Anda di halaman 1dari 52

Anatomi dan fisiologi prostat

2.1.4. KELENJAR PROSTAT


A. ANATOMI
Prostat adalah suatu organ kelenjar yang fibromuskular, yang terletak persis dibawah
kandung kemih. Berat prostat pada orang dewasa normal kira-kira 20 gram, didalamnya
terdapat uretra posterior dengan panjangnya 2,5 3 cm. Pada bagian anterior disokong oleh
ligamentum pubo-prostatika yang melekatkan prostat pada simpisis pubis. Pada bagian
2003 Digitized by USU digital library 6
posterior prostat terdapat vesikula seminalis, vas deferen, fasia denonvilliers dan rectum.
Fasia denonvilliers berasal dari fusi tonjolan dua lapisan peritoneum, fasia ini cukup keras
dan biasanya dapat menahan invasi karsinoma prostat ke rectum sampai suatu stadium
lanjut. Pada bagian posterior ini, prostat dimasuki oleh ductus ejakulatorius yang berjalan
secara oblique dan bermuara pada veromentanum didasar uretra prostatika persis dibagian
proksimal spingter eksterna. Pada permukaan superior, prostat melekat pada bladder outlet
dan spingter interna sedangkan dibagian inferiornya terdapat diafragama urogenitalis yang
dibentuk oleh lapisan kuat fasia pelvis, dan perineal membungkus otot levator ani yang
tebal. Diafragma urogenital ini pada wanita lebih lemah oleh karena ototnya lebih sedikit
dan fasia lebih sedikit ( Weineth,1992).
Menurut klassifikasi Lowsley; prostat terdiri dari lima lobus: anterior, posterior, medial,
lateral kanan dan lateral kiri. Sedangkan menurut Mc Neal, prostat dibagi atas : zona perifer,
zona sentral, zona transisional, segmen anterior dan zona spingter preprostat. Prostat
normal terdiri dari 50 lobulus kelenjar. Duktus kelenjar-kelenjar prostat ini lebih kurang 20
buah, secara terpisah bermuara pada uretra prostatika, dibagian lateral verumontanum,
kelenjar-kelenjar ini dilapisi oleh selapis epitel torak dan bagian basal terdapat sel-sel kuboid
(Nasar,1985; Tanango,1995).
B. PEMBULUH DARAH, LIMFE DAN SARAF
Arteri prostat berasal dari arteri vesika inferior, arteri pudendalis interna arteri hemoroidalis
medialis. Arteri utama memasuki prostat pada bagian infero-lateral persis dibawah bladder
neck, ini harus diligasi atau didiatermi pada waktu operasi prostatektomi.
Darah vena prostat dialirkan kedalam fleksus vena periprostatika yang berhubungan dengan
vena dorsalis penis, kemudian dialirkan ke vena iliaka interna yang juga berhubungan
dengan pleksus vena presakral. Oleh karena struktur inilah sering dijumpai metastase
karsinoma prostat secara hematogen ke tulang pelvis dan vertebra lumbalis.
Persarafan kelenjar prostat sama dengan persarafan kandung kemih bagian inferior
yaitu fleksus saraf simpatis dan parasimpatis.
Aliran lymph dari prostat dialirkan kedalam lymph node iliaka interna (hipogastrika),
sacral, vesikal dan iliaka aksterna (Tanango,1995).
C. FISIOLOGI
Kelenjar prostat dikelilingi oleh otot polos yang berkontraksi selama ejakulasi,
mengeluarkan lebih kurang 0,5 ml cairan prostat tetapi fungsi pasti cairan ini belum
diketahui, paling tidak sebagai medium pembawa sperma.
Prostat adalah organ yang bergantung kepada pengaruh endokrin, dapat dianggap
imbangannya (counterpart) dengan payudara pada wanita. Pengetahuan mengenai sifat
endokrin ini masih belum pasti, tetapi pada pengebirian kelenjar prostat jelas akan
mengecil. Jadi prostat dipengaruhi oleh hormon androgen, ternyata bagian yang sensitive
terhadap androgen adalah bagian perifer, sedangkan yang sensitive terhadap estrogen
adalah bagian tengah. Karena itu pada orang tua bagian tengahlah yang mengalami
hiperplasia, oleh karena sekresi androgen yang berkurang sedangkan estrogen bertambah
secara relatif ataupun absolut (Blandy,1983; Ganong, 1983; Burkit 1988).

Berat kelenjar
prostat pada orang dewasa kira-kira 20 gram dengan ukuran rata-rata :
panjang 3,4 cm, lebar 4,4 cm, tebal 2,6 cm. Secara embriologis terdiri
dari 5 lobus yaitu lobus medius 1 buah, lobus anterior 1 buah, lobus
posterior 1 buah, lobus lateral 2 buah. Selama perkembangannya lobus
medius, lobus anterior dan lobus posterior akan menjadi satu disebut
lobus medius. Pada penampang lobus medius kadang-kadang tidak
tampak karena terlalu kecil dan lobus ini tampak homogen berwarna
abu-abu, dengan kista kecil berisi cairan seperti susu, kista ini disebut
kelenjar prostat. Pada potongan melintang uretra pada posterior kelenjar prostat
terdiri dari:
a. Kapsul anatomis.
Jaringan stroma yang terdiri dari jaringan fibrosa dan
jaringan muskuler. Jaringan kelenjar yang terbagi atas 3 kelompok
bagian :
1. Bagian luar disebut kelenjar sebenarnya.
2. Bagian tengah disebut kelenjar sub mukosal, lapisan ini disebut
juga sebagai adenomatus zone.
3. Di sekitar uretra disebut periuretral gland. Saluran keluar dari
ketiga kelenjar tersebut bersama dengan saluran dari vesika
seminalis bersatu membentuk duktus ejakulatoris komunis yang
bermuara ke dalam uretra. Menurut Mc Neal, prostat dibagi atas
: zona perifer, zona sentral, zona transisional, segmen anterior
dan zona spingter preprostat. Prostat normal terdiri dari 50
lobulus kelenjar. Duktus kelenjar-kelenjar prostat ini lebih
kurang 20 buah, secara terpisah bermuara pada uretra prostatika,
dibagian lateral verumontanum, kelenjar-kelenjar ini dilapisi
oleh selaput epitel torak dan bagian basal terdapat sel-sel kuboid
(Anderson, 1999).
2. Fisiologi
Pada laki-laki remaja prostat belum teraba pada colok dubur,
sedangkan pada orang dewasa sedikit teraba dan pada orang tua
biasanya mudah teraba. Sedangkan pada penampang tonjolan pada
proses hiperplasi prostat, jaringan prostat masih baik. Pertambahan
unsur kelenjar menghasilkan warna kuning kemerahan, konsisitensi
lunak dan berbatas jelas dengan jaringan prostat yang terdesak
berwarna putih ke abu-abuan dan padat. Apabila tonjolan itu ditekan,
keluar cairan seperti susu. Apabila jaringan fibromuskuler yang
bertambah tonjolan berwarna abu-abu padat dan tidak mengeluarkan
cairan sehingga batas tidak jelas. Tonjolan ini dapat menekan uretra
dari lateral sehingga lumen uretra menyerupai celah. Terkadang juga
penonjolan ini dapat menutupi lumen uretra, tetapi fibrosis jaringan
kelenjar yang berangsur-angsur mendesak prostat dan kontraksi dari
vesika yang dapat mengakibatkan peradangan(Brunner & Suddarth,
2001).

A. ANATOMI DAN FISIOLOGI PROSTAT


Prostat berbentuk seperti piramid terbalik dan merupakan organ kelenjar
fibromuskuler yang mengelilingi uretra pars prostatica. Panjang prostat sekitar 3 cm
dan terletak antara collum vesika urinaria (atas) dan diaphragma urogenitalis
(bawah). Prostat dikelilingi oleh kapsula fibrosa. Di luar kapsul terdapat selubung
fibrosa, yang merupakan bagian dari lapisan visceral fascia pelvis. Prostat
mempunyai basis, apex, permukaan anterior dan posterior, dan dua permukaan
lateral. Prostat adalah organ genitalia pria yang terletak di sebelah inferior buli-buli,
di depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya seperti buah kemiri
dengan ukuran 4 x 3 x 2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram. Kelenjar ini
terdiri atas jaringan fibromuskular dan glandular yang terbagi dalam beberapa
daerah atau zona, yaitu : perifer, sentral, transisional, preprostatik sfingter dan
anterior (Mc Neal 1970).

1. Batas-batas prostat
Batas superior : basis prostat melanjutkan diri sebagai collum vesica urinaria, otot
polos berjalan tanpa terputus dari satu organ ke organ yang lain.
Batas inferior : apex prostat terletak pada permukaan atas diafragma urogenitalis.
Uretra meninggalkan prostat tepat diatas apex permukaan anterior.
Anterior : permukaan anterior prostat berbatasan dengan simphisis pubis,
dipisahkan dari simphisis oleh lemak ekstraperitoneal yang terdapat pada cavum
retropubica(cavum retziuz). Selubung fibrosa prostat dihubungkan dengan
permukaan posterior os pubis dan ligamentum puboprostatica. Ligamentum ini
terletak pada pinggir garis tengah dan merupakan kondensasi vascia pelvis.
Posterior : permukaan posterior prostat berhubungan erat dengan permukaan
anterior ampula recti dan dipisahkan darinya oleh septum retovesicalis (vascia
Denonvillier). Septum ini dibentuk pada masa janin oleh fusi dinding ujung bawah
excavatio rectovesicalis peritonealis, yang semula menyebar ke bawah menuju
corpus perinealis.
Lateral : permukaan lateral prostat terselubung oleh serabut anterior m. levator ani
waktu serabut ini berjalan ke posterior dari os pubis.
Ductus ejaculatorius menembus bagisan atas permukaan prostat untuk bermuara
pada uretra pars prostatica pada pinggir lateral orificium utriculus prostaticus.
Prostat secara tak sempurna dibagi dalam lima lobus. Lobus anterior, atau isthmus,
terletak di depan uretra dan tidak mempunyai jaringan kelenjar. Lobus medius,
adalah kelenjar yang berbentuk baji yang terletak antara uretra dan ductus
ejaculatorius. Permukaan atasnya dibatasi oleh trigonum vesicae. Bagian ini kaya
akan kelenjar. Lobus posterior terletak di belakang uretra dan di baeah ductus
ejaculatorius dan juga mengandung jaringankelenjar. Lobus lateral kanan dan kiri
terletak di samping uretra dan dipisahkan satu sama lain oleh alur vertikal dangkal
yang terdapat pada permukaan posterior prostat. Lobus lateral mengandung
banyak kelenjar.

Fungsi prostat adalah menghasilkan cairan tipis seperti air susu yang mengandung
asam sitrat dan fosfatase asam. Kedua zat ini ditambahkan ke caioran semen pada
saat ejakulasi. Otot polos pada stroma dan kapsula berkontraksi dan sekret yang
berasawl bersama kelenjar diperas masuk ke uretra pars prostatid. Sekret prostat
bersifat alkali yang membantu menetralkan keasamavagina.

Seperti diketahui fungsi utama dari unit vesikouretra adalah menampung urin untuk
sementara, mencegah urin kembali ke arah ginjal dan pada saat-saat tertentu
melakukan ekspulsi urin. Unit vesikouretra terdiri dari buli-buli dan uretra posterior.
Uretra posterior terdiri dari uretra pars prostatika, yang bagian proksimalnya
disebut sebagai leher buli-buli dan uretra pars diafragma yang tidak lain adalah
spinkter eksterna uretra. Unit vesikouretra ini dipelihara oleh sistem saraf otonom
yaitu parasimpatis dan simpatis untuk buli-buli dan uretra proksimal dari diafragma
serta saraf somatis melalui nervus pudendus untuk spinkter eksterna. Sistem
persyarafan tersebut memungkinkan terjadinya proses miksi secara bertahap (fase)
yaitu :
1. Fase Pengisian (Resting /Filling Phase)
Fase ini terjadi setelah selesai miksi dan buli-buli mulai diisi lagi dengan urin dari
ginjal yang masuk melalui ureter. Pada fase ini tekanan di dalam buli-buli selalu
rendah, kurang dari 20 cm H2O. Sedangkan tekanan di uretra posterior selalu lebih
tinggi antara 60-100 cm H2O.
2. Fase Ekspulsi
Setelah buli-buli terisi urin sebanyak 200-300 ml dan mengembang , mulailah
reseptor strecht yang ada pada mukosa buli-buli terangsang dan impuls
dikirimkan ke sistem saraf otonom parasimpatis di medula spinalis segmen 2
sampai 4 dan sistem syaraf ini menjadi aktif dengan akibat meningkatnya tonus
buli-buli (muskulus detrusor). Meningkatnya tonus detrusor ini dirasakan sebagai
perasaan ingin kencing. Pada saat tonus detrusor meningkat maka secara sinkron
leher buli-buli dan uretra pars prostatika membuka, bentuknya berubah seperti
corong dan tekanannya menurun. Pada keadaan ini inkontinensia hanya
dipertahankan oleh spinkter eksterna yang masih tetap menutup. Bila yang
bersangkutan telah mendapatkan tempat yang dianggap konvivien untuk miksi
barulah spinkter eksterna secara sadar dan terjadi miksi. Pada saat tonus detrusor
meningkat sampai terjadinya miksi tekanan intravesikal mencapai 60-120 m
2. Perdarahan, penyaliran limfe, dan persyarafan
Arteri yang memperdarahi prostat berasal dari cabang a. vesicalis inferior dan a.
rectalis media. Vena membentuk pleksus venosus prostatiticus yang terletak antara
kapsula prostat dan selubung fibrosa. Plexus prostaticus menerima v. dorsalis
profundus penis dan banyak v. vesicalis , dan mengalirkan darah ke v. iliaca interna.
Pembuluh limfe dari prostat mengalirakn cairan limfe ke nodi limfatici iliaca interna.

Persarafan prostat berasal dari plexus hipogastricus inferior.


Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu komponen dari
cairan ejakulat. Cairan kelenjar ini dialirkan melalui duktus sekretorius dan
bermuara di uretra posterior untuk kemudian dikeluarkan bersama cairan semen
yang lain pada saat ejakulasi. Cairan ini merupakan kurang lebih 25% dari volume
ejakulat. Jika kelenjar ini mengalami hiperplasi jinak atau berubah menjadi kanker
ganas dapat membuntu uretra posterior dan mengakibatkan terjadinya obstruksi
saluran kemih.
B. ETIOLOGI BPH
Penyebab dari BPH sampai sekarang belum dapat dipahami dengan jelas. Tidak ada
informasi yang jelas tentang faktor resiko terjadinaya BPH. Beberapa penelitian
menunjukan bahwa BPH banyak terjadi pada orang tua dan tidak berkembang pada
pria yang testisnya diambil sebelum usia pubertas. Karena alasan ini, beberapa
peneliti percaya bahwa faktor yang berhubungan dengan usia dan testis pria sangat
berpengaruh dengan perkembangan BPH. Pria memproduksi hormon terpenting
pada sistem reproduksi yaitu testosteron dan sebagian kecil adalah hormon
estrogen. Pada saat pria mulai berumur maka jumlah testosteron yang aktif di
dalam darah menurun dan kadar estrogen lebih tinggi. Penelitian yang dilakukan
pada binatang menunjukkan bahwa BPH disebabkan oleh tingginya kadar estrogen
dalam darah disertai dengan peningkatan aktivitas dari substansi yang
mempercepat pertumbuhan sel.
Walaupun prostat terus membesar selama lebih dari separuh hidup manusia,
pembesarannya tidak selalu menimbulkan masalah sampai pada usia terakhir
manusia. Dengan bertambahnya usia akan terjadi keseimbangan testosteron
estrogen, karena produksi testosteron menurun dan terjadi konversi testosteron
menjadi estrogen pada jaringan adiposa di perifer. Berdasarkan angka autopsi
perubahan mikroskopik pada prostat dapat ditemukan pada usia 30-40 tahun. Bila
perubahan mikroskopiuk ini terus berkembang akan terjadi perubahan patologik
anatomik. Pada pria usia 50 tahun angka kejadiannya sekitar 50%, dan pada usia 80
tahun sekitar 80%. Sekitar 50% dari angka tersebut diatas akan menyebabkan
tanda dan gejala klinik.
Penelitian lain mengatakan BPH lebih banyak disebabkan karena dehidrotestoteron
(DHT), yaitu substansi yang merupakan derivat dari testoteron dalam prostat yang
membantu mengatur pertumbuhan kelenjar prostat. Beberapa binatang kehilangan
kemampuannya untuk memproduksi DHT ketika tua. Walau demikian, beberapa
penelitian menyatakan bahwa walaupun kadar testoteron dalam darah menurun
tetapi DHT terkumpul dalam jumlah besar di dalam prostat. Akumulasi DHT ini
mengakibatkan pertumbuhan sel. Jadi para peneliti tersebut menitikberatkan bahwa
pria yang tidak memproduksi DHT tidak terjadi pembesaran kelenjar prostat..
Beberapa teori telah dikemukakan berdasarkan faktor histologi, hormon, dan faktor
perubahan usia, di antaranya:
1.Teori DHT (dihidrotestosteron): testosteron dengan bantuan enzim 5-a reduktase

dikonversi menjadi DHT yang merangsang pertumbuhan kelenjar prostat.


2.Teori Reawakening. Teori ini berdasarkan kemampuan stroma untuk merangsang
pertumbuhan epitel. Menurut Mc Neal, seperti pada embrio, lesi primer BPH adalah
penonjolan kelenjar yang kemudian bercabang menghasilkan kelenjar-kelenjar baru
di sekitar prostat. Ia menyimpulkan bahwa hal ini merupakan reawakening dari
induksi stroma yang terjadi pada usia dewasa.
3.Teori stem cell hypotesis. Isaac dan Coffey mengajukan teori ini berdasarkan
asumsi bahwa pada kelenjar prostat, selain ada hubungannya dengan stroma dan
epitel, juga ada hubungan antara jenis-jenis sel epitel yang ada di dalam jaringan
prostat. Stem sel akan berkembang menjadi sel aplifying. Keduanya tidak
tergantung pada androgen. Sel aplifying akan berkembang menjadi sel transit yang
tergantung secara mutlak pada androgen, sehingga dengan adanya androgen sel ini
akan berproliferasi dan menghasilkan pertumbuhan prostat yang normal.
4.Teori growth factors. Teori ini berdasarkan adanya hubungan interaksi antara
unsur stroma dan unsur epitel prostat yang berakibat BPH. Faktor pertumbuhan ini
dibuat oleh sel-sel stroma di bawah pengaruh androgen. Adanya ekspresi
berlebihan dari epidermis growth factor (EGF) dan atau fibroblast growth factor
(FGF) dan atau adanya penurunan ekspresi transforming growth factor- b (TGF - b,
akan menyebabkan terjadinya ketidakseimbangan pertumbuhan prostat dan
menghasilkan pembesaran prostat.
Namun demikian, diyakini ada 2 faktor penting untuk terjadinya BPH, yaitu adanya
dihidrotestosteron (DHT) dan proses penuaan. Pada pasien dengan kelainan
kongenital berupa defisiensi 5-a reduktase, yaitu enzim yang mengkonversi
testosteron ke DHT, kadar serum DHT-nya rendah, sehingga prostat tidak
membesar. Sedangkan pada proses penuaan, kadar testosteron serum menurun
disertai meningkatnya konversi testosteron menjadi estrogen pada jaringan
periperal. Pada anjing, estrogen menginduksi reseptor androgen. Peran androgen
dan estrogen dalam BPH adalah kompleks dan belum jelas benar. Tindakan kastrasi
sebelum masa pubertas dapat mencegah BPH. Pasien dengan kelainan genetik
pada fungsi androgen juga mempunyai gangguan pertumbuhan prostat. Dalam hal
ini, barangkali androgen diperlukan untuk memulai proses PPJ, tetapi tidak dalam
hal proses pemeliharaan. Estrogen berperan dalam proses hiperplasia stroma yang
selanjutnya merangsang hiperlpasia epitel.
C. PATOGENESIS
Karena proses pembesaran prostat terjadi secara perlahan-lahan maka efek
perubahannya juga terjadin secara perlahan-lahan. Pada tahap awal setelah terjadi
pembesaran prostat, resistensi pada leher vesika dan daerah prostat meningkat,
dan detrusor menjadi lebih tebal. Penonjolan serat detrusor ke dalam kandung
kemih dengan sistoskopi akan terlihat seperti balok yang disebut trabekulasi (bulibuli balok). Mukosa dapat menerobos keluar diantara serat detrusor. Tonjolan serat
yang kecil dinamakan sakula, sedangkan yang besar dinamakan divertikel. Fase
penebalan detrusor ini disebut fase kompensasi otot dinding. Apabila keadaan

berlanjut maka detrusor menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan
tidak mampu lagi untuk berkontraksin sehingga terjadi retensi urin.
Apabila vesika menjadi dekompensasi, akan terjadi retensi urin sehingga pada akhir
miksi masih ditemukan sisa urin dalam kandung kemih, dan timbul rasa tidak tuntas
pada akhir miksi. Jika keadaan ini berlanjut maka pada suatu saat akan terjadi
kemacetan total sehingga penderita tidak mampu lagi miksi. Karena produksi urin
terus terjadi maka vesika tidak mampu lagi menampung urin sehingga tekanan
intravesika terus meningkat dan dapat terjadi inkontinensia paradoks. Retensi
kronik menyebabkan refluks vesiko-ureter, hidroureter, hidronefrosis, dan gagal
ginjal. Proses kerusakan ginjal dipercepat bila terjadi infeksi. Pada waktu miksi
penderita terus mengedan sehingga lama kelamaan menyebabkan hernia atau
hemoroid. Karena selalu terbentuk sisa urin terbentuk batu endapan di dalam
kandung kemih. Batu ini dapat menambah keluhan iritasi dan menimbulkan
hematuria. Batu juga dapat menimbulkan sistitis dan bila terjadi refluks dapat
terjadi pielonefritis.
D. GEJALA DAN TANDA KLINIS
1. Gejala Klinis
Kumpulan gejala yang ditimbulkan oleh BPH disebut sebagai sindroma prostatisme.
Walaupun begitu sindroma ini tidak patogomonik untuk BPH. Obstruksi intra vesikal
yang lain dapat pula memberikan gejala klinis seperti sindroma prostatisme ini.
Oleh karena itu istilah ini belakangan sering diganti dengan Lower Urinary Tract
Symptom (LUTS). Sindroma prostatisme ini dibagi menjadi dua, yaitu gejala
obstruktif dan gejala iritatif.
Gejala obstruksi, terdiri dari pancaran melemah, akhir buang air kecil belum terasa
kosong (Incomplete emptying), menunggu lama pada permulaan buang air kecil
(hesitancy), harus mengedan saat buang air kecil (straining), buang air kecil
terputus-putus (intermittency), dan waktu buang air kecil memanjang yang akhirnya
menjadi retensi urin dan terjadi inkontinen karena overflow. Kedua, gejala iritatif
terdiri dari sering buang air kecil (frequency), tergesa-gesa untuk buang air kecil
(urgency), buang air kecil malam hari lebih dari satu kali (nocturia), dan sulit
menahan buang air kecil (urge incontinence). Dari kedua macam gejala tersebut,
gejala obstruktif biasanya lebih menonjol. Bila terjadi gejala iritasi lebihmenonjol
harus dipikirkan penyebab lain selain BPH.
Untuk menentukan derajat beratnya penyakit yang berhubungan dengan
penentuan jenis pengobatan BPH dan untuk menilai keberhasilan pengobatan BPH,
dibuatlah suatu skoring yang valid dan reliable. Terdapat beberapa sistem skoring,
di antaranya skor International Prostate Skoring System (IPSS) yang diambil
berdasarkan skor American Urological Association (AUA). Sistem skoring yang lain
adalah skor Madsen-Iversen dan skor Boyarski1,2,5. Skor AUA terdiri dari 7
pertanyaan. Pasien diminta untuk menilai sendiri derajat keluhan obstruksi dan

iritatif mereka dengan skala 0-5. Total skor dapat berkisar antara 0-35. Skor 0-7
ringan, 8-19 sedang, dan 20-35 berat1. Skor Madsen-Iversen terdiri dari 6
pertanyaan yang berupa pertanyaan-pertanyaan untuk menilai derajat obstruksi
dan 3 pertanyaan untuk gejala iritatif. Total skor dapat berkisar antara 0-29. Skor
<> 20 berat. Perbedaannya dengan skor AUA adalah dalam skor Madsen Iversen
penderita tidak menilai sendiri derajat keluhannya.
2. Tanda Klinis
Tanda klinis terpenting dalam BPH adalah ditemukannya pembesaran pada
pemeriksaan colok dubur/digital rectal examination (DRE). Ukuran dan konsistensi
prostat perlu diketahui, walaupun ukuran prostat yang ditentukan melalui DRE tidak
berhubungan dengan derajat obstruksi. Pada BPH, prostat teraba membesar dengan
konsistensi kenyal. Apabila teraba indurasi atau terdapat bagian yang teraba keras,
perlu dipikirkan kemungkinan keganasan.

F. PEMERIKSAAN FISIK
BPH biasanya mengenai pria usia lanjut oleh karena itu pada pemeriksaan fisik kita
menghadapi pria dengan tanda-tanda usia lanjut seperti rambut telah beruban,
pada kulit muka terdapat keriput dsb. Tanda-tanda vital seperti tensi, nadi, respirasi
biasanya cukup baik kecuali bila BPH nya telah disertai berbagai penyulit. Karena
usia penderita yang cukup lanjut, pemeriksaan keadaan umum penderita harus
dikerjakan dengan teliti, tidak jarang terdapat penyakit-penyakit lain seperti
hipertensi, obstruksi jalan nafas kronis, penyakit parkinson, diabetes melitus, bekas
stroke dan lain-lain. Pemeriksaan abdomen juga harus diteliti. Daerah pinggang
kanan dan kiri harus diperiksa dengan teknik palpasi bimanual. Bila ginjal teraba,
patut dicurigai adanya hidronefrosis karena stasis urin. Bila penderita merasakan
nyeri pada saat ditekan agak kuat, mungkin terdapat pyelonefritis.
Pada inspeksi daerah suprasimfisis, bila penderita dalam keadaan retensio urine,
akan kelihatan menonjol. Penonjolan ini bila dipalpasi akan terasa adanya
balottement dan penderita akan tersa ingin kencing. Kemudian dengan cara perkusi
dapat diperkirakan ada tidaknya residual urine Penting juga memeriksa penis dan
uretra untuk mendeteksi kemungkinan penyebab yang lain dari keluhannya
misalnya adanya stenosis meatus, striktur uretra, batu uretra, karsinoma ataupun
fimosis. Scrotum bisa juga diperiksa untuk menentukan ada tidaknya hernia, orchitis
maupun epidiymitis
Pemeriksaan Colok Dubur (Rectal Toucher = RT)
Sebelum dilakukan RT, penderita harus diminta miksi lebih dulu dan bila penderita
dalam keadaan retentio urin, RT dikerjakan setelah buli-buli dikosongkan dengan
kateter. Pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan tonus sfingter
anus, mukosa rektum, keadaan lain seperti benjolan di dalam rektum dan prostat.
Tujuan dari RT adalah :

1. Menentukan konsistensi dari prostat


Konsistensi prostat benigna seperti kalau kita menekan ujung hidung kita dan
permukaan seluruh kelenjar biasanya rata (halus). Bila konsistensi prostat
berdungkul atau terdapat bagian yang lebih keras, seperti kalau menekan daerah
tulang hidung atau sendi jari maka harus dipikirkan adanya karsinoma, prostatitis
kalkulosa, tbc prostat atau prostatitis granulomatosa.
2. Menentukan besarnya prostat
Secara RT besarnya prostat normal tersebut ditandai dengan batas batas yang
jelas, yaitu sulcus lateralis mudah diraba, batas atas juga mudah diraba. Dan
ditengahnya terdapat sulkus mediana yang juga mudah diraba.
Menentukan besarnya prostat secara RT keakuratannya rendah karena memang
banyak kendalanya, yaitu:
Memerlukan banyak pengalaman
Faktor subyektifitasnya besar, antara satu pemeriksa dengan pemeriksa lain sangat
bervariasi.
Sering prostat membesar intra vesika.
Secara RT besarnya prostat dibedakan :
- grade (derajat ) I : perkiraan beratnya sampai dengan 20 gram.
- grade (derajat) II : perkiraan beratnya antara 20-40 gram.
- grade (derajat) III : perkiraan beratnya lebih dari 40 gram

3. Menentukan sistem persyarafan unit vesiko urtetra.


Tonus sphinter yang normal, tidak longgar waktu jari telunjuk dimasukkan dan
refleks bulbo kaverosa (BCR) yang positif menandakan bahwa persyarafan unit
vesiko uretra tidak intake. Bila dengan mendadak glans penis ditekan dengan
tangan kiri dan pada jari telunjuk yang di rektum terasa kontarksi dari sphinter ani
maka dikatakan bahwa BCR positif.
G. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1. Pemeriksaan Laboratorium
Pemeriksaa darah lengkap, faal ginjal, elektrolit serum, perlu dikerjakan sebagai
dasar keadaan umum penderita. Pemeriksaan kadar gula juga perlu dikerjakan
terutama untuk megetahui kemungkinan adanya neuropati diabetes yang dapat
menyebabkan keluhan miksi. Pemeriksaan urinalisa juga harus dikerjakan, termasuk
pemeriksaan bakteriologiknya. Adanya hematuria berarti perlu evaluasi lenjut
secara lengkap. Pemeriksaan petanda tumor (Prostate Spesific Antigen = PSA)
sudah banyak digunakan, juga merupakan salah satu sarana untukmenyingkirkan
dugaan keganasan.
Harap diingat bahwa masa prostat yang besar dapat menaikkan kadar PSA dalam
darah dalam batas-batas tertentu. Hasil PSA yang normal merupakan salah satu
syarat yang harus dipenuhi sebelum memulai terapi medikamentosa BPH. Sebagai
pegangan penilaian PSA diintrepetasikan sebagai berikut :
Nilai PSA

Interpretasi
0,5-4,0 ng/ml
Normal
4,0-10 ng/ml
Kemingkinan Ca 20 % (perlu TRUS & biopsi)
> 10 ng/ml
Kemingkinan Ca 50 % (Perlu TRUS & biopsi)
Kenaikan > 20%/th
Segera rujuk untuk TRUS & biopsi
2. Pemeriksaan Uroflowmetri
Salah satu gejala BPH adalah melemahnya pancaran urin. Secara obyektif pancaran
urin ini dapat diperiksa dengan Uroflowmeter. Jumlah urine yang cukup untuk
mendapatkan flowmetrogram yang representatif palaling sedkit 150 ml dan
maksimal 400 ml, yang ideal antara 200-300 ml.
Penilaian hasil :
Flow rate maksimal : 15 ml/detik : non obstuktif
10-15 ml/detik : border line
10 ml/detik : obstruktif
Walaupun ada beberapa prosedur untuk mendiagnosis BPH, Uroflowmetri
merupakan cara terbaik dan paling tidak invasif dalam mendeteksi adanya
obstruksi traktus urinarius bagian bawah.
3. Pemeriksaan Imaging dan Rontgenologik
Perkembangan teknik pemeriksaan ultrasonogarfi (USG) membawa manfaat yang
besar bagi evaluasi penderita BPH. Selain itu dengan USG ini dapat pula diperiksa
buli-buli, misalnya ada batu buli-buli, tumor buli-buli, divertikel. Juga dapat diperiksa
jumla residual urine. Terdapat beberapa macam tranducer untuk pemeriksaan
prostat yaitu suprapubic (abdominal), transrektal dan transuretral.
Pemeriksaan Rontgenologik yaitu pyelografi intravena (IVP) sekarang tidak lagi
merupakan pemeriksaan rutin untuk evaluasi penderita BPH tetapi hanya dikerjakan
secara selektif.
4. Pemeriksaan Panendoskopi :
Dengan pemeriksaan panendoskopi dapat ditentukan secara review :
Keadaan uretra anterior, misalnya adanya striktur uretra
Keadaan uretra prostatika, bagian prostat mana yang membesar, panjangnya uretra
yang obstruktif karena pembesaran prostat
Keadaan didalam buli-buli yaitu ada tidaknya tumor, batu, hipertropi dari detrusor,
ada tidaknya selulae atau divertikel dan keadaan muara ureter dan mengetahui
kapasitas buli-buli.
H. DIAGNOSA BANDING
Sindroma prostatisme tidak hanya disebabkan oleh BPH, tetapi dapat pula

disebabkan beberapa penyakit lain. Beberapa penyakit lain serta pedoman


membedakannya seperti dibawah ini :
1. striktur uretra
2. Stenosis leher buli-buli
3. Batu buli-buli atau batu yang menyumbat uretra posterior
4 .Karsinoma prostat
5. prostatitis/prostatodinia
6. Buli-buli neuropati.
7. Pengaruh obat-obatan (Simpatolitik, Psikotropik, Alfa Adrenergik)
I. TERAPI
Tidak semua penderita BPH memerlukan terapi, untuk menentukan apakah
penderita BPH perlu mendapatkan terapi serta modalitas terapi mana yang akan
dipilih tergantung dari berat ringannya keluhan serta tanda-tanda klinis dari
penderita. Keluhan ringan, sedang atau bert dinilaindengan menggunakan sistem
skoring. Bebereapa modalitas terapi untuk BPH antara lain :
1. Watchful Waiting (Observasi)
Watchful atau observasi adalah hanya mengawasi saja secara berkala dan tidak
memberikan pengobatan. Pengawasan berkala maksudnya adalah memeriksa ulang
setiap 3-6 bulan kemudian setiap tahun tergantung keadaan penderita. Pada
pemeriksaan ulang ini dinilai skor dari simtomnya, fisik, laboratorium dan flow
urinnya. Indikasi dari sikap watchful adalah BPH yang diketemukan secara
kebetulan, penderita dengan keluhan yang ringan (berdasarkan nilai skoring) serta
tidak dijumpai penyulit.
2. Medikamentosa
Indikasi dari terapi medikamentosa adalah BPH dengan keluhan ringan, sedang,
berat tanpa disertai penyulit dan BPH dengan indikasi terapi pembedahan tetapi
masih terdapat indikasi kontra atau belum well motivied. Macam obat yang
digunakan adalah :
a. Supresi Androgen
Asumsi yang mendasari terapi dengan supresi androgen pada BPH adalah kontrasi
atau supresi androgen menurunkan volume dan gejala prostat pada penderita BPH,
dan pria dengan kelainan bawaan berupa defisiensi enzim 5 reduktase, ternyata
kelenjar prostat tidak berkembang. Supresi androgen dapat terjadi dengan
memberikan :
1) Penghambat enzim 5 reduktase
2) Anti androgen
3) Analog Luteinizing hormone relasting hormone (LHRH).
Anti androgen dan analog LHRH tidak dipakai untuk pengobatan BPH karena efek
sampingnya sangat merugikan. Efek samping tersebut ialah hilangnya libido,
impotensi, hilangnya habitus pria, ginekomastia dan rasa panas di wajah.
Keuntungan dari inhibitor 5 reduktase adalah tidak menurunkan kadar testoteron

di dalam darah, sehingga efek samping seperti disebutkan diatas jarang terjadi.
Prinsip kerja dari obat ini menghambat metabolisme testoteron menjadi
dehidrotestoteron (DHT) yang mrupakan zat aktif perangsang terjadinya hiperplasi
prostat. Obat 5 reduktase yng tersedia di pasar adalah golongan Finasterida
dengan nama dagang di Indonesia PROSCAR. Obat ini diberikan per oral, sekali
sehari/ tablet. Secara berkala penderita diperiksa lagi dan dievaluasi parameter pra
terapi. Bila menunjukkan perbaikan terapi diteruskan dan bila tidak,
dipertimbangkan terapi pembedahan.
b. Golongan Alpha Blocker
Tegangan otot polos prostat dikontrol dominan oleh reseptor alpha-1. Kontraksi otot
polos prostat, yang merupakan bagian dari sindroma obstruktif BPH, dapat
dihambat oleh obat-obat alpha blocker, misalnya : phenoxybenzamin, alfuzosin,
doxazin, indoramin dan terazosin. Tetapi harus dimulai dengan dosis rendah dan
dengan hati-hati dinaikkan, tergantung respons individual. Penelitian kontrol
plasebo, menunjukkan bahwa alpha blocker dapat memperbaiki flow urin dan
gejala-gajala BPH. Obat ini harus diberikan dengan cara titrasi (dosis dinaikkan
bertahap), biasanya perbaikan tampak 2-3 minggu setelah pemberian dan bila tidak
ada efek setelah 3-4 bulan pemberian secara titrasi, maka alternatif terapi lain
harus dipertimbangkan.
Pada tiga studi menggunakan alpha blocker menghasilkan hasil yang sama. Skor
keluhan menurun dengan mean 16,85-17,9% dibanding 14,5% pada plasebo. Flow
urin membaik kurang lebih 3 ml/ detik.
Efektifitas jangka panjang belum diketahui. Efek samping yang dapat terjadi
meliputi takikardi, palpitasi, kelemahan, lelah dan hipertensi postural yang dapat
menimbulkan masalah pada pasien-pasien pasca penyakit serebrovaskuler atau
riwayat sinkop. Pusing atau vertigo dan sefalgia terjadi pada 10-15% pasien, dan
hipertensi postural pada 2-5% pasien.
3. Intervensi Invasif
1) Open prostatektomi
Dikenal 2 cara :
a. Freyer
Teknik : suprapubik transvesikacal prostatektomi
Balfied tahun 1887 pertama kali melakukan pembedahan cara ini, kemudian oleh
Sir Peter Freyer dari London dilaporkan pada kongres SIU di Paris tahun 1900.
b. Millin
Teknik : Retropubik transkapsular prostatektomi.
Tahun 1945 dikenalkan oleh Terence Millin dari Inggris
Keuntungan : Sumber perdarahan jelas dan apeks prostat lebih mudah dicapai.
Operasi terbuka ini dianjurkan pada BPH dengan berat lebih dari 50 gram atau yang
diperkirakan tidak dapat reseksi dengan sempurna dalam waktu satu jam. BPH yang
disertai penyulit, misalnya batu buli-buli yang diameternya lebih dari 2,5 cm atau
multipel dan bila tidak tersedia fasilitas untuk melakukan TUR Prostat baik sarana

maupun tenaga ahlinya.


2) Transuretra Reseksi Prostat (TURP)
Pada tahun 1900 diperkenalkan konsep tabung berjendela oleh Hugh Hampton
Young dan tahun 1913 Reseksi prostat secara Sistoskopik dikerjakan pertama kali,
alat tersebut dimasukkan ke dalam jaringan dan secara blind memotong jaringan
tersebut dengan pisau yang terdapat dalam tabung tersebut.. Tahun 1924 Reinholdt
Wapper dan George Wyeth menemukan electrical Cutting, kemudian Bowie dari
Harvard berhasil mengembangkan suatu generator yang berfungsi sebagai cutting
dan coagulating. Mc Carthey pada tahun 1932 memperkenalkan alat resektoskop
penerawangan langsung dengan lensa for oblique dan kawat lengkung yang
berfungsi sebagai pemotong dan koagulasi jaringan prostat. Sejak saat itu sampai
sekarang reseksi prostat transuretra menjadi gold standard dari pembedahan
prostat dan merupakan tindakan endo Urologik terbanyak (90-95%) untuk
mengatasi obstruksi intravesikal yang disebabkan oleh BPH.
3) Transuretra Insisi Prostat (TUIP)
Pada TUIP tidak dikerjakan reseksi prostat tetapi hanya melakukan insisi pada posisi
jam 5 dan jam 7 dari kelenjar prostat dengan menggunakan pisau dari Collin. TUIP
pertama kali dilaporkan oleh ORANDI pada tahun 1973. TUIP hanya dikerjakan untuk
BPH obstruktif yang ukurannya kecil, besar RT derajat I atau kurang dari 20 gram.
Keuntungan dari TUIP adalah waktu operasi dan waktu rawat inap yang lebih
singkat, penyulit yang jauh lebih sedikit tetapi insiden prostat kambuh tentu lebih
sering yang masih berbeda pendapat adalah permasalahan tentang panjangnya
serta dalamnya insisi.
4) Transuretra Laser Insisi Prostat (TULIP)
Sinar laser sudah lama berperanan dalam pembedahan dan terbukti manfaatnya.
Jenis laser yang digunakan pada terapi BPH adalah Nd YAG laser. Pada tahun 1985
SHANBERG melaporkan penggunaan laser pada prostatektomi. Kendala utamanya
adalah belum bisa mengarahkan sinar laser secara akurat. Juga karena yang
digunakan saat itu kontak laser maka terjadi pengarangan pada ujung probe
sehingga kekuatan laser berkurang. Saat ini telah berhasil dibuat peralatan untuk
membelokkan sinar laser sehingga tepat mengenai lobus lateral dari prostat. Juga
jenis probenya adalah non kontak probe.
4. Intervensi Invasif Minimal
Meliputi :
1) Transuretral Ballon Dilatasi (TUBD)
Dengan menggunakan balon kateter yang berkapasitas antara 75F-110F dengan
tekanan antara 3-5 atmosfir, uretra prostatika di dilatasi selama 10-30 menit. Terapi
ini dikerjakan untuk BPH yang kecil dan tanpa pembesaran dari lobus medius.
Terdapat perbaikan keluhan dan flowmetrik sampai 3-6 bulan sesudah tindakan
walaupun secara sitoskopik ternyata tidak ada perbedaan di daerah uretra

prostatika pra dan pasca tindakan.


2) Prostat Stent
Stent dibuat dari bahan kawat yang dianyam hingga berbentuk tabung. Stent
dipasang di uretra prostatika untuk mencegah berdempetnya prostat.
3) Terapi Termal , dibagi menjadi tiga macam antara lain :
a. Hipertermi
Kelenjar prostat dipanasi 41-45 C, dan pemanasannya dikerjakan dengan
menggunakan probe baik transrektal ataupun transuretral. Pemanasan dilakukan
beberapa kali dengan frekwensi 1-2 kali/ minggu. Setiap kali pemanasan
berlangsung kurang lebih satu jam.
b. Transuretral Mikrowave Termoterapi (TUMT)
Termoterapi adalah penyempurnaan dari terapi hipertermia. Dengan menggunakan
kateter 22F yang dihubungkan dengan sumber panas mikrowave 1296 MHZ, prostat
dipanaskan 45-60 C, sementara itu secara terus-menerus uretra didinginkan
sehingga mukosanya tidak rusak. Temperatur juga dipantau terus menerus. Dengan
pemanasan yang cukup tinggi tadi akan terjadi destruksi, koagulasi dan akhirnya
nekrosis. Pada termoterapi pemanasan dilakukan satu kali. Keuntungannya adalah
tidak memerlukan anestesi umum maupun regional, tetapi peralatannya relatif
mahal
c. Transuretral Needle Ablasi (TUNA)
Dengan menggunakan alat khusus yang dimasukkan ke kelenjar prostat, kemudian
dengan microwave prostat dipanaskan sampai 120 C. Hasil yang pernah dilakukan
menunjukkan perbaikan flow maksimal dari 9 ml/ deti menjadi 17 ml/ detik.
Penelitian multi senter terus dikerjakan agar mendapat kasus yang cukup banyak
untuk dapat diambilk kesimpulan guna generalisasi.
DAFTAR PUSTAKA
Sjamsuhidajat, R & Wim de Jong, 1997, Buku Ajar Ilmu Bedah, Edisi Revisi, EGC,
Jakarta
Snell, Richard S., 1998, Anatomi Klinik Untuk Mahasiswa Kedokteran, Ed.3., EGC,
Jakarta
Purnomo, Basuki B., 2000, Dasar-Dasar Urologi, Sagung Sto, Jakarta.
Hardjowijoto, S., 1999, Benigna Prostat Hiperplasi, Airlangga University Press,
Surabaya.
Wijanarko, S., Penatalaksanaan Benigna Prostat Hiperplasi (BPH), disampaikan pada
temu Ilmiah Penatalaksanaan BPH Pada Tanggal 2 Oktober 1999 di Sukoharjo Room
Hotel Sahid Raya Surakarta.
http://www.jr2.ox.ac.uk/bandolier/journal.html
http://www.nature.com/ncpuro/journal/v2/n9/index.html
http://www.ahcpr.gov/clinic/medtep.bphport.htm#bphpsum

Klasifikasi
Menurut R. Sjamsuhidayat dan wim de jong, 2002

Derajat
I

Colok dubur
Penonjolan prostate, batas atas mudah diraba

Sisa volume urine


< 50 ml

II

Penonjolan prostate jelas, batas atas dapat dicapai

50 100 ml

III

Batas atas prostate tidak dapat diraba

> 100 ml

IV

Batas atas prostate tidak dapat diraba

retansi urine total

BENIGN PROSTATIC HYPERPLASIA

I. PENDAHULUAN
Benign prostatic hyperplasia (BPH), atau yang biasa juga disebut benign prostatic
hypertrophy, adalah suatu neoplasma jinak (hiperplasia) yang mengenai kelenjar
prostat. Prostat adalah suatu organ yang terdiri dari komponen kelenjar, stroma dan muskuler. (1)
Penyakit ini ditandai dengan pembesaran yang progresif dari kelenjar prostat yang
berakibat pada obstruksi pengeluaran kandung kemih dan peningkatan kesulitan berkemih. (2)
Pertumbuhan prostat yang sangat tergantung pada hormon testosteron ini berlangsung di
dalam jaringan yang berbeda-beda, dan menimbulkan dampak pada pria secara beragam. Sebagai
akibat dari perbedaan ini, pengobatan yang diberikan pun berbeda untuk tiap kasus. Tidak ada
penyembuhan untuk BPH dan sekali kelenjar prostat bertumbuh, maka sering berlanjut terusmenerus, kecuali terapi medikasi di berikan. (3,4)

II. INSIDEN
Sulit untuk menentukan insidens dan prevalensi BPH karena dari berbagai penelitian
digunakan kriteria yang berbeda untuk menjelaskan kondisi penyakit. Berdasarkan data National
Institutes of Health (NIH), BPH terjadi pada lebih dari 50% pria berumur lebih dari 60 tahun dan
sebanyak 90% pada pria berumur 70 tahun. (4)

III. EPIDEMIOLOGI
Faktor resiko perkembangan BPH masih belum diketahui secara jelas. Beberapa studi
menjelaskan adanya hubungan dengan faktor predisposisi genetik, dan yang lainnya mengatakan
adanya kaitan dengan perbedaan ras. Hampir 50% pria berumur kurang dari 60 tahun yang
menjalani operasi untuk BPH memeiliki bentuk penyakit yang diwariskan. Bentuk ini merupakan

bentuk autosomal dominant, dan keturunan pertama dari pasien BPH membawa resiko relatif
yang meningkat hampir 4 kali lipat. (5)

IV. ETIOLOGI
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya BPH, tetapi
beberapa hipotesis menyebutkan bahwa BPH erat kaitannya dengan peningkatan kadar
dihidrotestosteron (DHT) dan proses aging. Secara histopatologis, BPH ditandai dengan
peningkatan jumlah sel epitel dan sel stroma di area periuretra dari prostat. Berdasarkan
pengamatan dari pembentukan formasi glandula epitel baru, yang dimana secara normal hanya
terdapat pada janin dan mencetuskan konsep embryonic reawakening dari sel stroma potensial.
Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya BPH, baik secara tunggal atau
kombinasi, yaitu: (1) teori dihidrotestosteron, (2) adanya ketidakseimbangan antara estrogentestosteron, (3) interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostate, (4) berkurangnya kematian sel
(apoptosis), dan (5) teori stem sel.
(3,6)

Teori dihidrotestosteron
Dihidrotestosteron atau DHT adalah metabolit androgen yang sangat penting pada
pertumbuhan sel-sel kelenjar prostat. Dibentuk dari testosteron di dalam sel prostat oleh enzim
5-reduktase dengan bantuan koenzim NADPH. DHT yang telah berikatan dengan reseptor
androgen (RA) membentuk kompleks DHT-RA pada inti sel dan selanjutnya terjadi sintesis
protein growth factor yang menstimulasi pertumbuhan sel prostat.

Gambar 1. Perubahan testosteron menjadi dihidrotestosteron oleh enzim 5-reduktase


(Dikutip dari kepustakaan 3)

Pada berbagai penelitian dikatakan bahwa kadar DHT pada BPH tidak jauh berbeda
dengan kadarnya pada prostat normal, hanya saja pada BPH, aktivitas enzim 5-reduktase dan
jumlah reseptor androgen lebih banyak pada BPH. Hal ini menyebabkan sel-sel prostat pada
BPH lebih sensitive terhadap DHT sehingga replikasi sel lebih banyak terjadi dibandingkan
dengan prostat normal. (3,5,6,7)
Ketidaseimbangan antara estrogen-testosteron
Pada usia yang semakin tua, kadar testosteron menurun, sedangakn kadar estrogen relatif
tetap sehingga perbandingan antara estrogen dan testosteron relatif meningkat. Telah diketahui
bahwa estrogen didalam prostat berperan dalam terjadinya proliferasi sel-sel prostat dangan cara
meningkatkan sensitifitas sel-sel prostat terhadap rangsangan hormon androgen, meningkatkan
jumlah reseptor androgen, dan menurunkan jumlah kematian sel-sel prostat (apoptosis). Hasil
akhir dari semua keadaan ini adalah, meskipun rangsangan terbentuknya sel-sel baru akibat
rangsangan testosteron menurun, tetapi sel-sel prostat yang telah ada mempunyai umur yang
lebih panjang sehingga massa prostat jadi lebih besar. (3,6)
Interaksi stroma-epitel
Cunha (1973) membuktikan bahwa diferensiasi dan pertumbuhan sel epitel prostat secara
tidak langsung dikontrol oleh sel-sel stroma melalui suatu mediator (growth factor) teetentu.

Setelah sel-sel stroma mendapatkan stimulasi dari DHT dan estradiol, sel-sel stroma mensintesis
suatu growth factor yang selanjutnya mempengaruhi sel-sel stroma itu sendiri secara intrakrin
atau autokrin, serta mempengaruhi sel-sel epitel secara parakrin. Stimulasi itu menyababkan
terjadinya proliferasi sel-sel epitel maupun sel stroma. (3,6)
Berkurangnya kematian sel prostat
Program kematian sel (apoptosis) pada sel prostat adalah mekanisme fisiologik untuk
mempertahankan homeostasis kelenjar prostat. Pada apoptosis terjadi kondensasi dan
fragmentasi sel yang selanjutnya sel-sel yang mengalami apoptosis akan difagositosisoleh sel-sel
disekitarnya kemudian didegradasi oleh enzim lisosom.
Pada jaringan normal, terdapat kesimbangan antara laju proliferasi sel dengan kematian
sel. Pada saat terjadi pertumbuhan prostat sampai pada prostat dewasa, penambahan jumlah selsel prostat baru dengan yang mati dalam keadaan seimbang. Berkurangnya jumlah sel-sel prostat
yang mengalami apoptosis menyebabkan jumlah sel-sel prostat secara keseluruhan menjadi
meningkar sehingga menyebabkan pertambahan massa prostat.
Sampai sekarang belum dapat diterangkan secara pasti faktor-faktor yang menghambat
proses apoptosis. Diduga hormon androgen berperan dalam menghambat proses kematian sel
karena setelah dilakukan kastrasi, terjadi peningkatan aktivitas kematian sel kelenjar prostat.
Estrogen diduga mampu memperpanjang usia sel-sel prostat, sedangkan faktor pertumbuhan
TGF berperan dalam proses apoptosis. (3,6)
Teori sel stem
Untuk mengganti sel-sel yang telah mengalmi apoptosis, selalu dibentuk sel-sel baru. Di
dalam kelenjar prostat dikenal suatu sel stem, yaitu sel yang mempunyai kemampuan
berproliferasi sangat ekstensif. Kehidupan sel ini sangat tergantung pada keberadaan hormon
androgen, sehingga jika hormon ini kadarnya menurun seperti yang terjadi pada kastrasi,
menyebabkan terjadinya apoptosis. Terjadinya proliferasi sel-sel pada BPH dipostulasikan
sebagai ketidaktepatnya aktivitas sel stem sehingga terjadi produksi yang berlebihan sel stroma
maupun sel epitel. (3,6)

V. ANATOMI

Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia pria yang terletak disebelah inferior
buli-buli di depan rektum dan membungkus uretra posterior. Bentuknya sebesar buah kenari
dengan berat normal pada orang dewasa kurang lebih 20 gram. Kelenjar prostat, merupakan
suatu kelenjar yang terdiri dari 30 50 kelenjar, yang terbagi atas lima lobus, yaitu lobus
posterior, medius, anterior dan dua lobus lateral, tetapi selama perkembangan selanjutnya ketiga
lobus posterior bersatu dan disebut lobus medius saja. Pada penampang, lobus medius kadangkadang tidak tampak karena terlalu kecil dan lobus-lobus lain tampak homogen berwarna keabuabuan, dengan kista kecil-kecil berisi cairan seperti susu. Kista-kista ini ialah kelenjar-kelenjar
postat.
Di sebelah anterior dibatasi oleh retropubic space (space of Retzius), disebelah posterior
dipisahkan dengan ampula rekti oleh fascia Denonvilliers. Basis dari prostat berlanjut dengan
leher bui-buli, dan apex prostat melekat pada permukaan diafragma urogenital. Di sebelah lateral
prostat berbatasan dengan muskulus levator ani. Vaskularisasi dari prostat di percabangkan oleh
arteri iliaca inerna (a. vesika inferior dan a. rektal medial). Inervasinya berasal dari plexus pelvis.
(7)

Gambar 2. Anatomi Prostat


(Dikutip dari kepustakaan 8)

McNeal telah membagi prostat menjadi 3 zona. Zona perifer mengisi 70% volume prostat
dewasa, zona sentral 25% dan zona transisi 5%. Sebagian besar BPH terdapat pada zona
transisional, sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer. (5)

Gambar 3. Anatomi Ginjal


(Dikutip dari kepustakaan 5)

VI. PATOFISIOLOGI
Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra prostatika dan menghambat
aliran urine. Keadaan ini menyebabkan peningkatan tekanan intravesikel. Untuk dapat
mengeluarkan urine, buli-buli harus berkontraksi lebih kuat guna melawan tahanan itu. Kontraksi
yang terus-menerus ini menyebabkan perubahan anatomik buli-buli berupa hipertrofi otot
detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula, dan divertikel buli-buli. Perubahan struktur
pada buli-buli tersebut, oleh pasien dirasakan sebagai keluhan pada saluran kemih sebelah bawah
atau lower urinar tract symptom (LUTS) yang dahulu dikenal dengan gejala prostatismus.
Tekanan intravesikal yang tinggi diteruskan ke seluruh bagian buli-buli tidak terkecuali
pada kedua muara ureter. Tekanan pada kedua muara ureter ini dapat menimbulkn aliran balik
urine dari buli-buli ke ureter atau terjadi refluks vesiko-ureter. Keadaan ini jika berlangsung terus
akan mengakibatkan hidroureter, hidronefrosis, bahkan akhirnya dapat jatuh ke dalam gagal
ginjal.
Hiperplasia prostat

Penyempitan lumen uretra posterior

Tekanan intravesikal meningkat

Obstruksi yang diakibatkan oleh hiperplasia prostat benigna tidak hanya disebabkan oleh
adanya massa prostat yang menyumbat uretra posterior, tetapi juga disebabkan oleh tonus otot
polos yang ada pada stroma prostat, kapsul prostat, dan otot polos pada leher buli-buli. Otot
polos itu dipersarafi oleh serabut ssimpatis yang berasal dari nervus pudendus.
Pada BPH terjadi rasio peningkatan komponen stroma terhadap epitel. Kalau pada orang
normal rasio stroma dibanding dengan epitel adalah 2:1, pada BPH, rasionya meningkat menjadi
4:1. Hal ini menyebabkan pada BPH terjadi peningkatan tonus otot polos prostat dibandingkan
dengan prostat normal. Dalam hal ini massa prostat yang menyebabkan obstruksi komponen
statik sedangkan tonus otot polos yang merupakan komponen dinamik sebagai penyebab
obstruksi prostat. (2,3,7)

VII. DIAGNOSIS
GAMBARAN KLINIS

Obstruksi prostat dapat menimbulkan keluhan pada saluran kemih maupun keluhan di
luar saluran kemih.
1. Keluhan pada saluran kemih bagian bawah
Keluhan pada
saluran kemih bagian bawah (LUTS) terdiri atas gejala obstruksi dan gejala iritatif.
Obstruksi
Iritasi
Hesitansi

Frekuensi

Pancaran miksi lemah

Nokturi

Intermitensi

Urgensi

Miksi tidak puas

Disuri
Menetes setelah

miksi
(2,3,7,9)

Untuk menilai tingkat keparahan dari keluhan pada saluran kemih sebelah bawah, beberapa
ahli/organisasi urologi membuat sistem skoring yang secara subyektif dapat diisi dan dihitung
sendiri oleh pasien. sistem skoring yang duanjurkan oleh WHO adalah Skor Internasional Gejala
Prostat atau I-PSS (International Prostatic Symptom Score).
sistem skoring I-PSS terdiri dari tujuh pertanyaan yang berhubungan dengan keluhan miksi
(LUTS) dan satu pertanyaan yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien. Setiap pertanyaan
yang berhubungan dengan keluhan miksi diberi nilai dari 0-5, sedangkan keluhan menyangkut
kualitas hidup diberi nilai 1-7.
Dari skor I-PSS dapat dikelompokkan gejala LUTS dalam 3 derajat, yaitu (1) ringan: skor 07, (2) sedang: skor 8-19, dan (3) berat: skor 20-35.

SKOR INTERNASIONAL GEJALA PROSTAT (I-PSS)

Untuk pertanyaan 1-6, jawaban dapat diberikan skor sebagai berikut:


0=Tidak pernah
3=Kurang lebih separuh dari kejaidan
1=Kurang dari sekali dari 5 kejadian
4=Lebih dari separuh dari kejadian
2=Kurang dari separuh kejadian
5=Hampir selalu
Dalam satu bulan terakhir ini berapa seringkah
anda:
1. Merasakan masih terdapat sisa urine sehabis kencing?

2. Harus kencing lagi padahal belum ada setengah jam yang lalu anda baru saja kencing?
3. Harus berhenti pada saat kencing dan segera mulai kencing lagi dan hal ini dilakukan berkali-kali?
4. Tidak dapat menahan keinginan untuk kencing?
5. Merasakan pancaran urine yang lemah?
6. Harus mengejan dalam memulai kencing?
Untuk pertanyaan no. 7, jawablah dengan skor seperti dibawah ini:
0=Tidak pernah
3=Tiga kali
1=Satu kali
4=Empat kali
2=Dua kali
5=Lima kali

7. Dalam satu bula terakhir ini berapa kali anda terbangun dari tidur malam untuk kencing?
TOTAL SKOR (S) = ...
Pertanyaan no. 8 adalah mengenai kulalitas hidup sehubungan dengan gejala diatas; jawablah dengan:
1.Sangat senang
5.Sangat tidak puas
2.Senang
6.Tidak bahagia
3.Puas
7.Buruk sekali
4.Campuran antara puas dantidak puas
8. Dengan keluhan seperti ini bagaimanakah anda menikmati hidup?
Kesimpulan: S, L , Q , R , V
(S:Skor I=PSS, L:Kualitas hidup, Q:pancaran urine dalam ml/detik, R:sisa urine, V:volume prostat)

Timbulnya gejala LUTS merupakan manifestasi kompensasi otot buli-buli untuk


mengeluarkan urine. Pada suatu saat, otot buli-buli mengalami kepayahan (fatique) sehingga
jatuh ke dalam fase dekompensasi yang diwujudkan dalam bentuk retensi urin akut.
Timbulnya dekompensasi buli-buli biasanya di dahului oleh beberapa faktor pencetus, antara
lain: (1) volume buli-buli tiba-tiba terisi penuh yaitu pada cuaca dingin, menahan kencing terlalu
lama, mengkonsumsi obat-obatan atau minuman yang mengandung diuretikum (alkohol, kopi),
dan minum air dalam jumlah berlebihan, (2) massa prostat tiba-tiba membesar, yaitu setelah
aktivitas seksual atau mengalami infeksi prostat akut, dan (3) setelah mengkonsumsi obat-obatn
yang dapat menurunkan kontraksi otot detrusor atau yang dapat mempersempit leher buli-buli,
antara lain: golongan antikolinergik atau adrenergik alfa. (2,3,7)
2. Gejala pada saluran kemih bagian atas
Keluhan akibat penyulit BPH pada saluran kemih bagian atas berupa gejala obstruksi antara
lain nyeri pinggang, benjolan di pinggang (yang merupakan tanda dari hidronefrosis), atau
demam yang merupakan tanda dari infeksi atau urosepsis.
3. Gejala di luar saluran kemih
Tidak jarang pasien berobat ke dokter karena mengeluh adanya hernia inguinalis atau
hemoroid. Timbulnya kedua penyakit ini karena sering mengejan pada saat miksi sehingga
mengakibatkan peningkatan tekanan intra abdominal.
Pada pemeriksaan fisis mungkin didapatkan buli-buli yang terisi penuh dan teraba massa
kistus di daerah supra simfisis akibat retensi urine. Kadang-kadang didapatkan urine yang selalu
menetes tanpa disadari oleh pasien yaitu merupakan pertanda dari inkontinensia paradoksa. Pada
colok dubur diperhatikan: (1) tonus sfingter ani/refleks bulbo-kevernosusuntuk menyingkirkan
adanya kelainan buli-buli neurogenik, (2) mukosa rektum, (3) keadaan prostat, antara lain:
kemungkinan adanya nodul, krepitasi, konsistensi prostat, simetri antar lobus dan batas prostat.
Colok dubur pada pembesaran prostat benigna menunjukkan konsistensi prostat kenyal
seperti meraba ujung hidung, lobus kanan dan kiri simetris dan tidak didapatkan nodul;
sedangkan pada karsinoma prostat, konsistensi prostat keras/teraba nodul dan mungkin di antara
lobus prostat tidak simetri. (2,3,7)

GAMBARAN RADIOLOGI
a. Konvensional
Gambaran radiologi pada IVP/IVU pada BPH adalah adanya indentasi buli-buli
(pendesakan buli-buli oleh kelenjar prostat) dan ureter di sebelah distal berbentuk seperti mata
kail atau fish hooked appearance (Gambar 4). (3)
Selain IVP/IVU, pencitraan konvensional yang lain adalah sistouretrogram, yaitu suatu
tipe urogram yang memberikan gambaran radiologi pada buli-buli dan uretra. Gambaran
radiologi pada sistouretrogram retr ograde posisi frontal (Gambar 5) dan posisi oblique (Gambar
6) ditunjukkan dengan adanya stenosis (penyempitan) uretra yang disebabkan oleh adanya
tekanan dari benign prostatic hyperplasia (middle lobe hyperplasia). (15)

Gambar 4. Gambaran fish


hookureter pada IVP/IVU
(Dikutipdari kepustakaan 10)

USG
Pemeriksaan USG dapat memberikan gambaran kelenjar prostat pada pria dan jaringan
disekitarnya. Gambaran USG normal ditunjukkan pada gambar 7. Pemeriksaan USG prostat
dilakukan dengan 2 cara, yaitu transabdominal ultrasound (TAUS) dan transrectal ultrasound
(TRUS).
TAUS dilakukan dengan melekatkan transducer di permukaan abdomen di atas buli-buli
dan prostat. TAUS dapat memperlihatkan adanya pembesaran intravesika akibat pembesaran
lobus medial prostat. (Gambar 8 & 9)
TRUS dilakukan dengan memasukkan transducer kedalam rectum pasien. transducer
tersebut mengirim dan menerima gelombang suara melalui dinding rectum sampai ke prostat
yang terletak tepat di depan rectum. TRUS setelah berkemih dapat menggambarkan: 1) besar
volume residul urine (303 cc) (lebih dari 40 cc adalah abnormal), 2) pembesaran prostat yang
terutama melibatkan zona transisional, 3) pembesaran intravesika yang melibatkan lobus median,
4) kista kecil pada inner gland, 5) zona perifer yang terdesak oleh pembesaran zona transisional.
(3, 16,17)

CT SCAN
CT SCAN digunakan dalam staging dan follow up dari tumor traktus urogenital. Pada gambar 12
(pot. axial) dan gambar 13 (pot. coronal) tampak pambesaran dari prostat yang mengakibatkan
penekanan pada buli-buli. (10, 18)
MRI
MRI merupakan pemeriksaan medis noninvasif yang dapat membantu diagnosis dan perawatan.
MRI memberikan detail dari anatomi lokal yang lebih baik dan oleh karena itu lebih baik pula
dalam menentukan local staging. (16, 18)

PATOLOGI ANATOMI
Perubahan paling awal pada BPH adalah di kelenjar periuretra sekitar verumontanum.
a. Perubahan hiperplasia pada stroma berupa nodul fibromuskuler, nodul asinar atau nodul
campuran fibroadenomatosa.
b. Hiperplasia glandular terjadi berupa nodul asinar atau campuran dengan hiperplasia
stroma. Kelenjar-kelenjar biasanya besar dan terdiri atas tall columnar cells. Inti sel-sel
kelenjar tidak menunjukkan proses keganasan.
BPH adalah perbesaran kronis dari prostat pada usia lanjut yang berkorelasi dengan
pertambahan umur. Perubahan yang terjadi berjalan lambat dan perbesaran ini bersifat lunak dan
tidak memberikan gangguan yang berarti. Tetapi, dalam banyak hal dengan berbagai faktor
pembesaran ini menekan uretra sedemikian rupa sehingga dapat terjadi sumbatan partial ataupun
komplit.

Penurunan kadar serum testosteron, dan kadar

estrogen meningkat. Juga terdapat teori bahwa rasio estrogen/androgen yang lebih tinggi akan
merangsang hyperplasia jaringan prostat. Proses patologis lainnya adalah penimbunan jaringan
kolagen dan elastin di antara otot polos yang berakibat melemahnya kontraksi otot. Hal ini
mengakibatkan terjadinya hipersensitivitas pasca fungsional, ketidakseimbangan
neurotransmiter, dan penurunan input sensorik, sehingga otot detrusor tidak stabil. (11)

Gambar 17. Gambaran PA BPHmikroskopis


(Dikutipdari kepustakaan 11)

Gambar 18. Gambaran PA BPH makroskopis


(Dikutipdari kepustakaan 11)

VIII. DIAGNOSIS BANDING


KARSINOMA PROSTAT
Karsinoma prostat dapat dibedakan dengan BPH berdasarkan gambaran patologisnya dan
screening untuk karsinoma prostat. Screening karsinoma prostat dilakukan dengan pemeriksaan
Prostat Spesific Antigen (PSA) dan Rectal Touche (RT).
Pada pemeriksaan IVU ditemukan gambaran filling defect dengan tepi yang ireguler
(Gambar 19) dan terbentuknya kurvatura pada buli-buli akibat penekanan dari massa (Gambar
20). (15)
Pada pemeriksaan USG diketahui adanya area hipo-ekoik (60%) yang merupakan salah
satu tanda adanya kanker prostat dan sekaligus mengetahui kemungkinan adanya ekstensi tumor
ke ekstrakapsuler (Gambar 21 & 22). Selain itu dengan bimbingan USG dapat diambil contoh
jaringan pada area yang dicurigai keanasan melalui biopsi aspirasi dengan jarum halus (BAJAH).
(3)

IVU

RUS

Gambar 21. Transrectalultrasound (TRUS) dengan


gambaran Ca Prostat
(Dikutipdari kepustakaan 17)

Gambar 22. Transrectalultrasound (TRUS) dengan


gambaran Ca Prostat
(Dikutipdari kepustakaan 17)

Note: Sonography of the prostate using TRUS (Transrectal ultrasound) was done in this elderly male patient with
hard nodule palpable on DRE (digital rectal examination) of the prostate. The hard nodule was felt in the left half of
the prostate. PSA study showed very high values (> 1000 ng/ml) (normal < 4 ng/ml). Ultrasound images (TRUS)
reveal a hypoechoic lesion involving much of the left peripheral zone. Color and Power Doppler images (TRUS)

reveal marked vascularity in the region of the nodule (left peripheral zone). These ultrasound image findings are
typical of carcinoma of prostate.

KARSINOMA BULI-BULI
Karsinoma buli-buli dapat dibedakan dengan BPH berdasarkan gejala klinis dan
gambaran patologisnya. Gejala klinis yang khas pada karsinoma buli-buli adalah gross hematuria
tanpa rasa nyeri (>80%). Gejala ini bisa atau tanpa disertai gejala iritatif seperti frekuensi,
urgensi, dan disuria. (20)
Cara pemeriksaan radilogik untuk diagnosis adalah: tiap pasien dengan hematuria di
sarankan pemeriksaan sistoskopi. Sebelum sistoskopi , urin yang baru dikeluarkan diperiksa
secara sitologik untuk melihat sel tumor. Kemudian dilakukan pemeriksaan IVU. Pemeriksaan
IVU dapat mendeteksi adanya tumor buli-buli berupa filling defect dengan permukaan yang
ireguler dan mendeteksi adanya tumor sel transisional yang berada di ureter atau pielum.
Didapatkannya hidroureter atau hidtronefrosis merupakan salah satu tanda adanya infiltrasi
tumor ke ureter atau muara ureter. CT scan atau MRI berguna untuk menetukan ekstensi tumor
ke organ sekitarnya. (20)

IX. PENGOBATAN
Tidak semua pasien BPH perlu menjalani tindakan medik. Kadang-kadang mereka yang
mengeluh LUTS ringan dapat sembuh sendiri tanpa mendapatkan terapi apapun atau hanya
dengan nasehat dan konsultasi saja. Namun di antara mereka akhirnya ada yang membutuhkan
terapi medika mentosa atau tindakan medik yang lain karena keluhannya semakin parah.
Tujuan terapi pada pasien BPH adalah (1) memperbaiki keluhan miksi, (2) meningkatkan
kualitas hidup, (3) mengurangi obstruksi intravesika, (4) mengembalikan fungsi ginjal jika
terjadi gagal ginjal, (5) mengurangi volume residu urine setelah miksi, dan (6) mengurangi
progesifitas penyakit. Hal ini dapat dicapaidengan cara medikamentosa, pembedahan, atau
tindakan endourologi yang kurang invasif. (3)
Watchfull waiting
Pilihan tanpa terapi ini ditujukan untuk pasien BPH dengan skor IPSS dibawah7, yaitu
keluhan ringan yang tidak menggangu aktivitas sehari-hari. Pasien tidak mendapatkan terapi
apapun dan hanya diberi penjelasan mengenai sesuatu hal yang mungkin dapat memperburuk
keluhannya, misalnya (1) jangan mengkonsumsi kopi atau alkohol setelah makan malam, (2)
kurangi konsumsi makanan atau minuman yang mengiritasi buli-buli (kopi atau coklat), (3)
batasi penggunaan obat-obat influenza yangmengandung fenilpropanolamin, (4) kurangi
makanan pedas dan asin, dan (5) jangan menahan kencing terlalu lama.
Secara periodik pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya keluhannya apakah
menjadi lebih baik (sebaiknya memakai skor yang baku), disamping itu dilakukan pemeriksaan
laboratorium, residu urine, atau uroflometri. Jika keluhan miksi bertambah jelek daripada
sebelumnya, mungkin perlu dipikirkan untuk memilih terapi lain. (3,7,12)
Medikamentosa
Tujuan terapi medikamentosa adalah berusaha untuk: (1) mengurangi resistensi otot polos
prostat sebagai komponen dinamik penyebab obstruksi infravesika dengan obat-obatan

penghambat adrenergik alfa (adrenergik alfa bloker) dan (2) mengurangi volume prostat sebagai
komponen statik dengan cara menurunkan kadar hormon terstosteron/dihidrotestosteron (DHT)
melalui penghambat 5-reduktase. Selain kedua cara di atas, sekarang banyak dipakai terapi
menggunakan fitofarmaka yang mekanisme kerjanya masih belum jelas.
a. Penghambat reseptor adrenergik-
Prostat terdiri atas otot polos yang di kontrol oleh -adrenoreseptor, dan blokade dari
reseptor ini dapat mengurangi keluhan oleh penghambat adrenergik-1. ditemukannya obat
penghambat adrenergik-1 dapat mengurangi penyulit sistemik yang ditimbulkan oleh obat
generasi seblumnya seperti fenoksibenzamin. Beberapa golongan obat penghambat adrenergik-1
adalah: prazosin yang diberikan dua kali sehari, terazosin, afluzosin, doksazosin yang diberikan
sekali sehari. Obat-obatan golongan ini dilaporkan dapat memperbaiki keluhan miksi dan laju
pancuran urine. (3,12)

b. Penghambat 5-reduktase
Obat ini bekerja dengan cara menghambat pembentukan dihidrotestosteron (DHT) dari
testosteron yang dikatalis oleh enzim 5-reduktase di dalam sel-sel prostat. Menurunnya kadar
DHT menyebabkan sintesis protein dan replikasi sel-sel prostat menurun.
Dilaporkan bahwa pemberian obat ini (finasteride) 5 mg sehari yang diberikan sekali
setelah enam bulan mampu menyebabkan penurunan prostat hingga 28%; hal ini memperbaiki
keluhan miksi dan pancaran miksi.
c. Fitofarmaka
Beberapa ekstrak tumbuh-tumbuhan tertentu dapat dipakai untuk memperbaiki gejala
akibat obstruksi prostat, tetapi data-data farmakologik tentang kandungan zat aktif yang
mendukung mekanisme kerja obat fitoterapi sampai saat ini belum diketahui dengan pasti.
Kemungkinan fitoterapi bekerja sebagai : anti-estrogen, anti-androgen, menurunkan kadar sex
hormone binding globulin (shbg), inhibisi basic fibroblast growth factor (bFGF) dan epidermal
growth factor (EGF), mengacaukan metabolisme prostalglandin, efek antiinflamasi, menurunkan

outflow resistance, dan memperkecil volume prostat. Diantara fitoterapi yang banyak dipasarkan
adalah: Pygeum africanum, Serenoa repens, Hypoxis rooperi, Radix urtica dan masih banyak
lagi. (3,7,12)
Pembedahan
Penyelesaian masalah pasien BPH jangka panjang yang paling baik saat ini adalah
pembedahan, karena pemberian obat-obatan atau terapi non invasif lainnya mambutuhkan jangka
waktu yang sangat lama untuk melihat hasil terapinya.
Desobstruksi kelenjar prostat akan menyembuhkan gejala obstruksi dan miksi yang tidak
lampias. Hal ini dapat dikerjakan dengan cara operasi terbuka, reseksi prostat transuretra
(TURP), atau insisi prostat transuretra (TUIP).
Indikasi operasi BPH : (1) Retensio urine, (2) BPH dgn penulit : ISK, batu , hernia,
hidronefrosis, uremia, hematuria berulang, (3) Residual urine > 100 cc, (4) Flow metri : pola
obstruktif ( < 10 cc/ det, kurva datar/multifasik, waktu miksi memanjang), (5) Sindroma
prostatism yg progresif, mengganggu & iritatif, dan (6) Terapi medikamentosa tidak berhasil. (1,3)
Tindakan invasif minimal
Selain tindakan invasif seperti yang telah disebutkan diatas, saat ini sedang
dikembangkan tindakan invasif minimal yang terutama ditujukan untuk pasien yang mempunyai
risiko tinggi terhadap pembedahan. Tindakan invasif minimal

itu diantaranya adalah: (1)

thermoterapi, (2) TUNA (Transurethral Needle Ablation of the Prostat), (3) pemasangan stent
(prostacath), (4) HIFU (High Intensity Focused Ultrasound), (5) dilatasi dengan balon
(transurethral balloon dilatation). (3,7)
Gambar 24. Algoritmapenanganan pasien BPH
(Dikutipdari kepustakaan 13)

X. PROGNOSA
Prognosis untuk BPH berubah-ubah dan tidak dapat diprediksi pada tiap individu
walaupun gejalanya cenderung meningkat. Namun BPH yang tidak segera ditindak memiliki

prognosis yang buruk karena dapat berkembang menjadi kanker prostat. Menurut penelitian,
kanker prostat merupakan kanker pembunuh nomer 2 pada pria setelah kanker paru-paru. BPH
yang telah diterapi juga menunjukkan berbagai efek samping yang cukup merugikan bagi
penderita. (4)

DAFTAR PUSTAKA

1. JEF, GWK. Buku Saku Urologi. 2003. p. 59-66.


2. Macfarlane, M.T. Urology. 4th Edition. Kentucky: Lippincott Williams & Wilkins; 2006.
p. 116-122
3. Purnomo BB. Dasar-dasar urologi. Edisi ke-2. Jakarta: Sagung Seto; 2007. p. 6985
4. NN. Benign Prostatic Hyperplasia. Available from: www.urologychannel.com.
5. McAninch, J.; Tanagho E. Smith's General Urology. 16th Edition. San Fransisco:
McGraw-Hill/Appleton & Lange; 2007.
6. Roehrborn, C.; McConnell, J. Etiology, Pathophysiology, Epidemiology, and Natural
History of Benign Prostatic Hyperplasia. In: Campbell's Urology. 8th edition.
Philadelphia: Elsevier; 2002.
7. Reynard, J.; Brewster, S.; Biers, S. Oxford Handbook of Urology. 1st Edition. Oxford:
Oxford University Press; 2006. p. 70-111
8. Gerber, G. Benign Prostatic Hyperplasia. Available from: www.medicinet.com.
9. Dawson C., Whitfield H. Bladder outflow obstruction. In: ABC of Urology. UK: British
Medical Journal. p. 26-33

10. Gaillard, F. Benign prostatic hypertrophy. Available from: www.radiopaedia.org.


Updated May 2, 2008.
11. NN. Hiperplasia prostat. Available from: www.pathologyanatomy1.blogspot.com.
Updated Mei 22, 2009.
12. Zeman, Peter A.; Siroky, Mike B.; Babayan, Richard K. Lower Urinary Tract Symptoms.
In: Siroky, MB, Oates RD, Babayan RK, editors. Handbook of Urology: Diagnosis and
Therapy. 3rd edition. Boston: Lippincott Williams & Wilkins; 2004. p. 99119
13. Resnick, M. Benign Prostatic Hyperplasia. In: Resnick M., Elder J., Spirnak J., editors.
Critical Decision in Urology. London: BC Decker; 2004. p. 190-191
14. Brant, William E. Genital Tract: Radiographic Imaging and MR. In: Brant, William E.;
Helms, Clyde A., editors. Fundamentals of Diagnostic Radiology. 3rd Edition. Virginia:
Lippincott Williams & Wilkins; 2007. p. 911-920
15. NN. Prostat screening. Available from: www.phototakeusa.com.
16. Radiological Society of North America, Inc. Available from: www.radiologyinfo.com.
Updated June 20, 2009
17. Antony, J. Prostate, A free gallery of high-resolution, ultrasound, color doppler and 3D
images. Available from: www.ultrasound-images.com. Updated September 18, 2009
18. Howlett, D.; Ayers, B. The Hands-on Guide to Imaging. UK: Blackwell Publishing; 2004.
p. 189-192
19. Radiological Society of North America, Inc. Available from: Inflammatory and
Nonneoplastic Bladder Masses: Radiologic-Pathologic Correlatio.
www.radiographics.rsna.org. Updated November 2006
20. Bernie, J.; Schmidt, J. Bladder Cancer. In: Nachtsheim, D., editor. Urological Oncology.
Texas: Landes Bioscience; 2005. p. 53-65

Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa yang diduga timbulnya
hiperplasi prostat antara lain :
1. Dihydrotestosteron
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen menyebabkan epitel dan stroma dari
kelenjar prostat mengalami hiperplasi .
2. Perubahan keseimbangan hormon estrogen - testoteron
Pada proses penuaan pada pria terjadi peningkatan hormon estrogen dan penurunan
testosteron yang mengakibatkan hiperplasi stroma.
3. Interaksi stroma - epitel
Peningkatan epidermal gorwth factor atau fibroblast growth factor dan penurunan
transforming growth factor beta menyebabkan hiperplasi stroma dan epitel.
4. Berkurangnya sel yang mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma dan epitel dari
kelenjar prostat.
5. Teori sel stem
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit ( Roger Kirby, 1994 : 38 ).

6. Umur: Usia adalah faktor risiko utama untuk kanker prostat. Penyakit ini langka pada
laki-laki yang lebih muda dari 45. Kesempatan untuk mendapatkan itu naik tajam sebagai
seorang pria mendapatkan lebih tua. Di Amerika Serikat, sebagian besar penderita kanker
prostat lebih tua dari 65.
7. Sejarah keluarga: seorang laki-laki risiko lebih tinggi jika ayah atau saudara memiliki
kanker prostat.
8. Race: Prostate cancer lebih umum di Afrika Amerika laki-laki dari pada laki-laki putih,
termasuk orang-orang Hispanik putih. Hal ini kurang umum di Asia dan Indian Amerika
laki-laki.
9. Perubahan tertentu prostat: laki-laki dengan sel-sel yang disebut bermutu tinggi prostatic
intraepithelial neoplasia (PIN) mungkin pada peningkatan risiko untuk kanker prostat.
Sel-sel ini prostat terlihat normal di bawah mikroskop.
10. Diet: Beberapa studi menunjukkan bahwa orang-orang yang makan diet tinggi lemak
hewan atau daging mungkin pada peningkatan risiko untuk kanker prostat. Orang-orang
yang makan diet yang kaya buah-buahan dan sayuran mungkin memiliki resiko yang
lebih rendah.

Prostat dan Masalahnya


Oleh : dr Sutopo Widjaja, MS
Prostat adalah organ tubuh yang terletak dibawah kandung kemih, hanya dimiliki kaum pria,
bentuk seperti buah kenari dengan ukuran normal 4 X 3 X 2 cm, berat sekitar 20 gram.
Fungsi prostat :

menghasilkan cairan air mani untuk membantu kelancaran penyaluran


sperma keluar dari penis

mengatur penyaluran air seni dan air mani.

Kontraksi otot prostat dan otot sekitarnya juga berperan dalam memompa air
mani pada saat ejakulasi.

Untuk berfungsi baik, prostat memerlukan hormon pria, yaitu testosterone, khususnya
dihidrotestosteron (DHT), yang terutama dihasilkan oleh testis. Sumber testesteron lain ialah
kelenjar anak-ginjal (kelenjar adrenal) walupun jumlahnya kecil.
Anatomi Prostat

Prostat tumbuh membesar pada masa pubertas kemudian tidak mengalami perkembangan yang
berarti sampai usia 40 tahun, setelah itu mulai tumbuh membesar secara perlahan.
Masalah prostat yang sering dihadapi oleh kaum pria ialah :
1. Peradangan (prostatitis)
2. Pembesaran prostat (Benign Postatic Hyperplasia = BPH)
3. Kanker prostat
Prostatitis
Prostatitis adalah radang pada kelenjar prostat akibat infeksi bakteri. Merupakan gangguan
prostat yang sering terjadi dan dapat terjadi pada pria usia muda.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya prostatitis
1. Riwayat infeksi kandung kemih
2. Benign Postatic Hyperplasia (BPH) atau pembengkakan prostat.
3. Penyakit akibat hubungan seksual, seperti Gonore atau kencing nanah
4. Banyak minum alkohol
5. Makanan pedas
6. Cedera misalnya akibat bersepeda, angkat berat.

Gejala
Prostatitis akut ditandai demam menggigil, banyak kencing, kencing terasa sakit, nyeri pinggang
bawah dan sekitar dubur. Gejala prostatitis kronis biasanya lebih ringan berupa infeksi berulang
pada saluran kemih.
Pengelolaan
- Obat penurun suhu dan penghilang nyeri golongan NSAID
- Antibiotik
- Pada kasus tertentu diperlukan tindakan pembedahan
Benign Postatic Hyperplasia = BPH
BPH berarti pembesaran prostat dan merupakan masalah kesehatan yang umum ditemukan pada
pria. Diduga 50 % pria berusia 50-60 tahun dan 90% pria berusia 70-80 tahun menderita BPH.
Penyebab pasti BPH masih belum diketahui. Faktor yang diketahui berperan adalah
bertambahnya usia dan hormon DHT. Dengan bertambahnya usia, prostat diduga makin sensitif
terhadap rangsangan DHT.
Pembesaran terutama terjadi di bagian dalam yang kemudian menekan prostat bagian luar
sampai terbentuk semacam kapsul tipis. BPH tidak pernah tumbuh keluar dari kapsul sehingga
pada pemeriksaan colok dubur akan ditemukan permukaan prostat yang rata, mulus dan kenyal.
Gejala.
Prostat yang membesar akan menjepit uretra didalamnya sehingga aliran air seni menjadi tak
lancar, pembesaran prostat juga mengarah ke atas sehingga akan mengganggu proses
penggosongan kandung kemih. Karena BPH terjadi bertahap maka tidak semua penderita
merasakan gejala, keluhan penderita umumnya ialah :
1. Sering kencing (frequency)
2. Sering kencing di malam hari sehingga mengganggu tidur (nokturia)
3. Kencing tak bisa ditahan (urgency)
4. Kencing susah keluar, selain lama juga harus mengejan
5. Aliran air seni lemah dan kecil
6. Rasa tidak lampias
7. Selesai kencing sering masih menentes sehingga celana jadi basah

Diagnosis.
Untuk memastikan apakah seseorang menderita BPH, dokter akan melakukan :
1. Pemeriksaan colok dubur (DRE = Digital Rectal Exam). Pada BPH akan ditemukan
permukaan prostat yang rata, mulus dan kenyal.
2. Pemeriksaan PSA (Prostate Spesific Agent). Tes ini mengukur kadar antigen khusus yang

dihasilkan prostate dalam darah. Pada BPH nilai PSA masih dalam batas atas normal atau sedikit
meninggi.
3. USG transrektal (USG lewat dubur), untuk menilai ukuran prostat, jumlah sisa air seni dalam
kandung kemih dan kelainan lain.
4. Uroflowmetri, untuk mengukur kelancaran pancaran air seni saat berkemih.
Pengelolaan.
Dapat berupa :
1. Pemantauan/Watchful waiting
2. Obat
3. Pembedahan
Pemantauan / Watchful waiting.
Dilakukan bila keluhannya masih ringan atau sedang sehingga tidak mengganggu kegiatan rutin.
Diperlukan pemantauan berkala untuk evaluasi perkembangan.
Obat.
Sebagian besar BPH dapat ditangani dengan obat, ada 2 jenis :
1. Golongan alfa-blocker. Obat ini merelaksasi otot di sekitar prostat sehingga jepitan pada uretra
berkurang. Umumnya penderita mulai merasakan manfaat 1-2 minggu setelah pengobatan. Efek
samping obat ini antara lain gangguan pencernaan, hidung mampet, sakit kepala, lelah, inpotensi
dan gangguan ejakulasi. Contoh doxazosin (Cardura).
2. Golongan 5-alpa-reductase inhibitor. Obat golongan ini bekerja menghambat pembentukan
hormone DHT dalam prostat sehingga akan mengecilkan prostat yang membesar. Obat ini hanya
bermanfaat untuk prostat yang sudah sangat membesar dan diperluka waktu 3 6 bulan agar
efek obat ini nyata. Efek samping berupa gangguan ereksi, turunnya libido, jumlah semen
berkurang. Contoh finasterid (Prostacom).
Pembedahan
Hanya untuk BPH berat yang sering disertai komplikasi. Beberapa alternatif ialah :
1. Pemotongan sebagian prostat lewat uretra : TURP (Transurethral resection of the prostate)
2. Pemanasan dengan microwave atau radiofrekuesi,
5. Pembuangan sebagian prostat lewat uretra dengan laser
6. Prostatektomi
Efek samping pasca-operasi ialah : Perdarahan, impotensi, urgency, frequency, dan tak bisa tahan
kencing (inkontinen).
Kanker prostat
Kanker prostat adalah kanker nomor dua yang sering terjadi pada kaum pria setelah kanker paruparu. Penyebab kanker prostat sama seperti kanker lain hingga saat ini belum diketahui.

Gejala
Pada stadium awal kanker prostat sering tidak memberi gejala yang khas, berbeda dengan BPH
yang terutama mengenai bagian tengah prostat sehingga cepat menimbulkan penyepitan saluran
kemih, kanker prostat biasanya terjadi di bagian belakang prostat, sehingga pada stadium awal
penderita sering tidak merasakan gangguan berkemih. Tetapi karena kanker prostat terutama
mengenai usia diatas 50 tahun dimana prostat sering juga sudah membesar sehingga penderita
sering berkonsultasi dengan dokter dengan keluhan-keluhan seperti BPH.
Dengan makin berlanjutnya penyakit, kanker prostat akan menembus kapsul dan berkembang ke
jaringan sekitarnya, dimulai dari kelenjar getah bening dan sekitarnya kemudian sel kanker akan
menyebar lewat sistem peredaran darah ke tulang panggul dan tulang belakang.
Pemeriksaan colok dubur atau Digital Rectal Examination DRE menjadi langkah
Diagnosis
Untuk memastikan adanya kanker prostat perlu dilakukan pemeriksaan berikut :
1. DRE atau colok dubur, pada kanker prostat akan ditemukan benjolan yang keras, batas tak
Beraturan.
2. Pemeriksaan PSA, dimana akan ditemukan kadar PSA yang tinggi.
3. Pemeriksaan penunjang lain seperti USG transrectal, CT Scan dan MRI
4. Biopsi

Pengelolaan.
1. Prostatektomi. Operasi mengangkat seluruh prostat.
2. Radioterapi.
Dengan sinar radioaktif membunuh sel kanker dengan seminimal mungkin merusak sel sehat.
3. Implant biji radioaktif.
Biji radioaktif ditanamkan kedalam jaringan kanker sehingga efek terhadap sel sehat minimal.
4. Cryoterapi.
Teknik membunuh sel kanker dengan pembekuan.
5. Terapi hormonal.
Karena pembesaran prostat dipicu hormon, dengan manipulasi kadar hormone pembesaran
prostat akan terkendali.
6. Kemoterapi.
Untuk kanker prostat stadium lanjut, tujuannya untuk memperlambat penyebaran sel kanker.
1. Demam dan meriang.
2. Menunjukkan gejala seperti hendak terkena flu.
3. Sedikit terasa sakit atau nyeri ketika ejakulasi.

4. Terasa sakit di bagian kelenjar prostat, punggung belakang bagian bawah,


atau di panggul.
5. Bermasalah dengan buang air kecil, seperti keinginan buang air kecil yang
sangat mendesak, frekuensinya semakin sering, kesulitan atau rasa sakit
ketika buang air kecil, buang air selalu tidak tuntas.
Kategori kedua bernama prostatitis bakterial kronis. Tanda dan gejala kategori ini berkembang
lebih lambat bila dibandingkan dengan kategori pertama. Penderita mengalami gejala-gejala:

Buang air kecil dengan desakan tidak tertahankan dan frekuensi di atas normal.

Buang air kecil disertai dengan rasa sakit atau sensasi terbakar.

Rasa sakit di bagian panggul, punggung bawah, dan alat kelamin.

Buang air besar berlebihan di malam hari.

Sulit untuk mengeluarkan air seni atau aliran seni semakin lama semakin berkurang.

Terkadang ada di darah di air seni atau air mani.

Ejakulasi disertai rasa sakit.

Kalau pun ada demam, itu adalah jenis yang ringan.

Infeksi saluran kandung kemih yang sering kambuh.

Prostatitis nonbakterial kronis adalah prostatitis kategori ketiga. Gejalanya mirip dengan
prostatitis bakterial kronis, namun kemungkinan besar tidak disertai demam. Satu-satunya cara
untuk menentukan apakah prostatitis tergolong bakterial atau nonbakterial adalah melalui tes di
laboratorium.
Kategori yang paling ringan adalah asymptomatic inflammatory prostatitis atau prostatitis
dengan peradangan tanpa gejala. Sesuai namanya, penderita tidak akan menunjukkan tanda-tanda
layaknya ketiga kategori prostatitis lainnya. Peradangan diketahui saat air mani diperiksa.
Umumnya jenis ini tidak membutuhkan terapi, kecuali bila peradangan ditemukan pada pasien
yang juga mengalami kemandulan.
Walaupun ringan, prostatitis jangan pernah dianggap remeh. Karena itu, lumrah bila kaum pria
disarankan untuk menjalani pemeriksaan fisik secara rutin. Salah satunya adalah untuk
mengetahui kondisi kesehatan prostat Anda
Bila hasil pemeriksaan PSA sedikit meningkat, perlu dilanjutkan dengan pemeriksaan free-PSA
untuk menentukan nilai rasio free-PSA/PSA total.

Komplikasi
Kandung kemih yang tidak terkuras sepenuhnya meningkatkan risiko infeksi saluran kemih
(cystitis). Beberapa pria yang terkena BPH mengembangkan batu kandung kemih. BPH juga
dapat tiba-tiba menyebabkan ketidakmampuan total untuk buang air kecil (dikenal sebagai
retensi akut). Hal ini disebabkan oleh penyumbatan lengkap uretra dan merupakan keadaan
darurat medis yang perlu perawatan segera untuk menghindari kerusakan ginjal.

Prostate Spesific Antigen (PSA)


Prostat merupakan suatu kelenjar sebesar buah kenari yang letaknya
tepat di bawah kandung kemih dan hanya ada pada kaum pria. Prostat
adalah penghasil sebagian besar cairan di dalam air mani (semen) yang
menjaga sperma agar tetap hidup. Kelenjar prostat mulai berkembang
sebelum bayi lahir dan akan terus berkembang hingga mencapai usia
dewasa. Perkembangan prostat dipengaruhi oleh hormon seks pria, yaitu
androgen. Hormon androgen yang utama adalah testosteron. Testosteron
akan menyebabkan kelenjar prostat secara perlahan membesar seiring
dengan meningkatnya usia bayi tersebut.
Prostat pada usia dewasa yang semakin bertambah besar dapat
menghambat aliran air seni melewati uretra (pembuluh yang membawa air
seni dari kandung kemih), sehingga mempersulit atau memperlambat
keluarnya air seni sewaktu buang air kecil. Kondisi ini disebut pembesaran
prostat jinak (Benign Prostatic Hyperplasia/BPH), namun pembesaran prostat
jinak bukanlah kanker. Kanker prostat terjadi jika sel-sel kelenjar prostat
berkembang secara abnormal tidak terkendali sehingga mendesak dan
merusak jaringan di sekitarnya. Penyebab kanker prostat masihlah belum
jelas. Oleh karena itu, pencegahan terhadap kanker prostat saat ini belum
sepenuhnya dapat dilakukan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan adalah
dengan deteksi dini kanker prostat sehingga akibat yang fatal dapat
dihindari. Salah satu deteksi kanker prostat adalah dengan Tes Prostate
Specific Antigen (PSA).
Prostate Specific Antigen (PSA), juga dikenal dengan sebutan gammaseminoprotein

atau

kallikrein-3

(KLK3),

adalah

suatu

protease

yang

disandikan oleh gen KLK3 pada manusia. PSA diproduksi untuk ejakulasi,
dimana PSA tersebut dapat mencairkan semen di koagulat air mani sehingga
memungkinkan sperma untuk berenang bebas. Substansi ini juga dapat
melarutkan lendir serviks sehingga memungkinkan masuknya sperma ke
rahim. Selain itu PSA berfungsi memecah protein ber-BM tinggi dari koagulat
air mani ke dalam bentuk polipeptida yang lebih sederhana. Proses ini
mengakibatkan semen dalam prostat menjadi lebih cair (likuid). PSA
diproduksi secara eksklusif oleh epitel sel-sel prostat, baik yang jinak
maupun yang ganas. PSA ini juga ditemukan dalam bentuk serum. Serum
PSA saat ini adalah metode terbaik untuk mendeteksi lokalisasi kanker
prostat dan respon monitoring untuk perawatan (Tes PSA).
Tes PSA merupakan tes darah yang bertujuan untuk mengukur kadar
protein yang dikeluarkan oleh kelenjar prostat. Bila kadarnya tinggi
mengindikasikan kanker prostat. Namun peningkatan kadar PSA kadang juga
dapat disebabkan oleh pembesaran prostat, infeksi dan/atau peradangan
prostat. Mengukur tingkat PSA dapat meningkatkan kemungkinan penemuan
sangat dini kanker prostat. Jika nilai tes PSA anda tinggi, maka dokter akan
menyarankan melakukan biopsi prostat untuk mengetahui apakah Anda
benar

menderita

kanker

prostat.

Biopsi

prostat

dilakukan

untuk

mendapatkan sampel jaringan prostat yang kemudian diperiksa di bawah


mikroskop

untuk

mendeteksi

ada

tidaknya

sel

kanker.

Pemeriksaan

ultrasonik (transrectal ultrasound) merupakan cara lain untuk mendeteksi


kanker prostat.
Berikut syarat-syarat yang harus dipenuhi pasien ketika melakukan
test PSA :
Pasien tidak memiliki infeksi saluran kemih yang masih aktif
Pasien tidak mengalami ejakulasi dalam 48 jam sebelumnya
Pasien tidak melakukan biopsi prostat dalam enam minggu sebelumnya

Pasien tidak melakukan pemeriksaan dubur rutin (jika memungkinkan,


lakukan tes darah sebelum pemeriksaan; sebaliknya, menunggu satu minggu
setelahnya)

Rentang

normal

PSA

tergantung

umur

dan

Departemen

Kesehatan

menyarankan nilai 'cut-off' berikut :

PSA Cut-off Values


Age (years)

PSA Cut-off (ng/mL)

50-59
60-69
70 and over

3.0
4.0
>5.0

Mendiagnosa Prostatitis
Diagnosis dari prostatitis dipecayakan pada pemeriksaan sejarah dan fisik yang seksama oleh
dokter.
Tes laboratorium yang paling penting adalah urinalysis untuk membantu membedakan tipe-tipe
dari prostatitis. Keperluan untuk tes-tes darah lain atau studi-studi pencitraan (imaging studies)
seperti ultrasound, X-ray, dan computerized tomography (CT) akan tergantung atas situasi dan
presentasi klinis.
Diagnosis Acute bacterial prostatitis
Setelah mengambil sejarah, dokter akan kemungkinan mempunyai pemeriksaan fisik yang
diarahkan yang berkonsentrasi pada scrotum, mencari peradangan dari testicle(s) atau
epididymis, dan sisi dan punggung tengah, dimana ginjal berlokasi. Jika pemeriksaan rectal
dilakukan, prostate mungkin bengkak dan berlumpur, konsisten dengan peradangan akut.

Pengujian laboratorium mungkin termasuk urinalysis, mencari sel-sel darah putih dan bakteribakteri, yang menandakan infeksi. Urin mungkin juga dibiakkan untuk mengidentifikasi bakteribakteri yang bertanggung jawab untuk infeksi, namun hasil-hasil akan memakan waktu tujuh
hari untuk dikembalikan. Hasil-hasil akan membantu mengkonfirmasi bahwa antibiotikantibiotik yang dipilih adalah benar dan mungkin membantu memilih antibiotik pengganti jika
sampai penyakit melaju.
Diagnosis Chronic bacterial prostatitis
Diagnosis dibuat dengan menemukan urinalysis yang abnormal. Adakalanya, urinalysis
dikumpulkan setelah pemeriksaan prostate. Ini mungkin mengizinkan beberapa cairan prostatic
untuk dinyatakan kedalam urine dan dibiakan.
Tes darah yang disebut PSA (prostate surface antigen) mungkin meninggi pada tipe dari
prostatitis ini. Sementara PSA digunakan sebagai alat penyaring kanker prostat, ia juga dapat
meninggi kapan saja prostate meradang.
Diagnosis Chronic bacterial prostatitis
Diagnosis dibuat dengan menemukan urinalysis yang abnormal. Adakalanya, urinalysis
dikumpulkan setelah pemeriksaan prostate. Ini mungkin mengizinkan beberapa cairan prostatic
untuk dinyatakan kedalam urine dan dibiakan.
Tes darah yang disebut PSA (prostate surface antigen) mungkin meninggi pada tipe dari
prostatitis ini. Sementara PSA digunakan sebagai alat penyaring kanker prostat, ia juga dapat
meninggi kapan saja prostate meradang.
Diagnosis Asymptomatic inflammatory prostatitis
Tidak ada gejala-gejala dengan tipe prostatitis ini, bagaimanpun, ketika tes-tes lab rutin
dilakukan, sel-sel darah putih (tanda dari peradangan) ditemukan dalam urin, namun tidak ada
bakteri-bakteri yang berhubungan atau infeksi.