Anda di halaman 1dari 5

Mata Kuliah : Filsafat Ilmu

Hidup kita ini berawal dari nilai, berawal dari nilai dan berakhir untuk nilai.
Maka kalau kita anda ingin mencapai nilai tinggi, anda harus bergelut dalam 3 hal :
1. Agama
2. Seni
3. Ilmu pengetahuan
Maksimum batas manusia hidup itu 100 tahun, maka manusia sejak lahir kita sudah diisi dengan
nilai-nilai. Lahir juga karena nilai, kasih sayang, kebaikan.
Nilai : anggapan anatara kebaikan, kebenaran dan keindahan
Anak, bayi : nama/keagungan. Safina : memberi nama itu sudah kebenaran, ada harapan bersama
nilai. Kita dibesarkan bersama nilai. Sejumlah nilai dipikirkan kitasudah terakumulasi banyak
sekali.
Yang menjadi persoalan adalah nilai ada 3 :
1. Kebaikan 2. Keindahan 3. Kebenaran
1. Agama, (selalu berdimensi 2, manusia dengan tuhan, manusia dengan manusia)
Sarana bagi kita untuk mengolah kebaikan, semuannya berorientasiagar manusia melaksanakan
perilaku-perilaku yang baik, di dalam agama itulah perilaku agama dalam kebaikan. Misalnya
menolong orang lain dianjurkan dalam agama karena membantu orang lain. Agama memberikan
Persfektif tentang kebaikan, tetapi anda dituntut menggunakan nalar dalam melakukannya.
Sehingga harus mengembagkan nalar. Taklit : percaya tanpa reserve, percaya mentah-mentah.
Contoh : wayang cerita; kowe kudu lungo neng samudra minangkalbu Brotoseno, masuklah
kelaut ketemu nogo. Wekudoro mejadi slamet.
Seni, ilmu dan agama itu ada kemiripan, unsure-unsurnya yang membuat mirip. Mislanya anda
mempercayai agama harus dengan nalar. Tidak hanya berjalan dengan mata kita, tidak hanya
dengan telinga tetapi juga pikiran.
Tigamanifestasi nilai itu, termanifestasi dalam 3 hal; kebaikan itu menjadi konsentrasi etika,
keindahan itu menjadi konsentrasi etika, kalau kebenaran itu menjadi sains.
Contoh : 4 x 4 ada berapa ? keindahan dan kebenaran kadang-kadang ada dalam satu entitas.
Lomba mendapat hadiah Sampur dan Gender ?
Yang jadi persoalan adalah apa yang disebut dg kebenaran : hubungan antara subyek dengan obyek
shg tjd kesesuaian antara keduanya, lantas didalam kebenaran itu ada byk kategori. Ada kebenaran
lawan khilaf, ada benar yang lawannya olok-olok, ada benar yang artinya sungguh2, ada benar yang
lawannya asli, semuanya berbeda tetapi semua ada kaitanya.
Epistimologi ada membagi mjd beberapa kategori:
1. Kebenaran absoulut, kebenaran yang telah ada dgn sendirinya, kebenaran mutlak. Dianggap
sbg kebenaran mutlak berarti kebenarannya ada dengan sendirinya dan tidak berubah-ubah
dan tidak membutuhkan siapapun untuk mjd benar. Manakala ada seseorang yg mengatakan
dirinya benar hal itu bukan berarti . Matahari terbit dari Timur, tetapi kalau di daerah kutub
anda akan lihat matahari muncul dari selatan. Jakarta ibukota kita, SBY itu presiden
Indonesia.

2. Kebenaran relative, kebenaran yang berubah-ubah, semua hasil dinyatakan benar apalagi
mempunyai alasan logis. Kebenaran relative tidak akan pernah satu melainkan banyak yang
tidak akan terbatas. Bahkan penyataan yang benar atas dipandang yang tidak benar, adalah
kebenaran yang relatifitas dalam kebenaran. Sering kali menimbulkan berdebatan, misalnya
ttg bank Century. Menemukan kebenaran absolute tu dgn metode dan paradigma yang tepat.
Adalah suatu cita-cita yang akan dicapai, misalnya seorang ilmuwan yang sungguh2 itu
benar2 ingin mencari benar-benar mencari kebenaran absolute. Kebenaran relative begerak
diatas kepentingan2 relative, bahkan dunia ilmu mengatakan kebenaran ilmu sifatnya masih
relative dan masih ada kemungkinan untuk digugurkan oleh teori-teori yang lain.
3. Kebenaran spekulatif, kebenaran yang menjadi cirikhas filsafat. Kebenaran ini bersifat
kebetulan dengan landasan rasionalitas dan logika. Kalau kita bicara dgn seorang filsuf dia
berfikir dg landasan spekulatif, mmg dasarnya adalah rasionalitas dan logika untuk
menemukan kebenaran. Maka latihan pertama bagi seorang filsuf adalah belajar logika,
berfikir sesuai dengan logika. Missal: kalau anda mau menjadi sarjana; ekonomi, huku,seni
maka pada hakekatnya adalah ia orang yang berusaha mengungkap kebenaran. Kemampuan
seseorang didalm menggunakan rasionya.
4. Kesungguhan adalah salah satu cara untuk memetik keberhasilan,
5. Maka perdebatan dalam fillsafat adalah perdebatan logika.
6. Kebenaran korespondensi : kebenaran yang bertumpu pada realitas obyek, criteria
kebenaran ini dicirikan oleh adanya hubungan relevan antara pernyataan subyek dengan
kenyataan obyek, atau antar teori dengan praktek.
7. Subyek menyatakan hakekat obyek, ketika keadaan obyek yang dinyatakan oleh subyek
ituadalah kebenaran. Teori dan praktek di dalam kesenian.
8. Kebenaran pragmatif : kebenaran yang diukur berdasarkan manfaat bagi kehidupan
manusia, baik manfaat itu u individu maupun untuk, jika pengetahuan dipandang tidak
memiliki manfaat maka pengetahuan itu dianggap salah. Kita mengenal istilah
pragmatisme : yaitu isltilah yang mewadai pengetahuan kebenaran dan manfaat yang
berdasarkan untung rugi.
9. Pragmatisme adalah suatu aliran yang mengajarkan bahwa yang benar adalah sesuatu yang
membuktikan dirinya memiliki hubungan sebab akibat dengan kemanfaatan praktis,
landasan pragmatisme adalah logika pengamatan. Pragmatisme bersedia menerima
pengalaman pribadi, pengalaman mistis dan pengalaman lain-lain asalkan semua itu
membawa akibat praktis yang bermanfaat. Contoh : lagu lupa-lupa ingat Kuburan sebagai
kebenaran korespondensi.
10. Kebenaran normative : kebenaran yang didasarkan pada system social yang berlaku dalam
masyarakat. Di dalam masyarakat itu mesti ada aturan-aturan yang diyakini a sesuatu yang
baik dan benar. Misalnya di dalam masyarakat akademik itu sudah ada kesepakatan
misalnya aturan keterlambatan lebih dari 15 menit, tidak boleh pakai sandal itu norma. Lagu
disun sing suwe Ike Nurjanah ada kebenaran normative.
11. Kebenaran religius: adalah kebenaran yang didasarkan kebenraan agama, bukan hanya
penafsiran melainkan pada keimanan pada ajaran yang dimaksudkan. Konsep ke-esaan
tuhan antara Islam: esa ya Satu, Hindu: banyak dewa dan Kristen : tri tunggal, itu berbeda.
Masing-masing punya penjelasan sendiri-sendiri, yang didasarkan pada keimanan.
Meskipun satu sama lain bisa diterima satu sama lain, misalnya ajaran tentang kesabahan :
inalloha masokbirin orang yang sabar itu kekasih tuhan.

Ilmu :
Akumulasi dari berbagai pengetahuan yang dan terstruktur, terhubung secara sistemik dan
kebenarannya dapat diepertanggung jawabkan.

Pilar exsistensi ilmu ada :


- Pilar epistimologi : berhubungan dengan kebenaran , brarti terkait dgn sumber, metode,
saranaya bgmn
- Pilar ontology : pengetahuan yang membicarakan tentang keberadaan sesuatu dan sesuatu itu
memiliki hakikat esenssi. Ada aksidensinya, apa itu kursi-tempat duduk. Sekalipun barang
tidak ada didepan mata anda pasti anda akan menjawab tempat duduk. Prof. Dr. T. Slamet
Suparno saat ini sedang menduduki kursi rektor di ISI Surakarta. Realitas ontologis, realitas
yang berhubungan dengan kategori-kategori, apa yang ada dibalik kategori2 tersebut. Faham
menemukan sesuatu dari hal yang empiris.
- Pilar aksiologis :
Essensi / exencial ilmu: itu adalah sesuatu yang abstrak yang bisa dibayangkan dari sesuatu
hal . sesuatu itu mesti ada dalam sesuatu, ada kandungan dalam sesuatu.
Kategori2 yang melekat pada essensi : (Aristoteles)
1. Sifat : sifat selalu melekat pada essensi, penjelasan mengenai subtansi dari suatu barang.
2. Jumlah : jumlah adalah penjelasan mengenai berapa banyak subtansi yang ada pada suatu
hal.
3. Hubungan : adalah suatu penjelasan ttg relasi satu subtansi dengan subtansi yang lain dalam
satu hal.
4. Aksi : aksi adalah tindakan perubahan dari subtansi
5. Pasif : adalah satu penjelasan mengenai kemungkina subtansi dalam satu hal itu menerima
perubahan.
6. Isi : adalah penjelasan ttg besar kecilnya suatu subtansi
7. Waktu : adalah penjelasan mengenai kapan dan berapa lama subtansi itu ada dalam suatu
hal.
8. Sikap : adalah penjelasan mengenai situasi yang menjelaskan mengenai keadaan subtansi.
9. Tempat : adalah penjelasan tentang melingkungi subtansi
Subtansi selalu ada 9 hal tersebut yang melingkupi tapi tidak secara simultan. Kalimat2 itu
adalah menjelaskan dari essensi-essensinya.
Seorang pemuda yang ganteng, anak pak Sigit Astono, saat ini tekun dalam perkuliahan
Filsafat Seni dlm semangat yang tekun dari perkuliahan yang diberikan oleh pak Bambang
Sunarto di ruang J
Ontologis untuk Ilmu : masih belum jelas , setiap ilmu punya ontologis yang berbeda-beda.
Realitas ontologis :
Empiris : tentang kejadian-kejadian, tentang fakta-fakta,
Abstrak : konsep2 abstrak tetapi masih ada jejak-jejak keterikatan dengan empirisnya (teori aras
tengah, teori tengahan).
Teori tingkat tinggi :
Pengetahuan yang berhungan dengan hakekat nilai, intinya nilai. Dalam realitas empiris itu
selalu berhubungan dengan hakekat nilai. Nilai suatu anggapan itu diharapkan terjadi. Nilai ada
rangenya negative dan positif. Misalnya halal haram : mubah . (Ada diantara)
Setiap perilaku kita selalu bersamaan dengan nilai, karena kita selalu diikat dengan hukum dan
nilai .

Nilai instrinsik : fakta2 yang kita alami yang kita lewati itu selalu diliputi oleh nilai, nilai
instriksik, bill in take for granted dari sesuatu itu, sementara nilai extrisik yang dipengaruhi dari
orang.
Pilar epistimologi: adalah persoalan sarana, sumber dan syarat syah adanya kebenaran dari ilmu
tersebut. Salah dan tidak, sumber, tata cara yang salah ya pasti akan salah. Mempersoalkan
proses berfikir, orang yang akan bikin ilmu tu.
Ex nihilo nihil fit dari ketiadaan tidak akan terjadi apa-apa :
Seseorang mengambil keputusan berdasarkan atas pengertian.
1. Pengertian : dasar dan informasi yang anda dapatkan, abstrak
2. Putusan : keputuasn akan pengertian , abstrak
3. Penuturan : penuturan ke ortu, ke teman, ke akademik dll. empiris
Pertemuan ke 6 (tidak masuk)
Pertemuan ke 7
Antropologi ilmu yang rakus, karena hamper semua pendekatan bisa dilakukan penelitian,
Etnomusikologi itu anak dari ilmu antrpologi . Masih menggunakan persfectif lain,
membesarkan antropologi, sejarah, sosiologi. Terlena : jurusan etnomusikologi tidak mencoba
etnomusikologi tidak menjadi diri sendiri. Artistic dari persoalan : tulisan2 tentang inkulturasi
musik etnik bukan persoalan artistiknya. Obyek yang sifatnya tekstual ada yang sifatnya
kontekstual : obyek yang tidak berada dalam artistiknya, menunjuk pada persoalan musiknya.
Peran dan fungsi gending-gending pahargyan : kontekstualnya.
Kontekstual yang tidak akan mendewasakan ilmu etnomusikologi, memang sangat tergantung
dari penguasaan persoalan artistic itu sendiri, garapnya, materi, perabotnya, metode dsbnya.
Obyek formal artistic : suatu upaya untuk melihat obyek dari sisi makna dan ciri esistencial
atas berbagai problem garap. Music etnik hampis setiap locus kebudayaan musik mempunyai
ciri esistencial sendiri-sendiri. Contoh gaya karawitan : gaya Kasunanan, gaya Mangkunegaran,
gaya Sragenan, gaya Sasonomulya, gaya STSI, bagaimana sih ciri2 esistencial masing-masing.
Rekonstruksi histories: pemaparan yang merekontruksi fenomena dalam titik waktu tertentu
menuju titik waktu yang lain, pemahaman-pemahaman waktu tertentu, biasa digunakan dlm
ilmu sejarah, dlm antropologi itu rakus, pertanyaan sejarah pun dimungkinkan dalam penelitian
antropologi.
Mengkonsepkan fenomena-fenomena yang sejenis, ada banyak didalam(sejarah, antropologi,
sosiologi). Bentuk peryataan yang termasuk dalam eksposisi pola- menampilkan
mengedepankan. Yang diekspose adalah pola-pola, baik itu pola ekspresinya maupun pola
garapnya. Atau pola materinya, atau pola teknik yang digunakan.
Karawitan Bali - karawitan Jawa (pola nyacah). Instrument Kantil saron penerus. Bali dengan
Sunda : 6 5 3 2 1 2 3 5 (Sunda, Jawa, Bali) pasti dengan intrepretsi yang berbeda.
Menggambarkan sarana garap yang digunakan garap dengan eskposisi pola.
Pertemuan ke 9 (20 April 2010)

Seorang peneliti melakukan penenlitian tanpa menggunakan paradigma : kwantitatif dan


kwalitatif. Setiap ilmu selalu ada hubungan dan didlmnya melekat paradigma.
Kwantitatif ; suatu pijakan berfikir yang didasarkan pada filsafat fositifisme, yang menganggap
kebenarannya dpt diverivikasi dapat dibuktikan dan dapat dihitung; kalau mau menghintung
tingkat kecerdasan mahasiswa etnomusikologi .
Kwalitatif : suatu kerangka berfikir ilmiah yang didasarkan pada filsafat fenomenologi.
Gejala itu selalu eksi sbesama dengan makna dan maksud.
Gejala keterlambatan ada maknanya, kalau kuliah ngomong sendiri, ketemu dosennya seperti
tidak kenal, suka terlambat pasti ada maknanya.
Unsur-unsur paradigma:
1. Asumsi dasar
2. Nilai-nilai
3. Model
4. Pertanyaan2 yang ingin dijawab
5. Konsep
6. Metode penelitian
7. Metode analisas
8. Hasil analisis
9. Etnografi atau hasilnya
Asumsi dasar : anggapan2 tentang sesuatu yang mempunyai kebenaran tertentu, jadi asusmsi
adalah keyakinan ttg kebenaran tanpa melalukan. Asumsi dasar itu adalah hal pertama kali
yg harus dilakukan.
Obyek, Subyek tidak akan jadi puisi. Dipaparkan secara deskriftif. Gondrong itu bias jadi tidak
hanya persoalan selera, estetika, ada realitas. Ada konsep : acuan , makna dan symbol.

Pertemuan ke 10
Mid semester :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Terangkan perbedaan antara ilmu, agama dan seni ?


ilmu
Terangkan denotasi nilai ?
Terangkan pilar eksistensi Ilmu
Terangkan hakikat paradigma ?
Terangkan ciri2 exixtencial ilmu ?