Anda di halaman 1dari 11

PAPER UJIAN AKHIR SEMESTER

HUKUM HUMANITER INTERNASIONAL


MEKANISME PENEGAKAN HUKUM HUMANITER
INTERNASIONAL PADA TINGKAT NASIONAL

Oleh :
YANUAR NURUL FAHMI
(115010107121023)

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
2015

Mekanisme Penegakan Hukum Humaniter Internasional


pada Tingkat Nasional

A. Penegakan

Hukum

Terhadap

Pelanggaran

Hukum

Humaniter Internasional
Dalam pembahasan mengenai cara penyelesaian konflik,
dibedakan antara hasil atau penyelesaian masalah dengan
prosedur

perundingan

diplomatik

resmi.

Mungkin

konflik

diselesaikan melalui penaklukan, dan diplomasi benar-benar


dianggap

tidak

penyerahan

ada,

atas

kecuali

masalah

dalam

tersebut

merancang

bentuk

diselesaikan

melalui

berbagai bentuk kompromi resmi yang diperoleh setelah


melakukan berbagai perundingan. Dengan kata lain, hasil atau
penyelesaian berarti setiap bentuk akhir akibat dari konflik,
sedangkan

"prosedur"

ialah

berbagai

bentuk

kompromi.

Kompromi merurapakan salah satu kemungkinan "hasil" atau


"penyelesaian konflik". Lima bentuk kemungkinan lainnya
ialah

penolakan

tuntutan

atau

atau

menghindarkan

tindakan;

penaklukan

penarikan
dengan

kembali

kekerasan;

penangkalan yang efektif atau "tunduk"; penyelesaian melalui


pihak ketiga; dan penyelesaian sengketa secara damai melalui
prosedur perundingan diplomatik resmi.

Selain itu, ketentuan hukum positif bahwa penggunaan


kekerasan

dalam

hubungan

antarnegara

sudah

dilarang

sehingga sengketa-sengketa internasional harus diselesaikan


secara damai. Keharusan untuk menyelesaikan sengketa
secara damai ini pada mulanya tercantum dalam Pasal 1
Konvensi mengenai Penyelesaian Sengketa-sengketa secara
Damai yang ditandatangani di Den Haag, 18 Oktober 1909.
Kemudian, dikukuhkan oleh Pasal 2 ayat 5 Piagam PBB yang
berbunyi: "seluruh anggota akan memberikan segala bantuan
kepada PBB dalam sesuatu tindakannya yang diambil sesuai
dengan Piagam ini, dan tidak akan memberikan bantuan
kepada sesuatu negara yang oleh PBB dilakukan tindakantindakan pencegahan atau kekerasan".
Penyelesaian

sengketa

secara

damai

merupakan

konsekuensi langsung dari ketentuan Pasal 2 ayat 4 Piagam


PBB yang melarang negara anggota menggunakan kekerasan
dalam hubungannya satu sama lain. Aturan ini juga secara
tegas memberikan indikasi bahwa para pihak yang sedang
bersengkata juga menaati aturan sebagaimana tercantum
dalam

Konvensi

Jenewa

Tahun

1949

yang

mengatur

perlindungan terhadap kombatan dan penduduk sipil dari


akibat perang, terutama memperlakukan tahanan perang.

Kejahatan Perang/Pelanggaran berat hukum humaniter adalah pelanggaranpelanggaran tertentu yang dilakukan pada waktu perang, yaitu tindakan yang bertentangan
dengan

Hukum

Humaniter

dilakukan

terhadap

orang-orang

yang

dilindungi

(protectedpersons), misalnya kombatan yang lukadan sakit, tawanan perang dan penduduk
sipilyang berada di bawah kekuasaan negara lain.
Ketentuan yang mengatur : Pasal50 Konvensi Jenewa I tahun 1949; Pasal 51
Konvensi Jenewa II tahun 1949; Pasal 130 Konvensi Jenewa III tahun 1949; Pasal 147
Konvensi Jenewa IV tahun 1949; dan Pasal 85 Protokol I tahun 1977.
Yang termasuk

kejahatan perang antara lain: pembunuhan semena-mena,

penganiayaan atau perlakuan yang tidak manusiawi (termasuk eksperimen medis), dengan
sengaja menimbulkan penderitaan yang luar biasa terhadap badan dan kesehatan,
perusakan yang luar biasa dan pengambilalihan secara tidak sah atas hak milik yang tidak
dibenarkan menurut kepentingan militer, memaksa tawanan perang atau penduduk sipil
untuk bekerja bagi pihak militer yang bersengketa, mengabaikan dengan semena-mena
hak atas peradilan yang adil bagi tawanan perang dan penduduk sipil yang dilindungi,
deportasi atau pemindahan penduduk sipil secara tidak sah, melakukan penyanderaan,
menjadikan penduduk sipil sebagai sasaran serangan, penyalahgunaan lambang palang
merah dan bulan sabit merah, penyerangan atas benda-benda budaya.

Untuk memberikan perlindungan kepada para pihak yang


menjadi korban sengketa bersenjata, dikenal adanya Laws of
War, kemudian berubah namanya menjadi Hukum Sengketa
Bersenjata (Laws of Armed Conflict) yang akhirnya pada saat

ini dikenal dengan International Humanitarian Law Applicable


in Armed Conflict, yaitu sejumlah prinsip-prinsip dasar dan
aturan mengenai batasan penggunaan kekerasan dalam
situasi konflik bersenjata.
Itulah sebabnya para pihak yang melanggar aturan-aturan
yang sudah ditetapkan dapat dikategorikan sebagai penjahatpenjahat perang (War Criminals). Dikatakan demikian, karena
dianggap melanggar hukum pidana biasa maupun hukum
yang berlaku secara universal sehingga harus diperiksa dan
diputuskan

oleh

mahkamah

militer,

pengadilan

nasional

Pelanggaran

Hukum

bahkan pengadilan pidana internasional.


B. Penegakan

Hukum

terhadap

Humaniter Internasional Melalui Mekanisme Nasional


Negara wajib untuk menetapkan UU yang diperlukan untuk memberi sanksi pidana
efektif terhadap orang-orang yang melakukan atau memerintahkan untuk melakukan salah
satu pelanggaran berat Hukum Humaniter. Negara wajib untuk mencari orang dan
mengadili orang-orang yang melakukan pelanggaran berat tersebut, atau menyerahkannya
kepada Negara lain yang berkepentingan untuk mengadilinya.
Ketentuan yang mengatur : Pasal49 Konvensi Jenewa I tahun 1949; Pasal 50 Konvensi
Jenewa II tahun 1949; Pasal 130 Konvensi Jenewa III tahun 1949; Pasal 146 Konvensi
Jenewa IV tahun 1949.

a) Kasus Indonesia

Sebagai anggota masyarakat internasional yang aktif


dalam memelihara perdamaian dan keamanan dunia,
Indonesia telah menjadi pihak dalam Konvensi Jenewa
Tahun 1949 tentang Perlindungan Korban Perang tanpa
reservasi berdasarkan Undang-Undang Nomor 59 Tahun
1958 pada tanggal 4 Juli 1958 sejak meratifikasi konvensi
tersebut. Kemudian perbuatan-perbuatan kejahatan perang
tersebut beserta ancaman hukumannya telah dirumuskan
dalam Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
tahun 2004.
Ratifikasi
tersebut

terhadap

menimbulkan

konvensi-konvensi
konsekuensi

dan

berupa

protokol
timbulnya

suatu kewajiban bagi negara pihak untuk melakukan


berbagai

tindakan

yang

bersifat

implementatif,

yaitu

implementasi legislasi dan kewajiban untuk melakukan


penyebarluasan Hukum Humaniter Internasional.
Dalam praktik, penerapan beberapa perjanjian hanya
dimungkinkan apabila perjanjian tersebut sudah diatur
dalam peraturan perundang-undangan nasional.
Persoalannya adalah Indonesia belum menandatangani
Statuta Mahkamah yang diterima pada tanggal 17 Juli 1998
di

Roma

dan

sekarang

pun

belum

meratifikasinya,

mengesahkan (aksesi) Statuta Mahkamah. Sebagaimana


diketahui

Statuta

Mahkamah

sudah

mulai

berlaku

semenjak 1 Juli 2002 dan sampai September 2004 sudah


diratifikasi oleh 97 negara. Dari kalangan negara anggota
ASEAN hanya Kamboja yang telah meratifikasi Statuta
tersebut.
Lahirnya ICC disambut baik oleh Indonesia, tetapi untuk
meratifikasinya, masih dibutuhkan waktu untuk membahas
ketentuan-ketentuan yang ada didalamnya apakah sudah
sesuai atau tidak dengan kepentingan nasional Indonesia.
Meskipun

demikian,

Indonesia

sudah

mempunyai

perangkat perundang-undangan bagi perlindungan dan


kemajuan hak asasi manusia sebagaimana tercantum
dalam:
i.

TAP MPR XVII Tahun 1998 tentang HAM;

ii. Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM


iii. Undang-Undang

Nomor

26

Tahun

2000

tentang

Peradilan HAM
iv. Pasal 28 Perubahan II UUD 1945
Dalam hukum positif Indonesia saat ini tidak ada kualifikasi tindak pidana yang
disebut sebagai kejahatan perang. Beberapa pasal KUHP merumuskan tentang
kejahatan yang berkaitan dengan perang atau yang dilakukan dalam masa perang, dan

dikualifikasikan sebagai Kejahatan terhadap Keamanan negara antara lain (Bab I


Buku II KUHP) : Ps. 111 ; ayat 1; Ps. 122 ke-1; Ps. 122 ke-2; Ps. 123; Ps. 124 ayat
1; Ps. 124 ayat 2 ke-1; Ps. 124 ayat 2 ke-2; Ps. 124 ayat 3 ke-2; Ps. 124; Ps. 126; dan
Ps. 127.
Apabila dilihat dari bentuk tekstualnya Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999
dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 dapat dikatakan sebagai bentuk ratifikasi
Statuta Roma, meskipun hanya mengadopsi dua dari empat kejahatan internasional
yang diatur dalam Statuta Roma. Kedua kejahatan itu adalah kejahatan terhadap
kemanusiaan dan kejahatan pemusnahan suatu kelompok, golongan, suku, ras dan
agama (genosida). Masalahnya terdapat kekosongan hukum, yakni dalam UndangUndang Nomor 39 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2000 tidak
memasukkan tentang kejahatan perang

Dari segi struktur hukum, Indonesia sudah memiliki


pengadilan HAM permanen yang memiliki hakim ad hoc
dan penuntut umum ad hoc. Penyelidikan atas kasus-kasus
pelanggaran HAM berat juga diberikan kepada Komisi
Nasional Hak Asasi Manusia (KomNas HAM). Hal yang
terpenting
mengenai

adalah
HAM

bagaimana

dapat

ketentuan-ketentuan

dilaksanakan

dengan

adil,

transparan, berkesinambungan dan dipercaya.


Guna

mengadili

kejahatan

terhadap

kemanusiaan,

pemerintah Indonesia melalui Peradilan HAM ad hoc Jakarta

kasus Timor Leste telah mengadili para militer yang terlibat


dalam kasus Timor Leste pasca jajak pendapat.
b) Kasus Afrika Selatan
Afrika Selatan telah lama hidup dalam kebijakan
perbedaan warna kulit (apartheid). Konflik demi konflik
melingkupi sejarah apartheid hibgga banyak orang yang
nasibnya tidak pernah diketahui lagi.
Pemilu multirasial Afrika Selatan pertama pada tahun 1994
dimenangkan oleh African National Congress yang dipimpin
oleh Nelson Mandela, yang akhirnya menjadi presiden kulit
hitam pertama.
Tampilnya tokoh kulit hitam, Nelson Mandela yang
memenangkan Pemilihan Umum multirasial pertama pada
tahun 1994 pada mulanya memicu kekhawatiran akan aksi
balas dendam terhadap rezim kulit putih. Kenyataanya
ketakutan-ketakutan itu tidak terjadi disebabkan oleh tiga
hal: (1) Nelson Mandela yang karismatik; (2) dalam tiap
pidatonya

Nelson

Mandela

tidak

pernah

menebar

semangat balas dendam, tetapi terus-menerus mengajak


rakyat untuk melupakan masa lalu yang pahit; dan (3)
Nelson Mandela mengusulkan untuk didirikannya The Truth
and Reconciliation Commission (TRC).

The Truth and Reconciliation Commission (TRC) adalah


komisi yang bertugas untuk mencari kebenaran dan
melakukan penyelidikan terhadap kejahatan HAM yang
terjadi selama rezim apatheid dalam kurun waktu 1960 1994. Tiga Sasaran Utama TRC adalah :
i.

Komisi

diharapkan

mampu

memberikan

gambaran

lengkap dan jelas atas rangkaian kekejaman HAM


sepanjang masa lalu.
ii. Komisi

diharapkan

mampu

merehabilitasi

dan

memulihkan harga diri para korban HAM.


iii. Rekomendasi komisi ini juga diperlukan agar para
pelaku pelanggaran HAM bisa mendapatkan amnesti
untuk kejahatan HAM dengan alasan-alasan politik.
TRC terdiri dari tiga komisi dengan tugasnya masingmasing antara lain:
i.

Committee on Human Rights Violations


melakukan

investigasi

atas

bertugas

pelanggaran

HAM,

menemukan siapa yang harus bertanggung jawab atas


kasus itu, mengungkapkan bagaimana terjadinya kasus
itu dan kepentingan apa yang melatarbelakanginya.
ii. Committee on Amnesty bertugas

memberikan

rekomendasi amnesti atas pelaku pelanggaran HAM

kepada parlemen dan presiden.


iii. Committee on Reparation and Rehabilitation bertugas
merancang

program-program

rehabilitasi

medis,

sosiologis, dan psikologis untuk korban pelanggaran


HAM; membuat usulan mengenai kompensasi yang
harus diberikan kepada para korban.
Dengan demikian, penegakan HHI melalui mekanisme
nasional dilakukan dengan dua cara, yaitu:
a) negara wajib membuat peraturan perundang-undangan
yang menetapkan sanksi bagi pelaku kejahatan perang;
dan
b) mengadili pelaku kejahatan perang.