Anda di halaman 1dari 13

FUNGSI-FUNGSI TATANIAGA

I.

PENDAHULUAN
Tataniaga adalah semua kegiatan yang diarahkan untuk mengenali dan memenuhi atau

memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen ataupun pelanggan. Tataniaga juga disebut
dengan pemasaran atau dalam bahasa lain disebut marketing yang berasal dari kata market yang
artinya pasar. Sedangkan tataniaga pertanian adalah kegiatan yang menyalurkan produk-produk
pertanian dan atau sarana produksi pertanian dari titik produksi sampai ke titik konsumsi disertai
penciptaan kegunaan waktu, tempat, bentuk dan pengalihan hak milik oleh lembaga-lembaga
tataniaga dengan melakukan satu atau lebih fungsi-fungsi tataniaga.
Dalam menelaah proses pergerakan tataniaga harus menggunakan beberapa pendekatan.
Pendekatan-pendekatan ini membantu kita dalam menciptakan sistem tataniaga yang baik.
Tataniaga juga perlu melakukan pendekatan-pendekatan yang biasa digunakan untuk
menganalisis permasalahan yang dihadapi dalam tataniaga hasil-hasil pertanian. Pendekatanpndekatan tersebut yaitu pendekatan serba barang, pendekatan serba lembaga, pendekatan serba
fungsi, pendekatan teori ekonomi dan pendekatan sistem.
Setiap pendekatan tentu memilki hubungan yang saling terkait. Kompleksitas tata niaga
produk pertanian mengimplikasikan sejumlah keadaan pasar yang menjual produk pertanian
dengan berbagai kualitas, harga, karakteristik penjual dan pembeli, negosiasi harga sebagainya.
Dalam upaya mempelajari realitas tata niaga produk pertanian yang tidak linier dan rumit
diperlukan. alternatif pendekatan konseptual. Pendekatan konseptual dapat diartikan sebagai cara
pandang terhadap suatu masalah dari satu sudut pandang tertentu, sehingga masalah tersebut
menjadi semakin jelas dan mudah diselesaikan.

Tataniaga adalah semua kegiatan yang diarahkan untuk mengenali dan memenuhi atau
memuaskan kebutuhan dan keinginan konsumen ataupun pelanggan. Tataniaga pertanian adalah

kegiatan yang menyalurkan produk-produk pertanian dan atau sarana produksi pertanian dari
titik produksi sampai ke titik konsumsi disertai penciptaan kegunaan waktu, tempat, bentuk dan
pengalihan hak milik oleh lembaga-lembaga tataniaga dengan melakukan satu atau lebih fungsifungsi tataniaga.
Untuk menelaah proses pergerakan komoditas tataniaga, pada dasarnya harus menggunakan
beberapa pendekatan.

Pendekatan-pendekatan tersebut yaitu pendekatan serba barang

(commodity approach), pendekatan serba lembaga (institutional approach), pendekatan serba


fungsi (functional approach), pendekatan teori ekonomi (economic theory approach) dan
pendekatan sistem (system approach). Masing-masing pendekatan tersebut tidak dapat berdiri
sendiri, maka harus memerlukan pendekatan lainnya agar dapat memberikan manfaat yang lebih
menyeluruh.
Berikut ini beberapa pendekatan-pendekatan dalam tataniaga:
a.

Pendekatan serba barang (commodity approach)

Dalam pendekatan ini harus diawali dengan menetapkan komoditas pertanian apa yang harus
dikaji. Pendekatan seperti ini dinamakan pendekatan komoditas. Kemudian bagi seorang
peneliti harus mengamati dan mengikuti aliran komoditas tersebut dari titik produksi sampai
dengan titik konsumsi terakhir dan secara simultan mempelajari gambaran perlakuan apasaja
terhadap komoditas pertanian tersebut dan bagaimana suatu komoditas pertanian dipasarkan
secara efisien. Kelebihan utama dalam pendekatan ini terletak pada proses penyederhanaan,
sehingga dengan menitik-beratkan hanya pada satu komoditas pertanian saja maka kompleksitas
situasi tataniaga dapat disederhanakan dan aliran komoditas pertanian dapat digambarkan secara
jelas.
Oleh karena adanya kesulitan menentukan populasi masing-masing lembaga tataniaga, maka
untuk keperluan menentukan sampel bagi masing-masing lembaga umumnya menggunakan
teknik penarikan sampel salju menggelinding (snowbowling sampling), yaitu dengan terlebih
dahulu menentukan tingkat pertama dari lembaga-lembaga tataniaga yang diteliti secara random
sampling, sedangkan sample selanjutnya ditentukan berdasarkan arus pergerakan komoditas

tersebut. Pendekatan ini kurang memperhatikan konsep koordinasi antar tahapan tataniaga yang
sangat penting untuk meningkatkan efisiensi sistem tataniaga secara keseluruhan.
b.

Pendekatan serba lembaga (institutional approach)

Lembaga yang dimaksudkan disini adalah lembaga yang mempunyai peran dalam aktivitas
tataniagatengkulak, pedagang pengumpul, pedagang penengah, pengolah, pedagang besar,
pengecer, lembaga pengakutan, pengkreditan dan lain sebagainya.

Peneliti harus dapat

menentukan lembaga-lembaga tataniaga yang benar-benar berperan dalam proses tataniaga untuk
dikaji.
Lembaga tataniaga ini sangat penting, sebab merekalah yang melakukan proses pengambilan
keputusan dalam proses tataniaga komoditas pertanian. Tanpa adanya lembaga tataniaga ini,
maka proses dan sistem tataniaga tidak akan mengalami perubahan, perkembangan dan prosesproses penyesuaian. Selain itu tidak hanya penting bagi para produsen saja tetapi bagi lembagalembaga itu sendiri sehubungan dengan jasa-jasa yang telah mereka berikan, baik yang
menguntungkan atau tidak.
c.

Pendekatan serba fungsi (functional approach)

Fungsi tataniaga merupakan kegiatan pokok yang harus dilakukan untuk menyelesaikan proses
tataniaga. Proses tataniaga meliputi beberapa fungsi yang harus dilaksanakan oleh produsen dan
lembaga-lembaga yang terlibat dalam mata rantai tataniaga serta harus diakomodasikan oleh
produsen dan rantai saluran barang dan jasa.
Secara teoritis, fungsi-fungsi tataniaga dapat digolongkan kedalam tiga golongan, yaitu :
1. Fungsi Pertukaran (exchange function)
Fungsi pertukaran dapat terbagi lagi menjadi 2 fungsi, yaitu :
a.

Fungsi Pembelian

Pembelian merupakan fungsi yang berkaitan dengan pemindahan dan atau pemilikan sejumlah
barang untuk memenuhi kebutuhan pengguna. Tujuannya, pembelian yang umum terjadi dapat
dibedakan:

1. Pembelian untuk konsumsi, adalah pembelian untuk lembaga pemerintahan, swasta, dan
nyonya rumah tangga untuk keperluan konsumsinya.
2. Pembelian untuk bahan baku bagi manufaktur untuk dijadikan barang jadi.
3. Pembelian untuk dijual lagi, yaitu pembelian oleh pedagang untuk dijual lagi.
Dalam menganalisis pembelian dan pengumpulan seyogianya memperhatikan hal-hal yang
berlaku dalam fungsi tersebut, yaitu :
1. Menetapkan kuantitas dan kualitas dari barang-barang yang dibutuhkan
2. Menentukan tempat, sumber-sumber pembelian dan pengumpulan barang
3. Mengetahui keadaan pasar terutama mengenai persediaan barang, harga, macam barang dan
barang substitusinya
4. Merundingkan syarat-syarat pembelian
5. Melaksanakan transaksi secara resmi dan pemindahan hak milik dari penjual ke pembeli
termasuk waktu penyerahannya.
1. Fungsi Pertukaran
Dalam pemasaran produk pertanian fungsi pertukaran meliputi kegiatan yang menyangkut
pengalihan hak pemilikan dalam sistem pemasaran. Fungsi pertukaran ini terdiri dari fungsi
penjualan dan pembelian
1. Penjualan
Dalam melaksanakan fungsi penjualan, produsen atau lembaga pemasaran yang berada pada
rantai pemasaran sebelumnya harus memperhatikan kualitas, kuantitas, bentuk, dan waktu, serta
harga yang diinginkan konsumen atau lembaga pemasaran yang ada pada rantai pemasaran
berikutya. Sasaran penjualan adalah mengalihkan barang ke pembeli dengan harga memuaskan.
Kegiatan penjualan dapat dilaksanakan melalui :
a.

Penjualan melalui inspeksi (pengawasan, pemeriksaan) yaitu dengan pemberian ijin oleh

penjual kepada pembeli untuk memeriksa dan meneliti semua persediaan dari penjual sebelum
pembeli memilih apa yang akan dibelinya. Penjualan ini terjadi karena :
-

tidak ada standarisasi terhadap barang;

sifat cepat rusak yang tinggi pada barang; tingkat pembelian yang sangat cepat sehingga

lalulintas langganan dan tingkat penjualan akan terganggu;

memamerkan barang akan mendorong sejumlah pembelian saat bersamaan;

ada tekanan kepada tingkat pelayanan sendiri yang tinggi oleh pembeli-pembelinya.

b.

Penjualan melalui sample (contoh) berdasarkan prinsip standarisasi, sehingga contoh

barang yang diperdagangkan akan merupakan wakil untuk semua unit barang yang akan dijual
c.

Penjualan dengan penggambaran (deskripsi). Terdapat anggapan bahwa barang akan bisa

digunakan sedemikian rupa dalam katalog-katalog sehingga tidak ada satu unit barangpun perlu
ada sewaktu penjualan diselesaikan. Sebagai contoh, mail order seling, future trading. Penjualan
tipe ini mungkin terjadi karena ada perkembangan standarisasi dan perbaikan mutu dan
komunikasi. Ini akan berhasil baik bila ada syarat kebebasan dalam mengadakan kebijakan
garansi terhadap barang.
d.

Penjualan kombinasi yaitu tersedianya contoh yang menginformasikan semua barang yang

tersedia dan katalog dari barang. Pembeli dapat memeriksa contoh dalam bungkusan yang
tersedia.
Penjualan modern biasanya meliputi kegiatan:
a.

Penelitian pasar dan perencanaan


Penelitian pasar dimaksudkan untuk menemukan produk apa ang diinginkan oleh konsumen.
Penleitian ini akan dihubungkan dengan persoalam tentang rencana produksi, antara lain harga,
dan macam barang, kualitas, kebiasaan dan motif pembelian dari konsumen

b.

Memperkirakan kesanggupan penjualan


Memperhitungkan pendapatan konsumen serta cara-cara bagaimana konsumen membelanjakan
pendapatannya, bagaimana pengaruh harga terhadap permintaan, pengaruh persaingan dan
penilaian terhadap akibat adanya penjualan dalam keadaan perdagangan pada umumnya

c.

Pemilihan saluran distribusi


Mencakup pengambilan keputusan dengan memperhatikan macam disribusi mana yang paling
efektif. Apakah produsen menjual barang secara langsung ke pedagang eceran, atau melaui
berbagai perantara, atau menjual ke konsumen langsung.

d.

Penentuan syarat penjualan


Meliputi penetapan syarat dan kondisi penjualan yang mencakup
-

Syarat pengiriman (waktu penyerahan dan pembayaran ongkos angkutan)

Cara-cara pembayaran, misalnya potongan harga dan kredit

Kualitas dan kuantitas barang yang dijual

Hal lainnya yang ada hubungannya dengan penjualan

e.

Membuat kontak dengan pembeli. Meliputi berbagai kegiatan :


-

Menetapkan pasar. Apakah barang akan dijual di daerah geografis luas atau sempit

Setelah menetapkan pasar, penjual harus mencari pembeli di pasar tersebut, dimana

keberadaan pembeli dan bagaimana kebutuhannya


f.

Membuat kontak dengan pembeli potensial, mengembangkan dan memelihara hubungan


Pemindahan hak milik atas barang

Pemindahan hak milik harus disertai dengan penerimaan barang oleh pihak pembeli sesuai
dnegan kontrak pembelian. Kegiatan penjualan sudah selesai bila pihak pembeli sudah menerima
barang dari pihak penjual dan memilikinya
2. Pembelian
Fungsi pembelian diperlukan untuk memiliki komditi pertanian yang akan dikonsumsi atau
digunakan dalam proses produksi berikutataniagaya. Dalam melakukan pemindahan hak milik
ini, lembaga yang melakukan penjualan maupun pembelian tidak berhadapan langsung. Lmebaga
pemasaran yang melakukan proses penjualan biasanya melibatkan makelar penjualan (selling
broker), sedangkan lembaga pemasaran yang melakukan proses pembelian melibatkan makelar
pembelian (buying broker). Pembelian terdiri dari kegiatan:
a.

Penentuan macam, jumlah, kualitas barang yang akan dibeli

b.

Mencari sumber penawaran dan pengumpulan barang

c.

Penentuan tempat sumber penawaran

d.

Mengetahui keadaan pasar tentang persediaan barang, harga, macam barang dan barang

substitusi
e.

Merundingkan syarat pembelian ; macam, jumlah, kualitas, tanggal penyerahan

f.

Pemindahan hak milik

Menurut tujuannya, pembelian dapat dibedakan menjadi:


a.

Pembelian untuk konsumsi

b.

Pembelian untuk bahan dasar

c.

Pembelian untuk dijual lagi

2. Fungsi Fisik (physical function)


Fungsi fisik dapat terbagi lagi menjadi 3 fungsi, yaitu:
a.

Fungsi Penyimpanan

Penyimpanan berarti menahan barang-barang selama jangka waktu antara dihasilkan atau
diterima sampai dengan dijual. Ada beberapa tujuan akan pentingnya penyimpanan untuk
produk-produk pertanian, yaitu:
1. Produk bersifat musiman, sedangkan pola konsumsi tetap dari waktu ke waktu
2. Adanya permintaan akan produk pertanian yang berbeda sepanjang tahun
3. Perlu waktu untuk menyalurkan produk dari produsen ke konsumen
4. Perlunya stok persedian untuk musim berikutnya
5. Mengurangi fluktuasi harga yang berlebihan
6. Menghindari serangan dan penyakit selama berlangsungnya proses tataniaga
Penyimpanan merupakan fungsi yang aktivitasnya bersifat produktif, sehingga memerlukan
biaya untuk pemeliharaan fasilitas sarana penyimpanan, bunga modal fasilitas penyimpanan,
resiko kerusakan barang, penurunan nilai, perubahan harga, dan keadaan ekonomi lainnya, serta
pengadaan bahan-bahan pestisida dan peralatannya, konstruksi tempat penyimpanan sesuai
karakteristik produk pertanian.
b. Fungsi Pengolahan
Pengolahan produk terutama untuk produk-produk pertanian sangat strategis. Hal ini dapat
meningkatkan nilai guna karena, perubahan bentuk (form utility) akan memberikan keuntungan
dan manfaat yaitu, kepuasan konsumen bertambah, meningkatkan nilai tambah, banyak
menyerap tenaga kerja dan secara makro dapat meningkatkan efek berganda (multiplier effeck)
dalam perekonomian.
c.

Fungsi Pengangkutan (Transportasi)

Fungsi pengengkutan dimaksudkan untuk menjadikan suatu produk berguna dengan


memindahkan produk-produk pertanian dari daerah produsen kekonsumen. Agar lebih efisien,

maka biaya transportasi harus memperhitungkan aspek-aspek lokasi produksi, area pasar yang
dilayani, bentuk produk yang dipasarkan, ukuran dan kualitas produk yang dipasarkan, macam
alat dan kapasitas angkutan dan resiko kerusakan selama pengangkutan.
3. Fungsi Fasilitas (facilitating function)
Fungsi fasilitas dapat terbagi lagi menjadi 4 fungsi, yaitu:
1. Fungsi Standarisasi & Grading
Standarisasi adalah justifikasi kualitas yang seragam antara pembeli dan penjual, antar tempat
dan antar waktu. Standar adalah suatu ukuran dan ketentuan mutu yang diterima oleh umum
sebagai suatu yang mempunyai nilai tetap. Grading berarti memilih dan memilih produk-produk
untuk dikelopokkan kedalam satuan atau unit atau kelas atau derajat tertentu yang ditetapkan.
Fungsi standarisasi dan greding dimaksudkan untuk menyederhanakan dan mempermudah serta
meringankan biaya pemindahan komoditas melalui saluran tataniaga.
2. Fungsi Penanggungan Risiko
Sepanjang pergerakan produk-produk pertanian dari sentra produksi
ke sentra konsumen senantiasa menghadapi kerusakan, kerugian, kehilangan dan risiko-risiko
lainnya. Pada dasarnya risiko digolongkan menjadi 3, yaitu:
a.

Risiko karena sifat fisik

Produk pertanian yang tidak tahan lama, mudah rusak, penyusutan berat dan volum, kehilangan
dan kebakaran. Oleh karena itu produk pertanian harus segera sampai kekonsumen.
b. Risiko karena perubahan kondisi pasar
Risiko jenis ini antara lain risiko karena fluktuasi harga, risiko karena tempat, risiko karena unsur
waktu, risiko persaingan dan risiko perubahan harga barang substitusi
c.

Risiko karena alam, manusia dan pemerintahan

3. Fungsi Pembiayaan
Pembiayaan merupakan bagian dari fungsi fasilitas yang tugasnnya adalah memperlancar
kegiatan fungsi-fungsi lain dalam proses tataniaga. Bagi lembaga-lembaga tataniaga yang

memerlukan fasilitas pembiayaan umumnya harus dapat menunjukan kinerja yang baik yang
dicerminkan oleh kredibilitas, solvabilitas dan likuiditasnya.
4. Fungsi Informasi Pasar
Funsi informasi pasar dimaksudkan untuk menginformasikan ke konsumen apa yang tersedia
untuk dibeli dan untuk mengubah permintaan atau suatu produk. Sebagai suati sistem, informasi
pasar adalah serangkaian fasilitas informasi dan desain prosedur untuk memberikan informasi
tentang pasar, lingkungan dan kinerja yang telah dicapai kepada manajemen perusahaan.
Sistem informasi pasar menggunakan orang, prosedur, perangkat keras dan perangkat lunak
untuk mencari dan mengumpulkan data dari lingkungan menggunakan data dari transaksi dan
operasi dalam perusahaan kemudian menyortir, mengintegrasikan, menganalisis, mengevaluasi,
dan mendistribusikan informasi tersebut kepada pembuat keputusan tataniaga, dengan tujuan
penyempurnaan atau pengembangan perencanaan, pelaksanaan, dan pengendalian tataniaga.
d.

Pendekatan Teori Ekonomi

Pendekatan ini merupakan kombinasi dari pendekatan-pendekatan sebelumnya. Pada pendekatan


ini menggunakan konsep: penawaran, permintaan, pergeseran penawaran, dan permintaan,
jumlah keseimbangan, harga keseimbangan, elastisitas yang dihadapi oleh setiap lembaga
tataniaga, struktur pasar persaingan murni, oligopoli/oligopsoni, monopoli/monopsoni,
persaingan monopolistik, dan monopsonistik.
Saat ini pembahasan ilmu tataniaga tidak lagi bersifat mikro, akan tetapi diperluas menjadi
pembahasan yang lebih dinamis dan bersifat agregat. Dengan demikian tataniaga tidak lagi dapat
dipisahkan dari pembahasan ekonomi masyarakat. Disamping itu perkembangan selanjutnya
terjadi kecenderungan, bahwa disiplin tataniaga memiliki hubungan dengan permasalahan
khusus dari sudut ekonomi perusahaan. Persoalan yang menyangkut pembiayaan, likuiditas,
neraca rugi-laba, administrasi dan organisasi, kerkuasaan dan tanggungjawab, dan rentang
kendali ( span of control ) juga menjadi perhatian dalam tataniaga.
e.

Pendekatan Sistem

Pendekatan sistem adalah suatu telaahan yang sepenuhnya berlandaskan pada metodologi
pemecahan masalah ( problem solving ) dan merupakan hasil modifikasi dari metode ilmu
pengetahuan ( scientific method ). Mempelajari suatu masalah dan memformulasikan
pemecahannya merupakan suatu aktifitas pengaturan sistem yang saling berhubungan seperti
antara lain:
1. Mendefinisikan suatu masalah ke dalam konteks sistem
2. Mengumpulkan data dan fakta yang relevan dengan permasalahan
3. Mengidentifikasi opsi-opsi solusi
4. Mengevaluasi setiap opsi solusi.
5. Memilih opsi solusi terbaik
6. Mengimplementasikan opsi solusi yang terbaik
7. Mengevaluasi hasil implementasi opsi solusi yang terpilih
Persepsi dan orientasi pendekatan sistem sangat penting untuk menelaah tataniaga yang sangat
kompleks dan masalah koordinasi pada masing-masing tahapan proses koordinasi dalam rangka
meningkatkan efisiensi sistem tataniaga secara keseluruhan.
Untuk mengimplementasikan pendekatan sistem ini, harus diketahui terlebih dahulu ciri atau
karakteristik sistem, baik yang sederhana maupun yang kompleks dan terkait juga dengan sifat
komoditas tataniaga yang diteliti, strategis atau tidak. Kerakteristik sistem tersebut adalah
sebagai berikut:
a.

Dalam sistem tataniaga pertanian, bersamaan dengan aliran komoditasnya, terdapat pula

muatan-muatan informasi yang menyertainya dan ini merupakan proses berkesinambungan serta
berpotensi untuk menimbulkan hubungan timbal balik diantara variabel-variabel dalam sistem.
b. Sistem memiliki pusat kendali untuk mengontrol dan mengidentifikasi aktifitas-aktifitas
fungsi-fungsi tataniaga. Pelaksanaan fungsi-fungsi tataniaga harus dapat diketahui oleh pusatpusat pengambilan keputusan, sehingga efisiensi sistem tataniaga dapat diperbaiki dan
ditingkatkan secara keseluruhan.
c.

Mekanisme kontrol sangat diperlukan untuk mengintegrasikan aktifitasaktivitas yang

dapat diidentifikasikan kedalam suatu proses tataniaga. Dalam suatu sistem tataniaga,
mekanisme kontrol bervariasi sesuai dengan struktur organisasi suatu sistem. Dalam sistem

pertukaran aktivitas pada berbagai tahapan sistem dapat dikontrol oleh suatu lembaga tataniaga,
maka memungkinkan lembaga tersebut untuk melakukan koordinasi pada berbagai tahap dalam
sistem tataniaga.
Penerapan Pendekatan sistem ini, berarti sebagi upaya untuk memperbaiki efisiensi dalam sistem
tataniaga suatu komoditas pertanian secara keseluruhan. Pembahasan fungsi-fungsi tataniaga
pada setiap tahap tataniaga harus dipandang sebagai bagian dari seluruh fungsi-fungsi yang
terdapat dalam sistem secara keseluruhan. Koordinasi sistem harus mempertimbangkan aktivitasaktivitas antar tahapan tataniaga komoditas pertanian yang secara teknis berkaitan.
f.

Pendekatan Analisis Efisiensi Pemasaran

Pendekatan ini dilakukan untuk mengevaluasi kinerja pasar. Seringkali upaya


pencapaian efisiensi tata niaga merupakan kepentingan bagi banyak pihak seperti pemerintah,
petani, pedagang dan masyarakat konsumen. Lazimnya dikenal ada tiga penyebab inefisiensi
mekanisme tata niaga produk pertanian yaitu:
1. Panjangnya saluran pemasara
2. Tingginya biaya pemasaran
3. Kegagalan pasar
Efisiensi tata niaga dapat diukur melalui evaluasi efisiensi operasional dan efisiensi harga.
Efisiensi operasional dapat diaplikasikan pada kondisi di mana biaya pemasaran berkurang
namun output meningkat, sedangkan efisiensi harga merupakan mekanisme evaluasi kinerja
pasar berdasarkan asumsi pasar bersaing sempurna. Evaluasi dengan metode efisiensi harga
dapat memberikan informasi kemampuan sistem tata niaga untuk mengalokasikan sumberdaya
dan mengkoordinasikan proses produksi dan pemasaran sesuai dengan keinginan konsumen
(Crawford, 2000) sebab pada pasar persaingan sempurna harga pasar mencerminkan biaya
produksi. Sebagaimana ukuran efisiensi pada umumnya, efisiensi harga dapat diukur melalui
rasion antara input dan output.
Kriesberg dalam Anindita (2001) menyatakan bahwa kegunaan efisiensi harga dalam
mengevaluasi sistem tata niaga tergantung pada empat kondisi

yaitu:
1. Konsumen memiliki banyak alternatif pasar yang dituju, dengan kata lain pasar di wilayah
tersebut tidak monopolistis
2. Harga di pasar merefleksikan biaya produksi, tak ada subsidi atau intervensi kebijakan yang
tak kompetitif
3. Ada kebebasan untuk keluar masuk pasar
4. Adanya persaingan antar pasar

III. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pembahasan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:


1.

Pendekatan-pendekatan yang ada dalam tataniaga yaitu pendekatan serba barang (

Commodity Approach ), pendekatan serba lembaga ( institusional approach ), pendekatan serba


fungsi ( functional approach ), pendekatan teori ekonomi ( economics theoritical approach ),
pendekatan sistem ( system approach), dan pendekatan analisis efisiensi pemasaran.
2.

Fungsi-fungsi tataniaga dapat digolongkan kedalam tiga golongan yaitu: fungsi pertukaran (

exchange function ), fungsi fisik ( physical function), dan fungsi fasilitas ( fasilitating function ).

DAFTAR PUSTAKA
http://rikopertanianuntan.blogspot.com/2013/01/fungsi-tataniaga-pertanian.html
http://info2rm.blogspot.com/2014/04/pendekatan-tataniaga.html