang merupakan fungsi dari densitas, aliran
(laminer atau turbulen), viskositas. Umumnya kecepatan 100-120 fpm.

b.

Mendinginkan dan melumasi bit dan drill string.


Panas dapat timbul akibat gesekan bit dan drill string yang kontak dengan formasi.

c.

Memberi dinding pada lubang bor dengan mud cake.


Lumpur akan membuat mud cake atau lapisan zat padat tipis di permukaan formasi
yang permeable (lulus air).

d.

Mengontrol tekanan formasi.


Tekanan fluida formasi umumnya adalah di sekitar 0.465 psi/ft kedalaman. Diaman
Persamaannya yaitu :
Pm = 0.052. m. D
Dimana :
Pm = tekanan static lumpur, psi
m = densitas lumpur, ppg
D

e.

= kedalaman, ft

Membawa cutting dan material-material pemberat dapat menjadi suspensi bila


sirkulasi lumpur dihentikan sementara.

f.

Melepaskan pasir dan cutting di permukaan.


Kemampuan lumpur untuk menahan cutting selama sirkulasi dihentikan terutama
tergantung dari gel strength. Bahwa cutting/pasir harus dibuang dari aliran lumpur,

FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

10

karena sifatnya yang sangat abrasive (mengikis) pada pompa, fitting dan bit. Untuk
ini biasanya kadar pasir maksimal boleh ada sebesar 2%.
g.

Menahan sebagian berat drill pipe dan casing (Bouyancy effect).

h.

Mengurangi efek negatif pada formasi.

i.

Mendapatkan informasi (mud log, sample log).


Dalam pemboran, lumpur kadang-kadang dianalisa untuk diketahui apakah
mengandung hidrokarbon atau tidak (mud log), sedangkan sample log adalah
menganalisa daripada cutting yang naik ke permukaan, untuk menentukan formasi
apa yang di bor.

j.

Media logging
Pada penentuan adanya minyak atau gas serta zone-zone air dan juga untuk korelasi
dan maksud-maksud lain, diadakan logging (pemasukan sejenis alat antara lain alat
listrik atau gamma ray/neutron), seperti electric logging, yang mana memerlukan
media penghantar arus listrik di lubang bor.

4.

Sifat-Sifat Lumpur Pemboran


Komposisi dan sifat-sifat lumpur sangat berpengaruh pada pemboran. Perencanaan

casing, drilling rate dan completion dipengaruhi oleh lumpur yang digunakan saat
itu. Berikut sifat-sifat lumpur, yaitu :
a.

Densitas dan Sand Content


Densitas lumpur bor merupakan salah satu sifat lumpur yang sangat penting karena

sebagai penahan tekanan formasi. Adanya densitas lumpur bor yang terlalu besar akan
menyebabkan lumpur hilang ke formasi (lost circulation), sedangkan apabila terlalu kecil
akan menyebabkan kick. Maka densitas lumpur harus disesuaikan dengan keadaan
formasi yang akan dibor.
Sand Content yaitu tercampurnya serpihan-serpihan formasi (cutting) ke dalam
lumpur pemboran yang dapat membawa pengaruh pada operasi pemboran, karena akan
menambah densitas lumpur yang disirkulasikan, sehingga akan menambah beban pompa
sirkulasi lumpur. Oleh karena itu, setelah lumpur disirkulasikan harus mengalami proses
pembersihan terutama menghilangkan partikel-partikel yang masuk ke dalam lumpur
selama sirkulasi. Alat-alat ini biasanya disebut Conditioning Equipment, yaitu : Shale
saker, degasser, desander dan desilter.
Penggambaran sand content dari lumpur pemboran adalah persen volume dari
partikel-partikel yang diameternya lebih besar dari 74 mikron.
FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

11

b.

Viskositas dan Gel Strength


Viskositas dan gel strength merupakan bagian pokok dalam sifat-sifat rheology

fluida pemboran, yaitu viskositas sebagai keefektifan pengangkatan cutting dan gel
strength digunakan pada saat dilakukan round trip.
Pengukuran viskositas dilakukan dengan menggunakan alat Marsh Funnel.
Viskositas ini adalah jumlah detik yang dibutuhkan lumpur sebanyak 0.9463 liter (1
quart) untuk mengalir keluar dari corong Marsh Funnel.
Penentuan harga shear stress dan shear rate yang masing-masing dinyatakan dalam
bentuk penyimpangan skala penunjuk (dial reading) dan RPM motor pada Fann VG
viscometer, harus diubah menjadi harga shear stress dan shear rate dalam satuan
dyne/cm2 dan detik-1 agar diperoleh harga viskositas dalam satuan cp (centipoise).

c.

Filtrasi dan Mud Cake


Ketika terjadi kontak antara lumpur pemboran dengan batuan porous, batuan

tersebut akan bertindak sebagai saringan yang memungkinkan fluida dan partikel-partikel
kecil melewatinya. Fluida yang hilang ke dalam batuan tersebut disebut filtrate,
sedangkan lapisan partikel-partikel besar tertahan dipermukaan batuan disebut filter
cake.
Apabila filtration loss dan pembentukan mud cake tidak dikontrol maka ia akan
menimbulkan berbagai masalah, baik selama operasi pemboran maupun dalam evaluasi
formasi dan tahap produksi. Mud cake yang tipis merupakan bantalan yang baik antara
pipa pemboran dan permukaan lubang bor. Mud cake yang tebal akan menjepit pipa
pemboran sehingga sulit diangkat dan diputar sedangkan filtratnya akan menyusup ke
formasi dan dapat menimbulkan damage pada formasi. Alat yang digunakan untuk
menentukan filtration loss adalah Filtration Loss LPLT.

5.

Kontaminasi Lumpur Pemboran


Salah satu penyebab berubahnya sifat fisik lumpur adalah adanya material-material

yang tidak diinginkan (kontaminan) yang masuk kedalam lumpur pada saat operasi
pemboran sedang berjalan. Kontaminasi yang sering terjadi adalah :
a. Kontaminasi Sodium Chlorida (NaCl): Kontaminasi ini terjadi saat pemboran
menembus kubah garam (salt dome)
b. Kontaminasi Gypsum dan
c. Kontaminasi Semen
FLUIDA PEMBORAN DAN LUMPUR PEMBORAN

12