Anda di halaman 1dari 52

Oleh:

Siti Fitriana, S.Pd., M.Pd.

PENGANTAR
Bimbingan dan Penyuluhan (1960-an)

Bimbingan & Konseling

Setting Persekolahan

Setting kehidupan masyarakat luas,


termasuk setting pendidikan persekolahan

Visi, misi, spesifikasi


profesi konseling

Dasar Standardisasi
Profesi Konseling
(2003)

PERTIMBANGAN STANDARDISASI PROFESI


A. Dasar Pertimbangan
1. Langkah strategis untuk dirumuskannya:
a. Standar profesi
b. Lisensi praktik pribadi (privat)
c. Kode etik
d. Pengawasan praktik
e. Layanan advokasi
2.

UU No. 20/2003: PT dapat menyelenggarakan


program pendidikan akademik, profesi dan vokasi

3. Public trust: sertifikasi, lisensi, akreditasi


4. Dasar legal dan organisasi

B. Tuntutan dan Arah Standarisasi Profesi


1. Counseling for all --- lifelong counseling --- pelayanan
konseling diperlukan dalam berbagai setting kehidupan,
pada setting keluarga, sekolah, lembaga formal dan
nonformal, dunia usaha dan industri, organisasi pemuda
dan kemasyarakatan --- terkait aspek nasional dan
internasional

2. Spektrum kompetensi serta program dan jenjenjang


pendi dikan tenaga konseling profesional perlu ditata:
a. Pendidikan akademik: S1, S2, dan S3
b. Pendidikan Profesi Konselor : Spesialis I (Konselor
Umum dan Spesialis II (Konselor Spesialis)

3. Pemenuhan standar profesi memberikan


dampak berganda:
a. Mutu pendidikan tenaga profesional konseling
b. Mutu pelayanan konseling
c. Mutu perkembangan peserta didik
d. Mutu warga masyarakat

4. Standard Profesi Konseling:


a. Sesuai dengan standard nasional dan internasional
b. Tenaga profesi konseling nasional mampu bersaing
dengan tenaga asing

KONSELOR SEBAGAI PROFESI


Konselor sbg tenaga profesi menuntut
keahlian khusus
Bersifat pelayanan bantuan keahlian
tingkat ketepatan tinggi
Pengembangan pribadi dan pemecahan
masalah
Mementingkan pemenuhan kebutuahn
dan kebahagiaan pengguna

Sesuai martabat, nilai,potensi, dan


keunikan individu berdasarkan
kajian dan penerepan ilmu dan
teknologi dng acuan dasar
pendidikan dan psikologi, dikemas
dlm kaji-terapan konseling diwarnai
budaya pihak terkait
Paradigma konseling: pelayanan
bantuan psiko-pendidikan dalam
bingkai budaya

Diabdikan bagi peningkatan harkat dan


martabat kemanusiaan dng cara
menfasilitasi perkembangan individu
sesuai dng kekuatan,kemampuan potensi
dan aktual serta peluang-peluang yg
dimiliki,membantu kelemahan dan
hambatan serta kendala dlm
perkembangan dirinya
Konseling sbg kerangka berpikir dan
bertindak yang bernuansa kemanusiaan
dan keindividuan

Public trust terhadap profesi dibangun melalui dimilikinya:


1. Kompetensi dan keahlian melalui pendidikan yang berstandar kecakapan tinggi --- self regulation dalam
pelayanan
2. Ketentuan tentang perilaku profesional dan perlindungan terhadap publik.
3. Motivasi untuk melayani dengan cara terbaik, melalui dikuasainya:
a. Ilmu dan teknologi
b. Visi dan misi, aksi, serta dedikasi
c. Profesi yang bermartabat::
- pelayanan tepat dan bermanfaat
- pelaksana bermandat
- pengakuan yang sehat

3. Motivasi untuk melayani dengan cara terbaik, melalui dikuasainya:


a. Ilmu dan teknologi
b. Visi dan misi, aksi, serta dedikasi
c. Profesi yang bermartabat:
- pelayanan tepat dan bermanfaat
- pelaksana bermandat
- pengakuan yang sehat
d. Keseragaman

4. Kelembagaan:
a. Pendidikan prajabatan dan dalam-jabatan
b. Pemberian kesempatan dan perlindungan profesi
c. Organisasi profesi

PENDIDIKAN AKADEMIK DAN PROFESI


1. Kebutuhan esensial manusia dan bidang keprofesian:

Profesi

Acuan Bidang Isi

Kedokteran

Kesehatan

Farmasi

Obat-obatan

Psikologi

Kondisi & Dinamika Psikologis


Individu

Akuntansi

Keuangan

Konseling

Perkembangan & Permasalahan


individu

2. Kelengkapan lembaga pendidikan:


a. Visi dan misi
b. Kurikulum
c. Mahasiswa
d. Dosen
e. Sarana
3. Pola umum tenaga profesi konseling (lihat gambar)
a. pendidikan dasar (akademik) : S-1 Konseling
b. Pendidikan Profesi Konselor (PPK):
- konselor (umum)
- konselor spesialis
c. Pendidikan Akademik Magister (S2) dan Doktor (S3)
konseling
d. Keterkaitan Pendidikan Profesi Konselor (PPK:Sp.I
dan II) dan Pendidikan Akademik (S2 dan S3)

Jalur Akademik

Jalur Profesi
PPK (Sp.2)

Terpisah/serempak
Konselor
Spesialis

PPK (Sp.1)

S-3
Doktor
Konseling

Terpisah/serempak

Konselor
Umum

S- 2
Magister
Konseling

S-1

SLTA

Sarjana
Konseling

4. Akuntabilitas Profesi:
a. Akreditasi lembaga
b. Sertifikasi dan lisensi bagi lulusan
c. Pengukuran hasil layanan
d. Implementasi kode etik
e. Advokasi fungsional

STANDARISASI PROFESI KONSELING


A. Visi dan Misi
1. Paradigma:
Pelayanan bantuan psiko- pendidikan dlm bingkai
budaya
2. Pelayanan bantuan dalam
setting sekolah dan luar sekolah
3. Pelayanan diabdikan kepada: peningkatan harkat dan
martabat kemanusiaan, melalui: kegiatan memfasilitasi
perkembangan dan pengentasan masalah individu/kelompok
sesuai dengan:
a. Kekuatan dan potensi
b. Kondisi aktual
c. Peluang yang ada
d. Kelemahan, hambatan, kendala

4. Pelayanan kemanusiaan dan keindividuan


5. Orientasi suplly-side ke demand-side
6. Visi:
Visi profesi konseling adalah terwujudnya kehi-dupan
kemanusiaan yang membahagiakan melalui tersedianya pelayanan bantuan dalam pembe-rian
dukungan perkembangan dan pengentasan masalah
agar individu berkembang secara optimal, mandiri dan bahagia
7. Misi difokuskan kepada:
a. misi edukatif
b. misi pengembangan
c. misi pengentasan masalah

B. Fungsi, Tugas, dan Kegiatan


1. Fungsi Layanan Konseling:
a. Fungsi Pemahaman
b. Fungsi Pencegahan
c. Fungsi Pengentasan
d. Fungsi Pemeliharaan dan Pengembangan
e. Fungsi Advokasi
Fungsi-fungsi tersebut dilaksanakan dengan
berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung
konseling

2. Tugas dan Kegiatan Tenaga Profesi Konseling

a. Tugas Pokok: melaksanakan pelayanan konseling yang mendukung terlaksananya fungsi-fungsi konseling
b. Kegiatan pengelolaan
1) Pengelolaan pelayanan konseling:
perencanaan, pelaksanaan, penilaian, analisis, dan tindak lanjut
2) pengelolaan kegiatan di lembaga
3) pengelolaan praktik konseling mandiri (privat)
c. Kegiatan kolaborasi profesional:
1) kerjasama antar tenaga profesi
2) unit pelayanan masyarakat terpadu yang di dalamnya
tergabung berbagai tenaga profesional
3) team building, team working, team responsibilty
d. Kegiatan keorganisasian
1) Kesertaan dalam organisasi profesi
2) Kepatuhan terhadap kode etik profesional

C. Bidang Pelayanan Profesi


1.
2.
3.
4.

Bidang Pelayanan kehidupan pribadi


Bidang pelayanan kehidupan sosial
Bidang pelayanan kegiatan belajar
Bidang pelayanan perencanaan dan pengembangan karir
5. Bidang pelayanan kehidupan keluarga
6. Bidang pelayanan kehidupan keberagamaan
Catatan:
- Pelayanan terhadap individu normal; masalahnya bukan
penyakit, kriminal, ataupun supranatural
- Kondisi multi-problem melalui pelayanan kolaboratif
antar tenaga profesional

D. Kompetensi Utama Minimal (KUM) Profesi


Konseling
1. Kompetensi utama standard profesi:
a. Perangkat perilaku efektif untuk mengeksplorasi,
menginvestigasi, menganalisis dan memikirkan,
serta memberikan perhatian yang mengarah
kepada cara-cara tertentu dalam mencapai tujuan
profesi
b. Berkembang sepanjang hayat melalui proses
belajar dan berpengalaman profesional

2. Kompetensi Utama Minimal


(lihat lampiran pada buku):
a. Bersifat esensial dan pokok, serta tidak boleh
dikurangi
b. Harus dikuasai oleh semua keahlian konseling
c. Meliputi kemampuan personal, keilmuan dan
teknologi, serta sosial
d. Dikuasai sejak Sarjana (S-1) Konseling
e. Selanjutnya dapat dikembangkan secara lebih
terfokus:
- untuk pendidikan akademik lanjut: S2 dan S3
Konseling
- untuk pendidikan profesi: PPK (Sp.I dan Sp.II)

3. Substansi KUM
a. Pengelompokan substansi (WPKNS) dalam:
- Dasar dan dinamika tingkah laku manusia dan individu
dalam budayanya
- Hakikat dan upaya pendidikan
- Hakikat, proses dan pengalaman pelayanan konseling
(12 pokok substansi)
b. Pengelompokan kemampuan berkarya:
- Kompetensi pengembangan kepribadian (KPK) --kepribadian dan penghargaan terhadap harkat, hakikat
dan kehidupan
- Kompetensi landasan keilmuan dan keterampilan (KKK) --pendidikan, psikologi, budaya
- Kompetensi keahlian berkarya (Konseling Ke-lompok) ---keterampilan pelayanan konseling
- Kompetensi perilaku berkarya (KPB) --- etika, riset, dan
organisasi
- Kompetensi berkehidupan bermasyarakat profesi (KBB)
--hubungan sosial dan kolaborasi antarprofesi.

E. Standar Pendidikan
1. Lembaga:
a.Pendidikan pra-jabatan: LPTK, kolaborasi dengan
organisasi profesi, mengacu kepada standard
kompetensi/profesi.
b.Pendidikan dalam-jabatan: kolaborasi LPTK,
pengguna dan organisasi profesi konseling

2. Program pendidikan Sarjana (S-1)


Konseling:
a. Visi dan misi (lihat visi dan misi konseling)
b. Tujuan:
1) Tujuan umum : dikuasainya KUM Konseling
2) Tujuan khusus: - tenaga profesi untuk jenjang
dikdasmen
- prasyarat untuk S2 dan PPK

c.c.Kemampuan
Kemampuandan
dankewenangan
kewenangan

- -Penguasaan
PenguasaanKUM
KUMKonseling
Konseling
- -Bekerja
Bekerjasebagai
sebagaikonselor
konselor(dengan
(denganhuruf
hurufk
kkecil)
kecil)pada
pada
pada
padajenjang
jenjangdikdasmen
dikdasmen
- -Melanjutkan
Melanjutkanke
keS2
S2dan
danPPK
PPK(Spesialis
(SpesialisI)I)

d.
d.Kurikulum:
Kurikulum:

- -Penjabaran
PenjabaranKUM
KUM
- -Dikemas
dalam
Dikemas dalamstruktur
struktur kurikulum
kurikulummenurut
menurutperaturan
peraturanyang
yang
berlaku
berlaku

e.e.Perlengkapan
Perlengkapan

- -Prasarana
Prasaranadan
dansarana
saranafisik,
fisik,serta
sertaperangkat
perangkatkeras
kerasdan
danlunak
lunak
- -Perpustakaan
Perpustakaandan
danlaboratorium,
laboratorium,termasuk
termasukfasilitas
fasilitas micro
micro
teaching
teaching
- -Fasilitas
Fasilitaspraktik
praktik(PPL)
(PPL)
f.f.Dosen:
Dosen: Minimal
Minimalbergelar
bergelarS2
S2dan
dantamatan
tamatanPPK
PPK(Konselor)
(Konselor)

g.
g.Masukan
Masukandasar
dasar
- -Lulusan
LulusanSLTA
SLTA
- -Tes
Teskhusus
khusus

3. Prog. Pendidikan Profesi Konselor (PPK)


a. Pertimbangan
b. Visi dan misi (lihat visi dan misi konseling)
c. Jenjang program:
- PPK Spesialis I (Konselor Umum)
- PPK Spesialis II (Konselor Spesialis)
d. Tujuan
- Membina Konselor (dengan huruf K Kapital): Konselor
Umum (Sp.I) dan Konselor Spesialis (Sp. II)
- Konselor untuk bidang persekolahan dan masyarakat
umum (praktik mandiri)
e. Kemampuan pokok dan kewenangan
- Konselor Umum (Sp.I) atau Konselor Spesialis (Sp.II)
- Berkarya di sekolah, termasuk perguruan tinggi
- Berkarya pada instansi formal dan non-formal, dudi,
dan organisasi kemasyarakatan, LSM
- Konselor keluarga
- Praktik mandiri (privat)
- Lulusan Sp.I untuk melanjutkan ke Sp. II

f. Kurikulum
- Pemantapan KUM Konseling
- Orientasi praktik lapangan (minimal 600 jam nyata untuk
masing-masing Sp.I dan Sp. II)
- Akuntabilitas pelayanan profesi di berbagai wilayah kerja
konselor

g. Perlengkapan
- Prasarana dan sarana fisik, perangkat lunak dan keras,
perpustakaan dan laboratorium
- Kelengkapan praktik lapangan di berbagai wilayah kerja
konselor (sekolah, termasuk perguruan tinggi, dan
luar sekolah)

h. Dosen
- Minimal S2 untuk Sp.I dan S3 untuk Sp.II
- Bergelar Konselor lulusan PPK (Sp.I dan Sp. II)

i. Masukan dasar
- Sarjana (S-1) Konseling untuk PPK Sp. I
- Konselor (lulusan Sp.I berpengalaman praktik mandiri)
untuk PPK Sp. II

4. Program Pend. Magister dan Doktor


Konseling
a. Visi dan Misi (lihat visi dan misi konseling)
b. Kemampuan dan kewenangan
- Pengembangan dan penyebarluasan profesi konseling
melalui pendidikan, penelitian, dan penulisan ilmiah
- Sebagai dosen dan peneliti
- Lulusan S2 untuk melanjutkan ke S3

c. Tujuan
Menyiapkan tenaga ahli akademik dalam bidang konseling

d. Kurikulum
- Orientasi akademik, sesuai dengan peraturan yang berlaku
- Pengalaman penelitian dan penulisan ilmiah

e. Perlengkapan
- Prasarana dan sarana, perpustakaan dan laboratorium
- Fasilitas penelitian

f. Dosen
- Doktor konseling
- Pengalaman praktik Konselor (sebagai Konselor Umum/
Spesialis)

g. Masukan dasar
- Sarjana (S-1) Konseling untuk S2 Konseling
- Magister Pendidikan (S2) untuk S3 Konseling

Catatan:
Program PPK (Sp. I dan Sp. II) dapat diselenggarakan
serempak dengan program S2/S3

5. Program Pendidikan Dalam-Jabatan


a. Visi dan misi
b. Arah
Meningkatkan kemampuan tenaga profesional konseling

c. Kurikulum
- Mengacu kepada KUM Konseling
- Orientasi tugas di lapangan

d. Bentuk dan jenis


- Penyetaraan S1 Konseling
- Pelatihan berjenjang
- Pelatihan khusus

e. Perlengkapan
- Prasarana dan sarana fisik, serta perangkat keras
dan lunak
- Perpustakaan dan laboratorium, termasuk fasilitas
micro teaching
- Fasilitas praktik (PPL)

f. Pelaksana
- Program S1 Konseling di LPTK
- Lembaga khusus, misalnya P3G untuk Konseling

E. Standar Pendidikan
1. Lembaga:
a.Pendidikan pra-jabatan: LPTK, kolaborasi dengan
organisasi profesi, mengacu kepada standard
kompetensi/profesi.
b.Pendidikan dalam-jabatan: kolaborasi LPTK,
pengguna dan organisasi profesi konseling

2. Program pendidikan Sarjana (S-1)


Konseling:
a. Visi dan misi (lihat visi dan misi konseling)
b. Tujuan:
1) Tujuan umum : dikuasainya KUM Konseling
2) Tujuan khusus: - tenaga profesi untuk jenjang
dikdasmen
- prasyarat untuk S2 dan PPK

c.c.Kemampuan
Kemampuandan
dankewenangan
kewenangan

- -Penguasaan
PenguasaanKUM
KUMKonseling
Konseling
- -Bekerja
Bekerjasebagai
sebagaikonselor
konselor(dengan
(denganhuruf
hurufk
kkecil)
kecil)pada
pada
pada
padajenjang
jenjangdikdasmen
dikdasmen
- -Melanjutkan
Melanjutkanke
keS2
S2dan
danPPK
PPK(Spesialis
(SpesialisI)I)

d.
d.Kurikulum:
Kurikulum:

- -Penjabaran
PenjabaranKUM
KUM
- -Dikemas
dalam
Dikemas dalamstruktur
struktur kurikulum
kurikulummenurut
menurutperaturan
peraturanyang
yang
berlaku
berlaku

e.e.Perlengkapan
Perlengkapan

- -Prasarana
Prasaranadan
dansarana
saranafisik,
fisik,serta
sertaperangkat
perangkatkeras
kerasdan
danlunak
lunak
- -Perpustakaan
Perpustakaandan
danlaboratorium,
laboratorium,termasuk
termasukfasilitas
fasilitas micro
micro
teaching
teaching
- -Fasilitas
Fasilitaspraktik
praktik(PPL)
(PPL)
f.f.Dosen:
Dosen: Minimal
Minimalbergelar
bergelarS2
S2dan
dantamatan
tamatanPPK
PPK(Konselor)
(Konselor)

g.
g.Masukan
Masukandasar
dasar
- -Lulusan
LulusanSLTA
SLTA
- -Tes
Teskhusus
khusus

3. Prog. Pendidikan Profesi Konselor (PPK)


a. Pertimbangan
b. Visi dan misi (lihat visi dan misi konseling)
c. Jenjang program:
- PPK Spesialis I (Konselor Umum)
- PPK Spesialis II (Konselor Spesialis)
d. Tujuan
- Membina Konselor (dengan huruf K Kapital): Konselor
Umum (Sp.I) dan Konselor Spesialis (Sp. II)
- Konselor untuk bidang persekolahan dan masyarakat
umum (praktik mandiri)
e. Kemampuan pokok dan kewenangan
- Konselor Umum (Sp.I) atau Konselor Spesialis (Sp.II)
- Berkarya di sekolah, termasuk perguruan tinggi
- Berkarya pada instansi formal dan non-formal, dudi,
dan organisasi kemasyarakatan, LSM
- Konselor keluarga
- Praktik mandiri (privat)
- Lulusan Sp.I untuk melanjutkan ke Sp. II

f. Kurikulum
- Pemantapan KUM Konseling
- Orientasi praktik lapangan (minimal 600 jam nyata untuk
masing-masing Sp.I dan Sp. II)
- Akuntabilitas pelayanan profesi di berbagai wilayah kerja
konselor

g. Perlengkapan
- Prasarana dan sarana fisik, perangkat lunak dan keras,
perpustakaan dan laboratorium
- Kelengkapan praktik lapangan di berbagai wilayah kerja
konselor (sekolah, termasuk perguruan tinggi, dan
luar sekolah)

h. Dosen
- Minimal S2 untuk Sp.I dan S3 untuk Sp.II
- Bergelar Konselor lulusan PPK (Sp.I dan Sp. II)

i. Masukan dasar
- Sarjana (S-1) Konseling untuk PPK Sp. I
- Konselor (lulusan Sp.I berpengalaman praktik mandiri)
untuk PPK Sp. II

4. Program Pend. Magister dan Doktor


Konseling
a. Visi dan Misi (lihat visi dan misi konseling)
b. Kemampuan dan kewenangan
- Pengembangan dan penyebarluasan profesi konseling
melalui pendidikan, penelitian, dan penulisan ilmiah
- Sebagai dosen dan peneliti
- Lulusan S2 untuk melanjutkan ke S3

c. Tujuan
Menyiapkan tenaga ahli akademik dalam bidang konseling

d. Kurikulum
- Orientasi akademik, sesuai dengan peraturan yang berlaku
- Pengalaman penelitian dan penulisan ilmiah

e. Perlengkapan
- Prasarana dan sarana, perpustakaan dan laboratorium
- Fasilitas penelitian

f. Dosen
- Doktor konseling
- Pengalaman praktik Konselor (sebagai Konselor Umum/
Spesialis)

g. Masukan dasar
- Sarjana (S-1) Konseling untuk S2 Konseling
- Magister Pendidikan (S2) untuk S3 Konseling

Catatan:
Program PPK (Sp. I dan Sp. II) dapat diselenggarakan
serempak dengan program S2/S3

5. Program Pendidikan Dalam-Jabatan


a. Visi dan misi
b. Arah
Meningkatkan kemampuan tenaga profesional konseling

c. Kurikulum
- Mengacu kepada KUM Konseling
- Orientasi tugas di lapangan

d. Bentuk dan jenis


- Penyetaraan S1 Konseling
- Pelatihan berjenjang
- Pelatihan khusus

e. Perlengkapan
- Prasarana dan sarana fisik, serta perangkat keras
dan lunak
- Perpustakaan dan laboratorium, termasuk fasilitas
micro teaching
- Fasilitas praktik (PPL)

f. Pelaksana
- Program S1 Konseling di LPTK
- Lembaga khusus, misalnya P3G untuk Konseling

KREDENSIALISASI
A. Pengertian dan Jenis
1. Pengertian
Kredensialisasi merupakan pengakuan formal
terhadap kemampuan dan kewenangan:
a. Perorangan
b. Lembaga pengembang
c. Lembaga pelayanan

2. Jenis
a. Sertifikasi : pengakuan penguasaan kompetensi
b. Lisensi
: izin praktik
c. Akreditasi : pengakuan kelayakan lembaga untuk
melaksanakan program

B. Arah dan Sasaran


Sertifikasi, lisensi atau akreditasi dapat diberikan
kepada:
1. Sarjana (S-1) Konseling untuk bekerja pada setting
sekolah
2. Konselor (umum dan spesialis) untuk praktik
mandiri (privat)
3. Magister dan Doktor Konseling untuk kegiatan
akademik (mengajar, melatih, meneliti)
4. Alumni pelatihan untuk kegiatan khusus konseling
5. Lembaga pendidikan untuk menyelenggarakan
program pendidikan prajabatan dan dalam-jabatan
6. Lembaga pelayanan untuk penyelenggaraan
pelayanan konseling

Sertifikasi kompetensi : penjaminan mutu


konselor
Sertifikasi mrp jawaban thd adanya
kebutuhan untuk meningkatkan
kompetensi profesional konselor
Sertifikasi kompetensi adalah proses uji
kompetensi yang dirancang untuk
mengungkapkan penguasaan kompetensi
sebagai pemberian sertifikat komptensi.

Tujuan sertifikasi
Melindungi profesi
Melindungi masyarakat dari praktik yang
tidak kompeten
Memabntu dan melindungi lembaga
penyelenggara konseling
Membangun citra masyarakat thd profesi
konselor
Memberikan solusi dalam rangka
meningkatkan mutu konselor

Manfaat sertifikasi:
Pengawasan mutu
Lembaga sertifikasi
Praktisi untuk mengembangkan tingkat
kompetensi berkelanjutan
Peningkastan profesionalisme melalui
mekanisme seleksi
Proses seleksi yang baik

Penjaminan Mutu
Proses pengembangan profesionalisme
Sertifikasi menyediakan informasi yang
berharga bagi pengguna

Akreditasi meliputi penilaian


visi,misi,tujuan dan isi
program,jumlah dan mutu
pengajar,prosedur,seleksi,mutu
penyelenggaraan,penilaian
keberhasilan peserta didik, dan
keberhasilan program,potensi
pengembangan lembaga,unsurunsur penungjang dan hubungan
masyarakat

Tujuan Akreditasi
Untuk menilai bahwa program memenuhi standar
Untuk menegaskan visi,misi dan tujuan
Untuk menarik calon dan tenaga konselor
bermutu tinggi
Untuk membantu lulusan memenuhi tuntutan
kredensial,seperti lisensi
Untuk meningkatkan kemampuan program dan
pengakuan thd program
Untuk membantu mahasiswa berpotensi dalam
proses seleksi
Membantu para pemakai lulusan
Untuk mendapatkan kepercayaan masyarakat

C. Asesmen dan Prosedur


1. Penggunaan instrumen dan teknik-teknik standar
2. Penggunaan hasil asesmen untuk tanda bukti sertifikasi,
akreditasi, dan lisensi
3. Kriteria dan prosedur ditetapkan

D. Masa Berlaku
1. Sertifikasi, akreditasi dan lisensi hanya berlaku untuk
kurun waktu tertentu
2. Asesmen dan pertimbangan ulang dengan fokus perkembangan dan peningkatan kemampuan
3. Dilaksanakan oleh pihak berwenang bersama organisasi
profesi.

E. Otoritas
Kegiatan sertifikasi, akreditasi dan lisensi dilakukan oleh:
1. Depdiknas
2. Organisasi profesi
3. Panitia khusus

ORGANISASI & KODE ETIK PROFESI


A. Organisasi Profesi
1. Bentuk organisasi
a. Tenaga profesi dapat membentuk organisasi profesi tingkat nasional dengan kepengurusan pusat, daerah dan
cabang.
b. Divisi, himpunan atau ikatan kekhususan profesi dapat
dibentuk dalam wadah organisasi profesi nasional.
2. Fungsi:
a. Menetapkan landasan keilmuan dan teknologi
b. Menyusun standar profesi
c. Menyelenggarakan kolaborasi dengan lembaga pendidikan
profesi
d. Menyelenggarakan upaya kredensialisasi
e. Melakukan supervisi praktik pelayanan
f. Melakukan upaya advokasi fungsional

B. Kode Etik
1. Pengertian dan muatan:
Kode etik profesi berisi aturan tentang:
a. Apa yang tidak boleh dilakukan
b. Apa yang seharusnnya dilakukan
c. Apa yang diharapkan dilakukan oleh tenaga
profesi
2. Tujuan
a. Menjunjung tinggi martabat profesi
b. Melindungi pengguna dari mala-praktik
c. Meningkatkan mutu profesi
d. Menjaga standard mutu dan status profesi
e. Menegakkan ikatan antara tenaga profesi dan
profesi yang disandangnya.

3. Ruang lingkup dan materi Kode Etik (lihat


lampiran pada buku):
a. Landasan
b. Kualifikasi
- nilai, sikap, keterampilan, pengetahuan dan wawasan
- pengakuan kewenangan

c. Informasi, testing dan riset


- penyimpanan dan penggunaan informasi
- testing
- riset
d. Proses pelayanan
- hubungan dalam pemberian layanan
- hubungan dengan klien

e. Konsultasi dan hubungan dengan rekat sejawat


dan ahli lain
- konsultasi dengan rekan sejawat
- alih tangan kasus

f. Hubungan kelembagaan
- prinsip umum
- keterkaitan kelembagaan

g. Konselor praktik mandiri dan laporan kepada


pihak lain
- Konselor praktik mandiri (privat)
- laporan kepada pihak lain

h. Ketaatan kepada profesi


- pelaksanaan hak dan kewajiban
- penyalahgunaan jabatan Konselor
- pelanggaran terhadap kode etik

BAB V
AGENDA PENGEMBANGAN
A. Pengembangan Program Pendidikan
1. Pendidikan Sarjana (S-1)
2. Pendidikan Profesi Konselor (PPK): Spesialis I
dan Spesilias II.
3. Pendidikan Magister dan Doktor
4. Pendidikan Dalam-Jabatan

B. Pengembangan Kredensialisasi Profesi


1. Validasi standarisasi profesi
2. Studi sasaran kredensialisasi
3. Pengembangan instrumen dan kriteria, serta
prosedur standar
4. Pembentukan perangkat pelaksanaan
5. Pelaksanaan