Anda di halaman 1dari 71

TUGAS TAKE HOME EXAMINATION

MK SURVEILANS EPIDEMIOLOGI SEMESTER 4 (2 SKS)

DISUSUN OLEH:
ACHMAD RIZKI AZHARI
NIM 25010113140258

KELAS D-2013

FAKULTAS KESEHATAN MASYARAKAT


UNIVERSITAS DIPONEGORO
JUNI 2015

1.1.

Definisi Surveilans Epidemiologi

Menurut German (dalam Kesmas, 2013), surveilans kesehatan masyarakat (public


health surveillance) adalah suatu kegiatan yang dilakukan secara terus-menerus
berupa pengumpulan data secara sistematik, analisis dan interpretasi data mengenai
suatu peristiwa yang terkait dengan kesehatan untuk digunakan dalam tindakan
kesehatan masyarakat dalam upaya mengurangi angka kesakitan dan kematian, dan
meningkatkan status kesehatan.

Surveilans kesehatan masyarakat adalah pengumpulan, analisis, dan interpretasi


data secara terus menerus dan sistematis yang kemudian didiseminasikan
(disebarluaskan) kepada pihak-pihak yang bertanggung jawab dalam pencegahan
penyakit dan masalah kesehatan lainnya (DCP2, 2008).

1.2.

Prinsip Umum Surveilans Epidemiologi


Prinsip umum survelian epidemiologi adalah sebagai berikut (Eko Budiarto, 2003) :
a. Pengumpulan data Pencatatan insidensi terhadap population at risk.
Pencatatan insidensi berdasarkan laporan rumah sakit, puskesmas, dan sarana
pelayanan kesehatan lain, laporan petugas surveilans di lapangan, laporan
masyarakat, dan petugas kesehatan lain; Survei khusus; dan pencatatan jumlah
populasi berisiko terhadap penyakit yang sedang diamati. Tehnik pengumpulan data
dapat dilakukan dengan wawancara dan pemeriksaan. Tujuan pengumpulan data
adalah menentukan kelompok high risk; Menentukan jenis dan karakteristik
(penyebabnya); Menentukan reservoir; Transmisi; Pencatatan kejadian penyakit; dan
KLB.
b. Pengelolaan data
Data yang diperoleh biasanya masih dalam bentuk data mentah (row data) yang
masih perlu disusun sedemikian rupa sehingga mudah dianalisis. Data yang
terkumpul dapat diolah dalam bentuk tabel, bentuk grafik maupun bentuk peta atau
bentuk lainnya. Kompilasi data tersebut harus dapat memberikan keterangan yang
berarti.
c. Analisis dan interpretasi data untuk keperluan kegiatan

Data yang telah disusun dan dikompilasi, selanjutnya dianalisis dan dilakukan
interpretasi untuk memberikan arti dan memberikan kejelasan tentang situasi yang
ada dalam masyarakat.
d. Penyebarluasan data dan keterangan termasuk umpan balik
Setelah analisis dan interpretasi data serta telah memiliki keterangan yang cukup
jelas dan sudah disimpulkan dalam suatu kesimpulan, selanjutnya dapat
disebarluaskan kepada semua pihak yang berkepentingan, agar informasi ini dapat
dimanfaatkan sebagai mana mestinya.
e. Evaluasi
Hasil evaluasi terhadap data sistem surveilans selanjutnya dapat digunakan untuk
perencanaan, penanggulangan khusus serta program pelaksanaannya, untuk kegiatan
tindak lanjut (follow up), untuk melakukan koreksi dan perbaikan-perbaikan
program dan pelaksanaan program, serta untuk kepentingan evaluasi maupun
penilaian hasil kegiatan.

1.3.

Fungsi Surveilans Epidemiologi


Surveilans epidemiologi pada umumnya berfungsi untuk (Amiruddin, 2013) :

Mengetahui dan melengkapi gambaran epidemiologi dari suatu penyakit

Menentukan penyakit apa yang diprioritaskan untuk diobati atau diberantas

Meramalkan kejadian wabah

Menilai dan memantau pelaksanaan program pemberatasan penyakit menular, serta


program-program kesehatan lainnya seperti program mengatasi kecelakaan, program
kesehatan gigi, dan program gizi

1.4.

Mengetahui jangkauan dari pelayanan kesehatan

Unsur Dasar Surveilans Epidemiologi


Unsur-unsur surveilans epidemiologi untuk penyakit, khususnya penyakit menular,
adalah sebagai berikut (Amiruddin, 2013) :
a. Pencatatan Kematian
Pencatatan kematian yang dilakukan di tingkat desa dilaporkan ke kantor
kelurahan lalu ke kantor kecamatan dan Puskesmas. Sementara itu dari kantor

kecamatan, pencatatan tersebut dikirim ke kantor kapupaten/kota. Unsur ini akan


bermanfaat bila data pada pencatatan kematian cepat diolah dan hasilnya segera
diberitahukan kepada yang berkepentingan.
b. Laporan Penyakit
Unsur ini penting untuk mengetahui distribusi penyakit menurut wajtu,
apakah musiman, cylic, atau secular. Dengan demikian dapat diketahui pula
ukuran endemis suatu penyakit. Jenis data yang diperlukan sesederhana mungkin,
Contohnya variabel orang cukup dicatat nama dan umurnya, variabel tempat
cukup alamatnya. Diagnosis penyakit dan waktu mulai timbulnya penyakit
merupakan hal yang penting dicatat.
c. Laporan Wabah
Laporan wabah dengan distribusi penyakit menurut waktu, tempat, dan
orang penting artinya untuk menganalisis dan menginterpretasikan data dalam
rangka mengetahui sumber dan penyebab wabah tersebut
d. Pemeriksaan Laboratorium
Laboratorium merupakan suatu sarana yang penting untuk mengetahui
kuman penyebbab penyakit menular dan pemeriksaan tertentu untuk penyakitpenyakit lainya, misalnya kadar gula darah untuk penyakit diabetes mellitus.
e. Penyakit Khusus
Penyelididkan kasus untuk penyakit khusus dimaksudkan untuk
mengetahui riwayat alamiah penyakit yang belum belum diketahui, terjadi pada
seorang atau lebih individu.
f. Penyelidikan Wabah
Bila terjadi lonjakan frekuensi penyakit yang melebihi frekuensi biasa,
perlu diadakan penyelidikan wabah denan analisis data sekunder sehingga dapat
diketahui terjadinya letusan tersebut. Dalam hal ini diperlukan diagnosis klisis
dan diagnosis labiratoris disamping penyelidikan epidemic di lapangan.
g. Survei
Survei ialah suatu cara penelitian epidemiologi untuk mengetahui
prevalens penyakit. Dengan ukuran ini dapat diketahui luas masalah penyakit
tersebut. Setelah survey pertama dilakukan, berikan pengobatan

terhadap

penderita sehingga survey kedua dapat ditentukan keberhasilan pengobatan


tersebut.
h. Penyelidikan Tentang Distribusi Vector Dan Reservoir Penyakit
Penyakit zoonis terdapat pada manusia dan hewan. Sehingga dalam hal
ini manusia dan hewan merupakan reservoir. Penyakit pada hewan diselidiki oleh
dokter hewan dan penyakit akibat vector seranggga diselidiki oleh ahli
entomologis.
i. Penggunaan Obat-Obatan, Sera, Dan Vaksin
Keterangan yang menyangkut penggunaan bahan-bahan tersebut
mengenai banyaknya, jenisnya , dan waktunya memberi petunjuk kepada kita
mengenai masalah penyakit. Disamping itu, dapat pula dikumpulkan keterangan
mengenai efek samping dari bahan-bahan tersebut
j. Keterangan Tentang Penduduk Serta Lingkungan
Keterangan penduduk penting untuk menetapkan population at risk.
Persediaan bahan makanan juga penting diketahui apakah ada hunbungan
kekurangan gizi, faktot-faktor lain yang berhubungan dengan kependudukan, dan
lingkungan ini perlu selalu dipikirkan dalam rangka analisis epidemiologis. Data
atau keterangan mengenai kependudukan dan lingkungan itu tentu harus didapat
di lembaga-lemabaga nonkesehatan.

1.5.

Lingkup Surveilans Epidemiologi


Ruang lingkup surveilans epidemiologi menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 45 Tahun 2014 pasal 4 ayat 1 adalah :
a) Surveilans epidemiologi penyakit menular
Merupakan analisis terus menerus dan sistematika terhadap penyakit menular dan
faktor risiko untuk upaya pemberantasan penyakit menular.
b) Surveilans epidemiologi penyakit tidak menular
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit tidak menular dan
faktor risiko untuk mendukung upaya pemberantasan penyakit tidak menular.
c) Surveilans epidemiologi kesehatan lingkungan

Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap penyakit dan faktor risiko
untuk mendukung program penyehatan lingkungan.
d) Surveilans epidemiologi masalah kesehatan
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan
factor risiko untuk mendukung program-program kesehatan tertentu.
e) Surveilans epidemiologi kesehatan matra
Merupakan analisis terus menerus dan sistematis terhadap masalah kesehatan dan
faktor risiko untuk upaya mendukung program kesehatan matra

1.6.

Pertimbangan Melakukan Survailans Epidemiologi


Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014 pasal
5, penyelenggaraan surveilans kesehatan sebagaimana dimaksud dalam ruang lingkup
diatas dapat dilaksanakan secara terpadu yang didasarkan pada pertimbangan efektifitas
dan efisiensi sesuai kebutuhan program

1.7.

Indikator Pengukuran Penyakit


Pengukuran penyakit/epidemiologis terdiri atas (M.N. Bustan, 2006) :
1) Angka (Rate)
Nilai rate mengukur kemungkinan kejadian dalam populasi terhadap beberapa
peristiwa tertentu. Contohnya adalah :

Angka Insidensi (Incidence Rate)


Angka Insidensi adalah suatu ukuran freakuensi kejadian kasus baru penyakit
dalam suatu populasi tertentu selama suatu periode waktu tertentu

Angka serangan (Attack Rate)


Angka serangan adalah angka insidensi, biasanya dinyatakan dalam persen dan
diterapkan terhadap populasi tertentu yang sempit dan terbatas pada suatu
periode, misalnya dalam suatu wabah (epidemic)

Angka kematian
Angka kematian adalah suatu ukuran frekuensi terjadinya kematian dalam suatu
populasi tertentu selama suatu masa jeda tertentu.

2) Proporsi

Distribusi proporsi adalah suatu persen yakni proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa
dalam kelompok data yang mengenai masing-masing kategori (atau subkelompok)
dari kelompok itu.
3) Rasio
Rasio adalah suatu pernyataan frekuensi nisbi kejadian suatu peristiwa terhadap
peristiwa lainnya.

1.8.

Indikator Surveilans
Indikator surveilans adalah sebagai berikut (Wahyudin Rajab, 2009) :
a. Spesific (spesifik)
b. Measurable (dapat diukur)
c. Action oriented (orientasi pada aksi)
d. Realistic (realistis)
e. Timely (tepat waktu)

2.1.

Penyakit yang Dilaporkan dan Mekanisme Pelaporan

Penyakit yang Dilaporkan


Penyakit yang dilaporkan dalam surveilans menurut pasal 4 ayat (2) dan (3) PMK no
45 Tahun 2014 adalah :
a) Penyakit menular
Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi;
Penyakit demam berdarah;
Penyakit malaria;
Penyakit zoonosis;
Penyakit filariasis;
Penyakit tuberkulosis;
Penyakit diare;
Penyakit tifoid;
Penyakit kecacingan dan penyakit perut lainnya;
Penyakit kusta;
Penyakit frambusia;

Penyakit HIV/AIDS;
Penyakit hepatitis;
Penyakit menular seksual
Penyakit pneumonia, termasuk penyakit infeksi saluran pernafasan akut berat
(severe acute respiratory infection).
b) Penyakit tidak menular
Penyakit jantung dan pembuluh darah;
Diabetes melitus dan penyakit metabolik;
Penyakit kanker;
Penyakit kronis dan degeneratif;
Gangguan mental;
Gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan.

Mekanisme Pelaporan
Alur Distribusi Data Surveilans Terpadu Penyakit :

Sumber: Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1479/Menkes/Sk/X/2003

2.2.

Definisi Statistik Vital


Data statistik vital disebut juga kejadian vital yang mengacu pada proses pengumpulan
data dan penerapan metode statistik dasar pada data tersebut guna mengidentifikasi faktafakta kesehatan yang vital di dalam sutau masyarakat, populasi atau wilayah tertentu.
Data morbiditas, mortalitas, pernikahan, perceraian, kelahiran semuanya merupakan data
statistik vital. (Efendi, 2009).

2.3.

Tujuan Statistik Vital


Mempublikasikan data kesehatan yang berguna sekali bagi evaluasi aktivitas,
perencanaan, dasar tindak lanjut suatu pemantauan dan penelitian (Slamet, 2004).

2.4.

Manfaat Statistik Vital


Manfaat dari statistik vital adalah digunakan untuk mengevaluasi status kesehatan
masyarakat dari kejadian yang terjadi sehari-hari. Selain itu, kegunaan statistik vital,
antara lain (Lintang, 2015a):
a. Mengidentifikasi perbedaan status kesehatan dalam kelompok-kelompok
b. Menilai perbedaan berdasarkan area geografik dan pekerjaan
c. Memonitor kematian yang dapat dicegah
d. Menghasilkan hipotesis mengenai sebab atau korelasi yang mungkin berhubungan
e. Melaksanakan aktivitas perencanaan kesehatan
f. Memantau kemajuan kearah tujuan kesehatan

2.5.

Pengkodean (Coding)
Pengkodean adalah suatu kegiatan pemberian kode atau symbol pada keteranganketerangan tertentu, kalau pengolahan akan diakukan dengan computer elektronik.
(Supranto, 2007). Pengkodean (coding) adalah prosedur teknis dimana data mentah
diubah menjadi symbol-simbol. Simbol-simbol ini paling sering berupa angka-angka
karena dapat ditabulasi dan dihitung dengan lebih mudah. (Churchill, 2005).

2.6.

Klasifikasi Statistik Vital


Data statistic vital terdiri atas (Wahyudin Rajab, 2009) :
1. Angka Kesakitan (Morbiditas) dan Usia Harapan Hidup
Setiap gangguan di dalam fungsi maupun struktur tubuh seseorang dianggap
sebagai penyakit. Penyakit, sakit, cedera, gangguan dan sakit, semuanyadikategorikan
di dalam istilah tunggal yaitu morbiditas. Morbiditas (kesakitan) merupakan derajat
sakit, cedera atau gangguan padasuatu populasi. Morbiditas juga merupakan suatu
penyimpangan dari status sehat dan sejahtera atau keberadaan suatu kondisi sakit.
Morbiditas juga mengacu pada angka kesakitan yaitu: jumlah orang yang sakit
dibandingkan dengan populasi tertentu yang sering kali merupakan kelompok yang
sehat atau kelompok yang beresiko.
Di dalam epidemiologi, ukuran utama morbiditas adalah: Angka Insidensi dan
Prevalensi dan berbagai ukuran turunan dari kedua indikator tersebut. Setiap kejadian
penyakit, kondisi gangguan atau kesakitan dapat diukur dengan Angka Insidensi dan
angka prevalensi. Keberhasilan program kesehatan dan program pembangunan sosial
ekonomi pada umumnya dapat dilihat dari peningkatan usia harapan hidup penduduk
dari suatu negara. Meningkatnya perawatan kesehatan melalui puskesmas,
meningkatnya daya beli masyarakat akan meningkatkan akses terhadap pelayanan
kesehatan, mampu memenuhi kebutuhan gizi dan kalori, mampu mempunyai
pendidikan yanglebih baik sehingga memperoleh pekerjaan dengan penghasilan yang
memadai, yang pada gilirannya akan meningkatkan derajat kesehatan masyarakat dan
memperpanjang usia harapan hidupnya.
Angka harapan hidup merupakan alat untuk mengevaluasi kinerjapemerintah
dalam meningkatkan kesejahteraan penduduk pada umumnya, dan meningkatkan
derajat kesehatan pada khususnya.

2. Angka kelahiran dan angka kelahiran kasar


Angka kelahiran (birth rate) suatu populasi biasanya merupakan angka kasar
(crude rate) dan angka ini mengacu pada keseluruhan populasi. Saat menggunakan
angka kasar (kelahiran maupun kematian) perlu dilakukan pengkajian lebih lanjut
terhadap penggunaan rate spesifik dan distribusi usia karena karaktaristik penduduk

sangat beragam sehingga angka kasar juga menjadi beragam dan tidak akurat. Usia
merupakan variable yang dapat menyebabkan semua rate pada keseluruhan populasi
menghasilkan data yang beragam pada kelompok yangberlainan.
Angka kelahiran kasar (crude rate birth) dan angka kematian kasar merupakan
indikator yang sangat berguna karena memberikan informasi ringkas,sekaligus data
statistic umum dari populasi yang besar. Angka kasar (crude rate) dapat dipakai
dalam perbandingan internasional sekaligus dalam perbandinganumum kejadian vital
selama beberapa waktu.

3. Angka Kematian
Akta kematian juga termasuk dokumen yang penting bagi keluarga yang
ditinggal. Alasan yang paling penting akta kematian sangat dibutuhkan adalah untuk
memenuhi kebutuhan hukum. Kematian ditangani dengan serius dan hokum
memberikan

perlindungan

terhadap

kemungkinan

terjadinya

kematian

akibatkesalahan melalui penelusuran dan pendataan kematian dengan metode yang


ketat. Kematian harus diregistrasi dan jika ada sesuatu yang mencurugakan,
kematiantersebut akan diselidiki termasuk melakukan autopsy. Akta kematian juga
dibutuhkan untuk mengajukan klaim pensiun dan asuransi jiwa. Angka kematian dan
data relevan diperoleh dari proses registrasi akta kematian.

4. Data statistik perkawinan dan perceraian


Status perkawinan memengaruhi struktur keluarga, status sosial ekonomi,
kesehatan mental, akses ke layanan kesehatan dan berbagai faktor lain yang
berkaitan dengan status kesehatan.

2.7.

Perhitungan Rate
Rate adalah perbandingan antara suatu kejadian dengan jumlah penduduk yang
mempunyai risiko kejadian tersebut, menyangkut interval waktu tertentu. Rate untuk
menyatakan dinamika dan kecepatan kejadian dalam suatu populasi masyarakat tertentu.
Contohnya, penyakit campak berisiko pada balita dan penyakit cancer servik berisiko
pada wanita. (Eko Budiarto, 2003).

2.8.

Kendali Mutu

Data statistik vital mencakup data populasi yang dipadukan dengan informasi yang
berkaitan dengan status kesehatan, penyakit, cedera, dan peristiwa kematian. Singkatnya,
data statistik vital terdiri atas semua data penduduk ditambah dengan data yang berkaitan
dengan kesehatan (penyakit). Informasi yang diperoleh dari pengumpulan, analisis, dan
distribusi data penting untuk perencanaan dan prediksi pergerakan dan perubahan
penduduk. Informasi kematian dan kelahiran merupakan inti dan sangat berguna di dalam
perencanaan layanan kesehatan (Ferry Efendi, 2009).

3.1.

Definisi Surveilans Sentinel


Surveilans Sentinel adalah penyelenggaraan Surveilans epidemiologi pada populasi dan
wilayah terbatas untuk mendapatkan signal adanya masalah kesehatan pada suatu
populasi atau wilayah yang lebih luas. (Dinkes Kota Semarang, 2004)

3.2.

Sentinel Peristiwa Kesehatan


A Sentinel Health Event (SHE) is a preventable disease, disability, or untimely death
whose occurrence serves as a warning signal that the quality of preventive and/or
therapeutic medical care may need to be improved. (David, 1983).
Jika diartikan menjadi sentinel kejadian kesehatan yakni berupa kejadian penyakit,
kecacatan atau kematian yang dapat menjadi tanda penting bahwa upaya preventif atau
pengobatan yang sedang dijalankan perlu melakukan perbaikan.

3.3.

Tempat Sentinel
Tempat-tempat yang dipilih tidak begitu penting karena mewakili suatu area tertentu.
Tempat-tempat sentinel dapat memberikan suatu gambaran yang lebih konsisten terhadap

kesakitan didalam suatu area tertentu dibanding pada pelaporan rutin (Amiruddin, 2013).
Tempat-tempat sentinel seperti rumah sakit, klinik, provinsi dan pusat kesehatan
masyarakat. Peranan tempat sentinel yaitu memantau kondisi yang informasi lain tidak
tersedia dan memantau kondisi dalam subkelompok yang rentan daripada populasi
umum. Di bawah ini terdapat penjelasan dua tempat sentinel :

Puskesmas sentinel
Puskesmas Sentinel adalah satu buah Puskesmas yang ditetapkan oleh Dinas
Kesehatan Kabupaten/Kota sebagai Puskesmas Sentinel dengan memperhatikan
sumber daya puskesmas dan kemampuan pembinaan .(Keputusan Menteri Kesehatan
Republik Indonesia Nomor 1479/Menkes/Sk/X/2003)

Rumah sakit sentinel


Rumah Sakit Sentinel adalah Rumah Sakit Pemerintah tipe A, tipe B dan sebuah
Rumah Sakit tipe lain di Kabupaten/Kota yang ditetapkan oleh Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota sebagai Rumah Sakit Sentinel. (Keputusan Menteri Kesehatan Republik
Indonesia Nomor 1479/Menkes/Sk/X/2003).

3.4.

Petugas Sentinel
Staf (pegawai) pada daerah kerja sentinel diberikan pelatihan dan pengawasan khusus
untuk meyakinkan bahwa pelaporan lengkap dan akurat (Amiruddin, 2013). Pertugas
entinel bertugas untuk melaporkan data surveilans, meningkatkan mutu data, dan dapat
menghitung serta mengestimasi morbiditas penyakit.

4.1.

Register (Registrasi)
Registrasi merupakan pencatatan yang terus menerus mengenai kejadian vital (kelahiran,
kematian, status perkawinan, abortus, penyakit yang harus dilaporkan, dan riwayat
penyakit menular tertentu) yang dialami penduduk. (Ferry dan Makhfudli, 2009).

4.2.

Manfaat Register
Manfaat register adalah memberikan perhatian pada penyakit yang menjadi masalah
utama pada kesehatan masyarakat seperti tuberkulosis, kanker, demam reumatik dan

penyakit jiwa. Semua kasus baru yang didiagnosis diidentifikasi melalui pelaporan rutin
ke Dinas Kesehatan. (Fatkurahman, 2012).

4.3.

Tipe Register
Ada 2 registrasi yang digunakan untuk surveilans rutin yaitu:
-

Registrasi Klinik: semua program puskesmas yang berjalan telah diregistrasi,


dimana hal tersebut dapat digunakan untuk surveilans penyakit atau program.

Registrasi Lapangan: bentuk ini dirancang untuk mengumpulkan data pada


peristiwa kelahiran, kematian, imunisasi, diare dan status gizi tentang semua anak
berusia dibawah lima tahun, serta kehamilan dan status imunisasi dari semua wanita
menikah didalam rumah tangga.

Sedangkan tipe register (Lintang, 2015a) yaitu:

4.4.

Serial kausal dan didasarkan rumah sakit

Didasarkan populasi

Didasarkan pemajan

Manfaat Survey
Untuk memperkirakan tingkatan suatu penyakit atau kondisi pada suatu area tertentu.
Survei adalah cara yang aktif dan cepat untuk mendapatkan keterangan mengenai
keadaan suatu penyakit dimasyarakat. (Amiruddin, 2013). Survei bermanfaat untuk
menyediakan informasi untuk penilaian prevalens kondisi kesehatan dan risiko,
memantau perubahan dalam prevalens sepanjang waktu, dan menilai pengetahuan, sikap
dan perilaku.

4.5.

Perbedaan Register dan Survey


Register dilakukan dari penyedia layanan kesehatan umum dan swasta yang menyediakan
laporan kelahiran, kematian, dan data terseleksi lainnya kepada suatu sistem pusat.
Sedangkan survey biasanya dilakukan secara periodik untuk memperkirakan suatu
penyakit atau kematian dan merekomendasikan tindakan pencegahan jikalau hal tersebut
terulang. (Amiruddin, 2013).
Sehingga dapat disimpulkan perbedaan dari register dan survey adalah sebagai berikut :

Survei

Register

Waktu tidak harus ditentukan secara Idealnya dilakukan setiap saat


periodik (dapat dilaksanakan kapanpun
sesuai kebutuhan)
Populasi umumnya mewakili sumber Seluruh
populasi

4.6.

sumber

populasi

dicatat

(deregister)

Tipe Survey
Tipe-tipe survey yaitu sebagai berikut (Fatkurahman, 2012) :

4.7.

Survey Morbiditas

Survey Wawancara Kesehatan

Survey Pemeriksaan Kesehatan

Survey Pencatatan Kesehatan

Survey Nasional Pertumbuhan Keluarga

Survey yang berkaitan dengan catatan vital

Survey Pelayanan Medis Rawat Jalan

Survey untuk penyakit-penyakit tertentu, misalnya kanker

Tipe Sistem Administratif Pengumpulan Data


Terdapat lima tipe sistem administrative pengumpulan data, yaitu (Lintang, 2015a):

5.1.

Ketersediaan dan kegunaan

Sistem informasi kesehatan terpadu

Sistem data pelaksanaan rumah sakit

Pengumpulan data ruang emergensi

Data rawat jalan

Tahap-Tahap Perencanaan Surveilans Kesehatan Masyarakat


Terdapat 8 tahapan dalam perencanaan surveilans kesehatan masyarakat, yaitu (Lintang,
2015b):

1. Menetapkan tujuan
2. Mengembangkan definisi kasus
3. Mengembangkan sistem pengumpulan data
4. Mengembangkan instrumen pengumpulan data
5. Menguji metode dilapangan
6. Mengembangkan pendekatan analisis data
7. Menentukan mekanisme diseminasi (penyebaran)
8. Menentukan metode evaluasi

5.2.

Rasional (Alasan-Alasan) Untuk Setiap Tahap Perencanaan


Alasan-alasan untuk setiap tahap perencanaan surveilans kesehatan masyarakat, yaitu
(Amiruddin, 2013):
1. Menetapkan tujuan
Sebelum merancang suatu sistem, sangat penting untuk menentukan tujuan yang
jelas.
2. Mengembangkan definisi kasus
Definisi kasus ini perlu dikembangkan agar semua petugas kesehatan menggunakan
definisi dan criteria yang sama untuk mendiagnsis suatu penyakit spesifik.
3. Mengembangkan sistem pengumpulan data
Secara mendasar, sistem pengumpulan data perlu diseleksi untuk tiap-tiap indicator.
Hal ini berarti akan diputuskan apakah mengumpulkan data dari pelaporan rutin,
menyusun suatu sistem sentinel, atau melakukan suatu survey untuk mengumpulkan
data.
4. Mengembangkan instrumen pengumpulan data
Instrument pengumpulan data merupakan perlengkap yang digunakan didalam
surveilans rutin dan sentinel.
5. Menguji metode dilapangan
Untuk mengumpulkan masalah dalam sistem pengumpulan data, mengidentifikasi
masalah-masalah validitas, mengoreksi masalah-masalah sistem pengumpulan data
sebelum pelaksanaan.
6. Mengembangkan pendekatan analisis data

Untuk menjamin bahwa sumber data dan proses pengumpulan adekuat/memadai


7. Menentukan mekanisme diseminasi (penyebaran)
Diseminasi informasi dimaksudkan untuk memberikan informasi yang dapat
dimengerti kemudian dimanfaatkan dalam menentukan arah kebijakan kegiatan,
upaya pengendalian dan evaluasi serta kesimpulan analisis.
8. Menentukan metode evaluasi
Evaluasi sistem surveilans perlu dilakukan agar memberikan rekomendasi untuk
perbaikan kualitas dan efisiensi.

5.3.

Aktivitas Yang Dilakukan Dalam Setiap Tahap Perencanaan


Aktivitas yang dilakukan dalam setiap tahap perencanaan surveilans kesehatan
masyarakat, yaitu (Amiruddin, 2013):
1. Menetapkan tujuan
Langkah untuk mengkhusukan kegiatan surveilans:

Kegunaan surveilans

Penggunaan informasi yang dihasilkan oleh sistem, ruang lingkup surveilans

Kelompok sasaran yang akan diamati

2. Mengembangkan definisi kasus


Pengembangan definisi kasus sebaiknya didiskusikan dalam kelompok sehingga
keseluruhan poin penting dari sudut pandang diperhatikan. Definisi digunakan untuk
masing-masing penyakit yang rencananya akan diamati. Faktor yang mempengaruhi
pada definisi kasus: peningkatan pengetahuan, kriteria pendefinisian kasus.
3. Mengembangkan sistem pengumpulan data
Jika suatu prosedur surveilans telah dipilih, muailah merancang prosedur
pengumpulan data. Hal ini memuat 3 langkah:

Mengembangkan definisi operasional kasus

Mengembangkan atau memperbaiki perlengkapan pengumpulan data dan


pencatatan data

Pengujian perlengkapan

Tipe sistem pengumpulan data:

1. Sistem pencatatan vital


2. Kumpulan data yang ada
3. Pencatatan/registrasi atau survei yang ada
4. Mengembangkan instrumen pengumpulan data
Ada 3 jenis perlengkapan yang dapat digunakan didalam surveilans rutin dan
sentinel yaitu registrasi, kuesioner suvei dan protkol pengujian kasus. Setelah
mengembangkan instrumen pengumpulan data, sebaiknya diuji dibawah kondisi
normal (mencoba diluar program untuk melihat apakah instrument tersebut
mudah dipahami oleh staf, mudah digunakan dan menghasilkan jenis data yang
dibutuhkan).
5. Menguji metode dilapangan
Dilakukan seleksi terhadap prosedur pengumpulan data untuk tiap indikator. Perlu
dipertimbangkan pilihan secara teliti, khususnya jika menyusun suatu sistem
pelaporan sentinelyang baru. Hal ini bisa saja memakan waktu

dan biaya,

khususnya jika kebutuhan pelaporan besar.


6. Mengembangkan pendekatan analisis data
Analisis sebaiknya dilakukan pada tiap tingkatan sistem surveilans. Kegunaan
analisis adalah untuk mengidentifikasi pola penyakit dan mengidentifikasi
penyebab penyakit atau kematian.
7. Menentukan mekanisme diseminasi (penyebaran)
Dalam menentukan mekanisme diseminasi, perlu merancang strategi diseminasi
yang mampu menjawab tiga pertanyaan penting:

Siapakah pengguna potensial hasil surveilans yang kita lakukan?

Hasil tertentu manakah yang akan paling diminati oleh maisng-masing


kelompok pengguna potensial?

Saluran media apakah yang paling baik yang dapat menjangkau kelompok
pengguna potensial?

Cara diseminasi:

Membuat suatu laporan yang disampaikan kepada unit kesehatan pada tingkat
yang lebih tinggi.

Membuat suatu laporan yang disampaikan dalam seminar atau pertemuan lain

Membuat suatu tulisan dimajalah atau jurnal rutin

8. Menentukan metode evaluasi


Evaluasi sistem surveilans akan meningkatkan penggunaan terbaik sumber
kesehatan dengan meyakinkan bahwa hanya masalah penting yang menjalani
surveilans dengan sistem surveilans yang yang berlangsung secara efisien.
(Amiruddin, 2013)

6.1.

Peranan Etika (Kode Etik) Dalam Kesehatan Masyarakat


Etika kesehatan masyarakat adalah suatu tatanan moral berdasarkan system nilai yang
berlaku secara universal dalam eksistensi mencegah perkembangan risiko pada individu,
kelompok dan masyarakat yang mengakibatkan penderitaan sakit dan kecacatan, serta
meningkatkan keberdayaan masyarakat untuk hidup sehat dan sejahtera. (Eryati Darwin,
2014).
Sebuah kode etik untuk kesehatan masyarakat dapat memperjelas elemen khas
kesehatan masyarakat dan prinsip-prinsip etis yang mengikuti dari atau menanggapi
elemen-elemen masyarakat. Hal ini dapat memperjelas kepada penduduk dan masyarakat
cita-cita lembaga kesehatan masyarakat yang melayani mereka, cita-cita yang dapat
dipertanggungjawabkan oleh lembaga-lembaga tersebut. (Eryati Darwin, 2014).

6.2.

Prinsip Moral
Prinsip-prinsip moral yang diterapkan dalam suatu riset ataupun surveilans
(Lingtang, 2015):
-

Penghargaan otonomi

Kedermawanan

Paternalisme

Keadilan

Kejujuran

Privasi (bersifat pribadi)

Konfidensialitas

Kebenaran/ketelitian

adalah

6.3.

Isu Etika dan Tanggung Jawab dalam Surveilans


-

Tipe kontak yang terlibat dalam surveilans, yaitu (Lintang, 2015c) :

Surveilans lingkungan

Surveilans pencatatan

Surveilans dengan wawancara atau pemeriksaan

Etika-etika peserta, yaitu (Lintang, 2015c) :

Hubungan yang tampak dan tidak tampak antar peserta-peserta menggambarkan


kewajiban etika mereka satu sama lain

Etika tanggung jawab antar praktisi surveilans dan masyarakat luas, adalah (Lintang,
2015c) :

Melaksanakan surveilans pada isu-isu prioritas dengan keuntungan kesehatan


masyarakat yang potensial

Mencari keadilan adalah juga rasional moral utama untu surveilans

Menghindari conflict of interest

Hasil-hasil harus dilaporkan dalam cara yang sesitif, bertanggung jawab, dapat
dimengerti dan tepat waktu

Etika tanggungjawab antara investigator dan subjek, yaitu (Lintang, 2015c):

Kemurahan hari

Tidak melakukan pelanggaran

Perlindungan privasi

Informed consent (persetujuan subjek)

Penyingkapan

Diseminasi

Konfidensialitas

Kejujuran

Orang dalam lingkungan social disekitar subjek

Prinsip-prinsip menjustifikasi akses yang luas (Lintang, 2015c):

Meningkatkan kualitas keilmuan dengan memperkenankan studi-studi yang


direanalisis dan studi-studi konfirmasi

Meluaskan pengetahuan dengan memfasilitasi analsis tambahan

7.

Mengurangi beban surveilans terhadap subjek

Mengurangi beban surveilans pada praktisi

Komputerisasi Surveilans
Penggunaan komputer di bidang kesehatan di negara-negara berkembang,
seperti di berbagai daerah di Indonesia masih belum merata. Tidak hanya dari segi
fasilitas komputer dan jaringannya, tetapi dari segi sumber daya manusia. Di
Indonesia masih sedikit tenaga kesehatan yang sekaligus dapat mengoperasikan
komputer. Hal ini salah satu penyebab masih minimalnya penggunaan komputer
sebagai pendukung kesejahteraan kesehatan masyarakat. Padahal, maksud pemerintah
mengadakan

sistem

informasi

kesehatan

berbasis

komputer adalah

untuk

mempermudah pekerjaan dalam keterbatasan sumber daya manusia.


Penggunaan komputer tentunya tidak lepas dari listrik. Seperti yang kita tahu,
komputer membutuhkan listrik untuk dapat beroperasi. Meskipun pemerintah sudah
merencanakan sebuah sistem informasi kesehatan di daerah-daerah, tetap saja hal itu
kurang dapat memberikan hasil yang baik, karena masih banyak daerah yang
mendapat pemadaman listrik bergilir atau bahkan sama sekali belum teraliri listrik.
Oleh karena itu dibutuhkan peran serta yang tinggi, konsisten dan intensif dari
pemerintah dalam hal penyediaan aliran listrik yang baik dan merata hingga daerah
terkecil di nusantara.
Masalah utama dari masih minimalnya penggunaan komputer di daerah adalah
masih sedikitnya penyediaan komputer bahkan di tingkat rumah sakit. Hal inilah yang
membuat daerah masih kesulitan dalam hal pengolahan data kesehatan.
Penggunaan teknologi komputer di daerah terpencil masih sangat minimal.
Salah satu contoh adalah di daerah Nusa Tenggara Timur (NTT) yang memiliki
peringkat ke-31 dari 33 provinsi dalam Indeks Pembangunan Manusia. Kesehatan
merupakan salah satu indikator dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia.
Dalam pembangunan kesehatan itu sendiri, dibutuhkan penggunaan sistem informasi
yang tepat. Akan tetapi, kendala yang dihadapi oleh Provinsi NTT adalah terbatasnya
ketersediaan sarana dan prasarana sistem informasi dan minimnya penggunaan

fasilitas komputer. Terbatasnya ketersediaan sistem informasi dapat mempengaruhi


kelancaran pelaksanaan kegiatan sehingga pelaksanaan yang dilakukan oleh Provinsi
NTT kurang maksimal.
Selain di Provinsi NTT, Provinsi NTB yang berada pada peringkat ke-32 dari 33
provinsi juga memiliki masalah terkait penggunaan teknologi komputer, yaitu adanya
fragmentasi dalam sistem informasi kesehatan. Maksud dari fragmentasi tersebut
adalah banyaknya penggunaan sistem informasi kesehatan yang berbeda-beda di
semua tingkat administrasi (kabupaten, kota, provinsi). Hal ini mengakibatkan
terjadinya duplikasi data, kurangnya kelengkapan data, dan data yang tidak valid.
Hasil penelitian di NTB membuktikan bahwa puskesmas harus mengirim lebih dari
300 laporan dan terdapat 8 macam sistem yang digunakan sehingga beban
administrasi dan beban petugas terlalu tinggi. Beban-beban yang terlalu tinggi
mengakibatkan ketidakefektifan dan ketidakefisiensian sistem informasi kesehatan
yang digunakan.
Selain itu, masalah yang dihadapi dalam sistem informasi kesehatan ialah
format pencatatan dan pelaporan masih berbeda-beda dan belum memiliki standar
secara nasional. Hal ini diwujudkan dari masih adanya daerah yang mencatat dan
menyerahkan laporan kesehatan yang diisi dengan tulisan tangan. Lebih buruknya,
mereka terkadang menyusun sendiri poin-poin pelaporan sehingga tidak sesuai
dengan standar yang sudah dibuat oleh pemerintah. Sudah dapat dipastikan, metode
pencatatan dan data basing seperti ini sangat tidak efektif dan memberi informasi
yang baik.
Masalah tersebut mendorong pemerintah untuk membuat perencanaan sistem
informasi kesehatan daerah yang baru pada tahun 2008, yakni Sistem Informasi
Kesehatan Daerah (SIKDA) Satu Pintu. Sistem ini merupakan sistem pencatatan
dan pelaporan kesehatan yang berpusat pada sebuah bank data sebagai pintu masuk
dan keluarnya data, yang berisikan data individu dan atau agregat yang berasal dari
setiap fasilitas pelayanan kesehatan baik pemerintah maupun swasta serta sektor
terkait.

Untuk menerapkan SIKDA Satu Pintu, dibutuhkan sarana pendukung, antara


lain bangunan, hardware, software, SDM untuk pengumpulan, pengolahan, analisa,
dan visualisasi data. Terlebih, 96% puskesmas harus memiliki minimal satu unit
computer untuk dapat melaksanakan program ini.
Selain hal di atas, dalam penggunaan teknologi komputer dibutuhkan tenaga
ahli profesional untuk menjalankan sistem pelayanan kesehatan berbasis komputer.
Dengan adanya tenaga ahli, maka penggunaan teknologi komputer dalam sistem
pelayanan kesehatan menjadi optimal dan saat terjadi masalah dalam penggunaan
komputer, mereka dapat menyelesaikan masalah tersebut.

8.

Sistem Surveilans

Tipe-Tipe Sistem Surveilans, Pengumpulan, dan Entry Data


Cara-cara penyelenggaraan surveilans epidemiologi dibagi berdasarkan atas metode
pelaksanaan, aktifitas pengumpulan data dan pola pelaksanaannya. (KMK No.
1116/MENKES/SK/VIII/2003).
B. Penyelenggaraan Berdasarkan Metode Pelaksanaan
a. Surveilans Epidemiologi Rutin Terpadu, adalah penyelenggaraan surveilans
epidemiologi terhadap beberapa kejadian, permasalahan, dan atau faktor risiko
kesehatan
b. Surveilans

Epidemiologi

Khusus,

adalah

penyelenggaraan

surveilans

epidemiologi terhadap suatu kejadian, permasalahan, faktor risiko atau situasi


khusus kesehatan
c. Surveilans Sentinel, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi pada
populasi dan wilayah terbatas untuk mendapatkan signal adanya masalah
kesehatan pada suatu populasi atau wilayah yang lebih luas.
d. Studi Epidemiologi, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi pada
periode tertentu serta populasi dan atau wilayah tertentu untuk mengetahui
lebih mendalam gambaran epidemiologi penyakit, permasalahan dan atau
faktor risiko kesehatan
C. Penyelenggaraan Berdasarkan Aktifitas Pengumpulan Data

a. Surveilans Aktif, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi, dimana


unit surveilans mengumpulkan data dengan cara mendatangi unit pelayanan
kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.
b. Surveilans Pasif, adalah penyelenggaraan surveilans epidemiologi, dimana
unit surveilans mengumpulkan data dengan cara menerima data tersebut dari
unit pelayanan kesehatan, masyarakat atau sumber data lainnya.
D. Penyelenggaraan Berdasarkan Pola Pelaksanaan
a. Pola Kedaruratan, adalah kegiatan surveilans yang mengacu pada ketentuan
yang berlaku untuk penanggulangan KLB dan atau wabah dan atau bencana.
b. Pola Selain Kedaruratan, adalah kegiatan surveilans yang mengacu pada
ketentuan yang berlaku untuk keadaan diluar KLB dan atau wabah dan atau
bencana.
E. Penyelenggaraan Berdasarkan Kualitas Pemeriksaan
a. Bukti klinis atau tanpa peralatan pemeriksaan, adalah kegiatan surveilans
dimana

data

diperoleh

berdasarkan

pemeriksaan

klinis

atau

tidak

menggunakan peralatan pendukung pemeriksaan.


b. Bukti laboratorium atau dengan peralatan khusus, adalah kegiatan surveilans
dimana data diperoleh berdasarkan pemeriksaan laboratorium atau peralatan
pendukung pemeriksaan lainnya.

Persoalan Dokumentasi Dan Latihan


Dokumentasi adalah cara pengumpulan data dengan melihat/mengacu pada
dokumentasi atau catatan masalah kesehatan serta data hasil penelitian. Alat:
a. Alat catatan
b. Pustaka atau referensi
Contoh: dokumen dari pusat pelayanan kesehatan tentang kejadian suatu masalah
kesehatan yang terjadi diwilayahnya.
Pelatihan digunakan ntuk kelancaran kegiatan surveilans di desa siaga sangat
dibutuhkan tenaga kesehatan yang mengerti dan memahami kegiatan surveilans.
Petugas seyogyanya disiapkan dari tingkat Kabupaten/Kota, tingkat Puskesmas
sampai di tingkat Desa/Kelurahan. Untuk menyamakan persepsi dan tingkat

pemahaman tentang surveilans sangat diperlukan pelatihan surveilans bagi petugas.


Untuk keperluan respon cepat terhadap kemungkinan ancaman adanya KLB, di setiap
unit pelaksana (Puskesmas, Kabupaten dan Propinsi) perlu dibentuk Tim Gerak Cepat
(TGC) KLB. Tim ini bertanggung jawab merespon secara cepat dan tepat terhadap
adanya ancaman KLB yang dilaporkan oleh masyarakat.

Laporan Dan Pembagian Data (Data Sharing)


Pelaporan (reporting): data, informasi dan rekomendasi sebagai hasil
kegiatan surveilans epidemiologi disampaikan kepada pihak-pihak yang dapat
melakukan tindakan penanggulangan penyakit atau upaya

peningkatan program

kesehatan, pusat penelitian dan pusat kajian serta pertukaran data dalam jejaring
surveilans epidemiologi. Pengumpulan data kasus pasien dari tingkat yang lebih
rendah dilaporkan kepada fasilitas kesehatan yang lebih tinggi seperti lingkup daerah
atau nasional.
Hasil analisa dan interpretasi data selain terutama dipakai sendiri oleh unit
kesehatan setempat untuk keperluan penentuan tindak lanjut, juga untuk
disebarluaskan dengan jalan dilaporkan kepada atasan sehagai infomasi lebih lanjut,
dikirimkan sebagai umpan balik (feed back) kepada unit kesehatan pemberi laporan.
Umpan balik atau pengiriman informasi kembali kepada sumber-sumber data
(pelapor) mengenai arti data yang telah diberikan dan kegunaannya setelah diolah,
merupakan suatu tindakan yang penting, selain tindakan follow up. Sasaran
penyebaran informasi adalah instansi terkait baik secara vertikal maupun horizontal
dengan tujuan untuk memperoleh kesepahaman dan feedback dalam perumusan
kebijakan. Manfaat penyebaran informasi adalah mendapatkan respon dari instansi
terkait sebagai feedback, tindak lanjut, dan kesepahaman. Metode yang dapat
digunakan dalam penyebaran informasi adalah tertulis dan deseminasi laporan,
verbal dalam rapat, media cetak dan elektronik (Noor, 2008).

Peranan Pengelola Data, Cara-Cara Mengelola Data


Pernanan Pengelola Data
Penyajian dan analisis data hasil kegiatan secara statistic sederhana sehingga dapat
memberikan informasi surveilans yang optimal dan keterampilan mengoperasikan
software pengolahan data.

Cara-cara mengelola data


Data yang sudah terkumpul dari kegiatan diolah dan disajikan dalam bentuk tabel,
grafik (histogram, poligon frekuensi), chart (bar chart, peta/map area). Penggunaan
komputer sangat diperlukan untuk mempermudah dalam pengolahan data
diantaranya dengan menggunakan program (software) seperti epid info, SPSS, lotus,
excel dan lain-lain (Budioro, 2007).

Tujuan penilaian survailans


Tujuan dari penilaian system surveilens adalah untuk meningkatkan pemanfaatan
sumber-sumber yang ada di bidang kesehatan secara maksimal melalui
pengembangan system surveilans yang efektif dan efisien.

Protocol Penilaian Survailans


Pentingnya suatu peristiwa kesehatan dilihat dari segi kesehatan masyarakat adalah:
a) Jumlah kasus atau besarnya kasus, insiden dan prevalen.
b) Indikator dari besarnya masalah: angka kematian preventabilitas.

Tujuan Sistem
Surveilans bertujuan memberikan informasi tepat waktu tentang masalah kesehatan
populasi, sehingga penyakit dan faktor risiko dapat dideteksi dini dan dapat
dilakukan respons pelayanan kesehatan dengan lebih efektif. Tujuan khusus
surveilans, antara lain (Giesecke, 2002):
a) Memonitor kecenderungan (trends) penyakit;
b) Mendeteksi perubahan mendadak insidensi penyakit, untuk mendeteksi dini
outbreak;
c) Memantau kesehatan populasi, menaksir besarnya beban penyakit (disease
burden) pada populasi;
d) Menentukan

kebutuhan

kesehatan

prioritas,

membantu

implementasi, monitoring, dan evaluasi program kesehatan;


e) Mengevaluasi cakupan dan efektivitas program kesehatan;
f) Mengidentifikasi kebutuhan riset

Gambaran Sistem

perencanaan,

Gambaran system berisi di antaranya ada daftar tujuan system, definisi kasus
peristiwa kesehatan, diagram alur dari system yang akan dievakuasi, komponen
dan pelaksanaan system, populasi, periode pengumpulan data, informasi yang
telah dikumpulkan.

Kemampuan dan Atribut (Sifat) Sistem


Kemampuan dan atribut (sifat) system terdiri dari (Romaguera, 2000) :

Kesederhanaan (Simplicity)

Kesederhanaan sistem surveilans menyangkut struktur dan pengorganisasian


sistem. Besar dan jenis informasi yang diperlukan untuk menunjang diagnosis,
sumber pelapor, cara pengiriman data, organisasi yang menerima laporan,
kebutuhan pelatihan staf, pengolahan dan analisa data perlu dirancang agar tidak
membutuhkan sumber daya yang terlalu besar dan prosedur yang terlalu rumit.

Fleksibilitas (Flexibility)

Sistem surveilans yang fleksibel dapat menyesuaikan diri dalam mengatasi


perubahan-perubahan informasi yang dibutuhkan atau kondisi operasional tanpa
memerlukan peningkatan yang berarti akan kebutuhan biaya, waktu dan tenaga.

Dapat diterima (Acceptability)

Penerimaan terhadap sistem surveilans tercermin dari tingkat partisipasi


individu, organisasi dan lembaga kesehatan. lnteraksi sistem dengan mereka
yang terlibat, temasuk pasien atau kasus yang terdeteksi dan petugas yang
melakukan diagnosis dan pelaporan sangat berpengaruh terhadap keberhasilan
sistem tesebut. Beberapa indikator penerimaan terhadap sistem surveilans
adalah jumlah proporsi para pelapor, kelengkapan pengisian formulir pelaporan
dan ketepatan waktu pelaporan. Tingkat partisipasi dalam sistem surveilans
dipengaruhi oleh pentingnya kejadian kesehatan yang dipantau, pengakuan atas
kontribusi mereka yang terlibat dalam sistem, tanggapan sistem terhadap saran
atau komentar, beban sumber daya yang tersedia, adanya peraturan dan
perundangan yang dijalankan dengan tepat.

Sensitivitas (Sensitivity)

Sensitivitas suatu surveilans dapat dinilai dari kemampuan mendeteksi kejadian


kasus-kasus penyakit atau kondisi kesehatan yang dipantau dan kemampuan
mengidentifikasi adanya KLB. Faktor-faktor yang berpengaruh adalah :
Proporsi penderita yang berobat ke pelayanan kesehatan.
Kemampuan mendiagnosa secara benar dan kemungkinan kasus yang
terdiagnosa akan dilaporkan.
Keakuratan data yang dilaporkan
Nilai Prediktif Positif (Positive predictive value)
Nilai Prediktif Positif
Adalah proporsi dari yang diidentifikasi sebagai kasus, yang kenyataannya
memang menderita penyakit atau kondisi sasaran surveilans. Nilai Prediktif
Positif menggambarkan sensitivitas dan spesifisitas serta prevalensi/
insidensi penyakit atau masalah kesehatan di masyarakat.

Representatif (Representative).

Sistem surveilans yang representatif mampu mendeskripsikan secara akurat


distribusi kejadian penyakit menurut karakteristik orang, waktu dan tempat.
Kualitas data merupakan karakteristik sistem surveilans yang representatif. Data
surveilans tidak sekedar pemecahan kasus-kasus tetapi juga diskripsi atau ciriciri demografik dan infomasi mengenai faktor resiko yang penting.

Tepat Waktu.

Ketepatan waktu suatu sistem surveilans dipengaruhi oleh ketepatan dan


kecepatan mulai dari proses pengumpulan data, pengolahan analisis dan
interpretasi data serta penyebarluasan informasi kepada pihak-pihak yang
berkepentingan. Pelaporan penyakit-penyakit tertentu perlu dilakukan dengan
tepat dan cepat agar dapat dikendalikan secara efektif atau tidak meluas
sehingga membahayakan masyarakat. Ketepatan waktu dalam sistem surveilans
dapat dinilai berdasarakan ketersediaan infomasi untuk pengendalian penyakit
baik yang sifatnya segera maupun untuk perencanaan program dalam jangka
panjang. Teknologi komputer dapat sebagai faktor pendukung sistem surveilans
dalam ketepatan waktu penyediaan informasi.

Koordinasi

1. Koordinasi pada system surveilans dapat berupa :


Dalam rangka penyelenggaraan Surveilans Kesehatan, dibangun dan
dikembangkan koordinasi, jejaring kerja, dan kemitraan antar instansi
pemerintah dan pemangku kepentingan baik di pusat, provinsi, maupun
kabupaten/kota.
2. Koordinasi, jejaring kerja, dan kemitraan diarahkan untuk :
Identifikasi masalah kesehatan dan/atau masalah yang berdampak terhadap
kesehatan
Kelancaran pelaksanaan investigasi dan respon cepat
Keberhasilan pelaksanaan penanggulangan KLB/wabah
Peningkatan dan pengembangan kapasitas teknis dan manajemen sumber
daya manusia
Pengelolaan sumber pendanaan.

Mekanisme Respons untuk Intevensi


Mekanisme Respons untuk intevensi Information for Action ILI, yaitu
(Kepmenkes RI Nomor 300/ MENKES/SK/IV/2009):
1. Pencegahan ILI: Tindakan pencegahan berupa peningkatan kesehatan
personal, seperti mencuci tangan dan menghindari kontak dengan unggas yang
sakit, pelaksanaan vaksin virus influenza dan pelayanan kesehatan seperti
pemberian obat anti viral.
2. Pengendalian ILI :
Pembentukan pos komando dan koordinasi sebagai pusat operasi
penanggulangan
Surveilans epidemiologi
Respon medik dan laboratorium
Intervensi farmasi
Intervensi nonfarmasi
Pengawasan perimeter oleh POLRI dan TNI
Komunikasi risiko

Tindakan karantina di bandar udara, pelabuhan, pos lintas batas darat


(PLBD), terminal, dan stasiun
Mobilisasi sumber daya Kebijakan ILI
Meningkatkan usaha pengamatan (surveilans) pada manusia dan hewan
(sistem

kewaspadaan

dini,

investigasi

epidemiologis,

dan

reaksi/penanggulangan cepat)
9.1.

Pemikiran Epidemiologis Untuk Pencegahan Dan Pemberantasan Penyakit


Menular
Epidemiologi

merupakan suatu cabang suatu ilmu

yang mempelajari,

menganalisis serta berusaha memecahkan berbagai masalah kesehatan maupun masalah


yang erat hubungannya dengan kesehatan pada suatu kelompok tertentu. Epidemiologi
menganalisis sifat dan penyebaran berbagai masalah kesehatan serta mempelajari sebab
timbulnya

masalah

kesehatan

tersebut

untuk

tujuan

pencegahan

maupun

penanggulangannya. (Nasry, 2008)


Wade Hampton Frost (1972) mendefinisikan epidemiologi sebagai suatu
pengetahuan tentang fenomena massal ( mass phenomen ) penyakit infeksi atau sebagai
riwayat alamiah ( natural history ) penyakit menular. Di sini tampak bahwa pada waktu
itu perhatian epidemiologi hanya ditujukan kepada masalah penyakit infeksi yang
terjadi/mengenai masyarakat/massa.
Epidemiologi penyakit menular telah banyak memberikan peluang dalam usaha
pencegahan dan penanggulangan penyakit menular tertentu. Berhasilnya manusia
mengatasi berbagai gangguan penyakit menular deswasa ini merupakan salah satu hasil
yang gemilang dari epidemiologi. Peranan surveilans epidemiologi yang mulanya hanya
ditujukan pada pengamatan penyakit menular secara seksama, ternyata telah memberikan
hasil yang cukup berarti dalam menanggulangi berbagai masalah penyakit menular.
(Nasry, 2008)
Program pencegahan dan pemberantasan penyakit akan sangat efektif bila
mendapat dukungan oleh sistem surveilans yang aktif, karena fungsi surveilans
yang utama adalah menyediakan informasi epidemiologi yang peka terhadap

perubahan yang terjadi dalam pelaksanaan program pemberantasan penyakit yang


menjadi prioritas pembangunan.

9.2.

Epidemiologi Sebagai Dasar Kesehatan Masyarakat


Epidemiologi berasal dari dari kata Yunani epi= atas, demos= rakyat, populasi
manusia, dan logos = ilmu (sains), bicara. Secara etimologis epidemiologi adalah ilmu
yang mempelajari faktor-faktor yang berhubungan dengan peristiwa yang banyak terjadi
pada masyarakat, yakni penyakit dan kematian yang diakibatkannya yang disebut
epidemi. (M.N. Bustan, 2006).
Profesor Sally Blakley menyebutkan epidemiologi the mother science of public
health. Kesehatan masyarakat bertujuan melindungi, memelihara, memulihkan, dan
meningkatkan

kesehatan

populasi.

(Bernard,

2014).

Sedangkan

epidemiologi

memberikan kontribusinya dengan mendeskripsikan distribusi penyakit pada populasi,


meneliti paparan faktor-faktor yang mempengaruhi atau menyebabkan terjadinya
perbedaan distribusi penyakit tersebut. Pengetahuan tentang penyebab perbedaan
distribusi penyakit selanjutnya digunakan untuk memilih strategi intervensi yang tepat
untuk mencegah dan mengendalikan penyakit pada populasi, dengan cara mengeliminasi,
menghindari, atau mengubah faktor penyebab tersebut. (Wahyudin Rajab, 2009).
Epidemiologi adalah bagian dari ilmu kesehatan masyarakat yang merupakan inti atau
induk ilmu kesehatan masyarakat, memiliki pengertian, filosofi, dan pelaksanaan metode
yang terkandung dalam public health. (Eko Budiarto, 2003).

9.1.

Kontribusi GIS dalam Kesehatan Masyarakat


Menurut WHO (dalam Dodiet Aditya, 2014), SIG (Sistem Informasi Geografis)
dalam kesehatan masyarakat dapat digunakan antara lain untuk: (1) Menentukan
Distribusi Geografis Penyakit; (2) Analisis trend Spasial dan Temporal: (3) Pemetaan
Populasis Berisiko: (4) Stratifikasi Faktor risiko; (5) Penilaian Distribusi Sumberdaya; (6)
Perencanaan dan Penentuan Intervensi; (7) Monitoring Penyakit.
Berikut ini adalah beberapa contoh pemanfaatan SIG dalam bidang Kesehatan
Masyarakat berdasarkan analisa CDC tersebut (Dodiet Aditya, 2014):

a) Fungsi pertama yaitu memonitor status kesehatan untuk mengidentifikasi masalah


kesehatan yang ada di masyarakat. Dalam mendukung fungsi ini, SIG dapat
digunakan untuk memetakan kelompok masyarakat serta areanya berdasarkan status
kesehatan tertentu, misalnya status kehamilan. Dengan SIG, peta mengenai status
kesehatan dapat digunakan untuk merencanakan program pelayanan kesehatan yang
dibutuhkan oleh kelompok tersebut, misalnya pelayanan ANC, persalinan dll.
b) Fungsi yang kedua yaitu mendiagnosa dan menginvestigasi masalah serta risiko
kesehatan di masyarakat. Sebagai contoh, seorang epidemiologis sedang mengolah
data tentang kasus asma yang diperoleh dari Rumah Sakit, Puskesmas, dan Pusat
Pusat Kesehatan lainnya di masyarakat, ternyata dia menemukan terjadi kenaikna
kasus yang cukup signifikan di suatu Rumah Sakit, maka kemudian dia mencari tahu
data dari pasien pesien penderita asma di Ruimagh sakit. Ternyata ditemukan
bahwa 8 dari 10 orang penderita asma yang dirawat di Rumah Sakit tersebut bekerhja
di perusahaan yang sama. Demikian seterusnya hingga kemudian SIG dapat
digunakan untuk memberikan data yang lengkap mengenai pola pajanan kimia
tertentu di perusahaan perusahaan dalam suatu wilayah, yang merupaka informasi
yang penting utnuk para karyawan. Informasi ini juga dapat diteruskan kepada ahli
ahli terkait, dalam hal ini ahli K3 untuk melakukan penanganan lebih lanjut terhadap
masalah yang ditemukan
c) Fungsi yang ketiga yaitu menginformasikan, mendidik dan memberdayakan
masyarakat nmengenai isu isu kesehatan. SIG dalam hal ini dapat menyediakan
informasi mengenai kelompok masyarakat yang diidentifikasi masih memiliki
pengetahuan yang kurang mengenai informasi kesehatan tertentu, sehingga kemudian
dapat dicari media komunikasi yang paling efektif bagi kelompok tersebut, serta
dapat dibuat perencanaan mengenai waktu yang paling tepat untuk melakukan
promosi kesehatan kepada kelompok masyarakat tersebut.
d) Fungsi yang keempat yaitu membangun dan menggerakkan hubungan kerjasama
dengan masyarakat untuk mengidentifikasi dan memecahkan masalah kesehatan.
Dalam hal ini SIG dapat digunakan untuk melihat suatu pemecahan masalah
kesehatan berdasarkan area tertentu dan kemudian memetakan kelompok masyarakat
yang potensial dapat mendukung program tersebut berdasarkan area area yang

terdekat dengannya. Misalnya masalah imunisasi yang ada pada wilayah kerja tingkat
RW atau Posyandu, maka dapat dipetakan kelompok potensial pendukungnya yaitu
Ibu Ibu PKK yang dapat diberdayakan sebagai kader pada Posyandu Posyandu
yang terdekat dengan tempat tinggalnya
e) Fungsi yang kelima yaitu membangun kebijakan dan rencana yang mendukung usaha
individu maupun masyarakat dalam menyelesaikan masalah kesehatan. Contohnya
dalam hal analisa wilayah cakupan Puskesmas. Dalam hal ini SIG digunakan untuk
memetakan utillisasi dari tiap tiap Puskesms oleh masyarakat sehingga dapat dibuat
perencanaan yang jelas mengenai sumber daya kesehatan yang perlu disediakan untuk
Puskesmas tersebut disesuaikan dengan tingkat utilitasnya.
f) Fungsi yang keenam yaitu membangun perangkat hukum dan peraturan yang
melindungi kesehatan dan menjamin keselamatan masyarakat. Dalam hal ini SIG
dapat digunakan untuk membagi secara jelas kewenangan dan tanggung jawab suatu
pusat pelayanan kesehatan pada tiap tiap wilayah kerja dalam menjamin dan
menangani segala bentuk masalah yang terjadi di wilayah tersebut. Dengan demikian
maka manajemen komplain dapat terkoordinir dengan baik.
g) Fungsi yang ketujuh yaitu menghubungkan individu yang membutuhkan pelayanan
kesehatan yang dibutuhkan dan menjamin ketersediaan pelayanan kesehatan tersebut
jika belum tersedia. Misalnya seorang warga negara asing diidentifikasi menderita
suatu penyakit tertentu yang membutuhkan penanganan yang serius. Maka untuk
mengatasinya, dengan melihat peta dan data akses pelayanan kesehatan yang tersedia
dapat dicari tenaga kesehatan terdekat yang dapat membantu orang tersebut, dan
menguasai bahasa yang digunakannya. Dengan data SIG juga dapat diketahui
bagaimana akses transportasi termudah yang dapat dilalui oleh warga negara asing
tersebut menuju fasilitas kesehatan terdekat.
h) Fungsi kedelapan yaitu menjamin ketersediaan tenaga kesehatan dan ahli kesehatan
masyarakat yang berkompeten di bidangnya. Dalam hal ini SIG dapat menyediakan
peta persebaran tenaga kesehatan dan ahli kesehatan masyarakat di tiap tiap daerah,
sehingga dengan demikian dapat dilihat jika ada penumpukan atau bahkan
kekurangan personel di suatu daerah. Lebih lanjut, data tersebut dapat digunakan

dalam hal perencanaan pengadaan tenaga tenaga kesehatan untuk jangka waktu ke
depan untuk masing masing wilayah.
i) Fungsi kesembilan yaitu mengevaluasi efektifitas, kemudahan akses dan kualitas
pelayanan kesehatan di masyarakat. Data SIG dapat menyediakan data yang lengkap
mengenai potensi tiap tiap daerah serta karakter demografis masyarakatnya untuk
dihubungkan dengan fasilitas fasilitas kesehatan yang tersedia dan tingkat
utilitasnya. Dengan demikian dapat dievaluasi kembali kesesuaian dan kecukupan
dari penyediaan sarana pelayanan kesehatan yang ada.
j) Fungsi kesepuluh yaitu penelitian untuk menciptakan penemuan baru dan inovasi
dalam memecahkan masalah masalah kesehatan di masyarakat. Salah satu kegunaan
SIG dalam hal ini adalah untuk menyediakan data yang akurat mengenai perubahan
perubahan yang terjadi di suatu daerah seperti pertambahan jumlah perumahan, jalan,
pabrik atau sarana - sarana lainnya yang berpengaruh pada lingkungan dan berpotensi
mempengaruhi status kesehatan masyarakat. Data ini kemudian dapat digunakan
untuk merancang dan merencanakan inovasi inovasi tertentu yang dapat menjamin
kesehatan suatu masyarakat.

9.2.

Aplikasi GIS Untuk P2M Penyakit


Aplikasi GIS untuk P2M penyakit yaitu (Dodiet Aditya, 2014):
a) menemukan penyebaran dan jenis-jenis penyakit secara geografis,
b) meneliti perkembangan trend sementara suatu penyakit,
c) mengidentifikasi kesenjangan, celah di daerah terpencil,
d) mengurangi kerugian masyarakat melalui pemetaan dan stratifikasi faktor-faktor
risiko,
e) menggambarkan kebutuhan-kebutuhan dalam pelayanan kesehatan berdasarkan
data dari masyarakat dan menilai alokasi sumber daya,
f) meramalkan kejadian wabah,
g) memantau perkembangan penyakit dari waktu ke waktu, dan
h) dapat menempatkan fasilitas dan sarana pelayanan kesehatan yang dapat
dijangkau oleh masyarakat

10.

Standarisasi Langsung dan Tidak Langsung


Standarisasi langsung dan tidak langsung akan dijelaskan dalam standarisasi angka
kematian.
Standarisasi Angka Kematian
Dalam membandingkan dua angka kematian (menurut umur) dari wilayah
yang berbeda harus hati-hati karena harus menghilangkan dulu faktor yng
mempengaruhi angka kematian tersebut, atau dengan kata lain harus dilakukan
standarisasi. Standarisasi diperlukan untuk menghilangkan pengaruh susunan
penduduk, antara lain umur, jenis kelamin, jenis pekerjaan, suku.
Ada dua cara standarisasi langsung (direct) dan tidak langsung (indirect)
a. Standarisasi langsung
Untuk membandingkan angka kematian dua tempat atau daerah, digunakan
daerah lain sebagai standar yang diketahui jumlah penduduk menurut umur (atau
variabel lain yang dianggap mempengaruhi) baik angka sebenarnya atau teoritis
saja. Dalam cara langsung ini, dua daerah yang akan dibandingkan harus
mempunyai data kematian menurut umur (ASDR), sedangkan daerah yang akan
dijadikan standar adalah daerah yang mempunyai jumlah penduduk menurut umur
baik empirik maupun teoritis, atau bahkan salah satu dari daerah yang akan
dibandingkan menjadi penduduk standar.

Keterangan : Expected death pada kolom terakhir didapatn dengan mengalikan


ASDR masing-masing kelompokumur dengan jumlah penduduk standar pada
kelompok umur yang bersangkutan.
Contoh:

Expected death untuk kelompok umur 0-14 th daerah A adalah


,

Expected death untuk kelompok umur 60-74 th daerah B adalah

Angka kematian daerah A yang sudah distandarisasi :

Angka kematian daerah B yang sudah distandarisasi :

Rasio kematian daerah A dan B =


Dengan standarisasi terlihat bahwa anagka kematian, alam hal ini CDR unutk

daerah A yang tadinya dianggap lebih rendah, ternyata setelah dilakukan


standarisasi berubah lebih tinggi . Hal ini terjadi karena adanya komposisi
penduduk menurut umur yang berbeda.Kalau diperhatikan pada daerah A jumlah
kelompok umur yang ASDR-nya tertinggi (150/1000) adalah kelompok umur 75+
tahun keatas dengan jumlah 1000 orang. Sedangkan pada daerah B, kelompok
umur yang ASDR-nya tertinggi adalah kelompok umu 75+ dengan jumah hanya
400 orang.
b. Standarisasi Tidak Langsung
Pada standarisasi tidak langsung, angka kematian daerah A dan B tidak
mempunyai ASDR, hanya ada CDR dan penduduk menurut kelompok umur. Oleh
karena itu, diperlukan dari daerah standar adalah harus mempunyai angka standar

Sumber : (Chandra, 1995)


Untuk mendapatkan angka kematian yang distandarisasi, diperlukan perhitungan
indeks angka kematian dan faktor koreksi dengan perhitungan seperti dibawah ini.

Indeks angka kematian daerah


A=
B=

Faktor koreksi untuk kematian kasar ASDR daerah :


A=
B=

Rasio angka kematian yang sudah distandarisasi daerah A dan B :


=

11.

Tes Performance

Sensitivitas
Adalah kemampuan uji skrining untuk memberikan hasil positif mereka yang
mengidap penyakit. (Richard, 2009).

Spesifisitas

Adalah kemampuan uji untuk memberikan hasil negative pada mereka yang sehat
(tidak sakit). (Richard, 2009).

Perhitungan Sensifitas dan Spesifitas


Berdasarkan tabel matriks skring dibawah ini, dapat ditentukan rumus sensifitas
dan spesifitas (Richard, 2009):

Keterangan :
a = True positive
b = False positive
c = False negative
d = True Negative

Cut Off
Cutoof dapat dicontohhkan misalnya menetapkan titik potong (cut off
point) dalam menentukan pasien mana yang akan dinyatakan memiliki
glaukomatosa oleh skrining. (Richard, 2009).

Dari gambar di atas, tampak bahwa untuk mendeteksi semua mata yang
glaukomatosa (untuk mencapai sensitivitas 100 %) maka titik potong harus berada
pada 22 mm Hg. Pada titik potong ini, semua kasus glaukomatosa akan terdeteksi,
tetapi berakibat pada tercakupnya sejumlah besar mata yang normal, yaitu yang
berada pada ekor sebelah kanan pada distribusi mata non glaukomatosa, pada
tekanan 22-27. Hal ini menunjukkan spesifisitas kurang dari 100 %. (Richard,
2009).
Selanjutnya, diasumsikan bahwa seluruh mata normal dikeluarkan agar
mendapatkan spesifisitas 100 %. Hal ini memerlukan titik potong pada tekanan 27
agar seluruh mata normal dapat dikeluarkan. Hal tersebut mengakibatkan
hilangnya sejumlah kasus glaukomatosa sehingga sensitivitas kurang dari 100 %.
(Richard, 2009).
Pada praktiknya, titik potong ditetapkan pada tekanan 24. Hal ini
mengakibatkan sensitivitas maupun spesifisitas kurang dari 100 % dan baik hasil
positif palsu maupun negatif palsu akan muncul, tetapi dalam jumlah kecil.
Distribusi populasi yang sehat dan sakit bertumpang tindih berkenaan dengan
variabel yang diukur. Hasil uji bergantung pada pembacaan satu titik potong saja,
sensitivitas dan spesifisitas selalu saling berbanding terbalik. (Richard, 2009).

PVP (Nilai Prediktif Positive) dan PVN (Nilai Prediktif Negatif)


PVP adalah prsentase dari mereka dengan hasil tes positive yang benar benar
sakit, sedangkan PVN adalah porsentase dari mereka dengan hasil tes negative
yang benar benar tidak sakit. (Rizchard, 2009)
Berdasarkan tabel matrik skrining di atas, rumus PVP dan PVP :
PVP = a / (a+b)
PVN = d/ (c+d)

Peranan Prevalensi Rate Penyakit


Yield merupakan jumlah penyakit yang terdiagnosis dan diobati sebagai hasil dari
uji tapis (skrining). Prevalensi penyakit yang tidak tampak dapat mempengaruhi
yield. (Eko Budiarto, 2003). Makin tinggi prevalensi penyakit tanpa gejala yang
terdapat di masyarakat akan meningkat yield, terutama penyakit-penyakit kronis
seperti TBC, karsinoma, hipertensi, dan diabetes mellitus. (Eko Budiarto, 2003).

Rendahnya prevalensi rate, maka test skring akan mengambil lebih banyak true
negative. Sedangkan tingginya prevalensi rate, maka test skrining akan
mengambil lebih banyak false negative. increased prevalence results in
decreased negative predictive value, meningkatnya prevalensi rate akan
menghasilkan penurunan hasil negative predictive. (Penn State Science, 2015).

(Relationship between disease prevalence and predictive value in a test with 95%
sensitivity and 85% specificity.

12. Analisis Data Surveilans

Pendekatan Metode
Analisis data dilakukan dengan menggunakan metode epidemiologi deskriptif
dan/atau analitik untuk menghasilkan informasi yang sesuai dengan tujuan
surveilans yang ditetapkan. Epidemiologi deskriptif dalam surveilans akan
menggambarkan distribusi masalah kesehatan berdasarkan orang, tempat, dan
waktu dan akan menjawab pertanyaan-pertanyaan di bawah ini (M.N. Bustan,
2006):
a) Who (Siapa), dapat menyangkut variabel umur, jenis kelamin, suku, agama,
pendidikan, pekerjaan, dan pendapatan populasi berisiko.
b) Where (dimana), mengenai faktor tempat dimana masyarakat tinggal atau
bekertja atau dimana saja kemungkinan mereka mengahdapi masalah
kesehatan. Faktot tempat dapat berupa: kota (urban) dan desa (rural); pantai
dan pegunungan; daerah pertanian, industry, tempat bermukim atau kerja.

c) When (kapan), kejadian masalah kesehatan berdasarkan waktu. Misalnya jam,


hari, minggu, bulan, dan tahun; musim hujan dan musim kering.
Sedangkan epidemiologi analtik akan menganalisis factor penyebab (determinant)
masalah kesehatan. (M.N. Bustan, 2006).

Konsep dan Standarisasi Rate


Rate salah satu alat ukur untuk mengukur peristiwa penting yang terjadi
di masyarakat (vita event) dan pengukuran terhadap jumlah kesakitan yang
terjadi di masyarakat. Rate dipergunakan untuk menyatakan frekuensi distribusi
suatu kejadian atau suatu keadaan yang terjadi pada populasi yang sedang
diobservasi.(Chandra, 1995)
Rate adalah ukuran untk menunjukkan perhitungan yang mempunyai
implikasi probabilitas terhadap suatu kejadian. Rate dinyatakan dalam bentuk:

frekuensi suatu kejadian / event dalam ajangka waktu tertentu


(umumnya dalam 1 tahun)
jumlah orang yang terpapar untuk berisiko kejadian tersebut dalam
periode yang sama
konstanta tertentu (misalnya 100, 1000, atau 100.000)
Perlu diperhatikan dalam rumus tersebut bahwa pembilang merupakan
bagian dari penyebut. Tujuan pengalian k adalah untuk menghindari angka yang
terlalu kecil dari hasil perhitungan rate tersebut. Pemilihan besarnya tergantung
dari besarnya angka pembilang dan penyebut. (Krisanti, 2008)
Rate dapat digunakan untuk mengukur angka kematian, kelahiran, dan
kesakitan. Dalam hal ini akan dijelaskan rate dalam angka kematian. Ada
beberapa ukuran (rate/angka ) kematian mortalitas, yaitu :
-

Angka kematian kasar (crude death rate/CDR)

Angka kematian khusus menurut kelompok umur dan penyebab penyakit(


age and cause specific death rate/ ASDR dan CSDR)

Angka kematian bayi (Infant mortality rate/IMR)

Angka kematian neonatal (neonatal mortality rate/NMR)

Dan lain-lain

Standarized Death Rate


Dalam keadaan keadaan tertentu, angka kematian perlu dilakukan standarisasi
bila kita ingin membandingkan keadaan status kesehatn dua daerah atau dua
negara yang berbeda struktur penduduknya, dan dalam hal ini CDR tidak
dipakai karena hanya menyatakan angka kematian kasar tanpa menyebutkan
adanya komposisi umur dans eks dari penduduk. Ada dua cara untuk melakukan
standarisasi atau adjusted dari angka kematian tersebut, yaitu:
a. Direct method
Standarisasi Angka Kematian Menurut Umur dan Seks Laki-laki dengan
Direct Method antara Argentina dan Meksiko, 1082

b. Indirect Method
Pada keadaan tertentu kita hanya mengetahui jumlah kematian berdasarkan
kelompok umur, maka kita harus melakukan standarisasi secara indirect.

(Chandra, 1995)

Pendekatan-Pendekatan Untuk Analisis Data Eksploratif


Analisis Eksplorasi data merupakan metode untuk mengenali pola data
nelalui diagram atau grafik, mendeteksi adanya nilai ekstrim agar analisis yang
dibuat dapat tidak terpengaruh efek ekstrem, menentukan pola hubungan antar
variabel dengan menggunakan diagram pencar dan membuat garis persamaan
serta melakukan smoothing data. Penyajian data dalam bentuk tabel kontingensi
dan melakukan analisis hubungan dari variabel yang bersifat kategori.
Analisis data eksploratif (Exploratory Data Analysis EDA) merupakan
metode eksplorasi data dengan menggunakan teknik aritmatika sederhana dan
teknik grafis dalam meringkas data pengamatan. EDA banyak digunakan dalam
berbagai hal seperti:

Memaksimalkan telaahan data

Mencari struktur data yang tersembunyi (mengungakp misteri yang


tersembunyi)

Mengeluarkan variable penting

Mendeteksi kelainan dan anomali

Melakukan test suatu asumsi

Membangun model

Melakukan optimasi

Adapun tahap-tahap dalam analisis data eksploratif, yaitu (Lintang, 2015c):


1. Gunakan peragaan visual untuk menyampaikan struktur dan analisis data.
2. Trabsformasikan data secara matematis untuk menyederhanakan distribusi
3. Selidiki pengaruh outlier (data-data ekstream)
4. Jelaskan residual-residual

Menguraikan Manfaat Grafik Dan Peta


Penyajian dalam

bentuk grafik bermanfaat untuk hal-hal berikut ini

(Budiarto, 2001):
1. Membandingkan beberapa variabel, beberapa kategori dalam variabel atau
satu variabel pada waktu dan tempat yang berbeda
2. Meramalkan perubahan yang terjasi dengan berjalannya waktu (time series)
3. Mengetahui adanya hubungan dua variabel atau lebih
4. Memberikan penerangan pada masyarakat.
Peta merupakan gambar visual. Penyajian data dalam bentuk peta
memudahkan untuk mengidentifikasi kasus. Hal tersebut memberikan gambaran
cepat

tentang

bagaimanapenyakit

menyebar.

Peta

memudahkan

untuk

perencanaan karena dapat menyajikan data rumah tangga dengan suatu masalah
kesehatan.Selain itu, peta juga berguna untuk menyajikan

data pada tingkat

administrasi yang lebih tinggi (desa, kota, kabupaten). (Amirudin, 2012).

Membuat Interpretasi Yang Sistematik Dari Data Surveilens


Surveilans adalah proses pengumpulan, pengolahan, analisis, dan
interpretasi data secara sistematik dan terus menerus serta penyebaran
informasi kepada unit yang membutuhkan untuk dapat mengambil tindakan
Data yang telah disusun dan dikompilasi, selanjutnya dianalisis dan
dilakukan interpretasi untuk memberikan arti dan memberikan kejelasan tentang
situasi yang ada dalam masyarakat.
Analisis data diperlukan untuk menjamin bahwa sumber data dan proses
pengumpulan data adalah adekuat. Untuk menganalisis data surveilans kita harus
memperhatikan beberapa hal berikut:

1.

Apa keistimewaan atau kekhasan data yang didapat?

2.

Memulai dari data yang paling sederhana ke data yang paling kompleks

3.

Menyadari bila ketidaktepatan dalam data menghalangi analisis-analisis yang


lebih canggih. Jika ada data yang bias maka data tersebut tidak perlu
digunakan.

4.

Sifat data surveilans

5.

Perubahan dari waktu ke waktu

6.

Beberapa sumber-sumber informasi

7.

Masalah kualitas dan kelengkapan

8.

Butuh pengetahuan yang mendalam tentang sistem evaluasi

13. A. Sifat Data Surveilans

Specific (spesifik)

Measurable (dapat diukur)

Actioned Oriented (orientasi pada aksi)

Realistic (realistis)

Timely (tepat waktu)

B. Definisi Nomenklatur
Nomenklatur merupakan metode penamaan yang diperlukan dalam klasifikasi. Sistem
nama ini diciptakan oleh Carolus Linnaeus pada tahun 1753. Nomenklatur merupakan
bahasa Latin nomen, yang artinya nama.

C. Menyajikan Manfaat Yang Benar Metode Analitik Dan Grafik Untuk


Mengkoreksi Aberasi/ Penyimpangan
Analisis dengan metode epidemiologi analitik dilakukan untuk mengetahui
hubungan antar variable yang dapat mempengaruhi peningkatan kejadian kesakitan
atau masalah kesehatan. Untuk mempermudah melakukan analisis dengan metode
epidemiologi analitik dapat menggunakan alat bantu statistik. Manfaat Grafik yaitu
(Budiarto, 2002) :

1. Membandingkan beberapa variabel, beberapa kategori dalam variabel atau satu


variabel pada waktu dan tempat yang berbeda.
2. Meramalkan perubahan yang terjadi dengan berjalannya waktu (time series)
3. Mengetahui adanya hubungan dua variabel atau lebih.
Jenis-jenis grafik, yaitu (Amiruddin, 2013):
Grafik Batang (Bar)

Grafik Garis (line)

Grafik Lingkaran (Pie)

Grafik Interaksi (Interactive)

Spot map (diagram map)

Poligon Frekuensi

D. Menyajikan Penilaian Yang Benar Kelengkapan Sistem Surveilens


Penilaian Sistem Surveilans
Ukuran yang dipakai dalam melakukan evaluasi pada sistem surveilans
didasarkan pada beberapa aspek berikut:
1) Kepentingan
Pentingnya suatu peristiwa kesehatan dilihat dari segi kesehatan
masyarakat dan kebutuhan untuk mengamati tersebut dapat dilihat dari beberapa
cara. Suatu peristiwa kesehatan yang menyerang banyak penduduk atau menyerap
sumber daya dan sumber dana besar jelas akan mempunyai arti penting. Namun
demikian, bukan tidak mungkin bahwa suatu peristiwa kesehatan yang menyerang
penduduk dalam jumlah relatif sedikit juga dapat dikatakan mempunyai arti
penting seperti adanya KLB suatu penyakit yang sifatnya terbatas. Akhirnya,
pentingnya

suatu

peristiwa

kesehatan

masyarakat

dipengaruhi

oleh

preventabilitas.
2) Kegunaan
Suatu sistem dapat dikatakan bermanfaat bila sistem tersebut mempunyai
andil dalam penanggulangan dan pencegahan penyakit, termasuk meningkatkan
pemahaman akan implikasi dari penyakit tersebut terhadap kesehatan masyarakat.
Sistem juga akan dianggap tidak penting, tetapi ternyata terbukti bahwa peristiwa
tersebut sebenarnya penting. (Sugiasih, 2012).
Dalam menilai manfaat suatu sistem surveilans, harus dimulai dengan
meninjau tujuan dari sistem tersebut disamping mempertimbangkan peranan
kebijaksanaan-kebijaksanaan yang ada dalam pengambilan keputusan dan
tindakan pencegahan. Sistem akan menjadi lebih bermanfaat bila sistem tersebut
dapat (Sugiasih, 2012):
a) Mendeteksi tanda-tanda adanya perubahan kecenderungan penyakit.\

b) Mendeteksi adanya KLB.


c) Memperkirakan besar kesakitan atau kematian.
d) Merangsang

penelitian

epidemiologis

untuk

mengawali

tindakan

penanggulangan atau pencegahan.


e) Mengidentifikasi faktor risiko yang berhubungan dengan kejadian penyakit.
f) Memungkinkan seseorang untuk melakukan penilaian terhadap tindakan
penanggulangan.
g) Mengawali upaya untuk meningkatkan tindakan-tindakan praktek klinis oleh
petugas yang terlibat dalam sistem surveilans.
Kegunaan/ manfaat sistem surveilans dipengaruhi oleh beberapa atribut
dari sistem tersebut meliputi kesederhanaan, fleksibilitas, akseptabilitas,
sensitivitas, nilai predektif positif, kerepresentatifan, ketepatan waktu. (Sugiasih,
2012)
a.

Kesederhanaan
Kesederhanaan dari suatu sistem surveilans mencakup kesedehanaan

dalam hal struktur dan kemudahan pengoprasiaannya. Sistem surveilans


dirancang sesederhana mungkin, namun masih dapat mencapai tujuan yang
diinginkan.
b.

Fleksibilitas
Suatu sistem surveilans yang fleksibel dapat menyesuaikan diri dengan

perubahan informasi yang dibutuhkan atau situasi pelaksanaan tanpa disertai


peningkatan yang berarti akan kebutuhan biaya, tenaga, dan waktu. Sistem yang
fleksibel dapat menerima, misalnya penyakit dan masalah kesehatan yang baru
diidentifikasikan, perubahan definisi kasus, dan variasi-variasi dari sumber
pelaporan.
c.

Akseptabilitas

Akseptabilitas menggambarkan kemauan seseorang atau organisasi untuk


berpartisipasi dalam melaksanakan sistem surveilans mencakup kemauan

seseorang yang bertangungjawab terhadap pelaksanaan sistem surveilans untuk


menyediakan data yang akurat, konsisten, lengkap, dan tepat waktu (Laksono dkk,
2004: 95).
d.

Sensitivitas
Sensitivitas dari suatu sistem surveilans dapat dilihat pada tingkat

pengumpulan data, proporsi kasus dari suatu penyakit masalah kesehatan yang
terdeteksi oleh sistem surveilans.
e.

Nilai Predektif Positif


Nilai predektif positif (NPP) adalah proporsi dari populasi yang

diidentifikasikan sebagai kasus oleh suatu sistem surveilans dan kenyataannya


memang kasus.
f.

Kerepresentatifan
Suatu sistem surveilans yang representatif akan menggambarkan secara

akurat kejadian dari suatu peristiwa kesehatan dalam periode waktu tertentu dan
distribusi peristiwa tersebut dalam masyarakat menurut tempat dan orang.
Kerepresentatifan dinilai dengan membandingkan karakteristik dari kejadiankejadian yang dilaporkan dengan semua kejadian yang ada.
g.

Ketepatan Waktu
Ketepatan waktu menggambarkan kecepatan atau kelambatan diantara

langkah-langkah dalam suatu sistem surveilans dan waktu yang diperlukan untuk
mengidentifikasi tren, KLB, atau hasil dari tindakan penanggulangannya, serta
adanya informasi mengenai upaya penanggulangan penyakit, baik dalam hal
tindakan penanggulangan yang segera dilakukan maupun rencana jangka panjang
dari upaya pencegahan.

14. Diseminasi

Konsep Dasar Diseminasi

Kata diseminasi berasal dari bahasa Latin, disseminates. Lalu dimasukkan


ke dalam Inggris dengan sebutan dissemination, yang diartikan sebagai suatu
kegiatan yang ditujukan kepada kelompok target atau individu agar mendapatkan
informasi, sehingga timbul kesadaran, menerima dan akhirnya memanfaatkan
informasi tersebut. (Soleman, 2013).
Diseminasi merupakan sinonim dari kata penyebaran. Jadi, pengertian
diseminasi informasi adalah penyebaran informasi. Penyebaran informasi yang
dimaksud dapat dilakukan melalui berbagai jenis media seperti buku, majalah,
surat kabar, film, televisi, radio, musik, game dan sebagainya. Dengan kata lain,
diseminasi merupakan kegiatan penyebaran informasi ke dalam lingkungan
masyarakat. (Soleman, 2013).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45
Tahun 2014, Diseminasi informasi dapat disampaikan dalam bentuk buletin, surat
edaran, laporan berkala, forum pertemuan, termasuk publikasi ilmiah. Diseminasi
informasi dilakukan dengan memanfaatkan sarana teknologi informasi yang
mudah diakses. Diseminasi informasi dapat juga dilakukan apabila petugas
surveilans secara aktif terlibat dalam perencanaan, pelaksanaan dan monitoring
evaluasi program kesehatan, dengan menyampaikan hasil analisis.

Diseminasi/Komunikasi Informasi
Cara diseminasi/penyebarluasan informasi adalah (Amiruddin, 2013) :
a) Membuat suatu laporan yang disampaikan kepada unit kesehatan pada tingkat
yang lebih tinggi.
b) Membuat suatu laporan yang disampaikan dalam seminar atau pertemuan lain
c) Membuat suatu tulisan di majalah atau jurnal rutin.

Contoh Diseminasi
A. Diseminasi Penyakit Malaria
Stakeholder yang memiliki peranan penting dalam penanganan masalah penyakit
malaria diantaranya (Permenkes no.45 tahun 2014):
1) Dinas Kesehatan

Berikut ini merupakan contoh contoh dari peranan yang dapat dilakukan oleh
Dinas Kesehatan untuk masalah malaria :
a. Kebijakan
Kebijakan Departemen Kesehatan RI untuk pengendalian malaria
1) Diagnosa Malaria harus terkonfirmasi atau Rapid Diagnostic Test.
2) Pengobatan Menggunakan Combination Therapy/ ACT
3) Pencegahan penularan malaria dengan kelambu ( Long Lasting
Insekticidal Net )
4) Kerjasama lintas sektor dalam forum gebrak malaria dan lintas program
5) Memperkuat Desa Siaga dengan pembentukan Pos Malaria Desa
(Posmaldes )
6) Kebijakan Departemen Kesehatan RI untuk pengendalian vektor
7) Pelatihan petugas
8) Penemuan aktif penderita
9) Penatalaksanaan kasus dan pengobatan
10) Pengendalian vektor
11) Pos malaria desa
12) Penyediaan sarana ( mikroskop, RDT ) bahan laboratorium dan obatobatan (ACT)
b. Program Kegiatan
Kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh Dinas Kesehatan :
1) Penemuan penderita malaria baik secara aktif melalui kegiatan Mass
Blood Survey ( MBS ) maupun pasif ( rutin puskesmas )
2) Pembagian kelambu berinsektisida kepada masyarakat miskin, ibu
hamil, bayi dan balita
3) Screening malaria bagi ibu hamil saat kunjungan trimester pertama pada
tenaga kesehatan
4) Penyemprotan dinding luar rumah ( Indoor Residual Sprying )
5) Sosialisasi dan Publikasi

Kegiatan untuk Dinas Kesehatan (mis. Pusat Komunikasi Publik,


Sekretariat Jenderal Kementerian Kesehatan RI) dalam upaya untuk
menanggulangi masalah malaria di Indonesia dapat berupa Sosialisasi da
Publikasi. Sosialisasi dan publikasi dalam hal ini bisa dalam bentuk
media seperti poster atau web/blog, serta bisa secara langsung terjun ke
masyarakat yang bisa berupa penyuluhan penyuluhan (3M plus,
pencegahan dan lain-lain) oleh Puskesmas setempat.
Dinas Kesehatan merupakan penyelenggara kegiatan surveilans
terhadap penyakit malaria. Hasil kegiatan surveilans ini berupa data
kesakitan malaria akan digunakan untuk penanganan masalah lebih
lanjut. Seperti penggalakan program pemberantasan sarang nyamuk
(fogging dan program 3M Plus) terhadap masyarakat, penyuluhan
tentang bahaya malaria oleh puskesmas setempat,juga pemberdayaan
masyarakat dalam mengelola lingkungan.
2) Pemerintah Kota/Kabupaten
Pemerintah kota/kabupaten berwenang dalam masalah kebijakankebijakan pencegahan dan penanggulangan malaria. Kebijakan ini menjadi
langkah represif untuk penanganan dan pencegahan malaria dari Pemerintah
kota/kabupaten langsung ke masyarakat. Bentuk peran lainnya adalah
pengalokasian dana untuk program pemberantasan dan pencegahan penyakit
malaria. Peranan pemerintah setempat untuk membantu menanggulangi
masalah malaria bisa berupa penyediaan sarana prasarana untuk membantu
dan menunjang dari kegiatan kegiatan maupun program program dalam
pemberantasan malaria.
3) Dinas Pendidikan
Dinas Kesehatan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan dalam
pemberantasan malaria di lingkungan sekolah. Dinas pendidikan memberi
instruksi kepada sekolah-sekolah untuk membantu pelaksanaan program
pemberantasan dengan cara menjaga lingkungan sekolah dan rumah para

siswa untuk mencegah malaria. Juga menjaga diri dari gigitan nyamuk selama
kegiatan belajar-mengajar di sekolah dengan cara pemakaian lotion anti
nyamuk.
B. Contoh Diseminasi Informasi Pada Surveilans Penyakit Tidak Menular
Contoh diseminasi informasi pada surveilans penyakit tidak menular adalah
sebagai berikut (Permenkes no.45 tahun 2014):
a. Hasil-hasil analisis dan interpretasi dibuat dalam bentuk laporan dan atau
presentasi. Laporan tersebut dikirimkan oleh unit penanggungjawab kepada
jenjang struktural yang lebih tinggi, dari Puskesmas ke dinas kesehatan
kabupaten/kota, dari dinas kesehatan kabupaten/kota ke dinas kesehatan
provinsi dan Kementerian Kesehatan. Umpan balik diberikan ke unit
jenjang dibawahnya, seperti ke dinkes kabupaten/kota dan dinkes provinsi.
b. Diseminasi informasi ditujukan kepada seluruh stakeholder yang terkait,
seperti jajaran kesehatan, LSM, profesi, perguruan tinggi dan masyarakat
pada umumnya. Untuk jajaran kesehatan, khususnya dinas kesehatan
informasi akan menjadi dasar dalam pengambilan keputusan dan
perencanaan pengendalian PTM serta evaluasi program.

15. A. Otoritas Untuk Pelaporan Data Surveilens Di Tingkat Lokal Maupun Propinsi
Pakar epidemiologi yang paling dekat dengan unit pelaporan setempat harus
menyelidiki dugaan KLB penyakit yang dideteksi oleh sistem surveilans secepat
mungkin. Sampai bantuan epidemiologi tiba, upaya penyelidikan dan pengendalian
awal menjadi tanggung jawab unit kesehatan setempat. (Fauziyah, 2006).
Rangkuman laporan dari temuan teknis sistem surveilans harus diumpan balikkan
ke Komite Darurat Nasional, rumah sakit, dan fasilitas kesehatan, kemudian tindakan
yang tepat diambil untuk memperkenalkan upaya pengendalian yang tepat jika
kondisi yang ada di luar kemampuan pakar epidemiologi. (Fauziyah, 2006).
B. Sumber-Sumber dari Jenjang Surveilans

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014,


sumber surveilans berupa dari individu, fasilitas pelayanan kesehatan, unit statistic dan
demografi dan sebagainya.
C. Persoalan-Persoalan Dalam Sederetan Daftar Penyakit Yang Wajib Dilaporkan
(Notifiable Disease)
Notifable disease terdiri atas (Permenkes RI Nomor 45 Tahun 2014):
A. Penyakit-penyakit menular :
a. surveilans penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi;
b. surveilans penyakit demam berdarah;
c. surveilans malaria;
d. surveilans penyakit zoonosis;
e. surveilans penyakit filariasis;
f. surveilans penyakit tuberkulosis;
g. surveilans penyakit diare;
h. surveilans penyakit tifoid;
i. surveilans penyakit kecacingan dan penyakit perut lainnya;
j. surveilans penyakit kusta;
k. surveilans penyakit frambusia;
l. surveilans penyakit HIV/AIDS;
m. surveilans hepatitis;
n. surveilans penyakit menular seksual;dan
o. surveilans penyakit pneumonia, termasuk penyakit infeksi saluran pernafasan akut
berat (severe acute respiratory infection).
B. Penyakit-penyakit tidak menular :
a) surveilans penyakit jantung dan pembuluh darah;
b) surveilans diabetes melitus dan penyakit metabolik;
c) surveilans penyakit kanker;
d) surveilans penyakit kronis dan degeneratif;
e) surveilans gangguan mental; dan

f) surveilans gangguan akibat kecelakaan dan tindak kekerasan.

Persoalan-persoalan yang terjadi pada saat pelaporan penyakit-penyakit diatas yaitu


dalam hal aksesibilitas, kelengkapan data, keakuratan data, dan kejelasan informasi
yang dihasilkan. (Erlinawati, 2015).

D. Pendekatan-Pendekatan Menterjemahkan Data Ke Dalam Aksi


Pendekatan surveilans dapat dibagi menjadi dua jenis: (1) Surveilans pasif; (2)
Surveilans aktif. Surveilans pasif memantau penyakit secara pasif, dengan
menggunakan data penyakit yang harus dilaporkan (reportable diseases) yang tersedia
di fasilitas pelayanan kesehatan. Kelebihan surveilans pasif, relatif murah dan mudah
untuk dilakukan. Negara-negara anggota WHO diwajibkan melaporkan sejumlah
penyakit infeksi yang harus dilaporkan, sehingga dengan surveilans pasif dapat
dilakukan analisis perbandingan penyakit internasional. Kekurangan surveilans pasif
adalah kurang sensitif dalam mendeteksi kecenderungan penyakit. Data yang
dihasilkan cenderung under-reported, karena tidak semua kasus datang ke fasilitas
pelayanan kesehatan formal. Selain itu, tingkat pelaporan dan kelengkapan laporan
biasanya rendah, karena waktu petugas terbagi dengan tanggungjawab utama
memberikan pelayanan kesehatan di fasilitas kesehatan masing-masing. Untuk
mengatasi problem tersebut, instrumen pelaporan perlu dibuat sederhana dan ringkas.
Surveilans aktif menggunakan petugas khusus surveilans untuk kunjungan
berkala ke lapangan, desa-desa, tempat praktik pribadi dokter dan tenaga medis
lainnya, puskesmas, klinik, dan rumah sakit, dengan tujuan mengidentifikasi kasus
baru penyakit atau kematian, disebut penemuan kasus (case finding), dan konfirmasi
laporan kasus indeks. Kelebihan surveilans aktif, lebih akurat daripada surveilans
pasif, sebab dilakukan oleh petugas yang memang dipekerjakan untuk menjalankan
tanggungjawab itu. Selain itu, surveilans aktif dapat mengidentifikasi outbreak lokal.
Kelemahan surveilans aktif, lebih mahal dan lebih sulit untuk dilakukan daripada
surveilans pasif. Sistem surveilans dapat diperluas pada level komunitas, disebut
community surveilance. Dalam community surveilance, informasi dikumpulkan

langsung dari komunitas oleh kader kesehatan, sehingga memerlukan pelatihan


diagnosis kasus bagi kader kesehatan. Definisi kasus yang sensitif dapat membantu
para kader kesehatan mengenali dan merujuk kasus mungkin (probable cases) ke
fasilitas kesehatan tingkat pertama. Petugas kesehatan di tingkat lebih tinggi dilatih
menggunakan

definsi

kasus

lebih

spesifik,

yang

memerlukan

konfirmasi

laboratorium.Community surveilans mengurangi kemungkinan negatif palsu (JHU,


2006).
E. Surveilans di Negara Berkembang
Permasalahan tidak berjalannya sistem surveilans tidak saja terjadi pada
sistemnya melainkan pada pelaksanaanya. Selain itu, pelaksanaan program surveilans
oleh unit kesehatan belum terintegrasi secara menyeluruh dan perlunya kehadiran
petugas kesehatan ditengah-tengah masyarakat sebagai tempat mereka bertanya
tentang masalah kesehatan yang mereka hadapi agar dapat dicarikan aletrnatif dan
solusi untuk permasalahan tersebut. (WHO, 2006).
Lemahnya sistem investigasi dan surveilans di negara berkembang untuk
penyakit bawaan makanan menyebabkan angka kasus yang tinggi atau berita
mengenai KLB tersebut jarang ditemui, tetapi hal ini menggugah kewaspadaan
negara diseluruh dunia tentang potensi masalah yang membayangi dibidang
keamanan makanan dan potensi peningkatan serta penyebaran penyakit bawaan
makanan. (WHO, 2006).
Oleh karena itu, masih banyak diperlukan pembenahan pada pelaksanaan
program surveilans agar dapat ditingkatkan derajat kesehatan individu, keluarga, dan
masyarakat secara umum. (WHO, 2006).
F. Terminologi Kunci Yang Digunakan Dalam Surveilens Di Negara Sedang
Berkembang
Di

negara

epidemiologi.

berkembang

Baik

surveilans

terkadang

menggunakan

kesehatan

masyarakat

istilah

surveilans

maupun

surveilans

epidemiologi hakikatnya sama saja, sebab menggunakan metode yang sama, dan
tujuan epidemiologi adalah untuk mengendalikan masalah kesehatan masyarakat,

sehingga epidemiologi dikenal sebagai sains inti kesehatan masyarakat (core science
of public health).
G. Surveilans Berbasis Populasi
Surveilans memantau terus-menerus kejadian dan kecenderungan penyakit,
mendeteksi dan memprediksi outbreak pada populasi, mengamati faktor-faktor yang
mempengaruhi kejadian penyakit, seperti perubahan-perubahan biologis pada agen,
vektor, dan reservoir. Selanjutnya surveilans menghubungkan informasi tersebut
kepada pembuat keputusan agar dapat dilakukan langkah-langkah pencegahan dan
pengendalian penyakit.
H. Pembangunan Sistem-Sistem Surveilens Terpadu
Surveilans terpadu (integrated surveillance) menata dan memadukan semua
kegiatan surveilans di suatu wilayah yurisdiksi (negara/ provinsi/ kabupaten/ kota)
sebagai sebuah pelayanan publik bersama. Surveilans terpadu menggunakan
struktur, proses, dan personalia yang sama, melakukan fungsi mengumpulkan
informasi yang diperlukan untuk tujuan pengendalian penyakit. Kendatipun
pendekatan surveilans terpadu tetap memperhatikan perbedaan kebutuhan data
khusus penyakitpenyakit tertentu (WHO, 2001, 2002; Sloan et al., 2006).
Karakteristik pendekatan surveilans terpadu: (1) Memandang surveilans
sebagai pelayanan bersama (common services); (2) Menggunakan pendekatan solusi
majemuk; (3) Menggunakan pendekatan fungsional, bukan struktural; (4)
Melakukan sinergi antara fungsi inti surveilans (yakni, pengumpulan, pelaporan,
analisis data, tanggapan) dan fungsi pendukung surveilans (yakni, pelatihan dan
supervisi, penguatan laboratorium, komunikasi, manajemen sumber daya); (5)
Mendekatkan

fungsi

surveilans

dengan

pengendalian

penyakit.

Meskipun

menggunakan pendekatan terpadu, surveilans terpadu tetap memandang penyakit


yang berbeda memiliki kebutuhan surveilans yang berbeda (WHO, 2002).

16.

Peran Surveilans dan Surveilans KLB

Peran surveilans dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit adalah


(Wahyudin Rajab, 2009):
Deteksi KLB, letusan, wabah (epidemic)
Memamntau kecenderungan penyakit endemic
Evaluasi intervensi penyakit
Memantau kemajuan pengendalian penyakit
Memantau kinerja program pencegahanan, pengendalian dan penanggulangan
penyakit
Prediksi KLB, letusan, wabah (epidemic)
Memperkirakan dampak masa dating dari penyakit

KLB serta Pencegahan dan Penanggulangan


Menurut Permenkes 1501 Tahun 2010, KLB (kejadian luar biasa) adalah
timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan dan/atau kematian yang
bermakna secara epidemiologi pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu,
dan merupakan keadaan yang dapat menjurus pada terjadinya wabah. Suatu
penyakit dapat dikategorikan menjadi KLB jika memenuhi salah satu syaratsyarat, dibawah ini :

a. Timbulnya suatu penyakit menular tertentu yang sebelumnya tidak ada atau
tidak dikenal pada suatu daerah.
b. Peningkatan kejadian kesakitan terus menerus selama 3 (tiga) kurun waktu
dalam jam, hari atau minggu berturut-turut menurut jenis penyakitnya.
c. Peningkatan kejadian kesakitan dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya dalam kurun waktu jam, hari atau minggu menurut jenis
penyakitnya.
d. Jumlah penderita baru dalam periode waktu 1 (satu) bulan menunjukkan
kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan
dalam tahun sebelumnya.
e. Rata-rata jumlah kejadian kesakitan per bulan selama 1 (satu) tahun
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibandingkan dengan rata-rata
jumlah kejadian kesakitan per bulan pada tahun sebelumnya.

f. Angka kematian kasus suatu penyakit (Case Fatality Rate) dalam 1 (satu)
kurun waktu tertentu menunjukkan kenaikan 50% (lima puluh persen) atau
lebih dibandingkan dengan angka kematian kasus suatu penyakit periode
sebelumnya dalam kurun waktu yang sama.
g. Angka proporsi penyakit (Proportional Rate) penderita baru pada satu periode
menunjukkan kenaikan dua kali atau lebih dibanding satu periode sebelumnya
dalam kurun waktu yang sama.
Penanggulangan KLB/wabah meliputi penyelidikan epidemiologi dan
surveilans; penatalaksanaan penderita; pencegahan dan pengebalan; pemusnahan
penyebab penyakit; penanganan jenazah akibat wabah; penyuluhan kepada
masyarakat; dan upaya penanggulangan lainnya. (Permenkes 1501 Tahun 2010).

Surveilans KLB
Surveilans di daerah wabah dan daerah-daerah yang berisiko terjadi wabah
dilaksanakan lebih intensif untuk mengetahui perkembangan penyakit menurut
waktu dan tempat dan dimanfaatkan untuk mendukung upaya penanggulangan
yang sedang dilaksanakan, meliputi kegiatan-kegiatan sebagai berikut (Permenkes
1501 Tahun 2010):
a. Menghimpun data kasus baru pada kunjungan berobat di pos-pos kesehatan
dan unit-unit kesehatan lainnya, membuat tabel, grafik dan pemetaan dan
melakukan analisis kecenderungan wabah dari waktu ke waktu dan analisis
data menurut tempat, RT, RW, desa dan kelompok-kelompok masyarakat
tertentu lainnya.
b. Mengadakan pertemuan berkala petugas lapangan dengan kepala desa, kader
dan masyarakat untuk membahas perkembangan penyakit dan hasil upaya
penanggulangan wabah yang telah dilaksanakan.
c. Memanfaatkan hasil surveilans tersebut dalam upaya penanggulangan wabah.

Hasil penyelidikan surveilans secara teratur disampaikan kepada kepala dinas


kesehatan kabupaten/kota, kepala dinas kesehatan provinsi dan Menteri up.
Direktur Jenderal sebagai laporan perkembangan penanggulangan wabah.

17. Contoh Surveilans Nasional: Surveilans Gizi (Sumber: Kemenkes RI, 2012)

Tujuan
i. Umum
Terselenggaranya kegiatan surveilans gizi untuk memberikan gambaran
perubahan pencapaian kinerja pembinaan gizi masyarakat dan indikator
khusus lain yang diperlukan secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan
dalam rangka pengambilan tindakan segera, perencanaan jangka pendek dan
menengah serta perumusan kebijakan.
ii. Khusus
a. Tersedianya informasi secara cepat, akurat, teratur dan berkelanjutan
mengenai perubahan pencapaian kinerja pembinaan gizi:
1) Persentase balita gizi buruk yang mendapat perawatan;
2) Persentase balita yang ditimbang berat badannya;
3) Persentase bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif;
4) Persentase rumah tangga mengonsumsi garam beriodium;
5) Persentase balita 6-59 bulan mendapat kapsul vitamin A;
6) Persentase ibu hamil mendapat 90 tablet Fe;
7) Persentase kabupaten/kota melaksanakan surveilans gizi;
8) Persentase penyediaan bufferstock MP-ASI untuk daerah bencana.
b. Tersedianya informasi indikator gizi lainnya secara berkala jika
diperlukan, seperti:
1)

Prevalensi balita gizi kurang berdasarkan antropometri;

2)

Prevalensi status gizi anak usia sekolah, remaja dan dewasa;

3)

Prevalensi risiko Kurang Energi Kronis (KEK) pada Wanita Usia


Subur ( WUS) dan ibu hamil;

4)

Prevalensi anemia gizi besi dan Gangguan Akibat Kurang Iodium


(GAKI), Kurang Vitamin A (KVA) dan masalah gizi mikro lainnya;

5)

Tingkat konsumsi zat gizi makro (energi dan protein) dan mikro
(defisiensi zat besi, defisiensi iodium);

6)

Data pendistribusian Makanan Pendamping Air Susu Ibu (MPASI) dan


Pemberian Makanan Tambahan (PMT);

7)

Data terkait lainnya yang diperlukan.

Indikator (Indikator Keberhasilan Surveilans)


A. Indikator Input
a. Adanya tenaga manajemen data gizi yang meliputi pengumpul data dari
laporan rutin atau survei khusus, pengolah dan analis data serta penyaji
informasi
b. Tersedianya instrumen pengumpulan dan pengolahan data
c. Tersedianya sarana dan prasarana pengolahan data
d. Tersedianya biaya operasional surveilans gizi
B. Indikator Proses
a. Adanya proses pengumpulan data
b. Adanya proses editing dan pengolahan data
c. Adanya proses pembuatan laporan dan umpan balik hasil surveilans gizi
d. Adanya proses sosialisasi atau advokasi hasil surveilans gizi
C. Indikator Output
a. Tersedianya informasi gizi buruk yang mendapat perawatan
b. Tersedianya informasi balita yang ditimbang berat badannya (D/S)
c. Tersedianya informasi bayi usia 0-6 bulan mendapat ASI Eksklusif
d. Tersedianya informasi rumah tangga yang mengonsumsi garam beriodium
e. Tersedianya informasi balita 6-59 bulan yang mendapat kapsul vitamin A
f. Tersedianya informasi ibu hamil mendapat 90 tablet Fe
g. Tersedianya informasi kabupaten/kota yang melaksanakan surveilans gizi
h. Tersedianya informasi penyediaan bufferstock MP-ASI untuk daerah
bencana
i. Tersedianya informasi data terkait lainnya (sesuai dengan situasi dan
kondisi daerah)

Sumber Data dan Waktu Pelaporan

Alur Pelaporan dan Umpan Balik serta Koordinasi

Penjelasan Alur Pelaporan dan Umpan Balik serta Koordinasi:


1. Laporan kegiatan surveilans dilaporkan secara berjenjang sesuai sumber data
(bisa mulai dari Posyandu atau dari Puskesmas)
2. Dinas

Kesehatan

Kabupaten/Kota

dan

Dinas

Kesehatan

Provinsi

berkoordinasi dengan Rumah Sakit (RS)2 Pusat/Provinsi/Kabupaten/ Kota


tentang data terkait, seperti data kasus gizi buruk yang mendapat perawatan.
3. Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota mengirimkan rekapitulasi laporan dari
Puskesmas (Kecamatan) dan dari RS Kabupaten/Kota ke Dinas Kesehatan
Provinsi dan Direktorat Bina Gizi, Ditjen Bina Gizi dan Kesehatan Ibu dan
Anak, Kementerian Kesehatan RI, sesuai dengan frekuensi pelaporan.
4. Umpan balik hasil kegiatan surveilans disampaikan secara berjenjang dari
Pusat ke Provinsi setiap 3 bulan atau setiap saat bila terjadi perubahan kinerja,
dari Provinsi ke Kabupaten/Kota dan dari Kabupaten/Kota ke Kecamatan
(Puskesmas) serta Desa/Kelurahan (Posyandu) sesuai dengan frekuensi
pelaporan pada setiap bulan berikutnya.

Penyelidikan Epidemiologi
Penyelidikan epidemiologi yang dilakukan dalm surveilans gizi berupa
penyelidikan kasus gizi buruk balita, cakupan ASI eksklusif bayi 0-6 bulan,
rumah tangga mengonsumsi garam beriodium, balita 6-59 bulan yang mendapat
kapsul vitamin A, ibu hamil mendapat 90 Tablet Tambah Darah (TTD) atau tablet
Fe, kabupaten/kota

yang melaksanakan surveilans gizi, dan penyediaan

bufferstock MP-ASI untuk daerah bencana.

18. Monitoring dan Evaluasi Surveilans


Monitoring Surveilans Kesehatan dilaksanakan secara berkala untuk mendapatkan
informasi atau mengukur indikator kinerja kegiatan. Kinerja penyelengaraan Sistem
Surveilans Epidemiologi Kesehatan diukur dengan indikator masukan, proses dan

keluaran. Monitoring dilaksanakan sebagai bagian dalam pelaksanaan surveilans yang


sedang berjalan. Disamping itu monitoring akan mengawal agar tahapan pencapaian
tujuan kegiatan sesuai target yang telah ditetapkan. Bila dalam pelaksanaan monitoring
ditemukan hal yang tidak sesuai rencana, maka dapat dilakukan koreksi dan perbaikan
pada waktu yang tepat. (PMK no. 45 Tahun 2014).
Indikator kinerja surveilans sebagaimana dimaksud pada peraturan menteri kesehatan no.
45 tahun 2014 paling sedikit meliputi:
a. kelengkapan laporan;
b. ketepatan laporan; dan
c. indikator kinerja surveilans lainnya yang ditetapkan pada masing-masing program.
Menurut keputusan menteri kesehatan no. 1116/MENKES/SK/VIII/2003 indikatorindikator kinerja surveilans adalah sebagai berikut :

Evaluasi dilaksanakan untuk mengukur hasil dari Surveilans Kesehatan yang telah
dilaksanakan dalam perode waktu tertentu. Disebabkan banyaknya aspek yang
berpengaruh dalam pencapaian suatu hasil, maka evaluasi objektif harus dapat
digambarkan dalam menilai suatu pencapaian program. Peran dan kontribusi Surveilans
Kesehatan terhadap suatu perubahan dan hasil program kesehatan harus dapat dinilai dan
digambarkan dalam proses evaluasi. (Peraturan Menteri Kesehatan no. 45 Tahun 2014).

19. Problematika Survailans Di Negara Berkembang


Permasalahan tidak berjalannya sistem surveilans tidak saja terjadi pada
sistemnya melainkan pada pelaksanaanya. Selain itu, pelaksanaan program surveilans
oleh unit kesehatan belum terintegrasi secara menyeluruh dan perlunya kehadiran petugas
kesehatan ditengah-tengah masyarakat sebagai tempat mereka bertanya tentang masalah

kesehatan yang mereka hadapi agar dapat dicarikan aletrnatif dan solusi untuk
permasalahan tersebut. (WHO, 2006).
Lemahnya sistem investigasi dan surveilans di negara berkembang untuk penyakit
bawaan makanan menyebabkan angka kasus yang tinggi atau berita mengenai KLB
tersebut jarang ditemui, tetapi hal ini menggugah kewaspadaan negara diseluruh dunia
tentang potensi masalah yang membayangi dibidang keamanan makanan dan potensi
peningkatan serta penyebaran penyakit bawaan makanan. (WHO, 2006).
Oleh karena itu, masih banyak diperlukan pembenahan pada pelaksanaan program
surveilans agar dapat ditingkatkan derajat kesehatan individu, keluarga, dan masyarakat
secara umum. (WHO, 2006).

Daftar Pustaka
Amiruddin, Ridwan. 2013. Surveilans Kesehatan Masyarakat. Bogor: IPB Press.
Arjuna,

Fatkurahman.

2012.

"Manfaat

Epidemiolog".

http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pendidikan/Fatkurahman%20Arjuna,%20
M.Or/sumber-data-kesehatan-masyarakat.pdf. Diakses pada 15 Juni 2015.
Budiarto, Eko dan Dwi Anggraeni. 2003. Pengantar Epidemiologi Edisi 2. Jakarta: EGC
Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: EGC
Budiarto, Eko. 2002. Biostatistika Untuk Kedokteran dan Kesehatan Masyarakat.
Jakarta: EGC
Budiarto, Eko. 2003. Metodologi Penelitian Kedokteran: Sebuah Pengantar. Jakarta:
EGC
Budioro. 2007. Pengantar Epidemiologi Edisi II. Semarang: Badan Penerbit Fakultas
Kesehatan Masyarakat Undip.
Bustan, M.N., 2006. Pengantar Epidemiologi (Edisi Revisi). Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Chandra, Budiman. 1995. Pengantar Statistika Kesehatan. Jakarta: EGC.
Churchill, Gilbert A. 2005. Dasar-Dasar Riset Pemasaran. Jakarta: Erlangga.
Darwin, Eryati. 2014. Etika Profesi Kesehatan. Yogyakarta: Depublish.
DCP2. 2008. Public health surveillance. The best weapon to avert epidemics. Disease
Control Priority Project. www.dcp2.org/file/153/dcpp-surveillance.pdf. Diakses
pada 9 Juni 2015.
Dinas Kesehatan Kota Semarang. 2004. Profil Dinas Kesehatan Kota Semarang 2004.
Semarang: Dinas Kesehatan Kota Semarang.
Efendi, Ferry dan Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas: Teori dan
Praktik dalam Keperawatan. Jakarta: Salemba Medika.
Erlinawati, Yulis. 2011. Pengembangan Sistem Informasi Posyandu Guna Mendukung
Surveilans Kesehatan Ibu dan Anak Berbasis Masyarakat Pada Desa Siaga.
Program Magister Keperawatan, Kekhususan Keperawatan Komunitas, Fakultas
Ilmu Keperawatan, Universitas Indonesia.
Fauziyah, Munaya. 2006. Bencana Alam: Perlindungan Kesehatan Masyarakat. Jakarta:
EGC

J., Giesecke. 2002. Modern Infectious Disease Epidemiology. London: Arnold.


JHU (=Johns Hopkins University). 2006. Disaster epidemiology. Baltimore, MD: The
Johns Hopkins and IFRC Public Health Guide for Emergencies.
Kementerian Kesehatan RI. 2012. Petunjuk Pelaksanaan Surveilans Gizi. Jakarta:
Direktorat Jenderal Bina Gizi Dan Kesehatan Ibu Dan Anak.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1116/Menkes/Sk/Viii/2003
Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi Kesehatan.
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1479/Menkes/Sk/X/2003
Tentang Pedoman Penyelenggaraan Sistem Surveilans Epidemiologi
Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 300/ MENKES/SK/IV/2009
Tentang Pedoman Penanggulangan Episenter Pandemi Influenza
Kesmas.

2013.

Pengertian

Surveilans

Kesmas.

http://www.indonesian-

publichealth.com/2013/07/teori-surveilans-kesmas.html. Diakses pada 9 Juni


2015.
Krisanti J, Diana dan Slamet Santoso. 2008. Metodologi Penelitian Biomedis Edisi 2.
Bandung: Danamartha Sejahtera Utama (DSU)
Montori,

Soleman.

2013.

"Apakah

Diseminasi

Informasi

Itu".

http://www.manadokota.go.id/berita-1194-apakah--diseminasi--informasi-itu.html. Diakses pada 15 Juni 2015.


Morton, Richard F.; J. Richard Hebel: dan Robert J. McCarter. 2009. Epidemiologi dan
Biostatistika: Panduan Studi Edisi 5. Jakarta :EGC
Murti, Bhisma. Sejarah Epidemiologi. Bagian Ilmu Kesehatan Mayarakat, Fakultas
Kedokteran, Universitas Sebelas Maret.
Nasry, Nur N. 2008. Epidemiologi. Jakarta: Rineka Cipta
Penn State Science. 2015. "10.3 - Sensitivity, Specificity, Positive Predictive Value, and
Negative

Predictive

Value".

https://onlinecourses.science.psu.edu/stat507/node/71. Diakses pada 18 Juni 2015.


Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 1501/Menkes/Per/X/2010
Tentang Jenis Penyakit Menular Tertentu Yang Dapat Menimbulkan Wabah Dan
Upaya Penanggulangan

Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 45 Tahun 2014 Tentang


Penyelenggaraan Surveilans Kesehatan
Rajab, Wahyudin. 2009. Buku Ajar Epidemiologi Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta:
EGC.
Romaguera, A. Raul., German, R.Robert & Klaucke N. Douglas, 2000 Evaluating
Public Health Surveillance in : Teutsch, M. Steven and Churchill, E. R. ed.
Principles and Practice of Public Health Surveillance: New york : Oxford
University Press pp.
Rutstein, David D. 1983. Sentinel Health Events (OCcupational): A Basis for Physician
Recognition And Public Health Surveilance. AJPH September 1963, Vol 73, No.
9. http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC1651048/. Diakses pada 14 Juni
2015.
Saraswati, Lintang Dian. 2015a. "Sumber-Sumber yang Secara Rutin Mengumpulkan
Data Untuk Surveilans".
Saraswati, Lintang Dian. 2015b. "Pertimbangan dalam Perencanaan Surveilans
Kesehatan Masyarakat".
Saraswati, Lintang Dian. 2015c. "Persoalan Etika dalam Surveilans".
Setyawan, Dodiet Aditya. 2014. Pengantar Sistem Informasi Geografis [Manfaat SIG
dalam Kesehatan Masyarakat]. Surakarta: Politeknik Kesehatan Surakarta.
Sugiasih, Ety. 2012. Gambaran Pelaksanaan Surveilans Campak Di Puskesmas Cepu
Dan Tunjungan Kabupaten Blora Tahun 2012. Universitas Negeri Semarang.
Supranto, J. 2007. Statistik untuk Pemimpin Berwawasan Global. Jakarta: Salemba
Empat
Turnock, Bernard J. 2014. Essentials of Public Health. United States: Jones & Bartlett
Publishers.
WHO. 2001. An integrated approach to communicable disease surveillance. Weekly
epidemiological record, 75: 1-8. http://www.who.int/wer/
WHO. 2002. Surveillance: slides. http://www.who.int
WHO. 2006. Penyakit Bawaan Makanan: Fokus Pendidikan Kesehatan. Jakarta: EGC.