Anda di halaman 1dari 24

MAKALAH PRODUKSI TERNAK PERAH

PERKANDANGAN SAPI PERAH

Oleh :
Kelas : C
Kelompok : 4

DIAN ANGGRAINI

200110140060

REZA TAUFIK H

200110140062

IMAN KUSUMA W

200110140126

ELSA SALSABILLA

200110140136

LULU INTAN A

200110140137

KIKI KURNIAWATI

200110140138

RISNA ROSDIANA

200110140139

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2016

I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Kandang merupakan rumah tempat tinggal bagi hewan budidaya tempat
mereka memerlukan tempat yang nyaman dan menghabiskan waktu untuk
tumbuh, berkembang secara wajar, normal dan sehat serta untuk melindungi dari
berbagai gangguan yang datang dari luar seperti hujan, angin, terik matahari,
binatang buas dan lain-lain, kandang juga dibutuhkan untuk memudahkan
peternak dalam melakukan pengelolaan ternaknya. Perencanaan kandang yang
kurang praktis dalam pengaturan alur sistematika bangunan dan fasilitas yang lain
dapat berakibat pada penambahan tenaga atau waktu kerja yang berdampak pada
penambahan beban biaya yang tidak perlu atau bahkan pemborosan sehingga akan
mengurangi keuntungan peternak.
Pada dasarnya kandang harus memenuhi syarat kesehatan, keamanan dan
kenyamanan. Hal ini bertujuan agar ternak tersebut dapat mencapai produksi yang
optimal. Indonesia adalah negara tropis sehingga kandang sapi perah memerlukan
atap yang bisa memberikan perlindungan dari teriknya sinar matahari dan curahan
air hujan yang lebat sehingga diperlukan atap dan dinding pelindung yang
memadai serta aman dari tiupan angin kencang. Untuk didaerah pegunungan
diharapkan dapat melindungi dari dinginnya cuaca di malam hari. Maka dari itu,
dalam makalah akan membahas mengenai sistem perkandangan yang baik untuk
sapi perah.
1.2. Rumusan Masalah
1. Apa pengertian dari perkandangan.

2. Apa saja landasan hukum yang berhubungan dengan pembangunan


perkandangan pada sapi perah.
3. Bagaimana tata letak bangunan perkandangan pada sapi perah.
4. Apa saja macam-macam perkandangan pada sapi perah.
5. Bagaimana model perkandangan tradisional dan modern pada sapi perah.
6. Bagaimana model perkandangan sapi perah yang cocok di Indonesia (daerah
tropis).
1.3 Tujuan Dan Manfaat
1. Mengetahui pengertian perkandangan.
2. Mengetahui landasan hukum yang berhubungan dengan pembangunan
perkandangan pada sapi perah.
3. Mengetahui tata letak bangunan perkandangan pada sapi perah.
4. Mengetahui macam-macam perkandangan pada sapi perah.
5. Mengetahui model perkandangan tradisional dan modern pada sapi perah.
6. Mengetahui model perkandangan sapi perah yang cocok di Indonesia
(daerah tropis).

II
KAJIAN KEPUSTAKAAN
2.1 Perkandangan
Kandang adalah tempat tinggal ternak untuk melakukan kegiatan produksi
maupun reproduksi dari sebagian atau seluruh kehidupannya (Sudarmono, 1993).
Perkandangan merupakan suatu lokasi atau lahan khusus yang diperuntukkan
sebagai sentra kegiatan peternakan yang di dalamnya terdiri atas bangunan utama
(kandang), bangunan penunjang (kantor, gudang pakan, kandang isolasi) dan
perlengkapan lainnya (Syarif dan Harianto, 2001). Perkandangan merupakan
kompleks tempat tinggal ternak dan pengelola yang digunakan untuk melakukan
kegiatan proses produksi dari sebagian atau seluruh kehidupannya dengan segala
fasilitas dan peralatannya. Kandang didirikan untuk melindungi ternak dari hujan
dan sengatan sinar matahari yang dapat mempengaruhi pertumbuhan dan
kesehatannya. Keseimbangan energi dari hewan sangat dipengaruhi oleh suhu
pertukaran di dalam kandang, kelembaban, makanan, kebasahan, kelembaban
lantai kandang dan ketebalan kulit dari hewan itu sendiri (Sudarmono, 1993).
Pembuatan kandang sapi perah diperlukan beberapa persyaratan, yaitu
terdapat ventilasi, memberikan kenyamanan sapi perah, mudah dibersihkan, dan
memberi kemudahan bagi pekerja kandang dalam melakukan pekerjaannya
(Siregar,1993). Lokasi kandang harus dekat dengan sumber air, mudah terjangkau,
tidak membahayakan ternak, tidak berdekatan dengan pemukiman penduduk.
Lokasi usaha peternakan diusahakan bukan area yang masuk dalam daerah
perluasan kota dan juga merupakan daerah yang nyaman dan layak untuk
peternakan sapi perah (Syarief dan Sumoprastowo, 1990). Ditambahkan, hal-hal
lain yang perlu diperhatikan pada kandang sapi perah adalah lantai, selokan,
dinding, atap, ventilasi serta tempat pakan dan minum. Lokasi kandang sebaiknya
berada pada tanah yang datar, tidak becek dan lembab, cukup sinar matahari,

ventilasi lancar, agak jauh dari pemukiman penduduk dan ukurannya sesuai
dengan umur ternak (Siregar, 1993).
Menurut Siregar (1993), sebaiknya kandang 20-30 cm lebih tinggi dari tanah
sekitarnya, jauh dari keramaian lalu lintas, manusia dan kendaraan. Kandang
harus dibangun dekat sumber air, sebab sapi perah memerlukan air untuk minum,
pembersihan lantai dan memandikan sapi. Kandang sebaiknya diarahkan ke timur
atau membujur ke utara selatan agar bagian dalam kandang memperoleh sinar
matahari pagi yang memadai. Sinar matahari bermanfaat untuk mengeringkan
lantai kandang sehingga mengurangi resiko terjangkitnya penyakit (Siregar,
1993). Sistem perkandangan ada dua tipe yaitu stanchion barn dan loose house.
Stanchion barn yaitu sistem perkandangan dimana hewan diikat sehingga
gerakannya terbatas sedangkan loose house yaitu sistem perkandangan dimana
hewan dibiarkan bergerak dengan batas batas tertentu (Davis, 1962).
2.2 Konstruksi Kandang
Konstruksi kandang harus kuat, mudah dibersihkan, mempunyai sirkulasi
udara yang baik, tidak lembab, tidak menyebabkan licin dan mempunyai
tempat

penampungan

kotoran

beserta

saluran

drainasenya.

Konstruksi

kandang harus mampu menahan beban benturan dan dorongan yang kuat dari
ternak, serta menjaga keamanan ternak dari pencurian. Mendesain konstruksi
kandang harus didasarkan agroekosistem wilayah setempat, tujuan pemeliharaan
dan status fisiologi ternak. Tipe dan bentuk kandang dibedakan menjadi
berdasarkan status fisiologis

ternak. Tipe dan Bentuk kandang dibedakan

berdasarkan status fisiologis dan pola pemeliharaan dibedakan yaitu kandang


pembibitan,

pembesaran,

kandang

beranak/menyusui,

kandang

pejantan

(Williamson dan Payne, 1993). Atap kandang bisa berupa genting atau asbes.
Ketinggian atap setinggi 5 meter agar sirkulasi udara berjalan dengan baik.
Dinding kandang berupa semen setinggi 1,5 meter sedangkan bagian atasnya

terbuka. Fungsinya untuk mencegah terpaan angin langsung mengenai sapi.


Sedangkan alas berupa tanah yang dilapisi semen agar mudah dalam
membersihkannya (Syarief dan Sumoprastowo, 1990).
2.3 Macam-Macam Kandang Sapi Perah
Macam-macam kandang sapi perah antara lain kandang pedet dan kandang
sapi induk. Kandang pedet dibedakan menjadi kandang observasi (observasi
pens), kandang individu (individual pans), kandang kelompok (group pens),
kandang pedet berpindah (portable calf pens) (Sutarno, 1994). Kandang sapi
induk atau sapi dara antara lain kandang tambat (stanchion bain), pada kandang
ini kebebasan sapi bergerak sangat terbatas, sehingga kondisi sapi kurang baik.
Kandang ini ada dua jenis yaitu kandang bertingkat dan kandang tunggal atau satu
lantai, dengan tujuan mengurangi resiko angin topan, mengurangi resiko
kebakaran, murah dan membuatnya, serta mudah perawatannya (Sutarno, 1994).

III
PEMBAHASAN

3.1 Pengertian Perkandangan


Perkandangan merupakan kompleks tempat tinggal ternak dan pengelola
yang digunakan untuk melakukan kegiatan proses produksi dari sebagian atau
seluruh kehidupannya dengan segala fasilitas dan peralatannya. Perkandangan
juga dapat diartikan sebagai tempat tinggal ternak untuk melakukan kegiatan
produksi maupun reproduksi dari sebagian atau seluruh kehidupannya. Pada
perkandangan sapi perah yang dirancang untuk hidupnya didalam proses usaha
pembibitan dan produksi susu pada suatu periode tertentu, mulai dari pedet, sapi
dara dan sapi dewasa secara baik, aman, sehat, dan cukup pergerakan, sehingga
sapi dapat hidup secara leluasa produktif dan masa hidupnya lebih panjang.
3.2 Landasan Hukum Yang Berhubungan Dengan Pembangunan Perkandangan
Pada Sapi Perah
Sistem perkandangan di Indonesia pada umumnya masih belum ada acuan
yang jelas terutama mengenai ukuran kandang yang ideal untuk sapi perah. Salah
satu sumber ketentuan pendirian kandang di peternakan adalah SK Dirjenak No.
776/kpts/DJP/ Deptan/1982. Surat keputusan ini mengatur syarat-syarat teknis
perusahaan peternakan sapi perah dan UU No. 6 Tahun 1967 mengatur tentang
ketentuan.Ketentuan pokok peternakan dan kesehatan hewan yaitu pasal 4 tentang
kewajiban perusahaan peternakan unutuk menyediakan lahan, air dan pakan
ternak, pasal 12 tentang kesimbangan tanah dan pasal 14 perlunya perluasan
wilayah ternak. Beberapa aspek yang perlu di perhatikan dalam pembangunan
kandang sapi perah adalah :

a. Aspek Ekonomi
Dalam membangun kandang ternak harus memperhatikan aspek ekonomis,
yang dimaksud disini adalah kandang yang dibangun tidak terlalu mahal,
tetapi diusahakan semurah mungkin, tetapi masih memenuhi persyaratan
teknis. Yaitu ternak akan nyaman tinggal didalam kandang dan membuat
pertumbuhan ternak yang normal, sehat sehingga akan memberikan hasil yang
optimal. Selain itu, keadaan ekonomi peternak juga sangat mempengaruhi
model atau tipe kandang yang akan dibangun. Untuk pembangunan kandang
biaya sedapat mungkin lebih murah tetapi dengan bahan-bahan yang cukup
kuat dan tahan lama.
b. Aspek Sosial
Usaha peternakan dapat menghasilkan limbah atau kotoran yang baunya
sangat menyengat hidung apabila kotoran tersebut bercampur dengan air
kencing, sisa-sisa pakan dan sisa air minumnya, terlebih-lebih bila kotoran
atau limbah tersebut tidak dikelola dengan baik, maka akan menyebabkan
pencemaran lingkungan. Untuk mengantisipasi hal tersebut di atas, dianjurkan
agar kandang jauh dengan tempat tinggal atau rumah penduduk sekitarnya.
Hal ini untuk mengantisipasi dampak negatif akibat limbah atau kotoran
ternak yang kita usahakan.
c. Aspek Teknis
1. Lokasi Kandang
2. Transportasi Mudah
3. Dekat Sumber Air.
4. Jauh dari Keramaian.
5. Dekat dengan Sumber Pakan.
6. Bebas dari Genangan Air.
7. Ada Izin Diri Bangunan.

8. Jumlah Atau Populasi Ternak.


9. Ketersediaan Bahan Baku.
10. Konstruksi.
11. Pondasi.
12. Lantai Kandang.
13. Dinding Kandang.
3.3 Tata Letak Bangunan Perkandangan Pada Sapi Perah.
Kandang untuk sapi sebaiknya dibangun disuatu tempat yang letaknya berada
diketinggian tertentu dalam lokasi agar dapat mudah merencanakan selokan air
hujan dan pembuangan limbah. Dipilih lokasi dengan kemiringan yang baik
sehingga pembuangan air hujan dapat lancar dan pembuangan limbah terhindar
dari kebuntuan sewaktu nantinya sapi sudah semakin banyak dan limbah semakin
sulit dicarikan tempat pembuangan yang memadai. Perencanaan tata letak
bangunan harus menyatu dengan kontur tanah yang terstruktur dengan baik agar
menggunakan biaya persiapan lahan minimal sehingga pembangunan menjadi
lebih mudah dirancang dan lebih mudah biaya untuk membangun. Perencanaan
secara menyeluruh tentang tata letak bangunan sejak dari awal dan dilengkapi
dengan

pemikiran

menguntungkan

pengembangan

dibanding

dengan

dimasa
secara

mendatang,
parsial

untuk

akan

sangat

menghindari

pembangunan secara tambal sulam atau muncul ide baru dikemudian hari yang
kadang bertentangan dengan tata letak yang sudah ada.
Pemilihan lokasi yang kurang tepat juga memerlukan persiapan penataan
area atau kontur tanah dengan biaya tinggi sehingga perhitungan harga akhir tanah
dapat menjadi lebih mahal dibanding lokasi yang siap pakai. Daratan yang rendah
dengan area cekungan di tengah, tidak tepat dipilih untuk lokasi sapi perah karena
sulit untuk merencanakan pembuangan limbah. Pembangunan kandang dipilih
ditempat aman yang tidak terganggu oleh keadaan sekitar dan tidak pula banyak

mengganggu lingkungan terutama dari segi limbah dan polusi bau. Bangunan
selain kandang, misalnya mess karyawan, gudang pakan, gudang peralatan,
tempat penampungan susu, pencacah rumput dan kantor administrasi harus
terpisah agak jauh dari bangunan kandang.
Penyiapan Lahan
Lahan harus dipersiapkan sebaik-baiknya dengan tata letak kandang yang tepat
serta memperhatikan kebutuhan lahan untuk keperluan lainya terutama
penanaman rumput dan penyediaan padang umbaran. Kondisi tanah seharusnya
tidak terlalu kering karena tanah yang demikian akan mudah mengembang
dimusim penghujan dan membahayakan keutuhan bangunan kandang karena akan
menimbulkan banyak retak ditembok dan membentuk alur kerusakan. Tanah yang
kering juga tidak banyak memberi peluang untuk penanaman rumput serta
keberadaan air tanah yang keduanya sangat vital dalam penyelenggaraan budidaya
ternak. Lahan untuk penanaman rumput akan lebih menguntungkan sekalian dapat
diarahkan pada pemanfaatan limbah cair yang dialirkan untuk pemupukan.
Konstruksi Kandang
Bangunan kandang dapat dibuat permanen atau semi permanen, berlantai
semen, aspal atau kayu yang tidak licin dengan kemiringan menuju kearah saluran
pembuangan limbah agar mudah dibersihkan dari kotoran dan mempermudah
aliran air kencing sapi. Jarak antar kandang diatur sekurang-kurangnya 6 meter
dihitung dari tepi atap kandang. Dihindari konstruksi bangunan kandang yang
banyak berpori-pori karena mudah menjadi sarang kuman. Pojok ruangan dan
lantai dibuat membulat agar mudah dibersihkan dan tidak untuk persembunyian
organisme mikro.

1. Ukuran Luas
Luasan kandang disesuaikan dengan tipe dan peruntukanya serta terpisah
untuk setiap jenis kandang yang berbeda. Daya tampung kandang menggunakan
ukuran baku sehingga tidak terlalu sempit mengukur longgar. Secara keseluruhan
disesuaikan ukuran tiap ekor sapi berdasarkan pengelompokan umur.
2. Konstruksi
Kandang harus menggunakan konstruksi bangunan kuat agar dapat tahan
lama mengingat yang diurus adalah sapi dengan prilaku dan kekuatan fisik diluar
batas kekuatan orang. Sebaiknya aksis kandang memanjang arah utara-selatan
agar memperoleh sinar matahari secara merata pagi dan sore. Dinding bagian
dalam disemen halus sehingga tidak mudah menyerap debu dan tidak mudah
lembab.
3. Ventilasi dan Sinar Matahari
Kandang lebih baik berdinding terbuka tetapi masih terlindung dari tiupan
angin kencang. Bagi kandang tertutup ventilasi harus dapat menjamin masuknya
udara segar kedalam kandang dan udara kotor keluar tanpa banyak hambatan.
Sinar matahari diusahakan semaksimal mungkin mencapai lantai dan menyinari
saluran pembuangan. Diantara tiang-tiang penyangga difungsikan untuk
pencahayaan dan sirkulasi udara. Peternakan sapi perah didaerah panas disamping
harus menggunakan bangunan model kandang terbuka dan atap yang tinggi, juga
mungkin masih perlu memasang kipas angin untuk seaktu-waktu dipergunakan
mengurangi dampak hawa panas yang bisa menimbulkan stress.
4. Saluran Limbah
Saluran harus bisa menampung sebanyak-banyaknya limbah yang harus
dilirkan cukup kuat agar cepat kering dan mudah dibersihkan sehingga efisien
waktu dan tenaga pembersihan. lebar saluran limbah harus dapat menampung
semua kotoran. Biasanya lebar saluran berukuran 0.35-0.5 m, dengan jarak cukup

jauh dari tempat berdiri sapi begitu juga sapi harus dengan mudah melangkah
melalui selokan bila keluar atau masuk kandang.
5. Lantai
Lantai kandang dibuat keras, kuat, tidak mudah rusak, tidak licin, tidak
memungkinkan air tergenang, tidak becek, dan mudah dibersihkan. Lantai dibuat
agak kasar dan sedikit miring kearah selokan. Lantai sangat penting untuk
memberi kenyamanan pada sapi dan petugas. Sapi akan lebih nyaman dari luka
kulit akibat lantai yang kasar bila dipasang alas karpet karet khusus untuk sapi
yang tersedia dipasaran. Lantai kandang terlalu keras dapat ditutup dengan jerami
agar menjadi tidak begitu keras. Lantai kandang dapat dibuat agak miring, dari
bahan beton dengan perbandingan 1 bagian semen 2 bagian pasir dan 3 bagian
kerikil, atau tanah biasa.
6. Alas Kandang
Alas untuk kandang dapat menggunakan aspal yang tidak mudah leleh
dicampur batu kerikil. Ini lebih baik daripada semen karena tidak begitu dingin
dan tidak lekas licin. Untuk mengurangi hawa dingin di daerah pegunungan dapat
diberi tambahan lantai terbuat dari papan tahan air diatasnya dengan pengaturan
lembaran papan kearah papan searah badan sapi dan tebal sekitar 3 cm atau dapat
dialasi jerami. Agar lantai cepat kering dibuat kemiringan 2-5o.
7. Atap
Bahan yang digunakan untuk pembuatan atap antara lain asbes, rumbai,
genting dan seng. Penggunaan atap seng perlu dihindari karena sewaktu musim
panas akan terasa sangat panas dan sewaktu hujan menimbukan suara bising
sehingga mengganggu ketenangan sapi. Maka dari itu dapat menggunakkan atap
asbes, rumbai, atau genting. Keuntungannya adalah kandang tidak terlalu panas
pada siang hari dan tidak terlalu dingin pada malam hari.Atap genting dan rumbai
memiliki kelemahan yaitu mudah rusak akibat serangan angin yang besar, oleh

karena itu perlu adanya pengikatan yang kuat pada pembuatan atap.Tetapi bila
menggunakan seng sebaiknya dicat putih pada bagian luarnya dan hitam pada
bagian luarnya agar siang hari tidak terlalu panas. Biasanya kemiringan atap dari
genting 30450, asbes 15200. Tinggi atap dari genting 4,5 m untuk dataran
rendah dan menengah, dan 4 m untuk dataran tinggi.
Tempat Pakan dan Minum
Tempat tersebut dibuat sekuat mungkin dan mudah dibersihkan. Tempat pakan
dapat dibuat memanjang sepanjang kandang dan diusahakan sapi dapat
mengambil pakan yang disediakan.Tempat pakan dapat dibuat dengan kedalaman
sekitar 50 cm, dengan luas tempat pakan sekitar 1 m2. Tempat minum dapat
diletakkan pada ember plastik atau dari bahan lain, diletakkan dengan cara
digantung dengan ketinggian kurang lebih 80 cm dari lantai dengan tujuan untuk
menghindari kontaminasi dari makanan dan desakan sapi.
Higiene dan Sanitasi
Untuk memenuhi fungsi yang diharapkan dalam pembuatan kandang, perlu
diperhatikan berbagai kriteria penunjang terhadap maksud dan tujuan pembuatan
bangunan. Kandang sapi perah yang menghasilkan susu untuk konsumsi
memerlukan jaminan higiene dan sanitasi kandang yang baik karena berperan
penting dalam meujudkan hasil susu sehat dan berkualitas.
Aliran Listrik
Ketersediaan aliran listrik diperlukan untuk mengoperasikan berbagai alat vital;
yang telah umum harus dimiliki oleh peternakan modern misalnya untuk
penerangan, mamanaskan air, memompa air, menjalankan sapi perah, fasilitasi
tangki, pendingin dan sebagainya. Bagi peternakan yang menggunakan mesin
perah dan tangki pendingin sangat penting memiliki generator untuk mengatasi
bila terjadi pemadaman listrik.
Pengamanan Lingkungan

Agar tidak timbul bau yang mengganggu dan terjadi pencemaran lingkungan
maka kotoran kandang tidak dibenarkan langsung dibuang ke sungai. Kotoran
harus ditampung terlebih dahulu ditempat penampungan khusus seperti selokan
atau drainase. Selokan atau drainase lebarnya minimal 3040 cm dan
kedalamannya 2025 cm. Hal ini dimaksudkan untuk memudahkan pembuangan
kotoran yang cair, air minum maupun air untuk memandikan sapi.
Selanjutnya untuk pengamanan lingkungan, peralatan tempat pakan dan
minum juga harus dibersihkan setiap pagi dan sore agar tidak menimbulkan bau
busuk yang dapat mengganggu nafsu makan dan minum serta berdampak pada
kesehatan.
3.4. Macam-Macam Perkandangan Pada Sapi Perah
Ada beberapa jenis kandang sapi perah untuk disesuaikan dengan fungsi dan
umur hewan antara lain sebagai berikut:
1.

Kandang sapi dewasa (sapi laktasi)

Ukuran kandang 1,75 x 1,2 m, masing-masing dilengkapi tempat makan dan


tempat air minum dengan ukuran masing-masing 80 x 50 cm dan 50 x 40 cm.
Kandang sapi dewasa dapat juga dipakai untuk sapi dara.
2. Kandang pedet
Kandang pedet ada 2 macam yaitu individual dan kelompok. Untuk kandang
individual sekat kandang sebaiknya tidak terbuat dari tembok supaya sirkulasi
udara lancar, tinggi sekat + 1 m. Ukuran kandang untuk 0 4 minggu 0,75 x 1,5
m dan untuk 4 8 minggu 1 x 1,8 m. Pada kandang kelompok adalah untuk anak
sapi yang telah berumur 4 8 minggu dengan ukuran 1 m2/ekor dan pada umur 8
12 minggu 1,5 m2/ekor dengan dinding setinggi 1 m. Dalam satu kelompok
sebaiknya tidak dari 4 ekor. Tiap individu harus dilengkapi tempat makan dan
tempat air minum.

3. Kandang pejantan
Sapi pejantan pada umumnya dikandangkan secara khusus. Ukuran lebih
besar dari pada kandang induk dan konstruksinya lebih kuat.Bentuk yang paling
baik untuk kandang pejantan adalah kandang yang berhalaman atau Loose Box.
Lebar dan panjang untuk kandang pejantan minimal 3 x 4 m dengan ukuran
halaman 4 x 6 m. Tinggi atap hendaknya tidak dijangkau sapi yaitu 2,5 m, tinggi
dinding kandang dan pagar halaman 180 cm atau paling rendah 160 cm. Lebar
pintu 150 cm dilengkapi dengan beberapa kayu penghalang. Pagar halaman
terbuat dari tembok setinggi 1 m, di atasnya dipasang besi pipa dengan diameter 7
cm, disusun dengan jarak 20 cm. Lantai kandang dibuat miring ke arah pintu,
perbedaan tinggi paling tidak 5 cm. Lantai halaman lebih baik dari beton.
Perlengkapan lain yang diperlukan sama seperti pada kandang yang lain.
Pemberian ransum harus dilakukan dari luar kandang/dinding demi untuk
keamanan.
4. Kandang kawin
Tempat kawin dibuat pada pada bagian yang berhubungan dengan pagar
halaman kandang pejantan yang diatur dengan pintu-pintu agar perkawinan dapat
berlangsung dengan mudah dan cepat. Ukuran kandang kawin; panjang 110 cm,
lebar bagian depan 55 cm, lebar bagian belakang 75 cm, tinggi bagian depan 140
cm dan tinggi bagian belakang 35 cm. Bahan kandang kawin sebaiknya digunakan
balok berukuran 20 x 20 cm. Tiang balok ditanam ke dalam tanah sedalam 50 60
cm dan dibeton supaya kokoh.
7. Kandang Induk Sapi Beranak
Membiarkan sapi beranak di kandang laktasi sangat tidak dianjurkan.
Kejadian ini akan menyebabkan gangguan sanitasi susu dan tersebarnya penyakit.
Harus disediaka tempat khusus agar dapat melahirkan dengan tenang tanpa terjadi
ancaman dari yang lain. Kandang yang disediakan dapat berbentuk seperti

kandang biasa, tetapi diberlakukan khusus untuk sapi yang beranak, dengan
ukuran seperti ekor 3 x 4 meter, beratap serta dengan ventilasi yang baik.
8. Kandang Karantina
Kandang karantina disediakan untuk merawat hewan yang memerlukan
perawatan khusus yang biasanya untuk sapi sakit. Letak kandang diusahakan
berjauhan dengan kandang sapi sehat lainya. Untuk setiap ekor sapi yang diisolasi
ukuranya lebih luas dari kandang biasa. Hal ini agar ada ruangan cukup bagi
petugas atau dokter hewan dalam menangani dan mengobati sapi yang
bersangkutan. Biasanya lebar 1.75 meter, panjang 2 meter dengan pemisah
minimal 1.5 meter.
9. Kandang atau Alat Penjepit
Untuk hewan yang bersifat temperamental, sering sulit untuk di kendalikan
sewaktu akan dilakukan perawatan tertentu. Kandang penjepit biasanya diletakan
ditempat yang sering diperlukan untuk rodapaksa hewan, misalnya disisi samping
sebelah kandang karantina atau lokasi pengobatan hewan. Tujuanya agar hewan
tidak berontak atau banyak bergerak sewaktu dalam perawatan atau pengobatan,
sehingga lebih mudah untuk penangananya. Kandang dapat dibuat dari besi atau
dari kayu, bahkan dalam keadaan tertentu dapat dibuat secara darurat dari bambu.
3.4 Model Perkandangan
a. Model Kandang Tradisional Sapi Perah
Kandang tradisional sapi perah biasanya terdapat pada peternakan individu
dengan populasi 1-10 ekor dengan perlengkapan kandang yang kurang memadai
dan bentuknya yang tunggal atau ganda. Bentuk kandang tipe tunggal biasanya
penempatan sapi dilakukan pada satu baris atau satu jajaran sedangkan tipe
kandang ganda yaitu penempatan sapi dilakukan dua baris dengan tipe head to
head atau tail to tail. Pada kandang tradisional bangunan kandang sederhana, atap
dari rumbia, genteng dan lantai dari tanah sedangkan peralatannya berupa tempat

makan dan minum dari ember plastik. Hijauan disebarkan ke lantai bercampur
dengan kotoran atau limbah lain.
b. Model Kandang Modern Sapi Perah
Pengembangan sistem kandang modern didorong oleh kawanan ternak yang
semakin besar, produksi per sapi yang meningkat, serta mekanisasi dan
otomatisasi dalam cara pemberian pakan dan pemerahan susu. Pemerahan bisa
berlangsung lebih praktis dan cepat dan di ruang terbuka, tidak seperti dalam
petak kandang (stall). Salah satu faktor kunci dalam peternakan modern ialah
efisiensi kerja. Ini menuntut tipe perkandangan yang kompak dan terancang
dengan baik. Beberapa faktor yang akan memengaruhi rancangan itu meliputi
ukuran, cara pemerahan, cara pemberian pakan, tenaga kerja, ruang yang tersedia,
dan seterusnya. Kandang sapi modern berukuran panjang 24 m dan lebar 10 m ,
dengan 3 buah bejana terbuat dari pasangan batu bata, masing masing 2 buah
tempat pakan di pinggir, dan tempat minum disamping. Dengan lantai terbuat dari
cor beton bertulang untuk mempermudah pembersihan kotoran sapi, ukuran
kandang sepanjang 24 m dan lebar 10 m dan dipisahkan oleh bejana air minum.
Pintu kandang terbuat dari tiang dari pipa setebal 80 mm, diberi penguat besi sling
untuk perkuatan karena lebar pintu hampir 5 m , konstruksi pagar mendatar dapat
menggunakan pipa diameter 50 mm.
3.5 Model Perkandangan yang Cocok di Indonesia (daerah Tropis)
Kebutuhan kandang sapi perah di negara iklim tropis lebih sederhana bila
dibandingkan dengan negara sub tropis yang lebih dingin, sehingga di negara
tropis kandang tetap dibutuhkan untuk melindungi ternak pada malam hari, panas
terik sinar matahari, dan hujan lebat juga mempermudah pemeliharaan. Bangunan
yang sederhana cukup dibangun kandang pedet, sapi dara dan sapi dewasa untuk
menjaga ternak dari binatang predator. Kandang sapi perah dapat dibangun dalam
skala kecil di daerah tropis dengan pertanian intensif, sistem pemerahan yang

berkesinambungan dan persediaan pakan ternak untuk mencukupi produksi susu


dan pokok hidup sapi.
Suhu udara di Indonesia pada umumnya tinggi yaitu antara 24 34 oC, dan
kelembaban udara juga tinggi yaitu antara 60 - 90%. Hal ini dapat menyebabkan
proses penguapan dari tubuh sapi terhambat sehingga sapi mengalami cekaman
panas. Tingginya suhu dan kelembaban udara tersebut disebabkan oleh radiasi
matahari yang tinggi, sehingga lokasi peternakan sapi perah di Indonesia akan
lebih baik jika berada pada ketinggian di atas 800 mdpl. Selain radiasi, produksi
panas hewan yang berupa panas laten dan panas sensible, tinggi, luas, bahan atap
dan bukaan ventilasi yang kurang tepat merupakan penyebab naiknya suhu dan
kelembaban udara dalam kandang sapi perah. Salah satu upaya untuk menurunkan
suhu dan kelembaban udara di dalam kandang yaitu dengan sistem ventilasi agar
terjadi pertukaran udara di dalam dan luar kandang dengan baik sehingga panas
dalam kandang dapat diminimalisir.Pada ventilasi alamiah, pertukaran udara
terjadi jika ada perbedaan tekanan melalui bukaan bangunan dan angin. Luas
bukaan ventilasi sangat mempengaruhi pola aliran dan distribusi udara dalam
kandang yang dapat menentukan besarnya distribusi suhu dan kelambaban udara
dalam kandang. Untuk memperoleh luas bukaan ventilasi (alamiah) yang
menghasilkan distribusi suhu dan kelambaban udara dalam kandang yang baik,
diperlukan analisis sifat dan pola aliran serta distribusi udara dalam kandang.Pada
ventilasi alamiah, pertukaran udara terjadi jika ada perbedaan tekanan melalui
bukaan bangunan dan angin. Luas bukaan ventilasi sangat mempengaruhi pola
aliran dan distribusi udara dalam kandang yang dapat menentukan besarnya
distribusi suhu dan kelambaban udara dalam kandang .Untuk memperoleh luas
bukan ventilasi (alamiah) yang menghasilkan distribusi suhu dan kelambaban
udara dalam kandang yang baik, diperlukan analisis sifat dan pola aliran serta

distribusi udara dalam kandang. Adapun tipe kandang yang dapat di gunakan di
Indonesia:
a. Kandang Terbuka
Kandang Terbuka adalah kandang yang semua sisinya terbuka.
Kelebihan :
a. Biaya pembangunan murah.
b. Biaya oprasional murah.
c. Tidak ketergantungan dengan listrik, karena apabila listrik mati maka
sistem akan terganggu.
Kekurangan :
a. Perlindungan terhadap penyakit kurang baik.
b. Perlindungan terhadap factor lingkungan kurang baik.
b. Kandang Tertutup
Tujuan membangun kandang tertutup adalah:
1. Untuk menyediakan udara yang sehat bagi ternak (sistem ventilasi yang
baik) yaitu udara yang menghadirkan sebanyak-banyaknya oksigen, dan
mengeluarkan sesegera mungkin gas-gas berbahaya seperti karbondioksida
dan amonia.
2. Menyediakan iklim yang nyaman bagi ternak. Untuk menyediakan iklim
yang kondusif bagi ternak dapat dilakukan dengan cara: mengeluarkan
panas dari kandang yang dihasilkan dari tubuh ternak dan lingkungan luar,
menurunkan suhu udara yang masuk serta mengatur kelembaban yang
sesuai.
3. Meminimumkan tingkat stress pada ternak.
Kelebihan :
a. Perlindungan ternak terhadap penyakit dapat di maksimalkan.
b. Tenak tidak terpengaruh dengan lingkungan luar.

Kekurangan :
a. Biaya pembangunan mahal.
b. Biaya operasional mahal.
c. Ketergantungan dengan listrik, karena apabila listrik mati maka sistem
akan terganggu.

V
SIMPULAN

1. Perkandangan merupakan kompleks tempat tinggal ternak dan pengelola


yang digunakan untuk melakukan kegiatan proses produksi dari sebagian
atau seluruh kehidupannya dengan segala fasilitas dan peralatannya.
Perkandangan juga dapat diartikan sebgai tempat tinggal ternak untuk
melakukan kegiatan produksi maupun reproduksi dari sebagian atau
seluruh kehidupannya.
2. Landasan hukum yang berhubungan dengan pembangunan perkandangan
salah satunya SK Dirjenak No. 776/kpts/DJP/ Deptan/1982 dan UU No. 6
Tahun 1967 mengatur tentang ketentuan. Aspek yang perlu diperhatikan
dalam pembangunan kandang, diantaranya aspek ekonomi, aspek social,
dan aspek teknis.
3. Tata letak bangunan dalam pemilihan lokasi perkandangan pada sapi perah
diantaranya adalah penyiapan lahan, konstruksi kandang, air bersih,
higiene dan sanitasi, aliran listrik, dan pengamanan lingkungan.
4. Macam-macam perkandangan pada sapi perah adalah kandang sapi
dewasa (laktasi), kandang pedet, kandang pejantan, kandang kawin,
kandang induk sapi beranak, kandang karantina dan kandang (alat)
penjepit.
5. Model perkandangan tradisional pada sapi perah terdiri dari tipe kandang
tunggal dan tipe kandang ganda. Bangunan kandangnya sederhana, atap
dari rumbia, genteng dan lantai dari tanah, sedangkan peralatannya berupa
tempat makan dan minum dari ember plastik. Hijauan disebarkan ke lantai
bercampur dengan kotoran atau limbah lain.

6. Model perkandangan yang cocok di Indonesia adalah tipe kandang terbuka


maupun kandang tertutup. Kemudian lokasi peternakan sapi perah di
Indonesia akan lebih baik jika berada pada ketinggian di atas 800 mdpl.

DAFTAR PUSTAKA
Akoso, Budi Tri. 2012. Budi Daya Sapi Perah. Airlangga University Press,
Surabaya.
Davis, R.F. 1962. Modern Dairy Cattle Management. Prentice Hall, Inc, Amerika
Serikat
Siregar, S. 1993. Jenis Teknik Pemeliharaan dan Analisis Usaha Sapi Perah.
Penebar Swadaya, Jakarta.
Sudarmono. 1993. Tata Usaha Sapi Kereman. Kanisius, Yogyakarta.
Sutarno, T. 1994. Manajemen Ternak Perah. Fakultas Peternakan UGM,
Yogyakarta.
Syarief, E.K dan B. Harianto. 2001. Buku Pintar Beternak dan Bisnis Sapi Perah.
Agromedia Pustaka, Jakarta.
Syarief, M. Z. dan C. D. A. Sumoprastowo.1990.Ternak Perah. CV. Yasaguna,
Jakarta.
Williamson, G. dan W. J. A. Payne. 1993. Pengantar Peternakan Di Daerah
Tropis. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta. (diterjemahkan oleh
Bambang Srigandono).

LAMPIRAN
Gambar 1. Model Kandang Tradisional

Sumber : jualansapi.com
Gambar 2. Model Kandang Modern

Sumber : jualansapi.com