Anda di halaman 1dari 23

Manajemen Ayam Broiler Oleh Eka Ch.

Caspriyati 2011
1.1 Ayam Broiler Ayam broiler merupakan hasil teknologi yaitu persilangan antara ayam Cornish dengan Plymouth Rock. Yang mana memiliki karakteristik ekonomis, pertumbuhan yang cepat sebagai penghasil daging, konversi pakan rendah, dipanen cepat karena pertumbuhannya yang cepat, dan sebagai penghasil daging dengan serat lunak (Murtidjo, 1987). Menurut Northe (1984) pertambahan berat badan yang ideal adalah 400 gram per minggu untuk jantan dan untuk betina 300 gram per minggu. Menurut Suprijatna et al. (2005) Ayam broiler adalah ayam yang mempunyai sifat tenang, bentuk tubuh besar, pertumbuhan cepat, bulu merapat ke tubuh, kulit putih dan produksi telur rendah. Dijelaskan lebih lanjut oleh Siregar et al. (1980) bahwa ayam Broiler dalam klasifikasi ekonomi memiliki sifat-sifat antara lain : ukuran badan besar, penuh daging yang berlemak, temperamen tenang, pertumbuhan badan cepat serta efisiensi penggunaan ransum tinggi. Ayam broiler adalah ayam tipe pedaging yang telah dikembangbiakan secara khusus untuk pemasaran secara dini. Ayam pedaging ini biasanya dijual dengan bobot rata-rata 1,4 kg tergantung pada efisiensinya perusahaan. Menurut Rasyaf (1992) ayam pedaging adalah ayam jantan dan ayam betina muda yang berumur dibawah 6 minggu ketika dijual dengan bobot badan tertentu, mempunyai pertumbuhan yang cepat, serta dada yang lebar dengan timbunan daging yang banyak. Ayam broiler merupakan jenis ayam jantan atau betina yang berumur 6 sampai 8 minggu yang dipelihara secara intensif untuk mendapatkan produksi daging yang optimal. Ayam broiler dipasarkan pada umur 6 sampai 7 minggu untuk memenuhi kebutuhan konsumen akan permintaan daging. Ayam broiler terutama unggas yang pertumbuhannya cepat pada fase hidup awal, setelah itu pertumbuhan menurun dan akhirnya berhenti akibat pertumbuhan jaringan yang membentuk tubuh. Ayam broiler mempunyai kelebihan dalam pertumbuhan dibandingkan dengan jenis ayam piaraan dalam klasifikasinya, karena ayam broiler mempunyai kecepatan yang sangat tinggi dalam pertumbuhannya. Hanya dalam tujuh atau delapan minggu saja, ayam tersebut sudah dapat dikonsumsi dan dipasarkan padahal ayam jenis lainnya masih sangat kecil, bahkan apabila ayam broiler dikelola secara intensif sudah dapat diproduksi hasilnya pada umur enam minggu dengan berat badan mencapai 2 kilogram per ekor (Anonimus, 1994). 1 | Caspry

Untuk mendapatkan bobot badan yang sesuai dengan yang dikehendaki pada waktu yang tepat, maka perlu diperhatikan pakan yang tepat. Kandungan energi pakan yang tepat dengan kebutuhan ayam dapat mempengaruhi konsumsi pakannya, dan ayam jantan memerlukan energy yang lebih banyak daripada betina, sehingga ayam jantan mengkonsumsi pakan lebih banyak, (Anggorodi, 1985). Hal-hal yang terus diperhatikan dalam pemeliharaan ayam broiler antara lain perkandangan, pemilihan bibit, manajemen pakan, sanitasi dan kesehatan, recording dan pemasaran. Banyak kendala yang akan muncul apabila kebutuhan ayam tidak terpenuhi, antara lain penyakit yang dapat menimbulkan kematian, dan bila ayam dipanen lebih dari 8 minggu akan menimbulkan kerugian karena pemberian pakan sudah tidak efisien dibandingkan kenaikkan/penambahan berat badan, sehingga akan menambah biaya produksi (Anonimus, 1994) Daghir (1998) membagi tiga tipe fase pemeliharaan ayam broiler yaitu fase starter umur 0 sampai 3 minggu, fase grower 3 sampai 6 minggu dan fase finisher 6 minggu hingga dipasarkan. Ayam broiler ini baru populer di Indonesia sejak tahun 1980-an dimana pemegang kekuasaan mencanangkan panggalakan konsumsi daging ruminansia yang pada saat itu semakin sulit keberadaannya. Hingga kini ayam broiler telah dikenal masyarakat Indonesia dengan berbagai kelebihannya. Hanya 5-6 minggu sudah bisa dipanen. Dengan waktu pemeliharaan yang relatif singkat dan menguntungkan, maka banyak peternak baru serta peternak musiman yang bermunculan diberbagai wilayah Indonesia. Banyak strain ayam pedaging yang dipelihara di Indonesia. Strain merupakan sekelompok ayam yang dihasilkan oleh perusahaan pembibitan melalui proses pemuliabiakan untuk tujuan ekonomis tertentu. Contoh strain ayam pedaging antara lain CP 707, Starbro, Hybro (Suprijatna et al., 2005). 2.2. Perkandangan Kandang yang baik adalah kandang yang dapat memberikan kenyamanan bagi ayam, mudah dalam tata laksana, dapat memberikan produksi yang optimal, memenuhi persyaratan kesehatan dan bahan kandang mudah didapat serta murah harganya. Bangunan kandang yang baik adalah bangunan yang memenuhi persyaratan teknis, sehingga kandang tersebut biasa berfungsi untuk melindungi ternak terhadap lingkungan yang merugikan, mempermudah tata laksana, menghemat tempat, menghindarkan gangguan binatang buas, dan menghindarkan ayam kontak langsung dengan ternak unggas lain (Anonimus, 1994). Kandang serta peralatan yang ada di dalamnya merupakan sarana pokok untuk terselenggarakannya pemeliharaan ayam secara intensive, berdaya guna dan berhasil guna. Ayam akan terus menerus berada di dalam kandang, oleh karena itu kandang harus dirancang dan ditata agar menyenangkan dan memberikan kebutuhan hidup yang sesuai bagi ayam-ayam yang berada di dalamnya. Beberapa hal yang perlu dipertimbangkan dalam hal ini adalah pemilihan tempat atau lokasi untuk mendirikan kandang serta konstruksi atau 2 | Caspry

bentuk kandang itu sendiri. Kandang merupakan modal tetap (investasi) yang cukup besar nilainya, maka sedapat mungkin semenjak awal dihindarkan kesalahan-kesalahan dalam pembangunannya, apabila keliru akibatnya akan menimbulkan problema-problema terus menerus sedangkan perbaikan tambal sulam tidak banyak membantu (Williamsons dan Payne, 1993). Sistem perkandangan yang ideal untuk usaha ternak ayam ras meliputi: persyaratan temperatur berkisar antara 32,2-35 derajat C, kelembaban berkisar antara 60-70%, penerangan/pemanasan kandang sesuai dengan aturan yang ada, tata letak kandang agar mendapat sinar matahari pagi dan tidak melawan arah mata angin kencang, model kandang disesuaikan dengan umur ayam, untuk anakan sampai umur 2 minggu atau 1 bulan memakai kandang box, untuk ayam remaja 1 bulan sampai 2 atau 3 bulan memakai kandang box yang dibesarkan dan untuk ayam dewasa bisa dengan kandang postal atapun kandang bateray. Untuk kontruksi kandang tidak harus dengan bahan yang mahal, yang penting kuat, bersih dan tahan lama(Bambang,1995). Persiapan dalam perkandangan adalah : a. Lokasi kandang Kandang ideal terletak di daerah yang jauh dari pemukiman penduduk, mudah dicapai sarana transportasi, terdapat sumber air, arahnya membujur dari timur ke barat. b. Pergantian udara dalam kandang. Ayam bernapas membutuhkan oksigen dan mengeluarkan karbondioksida. Supaya kebutuhan oksigen selalu terpenuhi, ventilasi kandang harus baik. c. Suhu udara dalam kandang. Tabel 1. Suhu ideal kandang sesuai umur adalah : Umur (hari) 01 - 07 08 - 14 15 - 21 21 - 28 29 - 35 d. Suhu ( 0C ) 34 32 29 27 26 25 4 23 23 21

Kemudahan mendapatkan sarana produksi Lokasi kandang sebaiknya dekat dengan poultry shop atau toko sarana peternakan. e. Kepadatan Kandang Pada awal pemeliharaan, kandang ditutupi plastik untuk menjaga kehangatan, sehingga energi yang diperoleh dari pakan seluruhnya untuk pertumbuhan, bukan untuk produksi panas tubuh. Kepadatan kandang yang ideal untuk daerah tropis seperti Indonesia adalah 8-10 ekor/m2, lebih dari angka tersebut, suhu kandang cepat meningkat terutama siang hari pada umur dewasa yang menyebabkan konsumsi pakan menurun, ayam cenderung 3 | Caspry

banyak minum, stress, pertumbuhan terhambat dan mudah terserang penyakit. Pengaturan kepadatan kandang dilakukan sedemikian rupa untuk mengatasi kanibalisme akibat terlalu padatnya kandang. Hal ini juga bermanfaat untuk kenyamanan ayam. Kepadatan kandang juga berpengaruh terhadap produksi, performen dan tingkat kenyamanan ayam broiler (May dan Lott, 1992). Tabel 2. Tingkat kepadatan kandang ayam per bobot hidup Bobot Badan Ekor/m2 (kg) 1,4 13 17 1,8 10 13 2,3 8 10 2,7 68 Siregar et al., 1980 Tabel 3. Standar Bobot Badan Ayam Broiler Berdasarkan Jenis Kelamin pada Umur 1 sampai 6 Minggu ((NRC, 1994) Umur (minggu) Jenis Kelamin Jantan (g) Betina (g) 1 152 144 2 376 344 3 686 617 4 1085 965 5 1576 1344 6 2088 1741 Jika dilihat dari perbandingan table 2 dan 3 maka dapat dibandingkan perbandingan antara umur dengan luas kandang yang dibutuhkan sesuai dengan jenis kelamin dan bobot badan. Kepadatan tinggi menurunkan berat badan pullet umur 18 minggu (Anderson dan Adams, 1997), meningkatkan kerusakan dada pada broiler, menimbulkan kanibalisme pada ayam, yakni ayam saling patuk mematuk sehingga menimbulkan luka pada tubuh ternak sehingga memudahkan masuknya parasit dan menimbulkan penyakit dan akhirnya meningkatkan angka kematian, pencapaian berat badan yang rendah dan mengurangi konsumsi pakan pada broiler, sedangkan konsumsi pakan broiler umur 7 minggu menurun sebesar 3,7% pada jantan dan 3,9% pada betina ketika kepadatan kandang ditingkatkan dari 10 ekor/m2 menjadi 15 ekor/m2. Kepadatan tinggi yang diasumsikan dengan bobot badan perluasan lantai mengurangi aktivitas broiler menjadi lebih sedikit berjalan, sebaliknya lebih banyak mengantuk dan tidur (Cravener et al., 1992). f. Tipe Kandang 1. Kandang postal. Kandang ini tidak terdapat halaman umbaran sehingga dalam pemeliharaan sistem ini ayam-ayam selalu terkurung sepanjang hari di dalam kandang. Litter 4 | Caspry

yang baik harus dapat memenuhi beberapa kriteria yakni: memiliki daya serap yang tinggi, lembut sehingga tidak menyebabkan kerusakan dada, mempertahankan kehangatan, menyerap panas, dan menyeragamkan temperatur dalam kandang (Prayitno dan Yuwono, 1997). Litter merupakan sistem kandang pemeliharaan unggas dengan lantai kandang ditutup oleh bahan penutup lantai seperti, sekam padi, serutan gergaji, dan jerami padi (Rasyaf, 1994). Keuntungan sistem ini adalah biaya relatif rendah, menghilangkan bau kotoran, jika litter kering maka pembuangan kotoran lebih mudah dan dapat menahan panas didalam kandang. Kekurangannya adalah penyebaran penyakit lebih mudah, Pengawasan kesehatan lewat kotoran sulit diamati (Campa, 1994). 2. Cage Bangunan kandang berbentuk sangkar berderet, menyerupai batere dan alasnya dibuat berlubang (bercelah). Keuntungan sistem ini adalah tingkat produksi individual dan kesehatan masing-masing terkontrol, memudahkan tata laksana, penyebaran penyakit tidak mudah. Kelemahannya adalah biaya pembuatan semakin tinggi, ayam dapat kekurangan mineral, dan sering banyak lalat (Rasyaf, 1994). 3. Panggung Sistem ini biasanya dibuat diatas kolam ikan. Bahan yang biasa digunakan untuk alas lantai adalah bambu yang dipasang secara berderet agar ayam tidak terperosok.Kelebihannya adalah sisa pakan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan, penyebaran penyakit relatif rendah. Kekurangannya jika jarak pemasangan bambu untuk alas terlalu lebar, akan dapat mengakibatkan ayam terperosok, biaya pembuatan relatif mahal (Martono, 2006).

5 | Caspry

2.3. Pakan Ayam broiler sebagai bangsa unggas umumnya tidak dapat membuat makanannya sendiri. Oleh sebab itu ia harus makan dengan cara mengambil makanan yang layak baginya agar kebutuhan nutrisinya dapat dipenuhi. Protein, asam amino, energi, vitamin, mineral harus dipenuhi agar pertumbuhan yang cepat itu dapat terwujud tanpa menunggu fungsi- fungsi tubuhnya secara normal. Dari semua unsur nutrisi itu kebutuhan energi bagi ayam broiler sangat besar (Rasyaf, 1994). Suprijatna et al. (2005) pakan adalah campuran dari berbagai macam bahan organik maupun anorganik untuk ternak yang berfungsi sebagai pemenuhan kebutuhan zat-zat makanan dalam proses pertumbuhan. Ransum dapat diartikan sebagai pakan tunggal atau campuran dari berbagai bahan pakan yang diberikan pada ternak untuk pemenuhan kebutuhan nutrisi ternak selama 24 jam baik diberikan sekaligus maupun sebagian (Lubis, 1992). Rasyaf (1994) menyatakan ransum adalah kumpulan dari beberapa bahan pakan ternak yang telah disusun dan diatur sedemikian rupa untuk 24 jam. Ransum memiliki peran penting dalam kaitannya dengan aspek ekonomi yaitu sebesar 65-70% dari total biaya produksi yang dikeluarkan (Fadilah, 2004). Pemberian ransum bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok, pertumbuhan, pemeliharaan panas tubuh dan produksi (Suprijatna et al. 2005). Pakan yang diberikan harus memberikan zat pakan (nutrisi) yang dibutuhkan ayam, yaitu karbohidrat, protein, lemak, vitamin dan mineral, sehingga pertambahan berat badan perhari (Average Daily Gain/ADG) tinggi. Pemberian pakan dengan sistem ad libitum (selalu tersedia/tidak dibatasi). Apabila menggunakan pakan dari pabrik, maka jenis pakan disesuaikan dengan tingkat pertumbuhan ayam, yang dibedakan menjadi 2 (dua) tahap. Tahap pertama disebut tahap pembesaran (umur 1 sampai 20 hari), yang harus mengandung kadar protein minimal 23%. Tahap kedua disebut penggemukan (umur diatas 20 hari), yang memakai pakan berkadar protein 20 %. Jenis pakan biasanya tertulis pada kemasannya. Efisiensi pakan dinyatakan dalam perhitungan FCR (Feed Convertion Ratio). Cara menghitungnya adalah, jumlah pakan selama pemeliharaan dibagi total bobot ayam yang dipanen. Contoh perhitungan : Diketahui ayam yang dipanen 1000 ekor, berat rata-rata 2 kg, berat pakan selama pemeliharaan 3125 kg, maka FCR-nya adalah : Berat total ayam hasil panen = 1000 x 2 = 2000 kg FCR = 3125 : 2000 = 1,6 Semakin rendah angka FCR, semakin baik kualitas pakan, karena lebih efisien (dengan pakan sedikit menghasilkan bobot badan yang tinggi). Konsumsi pakan adalah kemampuan ternak dalam mengkonsumsi sejumlah ransum yang digunakan dalam proses metabolisme tubuh (Anggorodi, 1985). Blakely dan Blade (1998) menjelaskan bahwa tingkat konsumsi ransum akan mempengaruhi laju pertumbuhan dan bobot akhir karena pembentukan bobot, bentuk dan komposisi tubuh pada hakekatnya 6 | Caspry

adalah akumulasi pakan yang dikonsumsi ke dalam tubuh ternak. Kebutuhan ransum ayam broiler tergantung pada strain, aktivitas, umur, besar ayam dan temperature( Ichwan , 2003). Faktor yang mempengaruhi konsumsi pakan antara lain umur, nutrisi ransum, kesehatan, bobot badan, suhu dan kelembaban serta kecepatan pertumbuhan (Wahju, 1997). Pakan pemula (starter) harus diberi setelah ayam memperoleh minum, pada beberapa hari pertama pakan dapat diberi dengan cara ditaburkan pada katon box DOC atau tempat pakan untuk anak ayam. Sisa pakan harus dibuang tiap pagi dan jangan dibuang di litter karena akan membahayakan kesehatan ayam. Pada 2 hari pertama gunakan air hangat bersuhu 16 sampai 20 0C. Untuk air minum larutkan 50 gram gula dan 2 gram vitamin (dalam 1 liter air minum untuk 12 jam pertama) Perlu juga memakai meter air agar dapat diketahui dengan pasti berapa banyak air yang digunakan pada 2 minggu pertama tempat minum dibersihkan 3 kali sehari setelah itu 2 kali sehari (Anonimus, 2004). Pada ayam broiler fase starter kebutuhan energi adalah 3200 kcal/kg dengan kebutuhan asam amino methionin 0,38%. Sedangkan pada finisher kebutuhan energi sama tetapi kebutuhan protein berkurang dan kebutuhan asam amino methionin juga berkurang menjadi 0,32% (NRC. 1994). Faktor yang dapat mempengaruhi ransum pada ayam broiler, diantaranya yaitu temperatur lingkungan, kesehatan ayam, tingkat energi ransum yang diberikan sistem pemberian makanan pada ayam, jenis kelamin ayam dan genetik ayam (Rasyaf, 1994). Bentuk fisik ransum yang diberikan pada ayam broiler ada tiga bentuk fisik ransum yang diberikan yaitu bentuk halus seperti tepung (mesh) yang didalamnya merupakan campuran berbagai bahan makanan yang telah diramu dalam suatu sistem formula. Ransum berbentuk butiran lengkap atau pellet yang didasarkan pada sifat ayam broiler yang memang gemar sekali makananmakanan butiran dan ransum bentuk butiran pecah atau crumble yang berbentuk butiran tetapi kecil-kecil (Rasyaf, 1994). Menurut Bambang (1995) kualitas pakan ayam ras broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu): a. Kualitas pakan fase starter adalah terdiri dari protein 22-24%, lemak 2,5%, serat kasar 4%, Kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9%, ME 2800-3500 Kcal. b. Kualitas pakan fase finisher adalah terdiri dari protein 18,1-21,2%; lemak 2,5%, serat kasar 4,5%, kalsium (Ca) 1%, Phospor (P) 0,7-0,9% dan energy (ME) 2900-3400 Kcal. Tabel 4. Kebutuhan Nutrisi Pakan Ayam Broiler pada Periode Starter dan Periode Finisher (NRC, 1994) Nutrisi Periode Starter Periode Finisher Protein (%) 23,00% 20,00% Energi Metabolis 2800-3200 2900-3200 (kkal/ kg) 7 | Caspry

Kalsium (%) Fosfor (%)

1,00 0,45

0,90 0,35

2.4. Manajemen Pemeliharaan Pemeliharaan ayam daging ditujukan untuk mencapai beberapa sasaran yaitu tingkat kematian serendah mungkin, kesehatan ternak baik, berat timbangan setiap ekor setinggi mungkin dan daya alih makanan baik (hemat). Untuk mencapai hal-hal tersebut ada beberapa hal pokok yang perlu dipertimbangkan sebaik-baiknya dalam pemeliharaan ayam pedaging yaitu perkandangan dan peralatan serta persiapannya, pemeliharaan masa awal dan akhir, pemberian pakan, pencegahan dan pemberantasan penyakit dan pengelolaan (Suyoto, 1983). Ayam broiler atau ayam daging dipelihara selama kurang lebih 6 sampai 7 minggu. Ayam ini tidak dimaksudkan untuk produksi telur, tetapi diharapkan dagingnya. Sampai umur 5 minggu beratnya kira-kira sama dengan ayam telur dewasa yaitu kurang lebih 1,5 kg. Cara pemeliharaan ayam daging hampir sama dengan ayam telur dari periode starter sampai grower (Jahja, 2000). Pemeliharaan dilakukan dengan pembersihan secara tuntas terhadap kandang dan peralatan yang akan dipakai didalamnya, baik tempat makanan, tempat minuman,brooder, alat pelingkan dan lain-lain. Terutama pada kandang lama yang sudah dipakai, sisa-sisa dari ternak yang lama, baik kotoran, bahanbahan yang tercecer harus dibersihkan secara tuntas sehingga tidak ada yang tertinggal, sebab setiap butir sisa dari kawanan ayam yang lama akan ada kemungkinan akan menularkan sesuatu penyakit kepada kawanan berikutnya. Pembersih dilakukan dengan air dan bahan pencuci (sabun atau detergen) (Suyoto, 1983). Kebersihan lingkungan kandang (sanitasi) pada areal peternakan merupakan usaha pencegahan penyakit yang paling murah, hanya dibutuhkan tenaga yang ulet/terampil saja. Tindakan preventif dengan memberikan vaksin pada ternak dengan merek dan dosis sesuai catatan pada label yang dari poultry shoup. Agar bangunan kandang dapat berguna secara efektif, maka bangunan kandang perlu dipelihara secara baik yaitu kandang selalu dibersihkan dan dijaga/dicek apabila ada bagian yang rusak supaya segera disulam/diperbaiki kembali. Dengan demikian daya guna kandang bisa maksimal tanpa mengurangi persyaratan kandang bagi ternak yang dipelihara. Teknis pemeliharaan ayam broiler yang baik menurut (Anonimus, 2009), yaitu minggu pertama (hari ke-1 sampai ke-7). DOC dipindahkan ke indukan atau pemanas, segera diberi air minum hangat yang ditambah gula untuk mengganti energi yang hilang selama transportasi. Pakan dapat diberikan dengan kebutuhan per ekor 13 gram atau 1,3 kg untuk 100 ekor ayam. Jumlah tersebut adalah kebutuhan minimal, pada prakteknya pemberian tidak dibatasi. Pakan yang diberikan pada awal pemeliharaan berbentuk butiranbutiran kecil (crumbles).

8 | Caspry

Mulai hari ke-2 hingga ayam dipanen sudah diberi air munum. Vaksinasi yang pertama dilaksanakan pada hari ke-4. Minggu Kedua (hari ke-8 sampai ke-14). Pemeliharaan minggu kedua masih memerlukan pengawasan seperti minggu pertama, meskipun lebih ringan. Pemanas sudah bisa dikurangi suhunya. Kebutuhan pakan untuk minggu kedua adalah 33 gram per ekor atau 3,3 kg untuk 100 ekor ayam. Minggu Ketiga (hari ke-15 sampai ke-21). Pemanas sudah dapat dimatikan terutama pada siang hari yang terik. Kebutuhan pakan adalah 48 gram per ekor atau 4,8 kg untuk 100 ekor. Pada akhir minggu (umur 21 hari) dilakukan vaksinasi yang kedua menggunakan vaksin ND strain Lasotta melalui suntikan atau air minum. Jika menggunakan air minum, sebaiknya ayam tidak diberi air minum untuk beberapa saat lebih dahulu, agar ayam benar-benar merasa haus sehingga akan meminum air mengandung vaksin sebanyakbanyaknya. Minggu Keempat (hari ke-22 sampai ke-28). Pemanas sudah tidak diperlukan lagi pada siang hari karena bulu ayam sudah lebat. Pada umur 28 hari, dilakukan sampling berat badan untuk mengontrol tingkat pertumbuhan ayam. Pertumbuhan yang normal mempunyai berat badan minimal 1,25 kg. Kebutuhan pakan adalah 65 gram per ekor atau 6,5 kg untuk 100 ekor ayam. Kontrol terhadap ayam juga harus ditingkatkan karena pada umur ini ayam mulai rentan terhadap penyakit. Minggu Kelima (hari ke-29 sampai ke-35). Pada minggu ini, yang perlu diperhatikan adalah tatalaksana lantai kandang. Karena jumlah kotoran yang dikeluarkan sudah tinggi, perlu dilakukan pengadukan dan penambahan alas lantai untuk menjaga lantai tetap kering. Kebutuhan pakan adalah 88 gram per ekor atau 8,8 kg untuk 100 ekor ayam. Pada umur 35 hari juga dilakukan sampling penimbangan ayam. Bobot badan dengan pertumbuhan baik mencapai 1,8 sampai 2 kg. Dengan bobot tersebut, ayam sudah dapat dipanen. Maka dapat disimpulkan bahwa kebutuhan pakan hingga berumur 5 minggu adalah 24,7 kg untuk 100 ekor ayam. Minggu Keenam (hari ke-36 sampai ke-42). Jika ingin diperpanjang untuk mendapatkan bobot yang lebih tinggi, maka kontrol terhadap ayam dan lantai kandang tetap harus dilakukan. Pada umur ini dengan pertumbuhan yang baik, ayam sudah mencapai bobot 2,25 kg. Menurut Bambang (1995) untuk pemberian pakan ayam ras broiler ada 2 (dua) fase yaitu fase starter (umur 0-4 minggu) dan fase finisher (umur 4-6 minggu): a. Kuantitas pakan fase starter adalah terbagi/digolongkan menjadi 4 (empat) golongan yaitu minggu pertama (umur 1-7 hari) 17 gram/hari/ekor, minggu kedua (umur 8-14 hari) 43 gram/hari/ekor, minggu ke-3 (umur 15-21 hari) 66 gram/hari/ekor dan minggu ke-4 (umur 22-29 hari) 91 gram/hari/ekor. Jadi jumlah pakan yang dibutuhkan tiap ekor sampai pada umur 4 minggu sebesar 1.520 gram.

9 | Caspry

b.

a.

b.

a.

b.

c.

Kuantitas pakan fase finisher adalah terbagi/digolongkan dalam empat golongan umur yaitu: minggu ke-5 (umur 30-36 hari) 111 gram/hari/ekor, minggu ke-6 (umut 37-43 hari) 129 gram/hari/ekor, minggu ke-7 (umur 44-50 hari) 146 gram/hari/ekor dan minggu ke-8 (umur 51-57 hari) 161 gram/hari/ekor. Jadi total jumlah pakan per ekor pada umur 30-57 hari adalah 3.829 gram. Sedangkan Pemberian minum disesuaikan dangan umur ayam yang dikelompokkan dalam 2 (dua) fase yaitu: Fase starter (umur 1-29 hari), kebutuhan air minum terbagi lagi pada masingmasing minggu, yaitu minggu ke-1 (1-7 hari) 1,8 lliter/hari/100 ekor; minggu ke-2 (8-14 hari) 3,1 liter/hari/100 ekor, minggu ke-3 (15-21 hari) 4,5 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-4 (22-29 hari) 7,7 liter/hari/ekor. Jadi jumlah air minum yang dibutuhkan sampai umur 4 minggu adalah sebanyak 122,6 liter/100 ekor. Pemberian air minum pada hari pertama hendaknya diberi tambahan gula dan obat anti stress kedalam air minumnya. Banyaknya gula yang diberikan adalah 50 gram/liter air. Fase finisher (umur 30-57 hari), terkelompok dalam masing-masing minggu yaitu minggu ke-5 (30-36 hari) 9,5 liter/hari/100 ekor, minggu ke-6 (37-43 hari) 10,9 liter/hari/100 ekor, minggu ke-7 (44-50 hari) 12,7 liter/hari/100 ekor dan minggu ke-8 (51-57 hari) 14,1 liter/hari/ekor. Jadi total air minum 30-57 hari sebanyak 333,4 liter/hari/ekor. Cara Pemberian Pakan: Untuk anak ayam umur 1 - 6 hari (kutuk), pakan ditabur atau sediakan pada wadah yang mudah terjangkau, jenis pakan yang dipakai adalah ransum ayam ras starter (pakan komersial). Ayam umur 7 hari s/d 1 bulan dapat diberikan pakan campuran yaitu pakan ayam ras starter dicampur dengan katul dan dedak halus, dengan perbandingan 1: 1 atau jagung giling dan katul dengan perbandingan 2 : 1 dan dapat di tambah protein hewani. Ayam umur 2-4 bulan dan seterusnya, diberikan pakan campuran, dedak halus, jagung giling, dan pakan komersil dengan perbandingan 3:1:1 dan dapat di tambahan gabah, gaplek dan tepung ikan. 2.5. Vaksinasi dan Pencegahan Penyakit 1. Vaksinasi Vaksinasi adalah pemasukan bibit penyakit yang dilemahkan ke tubuh ayam untuk menimbulkan kekebalan alami. Vaksinasi penting yaitu vaksinasi ND/tetelo. Dilaksanakan pada umur 4 hari dengan metode tetes mata, dengan vaksin ND strain B1 dan pada umur 21 hari dengan vaksin ND Lasotta melalui suntikan atau air minum. Vaksin adalah mikroorganisme penyebab penyakit yang sudah dilemahkan atau dimatikan dan mempunyai sifat immunogenik. Immunogenik artinya dapat merangsang pembentukan kekebalan. Vaksinasi adalah proses memasukkan vaksin ke dalam tubuh ternak dengan tujuan supaya ternak tersebut kebal terhadap penyakit yang disebabkan organisme tersebut. Vaksin 10 | C a s p r y

ada dua macam, yaitu vaksin aktif dan vaksin inaktif. Vaksin aktif adalah vaksin yang mikroorganismenya masih aktif atau masih hidup. Biasanya vaksin aktif berbentuk sediaan kering beku, contoh: MEDIVAC ND LA SOTA, MEDIVAC ND-IB dan MEDIVAC GUMBORO A. Vaksin inaktif adalah vaksin yang mikroorganismenya telah dimatikan. Biasanya berbentuk sediaan emulsi atau suspensi, contoh: MEDIVAC ND-EDS EMULSION, MEDIVAC CORYZA B (Jahja, 2000). Pelaksanaan Kegiatan vaksinasi dapat dilakukan dengan cara membagi ayam menjadi 2 kelompok besar dalam sekatan. Ayam kemudian digiring ke dalam 2 sekatan yang terbentuk. Vaksinasi dilakukan mulai dari pen terakhir hingga pen pertama. Ayam yang telah divaksinasi diletakan diluar sekatan hingga kemungkinan terjadinya pengulangan vaksinasi dapat diminimalisir. Pemberian vaksin dapat dilakukan dengan beberapa cara, seperti tetes mata, hidung, mulut (cekok), atau melalui air minum. Vaksinasi harus dilakukan dengan benar sehingga tidak menyakiti, unggas dan mempercepat proses vaksinasi, dan tidak meninggalkan sisa sampah dari peralatan vaksinasi seperti suntikan, sarung tangan, masker maupun sisa vaksin yang digunakan (botol vaksin). Unggas yang divaksin harus benar- benar dalam keadaan sehat tidak dalam kondisi sakit maupun stress sehingga akan mendapatkan hasil yang maksimal dan tidak terjadi kematian dalam proses vaksinasi. Tata cara vaksinasi harus ditempat yang teduh, bersih, vaksin tidak dalam kondisi sakit maupun stress sehingga tidak merusak vaksin. Program vaksinasi untuk unggas, harus disesuaikan dengan umur dari unggas tersebut dan harus berhati-hati dalam memvaksin karena sangat sensitif terhadap jarum suntik dan dapat menimbulkan stress dan kematian mendadak (Jahja, 2000). Manajemen Brooding Pada ayam broiler (pedaging), masa brooding ialah periode pemeliharaan dari DOC (chick in) hingga umur 14 hari (atau hingga pemanas tidak digunakan). Baik tidaknya performance ayam di masa selanjutnya seringkali ditentukan dari bagaimana pemeliharaan di masa brooding. Satu hal yang patut diperhatikan oleh peternak ialah kesalahan manajemen pada periode ini seringkali tidak bisa dipulihkan (irreversible) dan berdampak negatif terhadap performance ayam di periode pemeliharaan berikutnya.

Manajemen brooding yang baik merupakan salah satu penentu keberhasilan peternakan ayam (Sumber : Dok. Medion 11 | C a s p r y

Kenyataannya, pendapat di atas benar adanya karena pada masa ini terjadi perkembangan pesat berbagai organ tubuh ayam (yang tidak dijumpai pada umur lebih tua). Oleh karena itu, diharapkan peternak perlu benar-benar memberikan perhatiannya terhadap masa ini. Ada beberapa hal yang mengalami perkembangan pesat pada umur ini yaitu : 1. Kekebalan tubuh ayam Pada periode ini terjadi peralihan antara kekebalan pasif (kekebalan yang diturunkan dari induk/ antibodi maternal) ke kekebalan aktif (milik anak ayam). Kekebalan pasif berasal dari penyerapan kantung kuning telur selama periode pengeraman dan beberapa hari setelah menetas. Kekebalan pasif ini cukup efektif untuk mencegah infeksi pada anak ayam, namun jangka waktunya pendek dan tingkat protektivitasnya akan terus menurun sejalan dengan waktu (menjadi tidak protektif,red). Oleh karena itu, dibutuhkan kekebalan pengganti yaitu kekebalan aktif. Tergertaknya kekebalan aktif dalam tubuh ayam juga berkaitan dengan perkembangan optimal dari organ-organ kekebalan tubuh ayam seperti limpa, thymus, bursa Fabricius, peyer patches dan sebagainya. Umur satu minggu, perkembangan organ limfoid sudah mencapai 70%. Namun perlu diingat, bila berat badan ayam tidak mencapai standar maka perkembangan organ limfoid pun terganggu (begitu juga dengan kekebalan ayam). Keterkaitan antara penggertakan kekebalan aktif dan perkembangan organ kekebalan mendasari diperlukannya tindakan vaksinasi sebagai tindakan yang efektif menggertak kekebalan aktif. Stimulus vaksin akan merangsang pematangan sel-sel pertahanan tubuh milik anak ayam (yang sedang berkembang pesat pada umur tersebut,red) sehingga merangsang terbentuknya kekebalan aktif baik lokal (di mukosa saluran pernapasan) ataupun seluruh tubuh. Atas dasar itu, beberapa vaksinasi dilakukan pada masa ini misalnya ND (4 hari), IB (4 hari), Gumboro (7 atau 14 hari) serta AI (10 hari). Diharapkan ketika antibodi maternal sudah tidak protektif, antibodi aktif hasil gertakan vaksinasi ini sudah mampu melindungi ayam dari infeksi lapang. 2. Sistem pencernaan Perkembangan pesat juga ditunjukkan oleh organ pencernaan misalnya lambung, tembolok, usus, hati, pankreas dan sebagainya baik dalam ukuran maupun panjangnya. Untuk vili usus, perkembangan yang baik ditunjukkan dengan ukuran vili yang panjang, besar, jumlah banyak dan seragam. Vili yang seperti itu akan membantu efisiensi ransum. Seperti diketahui bahwa efisiensi ransum paling baik terjadi pada fase ini.

12 | C a s p r y

Organ pencernaan anak ayam umur 2 hari. Saluran pencernaan berkembang paling baik pada ayam yang langsung diberikan ransum saat chick in (atas). Yang tengah ialah yang diberikan 8 jam setelah chick in sedangkan yang paling bawah ialah yang belum diberikan ransum sama sekali (Sumber : Tony Unandar) 3. Kerangka tubuh Seiring dengan bertambahnya umur, terjadi pertambahan massa, tebal dan panjang tulang. Pembentukan kerangka tubuh yang optimal akan mampu menopang perkembangan organ lain. Selain itu juga menekan terjadinya afkir ayam karena patah tulang dan kelumpuhan. 4. Thermoregulasi (pengaturan suhu tubuh) Ayam tidak memiliki kemampuan untuk mengatur suhu tubuhnya selama 5 hari pertama dan belum secara optimal mampu mengatur suhu sendiri hingga umur 2 minggu. Atas dasar itu kelangsungan hidup anak ayam pada periode ini mutlak tergantung dari bagaimana peternak mampu menyediakan suhu yang nyaman untuk anak ayam. 5. Perkembangan bulu Bagi anak ayam, bulu berperan menjaga kehangatan. Ketersediaan asam amino akan membantu pertumbuhan bulu ayam sehingga lebih cepat melindungi ayam dari cekaman suhu dan angin. Setelah penjelasan di atas, sungguh sangat disayangkan jika fase ini tidak dioptimalkan oleh peternak. Untuk mengetahui apakah manajemen brooding sudah berhasil atau tidak, salah satunya dengan melakukan penimbangan berat badan ayam di umur 7 hari. Dikatakan berhasil bila berat ayam pada umur 7 hari setidaknya 4 kali berat saat DOC (cobb-vantress.com). Jika target 13 | C a s p r y

ini tidak dicapai maka manajemen brooding yang telah dilakukan, perlu dievaluasi. Meski makna brooding sendiri ialah dari pemeliharaan dari DOC hingga lepas brooder, tapi keberhasilan manajemen brooding ditentukan oleh tiga fase yaitu persiapan kandang (pre chick in), penyambutan DOC (chick in) dan manajemen brooding sendiri. Berikut penjelasan mengenai ketiga fase tersebut. Pre Chick In Disebut juga masa persiapan sebelum chick in. Dalam tahap ini perlu diperhatikan mengenai : 1. Biosekuriti ketat Biosekuriti ketat adalah kunci menekan penularan penyakit dari periode sebelumnya. Untuk mewujudkannya, peternak dapat melakukan berbagai tindakan selama pre chick in yang dimulai dari : a. Tahap persiapan kandang yang optimal seperti pengangkatan feses, penyikatan hingga ke sela-sela kandang, perbaikan kerusakan kandang dan desinfeksi kandang menggunakan Formades atau Sporades.

Perbaiki lantai kandang yang rusak juga termasuk ke dalam hal yang dilakukan saat pre chick in (Sumber : Dok. Medion)
b. Desinfeksi Tempat Minum Ayam (TMA) dan Nampan Ransum DOC

(NRDOC) sebelum digunakan kembali. Rendamlah dengan Zaldes atau Medisep selama 15-30 menit lalu diangin-anginkan sebelum dipakai. c. Masa istirahat kandang yang cukup sebelum chick in (minimal 14 hari setelah desinfeksi).

14 | C a s p r y

2. Persiapan peralatan dan perlengkapan kandang Meliputi pemilihan bahan litter, jumlah Nampan Ransum DOC (NRDOC), Tempat Minum Ayam (TMA) dan Indukan Gas Medion (IGM). Perencanaan yang matang dari tahap ini menentukan keberhasilan fase chick in. Bahan litter yang dapat digunakan antara lain sekam padi, jerami, serutan kayu halus dan kertas. Sekam padi merupakan bahan litter yang paling sering digunakan karena murah, mudah ditemukan, ketersediaannya kontinu dan tidak toksik bagi ayam. Dianjurkan ketebalan litter sekam padi ialah 812 cm. Sebelum dimasukkan ke dalam kandang, litter dikeringkan dulu lalu disemprot dengan Formades atau Sporades dan diangin-anginkan sebelum digunakan. Tujuannya untuk mematikan bibit penyakit dan memastikan litter benar-benar kering sehingga tidak mudah berjamur. Berangkat dari jumlah DOC per kandang, peternak membuat list peralatan yang dibutuhkan dan disesuaikan dengan kapasitas masing-masing peralatan. Usahakan agar jumlahnya tidak kurang dari kebutuhan agar menekan terjadinya persaingan antar ayam baik dalam hal ransum, air minum maupun ruang gerak. Contoh pada Tabel 1 bisa digunakan untuk kapasitas 1000 ekor DOC di kandang brooder. Tabel 1. Peralatan dan Perlengkapan Kandang Brooder Kapasitas 1000 ekor Ayam Broiler

Sumber : Dok. Medion Nyalakan pemanas 1-3 jam sebelum chick in. Tujuannya agar panas sudah menyebar merata baik udara, litter maupun air minum. Tindakan ini juga akan mengusir gas ammonia, menghangatkan udara dan air minum serta menurunkan kelembaban litter. Chick In Saat chick in, pertama kali lakukan penimbangan dan penghitungan jumlah DOC. Biar lebih mudah, peternak dapat menimbang DOC bersamasama dengan boksnya lalu dikurangi dengan berat boks kosong (umumnya berat satu boks 4kg). Sambil memindahkan DOC ke chick guard, seleksilah kualitas DOC. Pisahkan DOC yang kualitasnya buruk seperti lesu, bulu kusam atau mata keruh. Selain berpotensi menjadi sumber penyakit, DOC berkualitas buruk akan 15 | C a s p r y

menurunkan persen keseragaman berat badan. Tips lain ialah gunakan DOC yang telah di-sexing karena ada perbedaan konsumsi ransum dan pertumbuhan antara ayam jantan dan betina. Anjuran lain ialah gunakan DOC yang sudah dipotong paruhnya agar ayam mudah mematuk ransum sehingga menekan jumlah ransum tercecer. Selain itu, mengurangi kanibalisme karena patuk mematuk. Saat chick in, peternak juga wajib menyediakan nutrisi dan lingkungan yang baik. Berikut ulasannya : 1. Nutrisi Selayaknya kita saat bertamu ke rumah kerabat, tentu akan sangat nyaman dan betah bila saat datang disambut dengan baik dan disuguhi berbagai hidangan yang nikmat. Perumpamaan ini juga berlaku saat chick in dimana DOC datang dalam kondisi yang lemah setelah perjalanan sehingga menuntut pelayanan yang maksimal dari peternak. Sediakan air gula 2-5% (20-50 gram dalam 1 liter air minum) ditambah Strong n Fit untuk mengganti energi yang hilang dari tubuh ayam dengan segera. Ada baiknya, air minum tersebut hangat suam-suam kuku (26,733oC). Hal ini untuk mencegah cold shock atau ayam trauma meminum air minum karena suhu air terlalu dingin. Bersamaan dengan itu, berikan pula ransum. Selain sebagai nutrisi, pemberian ransum dini akan memacu perkembangan vili dan pemanjangan usus. Pemberian yang sedikit demi sedikit akan lebih baik daripada sekaligus dalam satu kali pemberian (Tabel 2). Daya tampung tembolok DOC yang terbatas dan terjaganya kesegaran ransum adalah alasan anjuran tersebut sehingga nafsu makan ayam tetap tinggi. Keuntungan lain ialah saat memberi ransum, peternak bisa sekaligus mengontrol kondisi ayam. Tabel 2. Pembagian Waktu Pemberian Ransum

Sumber : Dok. Medion Berikan air minum biasa setelah air gula habis atau 1-2 jam setelah chick in. Akan lebih baik, jika air tersebut ditambah Vita Chick atau Strong n Fit sehingga perkembangan tubuh ayam lebih optimal. Jika kondisi anak ayam jelek (seperti kaki kering, bulu kusam dan sebagainya) berikan Neo Meditril untuk meminimalkan resiko infeksi bakteri misalnya colibacillosis. Lakukan pemeriksaan konsumsi ransum dan air minum, 2-3 jam setelah pemberian ransum pertama melalui perabaan tembolok. Konsumsi ransum dikatakan baik bila minimal 75% sampel DOC teraba kenyal dan lunak yang mengindikasikan bahwa ayam sudah mengkonsumsi cukup ransum dan juga air minum. Jika perlu, peternak dapat melakukan pemeriksaan kembali 24 16 | C a s p r y

jam setelah pemberian ransum dengan indikator 95% tembolok ayam harus teraba kenyal dan lunak. Tembolok yang keras menunjukkan bahwa ayam tidak cukup mengkonsumsi air minum atau bahkan mengkonsumsi sekam (litter). Tetapi jika tembolok berisi air, diduga ayam cukup mengkonsumsi air namun tidak dengan ransum. Jika tidak mencapai 95%, peternak wajib mengevaluasi manajemen chick in misalnya nutrisi, kenyamanan kandang, jumlah TRA, TMA dan sebagainya. Selain ketika chick in, metode perabaan tembolok ini juga dapat digunakan saat penggantian tempat ransum. Metodenya sama yaitu pemeriksaan dilakukan 3 jam setelah perlakuan. 2. Modifikasi lingkungan Pada 1-3 jam setelah chick in, lakukan pemeriksaan suhu litter apakah sudah nyaman atau belum. Salah satu teknik mendeteksinya ialah melihat kondisi kaki DOC. Jika litter terlalu panas, kaki DOC akan kemerahan dan terlihat pecah-pecah terutama di kuku dan telapak. DOC yang mengalami hal ini biasanya akan berkumpul jauh dari brooder. Sebaliknya jika litter terlalu dingin, kaki DOC akan teraba dingin (dibanding suhu tubuh kita). Konsumsi ransum dari DOC yang kedinginan juga akan menurun karena DOC cenderung diam dan meringkuk.

Tembolok DOC yang sudah mengkonsumsi ransum dan air minum (kanan) dibandingkan dengan yang belum (kiri) (Sumber : Anonimous) Masa Brooding Manajemen masa brooding perlu memperhatikan beberapa hal antara lain : 1. Nutrisi Berikan ransum berkualitas dan khusus broiler starter dengan jumlah sesuai standar breeder. Perkembangan yang pesat pada umur ini sebaiknya juga dioptimalkan dengan suplementasi. Dibandingkan dengan masa finisher, kebutuhan ayam masa starter (termasuk masa brooding) akan asam amino lebih tinggi terutama yang essensial (yang tidak bisa dibuat oleh tubuh). Suplementasi asam amino 17 | C a s p r y

seperti methionine dan lysine akan membantu pembentukan otot dan tulang. Manfaat asam amino akan lebih optimal bila dibantu dengan suplementasi vitamin dan mineral. Seperti halnya vitamin B kompleks yang akan meningkatkan metabolisme tubuh. Selain mengenai kualitas ransum, perhatikan pula mengenai bentuk ransum yang digunakan. Untuk masa brooding, dianjurkan ransum berbentuk fine crumble (butiran halus). Alasan dari anjuran ini ialah karena bentuk fine crumble lebih mudah dikonsumsi oleh anak ayam sehingga konsumsi ransum tetap baik dan juga lebih efisien (tidak banyak terbuang). Pergantian tempat ransum dari Nampan Ransum DOC (NRDOC) ke Tempat Ransum Ayam (TRA) yang diletakkan di litter juga terjadi pada fase ini yang mengikuti pertambahan tinggi tubuh ayam. Tujuannya agar ayam nyaman dan nafsu makan tetap tinggi. Penggantian ini dilakukan mulai umur 7 hari. Buatlah masa transisi misalnya NRDOC diganti di hari pertama, lalu meningkat menjadi di hari ketiga. Di hari kelima pergantian mencakup dan di hari ketujuh semua NRDOC telah berganti menjadi TRA (kira-kira di umur 14 hari). Saat masa transisi, peternak dapat memberikan Vita Stress, Fortevit atau Vita Strong untuk menekan stres. Hal yang sama juga berlaku untuk Tempat Minum Ayam (TMA) dimana hingga 7 hari dianjurkan menggunakan TMA 1 galon atau lebih kecil agar ayam mudah meminum air. Bagi peternakan yang menggunakan nipple drinker (ND-360), perhatikan ketinggian ND-360 dan tekanan air dalam pipa. Secara umum, ketinggian ND-360 ketika chick in ialah sejajar dengan mata ayam. Kemudian membentuk sudut sebesar 45oC dari mata ayam (atau mengikuti kontur punggung) di umur selanjutnya. Umumnya, setiap nipple drinker sudah mencantumkan tekanan air yang sesuai untuk spesifikasinya. Ada beberapa cara untuk mendeteksi apakah tekanan air minum dan juga ketinggian nipple drinker sudah sesuai. Salah satunya ialah dengan memperhatikan kebasahan litter di bawah nipple drinker. a. Jika litter terlalu basah maka diduga nipple drinker terlalu rendah atau tekanan air dalam pipa terlalu tinggi. b. Jika litter terlalu kering, bisa jadi nipple drinker dipasang terlalu tinggi atau tekanan air dalam pipa terlalu rendah. Meski begitu, pada beberapa situasi, penyebabnya bisa berbeda, misalnya saat tekanan air terlalu rendah, litter selalu basah. Ternyata hal tersebut disebabkan tetesan air dari nipple drinker yang tidak menutup sempurna. Oleh karena itu, tekanan air dalam pipa dianjurkan mengikuti standar nipple tersebut. 2. Lingkungan Beri perhatian terhadap cahaya, suhu, kelembaban dan kecepatan angin. Umumnya, setiap breeder telah mencantumkan bagaimana lingkungan yang nyaman bagi perkembangan optimal ayam. 18 | C a s p r y

Salah satu faktor yang ikut berperan mengatur keempat hal tersebut ialah tirai kandang. Dikatakan demikian karena tirai berfungsi untuk menjaga suhu dan kelembaban udara, mengatur jumlah cahaya yang masuk, mencegah tampias air hujan atau terpaan angin langsung mengenai tubuh ayam dan membantu mengeluarkan ammonia serta debu dari kandang. Saat chick in tirai tertutup total (dengan celah 20-30 cm di bagian atas). Baru pada 7 hari, tirai dibuka dari atas dan saat 14 hari, tirai dibuka hingga .

Tirai terbuka dari atas sehingga cahaya masuk dan sirkulasi udara berjalan lancar tanpa mengganggu kenyamanan ayam (Sumber : Dok. Medion) Manajemen Kesehatan Di luar dari tiga manajemen tersebut, ada satu hal yang patut diperhatikan juga yaitu manajemen kesehatan ayam. Beberapa tindakan penting dalam mencegah penyakit ialah vaksinasi maupun cleaning program. Saat melakukan vaksinasi, perlakukan ayam dengan hati-hati. Perlakuan yang kasar ataupun vaksinasi yang tergesa-gesa, selain menyebabkan ayam stres, juga rentan mencederai ayam dan ada kemungkinan ayam mendapatkan vaksin tidak dosis. Jika diperlukan, peternak dapat menerapkan clearing program dengan Amoxitin, Therapy, Proxan-C, Proxan-S, atau Neo Meditril sesuai dengan dosis dan aturan pakai. Selepas pemberian air gula, jika kondisi DOC tidak baik bisa dilakukan cleaning program ini.

19 | C a s p r y

(Sumber : Dok. Medion) Penerapan poin-poin di atas dalam manajemen brooding diharapkan mampu mengoptimalkan potensi genetik ayam broiler. Seperti kata pepatah, bersusah-susah dahulu bersenang-senang kemudian, bersusah di masa brooding, lebih ringan di masa finisher dan gembira saat panen. Semoga itu semua bisa kita capai. Sukses selalu. Konsumsi Ransum Ternak akan dapat mencapai tingkat penampilan produksi tertinggi sesuai dengan potensi genetiknya bila memperolh zat-zat makanan yang dibutuhkannya. Zat makanan tersebut diperoleh ternak dengan jalan mengkonsumsi sejumlah makanan (Sutardi,1980). Menurut Maynard and Loosly (1962) tujuan ternak mengkonsumsi ransom adalah untuk hidup, bertumbuh dan berproduksi. Konsumsi adalah jumlah makanan yang terkonsumsi oleh hewan bila diberikan secara ad libitum. (Parakkasi, 1999). Sedangkan menurut Tillman et al. (1991) konsumsi diperhitungkan dari jumlah makanan yang dimakan oleh ternak, dimana zat makanan yang dikandungnya akan digunakan untuk mencukupi kebutuhan hidup pokok dan untuk produksi hewan tersebut. Palatabilitas juga merupakan factor yang menentukan tingkat konsumsi ransom pada ternak. Menurut Church (1979) palatabilitas dipengaruhi oleh bentuk, bau, rasa tekstur, dan suhu makanan yang diberikan. Ewing (1963) menambahkan bahwa ayam lebih menyukai bahan bahan makanan yang berwarna cerah. Unggas mengkonsumsi ransom kira-kira setara dengan 5% dari bobot badan (Wiradisastra, 1986). Menurut Wahju (19970 konsumsi ransom ayam jantan lebih besar daripada ayam betina. NRC (1994) menyebutkan bahwa rataan konsumsi ransom ayam broiler yang dipelihara selama 4 minggu adalah 1616 gr untuk jantan dan 1490 gr untuk betina. Konsumsi Air Air merupakan senyawa penting dalam kehidupaan. Dua per tiga bagian tubuh hewan adalah air dengan berbagai peranan untuk kehidupan (Parakkasi, 1999). Menurut Scott et al. (1982) , air mempunyai fungsi sebagai berikut : (1) zat dasar dari darah, cairan interseluler dan intraseluler yang bekerja aktif dalam transformasi zatzat 20 | C a s p r y

makanan, (2) penting dalam mengatur suhu tubuh karena air mempunyais sifat menguap dan specific heat, (3) membantu mempertahankan homeostatis dengan ikut dalam reaksi dan perubahan fisiologis yang mengontrol pH, tekanan osmotis, konsentrasi elektrolit. Kandungan air dalam tubuh anak ayam berumur satu minggu adalah 85% pada umur 42 minggu. Kehilangan air tubuh 10% dapat menyebabkan keruskan yang sangat hebat dan kehilangan air tubuh 29% akan menyebabkan kematian (Wahju, 1997). Pada ayam broiler konsumsi air minum erat hubungannya dengan bobot badan dan konsumsi ransum. Menurut Ensminger et al (1990) pada umumnya ayam mengkonsumsi air minum dua kali dari bobot pakan yang dikonsumsi. Konsumsi air minum juga akan meningkatkan pada saat ayam pada temperatur lingkungan yang tinggi. (May and Lott, 1992). Menurut NRC (1994) konsumsi air minum bertambah sekitar 7% setiap peningkatan suhu 10C diatas suhu 210C. Konsumsi Air Minum Ayam Broiler Tiap Minggu Pada Umur Yang Berbeda Umur (Minggu) Konsumsi (ml/ekor)

Sumber : NRC (1994) Pertumbuhan Salah satu hal penting dalam menentukan produksi ternak adalah dengan mengetahui pertumbuhannya. Pertumbuhan merupakan suatu proses yang sangat kompleks yang meliputi pertambahan bobot hidup dan pertumbuhan secara merata dan serentak (Maynard et al., 1979). Sedangkan menurut Anggorodi (1980) pertumbuhan didefinisikan sebagai pertambahan dalam bentuk dan jaringan seperti urat daging, tulang, jantung, otak, dan semua jaringan tubuh lainnya. Pertambahan bobot badan diperoleh melalui pengukuran kenaikan bobot 21 | C a s p r y

badan dengan melakukan pertimbangan berulang-ulang dalam waktu tiap hari, tiap minggu atau tiap bulan (Tillman et al., 19910. kecepatan pertumbuhan mempunyai variasi yng cukup besar, keaddan inibergantung pda tipe ayam, jenis kelamin, galur, tata laksana, temperatur lingkungan, tempat ayam tersebut dipelihara serta kualitas dan kuantitas makanan (Anggorodi, 1980). Scott et al (1982) menyatakan bahwa dalam keaddan normal ayam jantan tumbuh lebih cepat dari pada ayam betina. Keseimbngan zat-zat nutrisi terutama imbangan energi dan protein penting karena nyata mempengaruhi pertumbuhan (Scott et al., 1982). Menurut Siregar et l (9182) dan Wahju (1997) kualitas dari bahan-bahan makanan yang dipergunakan untuk membuat ransum serta keserasiasn komposisi silai gizi yang sesuai dengan kebutuhan untuk pertumbuhan merupakan dua hal yang penting dalam menentukan puncak performan ayam broiler. Pada umumnya semua ternak unggas, khususnya ayam broiler termasuk golongan yang memiliki pertumbuhan cepat. Scott et al. (1982) berpendapat bahwa poertumbuhan ayam pedaging sengat cepat dan pertumbuhan dimulai sejak menetas sampai umur 8 minggu, setelah itu kecepatan pertumbuhan akan menurun. Pertumbuhan sangat erat hubungannya dengan konsumsi, dan diperkirakan 63% dari penurunan pertumbuhan disebabkan karena menurunnya konsumsi ransum dari ayam (Daghir, 1998). Leeson dan Summer (1991) menjelaskan bahwa temperatur tinggi dan saat ayam dalam keadaan stress, pertumbuhannya akan menurun karena konsumsi ransumnya menurun. Konversi Ransum Konversi ransum merupakan suatu ukuran yang dapat digunkan untuk menilai efisiensi penggunaan ransum serta kualitas ransum. Konversi ransum adalah perbandingan antara jumlah ransum yang dikonsumsi dengan pertambahan bobot badan dalam jangka waktu tertentu (North, 1984). Rasyaf (1992) menyatakan bahwa

22 | C a s p r y

salah satu ukuran efisiensi adalah dengan membandingkan antara jumlah ransum yang diberikan (input) dengan hasil yang diperole baik itu daging atau telur (output). Nilai suatu ransum selain ditentukan oleh nilai konsumsi ransum dan tingkat pertumbuhan bobot badan juga ditentukan oleh tingkat konversi ransum, dimana konversi ransum menggambarkan banyaknya jumlah ransum yang digunakan untuk pertumbuhannya (Wiradisastra, 1986). Semakin rendah angka konversi ransum berarti kualitas ransum semaikin baik. Anggorodi (1980) menyatakan bahwa nilai konversi ransum dapat dipenuhi oleh beberapa factor, diantaranya adalah suhu lingkungan, laju perjalanan ransum melalui alat pencernaan, bentuk fisik, dan konsumsi ransum. Nilai konversi ransum berhubungan dengan biaya produksi, khususnya biaya ransum, karena semakin tinggi konversi ransum maka biaya ransum akan meningkat karena jumlah ransum yang dikonsumsi untuk menghasilkan bobot badan dalam jangka waktu tertentu semakin tinggi. Nilai konversi ransum ransum yang tinggi menunjukkan jumlah ransum yang dibutuhkan untuk menaikkan bobot badan semakin meningkat dan efisiensi ransum semakin rendah (Card and Nesheim, 1972)

23 | C a s p r y