Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT KATUP JANTUNG

LAPORAN PENDAHULUAN PENYAKIT KATUP JANTUNG A. Definisi Kelainan katup jantung merupakan keadaan dimana katup jantung mengalami

A. Definisi

Kelainan katup jantung merupakan keadaan dimana katup jantung mengalami kelainan yang membuat aliran darah tidak dapat diatur dengan maksimal oleh jantung. Katup jantung yang mengalami kelainan membuat darah yang seharusnya tidak bisa kembali masuk ke bagian serambi jantung ketika berada di bilik jantung membuat jantung memiliki tekanan yang cukup kuat untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Akibatnya orang tersebut tidak bisa melakukan aktifitas dalam tingkat tertentu.

Kelainan katup jantung yang parah membuat penderitanya tidak dapat beraktifitas dan juga dapat menimbulkan kematian karena jantung tidak lagi memiliki kemampuan untuk dapat mengalirkan darah. Kelainan katup jantung biasanya terjadi karena faktor genetika atau keturunan dan terjadi sejak masih dalam kandungan. Kelainan pada katup jantung juga bisa terjadi karena kecelakaan ataupun cedera yang mengenai jantung. Operasi jantung juga dapat menyebabkan kelainan pada katup jantung jika operasi tersebut gagal atau terjadi kesalahan teknis maupun prosedur dalam melakukan oeprasi pada jantung.

  • B. Tipe-tipe gangguan katub

    • 1. Sindrom Prolaps Katup Mitral Sindrom prolaps katup mitral adalah disfungsi bilah – bilah katup mitral yang tidak dapat menutup dengan sempurna dan mengakibatkan regurgutasi katup, sehingga darah merembes dari ventrikel kiri ke antrium kiri. Sindrom ini kadang tidak menimbulkan gejala atau dapat juga atau dapat juga berkembang cepat dan menyebabkan kematian mendadak. Pada tahun – tahun belakangan sindrom ini semakin banyak dijumpai, mungkin karena metode diagnostic yang semakin maju

    • 2. Stenosis Mitral Stenosis mitral adalah penebalan progresif dan pengerutan bilah – bilah katup mitral, yang menyebabkan penyempitan lumen dan sumbatan progresif aliran darah. Secara normal pembukaan katup mitral adalah selebar tiga jari. Pada kasus stenosis berat menjadi penyempitan lumen sampai seleba pensil. Ventrikel kiri tidak terpengaruh, namun antrium kiri mengalami kesulitan dalam menggosongkan darah melalui lumen yang sempit ke ventrikel kiri. Akibatnya antrium akan melebar dan mengalami hipertrofi karena tidak ada katup yang melindungi vena pulmonal terhadap aliran balik dari antrium, maka sirkulasi pulmonal mengalami kongesti. Akibatnya ventrikel kanan harus menanggung beban tekanan arteri pulmonal yang tinggi dan mengalami peregangan berlebihan yang berakhir gagal jantung.

    • 3. Insufisiensi Mitral (Regurgitasi) Insufisiensi mitral terjadi bilah- bilah katup mitral tidak dapat saling menutup selama systole. Chordate tendineae memendek, sehingga bilah katup tidak dapat menutup dengan sempurna, akibatnya terjadilah regurgitasi aliran balik dari ventrikel kiri ke antrium kiri. Pemendekan atau sobekan salah satu atau kedua bilah katup mitral mengakibtakan penutupan lumen mitral tidak sempurna saat ventrikel kiri dengan kuat mendorong darah ke aorta, sehingga setiap denyut, ventrikel kiri akan mendorong sebagaian darah kembali ke antrium kiri.

  • 4. Stenosis Katup Aorta Stenosis katup aorta adalah penyempitan lumen antara ventrikel kiri dan aorta. Pada orang dewasa stenosis bisa merupakan kelainan bawaan atau dapat sebagai akibat dari endokarditisrematik atau kalsifikasi kuspis dengan penyebab yang tidak diketahui. Penyempitan terjadi secara progresif selama beberapa tahun atau beberapa puluh tahun. Bilah – bilah katup aorta saling menempel dan menutup sebagaian lumen diantara jantung dan aorta. Ventrikel kiri mengatasi hambatan sirkulasi ini dengan berkontraksi lebih lambat tapi dengan energi yang lebih besar dari normal, mendorong darah melalui lumen yang sangat sempit. Mekanisme kompesansi jantung mulai gagal dan munculah tanda – tanda klinis. Obstruksi kalur aliran aorta tersebut menambahkan beban tekanan ke ventrikel kiri, yang mengakibatkan penebalann dinding otot. Otot jantung menebal (hipertrofi) sebagai respons terhadap besarnya obstruksi ; terjadilah gagal jantung bila obsruksinya terlalu berat.

  • 5. Insufiensi Aorta (Regurgitasi) Insufisiensi aorta disebabkan oleh lesi peradangan yang merusak bentuk bilah katup aorta,sehingga masing – masing bilah tidak bisa menutup lumen aorta dengan rapt selama diastole dan akibatnya menyebabkan aliran balik darah dari aorta ke ventrikel kiri.

C. Etiologi

Penyakit katup jantung dahulu dianggap sebagai peyakit yang hampir selalu disebabkan oleh rematik, tetapi sekarang telah lebih banyak ditemukan penyakit katup jenis baru. Penyakit katup jantung yang paling sering dijumpai adalah penyakit katup degeneratif yang berkaitan dengan meningkatnya masa hidup rata-rata pada orang-orang yang hidup di negara industri dibandingkan dengan yang hidup di negara berkembang.

  • 1. Stenosis Mitraler. Berdasarkan etiologinya stenosis katup mitral terjadi terutama pada orang tua yang pernah menderita demam rematik pada masa kanak-kanak dan mereka tidak mendapatkan antibiotik.

  • 2. Insufisiensi Mitral

Berdasarkan etiologinya insufisiensi atau regurgitasi mitral dapat dibagi atas reumatik dan non reumatik (degeneratif, endokarditis, penyakit jantung koroner, penyakit jantung bawaan, trauma dan sebagainya). Di negara berkembang seperti Indonesia, penyebab terbanyak insufisiensi mitral adalah demam reumatik.

  • 3. Stenosis Aorta Berdasarkan etiologinya stenosis katup aorta merupakan penyakit utama pada orang tua, yang merupakan akibat dari pembentukan jaringan parut dan penimbunan kalsium di dalam daun katup. Stenosis katup aorta seperti ini timbul setelah usia 60 tahun, tetapi biasanya gejalanya baru muncul setelah usia 70-80 tahun. Stenosis katup aorta juga bisa disebabkan oleh demam rematik pada masa kanak-kanak. Pada keadaan ini biasanya disertai dengan kelainan pada katup mitral baik berupa stenosis, regurgitasi maupun keduanya.

  • 4. Isufisiensi Aorta Penyebab terbanyak adalah demam reumatik dan sifilis. Kelainan katub dan kanker aorta juga bias menimbulkan isufisiensi aorta. Pada isufisiensi aorta kronik terlihat fibrosis dan retraksi daun-daun katub, dengan atau tanpa kalsifikasi, yang umumnya merupakan skuele dari demam reumatik.

D. Patofisiologi

Demam reuma – inflamasi akut dimediasi – imun yang menyerang katup jantung

akibat reaksi silang antara antigen streptokokus hemolitik-α grup A dan protein jantung. Penyakit dapat menyebabkan penyempitan pembukaan katup (stenosis) atau tidak dapat menutup sempurna (inkompetensi atau regurgitasi) atau keduanya.

Disfungsi katup akan meningkatkan kerja jantung. Insufisiensi katup memaksa jantung memompa darah lebih banyak untuk menggantikan jumlah darah yang mengalami regurgitasi atau mengalir balik sehingga meningkatkan volume kerja jantung. Stenosis katup memaksa jantung meningkatkan tekanannya agar dapat mengatasi resistensi terhadap aliran yang meningkat, karena itu akan meningkatkan tekanan kerja miokardium . Respon miokardium yang khas terhadap peningkatan volume kerja dan tekanan kerja adalah dilatasi ruang dan

hipertrofi otot. Dilatasi miokardium dan hipertrofi merupakan mekanisme kompensasi yang bertujuan meningkatakan kemampuan pemompa jantung.

Pathway Penyakit Katup Jantung

hipertrofi otot. Dilatasi miokardium dan hipertrofi merupakan mekanisme kompensasi yang bertujuan meningkatakan kemampuan pemompa jantung. Pathway
  • E. Manisfestasi Klinis Jika stenosisnya berat, tekanan darah di dalam atrium kiri dan tekanan darah di dalam vena paru-paru meningkat, sehingga terjadi gagal jantung, dimana cairan tertimbun di dalam paru- paru (edema pulmoner). Penderita yang mengalami gagal jantung akan mudah merasakan lelah dan sesak nafas. Pada awalnya, sesak

nafas terjadi hanya sewaktu melakukan aktivitas, tetapi lama-lama sesak juga akan timbul dalam keadaan istirahat.

Sebagian penderita akan merasa lebih nyaman jika berbaring dengan disangga oleh beberapa buah bantal atau duduk tegak. Warna semu kemerahan di pipi menunjukkan bahwa seseorang menderita stenosis katup mitral. Tekanan tinggi pada vena paru-paru dapat menyebabkan vena atau kapiler pecah dan terjadi perdarahan ringan atau berat ke dalam paru-paru. Pembesaran atrium kiri bisa mengakibatkan fibrilasi atrium, dimana denyut jantung menjadi cepat dan tidak teratur.

  • 1. Stenosis Mitral Sangat cepat, lemah, dyspnea, capek bila ada kegiatan fisik, nocturnal dyspnea, batuk kering, bronchitis, rales, edema paru-paru, hemoptysis/batuk darah, kegagalan pada sebelah kanan jantung. Auskultasi : teraba getaran apex S1 memberondong, peningkatan bunyi. Murmur :lemah, nada rendah, rumbling/gemuruh, diastolic pada apex.

  • 2. Isufisiensi Mitral Sangat capi, lemah, kehabisan tenaga, berat badan turun, napas sesak bial terjadi kegiatan fisik, ortopneu, paroxysma noktural dipsneu rales. Tingkat lanjut : edema paru-paru, kegagalan jantung sebelah kanan. Auskultasi : terasa getaran pada raba apex, S1 tidak ada, lemah, murmur. Murmur : bernada tinggi, menghembus, berdesis, selam systoll (pada apex) S3 nada rendah.

  • 3. Stenosis Aorta Angina, syncope, capai, lemah, sesak napas saat ada kegiatan ortopneu, paroxysm mal nokturial, edema paru-paru, rales. Tingkat lanjut: kegagalan sebelah kanan jantung. Murmur : nada rendah, kasar seperti kerutan, systoll(pada basis atau carctis) gemetar systoll pada basis jantung.

  • 4. Isufisiensi Aorta Palpitasi, sinus tacikardi, sesak napas bila beraktifitas ortopnew, paroxysmal noktural dyspnea, diaphoresis hebat, angina. Tingkat lanjut: kegagalan jantung sebelah kiri dan kanan. Murmur: nada tinggi, menghembus diastole (sela iga ke-3) murmur desakan systoll pada basis.

 
  • F. Komplikasi

Komplikasi-komplikasi yang terjadi pada kelainan katup

1.

Angina pectoris

2.

Bedah jantung

3.

Gagal jantung kongestif

4.

Disritmia

5.

Kondisi inflamasi jantung

6.

Aspek-aspek psikososial perawatan akut

7.

Penyakit jantung rematik

8.

Penyakit jantung iskemik

  • G. Pemeriksaan Penunjang

    • 1. Laboratorium

    • 2. EKG

    • 3. Photo thoraks

    • 4. CT scan : MRI, USG, EEG, ECG

  • H. Penatalaksanaan

  • 1. Medis

     

    a.

    Stenosis Mitral

     

    Terapi

    antibiotik

    diberikan

    untuk

    mencegah

    berulangnya

    infeksi.

    Penatalaksanaan gagal jantung kongesti adalah dengan memberikan kardiotinikum dan diuretik. Intervensi bedah meliputi komisurotomi untuk membuka atau “menyobek” komisura katub mitral yang lengket atau mengganti katub miral dengan katub protesa. Pada beberapa kasus dimana pembedahan merupakan kontraindikasi dan terapi medis tidak mampu menghasilkan hasil yang diharapkan, maka dapat dilakukan valvuloplasti transluminal perkutan untuk mengurang beberapa gejala.

    b.

    Insufisiensi Mitral Penatalaksanaannya sama dengan gagal jantung kongestif, intervensi bedah meliputi penggantian katup mitral.

    c.

    Stenosis Aorta Penatalaksanaan yang sesuai untuk stenosis aorta adalah penggantian katub aorta secara bedah. Terdapat risiko kematian mendadak pada pasien yang diobati saja tanpa tindakan bedah. Keadaan yang tak dikoreksi tersebut dapat menyebabkan gagal jantung permanen yang tidak berespond terhadap

    terapi medis.

     

    d.

    Insufisiensi Aorta Penggantian katub aorta adalah terapi pilihan, tetapi kapan waktu yang

    tepat untuk penggantian katub masih kontroversial. Pembedahan dianjurkan pada semua pasien dengan hipertropi ventrikel kiri tanpa memperhatikan ada atau tidaknnya gejala lain. Bila pasien mengalami

    gejala gagal jantung kongestif, harus diberikan penatalaksanaan medis sampai dilakukannya pembedahan.

    • e. Terapi antibiotik Kardiotinikum dan diuritik, komisurotomia, valvuloplasty transluminal perkutan, penggantian katup mitral, penggantian katup aorta.

    RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN

    A. Pengkajian

    • 1. Sindrom prolaps katup mitral

      • a. Ada bunyi jantung tambahan

    (mitral click), adanya klik merupakan tanda

    awal bahwa jaringan katup menggelembung keatrium kiri dan telah terjadi gangguan aliran darah

    • b. Mitral klik dapat berupa mur-mur seiring dengan tidak berfungsinya bilah- bilah katup

    Dengan berkembangnya proses penyakit, bunyi mur-mur menjadi tanda terjanyinya regurgitas mitalis (aliran balik darah)

    • 2. Regurgitas Mitalis

      • a. Palpitasi jantung (berdebar)

      • b. Nafas pendek

      • c. Batuk akibat kongesti paru pasif kronis

    • d. Denyut nadi mungkin kadang tidak teratur akibat ekstra systole/ fibrilasi atrium yang bias menutup selamaya

    • e. Pada pemeriksaan auskultasi : bising sepanjang fase systole

    • f. Pada pemeriksaan elektrokardiogram ; pembesaran atrium kiri, irama sinus normal, fibrilasi atrium hipertropi atrium kiri

    • g. Pada pemeriksaan radiogram dada : pembesaran atrium kiri, pembesaran vertikal kiri, kongesti vaskuler paru-paru dalam berbagai derajad

    • 3. Stenosis Mitral

      • a. Kelelahan sebagai akibat curah jantung yang rendah

      • b. Batuk darah (hemoptisis)

      • c. kesulitan bernafas (dispnea)

      • d. bentuk dan infeksi saluran nafas berulang

      • e. denyut nadi lemah dan sering tidak teratur

      • f. pada pemeriksaan auskultasi : bising usus diastolic dan bunyi jantung pertama

      • g. pada pemeriksaan elektrodiagram : pembesaran atrium kiri, irama sinus normal, hipertropi vertikal kanan

      • h. Pada pemeriksaan elektrokardiogram ; pembesaran atrium kiri, irama sinus normal, fibrilasi atrium hipertropi atrium kanan

      • i. Pada pemeriksaan radiogram dada : pembesaran atrium kiri, pembesaran vertikal kanan

      • j. Temuan hemodinamik : peningkatan selisih tekanan pada kedua sisi katup mitralis

  • 4. Stenosis katup aorta

    • a. Dispnea

    • b. Tanda lain berupa pusing dan pingsan karena berkurangnya volume darah yang mengalir ke otak

    • c. Angina pectoris merupakan gejala yang sering timbul karena peningkatan kebutuhan oksigen

  • 5. Regurgitas Aorta

    • a. Pasien merasakan debar jantung yang bertambah kuat

    • b. Tekanan nadi (perbedaan antara tekanan sistolik L. diastolic biasanya melebar pada pasien ini

    • c. Sesak nafas terutama malam hari

    • d. Denyut nadi yang terasa di jari pada saat palpasi, terjadi secara cepat, tajam dan tiba-tiba kolaps

    • B. Diagnosa keperawatan yang mungkin muncul

    1

    Pola

    nafas

    tidak

    efektf

    b-d

    Tujuan dan criteria hasil : NOC

    Intervensi : NIC

     

    hiperventilasi

    • 1. Respiratory : ventilation

    • 1. Posisikan pasien

    • 2. Respiratory status : Airway

    • 1. Penurunan energi/kelelahan

    untuk

    • 2. Perusakan/pelemahan

    pathway

    musckloskeletal

    • 3. Vital sign status Setelah di lakukan tindakan

    memaksimalkan

     
    • 3. Kelelahan otot pernafasan

    ventilasi

    • 4. Hipoventilasi sindrom

    keperawatan

    • 2. Pasang

    mayo

    bila

    • 5. Nyeri

     
    • 6. Kecemasan

    selama……………… ..

    perlu

    • 7. Disfungsi neoromuskuler

    • 4. menunjukan

    Paien

    • 3. Lakukan

    tisioterapi

    • 8. Obesitas

     
    • 9. Injuri tulang belakang

    keefektifan pola nafas,

    dada jika perlu

     
    • 4. Keluarkan secret

    dibuktikan dengan criteria

    dengan batuk/suction

    hasil :

    • 5. Auskultasi

    suara

    • a. Mendimonstrasikan

     

    nafas, catat adanya

    bentuk efektif dan suara

    suara tambahan

     

    nafas yang bersih, tidak

    • 6. Berikan bronkardiator

    • 7. pelembab

    Berikan

    ada sianosis dan dispnea

    udara kassa basah

    (mampu mengeluarkan

    Nacl Lembab

     

    sputum, mampu bernafas

    • 8. intake

    Atur

    untuk

    dengan mudah)

    cairan

    • b. Menunjukkan jalan nafas

    mengoptimalkan

     

    yang paten, (klin tidak

     

    keseimbangan

     

    merasa tecekik, irama

    9.

    Monitor respirasi dan

    nafas, frekuensi

    status 0 2

    • 10. bersihakn mulut,

    pernafasan dalam rentang

    hidung, dan secret

    normal, tidak ada suara

    • 11. pertahankan jalan

    nafas abnormal)

    nafas yang paten

     
    • c. vital

    Tanda-tanda

    dalam

    • 12. observasi adanya

    rentan normal (tekanan

    tanda-tanda

    darah, nadi, pernafasan,

    hipoventilasi

     
    • 13. adanya

    monitor

    temperature, spo 2 )

    kecemasan pasien

    terhadap oksigenasi 14. monitor vital sign 15. informasikan pada pasien dan keluarga tentang teknik relaksasi 16.
    terhadap oksigenasi
    14. monitor vital sign
    15. informasikan pada
    pasien dan keluarga
    tentang
    teknik
    relaksasi
    16. untuk
    memperbaiki
    pola nafas
    17. ajarkan
    bagaimana
    batuk efektif
    18. monitor pola nafas
    1.
    Posisikan pasien
    untuk
    memaksimalkan
    ventilasi
    2.
    Pasang
    mayo
    bila
    perlu
    3.
    Lakukan
    fisioterapi
    Ganguan
    Pertukaran
    gas
    1.
    Respirator
    status
    :
    Gas
    dada jika perlu
    b.d ketidak
    seimbangan Perpusi
    exchange
    4.
    Keluarkan secret
    2.
    Keseimbangan
    asam
    basa,
    Ventilasi,
    perubahan
    Membran
    dengan batuk/suction
    elektrolit
    5.
    Austkultasi
    suara
    kapiler-kapiler
    3.
    Respiratori
    status
    :
    nafas catat adanya
    2
    Ventilation
    4. Vital sign status
    suara tambahan
    5. Setelah dilakukan tindakan
    6.
    Berikan brokodilator
    7.
    Berikan
    pelembab
    keperawatan selama
    udara
    ………
    ..
    ganguan
    8.
    Atur
    intake
    untuk
    pertukaran pasien
    teratasi
    cairan
    dengan criteria hasil :
    mengoptimalkan
    a.
    Mendemonstasikan
    keseimbangan
    peningkatan ventilasi &
    9.
    Monitor
    respirasi
    &
    oksigenasi yang akeduat
    status O 2
       
    • b. Memelihara kebersihan

    • 10. Catat

    pergerakan

    paru-paru & bebas dari

    dada,

    amati

    tanda-tanda distress

    kesemetrisan,

    pernafasan

    penggunaan otot

    • c. Mendemonstrasikan

    tambahan, retrasi otot

    bantuk efektif & suara

    supraelavicular dan

    nafas yang bersih, tidak

    intercostals

    ada diagnosis & dyspncu

    • 11. Monitor suara seperti

    (mampu mengerluarkan

    dengkur

    • 12. Monitor pada nafas :

    sputum, mampu bernafas

    Bradipena, takipenia,

    dengan mudah )

    • d. Tanda-tanda vital dalam

    kusmual,

    rentan normal

    hiperventilasi

    • e. dalam

    ACD

    batas

    • 13. Auskultasi

    suara

    normal

    nafas, catat

    area

    • f. Status neurologis dalam

    penurunan/tidak

    batas normal

    adanya ventilasi &

    suara tambahan

    Monitor

    • 14. TTV, AGD,

    elekrolit & status

    mental

    • 15. sianosis

    Observasi

    khususnya membrane

    mukosa

    • 16. Jelaskan pada pasien

    & ket. Tentang

    persiapan tindakan &

    tujuan penggunaan &

    tujuan

    (O 2 , suction,

         

    inhalasi)

    • 17. Auskultasi

    bunyi

    jantung,

    jumlah,

    irama

    &

    denyut

    jantung

    1.Sufcare : ADLS 2.teleransi aktivitas 3.konservasi energi

    • 18. Observasi

    adanya

    setelah dilakukan tindakan

     

    pembatasan

    klien

    keperawatan selama ………

     

    dalam

    melakukan

    pasien bertoleransi terhadap

    aktivitas

    Intolerasi aktivitas b.d

    aktivitas dengan kriteria hasil :

    • 19. Kaji

    adanya

    factor

    Tirah bening/imobilitas

    • a. Berpartisipasi dalam

    yang menyebabkan

    Kelemahan menyeluruh

    aktivitas fisik tanpa disertai

    kelelahan

    • 20. nutrisi

    Monitor

    &

    Keseimbangan antara suplai

    peningkatan tekanan darah,

     

    sumber

    energy

    yang

    3

    oksigen dengan kebutuhan

    nadi & RR.

     
    • b. melakukan

    Mampu

    adekuat

    Gaya hidup yang dipertahankan

    • 21. Monitor pasien

    akan

    aktivitas sehari-hari

     

    adanya kelelahan fisik

    (ADLS) secara mandiri

    • c. Keseimbangan aktivitas &

    &

    emosi secara

    istirahat

    berlebihan

    • 22. Monitor

    respon

    kardivaskuler

    terhadap

    aktivitas

    (takikardi, distritmia,

    sesak

    nafas,

    diaphoresis,

    pucat,

    perubahan

    hemodinamika)

    • 23. Monitor pola tidur &

         

    lamanya

    tidur/

    istirahat pasien 24. Kolaborasi

    dengan

    tenaga

    rehabilitas

    medic dalam

    merencanakan

     

    program terapi

    yang

    tepat

    25. Bantu

    klien

    untuk

    mengidentifikasi

    aktivitas yang mampu

    dilakukan

     

    26. Bantu

    klien

    untuk

    memilih

    aktivitas

    konsisten yang sesuai

    dengan

    kemampuan

    fisik,

    psikologi &

    social

    27. Bantu

    untuk

    mengidentifiksi

    &

    mendapatkan

    sumber

    yang diperlu

    untuk

    aktivitas yang

    di

    inginkan.

    28. Bantu

    untuk

    mengidentifikasi

    aktivitas yang disukai 29. Bantu pasien/keluarga

    untuk

         

    mengidentifikasi

     

    kekeurangan

    dalam

    aktivitas

    • 30. Sediakan

    penguatan

    positif bagi yang aktif

    beraktivitas

    • 31. pasien

    Bantu

    untuk

    mengembangkan

    motivasi

    diri

    dan

    penguatan

    • 32. Monitor respon sisik,

    emosi,

    sosial

    &

    spiritual

    DAFTAR PUSTAKA

    Baradero, Mary. 2005. Patiens With Cardiovascular and Hematological System Problem. Banjarmasin

    Germativum,

    Fahmi.

    2002.

    Asuhan

    Keperawatan

    Kelainan

    Jantung.

    kelainan.html diakses tanggal 16 Februari 2013)

    Jackson Lee, Jackson Marilynn, 2011. Seri Panduan Praktis Keperawatan Klinis. Jakarta: Erlangga

    Muttaqin,

    Arif,

    2006.

    Banjarmasin

    Asuhan

    Keperawatan

    Gangguan

    Sistem

    Kardiovaskuler.

    LAPORAN PENDAHULUAN KATUP JANTUNG

    LAPORAN PENDAHULUAN KATUP JANTUNG

    OLEH :

    SARI MARYATI

    15149011286

    SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN MUHAMMADIYAH BANJARMASIN PROFESI KEPERAWATAN NERS A BANJARMASIN, 2016