Anda di halaman 1dari 6

Teori Singkat

Pengukuran adalah kegiatan membandingkan sesuatu yang diukur menggunakan


alat ukur dengan satuan yang telah di jadikan acuan.Pengukuran besaran relatif
terhadap suatu standar atau satuan tertentu. Dikatakan relatif di sini, maksudnya
adalah setiap alat ukur memiliki tingkat ketelitian yang berbeda-beda, sehingga
hasil pengukuran yang diperoleh berbeda pula. Ketelitian dapat didefinisikan
sebagai ukuran ketepatan yang dapat dihasilkan dalam suatu pengukuran, dan ini
sangat berkaitan dengan skala terkecil dari alat ukur yang dipergunakan untuk
melakukan pengukuran. Sebagai contoh, pengukuran besaran panjang dengan
menggunakan penggaris (mistar), jangka sorong dan mikrometer sekrup. Ketiga
alat ukur ini memiliki tingkat ketelitian yang berbeda-beda.Ketidakpastian
pengukuran dapat di hitung dengan cara:
x=1/n NST alat

(untuk alat ukur yang jarak antarskalanya


masih dapat di bagi oleh mata)

x= n NST alat

(untuk alat ukur yang jarak antarskalanya


sulit di bagi lagi oleh mata)

Nilai x hasil pengukuran dapat dilaporkan dengan cara :


X=(x x)
Ketepatan dan Ketelitian Pengukuran
Ketepatan (keakrutan). Jika suatu besaran diukur beberapa kali (pengukuran
berganda) dan menghasilkan harga-harga yang menyebar disekitar harga yang
sebenarnya maka pengukuran dikatakan akurat.
Ketelitian (Kepresisian). Jika hasil-hasil pengukuran terpusat disuatu daerah
tertentu maka pengukuran disebut presisi ( harga tiap pengukuran tidak jauh
berbeda )
Angka Penting atau Angka Berarti
1. Semua angka yang bukan nol adalah angka penting.
2. Angka nol yang terletak diantara angka bukan nol termasuk angka penting.
Contoh : 25,04 A mengandung 4 angka penting

3. Angka nol disebelah kanan angka bukan nol termasuk angka penting,
kecuali kalau ada penjelasan lain, misalnya berupa garis dibawah angka
terakhir yang masih dianggap penting.
Contoh : 22,30 mm mengandung 4 angka penting
22,30mm mengandung 3 angka penting
4. Angka nol yang yang terletak disebelah kiri angka bukan nol, balik
disebelah kanan maupun disebelah kiri koma desimal tidak termasuk
angka penting.
Contoh : 0,47 cm mengandung 2 angka penting.
Ketidakpastian Pengukuran
Ketidakpastian Bersistem
Ketidakpastian (Kesalahan) bersistem akan menyebabkan hasil yang diperoleh
menyimpang dari hasil sebenarnya.
Ketidakpastian Rambang (Acak)
Kesalahan ini bersumber dari gejala yang tidak mungkin dikendalikan atau diatasi
berupa perubahan yang berlangsung sangat cepat sehingga pengontrolan dan
pengaturan diluar kemampuan.
Analisa ketidakpastian pengukuran
Suatu pengukuran selalu disertai dengan ketidakpastian. Beberapa penyebab
ketidakpastian tersebut antara lain adalah NST.,kesalahan kalibrasi,keslahan titik
nol,kesalahan

pralaks,adanya

gesekan,fluktasi parameter

pengukuran dan

lingkungan yang saling mempengaruhi serta keterampilan pengamat.


1. Ketidakpastian pengukuran tunggal
Pengukuran tunggal adalah pengukuran yang dilakukan satu kali saja.
Keterbatasan skala alat ukur dan keterbatasan kemampuan mengamati
serta banyak sumber kesalahan lain, mengakibatkan hasil pengukuran
selalu dihinggapi ketidakpastian. Ketidakpastian yang dimaksud dan diberi
lambang

x . Lambang

merupakan ketidakpastian mutlak.

Untuk pengukuran tunggal diambil kebijaksanaan : x = NST alat


Dimana x adalah ketidakpastian pengukuran tunggal. Angka 2 pada
persamaan tersebut mempunyai arti satu skala ( kemampuan mata untuk
membagi 2 skala)
2. Ketidakpastian pengukuran berulang

Dengan mengadakan pengulangan, pengetahuan kita tentang nilai


sebenarnya (Xo) menjadi semakin baik. Jika pengukuran dilakukan
sebanyak 3 kali dengan hasil X1,X2 dan X3 atau 2 kali saja misalnya pada
awal percobaan atau akhir percobaan, maka {x} dan

dapat

ditentukan. Nilai rata-rata pengukuran dilaporkan sebagai { x }


sedangkan deviasi (penyimpangan) terbesar atau deviasi rata-rata
dilaporkan sebagai

x . Deviasi adalah selisih-selisih antara tiap hasil

pengukuran dari nilai rata-ratanya. Jadi :


x

x 1+ x 2+ x 3
3

Alat ukur dasar yang digunakan


1. Penggaris atau Mistar
Ketelitian mistar dan pita ukur adalah 1 mm atau 0,1 cm

Cara membaca skala:


Dalam membaca skala mistar diperlukan ketelitian. Dalam membaca skala
pada mistar , posisi mata pengamat harus tegak lurus skala yang dibaca.
2. Jangka Sorong
Jangka sorong digunakan untuk mengukur panjang benda, diameter bola,
dimensi luar dan dimensi dalam tabung, dan kedalaman lubang suatu benda.
Bagian-bagian dari jangka sorong adalah rahang tetap dan rahang geser, serta
memiliki 2 skala, yaitu skala utama dan nonius.

Ketelitian jangka sorong adalah 0,1 mm.


Cara menggunakan jangka sorong adalah sebagai berikut:
a. Letakkan benda yang diukur di antara rahang tetap dan rahang sorong,
atau pada tangkai gurat ukur kedalaman
b. Gerakkan rahang sorong maju atau mundur
c. Baca skala di dalam lingkaran sorong.
Cara membaca hasil pengukuran jangka sorong:

a. Pada skala utama terbaca 2,4 cm


b. Skala nonius yang benar-benar berimpit dengan skala utama adalah 7.
Karena nilai ketelitian untuk jangka sorong adalah 0,1 mm maka nilai
yang ditunjukkan skala nonius adalah 7 x 0,1 mm = 0,7 mm = 0,07 cm
c. Jadi garis tengah bola adalah 2,4 cm + 0,07 cm = 2,47 cm
3. Mikrometer Skrup
Mikrometer skrup digunakan untuk mengukur benda-benda yang sangat tipis,
seperti diameter kawat, tebal kertas, dan helai rambut.
Ketelitian mikrometer sekrup adalah 0,01 mm.

Cara menggunakan micrometer sekrup adalah sebagai berikut:


1. Letakkan benda diantara landasan dan sekrup
2. Letakkan skala putar hingga benda terjepit
3. Putar roda bergerigi sehingga berbunyi klik
4. Baca skala pada skala utama dan skala putar
Cara membaca skala pada mikrometer skrup

Dari gambar diketahui sebagai berikut:


1. Pada lengan mikrometer terbaca 13,5 mm
2. Pada skala putar terbaca 0,17 mm
3. Jadi hasil pengukuran tersebut adalah 13,5 mm + 0,17 mm = 13,67 mm
atau 1,367 cm
BESARAN MASSA
Setiap benda tersusun dari materi. Jumlah materi yang terkandung dalam suatu
benda disebut massa benda.

Dalam kehidupan sehari-hari, orang menggunakan istilah berat untuk massa.


Namun, sesungguhnya massa tidak sama dengan berat. Massa suatu benda
ditentukan oleh kandungan materinya dan tidak mengalami perubahan meskipun
kedudukannya berubah. Sebaliknya, berat sangat bergantung pada kedudukan di
mana benda tersebut berada. Sebagai contoh, saat astronot berada di bulan,
beratnya tinggal 1/6 dari berat dia saat di bumi.
Alat Ukur Massa : Neraca Ohaus
Umumnya digunakan untuk mengukur massa sampai dengan 200 gram, tingkat
ketelitian 0,01 gram

Cara membaca hasil pengukuran massa dengan neraca:

Jumlahkan ketiga anggka yang ditunjukkan pada lengan neraca, maka hasilnya
adalah 100 g + 90 g + 7,5 g = 197,5 g