Anda di halaman 1dari 38

LAPORAN PRAKTIKUM

MANAJEMEN TERNAK POTONG

Oleh:

Nurma Apriyanti
NIM : E1C013054
Kelompok:18 (Delapan Belas)
Pengoreksi : Jayanti Sekar Arum

Jurusan Peternakan Fakultas Pertanian


Universitas Bengkulu
Juni 2015

1 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

KATA PENGANTAR
Syukur Alhamdulillah saya panjatkan kepada Allah Swt, karena berkat rahmat dan
hidayah-Nya laporan praktikum Manajemen Ternak potong dan Kerja ini dapat ditulis dan
diselesaikan tepat pada waktunya.
Penulis mengucapkan terimakasih sebesarnya-besarnya kepada asisten-asisten
praktikum mata kuliah ini, yang telah menuntun dan mengkoordinir kami saat praktikum
berlangsung. Tak lupa pula penulis juga menyampaikan terima kasih banyak kepada Bapak Ir.
Dwatmadji, M.Sc,Ph.D selaku dosen pengasuh mata kuliah manajemen ternak potong dan
kerja di Jurusan Peternakan Universitas Bengkulu, karena telah membimbing dan
mengajarkan kami saat praktikum berlangsung. Juga kepada Ibu Drh.tatik Suteky. M.Sc.
selaku asisten mata kuliah Manajemen ternak potong dan kerja. Serta rekan-rekan satu
kelompok yakni kelompok 18 (Jayanti, wahyu, puji, dan utami) terimakasih atas
kerjasamanya.
Laporan ini dibuat agar bisa bermanfaat dan untuk menjadi pembelajaran tahap
selanjutnya. Penulisan laporan ini masih dalam tahap belajar.
Penulis menyadari masih banyak sekali kekurangan dalam laporan ini. Oleh karena
itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran yang membangun untuk perbaikan dalam
menyusun laporan yang akan datang. Semoga laporan ini dapat memberi manfaat bagi kita
semua, terutama bagi kita mahasiswa yang masih dalam tahap pembelajaran.
Bengkulu, Mei 2015
Penulis

(Nurma Apriyanti)

2 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

DAFTAR ISI:

KATA PENGANTAR.................................................................................................................2
DAFTAR ISI:.............................................................................................................................3
A.

PENDAHULUAN...........................................................................................................4
A1. Latar belakang.................................................................................................................4
A2. Tujuan praktikum............................................................................................................5

B.

ASUMSI UNTUK DIAGRAM BREEDING DAN PERHITUNGAN USAHA...........6


B1. Asumsi-asumsi yang digunakan untuk diagram breeding:..............................................6
B2. Asumsi-asumsi untuk perhitungan ekonomi usaha usaha ternak potong selama 4 tahun:
................................................................................................................................................6

C.

HASIL PRAKTIKUM....................................................................................................7
1.

Perhitungan populasi.......................................................................................................7

2.

Perhitungan kebutuhan pakan HPT dan konsentrat, kebutuhan lahan untuk HPT.........8

3.

Perhitungan produksi kompos.........................................................................................9

4.

Perhitungan obat-obatan..................................................................................................9

5.

Perhitungan kebutuhan karyawan.................................................................................10

6.

Perhitungan penjualan ternak jantan.............................................................................10

7.

Perhitungan kebutuhan kandang...................................................................................10

8.

Perhitungan ekonomi....................................................................................................10

D.

PEMBAHASAN...........................................................................................................13

KESIMPULAN DAN SARAN................................................................................................13

E.1 Kesimpulan.............................................................................................................15

E.2 Saran ......................................................................................................................16

DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................................17
LAMPIRAN...............................................................................................................................1

3 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

A.

PENDAHULUAN

A1. Latar belakang


Ternak potong merupakan suatu komoditi ternak yang diarahkan untuk tujuan
produksi. Pengembangan terhadap ternak potong harus memperhatikan karakteristik setiap
individu atau komoditi ternak, sehingga input teknologi yang diimplementasikan dalam setiap
usaha ternak potong perlu disesuaikan dengan sifat reproduksi, pertumbuhan dan kemampuan
adaptasi dari ternaknya.
Hasil utama yang diharapkan dari ternak potong adalah daging yang merupakan
bagian dari karkas pemotongan ternak. Seekor ternak potong dianggap mempunyai nilai
ekonomis tinggi apabila produksi karkas yang dihasilkan juga tinggi. Dengan demikian,
karkas dapat digunakan sebagai tolok ukur produktivitas ternak potong, karena karkas
merupakan bagian dari hasil pemotongan ternak yang mempunyai nilai ekonomis tinggi.
Domba merupakan hewan ternak yang menjadi salah satu komoditas utama
masyarakat. Masyarakat dari kalangan bawah yang memelihara dalam jumlah kecil sampai
kalangan tinggi yakni dalam bentuk industri. Kambing dan domba di Indonesia merupakan
hasil persilangan dari negara lain. Masa lalu domba diternakan di daerah tropika Afika dan
Asia terutama untuk produksi dagingnya. Fungsi tambahan lainnya adalah untuk produksi
wool, kulit, air susu dan pupuk (manure feaces).
Praktikum manajemen ternak potong dan kerja ini , diharapkan dapat memanajemen
pengelolaan komoditas domba skala industri dengan baik. Hal ini meliputi seleksi dan
pengadaan bibit, pakan, reproduksi, perawatan dan pengamanan biologis ternak, dan
pengolahan limbah.
Pengembangan peternakan berkaitan dengan peningkatan pendapatan. Pendapatan
yang meningkat dari suatu usaha peternakan akan memberikan motivasi untuk berusaha lebih
baik. Sukses dan gagalnya suatu usaha peternakan sangat dipengaruhi oleh kemampuan
ternaknya berproduksi dan harga input produksi serta output yang dihasilkan. Keadaan
tersebut erat kaitannya dengan kemampuan peternak dalam mengelola usahanya dan tingkat
keuntungan maksimum yang dicapainya. Peternak dengan jumlah ternak pemilikan yang
banyak, mempunyai kesempatan untuk memperoleh pendapatan yang lebih tinggi. Jumlah
pemilikan ternak yang lebih banyak umumnya akan lebih efisien dalam hal tenaga kerja dan
biaya produksi.
4 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

A2. Tujuan praktikum


Tujuan praktikum MK Manajemen Ternak Potong dan Kerja adalah untuk membekali
mahaiswa agar mampu:
a.Mengestimasi pertambahan populasi ternak potong.
b.Memahami aspek standar produksi dan reproduksi ternak potong untuk mendesign
pertambahan populasi selama kurun waktu tertentu.
c.Membuat estimasi kebutuhan pakan, kandang, dan lahan untuk pemeliharaan ternak potong.
d.Mengestimasi prospek keuntungan dan kerugian.

5 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

B.
ASUMSI UNTUK DIAGRAM BREEDING DAN PERHITUNGAN
USAHA
B1. Asumsi-asumsi yang digunakan untuk diagram breeding:
Service per Conception
Lama Estrus (hari)
Lama Bunting (hari)
Litter size (ekor)
Populasi jantan (ekor)
Populasi betina (ekor)
Lama menyusui(hari)
Dewasa tubuh(bulan)

2,5
2,5 x 17 = 42,5 / 43
148
2,9
1295
12950
65
7

B2. Asumsi-asumsi untuk perhitungan ekonomi usaha usaha


ternak potong selama 4 tahun:
1. Berat badan ternak
No

Asumsi Perhitungan
Berat
ternak dewasa jantan 40 kg
1
Berat
ternak dewasa betina 30 kg
2
Berat
ternak anak jantan 20 kg
3
Berat
ternak anak betina 15 kg
4

2. Kebutuhan pakan HPT/konsentrat


Asumsi Perhitungan

No

Kebutuhan
pakan HPT (segar) = 10%x bb ternak
1
Kebutuhan
pakan konsentrat = 10% x konsumsi pakan HPT
2
3Produksi HPT =0.5 kg/m2
4Umur panen 60 hari

6 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

3. Kebutuhan lahan untuk HPT dan kandang


No
Asumsi Perhitungan
Kebutuhan lahan/hari =kebutuhan pakan/produksi = 4/0.5 = 8 m2/hari
1
jadi kebutuhan minimum selama pemeliharaan = 8 x umur panen = 8 x 60 = 480 m2
2 1 ekor ternak membutuhkan luas kandang 4 m2

4. Perhitungan pengeluaran
No
Asumsi Perhitungan
1 Harga beli ternak betina = Rp 750.000
2 Harga lahan/meter = 15.000.000/10.000 = Rp 1.500/m2
3 Biaya obat-obatan Rp 8000/ekor/tahun
4 Harga Kandang Rp 400.000/m2
5 Harga Konsentrat Rp 2000/kg
6 Gaji karyawan Rp 2.500.000/bulan

5. Perhitungan penghasilan
No
Asumsi Perhitungan
1 Harga jual anak jantan Rp 800.000/ekor
2 Produksi kompos (kg) = 5% x berat badan ternak/hari
3 Harga kompos Rp 1.500/kg

C.

HASIL PRAKTIKUM

1.

Perhitungan populasi
Pada tahun pertama bibit di bulan pertama pada generasi G0 adalah berjumlah 14.245

yang terdiri dari 12.950 ekor betina dan 1295 ekor jantan .Terjadi pertambahan populasi pada
bulan ke tujuh, yaitu anakan dari bibit pertama, yang terdiri dari 18.778 ekor betina dan
18.778 ekor jantan. Hal ini berarti bahwa ternak yang dilahirkan 50% betina dan 50% jantan.
Dengan rumus (jumlah populasi induk betina litter size)/2 sehingga didapat jumlah
populasi anakan dan indukan.
Kemudian pada tahun ke dua bulan pertama generasi G0 yaitu tetap menjadi bibit
dengan jumlah 14.245 ekor yang terdiri dari betina 12.950 dan jantan 1.295. kemudian bulan
februari pada generasi G1 menjadi bibit terdiri dari 18.778 ekor betina dan 1.878 ekor jantan.
Dan ternak jantan yang dijual sebanyak 16900. Selanjutnya generasi G2 pada bulan maret
menjadi anak yang terdiri dari 18.778 ekor betina dan 18.778 ekor jantan. Untuk bulan
oktober generasi G2 menjadi induk terdiri dari 18778 ekor betina dan 1878 ekor jantan
dengan jumlah ternak jantan dijual 6900. Selanjutnya generasi pertama dari G1 yakni G1.1
7 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

pada bulan agustus tahun kedua menjadi anak dengan jumlah 27.227 jantan dan 27.227
betina. Dan pada bulan desember pada tahun kedua , generasi ketiga dari G0 , yakni G3,
menjadi anak dengan jumlah 18778 jantan dana 18778 betina.
Pada tahun ke tiga bulan Maret generasi pertama dari G1 menjadi induk dengan jumlah
27.227 pada betina dan 2723 pada jantan, sedangkan ternak dijual yakni 24505. Kemudian
bulan ke tujuh generasi ketiga dari G0 menjadi induk kembali yang terdiri dari 18778 ekor
betina dan 1878 ekor jantan dengan jumlah ternak jantan dijual yakni 16900. Dan pada bulan
5 generasi kedua dari G1 menjadi anak 27227 betina dan 27.227 jantan. Dan pada bulan
kelima ditahun ketiga generasi pertama dari G2 menjadi anak kembali dengan jumlah yang
sama seperti generasi kedua dari G1. Pada bulan agustus generasi keempat dari G0 menjadi
anak dengan jumlah betina18778 dan jantan 18778 . Pada bulan desember ditahun ketiga
generasi pertama dari G2 dan generasi kedua dari G1 menjadi induk dengan jumlah betina
27277 dan jumlah ternak jantan 2723 dengan jumlah ternak jantan dijual 24505. Dan
seterusnya.
Pada tahun keempat dibulan ketiga generasi ke empat dari G0 menjadi induk kembali
dengan jumlah betina 18778 dan jumlah tenak jantan 1878 dan ternak jantan dijual 16900 .
begitu seterusnya.

2.

Perhitungan kebutuhan pakan HPT dan konsentrat, kebutuhan

lahan untuk HPT


A . Kebutuhan pakan HPT
Berdasarkan tabel Pakan merupakan salah satu faktor terpenting dalam usaha ternak,
karena keberhasilan usaha ternak sangat ditentukan oleh pakan yang diberikan. Kebutuhan
pakan hijauan ternak domba yaitu asumsi untuk ternak jantann dengan berat 40 kg dan ternak
betina dengan berat 30 kg. Perhitungan kebutuhan pakan hijauan = (10% x asumsi berat
ternak x 30 hari) x jumlah populasi ternak .
Pada tahun pertama bulan Januari jumlah kebutuhan pakan hijauan untuk ternak
jantan dan betina 1165500 dan 155400 . Pada bulan Juli untuk ternak jantan dan betina yaitu
1.689.975
Pada tahun ke 2 bulan Februari jumlah kebutuhan pakan hijauan untuk induk ternak
jantan dan betina yaitu 2.855.475 dan 324.398,- , pada bulan oktober kebutuhan meningkat
menjadi 4.545.450. dan 493.395, sedangkan untuk pakan hijauan anak 1689975 betina dan
jantan sama dan terjadi peningkatan ketahun berikutnya.
8 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

Pada tahun ketiga kebuutuhan pakan indukan betina 4.454.450 dan indukan jantan
493395 dan meningkat ditahun berikutnya. Untuk kebutuhan pakan anak juga bertambah
ditahun-tahun berikutnya.
Pada tahun ke empat kebutuhan pakan HPT untuk ternak jantan dan betina baik anak
maupun indukan selalu meningkat setiap bulan.
A . Kebutuhan konsentrat
Total Kebutuhan konsentrat ternak ditahun pertama yakni 132.090, dan pada bulan
ketujuh meningkat menjadi 470.085. Ditahun kedua total kebutuhan konsentrat pada bulan 1
masih sama seperti dibulan ketujuh pada tahun pertama, mengalami penaikan pada bulan ke 3
dan ke 8.
Pada tahun ketiga , kebutuhan konsentrat dibulan kesatu sama seperti pada bulan ke
12 ditahun kedua , dan meningkat dibulan ke 5 dan 10. Dan ditahun ke empat , kebutuhan
konsentrat meningkat dtahun ke 12 yakni 8.344.524.
C . Kebutuhan Lahan untuk HPT
Total kebutuhan lahan untuk HPT pada bulan pertama ditahun pertama yakni
494.172.000 dan total konsentrat dibulan pertama tahun kedua yakni 1.710.954.000 dan total
konsentrat dibulan pertama tahun ketiga dan keempat yakni 4.813.748.100

Dan

14.481.081.090 .

3.

Perhitungan produksi kompos.


Total produksi kompos ditahun bulan 1 tahun pertama yakni 22.015 dan meningkat

dibulan 7 yakni 78.348 . ditahun kedua meningkat dibulan ketiga sebesar 109.330 dan
kemudian meningkat lagi dibulan 8 dan 12 yakni 191.013 dan 221.995. Ditahun ke tiga
meningkat dibulan 5 , 8 , dan 10 . yakni 348.603 , 379586, dan 498.025 . dan ditahun ke
empat produksi kompos dari bulan 1 sampai 12 yakni 669.557 dan 1.390.754.

4.

Perhitungan obat-obatan
Dalam memelihara ternak,ternak bisa terkena penyakit. Oleh karena itu, peternak harus

mengantisipasi hal tersebut dengan obat-obatan . Ada biaya khusus untuk pembelian obat
setiap tahunnya. Biaya obat-obatan sesuai asumsi Rp 8.000/ekor/tahun. Pada usaha ini biaya
obat yang dibutuhkan untuk tahun pertama pada bulan pertama sampai dengan bulan keenam
adalah Rp
sebanyak Rp

113.960.000 ,- untuk bulan 7 sampai pada bulan ke12 pada tahun pertama
300.440.000 Pada tahun kedua

meningkat 435.638.000 biaya obat-obatan

terus meningkat sampai dibulan 12 tahun ke 4 yakni 1.742.552.000


9 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

5.

Perhitungan kebutuhan karyawan


Dalam usaha dibutuhkan sumber daya manusia (SDM) dan biasanya didalam suatu

usaha SDM berupa karyawan yang membantu pengelolaan ternak. Dalam usaha ini selama
empat tahun juga di butuhkan karyawan. Pada bulan pertama total kebutuhan karyawan
sebanyak 102 orang , jumlah ini trus sama sampai dibulan 7 tahun pertama yakni 370
karyawan.
Ditahun kedua bulan ketiga meningkat menjadi 518 karyawan , dan meningkat lagi
dibulan 8 sebanyak 907. Dan dibulan ke 12 meningkat sebanyak 1054.
Ditahun ketiga meningkat ditahun 5, 8 dan 10 yakni 1657,1804,2368. Ditahun ke
empat terus meningkat sampai dibulan 12 yakni 6620 karyawan.

6. Perhitungan penjualan ternak jantan


Penjualan ternak Jantan pada tahun pertama belum ada yang dijual, selanjutnya tahun
kedua dibulan februari penjualan ternak jantan sejumlah 16900 dan penjualan dilakukan lagi
bulan oktober dengan jumlah 16900. Kemudian pada tahun kedua penjualan ternak jantan pada bulan
Februari dengan jumlah 16900 dan selanjutnya penjualan pada bulan ketiga sebanyak 24505 bulan
Juli sejumlah 16900 dan bulan 12 berjumlah 14009. Pada tahun ketiga yakni 16900 dan bulan 5
sebanyak 35532 dan bulan ke 8 sebanyak 73514, dan dibulan ke 12 sebanyak 16900. Dan pada tahun

ke empat penjualanan ternak jantan semakin meningkat sampai dibulan 8 yakni 73514.
7. Perhitungan kebutuhan kandang
Pada tahun pertama kebutuhan kandang dibulan 1 yakni 14245 dan meningkat dibulan ke
7 yakni sebesar 37555. Pada tahun kedua kebutuhan kandang dibulan ke 3 yakni 20665 dan
meningkat di bulan ke 8 yakni 54445 dan kebutuhan ternak bulan 12 sama dengan kebutuhan
ternak dibulan ke 1. Pada tahun ketiga meningkat di bulan ke 5 yakni 84405. Dan selalu
meningkat sampai di bulan 6 tahun ke 4 yakni 201 346 . dan dibulan 12 yakni 97591.

8. Perhitungan ekonomi
Selama empat tahun kita menghitung perhitungan ekonomi yang terjadi tiap tahunnya,
seperti pada perhitungan ekonomi pada tahun pertama :

10 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

11 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

Pada tabel ini dapat dilihat pengeluaran yang terjadi pada tahun pertama sampai tahun
keempat selama 12 bulan. Pengeluaran dikarenakan oleh bibit, pakan konsentrat, lahan untuk
HPT, obat-obatan, biaya karyawan, pembuatan kandang, lahan untuk kandang. Dan untuk
pemasukan atau pendapatan didapat dari penjualan ternak jantan dan penjualan kompos. Dan
keuntungan didapat dari hasil pendapatan dikurang dengan hasil pengeluaran. Dimana
didalam tabel ini terlihat mengalami kerugian pada empat tahun dikarenakan harus
mengembalikan modal yang ada diawal usaha. Dan di tahun-tahun berikutnya pendapatan
yang masuk tidak pernah melebihi pengeluaran yang ada.

12 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

D.

PEMBAHASAN
Berdasarkan tabel yang dibuat Jadi berdasarkan jumlah perhitungan rugi atau untung si

peternak mengalami kerugian, kerugian tersebut dikarenakan setiap pertambahan populasi ternak
maka bertambahnya biaya pengeluaran seperti, biaya lahan HPT, biaya kosentrat, biaya obat-obatan,
biaya gaji kariyawan dan biaya lahan untuk kandang serta biaya pembuatan kandang. Meskipun
sipeternak mengalami kerugian tetapi sipeternak mendapatkan aset yang berupa lahan HPT, kandang
serta seluruh domba yang belum dijual menjadi hak milik si peternak. Untuk tahun selanjutnya si
peternak mengalami keuntungan di karenakan sipeternak sudah tidak lagi membeli lahan untuk HPT,
apabila sipeternak juga menjual produk lain dalam bentuk woll maka si peternak akan mendapatkan
penghasilan tambahan.

Menurut Netty L. Tobing (2010), ternak ruminansia mengkonsumsi pakan dalam


jumlah yang terbatas sesuai dengan kebutuhannya untuk mencukupi hidup pokok. Sejalan
dengan pertumbuhan, perkembangan kondisi serta tingkat produksi yang dihasilkannya,
konsumsi pakannya pun akan meningkat pula. Ternak akan makan jumlah tertentu sesuai
dengan konsentrasi gizi dalam pakannya terutama kandungan energinya. Selain itu konsumsi
pakan dipengaruhi oleh kondisi lingkungan, umur, kesehatan, tingkat produksi, bentuk pakan,
palatabilitas, kepadatan dll. Tinggi rendah konsumsi pakan pada ternak ruminansia sangat
dipengaruhi oleh factor eksternal (lingkungan) dan faktor internal (kondisi ternak itu sendiri).
Konsentrasi nutrisi yang sangat berpengaruh terhadap konsumsi pakan adalah
konsentrasi energi yang terkandung di dalam pakan. Konsentrasi energi pakan ini berbanding
terbalik dengan tingkat konsumsinya. Makin tinggi konsentrasi energi di dalam pakan, maka
jumlah konsumsinya akan menurun. Sebaliknya, konsumsi pakan akan meningkat jika
konsentrasi energi yang dikandung pakan rendah (Tomazewska, et.al, 2003).
Ternak ruminansia lebih menyukai pakan bentuk butiran (hijauan yang dibuat pellet
atau dipotong) daripada hijauan yang diberikan seutuhnya. Hal ini berkaitan erat dengan
ukuran partikel yang lebih mudah dikonsumsi dan dicerna. Oleh karena itu, rumput yang
diberikan sebaiknya dipotong-potong menjadi partikel yang lebih kecil dengan ukuran 3-5
cm. serta ketinggian tempat pun mempengaruhi produksi pakan (Siregar, S. B. 1996)
Status fisiologi ternak ruminansia seperti umur, jenis kelamin, kondisi tubuh
(misalnya bunting atau dalam keadaan sakit) sangat mempengaruhi konsumsi pakannya . T
ernak ruminansia harus mengkonsumsi hijauan sebanyak 10% dari bobot badannya setiap
hari dan konsentratnya sekitar 1.5 2 % dari jumlah tersebut termasuk suplementasi vitamin

13 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

dan mineral. Oleh karena itu hijauan dan sejenisnya terutama rumput dan dari berbagai jenis
spesies merupakan sumber energi utama ternak ruminansia (Pilliang, 2007).
Menurut Anggorodi (1990) energi adalah salah satu komponen yang penting dalam
pakan untuk pertumbuhan. Energi ini digunakan untuk hidup pokok, pertumbuhan, gerak otot
dan sintesa jaringan baru.
Ternak membutuhkan energi untuk memenuhi kebutuhan hidup pokok dan kebutuhan
untuk produksi serta kebutuhan reproduksi (Anggorodi, 1990). Menurut Siregar (1996)
kebutuhan pokok adalah kebutuhan zat-zat makanan untuk memenuhi proses hidup saja
seperti menjaga fungsi tubuh tanpa adanya suatu kegiatan dan produksi, sedangkan
kebutuhan produksi adalah kebutuhan zat nutrisi untuk pertumbuhan, kebuntingan, produksi
susu dan kerja.
Protein merupakan senyawa kimia yang tersusun atas asam-asam amino. Protein
merupakan unsur penting dalam tubuh ternak dan diperlukan terus-menerus untuk
memperbaiki sel dalam proses sintesis (NRC, 2006).

14 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

KESIMPULAN DAN SARAN


E.1 Kesimpulan
1. Modal awal pengusaha ternak adalah bibit domba jantan dan betina dengan
populasi betina 12950 dan 1295 betina.
2. Pada perhitungan populasi, populasi terus bertambah pada akhir tahun
kematian 1 % dan begitu pun pada keturunanya setiap satu tahun sekali
mengalami mortalitas 1 % dan jumlah populasi pada akhir tahun ke empat
yaitu 926.738 ekor .
3. Pada kebutuhan pakan pada tahun pertama membutuhkan
pada tahun ke dua membutuhkan pakan hijauan

1.320.900 kg ,

4.700.850 kg, dan pada

tahun ke tiga membutuhkan 13.319.723 kg hijauan. Dan pada tahun keempat


40.173.425
4.

Dan untuk lahan HPT di beli pada awal pemeliharaan , kemudian apabila
populasi bertambah maka lahan untuk HPT pun ikut bertambah .

5. Untuk kosentrat penulis memilih 10 % dari konsumsi pakan hijauan yang


artinya sama saja dengan 1 persen dari bobot tubuh.
6. Untuk pembangunan kandang sama dengan lahan HPT apabila ada
penambahan populasi ternak maka kandang ikut bertambah.
7. Untuk biaya pengeluaran sendiri terdiri dari bibit awal yang di beli hanya pada
bulan pertama tahun pertama, pembelian lahan HPT , kosentrat setiap bulan,
gajih karyawan setiap bulan, pembangunan kandang, dan biaya lain lain nya
seperti obat, vaksin, IB dll
8. Untuk biaya pemasukan melalui pupuk kompos

dan penjualan pejantan

dewasa
9. Perhitungan untung dan rugi, yaitu pengusaha mengalami kerugian pada tahun
pertama sampai tahun keempat. Dan prediksi ditahun kelima peternak akan
mengalami keuntungan.

15 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

E.2 Saran
Agar ternak domba atau usaha ini bisa menguntungkan kedepannya, kita sebagai
manager bisa memanajemen lagi usaha tersebut dengan lebih tekun, serta memiliki ide-ide
yang bagus, memperbaki dari segi terutama kesehatan, kandang yang bersih agar ternak
merasa nyaman, memperbanyak link serta pengetahuan yang lebih untuk membuat usaha
yang besar. Agar praktikum dapat lebih baik lagi, di perbanyak melakukan praktikum dan
latihan-latihan memanag sebuah usaha.

16 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

DAFTAR PUSTAKA
Anggorodi 1990, Pakan penggemukan ruminansia kecil. Laporan Badan Penelitian dan
Pengembangan Pertanian. Departemen Pertanian. Jakarta : 4-17.
Murtidjo, 1992, tipe kandang Ruminansia kecil, yogyakarta
Piliang. 2007. Ilmu Makanan Ternak Dasar. Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
Sarwono,1990. Syarat Dari Kandang Yang Bagus. Gadjah Mada University Press,
Yogyakarta (Diterjemahkan oleh R. Djanuar
Siregar, S. B. 1996. Pengaruh ketinggian tempat terhadap konsumsi makanan dan
pertumbuhan kambing dan Domba Lokal didaerah Yogyakarta. Jurnal Ilmu dan
Peternakan. Pusat Penelitian dan Pengembangan Peternakan. Badan Penelitian
dan Pengembangan Pertanian, Departemen Pertanian, Bogor.
Sutiyono, Risko, E. T. Setiatin, B. Puboyo, L. M. S. Lestari & R. Adiwinarti. 1999. Pengaruh
flushing terhadap kecepatan dan lama berahi pada domba yang diserentakkan
berahinya menggunakan progesteron. J. Med. Pet. 7 (2):1-7.
Tobing,l.netty.,2010. Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak Ruminan. Universitas Indonesia,
Jakarta.
Puguh Budi Santoso, 2011, Seleksi Untuk Menyiapkan Bibit Jantan Domba. Jambi : Unsoed.

17 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

LAMPIRAN

1 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

2 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

3 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

4 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

5 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

6 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

7 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

8 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

9 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

10 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

11 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

12 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

13 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

14 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

15 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

16 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

17 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

18 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

19 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

20 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti

1 |Manajemen Ternak Potong dan Kerja Nurma Apriyanti