Anda di halaman 1dari 12

INOVASI PADA PT SINAR SOSRO

LATAR BELAKANG
Inovasi merupakan bagian yang penting dalam menyusun strategi perusahaan, karena
memunculkan sesuatu yang baru dan mempunyai nilai, sehingga dapat menjadi competitive
advantage bagi perusahaan. Demikian juga pertumbuhan perusahaan merupakan keinginan
banyak perusahaan. Perusahaan tumbuh dengan bertambahnya modal, penjualan, luas usaha atau
meningkatnya laba usaha secara terus menerus.
Sebuah organisasi perusahaan akan mengalami stagnansi bahkan kemunduran bila ia tak
dapat beradaptasi dengan tuntutan lingkungannya. Persaingan bisnis pada saat ini membuat
perusahaan berada dalam tekanan terus menerus untuk berinovasi dalam produk dan layanan
(Perry-Smith, 2006).
PT Sinar Sosro merupakan salah satu perusahaan yang dapat menjadi contoh yang baik
dalam hal inovasi. Sudah hamper 30 tahun perusahaan tersebut berdiri, mulai dari perusahaan
kecil yang menjual ide gila dengan memasukkan Teh ke dalam botol, mendobrak pandangan
1

dan budaya orang pada waktu itu (1970) tentang cara meminum Teh, hingga tumbuh dan
berkembang menjadi perusahaan besar bahkan berskala internasional hingga seperti yang kita
kenal sekarang ini.
Dalam paper ini, penulis berusaha untuk mengupas mengenai inovasi apa yang telah
dimunculkan oleh PT Sinar Sosro, bagaimana inovasi yang akan dating tetap dapat terjadi di PT
Sinar Sosro, serta sikap kepemimpinan seperti apakah yang selama ini terdapat pada sang
founding father dari PT Sinar Sosro, yaitu Sosrodjojo dan para penerusnya hingga mencapai
generasi ketiga. Leadership dan Inovasion merupakan dua hal yang saling melekat dan mutlak
diperlukan dalam membangun suatu perusahaan hingga menjadi sukses dan besar seperti PT
Sinar Sosro.
LITERATURE REVIEW
Apa itu Inovasi? Para ahli banyak mendefinisikan inovasi dengan berbagai macam
sudut pandang. West & Farr (1990) mendefinisikan inovasi sebagai berikut :
Teh international introduction and application within a role, group or organization of
ideas, processes, products or procedurs, new to Teh relevant unit of adoption, designed to
significantly benefit Teh individual, Teh group, organization or wider society.
(Pengenalan dan penerapan dengan sengaja gagasan, proses, produk dan prosedur yang baru
pada unit yang menerapkannya, yang dirancang untuk memberikan keuntungan bagi individu,
kelompok, organisasi dan masyarakat luas.)
Sedangkan Hamel (2000) mengemukakan pandangannya seperti dibawah ini :
A marked departure from traditional management principle, processes and practices
or a departure from customary organizational forms that significantly alters Teh way work of
management is performed.
(Suatu penerapan cara yang sangat berbeda dengan prinsip proses dan praktek manajemen
tradisional, atau pendekatan yang berbeda dalam berorganisasi yang membuat pekerjaan
dilakukan dengan cara yang berbeda).

Dari berbagai definisi yang ada tentang inovasi dapat disimpulkan bahwa inovasi adalah
suatu proses memikirkan dan mengimplementasikan pemikiran tersebut, sehingga menghasilkan
suatu output, apakah itu berbentuk produk, jasa, proses bisnis, cara baru, kebijakan dan lain
sebagainya (Djamaludin Ancok, 2009)
Jika dilihat dari jenisnya, maka inovasi terbagi menjadi 6 macam, yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Inovasi proses
Inovasi metode
Inovasi struktur
Inovasi dalam hubungan
Inovasi strategi
Inovasi pola pikir
Proses inovasi pada dasarnya memiliki beberapa tahapan yang saling terkait, yakni

(Sherwood, 2002) :
1. Memproduksi gagasan
2. Mengevaluasi gagasan
3. Mengimplementasi gagasan
Peter Drucker (1993) dalam bukunya Innovation and Enterpreneurship mengemukakan
beberapa prinsip inovasi yang perlu diikuti agar sebuah kegiatan inovasi berhasil. Berikut ini
adalah beberapa prinsip yang disarankan oleh Drucker :
1, Inovasi adalah sebuah usaha sistematik dengan tujuan yang jelas. Usaha yang dilakukan
dimulai dengan mengkaji peluang yang ada.
2. Inovasi tidak hanya berdasarkan perceptual (adanya kebutuhan yang nyata ) tetapi juga secara
konseptual.
3. Inovasi harus dimulai dengan ide yang sederhana, mudah dan focus pada satu tujuan.
4. Inovasi sebaiknya dimulai dengan inovasi kecil, kalau sudah berhasil baru dimulai dengan
inovasi yang lebih besar.
5. Dalam berinovasi jangan merasa diri pintar, karena sifat demikian akan membuat orang
menjadi kurang hati-hati di dalam usaha yang dia lakukan.
Untuk unggul dalam persaingan bisnis yang persaingannya bersifat saling membunuh
(red ocean) perusahaan harus berpaling pada strategi inovasi agar selalu unggul. Strategi inovasi

ini tidak hanya dalam hal kualitas produk dan pelayanan pada konsumen, tetapi juga dalam
kemampuan berorganisasi yang inovatif. Dalam Blue Ocean Strategy perusahaan dituntut untuk
dating dengan sebuah inovasi yang belum ada pesaingnya di pasar.
Amabile (1998) dan Mumford & Gustafon (1998) menemukan bahwa kepemimpinan
adalah salah satu factor utama pengungkit inovasi. Sehingga secara garis besar ada tiga
komponen modal organisasi yang mendukung inovasi, yaitu :
1. Modal manusia (Human Capital)
Terdapat tujuh aspek modal manusia yang mendukung inovasi, yaitu : modal kreativitas,
modal intelektual, modal emosional, modal social, modal keuletan (adversity), modal moral
dan integritas, dan yang terakhir adalah modal kesehatan (Djamaludin Ancok, 2009)
2. Modal kepemimpinan (Leadership Capital)
Pemimpin yang bias memacu tumbuhnya inovasi dalam perusahaan adalah pemimpin yang
memiliki ciri visioner, sinergistik dan transformasional
3. Modal Struktural (Structural Capital)
Bagaimana organisasi dirancang dari segi struktur dan proses bisnisnya akan menentukan
apakah perusahaan akan kaya dengan inovasi. Organisasi yang kaku, terkotak-kotak dan
hirarkikal akan menghambat inovasi. Pada perusahaan yang inovatif, organisasi dibuat tanpa
batas (boundaryless) atau dengan lintas fungsi (cross-functional) agar proses penambahan
pengetahuan terpacu dengan baik. Selain itu peraturan perusahaan lebih memberikan
kebebasan untuk berinovasi dengan kelenturan dalam peraturan untuk mengeluarkan
sumberdaya pendukung inovasi.

SEJARAH PT SINAR SOSRO


Jika kita melihat dari sejarahnya, perjalanan panjang keluarga Sosrodjojo dalam
membangun perusahaan PT Sinar Sosro bukanlah sesuatu hal yang mudah. Perjalanan ini
dimulai dari tahun 1940, saat itu Sosrodjojo mulai merintis usaha Teh wangi melati dengan
merek Cap Botol di Slawi Jawa Tengah, kemudian pada tahun 1953, mulai didirikan perusahaan
4

yang bernama PT Gunung Slamat, pabrik pengolahan Teh yang memproduksi beberapa merek
Teh antara lain Teh Cap Botol, Teh Cap Poci dan Teh Celup Sosro. Pada tahun 1965, Teh Cap
Botol mulai diperkenalkan di Jakarta dengan strategi promosi cicip rasa (sampling). Lalu pada
tahun 1969, baru muncul ide/gagasan menjual Teh dalam kemasan botol dengan merek Teh Botol
Sosro, dan pada tahun 1970 Teh Botol Sosro pertama kali diproduksi dengan merek Teh Cap
Botol.
PT Sinar Sosro sendiri baru didirikan pada tahun 1974, di kawasan Ujung Menteng,
yang merupakan pabrik Teh siap minum dalam kemasan botol pertama di Indonesia dan di dunia,
desain botol berubah dan desain tersebut digunakan hingga saat ini. Tahun 1978 didirikanlah
pabrik Teh Botol Sosro kedua berlokasi di Gresik, kemudia tahun 1981 didirikan pabrik ketiga di
Tambun, Bekasi. Dan pabrik keempat di Tanjung Morawa Medan. Lalu diluncurkanlah Teh
Botol Sosro kemasan kotak.
Pabrik kelima, keenam, ketujuh dan kedelapan didirikan berturut-turut pada tahun 1991,
1996, 2000 dan 2002. Tidak hanya bergerak dalam industry minuman, PT Sinar Sosro juga
mengembangkan portofolio bisnis dengan mengakuisisi seluruh saham Hotel Mercure, Hayam
Wuruk pada tahun 1998. Pada tahun yang sama, PT Sinar Sosro meluncurkan produk Fruit Tea
dengan segmen pasar anak muda. Tahun 1999 aktivitas cobranding Teh Botol Sosro bekerjasama
dengan sejumlah restoran dan food court, pada tahun yang sama S-Tee sebagai fighting brand
diluncurkan untuk menghadapi Tekita di segment produk ekonomis. Diversifikasi usaha juga
dilakukan pada tahun 2004, yaitu dengan mendirikan PT Puri Tirta Kencana yang menekuni
bidang perawatan tubuh, bekerjasama dengan Martha Tilaar.
INOVASI PT SINAR SOSRO
Salah satu prinsip inovasi yang dilakukan oleh Sosroadjojo pada tahun 1970 adalah
menerapkan satu prinsip bahwa inovasi harus dimulai dengan ide yang sederhana, mudah dan
focus pada satu tujuan. Dulu orang tak pernah membayangkan Teh Botol Sosro bias merajalela
5

seperti sekarang. Pada tahun tersebut masyarakat menanggapi inovasi yang dilakukan oleh
Sosrodjojo dengan sorot mata bertanya-tanya. Aneh saja, mosok Teh dimasukkan botol. Terlebih
buat sekelompok orang yang masih meritualkan acara atau momen minum Teh.
Seperti dikutip dari majalah SWA edisi XXI tahun 2005, pakar ataupun praktisi
pemasaran manapun pasti setuju, bukan pekerjaan mudah memperkenalkan kategori produk baru
kepada khalayak konsumen. Apalagi, kalau kategori itu memaksa orang untuk meninggalkan
tradisi atau kebiasaan masyarakat yang telah berlangsung berabad-abad (yakni, minum Teh dari
gelas atau cangkir). Sungguh sulit mengubah kebiasaan lama.
Namun karena Sosrodjojo memiliki modal manusia yang merupakan pendukung
terjadinya inovasi, khususnya modal kreativitas, modal intelektual, modal emosional, modal
social dan modal keuletan (adversity). Hal ini dibuktikan dengan kesabaran dan kegigihan
perusahaan keluarga ini dan juga kemauan untuk terus belajar dan mengembangkan berbagai
macam cara untuk memasarkan produk tersebut untuk mendapatkan tempat di hati masyarakat.
Mulai dari edukasi pasar sederhana melalui strategi cicip rasa di kawasan Senen, Jakarta Pusat,
hingga membombardir pasar lewat iklan di berbagai media cetak ataupun elektronik. Dahulu
mereka memilih pasar sasaran para sopir atau orang-orang yang lalu lalang disekitar Jalan Gajah
Mada, Jakarta Barat dan Pasar Senen, Jakarta Pusat.
Kini semua usaha tersebut telah terbayar, Teh Botol Sosro telah menjelma menjadi raja
bagi produk Teh dalam kemasan botol. Pangsa pasarnya diperkirakan sekitar 90%. Dan omsetnya
di tahun 2004 ditaksir bernilai lebih dari Rp 2 triliun. Bahkan dari segi volume, Teh Botol Sosro
telah mampu menyalip multinasional Coca-Cola yang didistribusikan di Indonesia sejak tahun
1930.
Modal intelektual sangat berperan dalam menerapkan strategi utama dalam mendukung
pertumbuhan produk Teh Botol Sosro di Indonesia. Pemahaman terhadap esensi dan karakter
bisnis yang ditekuninya membuat PT Sinar Sosro menerapkan inovasi strategi dan metode.

Strategi distribusi botol dua jalur yang rapat diciptakan oleh Sosro. Dalam strategi ini PT Sinar
Sosro menyiapkan pasukan dan armada distribusi yang sigap menyerbu bukan saja daerah
pemasaran baru tetapi juga mengambil botol-botol kosong yang siap untuk diantar kembali ke
pabrik. Sosro berinvastasi sangat panyak pada produksi botol-botolnya, bahkan sebanyak empat
hingga lima kali dari jumlah produksi Teh Botolnya. Sampai saat ini belum ada pesaing yang
mampu menandingi kesigapan Sosro.
Distribusi yang kuat terbilang penting, karena di industry Teh botol, faktor preferensi
belum sedominan di industry rokok. Direktur pengelola Strategic Management Services, Vincent
Wenas mengatakan bahwa Yang paling penting memang availability. Orang kadang tidak
peduli kalau di warung ada Te Kita, sementara Teh Botol Sosro belum disuplai, mereka pasti
akan minum yang ada saja. Berbeda dengan rokok, apabila konsumen biasa menghisap Dji Sam
Soe, jika tidak ada di warung, maka konsumen akan mencar di tempat lain. Dji Sam Soe sudah
masuk ke tingkatan brand preferensi, minuman belum sampai tingkatan itu. Sosro belum jadi
preferensi sehari-hari.
Tidak hanya itu, inovasi strategi untuk menghemat biaya distribusi juga dilakukan, yaitu
dengan membangun pabrik-pabrik di berbagai kota penting di Indonesia untuk medekati
wilayah-wilayah pemasarannya. Terhitung sudah delapan pabrik yang dimiliki oleh PT Sinar
Sosro, yang terletak di Bekasi, Gresik, Ungaran, Medan, Pandeglang, Gianyar dan Cibitung.
Modal moral dan integritas digabung dengan intelektual dan kreativitas mendukung PT
Sinar Sosro untuk menjaga produknya dari pesaing-pesaingnya. Hal ini terlihat ketika dominasi
Ten Botol Sosro berusaha digoyang oleh Coca-Cola yang meluncurkan Frestea, serta Pepsi
dengan Tekita, PT Sinar Sosro mampu menjawabnya dengan cerdik, dengan menerapkan prinsip
Blue Ocean Strategy, Sosro tidak serta merta melawan secara frontal serangan itu, melainkan
memindahkan daerah pertempuran dengan menciptakan merek baru, Fruit Tea dan S-Tea. Dan
Fruit Tea dan S-Tea inilah yang berjibaku melawan kedua merek dari perusahaan multinasional
7

tersebut. Upaya itu tampaknya berhasil, karena konsumen cenderung mempersepsikan keempat
merek tersebut Frestea, Fruit Tea,Tekita dan S-Tea - berada dalam kelas atau kategori yang
sejenis. Pada saat bersamaan Teh Botol Sosro terus melenggang sendiri tanpa pesaing yang
berarti.
Modal kepemimpinan Sosrodjojo yang visioner, sinergistik dan transformasional juga
ikut andil dalam membawa PT Sinar Sosro menuju kejayaannya. Hal ini terlihat dengan masih
solidnya keluarga Sosrodjojo hingga generasi ketiga ini dalam memimpin PT Sinar Sosro.
Sebagai perusahaan keluarga, PT Sinar Sosro memiliki resiko yang besar, karena jika terjadi
perpecahan keluarga, maka perusahaan juga dapat ikut pecah dan hancur.
Modal struktural ternyata juga berperan pada PT Sinar Sosro. Birokrasi yang ramping
dalam menjalankan proses bisnisnya merupakan tipikal perusahaan keluarga, yang jarang
dimiliki perusahaan asing. Mantan Direktur Pengelola PT Pepsi-Cola Indobeverage mengatakan
kepada majalah SWA, bahwa Sosro selalu cepat tanggap. Begitu kami (Coca-Cola) mau
bereaksi, mereka langsung aksi. Kadang kami bingung. Baru kami hubungi satu dealer, langsung
program dari Sosro menumpuk. Mereka tanggap sekali karena tidak terlalu banyak birokrasi.
Sangat fleksibel. Jika di Coca-Cola kami harus melapor dulu kepada head office.
Inovasi dalam hal varian produk sangat kental terlihat pada PT Sinar Sosro, hingga kini
PT Sinar Sosro telah memproduksi berbagai macam jenis minuman ringan dengan merek-merek
sebagai berikut: Teh Botol Sosro, Fruit Tea, Prim-A, Happy Jus, S-Tee, Freso, Tebs, Teh Celup
Sosro dan Teh Cap Botol. Banyaknya varian ini dikelola dengan baik oleh PT Sinar Sosro.
Seperti disebutkan di atas, beberapa brand ini merupakan brand yang menciptakan pasarnya
sendiri dan sangat efektif dalam menghadapi serangan-serangan brand perusahaan lain. Dengan
manajemen brand yang baik, PT Sinar Sosro mampu mengelola brandnya sehingga brand
tersebut tidak akan menjadi kanibal atau pemangsa sesama produk dari PT Sinar Sosro, dan yang
paling mengesankan adalah brand equity Teh Botol Sosro tetap yang paling cemerlang dan
8

Berjaya di pasaran. Hal ini cukup membuktikan bahwa inovasi merupakan jawaban dari segala
tantangan yang ada dalam mempertahankan keberlangsungan suatu produk.
Dalam rangka memacu penjualan, PT Sinar Sosro berani berinvestasi dalam pemberian
mesin pendingin kepada para pengecer. Di Jawa Timur, PT Sinar Sosro dikenal sangat royal
dalam member mesin pendingin. Tak peduli berapa banyak pejualan yang bias dicetak sebuah
gerai, PT Sinar Sosro akan berani memberi mesin pendingin. PT Sinar Sosro juga sangat cerdik,
tidak hanya rumah makan atau tempat keramaian yang dibidik, namun juga masuk ke sekolah
dan kampus. Dengan dalih bahwa minuman Teh lebih seha daripada minuman carbonated soft
drink, PT Sinar Sosro bisa mendapatkan hak eksklusif untuk memasarkan produknya di sekolah
atau di kampus. Sebagai kompensasi bagi pihak sekolah atau kampus, PT Sinar Sosro
melengkapi fasilitas di institusi pendidikan itu, misalnya dengan membuat lapangan basket atau
yang lainnya. Inilah yang dinamakan modal social yang dapat mendukung terjadinya inovasi
bagi PT Sinar Sosro.
Bila di level

pengecer

diberikan

mesin

pendingin,

maka

di

level

dister/agen/Subdistributor/Wholesaler PT Sinar Sosro membuat suatu program pengembangan


armada. Caranya adalah dengan member pinjaman modal untuk membeli kendaraan. Dengan
demikian terlihat adanya kebersamaan antara Sosro dengan jaringan distribusinya. Tipe
kepemimpinan yang sinergistik sangat terlihat dalam hal ini, dan tipe kepemimpinan yang seperti
inilah yang mendukung terjadinya inovasi.
Dalam hal komunikasi, tahun 1994 merupaka babak baru komunikasi bagi PT Sinar
Sosro, pada tahun tersebut PT Sinar Sosro mengganti nama generic botol menjadi Sosro. Nama
Sosro dipatenkan sebagai merek induk, sekaligus sebagai merek penguat. Kemudian dilakukan
peremajaan target pasar Teh Botol Sosro yang sebelumnya sangat umum penggemarnya
cenderung orang dewasa kea rah tua menjadi lebih muda. Ada analisis dari manajemen Sosro,
kalau dibiarkan begitu saja, generasi penggemar Teh Sosro yang fanatik akan habis. Slogan
9

Hari-Hari Teh botol berhasil diubah dengan mulus menjadi Hari-Hari Teh Sosro. Untuk meraih
pasar anak muda, jingle Teh botol yang sudah diterima khalayak luas itu, diubah lebih manis.
Modal kreativitas tersebut ternyata berhasil, permintaan Teh Botol Sosro meledak, dan awareness
iklannya sangat tinggi. Kemudian pada tahun 2002 hingga sekarang tag line Teh Botol Sosro
dirubah menjadi Apa pun Makanannya, Minumnya Teh Botol Sosro. Hal ini dilakukan karena
pada tahun tersebut produk PT Sinar Sosro yang khusus menggarap pangsa pasar anak muda
telah diluncurkan, yaitu dengan produk Fruit Tea. Sehingga dengan adanya tag line tersebut,
dapat menjadi kampanye baru yang terlihat berbeda dan menggeser objek target pasar, bukan lagi
remaja tetapi keluarga.
KESIMPULAN DAN SARAN
Inovasi yang ada disesuaikan dengan perkembangan zaman dan situasi pasar, yang pasti
PT Sinar Sosro selalu sigap untuk mengantisipasi hal-hal tersebut, dan memang itulah yang
dibutuhkan oleh setiap perusahaan, khususnya perusahaan yang sudah besar sekalipun. Mereka
harus selalu sigap menghadapi perubahan dengan selalu berinovasi. PT Sinar Sosro dapat
menjadi contoh perusahaan yang bagus dalam menerapkan hal tersebut, terbukti dengan setiap
usaha yang dilakukannya, PT Sinar Sosro tidak terlena dengan zona nyamannya, namun dia tetap
berusaha untuk terus menerus melakukan inovasi.
Mungkin Sosro sudah memiliki segalanya, namun regenerasi tetap harus dilakukan.
Memahami perkembangan zaman mutlak diperlukan, seperti contohnya mengantisipasi
kepedulian masyarakat terhadap kesehatan dengan memunculkan produk-produk Teh yang
dikaitkan dengan kesehatan seperti Teh madu dan Teh rendah kalori merupakan jawaban dari hal
tersebut. Siapa yang tahu akan kebutuhan masyarakat di masa yang akan datang, memiliki
kemampuan visioner, yaitu pandangan jauh ke depan seperti halnya Sosrodjojo pada awal
peluncuran Teh botol sosro, dialah yang akan menguasai dunia. Tentu saja hal tersebut harus

10

dibarengi dengan ketiga modal pendukung inovasi yaitu modal manusia, modal kepemimpinan
dan modal struktural.

11

DAFTAR PUSTAKA

Ancok, Djamaludin (2009). Leadership & Innovation. Materi ajar mata kuliah LI MM UGM
batch 51, Yogyakarta.

Krishnan M.S. & C.K. Prahalad (2008). The new age of innovation. McGraw Hill.

SWA, edisi 10/XXI/12-15 Mei 2005. Sajian Utama hal 30-56.

12