Anda di halaman 1dari 34

BATUAN SEDIMEN

(Laporan Praktikum Geologi Dasar)

Oleh
Egi Ramdhani
1315051018

LABORATORIUM GEOFISIKA
JURUSAN TEKNIK GEOFISIKA
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS LAMPUNG
2013

LEMBAR PENGESAHAN

Judul Praktikum

: Batuan Sedimen

Tanggal Praktikum

: 22 November 2013

Tempat Percobaan

: Laboratorium Geofisika

Nama

: Egi Ramdhani

NPM

: 1315051018

Fakultas

: Teknik

Jurusan

: Teknik Geofisika

Kelompok

: 7 (Tujuh)

Bandar Lampung, 22 November 2013


Mengetahui,
Asisten

Nanda Hanyfa Maulida


NPM. 1115051026
i

BAB I. PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Penulisan laporan ini dilatar belakangi sebagai salah satu tugas laporan
praktikum mata kuliah wajib geologi dasar, disamping itu juga sebagai
pendalaman materi mengenai batuan sedimen yang masuk dalam mata kuliah
wajib geologi dasar, semester pertama jurusan teknik geofisika, Universitas
Lampung. Juga sebagai pembelajaran mengenai batuan sedimen. Batuan
sedimen sendiri adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan
endapan yang berupa bahan lepas. Menurut ( Pettijohn, 1975 ) batuan
sedimen adalah batuan yang terbentuk dari akumulasi material hasil
perombakan batuan yang sudah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia
maupun organisme, yang di endapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi
yang kemudian mengalami pembatuan. Menurut Tucker (1991), 70 % batuan
di permukaan bumi berupa batuan sedimen. Tetapi batuan itu hanya 2 % dari
volume seluruh kerak bumi. Ini berarti batuan sedimen tersebar sangat luas di
permukaan bumi, tetapi ketebalannya relatif tipis.Penamaan batuan sangat
penting sekali serta penamaan ini juga harus adanya standarisasi, berdasarkan
tipe batuan dan sifat-sifatnya. Dalam hal penamaan harus asa keseragaman
pemberian nama, sehingga klasifikasi dari batuan harus subyektif mungkin,
berdasarkan fakta-fakta yang dapa diamati dan bukan tafsiran. Batuan terbagi
atas 3 jenis, yaitu batuan beku, batuan sedimen, batuan metamorf. Batuanbatuan tersebut memiliki perbedaan dalam materi penyusunnya dan proses
terbentuknya. Pada praktikum kali ini yang diamati adalah batuan sedimen.
Batuan sedimen terjadi karena proses sedimentasi atau endapan. Namun
batuan sedimen juga dapat terjadi akibat proses kimiawi dan organik. Pada
umumnya batuan sedimen berupa butiran-butiran mulai dari yang sangat
kasar sampai yang sangat halus. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui

karakteristik batuan sedimen, antara lain; komposisi mineral, ukuran serta


pemilahan, roundness, warna dan nama dari batuan sedimen tersebut.
1.2 Tujuan Praktikum
Adapun tujuan praktikum ini adalah sebagai berikut

1. Menentukan nama batuan sedimen dari beberapa contoh batuan yang


telah disediakan.
2. Mengetahui proses sedimentasi sebagai proses pembentukan batuan
sedimen.

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA

Identifikasi batuan merupakan suatu kegiatan membuat deskripsi tentang suatu


batuan tertentu. Sifat fisika dan kimia yang umum dikenal dalam mengidentifikasi
batuan biasanya dibagi dalam 4 kategori sifat, yaitu warna, Tekstur, Struktur dan
Komposisi mineral pembentuk batuan. Batuan sedimen adalah batuan yang
terbentuk dari batuan. Tekstur merupakan kenampakan batuan berkaitaan dengan
ukuran, bentuk dan susunan butir mineral dalam batuan. Tekstur batuan dapat
dijadikan petunjuk tentang proses (ganesa) yang terjadi Struktur adalah
kenampakan hubungan antara bagian batuan yang berbeda. Macam-macam
struktur yang terdapat pada batuan sedimen lebih bergantung pada hubungan antar
butir yang mengontrol dari teksturnya pada waktu lampau sehingga menghasilkan
batuan tersebut. ang telah ada sebelumnya atau hasil aktivitas kimia maupun
organisme, yang diendapkan lapis demi lapis pada permukaan bumi dan
mengalami pembatuan. Mineral-mineral yang terdapat pada batuan sedimen,
antara lain : kwarsa, mika karbonat, mineral lempung (Firdaus, 2011).
Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk sebagai hasil pemadatan endapan
yang berupa bahan lepas. Hutton (1875) menyatakan Sedimentary rocks are rocks
which are formed by the turning to stone of sediments and that sediments, in
turn, are formed by the breakdown of yet-older rocks. ODunn & Sill (1986)
menyebutkan sedimentary rocks are formed by the consolidation of sediment :
loose materials delivered to depositional sites by water, wind, glaciers, and
landslides. They may also be created by the precipitation of CaCO 3, silica, salts,
and other materials from solution (Batuan sedimen adalah batuan yang terbentuk
oleh konsolidasi sedimen, sebagai material lepas, yang terangkut ke lokasi
pengendapan oleh air, angin, es dan longsoran gravitasi, gerakan tanah atau tanah

longsor. Batuan sedimen juga dapat terbentuk oleh penguapan larutan kalsium
karbonat, silika, garam dan material lain). Menurut Tucker (1991), 70 % batuan di

permukaan bumi berupa batuan sedimen. Tetapi batuan itu hanya 2 % dari volume
seluruh kerak bumi. Ini berarti batuan sedimen tersebar sangat luas di permukaan
bumi, tetapi ketebalannya relatif tipis (Tiercelin, 1990).
Struktur sedimen merupakan suatu kelainan dari perlapisan normal batuan
sedimen yang diakibatkan oleh proses pengendapan dan energi pembentuknya.
Pembentukkannya dapat terjadi pada waktu pengendapan maupun segera setelah
proses pengendapan. Pada batuan sedimen dikenal dua macam struktur, yaitu :
Syngenetik : terbentuk bersamaan dengan terjadinya batuan sedimen, disebut juga
sebagai struktur primer.
Epigenetik : terbentuk setelah batuan tersebut terbentuk seperti kekar, sesar, dan
lipatan.
Pembagian struktur sedimen ada beberapa macam dan versi dari peneliti yang
menganalisa dan mempelajari struktur sedimen, pembagian struktur sedimen
menurut Pettijohn :
1. Struktur Sedimen Primer: Struktur pada batuan sedimen yang terjadi pada
saat proses sedimentasi sehingga dapat di gunakan untuk mengidentifikasi
mekanisme pengendapan.
2. Struktur Sedimen Sekunder : struktur sedimen yang terjadi pada batuan
sedimen pada saat sebelum dan sesudah proses sedimentasi yang juga
dapat merefleksikan lingkungan pengendapan, keadaan dasar permukaan,
lereng,dan kondisi permukaan.
3. Struktur Sedimen organik: Struktur sedimen yang terbentuk akibat dari
proses organisme pada saat dan sesudah terjadi proses sedimentasi
( Fraser, 1999 ).
Batuan Sedimen adalah batuan yang terbentuk karena proses diagnesis dari
material batuan lain yang sudah mengalami sedimentasi. Sedimentasi ini meliputi
proses pelapukan, erosi, transportasi, dan deposisi. Proses pelapukan yang terjadi
dapat berupa pelapukan fisik maupun kimia. Proses erosidan transportasi
dilakukan oleh media air dan angin. Proses deposisi dapat terjadi jika energi
transport sudah tidak mampu mengangkut partikel tersebut (Simalango, 1986).
4

Batuan sedimen banyak sekali jenisnya dan tersebar sangat luas dengan ketebalan
dari beberapa centimenter sampai beberapa kilometer. Juga ukuran butirnya dari
sangat halus sampai sangat besar. Batuan sedimen yang ada di muka bumi ini
dapat dikelompokkan menjadi lima kelompok besar yaitu: batuan sedimen detritus
(klastik), batuan sedimen evaporit, batuan sedimen batubara, batuan sedimen
silica, batuan sedimen karbonat (Setia, 1987).
Sedimen dihasilkan dari hancurnya atau pelapukan batuan yang telah ada atau dari
batuan yang lebih tua, aktivitas organik ataupun pengendapan larutan kristal.
Sehingga batuan sedimen komposisinya terdiri dari 3 komponen besar yang
dihasilkan yaitu berasal dari: aktifitas fisis, aktifitas biologi, dan pengendapan
kimiawi (Suharno, 2011).
Sedimen, maupun batuan metamorf. Batuan sedimen yang terbentuk melalui
proses-proses ini dinamakan batuan sedimen klastik. Selain batuan sedimen
klastik ada batuan sedimen non klastik yaitu batuan sedimen yang terbentuk dari
unsur-unsur organisme ataupun kimiawi, misalnya garam dapur terjadi karena
proses penguapan, batu gamping koral terbentuk karena organisme moluska.
Batuan sedimen klastik yang sangat terkenal antara lain batu pasir, batu lempung.
Batuan sedimen non klastik yang sangat terkenal antara lain batu gamping, garam
dapur, dan batu gips (Alzwar, 1988).

4
5

BAB III. PROSEDUR PERCOBAAN


3.1. Alat dan Bahan
Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah :
1. Sampel batuan sedimen.

Gambar 3.1. Sampel batuan sedimen.


2. Lembar Kerja.

Gambar 3.2. Lembar Kerja

3. Alat tulis.

Gambar 3.3. Alat tulis.


4. Kamera.

Gambar 3.4. Kamera.

3.2. Langkah Kerja


Adapun langkah kerja yang dilakukan dalampercobaan kali ini adalah :
a. Mengambil beberapa sampel batuan sedimen dan mengamatinya.
b. Mengamati berdasarkan warna, tekstur, komposisi mineral dan lain-lain.
c. Mengambil gambar beberapa sampel batuan dan mencatat hasil
penelitian ke dalam lembar kerja.
3.3. Diagram Alir
Sampel batuan sedimen
Mengamati sampel batuan sedimen. Berdasarkan warna,
tekstur, komposisi mineral dan lainnya.
Mencatat hasil pengamatan
Hasil

BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN


4.1 Hasil Pengamatan
Dari pengamatan yang kami lakukan pada percobaan batuan sedimen ini,
didapat hasil pengamatan berupa tabel lembar kerja praktikum. Yakni tabel
yang memuat nomor peraga batuan sedimen, nama batuannya serta informasi
atau keterangan-keterangan pendukung lainnya yang menginformasikan lebih
detail mengenai batuan sedimen yang kami amati. Hasil pengamatan kami
dapat dilihat pada tabel berikut :
N

No.

Peraga

Proses

Ukura
n Butir

Tempat
Pembentuka
n
Bawah

S.1

Organik

Halus

S.2

S.3

S.4

S.5

S.7

S.8

Kimiaw
i
Mekani
k
Organik
Mekani
k
Mekani
k
Kimiaw
i

Halus

Nama
Batuan

Hitam,

Bituminu

Gelap

Kawasan

Putih,

Silika

Geothermal

Terang

Sinter

Permukaan
Bumi

Warna

Halus

Laut Dangkal

Kasar

Laut Dangkal

Halus

Laut Dangkal

Kasar

Danau

Halus

Goa Tertutup

Abu-abu
Terang

Lanau

Putih,

Gp.

Terang

Terumbu

Bergaris
, Terang
Abu-abu
Terang
Putih,
Terang

Lanau
Batu
Pasir
Gips

Tabel 4.1. Tabel hasil pengamatan batuan sedimen.

4.2 Pembahasan
Telah dilakukan praktikum mengenai batuan sedimen oleh kelompok kami.
Untuk dapat memahami dan mengerti dengan baik cara pengklasifikasian
serta pengidentifikasiann batuan sedimen, terdapat serangkaian proses yang
kami lewati. Pertama, asisten dosen mengarahkan kami bagaimana cara
pengklasifikasian batuan sedimen berdasarkan gambar yang ada di modul
praktikum halaman 5. Tabel yang dimaksud adalah gambar klasfikasi batuan
sedimen. Setelah melewati serangkaian proses didapatlah hasil pengamatan
seperti yang tertera pada tabel 4.1 diatas. Dan untuk memperjelas hasil
identifikasi, berikut kami akan tampilkan informasi pendukung berupa
gambar batuan serta keterangan yang berisi referensi lain yang membantu
pengkoreksian nama batuan. Berikut adalah hasil identifikasi dan penjelasan
ketujuh batuan yang kami teliti :

No. Peraga

: S.1

Nama Batuan : Bituminus


Proses

: Organik

Ukuran Butir : Halus


Tempat Pembentukan : Bawah
Permukaan
Bumi.
Gambar 4.1. Batu Bituminus (S.1)

Warna

: Hitam, Gelap

Batu dengan nomor peraga S.1 ini kami identifikasikan dengan nama batu
Bituminus yang masuk dalam golongan batubara. Menurut referensi,
Batubara jenis bituminus adalah batubara yang mengandung unsur karbon
antara 68-86% dengan kandungan air 8-10% dari beratnya batu bituminur
merupakan jenis batubara yang nantinya dapat menjadi jenis antrasit.
Batubara yang kami amati ini memiliki ukuran butir halus dan kami
berkesimpulan bahan induknya adalah pepohonan yang terkumbur tanpa
melalui proses pembusukan.

98

No. Peraga

: S.2

Nama Batuan : Silika Sinter


Proses

: Kimiawi

Ukuran Butir : Halus


Tempat Pembentukan : Kawasan
Geothermal
Warna

: Putih, Terang.

Gambar 4.2. Batu Silika Sinter (S.2)


Kami mengidentifikasi batuan sedimen dengan nomor peraga S.2 ini
merupakan jenis batuan yang proses terbentuknya di kawasan geothermal,
dan informasi yang kami dapat dari asisten menjelaskan bahwa batuan ini
bernama batuan silika sinter golongan sedimen silika. Berdasarkan referensi
yang saya dapatkan, diketahui bahwa batu silika sinter ini terbentuk dari
larutan air pada sumber air panas, ini berarti terletak diwilayah geothermal
melalui proses kimiawi.

No. Peraga

: S.3

Nama Batuan : Lanau


Proses

: Mekanik

Ukuran Butir : Halus


Tempat Pembentukan : Laut
Dangkal
Warna

: Abu-abu, Terang.

Gambar 4.3. Batu Lanau (S.3)


Batuan dengan nomor peraga S.3 ini kami identifikasikan bernama batu lanau
karena memiliki beberapa kesamaan dan ciri-ciri yang diberikan pada buku
panduan praktikum. Batuan S.3 ini juga kami identifikasikan termasuk ke
golongan dentritus halus melalui proses mekanik. Referensi yang kami dapat
batu lanau memiliki ukuran butir 1/16 hingga 1/256 milimeter. Namun, untuk
meneliti ukuran sekecil itu, dibutuhkan instrumen khusus dan tidak kami
masukkan kedalam percobaan kami kali ini.

10
8

No. Peraga

: S.4

Nama Batuan : Gp. Terumbu


Proses

: Organik

Ukuran Butir : Kasar


Tempat Pembentukan : Laut
Dangkal
Warna

: Putih, Terang.

Gambar 4.4. Batu Gp.Terumbu (S.4)


Batuan dengan nomor peraga S.4 ini kami identifikasi dan kami tentukan
bernama batu Gp.terumbu yang masuk dalam golongan karbonat. Tak banyak
referensi yang kami dapatkan untuk mengetahui idedntifikasi sebenarnya dari
batu Gp.Terumbu ini. Nama Gp.Terumbu kami dapatkan dari asisten. Namun
kami sempat mendapatkan referensi bahwa batu dengan nama Gp.Terumbu
ini terbentuk dari Terumbu karang yang merupakan hasil pengendapan batuan
induk dan menjadi karbonat. Batu Gp.Terumbu ini memiliki rongga udara
didalamnya dan seringkali dijumpai di kawasan pesisir pantai sehingga dapat
disimpulkan batuan ini terbentuk di kawasan laut dangkal. Warna batu
Gp.terumbu yang kami amati yakni purih agak kecoklatan. Asisten
menjelaskan bahwa, warna coklat itu dikarenakan adanya pengaruh dari
faktor alam. Untuk warna aslinya adalah putih.

No. Peraga

: S.5

Nama Batuan : Lanau


Proses

: Mekanik

Ukuran Butir : Halus


Tempat Pembentukan : Laut
Dangkal
Warna

: Bergaris putih, abu,

terang.
Gambar 4.5. Batu Lanau (S.5)

11
8

Batu yang kami beri nomor peraga S.5 ini kami identifikasikan juga bernama
batu Lanau seperti halnya batu dengan nomor peraga S.3 semua hasil
identifikasi sama. Sehingga, referensi yang saya gunakan juga sama yakni
Referensi yang kami dapat batu lanau memiliki ukuran butir 1/16 hingga
1/256 milimeter. Namun, untuk meneliti ukuran sekecil itu, dibutuhkan
instrumen khusus dan tidak kami masukkan kedalam percobaan kami kali ini.
No. Peraga

: S.7

Nama Batuan : Batu Pasir


Proses

: Mekanik

Ukuran Butir : Kasar


Tempat Pembentukan :
Danau
Warna

: Abu-abu,
Terang.

Gambar 4.6. Batu Pasir (S.7)

Batuan dengan nomor peraga S.7 ini kami tentukan dengan identifikasi
bernama batu pasir. Setelah dicek keadaan ukuran butir, kami tentukan ukuran
butirnya adalah besar sehingga masuk golongan kasar. Saya berasumsi bahwa
batu pasir ini merupakan tau sedimen yang terendapkan pada wilayah sungai
atas (hulu) karena sebagaimana referensi yang saya dapat bahwa semakin ke
hilir, ukuran butir batuan akan semakin kecil. Sehingga saya tidak
membenarkan bahwa batu ini terbentuk di danau.
No. Peraga

: S.8

Nama Batuan : Batu Gips


Proses

: Kimiawi

Ukuran Butir : Halus


Tempat Pembentukan :
Goa Tertutup.
Warna

: Putih, Terang

Gambar 4.7. Batu Gips (S.8)

12

Batu yang terakhir kami identifikasi adalah btau yang kami beri nomor peraga
S.8. Batu ini kami identifikasikan bernama batu gips. Penamaan ini kami
putuskan setelah melihat tekstur batuan yang rapuh, terdapat kandungan
mineral lain sepertinya belerang, lalu berwarna putih dan berbau tajam. Batu
ini termasuk dalam golongan Evaporit melalui proses kimiawi. Batuan ini
sering terbentuk pada daerah yang tertutup khususnya goa baik diatas
permukaan laut maupun dibawah permukaan laut. Batuan jenis ini sering
diolah kembali hingga menjadi gipsum. Menurut referensi yang saya
dapatkan, gips merupakan batuan sedimen, yang terbentuk dari proses kimia
di alam dengan bantuan kapur dan sulfat, maka terjadi senyawa baru yang
membentuk CaSO4. Maka, benar saja, ini merupakan batu yang melalui
proses kimiawi.
Informasi tambahan yang daya dapatkan, bahwasannya batu sedimen ini
merupakan merupakan batuan yang dihasilkan dari pengendapan yang berasal
dari hasil sedimentasi mekanis (berasal dari hasil rombakan batuan asal),
sedimentasi kimiawi (hasil dari penguapan larutan) dan sedimentasi organik
(hasil dari akumulasi organik). Batuan sedimen hasil sedimentasi mekanis
terbentuk dalam suatu siklus sedimentasi yang meliputi pelapukan, erosi,
transportasi (media transportasi berupa air, angin atau es), sedimentasi dan
diagenesa. Proses pelapukan merupakan pelapukan fisik maupun kimia yang
terjadi pada batuan asal (batuan beku, batuan metamorf maupun batuan
sedimen yang terbentuk terlbih dahulu.
Berdasarkan proses pembentukannya, batuan sedimen dapat digolongkan
menjadi enam golongan yaitu : Golongan detritus kasar, golongan detritus
halus,

golongan

karbonat,

golongan

silika, golongan evaporit,

dan

batubara.
Sedangkan untuk fungsi, batuan sedimen memiliki beberapa fungsi tersendiri
yakni misalnya batubara untuk bahan bakar. Lalu batu gamping dapat
digunakan untuk memperbaiki struktur tanah, pondasi bangunan, rumah dan
jembatan, bahan pemutih dalam indrustri pulp, pengolahan air bersih, dan
masih bantak lagi. Batu rijang juga bermanfaat dapat memercikkan bunga api
untuk pembakaran jika diadu dengan baja atau batu lain. Batu pasir dapat

digunakan sebagai batu hias pada mozaik batuan, juga sebagai bahan amplas.
Batu shale dapat digunakan dalam pembuatan semen lalu dalam pencarian
fosil, juga dapat digunakan dalam produk keramik. Diatas merupakan
beberapa contoh yang dapat saya berikan dalam laporan saya kali ini. Selain
fungsi diatas, masih banyak fungsi-fungsi lain dari batuan sedimen yang
tentunya berguna bari kehidupan manusia sehari-hari.

13

14

ABSTRAK

Batuan Sedimen
Oleh
Egi Ramdhani
Batuan sedimen merupakan batuan hasil pengendapan dari batuan induknya yang
dapat berupa batuan beku maupuk batuan sedimen lainnya. Batruan sedimen dapat
diidentifikasi dengan melihat warna, ukuran butirnya, proses, tempat
pembentukannya lalu penentuan namanya. Batuan sedimen dapat menjadi indikasi
bahwa disana terdapat sumber minyak dan gas bumi. Pada percobaan kami kali
ini, kami mencoba untuk menentukan nama dan mengidentifikasi ketujuh sampel
dari batuan sedimen. Dari hasil identifikasi, kami menemukan dua batuan yang
kami duga bernama batu lanau, namun karena kurangnya informasi, dugaan
tersebut masih akan kami cek kembali dengan referansi yang ada. Ketujuh sampel
batuan yang kami identifikasi diberi nomor peraga S.1, S.2, S.3, S.4, S.5, S.7 dan
S.8. Pemberian nomor peraga tersebut berfungsi untuk memudahkan praktikan
mengidentifikasi batuan. Batuan yang paling susah kami identifikasi adalah batu
yang diduga lanau. Dan yang paling mudak kami identifikasi adalah batu
bituminus yang termasuk golongan batubara. Terdapat kandungan mineral lain
dalam batuan gips nomor peraga S.8 golongan evaporit dan batuan ini sangat
rapuh. Terdapat tiga proses yang memengaruhi terbentuknya batuan sedimen
yakni proses kimiawi dengan kimia, proses organik dengan biologi dan proses
mekanik. Litifikasi dalam sedimentasi terbagi dua yakni proses sementasi dan
kompaksi sehingga batuan menjadi keras dan kompak.

ii

DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 3.1. Sampel batuan sedimen ................................................................ 6
Gambar 3.1. Lembar kerja ...................................................................................
Gambar 3.2. Alat tulis ....................................................................................... 6
Gambar 3.3. Kamera ......................................................................................... 7
Gambar 4.2. Batu Bituminus (S.1) ..........................................................................
Gambar 4.3. Batu Silika Sinter (S.2) ................................................................... 7
Gambar 4.4. Batu Lanau (S.3) .................................................................................
9
Gambar 4.5. Batu Gp.Terumbu (S.4) .....................................................................
Gambar 4.6. Batu Lanau (S.5) .............................................................................10
Gambar 4.7. Batu Pasir (S.7) ............................................................................ 10
Gambar 4.7. Batu Gips (S.8) ............................................................................
11
11
12
12

iv

iv

DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 4.1 Tabel hasil pengamatan batuann sedimen ................................... 8

BAB V. KESIMPULAN
Telah dilakukan praktikum mengenai batuan sedimen, maka diperoleh kesimpulan
sebagai berikut :
1. Batuan sedimen terbagi menjadi enam golongan yakni golongan batubara,
dentritus halus, dentritus kasar, sedimen silika, evaporit dan karbonat.
2. Batuan sedimen diidentifikasi berdasarkan prosesnya, ukuran butirnya, tempat
pembentukan serta warna baru menentuka nama batuannya.
3. Pemberian nomor peraga pada batuan sebelum dilakukan praktikum berguna
untuk memudahkan praktikan mengidentifikasi batuan.
4. Batuan sedimen berstruktur lebih rapuh dari batuan lainnya sehingga mudah
rusak dan pecah (rentan) seperti batu silika sinter dan batubara pada percobaan
kami.
5. Pengoreksian nama batuan hasil percobaan dengan referensi bertujuan untuk
meyakinkan dan menamai nama batuan secara final.
6. Warna pada batuan sedimen dipengaruni kandungan mineral, material organik
dan warna akibat hasil pelapukannya seperti batu Gp.Terumbu yang sudah
terkontaminasi warna coklat.

DAFTAR ISI
Halaman
LEMBAR PENGESAHAN .............................................................................
ABSTRAK......................................................................................................... i
DAFTAR ISI.....................................................................................................
DAFTAR GAMBAR........................................................................................ ii
DAFTAR TABEL.............................................................................................iii
BAB I. PENDAHULUAN
2.1 Latar Belakang........................................................................................iv
2.2 Tujuan Praktikum....................................................................................v
BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
BAB III. PROSEDUR PERCOBAAN
3.1 Alat dan Bahan........................................................................................1
3.2 Langkah Kerja.........................................................................................
3.3 Diagram Alir............................................................................................2
BAB IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Hasil Pengamatan..................................................................................
4.2 Pembahasan...........................................................................................
BAB V. KESIMPULAN
6
DAFTAR PUSTAKA
7
LAMPIRAN
7
8
9

iii

DAFTAR PUSTAKA
Alzwar. 1988. Pengantar Dasar Ilmu Gunungapi. Bandung : Nova

Firdaus. 2011. Modul Praktikum Geologi Dasar. Kendari : Universitas Haluoleo.

Fraser, A.J., Matthews, S.J. & Murphy, R.W. 1999. Petroleum Geology of
Southeast Asia, Special Publications. London : The Geological Society.

Setia, Doddy. 1987. Batuan dan Mineral. Bandung: Nova

Simalango, Alfonsus .1986. Geologi Fisik. Institut Teknologi Bandung. Bandung.

Suharno. 2011. Geologi Dasar. Bandar Lampung : Universitas Lampung

Tiercelin, J.J. 1990. Principles Of Sequence Rocks. United States of America


(USA) : Elsevier Science.

LAMPIRAN

Tabel foto batuan dan nama hasil setelah meninjau beberapa referensi adalah
sebagai berikut
No

Nomor

Peraga

S.1

S.2

:
Foto Batuan

Nama Batuan

Batu
Bituminus

Batu Silika
Sinter

Batu yang
belum
3

S.3

teridentifikasi
sempurna.
Dugaan,
Batu Lanau.

S.4

Batu Gp.
Terumbu.

Batu yang
belum
5

teridentifikasi

S.5

sempurna.
Dugaan,
Batu Lanau.

S.7

Batu Pasir

S.8

Batu Gips.

Tugas Tambahan
STRUKTUR BATUAN SEDIMEN

Struktur sedimen termasuk ke dalam struktur primer yaitu struktur yang terbentuk
pada saat pembentukan batuan (pada saat sedimentasi).
Pembagian struktur sedimen :
a. Struktur Sedimen Pengendapan
b. Struktur Sedimen Erosional
c. Struktur Sedimen Pasca Pengendapan
d. Struktur Sedimen Biogenik

A. Struktur Sedimen Pengendapan

Adalah struktur sedimen yang terjadi pada saat pengendapan batuan


sedimen.
Perlapisan/Laminasi
Perlapisan merupakan suatu bidang kesamaan waktu yang dapat ditunjukan
oleh perbedaan besar butir atau warna dari bahan penyusunnya.
Dikatakan perlapisan bila tebalnya >1 cm dan dikatakan sebagai laminasi bila
tebalnya <1 cm.
Perlapisan dapat dibagi menjadi 4 macam :
1.

Perlapisan/laminasi sejajar (Paralel Bedding/Lamination) :


Bentuk lapisan/ laminasi batuan yang tersusun secara horisontal dan
saling sejajar satu dengan yang lainnya.

2.

Perlapisan/laminasi

Bedding/Lamination)

silang

siur

(Cross

Bentuk lapisan/ laminasi yang terpotong pada bagian atasnya oleh


lapisan/laminasi berikutnya dengan sudut yang berlainan dalam satu
satuan perlapisan.

3.

Perlapisan bersusun (Graded Bedding)


Perlapisan batuan yang dibentuk oleh gradasi butir yang makin halus ke
arah atas (normal graded bedding) atau gradasi butir yang makin kasar ke
arah atas (reverse graded bedding). Normal graded bedding dapat dipakai
untuk menentukan top atau bottom lapisan batuan.

4.

Gelembur gelombang (current ripple)


Bentuk permukaan perlapisan bergelombang karena adanya arus
sedimentasi baik karena faktor air maupun angin. Atau sering disebut
ripple marks (current ripple). Pada awalnya lapisan ini berstruktur datar,
akan tetapi terkena erosi angin dan air sehingga membentuk cekungancekungan.

B. Struktur Sedimen Erosional


Adalah struktur sedimen yang terjadi akibat proses erosi pada saat
pengendapan batuan sedimen.
Dapat dibedakan menjadi 2 jenis, yaitu:
1. Flute cast : struktur sedimen berbentuk seruling dan terdapat pada dasar
suatu lapisan, dapat dipakai untuk menentukan arus purba.

2. Groove Marks, Gutter Cast, Impack Marks, Channels dan Scours, dll

Casts pada bagian bawah lapisan :


1. Pointed Flute Cast
2. Bulbous Flute Cast
3. Grove Cast
4. Flute Mark
5. Impact Mark

C. Struktur Sedimen Pasca Pengendapan

Adalah struktur sedimen yang terjadi setelah pengendapan batuan sedimen.


- Load cast : struktur sedimen terbentuk pada permukaan lapisan akibat
pengaruh beban sedimen di atasnya.
- Convolute Bedding: bentuk liukan pada batuan sedimen akibat proses
deformasi.
- Sandstone dike : lapisan pasir yang terinjeksikan pada lapisan sedimen di
atasnya akibat proses deformasi.
- Contoh lain : Ball-and-Pillow Structures, Dish-and-Pillar
Stylolites, dll.

Structure,

Convolute laminations di Saltspring Island

Convolute bedding.

Load casts in Creston Formation, B.C


a. D. Struktur Sedimen Biogenik
Adalah struktur sedimen yang terjadi akibat proses biogenik/organisme.
Fosil Jejak (Trace Fossils) :

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Tracks (jejak berupa tapak organisme).


Trails (jejak berupa seretan bagian tubuh organisme).
Burrows (lubang atau bahan galian hasil aktivitas organisme).
Mold (cetakan bagian tubuh organisme).
Cast (cetakan dari mold).
Resting, Crawling and Grazing Traces Dwelling, Feeding and Escape

Burrows.
lubang akibat aktivitas pengeboran organisme pada lapisan batuan (batuan
relatif lebih keras dibandingkan pada burrows).

Burrows

Grazing Traces Dwelling


DAFTAR PUSTAKA TUGAS TAMBAHAN :
Sapiie, Benyamin, dkk. 2009. GEOLOGI DASAR. Bandung: ITB.
Slide presentasi batuan sedimen dari Arif Susanto. 2010. Struktur Perlapisan
Batuan. Bandung : ITB.