Anda di halaman 1dari 25

TUGAS UTILITAS

Pengolahan Air dengan Ion Exchange dan Pengolahan Internal


Disusun Oleh:
Adella Linra Priscilia

21030113120029

Aditya Tri Atmaja

21030113120082

Anisa Tri Hutami

21030113140171

Diveganasia Lauwis

21030113120085

Eko Nur Widodo

21030113120081

Gilang Ruhinda Putra

21030113140172

Irfan Suryanto

21030113130148

Mari Agustin Taolin

21030113140191

Melati Mahardika Putri 21030113120066


Moh. Taufiq Anwar

21030113130180

Said Abdillah

21030113120080

Yudy Wiratmadja

21030113120025

Jurusan Teknik Kimia Fakultas Teknik


Universitas Diponegoro
Semarang
2015

KATA PENGANTAR
Assalamualaikum warohmatullahi wabarokatuh. Puji syukur kehadirat
ALLAH SWT yang telah senantiasa memberikan kesehatan , kesempatan ,
kemampuan serta nikmat iman. Sholawat dan salam tak lupa selalu dilimpahkan
kepada utusan ALLAH SWT , Nabi besar Muhammad SAW yang merupakan suri
tauladan umat dunia.
Penulis juga mengucapkan puji dan syukur atas limpahan karunia dan
rahmat-Nya sehingga dapat terselesaikan makalah UTILITAS tentang ion
exchange dan pengolahan internal ini secara tepat waktu. Tak lupa juga diucapkan
terimakasih kepada pihak pihak yang secara langsung maupun tidak langsung
telah memberikan bantuan sehingga makalah ini dapat selesai dengan baik.
Penulisan makalah ini diharapkan dapat menjadi bahan kajian umum
mengenai kondisi politik khususnya di Indonesia. Disamping itu , Penulis
berharap makalah yang berjudul Pengolahan Air dengan Ion Exchange dan
Pengolahan Internal ini dapat memenuhi sebagai tugas makalah mata kuliah
UTILITAS.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan
kesalahan, baik dari segi sistematikanya maupun karena isi materi yang tidak
maksimal. Maka dari itu penulis mengucapkan maaf dan mengharapkan kritik dan
saran yang membangun demi kebaikan penulisan kedepannya.
Penulis

ii

DAFTAR ISI
JUDUL ............................................................................................................................ i
KATA PENGANTAR .................................................................................................... ii
DAFTAR ISI ................................................................................................................. iii
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang .............................................................................................. 1
I.2. Tujuan ........................................................................................................... 1
PEMBAHASAN
II.1 Jenis-Jenis Pengotor dalam Air. .................................................................... 2
II.2Klasifikasi Pengolahan Air. ............................................................................ 5
II.3Pengolahan Air secara eksternal melalui Pertukaran Ion dan
Pengolahan Air secara Internal. ........................................................................... 7
KESIMPULAN ............................................................................................................ 20
DAFTAR PUSTAKA

iii

PENDAHULUAN

I. 1. Latar Belakang
Air adalah zat yang sangat dibutuhkan oleh manusia maupun hewan dan
tumbuh-tumbuhan. Planet bumi ini hampir 70% luas permukaannya diisi oleh air,
dengan sumber utamanya adalah air laut.Air yang berasal dari sumber yang
berbeda tentunya memiliki karakteristik yang berbeda pula. Misalnya air hujan
akan berbeda karakteristik serta kandungannya dengan air danau, air pegunungan
atau dari sumber yang lain.. Air merupakan senyawa yang sangat diperlukan
dalam bidang industry karena mudah didapat dan harganya murah atau bahkan
dapat diambil tanpa perlu membayar.
Air merupakan zat yang sangat dibutuhkan disetiap sektor industri
termasuk pemanfaatan untuk kebutuhan energi dan pemanasan. Kebutuhan energi
dan pemanasan di industri umumnya dipenuhi dengan cara memanfaatkan steam
yang dibangkitkan pada suatu ketel (boiler). Air yang digunakan sebagai umpan
boiler dapat diperoleh dari berbagai sumber, yaitu danau, sungai, laut, maupun
sumur. Persyaratan yang harus dipenuhi sebagai air umpan boiler sangat ketat,
antara lain tidak korosif, tidak menyebabkan pembentukan kerak, dan tidak
menyebabkan pembentukan buih.Persyaratan kualitas air yang dapat digunakan
dalam industri berbeda-beda tergantung kepada tujuan penggunaan air tersebut.
Air yang berasal dari alam pada umumnya belum memenuhi persyaratan yang
diperlukan sehingga harus menjalani proses pengolahan lebih dahulu.

I. 2. Tujuan
1. Mengetahui jenis-jenis pengotor dalam air secara umum.
2. Mengetahui klasifikasi pengolahan air secara umum.
3. Mengetahui jenis pengolahan air melalui pertukaran ion dan pengolahan
secara internal.

PEMBAHASAN

II. 1. Jenis-Jenis Pengotor dalam Air


Persyaratan kualitas air yang dapat digunakan dalam industri berbedabeda tergantung kepada tujuan penggunaan air tersebut. Air yang berasal dari
alam pada umumnya belum memenuhi persyaratan yang diperlukan sehingga
harus menjalani proses pengolahan lebih dahulu. Zat pengotor dalam air pada
dasarnya dapat dikelompokkan dalam tiga golongan, yaitu Padatan tersuspensi,
Padatan terlarut dan Gas terlarut.
A. Padatan tersuspensi
Padatan tersuspensi merupakan TSS adalah padatan yang menyebabkan
kekeruhan air, tidak terlarut dan tidak dapat mengendap langsung. Padatan
tersuspensi terdiri dari partikel-partikel yang ukuran maupun beratnya lebih kecil
dari sedimen, misalnya tanah liat, bahan-bahan organik tertentu, sel-sel
mikroorganisme, dan sebagainya. Sebagai contoh, air permukaan mengandung
tanah liat dalam bentuk suspensi yang dapat tahan sampai berbulan-bulan, kecuali
jika keseimbangannya terganggu oleh zat-zat lain, sehingga mengakibatkan
terjadinya penggumpalan yang kemudian diikuti dengan pengendapan (Fardiaz,
1992).
Zat-zat padat yang berada pada dalam suspensi, dapat dibedakan menurut
ukuranya sebagai partikel tersuspensi koloid (partikel koloid) dam partikel
tersuspensi biasa (partikel tersuspensi) (Alaerts dan Santika, 1987)
Padatan tersuspensi merupakan istilah yang diterapkan pada zat
heterogen yang terkandung dalam kebanyakan jenis air. Padatan tersuspensi
terutama terdiri atas lumpur, humus, limbah dan bahan buangan industri. Padatan
tersuspensi menyebabkan air menjadi keruh dan bila digunakan sebagai air umpan
ketel akan menyebabkan terbentuknya deposit, kerak dan atau busa. Padatan
tersuspensi dalam air pendingin akan menimbulkan endapan dan timbulnya korosi
di bawah endapan tersebut. Kekeruhan yang berlebihan dalam air minum sangat
tidak diinginkan karena dapat menimbulkan rasa yang kurang baik.
2

B. Padatan terlarut
Air adalah pelarut yang baik, sehingga dapat melarutkan zat-zat dari
batu-batuan dan tanah yang terkontak dengannya. Bahan-bahan mineral yang
dapat terkandung dalam air karena kontaknya dengan batu-batuan tersebut, antara
lain : CaCO3 , MgCO3 , CaSO4 , MgSO4 , NaCl , Na2SO4 , SiO2 dan lainnya. Air
yang akan dipakai untuk pembangkit uap atau sistem pendingin mempunyai dua
parameter penting yang merupakan akibat dari padatan terlarut, yaitu kesadahan
(hardness) dan alkalinitas (alkalinity).
Kesadahan
Kesadahan atau hardness adalah salah satu sifat kimia yang dimiliki oleh
air. Penyebab air menjadi sadah adalah karena adanya ion-ion Ca2+, Mg2+, atau
dapat juga disebabkan karena adanya ion-ion lain dari polyvalent metal (logam
bervalensi banyak) seperti Al, Fe, Mn, Srdan Zn dalam bentuk garam sulfat,
klorida dan bikarbonat dalam jumlah kecil.Pengertian kesadahan air adalah
kemampuan air mengendapkan sabun, dimana sabun ini diendapkan oleh ion-ion
yang telah sebutkan diatas. Karena penyebab dominan/utama kesadahan adalah
Ca2+ dan Mg2+, khususnya Ca2+, maka arti dari kesadahan dibatasi sebagai
sifat/karakteristik air yang menggambarkan konsentrasi jumlah dari ion Ca2+ dan
Mg2+, yang dinyatakan sebagai CaCO3.
Air sadah atau air keras adalah air yang memiliki kadar mineral yang
tinggi dan lawannya biasanya disebut air lunak atau air yang memiliki kadar
mineral sangat rendah misalnya air hujan. Kesadahan air adalah kandungan
mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium
(Mg) dalam bentuk garam karbonat. Air sadah atau air keras adalah air yang
memiliki kadar mineral yang tinggi, sedangkan air lunak adalah air dengan kadar
mineral yang rendah. Selain ion kalsium dan magnesium, penyebab kesadahan
juga bisa merupakan ionlogam lain maupun garam-garam bikarbonat dan sulfat.
Metode paling sederhana untuk menentukan kesadahan air adalah dengan sabun.
Dalam air lunak, sabun akan menghasilkan busa yang banyak. Pada air sadah,
sabun tidak akan menghasilkan busa atau menghasilkan sedikit sekali busa.

Air sadah sementara adalah air sadah yang mengandung ion bikarbonat
(HCO3-), atau boleh jadi air tersebut mengandung senyawa kalsium bikarbonat
(Ca(HCO3)2) dan atau magnesium bikarbonat (Mg(HCO3)2). Air

yang

mengandung ion atau senyawa-senyawa tersebut disebut air sadah sementara


karena kesadahannya dapat dihilangkan dengan pemanasan air, sehingga air
tersebut terbebas dari ion Ca2+ dan atau Mg2+.
Air sadah tetap adalah air sadah yang mengadung anion selain ion
bikarbonat, misalnya dapat berupa ion Cl-, NO3- dan SO42-. Berarti senyawa yang
terlarut boleh jadi berupa kalsium klorida (CaCl2), kalsium nitrat (Ca(NO3)2),
kalsium sulfat (CaSO4), magnesium klorida (MgCl2), magnesium nitrat
(Mg(NO3)2), dan magnesium sulfat (MgSO4). Air yang mengandung senyawasenyawa tersebut disebut air sadah tetap, karena kesadahannya tidak bisa
dihilangkan hanya dengan cara pemanasan.
Air sadah tidak begitu berbahaya untuk diminum, namun dapat
menyebabkan beberapa masalah. Air sadah dapat menyebabkan pengendapan
mineral, yang menyumbat saluran pipa dan keran. Air sadah juga menyebabkan
pemborosan sabun di rumah tangga, dan air sadah yang bercampur sabun tidak
dapat membentuk busa, tetapi malah membentuk gumpalan soap scum (sampah
sabun) yang sukar dihilangkan. Efek ini timbul karena ion 2+ menghancurkan
sifat surfaktan dari sabun dengan membentuk endapan padat (sampah sabun
tersebut).
Dalam industri, kesadahan air yang digunakan diawasi dengan ketat
untuk mencegah kerugian. Pada industri yang menggunakan ketel uap, air yang
digunakan harus terbebas dari kesadahan. Hal ini dikarenakan kalsium dan
magnesium karbonat cenderung mengendap pada permukaan pipa dan permukaan
penukar panas. Presipitasi (pembentukan padatan tak larut) ini terutama
disebabkan oleh dekomposisi termal ion bikarbonat, tetapi bisa juga terjadi
sampai batas tertentu walaupun tanpa adanya ion tersebut. Penumpukan endapan
ini dapat mengakibatkan terhambatnya aliran air di dalam pipa. Dalam ketel uap,
endapan mengganggu aliran panas ke dalam air, mengurangi efisiensi pemanasan
dan memungkinkan komponen logam ketel uap terlalu panas. Dalam sistem

bertekanan, panas berlebih ini dapat menyebabkan kegagalan ketel uap.


Kerusakan yang disebabkan oleh endapan kalsium karbonat bervariasi tergantung
pada bentuk kristal, misalnya, kalsit atau aragonit.
Alkalinitas
Alkalinitas air disebabkan oleh adanya senyawa alkalis dalam air.
Alkalinitasdidefinisikan sebagai ukuran dari kapasitas air untuk menetralkan
asam. Alkalinitas dalam air ada tiga jenis yaitu: alkalinitas hidroksida (OHalkalinity), alkalinitas karbonat (CO3-alkalinity) dan alkalinitas bikarbonat (HCOalkalinity). Penentuan alkalinitas dilakukan dengan titrasi menggunakan larutan
HCI.
Menaikkan alkalinitas berarti menaikkan kesadahan karbonat dan
mengurangi kesadahan non-karbonat.

Air

baku pada umumnya

hanya

mengandung alkalinitas-M saja (hanya mengandung HCO3 saja) dengan pH


sekitar 7. Alkalinitas yang cukup tinggi diperlukan pada air umpan ketel untuk
mencegah korosi, akan tetapi kadar OH yang terlalu tinggi dapat menimbulkan
"kerapuhan kaustik" (Caustic Embrittlement).
C. Gas terlarut
Berbagai gas dapat larut dalam air, antara lain : CO2, O2, N2, NH3, NO2
dan H2S. Gas-gas yang terlarut tersebut pada umumnya tidak menimbulkan korosi
kecuali CO2, O2 dan NH3 . Karbon dioksida sesungguhnya adalah suatu asam jika
bergabung dengan air, dan dengan demikian dapat menyerang logam. Oksigen
terlarut dalam air merupakan penyebab utama terjadinya korosi pada ketel dan
sistem pendingin. Penghilangan oksigen dari air umpan ketel dapat dilakukan
dengan cara deaerasi secara fisik dan kimia.
II. 2. Klasifikasi Pengolahan Air
Klasifikasi pengolahan air secara umum dibedakan menjadi 2, yaitu
pengolahan eksternal dan pengolahan internal.
Pengolahan eksternal

Proses pengolahan secara eksternal untuk memperbaiki kualitas air terdiri


atas berbagai jenis, dan penerapan proses-proses tersebut disesuaikan dengan
tujuan penggunaan air yang dikehendaki. Pengolahan eksternal digunakan untuk
membuang padatan tersuspensi, padatan terlarut ( terutama kalsium dan
magnesium yang merupakan penyebab utama pembentukan kerak ) dan gas-gas
terlarut ( oksigen dan karbondioksida ). Proses-proses tersebut digunakan untuk
mengolah impurities tertentu dan pengolahan air secara eksternal ini dapat dibagi
menjadi tiga kategori, yaitu :
a) Proses pendahuluan (pretreatment)
Proses ini umumnya digunakan untuk memperoleh kualifikasi air
pendingin atau sebagai proses awal untuk penyediaan air dengan kualitas yang
lebih tinggi.Yang merupakan Proses-proses pendahuluan antara lain : sedimentasi,
aerasi, dan klarifikasi
b) Proses filtrasi
Proses ini khusus untuk menghilangkan zat padat tersuspensi
c) Proses penurunan/penghilangan padatan terlarut
Proses ini bertujuan menghilangkan padatan terlarut (dissolved solid)
tanpa

menggunakan

metoda

pengendapan

secara

kimiawi

(chemical

precipitation), misalnya: proses pertukaran ion (ion exchange).


Pengolahan Internal
Pengolahan air secara internal (internal water treatment) adalah proses
penambahan/penginjeksian suatu atau beberapa bahan kimia (chemicals) ke dalam
air yang akan digunakan untuk proses maupun pendukung proses. Pengolahan air
secara internal merupakan proses yang esensial, terlepas dari kenyataan apakah air
itu diolah atau sebelumnya. Oleh karena itu, pengolahan eksternal dalam beberapa
hal tidak diperlukan, sehingga air dapat langsung diolah dengan cara pengolahan
internal saja.

II. 3. Pengolahan Air secara eksternal melalui Pertukaran Ion dan


Pengolahan Air secara Internal
A. Pertukaran Ion
Pertukaran ion adalah sebuah proses fisika-kimia. Pada proses tersebut
senyawa yang tidak larut, dalam hal ini resin, menerima ion positif atau negatif
tertentu dari larutan dan melepaskan ion lain ke dalam larutan tersebut dalam
jumlah ekivalen yang sama. Jika ion yang dipertukarkan berupa kation, maka
resin tersebut dinamakan resin penukar kation, dan jika ion yang dipertukarkan
berupa anion, maka resin tersebut dinamakan resin penukar anion.

Gambar 2. 1 Teori Pertukaran Ion

Contoh reaksi

pertukaran kation dan reaksi pertukaran anion

disajikan pada reaksi (3.1) dan (3.2) di bawah ini :


Reaksi pertukaran kation :
2NaR (s) + CaCl2 (aq)

=> CaR(s) + 2 NaCl(aq)

(3.1)

Reaksi pertukaran anion :

2RCl (s) + Na2SO4

=> R2SO4(s) + 2 NaCl

(3.2)
Reaksi (3.1) menyatakan bahwa larutan yang mengandung CaCl2 diolah
dengan resin penukar kation NaR, dengan R menyatakan resin. Resin
mempertukarkan ion Na+ larutan dan melepaskan ion Na+ yang dimilikinya ke
dalam larutan.
Jika resin tersebut telah mempertukarkan semua ion Na+ yang
dimilikinya, maka reaksi pertukaran ion akan terhenti. Pada saat itu resin
dikatakan telah mencapai titik habis (exhausted), sehingga harus diregenerasi
dengan larutan yang mengandung
merupakan

kebalikan

ion Na+

seperti NaCl. Tahap regenerasi

dari tahap layanan. Reaksi yang terjadi pada tahap

regenerasi merupakan kebalikan reaksi (3.1). Resin penukar kation yang


mempertukarkan ion Na+ tahap tersebut di atas dinamakan resin penukar kation
dengan siklus Na. Resin penukar kation dengan siklus H akan mempertukarkan
ion H+ pada tahap layanan dan regenerasi.
A. 1. Jenis-Jenis Resin Penukar Ion
Berdasarkan jenis gugus fungsi yang digunakan, resin penukar ion dapat
dibedakan menjadi empat jenis, yaitu :

Resin penukar kation asam kuat

Resin penukar kation asam lemah

Resin penukar anion basa kuat

Resin penukar anion basa lemah


Resin penukar kation mengandung gugus fungsi seperti sulfonat ( R-

SO3H ), phosphonat ( R-PO3H2 ), phenolat (R-OH) atau karboksilat (R-COOH),


dengan R menyatakan resin. Gugus fungsi pada resin penukar ion asam kuat
adalah asam kuat seperti sulfonat, phosphonat, atau phenolat, dan gugus fungsi
pada resin penukar asam lemah adalah karboksilat seperti sulfonat, phosphonat,
atau phenolat, dan gugus fungsi pada resin penukar asam lemah adalah karboksilat
( primer/R-NH2, sekunder/R-N2H, tersier/R-R2N )dan gugus ammonium
kuartener (R-NR/Tipe I , R-R3N+OH/Tipe II) dengan R menyatakan radikal

organic seperti CH3 . Resin anion yang mempunyai gugus fungsi ammonium
kuartener disebut resin penukar anion basa kuat dan resin penukar anion basa
lemah mempunyai gugus fungsi selain ammonium kuartener.

Gambar 2. 2 Jenis-Jenis Resin


A.1 .1. Resin Penukar Kation Asam Kuat
Dinamakan demikian karena sifat kimia nya mirip dengan asam kuat.
Resin sangat terionisasi di kedua asam (R-SO3H) dan garam (R-SO3Na). Resin
penukar kation asam kuat mengandung gugus SO3H Proton dari gugus
tersebut dapat ditukar dengan kation lain:
nRzSO3-H+ + Mn+ (RzSO3)nM + nH+
Resin kation dalam bentuk H+, tetapi bentuk ini dapat di ubah menjadi
bentuk Na dengan menambahkan garam- Na ion Na+ akan mengalami
pertukaran dengan kation :
NaOH + H+ Na+ + H20
Gugus ion yang biasa dipakai pada resin penukar kation asam kuat adalah
gugus sulfonat dan cara pembuatannya yaitu dengan sulfonasi polimer
polistyren divinilbenzena (matrik resin). Pada resin kation asam kuat dapat
bekerja di seluruh kisaran ph.

Resin asam lemah untuk pemisahan basa kuat atau zat ionik multifungsi
seperti protein, sedangkan resin asam kuat untuk pemisahan yang lebih
kompleks salah satu aplikasi resin penukar kation asam kuat yaitu principal
sulfonated styrene-divinylbenzene copolymer producseperti amberlite IRP-69
(Rhom dan Haas) dan DOWEX MSC-1 (Dow Chimical).Resin ini dapat
digunakan untuk menutup rasa dan aroma zat aktif kationik (mengandung
amin) sebelum diformulasi dalam tablet kunyah. Resin ini merupakan produk
sferik yang dibuat dengan mensulfonasi butir-butir kopolimer divinilbenzen
srien dengan zat pensulfonasi pilihan berupa asam sulfat, asam klorosulfonoat,
atau sulfur trioksida. Penggunaan zat pengembang yag non reaktif umumnya
diperlukan untuk pengembangan yang cepat dan seragam dengan kerusakan
minimum.
A.1 .2. Resin Penukar Kation Asam Lemah
Gugus fungsi pada resin penukar kation asam lemah adalah karboksilat
(RCOOH). Jenis resin ini tidak dapat memisahkan garam yang berasal dari
asam kuat dan basa kuat, tetapi dapat menghilangkan kation yang berasal dari
garam bikarbonat untuk membentuk asam karbonat, atau dengan kata lain resin
ini hanya dapat menghasilkan asam yang lebih lemah dari gugus fungsinya.
nRzCOO-H+ + Mn+ =>

(RzCOO)nM + nH+

*dimana Rz adalah gugus organik dari resin.


Resin penukar kation asam lemah bekerja pada pH sekitar pH 5 14.
Bila pH dibawah 5, maka resin akan menahan proton terlalu kuat untuk
pertukaran kation, hal ini berlaku juga untuk pengambilan kation dari basa
yang sangat lemah kurang sempurna. (analog dengan reaksi asam lemah / basa
lemah yang tidak sempurna.) Resin asam lemah untuk pemisahan basa kuat
atau zat ionik multifungsi seperti protein, sedangkan resin asam kuat untuk
pemisahan yang lebih kompleks.
A.1 .3. Resin Penukar Anion Basa Kuat
Gugus fungsi pada resin penukar anion adalah senyawa amina (primer/RNH2, sekunder/R-N2H, tersier/R-R'2N) dan gugus ammonium kuartener (R10

NR'3/tipe I, R-R'3N+OH/tipe II), dengan R' menyatakan radikal organik seperti


CH3. Resin penukar anion yang bersifat basa kuat memiliki gugus aktif yang
berupa

gugus

ammonium,

yang

struktur

kimianya

sangat

mudah

terdekomposisi karena adanya pengaruh panas. Proses dekomposisi ini


dinamakan heat-induced autolysis yang terjadi pada gugus ammonium
kuarterner.
Resin dalam bentuk OH (regenerated form), memiliki kecenderungan
yang lebih besar untuk mengalami peristiwa ini. Sebab ion OH bersifat sangat
nukleofilik dan dapat dengan mudah menyerang ikatan C dengan N sehingga
dapat merusak gugus aktif. Dekomposisi gugus aktif dapat menyebabkan
adanya penurunan kapasitas pertukaran dan kekuatan sifat basa menjadi
bersifat basa lemah. Selain dekomposisi thermal gugus ammonium atau amino
kuarterner memiliki struktur kimia yang sangat mudah teroksidasi oleh oksigen
yang terlarut di dalam aliran fluida yang ditangani, hingga terkonversi menjadi
gugus yang bersifat basa lemah atau bahkan dapat terlepas dari matriks resin.
Selain itu, bukan hanya gugus fungsionalnya, struktur dari matriks resin
penukar anion itu sendiri juga sangat mudah teroksidasi. Oksidasi pada matriks
resin penukar anion dapat menyebabkan pemutusan ikatan crosslink, sehingga
struktur resinnya akan semakin rentan terhadap tekanan ataupun oksidasi.
Resin penukar anion basa kuat diperoleh dengan mengkondensasikan
phenilendiamine dengan formaldehid untuk memisahkan atau mengambil
garam garam.
Penukar anion bersifat basa kuat menggunakan gugus tetraalkilamonium
untuk interaksi ionik. Resin penukar anion basa kuat ini befungsi di hampir
seluruh kisaran pH yaitu dari 0 hingga 12. Resin penukar anion basa kuat akan
menghilangkan asam,yang dihasilkan dari reaksi resin penukar kation asam
kuat siklus hidrogen yang mengubah garam-garam terlarut menjadi asam,
termasuk asam silikat dan asam karbonat. Resin penukar anion basa kuat
mampu bereaksi dengan anion asam kuat seperti Cl-,SO4 -2, NO3 - dan anion
asam lemah misalnya CO3 -2.Reaksi-reaksi yang terjadi pada tahap layanan
dan regenerasi adalah sebagai berikut :

11

Operasi layanan :

Regenerasi :

A.1 .4. Resin Penukar Anion Basa Lemah


Resin ini digunakan untuk menukar asam kuat dengan adsorpsi air yang
tidak dapat menguraikan garam. Reaksinya:
R-NH2-+ HCl =>R-NH2-HCl3
Resin ini digunakan untuk pemisahan garam. Counter ion H+ maupun Na+
merupakan jenis penukar ion. Counter ion H+ memindahkan seluruh kation yang
terdapat dalam air merupakan langkah awal demineralisasi.Resin penukar anion
basa lemah hanya dapat memisahkan asam kuat seperti HCl dan H2SO4 , tetapi
tidak dapat menghilangkan asam lemah seperti asam silikat dan asam karbonat,

12

oleh sebab itu resin penukar anion basa lemah acap kali disebut sebagai acid
adsorbers.
Resin penukar anion bersifat basa lemah (mengandung OH sebagai gugusan
labil). Resin penukar ion basa lemah dibentuk dengan mereaksikan amin primer
dan amin sekunder atau amonia dengan kopolimer stiren dan divinil benzene
yang diklorometilasi, biasanya digunakan dimetilamin. Resin penukar anion basa
lemah ini berfungsi dengan baik dibawah pH.
A.2. Operasi Sistem Pertukaran Ion
Operasi sistem pertukaran ion dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu :
1. tahap layanan (service)
2. tahap pencucian balik (backwash)
3. tahap regenerasi, dan
4. tahap pembilasan
A.2 .1. Tahap Layanan
Tahap layanan adalah tahap dimana terjadi reaksi pertukaran ion. Tahap
layanan ditentukan oleh konsentrasi ion yang dihilangkan terhadap waktu, atau
volume air produk yang dihasilkan. Hal yang penting pada tahap layanan
adalah kapasitas (teoritik dan operasi) dan beban pertukaran ion (ion exchange
load). Kapasitas pertukaran teoritik didefinisikan sebagai jumlah ion secara
teoritik yang dapat dipertukarkan oleh resin per satuan massa atau volume
resin. Kapasitas pertukaran ion teoritik ditentukan oleh jumlah gugus fungsi
yang dapat diikat oleh matriks resin. Kapasitas operasi adalah kapasitas resin
aktual yang digunakan untuk reaksi pertukaran pada kondisi tertentu. Beban
pertukaran ion adalah berat ion yang dihilangkan selama tahap layanan dan
diperoleh dari hasil kali antara volume air yang diolah selama tahap layanan
dengan konsentrasi ion yang dihilangkan. Tahap layanan ini dilakukan dengan
cara mengalirkan air umpan dari atas (down flow).
A.2 .2. Tahap Pencucian Balik

13

Selama proses pertukaran ion, kotoran di dalam air misalnya padatan


tersuspensi dan juga senyawa organik dapat tertahan dan menempel di
permukaan resin yang dapat menurunkan kinerja resin penukar ion. Oleh
karena itu, di dalam prakteknya diperlukan pencucian balik untuk
menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada permukaan resin.
Pencucian balik dilakukan dengan mengalirkan air dengan arah aliran dari
bawah ke atas. Selama proses pencucian balik volume resin yang berada di
dalam reaktor akan mengembang atau terfluidisasi. Oleh karena itu untuk
merancang reaktor penukar ion biasanya ruang bebas yang disediakan berkisar
antara 65-85%, sehingga jika resin penukar ion terjadi pengembangan 50%
pada waktu pencucian balik, secara teknis masih aman.
Tahap pencucian balik dilakukan jika kemampuan resin telah mencapai
titik habis. Sebagai pencuci digunakan air produk. Pencucian balik mempunyai
sasaran sebagai berikut :
1. pemecahan resin yang tergumpal
2. penghilangan partikel halus yang terperangkap dalam ruang antar resin
3. penghilangan kantong-kantong gas dalam unggun, dan
4. pembentukan ulang lapisan resin Pencucian balik dilakukan dengan
pengaliranair dari bawah ke atas (up flow). Pada tahap ini terjadi
pengembangan unggun antara 50 hingga 70%.
A.2 .3. Tahap Regenerasi
Tahap regenerasi adalah operasi penggantian ion yang terserap dengan
ion awal yang semula berada dalam matriks resin dan pengembalian kapasitas
ke tingkat awal atau ke tingkat yang diinginkan. Larutan regenerasi harus dapat
menghasilkan titik puncak (mengembalikan waktu regenerasi dan jumlah
larutan yang digunakan). Jika sistem dapat dikembalikan ke kemampuan
pertukaran awal, maka ekivalen ion yang digantikan harus sama dengan ion
yang dihilangkan selama tahap layanan. Jadi secara teoritik, jumlah larutan
regenerasi (dalam ekivalen) harus sama dengan jumlah ion (dalam ekivalen)
yang dihilangkan (kebutuhan larutan regenerasi teoritik). Operasi regenerasi
agar resin mempunyai kapasitas seperti semula sangat mahal, oleh sebab itu

14

maka regenerasi hanya dilakukan untuk menghasilkan sebagian dari


kemampuan pertukaran awal. Upaya tersebut berarti bahwa regenerasi
ditentukan oleh tingkat regenerasi yang diinginkan. Tingkat regenerasi
dinyatakan sebagai jumlah larutan regenerasi yang digunakan per volume resin.
Perbandingan kapasitas operasi yang dihasilkan pada tingkat regenerasi
tertentu dengan kapasitas pertukaran yang secara teoritik yang dapat dihasilkan
pada tingkat regenerasi itu disebut efisiensi regenerasi. Efisiensi regenerasi
resin penukar kation asam kuat yang diregenerasi dengan H2 anion basa kuat
yang diregenerasi dengan NaOH antara 20-50%, oleh sebab itu pemakaian
larutan regenerasi 2-5 kali lebih besar dari kebutuhan teoritik. Besaran untuk
menyatakan tingkat efisiensi penggunaan larutan regenerasi adalah nisbah
regenerasi (regeneration ratio) yang didefinisikan sebagai berat larutan
regenerasi dinyatakan dalam ekivalen atau gram CaCO3 dibagi dengan beban
pertukaran ion yang dinyatakan dalam satuan yang sama. Semakin rendah
nisbah regenerasi, semakin efisien penggunaan larutan regenerasi. Harga
nisbah regenerasi merupakan kebalikan harga efisiensi regenerasi. Operasi
regenerasi dilakukan dengan mengalirkan larutan regenerasi dari atas.
Proses regenerasi unit dilakukan dengan menginjeksi regeneran pada
masing-masing unit. Regeneran untuk cation adalah HCl dan untuk anion
NaOH.
Proses regenerasi :

Backwash, yaitu mengalirkan air bersih ke arah berlawanan melalui


tangki kation atau anion sampai air keluarannya bersih

Melakukan slow rinse, yaitu mengalirkan air pelan-pelan untuk


menghilangkan regeneran dalam resin

Fast rinse, yaitu membilas unit dengan laju yang lebih cepat untuk
menghilangkan sisa regeneran sebelum operasi.

A.2 .4. Tahap Pembilasan

15

Tahap pembilasan dilakukan untuk menghilangkan sisa larutan regenerasi


yang terperangkap oleh resin. Pembilasan dilakukan menggunakan air produk
dengan aliran down flow dan dilaksanakan dalam dua tingkat, yaitu :
1. tingkat laju alir rendah untuk menghilangkan larutan regenerasi, dan
2. tingkat laju alir tinggi untuk menghilangkan sisa ion
Limbah pembilasan tingkat laju alir rendah digabungkan dengan larutan
garam dan dibuang, sedangkan limbah pembilasan tingkat laju alir tinggi
disimpan dan digunakan sebagai pelarut senyawa untuk regenerasi.
A.2 .5. Tahap Penghilangan Gas
Deaerasi adalah perlakuan terhadap air untuk menghilangkan gas-gas yang larut
dalam air. Adapun gas-gas yang larut dalam air adalah :

Oksigen ( O2 )

Karbondioksida ( CO2 )

Hidrogen ( H2S )
Sedangkan deaerator adalah alat yang bekerja untuk membuang gas-gas

yang terkandung dalam air ketel, sesudah melalui proses pemurnian air ( water
treatment ). Selain itu deaerator juga berfungsi sebagai pemanas awal air
pengisian ketel sebelum dimasukkan kedalam boiler. Deaerator bekerja
berdasarkan sifat dari oksigen yang kelarutannya pada air akan berkurang dengan
adanya kenaikan suhu. Penghilangan gas dilakukan sebelum air keluaran kolom
kation diolah di kolom resin penukar anion. Setelah tahap pertukaran kation di
resin penukar kation siklus hidrogen, alkalinitas bikarbonat yang dikandung dalam
air umpan akan dikonversi menjadi asam karbonat dan karbon dioksida.
CO2 +H2O H2CO3 H+ +HCO3Cara kerja kolom degasifier mengikuti teori-teori yang berlaku untuk proses
stripping (pelucutan). Kandungan CO2 dalam air dilucuti menggunakan udara
yang dihembuskan oleh blower (Gambar 4.15) atau secara vakum (Gambar 4.16).

16

Pemakaian kolom degasified dapat mengurangi kandungan karbon dioksida


menjadi 5 mg/l.

Gambar 2. 3 Penghilangan Gas dengan Blower

Gambar 2. 4 Deaerator secara vakum

Aplikasi Ion Exchange


a) Ion Exchange sebagai water softening

17

Aplikasi ion exchanger sebagai water softener merupakan fungsi umum


dan digunakan sangat luas di industri yang memerlukan soft water untuk proses
dan bahan baku boiler . Air baku yang tingkat ke-sadahan-nya (hardness) tinggi
karena kandungan kalsium dan magnesium harus diturunkan dengan cara
menggantikannya dengan muatan ion sodium yang terdapat pada resin.
Proses pertukaran ion terus berjalan sampai tercapai equilibrium dan jenuh
dan sesudah kondisi resin jenuh maka segera dilakukan re-generasi dengan dicuci
dengan air yang mengandung garam NaCl tinggi. Soft water digunakan untuk
boiler feed water guna mencegah terjadinya endapan (scaling) pada pipa saluran
air baik pada sistim boiler maupun pada sistim pendingin.
b) Sebagai media purifikasi
Dalam hal penggunaan media ion exchange sebagai purifier misalnya
untuk mengangkat bahan- bahan beracun yang dibawa oleh fluida tertentu, maka
ion exchanger dapat mengambil ion-ion logam berat seperti Cadmium, Lead dan
Copper dan menggantikannya dengan ion-ion garam sodium dan potassium. Ada
jenis resin ion exchange lain yang dapat menyaring kontaminan organik air baku
dengan menambahkan karbon aktif pada kolom ion exchange tersebut.
Pemilihan jenis resin akan menentukan fungsi ion exchange pada pabrik
yang menggunakannya sebagai water softening, sebagai media filtrasi logam berat
fluida tertentu maupun sebagai penyaring mineral pada air baku.
B. Pengolahan Internal
Pengolahan Internal (Internal Treatment) adalah pengkondisian
boiler dengan bahan kimia dan pengaturan
dapat dihindari
cara pemberian
dengan

lainnya agar korosi dan kerak

dan kemurnian uap terjaga baik. Pengolahan


bahan

air pengisi

kimia langsung

boiler.

Reaksi

Air

kedalam

boiler

bersama-sama

yang terjadi menyebabkan

kandungan padatan yang dapat menyebabkan pembusaan

ini dengan

naiknya

dan carry over.

Jumlah zat padat dapat ditekan dengan pengaturan blowdown.


Tujuan pengolahan

ini untuk mengontrol

zat-zat

padat, alkalinitas,

kelebihan fosfat,gas-gas korosif, menghindarkan timbulnya kerak yang dapat


18

melekat dan mengeras pada dinding atau pipa-pipa boiler dan membuat
lapisan boiler lebih tahan terhadap korosi.
Beberapa mekanisme yang terjadi dalam Internal Treatment, antara lain:
1. Mereaksikan kesadahan dengan bahan kimia, agar kerak calcium carbonate
yang keras berubah menjadi endapan yang lunak berlumpur sehingga bisa
dibuang melalui blow-down.
2. Mengkondisikan pH/Alkalinity air boiler untuk menghindarkan pengerakan
silica.
3. Penggunaan anti-bus a (anti foam) untuk mencegah potensi pembusaan
yang akan mengakibatkan terjadinya carry-over dan menurunkan kemurnian
uap.
Beberapa jenis bahan kimia yang umum dipergunakan

dalam Internal

treatment adalah:
Fosfat (jenis

ortho

untuk menetralisir

ataupun polyfosfat):

kesadahan

bereaksi kesadahan calcium

air dengan membentuk

hydrat tricalcium

fosfat yang berbentuk lumpur dan dapat dibuang melalui blow down secara
terus-menerus atau secara berkala melalui bawah ketel.
Natural and synthetic dispersants (Dispersant): meningkatkan sifat dispersif
Air Boiler. Beberapa contoh Polymeric Dispersant adalah:
- polimer Alam : lignosulphonates, tannin
- polimer sintetik : polyacrylates, maleat acrylate copolymer, maleat styrene
copolymer,dsb.
Sequestering agents (anti scale) seperti phoshate organic (phosphonates),
Polymaleic acid (PMA), Sulfonated co-polymer, dsb.
Oxygen scavengers (Pemakan Oksigen): seperti natrium sulfit, tannis,
hidrazin, hidroquinonJprogallol

berbasis derivatif, hydroxylamine

asam askorbat derivatif, dll. Oxygen Scavengers ini, dikatalisasi

derivatif,
ataupun

tidak, akan mengurangi kadar oksigen terlarut dalam feed-water. Beberapa

19

jenis

dari oxygen scavenger ini juga berfungsi sebagai passivator

mempassivasi

permukaan

logam

untuk

seperti Hydrazine, Hydroxylamine

derivate.dll. Pilihan produk dan dosis yang diperlukan akan tergantung pada
jenis alat mekanis yang digunakan (Deaeator atau Heating Tank)
Anti foaming
permukaan

or

anti priming

agents

: campuran

yang mengubah tegangan permukaan

cairan,

bahan

aktif

menghilangkan

busa dan mencegah terbawa air halus partikel.

20

KESIMPULAN

1. Persyaratan kualitas air yang dapat digunakan dalam industri berbeda-beda


tergantung kepada tujuan penggunaan air tersebut
2. Klasifikasi pengolahan air secara umum

dibedakan menjadi 2, yaitu

pengolahan eksternal dan pengolahan internal


3. Pertukaran ion adalah sebuah proses fisika-kimia. Pada proses tersebut
senyawa yang tidak larut, dalam hal ini resin, menerima ion positif atau
negatif tertentu dari larutan dan melepaskan ion lain ke dalam larutan
tersebut dalam jumlah ekivalen yang sama
4. Pengolahan air secara internal (internal water treatment) adalah proses
penambahan/penginjeksian suatu atau beberapa bahan kimia (chemicals)
ke dalam air yang akan digunakan untuk proses maupun pendukung proses

21

DAFTAR PUSTAKA

Utomo, D. Priyo. 2014. UTILITAS : AIR UMPAN BOILER. FT UB. Malang


Fauzan. 2012. Kesadahan. FT Univet JATIM
Maulana, A. Malik dan Widodo, Ariyanto .S. 2010. Pengolahan Air Produk
Reverse Osmosis Sebagai Umpan Boiler Dengan Menggunakan Ion
exchange. FT UNDIP. Semarang
Setiadi, Tjandra. 2007. PENGOLAHAN dan PENYEDIAAN AIR. FTI ITB.
Bandung
Sugito. 2009. PENGOLAHAN AIR BERBASIS ION EXCHANGE TERPADUKAN
DENGAN

MEMBRAN

PERMIABEL

PADA

MEDAN

ELECTRODEIONIZATION (EDI). FT Univ. PGRI Adi Buana. Surabaya


Sutrisna, P. Doddy. 2002. BIPOLAR MEMBRANE ELECTRODIALYSIS :
TEKNOLOGI ATRAKTIF UNTUK PROODUKSI ASAM DAN BASA. FT
Universitas Surabaya. Surabaya
Torimtubun, Alfonsina A.A. 2012. Demineralisasi. FT UB. Malang

22