Anda di halaman 1dari 9

Asal usul dan sejarah Pariaman

30 September 2009 pukul 13:46

Pariaman di zaman lampau merupakan daerah yang cukup dikenal oleh


pedagang bangsa asing semenjak tahun 1500an. Catatan tertua tentang
Pariaman ditemukan oleh Tomec Pires (1446-1524), seorang pelaut Portugis yang
bekerja untuk kerajaan Portugis di Asia. Ia mencatat telah ada lalu lintas
perdagangan antara India dengan Pariaman, Tiku dan Barus.

Dua tiga kapal Gujarat mengunjungi Pariaman setiap tahunnya membawa kain
untuk penduduk asli dibarter dengan emas, gaharu, kapur barus, lilin dan madu.
Pires juga menyebutkan bahwa Pariaman telah mengadakan perdagangan kuda
yang dibawa dari Batak ke Tanah Sunda.

Kemudian, datang bangsa Perancis sekitar tahun 1527 dibawah komando


seorang politikus dan pengusaha yakni Jean Ango. Ia mengirim 2 kapal dagang
yang dipimpin oleh dua bersaudara yakni Jean dan Raoul Parmentier. Kedua
kapal ini sempat memasuki lepas pantai Pariaman dan singgah di Tiku dan
Indrapura. Tapi anak buahnya merana terserang penyakit, sehingga catatan dua
bersaudara ini tidak banyak ditemukan.

Tanggal 21 November 1600 untuk pertama kali bangsa Belanda singgah di Tiku
dan Pariaman, yaitu 2 kapal di bawah pimpinan Paulus van Cardeen yang
berlayar dari utara (Aceh dan Pasaman) dan kemudian disusul oleh kapal
Belanda lainnya. Cornelis de Houtman yang sampai di Sunda Kelapa tahun 1596
juga melewati perairan Pariaman.

Tahun 1686, orang Pariaman (Pryaman seperti yang tertulis dalam catatan W.
Marsden) mulai berhubungan dengan Inggris.

Sebagai daerah yang terletak di pinggir pantai, Pariaman sudah menjadi tujuan
perdagangan dan rebutan bangsa asing yang melakukan pelayaran kapal laut
beberapa abad silam. Pelabuhan entreport Pariaman saat itu sangat maju.
Namun seiring dengan perjalanan masa pelabuhan ini semakin sepi karena salah
satu penyebabnya adalah dimulainya pembangunan jalan kereta api dari Padang
ke Pariaman pada tahun 1908.

Sejarah

Menurut laporan Tom Pires dalam Suma Oriental yang ditulis antara tahun 1513
and 1515[2], kota Pariaman ini merupakan bagian dari kawasan rantau
Minangkabau. Dan kawasan ini telah menjadi salah satu kota pelabuhan penting
di pantai barat Sumatera. Pedagang-pedagang India dan Eropa datang dan
berdagang emas, lada dan berbagai hasil perkebunan dari pedalaman
Minangkabau lainnya. Namun pada awal abad ke-17, kawasan ini telah berada
dalam kedaulatan kesultanan Aceh[3].

Seiring dengan kedatangan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) pada


tahun 1663 yang kemudian mendirikan kantor dagang di kota Padang[4] yang
kemudian pada tahun 1668 berhasil mengusir pengaruh kesultanan Aceh di
sepanjang pesisir pantai barat Sumatera, mulai dari Barus sampai ke Kotawan(?)
[5]. Dan kemudian pemerintah Hindia-Belanda memusatkan aktivitasnya di kota
Padang, dan membangun jalur rel kereta api antara kota Padang dengan kota
Pariaman, sehingga lambat laun pelabuhan Pariaman pun mulai kehilangan
pamornya.
Geograf

Kota Pariaman merupakan hamparan dataran rendah yang landai terletak di


pantai barat Sumatera dengan ketinggian antara 2 sampai dengan 35 meter
diatas permukaan laut dengan luas daratan 73,36 km dengan panjang pantai
12,7 km serta luas perairan laut 282,69 km dengan 6 buah pulau-pulau kecil
diantaranya Pulau Bando, Pulau Gosong, Pulau Ujung, Pulau Tangah, Pulau Angso
dan Pulau Kasiak.

Kota Pariaman merupakan daerah yang beriklim tropis basah yang sangat
dipengaruhi oleh angin barat dan memiliki bulan kering yang sangat pendek.
Curah hujan pertahun mencapai angka sekitar 4.055 mm (2006) dengan lama
hari hujan 198 hari. Suhu rata-rata 25,34 C dengan kelembaban udara rata-rata
85,25 dan kecepatan angin rata-rata 1,80 km/jam[6].
Utara kecamatan V Koto Kampung Dalam, kabupaten Padang Pariaman
Selatan

kecamatan Nan Sabaris, kabupaten Padang Pariaman

Barat Samudera Hindia

Timur kecamatan VII Koto Sungai Sarik, kabupaten Padang Pariaman


Pemerintahan
!Artikel utama untuk bagian ini adalah: Daftar Walikota Pariaman

Kota Pariaman resmi berdiri sebagai kota otonom pada tanggal 2 Juli 2002
berdasarkan Undang-undang Nomor 12 Tahun 2002 tentang pembentukan kota
Pariaman di provinsi Sumatera Barat[7]. Sebelumnya kota ini berstatus kota
administratif dan menjadi bagian dari kabupaten Padang Pariaman berdasarkan
Peraturan pemerintah Nomor 33 Tahun 1986 yang diresmikan tanggal 29
Oktober 1987 oleh Mendagri Soepardjo Rustam dengan Walikota pertamanya
Drs. Adlis Legan (1987-1993).

Kota Pariaman terdiri atas empat kecamatan:

Pariaman Selatan
Pariaman Tengah
Pariaman Timur
Pariaman Utara

Kota Pariaman memiliki 71 (tujuh puluh satu) Kelurahan/Desa yang tergabung


dalam 12 (dua belas) Kenagarian.

Sampai tahun 2008 tercatat 2.952 orang pegawai negeri sipil (PNS) yang bekerja
di lingkungan pemerintah kota Pariaman, dengan rincian 54 orang berpendidikan
Pasca Sarjana, 1.049 orang Sarjana, 761 orang dengan pendidikan Diploma III,
319 orang D II, 510 orang dengan pendidikan SLTA, 24 orang lulusan SLTP dan 16
orang lulusan SD[8].
Kependudukan

Kota Pariaman jumlah penduduknya hampir secara keseluruhan didominasi oleh


etnis Minangkabau, dengan rasio jenis kelamin 93.26, sedangkan jumlah
angkatan kerja 27.605 orang dengan jumlah pengangguran 2.970 orang[1]. Dan
pada kecamatan Pariaman Tengah menjadi kawasan yang paling padat jumlah
penduduknya

Tahun

2008 2010

Jumlah penduduk

70.625

Green Arrow Up.svg 97.901

Sejarah kependudukan kota Padang


Sumber:[1][9]
Pendidikan

Pendidikan merupakan faktor penting dalam pembangunan daerah dan menjadi


salah satu prioritas pemerintah kota ini, karena dengan ketersediaan
sumberdaya manusia yang berkualitas tentu akan mendorong perkembangan
pembangunan kota Pariaman. Beberapa program pemerintah kota diarahkan
pada peningkatan sarana prasarana penunjang pendidikan, baik pengadaan alat
laboratorium, alat peraga sekolah, maupun buku-buku sekolah. Selain itu
peningkatan kemampuan dan pemerataan tenaga pendidik juga dilakukan
secara kontinu termasuk dukungan pendanaan, pelatihan maupun studi
lanjut[10].
Pendidikan formal SD atau MI negeri dan swasta SMP atau MTs negeri dan
swasta
SMA negeri dan swasta MA negeri dan swasta
SMK negeri dan
swasta
Perguruan tinggi
Jumlah satuan

81

20

10

Data sekolah di kota Pariaman


Sumber:[11]
Kesehatan

Di Kota Pariaman terdapat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) milik Pemerintah
Provinsi Sumatera Barat yang terletak di Jalan M. Yamin, Kampung Baru,
Kecamatan Pariaman Tengah dengan type C. Kota ini juga memiliki 7 puskesmas,
13 puskesmas pembantu, 51 pos kesehatan desa/kelurahan
(Poskesdes/Poskeslur).
Perhubungan
Jembatan Kurai Taji (tahun 1920-an)

Sebelumnya pelabuhan di kota Pariaman pernah menjadi pusat perdagangan di


pantai barat pulau Sumatera, namun seiring dengan menguatnya kekuasaan
pemerintahan kolonialis Hindia-Belanda, lambat laun peranan pelabuhan kota ini
menurun digantikan oleh pelabuhan Muara dan pelabuhan Teluk Bayur yang
terletak di kota Padang[12]. Sampai saat ini pelabuhan laut di kota ini masih

belum berfungsi sebagai sarana angkutan penumpang dan barang, dan hanya
digunakan untuk tempat berlabuh kapal-kapal nelayan setempat.
Terminal bus lama Pariaman

Pembangunan jalan merupakan aspek penting dalam menunjang sektor ekonomi


dan sosial sehingga dapat mengakomodasi keterhubungan lokasi atau ruang fsik
dimana kegiatan penduduk berada. Sampai tahun 2007 pemerintah kota
Pariaman telah melakukan peningkatan jalan sepanjang 78.30 km.

Selanjutnya sebagai sarana transportasi untuk angkutan dalam kota dan


sekitarnya, terdapat mikrolet dan bendi (kereta kuda). Sedangkan untuk antar
daerah dalam provinsi digunakan bis. Dan sebagai pusat dari sarana angkutan
darat di kota ini adalah pada Terminal Jati[13].

Selain itu kota ini juga memiliki sarana transportasi kereta api yang
menghubungkan kota ini dengan kota Padang.
Perekonomian

Sektor perdagangan merupakan sektor yang menyerap tenaga kerja paling


banyak di kota Pariaman, yang kemudian disusul oleh sektor jasa, dimana pada
kota ini terdapat 3 buah pasar tradisional. Sektor industri cukup berkembang di
kota ini terutama industri kimia dan logam. Sedangkan sektor pertanian masih
menjanjikan bagi masyarakat setempat dimana sampai tahun 2007 luas areal
persawahan yang masih dimiliki kota ini adalah 36.81 % dari total luas
wilayahnya, dan sektor pertanian ini juga memberikan konstribusi paling besar
yaitu sebesar 27.06 % dari total PDRB kota Pariaman.
Perkembangan PDRB kota Pariaman Tahun

PDRB atas dasar harga berlaku

(milyar rupiah)

PDRB atas dasar harga konstan 2000

(milyar rupiah)

Pertumbuhan

(%)

Inflasi

(%)
2003 641.91

509.11

5.05

6.01

2004 715.22

535.81

5.24

5.87

2005 865.65

561.91

4.87

15.41

2006 1.019.92

589.88

4.98

12.24

2007 1.126.04

621.50

5.36

4.79

Sumber: [6][1]
Pariwisata

Kota Pariaman memiliki pantai landai dengan pesona yang indah, saat ini resort
wisata telah dibenahi oleh pemerintah kota setempat dalam usaha
pengembangan sektor pariwisatanya. Objek wisata pantai Pariaman diantaranya
adalah pantai Gandoriah yang berlokasi di depan stasiun kereta api Pariaman,
Pantai Kata di Taluk-Karan Aur, Pantai Cermin di Karan Aur, Pantai Belibis di Naras
dan memiliki Pusat Penangkaran Penyu pertama dan satu-satunya di Sumatera
Barat di Pantai Penyu, Apar, Kec. Pariaman Utara. Selain itu Kota yang bermotto
Sabiduak Sadayuang ini juga memiliki 5 (lima) pulau kecil yang tak berpenghuni
yang tengah dikembangkan sarana dan prasarananya sebagai destinasi wisata
oleh Pemkot Pariaman diantaranya Pulau Angso Duo, Pulau Kasiak, Pulau Tangah,
Pulau Ujung dan Pulau Gosong.

Kota ini juga dikenal dengan pesta budaya tahunan tabuik[14][15][16] yang
prosesi acaranya diselenggarakan mulai dari tanggal 1 Muharram sampai pada
puncaknya tanggal 10 Muharram setiap tahunnya. Saat ini terdapat 2 museum
rumah Tabuik yakni Rumah Tabuik Subarang di Jl. Imam Bonjol Samping Balaikota
dan Rumah Tabuik Pasa di Jl. Syekh Burhanuddin Karan Aur yang memuat
informasi sejarah perkembangan dan pembuatan tabuik beserta replikanya.
Pesta budaya Tabuik telah diselenggarakan sejak zaman kolonial Belanda

Setiap Minggu pagi, Jalan Imam Bonjol salah satu jalan protokol di Kota Pariaman
mulai dari Simpang Lapai Cimparuh sampai ke Simpang LLAJ Lama disterilkan
dari arus kendaraan untuk kegiatan car free day.[17]
Budaya

Masyarakat di kota Pariaman ini memiliki keunikan tersendiri dibandingkan etnis


Minangkabau umumnya. Sebagai kawasan yang berada dalam struktur rantau,
beberapa pengaruh terutama dari Aceh masih dapat ditelusuri sampai sekarang,
diantaranya penamaan atau panggilan untuk seseorang di kawasan ini, misalnya
ajo (lelaki dewasa, dengan maksud sama dengan kakak) atau cik uniang
(perempuan dewasa, dengan maksud sama dengan kakak) sedangkan panggilan
yang biasa digunakan di kawasan darek adalah uda (lelaki) dan uni (perempuan).
Selain itu masih terdapat lagi beberapa panggilan yang hanya dikenal di kota ini

seperti bagindo, sutan atau sidi (sebuah panggilan kehormatan buat orang
tertentu).

Kemudian dalam tradisi perkawinan, masyarakat pada kota ini masih mengenal
apa yang dinamakan Ba japuik atau Ba bali yaitu semacam tradisi dimana pihak
mempelai wanita mesti menyediakan uang dengan jumlah tertentu yang
digunakan untuk meminang mempelai prianya.

Pariaman sebagai kota otonom lahir berdasarkan surat keputusan Presiden yang
diserahkan oleh Menteri Dalam Negeri RI Hari Sabarno tanggal 2 Juli 2002 di
halaman kantor Direktorat Jenderal Pemberdayaan Masyarakat Desa Depdagri,
Jakarta.

Kota Pariaman ini lahir berdasarkan Undang-Undang No. 12 tahun 2002 tanggal
10 April 2002 tentang pembentukan Kota Pariaman Propinsi Sumatera Barat
yang ditandatangani oleh Presiden RI Megawati Soekarnoputri. Undang-Undang
tersebut diundangkan ke dalam Lembaran Negara RI dengan nomor urut 25
tahun 2002 oleh Sekretaris Negara RI Bambang Kesowo.

Namun jauh sebelumnya, dari mana asal penduduk Pariaman. Jika dilihat masa
silam kota Pariaman, maka Pariaman merupakan salah satu daerah rantau dari
Minangkabau, seperti halnya Padang, Pasisia, Tiku. Menurut struktur
pemerintahan adat Minangkabau, rantau Pariaman dinamakan rantau Riak Nan
Mamacah. Maksudnya, di mana harta pusakanya juga turun dari garis ibu.
Sedangkan gelar (gala) pusaka, juga turun dari garis Bapak. Warisan gelar
setelah berumah tangga turun dari bapak seperti Sidi, Bagindo dan Sutan. Gelar
itu merupakan panggilan dari keluarga isteri yang lebih tua dari umur isteri
kepada seorang laki-laki. Warisan dari bapak ini hanya ada di Pariaman.

Penduduk Pariaman umumnya turun dari Luhak Tanahdata. Selain itu juga dari
Luhak Agam pada bagian Utara. Sedangkan bagian sebelah Selatan justru turun
dari Solok. Meski demikian, tetap saja mereka yang turun dari Luhak Tanahdata
menjadi pemegang utama roda pemerintah.

Abdul Kiram dan Yeyen Kiram dalam bukunya Raja-Raja Minangkabau Dalam
Lintasan Sejarah (2003;51-52) mencatat, nenek moyang yang mula-mula turun
dari Luhak Tanahdata ada sebanyak empat orang Penghulu beserta
rombongannya. Yakni Datuk Rajo Angek, Datuk Palimo Kayo, Datuk Bandaro
Basa, dan Datuk Palimo Labih. Amanah dari Yang Dipertuan Pagaruyung, di mana
jika rombongan berada pada sebuah tempat yang tidak diketahui namanya,
maka segeralah diberi nama dan tanda.

Akhirnya tempat itu diberi nama Kandangampek. Karena rombongan mereka


berjumlah empat. Tidak lama kemudian, di tempat yang sama datang lagi satu
rombongan dipimpin Datuk Makhudum Sabatang Panjang. Kedua rombongan
bergabung dan sepakat bersama-sama turun ke bawah menuju arah Barat.
Selanjutnya, rombongan menemukan sebuah tempat yang agak tinggi, tapi
belum diketahui namanya. Salah seorang anggota rombongan, menanamkan
sebatang pohon sebagai pembatas antara Luhak dan Rantau. Di tempat itu
rombongan sepakat menamakan Kayutanam. Daerah inilah yang membatasi
Luhak (darek) dengan Rantau. Berbatas dengan Bukit Barisan yang melingkari
Padangpanjang.

Perjalanan kelima orang Penghulu tersebut diteruskan sampai ke Pakandangan.


Di sini mereka membangun perkampungan. Tidak lama kemudian datang lagi ke
Pakandangan enam orang Penghulu dari Tanahdata, yakni Datuk Simarajo, Datuk
Rangkayo Basa, Datuk Rajo Mangkuto, Datuk Rajo Bagindo dan Datuk Mangkuto
Sati.

Keenamnya bergabung dengan rombongan yang datang sebelumnya. Luas


perkampungan diperluas sampai ke Sicincin. Sebagai penghormatan, khusus
lima orang Penghulu yang datang pertama, mereka ditempatkan di tengahtengah kampung. Sedangkan enam Penghulu yang datang belakangan,
melingkari tempat kediaman lima Penghulu tersebut. Daerah ini akhirnya
bernama Anamlingkung. Kedatangan dua gelombang, untuk mengingatnya
dijadikan Kecamatan 2 X 11 Anam-lingkuang dengan ibukota Sicincin. Kini
kecamatan ini sudah dimekarkan menjadi tiga kecamatan. Yakni, Anamlingkung,
2 X 11 Anamlingkuang Sicincin dan 2 X 11 Kayutanam. Dari daerah-daerah ini,
mereka terus menyusuri hingga ke pantai Pariaman.

Ada juga yang menyebutkan penduduk Pariaman dari Tanahdata turun melalui
Malalak. Di Malalak rombongan terbagi dua kelompok. Satu kelompok langsung
menuju Pariaman, satu kelompok lagi menuju Kampungdalam. Kuatnya
hubungan kekeluargaan dengan Malalak ini dapat dilihat dari adanya kunjungan
dari orang yang berada di Pariaman, tapi berasal dari Malalak, kepada keluarga
asal di Malalak.

Pariaman yang terletak di pinggir pantai, mudah dikunjungi pelaut dari berbagai
negeri, menyebabkan mudahnya hubungan dengan daerah lain. Sehingga
masyarakatnya pun mudah menerima perubahan, baik sosial, politik maupun
agama.

Tak heran sebagai wilayah yang berada di pinggir pantai dan di singgahi oleh
berbagai pedagang, Pariaman belakangan dihuni tak hanya dari keturunan
Minangkabau dari daerah darek. Di Pariaman terdapat pula keturunan keling
(kaliang). Mungkin karena warna kulitnya lebih hitam, maka disebut saja kaliang.
Sehingga jika ada anggota keluarga rang Pariaman, sering dikatakan kulitnya
hitam kaliang. Bahkan sebelum proklamasi Indonesia 17 Agustus 1945, di
Pariaman juga banyak terdapat keturuan Tionghoa (Cina). Bukti peninggalan
keturunan Tionghoa yang tidak bisa dibantah adalah kuburan keturunan
Tionghoa di Toboh Palabah dan nama daerah Kampungcino.

Sedangkan bangsa penjajah (Belanda, Inggris dan Jepang), yang pernah


bermukim di Pariaman, hingga kini tak diketemukan lagi buktinya. Penulis hanya
pernah mendapatkan informasi di sekitar Kampung Perak ada kuburan Belanda.
Namun kini sudah menjadi areal perkantoran, yakni Kantor Kesbang Linmas
Kabupaten Padangpariaman.

Meski penduduk Pariaman sudah bercampur, tapi tetap memakai adat


Minangkabau dalam kesehariannya. Hanya saja, sebagai daerah rantau, di
Pariaman tidak diketemukan rumah gadang seperti di daerah darek. Rumah
gadangnya tidak bergonjong sebagaimana rumah gadang di daerah darek
seperti tanduk kerbau.