Anda di halaman 1dari 37

BAB I

PENDAHULUAN
A. LATAR BELAKANG
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan keluarnya
urine. Keadaan ini dapat menimbulkan berbagai permasalahan, antara lain: masalah medik,
sosial, maupun ekonomi. Masalah medik berupa iritasi dan kerusakan kulit disekitar
kemaluan akibat urine, masalah sosial berupa perasaan malu, megisolasi diri dari
pergaulannya, dan mengurung diri di rumah. Pemakaian pemper atau perlengkapan lain guna
menjaga supaya tidak selalu basah oleh urine, memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Inkontinensia tidak harus selalu dikaitkan dengan lansia. Inkontinensia dapat dialami setiap
individu pada usia berapa pun, walaupun kondisi ini lebih umum dialami oleh lansia.
Diperkirakan bahwa 37% wanita berusia 60 tahun atau lebih mengalami beberapa
tingkatan inkontinensia (Brooks, 1993). Inkontinensia dapat merusak citra tubuh. Pakaian
yang dapat menjadi basah oleh urine dan bau yang menyertainya dapat menambah rasa malu.
Akibatnya, pasien yang mengalami masalah ini sering menghindari aktivitas sosial (Perry &
Potter, 2005). Lansia mungkin mengalami masalah khusus dengan inkontinensia akibat
keterbatasan fisik dan lingkungan tempat tinggalnya. Lansia yang mobilitasnya terbatas
mempunyai peluang lebih besar untuk mengalami inkontinensia karena ketidakmampuan
mereka untuk mencapai toilet pada waktunya. Kursi yang dirancang pendek dan tempat tidur
yang ditinggikan di atas lantai dapat menjadi halangan bagi lansia yang harus bangun untuk
mencapai toilet. Lansia yang mengalami kesulitan untuk membuka kancing atau
memanipulasi ritsleting menghadapi masalah yang lain. Lansia sering mengalami kekurangan
energi untuk berjalan yang sangat jauh pada satu waktu. Toilet mungkin terlalu jauh bagi
klien yang mengalami inkontinensia urge.
Prevalensi kelainan ini cukup tinggi, yakni pada wanita lebih kurang 10-40% dan 48% sudah dalam keadaan cukup parah pada saat datang berobat. Pada pria, prevalensinya
lebih rendah daripada wanita, yaitu lebih kurang separuhnya. Survey yang dilakukan di
berbagai negara Asia didapatkan bahwa rerata prevalensi pada beberapa bangsa Asia adalah
12,2% (14,8% pada wanita dan 6,8% pada pria). Dikatakan oleh berbagai penulis bahwa
sebenarnya prevalensi yang dilaporkan itu baru merupakan 80% dari prevalensi
sesungguhnya karema sebagian dari mereka tidak terdeteksi; hal ini karena pasien
menganggap penyakit yang dialaminya ini merupakan hal yang wajar atau mereka enggan

menceritakan keadaannya kepada dokter karena takur mendapatkan pemeriksaan yang


bertele-tele dan berlebihan. Pada manusia lanjut usia (manula) prevalensinya lebih tinggi
daripada usia reproduksi.
Inkontinensia urin yang dialami oleh pasien dapat menimbulkan dampak yang
merugikan pada pasien, seperti gangguan kenyamanan karena pakaian basah terus, risiko
terjadi dekubitus (luka pada daerah anggota tubuh yang tertekan), dan dapat menimbulkan
rasa rendah diri pada pasien. Inkontinensia urin yang tidak segera ditangani juga akan
mempersulit rehabilitas pengontrolan keluarnya urin (Hariyati, 2000). Inkontinensia yang
berkelanjutan memungkinkan terjadinya kerusakan pada kulit. Sifat urine yang asam
mengiritasi kulit. Klien yang tidak dapat melakukan mobilisasi dan sering mengalami
inkontinensia, terutama berisiko terkena luka dekubitus (Perry Potter, 2005).
Perawat, termasuk salah satu tenaga medis yang profesional dalam menangani pasien
dengan berbagai permasalahan dalam kesehatan. Pasien dengan inkontinensia urine dapat
diberikan asuhan keperawatan salah satu penatalaksanaannya yaitu terapi medikasi maupun
non medikasi. Terapi medikasi dapat dilakukan apabila adanya kolaborasi dengan tim medis
lainnya. Namun, terapi non medikasi dapat dilakukan oleh perawat secara mandiri. Salah satu
terapi non medikasi yaitu diberikan latihan perilaku dan latihan otot panggul (pelvic floor
muscle). Menurut Purnomo (2003), latihan otot panggul/senam kegel dapat memperkuat otototot di sekitar organ reproduksi dan memperbaiki tonus tersebut (Bobak, 2004). Senam Kegel
membantu meningkatkan tonus dan kekuatan otot lurik uretra dan periuretra. Latihan otot
panggul/senam Kegel adalah terapi non operatif paling populer untuk mengatasi
inkontinensia urine. perawat harus dapat menguasai tehnik dalam latihan otot panggul ini,
maka dapat diajarkan pada pasien maupun keluarga pasien sehingga mudah dilakukan pasien
ketika berada dirumah.
B. TUJUAN
a. Mengetahui dan memahami kajian teori terkait inkontinensia urine.
b. Memahami dan mengaplikasikan dalam melaksanakan asuhan keperawatan urine.
c. Mengetahui dan memahami aspek legal etik dalam penanganan pasien inkontinensia
urine.
C. MANFAAT
a. Manfaat Teoritis
Bagi dunia keperawatan khususnya keperawatan sistem perkemihan, konsep teori
terkait inkontinensiabisa digunakan untuk membuktikan teori/ mendukung teori dalam
pelaksanaan asuhan keperawatan.
2

b. Manfaat Praktis
Bagi Institusi Pendidikan adalah sebagai masukan dalam proses belajar mengajar, dan
apabila diperlukan dalam mata kuliah khusus terutama mengenai pentingnya
pemenuhan kebutuhan sosial yang harus dimiliki sebagai modal untuk menjadi
perawat profesional.

BAB II
KAJIAN TEORI
2.1 DEFINISI
Inkontinensia urine ialah kehilangan kontrol berkemih.Inkontinensia dapat bersifat
sementara atau menetap. Klien tidak dapat lagi mengontrol sfingter uretra eksterna.
Merembesnya urine dapat berlangsung terus menerus atau sedikit-sedikit. Lima tipe
inkontinensia ialah inkontinensia fungsional, inkontinensia refleks (overflow), inkontinensia
stres, inkontinensia urge, dan inkontinensia total. (Perry &Potter, 2005)
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan urine yang
keluar dari kandung kemih, baik disadari ataupun tidak disadari. (Arif Muttaqin & Kumala
Sari, 2009)
Inkontinensia urine (UI, urinary incontinence) mengenai sekitar 50% orang tua yang
tinggal di rumah jompo dan 30% orang tua yang tinggal di rumah. Gangguan tersebut dapat
menimbulkan ruam perineal, ulkus dekubitus, UTI, dan sepsis.Secara prikologis, gangguan
tersebut dapat menyebabkan hilangnya rasa menghargai diri sendiri, terbatasnya aktivitas,
depresi, dan institusionalisasi. (Tammy & Scott, 2010)
Inkontinensia urine-keluarnya urine yang tidak dapat dikendalikan-disebabkan oleh
abnormalitas kandung kemih atau gangguan neurologik. Inkontinensia, sebuah tanda urologi
yang umum, dapat terjadi sementara atau permanen dan dapat berkisar dari keluarnya urine
dalam jumlah yang banyak sampai tetesan yang sedikit-sedikit. (Jennifer P. & Audrey S.,
2010)
2.2 ETIOLOGI
Seiring dengan bertambahnya usia, ada beberapa perubahan pada anatomi dan fungsi
organ kemih, antara lain:
a)

Melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali.

b)

Kebiasaan mengejan yang salah, misal batuk kronis.

c)

Adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih, sehingga

walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah menimbulkan rasa ingin
berkemih.
d)

Gangguan di saluran kemih bagian bawah bisa karena infeksi.

e)

Efek obat-obatan.

f)Produksi urine meningkat atau adanya gangguan kemampuan keinginan ke toilet.


g)

Gangguan metabolik, seperti diabetes melitus.

h)

Asupan cairan yang berlebihan yang bisa diatasi dengan mengurangi asupan

cairan yang bersifat diuretik seperti kafein.


i) Gagal jantung kongestif.
j) Masalah psikologis.
TIPE
Inkontinensia stress

Inkontinensia urgensi

Inkontinensia overflow

Inkontinensia reflex
Inkontinensia psikologis

CONTOH
Sfingter tidak kompeten
Relaksasi otot pelvis
Tekanan intraabdominal

(obesitas, kehamilan, gerak badan, dll).


Sklerosis multiple
ISK
Stroke
Obat tertentu (hipnotik, tranquilizer,

sedatif, dan diuretik) .


Overdistensi kandung kemih (retensi

urine)
Impaksi fekal (obstipasi)
Hiperplasia prostat benigna.
Trauma medulla spinalis.
Perubahan status mental.

meningkat

Gambar 2-1.Faktor risiko inkontinensia urine (Mary dkk, 2008)


2.3 KLASIFIKASI
Empat tipe inkontinensia (Basuki P. Purnomo, 2003) ialah:
1. Inkontinensia fungsional (true)
Inkontinensia fungsional terjadi akibat imobilitas atau kerusakan kognitif dengan
saluran kemih bawah tetap utuh.Sebenarnya pasien ini kontinen, tetapi karena adanya
hambatan tertentu, pasien tidak mampu untuk menjangkau toilet pada saat keinginan
miksi timbul sehingga kencingnya keluar tanpa dapat ditahan.

2. Inkontinensia Paradoksa/Aliran Berlebih (overflow)


Inkontinensia paradoksa (overflow) adalah keluarnya urien tanpa dapat dikontrol pada
keadaan volume urine di buli-buli melebihi kapasitasnya.
3. Inkontinensia Stres
Inkontinensia stress adalah keluarnya urine dari uretra pada saat terjadi peningkatan
intraabdominal.
Pembagian inkontinensia stres
Klasifikasi yang dikemukakan oleh Blavias dan Olsson (1988), berdasarkan pada
penurunan letak leher buli-buli dan uretra setelah pasien diminta melakukan manuver
Valsava. Penilaian ini dilakukan berdasarkan pengamatan klinis berupa keluarnya
(kebocoran) urine dan dengan bantuan video-urodinamik.
Tipe 0: pasien mengeluh tentang inkontinensia stres tetapi pada pemeriksaan
tidak ditemukan adanya kebocoran urine. Pada video-urodinamika setelah

manuver valsava, leher buli-buli dan uretra menjadi terbuka.


Tipe I: jika terdapat penurunan < 2 cm dan kadang-kadang disertai dengan

sistokel yang masih kecil.


Tipe II: jika penurunan > 2 cm dan seringkali disertai dengan adana sistokel;
dalam hal ini sistokel mungkin berada didalam vagina (tipe IIa) atau diluar vagina

(tipe IIb).
Tipe III: leher buli-buli dan uretra tetap terbuka meskipun tanpa adanya kontraksi
detrusor maupun manuver valsava, sehingga urine selalu keluar karena faktor
gravitasi atau penambahan tekanan intravesika (gerakan) yang minimal. Tipe ini

disebabkan defisiensi sfingter intrinsik (ISD).


4. Inkontinensia Urgensi (urge)
Inkontinensia urgensi adalah keinginan kuat yang tiba-tiba ingin berkemih disertai
keluarnya urine.
5. Inkontinensia Kontinua (continous incontinence)
Inkontinensia kontinua adalah urine yang selalu keluar setiap saat dan dalam berbagai
posisi.

Inkontinensia urine

Kelainan pada buli-buli

Kelainan pada uretra

1. Overaktivitas detrusor
Hiper-refleksia detrusor
Instabilitas detrusor
idioptik
2. Menurunnya
komplians

1. Hipermobilitas uretra
2. Defisiensi
sfingter
intrinsik

buli-buli
Inkotinensia urine
stres (SUI)
Inkotinensia urine urge
(UUI)

Gambar 2-2. Skema klasifikasi inkontinensia urine

2.4 MANIFESTASI KLINIS


a) Melaporkan merasa desakan berkemih, disertai ketidakmampuan mencapai kamar
mandi karena telah mulai berkemih
b) Desakan, frekuensi, dan nokturia
c) Inkontinensia stress, dicirikan dengan keluarnya sejumlah kecil urine ketika tertawa,
bersin, melompat, batuk, atau membungkuk.
d) Inkontinensia overflow, dicirikan dengan aliran urine buruk atau lambat dan merasa
menunda atau mengejan
e) Inkontinensia fungsional, dicirikan dengan volume dan aliran urine yang adekuat
f) Hygiene buruk atau tanda tanda infeksi
g) Kandung kemih terletak di atas simfisis pubis.
2.5 PATOFISIOLOGI
a) Inkontinensia stres (stress incontinence).
Terjadinya inkontinensia ini karena faktor sfingter (uretra) yang tidak mampu
mempertahankan tekanan intrauretra pada saat tekanan intravesika meningkat (bulibuli) terisi.Peningkatan intraabdominal dapat dipacu oleh bersin, ketawa, batuk,
mengangkat beban, melompat, atau membungkuk. Inkontinensia stress banyak
dijumpai pada wanita, dan merupakan jenis inkontinensia urine yang paling banyak
7

prevalensinya, yakni kurang lebih 8-33%. Pada pria kelainan uretra yang
menyebabkan inkontinensia biasanya adalah kerusakan sfingter uretra eksterna pasca
prostatektomi, sedangkan pada wanita penyebab kerusakan uretra dibedakan dalam
dua keadaan, hipermobilitas uretra dan defisiensi intrinsik uretra.Kerusakan sfingter
uretra eksterna pasca prostatektomi radikal lebih sering terjadi daripada pasca TURP.
Tidak jarang pasien mengalami kerusakan total sfingter eksterna sehingga mengeluh
inkontinensia totalis.
Hipermobilitas uretra disebabkan karena kelemahan otot-otot dasar panggul
yang berfungsi sebagai penyanggah uretra dan buli-buli.Kelemahan otot ini
menyebabkan terjadinya penurunan (herniasi) dan angulasi leher buli-buli uretra pada
saat terjadinya peningkatan tekanan intraabdomen.Herniasi dan angulasi itu terlihat
sebagai terbukanya leher buli-buli uretra sehingga mengakibatkan bocornya urine dari
buli-buli meskipun tidak ada peningkatan intravesika.Kelemahan otot dasar panggul
dapat pula menyebabkan terjadinya prolapsus uteri, sistolek, atau enterokel.Penyebab
kelemahan ini adalah trauma persalinan, histerektomi (pengangkatan rahim),
perubahan hormonal (menopause), atau kelainan neurologi.Akibat defisiensi estrogen
pada masa menopause, terjadi atrofi jaringan genitourinaria.
Defisiensi sfingetr intrinsik (ISD) dapat disebabkan karena suatu trauma,
penyakit dari operasi, radiasi, atau kelainan neurologi.Ciri-ciri dari jenis ISD adalah
leher buli-buli dan uretra posterior tetap terbuka pada keadaan istirahat meskipun
tidak ada kontraksi otot detrusor sehingga uretra proksimal tidak lagi berfungsi
sebagai sfingter.penyebab UI yang sering dijumpai pada wanita tua. Inkontinensia
tersebut disebabkan oleh mekanisme sfingter yang tidak kompeten.Bocornya urin
terjadi bila tekanan intraabdomen meningkat akibat mengedan, batuk, tertawa, dan
bersin.Penyebab tersering gangguan mekanisme sfingter adalah posisi uretra yang
abnormal akibat prolaps pelvik.Denervasi otot sfingter kongenital, traumatik (cedera
medula spinalis), atrogenik (radiasi), atau obat-obatan (penyakit alfa) dapat juga
menyebabkan inkontinensia stres.
b) Inkontinensia mendesak (urge incontinence)
Pasien inkontinensia urge mengeluh tidak dapat menahan kencing segera
setelah timbul sensasi ingin kencing. Keadaan ini disebabkan otot detrusor sudah
mulai mengadakan kontraksi pada saat kapasitas buli-buli belum terpenuhi.Frekuensi
miksi menjadi lebih sering dan disertai dengan perasaan urgensi. Inkontinensia urge
meliputi 22% dari semua inkontinensia pada wanita. Penyebab inkontinensia urine
urge adalah kelainan yang berasal dari buli-buli, diantaranya adalah overaktivitas

detrusor dan menurunnya komplians buli-buli. Overaktivitas detrusor dapat


disebabkan oleh kelainan neurologi, kelainan non neurologis, atau kelainan lain yang
belum diketahui. Jika disebabkan oleh kelainan neurologis, disebut sebagai hiperrefleksi detrusor, sedangkan jika penyebabnya adalah kelainan non neurologis disebut
instabilitas detrusor.Istilah overaktivitas detrusor dipakai jika tidak dapat diketahui
penyebabnya.
Hiper-refleksia detrusor disebabkan oleh kelainan neurologis, di antaranya
adalah stroke, penyakit parkinson, cedera korda spinalis, sklerosis multiple, spina
bifida, atau mielitis transversal. Instabilitas detrusor seringkali disebabkan oleh
obstruksi infravesika, pasca bedah intravesika, batu buli-buli, tumor buli-buli, dan
sistitis.Penurunan kemampuan buli-buli dalam mempertahankan tekanannya pada saat
pengisian urine (komplians) dapat disebabkan karena kandungan kolagen pada
matriks detrusor bertambah atau adanya kelainan neurologis.Penambahan kandungan
kolagen terdapat pada sistitis tuberkulosa, sistitis pasca radiasi, pemakaian kateter
menetap dalam jangka waktu lama, atau obstruksi infravesika karena hyperplasia
prostat.
Cedera spinal pada regio thorako-lumbal, pasca histerektomi radikal, reseksi
abdomino-perineal, dan mielodisplasia disebut-sebut dapat mencederai pesarafan
yang merawat buli-buli. Tidak jarang inkontinensia urge menyertai sindroma
overaktivitas buli-buli. Sindroma ini ditandai dengan ferkuensi, urgensi, dan kadangkadang inkotinensia urge.
c) Inkontinensia fungsional (functional incontinence)
Inkontinensia fungsional terjadi akibat imobilitas atau kerusakan kognitif
dengan saluran kemih bawah tetap utuh.Sebenarnya pasien ini kontinen, tetapi karena
adanya hambatan tertentu, pasien tidak mampu untuk menjangkau toilet pada saat
keinginan miksi timbul sehingga kencingnya keluar tanpa dapat ditahan.Hambatan itu
dapat berupa gangguan fisis, gangguan kognitif, maupun pasien yang mengkonsumsi
obat-obatan tertentu. Gangguan fisis yang dapat menimbulkan inkontinensia
fungsional antara lain: gangguan mobilitas akibat arthritis, paraplegia inferior, atau
gangguan kognitif akibat suatu delirium maupun demensia.
Terjadi pada pasien dengan otot destrusor dan mekanisme sfingter yang
normal. Keadaan tersebut paling sering disebabkan oleh kurangnya akses seseorang
ke kamar mandi untuk berkemih akibat imobilitas, tidak mampu mengatakan ingin
berkemih (demensia atau delirium), atau minum diuretik poten yang bekerja cepat.
Pada pasien tua seringkali mengeluh inkontinensia urine sementara (transient), yang

dipacu oleh beberapa keadaan yang disingkat dengan DIAPPERS, yakni Delirium,
Infection (infeksi saluran kemih), Atrophic vaginitis/urethritis, Pharmaceutical,
Psychological, Excess urine output, Restricted mobility, dan Stool inpaction.
d) Inkontinensia aliran berlebih (overflow incontinence)
Inkontinensia ini merupakan keluarnya urien tanpa dapat dikontrol pada
keadaan volume urine di buli-buli melebihi kapasitasnya.Destrusor mengalami
kelembapan sehingga terjadi atonia atau arefleksia.Keadaan ini ditandai dengan
overdistensi buli-buli (retensi urine), tetapi karena buli-buli tidak mampu lagi
mengosongkan isinya, tampak urine selalu menetes dari meatus uretra. Kelembapan
otot detrusor ini dapat disebabkan karena obstruksi uretra, neuropati diabetikum,
cedera spinal, defisiensi B12, efek samping pemakaian obat, atau pasca bedah pada
daerah pelvik.
Lebih sering terjadi pada pria daripada wanita sebagai akibat obstruksi saluran
keluar kandung kemih yang disebabkan oleh hipertrofi prostat, impaksi fekal, atau
striktur uretra.Alternatifnya, inkontinensia aliran berlebih dapat terjadi sebagai akibat
kandung

kemih

atonik

yang

tidak

lagi

berkontraksi

cukup

kuat

untuk

mengosongkannya.Keadaan tersebut disebabkan oleh kerusakan saraf kandung kemih


(misal, neuropati diabetik, radiasi, atau tumor) atau obat yang mengganggu kontraksi
destrusor (misal, antikolinergik, penyekat kanal kalsium).Pasien biasanya mengeluh
pengosongan kandung kemih yang tidak lampias atau menetes.
e) Inkontinensia Kontinua (continous incontinence)
Urine yang selalu keluar setiap saat dan dalam berbagai posisi.Keadaan ini
paling sering disebabkan oleh fistula sistem urinaria yang menyebabakan urine tidak
melewati

sfingter

uretra.Pada

fistula

vesikovagina

terdapat

lubang

yang

menghubungkan buli-buli dan vagina.Jika lubangnya cukup besar, buli-buli tidak


pernah terisi dengan urine, karena urine yang berasal dari kedua ureter tidak sempat
tertampung di buli-buli dan keluar melalui fistula ke vagina.Fistula vesikovagina
seringkali disebabkan oleh operasi ginekologi, trauma obstetri, atau pasca radiasi di
daerah pelvik. Fistula sistem urinaria yang lain adalah fistula ureterovagina yaitu
terdapat hubungan langsung antara ureter dengan vagina. Keadaan ini juga
disebabkan karena cedera ureter pasca operasi daerah pelvis.
Penyebab lain inkontinensia urine kontinua adalah muara ureter ektopik pada
anak perempuan. Pada kelainan bawaan ini, salah satu ureter bermuara pada uretra di
sebelah distal dari sfingter uretra eksternum. Urine yang disalurkan melalui ureter
ektopik langsung keluar tanpa melalui hambatan sfingter uretra eksterna sehingga
selalu bocor. Gejala khas muara ureter ektopik sama dengan fistula ureterovagina,
10

yaitu urine selalu merembes keluar tetapi pasien masih bisa melakukan miksi seperti
orang normal.
2.6 PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
a) Urinalisis, digunakan untuk melihat apakah ada bakteri, darah, dan glukosa dalam
urine.
b) Uroflowmetry, digunakan untuk mengevaluasi pola berkemih dan menunjukkan
obstruksi pintu bawah kandung kemih dengan mengukur laju aliran ketika pasien
berkemih.
c) Cysometry, digunakan untuk mengkaji fungsi neuromuscular kandung kemih dengan
mengukur efisiensi reflex otot detrusor, tekanan dan kapasitas intravesikal, dan reaksi
kandung kemih terhadap rangsangan panas.
d) Urografi Ekskretorik, disebut juga pielografi

intravena,

digunakan

untuk

mengevaluasi struktur dan fungsi ginjal, ureter, dan kandung kemih.


e) Voiding Cystourethrography, digunakan untuk mendeteksi ketidaknormalan kandung
kemih dan uretra serta mengkaji hipertrofi lobus prostat, struktur uretra, dan tahap
gangguan uretra prostatic stenosis (pada pria).
f) Uretrografi Retrograde, digunakan hamper secara eksklusif pada pria, membantu
diagnosis striktur dan obstruksi orifisium uretra.
g) Elektromiograf Sfingter Eksternal, mengukur aktivitas listrik sfingter urinarius
eksternal.
h) Pemeriksaan Vagina, dapat memperlihatkan kekeringan vagina atau vaginitis atrofi,
yang menandakan kekurangan estrogen.
i) Katerisasi Residu Pascakemih, digunakan untuk menentukan luasnya pengosongan
kandung kemih dan jumlah urine yang tersisa dalam kandung kemih setelah pasien
berkemih.

11

2.7 PENATALAKSANAAN (Termasuk Obat-Obatan)


Inkontinensia urine merupakan gejala atau manifestasi klinis dari suatu kelainan yang
ada di buli-buli, uretra, atau organ lain. Untuk itu terapi ditujukan pada penyakit yang
menyebabkan timbulnya inkontinensia urine, diasmping dilakukan usaha-usaha untuk
mengatasi problematik sosial akibat inkontinensia. Pada inkontinensia yang disebabkan
oleh fistula ureterovagina, fistula vesikovagina yang cukup lebar, dan ureter ektopik,
pilihan terapi adalah berupa operasi. Begitu juga pada inkontinensia paradoksa yang
disebabkan adanya obstruksi infravesika, terapi paling tepat adalah desobstruksi. Pada
inkontinensia urine stres atau urge, pilihan terapi tergantung dari derajat keparahan
inkontinensia. Terapi yang dipilih berupa:
(1) Latihan/rehabilitasi
Bantuan ahli rehabilitasi medik sangat diperlukan untuk keberhasilan program
latihan ini. Pelvic floor exercise atau Kegel exercise bertujuan untuk meningkatkan
resistensi uretra dengan cara memperkuat otot-otot dasar panggul dan otot periuretra.
Pasien dilatih belajar cara melakukan atau mengenal kontraksi otot dasar panggul
dengan cara mencoba menghentikan aliran urine (melakukan kontraksi otot-otot
pelvis) kemudian mengeluarkan kembali urine melalui relaksasi otot sfingter. Setelah
itu pasien diinstruksikan untuk melakukan kontraksi otot dasar panggul (seolah-olah
menahan urine) selama 10 detik sebanyak 10-20 kali kontraksi dan dilakukan dalam
3 kali setiap hari.
Dikatakan bahwa latihan ini menyebabkan terjadinya hipertrofi otot-otot dasar
panggul. Hal ini dapat meningkatkan tekanan mekanik pada uretra sehingga
memperbaiki fungsi sfingter uretra.Hipertrofi otot dasar panggul dapat meningkatkan
kemampuannya dalam menyanggah organ-organ pelvis sehingga mampu mencegah
desensus buli-buli uretra. Tidak jarang latihan ini dikombinasikan dengan stimulasi
elektrik dan biofeedback. Latihan ini dapat dipakai sebagai prevensi terjadinya
inkontinensia urine pada wanita-wanita muda sebelum melahirkan.
Pada terapi behavioural pasien diberi pengetahuan tentang fisiologi sistem
urinaria sebelah bawah dan kemudian mengikuti jadwal miksi seperti yang telah
ditentukan. Dalam hal ini, pasien dilatih untuk mengenal timbulnya sensasi urgensi,
kemudian mencoba menghambatnya, dan selanjutnya menunda saat miksi. Jika sudah
terbiasa dengan cara ini, interval diantara miksi menjadi lebih lama dan didapatkan
volume miksi yang lebih banyak.
Selain terapi diatas, pasien dengan inkontinensia dapat menggunakan terapi
perilaku meliputi latihan berkemih, latihan kebiasaan dan waktu kemih, penyegeraan

12

berkemih, dan latihan otot panggul (latihan Kegel). Pendekatan yang dipilih
disesuaikan dengan masalah pasien yang mendasari.Latihan kebiasaan dan latihan
berkemih sangat sesuai untuk pasien yang mengalami inkontinensia urgensi.Latihan
otot panggul sangat baik digunakan oleh pasien dengan fungsi kognitif yang utuh
yang mengalami inkontinensia stress. Intervensi perilaku umumnya tidak dipilih
untuk pasien yang mengalami inkontinensia sekunder akibat overflow. Teknik
tambahan, seperti umpan balik biologis dan rangsangan listrik, berfungsi sebagai
tambahan pada terapi perilaku.
Latihan kebiasaan, bermanfaat bagi pasien yang mengalami demensia atau
kerusakan kognitif, mencakup menjaga jadwal berkemih yang tetap, biasanya setiap
2 sampai 4 jam. Tujuannya adalah pasien dapat berkemih sebelum secara tidak
sengaja berkemih.Latihan kembali berkemih dapat bermanfaat bagi pasien dengan
fungsi kognitif yang utuh. Latihan ini mengajarkan pasien untuk menahan desakan
berkemih, secara bertahap meningkatkan kapasitas kandung kemih dan interval
antara berkemih. Ketika kapasitas meningkat, urgensi dan frekuensi akan berkurang.
Tabel 2-3. Beberapa jenis terapi inkontinensia urine
JENIS
LATIHAN
MEDIKAMENTOSA
INKONTINENSIA
UUI
- Behavioural
- Biofeedback
- Bladder
drill
(pengosongan
kandung kemih).
- Bladder
training
(latihan
kandung
kemih).
SUI
Pelvic floor exercise
Agonis adrenergik-
Antidepresan trisiklik
Hormonal
Paradoksa
Total
-

13

TINDAKAN
INVASIF
Augmentasi
buli-buli
Neuromodulasi
Rhizolisis

Kolpususpensi
TVT
Injeksi kolagen
Desobstruksi
Sfingter
artifisial

(2) Medikamentosa
Obat yang diberikan disesuaikan dengan etiologi inkontinensia urine.

Tabel 2-4. Beberapa jenis obat-obatan yang digunakan untuk inkontinensia urine
OBAT
Estrogen
Primarin
Quinestradiol
Estriol
Antikolinergik
Pro-Banthene
Oksibutinin
Bentyl
Kolinergik
Urecholin
Prostigmin
Penyekat alfa-adrenergik
Prazosin
Dibenzyline
Phenylopropanolamine
Simpatomimetik
Ephedrine
Phenylephrine
Penyekat saluran kalsium

KERJA
Mengurangi atropi vanigitis uretra dan memulihkan
uretra yang supel.

Mengurangi spastisitas mengandung kemih, relaksasi


otot.

Memperbaiki kandung kemih yang flaksid dengan


menstimulasi kontraksi kandung kemih.

Mengurangi spastisitas leher kandung kemih.

Meningkatkan tonus leher kandung kemih dan uretra.

Mengurangi kontraksi otot detrusor.

Indikasi, Kontraindikasi, dan Efek Samping Obat-obatan inkontinensia


a. Primarin (estrogen terkonjugasi)
o Pengertian: yaitu obat sulih hormon estrogen (hormone replacement therapy)
untuk mengatasi gejala-gejala akibat tak berproduksinya estrogen, seperti rasa
panas di wajah (hot flashes), rasa kering dan gatal pada vagina (itchy and dry
vagina). Kata Premarin adalah akronim dari Pregnant Mare Urine atau air seni
dari kuda betina yang hamil. ipercaya sebagai terapi yang aman untuk gangguan
post-menopause. Juga pemakaian Premarin ini terbukti dapat mengurangi
terjadinya osteoporosis (pengeroposan tulang). Premarin juga terbukti bermanfaat
untuk kanker prostat pada pria, untuk pengobatan pada kekurangan produksi
estrogen seperti hypogonadisme, pengebirian (castration), kegagalan indung telur
(ovarian failure).
o Sifat: Ester sulfat dari substansi estrogenik. Kurang poten dibanding estradiol.
Oral, IV, atau preparat vaginal efektif.

14

o Efek samping: Riset yang sudah dimulai semenjak tahun 1975 menunjukkan
bahwa pemakaian Premarin meningkatkan

jumlah kasus

kanker pada

endometrium (dinding rahim). Penelitian ini juga menemukan peningkatan kasus


stroke, serangan jantung, pembekuan darah dan kanker payudara.
o Dosis: 1 x 0,625/hari
b. Prostigmin
o Kontraindikasi: hipersensitif, pasien peka bromida, peritonitis, atau penyakit
tumbatan mekanik saluran cerna atau saluran kemih.
c. Ephedrine
o Pengertian: alkaloid yang dipengaruhi dari tumbuhan Efedra. Farmakodinamik
efedrin sama seperti amfetamin (tetapi efek sentralnya lebih lemah) atau mirip
epinefrin. Dibandingkan dengan epinefrin, efedrin dapat diberikan per oral, masa
kerjanya jauh lebih lama, efek sentralnya kuat, dan untuk terapi diperlukan dosis
yang jauh lebih besar dari dosis epinefrin. Efedrin bekerja merangsang reseptor ,
1, dan 2. Efek perifer, bekerja langsung dan tidak langsung (melalui
pembebasan NE endogen) pada efektor sel. Seperti epinefrin, efedrin
menimbulkan bronkodilatasi, tetapi efeknya lebih lemah dan berlangsung lama.
Hal ini digunakan untuk terapi asma bronkial. Penetesan lokal pada
matamenimbulkan midriasis. Pada uterus dapat mengurangi aktivitas uterus, dan
efek ini dapat dimanfaatkan untuk dismenore.
o Indikasi: dekongestan (diberikan per oral atau intranasal. Penggunaan yang terusmenerus menimbulkan toleran), pencegah enuresis (karena efeknya meningkatkan
tonus sfingter vesika urinaria), midriatik (untuk pemeriksaan mata), dan
pengobatan bronkospasme (asma bronkial).
o Efek samping: sama seperti pada amfetamin, tetapi efek samping pada SSP lebih
ringan.

15

Tabel 2-5. Penyebab inkontinensia urien transien (DIAPPERS)


PENYEBAB
Keadaan Delirium/konfusi

KETERANGAN
Singkirkan penyakit akut penyebab, infeksi,

Infeksi (UTI)

dan obat-obatan.
Bakteriuria asimtomatik tidak menyebabkan

Uretritis/Vaginitis Atrofik

UTI.
Erosi vagina, telangiektasia, petekie, dan
friability; dapat menjadi kontribusi bagi
penyebab lain UI.

Farmasetikal (Pharmaceutical)
Psikologis
Keluarnya

urine

yang

(Excessive)

Jarang; menyebabkan UI hanya jika berat


(misal, depresi berat).
berlebih Asupan cairan yang banyak, obat-obat
diuretik
berkafein,

(termasuk
dan

metabolik
hiperkalsemia);

teofilin,

alkohol)
(misal,
UI

dan

minuman
gangguan

hiperglikemia,
nokturnal

dapat

disebabkan oleh mobilisasi edema perifer


Mobilitas terbatas (Restricted)

saat pasien terlentang.


Sering disebabkan oleh keadaan-keadaan
yang dapat dikoreksi seperti artritis, nyeri,

Impaksi tinja (Stool)

atau perasaan takut jatuh.


Dapat menyebabkan inkontinensia urine dan
fekal.

16

Tabel 2-6. Obat-obatan yang menyebabkan/mengeksaserbasi inkontinensia urine


OBAT (CONTOH)
EFEK POTENSIAL PADA UI
Diuretik poten (furosemid, bumetanid).
Poliuria, frekuensi, urgensi.
Antikolinergik (disiklomin, disopiramid, Retensi urine, inkontinensia aliran berlebih,
antihistamin).
Antipsikotik (tioridazin, haloperidol)

delirium, impaksi fekal.


Kerja antikolinergik,

Antidepresan (amitriptilin, desipramin)


Antiparkinson(triheksifenidil,benztropin)
Sedatif-hipnotik (diazepam, flurazepam)
Narkotik (opiat)
Antagonis
-adrenergik
(prazosin,

imobilitas.
Kerja antikolinergik, sedasi.
Kerja antikolinergik, sedasi.
Sedasi, delirium, imobilitas.
Retensi urine, impaksi fekal, sedasi, delirium.
Relaksasi
uretra
dapat
mencetuskan

terazosin)
Agonis
-adrenergik

sedasi,

rigiditas,

inkontinensia stres pada wanita.


(dekongestan Retensi urine pada pria.

hidung)
Penyakit kanal kalsium
Inhibitor enzim pengonversi angiotensin

Retensi urine.
Batuk yang menyertai dapat mencetuskan
inkontinensia stres pada wanita dan beberapa

Alkohol

pria yang telah menjalani prostatektomi.


Poliuria, frekuensi, urgensi, sedasi, delirium,

Vinkristin

imobilitas.
Retensi urine.

(3) Operasi (Pembedahan)


Pada inkontinensia yang disebabkan oleh fistula atau kelainan bawaan ektopik
ureter tindakan yang paling tepat adalah pembedahan, berupa penutupan fistula atau
neoimplantasi ureter ke buli-buli. Inkontinensia urge dan inkontinensia stres tindakan
pembedahan dilakukan jika terapi konservatif tidak memberikan hasil yang maksimal.
Pada inkontinensia urge untuk mengurangi overaktivitas buli-buli dapat dilakukan
rhizolisis, sedangkan penurunan komplians buli-buli dilakukan argumentasi buli-buli.
Hipermobilitas uretra dikoreksi dengan melakukan suspensi leher buli-buli dengan
berbagai teknik, antara lain: Marshall-Marchetti-Kranzt (MKK), Burch, Stamey,
tension-free vaginal tape (TVT), atau teknik yang lain. Pada keadaan defisiensi
sfingter uretra intrinsik (ISD) dapat dilakukan pemasangan pubovaginal sling, injeksi
kolagen periuretra, atau sfingter artifisial.
Inkontinensia stres pada wanita:

17

a. Kausa
Kelahiran anak, obesitas, kelumpuhan nervus pudendal, trauma-diastasis simfiseal,
iatrogenik, dan usia.
b. Penilaian
Tes Bonney, CMG video, sistogram rantai lateral, sistouretroskopi.
c. Terapi
1. Konservatif
a. Penurunan berat badan
b. Olahraga dasar panggul
c. Obat-obatan: agonis adrenergic alfa seperti eskornade, fenil propanolamina dan
mazindol.
2. Operasi
a. Prinsip:
1. Meninggikan dan menunjang leher vesika dalam zona tekanan abdominal.
2. Memungkinkan kompresi posterior uretra proksimal terhadap simfisis pubis.
3. Mengoreksi prolapsus genital yang berkaitan.
b. Prosedur operasi spesifik:
1. Kolporafi anterior. Memungkinkan koreksi prolapsus genital yang bersamaan
terjadinya atau histerektomi vaginal bila diperlukan.
a) Insisi vaginal vertikal untuk memaparkan leher vesika dan basis vesika.
b) Peletakan jahitan fasial (Kelly) parauretral diikat digaris tengah.
c) Eksisi mukosa vaginal berlebih.
2. Koreksi Marshall-Marchetti-Kranzt. Sebagai prosedur primer bila tidak terjadi
prolapsus genital atau sebagai prosedur sekunder.
a) Pendekatan retropubik anterior.
b) Pemaparan leher vesika dan uretra.
c) Peletakan 3 jahitan (biasanya catgut No.2 atau asam poliglikolik) antara
fasia parauretral/leher vesika serta simfisis dan linea pektineal di tiap sisi.
3. Koreksi suspensorik (sling)-Millin. Sesuai sebagai koreksi sekunder
a) Pendekatan retropubik anterior.
b) Pemaparan leher vesika dan uretra.
c) Uretra dilingkari dengan pita nilon, pita fasia selebar 2 cm dari tepi inferior
selubung rektus dijahitkan ke pita itu serta dilewatkan dibelakang uretra.
d) Pita nilon itu dilepaskan dari fasia dan strip fasial dijahitkan ke ligamen
Gimbernati di sisi berlawanan dengan tegangan sehingga uretra dan leher
vesika terangkat.
4. Prosedur Stamey. Sesuai untuk pasien dengan risiko medis buruk
a) Endoskop dalam vesika.
b) Insisi vaginal di garis tengah.
c) Insisi suprapubik bilateral serta peletakan benang nilon dari suprapubik ke
insisi vaginal dengan jarum Stamey.
d) Lengan Dacron sepanjang 1 cm dan lebar 5 mm diletakkan diatas jerat nilon
tadi pada insisi vaginal dan dikembalikan ke insisi suprapubik
menggunakan insersi kedua dari jarum.

18

e) Ulangi prosedur itu di sisi kontralateral untuk menyisakan lengan Dacron


berbenang itu dikedua sisi leher vesika.
f) Benang nilon dikaitkan ke lubang rektus sehingga mengangkat leher vesika.
Hasil operasi
Semua prosedur primer harus berhasil dalam 85-90% kasus.
Inkontinensia Desakan (urge) Pada Pria/Wanita
Kausa Vesika Neuropatik/Disfungsi Uretral
1. Supraspinal
a) Kelumpuhan serebral
b) CVD
c) Trauma
d) Penyakit Parkinson
e) Multiple sclerosis.
2. Spinal
a) Spina bifida
b) Trauma
c) Kompresi medula spinal
d) Multipel sclerosis.
3. Perifer
a) Trauma
b) Pasca operasi pelvic
c) Pasca radioterapi pelvic
d) Multipel sclerosis
e) Diabetes mellitus.
Terapi Ketidakstabilan Detrusor Primer
1. Konservatif
a) Latihan buang air kecil (bladder drill)
b) Psikoterapi
c) Hipnosis.
2. Obat-obatan
a. Antikolinergik Oksibutinin dan Propantelina.
b. Campuran imipramina (antikolinergik dan agonis alfa).
c. Lainnya DDAVP (analog vasopresin).
3. Distensi vesika berkepanjangan
4. Operasi
a. Indikasi
(i) Kegagalan tindakan lain
(ii) Simtom sangat menyusahkan penderita
(iii) Bukti tak adanya disfungsi sfinkter.
b. Operasi
(i) Transeksi vesika

19

(ii) Neuroktomi sacral selektif


(iii) Suntikan fenol ke nervi sacral
(iv)
(v)

Pengembangan vesika dengan seko-sistoplasti


Diversi urin.

Inkontinensia Pria
1. Kausa Inkontinensia Pasca-Prostatektomi
a. Pemilihan pasien yang buruk
(i) CVD (kecelakaan serebrovaskular) baru
(ii) Penyakit Parkinson
(iii) Baru saja eksisi abdominopelvik rectum
(iv) Polakisuria desakan nokturia dengan ketakstabilan detrusor primer.
b. Kerusakan sfinkter eksternal pra-operatif
c. Overflow
(i) Reseksi inadekuat
(ii) Striktura uretral
(iii) Stenosis leher vesika.
d. Infeksi rekuren.
e. Ca Prostat yang menginfiltrasi sfinkter eksternal.
2. Jalur Penatalaksanaan
a. Penilaian ulang klinik.
b. MSU (urin aliran tengah).
c. Sistouretroskopi.
d. Sistometrogram video.
3. Kerusakan Sfinkterik Eksternal
Didefinisikan sebagai ketidakmampuan menghentikan aliran urin secara volunter
dengan atau tanpa ketakstabilan detrusor.
4. Terapi Kerusakan Sfinkter
a. Konservatif
(i) Bantalan/celana Kanga; alat inkontinensia eksternal---klem Cunningham
(ii) Stimulasi faradic kepada otot perineal pasak rectal elektronik
(iii) Obat-obatan: a) agonis adrenergic alfa, misal eskornade dan fenil
propanolamina; b) imipramina (bersifat agonis dan antikolinergik).
b. Operasi
Indikasi: tidak membaik dengan sendirinya dan gagalnya cara konservatif pada
pasien yang pada dasarnya sehat
(i) Rekonstruksi leher vesika
a. Prosedur Young-Dees-Leadbetter-tubulari-sasi
reimplantasi ureter
b. Prosedur Tanagho-tubularisasi

permukaan

trigonum
anterior

dengan

vesika

dan

reanastomosis ke uretra.
(ii) Memberi tekanan kepada uretra bulbar
a. Prosedur Kaufman III aplikasi bantalan gel silicon pada bulbus dengan
meletakkan tali di sekitar krura.
b. Sfinkter Scott-Bradley-Tim

20

Bebat leher vesika atau bulbus dengan bulbus dan katub inflasi dan
deflasi pada skrotum di kedua sisi dan reservoir berisi cairan
diimplantasikan antara rektus abdominis dan peritoneum.
c. Prostat Jonas
Klip silicon melingkar diletakkan seputar uretra penis.
Hasil operasi
Secara keseluruhan angka keberhasilan mengecewakan dari 15-70%: hasil terbaik didapat
dengan prosthesis Scott-Bradley-Tim tapi mahal dan sulitnya membatasi pemakaiannya.
Komplikasi operasi
a.
b.
c.
d.
e.

Kegagalan
Infeksi
Penolakan alat implantasi
Nekrosis tekanan di uretra
Malfungsi di katub.

Terapi kerusakan sfingter


a. Konservatif
1. Bantalan/celana Kanga; alat inkontinesia eksternal- Klem Cunningham.
2. Stimulasi faradik kepada otot perineal, pasal rektal elektronik.
3. Obat-obatan: (i) agonis adrenergik alfa, misal eskornadedan fenil propanolamina;
(ii) imipramina (bersifat agonis dan antikolinergik).
b. Operasi
Indikasi: tidak membaik dengan sendirinya dan gagalnya cara konservatif pada pasien
yang pada adasarnya sehat.
(i) Rekonstruksi leher vesika
a) Prosedur
Young-Dees-Leadbetter-Tubularisasi
reimplantasi ureter.
b) Prosedur Tanagho-tubularisasi

permukaan

trigonum
anterior

dengan

vesika

dan

reanastomosis ke uretra.
(ii) Memberi tekanan kepada uretra bulbar
a) Prosedur Kaufman III- aplikasi bantalan gel pada bulbus dengan
meletakkan tali di sekitar krura.
b) Sfinkter Scott-Bradley-Tim
Bebat leher vesika atau bulbus dengan bulbus dan katub inflasi dan deflasi
pada skrotum di kedua sisi dan reservoir berisi cairan diimplantasikan
antara rektus abdominis dan peritonium.
c) Prostesis Jonas
Klip silikon melingkar diletakkan seputar uretra penis.
Hasil operasi:

21

Secara keseluruhan angka keberhasilan mengecewakan dari 15-70%. Hasil terbaik didapat
dengan prostesis Scott-Bradley-Tim tapi mahal dan sulitnya membatasi pemakaiannya.
Komplikasi operasi:
Kegagalan, infeksi, penolakan alat implantasi, nekrosis tekanan di uretra, malfungsi di katub.

22

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN
3.1 PENGKAJIAN
a. Anamnesa
1. Identitas klien
Inkontinensia pada umumnya biasanya sering atau cenderung terjadi pada lansia (usia ke atas 65
tahun), dengan jenis kelamin perempuan, tetapi tidak menutup kemungkinan lansia laki-laki juga
beresiko mengalaminya.
2. Riwayat kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang.
Pasien mengatakan terdapat gangguan dalam berkemih.Klien juga mengatakan bahwa kencing
dilakukan sebanyak 8 kali dalam sehari.Klien merasakan ingin berkemih terus menerus namun
sedikitnya air kencing yang keluar.Klien mengatakan ingin berkemih ketika minum dan saat
tertawa.Klien minum 5 gelas dalam sehari.Klien mengatakan mengkonsumsi insulin untuk
menstabilkan diabetes mellitusnya.Klien mengatakan terkadang nyeri saat berkemih dan
merasakan gatal dan perih pada area simpisis pubis.
b. Riwayat kesehatan klien:
Klien mengatakan tidak pernah mengalami masalah pada sistem perkemihan sebelumnya.
Namun klien mengatakan pernah di rawat di rumah sakit karena penyakit diabetes mellitus dan
saat itu merasa ingin berkemih terus menerus sehingga dipasang kateter. Terkadang nyeri saat
berkemih.
c. Riwayat kesehatan keluarga:
Klien mengatakan terdapat anggota keluarga yang memiliki riwayat diabetes mellitus dan
hipertensi. Klien mengatakan tidak mempunyai riwayat penyakit ginjal pada keluarganya.
b. Pengkajian (pola Gordon):
Pola fungsi kesehatan
a. Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Pasien adalah seorang wanita yang berumur 65 tahun, dalam melakukan aktivitas
sehari-hari seperti kebutuhan perawatan diri, pasien dibantu oleh keluarganya.
Seperti saat akan melakukan aktivitas ke kamar mandi.
b. Pola nutrisi dan metabolisme
Sebelum sakit pasien makan dengan porsi normal yaitu makan 3x sehari dan
minum 5 gelas sehari, setelah sakit pola makan pasien masih normal, dan porsi
minum sedikit.
c. Pola elimisasi

23

Sebelum sakit pasien sering BAK dengan volume urin 1400-1500cc/hari, setelah
sakit, pasien sering melakukan aktivitas BAK dengan freukensi urin yang sedikit
dan desakan berkemih, disertai ketidakmampuan mencapai kamar mandi karena
telah mulai berkemih. Sedangkan pada eliminasi alvi, pasien BAB 2x sehari,
dengan konsistensi padat, berwarna kuning dengan berbau yang khas.
d. Pola aktivitas dan latihan
Sebelum sakit pasien melakukan aktivitas sehari-harinya dengan baik, olahraga
ringan dan aktivitas yang lain di pagi hari. Setelah sakit pasien mudah
mengeluarkan sejumlah kecil urine ketika melakukan aktivitas, seperti melompat,
atau membungkuk. Terkadang urine juga keluar saat pasien tertawa dan bersih
serta saat pasien batuk.
e. Pola istirahat dan tidur
Sebelum sakit pasien tidur 7-9 jam perhari, jarang tidur pada siang hari. Setelah
sakit pasien kesulitan tidur karena seringnya desakan ingin berkemih. Bahkan
pasien sering mengompol.
f. Pola sensori dan kognitif
Sebelum sakit perkembangan persepsi dan kognitif pasien bagus. Meski dengan
usia 65 tahun, pasien masih mampu menilai orang dan benda. Setelah sakit pasien
merasa lemah untuk melakukan aktivitas lain. Sehingga aktivitas toileting sering
terganggu. \
g. Pola persepsi dan konsep diri
Sebelum sakit pasien mengerti bahwa dirinya adalah seorang wanita yang
memiliki tanggung jawab kepada suaminya, setelah sakit pasien merasa malu dan
tidak berguna karena setiap kebutuhan perawatan diri harus dibantu oleh
suaminya.
h. Pola hubungan dan peran
Sebelum sakit hubungan pasien dengan keluarga baik, pasien berperan sebagai
seorang istri yang bertanggungjawab atas suaminya. Setelah sakit pasien
cenderung ingin menyendiri karena rasa malu dengan penyakit yang dialaminya.
i. Pola reproduksi seksual
Pasien seorang wanita yang memiliki suami dan 3 orang anak. Hubungan suami
istri dilakukan 2 kali dalam dua minggu karena istri dan suaminya sudah merasa
tua sehingga jarang sekali untuk melakukan hubungan suami istri. Setelah sakit,
hubungan suami istri dilakukan hanya 1 kali dalam dua minggu.
j. Pola penanggulangan stress
Sebelum sakit pasien tampak bahagia dan melakukan aktivitasnya dengan baik,
setelah sakit pasien mulai murung karena penyakit yang dideritanya. Namun,
pasien tetap mendapatkan support dari suami dan anak-anaknya.
k. Pola tata nilai dan kepercayaan
24

Pasien seorang wanita berumur 65 tahun, pasien beragama islam dan rajin
menjalankan ibadah shalat 5 waktu. Apabila pasien merasa terdapat masalah pada
kesehatannya maka memeriksakan dirinya ke klinik atau rumah sakit. Pasien
tidak pernah pergi ke dukun untuk menyembuhkan amasalah kesehatannya.
Pasien memberikan kepercayaan penuh pada ahli-ahli kesehatan yang dapat
menangani masalah kesehatannya.
c. Pemeriksaan per sistem
1. Keadaan umum
Klien tampak lemas dan tanda tanda vital terjadi peningkatan karena respon dari terjadinya
inkontinensia.
2. B1 (breathing: pernapasan)
Pola nafas: Ireguler
Bunyi nafas: reguler
Bentuk dada : Simetris
Ekspansi dada : Simetris
3. B2 (Bleeding: Kardiovaskuler/sirkulasi)
RR : 25x/menit, TD :150/100 mmHg, S1-S2 normal.
4. B3 (Brain: Persyarafan/neurologi)
Klien sadar penuh. GCS: 456.
5. B4 (Bladder: perkemihan/eliminasi urine/genitaurinaria)
Warna urine kuning pekat terkadang keluar urine bercampur darah, bau menyengat, terdapat
pembesaran daerah supra pubik lesi pada meatus uretra, nyeri saat berkemih, rasa nyeri di dapat
pada daerah supra pubik/pelvis, seperti rasa terbakar di urera luar sewaktu kencing / dapat juga di
luar waktu kencing. Input 500 ml, output 2500 ml.
6. B5 (Bowel: pencernaan/eliminasi alvi/gastrointestinal)
Bising usus: normal. Nyeri tekan abdomen: + Nyeri ketok ginjal: +
7. B6 (Bone: tulang, integumen, otot/muskuloskeletal)
Terdapat nyeri sendi pada kaki. Kekuatan otot

d. Data penunjang:
1) Urinalisis
2) Hematuria.
3) Poliuria
4) Bakteriuria.
e. Pemeriksaan Radiografi:
1) IVP (intravenous pyelographi), memprediksi lokasi ginjal dan ureter.

25

2) VCUG (Voiding Cystoufetherogram), mengkaji ukuran, bentuk, dan fungsi VU, melihat adanya
obstruksi (terutama obstruksi prostat), mengkaji PVR (Post Voiding Residual).
3) Kultur Urine
i.
Steril.
ii.
Pertumbuhan tak bermakna (100.000 koloni / ml).
iii.
Organisme.
3.2 DIAGNOSA
1. Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan kehilangan kemampuan untuk
mengahambat kontraksi kandung kemih.
2. Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
3. Gangguan harga diri berhubungan dengan gangguan citra tubuh: mengompol.
4. Resiko kerusakan integritas kulit yang berhubungan dengan kelembapan oleh urine.
3.3 INTERVENSI
1. Diagnosa: Gangguan eliminasi urine berhubungan dengan kehilangan kemampuan
untuk mengahambat kontraksi kandung kemih.
Kriteria Hasil (NOC):
a. Pengendalian eliminasi urine dari kandung kemih
b. Menunjukkan kontinensia urine, yang dibuktikan oleh indicator: eliminasi secara
mandiri, mempertahankan pola berkemi yang dapat diduga,
c. Bau, jumlah dan warna urine dalam rentang yang diharapkan
d. Pengeluaran urine tidak nyeri, tidak ada kesulitan di awal berkemih, atau urgensi
Intervensi (NIC):
a) Pelatihan kandung kemih: meningkatkan fungsi kandung kemih.
b) Manajemen eliminasi urine: mempertahankan pola eliminasi urine yang optimum.
- Pantau eliminasi urine meliputi frekuensi, konsistensi, bau, volume dan warna,
jika perlu.
- Kumpulkan spesimen urine tengah untuk urinalisis, jika perlu.
c) Anjurkan pasien tentang tanda dan gejala infeksi saluran kemih.
d) Instruksikan pasien dan keluarga untuk mencatat haluaran urine, bila diperlukan
e) Instruksikan pasien untuk berespons segera terhadap kebutuhan eliminasi, jika
perlu.
f) Manajemen eliminasi urine: rujuk ke dokter jika terdapat tanda dan gejala infeksi
saluran kemih.
2. Diagnosa: Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
Kriteria Hasil (NOC) : pasien akan:
a. Menunjukkan aktivitas yang akan dibutuhkan meskipun mnegalami kecemasan.
b. Menunjukkan kemampuan untuk berfokus pada pengetahuan dan ketrampilan yang baru.
c. Mengomunikasikan kebutuhan dan perasaan negatif secara tepat.
26

Intervensi (NIC):
a) Kaji dan dokumentasikan tingkat kecemasan pasien, termasuk reaksi fisik.
b) Beri dorongan kepada pasien untuk mengungkapkan secara verbal pikiran dan perasaan untuk
mengeksternalisasikan ansietas.
c) Bantu pasien untuk memfokuskan pada situasi saat ini, sebagai cara untuk mengidentifikasi
mekanisme koping yang dibutuhkan untuk mengurangi ansietas.
d) Dorong pasien untuk mengekspresikan kemarahan dan iritasi, serta izinkan pasien untuk
menangis.
e) Penurunan kecemasan: instruksikan pasien tentang penggunaan teknik relaksasi.
f) Penurunan ansietas: berikan pijatan punggung/pijatan leher, jika perlu.
g) Kurangi rangsangan yang berlebihan dengan menyediakan lingkungan yang tenang, kontak
yang terbatas dengan orang lain jika dibutuhkan.
h) Kolaborasi pemberian obat penurun ansietas, jika diperlukan.
3. Diagnosa: Harga diri rendah berhubungan dengan gangguan citra tubuh: mengompol.
Kriteria hasil: pasien akan:
a. Menunjukkan harga diri: kekuatan pribadi.
b. Melakukan perilaku yang dapat meningkatkan kepercayaan diri.
c. Mengungkapkan perubahan/kehilangan yang episodik.
Intervensi:
a) Kaji perubahan-perubahan terharu pada pasien yang dapat memengaruhi harga diri rendah.
b) Peningkatan citra tubuh: meningkatkan sikap dan persepsi sadar dan tak sadar pasien terhadap
tubuhnya.
c) Ajarkan pada pasien dan keluarga pasien tentang ketrampilan perilaku yang positif melalui
bermain peran, diskusi, dsb.
d) Peningkatan harga diri: dukung pasien untuk menerima tantangan baru, tunjuukan rasa percaya
terhadap kemampuan pasien untuk mengatasi situasi.
e) Bimbingan antisipasi: persiapan pasien terhadap krisis perkembangan atau krisis situasional yang
diantisipasi.
f) Ajarkan pada pasien dan keluarga pasien teknik latihan otot panggul.
4. Diagnosa: Resiko Kerusakan Integitas kulit yang berhubungan dengan kelembapan oleh urine.
Kriteria hasil (NOC):
a. Menunjukkan integritas jaringan: kulit dan membrane mukosa.
b. Eritema kulit dan eritema di sekitar luka minimal.
c. Menunjukan penyembuhan primer dan sekunder.
Intervensi (NIC):
a) Kaji ada atau tidaknya tanda-tanda infeksi luka setempat (misalnya, nyeri saat palpasi, edema,
pruritus, indurasi, hangat, bau busuk, eskar, dan eksudat).
b) Perawatan area insisi: inspeksi adanya kemerahan, pembengkakan, atau tanda-tanda dehisensi
atau eviserasi pada area insisi.
c) Konsultasikan pada ahli gizi tentang makanan tinggi protein, mineral, kalori, dan vitamin.
d) Ajarkan prosedur perawatan luka pada pasien dan keluarga pasien.
e) Lakukan perawatan luka atau perawatan kulit secara rutin: pertahankan jaringan sekitar terbebas
dari drainase dan kelembapan yang berlebihan dan gunakan preparat antiseptic, sesuai program.

27

28

BAB IV
WEB OF CAUTION
Etiologi:
Melemahnya otot dasar panggul akibat kehamilan berkali-kali.
Kebiasaan mengejan yang salah, atau batuk kronis.
Adanya kontraksi (gerakan) abnormal dari dinding kandung kemih,
sehingga walaupun kandung kemih baru terisi sedikit, sudah
menimbulkan rasa ingin berkemih.
Gangguan di saluran kemih bagian bawah bias karena infeksi.
Efek obat-obatan.
Produksi
urin
meningkat
atau
adanya
gangguan
kemampuan/keinginan ke toilet.
Gangguan metabolik, seperti diabetes melitus.

Terjadinya pengisian kandung kemih

Tekanan di dalam kandung kemih

Otot derusor relaksasi

Daya tampung membesar

Distimulasi lewat serabut reflex eferen

Sfingter eksternal relaksasi

Sfingter internal menutup

Urine keluar

Urine masuk ke uretra posterior

29

Inkontinensia

Inkontinensia

stres

mendesak (urge)

Mekanisme
sfingter tidak
kompeten

Aktivitas detrusor

Inkontinensia
fungsional

Imobilitas fisik

berlebihan

Terhalang inhibisi
Tekanan
intraabdomen

sentral normal

Inkontinensia
paradoksa/aliran
berlebih
(overflow)

Kurangnya akses
seseorang ke
kamar mandi

Obstruksi saluran
keluarnya
kandung kemih

Bocornya

Bocornya urine

urine

Kerusakan saraf
kandung kemih

Bocornya
urine

Kandung kemih
otomik tidak
berkontraksi untuk
mengosongkan

MK:
- Risiko gangguan integritas kulit
- Gangguan eliminasi urine
- Gangguan volume cairan
- Gangguan Citra tubuh
-Ansietas

30

Cedera ureter
pasca operasi
daerah pelvis

Fistula sistem
urinaria
terganggu

kontraksi kandung
kemih

Inkontinensia
kontinua

Urine tidak
melewati
sfingter uretra

Urine keluar
melalui fistula
ke vagina

Bocornya
urine
Bocornya
urine

BAB V
PEMBAHASAN
4.1 ANALISA JURNAL
Pembahasan terkait intervensi yang diberikan pada pasien dengan inkontinensia urine
(masalah pada sistem perkemihan) akan ditunjang dengan jurnal yang ada. Pada pembahasanpembahasan yang dianalisa berdasarkan jurnal yang ada bahwa diambil dari salah satu
klasifikasi inkontinensia yang banyak dialami oleh masyarakat. Pembahasan-pembahasan di
bawah ini yaitu terkait terapi pada pasien inkontinensia urine. terapi-terapi ini dapat
digunakan sebagai salah satu intervensi perawat dalam memberikan asuhan keperawatan.
Terapi tersebut dapat pula dilakukan pasien ketika berada di rumah.
1. Terapi latihan dasar panggul
Hubungan Senam Kegel Terhadap Stres Inkontinensia Urine Postpartum Pada Wanita
Primigravida
Berdasarkan jurnal diatas dinyatakan bahwa pada kasus tersebut banyak dialami pada
wanita primigravida terjadinya kerusakan dasar panggul yang disebabkan karena disfungsi
dasar panggul dihubungkan dengan kerusakan dasar panggul selama persalinan, terutama
pada persalinan pertama (Junizaf, 2002). Kehamilan dan persalinan akan menyebabkan dasar
panggul melemah atau rusak sehingga tidak dapat berfungsi dengan baik. Kekendoran otototot yang melingkari vagina sering disebabkan oleh kelahiran anak melalui vagina. sehingga
untuk mengatasi kasus ini, pasien dapat diberikan terapi senam kegel sebagai salah satu
intervensi perawat yang mudah dan dapat digunakan ketika pasien di rumah.
Menurut Purnomo (2003), senam Kegel adalah terapi non operatif paling populer
untuk mengatasi inkontinensia urine. Latihan ini dapat memperkuat otot-otot di sekitar organ
reproduksi dan memperbaiki tonus tersebut (Bobak, 2004). Senam Kegel membantu
meningkatkan tonus dan kekuatan otot lurik uretra dan periuretra. Senam Kegel sebaiknya
dilakukan saat hamil dan setelah melahirkan untuk membantu otot-otot panggul kembali ke
fungsi normal. Apabila dilakukan secara teratur, latihan ini dapat membantu mencegah
prolaps uterus dan stres inkontinensia di kemudian hari (Bobak, 2004).
Pada penelitian ini telah dilakukan penilaian kejadian stres inkontinensia urine post
partum dari wanita hamil primigravida yang mengikuti senam Kegel dan tidak mengikuti
senam Kegel selama hamil (umur kehamilan >35 minggu). Didapatkan 60 ibu hamil yang
memenuhi kriteria inklusi yang dibagi dalam dua kelompok, masing-masing 30 sampel yang
31

mengikuti senam Kegel dan 30 sampel sebagai kontrol (tidak mengikuti senam Kegel). Dari
data yang diperoleh bahwa wanita primigravida yang melahirkan dengan BBL diatas 3000
gram, cenderung mengalami inkontinensia urine. Hal ini sesuai dengan pendapat Cammu
(2000), yang telah melakukan penelitian pada wanita yang melahirkan bayi dengan berat
badan >4000 gram akan mengalami risiko peningkatan inkontinensia urine karena persalinan
seperti ini memiliki tendensi terjadinya peningkatan kerusakan saraf dasar panggul.
Kelainan struktur atau fungsi otot dasar panggul akan menyebabkan timbulnya
inkontinensia urine dan hal ini selalu dihubungkan dengan kerusakan dasar panggul selama
persalinan pervagina (Herschorn, 2004). Inkontinensia yang sering terjadi pada ibu
postpartum adalah stres inkontinensia urine. Terjadinya inkontinensia ini karena faktor
sfingter (uretra) yang tidak mampu mempertahankan tekanan intrauretra pada saat tekanan
intravesika meningkat atau saat kandung kemih terisi. Peningkatan tekanan intraabdominal
dapat dipacu oleh batuk, bersin tertawa, berjalan, berdiri, atau mengangkat benda berat
(Wayman, 2003). Penilaian terhadap kejadian stres inkontinensia urine pada penelitian ini
menunjukkan bahwa kelompok yang melakukan senam Kegel lebih rendah (13,3%)
dibandingkan dengan kelompok kontrol (tidak melakukan senam Kegel) (63,3%).
Pembahasan di atas juga didukung oleh jurnal lainnya Pengaruh Latihan Kegel
Terhadap Frekuensi lnkontinensia Urine Pada Lansia bahwa Dari hasil penelitian di Panti
Wreda Pucang Gading Semarang tentang pengaruh latihan kegel terhadap frekuensi
inkontinensia urine pada 24 responden, didapatkan hasil bahwa ada pengaruh latihan kegel
terhadap frekuensi inkontinensia urine pada lansia (p < 0.05). Hasil penelitian ini sesuai
dengan penelitian sejenis yang dilakukan sebelumnya oleh Flynn, L tentang keefektifan
latihan otot pelvis dalam mengurangi inkontinensia urgensi atau gabungan dari inkontinensia
urgensi dan inkontinensia stress yang diujicobakan pada 37 orang lansia yang bertempat
tinggal di komunitas dengan rentang usia 58 sampai 92 tahun. Dimana hasil akhir penelitian
adalah latihan-latihan tersebut efektif untuk kedua jenis inkontinensia.
2. Bladder Training
Selain pemberian terapi pelvic floor muscle, pasien dengan inkontinensia urine dapat pula
diberikan bladder training. Bladder training merupakan penatalaksanaan yang bertujuan
untuk melatih kembali kandung kemih ke pola berkemih normal dengan menstimulasi
pengeluaran urin. Pada perawatan maternitas, bladder training dilakukan pada ibu yang telah
mengalami gangguan berkemih seperti inkontinensia urin atau retensio urin. Padahal

32

sesungguhnya bladder training dapat mulai dilakukan sebelum masalah berkemih terjadi
pada ibu postpartum, sehingga dapat mencegah intervensi invasif seperti pemasangan kateter
yang justru akan meningkatkan kejadian infeksi kandung kemih. Selama ini apabila ibu
postpartum mengalami masalah BAK, maka salah satu tindakan penyelesaiannya adalah
melalui pemasangan kateter untuk mencegah peregangan kandung kemih yang berlebihan.
Bladder training adalah kegiatan melatih kandung kemih untuk mengembalikan pola
normal berkemih dengan menghambat atau menstimulasi pengeluaran urin. Dengan bladder
training diharapkan ibu postpartum dapat BAK secara spontan dalam enam jam postpartum.
Program latihan dalam bladder training meliputi penyuluhan, upaya berkemih terjadwal, dan
memberikan umpan balik positif. Tujuan dari bladder training adalah melatih kandung kemih
untuk

meningkatkan

kemampuan

mengontrol,

kemampuan berkemih secara spontan.

33

mengendalikan,

dan

meningkatkan

BAB VI
ASPEK LEGAL ETIK
5.1 ANALISA KASUS LEGAL ETIK
Aspek legal etik keperawatan dalam pemberian asuhan keperawatan untuk pasien
inkontinensia urien:
a) Autonomy (hak pasien memilih)
Hak pasien untuk memilih treatment/penanganan yang terbaik untuk dirinya.sebagai
seorang perawat harus memenuhi hak-hak pasien dalam melakukan perawatan dan
pengobatan. Apabila tidak dilakukan sesuai harapan pasien maka ketidakefektifan
dalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien inkontinensia urine sehingga
penyembuhan penyakit pun tidak maksimal.
b) Beneficence (Bertindak untuk keuntungan pasien)
Kewajiban untuk melakukan hal yang menguntungkan pasien dan secara aktif
berkontribusi bagi kesehatan dan kesejahteraan pasien.Sebagai perawat harus
melakukan tindakan perawatan maupun pengobatan yang tidak membahayakan
pasien.Misalnya, dalam memberikan terapi baik medikasi maupun non medikasi
terhadap pasien inkontinensia urine. Dalam hal ini diharapkan seorang perawat
memberikan health education terkait proses pengobatan serta terapi perilaku berkemih
agar pasien dapat mengontrol berkemihnya dengan baik.
c) Confidentiality
Kerahasiaan pasien sangatlah penting untuk tidak dipublikasikan karena merupakan
privasi pasien. Apabila dilanggar oleh seorang perawat maka kesehatan pasien akan
terganggu. Karena pasien merasa memiliki harga diri yang rendah saat tahu bahwa
mengalami inkontinensia urine yang dapat menganggu citra diri pasien.
d) Veracity (Truthfullness & honesty): Kewajiban untuk mengatakan kebenaran.
Segala pernyataan di dalam perawatan baik bagi pasien maupun perawat harus selalu
mengutarakan kebenaran saat melakukan tindakan (bagi perawat) maupun dalam

34

pengkajian (bagi pasien).Apabila pasien tidak mengutarakan kebenaran saat dilakukan


pengkajian oleh seorang perawat maka dalam asuhan keperawatan belum
maksimal.Begitu pula perawat apabila tidak mengutarakan kebenaran kepada pasien
mengenai penyakitnya maka (dampak tidak mengutarakan kebenaran).

35

5.2 MEMBUAT KEPUTUSAN


Pemberian asuhan keperawatan pada pasien inkontinensia uirne diharapkan seorang
perawat memberikan health education setelah melakukan pengkajian sehingga mempermudah
perawat dan tim medis lainnya dalam proses pengobatan pasien inkontinensia urine. Selain
itu, harus adanya informed consent terkait penanganan pasien agar tidak terjadi kesalahan
(malpraktik) selama pelaksanaan asuhan keperawatan berlangsung sehingga baik pasien
maupun keluarga pasien tidak menuntut jika terjadi tindakan diluar rencana asuhan
keperawatan.

36

BAB VII
PENUTUP
6.1 KESIMPULAN
Inkontinensia urine adalah ketidakmampuan seseorang untuk menahan urine yang keluar
dari kandung kemih, baik disadari ataupun tidak disadari (Arif Muttaqin & Kumala Sari,
2009).
Penanganan untuk pasien inkontinensia urine dapat dilakukan terapi medikasi maupun
non medikasi.Terapi non medikasi dapat dilakukan terapi pelvis floor muscle yaitu latihan
dasar otot panggul untuk mengembalikan fungsi sfingter dalam kandung kemih sehingga
dapat mengontrol pasien dalam berkemih.
6.2 SARAN
Saran bagi perawat di samping pemberian asuhan keperawatan yang juga menerapkan
aspek legal etik keperawatan yang mengedepankan hak-hak pasien karena masalah kesehatan
yang dialami pasien bersifat privasi dan seorang perawat harus menjaga privasi pasien
dengan baik yang sesuai dengan aspek legal etik.

37