Anda di halaman 1dari 26

Sistem Peradilan Pidana

A. Pengertian Sistem Peradilan Pidana


Istilah Criminal Justice System atau Sistem Peradilan Pidana (SPP)
menunjukkan mekanisme kerja dalam penanggulangan kejahatan dengan
mempergunakan dasar pendekatan sistem.
Pendekatan

sistem

terhadap

peradilan

pidana

pertama

kali

diperkenalkan oleh Frank Remington, yang terdapat dalam laporan pilot


proyek tahun 1985 tentang rakayasa administrasi peradilan pidana
melalui pendekatan sistem di Amerika Serikat. Gagasan ini kemudian di
letakan kepada mekanisme administrasi peradilan pidana dan diberi nama
Criminal Justice system. Gagasan ini muncul karena pada waktu itu di
Amerika Serikat tingkat kriminalitas semakin meningkat dan sebaliknya
kepercayaan masyarakat terhadap aparat penegak hukum semakin
menurun, hal ini diakibatkan karena pendekatan yang digunakan dalam
penegakan hukum adalah hukum dan ketertiban.
Melalui pendekatan sistem ini di Amerika Serikat dan di beberapa
negara Eropa menjadi model yang dominan dengan menitikberatkan pada
the administration of justice serta memberikan perhatian yang sama
terhadap semua komponen dalam penegakan hukum.
Remington dan Ohlin mengemukakan : Criminal Justice System
dapat

diartikan

mekanisme

sebagai

administrasi

pemakaian
peradilan

pendekatan

pidana.

sistem

Sebagai

suatu

terhadap
sistem,

peradilan pidana merupakan hasil interaksi antara peraturan perundangundangan, praktek administrasi dan sikap atau tingkah laku sosial.
Pengertian sistem itu sendiri mengandung implikasi suatu proses interaksi
yang dipersiapkan secara rasional dan dengan cara efisien untuk
memberikan hasil tertentu dengan segala keterbatasannya.

Sistem Peradilan Pidana (Criminal Justice System) adalah sistem


dalam suatu masyarakat untuk menanggulangi masalah kejahatan. 1
Menanggulangi adalah usaha mengendalikan kejahatan agar berada
dalam batas-batas toleransi dengan menyelesaikan sebagian besar
laporan maupun keluhan masyarakat yang menjadi korban kejahatan
dengan mengajukan pelaku kejahatan ke sidang pengadilan untuk diputus
bersalah serta mendapat pidana di samping itu ada hal lain yang tidak
kalah penting adalah mencegah terjadinya korban kejahatan serta
mencegah pelaku untuk mengulangi kejahatannya.

B. Tujuan Sistem Peradilan Pidana menurut Para Ahli


Sistem Peradilan Pidana adalah sistem dalam suatu masyarakat
untuk menanggulangi kejahatan, dengan tujuan :
a. Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan;
b. Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi

sehingga

masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang


bersalah dipidana;
c. Mengusahakan mereka yang pernah melakukan kejahatan
tidak mengulangi lagi kejahatannya.
Dalam sistem peradilan pidana pelaksanaan dan penyelenggaan
penegakan hukum pidana melibatkan badan-badan yang masing-masing
memiliki fungsi sendiri-sendiri. Badan-badan tersebut yaitu kepolisian,
kejaksaan, pengadilan dan lembaga pemasyarakatan. Dalam kerangka
kerja sitematik ini tindakan badan yang satu akan berpengaruh pada
badan yang lainnya.
Berkaitan dengan hal tersebut, Sudarto mengatakan: Instansiinstansi tersebut masing-masing menetapkan hukum dalam bidang dan
wewenangnya. Pandangan penyelenggaran tata hukum pidana demikian
itu disebut model kemudi (stuur model). Jadi kalau polisi misalnya hanya
memberi marah pada orang yang melanggar peraturan lalu lintas dan

tidak membuat proses verbal dan meneruskan perkaranya ke Kejaksaan,


itu sebenarnya merupakan suatu keputusan penetapan hukum. Demikian
pula

keputusan

Kejaksaan

untuk

menuntut

atau

tidak

menuntut

seseorang dimuka pengadilan. Ini semua adalah bagian-bagian dari


kegiatan

dalam

rangka

penegakan

hukum,

atau

dalam

suasana

kriminologi disebut crime control suatu prinsip dalam penanggulangan


kejahatan ini ialah bahwa tindakan-tindakan itu harus sesuai dengan nilainilai yang hidup dalam masyarakat.
Selanjutnya

tampak

pula,

bahwa

sistim

peradilan

pidana

melibatkan penegakan hukum pidana, baik hukum pidana substantif,


hukum pidana formil maupun hukum pelaksanaan pidana, dalam bentuk
yang bersifat prefentif, represif maupun kuratif. Dengan demikian akan
nampak keterkaitan dan saling ketergantungan antar sub sistim peradilan
pidana yakni lembaga kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga
pemasyarakatan. Bahkan dapat ditambahkan di sini Lembaga Penasehat
Hukum dan Masyarakat.
Tujuan Sistem Peradilan Pidana menurut para Ahli :
1. Mardjono Reksodipoetro
Marjono

Reksodipoetro

memberikan

batasan

bahwa

sistem

peradilan pidana adalah sistem pengendalian kejahatan yang terdiri dari


lembaga-lembaga

kepolisian,

kejaksaan,

pengadilan,

dan

lembaga

pemasyarakatan. Berdasarkan apa yang dikemukakan oleh Marjono


tersebut terlihat bahwa komponen atau sub sistem dalam sistem
peradilan pidana adalah kepolisian, kejaksaan, pengadilan dan lembaga
pemasyarakatan.
Mardjono Reksodipoetro menentukan bahwa tujuan dari "Sistem
Peradilan Pidana" adalah :
1) Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan
2) Menyelesaikan kasus kejahatan yang terjadi

sehingga

masyarakat puas bahwa keadilan telah ditegakkan dan yang


bersalah dipidana

3) Mengusahakan agar mereka yang pernah melakukan kejahatan


tidak mengulangi lagi kejahatannya.
2. Muladi
Muladi mengemukakan bahwa sistem peradilan pidana merupakan
suatu jaringan (network) peradilan yang menggunakan hukum pidana
materiil, hukum pidana formal maupun hukum pelaksanaan pidana.
Namun kelembagaan ini harus dilihat dalam konteks sosial. Hal ini
dimaksudkan untuk mencapai keadilan sesuai dengan apa yang dicitacitakan oleh masyarakat.
Menurut

Muladi,

tujuan

Sistem

Peradilan

Pidana

dapat

dikategorikan sebagai berikut :


1) Tujuan jangka pendek, apabila yang hendak dicapai resosialisasi
dan rehabilitasi pelaku tindak pidana.
2) Tujuan jangka menengah, apabila yang hendak dicapai lebih luas
yakni pengendalian dan pencegahan kejahatan dalam konteks
politik kriminal (Criminal Policy).
3) Tujuan jangka panjang, apabila yang hendak dicapai adalah
kesejahteraan masyarakat (social welfare) dalam konteks politik
sosial (Social Policy).
3. Davies
Menurut Davies mengatakan bahwa tujuan sistem peradilan pidana
antara lain:
1) Menjaga masyarakat dengan mencegah kejahatan yang akan
terjadi, dengan merehabilitasi terpidana atau orang-orang yang
diperkirakan mampu melakukan kejahatan.
2) Menegakkan hukum dan respek kepada hukum dengan memastikan
pembinaan yang baik kepada tersangka, terdakwa atau terpidana,
mengeksekusi terpidana dan mencegah masyarakat yang tidak
bersalah dari tuntutan hukum.

3) Menjaga hukum dan ketertiban.


4) Menghukum pelanggar kejahatan sesuai dengan prinsip keadilan.
5) Membantu korban kejahatan.

4. Yahya harahap
Menurut

Yahya

Harahap,

tujuan

sistem

peradilan

pidana

dapat

dirumuskan :
1) Mencegah masyarakat menjadi korban kejahatan
2) Menyelesaikan kejahatan yang terjadi sehingga masyarakat puas
bahwa keadilan telah ditegakan dan yang bersalah dipidana
3) Berusaha agar mereka yang pernah melakukan kejahatan tidak
mengulangi lagi perbuatannya.
5. Robert D. Pursley
Robert D. Pursley, membedakan tujuan sistem peradilan pidana atas
tujuan utama dan tujuan penting lainnya, yaitu :
1) Tujuan utama, diantaranya untuk melindungi warga masyarakat
dan untuk memelihara ketertiban masyarakat.
2) Tujuan penting lainnya adalah sebagai berikut :
a. mencegah kejahatan
b. menekan prilaku yang jahat dengan cara menahan para
pelanggar

dengan

mana

mencegah

mereka

untuk

melakukan kejahatan sudah tidak mempan (tidak efektif)


lagi
c. meninjau keabsahan dari tindakan atau langkah yang
telah dilakukan

di dalam mencegah dan

menekan

kejahatan
d. menempatkan secara sah apakah bersalah mereka yang
ditahan, atau tidak
e. menempatkan secara pantas atau layak mereka yang
secara sah telah dinyatakan bersalah

f.

membina atau memperbaiki para pelanggar hukum.

Dari pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa tujuan dari sistem


peradilan pidana yaitu untuk mencegah terjadinya kejahatan, akan tetapi
tujuan itu tidak akan tercapai apabila sistem tersebut atau komponenkomponen yang merupakan bagian-bagian dari sistem peradilan pidana
belum dapat berjalan dengan baik sesuai dengan wewenang yang
diberikan, oleh karena itu komponen-komponen yang telah ditentukan,
dalam menjalankan kewenangannya harus sesuai dengan kewenangan
yang telah ditentukan kepadanya, karena apabila salah satu komponen
telah

menjalankan

sesuatu

yang

sesuatu

itu

telah

keluar

dari

kewenangannya maka akan berdampak pada komponen-komponen yang


lain dan hal ini akan mempengaruhi kinerja komponen-komponen secara
keseluruhan.
Jadi

pada

hakekatnya

dibentuknya

sistem

peradilan

pidana

mempunyai dua tujuan, yaitu tujuan internal sistem dan tujuan eksternal.
Tujuan internal, agar terciptanya keterpaduan atau sinkronisasi antar
subsistem-subsistem dalam tugas menegakkan hukum. Sedangkan tujuan
eksternal untuk melindungi hak-hak asasi tersangka, terdakwa dan
terpidana sejak proses penyelidikan sampai proses pemidanaan. Dengan
demikian, sebenarnya tujuan dari sistem peradilan pidana baru selesai
apabila pelaku kejahatan telah kembali terintegrasi ke dalam masyarakat,
hidup sebagai anggota masyarakat umumnya yang taat pada hukum.

Perkembangan Pendekatan Sistem dalam Peradilan Pidana


Packer membedakan pendekatan normatif kedalam dua model
yaitu crime control process dan due control process dan pembedaan ke
dua model tersebut sesuai dengan kondisi sosial, budaya dan struktural
masyarakat Amerika Serikat.
Polarisasi pendekatakan normatif ke dalam sistem peradilan pidana
tersebut tidak bersifat mutlak, sehingga operasionalisasi kedua model ini
dilandaskan pada asumsi yang sama sebagai berikut :
a.
Penetapan suatu tindakan sebagai tindak pidana harus lebih dahulu
ditetapkan jauh sebelum proses identifikasi dan kontak dengan
seorang tersangka pelaku kejahatan atau asas ex post facto law
b.

atau asas undang-undang tidak berlaku surut.


Diakuinya kewenangan yang terbatas pada aparatur penegak hukum
untuk melakukan tindakan penyidikkan dan penangkapan terhadap

c.

seorang tersangka pelaku kejahatan


Seorang pelaku kejahatan adalah

subjek

hukum

yang

harus

dilindungi dan berhak atas peradilan yang jujur dan tidak memihak
1.

Crime Control Process


Crime control model lebih mengutamakan profesionalisme pada

aparat penegak hukum untuk menyingkap, mencari dan menemukan

pelaku tindak pidana. Profesional yang merupakan sifatnya, maka


peraturan yang bersifat formal sering dilanggar, dan kadang-kadang
untuk mendapatkan barang bukti, para profesionalis ini memaksakan
cara-cara ilegal untuk tujuan cepat dan effisiensi. Sehingga untuk
menghindari

hambatan

dari

proses

pidana

itu

maka

kewenangan

kebijakan dari penegak hukum itu seringkali diperluas. Dan dalam


kenyataannya bahwa Crime Control Model ini sering dipertentangkan
sebagai kurang manusiawi dan tidak menghormati Hak Asasi Manusia.
Crime Control Model adalah sistem berjalan sangat cepat. Dalam model
ini, pemeriksaan harus ditangani oleh tenaga yang ahli (expert), agar
tidak terjadi kesalahan. Azas yang dipakai adalah presumption of guilty
(praduga bersalah) dan berdiri diatas konsep factual guilt. Herbert L.
Packer dalam bukunya yang berjudul: The Limits of Criminal Sanction
dimana disebutkan bahwa dimensi dari Crime Control Model bertitik tolak
kepada keadilan dengan titik tolak tindakan represif merupakan keadilan
yang ingin dicapai guna menekan angka kejahatan. Dilihat dari segi asas
yang dipakai, KUHAP mengikuti asas praduga tak bersalah (presumption
of innocent) yang biasa dipakai dalam model due proses model , bukan
asas praduga bersalah (presumption of guilty) yang biasa dipakai dalam
modelcrime control model.
Hal ini tampak dalam Penjelasan KUHAP, Bagian I Umum ke-tiga,
yang menyatakan: setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan,
dituntut dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap
tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang menyatakan
kesalahannya

dan

memperoleh

kekuatan

hukum

tetap.

Selain

menunjukkan asas apa yang dipakai oleh KUHAP, penjelasan tersebut juga
mengisyaratkan bahwa putusan pengadilan (yang berkekuatan hukum
tetap) adalah inti dari proses peradilan, karena penentuan salah atau
tidaknya terdakwa sangat tergantung padanya.
Asas presumption of innocent adalah asas yang adanya adalah dalam
model DUE PROCESS MODEL, dan salah satu ciri khas dari DUE PROCESS
MODEL lainnya adalah pentingnya peran pengadilan sebagai tujuan akhir
proses dan sebagai tempat untuk menentukan bersalah atau tidaknya

terdakwa. Sehingga, bila dilihat dari segi asas yang dipakai dan peran dari
pengadilan dalam rangkaian proses peradilan, secara normatif KUHAP
cenderung pada model DUE PROCESS MODEL. Hal tersebut adalah bila
dilihat dari hukum acara secara umum. Agar lebih jelas, berikut adalah
analsis dari tahap pemeriksaan pendahuluan sampai tahap persidangan di
pengadilan.
Nilai-nilai yang melandasi criminal control process adalah :
1.
Tindakan represif terhadap suatu tindakan criminal merupakan fungsi
2.

terpenting dari suatu proses peradilan


Perhatian utama harus ditujukan kepada
penegakkan

hukum

untuk

menyeleksi

efisiensi

tersangka,

dari

suatu

menetapkan

kesalahannya dan menjamin atau melindungi hak tersangka dalam


3.

proses peradilan
Proses kriminal penegakkan hukum harus dilaksanakan berlandaskan
prinsip cepat (speedy) dan tuntas (finality) dan model yang dapat
mendukung proses penegakkan hukum tersebut adalah harus model

4.

administrative dan menyerupai model manajerial


Asas praduga bersalah atau presumption

5.

menyebabkan sistem ini dilaksanakan secara efisien


Proses penegakkan hukum harus menitikberatkan kepada kualitas

of

guilt

akan

temuan-temuan fakta administrative. Oleh karena temuan tersebut


a.
b.

akan membawa kearah :


Pembebasan seorang tersangkka dari pembunuhan
Kesediaan tersangka menyatakan dirinya bersalah atau plead of
guilty
Terkait dengan hal tersebut di atas, lebih lanjut Herbert Packer

(1978: 157-158) menyatakan ciri-ciri model tersebut antara lain adalah:


1.
The Crime Control Model tends to the emphasize this adversary
aspect of the process. The Process Model tends to make it central;
a. (Model pengendalian kejahatan cenderung menekankan aspek
yang berlawanan dan proses itu. Model proses itu cenderung
2.

menjadikannya pusat) .
The value system thal underlies the Crime Control Model is based on
the pmposition thal the repression ofcriminal conduct is byfar the

most important function to be performed bythe criminal process. In


order to achieve this high purpose, the Crime Control Model requires
thal primary attention be paid to the efficiency with which the
criminal process operates to screen suspect deterinine guilt and
secure appropriate dispositions of prison convicted of crime;
b. (Sistem nilal yang mendasari model pengendalian kejahatan
didasarkan pada proposisi bahwa repsesi perilaku kriminal adalah
fungsi yang paling penting dilakukan oleh proses kriminal. Untuk
mencapal tujuan yang tinggi ini, model pengendalian kejahatan
menuntut perhatian utama untuk efisiensi yang dengannya
proses

kriminal

beroperasi

untuk

melindungi

kesalahan

tersangka dan mengamankan disposisi yang cocok untuk penjara


3.

karena melakukan kejahatan.


The presumption of guilt, as it operates in the Crime Control Model,
66 Wawasan Due Proses of Law Dalam Sistem Peradilan Pidana is the
operation expression of thal confidence. It would be a inistake to
think of the presumption of guilt as the opposite of the presumption
of innocence thal we are so used to thinking of as the polestar of the
criminal process and thal was we shall see, occupies an important
position in the Due Process Model; (Anggapan bersalah, seperti yang
berlaku pada Model Pengendalian Kejahatan, adalah pernyataan
perlakuan dan keyakinan itu. Adalah salah bila anggapan bersalah itu
sebagai lawan dan anggapan tidak bersalah bahwa kita sangat
terbiasa memikirkan sebagai bintang kutub dan proses kriminal dan
itu yang akan kita lihal, menempati posisi penting pada Model

4.

Perlindungan Hak).
If the Crime Control Model resembles an assembly line, the Due
Process Model looks very much like an obstacle course. (Jika Model
Pengendalian

Kejahatan

menyerupai

sistem

pekerjaan,

Model

Perlindungan Hak kelihalannya persis sama dengan rangkaian


kesulitan yang harus dilewati).
Crime control model mengutamakan efisiensi dalam pencegahan
kejahatan. Yang dimaksud dengan efisiensi disini ialah kemampuan pihak

yang

berwenang

pembinaan

untuk

melakukan

penahanan,

pemidanaan,

dan

pelaku kejahatan yang diketahui melakukan perbuatan

melanggar hukum. Oleh karena CCM tersebut mengutamakan efisiensi


dalam pencegahan kejahatan, maka model tersebut dinamakan juga
assembly line conveyor belt atau sistem ban berjalan. Dengan
mengandalkan pada sistem ban berjalan tersebut, tentu ada tindakantindakan yang dilakukan tanpa dianalisis secara seksama, dan hal seperti
itu akan mengakibatkan terjadinya pelanggaran hukum.
Apabila sistem ban berjalan atau assembly line

conveyor

belt

dibandingkan dengan Pasal 17 Undang-UndangNo. 8 Tahun 1981 tentang


KUHAP dapat ditarik kesimpulan bahwa di Indonesia sistem ban berjalan
tidak dianut, oleh karena penangkapan bagi seorang hanya dimungkinkan
apabila ada dugaan keras telah melakukan tindak pidana berdasarkan
bukti yang cukup.
2.

Due Process Model


Due prosces model digambarkan sebagai jalan yang berliku dan

penuh hambatan. Dalam model ini, yang terpenting adalah kesesuaian


dengan hukum acara yang ada, kecepatan tidak menjadi prioritas. Due
Proses Model

memperkecil kesalahan karena selalu berjalan di atas rel

aturan, namun akan menimbulkan lebih banyak korban. Hal ini karena
polisi tidak bisa bertindak sebelum putusan yang mengikat. Baik CRIME
CONTROL MODEL maupun DUE PROCESS MODEL, keduanya tetap berjalan
diatas koridor hukum acara, karena keduanya hanyalah kecenderungan
model yang ada dalam praktek. CRIME CONTROL MODEL maupun oleh
model DUE PROCESS MODEL, dimana terhadap kewenangan penguasa
dalam melakukan penyidikan maupun kewenangan penanganan terhadap
mereka yang dituduh melakukan tindak pidana, diberikan batasanbatasan tertentu. Hanya saja, batasan yang tampak dalam model CRIME
CONTROL MODEL relatif lebih longgar dibandingkan DUE PROCESS
MODEL.
Dilihat dari segi asas yang dipakai, KUHAP mengikuti asas praduga
tak bersalah (presumption of innocent) yang biasa dipakai dalam model

DUE PROCESS MODEL, bukan asas praduga bersalah (presumption of


guilty) yang biasa dipakai dalam model CRIME CONTROL MODEL. Hal ini
tampak

dalam

Penjelasan

KUHAP,

Bagian

Umum

ke-tiga,

yang

menyatakan: setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut


dan atau dihadapkan di muka sidang pengadilan, wajib dianggap tidak
bersalah

sampai

kesalahannya

dan

adanya

putusan

memperoleh

pengadilan

kekuatan

yang

hukum

menyatakan
tetap.

Selain

menunjukkan asas apa yang dipakai oleh KUHAP, penjelasan tersebut juga
mengisyaratkan bahwa putusan pengadilan (yang berkekuatan hukum
tetap) adalah inti dari proses peradilan, karena penentuan salah atau
tidaknya terdakwa sangat tergantung padanya.
Asas presumption of innocent adalah asas yang adanya adalah
dalam model DUE PROCESS MODEL, dan salah satu ciri khas dari DUE
PROCESS MODEL lainnya adalah pentingnya peran pengadilan sebagai
tujuan akhir proses dan sebagai tempat untuk menentukan bersalah atau
tidaknya terdakwa. Sehingga, bila dilihat dari segi asas yang dipakai dan
peran dari pengadilan dalam rangkaian proses peradilan, secara normatif
KUHAP cenderung pada model DUE PROCESS MODEL.Hal tersebut adalah
bila dilihat dari hukum acara secara umum. Agar lebih jelas, berikut
adalah analsis dari tahap pemeriksaan pendahuluan sampai tahap
persidangan di pengadilan.
Nilai-nilai yang melandasi due process model adalah:
1.
Kemungkinan adanya factor kelalaian yang sifatnya manusiawi atau
human error menyebabkan model ini menolak informal fact finding
process sebagai cara untuk menetapkan secara definitive factual
guilt seseorang. Model ini mengutamakan formal-adjudicative dan
adversary fact-finding. Hal ini berarti dalam setiap kasus tersangka
harus diajukan ke muka pengadilan yang tidak memihak dan
diperiksa sesudah tersangka memperoleh hak yang penuh untuk
2.

mengajukan pembelaannya.
Model ini menekankan kepada pencegahan (preventif measures) dan
menghapuskan sejauh mungkin kesalahan mekanisme administrasi
peradilan

3.

Model ini beranggapan bahwa menempatkn individu secara utuh dan


utama di dalam proses peradilan dan konsep pembatasan wewenang
formalsangat memperhatikan kombinasi stigma dan kehilangan
kemerdekaan yang dianggap merupakan pencabutan hak asasi
seseorang yang hanya dapat dilakukan oleh Negara. Proses peradilan
dipandang sebagai coercive (menekan), restricting (membatasi) dan
merendahkan martabat (demeaning).
Model ini bertitik tolak dari nilai yang bersifat anti terhadap

4.

kekuasaan sehingga model ini memegang teguh doktrin : legal-guilt.


Doktrin ini memiliki konsep pemikiran sebagai berikut:
a.
Seseorang
dianggap
bersalah
apabila

penetapan

kesalahannya dilakukan secara procedural dan dilakukan


oleh mereka yang mereka yang memiliki kewenangan
b.

untuk tugas tersebut


Seseorang tidak dapat dianggap bersalah sekalipun
kenyataan akan memberatkan jika perlindungan hukum
yang

diberikan

bersangkutan

undang-undang
tidak

efektif.

kepada
Penetapan

orang

yang

kesalahan

seseorang hanya dapat dilakukan oleh pengadilan yang


tidak memihak. Dalam konseo legal guilt ini terkandung
5

asas praduga tak bersalah atau persuption of innonce.


Gagasan persamaan dimuka hakim atau equality before the law lebih
diutamakan, berarti pemerintah harus menyediakan fasilitas yang
sama untuk setiap orang yang berurusan dengan hukum. Kewajiban
pemerintah

ialah

menjamin

bahwa

ketidakmampuan

secara

ekonomis seorang tersangka tidak akan menghalangi haknya untuk


membela dirinya di muka pengadilan.
6. Due process model lebih mengutamakan kesusilaan dan kegunaan
sanksi pidana (criminal sanction).
Tujuan khusus due process model adalah sekurang-kurangnya melindungi
mereka yang factual tidak bersalah (factually innocent) sama halnya
dengan menuntut mereka yang factual bersalah (factually guilty).

Baik Crime Control Model maupun Due Process Model, keduanya


tetap berjalan diatas koridor hukum acara, karena keduanya hanyalah
kecenderungan model yang ada dalam praktek. Oleh karena itu, Crime
Control Model bukan berarti melanggar HAM, karena masih tetap pada
Due Process of Law sebagaimana ditentukan oleh konstitusi.
Sebagai sistem, maka kedua model ini tentu memiliki sisi lebih dan sisi
kurang. Hal ini akan lebih jelas dalam tabel berikut:
Table Perbandingan System Due Process Dan Crime Control Models :
Crime control models
Represif

a.

a.

Due process
Preventif

b.

Presumption of Guilt

b.

Presumption of Innocence

c.

Informal Fact Finding

c.

Adjudicative

d.

Factual Guilt Efficiency.

d.

Adjudicative

e.

Legal Guilt Efficiency

Dari sisi tujuan yang ingin dicapai, maka perbedaan kedua model ini bisa
dilihat dari tabel berikut:

Nomor

Model Sistem Peradilan Tujuan yang ingin dicapai dari Sistem


Pidana

1.

Due
(DPM)

Peradilan Pidana Tersebut


Proses

Model Menggambarkan suatu versi yang diidealkan


tentang bagaimana sistem harus bekerja
sesuai dengan gagasan-gagasan atau sifat
yang ada dalam aturan hukum. Hal ini
meliputi

prinsip-prinsip

tentang

hak-hak

terdakwa, asas praduga tidak bersalah, hak


terdakwa untuk diadili secara adil, persamaan
di depan hukum dan peradilan.

2.

Crime

Control

Model Sistem yang bekerja dalam menurunkan atau

(CCM)

mencegah dan mengekang kejahatan dengan


menuntut dan menghukum mereka yang
bersalah.

Lebih menjaga

dan melayani

masyarakat. Polisi harus berjuang melawan


kejahatan.

3.

Due Process Of Law dan Aplikasinya


Penerapan due process of law merupakan salah satu ciri dalam

Negara hukum di Indonesia, yaitu adanya upaya perlindungan terhadap


korban kejahatan dan harus dapat diterapkan dalam penyelesaian
masalah hukum pidana.
Pengertian due process of law secara etimologi atau bahasa
terambil dari kata Due yang artinya Hak sehingga memiliki arti due
process of law sebagai ,mendapat perlindungan atau pembelaan diri
sebagai hak. Dalam istilah yang disebutkan dalam tata paham
hukum (due process of law) diartikan

Negara

penegakan hukum dengan cara

tidak bertentangan dengan hukum. Istilah due process of law mempunyai


konotasi bahwa segala sesuatu harus dilakukan secara adil. Konsep due
process of law sebenarnya terdapat dalam konsep hak-hak fundamental
(fundamental rights) dan konsep kemerdekaan/kebebasaan yang tertib
(ordered liberty).
Konsep due process of law yang prosedural pada dasarnya didasari
atas konsep hukum tentang keadilan yang fundamental (fundamental
fairness).Perkembangan , due process of law yang prosedural merupakan
suatu proses atau prosedur formal yang adil, logis dan layak, yang harus
dijalankan oleh yang berwenang, misalnya dengan kewajiban membawa
surat perintah yang sah, memberikan pemberitahuan yang pantas.
Kesempatan yang layak untuk membela diri termasuk memakai
tenaga ahli seperti pengacara bila diperlukan, menghadirkan saksi-saksi
yang cukup, memberikan ganti rugi yang layak dengan proses negosiasi
atau

musyawarah

yang

pantas,

yang

harus

dilakukan

manakala

berhadapan dengan hal-hal yang dapat mengakibatkan pelanggaran

terhadap hak-hak dasar manusia, seperti hak untuk hidup, hak untuk
kemerdekaan atau kebebasan (liberty), hak atas kepemilikan benda, hak
mengeluarkan pendapat, hak untuk beragama, hak untuk bekerja dan
mencari penghidupan yang layak, hak pilih, hak untuk berpergian kemana
dia suka, hak atas privasi, hak atas perlakuan yang sama (equal
protection) dan hak-hak fundamental lainnya.
Sedangkan yang dimaksud dengan due process of law yang
substansif adalah suatu persyaratan yuridis yang menyatakan bahwa
pembuatan suatu peraturan hukum tidak boleh berisikan hal-hal yang
dapat mengakibatkan perlakuan manusia secara tidak adil, tidak logis dan
sewenang-wenang.

Dalam

setiap

Negara

Hukum,

dipersyaratkan

berlakunya asas legalitas dalam segala bentuknya (due process of law),


yaitu bahwa segala tindakan pemerintahan harus didasarkan atas
peraturan

perundang-undangan

yang

sah

dan

tertulis.

Peraturan

perundang-undangan tertulis tersebut harus ada dan berlaku lebih dulu


atau mendahului tindakan atau perbuatan administrasi yang dilakukan.
Dengan demikian, setiap perbuatan atau tindakan administrasi harus
didasarkan atas aturan atau rules and procedures (regels). Prinsip
normative

demikian

nampaknya

seperti

sangat

kaku

dan

dapat

menyebabkan birokrasi menjadi lamban.


Oleh karena itu, untuk menjamin ruang gerak bagi para pejabat
administrasi
pengimbang,

negara
diakui

dalam
pula

menjalankan
adanya

tugasnya,

prinsip

maka

frijsermessen

sebagai
yang

memungkinkan para pejabat tata usaha negara atau administrasi negara


mengembangkan dan menetapkan sendiri beleid-regels (policy rules)
ataupun peraturan-peraturan yang dibuat untuk kebutuhan internal
(internal regulation) secara bebas dan mandiri dalam rangka menjalankan
tugas jabatan yang dibebankan oleh peraturan yang sah.

Dikhotomi Dalam Sistem Peradilan Pidana

1. Dikhotomi dalam Sistem Peradilan Pidana (system Inkuisitur


dan system akusatur)
Kamus

Besar

Bahasa

Indonesia

(KBBI)

dikotomi

pembagian atas dua kelompok yang saling bertentangan, dari


Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas.
Dikotomi

merupakan

suatu

konsep

teologis

yang

menyatakan bahwa diri manusia dapat dibedakan dalam dua


aspek, yakni jiwa yang bersifat rohani dan tubuh yang bersifat
jasmani. Konsep dikotomi berbeda dengan dualisme yang juga
memisahkan antara tubuh dan jiwa manusia. Di dalam konsep
dualisme, tubuh dianggap lebih rendah dari jiwa, bahkan tubuh
dipandang jahat. Sedangkan dalam konsep dikotomi, tidak ada
anggapan bahwa tubuh adalah jahat atau lebih rendah, kendati
tubuh tidaklah abadi seperti jiwa.
Dalam peradilan pidana dikenal akan adanya 2 (dua) sistem
pemeriksaan, yaitu ;
1)

Sistem Accusatoir ;
a. Dalam pemeriksaan dengan sistem ini, tersangka atau
terdakwa

diakui

sebagai

subyek

pemeriksaan

dan

diberikan kebebasan seluas-luasnya untuk melakukan


pembelaan

diri

atas

tuduhan

atau

dakwaan

yang

ditujukan atas dirinya.


b. Pemeriksaan Accusatoir dilakukan dengan pintu terbuka,
artinya semua orang dapat dan bebas melihat jalannya
pemeriksaan itu.
c. Pemeriksaan Accusatoir diterapkan dalam memeriksa
terdakwa di depan sidang pengadilan.
2)

Sistem Inquisitoir ;
a. Sistem

pemeriksaan

sistem

inquisitoir

adalah

suatu

pemeriksaan dimana tersangka atau terdakwa dianggap


sebagai obyek pemeriksaan. Tersangka atau terdakwa

dalam sistem ini tidak mempunyai hak untuk membela


diri.
b. Pemeriksaan

Inquisatoir

ini

dilakukan

dengan

pintu

tertutup, artinya tidak semua orang dapat dan bebas


melihat jalannya pemeriksaan itu.
c. Pemeriksaan

inquisitoir

digunakan

dalam

memeriksa

tersangka pada tingkat penyidikan.


Dalam usaha untuk menjunjung tinggi hak-hak asasi manusia
serta martabat manusia, sesuai dengan dasar dan falsafah hidup
bangsa dan Negara Indonesia, maka

Undang-undang No. 8 tahun

1981 tentang Hukum Acara Pidana, telah meletakkan perubahan pada


sistem pemeriksaan permulaan dan pemeriksaan persidangan dengan
meninggalkan sistem pemeriksaan atas landasan HIR, bahkan sama
sekali

bertolak

belakang.

Perubahan

yang

mendasar

ialah

diletakkannya tersangka sebagai subyek yang mempunyai hak untuk


membela

diri

di

dalam

pemeriksaan

permulaan

di

muka

penyidik/penyelidik dengan didampingi penasihat hukum. Penasehat


hukum ini dapat mengikuti jalannya pemeriksaan secara pasif dengan
melihat

dan

mendengar

pemeriksaan

yang

dilakukan

penyidik

terhadap tersangka.
Dalam KUHAP terdapat dua golongan mengenai pemeriksaan
terhadap orang yang disangka dan orang yang didakwa melakukan
tindak pidana yaitu:
1.

Pemeriksaan permulaan (vooronderzoek), yang dilakukan oleh


penyidik dan menganut sistem pemeriksaan inquisitoir yang
lunak.

2.

Pemeriksaan persidangan (gerechtelijk onderzoek), yang dilakukan


oleh hakim, dianut sistem pemeriksaan accusitoir.

Perbedaan fundamental dari sistem akusatur dengan sistem


inkuisitur dimana dalam sistem terakhir, tidak terdapat sama sekali
pembatasan

bagi

aktivitas

ruang

gerak

penyelidikan

atau

pemeriksaan. Perbedaan lainnya antara kedua sistem tersebut di atas


ialah dalam sistem akusatur, tertuduh berhak mengetahui dan
mengikuti setiap tahap dari proses peradilan, dan juga berhak
mengajukan sanggahan atau argumentasinya (tersangka diperlakukan
sebagai

subyek).

Sedangkan

dalam

sistem

inkuisitur,

proses

penyelesaian perkara dilakukan sepihak dan tertuduh dibatasi dalam


mengajukan pembelaan nya (tersangka diperlakukan sebagai obyek)
Dikhotomi dalam sistem peradilan pidana yang telah berabadabad yang lampau dijadikan studi perbandingan, dewasa ini telah
kehilangan ketajaman perbedaannya. Halmana lebih menonjol lagi
dengan ditemukannya sistem campuran (the mixed type) dalam
sistem peradilan pidana, sehingga batas pengertian antara sistem
inkuisitur dan sistem akusatur sudah tidak dapat dilihat lagi secara
tegas. Untuk menghindarkan kesimpangsiuran di atas tampaknya kini
di daratan Eropa, terutama di negara-negara yang menganut Common
Law System, sistem peradilan pidana mengenal dua model, yakni: the
adversary model dan the non-adversary model
Adversary model dalam sistem peradilan pidana menganut
prinsip sebagai berikut:
1. Prosedur

peradilan pidana harus merupakan suatu sengketa

(dispute) antara kedua belah pihak (tertuduh dan penuntut umum)


dalam kedudukan (secara teoritis) yang sama dimuka pengadilan.
2. Tujuan utamanya (prosedur) adalah menyelesaikan sengketa yang
timbul disebabkan timbulnya kejahatan.

3. Penggunaan

cara

pengajuan

sanggahan

atau

pernyataan

(pleadings) dan adanya lembaga jaminan dan perundingan.


4. Para pihak atau kontestan memiliki fungsi yang otonom dan jelas;
peranan penuntut umum ialah melakukan penuntutan; peranan
tertuduh ialah menolak atau menyanggah tuduhan.
Sedangkan non-adversary model menganut prinsip bahwa:
1. Proses

pemeriksaan

harus

bersifat

lebih

formal

dan

berkesinambungan serta dilaksanakan atas dasar praduga bahwa


kejahatan telah dilakukan (presumption of guilt);
2. Tujuan utamanya adalah menetapkan apakah dalam kenyataannya
perbuatan

tersebut

merupakan

perkara

pidana,

dan

apakah

penjatuhan hukuman dapat dibenarkan karenanya;


3. Penelitan terhadap fakta yang diajukan oleh para pihak (penuntut
umum dan tertuduh) oleh hakim dapat berlaku tidak terbatas dan
tidak bergantung panda atau tidak perlu memperoleh izin para
pihak.
4. Kedudukan masing-masing pihak-penuntut umum dan tertuduhtidak lagi otonom dan sederajat;
5. Semua sumber informasi yang dapat dipercaya dapat dipergunakan
guna

kepentingan

persidangan.

pemeriksaan

Tertuduh

pendahuluan

merupakan

obyek

ataupun
utama

di

dalam

pemeriksaan.
2. Asal-usul dan Perkembangan system Inkuisitur
system Inkuisitur merupakan bentuk proses penyelesaian
perkara pidana yang semula berkembang di daratan Eropa abad ke
13

sampai

dengan

awal

pertengahan

abad

ke-19.

Proses

penyelesaian perkara pidana berdasarkan system Inkuisitur pada


masa itu dimulai dengan adanya inisatif penyidik atas kehendak
sendiri

untuk

pemeriksaan

menyelidiki
dilakukan

kejahatan.

secara

Cara

rahasia.

penyelidikan

Tahap

pertama

dan
yang

dilakukan oleh penyidik ialah meneliti apakah suatu kejahatan telah


dilakukan, dan melakukan identifikasi para pelakunya. Apabila
tersangka pelaku kejahatan telah diketahui dan ditangkap, maka
tahap kedua, ialah memeriksa pelaku kejahatan tersebut. Dalam
tahap ini tersangak ditempatkan terasing dan tidak diperkenankan
berkomunikasi dengan pihak lain atau keluarganya. Pemeriksaan
atas diri tersangka dan para saksi dilakukan secara terpisah dans
semua jawaban tersangka maupun para saksi dilakukan dibawah
sumpah dan dicatat dalam berkas hasil pemeriksaan. Kepada
tersangka tidak diberitahukan dengan jelas isi tuduhan dan jenis
kejahatan yang telah dilakukan serta bukti yang memberatkannya.
Satu-satunya tujuan pemeriksaan waktu itu ialah memperoleh
memperoleh pengakuan (confession) dari tersangka. Khususnya
dalam kejahatan berat, apabila tersangka tidak mau secara
sukarela mengakui perbuatan atau kesalahannya, maka petugas
pemeriksa akan memperpanjang penderitaan tersangka melalui
cara penyiksaan (torture) sampai diperoleh pengakuan.
Setelah selesai, petugas pemeriksa akan menyampaikan
berkas hasil pemeriksaannya ke pengadilan. Pengadilan akan
memeriksa perkara tersangka hanya atas dasar hasil pmeriksaan
sebgaimana tercantum dalam berkas dimaksud. Walaupun pada
masa itu penuntut umum telah ada, namun tidak memiliki peranan
yang berarti dalam proses penyelenggaran penyelesain perkara,
khususnya dalam pengajuan, pengembangan lebih lanjut atau
dalam penundaan perkara yang bersangkutan.
Salama pemeriksaan berkas perkara berlangsung, tertuduh
tidak dihadapkan ke muka sidang pengadilan. Dalam kenyataan

persidangan dilaksanakan secara tertutup. Selama penyelesaian


perkara berlangsung, tertuduh tidak berhak didampingi pembela..
demikianlah gambaran proses peradilan pidana yang terjadi pada
abad ke-13 sampai dengan awal pertengahan abad ke-19.
Apabila diteliti, tampak proses penyelesaian perkara pidana
pada masa itu demikian singkat dan sederhana, dan tidak tampak
sama sekali perlindungan dan jaminan akan hak asasi seseorang
yang tersangkut dalam perkara pidana (tersangka atau tertuduh)
Secara hsitoris, gambaran yang sangat buruk terhadap
pelaksanaan system Inkuisitur pada masa itu sesungguhnya
disebabkan sangat kejamnya hukum (cara) pidana yang berlaku
saat itu dan juga disebabkan kekaburan pengertian tentang proses
peradilan pidana dengan apa yang dikenal atau disebut sebagai
The Holy Inquisition.
Tahap

pemeriksaan

pendahuluan,

pada

dasarnya

mempergunakan bentuk Inkuisitur akan tetapi proses penyelidikan


dapat dilaksanakan oleh the public prosecutor. Dalam pelaksanaan
penyelidikan ini dapat seorang investigating judge atau pejabat
yang ditunjuk untuk itu dan tidak memihak, untuk melaksanakan
pengumpulan

bukti-bukti berlainan

dengan system Inkuisitur,

dalam system ini, aktivitas pengambilam bukti dilakukan dan dapat


dihadiri oleh para pihakyang terlibat dalam perkara. Tertuduh dapat
diperiksa oleh pemeriksa, akan tetapi tidak lagi diwajbkan utnuk
menjawab. Pada akhir proses pemeriksaan pendahuluan atau
sebelumnya, tertuduh dan penasihat hukumnya memperoleh hak
yang tiada terbatas untuk meneliti berkas perkara. Dari proses
pemeriksaan pendahuluan ini, jelas bahwa proses penemuan bukti
dilakukan secara terbuka.
Tahap selanjutnya setelah proses pemeriksaan pendahuluan,
dilandaskan pada system akusatur. Tahap ini dimulai penyampaian
berkas perkara kepada public prosecutor yang harus menentukan

apakah perkara akan diteruskan ke pengadilan. Tidak terdapat


suatu proses arraignment, sebagaimana terjadi pada system
adversary di Negara Anglo-Amerika. Peradilan dilakukan secara
terbuka kedua belah pihak hadir di persidangan dan memperoleh
hak

dan

kesempatan

argumentasi

dan

yang

sama

berdebat.

Pada

untuk

saling

prinsipnya

mengajukan

dalam

tahap

persidangan ini, semua bukti yang telah dikumpulkan dari hasil


pemriksaan pendahuluan, diajukan oleh para pihak dan diuji
kembali

kebenarannya.

Pelaksanaan

pengujian

kembali

dilaksanakan oleh hakim professional khusus untuk keperluan


tersebut. Ia tidak hanya aktif mengajukan pertanyaan kepada para
saksi,

melainkan

juga

berwenang

dan

diharuskan

semua

permasalahan yang relevan dengan isi surat tuduhan. Jika dianggap


perlu, ia dapat mendengar dan memeprehatikan bukti yang tidak
secara formal diajukan oleh para pihak. Hal penting lainnya pada
tahap ini ialah proses pemeriksaan di persidangan tidak dibedakan
dalam fase penentuan kesalahan dan fase penghukuman
Apabila kita bandingkan system campuran atau the mixed
dengan inquisitorial type dapat dismpulkan bahwa sebagian
besar prinsip system terdahulu dilandaskan pada prinsip akusatur.
Bahkan dapat pula dikatakan bahwa kedudukan system campuran
ini berada diantara system inkuisitur dan akusator.
Berdasarkan uraian diatas bahwa sejak pertengahan abad 19
didaratan Eropa telah dianut system campuran, tidak lagi dianut
system inkuisitur yang sesungguhnya. Jika demikian halnya, HIR
sebagai

produk

peraturan

perundang-undangan

masa

Hindia

Belnda yang berorientasi perundang-undangan di negeri Belanda


yang disusun oleh komisi wichers, sesungguhnya menganut system
campuran tidak lagi menganut system inkuisitur disesuikan dengan
pemikiran yang berkembang stelah pertengahan abad-19 tentang
system

peradilan

pidana.

Salah

satu

ciri

dianutnya

system

campuran dalm HIR dapat kita lihat dengan diberikannya peranan


yang besar kepada jaksa penuntut umum, baik sebagai penyidik
maupun sebagai penutut umum, hal ini tidak dapat ditemukan
dalam system inkuisitur yang sesungguhnya. Ciri lain yang terdapat
dalam HIR di mana sidang dilakukan secara terbuka, tertuduh hadir
dipersidangan bersama-sama jaksa penuntut umum, baik tertuduh
maupun penasihat hukumnya masih diperkanankan mempelajari
berkas perkara sebulum sidang pengadilan dimulai, tertuduh
diperkenankan

didampingi

penasihat

hukumnya,

bahkan

diahruskan dalam hal kejahatan yang diancam hukuman mati.


3. Perkembangan terakhir dalam system peradilan pidana dan
pergeseran System Inkuisitor ke Akusator dalam UU acara
pidana Inggris
Dikotomi

dalam

system

peradilan

pidana

yang

telah

berabad-abad sekarang ini tampaknya telah hilang ketajaman


perbedaannya. Yang mana telah ditemukannya system campuran
(the mixed type) dalam system peradilan pidana, sehingga batas
pengertian antara system inkuisitur dan akusatur sudah tidak dapat
dilihat lagi secara tegas. Untuk menghindar dari kesimpang siuran
diatas, tampaknya kini di daratan eropa, terutama di Negaranegara yang menganut common law system, system peradilan
pidana mengenal dua model system, yakni the adversary model
dan the non adversary model.
Advesary model dalam system peradilan pidana menganut
prinsip sebagai berikut:
1.

Prosedur peradilan pidana harus merupakan suatu


sengketadispute

antara

kedua

belah

pihak

dalam

kedudukan yang sama dimuka pengadilan.


2.

Tujuan utama prosedur sebagaimana dimaksud pada


butir 1 ialah sengketa yang timbul disebabkan timbulnya
kejahatan.

3.

Penggunaan

cara

pengajuan

sanggahan

atau

pernyataan dan adanya lembaga jaminan dan perundingan


bukan

hanya

merupakan

suatu

keharusan

melainkan

merupakan suatu hal yang sangat penting.


4.

Para pihak memiliki fungsi yang otonom yang jelas,


peran penuntut umum adalah melakukan penuntutan. Peran
tertuduh adalah menolak atau menyanggah tuduhan.

Di lain pihak, Non-advesary model menganut prinsip bahwa:


1) Proses

pemeriksaan

harus

bersifat

lebih

formal

dan

berkesinambungan serta dilaksanakan atas dasar praduga


bahwa kejahatan telah dilakukan (presemption of guilt)
2) Tujuan utama prosedur pada butir 1 diatas adalah menetapkan
apakah dalam kenyataannya perbuatan tersebut merupakan
perkara pidana, dan apakah penjatuhan hukuman dapat dapat
dibenarkan karenanya.
3) Penelitian terhadap fakta yang diajukan oleh para pihak, oleh
hakim dapat berlaku tidak terbatas dan tidak tergantung pada
atau tidak perlu memperoleh izin para pihak.
4) Kedudukan masing-masing para pihak antara penuntut umum
dan tertuduh tidak lagi otonom dan sederajat.
5) Semua informasi yang dapat dipercaya dapat digunakan guna
kepentingan pemeriksaan pendahuluan ataupun di persidangan.
Tertuduh merupakan objek utama dalam pemeriksaan.

The right to remain silent

atau hak untuk tidak menjawab

pertanyaan atau hak untuk diam telah mengalami perkembangan


ratusan tahun yang lampau di Inggris, dan sering merupakan pokok
pertentangan antara dua system hukum acara pidana yaitu: sistem
akusatur dan system inkuisitur. Kedua sistem tersebut dibedakan
secara mendasar dalam metode utama penyelidikan, penyidikan
dan dalam proses peradilan, yaitu meletakkan beban pembuktian
pada tertuduh untuk membuktikan bagi kepentingan dirinya.

Pengadilan Common Law tidak menghendaki metode ini dan


kemudian mengutamakan bukti-bukti yang bebas dan mandiri.
Sebaliknya, pengakuan yang merupakan unsur pokok dalam
inkuisitur digunakan atau dianutoleh pengadilan Agama. Dalam
pertentangan kedua system ini ternyata system common law telah
berhasil

mempertahankan

dan

menyelamatkan

system

pemerintahan yang demokratis dan mempertahankan penggunaan


system akusatur seperti halnya dilakukan oleh Negara Amerika
Serikat yang dicantumkan di konstitusi negaranya.
Namun di Negara Inggris, irlandia Utara dan Singapura dalam
konstitusinya menolak hak untuk tidak menjawab dengan tujuan
agar

dapat

mengendalikan

kejahatan,

memaksa

tersangka

mengaku, dan dengan sendirinya akan mengefektifkan penuntutan.


Pembatasan penggunaan hak tersebut akan menggeser
system

peradilan

pidana

dari

system

akusatur

yang

menitikberatkan pada pembuktian dengan saksi dan bukti nyata,


kepada system inkuisitur yang menitikberatkan

pada proses

interogasi tersangka untuk memperoleh bukti atas kesalahannya.


Dalam konteks KUHAP Nomor 8 tahun 1981, memang hak
tersebut tidak secara eksplisit dinyatakan dalam Undang-undang ini
sehingga perubahan yang terjadi di tiga Negara tersebut, terutama
di Inggris tidak akan membawa dampak yang berarti bagi
perkembangan Hukum Acara Pidana di Indonesia.