Anda di halaman 1dari 10

Vacuum Distillation Unit - VDU

Pada awalnya kilang hanya terdiri dari suatu Crude Distillation Unit (CDU) yang beroperasi
dengan prinsip dasar pemisahan berdasarkan titik didih komponen penyusunnya. Dengan hanya
memiliki CDU, maka CDU hanya memproduksi produk LPG, naphtha, kerosene, dan diesel
sebesar 50-60% volume feed, sedangkan 40-50% volume feed yang berupa atmospheric residue
biasanya hanya dijadikan fuel oil yang value-nya sangat rendah.
Secara umum temperatur cracking minyak mentah/crude adalah sekitar 370 oC (UOP menyebut
385 oC) pada tekanan 1 atmosfer (sebenarnya bervariasi tergantung jenis crude, tetapi secara
umum rata-rata pada temperatur tersebut). Oleh karena itu pemisahan minyak yang dilakukan di
Crude Distillation Unit tidak boleh melebihi temperature 370 oC agar minyak tidak mengalami
cracking.
Ide dasar operasi VDU adalah bahwa titik didih (boiling point) semua material turun dengan
menurunnya tekanan. Sebagai contoh, pada tekanan 1 atmosfer air mempunyai titik didih 100 oC,
sedangkan pada tekanan 10 atmosfer air mempunyai titik didih 180 oC. Jika tekanan dikurangi
hingga 1 psia maka titik didih air akan menjadi 39 oC.

II. Teori Vacuum Distillation Unit


Crude oil mengandung berbagai macam komponen yang mempunyai titik didih berbeda-beda,
seperti tergambar dalam gambar berikut :

Seperti terlihat pada gambar di atas, crude oil mengandung komponen yang mempunyai titik
didih > 370 oC. Jika bottom CDU (atau biasa disebut atmospheric residue atau long residue atau
reduced crude) pada tekanan atmosferis dipanaskan hingga temperature > 370 oC untuk dapat
menguapkan komponen vacuum gas oil yang terkandung dalam long residue, maka akan terjadi
thermal decomposition.
Dengan menurunkan tekanan, hingga < 1 psia, maka komponen vacuum gas oil tersebut dapat
dipisahkan dari bottom VDU (atau biasa disebut vacuum residue atau short residue) tanpa
mengalami thermal decomposition. Kemudian keduanya (vacuum gas oil dan vacuum residue)
dapat dipisahkan menjadi 2 stream yang bebeda untuk dapat meningkatkan margin kilang.
Terdapat 2 jenis Vacuum Distillation Unit, yaitu :
1. Fuel type
Vacuum Distillation Unit fuel type merupakan fraksinasi terbatas, yang biasanya menghasilkan 3
macam produk, yaitu Light Vacuum Gas Oil, Heavy Vacuum Gas Oil, dan Vacuum Residue.
Produk Light Vacuum Gas Oil biasanya sudah memenuhi spesifikasi diesel dan dapat langsung
dikirim ke tangki penyimpanan. Produk Heavy Vacuum Gas Oil biasanya dikirim ke unit
Hydrocracker atau Fluid Catalytic Cracking / FCC. Sedangkan vacuum residue dapat diolah di
Delayed Coking Unit atau Visbraker atau sebagai komponen blending Low Sulfur Waxy Residue
(LSWR) atau sebagai komponen blending fuel oil.

2. Lubes type
Vacuum Distillation Unit lubes type memerlukan pemisahan yang baik diantara lube cuts.
Umpan VDU jenis ini sudah sangat tertentu karena produk-produk lubes cut mempunyai
spesifikasi yang sangat sempit. VDU lubes type biasanya mempunya pressure drop yang lebih
tinggi dan cut point yang lebih rendah daripada VDU fuel type. VDU lubes type biasanya
memproduksi 3-4 macam lube base oil dengan spesifikasi yang jauh lebih ketat jika
dibandingkan produk VDU fuel type (terutama dalam hal spesifikasi viscosity dan viscosity
index).
Perbedaan antara CDU dan VDU dapat dilihat pada tabel berikut ini :

III. Feed dan Produk Vacuum Distillation Unit


III.1. Feed dan Produk VDU Fuel Type
Seperti telah dijelaskan diatas, feed VDU fuel type adalah atmospheric residue yang berasal dari
CDU (boiling range 370 s/d 540 oC+), sedangkan produknya berupa Light Vacuum Gas Oil
(boiling range 243 s/d 382 oC), High Vacuum Gas Oil (boiling range 365 s/d 582 oC), dan
Vacuum Residue (boiling rang 582 oC+).

III.2. Feed dan Produk VDU Lubes Type


Feed VDU lubes type dapat berupa atmospheric residue yang berasal dari CDU (untuk Lube
Base Oil plant yang memproduksi lube base oil grade rendah/non-sintetis) atau berupa
unconverted oil yang berasal dari unit Hydrocracker (untuk Lube Base Oil plant yang
memproduksi lube base oil grade tinggi/sintetis).
Produk-produk VDU lubes type tergantung jenis grade lube base oil yang ingin dihasilkannya,
biasanya ada 3 jenis grade yang dapat dihasilkan oleh VDU lubes type.
IV. Aliran Proses Vacuum Distillation Unit
IV.1. Aliran Proses VDU Fuel Type
Aliran proses VDU Fuel Type secara umum dapat digambarkan sebagai berikut :

IV.2. Aliran Proses VDU Lubes Type


Aliran proses VDU Lubes Type secara umum dapat digambarkan sebagai berikut :

V. Variabel Proses Vacuum Distillation Unit


Variabel proses yang berpengaruh pada operasi Vacuum Distillation Unit adalah tekanan kolom
VDU, temperature flash zone, temperature draw off produk (LVGO-HVGO untuk VDU fuel type
atau Lube Cut-1, Lube Cut-2, Lube Cut-3 untuk VDU lubes type).
V.1. Tekanan
Variabel proses utama yang mempengaruhi operasi VDU dan yield produk gas oil adalah tekanan
kolom VDU. Semakin vacuum tekanan kolom VDU, maka semakin banyak yield produk gas oil
dapat dihasilkan. Tekanan kolom VDU yang dijadikan acuan adalah tekanan top kolom VDU.
Biasanya tekanan top kolom VDU diatur sekitar 15 mmHg untuk dapat memaksimalkan yield
produk. Semakin tinggi tekanan kolom maka yield produk gas oil akan semakin sedikit dan yield
produk vacuum bottom semakin banyak. Untuk tekanan top kolom VDU sebesar 15 mmHg,
maka tekanan bottom kolom VDU/tekanan flash zone biasanya sekitar 30 mmHg (untuk kondisi
tray yang bersih).
V.2. Flash Zone Temperature
Setelah tekanan, maka temperatur flash zone menjadi variabel proses lain yang penting. Semakin
tinggi flash zone temperature maka semakin banyak pula yield produk gas oil yang dihasilkan.
Namun flash zone temperature tidak boleh terlalu tinggi karena dapat mengakibatkan
kecenderungan pembentukan coke pada sekitar flash zone (terutama di area slop wax) menjadi
tinggi. Best practice yang biasa dipakai adalah temperature flash zone dijaga agar temperature

draw off slop wax tidak lebih dari 380 oC atau temperature stack slop wax tidak lebih dari 400
o
C. Namun jika kondisi packing tray sangat kotor maka best practice ini menjadi hampir tidak
mungkin dipakai, karena dengan menjaga kondisi operasi seperti ini yield gas oil akan sangat
rendah dan yield vacuum bottom akan menjadi sangat tinggi. Best practice ini dapat sedikit
diabaikan sambil menunggu kedatangan packing tray dan plant stop untuk penggantian packing
tray. Kenaikan temperature draw off slop wax sebesar 10 oC akan menaikkan kecepatan
pembentukan coking sebanyak 2 kali lipat (UOP Engineering Design Seminar, Des Plaines
Materi Vacuum Unit Design). Biasanya flash zone temperature dijaga antara 397 s/d 410 oC.
Flash zone temperature diatur secara tidak langsung, yaitu dengan mengatur Combined Outlet
Temperatur/COT fired heater.
V.3. Temperatur Bottom Kolom VDU
Temperatur bottom kolom VDU harus dijaga antara 370-380 oC dengan alasan yang sama seperti
telah dijelaskan pada point V.2. Pengendalian temperatur bottom kolom VDU ini dilakukan
dengan mengatur jumlah produk bottom kolom VDU yang dikembalikan lagi ke bottom kolom
VDU setelah sebagian panasnya diserap di feed/bottom heat exchanger.
V.4. Residence Time Produk Bottom di Bottom Kolom VDU
Semakin tinggi level bottom kolom VDU maka semakin tinggi juga residence time-nya.
Biasanya level bottom kolom VDU dijaga sekitar 50 % yang merupakan optimasi antara
residence time dan menghindari terjadinya loss suction pada pompa bottom kolom VDU.
V.5. Temperatur Slop Wax
Slop wax section pada kolom VDU berfungsi untuk menghilangkan 5% gas oil terberat dari
aliran uap yang mengalir ke atas dari flash zone. Kepentingan penghilangan 5% gas oil terberat
adalah untuk menghilangkan kandungan metal dan asphaltene yang biasanya terkandung di
dalam fraksi terberat gas oil. Pengaturan temperature slop wax tidak dilakukan secara langsung
tetapi dengan cara mengatur temperature flash zone/combined outlet temperature fired heater.
Best practice pengaturan temperature slop wax adalah seperti telah dijelaskan pada point V.2.
V.6. Jumlah/Temperature Hot Reflux HVGO
Hot reflux HVGO biasa disebut juga sebagai HVGO wash karena aliran reflux ini berfungsi
untuk mencuci/membasahi packing tray yang berada pada bagian bawah HVGO accumulator
agar pada packing tray tidak terjadi coking. Best practice UOP, jumlah hot reflux HVGO adalah
0,3-0,5 gpm/ft2 luas permukaan packing tray (2006 UOP Engineering Design Seminnar, Des
Plaines, USA).
V.7. Jumlah/Temperature Cold Reflux HVGO
Cold reflux HVGO berfungsi untuk mengatur spesifikasi produk HVGO. Semakin tinggi
temperature cold reflux HVGO (dan/atau semakin banyak jumlah cold reflux HVGO) maka
semakin banyak fraksi yang lebih berat yang terkandung di dalam produk HVGO sehingga akan
berefek pada kualitas HVGO seperti end point HVGO dan kandungan metal meningkat.
V.8. Gas Oil Draw off Temperature
Gas oil draw off temperature diatur untuk dapat menghasilkan yield produk gas oil (LVGOHVGO untuk VDU fuel type atau Lube Cut-1, Lube Cut-2, Lube Cut-3 untuk VDU lubes type).

Untuk VDU fuel type dapat diatur dengan memaksimalkan produk LVGO atau dengan
memaksimalkan produk HVGO. Jika spesifikasi produk LVGO sudah dapat memenuhi
spesifikasi produk diesel, maka lebih baik unit VDU dioperasikan dengan memaksimalkan
produk LVGO dan meminimalkan produk HVGO. Namun jika spesifikasi produk LVGO tidak
dapat memenuhi spesifikasi produk diesel dan hanya digunakan sebagai salah satu komponen
blending diesel, maka lebih baik unit VDU dioperasikan dengan memaksimalkan HVGO, karena
HVGO dapat diolah di unit Hydrocracker yang akan meng-crack HVGO menjadi produk-produk
yang bernilai lebih tinggi, yaitu, LPG, Naphtha, Kerosene, dan Diesel.
VI. Troubleshooting
Tabel II. Contoh Permasalahan, Penyebab, dan Troubleshooting Vacuum Distillation Unit
Permasalahan
Pour Point LVGO
tinggi.

Penyebab

Adanya fraksi HVGO yang


terikut sebagai produk LVGO.

Yield produk gas


oil rendah/yield
produk vacuum
bottom tinggi

Leaking pada
downstream top
kolom VDU
(biasanya di daerah
condenser).

Terbentuk coking pada


packing tray sehingga
proses kontak uap-cair
dalam kolom VDU
terganggu.

Kevakuman kolom
VDU kurang (tekanan
top kolom VDU naik).

Temperature flash
zone rendah.

Temperature draw off


gas oil rendah.

Kondensasi gas yang


mengandung senyawa
korosif.

Kebocoran pada sisi


pendingin yang

Troubleshooting

Naikkan jumlah reflux LVGO,


dan/atau

Turunkan temperature reflux


LVGO.

Naikkan temperature flash zone.

Naikkan kevakuman kolom VDU


(turunkan tekanan top kolom VDU
dengan mengatur operasi steam
ejector).

Naikkan temperature draw off gas


oil.

Jika masih mungkin mem-bypass


condenser, maka dilakukan bypass
condenser dan kemudian dilakukan
perbaikan condenser. Biasanya
disain VDU masih tersedia spare
untuk condenser, sehingga dapat

dilakukan change over condenser


untuk kemudian condenser yang
bermasalah dilakukan perbaikan.
medianya biasanya
adalah air laut.

Loss suction pompa Level indicator bottom VDU


bottom VDU.
bermasalah.

Jika tidak mungkin mem-bypass


condenser atau tidak ada spare
condenser, maka unit harus stop
untuk dilakukan perbaikan.

Perbaiki level indicator bottom


VDU.

Jika perbaikan level indicator


bottom VDU memakan waktu
lama atau sudah tidak dapat
diperbaiki, maka gunakan acuan
temperature pada bottom kolom
VDU (biasanya bottom kolom
VDU didisain memiliki 3 level
indicator).

VII. Istilah-istilah
COT Combined Outlet Temperatur, yaitu
temperature gabungan pada outlet dari tiap flow pass fired heater.
Flash zone temperature Temperatur inlet kolom
(VDU/CDU/fraksinasi).
Reflux Aliran produk kolom fraksinasi yang
dikembalikan ke kolom fraksinasi untuk
mengatur spesifikasi dan jumlah produk
yang dihasilkan oleh kolom fraksinasi.
Temperature draw off Temperature tarikan produk dari kolom
(VDU/CDU/fraksinasi).
UCO Unconverted oil, yaitu minyak yang tidak konversi (biasanya sebutan UCO
ini adalah untuk bottom kolom
fraksinasi unit Hydrocracker).
VIII. Daftar Pustaka
Operating Manual High Vacuum Unit PERTAMINA Unit Pengolahan II Dumai.
Operation Manual for Unit 110 Vacuum Distillate Unit, Pakistan-Arabian Refinery Limited,

Mid-Country Refinery Project (PARCO), Mahmood Kot, Pakistan.


2006 UOP Engineering Design Seminar, Des Plaines, USA.
Dari Buku Pintar Migas Indonesia: Teknologi Proses Kilang Minyak Bumi oleh Adhi Budhiarto.