Anda di halaman 1dari 12

PEMBELAJARAN PRAKTIKUM I : PENGAMATAN STEROSKOPIS

I.

TUJUAN PEMBELAJARAN
1. Mampu memahamai fotogrametri dan sejarahnya secara singkat
2. Melatih kemampuan persepsi kedalaman
3. Menghitung jarak dan perbedaan ketinggian antar obyek dengan
pandangan stereoskopis tanpa bantuan alat
4. Menghitung jarak dan perbedaan ketinggian antar obyek dengan
pandangan stereoskopis dengan bantuan alat (stereoskop)
5. Dapat menghitung basis mata seseorang
6. Dapat menghitung basis alat stereoskop lensa
7. Dapat membuat stereogram secara mandiri

II.

MEDIA PEMBELAJARAN
1. Stereogram
2. Stereoskop saku
3. Mistar/ penggaris
4. Alat tulis

III.

TEORI SINGKAT
Fotogrametri dan Sejarah Singkatnya
Fotogrametri adalah seni, ilmu pengetahuan dan teknologi tentang
perolehan informasi yang dapat dipercaya tentang obyek fisik dan
lingkungan melalui proses perekaman, pengukuran dan interpretasi citra
fotografi dan pola rekaman energi elektromagnetik dan fenomena lainnya
(the American Society for Photogrammetry and Remote Sensing/ ASPRS).
Fotogrametri mempunyai dua kajian utama, yaitu fotogrametri metrik dan
interpretatif. Fotogrametri metrik termasuk di dalamnya pengukuran akurat
berdasarkan foto atau sumber informasi lain untuk menentukan lokasi relatif
dari titik, jarak, sudut, volume, elevasi, ukuran dan bentuk obyek.
Sedangkan fotogrametri interpretatif termasuk ke dalam cabang interpretatif
fotografik (Wolf & Dwitt, 2004).
Sejarah fotogrametri diawali dari tahun 350 sebelum Masehi
Aristoteles mengutarakan proses memproyeksikan gambaran obyek secara
optik. Awal abad ke-18 Dr. Brook Taylor menyatakan tentang perspektif
linier, selanjutnya J.H. Lambert menyatakan asas perspektif dapat
dimanfaatkan untuk membuat peta. Fotogrametri dikembangkan setelah
proses fotografi dikembangkan yaitu tahun 1839, Louis Daguerre dari Paris
mengumumkan proses fotografi secara langsung. Tahun 1840, geodesiwan
Akademi Sains Perancis bernama Arago mempergakan penggunaan foto
udara untuk survei topografi. Tahun 1949, Ix penggunaan fotogrametri untuk
pemetaan tipografi (Kolonel Aime Laussedat) dengan menggunakan layang2
dan balon untuk pemotretan dari udara (gagal). Tahun 1859 Kolonel
Laussedat mengutarakan keberhasilan dalam menggunakan foto untuk
pemetaan yaitu dengan menggunakan foto teresterial dikenal BAPAK
FOTOGRAMETRI (Wolf & Dwitt, 2004).

Fotogrametri telah berevolusi dari murni analog ( fotogrametri


tradisional) dimana dilakukan teknik optic-matematik ke metode analitis
berdsarkan algoritma matematis demgan bantuan computer dan sekarang
fotogrametri digital berdasarkan citra digital dan pengolahan computer
( Aber, Marzolff, & Ries, 2010). Fotogrametri tradisional dicirikan oleh
penggunaan kamera fotograik sebagai sensor, tetapi dengan variasi yang
besar terkait alat pemrosesannya ( instrument stereo analog, komparator
mono & stereo, rektifikator, triangulator, proyektor othofoto, plotter analitis).
Sekarang sensor yang digunakan untuk perekaman data meliputi kamera
film, kamera CCD & CMOS, kamera video, camcorder, kamera linear array ,
penyiam, kamera digital panoramik, penyiam laser, sensor gelombang
makro dan iltra, peralatan rongen, peraltan citra digital, serta system
kombinasi dan gabungan. Selain perkembangan senso, perkembangan lain
mencakup integrasi sensor dan data, emrosesan secara real time dan
daring, modeling 3 dimensi dan pemahaman akan citra ( Gruen, 2008).
Pengamatan Stereoskopis
Pengamatan stereokopis adalah pengamatan kedalaman melalui
pandangan binokuler (kedua mata). Stereoskopis adalah ilmu untuk
memperhatikan efek kedalaman menggunakan kedua mata. Ketika
pandagan binokuler focus pada titik tertentu, terbentuklah sumbu antara
kedua mata terhadap titik obyek terfokus yang dinamakn sudut paralaktik.
Obyek yang dekat dengan mata memiliki sudut paralaktik lebih besar.
Sumbu antara mata kanan dan kiri dinamakan basis mata atau jarak dalam
antar pupil ( Jensen, 2007). Penghlihatan secara stereoskopis memungkinkan
untuk melihat kedua obyek secara prespektif sehingga dapat menimbulkan
kesan 3 dimensi pada kedua obyek tersebut.
Pengamatan stereoskopis dilakukan dengan menggunakan alat
stereoskop, dimana alat tersebut dapat digunakan untuk pengamatan tiga
dimensional atas foto udara yang bertampalan. Alat ini merupakan alat yang
penting sekali dalam interpretasi citra, terutama foto udara atau citra
tertentu lainnya yang dari padanya dapat ditimbulkan perwujudan tida
dimensional. Pada dasarnya alat ini terdiri dari lensa, cermin, dan prisma
(Sutanto, 1986).
Prinsip kerja stereoskop adalah sebagai berikut :
1. Mata 1 (mata kanan) mengamati citra sebelah kanan
2. Mata 2 (mata kiri) mengamati citra sebelah kiri
3. Stereoskop menyatukan daerah bertampalan sehingga seolah-olah hanya
mengamati 1 citra saja
4. Daerah bertampalan menghasilkan gambar 3 dimensi yang dapat
digunakan untuk mengamati unsur ketinggian dan kemiringan.

Sedangkan
metode
pengamatan
menggunakan 4 cara yaitu :

stereoskop

dilakukan

dengan

1. Melihat dengan pandangan mata lurus parallel terhadap obyek dengan


bantuan stereoskop
2. Melihat dengan pandangan mata lurus parallel terhadap obyek tanpa
bantuan stereoskop
3. Pandangan mata menyilang dengan foto ditukar posisinya
4. Menggunakan anaglip atau kata terpolarisasi ( Jensen, 2007)
Stereogram
Stereogram dalam gambar 2D, dimana hanya bisa dilihat dengan
tingkat ketajaman tertentu serta penyesuaian gambar horizontal pada
kedua mata. Hal itu terjadi saat sepasang foto diletakkan berdampingan
dan kemudian diorientasikan secara benar kemudian saat mata kita melihat
kedua foto tersebut secara bersamaan maka otak kita akan menilai
kedalaman yang diasosiasikan juga dengan sudut paralaktik, maka dapat
diperoleh gambaran 3 dimensional.
Stereoskop
Stereoskop terdiri dari tiga kategori, yaitu stereoskop lensa, cermin,
dan mikroskopis. Stereoskop lensa atau stereoskop saku merupakan jenis
lensa stereoskop yang sering digunakan karena harganya murah,mudah
dibawa, cara kerja dan pemeliharaannya sederhana. Sebagian besar
stereoskop lensa mempunyai spesifikasi yang sama, yaitu sistem lensa
yang fokusnya tertentu yaitu dengan pasangan stereo pada bidang focus,
jarak lensa dapat disesuaikan terhadap jarak pupil mata dan dapat dilipat
serta dimasukkan ke dalam saku (Sutanto,1986).

Stereoskop cermin menggunakan panduan prisma dan cermin untuk


memisahkan garis penglihatan dari tiap pengamat. Stereoskop cermin
mempunyai jarak antara dua sayap cermin yang lebih jauh lebih besar
daripada jarak pengamat, sehingga pasangan foto udara saling
bertampalan sebesar 60% atau lebih dan berjarak sejauh 240 mm atau 24
cm. Beberapa stereoskop tipe ini sedikit atau tanpa pembesaran di dalam
cara pengamatan normal. Untuk menghasilkan pembesaran dua hingga
empat kali, dapat digunakan binokuler pada lensa pengamatan, tetapi
cakupan daerah yang diamati menjadi berkurang (Lillesand dan Kiefer,
1979).

Stereoskop cermin penyiam atau stereokop mikroskopis dibuat


sedimikian rupa sehingga dapat digerakkan I seluruh daerah tampalan
stereos dari pasangan foto tanpa memindahkan foto udara atau stereoskop
yang digunakan. Pembesaran foto udara dengan alat ini sangat besar
karena fungsinya mirip dengan mikroskop. Pembesaran dibagi menjadi
stereoskop zoom (lensa dapat diganti-ganti sesuai dengan pembesaran
lensa) dan interpretoskop (sama seperti mikroskop ( Lillesand dan Kiefer,
1979).
IV.

1.
2.
3.

4.
5.

1.

2.
3.

1.
2.
3.
4.

LANGKAH KERJA
Pengamatan Stereogram dan kesan kedalaman Tanpa Bantuan
Alat ( Stereoskop)
Mengambil satu stereogram kode F dan mengamatinya.
Menghitung jarak antar obyek dengan mistar dengan mata telanjang.
Mengamati stereogram dengan pengamatan stereoskopis parallel mata
telanjang. Untuk memudahkan pengamtan dapat meletakkan bukur atau
kertas berdiri sebagai pemisah antara kedua sisi obyek stereogram yang
diamati. Mata kanan melihat obyek kana, mata kiri melihat obyek kiri.
Memperkirakan urutan ketinggian obyek dari tertinggi ke terendah.
Memasukkan hasil pengamtan ke dalam Tabel 1.
Tes Presepsi Kedalaman dan Stereoskopis
Mengamati kedua stereogram (gambar 8 & 9) dengan pandangan paralel
lurus (mata kanan melihat obyek bagian kanan dan mata kiri melihat
obyek kiri).
Mencari 5 titik-titik yang menonjol dari setiap kolom .
Mencantumkan koordinat titik-titik tersebut (missal A1) ke dalam Tabel 2
Pengukuran Basis Mata
Mencari pasangan untuk pengukuran basis mata
Mengukur sebanyak tiga kali jarak antar pupil kedua mata, baik pada
posisi pupil bagian kanan, bagian kiri, dan bagian tengah.
Menghitung rata-rata dari tiga kali penguuran jarak pupil
Mengisikan hasil pengukuran ke dalam Tabel 3


1.
2.
3.

4.
5.

6.
7.

1.
2.
3.
4.
5.

V.

Obyek

Pengukuran Basis Alat Stereoskop Saku


Meletakkan stereoskop saku di atas garis ( gambar 11).
Menyesuaikan jarak antar lensa stereoskop dengan jarak basis mata.
Mengamati dengan kedua mata salah satu garis tersebut melalui lensa
stereoskop dan memposisikan stereoskop lensa sampai garis tersebut
terlihat lurus (segaris).
Memejamkan salah satu mata , dan membuat tanda plus (+) pada salh
satu sisi.
Pada sisi yang berlawanan dari tanda yang telah dibuat ,mengamati
dengan kedua mata melalui pengamatan stereoskop, menggerakan pena
sampai bertemu tanda yang telah dibuat sebelumnya dan kemudian
menandai dengan tanda plus (+) pada titik peretemuan tersebut sehingga
kedua tanda Nampak saling tumpang tindih jadi sat ketika diamati secara
stereoskopis.
Mengukur jarak antara kedua tanda tersebut, jarak tersebut merupakan
jarak basis alat stereoskop yang dipergunakan.
Mengulangi pengukuran tiga kali, kemudian menghtiung rata-rata dan
memasukkan hasil ke dalam Tabel 4.
Pengamatan Stereogram dengan Menggunakan Alat Stereoskop
Lensa/Saku
Menyesuaikan jarak antar lensa stereoskop dengan jarak basis mata
Meletakkan stereoskop lensa di atas stereogram
Mengulangi langkah 11 dan 12, namun dengan pengamatan stereoskopis
dengan bantuan alat stereoskop lensa
Mengisikan hasil pada Tabel 1 dan Tabel 2
Mencocokkan hasil pengamatan dengan kunci jawaban yang diberikan
asisten.
Membuat stereogram secara mandiri dengan menggunakan
template Gambar 12 yang telah disediakan. Obyek yang digambar
boleh bermacam-macam dimensi geometri atau huruf, dan lainlain dengan syarat harus ada kesan stereoskopis dan kesan
perbedaan kedalaman.
HASIL DAN PEMBAHASAN
1. Tabel 1 : Pengamatan Stereogram Model Obyek dalam
Lingkaran Kode Stereogram F
Jarak
antar
Obyek
diamati
Tanpa
Alat
(mm)

Jarak
antar
Urutan dari
Obyek
Urutan dari
Atas
diamati
Atas ( Tanpa
(
dengan
dengan alat Alat)
Stereoskop)
(mm)

58

58

61

61

60

60

59

59

56

56

61

61

62

62

58

58

56

56

Kunci Jawaban Stereogram F : dari tinggi ke rendah

Jumlah hasil pengurutan tanpa alat yang benar : 55,6. %


Jumlah hasil pengurutan dengan alat stereoskop yang benar : 88,9 %
Pengamatan stereogram kode F menghasilkan data pada tabel di
atas,
pada stereogram tersebut terlampir obyek-obyek dalam lingkaran yang memiliki
tingkat kedalaman yang berbeda-beda. Kedalaman obyek tersebut dapat diamati
dengan pengamatan stereoskopis. Pengamatan stereoskopis tersebut dilakukan
oleh kedua mata kita ( pengamatan binokuler) dimana saat kita mengamati
terdapat suatu fokus titik dimana kedua stereogram tersebut bergabung menjadi
satu stereogram. Selain pengamatan binokuler terdapat istilah monokuler, yaitu
pengamatan yang hanya menggunakan satu lensa saja yaitu lensa okuler.
Sedangkan binokuler menggunakan dua lensa, yaitu lensa okuler dan lensa obyektif
, dari kedua lensa tersebut dapat menciptakan efek tiga dimensi pada obyek yang
diamati. Selain pengamatan stereoskopis terdapat istilah dalam kesan tiga dimensi,
yaitu othokopis dan pseudokopis. Orthokopis adalah obyek yang diamati secara tiga
dimensi akan menampilkan obyek yang cekung atau memiliki kedalaman.
Sedangkan pseudokopis adalah keterbalikan relief atau topografi obyek, dimana
obyek yang cembung menjadi cekung, dan sebaliknya. Hal tersebut dikarena
kesalahan dalam jalur penerbangan dan perekaman obyek yang terbalik.
Fokus titik suatu obyek terkait dengan adanya sudut paralaktik, yaitu sudut
perpotongan sumbu optik mata kanan dan kiri manakala kedua mata terfokus pada
suatu obyek. Dimana saat sudut tersebut terbentuk akan timbul kesan perspektif
dari kedua mata, sehingga timbul kesan 3 dimensi pada stereogram tersebut yang
awalanya terkesan 2 dimensi. Sudut antara kedua mata tersebut memiliki jarak
yang disebut basis mata, atau jarak anta kedua pupil mata. Dimana semakin besar
atau dekat obyek maka sudut paraklatiknya semakin besar. Hal tersebut terkait
dengan adanya pandangan binokuler terhadap jarak obyek pada stereogram
tersebut.
Pengamatan stereogram tersebut dilakukan dengan tanpa dan menggunakan
alat stereoskop, dan didapat hasil yang berbeda. Praktikan sulit untuk melakukan
pendalaman obyek dengan pengamatan tanpa alat, hal tersebut disebabkan karena
pengaruh fokus mata yang kurang terarah ke obyek selain itu juga disebabkan
karena daya akomodasi mata yang lemah. Daya Akomodasi mata adalah
kemampuan mata untuk menebal dan menipiskan lensa. Kemapuan ini
berhubungan dengan jarak jauh dekatnya benda yang dilihat oleh mata. Daya
akomodasi mata ini berfungsi untuk meletakan bayangan benda tepat pada retina
mata. Oleh karena daya akomodasi mata yang lemah, maka bayangan yang
terbentuk tidak akan menimbulkan kesan perspektif. Sehingga untuk membantu
pengamatan di antara kedua stereogram diberikan pembatas suatu kertas,
sehingga penglihatan lebih terfokus dan diperoleh urutan kedalaman dari jarak
terendah dari mata ke jarak paling dalam dari mata. Hasil pengamatan tanpa alat
memang tidak sebaik dengan menggunakan bantuan alat stereoskopis.
Pengamatan menggunakan stereoskopis dapat menghasilkan data pengamatan

obyek yang akurat, dimana praktikum menghasilkan 88,9% dimana dua obyek yaitu
obyek persegi panjang dan belah ketupat saling tertukar urutan kedalamannya.
Sedangkan tanpa alat, praktikan mendapatkan hasil benar 55,6% dengan 6 obyek
yang benar. Hal tersebut disebabkan karena stereoskopis yang digunakan
( stereoskopis lensa/saku) sudah dilengkapi oleh dua lensa cembung yang dapat
membantu dalam pengakomodasian mata sesuai dengan basis mata praktikan,
sehingga saat cahaya masuk ke dalam lensa atau mata , cahaya langsung
terbiaskan dan mata dapat menangkap obyek serta mata dapat memfokuskan
obyek sehingga terbentuk suatu stereogram yang menampilkan kesan 3 dimensi
dengan jarak urutan kedalaman yang berbeda-beda.
Berdasarkan hasil dan kunci pengamatan stereoskopis didapat hasil bahwa
semakin dekat jarak antar obyek pada stereogram tersebut maka semakin pendek
jaraknya ke mata. Sedangkan semakin jauh jarak antar obyek maka semakin dalam/
jauh obyek dari mata. Hal tersebut terkait dengan adanya sudut paralaktik, dimana
semakin besar paralak semakin dekat obyeknya. Akan tetapi terdapat obyek yang
mempunyai jarak yang sama tetapi urutanya berbeda, misalnya antara segitiga
hitam dengan love memiliki jarak yang sama kana tetapi urutannya no 1 adalah
segitiga dan no 2 adalah love. Hal tersebut juga dipengaruhi oleh bentuk gambar,
sisi sudut gambar, warna gambar, dan tebal tipis garis tepi gambar.
2. Tabel 2 Pengamatan Lingkaran Mengambang (float circle) Tes
Moessner
Baris
Blok

C
D

Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat

Stereogra Stereogra
m I (tanpa m
II
alat)
(tanpa
alat)
A5
A5
B7
B4
C1
C4
D4
D4
E6
E6
A4
A1
B8
B8
C7
C5
D6
D6
E6
E6
-

Stereogra
m
I
(dengan
alat)
A5
B7
C2
D4
E1, E6
A1
B8
C3
D1
E6
A3
B3
-

Stereogra
m
II
( dengan
alat)
A5
B7
C2
D4
E1, E6
A1
B8
C3
D1
E6
A5
B3
-

Kelima
Jumlah Benar
Persentase

6
30%

6
30%

11
55%

10
50%

Tabel Kunci Jawaban Pengamatan Lingkaran Mengambang (float circle) Tes


Moessner dengan Alat
Baris
Blok

Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima
Pertama
Kedua
Ketiga
Keempat
Kelima

Stereogra
m
I
(dengan
alat)
A5
B7
C2
D4
E1, E6
A1
B8
C3
D1
E6
A3
B7
C3
D1
E8
A1
B7
C2,C5
D3
E6

Stereogra
m
II
( dengan
alat)
A5
B7
C2
D4
E1, E6
A1
B8
C3
D1
E6
A3
B7
C3
D1
E8
A1
B7
C2,C5
D3
E6

Pengamatan tabel kedua sama halnya dengan tabel pertama, yaitu samasama melakukan pengamatan stereoskopis tanpa dan dengan alat stereoskop. Akan
tetapi perbedaan antara kedua tabel tersebut terletak pada obyek yang berada
dalam lingkaran stereogram, dimana pada pengamatan pertama obyek dalam
lingkaran berisi obyek-obyek dengan bentuk yang berbeda-beda. Sedangkan pada
pengamatan stereoskop kedua adalah obyek-obyek dalam lingkaran berisi obyekobyek dengan bentuk dan ukuran sama, dimana yang membedakannya adalah
tebal tipisnya bentuk obyek yang sangat kecil dan banyak. Hal tersebut
menyebabkan pengamatan stereoskopis yang sulit untuk diidentifikasikan obyekobyek yang menampilkan kesan tiga dimensi. Apabila dilihat dengan mata telanjang
atau tanpa alat akan terbentuk obyek-obyek yang mengambang akan tetapi
sangatlah sedikit jumlahnya, berbeda dengan pengamatan menggunakan
stereoskop yang dapat menampilkan obyek-obyek yang mengambang lebih banyak.
Akan tetapi penglihatan kesan mengambang oleh praktikan tanpa alat hanya

terbatas sampai blok B. Sedangkan penglihatan dengan alat terbatas C baris kedua,
dan tidak bisa melihat sampai kolom D walaupun menggunakan stereoskop. Hal
tersebut dapat disebabkan karena kemampuan mata yang terbatas untuk melihat
kesan tiga dimensional dan karena daya akomodasi mata yang semakin melemah.
Selain itu, faktor bentuk obyek yang sama dan kecil-kecil serta blok A-D semakin ke
bawah semakin tipis sehingga semakin sulit pula untuk mengidentifikasikan kesan 3
dimensional. Oleh karena itu, persentase tabel kebenaran obyek yang diperoleh
praktikan juga rendah.
3. Tabel 3 Pengukuran Basis Mata
Pengukuran I

Pengukuran II

Pengukuran III

65 mm

65mm

65mm

Rata-rata
Mata
65mm

Basis

Pengukuran basis mata dilakukan dengan cara mengukur jarak antara kedua
pupil mata. Tujuan pengukuran basis mata ini untuk pengukuran atau pengamatan
lebih lanjut dengan menggunakan alat stereoskop, supaya antara mata dan lensa
pada alat bisa sesuai dan dapat menghasilkan kenampakan obyek 3 dimensi. Basis
mata setiap orang itu berbeda-beda, bergantung sama lebar mata atau jarak antar
mata manusia. Praktikan memiliki basis mata ukuran 65mm, dimana setelah
dilakukan pengukuran selama tiga kali didapat basis mata 65mm sehingga rataratanya 65mm. Sehingga saat akan dilakukan pengamatan stereoskopis
menggunakan stereoskop lensa/saku, perlu disetting ukuran basis mata pada alat
tersebut.
Basis mata terkait dengan fenomena persepsi kedalaman stereoskopis yang
berhubungan dengan anatomi dan fisiologi mata. Pupil sebagai bagian penting
dalam mata, dimana pupil berfungsi sebagai alat untuk mengatur cahaya yang
masuk dalam mata, kemudia diteruskan ke lensa mata. Lensa mata tersebut
berbentuk bikonveks dan terdiri dari bahan tembus pandang sehingga bersifat
membiaskan cahaya. Bagian lensa terdapat otot penggerak sehingga sumbu optik
mata diarahkan ke obyek yang diamati. Pengarahan obyek tersebut terkait dengan
jarak obyek yang diamati serta focus obyek tersebut. Hal tersebut merupakan
kemampuan mata untuk memfokus pada obyek pada obyek yang berbeda
( akomodasi mata). Kemudian obyek sampai di lensa akan disalurkan ke retina,
sehingga mata kita dapat melihat bayangan obyek tersebut.
4. Pengukuran Basis Alat

Pengukuran I
35 mm

Pengukuran II

Pengukuran III

34mm

43mm

Rata-rata
Alat
37,3 mm

Basis

Pengukuran basis alat dilakukan setelah mensetting basis alat pada


stereoskop. Pengukuran basis alat ini bertujuan untuk mengetahui basis alat dan
basis mata supaya obyek yang akan diamati dapat menimbulkan kesan 3 dimensi
secara pas dan akurat. Pengukuran basis alat ini dilakukan tiga kali untuk
mengetahui rat-rata basis alat terhadap mata praktikan. Berdasarkan tiga kali
pengukuran maka didapat rata-rata basis alat 37,3mm dimana terdapat hasil
pengukuran ketiga yang akan melenceng jauh pengukurannya dibanding dengan
pengukuran 1 dan 2 yang hampir sama jaraknya. Hal tersebut dapat disebabkan
oleh fokus dan daya akomodasi mata saat penetapan obyek menjadi satu obyek.
Obyek yang dimaksud dalam penetapan basis alat ini adalah penggunaan jari
telunjuk praktikan yang kemudian digerak-gerakan sampai memperoleh satu jari
saja.
Pengukuran basis alat ini menggunakan stereoskop lensa/saku. Stereoskop ini
terdiri dari dua lensa cembung sederhana yang dipasang pada sebuah kerangka.
Jarak antara lensa dapat bervariasi untuk akomodasi basis mata. Lensa cembung
tersebut berfungsi untuk membiaskan cahaya masuk dan berdasarkan atas
pemfokusan mata yang berhubungan dengan cahaya yang datang , maka mata dan
otak dapat menerima kesan cahaya berasal dari jarak yang lebih jauh dari jarak
mata ke meja yang digunakan untuk meletakkan obyek dan alat.

5. Stereogram Buatan Sendiri pada template di bawah ini

VI.
DAFTAR PUSTAKA
Aber, J.S., Marzolff,I., & Ries,J.B. 2010. Small-Format Aerial Photography :
Principles, Techniques and Geoscience Applications. Amsterdam, Belanda :
Elsevier.
Gruen,A.2008. Scientific-technological Developments in Photogrammetry and
Remote Sensing between 2004 and 2008. Dalam Z.Li,J.Chen, &
E.Baltsavias,Advances in Photogrammetry, Remote Sensing and Spatial
Information Sciences : 2008 ISPRS Congress Book (hal. 21-25). Leiden,
Belanda : CRS Press.
Jensen,J.R. 2007. Remote Sensing of The Environtment : An Earth Resource
Pesrpective (2nd ed). New Jersey, Amerika Serikat : Pearson Prentice Hall.
Lillesand, Thomas dan Kiefer, Ralph W. 1979. Remote Sensing and Image
Interpretation. New York: John Wiley and sons inc.
Sutanto. 1986. Penginderaan Jauh Jilid 1. Yogyakarta : Gadjah Mada University
Press.
Wolf, P.R., & Dewitt, B.A. 2004. Elements of Photogrammetry with Applications in
GIS (3rd ed). Boston, Amerika Serikat : McGraw-Hill.