Anda di halaman 1dari 27

Presentasi Kasus Rehabilitasi Medik

SEORANG LAKI-LAKI 33 TAHUN DENGAN


OSTEOARTHRITIS HIP BILATERAL

Oleh :
Dyonisa Nasirochmi P
G99142079

Pembimbing :
Desy Kurniawati Tandiyo, dr., Sp. KFR

KEPANITERAAN KLINIK BAGIAN REHABILITASI MEDIK


FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR.MOEWARDI
SURAKARTA
2015
BAB I
STATUS PASIEN

I.

ANAMNESIS
A. Identitas Pasien
Nama

: Tn. L

Umur

: 33 tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Petani

Alamat

: Eromoko, Wonogiri, Jawa Tengah

Status Perkawinan

: Belum menikah

Tanggal Periksa

: 13 Oktober 2015

No RM

: 01-31-64-66

B. Keluhan Utama
Nyeri pada panggul kanan dan kiri
C. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien mengeluh nyeri pada kedua panggul yang memberat
sejak 1 bulan SMRS. Nyeri dirasakan seperti tertusuk dan terusmenerus. Nyeri bertambah apabila kaki digerakkan. Nyeri sedikit
berkurang dengan istirahat. Semenjak nyeri muncul, pasien mengalami
hambatan dalam berjalan dan berdiri. Apabila pasien berdiri, pasien
kesulitan dalam menahan beban tubuhnya, dan tampak seperti mau
jatuh. Pasien hanya mampu berbaring dan apabila ingin duduk dan
pindah, harus dibantu oleh keluarga. Pasien berobat ke RSUD
Wonogiri 2 minggu SMRS namun belum ada perbaikan. Pasien
mengaku ada riwayat sering berdiri yang cukup lama dan aktivitas
mengangkat benda berat. Pasien sebelumnya mengaku tidak ada
riwayat jatuh.
Sejak 4 tahun yang lalu, pasien sudah merasakan kaku pada
kedua panggul yang hilang timbul. Kaku terutama dirasakan setelah

bangun tidur pagi. Kaku dirasakan selama kurang lebih 15 menit.


Pasien biasa mendiamkan selama beberapa menit dan menggerakan
secara perlahan untuk mengurangi kaku tersebut, pasien masih dapat
beraktivitas dan berjalan sendiri tanpa alat bantu. Pasien sempat
berobat ke RSUD Wonogiri dan mendapatkan vitamin mineral tulang
sebanyak satu kali kunjungan.
D. Riwayat Penyakit Dahulu
Riwayat tensi tinggi

: disangkal

Riwayat sakit gula

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat alergi

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

Riwayat jatuh

: disangkal

Riwayat operasi

: disangkal

Riwayat mondok

: disangkal

E. Riwayat Penyakit Keluarga


Riwayat sakit serupa

: disangkal

Riwayat tensi tinggi

: disangkal

Riwayat sakit gula

: disangkal

Riwayat penyakit jantung

: disangkal

Riwayat asma

: disangkal

F. Riwayat Kebiasaan
Riwayat merokok

: disangkal

Riwayat minum alkohol

: disangkal

Riwayat minum obat

: disangkal

Riwayat olahraga

: disangkal

Riwayat aktivitas berlebih

: (+) sebelum menjadi petani,


pasien pernah menjadi koki

3 tahun, dan memiliki riwayat


berdiri 7 jam tanpa istirahat.
Pasien juga sering naik turun
tangga.
Riwayat angkat angkat beban berat :

(+)

terkadang

pasien

mengangkat hasil panen


G. Riwayat Nutrisi
Pasien makan sehari dua-tiga kali, porsi sedang dengan lauk
pauk tempe, tahu, sayur, kadang-kadang dengan daging ayam. Pasien
tidak punya kegemaran khusus pada makanan-makanan tertentu.
Pasien minum air putih 8 gelas/hari. Saat pasien sakit, nafsu makan
pasien menurun
H. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien tinggal di rumah dengan orang tua dan saudaranya.
Pasien sehari hari bekerja sebagai petani sejak 4 tahun yang lalu.
Pasien berobat di Rumah Sakit Dr. Moewardi dengan fasilitas BPJS.
II.

PEMERIKSAAN FISIK
1. Status Generalis
Keadaan umum sedang, GCS E4V5M6, gizi kesan cukup
2. Status Gizi
BB
TB
IMT

: 55
: 160
: 21,48 (normoweight)

3. Tanda Vital
Tekanan Darah
Nadi

: 100/70 mmHg
: 88x / menit, isi cukup, irama teratur,
simetris

Respirasi

: 20x / menit

Suhu

: 36,4 C per aksiler

VAS

:6
4

4. Kulit
Warna sawo matang, pucat (-), ikterik (-), petechie (-), spider nervi
(-), striae (-), hiperpigmentasi (-), hipopigmentasi (-)
5. Kepala
Bentuk kepala mesochepal, kedudukan kepala simetris, luka (-),
rambut hitam dengan uban, mudah rontok (-).
6. Mata
Konjungtiva pucat (-/-), sklera ikterik (-/-), refleks cahaya langsung
dan tak lansung (+/+), pupil isokor (3mm/3mm), oedem palpebra
(-/-), sekret (-/-)
7. Hidung
Nafas cuping hidung (-), deformitas (-), darah (-/-), sekret (-/-)
8. Telinga
Deformitas (-/-), darah (-/-), sekret (-/-)
9. Mulut
Bibir kering (-), sianosis (-), lidah kotor (-), lidah simetris, lidah
tremor (-), stomatitis (-), mukosa pucat (-), gusi berdarah (-).
10. Leher
Simetris, trakea di tengah, JVP tidak meningkat, kelenjar getah
bening tidak membesar, nyeri tekan (-), benjolan (-)
11. Thorax
Simetris, Normochest, Retraksi (-)
12. Jantung
Inspeksi
: Ictus Cordis tidak tampak
Palpasi
: Ictus Cordis kuat angkat, teraba di SIC V
linea midclavicularis sinistra
Perkusi
: Batas jantung kesan tidak melebar
Auskultasi
: Bunyi Jantung I dan II intensitas normal, reguler,
bising (-)
13. Pulmo
Inspeksi
: Pengembangan dada kanan = kiri
Palpasi
: Fremitus raba kanan = kiri
Perkusi
: sonor/sonor
Auskultasi
: SDV (+/+), suara tambahan (-/-)
14. Trunk
Inspeksi
: deformitas (-), skoliosis (-), kifosis (-), lordosis (-)
Palpasi

: massa (-), nyeri tekan (-), oedem (-)

Perkusi
15. Abdomen

: nyeri ketok kostovertebrae (-)

Inspeksi

: Dinding perut sejajar dinding dada

Auskultasi

: Bising usus (+) normal, 14x/ menit

Perkusi

: Tympani, pekak beralih (-), undulasi (-)

Palpasi

: Supel, nyeri tekan (-), hepar dan lien tidak teraba

16. Ektremitas
Oedem

Akral dingin

17. Status Lokalis


PEMERIKSAA

Hip
Dextra

Sinistra

Deformitas

Peradangan

Varises
Palpasi

Nyeri tekan

Nyeri gerak

+
Active ROM

+
Active ROM

terbatas karena

terbatas karena

nyeri

nyeri

N
Inspeksi

Krepitasi
ROM

18. Status Psikiatri


1. Deskripsi Umum
a. Penampilan
b.
c.
d.
e.

: laki-laki, tampak sesuai

umur, perawatan diri cukup


Kesadaran
Perilaku dan Aktivitas Motorik
Pembicaraan
Sikap terhadap Pemeriksa

: Compos mentis
: Normoaktif
: Normal
: Kooperatif, kontak mata
cukup

2. Afek dan Mood


a. Afek
: Appropiate
b. Mood
: Eutimik
3. Gangguan Persepsi
a. Halusinasi
: (-)
b. Ilusi
: (-)
4. Proses Pikir
a. Bentuk
: realistik
b. Isi
: waham (-)
c. Arus
: koheren
5. Sensorium dan Kognitif
a. Daya konsentrasi
: baik
b. Orientasi
: Orang

: baik

Waktu

: baik

Tempat

: baik

c. Daya Ingat

: Jangka panjang

: baik

Jangka pendek

: baik

6. Daya Nilai : Daya nilai realitas dan sosial baik


7. Insight
: Baik
19. Status Neurologis
1. Kesadaran
: GCS E4V5M6
2. Fungsi Luhur
: dalam batas normal
3. Fungsi Vegetatif : dalam batas normal
4. Nervus Cranialis : dalam batas normal
5. Fungsi Sensorik :
Ekstremitas atas

Ekstremitas bawah

Rasa Eksteroseptik
-

Suhu

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Nyeri

dbn

dbn

Raba

dbn

dbn

Rasa Propioseptik
-

Rasa Getar

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Rasa Posisi

dbn

dbn

Rasa Tekan

dbn

dbn

Rasa Kortikal
-

Stereognosis

tidak dilakukan

tidak dilakukan

Barognosis

tidak dilakukan

tidak dilakukan

6. Fungsi Motorik dan Reflek


Kekuatan :

Tonus :

Reflek fisiologis:

Reflek patologis:

+2

+2

+2

+2

20. Range of Motion


ROM
Aktif
NECK
0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90
TRUNK
0-90
0-30
0-35
0-35
0-45
0-45

Fleksi
Ekstensi
Lateral fleksi kanan
Lateral fleksi kiri
Rotasi kanan
Rotasi kiri
Fleksi
Ekstensi
Lateral Fleksi kanan
Lateral Fleksi kiri
Rotasi kanan
Rotasi kiri

Ektremitas Superior

0 - 70
0 - 40
0 - 60
0 - 60
0 - 90
0 - 90
0-90
0-30
0-35
0-35
0-45
0-45

ROM Aktif
Dekstr Sinistra
a

Pasif

ROM Pasif
Dekstra Sinistr
a

Fleksi
Ektensi
Abduksi
Shoulder
Adduksi
Eksternal Rotasi
Internal Rotasi
Fleksi
Ekstensi
Elbow
Pronasi
Supinasi
Fleksi
Ekstensi
Wrist
Ulnar Deviasi
Radius deviasi
Finger
MCP I Fleksi
MCP II-IV fleksi
DIP II-V fleksi
PIP II-V fleksi
MCP I Ekstensi

Ektremitas Inferior

Hip

Knee
Ankle

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90
0-90
0-150
0-150
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90
0-90
0-150
0-150
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90

ROM Aktif
Dekstra Sinistra

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90
0-90
0-150
0-150
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90

0-90
0-50
0-180
0-75
0-90
0-90
0-150
0-150
0-90
0-90
0-90
0-70
0-30
0-20
0-50
0-90
0-90
0-90
0-90

ROM Pasif
Dekstra Sinistr

Fleksi

0-110

a
0-110

Ektensi

0-25

0-25

Abduksi

0-40

0-40

Adduksi

0-40

0-40

Eksorotasi

0-20

0-20

Endorotasi

0-15

0-15

0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

0-120
0
0-30
0-30
0-50
0-40

Fleksi
Ekstensi
Dorsofleksi
Plantarfleksi
Eversi
Inversi

21. Manual Muscle Testing (MMT)


NECK
Fleksor M. Sternocleidomastoideum
9

Ekstensor M. Sternocleidomastoideum

Fleksor
Ektensor
Rotator
Pelvic Elevation

TRUNK
M. Rectus Abdominis
Thoracic group
Lumbal group
M. Obliquus Eksternus Abdominis
M. Quadratus Lumbaris

Ektremitas Superior
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Shoulder

Adduktor
Internal
Rotasi
Eksternal
Rotasi
Fleksor

Elbow

Wrist
Finger

Eksternsor
Supinator
Pronator
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Fleksor
Ekstensor

Ektremitas Inferior
Hip
Fleksor
Ekstensor
Abduktor
Adduktor
Knee
Fleksor
Ekstensor
Ankle
Fleksor

5
5
5
5
5
Dekstra
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

Sinistra
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

M. Teres mayor
M. Infra supinatus

5
5

5
5

M. Biseps
M. Brachilais
M. Triseps
M. Supinatus
M. Pronator teres
M. Fleksor carpi radialis
M. Ekstensor digitorum
M. Ekstensor carpi radialis
M. Ekstensor carpi ulnaris
M. Fleksor digitorum
M. Ekstensor digitorum

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

5
5
5
5
5
5
5
5
5
5
5

Dekstra
2
2
2
2
5
5
5

Sinistra
2
2
2
2
5
5
5

M. Deltoideus anterior
M. Bisepss anterior
M. Deltoideu
M. Teres Mayor
M. Deltoideus
M. Biseps
M. Latissimus dorsi
M. Pectoralis mayor
M. Latissimus dorsi
M. Pectoralis mayor

M. Psoas mayor
M. Gluteus maksimus
M. Gluteus medius
M. Adduktor longus
Hamstring muscle
Quadriceps femoris
M. Tibialis

10

Ekstensor M. Soleus

22. Status Ambulasi


Activity

Score

Feeding
0 = unable

10

5 = butuh bantuan memotong, mengoleskan mentega,


dll, atau membutuhkan modifikasi diet
10 = independen
Bathing
0 = dependen

5 = independen (atau menggunakan shower)


Grooming
0 = membutuhkan bantuan untuk perawatan diri

5 = independen dalam perawatan muka, rambut, gigi,


dan bercukur
Dressing
0 = dependen

10

5 = membutuhkan bantuan, tapi dapat melakukan


sebagian pekerjaan sendiri
10 = independen (termasuk mengancingkan resleting,
menalikan pita, dll.
Bowel
0 = inkontinensia (atau membutuhkan enema)

10

5 = occasional accident
10 = kontinensia
Bladder
0 = inkontinensia atau memakai kateter dan tidak

10

mampu menangani sendiri


5 = occasional accident
10 = kontinensia
Toilet use
0 = dependen

10

11

5 = membutuhkan bantuan, tapi dapat melakukan


beberapa hal sendiri
10 = independen (on and off, dressing)
Transfer
0 = unable, tidak ada keseimbangan duduk

5 = butuh bantuan besar (satu atau dua orang, fisik),


dapat duduk
10 = bantuan kecil (verbal atau fisik)
15 = independen
Mobility
0 = immobile atau < 50 yard

5 = wheelchair independen, > 50 yard


10 = berjalan dengan bantuan satu orang (verbal atau
fisik) > 50 yard
15 = independen (tapi dapat menggunakan alat bantu
apapun, tongkat) > 50 yard
Stairs
0 = unable

5 = membutuhkan bantuan (verbal, fisik, alat bantu)


10 = independen
Total (0-100)/ ambulasi

60 (Dependen
berat)

II. PEMERIKSAAN PENUNJANG


A. Laboratorium Darah (10 Oktober 2015)
Pemeriksaan
Hb
Hct
AE
AL
AT
GDS

Hasil
Rujukan
HEMATOLOGI RUTIN
11.6
13.5-17.5
35
33 45
3.98
4.50 5.90
7.4
4.5 11.0
470
150 450
KIMIA KLINIK
105
60 140

6
12

Satuan
g/dl
%
106/ul
10/ul
10/ul
mg/dl

SGOT
SGPT
Ureum
Creatinine

25
<35
25
<45
18
<50
0.8
0.9 1.3
ELEKTROLIT
131
136 145
3.6
3.3 5.1
97
98 106

Na
K
Cl

mg/dl
mg/dl
mg/dl
mg/dl
mmol/l
mmol/l
mmol/l

B. Foto Pelvis AP Dextra dan Sinistra (10 Oktober 2015)

Tampak osteofit di acetabulum kanan dan kiri

Alignment baik

Trabekulasi tulang normal

Sacroiliac joint dan Hip joint kanan kiri normal

Shentons line kanan kiri simetris

Tak tampak erosi/destruksi tulang

Tak tampak soft tissue mass/swelling

Kesan: Osteoarthtritis coxae bilateral


Gambar 1. Foto Pelvis AP dextra dan sinistra
III. ASSESMENT
Osteoarthtritis hip bilateral
IV. DAFTAR MASALAH
Masalah Medis

: Nyeri pada articulatio hip bilateral

Problem Rehabilitasi Medik


1.
2. Terapi wicara
3. Okupasi Terapi

Fisioterapi

pasien

mengalami

nyeri

saat

menggerakkan kedua kakinya


: tidak ada
: keterbatasan dalam melakukan kegiatan sehari-hari
seperti berdiri, berjalan jauh, jongkok, naik tangga,
dan perubahan posisi duduk-berdiri

13

4.

Sosiomedik

: terkadang memerlukan bantuan

untuk melakukan aktivitas sehari-hari


Ortesa-protesa
: nyeri dan penurunan

5.

kestabilan hip sehingga menyebabkan keterbatasan


mobilisasi
: tidak ada

6. Psikologi
V. PENATALAKSANAAN

Terapi Medikamentosa

Infus NaCl 0,9% 20 tpm


Injeksi Ketorolac 30 mg p.r.n
Na Diklofenak 2x25 mg
Diazepam 2x2 mg
Amtriptilin 2x12,5 mg

Rehabilitasi Medik

1. Fisioterapi
:
a. Infra Red (IR)
a. Transcutaneus Electrical Nerve Stimulation ( TENS )
b. Latihan luas gerak sendi
c. Latihan penguatan otot quadriceps femoris dan hamstring
d. Ambulasi dengan kruk partial weightbearing kanan
2. Terapi wicara : tidak dilakukan
3. Okupasi Terapi
: Proper Body Mechanism (PBM) coxae
4. Sosiomedik : motivasi dan konseling pendamping pasien untuk selalu
berusaha menjalankan home program maupun program di rumah sakit
5. Ortesa-protesa : Kruk dual
6. Psikologi
: Psikoterapi suportif

VI.

IMPAIRMENT, DISABILITY, dan HANDICAP


A. Impairment : Keterbatasan dalam ruang lingkup gerak sendi panggul
B. Disability

: Keterbatasan aktivitas sehari-hari karena rasa nyeri pada


kedua panggul

14

C. Handicap

: Keterbatasan untuk berinteraksi dengan masyarakat luas,


keterbatasan menghadiri acara sosial seperti pengajian,
acara pernikahan dan kerja bakti dikarenakan nyeri kedua
panggul yang berakibat kesulitan berjalan jauh, sehingga
pasien lebih banyak menghabiskan waktu di rumah

VII. GOAL
1. Meminimalkan impairment, disability dan handicap
2. Membantu pasien sehingga mampu mandiri dalam menjalankan
aktivitas sehari-hari
3. Edukasi perihal home exercise

VIII. PROGNOSIS
Ad vitam
Ad sanam

: dubia ad bonam
: dubia ad malam

Ad fungsionam : dubia ad bonam


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. OSTEOARTHRITIS
1. DEFINISI
Osteoarthritis (OA) merupakan penyakit sendi degeneratif, dimana
keseluruhan struktur dari sendi mengalami perubahan patologis.
Penyakit ini dan ditandai oleh adanya deteriorasi dan abrasi rawan sendi
yang bersifat kronik, berjalan progresif lambat, dan disertai adanya
pembentukan tulang baru (oseofit) pada permukaan sendi.1
2. FAKTOR RISIKO
a. Usia, sering terjadi pada usia lanjut
b. Over used atau penggunaan beban sendi yang berlebihan dan
berulang-ulang (aktifitas fisik)

15

c. Trauma
d. Obesitas
e. Jenis kelamin
Umur < 45 lebih banyak laki-laki, umur > 45 lebih banyak
perempuan1
3. PATOGENESIS
a. Tulang rawan sendi
Stage I:

Gangguan

atau

perubahan

matriks

kartilago.

Berhubungan dengan peningkatan konsentrasi air yang


mungkin disebabkan gangguan mekanik, degradasi
makromolekul matriks, atau perubahan metabolisme
kondrosit. Awalnya konsentrasi kaolagen tipe II tidak
berubah, tapi jaring-jaring kolagen dapat rusak dan
konsentrasi aggrecan dan derajat agregasi proteoglikan
menurun.2,3
Stage II: Respon kondrosit terhadap gangguan atau perubahan
matriks. Ketika kondrosit mendeteksi gangguan atau
perubahan

matriks,

kondrosit

berespon

dengan

meningkatkan sintesis dan degradasi matriks, serta


berproliferasi. Respon ini dapat menggantikan jaringan
yang

rusak,

mempertahankan

jaringan,

atau

meningkatkan volume kartilago. Respon ini dapat


berlangsung selama bertahun-tahun.2,3
Stage III: Penurunan respon kondrosit. Kegagalan respon kondrosit
untuk menggantikan atau mempertahankan jaringan
mengakibatkan kerusakan tulang rawan sendidisertai dan
diperparah oleh penurunan respon kondrosit. Penyebab
penurunan

respon

ini

belum

diketahui,

namun

diperkirakan akibat kerusakan mekanis pada jaringan,

16

dengan kerusakan kondrosit dan downregulasi respon


kondrosit terhadap sitokin anabolik.2,3
b. Perubahan tulang
Perubahan tulang subkondral yang mengikuti degenerasi
tulang

rawan

sendi

meliputi

peningkatan

densitas

tulang

subkondral, pembentukan rongga-rongga yang menyerupai kista


yang mengandung jaringan myxoid, fibrous, atau kartilago. Respon
ini muncul paling sering pada tepi sendi tempat pertemuan tulang
dan

tulang

rawan

yang

berbentuk

bulan

sabit

(crescent).Peningkatan densitas tulang merupakan akibat dari


pembentukan lapisan tulang baru pada trabekula biasanya
merupakan tanda awal dari penyakit degenerasi sendi pada tulang
subchondral, tapi pada beberapa sendi ronggarongga terbentuk
sebelum peningkatan densitas tulang secara keseluruhan. Pada
stadium akhir dari penyakit, tulang rawan sendi telah rusak
seluruhnya, sehingga tulang subchondral yang tebal dan padat kini
berartikulasi dengan permukaan tulang denuded dari sendi
lawan. Remodeling tulang disertai dengan kerusakan tulang sendi
rawan mengubah bentuk sendi dan dapat mengakibatkan
shortening dan ketidakstabilan tungkai yang terlibat.2,3
Pada sebagian besar sendi sinovial, pertumbuhan osteofit
diikuti dengan perubahan tulang rawan sendi serta tulang
subchondral dan metafiseal. Permukaan yang keras, fibrous, dan
kartilaginis ini biasanya muncul di tepi-tepi sendi. Osteofit
marginal biasanya muncul pada permukaan tulang rawan, tapi
dapat muncul juga di sepanjang insersi kapsul sendi (osteofit
kapsuler). Tonjolan tulang intraartikuler yang menonjol dari
permukaan sendi yang mengalami degenerasi disebut osteofit
sentral. Sebagian besar osteofit marginal memiliki pernukaan
kartilaginis yang menyerupai tulang rawan sendi yang normal dan
dapat tampak sebagai perluasan dari permukaan sendi. Pada sendi

17

superfisial, osteofit ini dapat diraba, nyeri jika ditekan, membatasi


ruang gerak, dan terasa sakit jika sendi digerakkan. Tiap sendi
memiliki pola karakter yang khas akan pembentukan osteofit di
sendi panggul, osteoarthritis biasanya membentuk cincin di sekitar
tepi acetabulum dan tulang rawan femur. Penonjolan osteofit
sepanjang tepi inferior dari permukaan artikuler os humerus
biasanya terjadi pada pasien dengan penyakit degenartif sendi
glenohumeral. Osteofit merupakan respon terhadap proses degerasi
tulang rawan sendi dan remodelling tulang sudkhondral, termasuk
pelepasan sitokin anabolik yang menstimulasi proliferasi dan
pembentukan sel tulang dan matrik kartilageneus.2,3
c. Jaringan periartikuler
Kerusakan tulang rawan sendi mengakibatkan perubahan
sekunder dari synovium, ligamen, kapsul, serta otot yang
menggerakan sendi yang terlibat. Membran sinovial sering
mengalami reaksi inflamasi ringan serta sedang dan dapat berisi
fragmen-fragmen dari tulang rawan sendi.Semakin lama ligamen,
kapsul dan otot menjadi kontraksi. Kurangnya penggunaan sendi
dan penurunan ROM mengakibatkan atrofi otot. Perubahan
sekunder ini sering mengakibatkan kekakuan sendi dan kelemahan
tungkai.2,3
4. KLASIFIKASI
Berdasarkan patogenesisnya, OA dibedakan menjadi dua, yaitu:
a. OA Primer
OA primer disebut juga OA idiopatik, yaitu OA yang etiologinya
tidak diketahui dan tidak ada hubungannya dengan penyakit
sistemik maupun proses perubahan lokal pada sendi. Penyebab OA
primer diduga karena faktor genetik, yaitu adanya abnormalitas
kolagen sehingga mudah rusak. Lebih sering dijumpai daripada OA
sekunder.4

18

b. OA Sekunder
OA yang didasari oleh kelainan endokrin, inflamasi, metabolik,
pertumbuhan, herediter, jejas makro dan mikro serta imobilisasi
yang terlalu lama.4
5. MANIFESTASI KLINIK
Pada umumnya pasien osteoarthritis mengatakan bahwa
keluhan-keluhannya sudah berlangsung lama, tetapi berkembang
perlahan-lahan.
a. Nyeri sendi
b. Hambatan gerakan sendi
c. Kaku sendi pagi hari
d. Atrofi otot-otot sekitar sendi
e. Krepitasi
f. Pembesaran sendi (deformitas)
g. Perubahan gaya berjalan.
Persendian yang paling sering terkena OA adalah pada
vertebra, panggul (hip), lutut, dan pergelangan kaki. Diperkirakan 30
40% lansia berusia 65 tahun terkena osteoarthritis pada lutut.4

Gambar 2. Predileksi OA

19

6. DIAGNOSIS
Diagnosis OA dapat ditegakkan berdasarkan kriteria klinis dan
radiologis menurut American College of Rheumatology (ACR)5.
Berdasarkan kriteria tersebut, OA dapat ditegakkan apabila:
a. Nyeri sendi
b. Memenuhi minimal satu dari tiga hal berikut:
i. Umur lebih dari 50 tahun
ii. Kaku sendi kurang dari 30 menit
iii. Krepitasi dan osteofit
Derajat osteoartritis lutut dinilai menjadi lima derajat oleh Kellgren dan
Lawrence5:
0

: tidak ada gambaran osteoarthritis.

: osteoarthritis meragukan dengan gambaran sendi normal, tetapi


terdapat osteofit minimal.

: osteoarthritis minimal dengan osteofit pada 2 tempat, tidak


terdapat sclerosis dan kista subkondral, serta celah sendi baik.

: osteoarthritis moderat dengan osteofit moderat, deformitas ujung


tulang, dan celah sendi sempit.

: osteoarthritis berat dengan osteofit besar, deformitas ujung tulang,


celah sendi hilang, serta adanya sklerosis dan kista subkondral.

7. PENATALAKSANAAN
Penatalaksanaan pasien OA dimulai dengan dasar diagnosis
dari anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik, temuan radiografi,
penilaian sendi yang terkena. Pengobatan harus direncanakan sesuai
kebutuhan individual.
Tujuan terapi adalah :
o
o
o
o

menghilangkan rasa nyeri dan kekakuan


menjaga atau meningkatkan mobilitas sendi
membatasi kerusakan fungsi
mengurangi faktor penyebab
20

o mempertahankan dan meningkatkan kualitas hidup.


Penatalaksanaan OA meliputi:
a. Farmakologi
1) Lini Pertama
Pengobatan saat ini hanya bersifat simptomatik dengan
obat anti inflamasi non steroid (OAINS) dikombinasi dengan
program rehabilitasi dan proteksi sendi. Pada stadium lanjut
dapat dipikirkan berbagai tindakan operatif.6
2) Lini Kedua
Penggunaan nutrisi seperti glukosamin dan chondroitin
sulfat masih kontroversial, pada penelitian masih belum
menunjukkan hasil yang bagus.
Injeksi articular :
- Dengan kortikosteroid, dapat menurunkan rasa sakit pada
jangka waktu yang pendek
- Dengan asam hialuronat dapat menurunkan sedikit rasa
sakit
Pemberian opioid dapat digunakan pada pasien dengan
rasa sakit yang sangat berat dan pasien yang tidak kooperatif.6
b. Non Farmakologis
1) Edukasi Pasien
Edukasi pasien, teman, dan keluarga pasien untuk
mendorong pasien berpartisipasi dalam program yang ada,
misalnya program edukasi pasien; program self-management;
kelompok pendukung arthritis, dan sebagainya. Dalam program
ini pasien belajar memahami OA yang meliputi: proses
penyakit, prognosis, pilihan terapi, perubahan paradigm bahwa
OA dianggap sebagai penyakit yang tidak dapat dihindari.
Pasien juga belajar bagaimana mengurangi rasa sakit,
latihan fisik dan relaksasi, komunikasi dengan staf kesehatan,

21

dan pemecahan masalah, dapat menghadapi secara fisik, emosi


dan mental, mempunyai kendali lebih baik terhadap OA,
meningkatkan percaya diri untuk hidup aktif dan mempunyai
hidup yang tidak tergantung orang lain.
2) Terapi Fisik & Occupational Therapy
a) Istirahat : pada stadium akut untuk mengurangi nyeri, edem
dan mencegah bertambahnya kerusakan rawam sendi.
b) Modalitas fisik:
Terapi dingin
Diberikan pada fase akut untuk mengurangi nyeri, edem
serrta mengurangi degradasi rawan sendi oleh enzim
kolagenase.

Efek

vasokonstriksi

fisiologis

pembuluh

terapi

darah

dingin

dan

adalah

perlambatan

perdarahan, mengurangi edem dan mengurangi inflamasi


akut. Terapi dingin dapat berupa kompres es pada bagian
yang nyeri selama 15-20 menit atau

massage ice tube

selama 5 menit.
Terapi panas
Pada stadium subakut dan kronis untuk mengurangi nyeri,
menambah

kelenturan

sendi,

melemaskan

otot

dan

melenturkan jaringan ikat. Efek fisiologis terapi panas


adalah vasodilatasi meningkatkan penyerapan nutrisi,
leukosit dan antibodi, meningkatkan pembuangan sisa
metabolik dan sisa jaringan, membantu resolusi kondisi
inflamasi. Beberapa mekanisme analgetik yaitu vasodilatasi
yang menghasilkan pengurangan nyeri iskemik dan
pembuangan mediator nyeri, respon mediator endorfin.
Terapi panas terdiri dari:

Terapi panas superfisial : kompres hangat, hot pack,


infra red.

22

Terapi panas dalam: Short Wave Diathermy (SWD),


Micro Wave Diathermy (MWD), Ultrasonic Diathermy
(USD)

Transcutaneus

Electrical

Nerve

Stimulators

(TENS)

merupakan salah satu jenis elektroterapi yang menggunakan


daya listrik kecil untuk mengurangi nyeri.
c. Latihan Fisik
1) Latihan

luas

gerak

sendi

(LGS)

/fleksibilitas

dan

peregangan/stretching untuk penguatan.


Prinsip umum latihan LGS adalah bahwa sendi
terutama sendi lutut digerakkan pada luas gerak sendi
penuh untuk mencegah motion loss yang sering terjadi pada
sendi OA. Latihan LGS aktif diberikan apabila pasien
mempunyai LGS penuh dan kekuatan otot yang cukup
untuk dapat menggerakkan ototnya sendiri. Latihan LGS
aktif assistif diberikan jika kekuatan otot pasien tidak cukup
kuat untuk dapat menggerakkan sendinya sendiri.
Latihan dimulai dengan pasien menggerakkan
sendinya pada seluruh luas gerak sendi yang ada untuk
mencegah berkurangnya luas gerak sendi. Selanjutnya
ditambahkan latihan peregangan yang dilakukan dengan
pelan, gentle, dan sustained stretching. Sustained stretching
adalah menahan peregangan selama 20-40 detik, atau lebih,
kemudian relaks, dan mengulangi peregangan lagi.
Peregangan yang tiba-tiba, kasar, atau ballistic stretching
harus dihindari karena bisa menimbulkan eksaserbasi OA.
Untuk pasien OA hip dan lutut otot yang penting untuk
diregangkan adalah otot quadrisep dan hamstring.
Latihan penguatan bisa dibedakan menjadi
isometrik, isotonik, dan isokinetik. Latihan penguatan
isometrik adalah bentuk latihan statik dimana otot

23

berkontraksi dan menghasilkan force tanpa perubahan


panjang otot dan sedikit/tanpa gerakan sendi. Latihan
isometrik digunakan jika pasien tidak dapat mentoleransi
gerakan sendi berulang, misalnya pada sendi yang nyeri
atau inflamasi. Latihan penguatan isotonik adalah latihan
penguatan dinamik dengan beban konstan dimana otot
berkontraksi

memanjang

(eksentrik)

atau

memendek

(konsentrik) di sepanjang luas gerak sendinya.


2) Latihan Aerobik
Latihan aerobik penting untuk penderita OA lutut
karena pada penderita OA lutut sering terjadi penurunan
kapasitas aerobik sebagai akibat kurangnya aktivitas.
Manfaat latihan aerobik antara lain meningkatkan kapasitas
aerobik, kekuatan otot, daya tahan, serta pengurangan berat
badan. Selain itu latihan aerobik juga dapat menyebabkan
pelepasan opioid endogen, serta memperbaiki gejala
depresi dan kecemasan.
Bentuk latihan aerobik yang dianjurkan adalah
berjalan, bersepeda, berenang, dan senam aerobik di kolam.
Setiap sesi latihan aerobik harus diawali oleh latihan
pemanasan yang terdiri dari latihan ROM dan diikuti oleh
pendinginan dan peregangan.
3) Latihan Fungsional
Pasien OA lutut sering mengalami gangguan
aktivitas seperti naik turun tangga, duduk dan bangkit dari
kursi atau toilet, atau mengambil benda dari lantai. Perlu
dilakukan latihan yang bertujuan mengatasi gangguan
fungsional khusus yang dialami pasien. Latihan ini berupa
latihan penguatan dengan modifikasi aktivitas sehari-hari.
Contohnya adalah sebagai berikut:

24

Latihan step-up dan step down : latihan naik dan turun


tangga.

Latihan keseimbangan dan proprioseptif, dimulai bila


pasien mempunyai kemampuan kontrol yang baik,
misalnya dengan berjalan sepanjang garis sempit

Latihan ambulasi : penggunaan alat bantu jalan


dikurangi ketika kekutan otot quadrisep membaik
( MMT 4/5) atau nyeri berkurang. Latihan ambulasi
dilakukan pada permukaan yang bervariasi, naik turun
ramp, pertama dengan bantuan kemudian mandiri.

d. Istirahat dan merawat persendian


Rencana penyembuhan termasuk penjadwalan istirahat.
Pasien harus belajar mendeteksi tanda-tanda tubuh, dan tahu
kapan harus menghentikan atau memperlambat aktivitas, untuk
mencegah rasa sakit karena aktivitas berlebihan. Beberapa
pasien merasakan teknik relaksasi, pengurangan stres, dan
biofeedback sangat membantu. Penggunaan bidai atau penahan
(braces) memberikan dukungan ekstra pada otot yang lemah.
Mereka juga menjaga persendian pada posisi yang benar
selama tidur maupun beraktivitas. Bidai hanya dipakai untuk
masa terbatas sebab otot membutuhkan latihan untuk mencegah
kekakuan dan kelemahan.
e. Pengendalian berat badan
Kelebihan berat badan meningkatkan beban biomekanik
pada sendi penyangga berat. Pengurangan berat badan
dikaitkan

dengan

pengurangan

simtom

dan

kecacatan.

Penurunan 2,5 kg dapat menurunkan tekanan biomekanik pada


sendi penyangga beban. Diet yang sehat dan olahraga akan
sangat membantu.7
f. Pembedahan

25

Terapi ini diberikan apabila terapi farmakologis tidak


berhasil, untuk mengurangi rasa sakit, dan juga untuk
melakukan koreksi apabila terjadi deformitas sendi yang
mengganggu aktivitas sehari-hari.5

26

DAFTAR PUSTAKA
1. Carter MA. Osteoarthritis. 2007. In: Price SA, Wilson LM. Patofisiologi,
konsep klinis proses proses penyakit, Volume 2 Edisi 6. Jakarta : EGC.
2. Isbagio H. 2000. CDK: Struktur rawan sendi dan perubahannya pada
osteoartritis. Cermin Dunia Kedokteran.
3. Felson DT. 2006. Osteoarthritis of the knee. NEJM; 354: 841-848.
4. Soeroso J, Isbagio H, Kalim H, Broto R, Pramudiyo R. Osteoarthritis. 2009. In:
Sudoyo AW, Setiyohadi B, Alwi I, Simardibrata MK, Setiati S, editors.
Buku ajar ilmu penyakit dalam. 5th edition. Jakarta: Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI. p. 2538 49.
5. Dieppe P. Osteoarthritis, a clinical features. 2008. In: Klippel JH, Stone JH,
Crofford LJ, White PH, editors. Primer on the rheumatic diseases. 13th ed.
New York: Springer Science & Business Media LLC. p.224-8.
6. Hansen KE dan Elliot ME. 2005. Osteoarthritis, Pharmacotherapy, A
Pathophysiological Approach, McGraw-Hill. USA.
7. Barrack L, Booth E, et al. 2006. OKU : Orthopaedic knowledge update 3. Hip
and Knee Reconstruction Chapter 16 : Osteoarthritis dan Arthritis
Inflamatoric.

27