Anda di halaman 1dari 55

HUBUNGAN PEMBERIAN MP-ASI DENGAN STATUS GIZI

BAYI 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS


KECAMATAN PENJARINGAN JAKARTA UTARA
TAHUN 2015
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Strata Satu (S1) pada Program
Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta

Oleh:
Nama
NIM

: Rizky Nugraha
: 2012730089

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN 2015

HUBUNGAN PEMBERIAN MP-ASI DENGAN STATUS GIZI


BAYI 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
KECAMATAN PENJARINGAN JAKARTA UTARA
TAHUN 2015
SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan studi Strata Satu (S1) pada Program
Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta

Oleh:
Nama
NIM

: Rizky Nugraha
: 2012730089

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
TAHUN 2015

Hubungan Pemberian MP-ASI Dengan Status Gizi Bayi 6-24 Bulan Di


Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara Tahun
2015
Nugraha R*, Nurbani R**
*Mahasiswa Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas
Muhammadiyah Jakarta
**Dosen Prodi Kedokteran, Fakultas Kedokteran dan Kesehatan, Universitas
Muhammadiyah Jakarta
ABSTRAK
Latar Belakang : Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan
tingkat kesehatan dan kesejahteraan manusia dimana tingkat status gizi optimal
akan tercapai apabila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi. Menurut RISKESDAS
tahun 2013, prevalensi status gizi buruk berdasarkan berat badan yang terjadi di
provinsi DKI Jakarta 2,8% dan gizi kurang mencapai 11,2%. Penelitian ini
bertujuan mencari hubungan pemberian makanan pendamping air susu ibu (MPASI) terhadap status gizi bayi 6-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Penjaringan Jakarta Utara.
Metode : Penelitian ini mengunakan desain studi cross sectional. Pengambilan
sampel sebanyak 62 responden dengan teknik total sampling. Penelitian ini
dilakukan terhadap ibu-ibu yang berkunjung ke Puskesmas Kecamatan
Penjaringan Jakarta Utara yang memiliki bayi usia 6-24 bulan pada bulan
November tahun 2015. Analisis data menggunakan uji Chi Square.
Hasil : Pada penelitian ini didapatkan hasil prevalensi yang mendapatkan MP-ASI
sebanyak 87,1% sedangkan prevalensi bayi yang tidak mendapatkan MP-ASI
sebanyak 12,9%. Hasil analisis bivariat menggunakan uji Chi Square diketahui
adanya hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi pada bayi 6-24 bulan, p =
0,023 (p<0,05)
Simpulan : Terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian MP-ASI dengan
status gizi di wilayah kerja Puskesmas kecamatan Penjaringan Jakarta Utara
Tahun 2015.
Kata Kunci : MP-ASI, status gizi

The Relationship of Complementary Feeding and Nutrition Status Babies 624 Month in Region of Penjaringan Health Clinic North Jakarta Year 2015
Nugraha R*, Nurbani R**
*Medical Student, Faculty of Medicine and Health, University of Muhammadiyah
Jakarta
**Medical Lecturer, Faculty
Muhammadiyah Jakarta

of

Medicine

and

Health,

University

of

ABSTRACT
Background : Nutrition is one of the important factors that determine the level of
health and well-being in which the optimal nutritional status level will be
achieved when optimal nutritional needs are met. According to RISKESDAS in
2013, the prevalence of poor nutritional status based on weight occurred in Jakarta
malnutrition 2.8% and reached 11.2%. This study aims to find the relationship
complementary feeding on the nutritional status of babies 6-24 month in North
Jakarta
Method : This study uses cross-sectional study design. Sampling of 62
respondents with a total sampling technique. This study was conducted to mothers
who visited Health Clinic who has a babies 6-24 month in November 2015
Result : The results showed the prevalence of babies who received
complementary feeding is 87,1% whereas the prevalence of babies who didnt
receive complementary feeding is 12,9%. The results with bivariate analysis using
chi-square test is known that there is a significant relationship of complementary
feeding and nutritional status babies 6-24 month, p = 0,023 (p<0,05)
Conclusion : There is a significant relationship of complementary feeding and
nutritional status in the region of North Jakarta health clinic 2015.
keyword : complementary feeding, Nutrition

ii

PERSETUJUAN DEWAN PENGUJI

HUBUNGAN PEMBERIAN MP-ASI DENGAN STATUS GIZI


BAYI 6-24 BULAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS
KECAMATAN PENJARINGAN JAKARTA UTARA
TAHUN 2015
Disusun Oleh:
Nama

: Rizky Nugraha

NIM

: 2012730089

TELAH DIUJI DAN DIPERTAHANKAN DIHADAPAN DEWAN PENGUJI


Tanggal 12 Januari 2016
Susunan Dewan Penguji
Pendamping Utama,

Penguji/Pembanding,

(dr. Rina Nurbani, M.Biomed)


(Dr. dr. Busjra M Nur, M.Sc)
Telah diterima sebagai salah satu persyaratan kelulusan pendidikan tahap sarjana

(dr. Tri Ariguntar Wikaning Tyas, Sp.PK )


Ketua Program Studi Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan
Universitas Muhammadiyah Jakarta
iii

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa skripsi ini bukan karya yang pernah diajukan
untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi, dan sepanjang
pengetahuan saya juga tidak terdapat karya yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh
orang lain, kecuali secara tertulis diacu dalam naskah ini dan disebut dalam daftar
pustaka.

Jakarta, Desember 2015

(Rizky Nugraha)

iv

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah


melimpahkan rahmat, hidayah serta ilmu pengetahuan sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi ini.
Berhasilnya penyusunan skripsi ini dengan judul Hubungan Pemberian
MP-ASI Dengan Status Gizi Bayi 6-24 Bulan Di Wilayah Kerja Puskesmas
Penjaringan Jakarta Utara Tahun 2015 menandai perjuangan yang penuh
makna dan kenangan dalam menimba ilmu di Program Studi Pendidikan Dokter
Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.
Penulis menyadari bahwa masih banyak kekurangan dalam penyusunan
skripsi, oleh karna itu diharapkan adanya kritik dan saran yang dapat membangun
kemsempurnaan skripsi ini.
1.

dr. Rina Nurbani selaku pembimbing yang telah mengarahkan penulis dari
awal penulisan hingga terselesaikannya skripsi ini.

2.

dr. Slamet Sudisantoso, M.Pd.Ked selaku dekan Fakultas Kedokteran dan


Kesehatan Universitas Muhammadiyah Jakarta.

3.

dr. Tri Ariguntar Wikaningtyas, Sp.PK, selaku ketua Program Studi


Pendidikan Dokter Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas
Muhammadiyah Jakarta.

4.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Kesehatan Universitas Muhammadiyah


Jakarta yang telah membimbing saya dengan baik serta memberikan ilmu
untuk penulis selama proses pekuliahan.

5.

Kedua Orangtua saya, Ibunda tercinta Sumarni, Ayahanda Dede Permana,


kedua Adik saya Egi dan Ezzar, serta keluarga besar yang telah memberikan
motivasi, semangat, dan doa kepada penulis dalam menyelesaikan studi dan
skripsi sehingga dapat menyelesaikan tepat waktu.

6.

Kepala puskesmas Penjaringan dan para staffnya dalam membantu penelitian

7.

Keluarga 3 Tahun, Gibran usammah, Robi Fahlepi dan Yaumul Robbi


Fakhri selaku teman bermain dari awal semester berjuang bersama
menyelesaikan studi, memberikan memotivasi dan dorongan serta keluh
kesah dalam penyusunan skripsi sehingga skripsi ini dapat diselesaikan tepat
waktu.

8.

Teman spesial Puspaningrum Widyati yang memotivasi dan memberi


semangat dalam penyusunan skripsi.

9.

Teman satu bimbingan, Riadhus Machfud A, Karyati, dan Hafizhan yang


berlomba untuk cepat menyelesaikan skripsi.

10. Ardy oktaviandi yang sangat berjasa. Rizki Pahlevi dan Ryko selaku teman
yang membantu dalam proses penulisan skripsi.
11. Teman-teman satu angkatan di Program Studi Pendidikan Dokter 2012 yang
selalu memberikan nasehat dan motivasi, serta ide kepada penulis.
12. teman-teman yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih untuk
bantuannya.
Semoga semua yang telah membantu mendapatkan balasan yang setimpal
dari Allah SWT. Penulis berharap skripsi ini dapt dijadikan acuan untuk
menghasilkan karya-karya ilmiah selanjutnya dalam rangka pengembangan ilmu,
wawasan yang lebih luas, dan sebagai pengabdian. Semoga skripsi ini dapat
bermanfaat bagi setiap pembacanya.

Jakarta , Desember 2015


Penulis

vi

DAFTAR ISI

ABSTRAK.................................................................................................................................
ABSTRACT..............................................................................................................................
LEMBAR PERSETUJUAN...................................................................................................
LEMBAR PERNYATAAN iv
KATA PENGANTAR

DAFTAR ISI vii


DAFTAR GAMBAR................................................................................................................
DAFTAR TABEL....................................................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN

xii

BAB I PENDAHULUAN.........................................................................................................
Latar Belakang.........................................................................................................
Rumusan Masalah ...................................................................................................
Tujuan Penelitian.....................................................................................................
Ruang Lingkup Penelitian........................................................................................
Manfaat Penelitian...................................................................................................
BAB II TINJAUAN PUSTAKA..............................................................................................
Makanan Pendamping ASI......................................................................................
Definisi Makanan Pendamping ASI...................................................................
Tujuan Pemberian MP-ASI................................................................................
Tahapan Pemberian MP-ASI.............................................................................
Syarat MP-ASI.................................................................................................
Pemberian MP-ASI Terlalu Dini......................................................................
Status Gizi..............................................................................................................
Pengertian Status Gizi......................................................................................
Penilaian Status Gizi........................................................................................
Metode Antropometri.......................................................................................
Jenis Parameter................................................................................................

vii

Z-Score.............................................................................................................
Kategori Status Gizi.........................................................................................
Faktor Yang Mempengaruhi Status Kecukupan Gizi Pada Bayi.....................
Kerangka Teori.......................................................................................................
Kerangka Konsep...................................................................................................
Hipotesis................................................................................................................
BAB III METODE PENELITIAN.................................................................................
Rancangan Penelitian.............................................................................................
Lokasi Dan Waktu Penelitian.................................................................................
Variabel Dan Definisi Operasional Penelitian.......................................................
Populasi Dan Sampel Penelitian............................................................................
Populasi............................................................................................................
Sampel..............................................................................................................
Pengumpulan Data.................................................................................................
Data Primer......................................................................................................
Data Sekunder..................................................................................................
Pengolahan Penyajian Dan Teknik Analisis Data..................................................
Pengolahan Data..............................................................................................
Analisis Data....................................................................................................
BAB IV HASIL PENELITIAN.............................................................................................
Gambaran Umum Puskesmas Penjaringan............................................................
Geografis..........................................................................................................
Visi, Misi, Motto, Kebijakan Dan Nilai Organisasi.........................................
Hasil Penelitian......................................................................................................
Analisis Univariat............................................................................................
Analisis Bivariat...............................................................................................
BAB V PEMBAHASAN........................................................................................................
Pembahasan Temuan Hasil Penelitian...................................................................
Keterbatasan Penelitian..........................................................................................
BAB VI SIMPULAN DAN SARAN.....................................................................................
Simpulan................................................................................................................
Saran......................................................................................................................
DAFTAR PUSTAKA .............................................................................................................
LAMPIRAN............................................................................................................................
RIWAYAT HIDUP..................................................................................................................

viii

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Antropometri penilaian status gizi anak...............................................................
Gambar 2.2 Kerangka Teori.....................................................................................................
Gambar 2.3 Kerangka Konsep.................................................................................................

ix

DAFTAR TABEL
Tabel 4.1 Pemberian MP-ASI..................................................................................................
Tabel 4.2 Usia..........................................................................................................................
Tabel 4.3 Jenis Kelamin...........................................................................................................
Tabel 4.4 Status Gizi menurut BB/U.......................................................................................
Tabel 4.5 Status Gizi menurut BB/TB.....................................................................................
Tabel 4.6 Analisis Bivariat Pemberian MP-ASI dengan Status gizi BB/U..............................
Tabel 4.7 Analisis Bivariat Pemberian MP-ASI dengan Status gizi BB/TB...........................

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1 : Surat Izin Penelitian.........................................................................................
Lampiran 2 : Hasil Pengolahan data statistik.........................................................................

xi

xii

BAB 1
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat
kesehatan dan kesejahteraan manusia dimana tingkat status gizi optimal
akan tercapai apabila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi.1 Masalah gizi
buruk pada balita merupakan masalah yang telah ada sejak dulu. Krisis
ekonomi yang terjadi sejak tahun 1997 hingga saat ini masih belum dapat
diatasi. Hal ini berdampak meningkatnya jumlah keluarga miskin. Daya
beli

masyarakat

terhadap pangan yang

semakin

menurun

serta

ketersediaan bahan pangan dapat menimbulkan gizi kurang bahkan gizi


buruk. Masalah gizi merupakan faktor penting dalam perkembangan dan
pertumbuhan bayi dan anak, maka masalah gizi buruk dan gizi kurang
perlu ditanggulangi.2 Keadaan status gizi anak usia di bawah dua tahun
(Baduta) merupakan kelompok yang rawan gizi dan akan menentukan
kualitas hidup selanjutnya. Pemenuhan gizi merupakan hak dasar anak.

WHO (2001) menyebutkan bahwa ada 51% angka kematian anak balita
disebabkan oleh pneumonia, diare, campak, dan malaria. Lebih dari
separuh kematian tersebut (54%) erat hubungannya dengan masalah gizi.
Oleh karena itu prioritas utama penanganan utama adalah memperbaiki
pemberian makan kepada bayi dan anak serta perbaikan gizi ibunya. 4
Pemberian makanan adalah salah satu faktor yang mempengaruhi
status gizi bayi. Pemberian makanan yang kurang tepat dapat
menyebabkan terjadinya kekurangan gizi dan pemberian yang berlebihan
akan terjadi kegemukan. Pada usia 6 bulan, secara fisiologis bayi telah
siap menerima makanan tambahan, karena secara keseluruhan fungsi

saluran cerna sudah berkembang. Selain itu, pada usia tersebut air susu ibu
sudah tidak lagi mencukupi kebutuhan bayi untuk tumbuh kembangnya,
sehingga pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sangat
diperlukan.5 Tumbuh kembang bayi dan anak dipengaruhi oleh jumlah ASI
yang diperoleh. ASI tanpa asupan makanan yang lain dapat mencukupi
kebutuhan pertumbuhan hingga usia sekitar enam bulan. Namun,
pemberian asupan makanan lain juga turut berperan pada pertumbuhan
dan perkembangan bayi dan anak. Makanan pendamping ASI (MP-ASI)
adalah salah satu cara pemberian asupan makanan yang di rekomendasikan
oleh WHO dan UNICEF untuk meningkatkan status gizi.6
Menurut data yang diperoleh dari Depkes pada tahun 2014
menunjukan bahwa kasus gizi buruk yang ditemukan mencapai 1.448
kasus.7 Menurut RISKESDAS tahun 2013, prevalensi status gizi buruk
berdasarkan berat badan yang terjadi di provinsi DKI Jakarta 2,8% dan
gizi kurang mencapai 11,2%.8
Masa dua tahun pertama kehidupan manusia merupakan masa
kritis untuk membentuk fondasi pertumbuhan, perkembangan dan
kesehatan yang optimal dalam jangka panjang. Karena itu, sangat penting
untuk memastikan bahwa anak usia 0-2 tahun mendapatkan asuhan gizi
yang optimal. Peneliti ingin melakukan penelitian dengan tujuan mencari
hubungan pemberian makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI)
terhadap status gizi bayi 6-24 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas
Penjaringan Jakarta Utara.
B. Rumusan Masalah
Apakah ada hubungan antara makan pendamping air susu ibu (MP-ASI)
dengan status gizi pada anak 6 24 tahun di Wilayah Kerja Puskesmas
Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara 2015 ?
2

C. Tujuan Penelitian
1. Tujuan Umum
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adakah pengaruh
antara pemberian MP-ASI dengan status gizi pada bayi usia 6-24 bulan
di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara
2. Tujuan Khusus
a. Diketahuinya jumlah bayi 6-24 bulan yang diberikan MP-ASI
di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Penjaringan Jakarta
Utara
b. Diketahuinya karakteristik bayi 6-24 bulan meliputi usia dan
jenis kelamin yang diberikan MP-ASI di Wilayah Kerja
Puskesmas Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara
c. Diketahuinya angka kejadian gizi buruk pada bayi berusia 6-24
bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Penjaringan
Jakarta Utara
d. Diketahuinya angka kejadian gizi kurang pada bayi berusia 624 bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Penjaringan
Jakarta Utara
e. Diketahuinya angka kejadian gizi baik pada bayi berusia 6-24
bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Penjaringan
Jakarta Utara
f. Diketahuinya angka kejadian gizi lebih pada bayi berusia 6-24
bulan di Wilayah Kerja Puskesmas Kecamatan Penjaringan
Jakarta Utara
D. Ruang Lingkup Penelitian
Batasan dalam penelitian ini penulis hanya meneliti tentang hubungan
MP-ASI dengan status gizi bayi berusia 6-24 bulan di Wilayah Kerja
Puskesmas Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara pada tahun 2015
E. Manfaat Penelitian
1. Bagi penulis

Penelitian ini dirasakan manfaatnya bagi penulis sendiri dapat


dijadikan sarana belajar dalam rangka menambah pengetahuan,
memperluas wawasan dan pengembangan ilmu pengetahuan bagi
masyarakat dan institusi yang terkait dengan masalah penelitian ini
untuk menerapkan teori yang telah penulis dapatkan selama masa
perkuliahan.
2. Bagi pendidikan
Dapat menambah studi kepustakaan bagi institusi terkait dan
diharapkan dapat bermanfaat bagi perkembangan institusi terkait di
masa yang akan datang.
3. Bagi Masyarakat
Dapat menambah pengetahuan dan informasi untuk masyarakat
mengenai pengaruh makanan pendamping ASI dari hasil yang telah
dianalisis dan dapat bermanfaat bagi peningkatan derajat kesehatan di
masyarakat.
4. Bagi Puskesmas
Dapat menjadi bahan masukan di Puskesmas Penjaringan Jakarta Utara
dan diharapkan bermanfaat bagi program kesehatan masyarakat serta
dapat dijadikan referensi untuk penelitian selanjutnya.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Makanan Pendamping-ASI
1. Definisi Makanan Pendamping ASI
Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan kepada
bayi selain ASI untuk memenuhi kebutuhan gizinya. MP-ASI
diberikan mulai umur 6-24 bulan dan merupakan makanan peralihan
dari ASI ke makanan keluarga. Pengenalan dan pemberian MP-ASI
harus dilakukan secara bertahap baik bentuk maupun jumlah. Hal ini
dimaksudkan untuk menyesuaikan kemampuan alat cerna bayi dalam
menerima MP-ASI.2 Menurut Azwar (2000) makanan pendamping ASI
adalah makanan yang diberikan pada bayi mulai usia 4-6 bulan untuk
memenuhi kebutuhan energi dan nutrisi lain yang tidak dapat dicukupi
ASI, disamping itu organ pencernaan bayi yang mulai sudah siap untuk
menerima makanan pendamping ASI.9
MP-ASI merupakan peralihan asupan yang semata berbasis susu
menuju ke makanan yang semi padat. Untuk proses ini juga
dibutuhkan ketrampilan motorik oral. Ketrampilan motorik oral
berkembang dari refleks menghisap menjadi menelan makanan yang
berbentuk bukan cairan dengan memindahkan makanan dari lidah
bagian depan ke lidah bagian belakang.10
2. Tujuan Pemberian MP-ASI
Makanan pendamping ASI diberikan untuk memenuhi kebutuhan
bayi terhadap zat-zat gizi untuk keperluan pertumbuhan dan
perkembangan bayi yang tidak dapat dicukupi ASI, akan tetapi juga
merupakan saran pendidikan untuk menanamkan kebiasaan makan
5

yang baik dan bergizi dan mengajarkan anak mengunyah dan terbiasa
dengan makanan baru, sekaligus memperkenalkan beraneka macam
bahan makanan. Dalam pemberian makanan pendamping ASI menurut
Sholihin (1999) bertujuan yaitu :
a. Untuk menambah energi
b. Membantu proses pertumbuhan pada bayi
c. Sebagai makanan pelengkap
d. Mengembangkan kemampuan bayi untuk mengunyah, mencium
dan menelan serta melakukan adaptasi pada makanan yang
mengandung energi tinggi
e. Guna melengkapi zat-zat gizi yang belum dipenuhi oleh ASI guna
menunjang pertumbuhan supaya tetap optimal.11
3. Tahapan Pemberian MP-ASI
Menurut Depkes 2007 dalam buku Kesehatan Ibu dan Anak,
pemberian makanan bayi dan anak umur 0-24 bulan yang baik dan
benar adalah sebagai berikut:12
a. Umur 0 6 bulan
1) Berikan ASI setiap kali bayi menginginkan, sedikitnya 8 kali
sehari, pagi,siang, sore, maupun malam.
2) Jangan berikan makanan atau minuman lain selain ASI (ASI
eksklusif)
3) Susui dengan payudara kiri atau kanan secara bergantian
b. Umur 6-12 bulan
1) Umur 6-9 bulan, kenalkan MP ASI dalam bentuk lumat dimulai
dari bubur susu sampai nasi tim lunak dengan frekuensi 2 kali
sehari. Setiap kali makan takarannya diberikan sesuai umur:
a) 6 bulan: 6 sendok makan
b) 7 bulan: 7 sendok makan
c) 8 bulan: 8 sendok makan
2) Umur 9-12 bulan, beri makanan pendamping ASI dimulai dari
bubur nasi sampai nasi tim sebanyak 3 kali sehari. Setiap kali
makan berikan sesuai umur:
a) 9 bulan : 9 sendok makan
b) 10 bulan : 10 sendok makan
c) 11 bulan : 11 sendok makan
6

3) Beri ASI terlebih dahulu kemudian MP ASI


4) Pada MP ASI, tambahkan telur / ayam / ikan / tahu / tempe /
daging sapi / wortel / bayam / kacang hijau / santan / minyak
pada bubur nasi.
5) Bila menggunakan MP ASI buatan dari perusahaan pembuat
makanan. Baca cara menyiapkannya, batas umur, dan tanggal
kadaluarsa.
6) Beri makanan selingan 2 kali sehari di antara waktu makan,
seperti bubur kacang hijau, biscuit, pisang, nagasari, dan
sebagainya.
7) Beri buah-buahan atau sari buah, seperti jeruk, manis dan air
tomat saring.
8) Bayi mulai dianjurkan makan dan minum sendiri menggunakan
gelas dan sendok.
c. Umur 1-2 tahun
1) Teruskan pemberian ASI sampai umur 2 tahun
2) Berikan nasi lembek 3 kali sehari
3) Tambahkan salah satu dari pilihan makanan berikut telur, ayam,
ikan,tempe, tahu, daging sapi, wortel, bayam, kacang hijau,
santan, minyak pada nasi lembek
4) Beri makanan selingan 2 kali sehari di antara waktu makan,
seperti kacang hijau, biscuit, pisang, nagasari, dan sebagainya.
5) Beri buah-buahan atau sari buah
6) Bantu anak untuk makan sendiri
Menurut WHO Makanan Pendamping ASI (MP-ASI) yang
dianggap baik adalah apabila memenuhi beberapa kriteria hal berikut6 :
a. Waktu pemberian yang tepat, artinya MP-ASI mulai diperkenalkan
pada bayi ketika kebutuhan bayi akan energy dan zat-zat melebihi
dari apa yang didapatkannya melalui ASI
b. Memadai, maksudnya adalah MP-ASI yang diberikan memberi
energy, protein dan zat gizi mikro yang cukup untuk memenuhi
kebutuhan zat gizi anak.

c. Aman,

makanan

yang

diberikan

bebas

dari

kontaminasi

mikroorganisme baik pada saat disiapkan, disimpan maupun saat


diberikan pada anak.
d. Dikonsumsi dengan selayaknya, yaitu makanan yang diberikan
harus sesuai dengan tanda-tanda nafsu makan dan kekenyangan
anak.6
4. Syarat MP-ASI
menurut Jenny (2006) yang perlu dipenuhi agar kebutuhan zat gizi
bayi atau anak dapat terpenuhi yaitu harus mengandung cukup energi
(zat gizi makro dan mikro yang tepat) baik mutu maupun jumlahnya
pada setiap kelompok umur, memiliki nilai suplementasi yang baik,
mengandung vitamin dan mineral dalam jumlah yang cukup, dapat
diterima dengan baik oleh bayi atau anak, harga relatif murah dan
dapat diperoleh atau diproduksi secara lokal.14,20
MP-ASI harus memenuhi persyaratan khusus tentang jumlah zatzat gizi yang diperlukan bayi, seperti protein, energi, lemak, vitamin,
mineral,

dan

zat-zat

tambahan

lainya.

MP-ASI

hendaknya

mengandung protein bermutu tinggi dengan jumlah yang mencukupi.


Bahan makanan hewani seperti telur, daging, susu dan ikan
mengandung protein yang lebih tinggi dibandingkan mutu protein
bahan makanan nabati seperti kacang-kacangan dan biji-bijian.
Terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan dalam pemberian
makanan tambahan untuk bayi, yaitu:
a. Makanan bayi (termasuk ASI harus mengandung semua zat gizi
yang diperlukan oleh bayi. Makanan tambahan harus diberikan
kepada bayi yang telah berumur 4-6 bulan sebanyak 4-6
kali/hari.

b. Sebelum berumur 2 tahun, bayi belum dapat mengkonsumsi


makanan orang dewasa.
c. Makanan campuran ganda (multi mix) yan terdiri dari makanan
pokok, lauk pauk, dan sumber vitamin lebih cocok bagi bayi,
baik ditinjau dari nilai gizinya maupun sifat fisik makanan
tersebut.
d. Kandungan serat kasar atau bahan lain yang sukar dicerna
dalam jumlah yang sedikit. Kandungan serat kasar yang terlalu
banyak justru akan mengganggu pencernaan bayi.
e. Makanan bayi tidak boleh memiliki sifat kamba, yaitu volume
makanan yang besar, tetapi kandungan gizinya rendah. Yang
perlu diperhatikan adalah jumlah kandungan protein secara
energi yang terkandung dalam makanan bayi harus cukup
tinggi. Makanan yang bersifat kamba akan cepat memberikan
rasa kenyang sehingga bayi tidak mau meneruskan makanan.
Pada sisi lain terdapat kemungkinan bahwa energi dan zat gizi
yang dibutuhkan oleh bayi belum terpenuhi. Zat gizi lain yang
dibutuhkan oleh bayi adalah lemak. Lemak berfungsi sebagai
sumber energi dan dapat memperbaiki cita rasa (memberikan
rasa gurih).14
5. Pemberian Makanan Pendamping ASI Terlalu Dini
Pemberian makanan pendamping asi terlalu dini diketahui bahwa
terdapat resiko infeksi yang lebih tinggi, ketika bayi belum siap
menerima makanan dapat menyebabkan berbagai macam penyakit
terutama penyakit diare, selama proses ini dibandingkan dengan masa
sebelumnya dalam kehidupan bayi. Hal ini disebabkan karena terjadi
perubahan konsumsi ASI yang bersih dan mengandung faktor anti

infeksi, menjadi makanan yang sering kali disiapkan, disimpan dan


diberikan pada anak dengan cara yang tidak higienis.5
Menurut WHO memberi makanan tambahan terlalu cepat
berbahaya karena:
a. Seorang anak belum memerlukan makanan tambahan pada saat
ini, dan makanan tersebut dapat menggantikan ASI. Jika
makanan diberikan, maka anak akan minum ASI lebih sedikit
dan ibu pun memproduksinya lebih sedikit, sehingga akan lebih
sulit memenuhi kebutuhan nutrisi anak.
b. Anak mendapat faktor pelindung dari ASI lebih sedikit,
sehingga resiko infeksi meningkat.
c. Resiko diare juga meningkat karena makanan tambahan tidak
sebersih ASI.
d. Makanan yang diberikan sering encer, buburnya berkuah atau
berupa sup karena mudah dimakan oleh bayi. Makanan ini
membuat lambung penuh, tetapi memberi nutrisi lebih sedikit
daripada ASI, sehingga kebutuhan anak tidak terpenuhi.
e. Ibu mempunyai resiko lebih tinggi untuk hamil kembali jika
jarang menyusui.

B. Status Gizi
1. Pengertian Status Gizi
Status gizi adalah suatu keadaan tubuh yang diakibatkan oleh
keseimbangan

antara

asupan

zat

gizi

dengan

kebutuhan.

Keseimbangan tersebut dapat dilihat dari variabel pertumbuhan, yaitu

10

berat badan, tinggi badan/panjang badan, lingkar kepala, lingkar


lengan, dan panjang tungkai.15
2. Penilaian Status Gizi
Untuk menilai status gizi digunakan dua metode penilaian status
gizi, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Penilaian status gizi
secara langsung, dapat dibagi menjadi empat penilaian, yaitu penilaian
antropometri, klinis, biokimia, dan biofisik. Sedangkan untuk penilaian
status gizi secara tidak langsung, dapat dibagi menjadi tiga yaitu
survey konsumsi makanan, statistic vital, dan faktor ekologi.16
3. Metode Antropometri
Kata antropometri berasal dari bahasa latin antropos yang berarti
manusia (human being). Sehingga antropometri dapat diartikan sebagai
pengukuran pada tubuh manusia. Metode antropometri mencakup
pengukuran dari dimensi fisik dan komposisi nyata dari tubuh.15
Pengukuran

antropometri,

khususnya

bermanfaat

bila

ada

ketidakseimbangan antara protein dan energi. Dalam beberapa kasus,


pengukuran antropometri dapat mendeteksi malnutrisi tingkat sedang
maupun parah, namun metode ini tidak dapat digunakan untuk
mengidentifikasi status kekurangan (defisiensi) gizi tertentu.15,17,18
Pengukuran antropometri memiliki beberapa keuntungan dan
kelebihan, yaitu mampu menyediakan informasi mengenai riwayat gizi
masa lalu, yang tidak dapat diperoleh dengan bukti yang sama melalui
metode pengukuran lainnya. Pengukuran ini dapat dilakukan dengan
relatif cepat, mudah, dan reliable menggunakan peralatan-peralatan
yang portable, tersedianya metode-metode yang terstandardisasi, dan
digunakannya peralatan yang terkaliberasi. Untuk membantu dalam
menginterpretasi

data

antropometrik,

pengukuran

umumnya

dinyatakan sebagai suatu indeks, seperti tinggi badan menurut umur.18


11

4. Jenis Parameter
Antropometri sebagai indikator status gizi dapat dilakukan dengan
mengukur beberapa parameter. Parameter adalah ukuran tunggal dari
tubuh manusia, antara lain : umur, berat badan, tinggi badan, lingkar
lengan atas, lingkar kepala, lingkar dada, lingkar pinggul, dan tebal
lemak di bawah kulit.16
a. Umur.
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status
gizi, kesalahan penentuan akan menyebabkan interpretasi status
gizi yang salah. Hasil penimbangan berat badan maupun tinggi
badan yang akurat, menjadi tidak berarti bila tidak disertai
dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang sering
muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka
yang mudah seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu
penentuan

umur

anak

perlu

dihitung

dengan

cermat.

Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan adalah


30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh,
artinya sisa umur dalam hari tidak diperhitungkan.4
b. Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran

yang

memberikan gambaran massa jaringan, termasuk cairan tubuh.


Berat badan sangat peka terhadap perubahan yang mendadak
baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi makanan yang
menurun. Berat badan ini

dinyatakan dalam bentuk indeks

BB/U (Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian


dengam melihat perubahan berat badan pada saat pengukuran
dilakukan, yang dalam penggunaannya memberikan gambaran
keadaan kini. Berat badan paling banyak digunakan karena
12

hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung


pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan
kecenderungan perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu.19
c. Indeks BB/U
Berat badan adalah parameter antropometri yang sangat
labil. Dalam keadaan normal, keadaan kesehatan baik dan
keseimbangan antara konsumsi dan kebutuhan zat gizi
terjamin, maka berat badan akan bertambah mengikuti
pertambahan umur. Sebaliknya dalam keadaan yang abnormal,
terdapat 2 kemungkinan perkembangan berat badan, yaitu
dapat berkembang lebih cepat atau lebih lambat dari keadaan
normal. Mengingat karakteristik berat badan yang labil, maka
penggunaan indeks BB/U lebih menggambarkan status
seseorang saat ini (current nutritional status).16
Kelebihan dalam penggunaan indeks BB/U sebagai
parameter antropometri yaitu: 1) Dapat dengan mudah dan
cepat dimengerti oleh masyarakat umum; 2) Sensitif untuk
melihat perubahan status gizi dalam jangka waktu pendek; 3)
Dapat mendeteksi kegemukan.17
Selain memiliki kelebihan, indeks BB/U juga mempunyai
beberapa kelemahan, yaitu: 1) Dapat terjadi interprestasi yang
salah apabila terdapat pembengkakan, oedem, atau asites; 2)
Sulitnya diperoleh data umur yang akurat, terutama di negaranegara berkembang; 3) Dapat terjadi kesalahan pengukuran
akibat pengaruh dari pakaian atau gerakan anak saat
penimbangan; 4) Faktor sosial budaya setempat dapat
mempengaruhi orangtua untuk tidak menimbang anaknya.17
d. Tinggi Badan
13

Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan


yang dilihat dari keadaan

kurus kering dan kecil pendek.

Tinggi badan sangat baik untuk melihat keadaan gizi masa lalu
terutama yang berkaitan dengan

keadaan berat badan lahir

rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan


dinyatakan dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut
umur), atau juga indeks BB/TB (Berat Badan menurut Tinggi
Badan) jarang dilakukan karena perubahan tinggi badan yang
lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun sekali. Keadaan
indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan
lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat
yang menahun.4
Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter
penting

untuk

menentukan

status

kesehatan

manusia,

khususnya yang berhubungan dengan status gizi. Penggunaan


Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator status
gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan
komposisi tubuh.17,21
Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas
dan sensitive/peka dalam menunjukkan keadaan gizi kurang
bila dibandingkan dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan
dalam BB/TB, menurut standar WHO bila prevalensi
kurus/wasting <2SD diatas 10% menunjukan suatu daerah
tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius
berhubungan langsung dengan angka kesakitan.
5. Z-score

14

dan

Pengukuran Skor Simpang Baku (Z-score) dapat diperoleh dengan


mengurangi Nilai Individual Subjek (NIS) dengan Nilai Median Baku
Rujukan (NMBR) pada umur yang bersangkutan,
dengan Nilai Simpang Baku Rujukan (NSBR).

15

hasilnya dibagi

Gambar 2.1

16

6. Kategori Status Gizi


Berdasarkan SK Menkes RI No; 1995/Menkes/SK/XII/2010, status
gizi dilihat dari indeks BB/U dikategorikan menjadi :22
a. Gizi Lebih : Apabila nilai Z score yang diperoleh > 2 SD
b. Gizi baik : Apabila nilai Z score yang diperoleh -2 SD s.d +2
SD
c. Gizi Kurang : Apabila nilai Z score yang diperoleh < -2 SD s.d
-3 SD
d. Gizi buruk : Apabila nilai Z score yang diperoleh <-3 SD
7. Faktor-faktor yang mempengaruhi status kecukupan gizi pada bayi
Status gizi dipengaruhi oleh konsumsi makanan dan penggunaan
zat-zat gizi di dalam tubuh. Bila tubuh memperoleh cukup zat-zat gizi
dan digunakan secara efisien akan tercapai status gizi optimal yang
memungkinkan pertumbuhan fisik, perkembangan otak, kemampuan
kerja dan kesehatan secara umum pada tingkat setinggi mungkin.20
Selain konsumsi makanan, tingkat pengetahuan ibu juga
mempengaruhi status gizi bayi, kebiasaan yang salah atau kurang tepat
dalam pemberian makanan pada bayi akan mempengaruhi status gizi
bayi. Kesalahan pemberian makan pada bayi dapat diartikan sebagai
kekeliruan dalam menyajikan makanan, baik dari segi jenis jumlah dan
waktu pemberian. Dalam keadaan demikian diperlukan pengetahuan
yang cukup agar anak dapat terjamin kebutuhan gizi akibat
pengetahuan tentang makanan bergizi bagi anak yang dimiliki
ibunya.13
Berdasarkan Soekirman dalam materi Aksi Pangan dan Gizi
nasional, penyebab kurang gizi dapat dijelaskan sebagai berikut:
Pertama, penyebab langsung yaitu makanan anak dan penyakit
infeksi yang mungkin diderita anak. Penyebab gizi kurang tidak hanya
disebabkan makanan yang kurang tetapi juga karena penyakit. Anak
yang mendapat makanan yang baik tetapi karena sering sakit diare atau
17

demam

dapat menderita kurang gizi. Demikian pada anak yang

makannya tidak cukup baik maka daya tahan tubuh akan melemah dan
mudah terserang penyakit. Kenyataannya baik makanan maupun
penyakit secara bersama-sama merupakan penyebab kurang gizi.
Kedua, penyebab tidak langsung yaitu ketahanan pangan di
keluarga, pola pengasuhan anak, serta pelayanan kesehatan dan
kesehatan lingkungan. Ketahanan pangan adalah kemampuan keluarga
untuk memenuhi kebutuhan pangan seluruh anggota keluarga dalam
jumlah yang cukup dan baik mutunya. Pola pengasuhan adalah
kemampuan keluarga untuk menyediakan waktunya, perhatian dan
dukungan terhadap anak agar dapat tumbuh dan berkembang secara
optimal baik fisik, mental, dan sosial. Pelayanan kesehatan dan sanitasi
lingkungan adalah tersedianya air bersih dan sarana pelayanan
kesehatan dasar yang terjangkau oleh seluruh keluarga.10,17
Faktor-faktor tersebut sangat terkait dengan tingkat pendidikan,
pengetahuan, dan ketrampilan keluarga. Makin tinggi pendidikan,
pengetahuan dan ketrampilan terdapat kemungkinan makin baik
tingkat ketahanan pangan keluarga, makin baik pola pengasuhan anak
dan keluarga makin banyak memanfaatkan pelayanan yang ada.
Ketahanan pangan keluarga juga terkait dengan ketersediaan pangan,
harga pangan, dan daya beli keluarga, serta pengetahuan tentang gizi
dan kesehatan.13,17,20
C. Kerangka Teori
Pemberian MPASI

18

Penyakit Infeksi
Status Gizi
Ketahanan
Pangan

Pola
pengasuhan
anak

Pelayanan
kesehatan dan
sanitasi
lingkungan

Gambar 2.2
D. Kerangka Konsep

Variabel Bebas

Variabel Terikat

Pemberian MP-ASI

Status Gizi bayi 6-24


bulan

Gambar 2.3

E. Hipotesis
Ha : Adanya hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi 6-24
bulan di Puskesmas Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara
Ho : Tidak adanya hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi 624 bulan di Puskesmas Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara

19

BAB III
METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian analitik
observational dengan desain Cross Sectional untuk mengetahui status gizi
pada bayi usia 6-24 bulan . Dengan satu kali pengamatan pada waktu
tertentu menggunakan Data Sekunder yang diperoleh dari Puskesmas
Penjaringan Jakarta Utara, mendeskripsikan bagaimana hubungan antara
MP-ASI dengan status gizi pada bayi usia 6-24 bulan di Puskesmas
Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara.
B. Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Puskesmas Penjaringan Jakarta Utara pada
bulan November 2015.
C. Variabel dan Definisi Operasional Variabel
1. Variabel
a. Variabel Bebas
: Pemberian MP-ASI
b. Variabel Terikat
: Status gizi bayi usia 6-24 bulan
2. Definisi Operasional Variabel

Tabel 3.1 Definisi Operasional


No

Variabel

Definisi

Cara Ukur Hasil Ukur

Skala

Wawancara Diberikan

Nominal

Operasional
1

Pemberian

Makanan

MP-ASI

pendamping

ASI dan

MP-ASI dan

adalah

makanan Kuesioner

tidak

yang

diberikan

diberikan

20

kepada bayi selain


ASI

MP-ASI

untuk

memenuhi
kebutuhan gizinya
2

Status

gizi Status gizi adalah Z-Score

bayi usia
6-24 bulan

suatu

keadaan

tubuh

yang

diakibatkan

oleh

1.Gizi Lebih
2.Gizi Baik
3.Gizi

Ordinal

Kurang
4.Gizi Buruk

keseimbangan
antara asupan zat
gizi

dengan

kebutuhan
D. Populasi dan Sampel Penelitian
1. Populasi
Populasi adalah sejumlah besar subyek yang memiliki karakteristik
tertentu.23 Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh bayi 6-24 bulan
yang diberikan MP-ASI di Puskesmas Penjaringan Jakarta Utara tahun
2015 sebanyak 62 orang.
2. Sampel
Sampel adalah bagian dari populasi yang dipilih dengan cara
tertentu hingga dianggap dapat mewakili populasinya. 23 Sampel pada
penelitian ini adalah bayi 6-24 bulan di Puskesmas Kecamatan
Penjaringan, Jakarta Utara yang dihitung menggunakan rumus total
sampling dikarenakan sampel kurang dari 100 maka semua yang ada
dijadikan sampel. Didapatkan sampel sebanyak 8 orang dari Kelurahan
Kamal Muara, Kelurahan Kapuk Muara 10 orang, Kelurahan Pejagalan
14 orang, Kelurahan Pluit 9 orang, Kelurahan Penjaringan I sebanyak
21

11 orang, dan Kelurahan Penjaringan II sebanyak 10 orang. Jadi, total


sampel yang digunakan sebanyak 62 orang.
E. Pengumpulan Data
1. Data Primer
Data primer yaitu data yang diperoleh melalui wawancara dan
observasi secara langsung dengan responden.
2. Data Sekunder
Data sekunder adalah data semua bayi berusia 6-24 bulan yang
datang ke Puskesmas Penjaringan Jakarta Utara sebanyak 62 bayi
untuk mengetahui angka kecukupan gizi serta bayi yang
mendapatkan MP-ASI.
F. Pengolahan, Penyajian dan Teknik Analisis Data
1. Pengolahan Data
Setelah data terkumpul dari lembar kuesioner yang ada maka
dilakukan pengolahan data. Pengolahan data menggunakan program
komputer tersebut dengan tahap-tahap sebagai berikut:
a. Editing
Yaitu kegiatan untuk pengecekan dan perbaikan isian formulir atau
kuesioner. Hasil wawancara atau pengamatan dari lapangan harus
dilakukan penyuntingan terlebih dahulu.
b. Coding
Setelah semua kuesioner diedit atau disunting, selanjutnya
dilakukan pengkodean atau Coding, yakni mengubah data
berbentuk kalimat atau huruf menjadi data angka atau bilangan.
c. Processing
Data dari jawaban masing-masing responden dalam bentuk Code
dimasukkan kedalam program atau Software computer yaitu
paket program SPSS for windows.
d. Cleaning
Apabila semua data dari setiap sumber data atau responden
dimasukkan, perlu dicek kembali untuk melihat kemungkinan

22

kemungkinan adanya kesalahn kode, ketidaklengkapan kemudian


dilakukan pembetulan atau koreksi.

2. Analisis Data
Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan program
SPSS yang meliputi:
a. Analisis Univariat
Analisis univariat (analisis persentase) dilakukan untuk
menggambarkan distribusi frekuensi masing-masing, baik variabel
bebas (independen), variabel terikat (dependen) maupun deskripsi
karakteristik.
b. Analisis Bivariat
Analisis bivariat digunakan untuk melihat hubungan antara
masing-masing variabel bebas dengan variabel tergantung disertai
uji kemaknaan statistik dengan uji Chi Square (Kai Kuadrat)
dengan tingkat kepercayaan 95%. Uji Chi Square menggunakan
data kategori (nominal dan ordinal), data tersebut diperoleh dari
hasil menghitung.
Keputusan Uji Chi Square, Ho ditolak apabila p < (0,05),
artinya ada hubungan bermakna antara variabel dependen dengan
variabel independen. Ho gagal ditolak apabila p > , artinya tidak
ada hubungan bermakna antara variabel dependen dengan variabel
independen (Sabri L, 2013).24

23

BAB IV
HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum Puskesmas Penjaringan

1. Geografis
Puskesmas Penjaringan terletak di Jl. Raya Telok Gong No.2
Kecamatan Penjaringan Jakarta Utara. Wilayah kerja Puskesmas
Penjaringan dihuni oleh 54.188 Kepala Keluarga atau sebanyak
259,938 jumlah penduduk yang terdiri dari 867 RT, 68 RW, dan luas
wilayah 3.553,72 Ha. Luas wilayah kerja Puskesmas penjaringan
terdiri dari 5 (lima) Kelurahan yaitu:
1. Kelurahan Penjaringan
2. Kelurahan Pejagalan
3. Kelurahan Kapuk Muara
4. Kelurahan Kamal Muara, dan
5. Kelurahan Pluit
2. Visi, Misi, Motto, Kebijakan dan Nilai Organisasi
a. Visi
Penjaringan Sehat Untuk Semua
b. Misi
1) Memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu dan
2)
3)
4)
5)

terjangkau oleh semua lapisan masyarakat


Mengembangkan SDM yang berkualitas
Mengembangkan profesionalisme manajemen
Menciptakan suasana kerja yang nyaman bagi pegawai
Membina kerjasama yang harmonis dengan institusi

kesehatan lainnya dan masyarakat


c. Motto
Budaya Yang Kokoh Membangun Kinerja Prima
d. Kebijakan
1) Mencapai kepuasan pelanggan melalui jasa pelayanan
kesehatan yang profesional, ramah, efektif dan efisien
2) Melakukan pelatihan untuk pengembangan kualitas Sumber
Daya Manusia
3) Melakukan upaya perbaikan secara konsisten dan
berkesinambungan
24

4) Berpartisipasi dalam pelayanan kesehatan yang ada di


masyarakat di wilayah cakupan Puskesmas
e. Nilai Organisasi
Profesional, Amanah, Simpatik, Terorganisir, Inisiatif, Sosial, Insan
mulia, Peduli

B. Hasil Penelitian
1. Analisis Univariat
a. Gambaran Pemberian MP-ASI
Tabel 4.1 Distribusi Pemberian MP-ASI di wilayah kerja Puskesmas
Penjaringan Jakarta Utara Tahun 2015
NO

Pemberian MP-ASI

Frekuensi

Persentase (%)

1
2

Diberi MP-ASI
Tidak diberi MP-ASI
Total

54
8
62

87,1
12,9
100

Berdasarkan distribusi tabel 4.1, terdapat 54 bayi (87,1%) yang


diberikan MP-ASI dan terdapat 8 bayi (12,9%) yang tidak diberikan
MP-ASI dari total 62 bayi yang berada di puskesmas penjaringan
jakarta utara tahun.
b. Gambaran Usia
Tabel 4.2 Distribusi Usia di wilayah kerja Puskesmas Penjaringan
Jakarta Utara Tahun 2015
NO

Usia

Frekuensi

Persentase (%)

1
2

7 bulan
8 bulan

5
4

8,1
6,5

9 bulan

1,6

12 bulan

3,2

13 bulan

4,8

14 bulan

11,3

15 bulan

3,2

25

16 bulan

9,7

17 bulan

11,3

10

18 bulan

8,1

11

19 bulan

1,6

12

20 bulan

4,8

13

21 bulan

1,6

14

22 bulan

8,1

15

23 bulan

3,2

16

24 bulan
Total

8
62

12,9
100

Berdasarkan distribusi tabel 4.2, terdapat 5 bayi (8,1%) yang berusia 7


bulan, 4 bayi (6,5%) yang berusia 8 bulan, 1 bayi (1,6%) yang berusia
9 bulan, 2 bayi (3,2%) yang berusia 12 bulan, 3 bayi (4,8%) yang
berusia 13 bulan, 7 bayi (11,3%) yang berusia 14 bulan, 2 bayi (3,2%)
yang berusia 15 bulan, 6 bayi (9,7%) yang berusia 16 bulan, 7 bayi
(11,3%) yang berusia 17 bulan, 5 bayi (8,1%) yang berusia 18 bulan 1
bayi (1,6%) yang berusia 19 bulan, 3 bayi (4,8%) yang berusia 20
bulan, 1 bayi (1,6%) yang berusia 21 bulan, 5 bayi (8,1%) yang berusia
22 bulan, 2 bayi (3,2%) yang berusia 23 bulan, dan 8 bayi (12,9%)
yang berusia 24 bulan dari total bayi yang terdata di Puskesmas
Penjaringan Jakarta Utara.
c. Gambaran Jenis Kelamin
Tabel 4.3 Distribusi Jenis Kelamin di wilayah kerja Puskesmas
Penjaringan Jakarta Utara Tahun 2015
NO

Jenis Kelamin

Frekuensi

Persentase (%)

1
2

Laki-Laki
Perempuan
Total

32
30
62

51,6
48,4
100

Berdasarkan distribusi tabel 4.3, terdapat 32 bayi (51,6%) yang


berjenis kelamin laki-laki dan 30 bayi (48,4%) yang berjenis kelamin
perempuan dari total 62 bayi di Puskesmas Penjaringan Jakarta Utara.
26

d. Gambaran Status Gizi menurut BB/U


Tabel 4.4 Distribusi Status Gizi menurut BB/U di wilayah kerja
Puskesmas Penjaringan Jakarta Utara Tahun 2015
NO

Status Gizi BB/U

Frekuensi

Persentase (%)

1
2

Gizi Normal
Gizi Kurang

27
34

43,5
54,8

Gizi Buruk
Total

1
62

1,6
100

Berdasarkan distribusi tabel 4.4, terdapat 27 bayi (43,5%) dilihat dari


BB/U yang memiliki status Gizi Normal, 34 bayi (54,8%) dilihat dari
BB/U yang memiliki Gizi Kurang, dan 1 bayi (1,6%) dilihat dari BB/U
yang memiliki status Gizi Buruk di Puskesmas Penjaringan Jakarta
Utara.
e. Gambaran Status Gizi menurut BB/TB
Tabel 4.5 Distribusi Status Gizi menurut BB/TB di wilayah kerja
Puskesmas Penjaringan Jakarta Utara Tahun 2015
NO

Status Gizi BB/TB

Frekuensi

Persentase (%)

1
2

Normal
Kurus
Total

24
38
62

38,7
61,3
100

Berdasarkan distribusi tabel 4.5, terdapat 24 bayi (38,7%) dilihat dari


BB/TB yang memiliki status Gizi Normal, dan 38 bayi (61,3%) dilihat
dari BB/TB yang memiliki status Gizi Kurus di Puskesmas
Penjaringan Jakarta Utara.
2. Analisis Bivariat
a. Hubungan Pemberian MP-ASI dengan Status Gizi menurut BB/U
Tabel 4.6 Analisis hubungan Pemberian MP-ASI dengan status Gizi
menurut BB/U di wilayah kerja Puskesmas Penjaringan Jakarta Utara
Tahun 2015
Pemberian
MP-ASI

Total

Status Gizi
Normal

Kurang

Buruk

n(%)

n(%)

n(%)
27

P Value

Ya

25(40,4)

29(46,7)

0(0)

54(87,1)

Tidak

2(3.1)

5(8,1)

1(1,6)

8(12,9)

Total

27(43,5)

34(54,8)

1(1,6)

62(100)

0.023

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.6, dapat dilihat dari total
54 bayi (87,1%) yang diberikan MP-ASI, 25 bayi (40,4%) memiliki
status gizi normal dilihat dari berat badan menurut umur, 29 bayi
(46,7%) memiliki status gizi kurang dilihat dari berat badan menurut
umur. Sedangkan, dari total 8 bayi (12,9%) yang tidak diberikan MPASI, 2 bayi (3,1%) memiliki status gizi normal dilihat dari berat badan
menurut umur, 5 bayi (8,1%) memiliki status gizi kurang dilihat dari
berat badan menurut umur, dan 1 bayi (1,6%) memiliki status gizi
buruk dilihat dari berat badan menurut umur.
Dengan melakukan analisis bivariat dengan uji Chi-Square
diketahui p value hubungan antara pemberian MP-ASI dengan status
gizi menurut BB/U dengan melihat nilai Pearson Chi-Square sebesar
0,023, maka p value lebih kecil dari nilai (0,05), maka dapat
dikatakan Ha gagal ditolak atau menunjukkan ada hubungan yang
bermakna antara pemberian MP-ASI dengan status gizi menurut
BB/U.
b. Hubungan Pemberian MP-ASI dengan Status Gizi menurut BB/TB
Tabel 4.7 Analisis hubungan Pemberian MP-ASI dengan status Gizi
menurut BB/TB di wilayah kerja Puskesmas Penjaringan Jakarta Utara
Tahun 2015

Pemberian
MP-ASI
Ya

Status Gizi
Normal

Kurus

n(%)

n(%)

24(38,7)

30(48,4)
28

Total

P Value

54(87,1)

0.016

Tidak

0(0)

8(12,9)

8(12,9)

Total

24(38,7)

38(61,3)

62(100)

Berdasarkan hasil penelitian pada tabel 4.6, dapat dilihat dari total
54 bayi (87,1%) yang diberikan MP-ASI, 24 bayi (38,7%) memiliki
status gizi normal dilihat dari berat badan menurut tinggi badan, 30
bayi (48,4%) memiliki status gizi kurus dilihat dari berat badan
menurut tinggi badan. Sedangkan, dari total 8 bayi (12,9%) yang tidak
diberikan MP-ASI, tidak ada bayi yang memiliki status gizi normal
dilihat dari berat badan menurut tinggi badan, dan 8 bayi (12,9%)
memiliki status gizi kurus dilihat dari berat badan menurut tinggi
badan.
Dengan melakukan analisis bivariat dengan uji Chi-Square
diketahui p value hubungan antara pemberian MP-ASI dengan status
gizi menurut BB/TB dengan melihat nilai Pearson Chi-Square sebesar
0,016, maka p value lebih kecil dari nilai (0,05), maka dapat
dikatakan Ha gagal ditolak atau menunjukkan ada hubungan yang
bermakna antara pemberian MP-ASI dengan status gizi menurut
BB/TB.

29

BAB V
PEMBAHASAN
A. Pembahasan Temuan Hasil Penelitian
MP-ASI merupakan makanan pendamping ASI yang diberikan
pada bayi umur 6-24 bulan. Bayi siap untuk makan makanan padat, baik
secara pertumbuhan maupun secara psikologis, pada usia 6-9 bulan.
Kemampuan bayi baru lahir untuk mencerna, mengabsorpsi, dan
memetabolisme bahan makanan sudah adekuat, tetapi terbatas hanya pada
beberapa fungsi.
Ada beberapa tanda yang mengindikasi bahwa bayi siap menerima
MP-ASI, diantaranya adalah: (1) Memiliki kontrol terhadap kepala, jika
bayi bisa mempertahankan posisi yang tegak dan mantap, lebih mudah
memberi makanan padat melalui sendok, (2) Kemampuan untuk duduk,
ketika bayi belajar duduk dengan nyaman setidaknya selama 10 menit,
akan lebih mudah memberi makanan melalui sendok, (3) Membuat
gerakan mengunyah, penting bagi bayi untuk belajar mendorong makanan
ke bagian belakang mulutnya lalu menelannya, (4) Pertahankan berat
badan, sangat dianjurkan bahwa Anda memperkenalkan makanan padat
setelah bayi mencapai dua kali berat badan lahirnya, biasanya terjadi
sekitar usia enam bulan, (5) Tertarik pada makanan, ketika bayi tumbuh
makin besar, ia akan mulai menjulurkan tangan untuk mengambil
makanan.
Berdasarkan penelitian yang dilakukan dengan uji chi Square
didapatkan nilai p=0,023 (p<0,05), maka Ha gagal ditolak atau ada
hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi 6-24 bulan di
30

wilayah kerja puskesmas Penjaringan Jakarta Utara. Hasil penelitian


menunjukan bahwa pemberian MP-ASI dengan status gizi kurang
merupakan yang terbanyak 29 bayi (46,7%), 25 bayi (40,4%) dengan
status gizi normal. Hal ini bisa terjadi akibat pemberian ASI yang cukup
namun pemberian MP-ASI yang kurang, bisa terjadi dari frekuensi
pemberian yang sedikit ataupun pemberian sudah cukup namun zat gizi
yang terkandung masih belum terpenuhi. Apabila pemberian MP-ASI
sudah cukup baik dari kuantitas ataupun kualitasnya, status gizi bayi yang
masih kurang bisa disebabkan pemberian ASInya yang kurang karena ibu
berpendapat bahwa setelah diberikan cukup MP-ASI tidak diperlukan lagi
pemberian ASI. Status gizi bayi yang sudah diberikan MP-ASI dan ASI
oleh ibu masih saja kurang bisa karena faktor ekonomi atau ketidaktahuan
ibu terhadap pemberian ASI dan MP-ASI yang baik, oleh karena itu
perlunya edukasi terhadap pengetahuan ibu. Sedangkan 8 bayi yang tidak
diberikan MP-ASI, 1 bayi (1,6%) memiliki status gizi buruk, 2 bayi
(3,1%) dengan status gizi normal, dan terbanyak 5 bayi (8,1%) memiliki
status gizi kurang. Oleh karena itu bayi yang tidak diberikan MP-ASI
dianjurkan untuk diberikan untuk meningkatkan status gizinya.
Berdasarkan penelitian yang pernah dilakukan oleh Risa Wargiana,
dkk (2013) yang dilakukan di puskesmas Rowotengah kabupaten Jember
dengan menggunakan sampel sebanyak 50 bayi menunjukan hasil yang
sama dengan nilai uji p=0,008 CI 95%. Hal ini juga didukung oleh
Cartono SM (2000) bahwa adanya hubungan antara pemberian MP-ASI
dengan status gizi.
Namun, penelitian yang dilakukan oleh Risky Eka Sakti, dkk
(2013) memiliki hasil yang berbeda. Jenis penelitian yang digunakan

31

merupakan analisis observasional dengan desain cross-sectional dengan


jumlah sampel 150 bayi menggunakan total sampel. Hasil penelitian yang
didapatkan frekuensi MP-ASI dengan status gizi memiliki hubungan
dengan nilai uji p=0,000 akan tetapi pemberian MP-ASI dengan status gizi
tidak ada hubungan yang bermakna dengan nilai uji p=0,620 (p>0,05).
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, bayi dengan status
gizi kurang merupakan yang terbanyak 34 bayi (54,8%), dan bayi dengan
status gizi normal 27 bayi (43,5%), serta terdapat 1 bayi dengan gizi
buruk. Pemberian MP-ASI secara dini dapat memberikan dampak secara
langsung pada bayi, diantaranya adalah gangguan pencernaan seperti
diare, sulit BAB, muntah, serta bayi akan mengalami gangguan menyusu.
Gangguan menyusu disebabkan karena pemberian MP-ASI terlalu banyak
sehingga menyebabkan bayi kenyang dan keinginan untuk menyusu atau
minum ASI berkurang. Asupan ASI yang kurang dapat menyebabkan
gangguan kesehatan pada bayi karena didalam ASI banyak terkandung zat
gizi yang sangat dibutuhkan bayi. Standar dinas kesehatan menyebutkan
bahwa bayi umur 0-6 bulan hanya membutuhkan ASI saja karena
mengandung protein, lemak, vitamin, mineral, air, dan enzim yang
dibutuhkan oleh bayi. Pada penelitian ini pemberian MP-ASI dimulai pada
usia 7 bulan sebanyak 5 bayi (8,1%) dan yang paling banyak diberi MPASI adalah bayi yang sudah berusia 24 bulan sebanyak 8 bayi (12,9%).
Usia 0-24 bulan merupakan masa pertumbuhan dan perkembangan
yang pesat, sehingga diistilahkan sebagai periode emas sekaligus periode
kritis. Periode emas dapat diwujudkan apabila pada masa ini bayi dan anak
memperoleh asupan gizi yang sesuai untuk tumbuh kembang optimal,
sebaliknya apabila bayi dan anak pada masa ini tidak memperoleh

32

makanan sesuai kebutuhan gizinya, maka periode emas akan berubah


menjadi periode kritis yang akan mengganggu tumbuh kembang bayi dan
anak, baik pada saat ini maupun masa selanjutnya.
WHO/UNICEF merekomendasikan empat hal penting yang harus
dilakukan untuk mencapai tumbuh kembang optimal di dalam Global
Strategy for Infant and Young Child Feeding, yaitu; pertama memberikan
air susu ibu kepada bayi segera dalam waktu 30 menit setelah bayi lahir,
kedua memberikan hanya Air Susu Ibu (ASI) saja atau pemberian ASI
secara eksklusif sejak lahir sampai bayi berusia 6 bulan, ketiga
memberikan makanan pendamping air susu ibu (MP-ASI) sejak bayi
berusia 6 bulan sampai 24 bulan, dan keempat meneruskan pemberian ASI
sampai anak berusia 24 bulan.
B. Keterbatasan Penelitian
Dalam melakukan penelitian

ini,

peneliti

menemukan

beberapa

keterbatasan yang ditemukan selama penelitian, yaitu


1. Jumlah sampel dalam penelitian ini berjumlah 62 orang yang didapat
dari total populasi dari 5 kelurahan yang datang ke Puskesmas
Penjaringan Jakarta Utara, sehingga hasil penelitian ini belum dapat
digeneralisasi pada populasi lain yang lebih luas.
2. Desain penelitian ini adalah observasional

analitik

dengan

pengambilan sampelnya dilakukan dalam satu waktu (cross-sectional)


yang pendek (1 hari) sehingga jumlah sampel yang dapat dijadikan
responden juga tidak banyak.
3. Penelitian ini hanya membahas hubungan pemberian MP-ASI dengan

status gizi, padahal disamping itu terdapat beberapa faktor lain yang
berhubungan dengan status gizi.

33

BAB VI
SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan
Berdasarkan proses dan hasil analisis data statistik yang telah diuraikan
pada BAB 4 dan BAB 5 dapat ditarik kesimpulan, yaitu:
1. Jumlah bayi yang diberikan MP-ASI 54 bayi (87,1%) dan terdapat 8
bayi (12,9%) yang tidak diberikan MP-ASI
2. Dilihat dari BB/TB perawakan normal terdapat 24 bayi (38,7%) dan 38
bayi (61,3%) dilihat dari BB/TB yang memiliki perawakan kurus. Usia
paling banyak diberikan MP-ASI pada umur 24 bulan dengan 8 bayi
(12,9%), pemberian awal MP-ASI pada umur 7 bulan sebanyak 5 bayi
(8,1%), dengan median pada usia 17 bulan sebanyak 7 bayi (11,3%).
3. Jenis kelamin yang terbanyak pada penelitian ini adalah laki-laki
sebanyak 32 bayi (51,6%) sedangkan perempuan sebanyak 30 bayi
(48,4%) dari total 62 bayi.
4. Dalam penelitian ini tidak terdapat bayi yang memiliki status gizi
lebih, terdapat 27 bayi (43,5%) memiliki status gizi normal, 34 bayi
(54,8%) memiliki gizi kurang, dan 1 bayi (1,6%) memiliki status gizi
buruk.
5. Pada pengolahan data menggunakan program statistik, didapatkan
hasil p=0,023 pada BB/U dan perawakan menggunakan BB/TB
p=0,016 (p<0,05) berarti adanya hubungan pemberian MP-ASI dengan
status gizi.
6. Hasil penelitian ini sejalan dengan hipotesis yang dikemukakan bahwa
terdapat hubungan pemberian MP-ASI dengan status gizi bayi 6-24
bulan di wilayah kerja puskesmas Penjaringan Jakarta Utara.
B. Saran

34

1. Bagi tenaga kesehatan di Puskesmas Kecamatan Penjaringan Jakarta


Utara, diharapkan dapat memberikan penyuluhan dan edukasi serta
program akan manfaat dan pentingnya pemberian MP-ASI.
2. Pemberian MP-ASI untuk seluruh bayi yang memiliki status gizi buruk
hingga normal, dengan kontrol setiap minggu agar perkembangan
status gizi bisa optimal.
3. Pelayanan yang optimal, pemberian MP-ASI yang baik dari segi
kualitas maupun kuantitas, harus diberikan kepada bayi sebagai
sumber utama asupan energi dan zat gizi setelah usia 6 bulan bersamasama dengan pemberian ASI.
4. Pada bayi yang berasal dari ekonomi rendah, edukasi gizi tentang
sumber MP-ASI yang berkualitas dan dengan harga yang murah perlu
diberikan.
5. Bagi penelitian selanjutnya diharapkan dapat menggunakan sampel
yang lebih besar, faktor faktor yang mempengaruhi pertumbuhan bayi,
frekuensi pemberian MP-ASI, serta faktor faktor yang mempengaruhi
pertumbuhan bayi agar hasil penelitian lebih akurat.

35

DAFTAR PUSTAKA
1. Sari, Khandila. 2010. Pola Pemberian Asi Dan Mp-Asi Pada Anak 0-2
Tahun Ditinjau Dari Aspek Sosial Ekonomi Di Wilayah Pesisir Desa
Weujangka Kecamatan Kuala Kabupaten Bireuen Tahun 2010. [Skripsi].
Fakultas Kesehatan Masyarakat. Universitas Sumatera Utara. Medan
2. Departemen Kesehatan RI. 2004. Pemberian Makanan Pendamping ASI
(MP-ASI). Dirjen Bina Gizi Masyarakat, Departemen Kesehatan, Jakarta.
3. Ferreira, A, et al. 2012. Nutritional Status And Growth Of Indigenous
Xavante Children, Central Brazil. Nutrition Jurnal, 11 (3), p. 1-9.
4. Departemen Kesehatan RI. 2007. Pedoman Umum Gizi Seimbang. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
5. Muchtadi, D. 2004. Gizi untuk bayi: ASI, Susu Formula dan Makanan
Tambahan, Pustaka Harapan, Jakarta.
6. WHO. 1998. Complementary feeding: family foods for breastfed children.
WHO
7. INFODATIN Kemenkes RI. 2014. Situasi dan Analisis Gizi. Jakarta :
Departemen Kesehatan RI
8. Kemenkes RI. 2013. Riset Kesehatan Dasar RI. Jakarta : Departemen
Kesehatan RI
9. Azwar, A. 2000. Pedoman pemberian makanan pendamping ASl. Jakarta :
Binarupa Aksara.
10. Departemen Kesehatan RI. 2000. Pedoman Umum Gizi Seimbang. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
11. Pudjiadi, Solihin . 1999. Ilmu Gizi Klinis Pada Anak, Fakultas Kedokteran
UI. Jakarta
12. Departemen Kesehatan RI. 2007. Kesehatan Ibu dan Anak. Jakarta:
Departemen Kesehatan RI.
13. Burhanuddin, 2006. Perilaku Ibu Dalam Pemberian ASI Eksklusif,
Gramedia, Jakarta
14. Jenny, Sr. 2006. Perawatan Masa Nifas Ibu dan Bayi. Yogyakarta:
Sahabat Setia
15. Gibson, Rosalind S. 1990. Principles of Nutritional Assessment. Oxford
University Press. New York
16. Supariasa, I Dewa Nyoman, dkk. 2001. penilaian Status Gizi. Jakarta
17. Soekirman. 2000. Ilmu Gizi dan Aplikasinya. Jakarta : Direktorat Jendral.
18. Gibson, Rosalind S. 2005. Principles of Nutritional Assessment. Oxford
University Press. New York

36

19. Abunain Djumadias. (1990). Aplikasi antropometri sebagai Alat Ukur


Status Gizi. Puslitbang Gizi Bogor
20. Almatsier. S, 2002. Prinsip-Dasar Ilmu Gizi. PT Gramedia Pustaka
Utama, Jakarta.
21. Khumaidi. 1994, Bahan Pengajaran Gizi Masyarakat. BPK Gunung
Muka, Jakarta.
22. Keputusan Menteri

Kesehatan

Republik

Indonesia

Nomor

1995/MENKES/SK/XII/2010 tentang Standar Antropometri Penilaian


Status Gizi Anak. Kementrian Kesehatan RI. 2011.
23. Sastroasmoro,Sudigdo. 2014. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis.
Jakarta:Sagung Seto
24. Sabri, L. Hastono, SP. 2013. Statistik Kesehatan. Edisi Revisi. Jakarta :
Rajawali Pers.

37

Lampiran 1

38

Lampiran 2
Mpasi
Frequency

Percent

Valid Percent

Cumulative
Percent

Crosstab
Count

Diberi MP-asi

Valid

Tidak diberi MP-asi

MPasi

Diberi MP-asi
Total

54
8
gizi normal

87.1

Statusgizi_U
12.9
gizi kurang

12.9
gizi buruk

25 100.0

62

Tidak diberi MP-asi

87.1

29

2
Jenis_Kelamin
27

Total

Frequency

Percent

87.1
Total
100.0
0

54

34

62

100.0

Valid Percent

Cumulative
Percent

Chi-Square Tests
laki-laki

32

Value51.6

df 51.6

Pearson Chi-Square
Valid
perempuan
Likelihood Ratio

30

7.574a
48.4
5.030

48.4

N of Valid Cases
Total

62

62
100.0

100.0

51.6(2-sided)
Asymp. Sig.
2

100.0

.023
.081

Statusgizi_U
Frequency

Percent
Valid Percent
Crosstab

Cumulative
Percent

Count
gizi normal

27

43.5

Statusgizi_TB
43.5
normal

MPasi
Valid

gizi kurang
Diberi MP-asi
Tidak diberi MP-asi
gizi buruk

34

54.8

1.6

Total

kurus
24

54.8

62

100.0

30
8

1.6

24
Total

43.5 Total
98.4
100.0

38

Percent

8
62

100.0

Statusgizi_TB
Frequency

54

ChiValid Percent

Cumulative

Squar
e

Percent

Tests

Valid

normal

24

38.7

38.7

38.7

kurus

38

61.3

61.3

100.0

Total

62

100.0

100.0

39

Value

Pearson Chi-Square
Continuity Correction

Likelihood Ratio

df

Asymp. Sig. (2-

Exact Sig. (2-

Exact Sig. (1-

sided)

sided)

sided)

5.801a

.016

4.079

.043

8.570

.003

Fisher's Exact Test


N of Valid Cases

.019
62

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama

: Rizky Nugraha

Tempat /Tanggal Lahir

: Jakarta, 24 Mei 1994

Jenis Kelamin

: Laki-laki

Alamat

: Kp. Kawidaran RT 022/04 no.4 Desa Cibadak,


Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang

Pendidikan Terakhir

: SMA

No. Telp

: 089612297489

E-mail

: nugraharizky.permana@yahoo.com
: rizky.ndutz@yahoo.com

RIWAYAT PENDIDIKAN

2000 2006

: SDN 4 Cibadak

2006 2009

: SMP Plus Islamic Village

2009 2012

: SMAN 1 Kabupaten Tangerang

2012 2016

: Universitas Muhammadiyah Jakarta


40

.014

41