Anda di halaman 1dari 16

Makalah Manajemen Ternak Perah

Manajemen Peralatan dan Perkandangan Sapi Perah Modern dan


Tradisional di Indonesia
Disusun Oleh :
Kelompok 8
Kelas D
Wagia Muhammad

200110120186

Sri Sulastri

200110120190

Siti Sarah Nurul U

200110120191

Vita Dayanti

200110120194

SyifaLaili M

200110120221

Yoga Ardiansyah

200110120223

Rizka Diannika S

200110120226

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2014

I
PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Manajemen suatu perusahaan peternakan sapi perah penting untuk

diketahui oleh orang-orang yang berkecimpung dalam dunia peternakan


khususnya peternakan sapi perah. Ternak sapi perah memegang peranan penting
dalam penyediaan gizi bagi masyarakat. Produk utama yang dihasilkan dari ternak
sapi perah adalah susu. Selain itu kualitas susu tergantung dari lingkungan
pemerahan. Pemerahan susu pada sapi perah memiliki prospek yang perlu
diperhatikan, tata laksana perkandangan yang sesuai menjadi suatu perhatian
untuk pelaksanaan manajemen peternakan sapi perah. Selain itu, perlu
diperhatikan konstruksi kandang yang baik dan benar.
Kandang ternak memiliki peranan yang sangat penting didalam usaha
pengolahan ternak perah. Dengan adanya kandang pengaruh lingkungan yang
kurang menguntungkan bagi peternakan sedikitnya dapat denetralisir melalui
konstruksi kandang yang tepat. Meskipun kebutuhan kandang sapi perah di negara
iklim tropis lebih sederhana bila dibandingkan dengan negara sub tropis yang
lebih dingin, sehingga di negara tropis kandang tetap dibutuhkan untuk
melindungi ternak pada malam hari, panas terik sinar matahari, dan hujan lebat
juga mempermudah pemeliharaan. Bangunan yang sederhana cukup dibangun
kandang pedet, sapi dara dan sapi dewasa untuk menjaga ternak dari binatang
predator.
Tata laksana perkandangan khususnya di Indonesia memiliki keragaman,
sehingga perlu adanya pengetahuan mengenai manajemen perkandangan tersebut
dalam meningkatkan usaha sapi perah yang lebih praktis dan effisien secara
menejemen, serta dapat membangun perkandangan sapi perah yang sesuai dengan
kondisi di Indonesia.
1.2

Maksud dan Tujuan


-

Mengetahui peralatan dan perkandangan sapi perah modern di


Indonesia

Mengetahui peralatan dan perkandangan sapi perah tradisional di


Indonesia

II
TINJAUAN PUSTAKA
Kandang sapi perah adalah tempat sapi dapat beristirahat dengan tenang
memberi perlindungan bagi sapi maupun pekerjanya, terhindar dari air hujan,
angin kencang dan teriknya sinar matahari. Dengan perkataan lain, kandang harus
dapat mengeliminer segala faktor luar yang dapat menimbulkan gangguan sapi
perah yang ada di dalamnya. Di samping faktor luar tadi, hal-hal lainnya yang
menyangkut pembuatan kandang perlu pula diperhatikan (Siregar, 1995).
Kandang berfungsi sebagai tempat tinggal sapi dan pekerja peternakpeternak yang mengurus sapi setiap hari. Saran pokok yang langsung maupun
tidak langsung turut menentukan berhasil tidaknya usaha sapi perah, tempat yang
memberi kenyamanan dari alam misalnya hujan, angin dan udara dingin sehingga
merupakan tempat pengawasan kesehatan ternak sapi perah (Syarief dan
Sumoprastowo, 1984).
Penempatan kandang disesuaikan dengan arus angin, hal ini untuk
mengantisipasi terjadinya kontaminasi dan penularan penyakit, untuk itu tata letak
kandang yang ditempati ternak muda yang ditempat ternak yang telah dewasa
(bagian hilir) dan jarak antara bangunan sejenis 5-10 m, dan jarak antar bangunan
tidak sejenis 10-15 m (Siregar, 1995).
Lantai harus rata, kasar dan tidak tembus air, cepat kering dan dapat tahan
lama, untuk kemiringan lantai maka tiap panjang 1 m turun 1 cm. Letak lantai
harus miring kira-kira 10-15 derajat kearah selokan (Syarief dan Sumoprastowo,
1984) ditambahkan oleh Siregar (1995) bahwa kemiringan lantai kandang 1 cm
per 2 m2(0,50).
Saat ini telah tercipta alat-alat peternakan yang sangat membantu tugastugas peternak. Dengan alat tersebut tugas-tugas peternak menjadi terkurangi dan
dapat terselesaikan dengan waktu yang lebih cepat (Blakely dan Bade, 1985).
1. Halter
Merupakan alat untuk membantu pelaksanaan handling, dengan bentuk
seperti rantai dan ikat pinggang yang terbuat dari besi dan kulit. Alat ini

dipasangkan dibagian muka ternak seperti pemakaian ikat pinggang (Blakely


dan Bade, 1998).
2. Branding
Merupakan alat identifikasi dengan dua macam yaitu cap menggunakan
besi panas (hot branding) dan besi beku (freeze branding). Hot branding,
dengan cara memanaskan besi kode dan dicap pada tubuh ternak selama lima
detik. Freeze branding, yakni menggunakan besi tembaga yang disimpan
didalam es kering (N cair) 196 C. Kulit yang akan dicap dicukur dan besi
ditempelkan selama 30 detik (Blakely dan Bade, 1998).
3. Tatah dan Palu
Merupakan alat untuk pemeliharaan, berguna untuk memotong kuku
(Blakely dan Bade, 1998).
4. Pemotong Kuku Sapi
Alat ini digunakan untuk pemeliharaan dengan ukuran relatif besar dan
kurang ekonomis (Blakely dan Bade, 1998).
5. Neck Chain
Merupakan alat dari plastik atau logam berupa untaian rantai dan diberi
kode dengan mengalungkan pada ternak (Siregar, 1995).
6. Tatto Tang
Merupakan alat identifikasi berupa tang yang pada penjepitnya terdapat
jarum atau semacam paku dengan pola tertentu berupa angka atau huruf. Alat
ini dijepitkan pada telinga dan bekas luka diolesi tinta (Siregar, 1995).
7. Ankle Strap
Alat identifikasi terbuat dari kulit yang dipasang dipergelangan kaki ternak
(Blakely dan Bade, 1998).
8. Tatto

Merupakan cara untuk memberi ciri atau nomor pada sapi melalui
penusukan kulit dengan alat seperti jarum kemudian bekas luka diolesi tinta.
Ukuran tinggi huruf atau angka tatto antara 0,6-1,25 cm. Tinta berupa tinta
Cina atau khusus. Tatto dibuat di daerah yang berwarna terang dan waktu
terbaiknya saat beberapa hari setelah sapi lahir (Siregar, 1995).
9. Ear Tag Sapi
Alat identifikasi dengan dipasang di telinga sapi. Bentuk seperti anting
dari logam atau plastik (Blakely dan Bade, 1998).
10. Ear Tag Tang
Merupakan alat untuk memasang ear tag. Ear tag dipasang pada tang lalu
dijepitkan pada telinga ternak (Blakely dan Bade, 1998).
11. Ear Notch Tang
Alat untuk merobek daun telinga dengan pola tertentu untuk identifikasi
(Blakely dan Bade, 1998).
12. Bordizzo
Merupakan

alat

untuk

kastrasi.

Bentuknya

seperti

catut

untuk

menghancurkan pembuluh saluran air mani, sehingga testis akan mengecil dan
tidak menghasilkan sperma (Sarwono, 1997).
13. Mistar Ukur
Alat ini terbuat dari besi untuk mengukur panjang badan absolut, panjang
badan relatif, tinggi gumba dan sebagainya (Blakely dan Bade, 1998).
14. Pita Ukur
Merupakan alat bantu dalam penafsiran berat badan yang terbuat dari
plastik dengan skala inchi dan cm (Siregar, 1995).
15. Mastitis Detector

Alat ini untuk mendeteksi penyakit mastitis yang berbentuk teropong


hitam dengan cara memasukkan sampel susu dan diamati (Blakely dan Bade,
1998).
16. Pita Ukur Korelasi
Alat berupa pita yang terdiri dari ukuran panjang dan berat badan untuk
mengukur lingkar dada dan untuk mengetahui berat badannya. Pita ukur
korelasi antara lain Dairy Cow Weighting Tape (DWT) danSwine Weight
Tape (Williamson dan Payne, 1993).
17. Heat Mount Detector
Alat yang digunakan untuk mendeteksi birahi yang dipasang di punggung
ternak betina (Williamson dan Payne, 1993).
18. Timbangan Ternak
Alat yang digunakan untuk menimbang ternak (Williamson dan Payne,
1993).
19. Mesin Perah Otomatis
Mesin ini menggunakan suatu tekanan negatif atau hampa untuk
mengeluarkan susu dan mengurut ambing. Pemerahan menggunakan dua
sistem hampa udara yaitu hampa kontinu dan hampa kering (Blakely dan
Bade, 1998).
20. Tail Tag, Flank Tag dan Brisket Tag
Merupakan alat identifikasi dengan pemakaian masing-masing berurutan
yakni dikenakan pada ekor sapi, paha sapi dan perut sapi yang berbentuk
sabuk (Williamson and Payne, 1993).

III
PEMBAHASAN

3.1

Pengertian Kandang
Kandang adalah bangunan sebagai tempat tinggalnya ternak yang

bertujuan untuk melindungi dari berbagai gangguan. Disamping melindungi dari


gangguan yang datang dari luar dan tentu saja merugikan seperti : hujan, angin,
terik matahari, binatang buas dan lain-lain, kandang juga dibutuhkan untuk
memudahkan peternak dalam melakukan pengelolaan ternaknya. Kandang yang
baik harus memberikan kenyamanan pada ternaknya. Dengan kenyamanan, akan
membuat ternak dapat mencapai produksi yang optimal.
Kandang dapat dibuat dalam bentuk ganda atau tunggal, tergantung dari
jumlah sapi yang dimiliki. Pada kandang tipe tunggal, penempatan sapi dilakukan
pada satu baris atau satu jajaran. Sedangkan kandang yang bertipe ganda,
penempatannya dilakukan pada dua jajaran yang saling berhadapan atau saling
bertolak belakang. Diantara kedua jajaran tersebut biasanya dibuat jalur untuk
jalan.
3.2
3.2.1

Persyaratan Untuk Membangun Kandang Sapi Perah


Syarat Pendirian Kandang

Kandang didirikan dengan memperhatikan persyaratan sebagai berikut:


1.

Luas kandang cukup. Luas kandang disesuaikan dengan jumlah sapi perah

2.

yang dipelihara.
Alas kandang padat dan tidak terlalu keras. Jika perlu kandang dilapisi alas

3.

tidur jerami.
Ventilasi kandang berfungsi dengan baik. Udara masuk dan keluar
kandang dengan lancar. Hindarkan angin bertiup langsung ke arah sapi

4.
5.

perah.
Kandang harus terang. Usahakan matahari pagi masuk ke dalam kandang.
Kandang selalu kering dan bersih. Peternak sebaiknya lebih

6.

memperhatikan lagi keadaan ini.


Kandang dan sekitarnya tetap tenang dan aman. Hindarkan gangguan yang
mungkin timbul di kandang.

Konstruksi kandang sebaiknya memperhatikan persyaratan pembuatan kandang


ditambah dengan beberapa hal lain. Hal tambahan itu terlihat sebagai berikut:

1.

Lantai miring ke arah saluran pembuangan dan tidak licin. Dengan


demikian, kotoran kandang mudah dibersihkan dengan air dan tidak ke
got. Selain itu, kebersihan kandang selalu terjaga. Kemiringan lantai
hendaknya sebesar 5 atau 0,5% dan 2% masing-masing untuk kandang

2.

sapi laktasi dan dara.


Bahan-bahan kandang tidak mempersukar kerja, pembersihan kandang dan

3.

pembasmian parasit.
Konstruksi kandang

di

dataran

tinggi

dan

rendah

sebaiknya

memperhatikan temperatur udara yang terjadi di dalam kandang.


3.2.2

Lokasi Kandang
Kandang sebaiknya terletak pada tempat yang lebih tinggi dari lahan

sekitarnya. Lantai kandang dibuat 20 sampai 30 cm lebih tinggi dari lahan


sekitarnya. Dengan demikian, drainase kandang dapat dibuat lebih baik. Selain
itu, pasokan air juga sangat diutamakan. Kandang dibangun di dekat sarana
transportasi. Dengan demikian, bahan pakan mudah diangkut ke peternakan.
Bagian penjualan yang berhubungan dengan kandang terutama dianjurkan dekat
jalan raya.
3.2.3

Jarak Kandang
Kandang-kandang sebaiknya dibangun dengan jarak 6 sampai 8 meter

yang dihitung dari masing-masing tepi atap kandang. Kandang isolasi dan
karantina dari kandang atau bangunan lainnya diberi jarak 25 m atau sekurangkurangnya 10 m dengan tinggi tembok pembatas 2 m. Kantor berjarak 25 hingga
30 m dari kandang. Tempat penimbunan kotoran terletak 100 m dari kandang.

3.2.4

Rumah dan Banguan Lain


Rumah peternakan dibangun agar dapat memperhatikan leluasa ke

segala arah. Letak rumah paling sedikit 30 m dari jalan raya. Kandang dan
bangunan lainnya terletak di samping atau belakang rumah peternak berjarak
minimal 30 m. Lahan antara rumah dan kandang disebut daerah layan. Rumah
atau kamar susu dibuat di sisi kandang pada daerah layan. Bangunan lain

dikelompokkan ke daerah ini dan jika mungkin terletak jauh dari kandang
utama. Letak bangunan diatur berdasarkan urutan kegiatan dan efisiensi kerja di
petenakan sapi perah. Kandang utama adalah kandang sapi perah.
3.2.5

Temperatur
Temperatur di sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C)

dan kelembaban 75%. Lokasi pemeliharaan dapat dilakukan pada dataran


rendah (100-500 m) hingga dataran tinggi (> 500 m).
3.3

Jenis Kandang Sapi Perah di Indonesia

Menurut Ambo Ako (2012) jenis kandang sapi perah yang dikenal di Indonesia
adalah sebagai berikut:
3.3.1

Kandang sapi dewasa (sapi laktasi)


Ukuran kandang 1,75 x 1,2 m, masing-masing dilengkapi tempat

makan dan tempat air minum dengan ukuran masing-masing 80 x 50 cm dan


50 x 40 cm. Kandang sapi dewasa dapat juga dipakai untuk sapi dara.
3.3.2

Kandang pedet
Kandang pedet ada 2 macam yaitu individual dan kelompok. Untuk

kandang individual sekat kandang sebaiknya tidak terbuat dari tembok supaya
sirkulasi udara lancar, tinggi sekat + 1 m. Ukuran kandang untuk 0 4 minggu
0,75 x 1,5 m dan untuk 4 8 minggu 1 x 1,8 m. Pada kandang kelompok
adalah untuk anak sapi yang telah berumur 4 8 minggu dengan ukuran 1
m2/ekor dan pada umur 8 12 minggu 1,5 m2/ekor dengan dinding setinggi 1
m. Dalam satu kelompok sebaiknya tidak dari 4 ekor. Tiap individu harus
dilengkapi tempat makan dan tempat air minum.
3.3.3

Kandang pejantan
Sapi pejantan pada umumnya dikandangkan secara khusus. Ukuran

lebih besar dari pada kandang induk dan konstruksinya lebih kuat. Bentuk
yang paling baik untuk kandang pejantan adalah kandang yang berhalaman
atau Loose Box. Lebar dan panjang untuk kandang pejantan minimal 3 x 4 m

dengan ukuran halaman 4 x 6 m. Tinggi atap hendaknya tidak dijangkau sapi


yaitu 2,5 m, tinggi dinding kandang dan pagar halaman 180 cm atau paling
rendah 160 cm. Lebar pintu 150 cm dilengkapi dengan beberapa kayu
penghalang. Pagar halaman terbuat dari tembok setinggi 1 m, di atasnya
dipasang besi pipa dengan diameter 7 cm, disusun dengan jarak 20 cm. Lantai
kandang dibuat miring ke arah pintu, perbedaan tinggi paling tidak 5 cm.
Lantai halaman lebih baik dari beton. Perlengkapan lain yang diperlukan sama
seperti pada kandang yang lain. Pemberian ransum harus dilakukan dari luar
kandang/dinding demi untuk keamanan.
3.3.4

Kandang kawin
Tempat kawin dibuat pada pada bagian yang berhubungan dengan

pagar halaman kandang pejantan yang diatur dengan pintu-pintu agar


perkawinan dapat berlangsung dengan mudah dan cepat. Ukuran kandang
kawin; panjang 110 cm, lebar bagian depan 55 cm, lebar bagian belakang 75
cm, tinggi bagian depan 140 cm dan tinggi bagian belakang 35 cm. Bahan
kandang kawin sebaiknya digunakan balok berukuran 20 x 20 cm. Tiang balok
ditanam ke dalam tanah sedalam 50 60 cm dan dibeton supaya kokoh.
3.3.5

Kandang isolasi / Kandang darurat


Kandang ini dibangun sebagai tempat pengobatan sapi yang sakit.

Pada tempat ini sapi yang sakit dapat diobati dengan mudah dan sapi tidak
sukar ditangani. Ukuran kandang yaitu; panjang 150 cm, lebar 55 cm dan
tinggi 150 cm. Letaknya terpisah dengan kandang sapi yang sehat dengan
tujuan penyakit tidak mudah menular.
3.3.6

Kandang melahirkan
Ukurannya 6 x 6 m, perlengkapannya sama dengan kandang sapi

dewasa. Lantainya miring ke arah pintu tiap 1 m turun 1 cm dan dibuat kasar.
Sebaiknya kandang melahirkan ini tidak dekat dengan kandang pedet. Selokan
pembuangan terpisah dari selokan kandang dewasa. Sudut-sudut dinding
dibuat melengkung agar mudah dibersihkan.

Menurut Sutarno (1994) dalam Sariislamia (2011) menyatakan bahwa


jenis kandang untuk sapi perah ada tiga yaitu kandang laktasi tunggal, kandang
laktasi ganda dan kandang pedet. Kandang berfungsi untuk melindungi sapi dari
cuaca buruk, hujan, panas matahari serta keamanan dari gangguan binatang buas
dan pencurian. Bangunan kandang didasarkan pada keperluan usaha sapi perah,
dan pembangunannya ditujukan untuk mengurangi penggunan waktu dalam
pemeliharaan, efisiensi kerja dan tenaga kerja. Besar bangunan harus disesuaikan
dengan rencana jumlah ternak yang akan dipelihara dalam keadaan iklim
setempat. Hal yang perlu diperhatikan dalam pembangunan kandang adalah
cahaya matahari, ventilasi, letak kandang, parit.
Macam-macam kandang sapi perah antara lain kandang pedet dan kandang
sapi induk. Kandang pedet dibedakan menjadi kandang observasi (observasi
pens), kandang individu (individual pans), kandang kelompok (group pens),
kandang pedet berpindah (portable calf pens). Kandang sapi induk atau sapi dara
antara lain kandang tambat (stanchion bain), pada kandang ini kebebasan sapi
bergerak sangat terbatas, sehingga kondisi sapi kurang baik.
Kandang tunggal atau satu lantai dilihat dari penempatan sapi dibedakan
menjadi satu baris atau lebih dari satu baris. Jenis kandang yang lain yaitu
kandang lepas yang merupakan sistem kandang yang memberi kesempatan sapi
bebas karena tidak ditambat. Kandang ini terdiri dari kandang lepas sistem loose
housing merupakan kandang sapi perah yang sapinya tidak ditambat, bagian
kandang ini terdiri dari ruang tempat istirahat, tempat peranginan dan tempat
penyimpanan makanan, tempat memerah dengan mesin dan tempat sapi kering
Menurut Ade (2013) menyatakan bahwa ada beberapa jenis kandang untuk
pembibitan sapi perah di Satker Pagerkukuh. Kandang Induk baik saat bunting,
laktasi, induk siap kawin maupun kering masih bersatu, hanya saja
dikelompokkan sesuai dengan kondisi masing-masing ternak, sehingga setiap saat
dilakukan pergeseran tempat ternak dalam satu kandang. Kandang Induk
berkapasita + 50 ekor sedangkan sapi dara dipisahkan dari kelompok induk dan
ditempatkkan dalam kandang tersendiri dengan kapasitas + 25 ekor. Untuk pedet
yang beru lahir segera dipisahkan dari induknya dan ditempatkan dalam kandang

khusus pedet yang berkapasitas + 10 ekor dalam kandang bersekat individu


dengan luas + 3 - 5 m2/ekor.
3.4

Perkandangan Sapi Perah Modern di Indonesia


Sebelum sapi diperah susunya, sapi mesti dipelihara dalam kondisi terbaik.

Model kandang modern yang telah diterapkan di Indonesia tepatnya di Greenfield


Malang adalah tipe kandang terowongan atau tunnel room yang merupakan
kandang semi closed house. Pada kandang model ini, arus udara diatur sehingga
bisa di manipulasi atau dikontrol suhunya yang ada di dalam.
Konstruksi kandang ini memang dinding di satu sisi ditutup, dinding yang
satu sisi dibuka, di belakang diberi kipas besar. Sejumlah 50 kipas besar tersebut
berfungsi sebagai penyedot udara, sehingga udara terasa dingin dan bau kotoran
dapat diminimalisir karena bau tersebut langsung dipindahkan ke ruangan nasi.
Kandang khusus yang disebut tunnel room ini diistimewakan untuk sapi
yang sudah kawin. Suhu di dalam ruangan ini bisa mencapai 200C dengan
kecepatan angin di dalam ruangan sekitar 12-15 km per jam. Dari sekian banyak
kandang yang ada di peternakan ini memang masih satu kandang tunnel room ini
yang akan diperbanyak jumlahnya, yang lain masih kandang terbuka. Di kandangkandang tersebut di atas yang merupakan kandang bebas, sapi bisa berkeliaran
bebas, pakan ada, tidur, tempat minum, birahi boleh.
3.4.1 Perlakuan Pada Sapi
Sapi diperah dalam tiga kali sehari. Perlakuan lainnya yaitu, sapi yang
belum kawin diberi kandang dengan alas gergaji kayu yang kehangatan baik
saat siang maupun malam hari. Bahan gergajian kayu ini menyerap air kencing
sapi sehingga tidak mengotori lantai, dan bila ada kotoran, petugas mudah
mengambil dan membersihkan. Serbuk gergaji kayu ini dua bulan sekali diganti
dan bisa langsung dipakai untuk pupuk kompos.
Untuk alas, dipakai pasir yang telah disaring sehingga menghasilkan
butiran pasir halus yang mudah mengikuti kontur tubuh sehingga memberikan
kenyamanan khususnya saat tidur. Jika sapi tidur di lantai tanpa alas, sapi

tersebut bisa kedinginan sehingga produksi susu kurang maksimal. Hal tersebut
dapat terjadi karena lokasi kandang yang berada di atas pegunungan.
3.4.2 Peralatan Perkandangan
Air minum yang bersih harus tersedia setiap saat. Tempat pakan dan
minum sebaiknya dibuat di luar kandang tetapi masih di bawah atap. Tempat
pakan dibuat agak lebih tinggi agar pakan yang diberikan tidak diinjak-injak
atau tercampur dengan kotoran. Sementara tempat air minum sebaiknya dibuat
permanen berupa bak semen dan sedikit lebih tinggi daripada permukaan lantai.
Dan, yang tidak kalah pentingnya, jangan lupa sediakan pula peralatan untuk
memandikan sapi.
Seluruh bagian kandang dan peralatan yang pernah dipakai harus
disterilkan terlebih dahulu. Pensterilan dilakukan dengan menggunakan
desinfektan, seperti creolin, lysol, dan bahan-bahan lainnya. Pada pengolahan
limbah, kotoran ternak harus ditimbun atau dipindahkan di tempat lain agar
mengalami proses fermentasi (1-2 minggu) dan berubah menjadi pupuk kandang
yang sudah matang dan baik.
3.5

Perkandangan Sapi Perah Tradisional di Indonesia


Kandang sapi perah rakyat di pedesaan umumnya menggunakan bangunan

yang sudah ada. Misalnya bekas dapur atau bangunan lain yang sudah tidak lagi
digunakan. Hal ini tentu saja dengan kondisi seadanya sehingga baik lokasi, arah
maupun kebersihan kandang tidak memenuhi persyaratan.

III
KESIMPULAN

Kandang sapi perah adalah tempat sapi dapat beristirahat dengan tenang
memberi perlindungan bagi sapi maupun pekerjanya, terhindar dari air
hujan, angin kencang dan teriknya sinar matahari.

Kandang sapi perah rakyat di pedesaan umumnya menggunakan bangunan


yang sudah ada. Misalnya bekas dapur atau bangunan lain yang sudah
tidak lagi digunakan. Hal ini tentu saja dengan kondisi seadanya sehingga
baik lokasi, arah maupun kebersihan kandang tidak memenuhi
persyaratan.

Kandang didirikan dengan memperhatikan persyaratan sebagai berikut:


Luas kandang cukup, alas kandang padat dan tidak terlalu keras, ventilasi
kandang berfungsi dengan baik, kandang harus terang, kandang selalu

kering dan bersih, kandang dan sekitarnya tetap tenang dan aman.
Kandang sebaiknya terletak pada tempat yang lebih tinggi dari lahan
sekitarnya, kandang-kandang sebaiknya dibangun dengan jarak 6 sampai 8
meter yang dihitung dari masing-masing tepi atap kandang, temperatur di
sekitar kandang 25-40 derajat C (rata-rata 33 derajat C) dan kelembaban

75%.
Ada beberapa jenis kandang sapi perah di Indonesia, yaitu Kandang sapi
dewasa (sapi laktasi), Kandang pedet, Kandang pejantan, Kandang kawin,
Kandang isolasi / Kandang darurat dan Kandang melahirkan (Ambo Ako,
2012)

DAFTAR PUSTAKA
Ade, A. 2013. Pembibitan Sapi Perah. http://azisadeaja.blogspot.com/ Diakses
pada tanggal 19 Oktober 2014

Ambo Ako. 2012. Ilmu Ternak Perah Daerah Tropis. IPB Press. Bogor.
Blakely. J and Bade. 1985. Ilmu Peternakan. Gadjah Mada University Press
Yogyakarta.
Blakely. J and Bade. 1998. Ilmu Peternakan. Edisi Keempat. UGM Press
Yogyakarta.
Farhan. 2008. Beternak Sapi Perah. http://caraberternak.com/cara-beternak-sapiperah/. Diakses pada tanggal 19 Oktober 2014
http//www.Greenfieldsmilk.com diakses pada tanggal 19 Oktober 2014
Rismanismail2.wordpress.com/2012/01/15/persyaratan-pembuatan-dantataletak-kandang/ Diakses pada tanggal 19 Oktober 2014
Rohmad. 2011. Pemeliharaan Sapi Perah. http://www.rohmad.com/2011/11/
meraup-untung-dari-sapi-perah.html. Diakses pada tanggal 19 Oktober
2014
Sarwono, B. 1997. Beternak Kambing Unggul. Penebar Swadaya: Jakarta.
Siregar, S.M.S. 1995. Sapi Perah, Jenis Pemeliharaan dan Analisis Usaha.
Penebar Swadaya: Jakarta.
Syarief, M. dan Sumoprastowo C.D.A. 1984. Ternak Perah. Edisi Kedua. CV
Yasaguna: Jakarta.
Williamson, G and W.J.A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan di Daerah Tropis.
Gadjah Mada University Press. Yogyakarta.
Sariislamia. 2011. Jenis dan Tata Cara Pemeliharaan Sapi Perah.
http://angginasarisalmi.wordpress.com/ 2011 /01 / 25 / ppkh- jenisdan-tata-cara-pemeliharaan-sapi-perah/. Diakses pada tanggal 19
Oktober 2014